Anda di halaman 1dari 26

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)


Jl. Arjuna Utara No.6 Kebon Jeruk - Jakarta

KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF BEDAH
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIAWI

Nama Mahasiswa

: Monalisa

NIM

: 112013095

Dokter Pembimbing

: dr. M.Relly Sofiar Sp. B

I.

Tanda Tangan :

IDENTITAS PASIEN

Nama Lengkap : Tn. S


Tempat/tanggal lahir : Bogor, 12 April 1980
Status Perkawinan : Belum Menikah
Pekerjaan : Buruh
Alamat : Kp. Cibinong

Jenis Kelamin : Laki-Laki


Suku Bangsa : Sunda
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Masuk RS : 18 September 2014 pk. 14.30
WIB

II.

ANAMNESIS

Diambil dari: Autoanamnesis di RSUD Ciawi

Tanggal : 19 09 2014 Jam : 07.30 WIB

Keluhan Utama:
luka bakar pada kedua tungkai kaki kiri dan kanan setinggi kedua dengkul
Keluhan Tambahan

rasa panas dan perih pada kedua kaki kiri dan kanan.
Riwayat Penyakit Sekarang:
1 jam SMRS Os terkena ledakan dari tabung gas di tempat kerjanya. Ledakan tersebut langsung

mengenai kedua kaki Os. Os menyebutkan bahwa ia terkena paparan ledakan dalam waktu yang
singkat sebelum akhirnya ditolong oleh rekan kerjanya, Os langsung dibawa ke Rumah Sakit
setelah kejadian. Pada saat perjalanan dan di rumah sakit Os masih dalam keadaan sadar.
Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada
Riwayat Hidup
Riwayat kelahiran:
( * ) Di Rumah

() Rumah Sakit

Ditolong oleh () Dokter

( ) Rumah Bersalin

(* ) Bidan

( ) Dukun

() Puskesmas
( ) Lainnya

Riwayat Makanan
Frekuensi/hari : 3x/ hari
Variasi/hari

: Bervariasi (ikan/telur/ayam)

Jumlah/hari

: Porsi sedang

Nafsu makan : Baik

Riwayat Imunisasi ()
( - ) BCG

( - ) DPT

( - ) Polio

( - ) Hep B

( - ) Campak ( + ) Lainnya,.

Penyakit Dahulu (Tahun)


( - ) Wasir/Hemorrhoid

( - ) Appendisitis

( - ) Hepatitis

( - ) Batu Ginjal / Saluran Kemih

( - ) Tumor

( - ) Fistel

( - ) Batu ginjal/saluran kemih

( - ) Penyakit Prostat

( - ) Struma tiroid

( - ) Hernia

( - ) Diare Kronis

( - ) Penyakit jantung

( - ) Typhoid

( - ) DM

( - ) Perdarahan otak

( - ) Batu empedu

( - ) Kelainan kongenital

( - ) Gastritis

bawaan

( - ) Tifus abdominalis

( - ) Colitis

( -) Hipertensi

( - ) Ulkus ventrikuli

( - ) Tetanus

( - ) Penyakit pembuluh

darah
( - ) ISK

( - ) Volvulus

( - ) Patah tulang

( - ) Luka bakar

Lain-lain :

( -) Operasi

( - ) Abses hati

(-) Kecelakaan

Adakah Keluarga /Kerabat Yang Menderita:


Penyakit
Alergi
Asma
Tuberkulosis
Arthritis
Rematisme
Hipertensi
Jantung
Ginjal
Lambung

Ya
-

Tidak
+
+
+
+
+
+
+
+
+

Hubungan
-

ANAMNESIS SISTEM
Kulit
( - ) Bisul

( - ) Rambut

( - ) Keringat malam

( - ) Kuku

( - ) Kuning / Ikterus

( - ) Sianosis

Kepala
( - ) Trauma

( - ) Sakit kepala

( - ) Sinkop

( - ) Nyeri pada sinus

Mata
( - ) Nyeri

( - ) Radang

( - ) Sekret

( - ) Gangguan penglihatan

( - ) Kuning / Ikterus

( - ) Ketajaman penglihatan (hipermetropi)

( - ) bulu mata terbakar

Telinga
( - ) Nyeri

( - ) Gangguan pendengaran

( - ) Sekret

( - ) Kehilangan pendengaran

( - ) Tinitus
Hidung
( - ) Rhinnorhea

( - ) Gejala penyumbatan

( - ) Nyeri

( - ) Gangguan penciuman

( - ) Sekret

( - ) Epistaksis

( - ) Trauma

( - ) Benda asing (foreign body)

( - ) bulu hidung terbakar


Mulut
( - ) Bibir

( - ) Lidah

( - ) Gusi

( - ) Mukosa

( - )Sisa jelaga
Tenggorokan
( - ) Nyeri tenggorokan

( - ) Perubahan suara

Leher
( -) Benjolan

( -) Nyeri leher

Dada (Jantung / Paru)


( - ) Sesak napas

( - ) Mengi

( - ) Batuk

( - ) Batuk darah

( - ) Nyeri dada

( - ) Berdebar-debar

Abdomen (Lambung / Usus)

( -) Mual

( - ) Muntah

( - ) Diare

( - ) Konstipasi

( - ) Nyeri epigastrium

( - ) Nyeri kolik

( - ) Tinja berdarah

( - ) Tinja berwarna dempul

( - ) Benjolan

(-) Nyeri perut kanan bawah

Saluran Kemih / Alat kelamin


( -) Disuria
( - ) Hesistancy
( - ) Kencing batu
( - ) Hematuria
( - ) Nokturia
( - ) Urgency
( - ) Kolik
( - ) Retensio urin
Saraf dan Otot
( - ) Riwayat trauma

( - ) Nyeri

( - ) Bengkak

Ekstremitas
( +) Bengkak

( - ) Deformitas

( +) Nyeri

( - ) Sianosis

BERAT BADAN
Berat badan rata-rata : 72 kg
III.

STATUS GENERALIS

Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Tanda-tanda vital

: TD : 120/80

N : 92x/menit

RR : 24x/menit

S : 37c

Kepala

: Normocephali, rambut hitam, distribusi merata, deformitas (-)

Mata

: Konjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/-,

Telinga

: Normotia, sekret -/-, serumen +/+

Hidung

: Deviasi septum ( - ), Normosepta, sekret ( - )

Tenggorokan

: Faring tidak hiperemis, Tonsil T1/T1 tenang

Leher

: KGB leher dan kelenjar tiroid tidak teraba membesar

Thorax
Paru-paru :
Inspeksi

: Kedua hemithorax simetris dalam keadaan statis dan dinamis

Palpasi

: Vocal fremitus sama pada kedua lapang paru dan benjolan (-)

Keadaan sela iga tidak mencembung dan menyempit


Perkusi

: Sonor kedua lapang paru

Auskultasi

: Suara nafas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-

Jantung :
Inspeksi

: Iktus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Ictus cordis teraba pada intercostal 5 linea midclavicular sinistra

Perkusi

: Bunyi redup

Auskultasi

: Bunyi jantung S1 S2 reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen :
Inspeksi

: abdomen datar supel , tidak terdapat jaringan parut, striae, dan kelainan kulit, tidak

terlihat pelebaran vena, tidak ada benjolan, turgor kulit tidak tampak menurun
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Perkusi

: Bunyi tymphani di keempat kuadran abdomen, nyeri ketok CVA (-)

Palpasi

: Nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), benjolan (-), defens muskular (-)

Hati: Permukaan rata, tepi tumpul, tidak ada pembesaran, tidak ada nyeri
Limpa: Tidak teraba
Ginjal: Ballotement (-), bimanual (-)
IV.

STATUS LOKALIS

- a/r Cruris Bilateral


Inspeksi

: tampak adanya luka terbuka dengan tepi tidak rata bewarna kehitaman dan dasar

luka bewarna putih kemerahan. Bulla(+) ukuran 6x3x0,5cm (pada cruris dextra 1/3
medial))
Palpasi

:teraba lunak pada dasar luka dan kering pada tepi luka.

Perkusi

: (-)

Auskultasi

: (-)

V.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium Tanggal 18/09/2014
Hematologi

dan Hasil

Hemostatis
Hemogloblin (Hb)
Leukosit
Hematokrit
Trombosit
Eritrosit
MCV (VER)
MCH (HER)
LED
Masa Pendarahan
Masa Pembekuan

10,3
12.200
33
410.000
5,14
78,4
25,2
2
3,50
1020

Nilai Normal

Satuan

13,5 17,5
4.100 10.900
41 53
140.000 440.000
4,5 5,5
80 100
26 34
< 10
01 - 06
06-11

g/dL
/uL
%
/uL
Juta/uL
Fl
Pg
mm/jam
Menit
Menit

KIMIA
FUNGSI GINJAL
Kreatinin
Ureum
DIABETES
Glukosa Sewaktu
ELEKTROLIT
Na
K
Cl

Hasil

Nilai Normal

Satuan

0,9
19

0,7 1,5
20 40

mg/dL
mg/dL

96

< 180

mg/dL

132
3,8
101

135 147
3,5 5,0
96 108

mmol/L
mmol/L
mmol/L

Anjuran pemeriksaan :

Foto x-ray cruris dextra-sinistra posisi AP/Lateral


VI.

DIAGNOSIS KERJA

Combustio Grade IIb-III dengan luas luka bakar 18%


VII.

o
o

o
o
o

PENATALAKSANAAN
Non Medikamentosa
Pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi
Pemasangan kateter dan NGT
Medikamentosa
Penggunaan cream seperti silversulfadiazine, MEBO dll pada luka bakar
Analgesik
Antibiotik spektrum luas
Operasi
Eksisi + debridement luka

Edukasi :

Pasien dinasehati minum obat secara teratur

Pasien dinasehati istirahat yang cukup

Jaga luka tetap kering

VIII. PROGNOSIS
Ad vitam
: Bonam
Ad functionam
: Bonam
Ad sanationam
: Bonam

IX.

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Luka bakar (combustio) adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak
dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi.1
PENYEBAB LUKA BAKAR 2
1.

Scald Burns

Luka karena uap panas, biasanya terjadi karena air panas, merupakan kebanyakan penyebab luka
bakar pada masyarakat. Air pada suhu 60C menyebabkan luka bakar parsial atau dalam
dengan waktu hanya dalam 3 detik. Pada 69C, luka bakar yang sama terjadi dalam 1
detik.
2.

Flame Burns

Luka terbakar adalah mekanisme kedua tersering dari injuri termal. Meskipun kejadian injuri
disebabkan oleh kebakaran rumah telah menurun seiring penggunaan detektor asap,
kebakaran yang berhubungan dengan merokok, penyalahgunaan penggunaan cairan yang
mudah terbakar, tabrakan kendaraan bermotor dan kain terbakar oleh kompor atau
pemanas ruangan juga bertanggung jawab terhadap luka terbakar.
3.

Flash Burns
Flash burns adalah berikutnya yang paling sering. Ledakan gas alam, propan, butane,
minyak destilasi, alkohol dan cairan mudah terbakar lain seperti aliran listrik
menyebabkan panas untuk periode waktu. Flash burns memiliki distribusi di semua kulit
yang terekspos dengan area paling dalam pada sisi yang terkena.

4.

Contact Burns

Luka bakar kontak berasal dari kontak dengan logam panas, plastik, gelas atau bara
panas. Kejadian ini terbatas. Balita yang menyentuh atau jatuh dengan tangan menyentuh
setrika, oven dan bara kayu menyebabkan luka bakar yang dalam pada telapak tangan.
5.

Chemical Burn
Luka bakar yang diakibatkan oleh iritasi zat kimia, apakah bersifat asam kuat atau basa
kuat. Kejadian ini sering pada karyawan industri yang memakai bahan kimia sebagai
bagian dari proses pengolahan atau produksinya. Penanganan yang salah dapat
memperluas luka bakar yang terjadi. Irigasi dengan NS (NaCl 0.9%) atau akuabides atau
cairan netral lainnya adalah pertolongan terbaik, tidak dengan cara menetralisirnya.

6.

Electrical Burn
Sel yang teraliri listrik akan mengalami kematian yang bisa menjalar dari sejak arus
masuk sampai bagian tubuh tempat arus keluar. Luka masuk adalah tempat aliran listrik
memasuki tubuh, luka keluar adalah tempat keluarnya arus dari tubuh menuju
bumi/ground. Sulit secara fisik menentukan berat ringannnya kerusakan yang terjadi
mengingat perlu banyak pemeriksaan klinis dan penunjang lainnya untuk mengevaluasi
keadaan penderita. Gangguan jantung, ginjal, kerusakan otot sangat mungkin terjadi.
Besarnya luka masuk atau luka keluar tidak berhubungan dengan kerusakan jaringan
sepanjang aliran luka masuk sampai keluar. Maka dari itu setiap luka bakar listrik
dikelompokan pada derajat III.

7.

Frost Bite
Adalah luka akibat suhu yang terlalu dingin. Pembuluh darah perifer mengalami
vasokonstriksi hebat, terutama di ujung-ujung jari, hidung dan telinga. Fase selanjutnya
akan terjadi nekrosis dan kerusakan yang permanen. Untuk tindakan pertama adalah
sesegera mungkin menghangatkan bagian tubuh tersebut dengan pemanas dan gerakangerakan untuk memperlancar sirkulasi.

FASE LUKA BAKAR 2,3


1.

Fase akut
Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Dalam fase awal penderita akan mengalami
ancaman gangguan airway (jalan nafas), breathing (mekanisme bernafas), dan circulation

(sirkulasi). Gnagguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah
terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi
dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama
penderiat pada fase akut. Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik.
2.

Fase sub akut


Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau
kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan:
1.

Proses inflamasi dan infeksi.

2.

Problem penutupan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak

berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ organ fungsional.
3.
3.

Keadaan hipermetabolisme

Fase lanjut
Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan
fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit
berupa parut yang hipertropik, keloid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.

ZONA KERUSAKAN JARINGAN 3


1.

Zona Koagulasi/Nekrosis
Adalah daerah yang langsung mengalami kerusakan (koagulasi protein) karena luka
bakar, disebut juga zona nekrosis.

2.

Zona Statis
Adalah daerah yang langsung berada di luar zona koagulasi. Di daerah ini terjadi
kerusakan endotel pembuluh darah, trombosit dan leukosit sehingga terjadi gangguan
perfusi (no flow phenomena) diikuti perubahan permeabilitas kapiler dan respon
inflamasi lokal. Proses ini berlangsung 12-24 jam pasca cedera.

3.

Zona Hiperemi
Daerah diluar zona stasis yang ikut mengalami reaksi vasodilatasi tanpa banyak
melibatkan reaksi seluler. Dapat mengalami penyembuhan spontan atau berubah menjadi
zona statis bila terapi tidak adekuat.

/kerusakan jaringan _clip_image002.jpg

DERAJAT LUKA BAKAR


Derajat luka bakar atau kedalaman luka bakar ditentukan oleh tingginya suhu suatu
benda dan lamanya penderita terpajan dengan benda tersebut. Baju yang terbakar yang
tidak dapat segera dilepas akan dapat menambah / memperberat derajat dari luka bakar.
Bahan-bahan seperti nilon dan dakron selain mudah terbakar juga mudah lumer pada
suhu tinggi, dan kemudian lengket yang akan memperdalam luka bakar yang telah ada.
Pembagian derajat luka bakar : 2,3,4
1.

Derajat I (Partial thickness burn)


Luka bakar hanya mengenai epidermis dan biasanya sembuh dalam 5 7 hari, misalnya
tersengat matahari (sun-burn). Luka tampak sebagai eritema dengan keluhan rasa nyeri /
hipersensitivitas setempat.

Sumber : http://majalahkesehatan.com/wp-content/uploads/2010/11/derajat-luka-bakar.png
2.

Derajat II (Partial thickness burn)


Luka bakar mencapai dermis namun masih ada elemen epitel sehat yang tersisa, yaitu sel
epitel basal, sel kelenjar sebasea, kelenjar keringat dan pangkal rambut. Dengan adanya
sisa epitel-epitel ini, luka dapat sembuh sendiri dalam 2-3 minggu. Gejala yang timbul
adalah, nyeri, gelembung / bula. Bula berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh
darah karena permeabilitas meninggi.

http://majalahkesehatan.com/wp-content/uploads/2010/11/derajat-luka-bakar.png
3.

Derajat III (Full thickness burn)


Luka bakar meliputi seluruh lapisan kulit sampai sub-kutis atau organ yang lebih dalam.
Seringkali dapat terlihat trombosis vena-vena subkutan. Tidak ada lagi elemen kulit yang
hidup. Kulit tampak pucat abu-abu gelap atau hitam dengan permukaan lebih rendah dari
jaringan sekeliling yang masih sehat. Bula tidak ada, rasa nyeri tidak ada. Untuk
mendapatkan kesembuhan harus dilakukan skin-grafting karena kemampuan regenerasi
subkutan dan otot yang kurang baik. 2 hal yang menyebabkan kematian pada luka bakar
derajat II adalah sepsis dan shock.

http://majalahkesehatan.com/wp-content/uploads/2010/11/derajat-luka-bakar.png
Luka bakar derajat II dan III ada kalanya sukar dibedakan. Untuk membedakan hal
tersebut, dilakukan pemeriksaan uji tusuk jarum (pin prick test) dan tes light touch
dengan menggunakan kapas, dimana hasil (+) untuk luka bakar derajat II, sementara hasil
(-) untuk luka bakar derajat III.
LUAS LUKA BAKAR 4,5,6
Dihitung dengan rumus Rule of Nine, yaitu : luas kepala dan leher, dada, punggung, perut,
pinggang dan bokong, ekstremitas atas kanan, ekstremitas atas kiri, paha kanan, paha kiri,
tungkai dan kaki kanan, serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%, sisanya 1% untuk
daerah genital.

http://www.bmj.com/highwire/filestream/419339/field_highwire_fragment_image_l/0
Untuk bayi digunakan rumus 10 yaitu :
-

Kepala, punggung dan perut : 20%.

Ekstremitas atas kanan-kiri dan Ekstremitas bawah kanan-kiri : masing-masing 10%.

Untuk anak dapat digunakan 10-15-20, yaitu :


-

Kepala dan leher, ekstremitas bawah kanan-kiri : masing-masing 15%.

Badan depan dan belakang : masing-masing 20%.

Ekstremitas atas kanan-kiri : masing-masing 10%.

Untuk dewasa bila luka bakar lebih dari 20% maka penderita harus dirawat, sedangkan untuk
anak-anak bila luas total luka bakar lebih dari 10% maka harus dirawat. Begitu juga luka
bakar pada tempat-tempat yang serius seperti pada daerah wajah, leher, genitalia, sekitar
persendian maka juga harus dirawat inap untuk mencegah komplikasi atau kerusakan
lebih banyak akibat luka bakar yang ada.

BERAT RINGANNYA LUKA BAKAR 7


Berdasarkan berat ringannya luka bakar, diperoleh beberapa kategori luka bakar menurut
American Burn Association:
1. Luka bakar berat/ kritis (major burn / critical burn wound)
1.

Derajat II-III > 20% pada pasien berusia < 10 tahun atau diatas 50 thn.

2.

Derajat II- III > 25 % pada kelompok usia selain yang disebutkan pada butir
pertama

3.

Adanya cedera pada jalan napas tanpa memperhitungkan luas luka bakar.

4.

Luka bakar listrik tegangan tinggi

5.

Disertai trauma lainnya

6.

Pasien-pasien dengan resiko tinggi

7.

Luka bakar yang mengenai lokasi yang berbahaya, misal:

Seluruh tangan (terutama kanan) karena kemungkinan terjadinya kontraktur besar


(walaupun luas luka hanya 1%)

Muka atau leher secara keseluruhan dapat mengganggu pernafasan dan cacat

Luka bakar karena listrik yang luas, yang dapat menyebabkan kematian

2. Luka bakar sedang/moderate


1.

Luka bakar dengan luas 15-25 % pada dewasa, dengan luka bakar derajat III kurang dari
10 %.

2.

Luka bakar dengan luas 10-20% pada anak usia kurang 10 thn atau dewasa lebih dari 40
thn, dengan luka bakar derajat III kurang dari 10 %.

3.

Luka bakar dengan derajat III kurang dari 10 % pada anak maupun dewasa yang tidak
mengenai muka, tangan, kaki dan perineum.

3. Luka bakar ringan


1.

Luka bakar dengan luas kurang dari 15 % pada orang dewasa.

2.

Luka bakar dengan luas kurang dari 10 % pada anak-anak

3.

Luka bakar dengan luas kurang dari 2 % pada segala usia yang tidak mengenai muka,
tangan, kaki, perineum.

Patofisiologi 1
Akibat pertama luka bakar adalah shock karena kaget dan kesakitan. Pembuluh kapiler
akan rusak dan permeabilitasnya akan meninggi selain itu sel darah yang ada didalamnya
akan rusak sehingga akan terjadi anemia, hemoglobinemia dan hemoglobinuria.
Permeabilitas yang meningkat akan menyebabkan edema dan menimbulkan bula yang
mengandung banyak elektrolit. Hal ini menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskular dan memudahkan terjadinya trombus. Kerusakan kulit akibat luka bakar
menyebabkan kehilangan cairan akibat penguapan yang berlebihan, masuknya cairan ke
bula yang terbentuk pada luka bakar derajat II, dan pengeluaran cairan pada luka bakar
derajat III. Mayoritas kematian akibat luka bakar disebabkan oleh karena infeksi dan
shock.
Bila luas luka bakar lebih dari 20% maka dapat terjadi shock hipovolemik dengan gejala
gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun dan
produksi urin berkurang. Pembengkakan terjadi pelan-pelan, maksimal terjadi setelah 8
jam.
Pada kebakaran pada ruang tertutup atau bila luka bakar terjadi di wajah, dapat terjadi
mukosa jalan napas karena gas, asap atau uap panas yang terhisap. Dapat terjadi edema
laring dengan gejala sesak napas, takipnea, stridor, suara serak, dahak warna gelap akibat
jelaga. Dapat juga terjadi keracunan gas CO dengan gejala ringannya adalah lemas,
bingung, pusing, mual muntah, gejala keracunan yang berat dapat terjadi koma. Bila
kadar CO dalam darah yang terikat dengan hemoglobin lebih dari 60% penderita dapat
meninggal.
Setelah 12-24 jam terjadi perbaikan permeabilitas kapiler dan terjadi mobilisasi dan
penyerapan kembali cairan edema ke dalam pembuluh darah. Hal ini ditandai dengan
meningkatnya diuresis.
Luka bakar sering tidak steril. Kuman penyebab infeksi dapat berasal dari kulit penderita
sendiri atau kontaminasi dari kuman saluran nafas atas atau infeksi nosokomial. Kuman
yang sering menyebabkan infeksi adalah Pseudomonas aeruginosa yang menghasilkan
eksotoksin protease dan toksin-toksin lain yang berbahaya. Infeksi pseudomonas dapat
dilihat dari kasa yang berwarna hijau yang menutup luka bakar. Kuman ini memproduksi

enzim penghancur keropeng yang bersama dengan eksudasi jaringan granulasi akan
membentuk nanah.
Infeksi ringan dan non-invasif (tidak dalam) ditandai dengan keropeng yang mudah
terlepas dengan nanah yang banyak. Infeksi yang invasif ditandai dengan keropeng yang
kering dengan jaringan di tepi keropeng yang mula-mula sehat menjadi nekrotik.
Bila luka bakar dibiopsi dan eksudatnya dibiak, maka biasanya ditemukan kuman dan
terlihat invasi kuman tersebut ke jaringan di sekelilingnya. Luka bakar demikian disebut
luka bakar septik yang dapat menyebabkan timbulnya shock septik.
Pada luka bakar berat dapat ditemukan ileus paralitik. Pada fase akut, peristaltik usus
menurun atau berhenti karena shock, sedangkan pada fase mobilisasi, peristaltik dapat
menurun karena tersering terjadi kekurangan ion kalium. Stres atau beban faal pada
penderita luka bakar dapat menyebabkan timbulnya curlings ulcer. Curlings ulcer
biasanya terjadi pada duodenum, dan memberikan gejala hematemesis melena. Bila tidak
dilakukan tindakan segera dapat terjadi perforasi.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium darah yaitu darah rutin, ureum kreatinin, elektrolit, GDS dan
analisa gas darah merupakan data dasar untuk menilai dan diagnosis awal keadaan
penderita. Pemeriksaan radiologi foto thoraks, apabila dicurigai adanya
trauma inhalasi, trauma pada bagian tubuh dan pasca pemasangan CVP.
PENATALAKSANAAN
Pre-hospital 7
1.

Sedapat mungkin penanganan ABC (sesuai ATLS)

2.

Jauhkan dari sumber luka bakar

3.

Ingatkan pada orang yang terbakar jangan lari atau berdiri karena api akan lebih besar

4.

Padamkan api dengan disiram air, tutup kain basah atau berguling

5.

Bilas dengan air jika luka bakar kimiawi, jangan dengan anti karena akan timbul reaksi
panas

6.

Trauma listrik putuskan aliran

7.

Pada keracunan CO biasanya karena terjebak dalam ruangan tertutup, timbul gejala
seperti pusing, sakit kepala dan muntah-muntah, terapi dengan oksigen murni

8.

Lepaskan pakaian dan perhiasan

9.

Early cooling, siram air

10.

Jangan es/ice-pack !

11.

Luka bakar kimia : irigasi sebanyak-banyaknya, jangan netralisir.

12.

Luka bakar listrik : padamkan sumber, gunakan non-conducting.

Penanganan di Emergensi 7
Tindakan penyelamatan jiwa sesuai dengan prosedur ATLS (Advanced Trauma Life Support).
Penanganan:
1.

Bebaskan jalan nafas, perhatikan kemungkinan udem laring.

2.

Oksigen lembab 5 liter/mnt

3.

Resusitasi cairan sesuai formula Baxter-Parkland,

4.

Monitoring tanda-tanda vital, diuresis dari waktu ke waktu

5.

Pemasangan CVP bila luas luka bakar 40 %, dengan nilai normal pada fase akut adalah
0 2 cmH20

6.

NGT apabila diperlukan,

7.

Kateter untuk monitoring diuresis

8.

Antitetanus profilaksis

9.

Antibiotik spektrum luas

10.

Analgetik, bila perlu golongan narkotik dengan pengawasan ketat

11.

Debridement dalam narkose bila keadaan umum pasien sudah stabil. Tindakan
debridemen dapat diulangi sesuai kondisi pasien

12.

Penutupan defek dengan skin grafting

13.

Perawatan luka dengan antibiotik topikal (silversulfadiazine, MEBO,dll)

Indikasi rawat : 7
1.

Derajat 2 > 15% pada dewasa, > 10% pada anak

2.

Derajat 2 pada muka, tangan, kaki, perineum, genitalia atau persendian

3.

Derajat 3 > 2% dewasa, setiap derajat 3 pada anak berapapun luasnya

4.

Luka Bakar Listrik atau halilintar

5.

Luka Bakar Inhalasi dan Kimia

6.

Luka Bakar ndengan trauma lain, seperti trauma kepala,abdomena,fraktur.

7.

Luka Bakar dgn penyakit lain : D.M. ,Hypertensi , Penyakit Jantung

Perawatan RS 7
Apabila termasuk kriteria luka bakar sedang dan berat (sesuai American Burn Association) maka
pasien dirawat :
1.

Di burn unit bila tersedia

2.

Rawat inap biasa/isolasi bila burn unit tidak tersedia

3.

Dirawat di ICU sampai kondisinya stabil. Kemudian dapat dipindahkan ke burn unit bila
tersedia.

4.

Tindakan definitif berupa

Debridement ulang, escarotomi/escarectomy

Penutupan defek dengan STSG/FTSG

Fisioterapi

Resusitasi Cairan 1,4,5


Perlu diketahui formula resusitasi cairan bukan suatu patokan mutlak, monitoring klinis
dari waktu ke waktu lebih penting
Pemberian cairan intravena dapat menggunakan rumus:

1. Bexter
4cc x % luas luka bakar x Berat Badan
dari jumlah kebutuhan cairan diberikan dalam 8 jam I dan sisanya diberikan dalam 16 jam
berikutnya. Waktu pemberian cairan dihitung dari saat terjadi luka bakar.

Pada hari ke II diberikan cairan dengan jumlah dari jumlah cairan yang diberikan pada
hari I/24 jam.
2. Evans
Untuk cairan pengganti diberikan :
Elekrolit : NaCl 0,9% atau Ringer Laktat = 1cc/kg/1% untuk 24 jam pertama.
Protein : Plasma expander (albumin) = 1cc/kg/1% untuk 24 jam pertama.
Untuk maintenance diberi Dextrose 5%.
Sama seperti halnya dengan rumus Bexter, dari jumlah kebutuhan cairan diberikan
dalam 8 jam I dan sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Waktu pemberian cairan
dihitung dari saat terjadi luka bakar. Pada hari ke II diberikan cairan dengan jumlah
dari jumlah cairan yang diberikan pada hari I/24 jam.
3. Brooke
Untuk hari pertama diberikan:
NaCl 0,9% / Ringer Laktat 1,5cc/kg/1%
Plasma expander / kolloid 0,5cc/kg/1%
Dextrose 5% 2L/2000cc
Maintenance cairan
Untuk hari kedua diberikan:
NaCl 0,9% / Ringer Laktat 0,5cc/kg/1%
Plasma expander / kolloid 0,5cc/kg/1%
Maintenance cairan
Obat-obatan yang dapat digunakan antara lain adalah antibiotik spektrum luas terutama
golongan aminoglikosida yang aktif terhadap pseudomonas. Antacid diberikan untuk
mencegah terjadinya curlings ulcer dan antipiretik diberikan bila suhu tinggi. ATS dan
toksoid juga dapat diberikan. Apabila penderita kesakitan, dapat diberikan pethidin
sebanyak 50 mg iv.
Minuman dapat diberikan pada penderita segera setelah peristaltik usus normal, sebanyak
25ml/ kgBB/ hari, pelan-pelan sampai diuresis minimal 30 ml/ jam.

Nutrisi harus diberikan cukup untuk memenuhi kebutuhan kalori dan keseimbangan
nitrogen yang negatif pada fase katabolisme, yaitu sebanyak 2.500-3.000 Kalori / hari
dengan kadar protein tinggi (100-150 gram/ hari). Makanan lunak diberikan per oral pada
penderita segera setelah dapat minum tanpa kesulitan. Dapat pula diberikan tambahan Fe
sulfat 500 mg, vitamin A, B, C dan D.
Posisi penderita juga harus diperhatikan, supaya tidak terjadi ulkus dekubitus dan
trombus. Selain itu dapat juga dilakukan fisioterapi untuk mencegah terjadinya kontraktur
dan psikoterapi untuk menghadapi emosi penderita.
Penderita luka bakar luas harus dipantau terus-menerus diuresisnya. Keberhasilan
pemberian cairan dapat dilihat dari diuresis normal yaitu sebanyak 1 cc / kgBB/ jam atau
sebanyak 50cc/jam pada orang dewasa.
Resusitasi pada 24 Jam Kedua 4
Pemberian cairan mengalami perubahan-perubahan dalam 24 jam kedua pasca luka
bakar. Peningkatan permeabilitas endotel mikrovaskular pada hari sebelumnya telah
kembali pulih, dan pemberian larutan koloid kini dapat bertahan dalam kompartemen
intravaskular. Koloid harus diberikan sedini mungkin pada hari kedua pasca luka bakar,
biasanya dalam 4-8 jam. Komponen cairan utama untuk resusitasi pada hari kedua
adalah air yang cukup untuk menghasilkan keluaran urin yang adekuat dan penggantian
evaporasi dan kehilangan air tak disadari lainnya yang makin bertambah. Pengukuran
kadar natrium yang sering, akan menuntun dalam mencapai komposisi cairan optimal.
Penatalaksanaan Cairan Setelah 48 Jam 4
Setelah 48 jam, pasien luka bakar menunjukkan perubahan fisiologi sehubungan dengan
respons hipermetabolik pasca luka bakar, yang akan mencapai puncaknya sekitar 1
minggu setelah terjadinya cedera, dan akan menetap hingga luka bakar menutup. Curah
jantung akan meningkat dua kali lipat pada pasien dengan luka bakar yang melampaui
40% LPTT. Ventilasi semenit meningkat, bersama dengan konsumsi oksigen dan
produksi karbondioksida. Kehilangan cairan melalui evaporasi luka bakar menjadi besar
jumlahnya. Mobilisasi edema dan keluaran urin meningkat pada periode ini, dan diuresis

dapat cukup besar karena meningkatnya beban larutan ginjal yang dihasilkan oleh
peningkatan proses-proses katabolik.
Pemberian cairan pada fase pasca resusitasi ditentukan oleh keluaran urin, observasi yang
cermat dan kehilangan berat badan, serta pemeliharaan kadar natrium serum dalam jumlah
normal. Pasien-pasien luka bakar akan bertahan dalam keseimbangan air dan natrium
yang positif hingga 2 minggu setelah tejjadinya cedera. Seperti pada fase resusitasi, maka
suatu keluaran urin minimum sebesar 4060 ml/jam merupakan hal yang penting.
Volume urin yang lebih besar mungkin tidak ada kaitannya dengan keseimbangan cairan,
bahkan mencerminkan suatu diuresis obligatorik sebagai respons terhadap konsentrasi
larutan yang tinggi dalam urin, atau terhadap peningkatan kadar peptida natriuretik dari
atrium. Hiponatremia merupakan penyebab kejang yang paling sering setelah luka bakar,
dan berbahaya terutama pada anak-anak kecil.
Kehilangan kalium melalui urin pada fase pasca resusitasi rata-rata 50-200 meq setiap
harinya dan dapat mencapai 600 meq/hari. Penggantiannya dapat dilakukan dengan
mudah, dengan memantau kadar serum. Kehilangan sel darah merah bersifat progresif,
dan orang dewasa dapat memerlukan hingga 2-3 unit darah setiap minggu guna
mempertahankan kadar hematokrit di atas 30%. Rekombinan critropoetin manusia dapat
mengurangi kebutuhan akan transfusi darah.

DEBRIDEMENT6,7
Indikasi :
Debridement luka bakar diindikasikan pada luka bakar yang dalam misalnya luka bakar
deep-dermal dan subdermal. Luka bakar yang dalam ini ditandai dengan permukaan yang
keputihan, merah, kecoklatan, kuning atau bahkan kehitaman dan tidak adanya capillary
refill ataupun sensibilitas kulit.
Kontraindikasi :

Kondisi fisik yang tidak memungkinkan

Gangguan pada proses pembekuan darah

Tidak tersedia donor yang cukup untuk menutup permukaan terbuka (raw surface) yang
timbul.1

Tehnik Operasi
1.

Informed consent

2.

Posisi terlentang dalam narkosa umum

3.

Cuci luka dengan Normal Saline (NaCl 0.9 %) sambil dilakukan nekrotomi & bullektomi
hingga bersih (debridement)

4.

Keringkan dengan kasa steril

5.

Oleskan Silver Sulfadiazin (SSD)/ Dermazin/ Burnazin

6.

Bebat dengan kassa lembab diseluruh area luka bakar

7.

Dapat juga dilakukan perawatan luka terbukan dengan MEBO (moist exposure burn
ointment - berupa salep)

Perawatan pasca debridement


Balutan awal harus dipertahankan selama 3-7 hari, kecuali timbul rasa sakit, berbau,
basah dan komplikasi lain yang dapat muncul. Ketika melepaskan balutan, perlengketan
diatasi dengan normal saline untuk mengurangi perlengketan.

Apabila terdapat

hematoma atau seroma pada saat ganti balutan, atasi dengan membuat insisi kecil pada
daerah yang paling menonjol dan keluarkan isinya.
KOMPLIKASI
1.

Infeksi dan sepsis

2.

Komplikasi saluran cerna : tukak curling, ileus paralitik

3.

Infark miokard

4.

Oligouria dan anuria (gagak ginjal akut)

5.

Udem paru

6.

Anemia

7.

Kontraktur

8.

Parut hipertrofik atau keloid

Daftar Pustaka
1. Jong Wd, Sjamsuhidajat R. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 3. Jakarta: EGC; 2005.
Hal 73-84
2. Sabiston : Sabiston Textbook of Surgery ed.17th. USA : Elsevier Saunders,
2004.
3. Santoso M, Kurniadhi

D, Tendean M, Oktavia E, Ciulianto R. Panduan

Kepaniteraan Klinik Pendidikan Dokter. Jakarta: Biro Publikasi Fakultas


Kedokteran UKRIDA; 2009. Hal 173-77
4. Schwartz SI, Shires GTS, Spencer FC. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Edisi
6. Jakarta: EGC; 2000. Hal 97-131
5. Wikipedia, 20 July 2012. Burn, diakses tanggal 19 July 2013 dari :
http://en.wikipedia.org/wiki/Burn_%28injury%29
6. Robert A. Brenner. 2011. Burn Injury, diakses tanggal 19 July 2013 dari :
http://www.burnsurvivor.com/medical.html
7. Kapten . 09 January 2013. Luka bakar, diakses tanggal 19 July 2013 dari :
http://bedahminor.com/index.php/main/show_page/239#