Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Terwujudnya keadaan sehat merupakan kehendak semua pihak tidak
hanya oleh orang perorang atau keluarga, tetapi juga oleh kelompok dan
bahkan oleh seluruh anggota masyarakat. Untuk mewujudkan keadaan sehat,
banyak upaya yang harus dilaksanakan, diantaranya adalah penyelenggaraan
pelayanan kesehatan. Secara umum pelayanan kesehatan dibagi dua, yaitu
pelayanan kesehatan personal dan pelayanan kesehatan masyarakat. Pelayanan
kedokteran keluarga adalah termasuk dalam pelayanan kesehatan masyarakat
dimana pelayanan dokter keluarga ini memiliki karakteristik tertentu dengan
sasaran utamanya adalah keluarga.
Untuk memahami lebih dalam mengenai pelayanan dokter keluarga
sebagai bagian dari pelayanan kesehatan masyarakat, kami diberikan sebuah
skenario, yaitu:
Bu Susi Pantang Makan yang Basah-Basah selama Hamil
Bu Susi, umur 38 tahun, G3A0P2 datang periksa kehamilan klinik
dokter keluarga ditemani oleh suaminya. Dokter Mira sebagai dokter keluarga
menanyakan mengenai struktur keluarga Bu Susi, siklus kehidupan keluarga,
membuat genogram, serta menilai faktor risiko internal dan faktor risiko
eksternal serta dampak kesakitan terhadap keluarga dalam rangka membuat
diagnostik

secara

holistik

dan

melakukan

penatalaksanaan

secara

komprehensif. Saat ini dokter Mira memperkirakan umur kehamilan Bu Susi


memasuki minggu ke-20. Riwayat persalinan sebelumnya adalah dengan
dukun beranak, dan anak pertamanya saat ini berumur 3 tahun, anak kedua 1,5
tahun. Saat ini Bu Susi memeriksakan kehamilannya ke dokter karena takut
kejadian perdarahan hebat saat persalinan sebelumnya terulang apalagi 3 tahun
terakhir ini Bu Susi dikatakan menderita sakit gula oleh dokter. Dokter
melakukan pemeriksaan 7T pada Bu Susi kemudian melakukan edukasi
kepada Bu Susi untuk makan makanan yang bergizi tinggi. Namun, Bu Susi

mengatakan bahwa dari dulu selama hamil tidak mau makan makanan yang
basah seperti telur karena oleh orang tuanya dan orang-orang disekitarnya
dikatakan dapat menyebabkan anak di dalam rahim gelisah dan lukanya lama
sembuh. Selain itu, setelah melahirkan, Bu Susi dilarang oleh ibunya
memberikan ASI yang pertama kali keluar dan tidak boleh makan yang amisamis seperti ikan.
Dokter juga mengingatkan Bu Susi untuk memeriksakan kehamulannya
secara rutin karena Bu Susi masuk dalam kriteria 4 terlalu dan mengingatkan
agar segera ke dokter apabila timbul keluhan-keluhan agar tidak terjadi tiga
terlambar, Dokter Mira menrencanakan untuk melakukan kunjungan rumah,
akan memberikan konseling tentang perawatan selama masa nifas dan
perawatan bayinya setelah lahir nanti termasuk laktasi, dan persiapan untuk
merujuk pasien ke Puskesmas PONED menjelang waktu melahirkan.
B. TUJAN PEMBELAJARAN
Setelah melaksanakan tutorial, diharapkan mahasiswa mampu:
1. Mengetahui definisi, ruang lingkup, dan pelaksanaan pelayanan dokter
keluarga
2. Mengetahui siklus kehidupan keluarga dan macam-macam struktur
keluarga
3. Mengetahui definisi, cara membuat dan cara membaca genogram
4. Mengetahui langkah pembuatan diagnostik secara holistik
penatalaksanaan komprehensif terhadap penyakit masyarakat
5. Mengetahui definisi 7T, 4 terlalu dan 3 terlambat
6. Mengetahui definisi, fungsi dan bentuk pelayanan Puskesmas PONED
7. Mengetahui tentang alur sistem rujukan kesehatan

BAB II
DISKUSI DAN TINJAUAN PUSTAKA
A. KLARIFIKASI ISTILAH

dan

Pada skenario ini kelompok kami melakukan klarifikasi beberapa istilah


yaitu:
1. Dokter keluarga
2. Struktur keluarga
3. Siklus kehidupan keluarga
4. Genogram
5. Holistik
6. Komprehensif
7. 7 T
8. 4 terlalu
9. 3 terlambat
10. Konseling
11. PONED
B. MENETAPKAN/MENDEFINISIKAN MASALAH
Pada skenario ini ada beberapa masalah yang kami tentukan untuk
bahan diskusi, antara lain :
1. Fungsi, struktur, dan siklus hidup keluarga
2. Genogram
3. Definisi, ruang lingkup, ciri dan prinsip pelayanan dokter keluarga
4. Perbedaan dokter klinik mandiri dan dokter keluarga dan cara untuk
menjadi dokter keluarga
5. Sistem rujukan
6. Cara membuat diagnostik holistik dan penatalaksanaan komprehensif
7. Manfaat dan prosedur kunjungan rumah
8. Konseling
9. Puskesmas PONED, perawatan masa nifas dan perawatan bayi
10. Pelayanan pembiayaan dokter keluarga
C. ANALISIS

MASALAH

(MENJAWAB,

MEMBAHAS,

DAN

MELAPORKAN HASIL DISKUSI MASALAH YANG ADA)


1. Fungsi, struktur, dan siklus hidup keluarga
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala
keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di
bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Keluarga memiliki
karakteristik, fungsi, struktur, tipe dan siklus kehidupan.
a. Karakteristik keluarga
1. Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah,
perkawinan atau adopsi
2. Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka
tetap memperhatikan satu sama lain

3. Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing


mempunyai peran sosial : suami, istri, anak, kakak dan adik
4. Mempunyai tujuan : menciptakan dan mempertahankan budaya,
meningkatkan perkembangan fisik, psikologis, dan sosial anggota.
b.
Fungsi keluarga
1. Fungsi biologis :
a. Meneruskan keturunan
b. Memelihara dan membesarkan anak
c. Memenuhi kebutuhan gizi keluarga
d. Memelihara dan merawat anggota keluarga
2. Fungsi Psikologis :
a. Memberikan kasih sayang dan rasa aman
b. Memberikan perhatian di antara anggota keluarga
c. Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga
d. Memberikan identitas keluarga
3. Fungsi sosialisasi :
a. Membina sosialisasi pada anak
b. Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat
perkembangan anak
c. Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga
4. Fungsi ekonomi :
a. Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga
b. Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi
kebutuhan keluarga
c. Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga di masa
yang akan datang (pendidikan, jaminan hari tua)
5. Fungsi pendidikan :
a. Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan
dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang
dimilikinya
b. Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang
dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa
c. Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya.
c.Struktur Keluarga
1. Patrilineal : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur
ayah

2. Matrilineal : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah


dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur
garis ibu
3. Matrilokal : sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah ibu
4. Patrilokal : sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah suami
5. Keluarga kawinan : hubungan suami istri sebagai dasar bagi
pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian
keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.
d.
Tipe/bentuk keluarga
1. Tradisional :
a. The nuclear family (keluarga inti)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak.
b. The dyad family
Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup
bersama dalam satu rumah
c. Keluarga usila
Keluarga yang terdiri dari suami istri yang sudah tua dengan anak
sudah memisahkan diri
d. The childless family
Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk
mendapatkan anak terlambat waktunya, yang disebabkan karena
mengejar karir/pendidikan yang terjadi pada wanita
e. The extended family (keluarga luas/besar)
Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama dalam
satu rumah seperti nuclear family disertai : paman, tante, orang tua
(kakak-nenek), keponakan, dll)
f. The single-parent family (keluarga duda/janda)
Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah dan ibu) dengan
anak, hal ini terjadi biasanya melalui proses perceraian, kematian
dan ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan)
g. Commuter family
Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah satu
kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua yang bekerja
diluar kota bisa berkumpul pada anggota keluarga pada saat akhir
pekan (week-end)

h. Multigenerational family
Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang
tinggal bersama dalam satu rumah
i. Kin-network family
Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling
berdekatan dan saling menggunakan barang-barang dan pelayanan
yang sama. Misalnya : dapur, kamar mandi, televisi, telpon, dll)
j. Blended family
Keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda yang menikah
kembali dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya
k. The single adult living alone / single-adult family
Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena
pilihannya atau perpisahan (separasi), seperti : perceraian atau
ditinggal mati
2. Non-Tradisional :
a. The unmarried teenage mother
Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak
dari hubungan tanpa nikah
b. The stepparent family
Keluarga dengan orangtua tiri
c. Commune family
Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada
hubungan saudara, yang hidup bersama dalam satu rumah, sumber
dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama, sosialisasi anak
dengan melalui aktivitas kelompok / membesarkan anak bersama
d. The nonmarital heterosexual cohabiting family
Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa
melalui pernikahan
e. Gay and lesbian families
Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama
sebagaimana pasangan suami-istri (marital partners)
f. Cohabitating couple
Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena
beberapa alasan tertentu
g. Group-marriage family
Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga
bersama, yang merasa telah saling menikah satu dengan yang

lainnya, berbagi sesuatu, termasuk sexual dan membesarkan


anaknya
h. Group network family
Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai, hidup
berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan barang-barang
rumah tangga bersama, pelayanan dan bertanggung jawab
membesarkan anaknya
i. Foster family
Keluarga menerima

anak

yang

tidak

ada

hubungan

keluarga/saudara dalam waktu sementara, pada saat orangtua anak


tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali
keluarga yang aslinya
j. Homeless family
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang
permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan
keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental
k. Gang
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif, dari orang-orang muda
yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai
perhatian, tetapi berkembang dalam kekerasan dan kriminal dalam
kehidupannya.

e.Siklus kehidupan keluarga


1. Pasangan baru (keluarga baru)
Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki dan
perempuan membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan
meninggalkan (psikologis) keluarga masing-masing
2. Keluarga child-bearing (kelahiran anak pertama)
Keluarga yang menantikan kelahiran, dimulai dari kehamilan sampai
kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak pertama berusia 30
bulan
3. Keluarga dengan anak pra-sekolah

Tahap ini dimulai saat kelahiran anak pertama (2,5 bulan) dan berakhir
saat anak berusia 5 tahun
4. Keluarga dengan anak sekolah
Tahap ini dimulai saat anak masuk sekolah pada usia enam tahun dan
berakhir pada usia 12 tahun. Umumnya keluarga sudah mencapai
jumlah anggota keluarga maksimal, sehingga keluarga sangat sibuk
5. Keluarga dengan anak remaja
Dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya
berakhir sampai 6-7 tahun kemudian, yaitu pada saat anak
meninggalkan rumah orangtuanya. Tujuan keluarga ini adalah melepas
anak remaja dan memberi tanggung jawab serta kebebasan yang lebih
besar untuk mempersiapkan diri menjadi lebih dewasa
6. Keluarga dengan anak dewasa (pelepasan)
Tahap ini dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan
berakhir pada saat anak terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahap
ini tergantung dari jumlah anak dalam keluarga, atau jika ada anak
yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua
7. Keluarga usia pertengahan
Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah
dan berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal
8. Keluarga usia lanjut
Tahap terakhir perkembangan keluarga ini dimulai pada saat salah satu
pasangan pensiun, berlanjut saat salah satu pasangan meninggal
sampai keduanya meninggal
2. Genogram
Genogram adalah metode untuk menggambarkan struktur keluarga
yang memuat informasi tentang silsilah keluarga dan hubungan antara
mereka. Genogram paling sedikit dibuat untuk tiga generasi dengan
menggunakan simbol yang telah baku. Genogram harus memuat informasi
tentang:
a.Struktur keluarga
Struktur keluarga paling sedikit terdiri dari tiga generasi. Simbol yang
digunakan merupakan simbol baku yang sudah ditentukan sebelumnya.
b.
Peta fungsional

Berisi gambaran mengenai hubungan antar keluarga sehingga dapat dinilai


secara keseluruhan kesatuan keluarga.
c.Riwayat penyakit keluarga
Riwayat penyakit dapat membantu untuk mengetahui adanya penyakit
keturunan atau kecenderungan masalah kesehatan yang ada dalam
keluarga.
d.
Kejadian kritis dalam keluarga
Kejadian kritis dapat berupa proses migrasi
Genogram membantu dokter keluarga untuk lebih mengenal serta
memahami apa yang terjadi dalam suatu keluarga baik dari segi klinis
maupun dari segi hubungan keluarga. Genogram dibuat dengan simbol
yang baku sehingga tidak terjadi kesalah pahaman apabila yang membaca
berbeda orang. Berikut adalah contoh genogram dan beberapa simbol
genogram:

3. Definisi, ruang lingkup, ciri dan prinsip pelayanan dokter keluarga


a.Definisi
Dokter Keluarga adalah dokter yang mengasuh individu sebagai
bagian dari keluarga dan dalam lingkup komunitas dari individu tersebut.
Tanpa membedakan ras, budaya, dan tingkatan sosial. Secara klinis, dokter
ini

berkompeten

mempertimbangkan

untuk
dan

menyediakan
memperhatikan

pelayanan
latar

dengan

belakang

sangat
budaya,

sosioekonomi, dan psikologis pasien. Dokter ini bertanggung jawab atas

berlangsungnya pelayanan yang komprehensif dan berkesinambung bagi


pasiennya (Wonca,1991).
Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan kedokteran yang
menyeluruh yang memusatkan pelayanannya kepada keluarga sebagai
suatu unit, dimana tanggung jawab dokter terhadap pelayanan kesehatan
tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis kelamin pasien, juga tidak
oleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu saja (The American Academy
of Family Physician, 1969).
b.
Ruang lingkup kedokteran keluarga
1. Kegiatan yang dilaksanakan
Pelayanan yang diselenggarakan oleh dokter keluarga harus memenuhi
syarat pokok yaitu pelayanan kedokteran menyeluruh (comprehensive
medical services). Karakteristik cmc :
a. Jenis pelayanan yang diselenggarakan mencakup semua jenis
pelayanan kedokteran yang dikenal di masyarakat.
b. Tata cara pelayanan tidak diselenggarakan secara terkotak-kotak
ataupun terputus-putus melainkan diselenggarakan secara terpadu
(integrated) dan berkesinambungan (continu).
c. Pusat perhatian pada waktu menyelenggarakan

pelayanan

kedokteran tidak memusatkan perhatiannya hanya pada keluhan dan


masalah kesehatan yang disampaikan penderita saja, melainkan
pada penderita sebagai manusia seutuhnya.
d. Pendekatan pada penyelenggaraan pelayanan tidak didekati hanya
dari satu sisi saja, melainkan dari semua sisi yang terkait
(comprehensive approach) yaitu sisi fisik, mental dan sosial (secara
holistik).
2. Sasaran Pelayanan
Sasaran pelayanan dokter keluarga adalah kelurga sebagai suatu
unit. Pelayanan dokter keluarga harus memperhatikan kebutuhan
dan tuntutan kesehatan keluarga sebagai satu kesatuan, harus
memperhatikan pengaruhmasalah kesehatan yang dihadapi terhadap
keluarga dan harus memperhatikan pengaruh keluarga terhadap
masalah kesehatan yang dihadapi oleh setiap anggota keluarga.

c.Ciri pelayanan kedokteran keluarga


1. Melayani penderita tidak hanya sebagai orang perorang, melainkan
sebagai anggota satu keluarga dan bahkan sebagai anggota masyarakat
sekitarnya.
2. Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan memberikan
perhatian kepada penderita secara lengkap dan sempurna, jauh
melebihi jumlah keseluruhan keluhan yang disampaikan.
3. Mengutamakan pelayanan kesehatan guna meningkatkan derajat
kesehatan seoptimal mungkin, mencegah timbulnya penyakit dan
mengenal serta mengobati penyakit sedini mungkin.
4. Mengutamakan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan dan
berusaha memenuhi kebutuhan tersebut sebaik-baiknya.
5. Menyediakan dirinya sebagai tempat pelayanan kesehatan tingkat
pertama dan bertanggung jawab pada pelayanan kesehatan lanjutan
(IDI, 1982).
d.
1.
2.
3.
4.
5.

Prinsip pelayanan kedokteran keluarga


Pelayanan yang holistik dan komprehensif,
Pelayanan yang kontinu.
Pelayanan yang mengutamakan pencegahan.
Pelayanan yang koordinatif dan kolaboratif.
Penanganan personal bagi setap pasien sebagai bagian integral dari

keluarganya.
6. Pelayanan yang mempertimbangkan keluarga, lingkungan kerja, dan
lingkungan tempat tinggalnya.
7. Pelayanan yang menjunjung tinggi etika dan hukum.
8. Pelayanan yang dapat diaudit dan dapat dipertanggungjawabkan.
9. Pelayanan yang sadar biaya dan sadar mutu.
4. Perbedaan dokter klinik mandiri dan dokter keluarga dan cara untuk
menjadi dokter keluarga
a.Perbedaan dokter klinik mandiri dengan dokter keluarga
Dokter klinik mandiri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu dokter praktek
spesialis dan dokter praktek umum (DPU). Dalam menjalankan tugasnya,
dokter klinik mandiri lebih berfokus pada aspek kuratif, yaitu
menyembuhkan penyakit pasien yang datang berobat. Dokter secara pasif
menunggu pasien dan memperlakukannya sebagai seorang individu sakit.
Sementara dokter keluarga tidak memandang pasien sebagai satu individu,

namun pasien merupakan bagian integral dari keluarga. Penanganan


pasien tidak hanya terbatas pada aspek kuratif saja, namun mencakup
penatalaksanaan komprehensif yang memperhatikan aspek promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
b.

Cara menjadi dokter keluarga


Untuk menjadi dokter keluarga, dokter praktek umum (DPU) dapat

melalui dua cara, yaitu:


1. Program Konversi
Yang dimaksud dengan Program Konversi DPU-DK adalah program
pemberian gelar profesi "Dokter Keluarga yang disingkat DK" kepada
Dokter Praktek Umum yang disingkat DPU, yang memenuhi
persyaratan keprofesian tertentu sebagai Dokter Layanan Primer.
2. Jenjang akademis
Melalui jenjang akademik, DPU dapat memilih program Magister of
Family Medicine (MFM) atau Spesialis Family Medicine (Sp.FM)
5. Sistem rujukan
Rujukan adalah upaya melimpahkan wewenang dan tanggungjawab
penanganan kasus penyakit yang sedang ditangani oleh seorang dokter
kepada dokter lain yang sesuai. Menurut jenisnya, rujukan dapat dibedakan
menjadi rujukan medis dan rujukan kesehatan.
a.Rujukan medis: Pelimpahan wewenang dan tanggung jawab untuk
masalah kedokteran dengan tujuan untuk menyembuhkan penyakit dan
atau memulihkan status kesehatan pasien.
1. Rujukan pasien (transfer of patient)
Penatalaksanaan pasien dari strata pelayanan kesehatan yang kurang
mampu ke strata pelayanan kesehatan yang lebih sempurna atau
sebaliknya untuk pelayanan tindak lanjut
2. Rujukan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge)
Pengiriman dokter/ tenaga kesehatan yang lebih ahli dari strata
pelayanan kesehatan yang lebih mampu ke strata pelayanan kesehatan
yang kurang mampu untuk bimbingan dan diskusi atau sebaliknya,
untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan
3. Rujukan bahan pemeriksaan laboratorium (transfer of specimens)

Pengiriman

bahanbahan

pemeriksaan

laboratorium

dari

strata

pelayanan kesehatan yang kurang mampu ke strata yang lebih mampu


atau sebaliknya, untuk tindak lanjut.
Rujukan kesehatan: Pelimpahan wewenang & tanggungjawab

b.

untuk masalah kesehatan masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan


derajat kesehatan dan ataupun mencegah penyakit yang ada di masyarakat.
1. Rujukan tenaga
Pengiriman dokter/ tenaga kesehatan dari strata pelayanan kesehatan
yang lebih mampu ke strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu
untuk menanggulangi masalah kesehatan yang ada di masyarakat atau
sebaliknya, untuk pendidikan dan latihan
2. Rujukan sarana
Pengiriman berbagai peralatan medis/ non medis dari strata pelayanan
kesehatan yg lebih mampu ke strata pelayanan kesehatan yang kurang
mampu untuk menanggulangi masalah kesehatan di masyarakat, atau
sebaliknya untuk tindak lanjut
3. Rujukan operasional
Pelimpahan wewenang dan tanggungjawab penanggulangan masalah
kesehatan masyarakat dari strata pelayanan kesehatan yang kurang
mampu ke strata pelayanan kesehatan yang lebih mampu atau
sebaliknya untuk pelayanan tindak lanjut
Pembagian wewenang dan tanggung jawab dalam sistem rujukan adalah
sebagai berikut:
1. Interval referral
Pelimpahan wewenang dan tanggungjawab penderita sepenuhnya
kepada dokter penderita sepenuhnya kepada dokter konsultan untuk
jangka waktu tertentu, dan selama jangka waktu tersebut dokter tsb
tidak ikut menanganinya
2. Collateral referral
Menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita
hanya untuk satu masalah kedokteran khusus saja masalah kedokteran
khusus saja
3. Cross referral
Menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita
sepenuhnya kepada dokter lain untuk selamanya

4. Split referral
Menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita
sepenuhnya kepada beberapa dokter konsultan, dan selama jangka
waktu pelimpahan wewenang dan tanggungjawab tersebut dokter
pemberi rujukan tidak ikut campur.
6. Cara membuat diagnostik holistik dan penatalaksanaan komprehensif
a.Diagnostik Holistik
Diagnostik holistik merupakan kegiatan identifikasi dan menentukan
dasar dan penyebab penyakit, injury serta kegawatan yang diperoleh dari
anamnesis, observasi, penilaian resiko dalam kehidupan pasien dan
keluarga. Multi aspek dalam penegakan diagnosik holistik, antara lain
(Rakel, 2001):
Aspek 1
: Keluhan kepala keluarga, ketakutan, dan harapan di dalam
keluarga
Aspek 2
Aspek 3

: Diagnosis klinis dan diagnosis banding


: Persepsi tentang kesehatan dan kebiasaan-kebiasaan

(faktor resiko internal)


Aspek 4
: Masalah psikososial dan ekonomi keluarga, faktor
pekerjaan dan lingkungan (faktor resiko eksternal)
Aspek 5
: Fungsi sosial keluarga
Diagnostik holistik keluarga dalam pelayanan kedokteran keluarga
didasarkan pada fungsi-fungsi keluarga yang meliputi:
a.
Fungsi holistik (bio-psiko-sosial)
b.
Fungsi fisiologis keluarga untuk mengetahui siklus kehidupan
c.
d.
e.
f.

keluarga
Fungsi patologis keluarga
Fungsi keturunan dalam keluarga
Fungsi hubungan antar sesama manusia dalam keluarga
Fungsi perilaku dan nonperilaku yang dapat menjadi faktor risiko
internal dan eksternal
Tahapan untuk menegakkan diagnostik holistik berdasarkan fungsi-

sungsi tersebut di atas meliputi tahap berikut:


a.
Menyusun struktur keluarga dalam bentuk karakteeistik demografi
b.

keluarga
Membuat status pasien (anggota keluarga yang memiliki masalah
kesehatan) mulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan

penunjang,
c.

penyusunan

diagnosis

dan

penatalaksanaan

medikamentosa
Mengidentifikasi fungsi-fungis keluarga (Azwar et al., 2004):
1.
Fungsi
biologis-psikologis-sosial-ekonomi-pemenuhan
2.

kebutuhan
Fungsi fisiologis (APGAR score) melihat adaptation,
partnership, growth, affection, dan resources dalam keluarga

3.

sehingga bisa dilihat siklus kehidupan keluarga


Fungsi patologis (SCREEM score) melihat fungsi social,
cultural, religion, education, economic, dan medical dalam

4.
5.

keluarga
Fugnsi keturunan dengan menyusun genogram keluarga
Fungsi hubngan antar manusia untuk melihat harmonisasi

6.

interaksi anggota keluarga


Fungsi perilaku dan non perilaku untuk mengetahui faktor
risiko internal dan eksternal dalam keluarga

b.

Penatalaksanaan Komprehansif
Penatalaksanaan komprehensif diberikan oleh dokter keluarga
berdasarkan kesimpulan diagnosis holistik dan literatur ilmiah yang

mendukung, sehingga dapat direncanakan lah penatalksanaan :


1. Promotif : upaya untuk meningkatkan kesehatan dengan mempenaruhi
pada predisposising factor (pengetahuan, sikap, tradisi, dll), enabling
factor (ketersediaan sumber/fasilitas), dan reinforcing factori (sikap
dan perilaku petugas, peraturan UU) baik dengan komunikasi (metode
penyuluhan, konseling, dsb), pemberdayaan keluarga, ataupun
pelatihan untuk tenaga kesehatan
2. Preventif : upaya pencegahan dengan general and specific protectio,
early diagnostic and prompt treatment, dan dissability limitation
3. Kuratif : upaya pengobatan terutama dengan medikamentosa yang
sesuai dengan Evidence Based Medicine sekaligus menyusun planning
dan targetnya secara berkesinambungan
4. Rehabilitatif
7. Manfaat dan prosedur kunjungan rumah
a.Manfaat
1. Meningkatkan pemahaman dokter tentang pasien

2. Meningkatkan hubungan dokter pasien


3. Menjamin terpenuhinya kebutuhan dan tuntunan kesehatan pasien
4. Meningkatkan kepuasan pasien
b.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Prosedur :
Mempersiapkan daftar nama keluarga yang akan di kunjungi
Mengatur jadwal kunjungan
Mempersiapkan macam data yang akan dikumpulkan
Melakukan pengumpulan data
Melakukan pencatatan data
Menyampaikan promosi kesehatan

8. Konseling
Konseling adalah suatu hubungan profesional antara konselor
dengan klien, untuk membantu klien memahami dan memperjelas
pandangan hidupnya, belajar mencapai tujuan yang ditentukan sendiri
melalui pilihan-pilihan yang bermakna. Konseling merupakan proses
membantu seseorang atau kelompok untuk belajar menyelesaikan masalah
interpersonal, emosional dan atau memutuskan hal tertentu.
Melalui konseling, orang diajak memikirkan masalahnya sendiri,
sehingga akan tumbuh pengertian yang lebih baik terhadap penyebab
masalah. Kemudian diharapkan orang tersebut mempunyai inisiatif dalam
memecahkan masalahnya tersebut.
9. Puskesmas PONED, perawatan masa nifas dan perawatan bayi
a.Puskesmas PONED
1. Definisi
Menurut Kementerian Kesehatan RI, Puskesmas mamu Pelayanan
Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) adalah puskesmas yang
mempunyai fasilitas atau kemampuan untuk melakukan penanganan
kegawatdaruratan obstetri dan neonatal dasar, siap melayani 24

jam,

memiliki tenaga kesehatan/tim PONED yang terdiri dari dokter, bidan,


perawat terlatih. Puskesmas PONED berfungsi sebagai tempat rujukan,
atau rujukan antara kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal dari
polindes dan puskesmas.
2. Syarat Puskesmas PONED
a. Pelayanan buka 24 jam

b. Mempunyai Dokter, bidan, perawat terlatih PONED dan siap


melayani 24 jam
c. Tersedia alat transportasi siap 24 jam
d. Mempunyai hubungan kerjasama dengan Rumah Sakit terdekat dan
Dokter Spesialis Obgyn dan Spesialis Anak.
3. Kriteria Pengembangan Puskesmas PONED
a. Puskesmas sudah berfungsi baik
b. Gedung baik, Ada Dokter
c. Melaksanakan mini lokakarya, merupakan Puskesmas perawatan
d. Melayani 50.000 100.000 penduduk (kecuali Puskesmas di
kepulauan)
e. Dapat dijangkau dengan waktu tempuh paling lama 2 jam dengan
transportasi umum setempat,
f. Tenaga sekurang-kurangnya: 1 orang dokter dan 1 orang
Bidan/Perawat yang tinggal disekitar lokasi Puskesmas PONED
4. Kebijakan PONED
a. Distribusi Puskesmas PONED minimal 4 Puskesmas PONED untuk
setiap Kabupaten/ Kota (didahului dengan pemetaan sesuai
kebutuhan)
b. Puskesmas PONED yang berada diperbatasan dengan Kabupaten/
Kota tetangga, perlu melakukan koordinasi dengan RS di kedua
Kabupaten/Kota
5. Prasarana
a. Ruangan tempat persalinan minimal berukuran 3x3 m, tempat tidur
minimal 2 buah, ventilasi baik, suasana aseptik
b. Tersedia WC & Kamar mandi
c. Tersedia air bersih
6. Ruang lingkup pelayanan yang ditangani Puskesmas PONED
a. Pelayanan KIA/KB
b. Pelayanan ANC & PNC
c. Pertolongan Persalinan
normal
d. Pendeteksian

Resiko

tinggi Bumil
e. Penatalaksanaan Bumil
Resti
f. Perawatan Bumil sakit
g. PersalinanSungsang
h. Partus Lama

n.
o.
p.
q.
r.

i. KPD
j. Gemeli
k. Pre Eklamsia
l. Perdarahan Post Partum
m. Ab. Incomplitus
Distosia Bahu
Asfiksia
BBLR
Hypotermia
Komponen pelayanan maternal
s.
1)
Pre
eklamsia/eklamsia

t. 2) Tindakan obstetri pada

aa.

pertolongan persalinan
u.
3)
Perdarahan

Ikterus/hiperbilirubinemia
ab.
5) Masalah pemberian

postpartum
v.
4) Infeksi nifas
w. Komponen pelayanan neonatal
x.
1) Bayi berat lahir
rendah
y.
2) Hipotermi
z.
3) Hipoglikemi

nutrisi
ac.
ad.
ae.

4)

6) Asfiksia pada bayi


7) Gangguan nafas
8) Kejang pada bayi

baru lahir
af.
9) Infeksi neonatal
ag.
10)
Rujukan
dan
transportasi bayi baru lahir

ah.
Perawatan masa nifas
a.
Perawatan masa nifas adalah perawatan terhadap wanita

b.

hamil yang telah selesai bersalin sampai alat-alat kandungan kembali


seperti sebelum hamil, lamanya kira-kira 6-8 minggu.
b.
Perawatan masa nifas dimulai sebenarnya sejak kala uri
dengan menghindarkan adanya kemungkinan-kemungkinan perdarahan
post partum dan infeksi. Bila ada perlukaan jalan lahir atau luka bekas
episiotomi, lakukan penjahitan dan perawatan luka dengan sebaikbaiknya.Penolong persalinan harus tetap waspada sekurang-kurangnya 1
jam sesudah melahirkan, untuk mengatasi kemungkinan terjadinya
perdarahan post partum.
c.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan
masa nifas (Mochtar, 1991) :
d.
1.Mobilisasi
e.
Umumnya wanita sangat lelah setelah melahirkan, lebihlebih bila persalinan berlangsung lama, karena si ibu harus cukup
beristirahat, dimana ia harus tidur terlentang selama 8 jama post partum
untuk memcegah perdarahan post partum. Kemudian ia boleh miring ke
kiri dan ke kanan untuk memcegah terjadinya trombosis dan
tromboemboli. Pada hari kedua telah dapat duduk, hari ketiga telah
dapat jalan-jalan dan hari keempat atau kelima boleh pulang.Mobilisasi
ini tidak mutlak, bervariasi tergantung pada adanya komplikasi
persalinan, nifas, dan sembuhnya luka.
f.
2. Diet / Makanan
g.
Makanan yang diberikan harus bermutu tinggi dan cukup
kalori, yang mengandung cukup protein, banyak cairan, serta banyak
h.

buah-buahan dan sayuran karena si ibu ini mengalami hemokosentrasi.


3. Buang Air Kecil
i.
Buang air kecil harus secepatnya dilakukan sendiri.
Kadang-kadang wanita sulit kencing karena pada persalinan m.sphicter
vesica et urethare mengalami tekanan oleh kepala janin dan spasme
oleh iritasi musc. sphincter ani. Juga oleh karena adanya oedem
kandungan kemih yang terjadi selama persalinan.Bila kandung kemih

penuh dengan wanita sulit kencing sebaiknya lakukan kateterisasi,


sebab hal ini dapat mengundang terjadinya infeksi.Bila infeksi telah
terjadi (urethritis, cystitis, pyelitis), maka pemberian antibiotika sudah
pada tempatnya.
j.
4. Buang Air Besar
k.
Buang air besar harus sudah ada dalam 3-4 hari post
partum.Bila ada obstipasi dan timbul berak yang keras, dapat kita
lakukan pemberian obat pencahar (laxantia) peroral atau parenterala,
atau dilakukan klisma bila masih belum berakhir.Karena jika tidak,
l.

feses dapat tertimbun di rektum, dan menimbulkan demam.


5. Demam
m.
Sesudah bersalin, suhu badan ibu naik 0,5 C dari keadaan
normal, tapi tidak melebihi 38 C. Dan sesudah 12 jam pertama suhu
badan akan kembali normal. Bila suhu lebih dari 38 C/ mungkin telah

ada infeksi.
n.
6. Mules-mules
o.
Hal ini timbul akibat kontraksi uterus dan biasanya lebih
terasa sedang menyusui.Hal ini dialami selama 2-3 hari sesudah
bersalin.Perasaan sakit ini juga timbul bila masih ada sisa selaput
ketuban, plasenta atau gumpalan dari di cavum uteri. Bila si ibu sangat
mengeluh, dapat diberikan analgetik atau sedativa supaya ia dapat
p.

beristirahat tidur.
7. Laktasi
q.
8 jam sesudah persalinan si ibu disuruh mencoba menyusui
bayinya

untuk

merangsang

timbulnya

laktasi,

kecuali

ada

kontraindikasi untuk menyusui bayinya, misalnya: menderita thypus


abdominalis, tuberkulosis aktif, thyrotoxicosis,DM berat, psikosi atau
puting susu tertarik ke dalam, leprae atau kelainan pada bayinya sendiri
misalnya pada bayi sumbing (labiognato palatoschizis) sehingga ia
tidak dapat menyusu oleh karena tidak dapat menghisap, minuman
harus diberikan melalui sonde.
r.
c.Perawatan bayi
a.
Masa bayi baru lahir (neonatal) adalah masa 28 hari
pertama kehidupan manusia. Pada masa ini terjadi proses penyesuaian

sistem tubuh bayi dari kehidupan dalam rahim ke kehidupan di luar rahim.
Masa ini adalah masa yang perlu mendapatkan perhatian dan perawatan
yang ekstra karena pada masa ini terdapat mortalitas paling tinggi (Rudolf,
2006).
b.
c.
1.
d.

Perawatan bayi baru lahir meliputi (DKAK, 2010):


Pencegahan Infeksi
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi

mikroorganisme selama proses persalinan berlangsung maupun


beberapa saat segera setelah bayi lahir. Cara pencegahan infeksi
adalah sebagai berikut: cuci tangan sebelum dan sesudah
bersentuhan dengan bayi; memakai sarung tangan bersih pada saat
menangani bayi; memastikan peralatan yang digunakan steril; dan
memastikan semua pakaian maupun perlengkapan bayi dalam
e.

keadaan bersih.
2.
Penilaian Bayi Baru Lahir
f.
Penilaian awal yang dilakukan segera setelah lahir adalah
dengan menjawab 4 pertanyaan, yaitu:
g.
1.
Apakah bayi cukup bulan?
h.
2.
Apakah air ketuban jenih dan tidak bercampur

k.

mekonium?
i.
3.
Apakah bayi menangis atau bernafas?
j.
4.
Apakah tonus otot bayi baik?
3.
Pencegahan Kehilangan Panas
l.
Sistem pengaturan suhu tubuh pada bayi baru lahir belum
berfungsi sempurna.Oleh karena itu, segera lakukan upaya
pencegahan kehilangan panas agar bayi tidak mengalami hipotermi.
Hipotermi dapat menyebabkan bayi sakit berat bahkan kematian.
Hipotermi mudah terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan
basah atau tidak segera dikeringkan/diselimuti meskipun berada di
dalam ruangan yang relatif hangat. Cara mencegah terjadinya
kehilangan panas dengan mengeringkan tubuh bayi tanpa
membersihkan verniks; meletakkan bayi di tubuh ibu; menyelimuti
dan memakaikan topi; dan tidak memandikan bayi sebelum 6 jam

m.

setelah lahir.
4.
Asuhan Tali Pusat

n.

Asuhan tali pusat dilakukan setelah dua menit segera

setelah bayi lahir, lakukan pemotongan dan pengikatan tali pusat.


Hal yang perlu diperhatikan dalam merawat tali pusat adalah
sebagai berikut: cuci tangan sebelum dan sesudah merawat tali
pusat; menjaga umbilikus tetap kering dan bersih; tidak boleh
membungkus tali pusat dan memberikan bahan apapun di
o.

umbilikus; dan lipat popok di bawah umbilikus.


5.
Inisiasi Menyusui Dini
p.
Segera setelah bayi lahir dan telah dilakukan perawatan tali
pusat, maka bayi diletakkan secara tengkurap di dada ibu dengan
kulit bayi bersentuhan langsung dengan kulit ibu. Kontak kulit
dilakukan satu jam lebih, bahkan sampai bayi dapat menyusu
sendiri. Dukungan ayah dan keluarga sangat diperlukan oleh ibu
dan bayi. Manfaat menyusu dini adalah: mengurangi 22% kematian
bayi umur 28 hari; meningkatkan keberhasilan menyusui secara
eksklusif; merangsang produksi ASI; dan memperkuat refleks

q.

menghisap bayi.
6.
Pencegahan Perdarahan
r.
Semua bayi baru lahir harus diberikan suntikan vitamin K1
1 mg secara intramuskuler setelah 1 jam kontak kulit ke kulit dan
bayi selesai menyusu untuk mencegah perdarahan bayi baru lahir
akibat defisiensi vitamin K yang dapat dialami sebagian bayi baru

s.

lahir.
7.
t.

Pemberian Imunisasi
Imunisasi yang diberikan 1 jam setelah pemberian vitamin

K1 adalah imunisasi hepatitis B. Manfaatpemberian imunisasi


hapatitis B untuk mencegah infeksi hepatitis B terhadap bayi,
u.

terutama yang ditularkan melalui ibu-bayi.


8.
Pemeriksaan Bayi Baru Lahir
v.
Pemeriksaan bayi baru lahir dilakukan pada saat bayi
berada di klinik (dalam 24 jam) dan saat kunjungan tindak lanjut
(KN) yaitu 1 kali pada umur 1-3 hari, 1 kali pada umur 4-7 hari dan
1 kali pada umur 8-28 hari.
w.

10. Pelayanan pembiayaan dokter keluarga


a. Dalam penyelenggaraan pelayanan dokter keluarga diperlukan
tersedianya dana yang cukup untuk pengadaan berbagai sarana dan
prasarana medis dan non medis yang diperlukan (investment cost), dan
untuk membiayai pelayanan dokter keluarga yang diselenggarakan
(operational cost). Mekanisme pembiayaan yang ditemukan pada
pelayanan kesehatan banyak macamnya. Jika disederhanakan secara umum
dapat dibedakan atas dua macam. Pertama, pembiayaan secara tunai (fee
for service), dalam arti setiap kali pasien datang berobat diharuskan
membayar biaya pelayanan. Kedua, pembiayaan melalui program asuransi
kesehatan (health insurance), dalam arti setiap kali pasien datang berobat
tidak perlu membayar secara tunai, karena pembayaran tersebut telah
ditanggung oleh pihak ketiga, yang dalam hat ini adalah badan asuransi.
b. Dari dua cara pembiayaan yang dikenal tersebut, yang dinilai
sesuai untuk pelayanan dokter keluarga hanyalah pembiayaan melalui
program asuransi kesehatan saja. Karena untuk memperkecil risiko biaya,
program asuransi sering menerapkan prinsip membagi risiko (risk sharing)
dengan penyelenggara pelayanan, yang untuk mencegah kerugian, tidak
ada pilihan lain bagi penyelenggara pelayanan tersebut, kecuali berupaya
memelihara dan meningkatkan kesehatan, dan atau mencegah para anggota
keluarga yang menjadi tanggungannya untuk tidak sampai jatuh sakit.
Prinsip kerja yang seperti ini adalah juga prinsip kerja dokter keluarga.
c. Pengendalian biaya kesehatan yang dilakukan oleh dokter keluarga
meliputi:
1. Mengutamakan pelayanan pencegahan penyakit
d. Prinsip pokok pertama yang harus diperhatikan oleh penyelenggara
pelayanan

adalah

lebih

mengutamakan

pelayanan

pencegahan

penyakit, bukan pelayanan penyembuhan penyakit. Apabila prinsip


pokok ini dapat diterapkan, pasti akan besar peranannya dalam upaya
mengendalikan biaya kesehatan. Karena memanglah biaya pelayanan
pencegahan penyakit memang jauh lebih murah dari pada biaya
pelayanan penyembuhan penyakit.
2. Mencegah pelayanan yang berlebihan

e. Prinsip pokok yang diperhatikan oleh penyelenggara petayanan


adalah mencegah pelayanan yang berlebihan. Jika memang tidak ada
indikasinya, pemeriksaan penunjang tidak perlu dilakukan. prinsip
yang sarna juga berlaku untuk tindakan dan ataupun pernberian obat.
Dengan perkataan lain, pelayanan kedokteran yang deselenggarakan
harus memenuhi serta sesuai standar pelayanan yang telah ditetapkan.
3. Membatasi konsultasi dan rujukan
f. Pelayanan konsultasi dan apalagi rujukan, memerlukan biaya
tambahan. Untuk mencegah biaya kesehatan, penyelenggara pelayanan
harus berupa untuk membatai konsultasi atau rujukan. Pelayanan
konsultasi atau rujukan tersebut hanya dilakukan apabila benar-benar
diperlukan saja.
g.
h.
i.
j.
k. BAB III
l. PENUTUP
m.
A. SIMPULAN
a. Pelayanan kesehatan masyarakat saat ini dititik beratkan melalui pelayanan
dokter keluarga.
b. Pelayanan dokter keluarga memperlakukan pasien bukan sebagai individu,
namun merupakan bagian integral dari keluarga, dimana penegakan
diagnosis

pasien

dilakukan

secara

penatalaksanaan secara komprehensif


c. Dokter keluarga perlu membuat
mengidentifikasi

penyakit

pasien

holistik

genogram
dan

dan

memberikan

untuk

memudahkan

melakukan

penatalaksanaan

komprehensif
d. Puskesmas PONED dipersiapkan sebagai lini pertama penanganan
kegawatdaruratan obstetri dan ginekologi
n.
B. SARAN
o. Peran serta mahasiswa sudah cukup aktif. Cukup banyak
penelusuran literatur yang valid dan terbaru sehingga informasi yang
disampaikan pada pertemuan pertama sudah tepat. Tutor sudah baik dalam

menjaga situasi diskusi dan mengarahkan mahasiswa sehingga tujuan


pembelajaran yang ada dapat tercapai.
p.
q.
r.
s.
t.
u.
v.
w.
x.
y. DAFTAR PUSTAKA
z.
aa. Amelia, R (2014). Konsultasi dan Rujukan dalam Praktek Dokter Keluarga.
Tidak diterbitkan. Departemen IKM/IKP/IKK Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara.
ab. Azwar, Azrul, Gan GL, Sugito W (2004). A primer of family medicine
practice. Singapura: Singapore International Foundation
ac. Direktorat Kesehatan Anak Khusus (2010). Panduan pelayanan kesehatan
bayi baru lahir berbasis perlindungan anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia; hal. 18-29
ad. Galvin K (2010). Genograms.
ae.
http://www.genograms.org/components.html. Diakses 9 September 2014.
af. Idris, F (2006). Pelayanan Dokter Berbasis Dokter Keluarga di Indonesia.
Tidak diterbitkan. Bagian IKM/IKK Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijawa.
ag. Kemenkes RI (2013). Pedoman Penyelenggaraan Puskesmas Mampu
PONED. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
ah. Kuswenda, D. 2013. Transformasi Puskesmas Mampu BPJS. Disampaikan
pada Rapat Kementrian Kesehatan Daerah. Semarang: Kementrian Kesehatan
Daerah
ai. Mochtar, R (1991). Sinopsis Obstetri, Obstetri Fisiologi-Obstetri Patologi I,
ed. 2 Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; hal : 129-132
aj. Pamungkasari, Eti Poncorini (2014). Buku Pedoman Keterampilan Klinis
untuk Semester 7 Pendidikan Dokter UNS. Surakarta: FK UNS.
ak. Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (2010). Konversi Dokter Praktek
Umum. http://www.pdki-arpac.or.id/index_pdki.php?show=data/konversi.
Diakses 17 September 2014

al. Prasetyawati, Arsita Eka. 2010. Kedokteran Keluarga dalam Bab 3:


Dinamika, Peran, dan Pengaruh Keluarga. Jakarta: Rineka Cipta. p 67-79.
am. Rakel (2001).Textbook of family practice 6th ed. Pennsylvania: Elsevier
an. Tim Field Lab FK UNS. 2014. Modul Field Lab Semester VII Keterampilan
Kedokteran Keluarga: Kunjungan Pasien di Rumah (Home Visit). Surakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret
ao. USAID Indonesia (2014). Modul Program 1: Kebijakan Program Kesehatan
Ibu dan Anak. Dipaparkan dalam Program Strengthening Leadership and
Management Capacities for Health Service Delivery.. Universitas Gajah
Mada.
ap. Wahyuni, AS (2003). Pelayanan Dokter Keluarga. Tidak diterbitkan. Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
aq. Wonodirekso, S (2008). Karir Dokter di Ranah Pelayanan Kesehatan Primer.
ar.

Tidak diterbitkan. Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia Pusat.