Anda di halaman 1dari 16

Jurnal Online Psikologi

Vol. 01 No. 02, Thn. 2013


http://ejournal.umm.ac.id

PENERIMAAN MASA LALU TERHADAP INSOMNIA PADA LANSIA


Winda Ayu Bestari
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang
winda.aruend@gmail.com

Insomnia banyak terjadi pada lansia dan berakibat pada menurunnya tingkat
kesejahteraan jiwa, mengganggu kehidupan sosial serta mengakibatkan
menurunnya kondisi fisik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh penerimaan masa lalu terhadap insomnia yang terjadi
pada lansia. Penelitian ini melibatkan 103 orang lansia yang terdiri dari 72
lansia laki-laki dan 31 lansia perempuan. Data dikumpulkan dengan
menggunakan skala Accepting the Past/Reminiscing about the Past
(ACPAST/REM) dan Pittsburgh Insomnia Rating Scale-20 (PIRS-20).
Analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat sebesar 39,4% pengaruh dari
penerimaan masa lalu terhadap insomnia pada lansia. Sedangkan 60,6%
dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Kata kunci: Penerimaan masa lalu, insomnia, lansia
Insomnia is more common in the elderly and result in reduced levels of
mental well-being, disrupt social life and lead to declining physical
condition. The purpose of this study was to determine the effect of past
receipt of the insomnia that occurs in the elderly. The study involved 103
elderly people consisting of 72 elderly men and 31 elderly women. Data was
collected using a scale Accepting the Past / Reminiscing about the Past
(ACPAST / REM) and the Pittsburgh Insomnia Rating Scale-20 (PIRs-20).
Analysis of the data in this study using regression analysis. The results
showed that there was 39.4% of revenues the past influences on insomnia in
the elderly. While 60.6% is influenced by other variables not examined in this
study
Keyword: Acceptance of the past, insomnia, elderly.

447

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

Lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas. Lansia
merupakan kelompok umur yang berisiko tinggi mengalami gangguan tidur, bahkan
gangguan tidur yang terjadi pada lansia dapat mencapai tingkat insomnia. Insomnia
merupakan gejala kesulitan dalam memulai tidur, ketidakmampuan untuk
mempertahankan kondisi tidur selama yang diinginkan dan bangun terlalu pagi dimana
gejala tersebut biasanya diikuti oleh gangguan fungsional saat bangun (Hauri, 1998
dalam Pallesan et al., 2002). Selain itu, sebagaimana yang dijelaskan oleh Miles dan
Dement (dalam Davison & Neale 2006) bahwa masalah tidur yang sering dialami oleh
orang lansia adalah sering terjaga pada malam hari, seringkali terbangun pada dini hari,
sulit untuk tertidur, dan rasa lelah yang amat sangat pada siang hari.
Insomnia dapat dibagi menjadi insomnia sekunder dan primer. Insomnia sekunder
adalah insomnia yang disebabkan oleh faktor medis, psikiatri atau substansi, sedangkan
insomnia primer merupakan insomnia yang disebabkan oleh faktor psikologis (Espie
dalam Pallesen et al., 2002).
Prevalensi insomnia pada lansia setiap tahun cendrung meningkat, hal ini juga sesuai
dengan peningkatan usia dan berbagai penyebabnya. Kaplan dan Sadock (2007)
melaporkan 40-50% dari populasi lansia menderita gangguan tidur. Keluhan tidur
umumnya berupa waktu tidur yang kurang, mudah terbangun malam hari, bangun pagi
lebih awal, rasa mengantuk sepanjang hari dan sering tertidur sejenak (dalam Anwar
Zainul, 2011).
Dalam penelitian yang telah dilakukan terhadap 5886 orang lansia berusia 65 tahun ke
atas, ditemukan bahwa lebih dari 70% lansia diantaranya menderita insomnia, yaitu
mengalami gejala kesulitan untuk mempertahankan waktu tidur. Gejala ini dialami baik
oleh lansia pria maupun wanita (Goenawan, 2012).
Pada masa lansia, seharusnya seseorang menjalani dan menikmati masa-masa
perkembangan terakhir dalam hidupnya dengan bahagia, namun apabila seorang lansia
mengalami insomnia, maka hal itu akan sangat merugikan lansia tersebut. Karena
insomnia yang dialami dapat berakibat pada menurunnya tingkat kualitas hidup lansia.
Selain itu insomnia juga menyebabkan lansia menjalani masa tua dengan rasa tidak
nyaman sehingga mempengaruhi tingkat kebermaknaan hidup serta menimbulkan rasa
ketidakbahagiaan. Selain itu, Goenawan (2012) mengatakan bahwa insomnia juga dapat
berakibat pada menurunnya kondisi fisik pada lansia serta meningkatkan risiko penyakit
jantung.
Dalam penelitiannya, Galea (2008) mengemukakan bahwa kecemasan dan depresi
menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan insomnia pada lansia. Karena
kecemasan serta depresi dapat menyebabkan insomnia tidak hanya pada lansia yang
kurang tidur, namun juga pada lansia dengan kualitas tidur yang normal.
Seorang lansia dengan insomnia, menunjukkan gejala depresi dan kecemasan yang lebih
parah dibandingkan lansia lainnya yang tidak mengalami insomnia. Selain itu 9,82
hingga 17,35 kali lebih mungkin mengalami kecemasan dan depresi klinis yang
signifikan. Salah satu penyebab insomnia secara umum adalah kecemasan dan depresi
(Galimi, 2010).

448

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

Dalam penelitian sebelumnya, Santor dan Zuroff (1994) mengemukakan bahwa


penerimaan masa lalu erat kaitannya dengan integritas serta gejala depresi. Gejala
depresi yang terjadi pada seorang lansia dapat dipengaruhi oleh seberapa besar lansia
tersebut mampu menerima masa lalunya. Sehingga dengan demikian, kesulitan dalam
penerimaan masa lalu menjadi salah satu penyebab dari gejala depresi pada lansia.
Penerimaan masa lalu merupakan tahap dimana seseorang berusaha merefleksikan
kehidupannya di masa lalu. Dimana seseorang dapat mengembangkan pandangan yang
positif ataupun negatif mengenai tahap perkembangan yang telah dilaluinya di masa
lalu. Dalam hal ini lebih banyak lansia yang mengalami putus asa dan kehilangan
harapan karena tidak mampu merefleksikan kehidupan masa lalunya dengan positif.
Orang tersebut selalu memandang segala sesuatu dimasa lalunya secara negatif.
Sedangkan sebagian orang lainnya yang mampu merefleksikan kehidupan masa lalunya
dengan positif disebut oleh Erikson dengan integritas. Selain itu, ketika seorang lansia
kehilangan aspek yang akrab dengan dirinya, maka integritas akan sangat sulit untuk
dipertahankan misalnya ketika kehilangan pasangan atau sahabat (meninggal), ketika
lansia kehilangan kesehatan atau kehilangan kekuatan fisik, kehilangan kemandirian,
kehilangan kedudukan dalam masyarakat atau kehilangan kebermaknaan sosial.
Mendapatkan tekanan semacam itu tentunya akan membuat lansia merasa putus asa
yang diekspresikan dalam bentuk kebencian, kecemasan dan depresi (Alwisol, 2009).
Masa lansia memang penuh dengan hal-hal yang membuat seorang merasa sengsara
secara psikologis. Kondisi fisik yang semakin melemah membuat banyak lansia
semakin tergantung pada orang lain. Celakanya ketergantungan ini muncul bersamaan
dengan menurunnya fungsi sosial serta menurunnya manfaat diri lansia bagi orang lain.
Namun hal yang paling berat pada masa lansia adalah menerima masa lalu. Dimana
sangat jarang ada lansia yang tidak menyesali masa lalunya, masa di mana mereka
seharusnya melakukan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya. Seperti pada masa
muda seharusnya bersekolah lebih giat, bekerja lebih giat atau bahkan seharusnya lebih
sayang pada anak atau menantu dan sebagainya. Yang menjadi titik penyesalan terberat
adalah bahwa lansia tidak punya kesempatan untuk memperbaiki masa lalunya sehingga
muncul penyesalan namun tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Para lansia melakukan
proses berpikir pada malam dan siang hari mengenai hal-hal negatif yang terjadi pada
masa lalunya. Hal ini menyebabkan lansia mengalami depresi dan kecemasan sehingga
pada akhirnya mengakibatkan lansia mengalami insomnia.
Berkaitan dengan pembahasan diatas, insomnia pada lansia tentu menjadi topik yang
sangat penting untuk diperhatikan serta dikaji lebih dalam. Dengan demikian, penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penerimaan masa lalu terhadap
kejadian insomnia yang sering kali terjadi pada lansia.
Insomnia
Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-IV (DSM-IV), Insomnia
didefinisikan sebagai kesulitan memulai tidur, mempertahankan tidur, merasa badan
tidak segar dan mengalami kualitas tidur yang buruk. Insomnia bukan berarti berapa
lama waktu tidur tetapi lebih mengarah pada kualitas tidur, yaitu seberapa jauh dapat
beristirahat dengan tidur tersebut.

449

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

Tidak semua orang yang mengalami kesulitan tidur dapat didiagnosis menderita
insomnia. Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-IV (DSMIV), ada beberapa gejala seseorang dapat didiagnosis menderita insomnia, pertama,
keluhan yang paling banyak adalah kesulitan untuk memulai, mempertahankan tidur,
dan tidak dapat memperbaiki tidurnya selama sekurangnya satu bulan. Kedua, gangguan
tidur tersebut menyebabkan distres yang secara signifikan merugikan fungsi sosial,
pekerjaan atau fungsi penting yang lain. Ketiga, gangguan tidur tersebut bukan karena
narkolepsi, gangguan tidur yang berhubungan dengan pernafasan, gangguan ritme
sirkadian atau parasomnia. Keempat, Gangguan tersebut bukan karena gangguan mental
lain seperti gangguan delirium, dan kelima, gangguan tersebut bukan karena efek
fisiologis yang langsung dari suatu zat seperti penyalahgunaan obat atau kondisi medis
yang umum.
Menurut Stanley dan Patricia (2007), klasifikasi insomnia terdiri atas tiga jenis.
Pertama, insomnia jangka pendek yaitu kejadian insomnia yang muncul akibat
pengalaman stres yang bersifat sementara seperti kehilangan orang yang dicintai,
tekanan ditempat kerja, atau takut kehilangan pekerjaan. Biasanya kondisi ini dapat
hilang tanpa intervensi medis, yaitu setelah orang tersebut mampu beradaptasi dengan
stressor. Kedua, insomnia sementara yaitu timbulnya episode malam yang tidak sering
terjadi yang disebabkan oleh perubahan-perubahan lingkungan seperti kontruksi
bangunan yang bising, atau pengalaman- pengalaman yang menimbulkan kecemasan.
Ketiga, insomnia kronis yaitu kejadian insomnia yang berlangsung selama 3 minggu
atau seumur hidup. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kebiasaan tidur yang buruk,
masalah psikologis, penggunaan obat tidur yang berlebihan, penggunaan alkohol yang
berlebihan, gangguan jadwal tidur bangun dan masalah kesehatan lainya.
Penerimaan Masa Lalu
Tahap periode perkembangan masa dewasa akhir terjadi pada usia 60 tahun. Menurut
Erikson pada periode ini lansia mengalami integritas versus keputusasaan (integrity
versus despair). Adapun karakteriktik dari periode ini adalah masa untuk melihat
kembali apa yang telah dilakukan selama periode perkembangan dalam kehidupan.
Ketika kehidupan masa lalu baik, maka seseorang akan merasa puas/ integritas.
Sebaliknya, ketika masa lalu negatif maka lansia akan mengalami kekecewaan/
keputusasaan (Santrock, 2011).
Pada tahap ini seseorang berusaha merefleksikan kehidupannya di masa lalu. Melalui
banyak rute yang berbeda, seorang lansia dapat mengembangkan pandangan yang
positif mengenai sebagian besar atau semua tahap perkembangan sebelumnya. Jika
demikian, rangkuman seseorang mengenai hidupnya akan memperlihatkan gambaran
bahwa kehidupannya telah dilalui dengan baik, dan lansia tersebut akan merasa puas
(integritas tercapai). Namun, jika lansia telah melalui banyak tahap sebelumnya secara
negatif, pandangannya tentang tahap kehidupan sebelumnya akan menghasilkan rasa
bersalah atau kemuraman dimana hal tersebut disebut oleh Erikson dengan
keputusasaan (Santrock, 2011).
Lansia yang memiliki integritas ego yang baik cenderung merasakan kepuasan hidup
(Santrock, 2002). Mereka mampu menerima kenyataan tidak menyenangkan yang telah
terjadi secara bijaksana dan menyadari pentingnya
bersikap positif terhadap
pengalaman dan kenyataan hidup. Mereka juga cenderung menyesuaikan aktivitas
450

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

dengan kemampuan fisik, kognitif, dan psikologis mereka saat ini. Kesemuanya itu
membuat mereka mensyukuri apa yang dapat dilakukan hari ini dan esok hari, serta
meminimalkan emosi negatif yang dikarenakan penyesalan masa lalu. Sedangkan lansia
yang mengalami keputusasaan ditandai dengan meluapnya rasa benci pada dirinya
sendiri, terhadap kegagalannya, caranya menyia-nyiakan hidup, bahkan lansia tersebut
seringkali penuh amarah pada mereka yang juga gagal seperti dirinya. Namun, ketika
melihat orang lain yang berhasil, lansia tersebut juga akan merasa marah dan iri. Pada
intinya, sebagian besar lansia yang mengalami putus asa selalu memandang hidup
dengan negatif. Sebaliknya, lansia yang berhasil mengembangkan ego integrity, masih
memiliki penyesalan namun mereka telah berdamai dengan masa lalu, menerima bahwa
ada hal yang masih bisa mereka lakukan dengan lebih baik, dan ada hal yang telah
mereka lakukan dengan sebaik mungkin.
Hipotesis
Dari kajian yang telah dijabarkan di atas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah ada
pengaruh dari penerimaan masa lalu terhadap insomnia pada lansia.
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian menggunakan penelitian kuantitatif korelasional antara dua
variabel dengan menggunakan metode penghitungan statistik tertentu sehingga akan
diketahui ada atau tidak pengaruh antara dua variabel yang diteliti.
Subjek penelitian
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah para
lansia di kecamatan Krayan kabupaten Nunukan Kalimantan Timur. Dari populasi
tersebut, diambil sebanyak 103 lansia. Teknik pengambilan sampel dengan
menggunakan purposive sample, yang diambil dengan teknik nonrandom sampling.
Alasan menggunakan teknik ini adalah karena karakteristik sampel (subjek) yang akan
diteliti sudah ditentukan dan diketahui terlebih dulu berdasarkan ciri dan sifat
populasinya (Winarsunu, 2009). Penentuan jumlah sampel dalam penelitian ini
didasarkan pada jumlah populasi lanjut usia di kecamatan Krayan, kabupaten Nunukan
Kalimantan Timur, yaitu sebanyak 140 lansia. Sehingga dapat ditentukan jumlah sampel
yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 103 orang lansia (Krejcie &
Morgan, 1970). Karakteristik subjek penelitian adalah lansia di wawancara terlebih
dahulu tentang kesulitan tidur yang dialaminya, apabila memenuhi kriteria insomnia
maka lansia tersebut dimasukkan kedalam sampel dalam penelitian ini. Adapun kategori
insomnia dalam wawancara yang dilakukan adalah lansia mengalami kesulitan untuk
memulai tidur, kesulitan mempertahankan waktu tidur, tidak mendapatkan tubuh yang
segar setelah bangun dari tidurnya, merasa kurang puas dengan tidurnya serta merasa
kualitas tidurnya buruk sekurang- kurangnya selama 1 bulan. Lansia yang memenuhi
kriteria kemudian diminta untuk memperhatikan kualitas tidurnya selama 1 minggu
untuk kemudian dapat mengisi skala insomnia yang bertanya tentang kesulitan tidur
subjektif, parameter tidur subjektif dan kualitas hidup dalam seminggu terakhir, dimana
skala tersebut memang dirancang untuk menilai keparahan insomnia pada uji klinis
(Moul, et al., 2002).
451

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

Variabel dan Instrumen Penelitian


Variabel yang dikaji dalam penelitian ini adalah variable bebas yaitu penerimaan masa
lalu dan variable terikat yaitu insomnia. Penerimaan masa lalu adalah kemampuan
seseorang untuk menerima masa lalunya. Sedangkan insomnia adalah kualitas tidur
seseorang yang buruk yaitu kesulitan untuk memulai tidur, kesulitan mempertahankan
tidur, tidak dapat beristirahat dengan tidurnya serta tidak mendapatkan tubuh yang segar
setelah terbangun dari tidur tersebut.
Untuk mengukur penerimaan masa lalu diukur dengan skala Accepting the
Past/Remainiscing about the Past (ACPAST/REM) (Santor dan Zuroff, 1994).
ACPAST/REM terdiri dari 27 item yang mengandung empat pilihan dengan skala
Likert. Adapun pilihannya adalah (1) sangat tidak setuju, (2) tidak setuju, (3) setuju, dan
(4) sangat setuju. Dalam hal ini subjek diminta memilih salah satu pilihan yang paling
sesuai dengan dirinya. Contoh item ACPAST/REM adalah: Berpikir tentang masa lalu
membuat saya lebih banyak merasa sakit daripada merasa senang. Skor yang tinggi
menunjukkan penerimaan masalalu yang buruk, sedangkan skor yang rendah
menunjukkan penerimaan masa lalu yang baik. ACPAST/REM memiliki reliabilitas
dengan nilai Alpha internal konsistensi sebesar 70. Berdasarkan hasil try out yang telah
dilakukan kepada 50 subjek lanjut usia di kota Malang dengan menggunakan skala
ACPAST/REM, didapatkan hasil indeks validitas sebesar 0,31 0,69 dan uji reliabilitas
skala sebesar 0,91. Dari hasil uji validitas skala ACPAST/REM yang telah dilakukan,
semua item adalah valid.
Sedangkan insomnia diukur dengan Pittsburgh Insomnia Rating Scale20 (PIRS-20)
(Moul D, dkk, 2002). PIRS-20 mengukur kualitas tidur seseorang selama 7 hari.
Instrumen ini terdiri dari 20 item. Sejumlah 12 item bertujuan untuk mengetahui
kesulitan subjektif dalam tidur selama 1 minggu terakhir. Contoh pernyataannya adalah:
bangun satu kali atau lebih setelah tertidur. Adapun dalam menjawab, subjek diminta
untuk memilih (1) sangat tidak setuju, (2) tidak setuju, (3) setuju, (4) sangat setuju.
Selanjutnya, 4 item ditujukan untuk mengetahui parameter tidur subjektif dalam satu
minggu terakhir. Contoh pertanyaannya adalah: pada saat anda mencoba tidur, biasanya
berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa tertidur?. Dalam hal ini subjek dapat
memilih (1) kurang dari jam, (2) antara sampai dengan 1 jam, (3) antara 1 sampai
dengan 3 jam, dan (4) lebih dari 3 jam atau saya tidak bisa tidur. Selain itu, 4 item
dirancang untuk mengetahui persepsi subjek terkait dengan kualitas tidurnya. Contoh
pernyataannya adalah: kualitas tidur anda dibandingkan dengan orang lain. Dalam hal
ini subjek diminta untuk memilih (1) sangat baik, (2) baik, (3) buruk, dan (4) sangat
buruk. PIRS-20 memiliki alpha Cronbach sebesar 0,95, dan memiliki reliabilitas dari
0,92. Berdasarkan hasil try out yang telah dilakukan kepada 50 subjek lansia di kota
Malang dengan menggunakan skala PIRS-20, didapatkan hasil indeks validitas sebesar
0,40 0,72 dan uji reliabilitas skala sebesar 9,10. Dari hasil uji validitas skala PIRS-20
yang telah dilakukan, semua item adalah valid.
Prosedur dan Analisa Data Penelitian
Prosedur penelitian ini terbagi menjadi dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap
pelaksanaan. Tahap persiapan yaitu peneliti melakukan adaptasi skala penerimaan masa
lalu dari skala Accepting the Past/Remainiscing about the Past (ACPAST/REM)
(Santor dan Zuroff, 1994). ACPAST/REM terdiri dari 27 item yang mengandung empat
452

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

pilihan dengan skala Likert. Sedangkan insomnia diadaptasi dari Pittsburgh Insomnia
Rating Scale20 (PIRS-20) (Moul D, dkk, 2002). PIRS-20 mengukur kualitas tidur
seseorang selama 7 hari. Sebelum dijadikan instrument penelitian, skala tersebut di uji
coba kepada 50 lansia. Dari hasil uji coba tersebut ditentukan item-item mana saja yang
layak untuk dijadikan alat ukur melalui perhitungan validitas dan reliabilitas item. Dari
hasil perhitungan validitas dan reliabilitas item dinyatakan valid semua. Selanjutnya,
dari hasil try out tersebut dilakukan pelaksanaan penelitian dengan penyebaran skala
pada 103 lansia. Setelah data terkumpul, data-data tersebut diolah dengan menggunakan
SPSS versi 12. Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan metode statistik, yaitu
suatu metode yang digunakan untuk melakukan pengumpulan, pengolahan, penafsiran
dan penarikan kesimpulan pada data hasil penelitian. Adapun jenis data yang akan
dikumpulkan adalah data kuantitatif yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk angka.
Data dalam penelitian ini dianalisis dengan bantuan Statistical packages for social
science (SPSS). Rancangan analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis
regresi.
HASIL PENELITIAN
Deskripsi Subjek Penelitian
Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah sebanyak 103 orang lansia berusia 60-77
tahun (Mean= 6.05 dan Standar Deviasi= 6.17). Terdiri dari 72 (70%) orang lansia lakilaki dan 31 (30%) orang lansia perempuan. Secara lengkap gambaran data demografi
subjek dapat dilihat pada Grafik 1.
40

37

30
20
10

18

11

M = 6.06
SD = laki-laki
6.17

18

perempuan

11
2

0
60-65 tahun

66-70 tahun

71-75 tahun

6
0

76-77 tahun

Grafik 1. Gambaran data demografi subjek.


Berdasarkan pada grafik 1 diatas, kelompok lansia usia 60-65 tahun terdiri dari 22
(21,3%) lansia, 11 orang diantaranya merupakan lansia laki-laki sedangkan 11 orang
lainnya merupakan lansia perempuan. Dari kelompok lansia usia 66-70 tahun terdiri dari
55 (53.3%) dimana 37 orang diantaranya merupakan lansia laki-laki serta 18 orang
diantaranya merupakan lansia perempuan. Selanjutnya, dari kelompok lansia usia 71-75
terdiri dari 20 (19,4%) lansia, 18 orang diantaranya merupakan lansia laki-laki dan 2
orang sisanya merupakan lansia perempuan. Selain itu, dari kelompok lansia usia 76-77
tahun terdiri dari 6 (5,8%) lansia yang seluruhnya merupakan lansia laki-laki.
Terdapat dua variabel dalam penelitian ini yaitu, penerimaan masa lalu dan insomnia.
Berdasarkan analisis deskripsi kedua variabel dapat digambarkan seperti pada Tabel 1.

453

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

Tabel 1. Rata-rata dan standar deviasi penerimaan masa lalu dan insomnia
Variabel
Penerimaan masa lalu
Insomnia

Rentangan
34-81
22-63

Rata-rata
66.62
45.46

Standar Deviasi
10.198
9.081

Dikalangan subjek penelitian, diketahui bahwa penerimaan masa lalu berada pada
rentangan 34-81 dengan rata-rata 66.62 dan standar deviasi sebesar 10.198. Sedangkan
insomnia berada pada rentangan 22-63 dengan rata-rata 45.46 dan standar deviasi 9.081.
Deskripsi Variabel Penerimaan Masa Lalu
Berikut ini akan disajikan hasil analisis deskripsi data dari variabel penerimaan masa
lalu di kecamatan Krayan kabupaten Nunukan yang di ukur dengan skala Accepting the
Past/Remainiscing about the Past (ACPAST/REM) sebagaimana Grafik 2.
54
53
52
51
50
49
48

53
51.5%

M = 66.6
SD = 10.1

50
48.5%
Tinggi

Rendah

Grafik 2. Penerimaan masa lalu pada lansia di kecamatan Krayan kabupaten


Nunukan.
Berdasarkan grafik 2 diatas, penerimaan masa lalu pada lansia di kecamatan Krayan
kabupaten Nunukan yang tergolong dalam kategori tinggi sebanyak 53 orang lansia
(51,5%), atau sedikit lebih banyak dibandingkan lansia dengan penerimaan masa lalu
yang masuk dalam kategori rendah yaitu sebanyak 50 orang lansia (48,5%).
120.00%
100.00%
80.00%
60.00%
40.00%
20.00%
0.00%

M = 66.6
SD = 10.1

60 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77
th th th th th th th th th th th th th th th th th

PML Tinggi 60.066.60.000.0045.466.653.875.00.0048.050.025.0100.50.037.550.050.0


PML Rendah 40.033.3100.100.54.533.346.125.0100.52.050.075.00.0050.062.550.050.0

Keterangan :
PML Tinggi : Penerimaan masa lalu tinggi
PML Rendah : Penerimaan masa lalu rendah

Grafik 3. Penerimaan Masa Lalu Pada Lansia Berdasarkan Usia.


454

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

Dari hasil penelitian didapat kan bahwa lansia usia 60 tahun berjumlah 5 orang, 3 orang
lansia diantaranya memiliki tingkat penerimaan masa lalu yang tinggi dimana 2 orang
lansia lainnya memiliki tingkat penerimaan masa lalu yang rendah. Selain itu, lansia
usia 62 tahun berjumlah 3 orang. Sejumlah 2 orang lansia diantaranya memiliki tingkat
penerimaan masa lalu yang tinggi, dan 1 orang sisanya memiliki tingkat penerimaan
masa lalu yang rendah. Lansia usia 63 tahun hanya terdiri dari 1 orang lansia yang
memiliki penerimaan masa lalu yang rendah. Lansia usia 64 tahun terdiri dari 2 orang
lansia dimana 2 orang lansia tersebut memiliki penerimaan masa lalu yang rendah.
Selanjutnya lansia usia 65 tahun terdiri dari 11 orang lansia. 5 orang lansia diantaranya
memiliki tingkat penerimaan masa lalu yang tinggi, sedangkan 6 orang lansia lainnya
memiliki tingkat penerimaan masa lalu yang rendah. Dari usia 66 tahun terdiri dari 3
orang lansia. Sejumlah 2 orang diantaranya memiliki tingkat penerimaan masa lalu yang
tinggi sedangkan 1 orang lansia sisanya memiliki tingkat penerimaan masa lalu yang
rendah. Usia 67 tahun terdiri dari 13 orang lansia, 7 orang lansia diantaranya memiliki
tingkat penerimaan masa lalu yang tinggi sedangkan 6 orang lansia lainnya memiliki
tingkat penerimaan masa lalu yang rendah. Selain itu, usia 68 tahun terdiri dari 12 orang
lansia. Sejumlah 9 orang lansia diantaranya memiliki penerimaan masa lalu yang tinggi,
sisanya 3 orang lansia memiliki tingkat penerimaan masa lalu yang rendah. Dari usia 69
tahun terdiri dari 2 orang lansia dimana 2 orang lansia tersebut memiliki tingkat
penerimaan masa lalu yang rendah. Sedangkan dari usia 70 tahun terdiri dari 25 orang
lansia. Sejumlah 12 orang lansia diantaranya memiliki tingkat penerimaan masa lalu
yang tinggi dan 13 orang lansia lainnya memiliki tingkat penerimaan masa lalu yang
rendah. Usia 71 hanya terdiri dari 2 orang lansia dimana 1 orang lansia memiliki tingkat
penerimaan masa lalu yang tinggi dan 1 orang lansia lainnya memiliki tingkat
penerimaan masa lalu yang rendah. Dari usia 72 tahun terdiri dari 4 orang lansia.
Sejumlah 1 orang memiliki tingkat penerimaan masa lalu yang tinggi, sedangkan 3
orang lansia memiliki tingkat penerimaan masa lalu yang rendah. Usia 73 tahun terdiri
dari 4 orang lansia dimana 4 orang lansia tersebut memiliki tingkat penerimaan masa
lalu yang tinggi. Dari usia 74 tahun terdiri dari 2 orang lansia dimana 1 orang lansia
memiliki tingkat penerimaan masa lalu yang tinggi dan 1 orang lansia lainnya memiliki
tingkat penerimaan masa lalu yang rendah. Selanjutnya dari usia 75 tahun terdiri dari 8
orang lansia. Sejumlah 3 orang lansia memiliki tingkat penerimaan masa lalu yang
tinggi dan 5 orang lansia lainnya memiliki tingkat penerimaan masa lalu yang rendah.
Usia 76 tahun terdiri dari 4 orang lansia dimana 2 orang lansia diantaranya memiliki
tingkat penerimaan masa lalu yang tinggi dan 2 orang lansia lainnya memiliki tingkat
penerimaan masa lalu yang rendah. Terakhir dari usia 77 tahun terdiri dari 2 orang
lansia dimana 1 orang lansia diantaranya memiliki tingkat penerimaan masa lalu yang
tinggi, dan 1 orang lansi lainnya memiliki tingkat penerimaan masa lalu yang rendah.
Sehingga dapat diketahui tingkat persentase penerimaan masa lalu yang tertinggi
ditemukan pada usia 73 tahun yaitu 100%. Selain itu ditemukan pula bahwa tingkat
persentase penerimaan masa lalu terendah didapatkan pada lansia usia 63 tahun, 64
tahun dan 69 tahun yaitu 100%.

455

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

54.00%
52.00%

38
52.70%

16
51.60%

50.00%

PML Tinggi

15
48.30%

48.00%
46.00%

Mean = 66.6
SD = 10.1

34
47.20%

PML Rendah

44.00%
Laki-laki

Perempuan

Keterangan :
PML Tinggi : Penerimaan masa lalu tinggi
PML Rendah : Penerimaan masa lalu rendah

Grafik 4. Penerimaan masa lalu pada lansia berdasarkan jenis kelamin.


Berdasarkan hasil penelitian pada grafik 4, lansia laki-laki yang berjumlah 72 lansia
ditemukan bahwa penerimaan masa lalu yang tergolong dalam kategori tinggi yaitu
sebanyak 38 orang lansia, sedangkan yang tergolong dalam kategori rendah yaitu
sebanyak 34 orang lansia. Selain itu pada lansia perempuan yang berjumlah 31 orang,
ditemukan bahwa yang tergolong dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 15 orang lansia
dimana 16 orang lansia lainnya tergolong dalam kategori rendah.
Deskripsi Variabel Insomnia
Berikut ini akan dijelaskan tentang hasil analisis deskripsi data dari variabel insomnia
pada lansia di kecamatan Krayan kabupaten Nunukan yang di ukur dengan Pittsburgh
Insomnia Rating Scale20 (PIRS-20) sebagaimana pada Grafik 5.
80
60

M = 45.5
SD = 9.1

61
59.2%

42
40.8%

40
20
0
Tinggi

Rendah

Grafik 5. Insomnia pada lansia di kecamatan Krayan kabupaten Nunukan.


Insomnia pada lansia di kecamatan Krayan kabupaten Nunukan yang tergolong dalam
kategori tinggi sebanyak 61 orang lansia (59,2%). Sedangkan pada lansia dengan
insomnia yang termasuk dalam kategori rendah sebanyak 42 orang lansia (40,8%).
Deskripsi insomnia subjek berdasarkan usia subjek dalam penelitian ini dapat dilihat
pada Grafik 6.

456

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

120.00%
100.00%
80.00%
60.00%
40.00%
20.00%
0.00%

M = 45.5
SD = 9.1

60 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77
th th th th th th th th th th th th th th th th th

Insomnia Tinggi 60.033.3100.100.63.666.669.233.350.060.0100.25.050.0100.87.550.050.0


Insomnia Rendah 40.066.60.000.0036.333.325.066.650.040.00.0072.050.00.0012.550.050.0

Grafik 6. Insomnia pada lansia berdasarkan usia.


Dari hasil penelitian didapat kan bahwa lansia usia 60 tahun berjumlah 5 orang, 3 orang
lansia diantaranya memiliki tingkat insomnia yang tinggi sedangkan 2 orang lansia
lainnya memiliki tingkat insomnia yang rendah. Selain itu, lansia usia 62 tahun
berjumlah 3 orang. Sejumlah 1 orang lansia diantaranya memiliki tingkat insomnia yang
tinggi sedangka 2 orang lansia lainnya memiliki insomnia yang rendah. Lansia usia 63
tahun hanya terdiri dari 1 orang lansia dan memiliki tingkat insomnia yang tinggi.
Lansia usia 64 tahun terdiri dari 2 orang lansia dimana 2 orang lansia tersebut memiliki
tingkat insomnia yang tinggi. Selanjutnya lansia usia 65 tahun terdiri dari 11 orang
lansia. 7 orang lansia diantaranya memiliki tingkat insomnia yang tinggi sedangkan 4
orang lansia lainnya memiliki tingkat insomnia yang rendah. Dari usia 66 tahun terdiri
dari 3 orang lansia. Sejumlah 2 orang diantaranya memiliki tingkat insomnia yang
tinggi dan 1 orang lansia lainnya memiliki tingkat insomnia yang rendah. Usia 67 tahun
terdiri dari 13 orang lansia, 9 orang lansia diantaranya memiliki tingkat insomnia yang
tinggi, sisanya 4 orang lansia lainnya memiliki tingkat insomnia yang rendah. Selain itu,
usia 68 tahun terdiri dari 12 orang lansia. Sejumlah 4 orang lansia diantaranya memiliki
tingkat insomnia yang tinggi dan 8 orang lansia lainnya memiliki tingkat insomnia yang
rendah. Dari usia 69 tahun terdiri dari 2 orang lansia dimana 1 orang lansia memiliki
tingkat penerimaan masa lalu yang tinggi dan 1 orang lansia lainnya memiliki tingkat
insomnia yang rendah. Sedangkan dari usia 70 tahun terdiri dari 25 orang lansia.
Sejumlah 15 orang lansia diantaranya memiliki tingkat penerimaan masa lalu yang
tinggi, sebagian lainnya yaitu 10 orang lansia memiliki tingkat insomnia yang rendah.
Usia 71 hanya terdiri dari 2 orang lansia dimana 2 orang lansia tersebut memiliki tingkat
insomnia yang tinggi. Dari usia 72 tahun terdiri dari 4 orang lansia. Sejumlah 1 orang
lansia memiliki tingkat insomnia yang tinggi dan 3 orang lansia lainnya memiliki
tingkat insomnia yang rendah. Usia 73 tahun terdiri dari 4 orang lansia dimana 2 orang
lansia diantaranya memiliki tingkat insomnia yang tinggi dan 2 orang lansia lainnya
memiliki tingkat insomnia yang rendah. Dari usia 74 tahun terdiri dari 2 orang lansia
dimana 2 orang lansia tersebut memiliki tingkat insomnia yang tinggi. Selanjutnya dari
usia 75 tahun terdiri dari 8 orang lansia. Sejumlah 7 orang lansia memiliki tingkat
penerimaan masa lalu yang tinggi, sisanya 1 orang lansia memiliki tingkat insomnia
yang rendah. Usia 76 tahun terdiri dari 4 orang lansia dimana 2 orang lansia diantaranya
memiliki tingkat insomnia yang tinggi dan 2 orang lansia lainnya memiliki tingkat
insomnia yang rendah. Terakhir dari usia 77 tahun terdiri dari 2 orang lansia dimana 1
orang lansia diantaranya memiliki insomnia yang tinggi dan 1 orang lansia lainnya
memiliki tingkat insomnia yang rendah. Sehingga dapat diketahui persentase tingkat
kejadian insomnia yang tertinggi ditemukan pada usia 63, 64, 71 dan 74 tahun yaitu
457

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

100%. Sedangkan tingkat persentase kejadian insomnia terendah didapatakan pada


lansia pada usia 72 tahun yaitu 72%.
Selanjutnya adalah deskripsi insomnia subjek berdasarkan jenis kelamin dalam
penelitian ini dapat dilihat pada Grafik 7.
70.00%
60.00%
50.00%
40.00%
30.00%
20.00%
10.00%
0.00%

45
62.50%

16
15
51.60%
48.30%

27
37.50%

Mean = 45.5
SD = 9.1

Insomnia Tinggi
Insomnia Rendah

Laki-laki

Perempuan

Gambar 7. Insomnia pada lansia berdasarkan jenis kelamin


Berdasarkan hasil penelitian, pada lansia laki-laki yang berjumlah 72 orang ditemukan
bahwa insomnia yang tergolong dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 45 orang lansia,
sedangkan yang tergolong dalam kategori rendah yaitu sebanyak 27 orang lansia. Selain
itu pada lansia perempuan yang berjumlah 31 orang, ditemukan bahwa yang tergolong
dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 16 orang lansia dimana 15 orang lansia lainnya
tergolong dalam kategori rendah.
Hubungan antara penerimaan masa lalu dengan insomnia
Berdasarkan hasil analisis hubungan penerimaan masa lalu dengan insomnia pada lansia
di kecamatan Krayan kabupaten Nunukan, dapat diketahui bahwa dari sejumlah 103
orang lansia yang berpartisipasi dalam penelitian, terdapat 50 orang lansia memiliki
tingkat penerimaan masa lalu yang rendah. 15 orang lansia (14,6%) diantaranya
memiliki tingkat insomnia yang rendah. Sedangkan 35 orang lansia (34,0%) lainnya
memiliki insomnia yang tinggi. Hal ini berarti semakin rendah penerimaan masa lalu
pada lansia, maka insomnia pada lansia tersebut akan semakin tinggi. Berbeda dengan
hal tersebut, terdapat 53 orang lansia yang memiliki tingkat penerimaan masa lalu yang
tinggi. Dimana 27 orang lansia (26.2%) diantaranya memiliki tingkat insomnia yang
rendah sedangkan sisanya yaitu sejumlah 26 orang lansia (25.2%) memiliki tingkat
insomnia yang tinggi. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi penerimaan masa lalu pada
lansia, maka tingkat kejadian insomnia pada lansia tersebut akan semakin rendah.
Untuk menguji hipotesis, dilakukan analisa regresi dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Rangkuman Analisa Regresi
N
103

R
-0,628

r2
0,394

Sig/p
0,000

Keterangan
p<0,01

Kesimpulan
Sangat signifikan

Berdasarkan hasil dari analisis regresi, diperoleh koefisien korelasi (r) sebesar -0,628
dan probabilitas kesalahan/error probability (p = 0,000 < 0,01). Sehingga dapat
458

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

diketahui bahwa terdapat pengaruh yang sangat signifikan antara penerimaan masa lalu
terhadap insomnia. Selain itu, sumbangan efektif penelitian sebesar 39,4%. Artinya
masih ada 60,6% kejadian insomnia dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti
dalam penelitian ini. Sehingga dari uraian di atas dapat diartikan bahwa hipotesis
penelitian (H1) yang menyatakan bahwa ada pengaruh dari penerimaan masa lalu
terhadap insomnia pada lansia dapat diterima/ tidak ditolak.
DISKUSI
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh dari penerimaan masa lalu
terhadap insomnia pada lansia di kecamatan Krayan kabupaten Nunukan. Dimana
pengaruh yang dari penerimaan masa lalu terhadap insomnia pada lansia yang
ditemukan dalam penelitian ini adalah bersifat negatif. Semakin tinggi penerimaan masa
lalu, maka insomnia semakin rendah. Sebaliknya, semakin rendah penerimaan masa
lalu, maka insomnia semakin tinggi. Hasil penelitian ini sesuai dengan yang dikatakan
oleh Epsie bahwa seorang lansia dengan tingkat penerimaan masa lalu yang rendah
cenderung memiliki tingkat insomnia yang tinggi. Hal ini disebabkan karena lansia
tidak mau menerima masa lalunya sehingga lansia melakukan proses berpikir pada
malam dan siang hari. Dimana proses berpikir yang dilakukan akan mengaktifkan
sistem saraf simpatik sehingga memicu gairah fisiologis serta rasa kesulitan didalam diri
lansia. Hal itu menyebabkan terjadinya kecemasan, sehingga menyebabkan lansia
kesulitan untuk memulai tidur dan kesulitan untuk mempertahankan tidur (dalam
Pallesan et al., 2002).
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Alwisol (2009) pada masa perkembangan terakhir
(60 tahun ke atas), banyak orang yang mengalami putus asa. Hanya orang yang
memiliki integritas ego yang kuat saja yang mampu memperoleh keseimbangan. Orang
yang tidak memiliki integritas ego akan merasakan putus asa, yang diekspresikan dalam
bentuk kebencian, depresi, atau sikap yang tidak mau menerima kepastian batas hidup.
Dari hasil penelitian juga dapat diketahui bahwa dari sejumlah 103 subjek lansia,
terdapat 35 subjek (34.0%) diantaranya mengalami insomnia yang tinggi karena
memiliki tingkat penerimaan masa lalu yang rendah/buruk. Hal ini menunjukkan bahwa
banyak lansia di kecamatan Krayan kabupaten Nunukan yang tidak mampu
mengembangkan ego integritasnya dengan baik. Sehingga memandang masa lalu
dengan negatif. Artinya dalam hal ini penerimaan masa lalu yg rendah memberikan
pengaruh negatif terhadap insomnia pada lansia di kecamatan Krayan kabupaten
Nunukan. Sehingga ketika lansia merasa putus asa terhadap masa lalunya, maka akan
muncul perasaan marah, depresi, ketidakmampuan, kegagalan dan perasaan takut
terhadap kematian yang mengakibatkan lansia mengalami insomnia. Hal ini berarti
sebuah kegagalan bagi lansia untuk mencapai ego integritas. Hanya sebagian kecil dari
lansia dalam penelitian ini yang mampu memandang masa lalu dengan positif namun
mengalami insomnia (25,2%). Dalam hal ini mereka mampu melihat kembali ke masa
lalu dengan kepuasan, memiliki penerimaan hidup yang baik dan memandang kematian
sebagai bagian dari kehidupan (Kansas Association, 2007). Sehingga dalam penelitian
ini tingkat keputusasaan lebih tinggi dibandingkan integritas.

459

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

Taylor et al. (2005) mengungkapkan bahwa seorang lansia dengan kecemasan dan
depresi cenderung mengalami insomnia. Pada saat seseorang mengalami kecemasan dan
depresi maka hal tersebut akan memicu terjadinya insomnia. Waktu yang dihabiskan
saat terjaga di tempat tidur dalam gelap di malam hari dapat melukiskan kembali dalam
pikiran lansia tentang kenangan dan kegagalan masa lalunya atau mengkhawatirkan
bencana di masa depan serta tanggung jawab hari berikutnya. Sebaliknya, pada
perenungan yang dilakukan oleh lansia pada siang hari yang biasanya terkait dengan
depresi dan kecemasan misalnya, perenungan tentang kegagalan masa lalu, hubungan
sosial yang menyedihkan, tanggung jawab hari berikutnya atau bahkan
mengkhawatirkan bencana di masa depan kemungkinan akan meluap pada malam
harinya, dimana hal tersebut akan meningkatkan gairah mental dan fisiologis sehingga
dengan demikian akan mendorong terjadinya insomnia. Hal ini sesuai dengan hasil
penelitian yang telah dilakukan di kecamatan Krayan kabupaten Nunukan Kalimantan
Timur dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang mengalami
kecemasan terkait dengan sulitnya orang tersebut menerima masa lalunya, maka tingkat
kejadian insomnia yang terjadi pada orang tersebut akan semakin tinggi.
Selain itu, dari hasil persentase penerimaan masa lalu dan insomnia berdasarkan usia
lansia didapatkan bahwa penerimaan masa lalu yang tertinggi ditemukan pada usia 73
tahun, yaitu (100%). Selain itu ditemukan pula bahwa persentase penerimaan masa lalu
terendah yaitu pada lansia usia 63 tahun, 64 tahun dan 69 tahun sebesar 100%.
Selanjutnya persentase kejadian insomnia yang tertinggi ditemukan pada usia 63, 64, 71
dan 74 tahun yaitu 100%. Sedangkan tingkat persentase insomnia terendah ditemukan
pada usia 72 tahun, yaitu 72%.
Selanjutnya persentase penerimaan masa lalu berdasarkan jenis kelamin, pada lansia
laki-laki ditemukan bahwa penerimaan masa lalu tinggi sebesar 52.70% sedangkan
penerimaan masa lalu rendah yaitu sebesar 47.20%. Pada lansia perempuan ditemukan
bahwa penerimaan masa lalu tinggi yaitu sebesar 48.30%. Sedangkan penerimaan masa
lalu rendah pada lansia perempuan sebesar 51.60%. Selain itu, dari hasil persentase
insomnia berdasarkan jenis kelamin ditemukan bahwa pada lansia laki-laki didapatkan
yang tergolong dalam insomnia tinggi sebesar 62.50%, sedangkan yang tergolong dalam
insomnia rendah yaitu sebesar 37.50%. Pada lansia perempuan ditemukan bahwa yang
tergolong dalam kategori tinggi yaitu sebesar 51.60%, sedangkan yang tergolong dalam
kategori rendah yaitu sebesar 48.30%. Goenawan (2012) dalam penelitiannya
mengatakan bahwa kejadian insomnia lebih banyak terjadi pada lansia perempuan. Hal
ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan dikecamatan Krayan dimana
insomnia ditemukan lebih tinggi pada lansia laki-laki. Tingginya tingkat kejadian
insomnia pada lansia laki- laki dalam penelitian ini disebabkan oleh jumlah subjek lakilaki yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan subjek lansia perempuan.
Sumbangan efektif dari penelitian ini sebesar 39,4%. Sedangkan 60.6% dipengaruhi
oleh faktor lain. Hal ini dikarenakan insomnia dipengaruhi oleh dua faktor yaitu primer
dan sekunder. Faktor primer disebabkan oleh faktor psikologis, salah satunya
penerimaan masa lalu. Sedangkan faktor sekunder disebabkan oleh faktor medis
contohnya penyakit fisik yang juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
insomnia pada lansia di kecamatan Krayan kabupaten Nunukan yang didapatkan pada
saat penelitian, namun tidak menjadi variabel yang diteliti dalam penelitian ini.
460

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

SIMPULAN DAN IMPLIKASI


Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh
negatif antara penerimaan masa lalu terhadap insomnia pada lansia di kecamatan
Krayan kabupaten Nunukan dengan korelasi (r) sebesar -0,628 dan nilai probabilitas
kesalahan (p) sebesar 0,000 (< 0,01). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa
semakin tinggi penerimaan masa lalu pada lansia, maka tingkat kejadian insomnia pada
lansia tersebut akan semakin rendah. Sebaliknya, semakin rendah penerimaan masa lalu
pada lansia, maka kejadian insomnia pada lansia tersebut akan semakin tinggi. Selain
itu, sumbangan efektif penelitian sebesar 39,4%. Artinya ada 39,4% pengaruh
penerimaan masa lalu terhadap insomnia pada lansia di kecamatan Krayan kabupaten
Nunukan. Implikasi dari penelitian, yaitu diharapkan bagi subjek penelitian dapat
meningkatkan integritas ego dengan cara memiliki perasaan cinta pada sesama,
menerima keadaan dirinya sendiri, dan tetap tegar menghadapi kegagalan yang telah
dialami dimasa lalu. Bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian dengan
variable yang sama, diharapkan untuk lebih mempertimbangkan jumlah subjek
berdasarkan jenis kelamin, karena hal tersebut akan sangat membantu untuk mengetahui
persentase penerimaan masa lalu dan insomnia pada kategori gender. Selain itu, kepada
peneliti berikutnya dapat meneliti variabel selain penerimaan masa lalu dimana masih
ada 60,6% dari variabel lain yang memberikan pengaruh terhadap insomnia yang terjadi
pada lansia.
REFERENSI
Alwisol. (2009). Psikologi kepribadian (Edisi Revisi). Malang: UMM Press.
American Psychiatric Association. (1994) Diagnostic and statistical manual of mental
disordes-IV (1994), Washington. DC: APA.
Anwar, Zainul. 2011. Penanganan Gangguan Tidur Pada Lansia, Malang. Diakses dari
http://psikologiumm.files.wordpress.com
Davison, Gerald C., & Neale, John M. (2006). Psikologi abnormal. Edisi 9. Jakarta :
Rajawali Press.
Fischer, J., & Corcoran, K. (2007). Measures for clinical practice and research (Fourth
edition). Oxford: University Press
Galea, Melissa. (2008). Subjective sleep quality in the elderly: relationship to
anxiety,depressed mood, sleep beliefs, quality of life, and hypnotic use. Doctor
of Psychology (Clinical Neuropsychology) School of Psychology, Victoria
University.
Galimi, G. (2010). Insomnia in the elderly: an update and future challenges. Journal of
Neurology.
Germain, Anne & Moul, Douglas. (2002). Evaluation instruments and methodology.
Department of Psychiatry, University of Pittsburgh School of Medicine,
Pittsburgh, Shreveport. Department of Psychiatry, Louisiana State University at
Shreveport School of Medicine. Shreveport, Louisiana, U.S.A.
461

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

Goenawan A. Leonardi. (2012). Referat Ilmu Kesehatan jiwa dan perilaku: Insomnia,
Rumah Sakit Dharmasakti: Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia
Atmajaya
Kansas Association of Homes and Services for the Aging. (2007). Psychosocial Needs
of the Elderly, Learners Guide.
Krejcie, V. Robert., Morgan, W., & Darlye. (1970) Determining Sample Size For
Research Activities. Educational and Psychological Measurement, 30, 607-610.
University of Minnesota, Duluth., Texas A. & M. University.
Moul, D., Pilkonis, P., Miewald, J., Carey, T., & Buysse, D. (2002). Preliminary study
of the test- retest reliability and concurrent validities of the
Pittsburgh
Insomnia Rating Scale (PIRS). Sleep 25 (Abstract Supplement): A 246 - A7
Pallesen, S., Nordhus, I. H., Kvale, G., Havik, O., Nielsen, G. H., Johnsen, B. H.,
Skjotskift, S., & Hjeltnes, L. (2002). Psychological characteristics of elderly
insomniacs, Scandinavian Journal of Psychology I. 43, 425432.
Santor, D. A., & Zuroff, D. C. (1994). Depressive symptoms: Effect of negative
affectivity and failing to accepting the past, Journal of Personality Asessment,
63, 294 312.
Santrock, W., J., (1995). Life-Span Development (Edisi kelima). Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Santrock W. John (2011). Perkembangan Masa Hidup. (Edisi 13, Jilid 1). Penerjemah
Widyasinta, B: Penerbit Erlangga.
Stanley, M., & Patricia, G. B. (2007). Buku ajar keperawatan gerontik. Edisi 2. Alih
bahasa Nety J. dan Sari K. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Taniredja, T.J., & Mustafidah, H. (2012). Penelitian kuantitatif. Bandung: Alfabeta.
Taylor, J. Daniel., Lichstein L. Kenneth., Durrence, H. Heith., Reidel, Brant W., Bush,
& J. Andrew. (2005). Epidemiology of Insomnia, Depression, and Anxiety.
Insomnia. SLEEP, 28, (11), 2005.
Winarsunu, Tulus (2009). Statistik dalam penelitian psikologi dan pendidikan. UMM
Press, Cetakan keempat.

462