Anda di halaman 1dari 11

KOEFISIEN DIFUSI

Secara mendasar hukum fiek, DAB, dikenal sebagai koefisien difusi.


Dimensi pokoknya, dimana diperoleh dari persamaan (24-15).

DAB =

2
J AB
1
M
L
2
dc a
t
1
L t M

dz
L
L3

Yang identik dengan dimensi pokok dari sifat-sifat perpindahan lainnya :


viskositas kinematika, v dan difusivitas termal atau rasio ekuivalennya.
Difusivitas massa telah ditetapkan dalam cm2/s , satuan SI adalah m2/s yang
merupakan factor terkecil 10-4.

Didalam system ini memerlukan hubungan

sederhana :

D AB cm 2 s
10 4
2
D AB m s

D AB ft 2 hr
3.87 ..(24
D AB cm 2 s

26)
Koefisien difusi tergantung pada tekanan, temperature dan komposisi dari system.
Harga percobaan dari difusi gas, cairan dan padatan ditabulasikan dalam tabel
1,2,dan3 secara berurutan. Salah satunya diharapkan dari pertimbangan mobilitas
molekul. Koefisien difusi biasanya lebih tinggi untuk gas (sekitar 5 x 10-6 sampai
1 x 10-5 m2/s ), dibandingkan cairan ( kira-kira 10-10 sampai 10-9 m2/s ) yamg lebih
tinggi dari harga perolehan untuk padatan ( sekitar 10 -14 sampai 10-10 m2/s ). Saat
kekurangan data eksperimen, pernyataan secara teori telah dikembangkan kepada
yang memberikan perkiraan-perkiraan, kadang-kadang sesui dengan harga
percobaan karena kesulitan penempatan dalam pengukuran dalam percobaan
tersebut.

DIFUSIVITAS MASSA DAN GAS


Perteori untuk koefisien difusi dalam densitas gas campuran yang rendah
sebagai fungsi pada sifat-sifat system molekul yang diperoleh oleh Jeans,
*Chapman dan Sutherland, dengan menggunakan teori kinetic gas. Dengan
menggunakan alas an ilmuwan paling awal untuk menjelaskan gambaran
perpindahan molekul, kita dapat menguji gerakan molekul gas dan kemudian
diperoleh pernyataan yang menghubungkan koefisien difusi dengan sifat-sifat
system gas.
Pertimbangan volume control diperlihatkan dalam figure ( 24 2 ). Jika
kita menentukan gas static atau salah satu dari aliran laminar dalam arah x, kita
akan dapat mempertimbangkan transfer massa dari jenis A dalam arah y, yang
terjadi hanya pada skala molekul. Menggunakan persamaan ( 4 1 ),

CA

v n dA

Cv dV 0 .....(
A

1)
Untuk aliran ajeg massa mendatar pada permukaan atas pada elemen, kita
memperoleh :

CA

v n dA 0

persamaan sederhana ini menempatkan bahwa plux massa bagian atas harus sama
dengan flux massa bagian bawah.
Sebagai perkiraan awal, kita pertimbangkan system yang mengandung
molekul dalam ukuran dan massa yang sama, memiliki kecepatan rata-rata yang
sama. Hanya dalam gas campuran dibuat dari isotop pada elemen yang sama kirakira akan menyerupai dengan system ini. Penentuan kembali persamaan yang
diperoleh dalam basis micros kopik, kita dapat menyimpulkan bahwa angka
molekul crossing permukaan atas dari bawah harus sama dengan angka molekul
crossing dari diatas. Sejak kosentrasi dari jenis A ada diperlihatkan dalam figure

(24 2), banyak molekul dari jenis A yang akan ditransport menyilang permukaan
control dari atas daripada dari bawah. Ini menghasilkan flux bersih dari molekul A
pada arah y.
Seperti yang telah diselesaikan dalam bab VIII dan XV, kita dianjurkan untuk
menggunakan persamaan yang diperoleh dari teori kinetic densitas gas rendah :

8kT
m

2d 2 N

1
NC
4

Z=
Dimana

merupakan rata-rata secara kecepatan molekul,

/4 adalah kecepatan

masing-masing molekul yang lolos melalui area x, z, yang merupakan mean


free path, K adalah Boltzman, m adalah massa molekul, d adalah diameter dari
molekul spherical, N adalah kosentrasi molekul dan Z adalah frekuensi dan
dimana molekul tersebut berada didaerah x, z. Persamaan kesinambungan
ditulis dalam istilah perpindahan molekul adalah :

C
x, z
4

mn
n

C
x, z
4

0
y

Atau ketika dijumlahkan melebihi molekul N dalam satuan volume :

C
xz
4

C
xz
4

0
y

Jika kita menghitung hanya molekul A yang mendatar pada permukaan ini, maka
persamaan ini harus dihitung untuk massa flux bersih pada arah y :

j Ay

C
A
4

C
A
4

. (24 27 )

j Ay A

C4

Seperti dala bab VIII dan XV, kita mengasumsikan profil kosentrasi untuk lebih
esensial linear untuk jarak beberapa rata-rata free path lalu :

Dan

Dimana
y y

Dan
y y

Subsitusi dari hubungan-hubungan untuk A

dan A

kedalam persamaan

(24 27), menghasilkan :


j Ay 2

C A

4
y

Dimana mewakili komponen y pada jarak diantara tumbukan. Hal ini terhubung
pada rata-rata free path molekul, , dengan menggunakan hubungan :

Persamaan kita sekarang menjadi :


A
1
j Ay C
.(24 29)
3
y

Jika kita mengabungkan persamaan (24 29) dengan persamaan (24 27)

j Ay D AB

A
(24 17)
y

Ini terlihat jelas bahwa koefisien difusi untuk campuran molekul-molekul yang
sama, yaitu A dan isotop A*, adalah :

1
D AA* C ...(24 30)
3
Koefisien difusi ini sering disebut sebagai koefisien self diffusion dan digunakan
untuk menjelaskan difusi dari molekul-molekul tracer.
Pemasukan dari hasil kinetic untuk

dan ke dalam persamaan

(24 30), memberikan :

2 kT
D AA* 3 / 2 2
3 d N m

1/ 2

Untuk sebuah gas ideal N dapat dipindahkan, menggunakan hubungan :


N k T c RT p

Memberikan :

2 k 3T 3

D AA* 3 / 2 2
3 d p m
0.001858
D AB

3/ 2

1/ 2

1
1

MA MB

1/ 2

..(24 33)

P AB D
2

Dimana DAB :
1.18Vb1 / 3 .(24

0.84Wc1 / 3 (24

34)
35)
Tc
2.44

Pc

1/ 2

(24 36)

A / k 0.77Tc ...(24 37)

Dan :
A / k 1.15Tb (24 38)

AB

A B
..(24 39)
2

AB A B ..(24 40)
D ABT 2 P 2

P
D ABT 2 P 2 1
P2

T2

T1

3/ 2

T1

T2

(24 41)

Kita dengan mudah dapat melihat bahwa pertahanaan temperature dari


integral collision sangatlah kecil. Oleh karena itu, sebagian besar pertimbangan
difusivitas relatif pada temperatur hanya memasukkan rasio (T1/T2)3/2.
Persamaan (24 33) telah dikembangkan untuk gas yang menipis, yang
terdiri dari non polar, molekul monoatomic spherical. Bagaimananpun juga
persamaan ini memberikan hasil yang bagus untuk sebagian besar non polar,
system gas biner melebihi jarak temperature. Persamaan empiris lainnya telah
diusulkan untuk menafsirkan harga koefisien difusi untuk non polar, system gas
biner pada tekanan rendah. Korelasi empiris direkomendasikan oleh Fuller,
Schettler dan Giddings yang mengeluarkan evaluasi difusivitas ketika parameter
Lennard-Jones dipercaya,..adalah tidak berguna.
Korelasi Fuller adalah :

D AB

1/ 2

1
1

10 T

M A M B

P v A1 / 3 v B 1 / 3
3

1.75

...(24

42)
Dalam DAB dalam cm2/s, t dalam K dan P dalam atm. Untuk menentukan v,
pengarang merekomendasikan penambahan pada atom dan difusi structural
kenaikan volume v tercantum pada tabel (24 3).

Tabel (24 23) atomic diffusion volumes for use in estimating D AB by Method of
Fuller, Schettler dan Giddings.
Atomic and structure Diflution Volume Increments, v
C
16.5
Cl
19.5
H

1.98

17

5.48

Aromatic Ring

- 20.2

5.69

Heterocycline Ring

- 20.2

H2

Diflution Volumes For Simple Moleccules, v


7.07
Ar
16.1
H2O
12.7

D2

6.7

Kr

22.8

CClF2

114.8

He

2.88

CO

18.9

SF6

69.7

N2

17.9

CO2

26.9

Cl2

37.7

Evaluasi

O2

16.6

N2O

35.9

Br2

67.2

kembali

NH3

14.9

SO4

41.1

koefisien

Air

20.1

difusi pada karbon dioksida dalam udara pada

20 C dan tekanan atmosfer

dengan menggunakan persamaan fuller,schettler dan Giddings.

D AB

1/ 2

1
1

10 T

M A M B

P v A1 / 3 v B 1 / 3
3

D AB

1.75

10 3 2.93

1.75

1
1

44 29

1/ 2

1 26.69 1 / 3 20.1 1 / 3

Nilai perbandingan ini sangat baik untuk nilai yang telah dievaluasi dengan
persamaan Hirsefelder, 0.155 cm2/s dan penentuan sangatlah mudah diselesaikan.
Brokaw telah menyarankan suatu metode untuk menafsir koefisien difusi
untuk gas campuran biner yang berisi senyawa polar. Persamaan Hirschfelder
(24 33) masih digunakan, bagaimanapun integral collision dievaluasikan
dengan :
2

0.196 AB
..(24 43)
D D0
T*

Dimana :

AB A B

1/ 2

1.94 10 3 p 2
VbTb

......(24- 44)

p = momen Dipole, debyes.


Vb = Molar volume liquid dari komponen spesifik pada titik didih,
Cm3/g mol
Tb = Normal titik didih, K
Dan :
T* = kT/AB
Dimana :

AB A B

K K K

1/ 2

/ k 1.181 1.3 2 Tb (24 45)


Diameter collision dievaluasikan dengan (24 44), dan :

AC E G
D0
TekspDT ekspFT*** ekspHT*

...(24 46)

Dengan :
A = 1.06036

E = 1.03587

B = 0.15610

F = 1.52996

C = 0.19300

G = 1.76474

D = 0.47635

H = 3.89411

Kolisi diameter, AB dievaluasikan dengan :


AB = (A x B)1/2
Dengan setiap komponen karakteristik panjang yang dievaluasikan dengan :
1.585Vb
2
1 1.3

1/ 3

Reid, Praunitz dan Sherwood tercatat bahwa persamaan Brokaw hampir


dipercaya, dengan mengijinkan evaluasi koefisien difusi untuk gas yang
memerlukan senyawa polar dengan kesalahan kurang dari 15%.

Perpindahan massa dalam gas campuran dari beberapa komponen dapat


digambarkan dengan persamaan secara teori memerlukan koefisien difusi untuk
berbagai macam pasangan biner yang diperlukan dalam campuran. Hirsefelder,
Curtiss dan Bird menyajikan pernyataan sebagaian besar dalam bentuk umum.
Wilke telah menyederhanakan teori dan telah terlihat bahwa perkiraan terdekat
untuk bentuk yang benar, diberikan oleh hubungan :
D1 mixture

1
..(24 49)
y 2 ' / Di 2 y 3 ' / Di 3 ..... y n ' / Di n

Dimana D1-mixture adalah difusivitas massa untuk komponen 1 dalam gas campuran,
D1-mixture merupakan difusivitas massa untuk pasangan biner, komponen 1
menyebar melalui komponen n dan y adalah fraksi mol dari komponen n dalam
perhitungan gas campuran pada basis bebas komponen 1, yaitu :
y'

y2
y 2 y 3 ... y n

Contoh:
Tentukan difusi dari karbon dioksida melalui campuran gas dimana fraksi
mol tiap komponen adalah :
yO2 = 0.20
yN2 = 0.70
yCO = 0.10
Suhu gas campuran adalah 289 K dan tekanan total 2 atm. Dari appendix tabel,
diperoleh :
DCO-02 = 0.185 x 10-4 m2/s pada 273 K, 1 atm
DCO-02 = 0.192 x 10-1 m2/s pada 288 K, 1 atm
Dari 2 koefisien difusi biner, kemungkinan dikoreksi untuk temperature dan
perbedaan tekanan dengan menggunakan persamaan (24 41) :

D ABcorr1 T1

=
D ABcorr 2 T2

3/ 2

P2

P1

.(24 41)

Dari 289 K dan 2 atm, kita mendapatkan :

298
DCO-O2 =

273

3/ 2

1

2

0.185 10

m 2 / s 0.105 10 4 m 2 / s

Dan :
298

DCO-N2 = 288

3/ 2

1
4
2
4
2
0.192 10 m / s 0.101 10 m / s
2

Komposisi oksigen dan nitrogen dalam basis bebas CO, adalah :


'

y O2
'

y N2

0.20
0.22
1 0.10
0.70
0.78
1 0.10

Dengan mensubtitusi harga tersebut ke dalam persamaan (24 42), kita


memperoleh :
DCO O2 N 2

1
0.22
0.78
....(24

4
4
0.105 10
0.101 10

42)
=0.102 x 10-4m2/s

(0.395ft2/hr)