Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I
PENDAHULUAN
Sejauh ini lebih dari 6,5 juta perempuan di Indonesia jadi populasi rawan
tertular HIV. Lebih dari 30% diantaranya melahirkan bayi yang tertular HIV. Pada
tahun 2015, diperkirakan akan terjadi penularan pada 38.500 anak yang dilahirkan
dan itu terinfeksi HIV. Sampai tahun 2006 diperkirakan 4.360 anak terkena HIV
dan separuh diantaranya meninggal dunia. Saat ini diperkirakan 2320 anak terkena
HIV. Kebanyakan wanita mengurus keluarga dan anak-anaknya selain mengurus
diri sendiri, sehingga gangguan kesehatan pada wanita akan mempengaruhi
seluruh keluarganya. Wanita dengan HIV/AIDS harus mendapatkan dukungan dan
perawatan mencakup penyuluhan yang memadai tentang penyakitnya, perawatan,
pengobatan, serta pencegahan penularan pada anak dan keluarganya. (1)
Penularan HIV ke bayi dan anak bisa dari ibu ke anak, penularan melalui
darah, penularan melalui hubungan seks (pelecehan seksual pada anak). Penularan
dari ibu ke anak terjadi karena wanita yang menderita HIV/AIDS sebagian besar
(85%) berusia subur (15-44 tahun) sehingga terdapat resiko penularan infeksi
yang bisa terjadi pada saat kehamilan. Prevalensi penularan dari ibu ke bayi dalah
0,01% sampai 0,7%. Bila ibu baru terinfeksi HIV dan belum ada gejala AIDS,
kemungkinan bayi terinfeksi sebanyak 20% sampai 35%, sedangkan gejala AIDS
sudah jelas pada ibu kemungkinan mencapai 50%.(1)
Tingkat transmisi AIDS dapat dikurangi dari 25% - 30% menjadi kurang
dari 2% (berkurang > 90%) kalau pakai obat antiretrovirus (ARV) pada Trismester
terakhir kehamilan, selama persalinan, dan kelahiran dan bayi diobati
pascapersalinan selama 6 minggu dan tidak disusui. Aturan/resiman yang sangat
efektif ini belum ada di negara-negara sedang berkembang. (1)
Infeksi Human immunodeficiency virus (HIV) pertama kali ditemukan
pada anak tahun 1983 di Amerika Serikat, yang mempunyai beberapa perbedaan
dengan infeksi HIV pada orang dewasa dalam berbagai hal seperti cara penularan,
pola serokonversi, riwayat perjalanan dan penyebaran penyakit, faktor resiko,
metode diagnosis, dan manifestasi oral. (1)

Dampak acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) pada anak terus


meningkat, dan saat ini menjadi penyebab pertama kematian anak di Afrika, dan
peringkat keempat penyebab kematian anak di seluruh dunia. Saat ini World
Health Organization (WHO) memperkirakan 2,7 juta anak di dunia telah
meninggal karena AIDS. (1)
Transmisi HIV secara vertikal dari ibu kepada anaknya merupakan jalur
tersering infeksi pada masa kanak-kanak, dan angka terjadinya infeksi perinatal
diperkirakan sebesar 83% antara tahu 1992 sampai 2001. Di Amerika Serikat,
infeksi HIV perinatal terjadi pada hampir 80% dari seluruh infeksi HIV pediatri.
Infeksi perinatal sendiri dapat terjadi in-utero, selama periode peripartum, ataupun
dari pemberian ASI. (1)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah sejenis virus yang
menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan Acquired
Immunodeficiency Syndrome (AIDS). HIV merupakan virus yang termasuk
dalam

familia

retrovirus

yaitu

virus) yang mempunyai enzim

kelompok

virus

reverse transcriptase,

berselubung (envelope
enzim yang dapat

mensintesis kopi DNA dari genom RNA. Virus ini masuk dalam sub familia
lentivirus berdasarkan kesamaan segmen genom, morfologi dan siklus hidupnya.
Sub familia lentivirus mempunyai sifat dapat menyebabkan infeksi laten,
mempunyai efek sitopatik yang cepat, perkembangan penyakit lama dan dapat
fatal. (2)

B. Etiologi
Virus penyebab defisiensi imun yang dikenal dengan nama Human
Immunodeficiency Virus (HIV) adalah suatu virus RNA dari famili Retrovirus dan
subfamili Lentiviridae. Sampai sekarang baru dikenal dua serotype HIV yaitu
HIV-1 dan HIV-2 yang juga disebut lymphadenopathy associated virus type2 (LAV-2) yang hingga kini hanya dijumpai pada kasus AIDS atau orang sehat di
Afrika,dan spektrum penyakit yang ditimbulkannya belum banyak diketahui. HIV1, sebagai penyebab sindrom defisiensi imun (AIDS) tersering, dahulu dikenal
juga

sebagai human

cell-lymphotropic

virus

type

III (HTLV-

III), lymphadenipathy-associated virus (LAV) dan AIDS-associated virus.


Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam
bentuknya yang asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang atau
melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel Lymfosit T,
karena ia mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut CD-4. Didalam sel
Lymfosit T, virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain, dapat tetap

hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun demikian virus dalam
tubuh pengidap HIV selalu dianggap infeksius yang setiap saat dapat aktif dan
dapat ditularkan selama hidup penderita tersebut. (3)

C. Patofisiologi Infeksi HIV


Sistem imun manusia sangat kompleks, kerusakan pada salah satu
komponen sistem imun akan mempengaruhi sistem imun secara keseluruhan. HIV
menginfeksi sel T helper yang memiliki reseptor CD4 di permukaannya,
makrofag, sel dendritik, organ limfoid. Fungsi penting sel T helper antara lain
menghasilkan zat kimia yang berperan sebagai stimulasi pertumbuhan dan
pembentukan sel-sel lain dalam sistem imun dan pembentukan antibodi, sehingga
penurunan sel T CD4 menurunkan imunitas dan menyebabkan penderita mudah
terinfeksi.
Ketika HIV masuk melalui mukosa, sel yang pertama kali terinfeksi ialah
sel dendritik. Kemudian sel-sel ini menarik sel-sel radang lainnya dan mengirim
antigen tersebut ke sel-sel limfoid. HIV mempunyai target sel utama yaitu sel
limfosit T4, yang mempunyai reseptor CD4. Setelah masuk ke dalam tubuh, HIV
akan menempel pada sel yang mempunyai molekul CD4 pada permukaannya.
Molekul CD4 ini mempunyai afinitas yang sangat besar terhadap HIV, sehingga
limfosit CD4 dihasilkan dan dikirim ke sel limfoid yang peka terhadap infeksi
HIV. Limfosit-limfosit CD4 yang diakumulasikan di jaringan limfoid akan tampak
sebagai limfadenopati dari sindrom retrovirus akut yang dapat terlihat pada remaja
dan orang dewasa. HIV akan menginfeksi sel CD4 yang sangat berespon
terhadapnya sehingga kehilangan respon dan kontrol pertumbuhan terhadap HIV.
Ketika replikasi virus melebihi batas (biasanya 3-6 minggu sejak infeksi) akan
terjadi viremia yang tampak secara klinis sebagai flulike syndrome (demam, rash,
limfadenopati, atrhralgia) terjadi 50-70% pada orang dewasa. Dengan
terbentuknya respon imun humoral dan seluler selama 2-4 bulan, muatan virus
dalam darah mengalami penurunan secara substansial, dan pasien memasuki masa
dengan gejala yang sedikit dan jumlah CD4 yang meningkat sedikit.

Mekanisme utama infeksi HIV adalah melalui perlekatan selubung


glikoprotein virus gp120 pada molekul CD4.
Partikel HIV yang berikatan dengan molekul CD4 kemudian masuk ke
dalam sel hospes melalui fusi antara membran virus dengan membran sel hospes
dengan bantuan gp41 yang terdapat pada permukaan membran virus. Molekul
CD4 banyak terdapat pada sel limfosit T helper/ CD4+, narnun sel-sel lain
seperti makrofag, monosit, sel dendritik, sel langerhans, sel stem hematopoetik
dan sel mikrogial dapat juga terinfeksi HIV melalui ingesti kombinasi virusantibodi atau melalui molekul CD4 yang diekspresikan oleh sel tersebut. (4)

D. Transmisi
Transmisi HIV secara umum dapat terjadi melalui empat jalur, yaitu : (5)
Kontak seksual, yaitu HIV terdapat pada cairan mani dan sekret vagina
yang akan ditularkan virus ke sel, baik pada pasangan homoseksual atau
heteroseksual.
Tranfusi, yaitu HIV ditularkan melalui tranfusi darah baik itu
tranfusi whole blood, plasma, trombosit, atau fraksi sel darah Iainnya.
Jarum yang terkontaminasi, yaitu transmisi dapat terjadi karena tusukan
jarum yang terinfeksi atau bertukar pakai jarum di antara sesama pengguna
obat-obatan psikotropika.
Transmisi vertikal (perinatal), yaitu wanita yang teinfeksi HIV sebanyak
15-40% berkemungkinan akan menularkan infeksi kepada bayi yang baru
dilahirkannya melalui plasenta atau saat proses persalinan atau melalui air
susu ibu.

Masih belum diketahui secara pasti bagaimana HIV menular dari ibu-ke-bayi.
Namun, kebanyakan penularan terjadi saat persalinan (waktu bayinya lahir).

Selain itu, bayi yang disusui oleh ibu terinfeksi HIV dapat juga tertular HIV. Hal
ini ditunjukkan dalam gambar berikut:

Gambar . Transmisi dari ibu ke anak

Gambar . Perinatal dan Inisiasi Transmisi

E. Faktor Resiko Penularan

Ada dua faktor utama untuk menjelaskan faktor risiko penularan HIV dari ibu
ke bayi: (5)
1. Faktor ibu dan bayi

a.

Faktor ibu
Faktor yang paling utama mempengaruhi risiko penularan HIV dari

ibu ke bayi adalah kadar HIV (viral load) di darah ibu pada menjelang
ataupun saat persalinan dan kadar HIV di air susu ibu ketika ibu menyusui
bayinya. Umumnya, satu atau dua minggu setelah seseorang terinfeksi
HIV, kadar HIV akan cepat sekali bertambah di tubuh seseorang.
b.

Faktor bayi
1) Bayi yang lahir prematur dan memiliki berat badan lahir rendah,
2) Melalui ASI yang diberikan pada usia enam bulan pertama
bayi, Bayi yang meminum ASI dan memiliki luka di mulutnya.

2. Faktor cara penularan


a.

Menular saat persalinan melalui percampuran darah ibu dan darah


bayi

b.

Bayi menelan darah ataupun lendir ibu

c.

Persalinan yang berlangsung lama

d.

Ketuban pecah lebih dari 4 jam

e.

Penggunaan elektrode pada kepala janin, penggunaan vakum atau


forceps, dan tindakan episiotomi

f.

Bayi yang lebih banyak mengonsumsi makanan campuran daripada


ASI

F. Diagnosis
Seperti penyakit lain, diagnosis HIV lain juga ditegakkan berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium. (6)
1) Anamnesis yang mendukung kemungkinan adanya infeksi HIV ialah :

Lahir dari ibu resiko tinggi atau terinfeksi HIV


o Bayi-bayi yang terlahir dari ibu-ibu yang terinfeksi HIV akan tetap
mempertahankan status seropositif hingga usia 18 bulan oleh
karena adanya respon antibodi ibu yang ditransfer secara
transplasenta. Selama priode ini, hanya anak-anak yang terinfeksi
HIV saja yang akan mengalami respon serokonversi positif pada
pemeriksaan lab dengan cara

enzyme immunoassays (EIA),

immunofluorescent assays (IFA) atau HIV-1 antibody western


blots (WB).

Lahir dari ibu pasangan resiko tinggi atau terinfeksi HIV

Penerima transfusi darah atau komponennya dan tanpa uji tapis HIV

Penggunaan obat parenteral atau intravena secara keliru (biasanya pecandu


narkotika)

Kebiasaan seksual yang keliru, homoseksual atau biseksual.

2) Tes serologi darah HIV


3) Pembuktian virus HIV dalam darah, karena pada bayi masih terdapat
antibodi HIV ibu yang menetap sampai 18 bulan.

G.Tes Diagnostik Untuk Infeksi HIV Pada Bayi


1. HIV Antibodi pada anak umur > 18 bulan dilakukan dengan metode
ELISA IgG anti HIV Ab, dapat ditransfer melalui plasenta pada
Trimester III. Bila hasil positif sebelum umur 18 bulan, mungkin
antibodi dari ibunya.
2. VIRUS : HIV PCR DNA dari darah perifer pada waktu lahir, dan umur
3-4 bulan. Bila umur 4 bulan hasil negatif bayi bebas HIV, bila HIV
PCV RNA positif bila positif terkena HIV. Pengujian virologi pada
awal kelahiran dapat dipertimbangkan untuk bayi yang baru lahir
beresiko tinggi infeksi HIV, contohnya seperti bayi yang lahir dari ibu
yang terinfeksi HIV yang tidak menerima perawatan prenatal, ART
prenatal, atau yang memiliki viral load HIV> 1.000 copies / mL
mendekati ke waktu kelahiran. Sebanyak 30% -40% dari bayi yang
terinfeksi HIV dapat diidentifikasi dari usia 48 jam. Sampel darah dari
tali pusar tidak boleh digunakan untuk evaluasi diagnostik karena
kontaminasi dengan darah ibu. Definisi yang pasti telah diusulkan
untuk membedakan didapatkannya infeksi HIV selama periode
intrauterin atau dari periode intrapartum. Bayi yang memiliki tes
virologi positif pada atau sebelum usia 48 jam dianggap memiliki
infeksi awal (yaitu, intrauterin), sedangkan bayi yang memiliki tes

10

virologi negatif selama minggu pertama kehidupan dan tes positif


berikutnya dianggap memiliki infeksi setelahnya (yaitu, intrapartum).14
3. CD4 count rendah (normal 2500-3500/ml pada anak, Dewasa 7001000/ml).
4. P24 Antigen test sudah kurang dipakai untuk diagnostik, karena
dipandang kurang sensitif terutama untuk bayi. Knuchel dkk
membandingkan sensitivitas tes tersebut antara DBS ( dried blood spot
) dan plasma. Mereka menemukan bahwa tes tersebut mempunyai
spesifisitas 100% dan tidak ada perbedaan hasil secara kuantitatif
antara DBS dan plasma. Mereka juga membandingkan hasil tes antigen
p24 dengan viral load HIV dan menemukan korelasi yang positif,
tetapi koefisien korelasi tersebut rendah (r = 0,67). Sensitivitas tes HIV
p24 dibandingkan dengan tes viral load HIV adalah kurang lebih 90%.
Hal ini berarti bahwa tes untuk menskrining bayi yang terpajan HIV
akan menghasilkan hampir 10% bayi yang salah didiagnosis sebagai
tidak terinfeksi. Penggunaan PCR HIV DNA-RNA memiliki sensitiitas
100% pada plasma.15

DIAGNOSIS LABORATORIUM INFEKSI HIV


TES

KETERANGAN

HIV DNA PCR

Uji disukai untuk mendiagnosis infeksi


HIV 1 subtipe B pada bayi dan anakanak muda dari 18 bulan usia, sangat
sensitif dan spesifik dengan 2 minggu
usia dan TERSEDIA, dilakukan pada sel

11

mononuklear darah perifer. Negatif palsu


dapat terjadi pada non-B subtipe HIV-1
infeksi
HIV culture

Mahal, tidak mudah tersedia,


membutuhkan hingga 4 minggu untuk
melakukan tes, tidak dianjurkan

HIV RNA PCR

Kurang sensitif dibandingkan PCR DNA


untuk pengujian rutin bayi, karena hasil
negatif tidak dapat digunakan untuk
mengecualikan infeksi HIV definitif.
Beberapa tes disukai untuk
mengidentifikasi infeksi HIV-1 non-B
subtipe.

H. Pencegahan
1.

Dapatkah perempuan terinfeksi HIV hamil/memiliki anak(7)


Cara terbaik untuk memastikan bahwa bayi kita tidak terinfeksi dan kita
tetap sehat adalah dengan memakai terapi antiretroviral (ARV).
Perempuan terinfeksi HIV di seluruh dunia sudah memakai obat
antiretroviral (ARV) secara aman waktu hamil lebih dari sepuluh tahun.
ART sudah berdampak besar pada kesehatan perempuan terinfeksi HIV
dan anaknya. Oleh karena ini, banyak dari mereka yang diberi semangat
untuk mempertimbangkan mendapatkan anak.

2.

Penatalaksanaan selama kehamilan


Center for Disease Control and Prevention (1998) menganjurkan untuk
menawarkan terapi antiretrovirus (ARV) kombinasi pada wanita hamil.
Petunjuk ini diperbarui oleh Perinatal HIV Guidelines Working Group

12

(2000,2001). Working Group merekomendasikan pemeriksaan hitung


CD4+ limfosit T dan kadar RNA HIV kurang lebih tiap trimester, atau
sekitar setiap 3 sampai 4 bulan. Hasil pemeriksaan ini dipakai untuk
mengambil keputusan untuk memulai terapi ARV, mengubah terapi,
menentukan rute pelahiran, atau memulai profilaksis untuk pneumonia
Pneumocystis carinii.
3.

Penatalaksanaan Persalinan
Seksio

Sesarea

American

College

of

Obstetricians

and

Gynecologists (2000) menyimpulkan bahwa seksio sesarea terencana


harus dianjurkan bagi wanita terinfeksi HIV dengan jumlah RNA HIV-1
lebih dari 1000 salinan/ml. Hal ini dilakukan tanpa memandang apakah
pasien sedang atau belum mendapat terapi ARV. Persalinan terencana
dapat dilakukan sebelum 38 minggu untuk mengurangi kemungkinan
pecahnya selaput ketuban. (7)

I. Terapi Anti Retrovirus


Tanpa pemberian Antiretrovirus, 25% bayi dengan ibu HIV positif akan
tertular sebelum dilahirkan atau pada waktu lahir, dan 15% tertular
melalui ASI :
a.

Tentukan apakah ibu sedang mendapat pengobatan Antiretrovirus


untuk HIV, atau mendapatkan pengobatan antiretroviral untuk
mencegah transmisi dari ibu ke bayinya. Tujuan pemberian
Antiretroviral terapi adalah untuk menekan HIV viral load sampai
tidak terdeteksi dan mempertahankan jumlah CD4+ sel sampai
mencapai lebih dari 25%.

13

b.

Kelola bayi dan ibu sesuai dengan protokol dan kebijakan yang ada,
tujuannya untuk Profilaksis :
-

Bila ibu sudah mendapat ARV(Antiretrovirus) atau Zidovudine


(AZT) 4 minggu sebelum melahirkan, maka setelah lahir bayi
diberi AZT 2 mg/kg berat badan per oral tiap 6 jam selama 6
minggu, dimulai sejak bayi umur 12 jam. Hal ini dapat
mengurangi resiko terjadinya HIV dari 25% menjadi 8%. 2

Bila ibu sudah mendapat Nevirapine (NVP) dosis tunggal


selama proses persalinan dan bayi masih berumur kurang dari 3
hari, segera beri bayi Nevirapine dalam suspensi 2 mg/kg berat
badan secara oral masa usia 48-72 jam dosis tunggal.

Untuk mencegah PCP, berikan TMP 2,5 mg/kgBB 2x sehari,


pemberian 3 kali seminggu, diberikan sejak bayi umur 6
minggu sampai diagnosis HIV dapat disangkal, karena peak
onset PCP adalah pada umur 3-9 bulan.

Jadwalkan pemeriksaan tindak lanjut dalam 2 minggu untuk


menilai masalah pemberian minum dan pertumbuhan bayi
(lihat Pemeriksaan Tindak Lanjut).

J. Pemberian Minum
Penularan HIV-1 dapat terjadi dari konsumsi susu ASI dari
perempuan yang terinfeksi HIV. Di Amerika Serikat dan Kanada, di
mana
formula bayi aman dan tersedia, seorang yang ibu terinfeksi harus

14

disarankan untuk tidak menyusui bahkan jika dia menerima ART


(terapi anti Retrovirus). Menghindari secara total untuk menyusui (dan
susu sumbangan) oleh perempuan yang terinfeksi HIV tetap menjadi
satu-satunya mekanisme dimana pencegahan penularan HIV melalui
ASI dapat dipastikan.16
Salah satu rekomendasi Konsesus Genewa pada Oktober 2006
adalah Ibu terinfeksi HIV dianjurkan menyusui eksklusif selama 6
bulan kecuali jika pengganti ASI memenuhi AFASS sebelumnya, Bila
pengganti ASI mencapai AFASS, dianjurkan untuk tidak memberikan
ASI yang mana hal ini menjadi Pedoman Nasional Pencegahan
Penularan HIV dan ibu ke bayi.17
AFASS merupakan kepanjangan dari:
A : ACCEPTABLE

: mudah diterima

F : FEASIBLE

: mudah dilakukan

A : AFFORDABLE

: terjangkau

S : SUSTAINABLE

: berkelanjutan

S : SAFE

: aman penggunaannya

ASI eksklusif berarti bayi hanya diberi ASI dari saat lahir tanpa makanan
atau minuman lain, termasuk air. ASI adalah sangat halus, mudah diserap oleh
perut/usus. Makanan lain lebih keras sehingga lapisan perut/usus membuka agar
diserap, membiarkan HIV dalam ASI menembus dan masuk darah bayi. Jadi

15

risiko penularan tertinggi bila bayi diberi ASI yang mengandung HIV, bersamaan
dengan makanan lain. Harus ada kesepakatan sebelum melahirkan antara ibu,
ayah dan petugas medis agar bayi langsung disusui setelah lahir, sebelum diberi
makanan/minuman lain. Setelah enam bulan, sebaiknya disapih secara mendadak
(berhenti total menyusui). (9)
K. PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE BAYI
Program untuk mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu ke bayi,
dilaksanakan secara komprehensif dengan menggunakan empat prong,
yaitu: (8)

Prong 1 : Mencegah terjadinya penularan HIV pada


perempuan usia reproduktif

Prong 2

: Mencegah kehamilan yang tidak

direncanakan pada ibu HIV positif

Prong 3 : Mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu


hamil HIV positif ke bayi yang dikandungnya

Prong 4

: Memberikan dukungan psikologis, sosial

dan perawatan kepada ibu HIV positif beserta bayi dan


keluarganya
Pada daerah dengan prevalensi HIV yang rendah, diimplementasikan Prong 1
dan Prong 2. Pada daerah dengan prevalensi HIV yang terkonsentrasi,
diimplementasikan semua prong. Ke-empat prong secara nasional dikoordinir dan
dijalankan oleh pemerintah, serta dapat dilaksanakan institusi kesehatan swasta
dan lembaga swadaya masyarakat.

16

L. Prognosis
Infeksi HIV pada umumnya berjalan progresif akibat belum ditemukannya
cara yang efektif untuk menangulanginya, maka pada umumnya penyakit berjalan
progresif hingga prognosisnya umumnya buruk. (3)

17

BAB III
KESIMPULAN
Penularan HIV ke bayi dan anak bisa dari ibu ke anak, penularan melalui
darah, penularan melalui hubungan seks (pelecehan seksual pada anak). Penularan
dari ibu ke anak terjadi karena wanita yang menderita HIV/AIDS sebagian besar
(85%) berusia subur (15-44 tahun) sehingga terdapat resiko penularan infeksi
yang bias terjadi pada saat kehamilan. Prevalensi penularan dari ibu ke bayi dalah
0,01% sampai 0,7%. Bila ibu baru terinfeksi HIV dan belum ada gejala AIDS,
kemungkinan bayi terinfeksi sebanyak 20% sampai 35%, sedangkan gejala AIDS
sudah jelas pada ibu kemungkinan mencapai 50%.
Transmisi HIV secara umum dapat terjadi melalui empat jalur, yaitu :

Kontak seksual

Tranfusi

Jarum yang terkontaminasi

Transmisi vertikal (perinatal)

Untuk diagnostik pasti dikerjakan pemeriksaan laboratorium HIV DNA PCR,


HIV culture, dan HIV RNA PCR.
Program untuk mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu ke bayi,
dilaksanakan secara komprehensif dengan menggunakan empat prong, yaitu:

Prong 1 : Mencegah terjadinya penularan HIV pada


perempuan usia reproduktif

Prong 2

: Mencegah kehamilan yang tidak

direncanakan pada ibu HIV positif

18

Prong 3 : Mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu


hamil HIV positif ke bayi yang dikandungnya

Prong 4

: Memberikan dukungan psikologis, sosial

dan perawatan kepada ibu HIV positif beserta bayi dan


keluarganya
Infeksi HIV pada umumnya berjalan progresif akibat belum ditemukannya
cara yang efektif untuk menangulanginya, maka pada umumnya penyakit berjalan
progresif hingga prognosisnya umumnya buruk.