Anda di halaman 1dari 22

1

BAB 2
PERMASALAHAN MIKOSIS SUPERFISIAL
2.1. Sumber Penularan
Ada 3 cara penularan dermatomikosis yaitu :
1. Antropofilik ( pada manusia ke manusia)
Spesies antropofilik (E. floccosum, M. audouinii, M. Ferrugineum, T.
mentagrophytes var. Interdigitale = T. interdigitale, T.rubrum, T. tonsurans)
mengakibatkan reaksi radang ringan dan kronis/ kambuh-kambuhan.
2. Zoofilik ( pada binatang ke manusia)
Spesies zoofilik (M. Canis pada anjing dan kucing, T. mentagrophytes var
mentagrophytes pada binatang mengerat) mengakibatkan reaksi radang
hebat/akut, sembuh jarang kambuh.
3. Geofilik (pada tanah ke manusia)
Spesies geofilik (Microsporum gypseum) mengakibatkan reaksi radang
hebat/akut, sembuh jarang kambuh.
2.2. Faktor Pencetus
Terdapat beberapa faktor yang menjadi faktor pencetus atau predisposisi
terjadinya mikosis :
1.
2.
3.
4.
5.

Higiene sanitasi jelek


Daerah tropis
Suhu dan kelembaban yang tinggi
Faktor penyebab maserasi di pelipatan
Imunokompromise seperti HIV/AIDS, Diabetes Melitus

2.3. Diagnosis Mikosis Superficialis


Mikosis superficialis dibagi menjadi dermatofitosis dan non dermatofitosis.
1. Dermatofitosis
Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat
tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut dan kuku yang
disebabkan golongan jamur dermatofita.
Menurut SIMONS dan GOHAR, dermatofitosis dibagi menjadi
dermatomikosis, trikomikosis dan onikomikosis. Sedangkan berdasarkan lokasi,
dibagi menjadi:
- Tinea kapitis, dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala
- Tinea barbe, dermatofitosis pada dagu dan jenggot
- Tinea kruris, dermatofitosis pada daerah genitokrural, sekitar anus, bokong
-

dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah


Tinea pedis et manum, dermatofitosis pada kaki dan tangan
Tinea unguium, dermatofitosis pada kuku jari tangan dan kaki
Tinea korporis, dermatofitosis pada bagian lain yang tidak termasuk bentuk 5
tinea di atas
Selain 6 bentuk tinea masih dikenal istilah yang mempunyai arti khusus,

yaitu:
- Tinea imbrikata, dermatofitosis dengan susunan skuama yang konsentris dan
-

disebabkan Trichophyton concentricum


Tinea favosa atau favus, dermatofitosis yang terutama disebabkan
Trichophyton schoenleini, secara klinis antara lain terbentuk skutula dan

berbau seperti tikus (mousy odor)


Tinea fasialis, tinea aksilaris, yang juga menunjukkan daerah kelainan
Tinea sirsinata, arkuata yang merupakan penamaan deskriptif morfologis
Pada akhir-akhir ini dikenal nama tinea inkognito, yang berarti

dermatofitosis dengan bentuk klinis tidak khas oleh karena telah diobati dengan
steroid topikal.
Gejala klinis dari dermatofitosis adalah sebagai berikut :
a. Tinea pedis
Infeksi dermatofit pada kaki, mengenai sela jari kaki dan telapak kaki
1) Intertriginosa kronis: bentuk tersering

Kulit mengelupas, maserasi dan pecah-pecah, tersering antara jari kaki IV


dan V serta III dan IV, tertutup epidermis dan debris mati, putih, maserasi,
meluas ke telapak kaki, tumit dan dorsum pedis, khas hiperhidrosis dan
bau khas tidak enak.
2) Bentuk hiperkeratotik papuloskuamosa kronis
Khas daerah kulit merah muda, tertutup skuama putih keperakan,
bilateral,berupa bercak-bercak. Moccasin foot : bila mengenai seluruh
kaki.
3) Bentuk vesikular
Khas lesi vesikel, vesikulo pustula dan dapat bula, jarang pada tumit dan
daerah depan, seperti erisipelas, sering + reaksi id.
4) Bentuk ulseratif akut
Proses eksematoid vesikulopustulosa dan penyebaran cepat, disertai
infeksi sekunder bakteri.
b. Tinea unguium
Penyakit ini biasanya menyertai tinea pedis atau tinea manus. Keluhan
penderita berupa kuku menjadi rusak dan warnanya menjadi suram.
Bergantung penyebabnya, destruksi kuku dapat mulai dari distal, lateral,
ataupun keseluruhan. Bila disertai paronikia, sekitar kuku akan terasa nyeri
dan gatal. Pada umumnya tinea unguium berlangsung kronik dan sukar
penyembuhannya. Dikenal tiga bentuk gejala klinis:
1) Bentuk subungual distalis. Penyakit ini mulai dari tepi distal atau
distolateral kuku. Penyakit akan menjalar ke proksimal dan di bawah kuku
terbentuk sisa kuku yang rapuh.
2) Leukonikia trikofita atau leukonikia mikofita. Bentuk ini berupa bercak
keputihan di permukaan kuku yang dapat dikerok untuk membuktikan
adanya elemen jamur.
3) Bentuk subungual proksimal. Pada bentuk ini, kuku bagian distal masih
utuh, sedangkan bagian proksimal rusak. Kuku kaki lebih sering diserang
dari pada kuku tangan.
c. Tinea kruris
Tinea kruris adalah dermatofitosis pada lipat paha, daerah perineum,
dan sekitar anus. Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat

merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup. Lesi kulit dapat terbatas
pada daerah genitokrural saja, atau meluas ke daerah sekitar, daerah gluteus
dan perut bagian bawah, atau bagian tubuh yang lain.
Kelainan kulit yang tampak pada sela paha merupakan lesi berbatas
tegas. Peradangan pada tepi lebih nyata daripada daerah tengahnya.
Efloresensi terdiri atas macam-macam bentuk yang primer dan sekunder
(polimorf). Bila penyakit ini menjadi menahun, dapat berupa bercak hitam
disertai sedikit sisik. Erosi dan keluarnya cairan biasanya akibat garukan.
Tinea kruris merupakan salah satu bentuk klinis yang sering dilihat di
Indonesia.
d. Tinea korporis
Bentuk klinik biasanya berupa lesi yang terdiri atas bermacam-macam
efloresensi kulit, berbatas tegas dengan konfigurasi anular,, arsinar, atau
polisiklik. Bagian tepi lebih aktif dengan tanda peradangan yang lebih jelas.
Daerah sentral biasanya menipis dan terjadi penyembuhan, sementara di tepi
lesi makin meluas ke perifer. Kadang-kadang bagian tengahnya tidak
menyembuh, tetapi tetap meninggi dan tertutup skuama sehingga menjadi
bercak yang besar.
Tinea korporis yang menahun ditandai dengan sifat kronik. Lesi tidak
menunjukkan tanda-tanda radang yang akut. Kelainan ini biasanya terjadi
pada bagian tubuh dan tidak jarang bersama-sama dengan tinea kruris. Bentuk
kronik yang disebabkan oleh T. rubrum kadang-kadang terlihat bersama-sama
dengan tinea unguium.
e. Tinea kapitis
Penyakit ini sering terjadi pada anka-anak, yang dapat ditularkan dari
binatang peliharaan misalnya kucing dan anjing. Keluhan penderita berupa
bercak pada kepala, gatal, dan sering disertai rontoknya rambut di tempat lesi
tersebut. ada 3 bentuk klinis dari tinea kapitis.
1) Grey patch ringworm merupakan tinea kapitis yang biasanya
disebabkan oleh genus Microsporum dan ditemukan pada anak-anak.
Penyakit ini biasanya dimulai dengan timbulnya papula merah kecil di

sekitar folikel rambut. Papula ini kemudian melebar dan membentuk


bercak pucat karena adanya sisik. Penderita mengeluh gatal, warna rambut
menjadi abu-abu, tidak berkilat lagi. Rambut menjadi mudah patah dan
juga mudah terlepas dari akarnya. Pada daerah yang terserang oleh jamur
terbentuk alopesia setempat dan terlihat sebagai grey patch. Bercak abuabu ini sulit terlihat batas-batasnya dengan pasti, bila tidak menggunakan
lampu Wood memberikan fluoresensi kehijau-hijauan sehingga batasbatasyang sakit dapat terlihat jelas.
2) Kerion merupakan tinea kapitis yang disertai dengan reaksi peradangan
yang hebat. Lesi berupa pembengkakan menyerupai sarang lebah dengan
sebukan sel radang di sekitarnya. Kelainan ini menimbulkan jaringan
parut yang menetap. Biasanya disebabkan jamur zoofilik dan geofilik.
3) Black dot ringworm adalah tinea kapitis dengan gambaran klinis berupa
terbentuknya titik-titik hitam pada kulit kepala akibat patahnya rambut
yang terinfeksi tepat di muara folikel. Ujung rambut yang patah dan penuh
spora terlihat sebagai titik hitam. Biasanya disebabbkan oleh genus
Trichophyton.
Pemeriksaan mikologik untuk membantu menegakkan diagnostik terdiri
atas pemeriksaan langsung sediaan basah (KOH 10-20%) dan biakan.
Pemeriksaan lain, misalnya pemeriksaan histopatologik, percobaan binatang dan
imunologik tidak diperlukan.
Tinea pedis et manum harus dibedakan dengan dermatitis, yang biasanya
batasnya tidak jelas, bagian tepi tidak lebih aktif daripada bagian tengah. Adanya
vesikel-vesikel steril pada jari-jari kaki dan tangan (pomfoliks) dapat merupakan
reaksi id. Efek samping obat juga dapat memberi gambaran serupa yang
menyerupai dermatitis, pertama-tama harus dipikirkan adanya dermatitis kontak.
Pada hiperhidrosis terlihat kulit yang mengelupas. Kalau hanya terlihat
vesikel-vesikel, biasanya terletak sangat dalam dan terbatas pada telapak kaki
dan tangan. Kelainan tidak meluas sampai di sela-sela jari.
Akrodermatitis kontinua dan morbus Andrews yang juga dapat
menyerupai tinea pedis dan magnum sangat sukar dibedakan dengan

dermatofitosis

bila

berdasarkan

pemeriksaan

klinis

saja.

Pemeriksaan

laboratorium diperlukan untuk membedakan satu dengan yang lain.


Penyakit lain yang harus mendapat perhatian adalah kandidosis,
membedakannya dengan tinea pedis murni kadang-kadang sulit. Pemeriksaan
sediaan langsung dengan larutan KOH dan pembiakan dapat menolong. Infeksi
sekunder dengan spesies Candida atau bakteri lain sering menyertai tinea pedis,
sehingga pada kasus-kasus demikian diperlukan interpretasi yang bijaksana
terhadap hasil-hasil pemeriksaan laboratorium.
Sifilis II dapat berupa kelainan kulit di telapak tangan dan kaki. Lesi yang
merah dan basah dapat merupakan petunjuk. Dalam hal ini tanda-tanda lain sifilis
akan terdapat, misalnya: kondiloma lata, pembesaran kelenjar getah bening yang
menyeluruh, anamnesis tentang afek primer,dan pemeriksaan serologi serta
pemeriksaan lapangan gelap dapat menolong. Tinea unguium yang disebabkan
oleh macam-macam dermatofita. Psorasis yang menyerang kuku pun dapat
berakhir dengan kelainan yang sama. Lekukan-lekukan pada kuku (nail pits),
yang terlihat pada psoriasis tidak didapati pada tinea unguium. Lesi-lesi psoriasis
pada bagian lain badan dapat menolong membedakannya dengan tinea unguium.
Banyak penyakit kulit yang menyerang bagian dorsal jari-jari tangan dan kaki
dapat menyebabkan kelaianan yang berakhir dengan distrofi kuku, misalnya
paronikia, yang etiologinya bermacam-macam, dermatitis, akrodermatitis
perstans.
Tidaklah begitu sukar untuk menentukkan diagnosis tinea korporis pada
umumnya, namun ada beberapa penyakit kulit yang dapat mericuhkan diagnosis
itu, misalnya dermatitis seboroika, psoriasis, dan pitiriasis rosea. Kelainan kulit
pada dermatitis seboroika selain dapat menyerupai tinea korporis, biasanya dapat
terlihat pada tempat-tempat predileksi, misalnya di kulit kepala, lipatan-lipatan
kulit, misalnya belakang telinga, daerah nasolabial, dan sebagainya. Psoriasis
dapat dikenal dari kelainan kulit pada tempat predileksi, yaitu daerah ekstensor,
misalnya lutut, siku, dan punggung. Kulit kepala berambut juga sering terkena
penyakit ini. Adanya lekukan-lekukan pada kuku dapat pula menolong untuk

menentukan diagnosis. Pitiriasis rosea, yang distribusi kelainan kulitnya simetris


dan terbatas pada tubuh dan bagian proksimal anggota badan, sukar dibedakan
dengan tinea korporis tanpa herald patch yang dapat membedakan penyakit ini
dengan tinea korporis. Pemeriksaan laboratoriumlah yang dapat memastikan
diagnosisnya. Tinea korporis kadang-kadang sukar dibedakan dengan dermatitis
seboroika pada sela paha. Lesi-lesi di tempat-tempat predileksi sangat menolong
menentukan diagnosis. Psoriasis pada sela paha dapat menyerupai tinea kruris.
Lesi-lesi pada psoriasis biasanya lebih merah, skuama lebih banyak dan lamelar.
Adanya lesi psoriasis pada tempat lain dapat membantu menentukan diagnosis.
Eritrasma merupakan penyakit yang tersering berlokalisasi di sela paha.
Efloresensi yang sama, yaitu eritema dan skuama, pada seluruh lesi merupakan
tanda-tanda khas penyakit ini. Pemeriksaan dengan lampu Wood dapat menolong
dengan adanya fluoresensi merah.
Tiena barbe kadang-kadang sukar disbedakan dengan sikosis barbe, yang
disebabkan oleh piokokus. Pemeriksaan sediaan langsung dapat membedakan
kedua penyakit ini.
Berbagai kelainan pada kulit kepala berambut harus dibedakan dengan
tinea kapitis. Pada umumnya pemeriksaan dengan lampu Wood pada kasus-kasus
tertentu dan pemeriksaan langsung bahan klinis dapat menentukan diagnosis.
Pada alopesia areata rambut di bagian pinggir kelainan mula-mula mudah dicabut
dari folikel, akan tetapi pangkal yang patah tidak nampak. Pada kelainan ini juga
tidak terdapat skuama. Bercak-bercak seboroika pada kulit kepala yang berambut
kadang-kadang membingungkan. Biasanya lesi dermatitis seboroika pada kulit
kepala lebih merata. Adanya lesi-lesi seboroika pada tempat-tempat predileksi
lain dan blefaritis dapat membantu menentukan diagnosis. Dermatitis seboroika
biasanya mempunyai lesi-lesi kulit yang simetris distribusinya. Psoriasis pada
kulit kepala berambut biasanya disertai kelainan-kelainan di tempat lain yang
memberi pengarahan diagnosis yang baik.
Impetigo yang menyertai pedikulosis kapitis menimbulkan kelainan yang
kotor dan berkrusta, tanpa rambut yang putus. Kerion kadang-kadang sukar

dibedakan dengan karbunkel, walaupun tidak begitu nyeri. Trikotilomania


merupakan kelainan berupa rambut putus tidak tepat pada kulit kepala, daerah
kelainan tidak pernah botak seluruhnya dan batas kelainan tidak tegas. Pada
orang dewasa, lupus eritematosus dan bentuk-bentuk lain alopesia yang
menimbulkan

sikatriks

memerlukan

pemeriksaan

lebih

lengkap

untuk

membedakannya dengan favus. Pemeriksaan dengan lampu Wood menunjukkan


fluoresensi pada rambut yang terserang oleh favus.
2. Non Dermatofitosis
Non dermatofit (ptiriasis versikolor, piedra hitam dan putih, tinea nigra palmaris,
kandidiasis )
a. Pitiriasis Versicolor
Tinea versikolor/pityriasis versikolor adalah infeksi ringan yang sering
terjadi disebabkan oleh Malasezia furfur. Penyakit jamur kulit ini adalah penyakit
yang kronik dan asimtomatik ditandai oleh bercak putih sampai coklat yang
bersisik. Kelainan ini umumnya menyerang badan dan kadang-kadang terlihat di
ketiak, sela paha, tungkai atas, leher, muka dan kulit kepala. Pitiriasis versikolor
atau panu disebabkan oleh Malassezia furfur (Pityrosporum furfur). Jamur ini
mudah ditemukan pada kulit penderita. Pitiriasis versikolor didapatkan diseluruh
dunia (kosmopolit) terutama di daerah beriklim panas, di Indonesia frekuensinya
tinggi. Penularan panu terjadi bila ada kontak dengan jamur penyebab. Oleh
karena itu, kebersihan pribadi sangat penting.
Malassezia furfur sukar dibiak. Pada kulit penderita jamur tampak
sebagai spora bulat dan hifa pendek. Pertumbuhannya pada kulit (stratum
korneum) berupa kelompok sel-sel bulat, bertunas, berdinding tebal dan memiliki
hifa yang berbatang pendek dan bengkok, biasanya tidak menyebabkan tandatanda patologik selain sisik halus sampai kasar. Bentuk lesi tidak teratur, berbatas
tegas sampai disus dan ukuran lesi dapat milier, lentikuler, numuler sampai
plakat.

Ada 2 bentuk yang sering dijumpai yaitu bentuk makuler : berupa

bercak-bercak yang agak lebar, dengan skuama halus di atasnya dan tepi tidak
meninggi; bentuk folikuler : seperti tetesan air, sering timbul di sekitar mulut.

Manusia terinfeksi jika hifa atau spora jamur melekat pada kulit. Lesi
dimulai dengan bercak kecil tipis yang kemudian menjadi banyak dan menyebar,
disertai adanya sisik. Kelainan kulit pada penderita panu tampak jelas, sebab
pada orang kulit berwarna panu ini merupakan bercak dengan hipopigmentasi,
sedangkan pada kulit orang putih sebagai bercak hiperpigmentasi. Dengan
demikian warna kelainan kulit ini dapat bermacam-macam (versikolor). Di atas
lesi terdapat sisik halus. Kelainan kulit tersebut terutama pada tubuh bagian atas
(leher, muka, lengan, dada, perut, dan lain-lain), berupa bercak yang bulat kecilkecil (nummular), atau lebar seperti plakat pada panu yang sudah menahun.
Biasanya tidak ada keluhan, ada rasa gatal bila berkeringat. Bila kulit panu
disinari dengan ultra violet, maka tampak fluoresensi hijau kebiru-biruan. Reaksi
ini disebut Woods light posistif.
Diagnosis ptiriasis versikolor dapat dibedakan dengan penyakit lainnya
yaitu morbus hansen, vitiligo, ptiriasis alba, hipopigmentasi post inflamasi,
chemical leukoderma. Diagnosis selain mengenal kelainan-kelainan yang khas
yang disebabkan oleh Melasezia fulfur diagnosa pitiriasis versikolor harus
dibantu dengan pemeriksaan-pemeriksaan sebagai berikut :
1) Pemeriksaan langsung dengan KOH 10%.
Bahan-bahan kerokan kulit di ambil dengan cara mengerok bagian kulit yang
mengalami lesi. Sebelumnya kulit dibersihkan dengan kapas alkohol 70%,
lalu dikerok dengan skalpel steril dan jatuhannya ditampung dalam lempenglempeng steril pula. Sebagian dari bahan tersebut diperiksa langsung dengan
KOH% yang diberi tinta Parker Biru Hitam, Dipanaskan sebentar, ditutup
dengan gelas penutup dan diperiksa di bawah mikroskop. Bila penyebabnya
memang jamur, maka kelihatan garis yang memiliki indeks bias lain dari
sekitarnya dan jarakjarak tertentu dipisahkan oleh sekat-sekat atau seperti
butir-butiir yang bersambung seperti kalung. Pada pitiriasis versikolor hifa
tampak pendekpendek, lurus atau bengkok dengan disana sini banyak
butiran-butiran kecil bergerombol.
2) Pembiakan.

10

Organisme penyebab Tinea versikolor belum dapat dibiakkan pada media


buatan.
3) Pemeriksaan dengan sinar wood,dapat memberikan perubahan warna pada
seluruh daerah lesi sehingga batas lesi lebih mudah dilihat. Daerah yang
terkena infeksi akan memperlihatkan fluoresensi warna emas sampai orange.
Pemeriksaan dengan sinar UV juga bisa dipakai untuk diagnosis.
b. Piedra hitam dan Piedra putih
Kata piedra berarti batu. Piedra ialah infeksi jamur pada rambut, berupa
benjolan yang melekat erat pada rambut, berwarna hitam atau putih kekuningan.
Piedra merupakan infeksi jamur pada rambut sepanjang corong rambut yang
memberikan benjolan-benjolan di luar permukaan rambut tersebut. Ada dua
macam yaitu (1) Piedra putih penyebabnya Piedraia beigeli dan (2) Piedra hitam
penyebabnya Piedraia horlar
Piedra Beigeli Merupakan penyebab piedra putih, terdapat pada rambut.
Jamur ini dapat ditemukan ditanah, udara,dan permukaan tubuh. Piedra Beigeli
(Trikosporon beigeli) terutama terdapat didaerah subtropis, daerah dingin, (di
Indonesia belum ditemukan) Jamur ini mempunyai hifa yang tidak berwarna
termasuk moniliaceae. Secara mikroskopis jamur ini menghasilkan arthrokonidia
dan blastoconidia. Biasanya penyakit ini dapat timbul karena adanya kontak
langsung dari orang yang sudah terkena infeksi. Gambaran klinis yaitu adanya
benjolan warna tengguli pada rambut, kumis, jenggot, kepala, umumnya tidak
memberikan gejala-gejala keluhan.Diagnosa ditegakkan atas dasar gejala kllinis,
pemeriksaan laboratorium dengan KOH dan kultur pada agar Sabauroud.
Piedra Hortai merupakan jamur penyebab piedra hitam (infeksi pada
rambut berupa benjolan yang melekat erat pada rambut, berwarna hitam).
Penyakit ini umumnya terdapat di daerah-daerah tropis dan subtropis. Terutama
terdapat pada rambut kepala, kumis ataujambang, dan dagu. Morfologinya yaitu
askospora berbentuk seperti pisang. Askospora tersebut dibentuk dalam suatu
kantung yang disebut askus. Askus-askus bersama dengan anyaman hifa yang
padat membentuk benjolan hitam yang keras dibagian luar rambut. Dari rambut

11

yang ada benjolan, tampak hifa endotrik (dalam rambut) sampai ektotrik (diluar
rambut) yang besarnya 4-8 um berwarna tengguli dan ditemukan spora yang
besarnya 1-2 um. Gambaran kllinis yaitu pada rambut kepala, janggut, kumis
akan tampak benjolan atau penebalan yang keras warna hitam. Penebalan ini
sukar dilepaskan dari corong rambut tersebut. umumnya rambut lebih suram, bila
disisir sering memberikan bunyi seperti logam. Biasanya penyakit ini mengenai
rambut dengan kontak langsung atau tidak langsung. Diagnosis ditegakkan atas
dasar gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium sebagai berikut :
1) Pemeriksaan langsung dengan KOH 10-20% dari rambut yang ada benjolan
tampak hifa endotrik (dalam rambut pada lapisan kortek) sampai ektotrik (di
luar rambut) yang besar 4-8 mu berwarna tengguli dan ditemukan spora yang
besarnya 1-2
2) Kultur rambut dalam media Saboutound tampak koloni mula-mula tumbuh
sebagai ragi yang berwarna kilning, kemudian dalam 2-4 hari akan berubah
menjadi koloni filamen.
c. Tinea Nigra Palmaris
Penyebab penyakit ini adalah Cladosporium wernecki atau Cladosporium
mansoni. Distribusi geografik Tinea Nigra Palmaris banyak ditemukan di
Amerika Selatan dan tengah, di Eropa dan Asia juga pernah ditemukan, tetapi di
Indonesia sangat jarang. Morfologi jamur ini termasuk dematiaceae yang
membentuk koloni berwarna coklat hitam. Pada biakan tumbuh kolini berwarna
hitam dan padat. Sediaan langsung koloni ini menunjukkan hifa berseptum dan
berwarna coklat/hitam.Patologi dan gejala klinis Penyakit ini mengenai stratum
korneum telapak tangan atau kaki dan menimbulkan bercak-bercak yang
berwarna tengguli hitam, kadang-kadang tampak bersisik. Keluhan penderita
ialah dari segi kosmetik, karena bercak tersebut memberi kesan kotor pada
tangan atau kaki, dan kadang-kadang juga terasa gatal. Bahan yang diperiksa
untuk diagnosis penyakit ini adalah kerokan kulit ditempat kelainan. Pada

12

pemeriksaan langsung dengan larutan KOH 10%, jamur tersebut tampak sebagai
kelompok hifa dan kelompok spora yang berwarna hitam atau hijau tua.

13

d. Kandidosis Kutis
Infeksi Candida pertama kali didapatkan di dalam mulut sebagai thrush yang
dilaporkan oleh FRANCOIS VALLEIX (1836). LANGERBACH (1839) menemukan
jamur penyebab thrush, kemudian BERHOUT (1923) memberi nama oraganisme
tersebut sebagai Kandida
Kandidosis (Kandidiasis, Moniliasis) adalah penyakit jamur, yang bersifat
akut atau subakut disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh spesies Candida
albicans dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki, atau paru, kadangkadang dapat menyebabkan septikemia, endokarditis, atau meningitis.
Penyakit ini terdapat diseluruh dunia, dapat menyerang semua umur, baik
laki-laki maupun perempuan. Jamur penyebabnya terdapat pada orang sehat sebagai
saprofit. Gambaran klinisnya bermacam-macam sehingga tidak diketahui data-dat
penyebarannya dengan tepat.
Yang tersering sebagai penyebab ialah Candida albicans yang dapat diisolasi
dari kulit, mulut, selaput mukosa vagina, dan feses orang normal. Sebagai penyebab
endokarditis kandidosis ialah C. parapsilosis dan penyebab kandidosis septikemia
adalah C. tropicalis.
Kandiosis kutis terdiri atas
1. Lokalisata :
a. Daerah intertriginosa
b. Daerah perianal
2. Generalisata
3. Paronikia dan onikomikosis
4. Kandidosis kutis granulomatosa
Infeksi kandida dapat terjadi, apabila ada faktor predisposisi baik endogen
maupun eksogen.
Faktor endogen :
a. Perubahan fisiologik
1. Kehamilan, karena perubahan pH dalam vagina
2. Kegemukan, karena banyak berkeringat
3. Debilitas
4. Iatrogenik
5. Endokrinopati, gangguan gula darah kulit.
6. Penyakit kronik, tuberkulosis, lupus eritematous dengan keadaan umum yang
buruk

14

b. Umur : orang tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi karena status
imunologiknya tidak sempurna.
c. Imunologik : penyakit genetik
Faktor eksogen
a. Iklim, panas, dan kelembaban menyebabkan perspirasi meningkat
b. Kebersihan kulit
c. Kebiasaan berndam kaki dalam air yang terlalu lama menimbulkan maserasi dan
memudahkan masuknya jamur.
d. Kontak dengan penderita, misalnya thrush, balanopostitis
Gejala klinis dari kandidosis adalah sebagai berikut :
a. Kandidosis intertriginosa
Lesi di daerah lipatan kulit ketiak, lipatan paha, intergluteal, lipat payudara,
antara jari tangan atau kaki, glans penis, dan umbilikus, berupa bercak yang
berbatas tegas, bersisik, basah, dan eritematosa. Lesi tersebut dikelilingi oleh
satelit berupa vesikel-vesikel dan pustul-pustul kecil atau bula yang bila
pecah meninggalkan daerah yang erosif, dengan pinggir-pinggir yang
kasardan berkembang seperti lesi primer
b. Kandidosis perianal
Lesi berupa maserasi seperti infeksi dermatofit tipe basah. Penyakit ini
menimbulkan pruritus ani.
c. Kandidosis kutis generalisata
Lesi terdapat pada glaborous skin, biasanya juga di lipat payudara,
intergluteal, dan umbilikus. Sering disertai glositis, stomatitis, dan paronikia.
Lesi berupa ekzematoid, dengan vesikel-vesikel dan pustul-pustul. Penyakit
ini sering terdapat pada bayi, mungkin karena ibunya menderita kandidosis
vagina atau mungkin karena gangguan imunologik.
d. Paronikia dan onikomikosis
Sering diderita oleh orang-orang yang pekerjaaannya berhubungan dengan
air, bentuk ini tersering didapat. Lesi berupa kemerahan, pembengkakan yang
tidak bernanah, kuku menjadi tebal, mengeras dan berlekuk-lekuk, kadangkadang berwarna kecoklatan, tidak rapuh, tetap berkilat dan tidak terdapat
sisa jaringan di bawah kuku seperti pada tinea unguium.
e. Diaper-rash

15

Sering terdapat pada bayi yang popoknya selalu basah dan jarang diganti
yang dapat menimbulkan dermatitis iritan, juga sering diderita neonatus
sebagai gejala sisa dermatitis oral dan perianal.
f. Kandidosis granulomatosa
HOUSER dan ROTHMAN melaporkan bahwa penyakit ini sering
menyerang anak-anak, lesi berupa papul kemerahan tertutup krusta tebal
berwarna kuning kecokelatan dan melekat erat pada dasarnya. Krusta ini
dapat menimbul seperti tanduk sepanjang 2 cm, lokalisasinya sering terdapat
di muka, kepala, kuku, bdan, tungkai, dan farings.
Pemeriksaan penunjang kandidosis yang dapat dilakukan adalah sebagai
berikut :
1. Pemeriksaan Langsung
Kerokan kulit atau usapan mukokutan diperiksa dengan larutan KOH 10 % atau
dengan pewarnaaan gram, terlihat sel ragi, blastopora, atau hifa semu.

16

2. Pemeriksaan Biakan
Bahan yang akan diperiksa ditanam dalam agar dekstrosa glukosa Saboraud, dpat
pula agar ini dibubuhi antibiotik (kloramfenikol) untuk mencegah pertumbuhan
bakteri. Pembenihan disimpan dalam suhu kamar atau lemari suhu 37 oC, koloni
tumbuh setelah 24 48 jam, berupa yeast like colony. Identifikasi Candida
albicans dilakukan dengan membiakan tumbuhan tersebut pada corn meal agar.
Diagnosis Banding :
1. Kandidosis kutis lokalisata dengan :
a. Eritrasma : lesi di lipatan, lesi lebih merah, batas tegas, kering, tidak ada
satelit, pemeriksaan dengan sinar Wood positif
b. Dermatitis intertriginosa
c. Dermatofitosis (tinea)
2. Kandidosis kuku dengan tinea unguium

2.4. Penatalaksanaan Mikosis Superficialis


Saat ini, telah ditemukan berbagai macam obat antimikosis yang baru, baik
yang bersifat topikal maupun sistemik, sehingga diharapkan dapat membantu
menyembuhkan para penderita penyakit jamur ini. Namun, seperti kedua sisi mata
uang, kemajuan ini justru menjadi salah satu masalah dalam penanganan mikosis
yang tidak jarang ditemui dalam praktek kesehatan. Banyaknya obat antimikosis di
Indonesia menyebabkan banyak kekeliruan dalam memilih obat mana yang tepat
untuk mengobati mikosis dan bagaimana penggunaannya. Dalam hal ini, pengetahuan
tentang farmakologi obat-obat antimikosis sangat diperlukan sehingga dapat dicapai
efektifitas pengobatan yang maksimal. Pengobatan mikosis harus memenuhi
persyaratan efektif, aman, rasional dan sedapat mungkin murah harganya.
a. Penatalaksanaan Dermatofitosis
Lesi Masih Basah/Infeksi Sekunder
a. Kompres dengan sol sodium klorida 0,9% selama 3-5 hari
b. Obat antibiotik selama 5-7 hari. Semua jenis antibiotik dapat diberikan.
Obat Topikal
Indikasi obat topikal

17

a. Bila lesi tidak luas pada Tinea korporis, Tinea kruris, Tinea manum ringan dan
Tinea pedis ringan.
b. Obat yang dipakai
1) Salap Whitfield (AAVI = Half Strength Whitfield Ointment) (Asidum
salisiliikum 3%, asidum bensoikum 6%) 2 kali sehari.
2) Dua salap 2-4/3-10 2 kali sehari (Asidum salisilikum 2-3%, Sulfur

presipitatum 3-10%)
3) Campuran undesilenik 2 kali/hari
4) Tolsiklat/Tolnaftat 2 kali/hari
5) Siklopiroksolamin 2 kali/hari
6) Haloprogin2 kali/hari
7) Imidasol
Dioleskan 2 kali/hari (Klotrimasol, Mikonasol, Isokonasol)
Dioleskan 1 kali/hari (ketokonasol, tiokonasol, Bifonasol, Sulkonasol)
8) Alilamin/bensilamin
9) Naftifin dioleskan 2 kali/hari
10) Terbinafin dioleskan 1 kali/hari
11) Butenafin dioleskan 1 kali/hari
Satu-satunya kelompok yang bersifat fungisidal terhadap dermatofit.
Pemberian obat topikal umumnya minimal selama 3 minggu, dapat sampai 4
minggu atau sampai 2 minggu sesudah pemeriksaan KOH negatif atau klinis
membaik, untuk mencegah kekambuhan pada obat fungistatik. Khusus krim
Terbinafin yang bersifat fungisidal, maka untuk Tinea korporis/kruris cukup
diberikan 1-2 minggu dan pada Tinea pedis, Tinea manum perlu 2-4 minggu.
Sedangkan untuk krim Butenafin yaqng juga bersifat fungisidal, maka untuk
Tinea korporis/kruris diberikan 2 minggu atau dapat semuanya 2 kali/hari
selama 1 minggu.

c. Amorolfin 5% lacquer
Khusus untuk onikomikosis, dioleskan 1-2 kali/minggu. Untuk kuku jari
tangan 4-6 bulan, kuku jari kaki 9-12 bulan. Setiap kali akan mengoleskan
ulang harus diberikan dengan laquer remover/alkohol.
d. Siklopiroks 8% lacquer
Khusus untuk onimikosis:
- 1 kali/minggu selama 6 bulan
- 1 bulan I dioleskan 3 kali seminggu

18

- 1 bulan II dioleskan 2 kali seminggu


- 1 bulan III dioleskan 1 kali seminggu
e. Obat topikal anti jamur kombinasi dengan kortikosteroid.
- Fungsi kortikosteroid untuk menghentikan proses

infeksi

dan

alergi/peradangan, mempercepat aktifitas obat anti jamur pada stadium


-

awal, dan aktifitas anti pruritus lebih jelas.


Sebaiknya kortikosteroid lemah, misalnya

Kortikosteroid poten akan cepat menyebabkan striae dan atrofi kulit.


Pemakaian pada muka dan pelipatan paha cukup beberapa hari saja

hidrokortison

1%.

(kurang 1 minggu) tidak boleh dipakai terus untuk selama pengobatan 2-3
-

minggu.
Indikasi: pada infeksi jamur yang disertai dengan inflamasi berta,
intertrigo, napkin rash, dermatitis atopi, dermatitis seboroik daerah

fleksor, dan tidak boleh dipakai untuk diagnosis yang tidak jelas.
f. Petunjuk penggunaan obat topikal
1) Bersihkan daerah yang infeksi dengan sabun dan air serta keringkan
betul-betul.
2) Oleskan tipis di atas lesi terinfeksi sampai 2 cm di sekitar/ di luar lesi
yang tampak terinfeksi kemudian gosok kuat-kuat.
3) Oleskan 1-2 kali sehari dan lamanya tergantung obat yang dipakai dan
lokasi dermatofitosis.
4) Hasilnya maksimum tercapai bila daerah yang terinfeksi tetap bersih,
kering dan dingin. Gunakan sepatu yang ukurannya pas pada Tinea
pedis/onikomikosis

dan pakaian

yang tidak ketat untuk Tinea

korporis/kruris.
5) Pemakaian: krim digunakan untuk semua lesi, lotio/solusio untuk kuku,
lesi kulit yang lembab. Sedangkan powder digunakan untuk daerah yang
basah seperti kaki atau sela paha, juga untuk pencegahan.

19

Obat Oral
a. Indikasi penggunaan:
1) Tinea kapitis, Tinea barbae, Tinea imbrikata, tinea unguium.
2) Tinea korporis/kruris/pedis/manum yang berat/luas, sering kambuh, atau
tidak sembuh dengan obat topikal.
3) Cara pengobatan:
4) Tergantung obat oral yang dipakai, lokasi dermatofitosis dan penyebab
dermatofitosis.
5) Biasanya diteruskan sampai 1-2 minggu sesudah pemeriksaan KOH (-)
/klinis membaik untuk obat fungistatik (rata-rata 2-4 minggu), sedang
obat fungisidal tidak perlu diteruskan, lamanya cukup 1-2 minggu.
b. Obat oral yang dapat diberikan:
1) Griseofulvin (microsize tablet 125-250-500 mg ultramicrosize tablet 330
mg)
2) Dosis
3)
4)
5)
6)
7)
8)

anak:

10

mg/KgBB/hari

(microsize),

5,5

mg/KgBB/hari

(ultramicrosize). Dosis dewasa: 500-100 mg/hari


Ketokonasol (1 tablet 200 mg)
Dosis anak: 3-6 mg/KgBB/hari, sedangkan dosis dewasa: 1 tablet/hari.
Itrakonasol (1 kapsul 100 mg)
Dosis anak: 3-5 mg/KgBB/hari, sedangkan dosis dewasa 1 kapsul/hari.
Terbinafin (1 tablet 250 mg)
Dosis anak: 3-6 mg/KgBB/hari; 10-20 : 62,5 mg (1/4 tablet); 20-40 Kg :

125 mg (1/2 tablet), sedangkan dosis dewasa 1 tablet/hari.


9) Fungisidal primer untuk dermatofitosis, waktu pemberian lebih singkat
dari pada obat lain, tidak perlu diteruskan 1-2 minggu sesudah
pemeriksaan KOH negatif/ klinis baik.

20

Keadaan Khusus
c. Terapi Denyut (Pulse treatment)
Terapi denyut adalah pemberian obat dengan dosis tinggi dalam waktu singkat
sehingga menimbulkan efek fungisidal sekunder oleh karena terjadi fungitoksik
sehingga penderita akan lebih patuh

dan tidak sering lupa, akibatnya

kesembuhan lebih baik dan kekambuhan jarang terjadi. Diberikan pada


Itrakonasol, perlu bersama makanan tinggi lemak.
Penatalaksanaan terapi denyut:
1) Tinea korporis/kruris: 200 mg (2 x 1 kapsul)/hari selama 1 minggu.
2) Tinea pedis plantaris/manum: 400 mg (2 x 2 kapsul)/hari selama 1 minggu.
3) Onikomikosis: 400 mg ( 2 x 2 kapsul)/hari selama 7 hari setiap 4
minggu/siklus. Untuk kuku tangan 2 siklus dan untuk kuku kaki 3-4 siklus.
b. Non Dermatofitosis
1) Pitiriasis Versicolor
Pada kelainan yang kecil, dapat diberikan pengobatan lokal, dengan preparat
salisil (tinktur salisil spiritur), preparat devirat imidazol (salep mikonazol,
isokonazol, salep klotrimazol, ekonazol) dan tolnaftat bentuk tinktur atau
salep. Bila kelainan meliputi hamper seluruh tubuh, obat oral yang sistemik
yaitu ketokonazol memberi hasil yang yang baik. Agar pengobatan berhasil
baik, infeksi ulang harus dicegah, misalnya dengan merebus baju agar semua
spora jamur mati.
2) Piedra
Rambut dicukur atau dikeramas dengan sublimat 1/2000 (5 %0) dalam spiritus
dilutes (spiritus 70%) hasil pengobatan akan tampak dalam 1 minggu.
3) Tinea Nigra
Karena jarang ditemukan, maka belum banyak pengalaman pengobatan, dapat
dicoba dengan itokonazol seperti onikomikosis.

21

4) Kandidosis
Pengobatan kandidosis adalah :
Menghindari atau menghilangkan faktor predisposisi
Topikal
o Larutan ungu gentian -1 % untuk selaput ledir, 1-2% untuk kulit,
dioleskan sehari 2 kali selama 3 hari
o Nistatin : berupa krim, salap, emulsi
o Group azol antara lain :
- Mikonazol 2 % berupa krim atau bedak
- Klotrimazol 1 % berupa bedak, larutan dan krim
- Tiokonazol, bufonazol, isokonazol
- Siklopiroksolamim 1 % larutan, krim
- Antimikotik yang lain yang berspektrum luas
Sistemik
o Tablet nistatin untuk menghilangkan infeksi fokal dalam saluran cerana, obat
ini diserap oleh usus.
o Amfoterisin B diberikan intravena untuk kandidosis sistemik.
o Untuk kandidosis vaginalis dapt diberikan kotrimazol 500 mg per vaginam
dosis tunggal, sistemik dapat diberikan ketokenazol 2 x 200 mg dosis
tunggal atau dengan itrakonazol 2 x 200 mg dosis tunggal atau dengan
flukonazol 150 mg dosis tunggal.
o Itrakonazole : bila dipakai untuk kandidosis vulvovaginalis dosis untuk
orang dewasa 2 x 100 mg sehari, selama 3 hari.
5)

22

DAFTAR PUSTAKA
1.

Budimulja,Unandar. Mikosis. Dalam : Djuanda A, Hamzah M, Aisah S,


editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi keempat. FKUI. Jakarta.

2.

2010:89-105
Kuswaji. Kandidosis. Dalam : Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editor. Ilmu

3.

Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi keempat. FKUI. Jakarta. 2010:106-9


A, Fattah Madani. Infeksi Jamur Kulit. Dalam : Harahap, Marwali, editor.
Ilmu Penyakit Kulit. Hipokrates. Jakarta. 2000:73-87

4.

Siregar RS. Penyakit Jamur Kulit. 2nd ed. Jakarta; 2005.

5.

Ilyas SF, Amir S, Amirruddin MD. Tinjauan mengenai penyakit jamur


superfisial di Indonesia dalam majalah Dermato-Venereologi Indonesia, hal

6.

2, 2001.
Partosuwiryo S, Danukusumo HAT. Ptiriasis Versikolor. Dalam: Diagnosis
dan penatalaksanaan dermatomikosis. Balai Penerbit FKUI. Jakarta 2001:
17-20