Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Tinea incognito adalah infeksi jamur (mikosis) pada kulit yang
disebabkan oleh kortikosteroid topical (steroid topical ataupun sistemik).
Lesi akan timbul lagi bila pengobatan dihentikan (Hartadi dan Hardjono N,
1991).
Steroid topikal merupakan obat yang paling banyak dipergunakan
dalam dermatoterapi terutama karena manfaatnya yang paling utama
sebagai antiinflamasi dan antimitosis dalam proses peradangan pada kulit.
(Gorani dan Oriani, 2002).
Steroid topikal dapat menimbulkan efek samping yang cukup serius
jika digunakan tidak dalam proses terapi yang benar antara lain jika
digunakan dalam jangka waktu yang lama dan dosisnya berlebihan.
Penyakit jamur kulit atau dermatomikosis adalah penyakit pada
kulit, kuku, rambut dan mukosa yang disebabkan infeksi jamur. Pada
umumnya golongan penyakit ini dibagi atas infeksi superfisial, infeksi
kutan, dan infeksi subkutan
Tinea incognito merupakan

kesalahan

terapi

tinea

dengan

menggunakan steroid topikal sehingga menimbulkan kelainan kulit yang


tidak jelas setelah mendapat terapi dengan steroid topikal untuk jangka
waktu tertentu.
I.2 Tujuan
Memberikan informasi mengenai penyakit tinea inkognito dan
langkah-langkah penanganannya. Serta memberikan informasi mengenai
definisi, patofisiologi, diagnosis, dan komplikasi dari tinea inkognito

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Anatomi Kulit
II.1.1 Anatomi Kulit
Kulit merupakan pembungkus yang elastisk yang melindungi tubuh
dari pengaruh lingkungan. Kulit juga merupakan alat tubuh yang terberat
dan terluas ukurannya, yaitu 15% dari berat tubuh dan luasnya 1,50 1,75
m2. Rata- rata tebal kulit 1-2 mm. Paling tebal (6 mm) terdapat di telapak
tangan dan kaki dan paling tipis (0,5 mm) terdapat di penis
(Wasitaatmadja, 2010)
Warna kulit berbeda-beda, dari kulit yang berwarna terang, pirang dan
hitam, warna merah muda pada telapak kaki dan tangan bayi, serta warna
hitam kecoklatan pada genitalia orang dewasa (Wasitaatmadja, 2010).
Demikian pula kulit bervariasi mengenai lembut, tipis dan

tebalnya; kulit yang elastis dan longgar terdapat pada palpebra, bibir dan
preputium, kulit yang tebal dan tegang terdapat di telapak kaki dan tangan
dewasa. Kulit yang tipis terdapat pada muka, yang berambut kasar terdapat
pada kepala (Wasitaatmadja, 2010).
Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama
yaitu lapisan epidermis atau kutikel, lapisan dermis, dan lapisan subkutis.
Tidak ada garis tegas yang memisahkan dermis dan subkutis, subkutis
ditandai dengan adanya jaringan ikat longgar dan adanya sel dan jaringan
lemak (Wasitaatmadja, 2010).
1. Epidermis
Lapisan epidermis terdiri atas stratum korneum, stratum
lusidum, stratum granulosum, stratum spinosum, dan stratum basale
(Wasitaatmadja, 2010).
A. Stratum korneum adalah lapisan kulit yang paling luar dan
terdiri atas beberapa lapisan sel-sel gepeng yang mati, tidak
berinti, dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat
tanduk). Stratum lusidum terdapat langsung di bawah lapisan
korneum, merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan

protoplasma yang berubah menjadi protein yang disebut eleidin.


Lapisan tersebut tampak lebih jelas di telapak tangan dan kaki
(Wasitaatmadja, 2010).
B. Stratum granulosum merupakan 2 atau 3 lapis sel-sel gepeng
dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya.
Butir-butir kasar ini terdiri atas keratohialin. Tampak jelas di
telapak tangan dan kaki (Wasitaatmadja, 2010).
C. Stratum spinosum terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk
poligonal yang besarnya berbeda-beda karena adanya proses
mitosis. Protoplasmanya jernih karena banyak mengandung
glikogen, dan inti terletak ditengah-tengah. Sel-sel ini makin
dekat ke permukaan makin gepeng bentuknya. Di antara sel-sel
stratum spinosun terdapat jembatan-jembatan antar sel yang
terdiri atas protoplasma dan tonofibril atau keratin. Pelekatan
antar jembatan-jembatan ini membentuk penebalan bulat kecil
yang disebut nodulus bizzozero. Di antara sel-sel spinosum
terdapat pula sel langerhans. Sel-sel stratum spinosum
mengandung banyak glikogen (Wasitaatmadja, 2010).
D. Stratum basale terdiri atas sel-sel berbentuk kubus yang tersusun
vertical pada perbatasan dermo-epidermal berbasis seperti pagar
(palisade). Lapisan ini merupakan lapisan epidermis yang paling
bawah. Sel-sel basal ini mrngalami mitosis dan berfungsi
reproduktif. Lapisan ini terdiri atas dua jenis sel yaitu sel-sel yang
berbentuk kolumnar dengan protoplasma basofilik inti lonjong dan
besar, dihubungkan satu dengan lain oleh jembatang antar sel, dan
sel pembentuk melanin atau clear cell yang merupakan sel-sel
berwarna muda, dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap, dan
mengandung butir pigmen (melanosomes) (Wasitaatmadja, 2010).

2.

Lapisan Dermis
Lapisan yang terletak dibawah lapisan epidermis adalah

lapisan dermis yang jauh lebih tebal daripada epidermis. Lapisan


ini terdiri atas lapisan elastis dan fibrosa padat dengan elemen-

elemen selular dan folikel rambut. Secara garis besar dibagi


menjadi 2 bagian yakni:
A. Pars papilare yaitu bagian yang menonjol ke epidermis, berisi
ujung serabut saraf dan pembuluh darah
B. Pars retikulare yaitu bagian bawahnya yang menonjol kea rah
subkutan, bagian ini terdiri atas serabut-serabut penunjang
misalnya serabut kolagen, elastin dan retikulin. Dasar lapisan ini
terdiri atas cairan kental asam hialuronat dan kondroitin sulfat,
di bagian ini terdapat pula fibroblast, membentuk ikatan yang
mengandung hidrksiprolin dan hidroksisilin. Kolagen muda
bersifat lentur dengan bertambah umur menjadi kurang larut
sehingga makin stabil. Retikulin mirip kolagen muda. Serabut
elastin biasanya bergelombang, berbentuk amorf dan mudah
mengembang serta lebih elastis (Djuanda, 2003).
3. Lapisan Subkutis
Lapisan subkutis adalah kelanjutan dermis yang terdiri atas
jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Sel-sel
lemak merupakan sel bulat, besar, dengan inti terdesak ke pinggir
sitoplasma lemak yang bertambah. Sel-sel ini membentuk
kelompok yang dipisahkan satu dengan yang lain oleh trabekula
yang fibrosa. Lapisan sel-sel lemak disebut panikulus adipose,
berfungsi sebagai cadangan makanan. Di lapisan ini terdapat ujungujung saraf tepi, pembuluh darah, dan getah bening. Tebal tipisnya
jaringan lemak tidak sama bergantung pada lokasinya. Di abdomen
dapat mencapai ketebalan 3 cm, di daerah kelopak mata dan penis
sangat sedikit. Lapisan lemak ini juga merupakan bantalan
(Djuanda, 2003).
Vaskularisasi di kulit diatur oleh 2 pleksus, yaitu pleksus
yang terletak di bagian atas dermis (pleksus superficial) dan yang
terletak di subkutis (pleksus profunda). Pleksus yang di dermis
bagian atas mengadakan anastomosis di papil dermis, pleksus yang

di subkutis dan di pars retikulare juga mengadakan anastomosis, di


bagian ini pembuluh darah berukuran lebih besar. Bergandengan
dengan pembuluh darah teedapat saluran getah bening (Djuanda,
2003).
II.1.2 Adneksa Kulit
Adneksa kulit terdiri atas kelenjar-kelenjar kulit, rambut dan
kuku.
1. Kelenjar kulit terdapat di lapisan dermis, terdiri atas kelenjar
keringat dan kelenjar palit. Ada 2 macam kelenjar keringat, yaitu
kelenjar ekrin yang kecil-kecil, terletak dangkal di dermis
dengan sekret yang encer, dan kelenjar apokrin yang lebih besar,
terletak lebih dalam dan sekretnya lebih kental (Djuanda, 2003).
A. Kelenjar enkrin telah dibentuk sempurna pada 28 minggu
kehamilan dan berfungsi 40 minggu setelah kehamilan.
Saluran kelenjar ini berbentuk spiral dan bermuara langsung
di permukaan kulit. Terdapat di seluruh permukaan kulit dan
terbanyak di telapak tangan dan kaki, dahi, dan aksila.
Sekresi bergantung pada beberapa faktor dan dipengaruhi
oleh saraf kolinergik, faktor panas, dan emosional (Djuanda,
2003).
B. Kelenjar apokrin dipengaruhi oleh saraf adrenergik, terdapat
di aksila, areola mame, pubis, labia minora, dan saluran
telinga luar. Fungsi apokrin pada manusia belum jelas, pada
waktu lahir kecil, tetapi pada pubertas mulai besar dan
mengeluarkan sekret. Keringat mengandung air, elektrolit,
asam laktat, dan glukosa, biasanya pH sekitar 4-6,8
(Djuanda, 2003).
2. Kelenjar palit terletak di selruh permukaan kulit manusia kecuali
di telapak tangan dan kaki. Kelenjar palit disebut juga kelenjar
holokrin karena tidak berlumen dan sekret kelenjar ini berasala
dari dekomposisi sel-sel kelenjar. Kelenjar palit biasanya
terdapat di samping akar rambut dan muaranya terdapat pada

lumen akar rambut (folikel rambut). Sebum mengandungi


trigliserida, asam lemak bebas, skualen, wax ester, dan
kolesterol. Sekresi dipengaruhi hormone androgen, pada anakanak jumlah kelenjar palit sedikit, pada pubertas menjadi lebih
besar dan banyak serta mulai berfungsi secara aktif (Djuanda,
2003).
3. Kuku, adalah bagian terminal stratum korneum yang menebal.
Bagian kuku yang terbenam dalam kulit jari disebut akar kuku,
bagian yang terbuka di atas dasar jaringan lunak kulit pada
ujung jari dikenali sebagai badan kuku, dan yang paling ujung
adalah bagian kuku yang bebas. Kuku tumbuh dari akar kuku
keluar dengan kecepatan tumbuh kira-kira 1 mm per minggu.
Sisi kuku agak mencekung membentuk alur kuku. Kulit tipis
yang yang menutupi kuku di bagian proksimal disebut
eponikium sedang kulit yang ditutupki bagian kuku bebas
disebut hiponikium (Djuanda, 2003).
4. Rambut, terdiri atas bagian yang terbenam dalam kulit dan
bagian yang berada di luar kulit. Ada 2 macam tipe rambut, yaitu
lanugo yang merupakan rambut halus, tidak mrngandung
pigmen dan terdapat pada sbayi, dan rambut terminal yaitu
rambut yang lebih kasar dengan banyak pigmen, mempunyai
medula, dan terdapat pada orang dewasa. Pada orang dewasa
selain rambut di kepala, juga terdapat bulu mata, rambut ketiak,
rambut kemaluan, kumis, dan janggut yang pertumbuhannya
dipengaruhi hormone androgen. Rambut halus di dahi dan badan
lain disebut rambut velus. Rambut tumbuh secara siklik, fase
anagen berlangsung 2-6 tahun dengan kecepatan tumbuh kirakira 0.35 mm per hari. Fase telogen berlangsung beberapa bulan.
Di antara kedua fase tersebut terdapat fase katagen. Komposisi
rambut terdiri atas karbon 50,60%, hydrogen 6,36%,, nitrogen
17,14%, sulfur 5% dan oksigen 20,80% (Djuanda, 2003).

Gambar 1. Anatomi Kulit

II.1.3 Faal Kulit


Kulit mempunyai berbagai fungsi yaitu sebagai berikut :
1. Pelindung atau proteksi
Epidermis terutama lapisan tanduk berguna untuk
menutupi jaringan-jaringan tubuh di sebelah dalam dan
melindungi tubuh dari pengaruh-pengaruh luar seperti luka dan
serangan kuman. Lapisan paling luar dari kulit ari diselubungi
dengan lapisan tipis lemak, yang menjadikan kulit tahan air.
Kulit dapat menahan suhu tubuh, menahan luka-luka kecil,
mencegah zat kimia dan bakteri masuk ke dalam tubuh serta
menghalau rangsang-rangsang fisik seperti sinar ultraviolet dari
matahari (Djuanda, 2003).
2. Penerima rangsang
Kulit sangat peka terhadap berbagai rangsang sensorik yang
berhubungan dengan sakit, suhu panas atau dingin, tekanan,
rabaan, dan getaran. Kulit sebagai alat perasa dirasakan melalui
ujung-ujung saraf sensasi (Djuanda, 2003).
3. Pengatur panas atau thermoregulasi

Kulit mengatur suhu tubuh melalui dilatasi dan konstruksi


pembuluh kapiler serta melalui respirasi yang keduanya
dipengaruhi saraf otonom. Tubuh yang sehat memiliki suhu
tetap kira-kira 98,6 derajat Farenheit atau sekitar 36,50 C.
Ketika terjadi perubahan pada suhu luar, darah dan kelenjar
keringat kulit mengadakan penyesuaian seperlunya dalam
fungsinya masing-masing. Pengatur panas adalah salah satu
fungsi kulit sebagai organ antara tubuh dan lingkungan. Panas
akan hilang dengan penguapan keringat (Djuanda, 2003).
4. Pengeluaran (ekskresi)
Kulit mengeluarkan zat-zat tertentu yaitu keringat dari kelenjarkelenjar keringat yang dikeluarkan melalui pori-pori keringat
dengan membawa garam, yodium dan zat kimia lainnya. Air
yang dikeluarkan melalui kulit tidak saja disalurkan melalui
keringat tetapi juga melalui penguapan air transepidermis
sebagai pembentukan keringat yang tidak disadari (Djuanda,
2003).
5. Penyimpanan
Kulit dapat menyimpan lemak di dalam kelenjar lemak
(Djuanda, 2003).
6. Penyerapan terbatas
Kulit dapat menyerap zat-zat tertentu, terutama zat-zat yang
larut dalam lemak dapat diserap ke dalam kulit. Hormon yang
terdapat pada krim muka dapat masuk melalui kulit dan
mempengaruhi lapisan kulit pada tingkatan yang sangat tipis.
Penyerapan terjadi melalui muara kandung rambut dan masuk ke
dalam saluran kelenjar palit, merembes melalui dinding
pembuluh darah ke dalam peredaran darah kemudian ke
berbagai organ tubuh lainnya (Djuanda, 2003).
7. Penunjang penampilan
Fungsi yang terkait dengan kecantikan yaitu keadaan kulit yang
tampak halus, putih dan bersih akan dapat menunjang
penampilan (Djuanda, 2003).

Fungsi lain dari kulit yaitu kulit dapat mengekspresikan emosi


seseorang seperti kulit memerah, pucat maupun konstraksi otot penegak
rambut (Djuanda, 2003).

II.2 Definisi
Tinea incognito adalah nama yang diberikan pada infeksi jamur saat
gambaran klinis yang ada menjadi tidak jelas dikarenakan pengobatan
yang tidak tepat, yang biasanya disebabkan oleh karena pemakaian steroid
topikal pada kasus infeksi yang disebabkan oleh jamur dermatofita (Gorani
dan Oriani, 2002).
II.3 Epidemiologi
Pada banyak kasus yang ditemukan, beberapa organisme diketahui
dapat menyebabkan terjadinya tinea incognito dalam hubungannya dengan
penggunaan steroid topikal. Setelah diteliti ditemukan bahwa Trichophyton
rubrum dan Trichophyton mentagrophytes sering ditemukan pada
pemeriksaan mikroskopik sebagai koloni yang ada pada tinea incognito,
karenanya infeksi jamur yang disebabkan oleh dua spesies tersebut sering
berkembang menjadi tinea incognito contohnya tinea korporis, tinea pedis
et manus, tinea unguium dan tinea cruris (Gorani dan Oriani, 2002).
Penelitian di Korea jenis kelamin relatif sama dan usia yang relatif
seragam (berarti: 44,0 22,5 tahun) ditemukan kecuali untuk pasien lebih
80 thn. TI di Italia, gender dan usia rata-rata yang sama (42 tahun), dan di
Iran, jenis kelamin yang sama dengan sedikit lebih muda usia rata-rata
(32,6 tahun).
II.4 Etiologi

Pada banyak kasus yang ditemukan, beberapa organisme diketahui


dapat menyebabkan terjadinya tinea incognito dalam hubungannya dengan
penggunaan steroid topical, betametason dipropionat dan clotrimazole
(nama dagang Lotrisone) dan triamsinolon acetonide dan clotrimazole
(Habif, 1995).
Setelah diteliti ditemukan bahwa Trichophyton rubrum dan
Trichophyton mentagrophytes sering ditemukan pada pemeriksaan
mikroskopik sebagai koloni yang ada pada tinea incognito, karenanya
infeksi jamur yang disebabkan oleh dua spesies tersebut sering
berkembang menjadi tinea incognito contohnya tinea korporis, tinea pedis
et manus, tinea unguium dan tinea cruris (Gorani dan Oriani, 2002).
II.5 Steroid Topikal
ada masa kini steroid topikal merupakan sediaan yang paling banyak
dipakai dalam dermatologi, disamping obat-obat anti jamur topikal, dan di
pasaran dapat dijumpai tidak kurang dari 70 sediaan steroid topikal dengan
bermacam-macam nama dagang
II.5.1 Indikasi Steroid Topikal
Penyakit-penyakit yang dapat diobati dengan steroid topikal
menurut

Anigbogu dan Maibach (2000), dapat digolongkan

menjadi :
1. Penyakit-penyakit yang pada umumnya sangat responsif
terhadap pengobatan steroid topikal seperti dermatitis atopik,
dermatitis seboroik, dermatitis nummular, dermatitis kontak
alergi dan iritan, psoriasis pada muka dan genital, liken
simpleks, pruritus ani dan dermatitis stasis.
2. Penyakit-penyakit yang kurang responsif terhadap steroid
topikal seperti lupus eritematous diskoid, liken planum,
granuloma anulare, sarkoidosis, dan psoriasis palmo plantar.
II.5.2 Mekanisme Kerja Steroid Topikal
Menurut Anigbogu dan Maibach (2000), steroid topikal
mempunyai 4 efek utama atas kulit, yaitu :
1. Anti inflamasi

Aktivitas anti inflamasi dari steroid topikal ini merupakan


efek utama yang diharapkan dalam dermatologi. Efek ini diduga
karena steroid topikal bekerja dengan mencegah proses marginasi
(melekatnya lekosit dan monosit pada endotel pembuluh darah) dan
menghambat proses khemotaksis (migrasi sel-sel tersebut ke fokus
peradangan) yang terjadi pada proses peradangan.
2. Imunosupresi
Sifat imunosupresi ini sebenarnya juga melibatkan sifat anti
inflamasi steroid topikal, karena inflamasi merupakan bagian dari
proses kekebalan tubuh. Steroid juga menghambat pembelahan selsel limfoit, melisis sel limfosit B dan menghambat kerja limfokin
pada sasaran. Jadi dapat disimpulkan bahwa steroid bekerja
menekan reaksi hipersensitifitas, baik tipe I, II, III (humoral),
maupun tipe IV (seluler).
3. Antimitosis (Antiproliferasi)
Steroid mempunyai sifat antimitosis dengan menekan
pembelahan sel, menurunkan transkripsi RNA, mengurangi sintesis
DNA dan mungkin juga reparasi DNA. Akibat sifat ini pengolesan
steroid topikal pada kulit akan menyebabkan penipisan epidermis
dan sel-selnya mengecil. Disamping pada sel-sel epidermis, efek
antimitosis ini juga terjadi pada sel-sel fibroblast, sehingga
pemakaian jangka panjang dapat menyebabkan gangguan sintesis
kolagen dengan akibat terjadinya striae dan atrofi.
4.
Vasokonstriksi
Steroid juga menyebabkan vasokontriksi, menurunkan
permeabilitas membrane dan menghambat pelepasan bahan-bahan
toksik,

sehingga

akan

mengurangi

ekstravasasi

serum,

pembengkakan dan rasa gatal.


II.5.3 Golongan Steroid Topikal
Berdasarkan potensinya steroid topikal menurut Anigbogu
dan Maibach (2000), dan Wozniacka (2001), dapat digolongkan
menjadi 4 jenis, yaitu golongan I (potensi lemah), golongan II
(potensi sedang), golongan III (potensi kuat) dan golongan IV

(potensi sangat kuat). Potensi tersebut didasarkan atas sifat


antiinflamasi dan sifat antimitosisnya (Anigbogu, 2000). Golongan
I pada umumnya sifat antiinflamasi saja, golongan IV mempunyai
sifat anti inflamasi maupun antimitosis yang kuat. Golongan II dan
III berada diantaranya.
1.
Golongan I
a. Hidrokortison 1 2,5%
b. Metilprednisolon 0,25%
c. Deksametason 0,04%
2.
Golongan II (2-25 kali lebih kuat dari hidrokortison)
a. Hidroksiprednisolon 0,5%
b. Flumetason pivalat 0,02%
c. Klobetason butirat 0,05%
d. Desonid 0,5%
e. Hidrokortison 17-butirat 0,1%
3.
Golongan III (100-150 kali lebih kuat dari hidrokortison)
a. Triamsinolon asetonid 0,1%
b. Halsinonid 0,1%
c. Flupredniden asetat 0,1%
d. Flukortolon 0,5%
e. Flusinolon asetonid 0,025%
f. Fluklorolon asetonid 0,025%
g. Diflukortolon valerat 0,1%
h. Desoksimetason 0,25%
i. Betametason valerat 0,1%
j. Betametason dipropionat 0,05%
k. Halometason 0,05%
4.
Golongan IV (600 kali lebih kuat dari hidrokortison)
a. Diflukortolon valerat 0,3%
b. Clobetasol propionat 0,05%
c. Betametasone dipropionate
Beberapa sediaan steroid topikal dikombinasi dengan
berbagai antimikroba seperti nistatin, neomisin. Pemakaian sediaan
kombinasi ini dapat dipakai pada keadaan tertentu seperti bayi atau
anak dengan dermatitis infantil karena kemungkinan infeksi
sekunder sangat sering pada dermatitis seboroik maupun dermatitis
popok yang sering disertai dengan infeksi kandida. Hanya perlu
diperhatikan bahwa pengobatan sekali tembak dapat menyebabkan
keengganan mencari diagnosis setepat-tepatnya, memacu timbulnya

mikroorganisme yang resisten dan memungkinkan timbulnya


sensitisasi oleh bahan antiinfeksi tersebut (Ricciati, 1978).
II.5.4 Efek Samping Pengguna Steroid Topikal
Pemakaian yang terlalu lama akan meningkatkan resiko
timbulnya efek samping ini. Sehingga pemakaian steroid yang poten
seyogyanya tidak lebih dari 2 3 minggu. Efek samping ini dapat
bersifat lokal atau sistemik (Anigbogu dan Maibach, 2000;
Wozniacka dan Jedrzejowska, 2001).
1. Efek lokal
a. Kerusakan kulit berupa atrofi kulit, teleangiektasi, purpura
b.

atau striae.
Infeksi dapat terjadi setelah pemakaian jangka lama,
terutama kalau digunakan secara oklusi, dapat berupa infeksi
kandida, bakteria atau meluasnya impetigo. Tinea incognito
juga dapat terjadi karena kesalahan terapi tinea dengan

menggunakan steroid topikal.


c. Efek lain misalnya timbulnya akne steroid, dermatitis
perioral, gangguan pigmentasi dan alergi.
d. Pada individu tertentu pemakaian jangka panjang dapat
menyebabkan rambut pada muka tumbuh subur.
2. Efek sistemik
Steroid topikal khususnya yang mempunyai potensi kuat
dan dipakai untuk jangka panjang dengan konsentrasi tinggi atau
oklusi dapat pula menimbulkan efek sistemik seperti steroid
sistemik.
II.6 Manifestasi Klinik
Gambaran klinis tinea incognito menurut Barnez (2003), berupa :
1. Tidak terdapatnya lesi berskuama yang biasanya meninggi
2. Memar (kemerahan)
3. Kadang terdapat nodulus dan pustule pada tepinya.

Tinea incognito harus dimasukkan sebagai diagnosis banding pada


infeksI kulit yang supuratif, terutama ketika penderita diketahui
sebelumnya mendapat terapi dengan steroid topikal

Gambar 2. Tinea incognito dengan patch eritematous


dan teleangiektasi tanpa adanya skuama, septa dan hifa
yang ditemukan pada pemeriksaan mikroskopik tinea
incognito menggunakan potasium hidroksid.

Gambar 3. Tinea incognito disebabkan terapi


steroid dosis tinggi

5. Atrofi (kulit tipis, stretch mark ( striae ) di lipatan kulit).


6. Purpura (memar) dan telangiectasia (pembuluh darah rusak).
Tinea incognito

Gambar 4. Tinea Inkognito


II.7 Pemeriksaan
Menggores kulit dan ujian mikroskopis dengan larutan kalium
hidroksida. Hifa Karakteristik terlihat berjalan melalui sel epitel skuamosa.
Kultur jamur tidak perlu, tetapi mungkin dipertimbangkan jika pasien
menggunakan antijamur kombinasi dan produk steroid topikal.
II.8 Penatalaksanaan
II.8.1 Non Medikal Mentosa
1. Steroid topikal harus dihentikan
2. Lotion antipruritic hambar dapat diterapkan
II.8.2 Medikal Mentosa
Tinea biasanya diobati dengan agen antijamur topikal, tetapi jika
pengobatan tidak berhasil, obat anti jamur oral yang dapat
dipertimbangkan,

termasuk

terbinafine,

dan

itrakonazol.

Pengobatan dengan antijamur topikal memadai. Jika tinea yang


luas, pengobatan dengan anti jamur sistemik minimal tiga minggu.
Jika tinea yang penyamaran sangat inflamasi dan gatal, steroid

topikal ringan dapat digunakan untuk waktu terbatas (3-7 hari),


bersama-sama dengan anti jamur
1.

Pengobatan Sistemik
Azol adalah kelompok obat sintesis dengan aktivitas
spektrum yang luas. Obat yang masuk kelompok ini antara lain
ketokonazol, ekonazol, kloritmazol, tiokonazol, mikonazol,
flukonazol, itrakonazol. Pada jamur yang tumbuh aktif, azol
menghambat 14 demetilase, enzim yang bertanggung jawab
untuk sintesis ergosterol, yang merupakan sterol utama
membran sel jamur. Pada konsentrasi tinggi, azol menyebabkan
K+ dan komponen lain bocor keluar dari sel
A. Ketokonazol
Merupakan satu satunya obat anti jamur golongan
imidasol yang dipakai secara sistemik. Obat ini diketemukan
pertama pertama kali pada tahun 1970, namun baru tahun ini
1985 mulai dipasarkan di Indonesia. Obat ini sangat efektif
beberapa infeksi jamur profunda, dermatofitosis.
Mekanisme kerja serupa dengan golongan imidasol
pada umumnya, yaitu menghambat sintesis ergosterol pada
membran sel. Ketokonazol juga menghambat up take
precursor RNA dan DNA oleh dan mengganggu enzim
enzim oksidase dan peroksidase dari jamur.
Ketokonazol bisa diberikan per oral atau topikal.
Pada pemberian oral, obat ini diserap baik pada saluran
cerna (75%), dan absorpsi meningkat pada pH asam. Dalam
plasma, 84% ketokonazol berikatan dengan protein plasma
terutama albumin, 15% berikatan dengan sel darah dan 1%
dalam bentuk bebas. Ketokonazol dimetabolisme secara
ekstensif oleh hati. Sebagian besar ketokonazol diekskresi
bersama cairan empedu ke lumen usus dan hanya sebagian
kecil yang keluar bersama urine.

Efek samping yang sering pada pemberian oral


adalah mual dan muntah. Bahaya utama ketokonazol adalah
toksisitas hati. Obat ini harus dihindari pada wanita hamil.
Pada pemberian topikal, efek sampingnya bisa berupa iritasi,
pruritus, dan rasa terbakar.
Diindikasikan pada Paracoccidioides brasiliensis,
thrush (kandidiasis faringeal), kandidiasis mukokutan, dan
dermatofit (termasuk yang resisten terhadap griseofulvin).
Ketokonazol

mungkin

jangan

dikombinasi

dengan

amfoterisin B karena ketokonazol mengganggu sintesis


ergosterol. Ketokonazol tersedia dalam bentuk tablet 200
mg, untuk dewasa 3 6 mg/kgBB/hari pada anak anak
lebih dari 2 tahun. gel/krim 2%, dan scalp solution 20
mg/ml. lama pengobatan bervariasi tergantung individu dan
macam infeksi.
B. Itrakonazol
Itrakonazol merupakan yang merupakan pemilihan yang
baik. Pemberian obat tersebut untuk penyakit kulit dan
selaput lendir oleh peenyakit jamur biasanya cukup 2 x 100
200 mg sehari dalam kapsul selama 3 hari.

2.

Pengobatan Topikal

Pengobatan topikal merupakan pilihan utama. Efektivitas


obat

topikal

dipengaruhi

oleh

mekanisme

kerja,viskositas,

hidrofobisitas dan asiditas formulasi obat tersebut. Pada masa ini


selain obat obat topikal konvensional misalnya asam salisilat 2
4 %, asam benzoate 6 12%, sulfur 4 6%, vioform 3%, asam
undesilenat 2 5%, dan zat warna ( hijau berlian 1% dalam cat
castellani) dikenal banyak obat topikal baru. Obat obat baru ini
diantaranya

tolnaftat

2%,

tolsiklat,

derivate

imidazol,

siklopiroksolamin, dan naftifine masing 1%.

II.9 Prognosis
Tinea incognito umumnya baik, sejauh penggunaan steroid topical
dihentikan dan dig anti dengan obat anti fungal atau anti jamur serta
mampu menjaga kebersihan diri dengan baik.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN


III.1 Kesimpulan
Tinea incognito adalah nama yang diberikan pada infeksi jamur
saat gambaran klinis yang ada menjadi tidak jelas dikarenakan
pengobatan yang tidak tepat, yang biasanya disebabkan oleh karena
pemakaian steroid topikal pada kasus infeksi yang disebabkan oleh jamur
dermatofita (Gorani dan Oriani, 2002).
penggunaan steroid topikal. Setelah diteliti ditemukan bahwa
Trichophyton rubrum dan Trichophyton mentagrophytes sering ditemukan
pada pemeriksaan mikroskopik sebagai koloni yang ada pada tinea
incognito, karenanya infeksi jamur yang disebabkan oleh dua spesies
tersebut sering berkembang menjadi tinea incognito contohnya tinea
korporis, tinea pedis et manus, tinea unguium dan tinea cruris (Gorani dan
Oriani, 2002).
Gambaran klinis tinea incognito menurut Barnez (2003), Tidak
terdapatnya lesi berskuama yang biasanya meninggi, memar (kemerahan),
kadang terdapat nodulus dan pustule pada tepinya, atrofi (kulit tipis,
stretch mark ( striae ) di lipatan kulit), purpura (memar) dan telangiectasia
(pembuluh darah rusak).
Menggores kulit dan ujian mikroskopis dengan larutan kalium
hidroksida, steroid topikal harus dihentikan, lotion antipruritic
hambar dapat diterapkan. Tinea biasanya diobati dengan agen
antijamur topikal, tetapi jika pengobatan tidak berhasil, obat anti
jamur oral yang dapat dipertimbangkan, termasuk terbinafine, dan
itrakonazol . Pengobatan dengan antijamur topikal memadai

DAFTAR PUSTAKA

Agostini G, Knpfel B, Difonzo EM. Universelle dermatophytose (tinea


incognito) durch Trichophyton rubrum. Hautartz 1995;46:190-3.
Anigbogu, A.N. and Maibach, H. I., 2000, Topical Corticosteroid Therapy, in
Drug Theraphy In Dermatology, University of California at San Francisco,
San Francisco, California.http://www.rksoul.net
Ansar A, Farshchian M, Nazeri H, Ghiasian SA. Clinico-epidemiological and
mycological aspects of tinea incognito in Iran: a 16-year study. Med Mycol
J. 2011;52:2532.
Arenas R, Moreno-Coutino G, Vera L, Welsh O. Tinea incognito. Clin
Dermatol. 2010;28:137139.
Barankin, Benjamin, Freiman, Anatoli, 2006. Derm Notes Dermatology
Clinical Pocket Guide. Philadelphia: F. A. Davis Company. 98-100.
Barnez, L., 2003Topical Steroids, dermnetnz.org/fungal/topical-steroids.html.
Barnez, L., 2003 Tinea Incognito, dermnetnz.org/fungal/tinea-incognito.html
http://www.dermnet.com/images/Tinea-Ringworm-Incognito
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20455412
Bergman J, Rico JM. Tacrolimus clinical studies for atopic dermatitis and other
conditions. Semin Cutan Med Surg. 2001;20:250-259.
Burkhart CG. Tinea incognito. Arch Dermatol. 1981;117: 606-607.
Del Boz J, Crespo V, Rivas-Ruiz F, de Troya M. Tinea incognito in children: 4
cases. Mycoses. 2011;54:254258.
Djuanda, A., Hamzah, M., Aisah, S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi
Keenam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 3-5.
Elgart M. Tinea incognito: an update on Majocchi granuloma. Dermatologic
Clinics. 1996;14:51-5.
Feder HM. Tinea incognito misdiagnosed as erythema migrans. N Engl J Med
2000;343:69.
Gupta AK, Prussick R, Sibbald RG, Knowles SR. Terbinafine in the treatment
of Majocchi's granuloma. Int J Dermato .1995;34:489.
Habif, T. P. (1995) Clinical Dermatology. Mosby, 3rd ed.; pp. 41-42
Hay RJ, Moore M. Mycology. In: Champion RH, Burton JL, Burns DA,
Breathnach SM, editors. Textbook of dermatology. 6th ed. Oxford:
Blackwell Science; 1998. p. 1277-377.
Ive FA, Marks R. Tinea incognito. Br Med J. 1968;3:149152.

Jacobs PH. Majocchi's granuloma (due to therapy with steroid and occlusion).
Cutis.1986;38:23.
Kamalam A, Yesudian P, Thambiah AS. An unusual presentation of
Trichophyton violaceum infection. Br J Dermatol. 1977;96:205-209.
Ling MR. Topical tacrolimus and pimecrolimus: future directions. Semin Cutan
Med Surg. 2001;20:268-274.
Marks R. Tinea incognito. Int J Dermatol. 1978;17:301-302
Martin AG, Kobayashi GS. Fungal diseases with cutaneous involvement:
superficial fungal infectiondermatophytosis, tinea nigra, piedra. In:
Freeberg IM, Eisen AZ, Wolff K, et al., editors. Fitzpatrick's dermatology in
general medicine. 5th ed. New York: McGraw-Hill; 1999. p. 2337-57.
Nolting C, Vennewald I, Seebacher C. Tinea follicularis presenting as
trichophytic Majocchi granuloma [in German]. Mycoses. 1997;40(suppl
1):73-75.
Novick nl., tapia i., bottone ej. Invasive trichophyton rubrim infection in an
immunocompromised host. Am j med. 1987 hal 321 325
Schieke SM, Garg A. Fitzpatrick's dermatology in general medicine. 8th ed.
NewYork: McGraw-Hill; 2012. Fungal disease; pp. 22772297.
Shapiro L, Cohen HJ. Tinea faciei simulating other dermatoses. JAMA.
1971;215:2106-2107.
Smith kj, welsh m, skelton h. trichophyton rubrum showing deep dermal
invation directly from the

epidermis in immunosuppressed patient. Br

dermatol. 2001 hal 344-348


Solomon BA, Glass AT, Rabbin PE. Tinea incognito and over-the-counter
potent topical steroids. Cutis 1996;58:295-6.
Thorne E, Fusaro R. Subcutaneous Trichophyton rubrum abscesses. a case
report. Dermatologica. 1971;142:167-170.
Rallis e, koumantaki mathioudaki e. pimecrolimus induced tinea incognito
masquerading as intertriginous psoriasis. Mycoses. 2008. Hal 129 130
Romano C, Maritati E, Gianni C. Tinea incognito in Italy: a 15-year survey.
Mycoses. 2006. Hal 383387.
Wasitaatmadja, Sjarif M, 2010. Anatomi Kulit. Dalam: Djuanda, A., Hamzah,
M., Aisah, S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 6. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 3-5.
Wolff, K., Johnson, R., & Suurmond, D. (2005). Fitzpatrick's color atlas &
synopsis of clinical dermatology. New York: McGraw-Hill.