Anda di halaman 1dari 15

REFRESHING

NYERI MENELAN DAN PENEGAKKAN DIAGNOSA

Oleh :
Vidia Amrina Rasyada
2011730167 / 23.52 949 2011

Pembimbing :
dr. Rini Febrianti, Sp. THT-KL

KEPANITERAAN UMUM RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANJAR


SMF ILMU THT-KL
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2015

BAB 1 ANATOMI DAN FISIOLOGI


A. Anatomi
Faring adalah suatu kantong fibromuskuler yang besar di bagian atas dan sempit
di bagian bawah. Kantong ini mulai dari dasar tengkorak terus menyambung ke
esophagus setinggi servikal ke-6. Panjang dinding posterior faring pada orang dewasa
kurang lebih 14 cm; bagian ini merupakan bagian dinding faring yang terpanjang.1
Berdasarkan letaknya faring dibagi atas :1

a. Nasofaring / Epifaring
Batas nasofaring di bagian atas adalah dasar tengkorak, di bagian bawah
adalah palatum mole, ke depan adalah rongga hidung sedangkan ke belakang
adalah vertebra servikal.2
Nasofaring yang relative kecil, mengandung serta berhubungan erat dengan
beberapa struktur penting, seperti adenoid, orificium tuba eustachius, fossa
rossenmulleri, dan lain-lain. Di dalam submukosa atap terdapat kumpulan
jaringan limfoid yang disebut tonsilla pharyngea. Isthmus pharyngeus adalah
lubang di dasar nasopharynx di antara pinggir bebas palatum molle dan dinding
posterior pharynx. Pada dinding lateral terdapat muara tuba auditiva, berbentuk
elevasi yang disebut elevasi tuba. Recessus pharyngeus adalah lekukan kecil pada
dinding pharynx di belakang elevasi tuba. Plica salpingopharyngea adalah lipatan
vertical membrane mukosa yang menutupi M. salphingopharyngeus.3
b. Orofaring
Orofaring disebut juga mesofaring dengan batas atasnya adalah palatum
mole, batas bawah adalah tepi atas epiglottis, ke depan adalah rongga mulut,
sedangkan ke belakang adalah vertebra servikal.2
Struktur yang terdapat di rongga orofaring adalah dinding posterior faring,
tonsil palatine, fosa tonsil serta arkus faring anerior dan posterior, uvula, tonsil
lingual dan foramen sekum.1
Pada garis tengah terdapat plica glossoepiglottica mediana dan plica
glossoepiglottica lateralis pada masing-masing sisi. Lekukan kanan dan kiri dari
plica glossoepiglottica mediana disbeut vallecula. Pada kedua sisi dinding lateral
terdapat arcus atau arcus palatoglossus dan palatofaringeus dengan tonsil palatine
diantaranya. Arcus palatoglossus adalah lipatan membrane mukosa yang
menutupi musculus palatoglossus. Celah di antara kedua arcus palatoglossus
disebut isthmus faucium dan merupakan batas antara rongga mulut dan pharynx.
Arcus palatopharyngeus adalah lipatan membrane mukosa yang menutupi
muskulus palatopharyngeus. Recessus diantara arcus palatoglossus dan
palatopharyngeus diisi oleh tonsilla palatine.3
Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh
jaringan ikat dengan kriptus di dalamnya. Terdapat 3 macam tonsil yaitu tonsil
faringal (adenoid), tonsil palatine dan tonsil lingual, ketiganya membentuk
lingkaran yang disebut Waldeyer ring.1 Tonsil disusun oleh jaringan limfoid yang
diikuti oleh epitel skuamosa yang berisi beberapa kripta.2
c. Laringofaring
Batas laringofaring di sebelah superior adalah tepi epiglottis, batas anterior
ialah laring, batas inferior adalah esophagus, serta batas posterior ialah vertebra
servikal.2
Bila laringofaring diperiksa dengan cermin laring pada pemeriksaan laring
indirek atau dengan laringoskop pada pemeriksaan laring direk, maka struktur
pertama yang tampak dibawah dasar lidah ialah valekula. Bagian ini merupakan
dua buah cekungan yang dibentuk oleh ligamentum glosoepiglotika medial dan
ligamentun glosoepiglotiks lateral pada tiap sisi. Valekula disebut juga kantong

pil (pill pockets), sebab pada beberapa orang, kadang-kadang bila menelan pil
akan tersangkut disini.
Di bawah valekula terdapat epiglottis. Pada bayi epiglottis ini berbentuk
omega dan pada perkembangannya akan lebih melebar, meskipun kadang-kadang
bentuk infantile bertahan sampai dewasa. Dalam perkembangannya, epiglottis ini
dapat menjadi demikian lebar dan tipisnya sehingga pada pemeriksaan
laringoskopi indirek tampak menutupi pita suara. Epiglottis berfungsi juga untuk
melindungi (proteksi) glottis ketika menelan minuman atau bolus makanan, pada
saat bolus tersebut menuju ke sinus piriformis dan ke esophagus.
Unsur-unsur faring meliputi mukosa, selaput lendir, dan otot.
a. Mukosa
Bentuk mukosa faring bervariasi tergantung pada letaknya. Pada nasofaring
karena fungsinya untuk saluran respirasi, maka mukosanya berilia, sedang
epitelnya torak berlapis yang mengandung sel goblet. Di bagian bawahnya, yaitu
orofaring dan laringofaring, karena fungsinya untuk saluran cerna epitelnya
gepeng berlapis dan tidak bersilia.
Di sepanjang faring dapat ditemukan banyak sel jaringan limfoid yang
terletak dalam rangkaian jaringan ikat yang termasuk dalam sistem
retikuloendotelial. Oleh karena itu faring dapat disebut juga daerah pertahanan
tubuh terdepan.
b. Palut lendir (Mucous Blanket)
Daerah nasofaring dilalui oleh udara pernapasan yang diisap melalui
hidung. Di bagian atas, nasofaring ditutupi oleh palut lendir yang terletak di atas
silia dan bergerak sesuai dengan arah gerak silia ke belakang. Palut lendir ini
berfungsi untuk menangkap paritikel kotoran yang terbawa oleh udara yang
dihirup. Palut lendir ini mengandung enzyme Lyzozyme yang penting untuk
proteksi.
c. Otot
Otot-otot faring tersusun dalam lapisan melingkat (sirkular) dan memanjang
(longitudinal). Otot-otot yang sirkular terdiri dari m. konstriktor faring superior,
media dan inferior. Otot-otot ini terletak di sebelah luar. Otot-otot ini berbentuk
kipas dengan tiap bagian bawahnya menutup sebagian otot bagian atasnya dari
belakang. Disebelah depan, otot-otot ini bertemu satu sama lain dan di belakang
bertemu pada jaringan ikat yang disebut rafe faring. Kerja otot konstriktor
untuk mengecilkan lumen faring. Otot ini dipersarafi oleh n. vagus (n.X).
Otot-otot yang longitudinal adalah m. stilofaring dan m. palatofaring. Letak
otot-otot ini disebelah dalam. M. stilofaring gunanya untuk melebarkan faring dan
menarik laring, sedangkan m.palatofaring mempertemukan ismus orofaring dan
menaikkan bagian bawah faring dan laring. Jadi kedua otot ini bekerja sebagai
elevator. Kerja kedua otot itu penting pada waktu menelan. M. stilofaring
dipersarafi oleh n.IX sedangkan m. palatofaring dipersarafi oleh n.X.
Pada palatum mole terdapat lima pasang otot yang dijadikan satu dalam
satu sarung fasia dari mukosa yaitu m.levator veli palatine, m.tensor veli platini,
m. palatoglosus, m. palatofaring dan m.azigos uvula.

M.levator veli palatine membentuk sebagian besar palatum mole dan


kerjanya untuk menyempitkan ismus faring dan memperlebar ostium tuba
Eustachius. Otot ini dipersarafi oleh n.X.
M.tensor veli palatine membentuk tenda palatum mole dan kerjanya untuk
mengencangkan bagian anterior palatum mole dan membuka tuba Eustachius.
Otot ini dipersarafi oleh n.X.
M.palatoglosus membentuk arkus anterior faring dan kerjanya
menyempitkan ismus faring. Otot ini dipersarafi oleh n.X.
M.azigos uvula merupakan otot yang kecil, kerjanya memperpenden dan
menaikkan uvula ke belakang atas. Otot ini dipersarafi oleh n.X.
d. Pendarahan
Faring mendapat darah dari beberapa sumber dan kadang-kadang tidak
beraturan. Yang utama berasal dari cabang a.karotis eksterna (cabang faring
asendens dan cabang fausial) serta dari cabang a.maksila interna yakni cabang
palatine superior
e. Persarafan
Persarafan motoric dan sensorik daerah faring berasal dari pleksus faring
yang ekstensif. Pleksus ini dibentuk oleh cabang faring dari n.Vagus, cabang dari
n.Glosofaring dan serabut simpatis. Cabang faring dari n.Vagus berisi serabut
motoric. Dari pleksus faring yang ekstensif ini keluar cabang-cabang untuk otototot faring kecuali m.stilofaring yang dipersarafi langsung oleh cabang
n.glosofaring (n.IX)
f. Kelenjar Getah Bening
ALiran limfa dari dinding faring dapat melalui 3 saluran, yakni superior,
media dan inferior. Saluran limfa superior mengalir ke kelenjar getah bening
retrofaring dan kelenjar getah bening servikal dalam atas. Saluran limfa media
mengalir ke kelenjar getah bening jugulo-digastrik dan kelenajr servikal dalam
atas, sedangkan saluran limfa inferior mengalir ke kelenjar getah bening servikal
dalam bawah.
B. Fisiologi
Proses menelan :
1. Fase Oral.
Fase oral terjadi secara sadar. Makanan yang telah dikunyah dan bercampur
dengan air liur akan membentuk bolus makanan. Bolus ini bergerak dari rongga
mulut melalui dorsum lidah, terletak di tengah lidah akibat kontraksi otot intrinsic
lidah. Kontraksi m. levator veli palatine mengakibatkan rongga pada lekukan
dorsum lidah diperluas, palatum mole terangkat dan bagian atas dinding posterior
faring (Passvants ridge) akan terangkat pula. Bolus terdorong ke posterior karena
lidah terakngkat ke atas. Bersamaan dengan ini terjadi penutupan nasofaring
sebagai akibat kontraksi m.levator veli palatine. Selanjutnya terjadi kontraksi
m.palatoglosus yang menyebabkan ismus fausium tertutup, diikuti oleh kontraksi
m.palatofaring, sehingga bolus makanan tidak akan berbalik ke rongga mulut.
2. Fase Faringal.

Fase faringal terjadi secara refleks pada akhir fase oral, yaitu perpindahan
bolus makanan dari faring ke esophagus. Faring dan laring bergerak ke atas oleh
m.stilofaring, m.salfingofaring, m.tirohioid dan m.palatofaring. Aditus laring
tertutup oleh epiglottis, sedangkan ketiga sfingter laring, yaitu plika ariepiglotika,
plika ventrikularis dan olika vokalis tertutup karena kontraksi m. ariepiglotika dan
m.aritenoid obligus. Bersamaan dengan ini terjadi juga penghentian aliran udara ke
laring karena refleks yang menghambat pernapasan, sehingga bolus makanan tidak
akan masuk ke dalam saluran napas. Selanjutnya bolus makanan akan meluncur ke
arah esophagus, karena valekula dan sinus piriformis sudah dalam keadaan lurus.
3. Fase Esofagal.
Fase esofagal ialah fase perpindahan bolus makanan dari esophagus ke
lambung. Dalam keadaan istirahat introitus esophagus selalu tertutup. Dengan
adanya rangsangan bolus makanan pada akhir fase faringal, maka terjadi relaksasi
m.krikofaring, sehingga introitus esophagus terbuka dan bolus makanan masuk ke
dalam esophagus. Setelah bolus makanan lewat, maka sfingter akan berkontraksi
lebih kuat, melebihi tonus introitus esophagus pada waktu istirahat, sehingga
makanan tidak akan kembali ke faring. Dengan demikian refluks dapat dihindari.
Gerak bolus makanan di esophagus bagian atas masih dipengaruhi oleh kontraksi
m.konstriktor faring inferior pada akhir fase faringal. Selanjutnya bolus makanan
akan didorong ke distal oleh gerakan peristaltic esophagus. Dalam keadaan istirahat
sfingter esophagus bagian bawah selalu tertutup dengan tekanan rata-rata 8 mmHg
lebih dari tekanan di dalam lambung, sehingga tidak akan terjadi regurgitasi isi
lambung. Pada akhir fase esofagal sfingter ini akan terbuka secara refleks ketika
dimulainya peristaltic esophagus servikal untuk mendorong bolus makanan ke
distal. Selanjutnya setelah bolus makanan lewat, maka sfingter ini akan menutup
kembali.

BAB 2 PEMBAHASAN
A. Definisi
Odinofagia atau nyeri tenggorok merupakan gejala yang sering dikeluhkan akibat
adanya kelainan atau peradangan di daerah faring. Disfagia atau sulit menelan
merupakan salah satu gejala kelaianan atau penyaki di orofaring dan esophagus.
Keluhan ini timbul bila terdapat gangguan pergerakan otot-otot menelan dan gangguan
transportasi makanan dari rongga mulut ke lambung.
Disfagia dapat dibagi menjadi 3 berdasarkan penyebabnya :
a. Disfagia mekanik
Disfagia mekanik adalah adanya penyempitan/sumbatan lumen esophagus
oleh masa tumor atau benda asing. Penyebab lain adalah akibat peradangan
mukosa esophagus, striktur lumen esophagus, serta akibat penekanan lumen
esophagus, serta akibat penekanan lumen esophagus dari luar. Pada keadaan
normal lumen esophagus orang dewasa dapat meregang sampai 4cm. Keluhan
disfagia mulai timbul bila dilatasi ini tidak mencapai 2,5cm.
b. Disfagia motoric
Disfagia motoric disebabkan oleh kelainan neuromuscular yang berperan
dalam proses menelan. Lesi di pusat menelan di batang otak, kelainan saraf otak
n.V, n.VII, n.IX, n.X dan n.XII, kelumpuhan otot faring dan lidah serta gangguan
peristaltic esophagus dapat menyebabkan disfagia.
Kelainan otot polos esophagus yang dipersarafi oleh komponen
parasimpatik n. vagus dan neuron nonkolinergik pasca ganglion (post ganglionic
noncholinergic) di dalam ganglion mientrik akan menyebabkan gangguan
konstraksi dinding esophagus dan relaksasi sfingter esophagus bagian bawah,
sehingga dapat timbul keluhan disfagia. Penyebab utama dari disfagia motoric
adalah akalasia, spasme difus esophagus, kelumpuhan otot faring dan
scleroderma esophagus.
c. Disfagia oleh gangguan emosi
Keluhan disfagia dapat juga timbul bila terdapat gangguan emosi atau
tekanan jiwa yang berat. Kelainan ini dikenal sebagai globus histerikus.
Patogenesis disfagia
Proses menelan merupakan proses yang kompleks. Setiap unsur yang berperan
dalam proses meneln harus bekerja secara terintegrasi dan berkesnambungan.
Keberhasilan mekanisme menelan ini tergantung dari beberapa faktor, yaitu (a) ukuran
bolus makanan, (b) diameter lumen esophagus yang dilalui bolus, (c) kontraksi
peristaltic esophagus, (d) fungsi sfingeter esophagus bagian atas dan bagian bawah dan
(e) kerja otot-otot rongga mulut dan lidah.
Integritas fungsional yang sempurna akan terjadi bila sistem neuro-muskular
mulai dari susunan saraf pusat, batang otak, persarafan sensorik dinding faring dan

uvula, persarafan ekstrinsik esophagus serta persarafan intrinsic otot-otot esophagus


bekerja dengan baik, sehingga aktivitas motoric berjalan lancer. Kerusakan pada pusat
menelan dapat menyebabkan kegagalan aktivitas komponen orofaring, otot lurik
esophagus dan sfingter esophagus bagian atas. Oleh karena otot lurik esophagus bagian
atas. Oleh karena otot lurik esophagus dan sfingter esophagus bagian atas juga
mendapat persarafan dari inti motoric n.vagus, maka aktivitas peristaltic esophagus
masih tampak pada kelainan di otak. Relaksasi sfingter esophagus bagian bawah terjadi
akibat peregangan langsung dinding esophagus.

B. Anamnesis1,2,4
Untuk menegakkan diagnosis, diperlukan anamnesis yang cermat untuk menentukan
diagnosis kelainan atau penyakit yang menyebabkan timbulnya keluhan.
1. Jenis makanan yang menyebabkan disfagia dapat memberikan informasi kelainan
yang terjadi. Pada disfagia mekanik mula-mula kesulitan menelan hanya terjadi
pada waktu menelan makanan padat. Bolus makanan tersebut kadang-kadang
perlu didorong dengan air dan pada sumbatan lebih lanjut, cairan pun akan sulit
ditelan. Bila terjadi progresif dalam beberapa bulan, maka harus dicurigai
kemungkinan adanya proses keganasan di esophagus. Sebaliknya pada disfagia
motoric, yaitu pada pasien akalasia dan spasme difus esophagus, keluhan sulit
menelan makanan padat dan cairan terjadi dalam waktu yang bersamaan.
2. Waktu dan perjalanan keluhan disfagia dapat memberikan gambaran lebih jelas
untuk diagnostic. Disfagia yang hilang dalam beberapa hari dapat disebabkan oleh
peradangan. Disfagia yang terjadi dalam beberapa bulan dengan penurunan berat
badan yang cepat dicurigai adanya keganasan di esophagus. Bila disfagia ini
berlangsung bertahun-tahun untuk makanan padat perlu dipikirkan adanya
kelainan yang bersifat jinak atau di esophagus bagian distal (lower esophageal
muscular ring).
3. Lokasi rasa sumbatan di daerah dada dapat menunjukkan kelainan esophagus
bagian torakal, tetapi bila sumbatan terasa di leher, maka kelainannya dapat di
faring, atau esophagus bagian servikal.
4. Nyeri menelan (odinofagia) menunjukkan kemungkinan adanya peradangan di
daerah faring
5. Adanya batuk atau tercekik saat menelan menunjukkan penyebab neuromuscular.
6. Gejala lain yang menyertai, seperti masuknya cairan ke dalam hidung waktu
minum menandakan adanya kelumpuhan otot-otot faring. Hematemesis, melena,
regurgitasi.

C. Pemeriksaan Fisik1
Pemeriksaan daerah leher dilakukan untuk melihat dan meraba adanya massa
tumor atau pembesaran kelenjar limfa yang dapat menekan esophagus. Daerah rongga
mulut perlu diteliti, apakah ada tanda-tanda peradangan orofaring dan tonsil selain

adanya massa tumor yang dapat mengganggu proses menelan. Selain itu diteliti adanya
kelumpuhan otot-otot lidah dan arkus faring yang disebabkan oleh gangguan di pusat
menelan maupun pada saraf otak n.V, n.VII, n.IX, n.X dan n.XII. Pembesran jantung
sebelah kiri, elongasi aorta, tumor bronkus kiri dan pembesaran kelenjar limfa
mediastinum, juga dapat menyebabkan keluhan disfagia.

D. Pemeriksaan Penunjang1
1. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan foto polos esophagus dan yang memakai zat kontras, dapat
membantu menegakkan diagnosis kelainan esophagus. Pemeriksaan ini tidak
invasive. Dengan pemeriksaan fluoroskopi, dapat dilihat kelenturan dinding
esophagus, adanya gangguan peristaltic, penekanan lumen esophagus dari luar, isi
lumen esophagus dan kadang-kadang kelainan mukosa esophagus. Pemeriksaan
kontras ganda dapat memperlihatkan karsinoma stadium dini. Akhir-akhir ini
pemeriksaan radiologic esophagus lebih maju lagi. Untuk memperlihatkan adanya
gangguan motilitas esophagus dibuat cine-film atau video tapenya. Tomogram
dan CT Scan dapat mengevaluasi bentuk esophagus dan jaringan di sekitarnya.
MRI dapat membantu melihat kelainan di otak yang menyebabkan disfagia
motoric.
2. Esofagoskopi
Tujuan tindakan esofagoskopi adalah untuk melihat langsung isi lumen
esophagus dan keadaan mukosanya. Diperlukan alat esofagoskop yang kaku
(rigid esophagoscope) atau yang lentur (flexible fiberoptic esophagoscope).
Karena pemeriksaan ini bersifat invasive, maka perlu persiapan yang baik. Dapat
dilakukan dengan analgesia (local atau umum). Untuk menghindari komplikasi
yang mungkin timbul perlu diperhatikan indikasi dan kontraindikasi tindakan.
Persiapan pasien, operator, peralatan dan ruang pemeriksaan perlu dilakukan.
Risiko dari tindakan, seperti perdarhan dan perforasi pasca biopsy harus
dipertimbangkan
3. Pemeriksaan manometrik
Pemeriksaan manometrik bertujuan untuk menilai fungsi motoric
esophagus. Dengan mengukur tekanan dalam lumen esifagus dan tekanan sfingter
esophagus dapat dinilai gerakan peristaltic secara kualitatif dan kuantitatif.

E. Diagnosis Banding1
1. Faringitis
Faringitis adalah peradangan dinding faring yang dapat disbebakan oleh virus (4060%), bakteri (5-40%), alergi, trauma, toksin, dan lain-lain.

a. Faringitis akut
- Faringitis viral
o Anamnesis : Gejala dan tanda yang ditimbulkan adalah demam
disertai rinorea, mual, nyeri tenggorok dan sulit menelan. Pada anak
bisa menimbulkan gejala konjungtivitis.
o Pemeriksaan fisik : faring dan tonsil hiperemis.
Virus influenza, coxsachievirus dan cytomegalovirus tidak
menghasilkan eksudat. Coxachievirus dapat menimbulkan
lesi vesicular di orofaring dan lesi kulit berupa
maculopapular rash.
EBV menyebabkan produksi eksudat pada faring yang
banyak. Pembesaran kelenjar limfa di seluruh tubuh
terutama retroservikal dan hepatosplenomegali.
Pada faringitis yang disebabkan HIV-1 terdapat eksudat,
limfadenopati akut di leher dan pasien tampak lemah.
- Faringitis bacterial
o Anamnesis : Nyeri kepala yang hebat, muntah, kadang disertai
demam dengan suhu tinggi, jarang disertai batuk
o Pemeriksaan fisik : tonsil membesar, faring dan tonsil hiperemis
dan terdapat eksudat di permukaannya. Beberapa hari kemudia
dapat timbul bercak peteki pada palatum dan faring. Kelenjar limfa
leher anterior membesar, kenyal dan nyeri pada penekanan
- Faringitis fungal
o Anamnesis : nyeri tenggorok dan nyeri menelan
o Pemeriksaan fisik : plak putih di orofaring dan mukosa faring
lainnya hiperemis
b. Faringitis kronik
- Faringitis kronik hiperplastik
o Anamnesis : awalnya tenggorok kering gatal dan akhirnya batuk
bereak
- Faringitis kronik atrofi
o Anamnesis : tenggorok kering dan tebal, mulut berbau
o Pemeriksaan fisik : mukosa faring ditutupi oleh lendir kental, bila
diangkat tampak mukosa kering
c. Faringitis spesifik
- Faringitis luetika
o Pemeriksaan fisik : bercak putih pada lidah, palatum mole, tonsil
dan dinding posterior faring. Pembesaran kelenjar mandibular.
Guma pada tonsil dan palatum.
- Faringitis tuberculosis
o Anamnesis : anoreksia, nyeri hebat di tenggorok, nyeri telinga
o Pemeriksaan fisik : pembesaran kelenjar limfa servikal
2. Tonsilitis
Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatine yang merupakan bagian dari cincin
Waldeyer.

a. Tonsilitis akut
Tonsilitis viral
o Anamnesis : menyerupai common cold disertai nyeri tenggorokan
o Pemeriksaan fisik : luka-luka kecil pada palatum dan tonsil
(coxschakie)
Tonsilitis bacterial
o Anamnesis : nyeri tenggorok dan nyeri menelan, demam tinggi,
lesu, nyeri sendi, tidak nafsu makan, nyeri telinga
o Pemeriksaan fisik : tonsil membengkak, hiperemis dan terdapat
detritus berbentuk folikel, lacuna atau tertutup oleh membrane
semu. Kelenjar submandibular membengkak dan nyeri tekan.
b. Tonsilitis membranosa
Tonsilitis difteri
o Anamnesis : subfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan
lemah, nadi lambat, nyeri menelan
o Pemeriksaan fisik : tonsil membengkak, ditutupi bercak putih
kotor yang makin meluas hingga dapat menyumban saluran napas.
Membran semu ini melekat erat pada dasarnya, sehingga jika
diangkat akan mudah berdarah. Pembengkakan kelenjar limfa
servikal hingga menyerupai bull neck.
Angina Plaut Vincent (stomatitis ulsero membranosa)
o Anamnesis : demam tinggi, nyeri kepala, badan lemah dan kadang
gangguan pencernaan, rasa nyeri di mulut, hipersalivasi, gigi dan
gusi mudah berdarah, mulut berbau
o Pemeriksaan fisik : mukosa mulut dan faring hiperemis, tampak
membrane putih keabuan di atas tonsil, uvula, dinding faring, gusi
serta prosesus alveolaris. Pembesaran kelenjar submandibular
c. Tonsilitis kronik
o Anamnesis : rasa mengganjal di tenggorok, kering di tenggorok,
napas berbau
o Pemeriksaan fisik : tonsil membesar, permukaan tidak raam
kriptus melebar dan beberapa kripti terisi oleh detritus

3. Hipertrofi Adenoid
o Anamnesis : gejala faringitis, bronkitis, otitis, gangguan tidur, tidur
mendengkur, retardasi mental, pertumbuhan fisik berkurang
o Pemeriksaan fisik : fasies adenoid (hidung kecil, gigi insisivus ke
depan arkus faring tinggi), gangguan ventilasi dan dreinase sinus
paranasal
o Penunjang : radiologik
4. Abses Leher Dalam
o Anamnesis : nyeri tenggorok, demam, terbatasnya gerakan
memnula mulut dan leher
o Pemeriksaan fisik : Nyeri dan pembengkakan di ruang leher dalam
yang terlibat (peritonsil, retrofaring, parafaring, submandibular)

o Penunjang : radiologik
5. Kelainan Kongenital (Atresia Esofagus dan Fitula Trakeo-Esofagus)
o Anamnesis : pengumpulan sekret di mulut dan dapat terjadi
aspirasi berulang, saat minum tersedak, batuk, regurgitasi, gawat
napas dan sianosis.
o Pemeriksaan Fisik : Pada atresia esophagus yang terisolasi dan
atresia esophagus yang disertai fistula trakeo-esofagus di bagian
proksimal biasanya tidak ditemukan udara di dalam lambung. Pada
atresia esophagus yang disertai fistula trakeoesofagus di bagian
distal, karena udara masuk ke lambung, ditemukan gejala perut
kembung.
o Penunjang : Memasukkan kateter, radiologik
6. Divertikulum Esofagus
o Anamnesis : disfagia, regurgitasi malam hari, nyeri epigastrium,
anoreksia, perasaan terbakar di dada, penurunan berat badan/
o Penunjang : radiologic kontras barium mengisi divertikulum,
esofagoskopi 2 lumen
7. Akalasia
o Anamnesis : disfagia, regurgitasi, nyeri substernal dan penurunan
berat badan
o Penunjang : radiologic gelombang peristaltic normal pada 1/3
proksimal esophagus, dilatasi pada 2/3 distal dg gambaran
abnormal/hilang/penyempitan, esofagoskopi pelebaran lumen
esophagus, distal menyempit, mukosa esophagus edema pucat
kadang akibt retensi makanan, sfingter esophagus bawah mudah
terbuka, manometrik tekanan istirahat badan esophagus
meningkat, tidak ada gerakan peristaltic, tekanan sfingter
esophagus bawah normal/meninggi/tidak ada relaksasi
8. Varises Esofagus
o Anamnesis : hematemesis dan melena, perdarahan massif
o Penunjang : laboratorium darah rutin, uji faal hati, urine rutin,
radiologic filling defect multiple akibat dilatasi vena,
esofagoskopi tampak seperti nodul
9. Esofagitis Korosif
o Anamnesis : riwayat tertelan zat korosif atau zat organic, gangguan
menelan, kadang obstruksi jalan napas atas, luka bakar di mulut,
bibir, faring kadang disertai perdarhan.
o Penunjang : laboratorium elektrolit darah, radiologic deteksi
mediatinitis atau aspirasi pneumonia, dan esofagoskopi luka
bakar esofagus

10. Tumor Esofagus


a. Tumor jinak
o Anamnesis : disfagia lambat, kadang rasa tidak enak epigastrium
dan substernal, rasa penuh dan sakit yang menjalar ke punggung
dan bahu, mual muntah serta regurgitasi
o Penunjang : radiologic smooth filling defect, lokasi tumor dan
esofagoskopi lokasi tumor, bertangkai atau tidak, asal tumor.
Diagnosa pasti : biopsy dan sitologi
b. Tumor ganas
o Anamnesis : disfagia gejala sumbatan; suara parau, nyeri
retrosentral, nyeri punggung dan servikal, dan gejala
bronkopulmoner gejala penyebaran tumor; teraba masa tumor di
supraklavikula gejala metastasis ke kelenjar limfa. Bolus
makanan tertahan saat menelan, nyeri menelan menjalar ke telinga,
tenggorok, dada dan lengan serta spasme esophagus di bagian
proksimal dari tumor.
o Penunjang : radiologic lumen sempit, ireguler, kekakuan
dinding esophagus, ukuran tumor, pembesaran kelenjar limfa
sepanjang esophagus, dan esofagoskkopi tumor akan tampak
berwarna merah, putih, keabu-abuan ireguler dan mudah berdarah.
biopsy dan sitologik
11. Benda Asing di Esofagus
o Anamnesis : rasa nyeri di servikal atau substernal, nyeri menelan,
hipersalivasi, regurgiasi, muntah, gangguan napas
o Pemeriksaan fisik : kekakuan local pada leher, radang dan edema
periesofagus, gangguan saluran napas
o Penunjang : radiologic benda asing
12. GERD
o Anamnesis : rasa panas di dada setelah makan, regurgitasi isi
lambung spontan. Suara serak pagi hari, mulut berbau, lendir
kental, mulut kering, sering meludah, sukar menelan, otalgia,
sariawan, erosi email gigi.

BAB 3 KESIMPULAN
Anamnesis :
1.
2.
3.
4.
5.

Jenis makanan yang menyebabkan disfagia


Waktu dan perjalanan keluhan
Lokasi rasa sumbatan
Nyeri menelan (odinofagia)
Gejala lain yang menyertai : hematemesis, melena, demam, regurgitasi

Pemeriksaan Fisis :
1.
2.
3.
4.
5.

Pemeriksaan orofaring
Pemeriksaan tonsil
Pemeriksaan otot lidah
Pemeriksaan leher
Laringoskopi indirek

Pemeriksaan Penunjang :
1. Radiologi
2. Esofagoskopi
3. Pemeriksaan manometrik
Diagnosa Banding :
1. Faringitis
2. Tonsilitis
3. Hipertrofi Adenoid
4. Abses Leher Dalam
5. Kongenital
6. Divertikulum Esofagus
7. Akalasia
8. Varises Esofagus
9. Tumor Esofagus
10. Tumor Esofagus
11. Benda Asing di Esofagus
12. GERD

DAFTAR PUSTAKA
1. Soepardi, Efiaty Arsyad dkk, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok
Kepala Leher edisi 5, FK UI, 2006.
2. Adam,Boies, Higler, Boies Buku Ajar Penyakit THT edisi 6, EGC, Jakarta,1997.
3. Richard S.Snell, MD, PhD. Anatomi Klinis Berdasarkan Sistem, Lippincott Williams
& Wilkins A Wolters KluwerHealth, EGC, 2011.
4. Gleadle, Jonathan, At A Glance : Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik, EGC, Jakarta,
2005.