P. 1
Khutbah Jum'at: Cinta Rasul

Khutbah Jum'at: Cinta Rasul

|Views: 1,161|Likes:
Dipublikasikan oleh Indra Sutriadi Pipii
Khutbah Jum'at: Cinta Rasul
Khutbah Jum'at: Cinta Rasul

More info:

Published by: Indra Sutriadi Pipii on Feb 24, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/11/2013

pdf

text

original

Hakekat Cinta Rasul

*

ْ َ َ ْ ِ َ َ ِ ُ ِ ْ ُ ُ ِ ِ ُ ْ ُ َ ُُ ِ ْ ْ َ ُ ِ ْ َ ُُ َ ْ ِ َ ْ َ ّ ‫ِإن اْلحمدِل َنحمده وَنسَتعْيُنه وَنسَتغفره وَنعوذ ِبال منْ شرور َأْنفسَنا وسّيَئات َأعماِلَنا من‬ ‫َيهده ال فل مضل َله ومن ُيضلل فل هادي َله َأشهد َأن ل ِإله ِإل ال وَأشهد َأن محمدا‬ ً ّ َ ُ ّ ُ َ ْ َ ُ ّ َ َ ْ ُ َ ْ ُ َ ِ َ َ َ ْ ِْ ْ َ َ ُ ّ ِ ُ َ َ ُ ِ ِ ْ ُ ْ ُ َ َ ُُ َ ‫عْبده ورسوُله‬ .‫َاللهم صل وسلم على محمد وعلى آِله وَأصحاِبه ومن َتِبعهم ِبإحسان ِإَلى َيوم الدْين‬ ّ ِْ ٍ َ ْ ِ ْ ُ َ ْ َ َ ِ َ ْ ِ ِ َ َ ٍ ّ َ ُ َ ْ َّ َ ّ َ ّ ُ َ ْ ُ ِْ ُ ْ َ ّ ّ ْ ُ َ َ ِ َ ّ َ َ ُ ْ َ َ َ َ ‫َياَأّيها اّلذْين آمُنوا اّتقوا ال حق ُتقاِته ول َتموُتن ِإل وَأْنُتم مسلمون‬ ‫َياَأّيها الَناس اّتقوا رّبكم اّلذي خلقكم من َنفس واحدة وخلق مْنها زوجها وَب ّ مْنهما‬ َ ُ ِ ‫ُ ُ ْ َ ُ ُ ِ ََ َ ُ ْ ِ ْ ْ ٍ َ ِ َ ٍ َ ََ َ ِ َ َ ْ َ َ َ ث‬ َ ‫رجال كِثْيرا وِنساء واّتقوا ال اَلذي َتساءُلون ِبه وْالرحامَ ِإن ال كان علْيكم رقْيًبا‬ ِ َ ْ ُ ََ َ َ َ ّ َ ْ َ َ ِ َ ْ َ َ ِ َ ُ َ ً َ َ ً َ ً َ ِ ْ‫َياَأّيها اّلذْين آمُنوا اّتقوا ال وقوُلوا قول سدْيدا ُيصلح َلكم َأعماَلكم وَيغفرَلكم ُُنوَبكم ومن‬ َ َ ْ ُ ْ ‫َ ِ َ َ ْ ُ َ َ ُ ْ ْ َ ْ ً َ ِ ً ِْ ْ ُ ْ ْ َ ُ ْ َ ْ ِ ْ ُ ْ ذ‬ ... ‫ُيطع ال ورسوَله فقد فاز فوزا عظْيما، َأما َبعد‬ ُ ْ ّ ً ِ َ ً ْ َ َ َ ْ ََ ُ ْ ُ َ َ َ ِ ِ ّ َ َ َ َّ َ ِ ََ ‫فأن َأصدق اْلحدْيث كَتاب ال، وخْير اْلهدى هدى محمد صلى ال علْيه وسلم، وشر‬ َّ ٍ ّ َ ُ ُ ْ َ ِ ْ َ َ َ َ ِ ُ ِ ِ ِ َ َ َ ْ ّ َِ .‫ْالمور محدَثاُتها، وكل محدَثة ِبدعة وكل ِبدعة ضلَلة، وكل ضلَلة في الّنار‬ ِ ِ ِ َ َ ّ ُ َ ً َ َ ٍ َ ْ ّ ُ َ ٌَ ْ ٍ َ ْ ُ ّ ُ َ َ َ ْ ُ ِ ْ ُ ُ
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, Di masyarakat banyak sekali aktivitas yang mengatas namakan cinta Rasul. Berbagai grup dan kelompok mengaku cinta Rasul. Bahkan kelompok musik dan artis pun tidak sedikit yang mengatasnamakan “Cinta Rasul”. Oleh karena itu marilah pada kesempatan kali ini, kita bertakwa kepada Allah  dengan taat yang sebenar-benarnya termasuk dalam mencintai Rasulullah , sebagai Nabi sekaligus Rasul yang terakhir. Allah  berfirman,

“Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari kebenaran), maka Kami tidak mengutusmu (wahai Rasul) untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. an-Nisa`: 80)

ْ ْ ْ ً ْ ْ ‫من يط ِع ٱلرسول ف َقد أ َطاع ٱل ۖ و من تول فَما أ َرسلنَٰـك عليم حفيظا‬ َ َِ ِ َ َ َ َ ّ َ َ َ َ َ َّ َ َ َ َ ُ َّ ِ ُ َ َ

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, Cinta Rasul merupakan sesuatu yang harus dilakukan oleh setiap orang yang mengaku beriman. Pertama, karena itu adalah perintah Rasulullah . Kedua, karena tidak sempurna iman seorang sebelum mencintai Rasulullah melebihi kecintaan terhadap segalanya. Diriwayatkan dari Anas , Rasulullah  bersabda,

َ ِ َ ْ ِ َ ِِ َ َ ِِ َ ْ ِ ِ ّ َ َ ْ ُ ُ ْ ُ ُ َ ُ ِ ْ َ ‫ل ُيؤمن َاحدكم حّتى َاكون َاحب ِاَلْيه من واِلده و وَلده و الّناس َاجمعْين‬

“Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kamu sehingga aku lebih dicintai daripada orang tuanya, anaknya dan seluruh umat manusia.” (HR. Bukhari, Muslim)

Hadits di atas merupakan petunjuk tentang wajibnya mencintai Rasulullah  dengan kualitas cinta tertinggi, yakni kecintaan yang benar-benar melekat di hati, yang mengalahkan kecintaan kita terhadap apa pun dan siapa pun di dunia ini. Bahkan terhadap orang-orang terdekat sekalipun, seperti: anak, istri, ibu dan bapak. Bahkan cinta Rasul itu harus pula mengalahkan kecintaan kita terhadap diri sendiri. Dalam sebuah hadits, Umar bin Khattab  berkata kepada Nabi , “Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri”. Nabi bersabda, “Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Maka Umar pun berkata kepada beliau, “Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Maka Nabi  bersabda, “Sekarang (telah sempurna kecintaanmu/imanmu padaku) wahai Umar.” (HR. Bukhari) Jadi, cinta Rasul adalah perintah agama. Tidak boleh kita mengekspresikan cinta kepada Rasul sesuai dengan selera dan hawa nafsu sendiri, tanpa memperhatikan tuntunan dari Rasulullah . Sebab jika cinta rasul itu diekspresikan secara serampangan tanpa mengindahkan syari'at agama, maka bukan pahala yang kita raih, tetapi dosa yang kita dapatkan. Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, Cinta Rasul tidaklah berupa kecenderungan sentimentil dan romantisme pada saat-saat khusus dengan acara-acara tertentu. Tidak juga dengan seremonial dengan undangan-undangan formal. Namun cinta itu haruslah benar-benar murni dari lubuk hati seorang mukmin, dan senantiasa terpatri di dalam hati. Sebab dengan cinta itulah hatinya menjadi hidup, melahirkan amal shalih dan menahan dirinya dari kejahatan dan dosa. Orang yang mengaku cinta kepada Rasulullah  memiliki tanda-tanda. Di antara tanda-tandanya adalah sebagai berikut. 1. Mentaati Rasulullah  dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Allah  berfirman,

“Apa yang diberikan Rasul kepada mu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagi mu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat keras siksaannya.” (QS. al-Hasyr: 7)

ْ ْ ْ ‫وما ءاتٰـكم ٱلرسول فَخُذوه و ما نٰـكم عنه ُفٱنتوا ۚ وٱتقوا ٱل ۖ إن‬ ُ ُ َّ ُ ُ َّ ِ َ َّ ۟ ُ َّ َ ۟ ُ َ َ َ ُ َ َ َ َ ََ َ َُ ُ ْ ‫ٱل شديد ٱلعقاب‬ ِ َ ِ ُ ِ َ َ َّ

Bahkan hakikat cinta Rasul adalah taat kepada Rasul dan mengikuti sunnah-sunnahnya. Dan siapa yang taat kepada Rasulullah  berarti taat kepada Allah . Sebagaimana firman Allah  yang telah dibacakan pada awal khutbah. Seorang pencinta sejati Rasulullah , manakala ia mendengar Rasulullah  bersabda memerintahkan sesuatu, maka ia akan segera menunaikannya. Ia tidak akan meninggalkannya meskipun itu bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya. Adapun orang yang dengan mudahnya menyalahi dan meninggalkan perintah-perintah Rasulullah , serta menerjang berbagai kemunkaran yang telah dilarang oleh beliau, maka pada dasarnya ia hanya mencintai dirinya sendiri. Sehingga kita saksika ia dengan mudahnya meninggalkan shalat 5 waktu, puasa Ramadhan, meninggalkan pakaian muslimah yang menutup auratnya dengan sempurna, dan lain sebagainya. Padahal Nabi  sangat mengagungkan syari'at Islam yang telah diajarkannya.

2. Menolong dan mengagungkan Rasulullah . Hal ini sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh para sahabat Rasulullah, sebelum dan sesudah beliau wafat. Para sahabat menyebarkan dan mengagungkan sunnah-sunnah Rasulullah  di tengah-tengah kehidupan umat manusia betapa pun ringangan dan tantangan yang dihadapinya. Untuk itu kita harus sering serta banyak membaca atau mempelajari hadits Nabi dan kisah-kisah perjalanan hidup beliau. 3. Tidak menerima seusatu pun perintah dan larangan kecuali melalui Rasulullah . Termasuk di dalamnya rela dengan apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullah , serta tidak merasa sempit dada dengan sesuatu pun yang datang dari sunnah-sunnahnya. Adapun selain beliau, termasuk para ulama dan shalihin, maka mereka adalah para pengikut Nabi. Tidak seorang pun dari mereka yang boleh diterima perintah dan larangannya kecuali berdasarkan apa yang datang dari Rasulullah . 4. Mengikuti dan menghidupkan Sunnah Rasulullah serta mengikuti beliau dalam segala hal. Termasuk mencontoh beliau dalam tata cara shalat, wudhu dan berbagai macam ibadah lainnya. Juga dalam akhlak dan adab, seperti: kasih sayang, rendah hati, dermawan, kesabaran, zuhud, adab berpakaian, bergaul, dan lain-lain. 5. Memperbanyak shalawat terhadap Nabi  kapan saja dan di mana saja berada. Allah  berfirman,

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu sekalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. al-Ahzab: 56) Rasulullah  bersabda,

ْ ‫إن ٱل و ملٰـ ٓئكتهۥ يصلون عل ٱلنّ َبي ۚ يٰـ ٓأ َُّيا ٱلين ءامنوا صلوا عليه و‬ ِ َّ ِ َ َ ۟ ُّ َ ۟ ُ َ َ َ َ ُ ّ َ ُ ُ َ َ ِ َ َ َ َ َّ َّ ِ َ َ َ ِّ ِ َ َ ً ِ ْ ‫سلموا ت َسليما‬ ۟ ُ ِّ َ

‫من صلى علي صلة، صلى ال علْيه ِبها عشرا‬ ً ْ َ َ ِ َ َ ُ َّ ً َ َ ّ َ َ َّ ْ َ
“Barangsiapa bershalawat atasku satu kali, niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh kali.” (HR. Muslim) 6. Mencintai orang-orang yang dicintai oleh Nabi . Mereka yang dicintai oleh Nabi , seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, 'Aisyah  dan lainlain seperti yang disebutkan Nabi  dalam haditsnya. Sejalan dengan itu, kita harus membenci orang-orang yang dibenci oleh Nabi . Dan termasuk pula mencintai segala sesuatu yang dicintai oleh Nabi  termasuk dalam hal ucapan, perbuatan dan sesuatu yang lain. Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, Itulah tanda-tanda orang yang cinta kepada Rasulullah . Kalau tidak memenuhi itu, berarti pengakuan kita sekedar ucapan tanpa bukti atau omong kosong belaka, meskipun kita melakukan berbagai aktivitas dengan mengatasnamakan “Cinta Rasul”.

َ ُ ُ ُ ْ ُ ِ ْ ْ َ ِ َ ِْ ُ َ ِ ِْ ُ ِ َ َ ْ ُ َ َ ُ ِ ْ ْ َ ْ َ ُ ْ ُ ‫َأقول قوِلي هذا َأسَتغفر ال ِلي وَلكم وِلساِئر اْلمسلمْينَ واْلمسلمات فاسَتغفروه ِإّنه هو‬ ِ ِ ّ ُ ْ َُ ‫اْلغفور الرحْيم‬

Khutbah Kedua

ْ َ َ ْ ِ َ َ ِ ُ ِ ْ ُ ُ ِ ِ ُ ْ ُ َ ُُ ِ ْ ْ َ ُ ِ ْ َ ُُ َ ْ ِ َ ْ َ ّ ‫ِإن اْلحمدِل َنحمده وَنسَتعْيُنه وَنسَتغفره وَنعوذ ِبال منْ شرور َأْنفسَنا وسّيَئات َأعماِلَنا من‬ ‫َيهده ال فل مضل َله ومن ُيضلل فل هادي َله َأشهد َأن ل ِإله ِإل ال وَأشهد َأن محمدا‬ ً ّ َ ُ ّ ُ َ ْ َ ُ ّ َ َ ْ ُ َ ْ ُ َ ِ َ َ َ ْ ِْ ْ َ َ ُ ّ ِ ُ َ َ ُ ِ ِ ْ ،‫عْبده ورسوُله وبعد‬ ُ ْ ُ َ َ ُُ َ
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, Agar supaya kita bisa mencintai Rasulullah , hendaknya kita ingat bahwa Nabi  adalah orang yang paling baik dan berjasa kepada kita, bahkan dibandingkan dengan orang tua kita sendiri. Beliaulah yang mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya, yang menyampaikan agama dan kebaikan kepada kita dan yang memperingatkan kita dari kemunkaran dan bahaya api neraka. Kita pun perlu merenungkan perjalanan hidup Nabi , jihad beliau dan kesabaran beliau dalam berdakwah, serta apa saja yang telah beliau korbankan demi tegaknya agama ini. Kemudian marilah kita merenungkan akhlak beliau, sifat dan sikapnya yang sempurna, rendah hati kepada kaum mukminin namun tegas dan keras terhadap kaum munafik dan musyrikin. Beliau juga memiliki sifat pemberani, dermawan dan penyayang. Cukuplah sanjungan Allah  kepada beliau dalam firman-Nya,

“Dan sungguh engkau memiliki akhlak yang agung.” (QS. al-Qalam: 4)

‫و إنَك لَعلَٰى خُل ُق عظي‬ ّ َ َ ِّ َ ٍ ِ ِ ٍ

Terakhir kita perlu mengetahui kedudukan Nabi  di sisi Allah . Beliaulah orang yang paling mulia di antara segenap umat manusia, penutup para nabi dan diistimewakan pada hari kiamat atas segenap para nabi untuk memberikan syafa'at yang agung. Beliau memiliki kedudukan terpuji, orang yang pertama kali membuka pintu surga, serta banyak keutamaan beliau lainnya.

َ َ ِ َ ِ ََ َ َ ِ َ ََ َ َّ َ َ ٍ ّ َ ُ ِ ََ َ ٍ ّ َ ُ ََ ّ َ ‫ّ ُم‬ ‫َالله ّ صل على محمد وعلى آل محمد كما صلْيت على ِإْبراهْيم وعلى آل ِإْبراهْيم، ِإّنك‬ ِ َ َ َ َ ِ َ ََ َ ْ َ َ َ ٍ ّ َ ُ ِ َ َ َ ٍ ّ َ ُ ََ ْ ِ َ ٌ ِ َ ٌ ِ َ ‫حمْيد مجْيد. وَبارك على محمد وعلى آل محمد كما َباركت على ِإْبراهْيم وعلى آل‬ .‫ِإْبراهْيم، ِإّنك حمْيد مجْيد‬ ٌ ِ َ ٌ َِ َ َ ِ َ َ ِ َ ْ َ َ ْ ُ ِ ِ ْ َ ِ ِ ْ ُ َ َ ِ ْ ُ َ ِ َ ِْ ُ َ َ ِ ِْ ُ ْ ْ ِ ْ ‫ّ ُم‬ ‫َالله ّ اغفر ِللمسلمْين واْلمسلمات، واْلمؤمِنْين واْلمؤمَنات ْالحَياء مْنهم وْالموات، ِإّنك‬ .‫سمْي ٌ قرْيب مجْيب الدعوات‬ ِ َ َ ّ ُ ِ ُ ٌ َِ ‫َ ِ ع‬ ْ ِ َ ِ ََ ُ ْ َ َ َ َ ً ْ ََ ْ ِ ْ َ َ َ ْ َ ْ ْ ِ ْ ْ ِ َ َ َ ‫رّبَنا لُتؤاخذ َنا ِإن َنسْيَنا َأو َأخطأَنا رّبَنا ول َتحمل علْيَنا ِإصرا كما حملَته على ّالذْين من‬ ‫قْبلَنا رّبَنا ول ًتحملَنا مال طاقة َلَنا ِبه واعف عّنا واغفر َلَنا وارحمَنا َأْنت مولَنا فاْنصرَنا على‬ ََ ْ ُ َ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ ْ ِ ْ َ َ ُ ْ َ ِ َ َ َ َ َ ْ ّ َ َ َ َ ِ َ .‫اْلقوم اْلكافرْين‬ َ ِِ َ ِْ َ .‫رَبَنا ءاِتَنا في الدْنَيا حسَنة وفي ْالخرة حسَنة وقَنا عذاب الّنار. والمد ل رب العالي‬ ِ َ َ َ َِ ً َ َ ِ َ ِ َ َِ ً َ َ ّ ِ َ َ

* M. Mujib Ansor, SH, Rubrik Khutbah Qiblati edisi 06 tahun IV, hal 36 – 39; dengan beberapa perubahan redaksi kalimat

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->