Anda di halaman 1dari 11

1.

SKENARIO D :
Dokter : Selamat sore, saya dokter X, silakan duduk, siapa nama Anda?
Pasien : Nama saya Y.
Dokter : Apa yang saya bisa bantu?
Pasien : Saya ingin konseling dokter.
Pasien menceritakan masalahnya dengan panjang lebar. Kemudian minta
nasihat dokter. Dokter langsung memberikan solusi atas masalah yang
dihadapi pasien, karena ingin cepat selesai, dan karena pasien telah
mengambil waktu yang cukup banyak untuk menjelaskan masalahnya.
2. RUMUSAN MASALAH :
Komunikasi konseling antara dokter (konselor) dan pasien (konseli).
3. ANALISIS MASALAH :

Dalam skenario ini, komunikasi konseling sebagai pusat masalah, dibagi


menjadi beberapa bagian, yakni:
1. Definisi
a. Komunikasi
b. Konseling
2. Komunikasi Efektif
3. Proses Konseling
4. Pelaku Konseling
a. Konselor
b. Konseli

Gambaran Mind Map :

Definisi
Komunikasi
Konseling

Komunikasi
Efektif
Konselor

Konseli

1
Proses
Konseling

4. HIPOTESIS

Dalam skenario ini kami membuat pernyataan sementara yaitu komunikasi


konseling membutuhkan komunikasi yang efektif antara dokter (konselor)
dan pasien (konseli) dengan memperhatikan unsur REACH, yakni respect,
empathy, audible, clarity dan humble.

5. SASARAN PEMBELAJARAN
2

Tujuan atau sasaran yang ingin dicapai melalui pembelajaran ini antara
lain sebagai berikut :
1. Definisi
a. Komunikasi
b. Konseling
2. Komunikasi Efektif
3. Proses Konseling
4. Pelaku Konseling
a. Konselor
b. Konseli
6. BELAJAR MANDIRI
1. Definisi :
1.1 Komunikasi
Tappen mendefinisikan komunikasi sebagai suatu pertukaran pikiran,
perasaan, pendapat, dan pemberian nasihat yang terjadi antara dua
orang atau lebih yang bekerja bersama. Komunikasi juga merupakan
suatu seni untuk dapat menyusun dan menghantarkan suatu pesan
dengan cara yang gampang sehingga orang lain dapat mengerti dan
menerima.1
Secara umum, komunikasi dapat diartikan sebagai suatu proses
pembentukan, penyampaian, penerimaan, dan pengolahan pesan baik
secara verbal maupun non verbal yang terjadi di antara dua orang atau
lebih dengan tujuan mempengaruhi tingkah laku orang dan
menerimanya.2
1.2 Konseling
Kata konseling mencakup bekerja dengan banyak orang dan
hubungan yang mungkin saja bersifat pengembangan diri, dukungan
terhadap krisis, psikoterapis, bimbingan atau pemecahan masalah.
Tugas konseling adalah memberikan kesempatan kepada konseli
(klien) untuk mengeksplorasi, menemukan, dan menjelaskan cara
hidup lebih memuaskan dan cerdas dalam menghadapi sesuatu.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa konseling adalah hubungan
antara seorang konselor yang terlatih dengan seorang klien atau lebih,
membantu klien untuk memahami ruang hidupnya, serta mempelajari

untuk membuat keputusan sendiri melalui pilihan-pilihan yang


bermakna dan berasaskan informasi dan penyelesaian masalah yang
berbentuk emosi dan masalah pribadi.3

2. Komunikasi Efektif
Komunikasi efektif adalah tingkah laku verbal maupun non verbal yang
disampaikan seseorang sebagai pemberi pesan kepada orang lainnya
sebagai

penerima

pesan dengan

maksud agar isi

pesan dapat

mempengaruhi tingkah laku orang yang menerima.


Salah satu cara terbaik untuk memastikan bahwa pesan yang kita kirimkan
benar-benar telah diterima secara tepat sebagaimana kita maksudkan
adalah dengan mendapatkan umpan balik tentang akibat atau pengaruh
yang ditimbulkan oleh pesan tersebut dalam diri penerima. Umpan balik
adalah proses yang memungkinkan seorang pengirim mengetahui
bagaimana pesan yang dikirimkannya telah ditangkap oleh si penerima
atau tidak. Dalam komunikasi dua arah si pengirim cukup leluasa
mendapatkan umpan balik tentang cara penerima menangkap pesan yang
telah dikirimkannya.
pesan

Komunikasi disebut efektif apabila si penerima

menginterpretasikan

pesan

yang

diterimanya

sebagaimana

dimaksudkan oleh pengirim pesan.5

Untuk mewujudkan komunikasi dua arah yang baik, kita perlu


memperhatikan beberapa kesalahan umum yang sering terjadi. Johnson
menyebutkan beberapa kesalahan umum tersebut, yakni6 :
i.

Dari pihak pengirim pesan


Cepat-cepat berbicara tanpa dengan baik menyusun pikiran terlebih
dahulu.
Memasukkan terlalu banyak gagasan dalam pesan kita, apalagi
gagasan-gagasan itu kadang-kadang tidak saling berhubungan.
4

Merumuskan pernyataan-pernyataan terlalu pendek, sehingga tidak


memuat cukup informasi dan pengulangan agar mudah dipahami.
Tidak menyesuaikan rumusan pesan kita dengan sudut pandang
penerima.
Kemampuan berbahasa yang kurang Sebaik apa pun sebuah ide,
jika disampaikan tidak disertai dengan kemampuan berbahasa yang
ii.

baik, pesan itu akan sampai dan dimengerti dengan baik.


Dari pihak penerima pesan
Tidak menaruh perhatian kepada pengirim pesan.
Sudah merumuskan jawaban sebelum mendengarkan semua yang
hendak dikatakan oleh pengirim pesan.
Cenderung mendengarkan detail-detail, seperti kata, intonasi dan
sebagainya, bukan mendengarkan pesan secara keseluruhan.
Memberikan penilaian benar atau salah sebelum memahami
sepenuhnya pesan yang dikirimkan.
Bukan pendengar yang baik. Dengan gampang perhatian seseorang
terpecah untuk hal-hal lain.
Jika kita dapat meminimalisasikan hal-hal diatas, maka akan
terbentuk suatu komunikasi yang efektif, yang dapat menunjang suatu
hal ke arah yang lebih baik.

3. Proses Konseling
Konseling pada dasarnya merupakan sebuah proses, yang dibuat dengan
tujuan menolong klien yang bermasalah. Proses ini mempunyai awal dan
akhir. Konseling merupakan suatu situasi sementara yang menuntut
terbentuknya relasi antara konselor dengan klien dengan tujuan menolong
klien. Proses konseling dapat berlangsung dalam satu kali pertemuan,
beberapa kali pertemuan, atau lebih banyak lagi. Pandangan ini
memperlihatkan bahwa konseling membutuhkan waktu. Prosesnya
bergerak maju tahap demi tahap. Sebagai satu situasi dinamis, konseling

dipengaruhi oleh kepribadian, lingkungan, dan relasi antara konselor dan


klien.4
3.1 Hubungan Konselor dan Konseli
Bersifat komunikasi dua arah antara konselor dan konseli
atas masalah yang didasari fakta. Dalam konsultasi, konselor
membiarkan konseli berbicara dengan bebas dan tidak
memaksanya.
Hubungan konselor dan konseli ditandai dengan suasana
afektif,

artinya

konselor

berupaya

mencipatakan

agar

hubungan akrab, saling percaya sehingga terjadi keterbukaan


diri (self-disclosure) klien dan ketertibatan secara emosional
dalam proses konseling.6
3.2 Identifikasi Masalah
Konselor mengindektifikasi masalah konseli dengan sebaikbaiknya, yaitu dengan7 :
1. Analisis.
Meliputi pengumpulan data dari berbagai sumber untuk
memahami klien.
2. Sintesis.
Mengelompokkan dan meringkas data yang diperoleh untuk
menentukan kekuatan yang dimiliki pasien dan tanggung
jawabnya terhadap kemungkinan apa yang bisa dilakukan.
3. Diagnosis.
Menyimpulkan penyebab timbulnya masalah dan kekhususkekhususannya.
4. Prognosis.
Perkiraan konselor mengenai perkembangan klien lebih
lanjut dan implikasi dari diagnosis yang telah ditentukan.
3.3 Konselor Memberikan Arahan Pada Konseli

Konselor

membimbing

konseli

untuk

menyelesaikan

masalahnya sendiri.
3.4 Memberikan Motivasi untuk Mengambil Keputusan
Konselor memberikan motivasi yang membangun agar klien
mampu menjalankan keputusannya dengan baik.

3.5 Evaluasi
Konselor dan konseli mengevaluasi kembali keputusankeputusan yang telah dibuat untuk mencapai kesepakatan agar
masalahnya cepat selesai dan tidak timbul masalah baru.

4. Pelaku Konseling
4.1 Konselor
Konselor adalah seseorang yang membantu klien dalam penyelesaian
masalah. Konselor memberi perhatian agar klien mempunyai
kesempatan untuk berbicara dan mengeluarkan isi hatinya tanpa satu
pengarahan tertentu apapun.6
Persyaratan yang harus dimiliki seorang konselor :
1. Menjaga hubungan (rapport)
Ditandai dengan ucapan apa kabar ?. Tahap ini diikuti
dengan rencana yang akan dilakukan terhadap dan dengan
klien, serta membawa klien merasa enak menghadapi
pewawancara.

Penting

menerangkan

tujuan

dari

wawancara dan apa yang konselor bisa dan tidak bisa


lakukan.7
2. Pendengar aktif
Betapa

pentingnya

kemampuan

bertindak

sebagai

pendengar yang baik dalam proses konseling, ditekankan


pula oleh Powell bahwa para profesional pertama-tama
harus

mengembangkan

ketrampilan

mendengarkan.

Selama konselor mendengarkan klien, selama itu konselor


bisa

melakukan

penilaian,

melakukan

pengamatan

terhadap perilaku dan perubahannya, menentukan apakah


masih akan menanyakan lagi dan apa yang akan
ditanyakan, atau komentar yang akan diberikan dan
langkah-langkah lain yang akan dilakukan terhadap klien
dalam rangka tujuan konseling yang diinginkan.7
3. Berempati
Dengan berempati terhadap orang lain, seseorang bisa
benar-benar merasakan dan menghayati sebagai orang lain
termasuk

bagaimana

menghadapi

masalah

seseorang
dan

mengamati

keadaannya.

dan

Konselor

dimungkinkan untuk bisa mendengar dan bereaksi


terhadap kehidupan perasaan klien, yakni: marah, benci,
takut, menentang, tertekan dan gembira.7
4. Mengarahkan
Konselor mengarahkan pasien dengan maksud supaya dia
memilih sendiri suatu segi dari topik yang mau
dikemukakan kepada konselor.8
5. Menggunakan Waktu dengan Efisien

Seorang konselor harus bisa menggunakan waktunya


dengan efisien agar waktu yang tersedia tidak terbuang
percuma. Hal ini juga berlaku untuk konseli yang terlalu
menggebu-gebu menceritakan masalahnya sehingga lupa
waktu. Inilah saat yang tepat bagi konselor untuk
mengatur waktu dengan tepat tanpa merugikan konseli.
6. Berwawasan Luas
Seorang konselor yang baik adalah juga konselor yang
memiliki wawasan yang luas, baik dalam hal pengetahuan
mengenai

konseling,

komunikasi,

psikoterapi

dan

sebagainya. Pengetahuan bagi konselor sangat penting


dalam

membantu

konseli

untuk

menyelesaikan

masalahnya.

4.2 Konseli
Konseli adalah seseorang yang membutuhkan konselor untuk
membantunya dalam menyelesaikan suatu masalah. Seseorang
membutuhkan konseling karena banyak alasan, namun dapat
digolongkan dalam tiga karakter7 :
1. Seseorang sedang mengalami semacam ketidakpuasan pribadi dan
tidak mampu mengatasi dan mengurangi kepuasan tersebut.
Orang tersebut merasakan adanya kebutuhan untuk mengubah
perilaku tersebut yang tidak memuaskan, namun klien tidak
mengetahui dan tidak menemukan caranya.
2. Seseorang memasuki konseling dengan kecemasan yang ada,
tetapi kecemasan tersebut bukan saja terhadap beberapa segi

kehidupannya yang menggoncangkan, tetapi juga terhadap


dirinya sendiri ketika memasuki dunia yang baru yang asing
yakni ruangan konseling.
3.Seseorang yang membutuhkan konseling meskipun berharap
konselor akan dapat membantu, sebenarnya tidak punya
gambaran yang jelas mengenai apa yang akan terjadi.
Hakikatnya perlunya bantuan dari orang lain dapat dilihat pada
kenyataan bahwa ketika manusia dilahirkan, ia tidak mungkin
bisa memenuhi kebutuhan sendiri untuk menghadapi kehidupan
dan dalam kenyataan ia membutuhkan orang lain.
7. KESIMPULAN
Komunikasi konseling pada skenario tersebut ialah tujuan dari konseli
tercapai. Namun terjadi rintangan-rintangan atau hambatan komunikasi
sebab dokter membatasi pembicaraan atau topik diskusi karena ingin cepat
selesai. Empati merupakan bagian penting dalam komunikasi. Mereka
yang mempunyai empati akan lebih mudah berkomunikasi dengan orang
lain. Komunikasi konseling yang baik atau dua arah tidak hanya
memungkinkan dokter/konselor memperoleh data yang lengkap dan akurat
mengenai pasien/konseli, tapi juga akan menyenangkan dan memuaskan
bagi dokter dan pasien. Agar komunikasi konseling efektif harus didasari
empat unsur REACH, yaitu Respect (saling menghargai, ada rapport),
Empathy (ada empati), Audible (dapat didengar dengan baik dan jelas),
Clarity (jelas mudah dimengerti), Humble ( Rendah hati, manusiawi).

10

11