Anda di halaman 1dari 12

Topik: DIARE AKUT DEHIDRASI RINGAN SEDANG PADA BAYI DENGAN GIZI BURUK

Tanggal (kasus): 25 Mei 2015

Presenter: dr. Dwi Suryaning Ayu Aprilizia

Tanggal presentasi:

Pendamping: dr. Sulastri Salim

Tempat presentasi: Ruang AULA IGD RSUD PASAR REBO


Obyektif presentasi:
Keilmuan

Keterampilan

Diagnostik

Manajemen

Neonatus

Penyegaran

Tinjauan Pustaka

Masalah

Bayi

Istimewa

Anak

Remaja

Dewasa

Lansia

Bumil

Deskripsi: Bayi perempuan, 8 bulan, mencret sebanyak 12 kali sejak semalam. BAB cair, ampas masih ada berwarna kuning, tidak ada lendir
dan darah. Mencret tidak disertai dengan muntah. Pasien terus menyusu, rewel yang tidak bisa didiamkan dan tampak lemas. Keluhan diare berulang
dialami sejak pasien berusia 2 bulan. Pasien juga mengalami demam yang naik turun sejak 1 bulan yang terakhir. Pasien baru pulang rawat inap 5 hari
SMRS dan dirawat karena sesak di RS harapan kita. Nafsu menyusu dirasakan berkurang sejak dirawat sehingga pasien dipasang selang lambung.
Susu yang diberikan berupa susu formula hypoalergen, Riwayat imunisasi tidak lengkap pada usianya dikarenakan pasien sering sakit. BAK terakhir saat
di IGD RSUD Ps. Rebo (2 jam sebelum masuk bangsal).
Tujuan : memberikan penanganan yang tepat, cepat, dan akurat pada pasien bayi yang mengalami diare akut dengan dehidrasi sedang,
serta terapi nutrisi pada bayi / anak dengan gizi buruk.
Bahan bahasan:

Tinjauan Pustaka

Riset

Cara membahas:

Diskusi

Presentasi dan diskusi

Data pasien:

Nama: By. AP

Nama RS:

RSUD Pasar Rebo

Kasus

Audit
Email

Pos

Nomor Registrasi:
Jl. TB Simatupang no. 30, Jakarta Timur

Data utama untuk bahan diskusi:

1. Diagnosis/ Gambaran Klinis:


Diagnosis diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang didapatkan melalui anamnesis dan juga pemeriksaan fisik yaitu frekuensi diare cair
yang dialami sebanyak 12 kali sejak semalam. Pasien tampak rewel dan menyusu terus menerus. Keadaan pasien tampak sakit sedang
(lemas). Mata tampak cekung. Maka didapatkan status dehidrasi pasien ini adalah ringan-sedang. Pasien memiliki riwayat gizi buruk, dan
dalam program tumbuh kejar.

Subjektif
Bayi perempuan, 8 bulan, mencret sebanyak 12 kali sejak semalam. BAB cair, ampas
masih ada berwarna kuning, tidak ada lendir dan darah. Mencret tidak disertai dengan
muntah. Pasien terus menyusu, rewel yang tidak bisa didiamkan dan tampak lemas.
Keluhan diare berulang dialami sejak pasien berusia 2 bulan. Pasien juga mengalami
demam yang naik turun sejak 1 bulan yang terakhir. Pasien baru pulang rawat inap 5
hari SMRS dan dirawat karena sesak di RS harapan kita. Nafsu menyusu dirasakan
berkurang sejak dirawat sehingga pasien dipasang selang lambung. Susu yang
diberikan berupa susu formula hypoalergen, Riwayat imunisasi tidak lengkap pada
usianya dikarenakan pasien sering sakit. BAK terakhir saat di IGD RSUD Ps. Rebo (2
jam sebelum masuk bangsal).
Objektif

Keadaan umum/kesadaran
BB
: 3,3 kg
Tanda-tanda vital

: tampak sakit sedang/ compos mentis


TB : 60 cm
FN : 108 x/menit
FP

Kepala
Rambut
Ubun-ubun
Mata
Hidung
Paru

: 32 x/menit

: 36.3 oC

: normocephale
: tidak mudah patah
: datar
: RCL +/+ RCTL +/+ ; pupil isokor , tampak cekung
: nafas cuping hidung (-)
: Suara dasar vesikuler (-/-),wheezing (-/-), ronkhi (-/-)
Bunyi Jantung I-II reguler, murmur (-) gallop (-)
Abdomen
: Bising usus (+) supel, tidak ada pembesaran organ,

turgor kulit normal


: akral hangat

Ekstremitas

+
+

edema

+
+

CRT < 3 detik

Laboratorium :

Hb
: 9,7
Ht
: 29
Leukosit : 19.900
2

Trombosit: 362.000
Na
: 136
K
: 2,6
GDS
: 110

Assesment :
Bayi perempuan, 8 bulan, mencret sebanyak 12 kali sejak semalam. BAB cair, ampas
masih ada berwarna kuning, tidak ada lendir dan darah. Mencret tidak disertai dengan
muntah. Pasien terus menyusu, rewel yang tidak bisa didiamkan dan tampak lemas. Keluhan
diare berulang dialami sejak pasien berusia 2 bulan. Pasien juga mengalami demam yang naik
turun sejak 1 bulan yang terakhir. Pasien baru pulang rawat inap 5 hari SMRS dan dirawat
karena sesak di RS harapan kita. Nafsu menyusu dirasakan berkurang sejak dirawat sehingga
pasien dipasang selang lambung. Susu yang diberikan berupa susu formula hypoalergen,
Riwayat imunisasi tidak lengkap pada usianya dikarenakan pasien sering sakit. BAK terakhir
saat di IGD RSUD Ps. Rebo (2 jam sebelum masuk bangsal).
Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien tampak rewel dan ingin terus menyusu
(pasien tampak kehausan). Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien terlihat lemas dan mata
yang tampak cekung. Semua ini mengarahkan bahwa status dehidrasi yang dialami pasien
pada saat ini ialah ringan-sedang. Pasien merupakan penderita gizi buruk (BB/TB < - 3 SD )
dengan komplikasi (diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang) yang menjadi indikasi untuk
rawat inap
Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien ini adalah menangani status dehidrasi
status pasien terlebih dahulu (rencana B) di instalasi gawat darurat yang dilanjutkan dengan
terapi simptomatik untuk diare akut dan terapi nutrisi di ruang rawat inap.

PLAN :
Diagnosis

: diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang + gizi buruk

Pengobatan : - loading asering 100 cc


Konsul dr. Hediana, sp.A :
KAEN 3B + kcl 10 meq 10 gtt/m
3

Ceftriaxone 2 x 200 mg
Zinc 1 x cth
lactoB 2 x sachet

Terapi nutrisi
hari 1- 2 pasien tidak mendapatkan terapi nutrisi khusus
hari 3 s/d hari ke 6 pasien mendapatkan terapi F100 8 x 100 cc
terdapat peningkatan BB sebanyak 1,3 kg pada hari ke 6
Edukasi

: Edukasi pada keluarga bahwa diare akut dengan status dehidrasi ringansedang dan gizi buruk merupakan indikasi untuk rawat inap.

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Diare adalah peningkatan pengeluaran tinja dengan konsistensi lebih lunak atau lebih
cair dari biasanya, dan terjadi paling sedikit 3 kali dalam 24 jam. Sementara untuk bayi dan
anak-anak, diare didefinisikan sebagai pengeluaran tinja >10 g/kg/24 jam, sedangkan ratarata pengeluaran tinja normal bayi sebesar 5-10 g/kg/ 24 jam (Juffrie, 2010).
Menurut Simadibrata (2006) diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja
berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari
biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam. Sedangkan menurut Boyle (2000), diare
adalah keluarnya tinja air dan elektrolit yang hebat. Pada bayi, volume tinja lebih dari 15
g/kg/24 jam disebut diare. Pada umur 3 tahun, yang volume tinjanya sudah sama dengan
orang dewasa, volume >200 g/kg/24 jam disebut diare. Frekuensi dan konsistensi bukan
merupakan indikator untuk volume tinja.

ETIOLOGI
Menurut World Gastroenterology Organization global guidelines 2005, etiologi diare akut
dibagi atas empat penyebab:
1. Bakteri : Shigella, Salmonella, E. Coli, Gol. Vibrio, Bacillus cereus, Clostridium
perfringens, Stafilokokus aureus, Campylobacter aeromonas
2. Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, Coronavirus, Astrovirus
3. Parasit : Protozoa, Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Balantidium coli, Trichuris
trichiura, Cryptosporidium parvum, Strongyloides stercoralis
4. Non infeksi : malabsorpsi, keracunan makanan, alergi, gangguan motilitas,
imunodefisiensi, kesulitan makan, dll.

CARA PENULARAN DAN FAKTOR RISIKO


Cara penularan diare melalui cara faecal-oral yaitu melalui makanan atau minuman yang
tercemar kuman atau kontak langsung tangan penderita atau tidak langsung melalui lalat
( melalui 5F = faeces, flies, food, fluid, finger). Faktor risiko terjadinya diare adalah:
1. Faktor perilaku
5

a. Tidak memberikan Air Susu Ibu/ASI (ASI eksklusif), memberikan Makanan


b. Pendamping/MP ASI terlalu dini akan mempercepat bayi kontak terhadap
kuman
c. Menggunakan botol susu terbukti meningkatkan risiko terkena penyakit diare
karena sangat sulit untuk membersihkan botol susu
d. Tidak menerapkan Kebiasaaan Cuci Tangan pakai sabun sebelum memberi
ASI/makan, setelah Buang Air Besar (BAB), dan setelah membersihkan BAB
anak
e. Penyimpanan makanan yang tidak higienis

2. Faktor lingkungan
a. Ketersediaan air bersih yang tidak memadai, kurangnya ketersediaan Mandi
Cuci Kakus (MCK)
b. Kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk
Disamping faktor risiko tersebut diatas ada beberapa faktor dari penderita yang dapat
meningkatkan kecenderungan untuk diare antara lain: kurang gizi/malnutrisi terutama anak
gizi buruk, penyakit imunodefisiensi/imunosupresi dan penderita campak (Kemenkes RI,
2011).

KLASIFIKASI
Terdapat beberapa pembagian diare:
1. Berdasarkan lamanya diare:
a. Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari.
b. Diare kronik, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan
kehilangan berat badan atau berat badan tidak bertambah (failure to thrive)
selama masa diare tersebut.
2. Berdasarkan mekanisme patofisiologik:
a. Diare sekresi (secretory diarrhea)
b. Diare osmotic (osmotic diarrhea)

PATOFISIOLOGI
Diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih patofisiologi/patomekanisme dibawah ini:

Diare sekretorik
Diare tipe ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi air dan elektrolit dari usus,
menurunnya absorpsi. Yang khas pada diare ini yaitu secara klinis ditemukan diare
dengan volume tinja yang banyak sekali. Diare tipe ini akan tetap berlangsung
walaupun dilakukan puasa makan/minum (Simadibrata, 2006).

Diare osmotik
Diare tipe ini disebabkan meningkatnya tekanan osmotik intralumen dari usus halus
yang disebabkan oleh obat-obat/zat kimia yang hiperosmotik (antara lain MgSO4,
Mg(OH)2), malabsorpsi umum dan defek dalam absorpsi mukosa usus missal pada
defisiensi disakaridase, malabsorpsi glukosa/galaktosa (Simadibrata, 2006).

Gangguan permeabilitas usus


Diare tipe ini disebabkan permeabilitas usus yang abnormal disebabkan adanya
kelainan morfologi membran epitel spesifik pada usus halus (Simadibrata, 2006)

DIAGNOSIS DAN TERAPI

Gambar 1. Rencana terapi A pada diare tanpa dehidrasi

Gambar 2. Rencana terapi B pada diare dehidrasi ringan/sedang

Gambar 3. Rencana terapi C pada diare dehidrasi berat

Menurut Kemenkes RI (2011), prinsip tatalaksana diare pada balita adalah LINTAS DIARE
(Lima Langkah Tuntaskan Diare), yang didukung oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia dengan
rekomendasi WHO. Rehidrasi bukan satu-satunya cara untuk mengatasi diare tetapi
memperbaiki kondisi usus serta mempercepat penyembuhan/menghentikan diare dan
mencegah anak kekurangan gizi akibat diare juga menjadi cara untuk mengobati diare.
Adapun program LINTAS DIARE yaitu:
1. Rehidrasi menggunakan Oralit osmolalitas rendah
2. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut
3. Teruskan pemberian ASI dan Makanan
4. Antibiotik Selektif
5. Nasihat kepada orang tua/pengasuh

1. Oralit
Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah tangga dengan
memberikan oralit osmolaritas rendah, dan bila tidak tersedia berikan cairan rumah tangga
seperti air tajin, kuah sayur, air matang. Oralit saat ini yang beredar di pasaran sudah oralit
yang baru dengan osmolaritas yang rendah, yang dapat mengurangi rasa mual dan muntah.
9

Oralit merupakan cairan yang terbaik bagi penderita diare untuk mengganti cairan yang
hilang. Bila penderita tidak bisa minum harus segera di bawa ke sarana kesehatan untuk
mendapat pertolongan cairan melalui infus. Pemberian oralit didasarkan pada derajat
dehidrasi (Kemenkes RI, 2011).
2. Zinc
Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Zinc dapat menghambat
enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Synthase), dimana ekskresi enzim ini meningkat selama
diare dan mengakibatkan hipersekresi epitel usus. Zinc juga berperan dalam epitelisasi
dinding usus yang mengalami kerusakan morfologi dan fungsi selama kejadian diare
(Kemenkes RI, 2011).
Pemberian Zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat keparahan diare,
mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja, serta menurunkan
kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya. Berdasarkan bukti ini semua anak diare
harus diberi Zinc segera saat anak mengalami diare.
Dosis pemberian Zinc pada balita:
a. Umur < 6 bulan : tablet (10 mg) per hari selama 10 hari
b. Umur > 6 bulan : 1 tablet (20 mg) per hari selama 10 hari.
Zinc tetap diberikan selama 10 hari walaupun diare sudah berhenti. Cara pemberian tablet
zinc : Larutkan tablet dalam 1 sendok makan air matang atau ASI, sesudah larut berikan pada
anak diare (Kemenkes RI, 2011).
3. Pemberian ASI/makanan
Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada penderita terutama
pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya berat badan. Anak yang
masih minum ASI harus lebih sering di beri ASI. Anak yang minum susu formula juga
diberikan lebih sering dari biasanya. Anak usia 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang telah
mendapatkan makanan padat harus diberikan makanan yang mudah dicerna dan diberikan
sedikit lebih sedikit dan lebih sering. Setelah diare berhenti, pemberian makanan ekstra
diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan berat badan (Kemenkes RI, 2011).
4. Pemberian antibiotika hanya atas indikasi
Antibiotika tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya kejadian diare pada balita
yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotika hanya bermanfaat pada penderita diare dengan
10

darah (sebagian besar karena shigellosis), suspek kolera (Kemenkes RI, 2011). Obat-obatan
anti diare juga tidak boleh diberikan pada anak yang menderita diare karena terbukti tidak
bermanfaat. Obat anti muntah tidak dianjurkan kecuali muntah berat. Obat-obatan ini tidak
mencegah dehidrasi ataupun meningkatkan status gizi anak, bahkan sebagian besar
menimbulkan efek samping yang berbahaya dan bias berakibat fatal. Obat anti protozoa
digunakan bila terbukti diare disebabkan oleh parasit (amuba, giardia) (Kemenkes RI, 2011).
5. Pemberian Nasihat
Menurut Kemenkes RI (2011), ibu atau pengasuh yang berhubungan erat dengan balita harus
diberi nasehat tentang:
1. Cara memberikan cairan dan obat di rumah
2. Kapan harus membawa kembali balita ke petugas kesehatan bila :
a. Diare lebih sering
b. Muntah berulang
c. Sangat haus
d. Makan/minum sedikit
e. Timbul demam
f. Tinja berdarah
g. Tidak membaik dalam 3 hari.
PENCEGAHAN
Pencegahan diare menurut Pedoman Tatalaksana Diare Depkes RI (2006) adalah sebagai
berikut:
1. Pemberian ASI
ASI mempunyai khasiat preventif secara imunologik dengan adanya antibodi dan
zatzat lain yang dikandungnya. ASI turut memberikan perlindungan terhadap diare pada bayi
yang baru lahir. Pemberian ASI eksklusif mempunyai daya lindung 4 kali lebih besar
terhadap diare daripada pemberian ASI yang disertai dengan susu botol. Flora usus pada bayibayi yang disusui mencegah tumbuhnya bakteri penyebab diare (Depkes RI, 2006).
Pada bayi yang tidak diberi ASI secara penuh, pada 6 bulan pertama kehidupan resiko
terkena diare adalah 30 kali lebih besar. Pemberian susu formula merupakan cara lain dari
menyusui. Penggunaan botol untuk susu formula biasanya menyebabkan risiko tinggi terkena
diare sehingga bisa mengakibatkan terjadinya gizi buruk (Depkes RI, 2006).

11

2. Pemberian Makanan Pendamping ASI


Pemberian makanan pendamping ASI adalah saat bayi secara bertahap mulai
dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Pada masa tersebut merupakan masa yang
berbahaya bagi bayi sebab perilaku pemberian makanan pendamping ASI dapat
menyebabkan meningkatnya resiko terjadinya diare ataupun penyakit lain yang menyebabkan
kematian (Depkes RI, 2006).
Ada beberapa saran yang dapat meningkatkan cara pemberian makanan pendamping
ASI yang lebih baik yaitu :

Memperkenalkan makanan lunak, ketika anak berumur 4-6 bulan tetapi masih
meneruskan pemberian ASI. Menambahkan macam makanan sewaktu anak berumur 6
bulan atau lebih. Memberikan makanan lebih sering (4 kali sehari) setelah anak
berumur 1 tahun, memberikan semua makanan yang dimasak dengan baik 4-6 kali
sehari dan meneruskan pemberian ASI bila mungkin.

Menambahkan minyak, lemak dan gula ke dalam nasi/bubur dan biji-bijian untuk
energi. Menambahkan hasil olahan susu, telur, ikan, daging, kacangkacangan, buahbuahan dan sayuran berwarna hijau ke dalam makanannya. Mencuci tangan sebelum
menyiapkan makanan dan menyuapi anak, serta menyuapi anak dengan sendok yang
bersih.

12

Anda mungkin juga menyukai