Anda di halaman 1dari 15

Demam yang Disertai Mengigil dan Berkeringat

Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Arjuna Utara No.6 Kebun Jeruk, Jakarta 11510
Pendahuluan
Demam adalah peningkatan suhu tubuh 1oC atau lebih besar di atas nilai rata-rata suhu normal.
Suhu tubuh normal bervariasi tergantung masing-masing orang, usia dan aktivitas. Rata-rata suhu
tubuh normal adalah 37OC. Demam, seperti halnya muntah atau batuk, adalah gejala dari suatu
penyakit, tetapi bukan penyakit itu sendiri. Demam pada beberapa penyakit memiliki pola
demam tersendiri yang dapat membedakannya dari gejala demam akibat penyakit lain. Meskipun
begitu, karakterisik demam tidak dapat menentukan dengan pasti penyebab gejala penyakit
tersebut sehingga, diperlukan pemeriksaan fisik dan penunjang sebagai pendukung diagnosis.
Anamnesis
Dari anamnesis yang dilakukan dokter dalam skenario 4 didapatkan beberapa data berikut:
Identitas

: Seorang laki-laki berumur 35 tahun

Keluhan utama

: Demam sejak 2 hari yang lalu

Riwayat penyakit sekarang

: Demam sejak 2 hari yang lalu, sempat menghilang lalu naik lagi

disertai mengigil, berkeringat, sakit kepala dan mual-mual.


Pemeriksaan fisik

: T: 39oC, RR:18kali/menit, HR: 98x/menit, TD: 120/80mmHg

Berdasarkan data-data diatas diperlukan beberapa pertanyaan tambahan untuk melengkapi


anamnesis, pertanyaan yang bisa ditanyakan adalah sebagai berkut:
1. Apakah pasien mengalami demam mulai pada siang hari dan berlangsung selama 8-12
2.
3.
4.
5.

jam?
Apakah demamnya hilang timbul atau demamnya terus menerus?
Apakah pasien berkeringat banyak?
Apakah pasien merasa lemah tapi lebih sehat setelah bangun tidur?
Apakah sebelumnya pasien berpergian keluar kota (daerah endemik malaria)?

Diagnosis banding
Merupakan suatu diagnosis pembanding dengan gejala yang serupa terhadap penyakit utama,
yang didapatkan ketika melakukan anamnesis. Oleh karena itu perlu adanya pemeriksaan fisik

dan laboratorium untuk menegakkan diagnosis utama. Dari gejala-gejala yang dialami pasien,
ada beberapa penyakit yang menjadi diagnosis pembanding yaitu:
1. Demam Tifoid
Demam tifoid adalah penyakit infeksi bakteri hebat yang diawali di selaput lender usus dan jika
tidak diobati dapat menyerang jaringan tubuh yang lain. Kumam penyebabnya adalah
Salmonella tiphy (basil gram negatif) yang memasuki tubuh melalui mulut dengan perantaraan
makanan dan minuman yang telah terkontaminasi bakteri ini. Kuman ini terdapat dalam tinja,
urin atau darah. Penyakit ini paling sering diderita oleh kelompok umur 12-30 tahun, diikuti
kelompok umur 30-40 tahun. Gejala klinis infeksi ini adalah demam biasanya >5 hari terutama
malam hari demam makin tinggi, menggigil,nyeri/kembung pada abdomen.1 Selain itu, terjadi
gangguan BAB, perdarahan pada usus karena kuman Salmonella tiphy ini menyerang jaringan
limfoid di usus kecil yaitu plak peyeri sehingga plak peyeri ini membesar. Membesarnya plak
peyeri menyebabkan jaringan ini menjadi rapuh dan mudah rusak oleh gesekan makanan yang
melaluinya. Apabila plak peyeri mengalami kerusakan yang parah maka dinding usus juga ikut
menipis, sehingga pembuluh darah setempat juga ikut rusak dan terjadi pendarahan.4 Pada
pemeriksaan klinis demam tifoid, didapatkan suhu tubuh yang tinggi, lidah kotor dengan tepian
merah, serta terdapat pembesaran limpa dan hati. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian
antibiotik (golongan kloramfenikol) yang salah satu efeknya dapat menurunkan panas dan
sterilisasi darah.2
Pada skenario, diperoleh data bahwa pasien mengalami demam 2 hari dan demam sempat
turun kemudian naik lagi, disertai menggigil, berkeringat, sakit kepala dan mual-mual.Kemudian
diberi obat demam, namun demamnya juga tidak turun. Jika dibandingkan dengan gejala demam
tifoid, gejalanya hampir sama tetapi berbeda. Kesamaannya adalah pada kedua penyakit ini
terjadi splenomegali dan hepatomegali serta diare, namun yang membedakan adalah gejala
demamnya. Pada skenario, gejala demam hilang timbul sementara pada demam tifoid gejala
demam berlangsung terus-menerus secara bertahap (demam enteric) dalam waktu lebih dari 5
hari. Oleh karena itu, pasien pada skenario tidak menderita demam tifoid.
2. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam berdarah dengue merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Virus
ini mempunyai empat serotype yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4, dan
2

keempat serotype ini mempunyai gejala yang berbeda-beda jika menyerang manusia. Demam
berdarah dengue ditularkan dari 1 manusia ke manusia lainnya dengan perantaraan/gigitan
nyamuk. Nyamuk yang paling sering menimbulkan demam berdarah yaitu nyamuk Aedes
aegypti betina. Masa inkubasi DBD dimulai dari gigitan nyamuk sampai timbul gejala
berlangsung selama 2 minggu. Darah penderita sudah mengandung virus 1-2 hari sebelum
terserang demam. Biasanya demam timbulnya tiba-tiba, tinggi, terus-menerus berlangsung 5-7
hari, sakit kepala, menggigil dan disertai kemerahan pada wajah. Suhu tubuh biasanya mencapai
39OC 40OC. Terdapat ruam kulit atau bercak-bercak merah pada wajah, leher, dan dada,
tampak bintik- bintik merah ketika diperiksa dengan uji torniquet, terjadi pembesaran hati,
tekanan darah menurun sehingga menyebabkan syok, terjadi penurunan trombosit di bawah
100.000/mm3 dan terjadi peningkatan hematokrit diatas 20 %. Pada tingkat lanjut terjadi
mimisan dari hidung dan gusi, terjadinya melena (buang air dengan kotoran berupa lendir yang
bercampur darah), tampak bintik-bintik merah sebagai bentuk dari pecahnya pembuluh darah dan
demam yang dirasakan menyebabkan pegal dan sakit pada sendi.
Pada skenario, demam yang timbul hilang selama 2 hari tidak sesuai dengan
gejala penyakit DBD karena pada DBD , demam akan terus-menerus selama 5-7 hari, walaupun
rasa menggigil, berkeringat dan sakit kepala juga dialami oleh penderita DBD. Selain itu,
pada penderita DBD ditemukan ruam kulit atau bercak-bercak merah pada wajah, leher, dan
dada.
3. Leptospirosis
Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh mikroorganisme Leptospira
interogans. Pada tahun 1886, Adolf Weil pertama kali melaporkan penelitiannya tentang penyakit
ini. Ia menemukan bahwa penyakit ini menyerang manusia dengan gejala demam, ikterus,
pembesaran hati dan limpa, serta kerusakan ginjal. Leptospira dapat diisolasi baik dari hewan
maupun manusia.3 Leptospira masuk kedalam tubuh melalui kulit atau selaput lendir, memasuki
aliran darah dan berkembang lalu menyebar secara luas ke jaringan tubuh melalui darah.
Kemudian terjadi respon imunologi baik secara selular maupun humoral sehingga infeksi ini
dapat ditekan dan terbentuk antibodi spesifik. Walaupun demikian beberapa organisme ini masih
dapat bertahan pada beberapa daerah yang terisolasi secara imunologi seperti didalam ginjal,
hingga bakteri bisa hidup disana dan keluar melalui urin. Pada leptospirosis akan ditemukan
perjalanan klinis bifasik, yaitu leptospiremia di mana leptospira ditemukan dalam darah, fase
3

imun, dan fase penyembuhan. Pada fase leptospiremia timbul gejala demam yang mendadak,
disertai gejala sakit kepala terutama di bagian frontal, oksipital dan bitemporal. Pada otot akan
timbul keluhan mialgia dan nyeri tekan terutama pada otot gastroknemius, paha dan pinggang
yang diikuti dengan hiperestesia kulit. Pada fase yang berlangsung selama 4 9 hari ini juga
dapat ditemui gejala menggigil dan demam tinggi, mual, muntah, diare, batuk, sakit dada,
hemoptisis, bradikardia, penurunan kesadaran, dan injeksi konjungtiva.4 Injeksi faringeal, kulit
dengan ruam berbentuk makular / makulopapular / urtikaria yang tersebar pada badan,
splenomegali, dan hepatomegali. Fase berikutnya adalah fase imun yang berkaitan dengan
munculnya antibodi IgM sementara konsentrasi C3 tetap normal.
Pada skenario, tidak ditemukan bradikardia (HR: 98x/menit) yang merupakan salah satu
gejala leptospirosis berat. Kemudian leptospirosis memiliki pola khas demam yang jarang
melebihi 39OC dan berlangsung 1-3 hari secara terus menerus serta biasanya disertai dengan
nyeri otot yang tidak dikeluhkan pasien pada skenario.
4. Chikungunya
Chikungunya disebabkan adanya infeksi virus chikungunya (CHIKV), yaitu jenis Alphavirus
yang termasuk dalam keluarga Togaviridae, dan ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypty,
nyamuk yang sama yang menularkan penyakit demam berdarah dengue. Gejala utama
Chikungunya adalah demam diikuti dengan linu di persendian. Bahkan, karena salah satu gejala
yang khas adalah timbulnya rasa pegal-pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang. Masa
inkubasi dari demam Chikungunya adalah 2-4 hari. Manifestasi penyakit berlangsung 3-10 hari.
virus ini akan hilang dengan sendirinya. Namun, rasa nyeri masih tertinggal dalam hitungan
minggu sampai bulan. Chikungunya dapat menyerang semua usia, baik anak-anak maupun
dewasa di daerah endemis. Secara mendadak penderita akan mengalami demam tinggi selama
lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam lima hari. Pada anak kecil dimulai dengan demam
mendadak, kulit kemerahan. Ruam-ruam merah itu muncul setelah 3-5 hari. Mata biasanya
merah disertai tanda-tanda seperti flu. Sering dijumpai anak kejang demam. Pada anak yang
lebih besar, demam biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan sendi, serta terjadi pembesaran
kelenjar getah bening. Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominan dan
sampai menimbulkan kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila berjalan. Kadang-kadang
timbul rasa mual sampai muntah. Pada umumnya demam pada anak hanya berlangsung selama

tiga hari dengan tanpa atau sedikit sekali dijumpai perdarahan maupun syok. Bedanya dengan
demam berdarah dengue, pada Chikungunya tidak ada perdarahan hebat, renjatan (shock)
maupun kematian.5
Pada skenario, demam timbul hilang selama 2 hari sehingga tidak sesuai dengan
gejala penyakit Demam Chikungunya karena pada penyakit ini, penderita akan demam tinggi
terus-menerus selama 3-5 hari disertai dengan nyilu pada tulang dan persendian. Gejala utama
Chikungunya adalah demam diikuti dengan linu di persendian sedangkan, pasien pada skenario
diatas tidak mengeluhkan rasa nyilu atau linu di persendian maupun tulangnya.
Diagnosis kerja
Diagnosis kerja merupakan diagnosis utama tentang penyakit yang diderita pasien setelah
melakukan anamnesis dan pemeriksaan terhadap pasien.
Demam yang naik turun pada pasien skenario telah berlangsung selama 2 hari dan hilang
timbul, dari anamnesis diketahui bahwa demam pada pasien ini mendadak tinggi kemudian
diikuti badan yang menggigil dan berkeringat, demam malaria dapat dipikirkan karena pada
pasien ini dijumpai trias malaria, didukung dengan keterangan pasien mengenai tempat
domisilinya selama sebulan terakhir yaitu daerah Papua dimana daerah tersebut merupakan
daerah endemik malaria, oleh karena itu,diagnosis utama yang ditegakkan adalah bahwa pasien
menderita malaria.
Etiologi Malaria
Penyakit malaria pada manusia disebabkan oleh genus Plasmodium yang terdiri atas 4 spesies
yaitu: Plasmodium vivax (penyebab penyakit malaria tertiana atau malaria vivax atau benign
tertiana), Plasmodium falciparum (penyebab malaria Tropicana atau malignant tertiana atau
malaria perniciosa atau malaria falciparum), Plasmodium malariae (penyebab malaria quartana)
dan Plasmodium ovale (penyebab malaria ovale). Vektor malaria yaitu nyamuk Anopheles
betina. Jenis-jenis vector malaria yaitu Anopheles sundaicus yang banyak di daerah pantai,
Anopheles aconitus yang banyak di persawahan, Anopheles barbarostris yang banyak di
perkebunan dan pohon-pohon tinggi,Anopheles farauti yang banyak di Papua, dan Anopheles
balabacensis yang banyak di perkebunan.6

Epidemiologi Malaria
Malaria ditemukan 64OLU (Archangel di Rusia) sampai 32OLS (Cordoba di Argentina),dari
daerah rendah 400 m dibawah permukaan laut (Laut Mati) sampai 2600 m di atas permukaan
laut (Londiani di Kenya) atau 2800 m (Cochabamba di Bolivia). Antara batas garis lintang dan
garis bujur terdapat daerah bebas malaria. Di Indonesia, penyakit malaria ditemukan tersebar di
seluruh kepulauan, terutama di kawasan timur Indonesia.6
Patogenesis Malaria
Didalam hospes definitif (nyamuk Anopheles betina) terjadi pembiakan seksual (sporogoni),
disebut juga fase ekstrinsik. Pada waktu nyamuk mengisap darah penderita malaria, semua
stadium di dalam darah akan terisap masuk ke dalam lambung nyamuk dan dicerna bersama
eritrosit. Hanya bentuk gametosit (makrogametosit dan mikrogametosit) yang dapat bertahan dan
melanjutkan siklusnya.1 Kemudian terjadi pematangan gametosit menjadi gamet (makrogamet
dan mikrogamet). Mikrogametosit mengalami pembelahan inti menjadi 4-8 inti yang masingmasing menjadi bentuk panjang seperti benang dengan ukuran 20-25 mikron, menonjol keluar
dari sel induk, bergerak-gerak sebentar kemudianmelepaskan diri. Proses ini disebut eksflagelasi
dan hanya berlangsung beberapa menit dan pada suhu yang sesuai. Makrogametosit berkembang
menjadi makrogamet (gamet betina) yang intinya bergeser ke permukaan yang merupakan
tempat masuknya mikrogamet kedalam makrogamet saat fertilisasi sehingga terjadi pembuahan
dan hasil pembuahan disebut zigot. Pada permulaan, zigot merupakan bentuk bulat yang tidak
bergerak tetapi dalam waktu 18-24 jam menjadi bentuk panjang dan dapat bergerak, berukuran
8-24mikron dan disebut ookinet. Ookinet kemudian menembus dinding lambung melalui
selepitel ke permukaan lambung dan menjadi bentuk bulat disebut ookista. Ookista makin lama
makin membesar sehingga merupakan bulatan semi-transparan berukuran 40-80mikron dan
mengandung butir-butir pigmen. Terjadi pematangan ookista dengan pembelahan inti dan
transformasi sitoplasma yang membentuk beribu-ribu sporozoit yang berada dalam ookista.
Ookista matang dalam 4-15 hari (tergantung suhu) setelah nyamuk mengisap gametosit. Ookista
matang akan pecah dan sporozoit yang berukuran 10-15mikron berhamburan ke dalam rongga
tubuh nyamuk untuk mencapai kelenjar air liur. Nyamuk infektif yaitu nyamuk yang siap
mengeluarkan sporozoitnya bersama air liurnya. Bila nyamuk mengisap darah setelah menusuk
6

kulit manusia, sporozoit masuk ke dalam luka tusuk dan mencapai aliran darah. Waktu antara
nyamuk mengisap darah yang mengandung gametosit sampai nyamuk tersebut mengandung
sporozoit pada kelenjar liurnya disebut masa tunas ekstrinsik.1,6
Didalam hospes perantara terjadi pembiakan aseksual (skozogoni) dan disebut juga faseintrinsic.
Ada beberapa fase yang terjadi di dalam tubuh manusia yaitu:
Fase jaringan
Bila nyamuk Anopheles betina yang mengandung parasit malaria dalam kelenjar liurnya
menusuk hospes, sporozoit yang berada di air liurnya masuk melalui proboscis yang ditusukkan
ke dalam kulit. Sporozoit segera masuk dalam peredaran darahdan setelah - 1 jam masuk ke
sel hati. Banyak yang dihancurkan oleh fagosit, tetapi sebagian masuk dalam sel hati (hepatozit)
menjadi trofozoit hati dan berkembang biak. Proses ini disebut skizogoni praeritrosit atau
eksoeritrosit primer. Inti parasit membelah diri berulang-ulang dan skizon jaringan berbentuk
bulat lonjong, menjadi besar sampai berukuran 45 mikron. Pembelahan ini disertai pembelahan
sitoplasma yang mengelilingi setiap inti sehingga terbentuk beribu-ribu merozoit berinti satu
dengan ukuran 1,0 sampai1,8 mikron. Inti sel hati terdorong ke tepi tetapi tidak ada reaksi
disekitar jaringan hati. Fase ini berlangsung beberapa waktu, tergantung spesies parasit malaria.
Pada akhir fase praeritrosit, skizon pecah, merozoit keluar dan masuk peredaran darah. Sebagian
besar menyerang eritrosit yang berada di sinusoid hati tetapi beberapa di fagositosis. Pada
P.vivax dan P.ovale sebagian sporozoit yang menjadi hipnozoit setelah beberapa waktu (beberapa
bulan sampai 5 tahun) menjadi aktif kembali dan mulai dengan skizogoni eksoeritrosit sekunder.
Pada proses tersebut dianggap sebagai penyebab timbulnya relaps yaitu parasit ditemukan
kembali di dalam darah setelah pemberian obat skizontisida darah yang adekuat.6
Fase aseksual dalam darah
Waktu antara permulaan infeksi sampai parasit malaria ditemukan dalam darah tepi disebut masa
pra-paten. Masa ini dapat dibedakan dengan masa tunas/inkubasi yang berhubungan dengan
timbulnya gejala klinis penyakit malaria. Merozoit yang dilepas oleh skizon jaringan mulai
menyerang eritrosit. Invasi merozoit bergantung pada interaksi reseptor pada eritrosit, glikoforin
dan merozoit sendiri. Sisi anterior merozoit melekat pada membrane eritrosit, kemudian
membrane merozoitmenebal dan bergabung dengan membrane plasma eritrosit, lalu melakukan
invaginasi membentuk vakuol dengan parasit berada di dalamnya. Pada saat merozoit masuk,
selaput permukaan dijepit sehingga lepas. Seluruh proses ini berlangsung selama kurang lebih 30
7

detik. Stadium termuda dalam darah berbentuk bulat kecil, beberapa diantaranya mengandung
vakuol sehingga sitoplasma terdorong ke tepi dan inti berada di kutubnya.Oleh karena sitoplasma
mempunyai bentuk lingkaran, maka parasit muda disebut bentuk cincin. Selama pertumbuhan,
bentuknya berubah menjadi tidak teratur. Stadium muda inidisebut trofozoit. Setelah masa
pertumbuhan, parasit berkembang biak secara aseksualmelalui proses pembelahan yang disebut
skizogoni. Inti parasit membelah diri menjadi sejumlah inti yang lebih kecil. Kemudian
dilanjutkan dengan pembelahan sitoplasma untuk membentuk skizon. Skizon matang
mengandung bentuk-bentuk bulat kecil, terdiri atas intidan sitoplasma yang disebut merozoit.
Setelah proses skizogoni selesai, eritrosit pecah danmerozoit dilepaskan di dalam aliran darah
(sporulasi). Kemudian merozoit memasuki eritrosit baru dan generasi lain dibentuk dengan cara
yang sama. Pada daur eritrosit, skizogoni berlangsung secara berulang-ulang selama infeksi dan
menimbulkan parasitemiayang meningkat dengan cepat sampai proses dihambat oleh respon
imun hospes.Perkembangan parasit dalam hospes menyebabkan perubahan pada eritrosit
misalnyasitoplasma bertitik-titik pada Plasmodium vivax. Perubahan ini khas untuk spesies
parasit.Periodisitas skizogoni berbeda-beda, tergantung spesiesnya. Daur skizogoni (fase
eritrosit) berlangsung 48 jam pada P.falciparum dan 72 jam pada P.malariae. Pada
stadium permulaan infeksi, dapat ditemukan beberapa kelompok parasit yang tumbuh pada
saatyang berbeda sehingga gejala demam tidak menunjukkan periodisitas yang khas.
Kemudian periodisitasnya menjadi lebih sinkron.1,6
Fase seksual dalam darah
Setelah 2 sampai 3 generasi (3-15 hari) sikluseritrosit, fenomena gametositogenik/gametogoni
dimulai. Beberapa merozoit intraseluler tidak membentuk skizon akan tetapi berkembang
menjadi makrogametosit danmikrogametosit. Waktu antara nyamuk memasukkan sporozoit ke
dalam tubuh manusiasampai ditemukannya bentuk cincin (sporozoit muda) dalam darah perifer
disebut masatunas intrinsik.1,6 Waktu antara nyamuk mengisap darah yang mengandung
gametosit sampai mengandung sporozoit dalam kelenjar liurnya, disebut masa tunas ekstrinsik.
Sporozoit adalah bentuk infektif. Infeksi dapat terjadi dengan 2 cara yaitu secara alami melalui
vektor Anopheles betina yaitu bila sporozoit dimasukkan ke badan manusia dengan tusukan
nyamuk dan secara induksi, yaitu bila stadium aseksual dalam eritrosit secara tidak sengaja
masuk dalam badanmanusia melalui darah misalnya melalui transfusi darah karena darah donor
mengandung parasit,atau bisa juga melalui jarum suntik yang terkontaminasi. Cara infeksi yang
8

lain adalah secaratrasnplasenta dari ibu yang menderita malaria kepada janin dalam
kandungannya melalui plasenta.1
Patofisiologis Malaria
Patofisiologi

malaria

sangat

kompleks

dan

mungkin

berhubungan

dengan

hal-hal

sebagai berikut:8
1. Penghancuran eritrosit yang terjadi oleh karena pecahnya eritrosit yang mengandung
parasit,fagositosis eritrosit yang mengandung dan tidak mengandung parasit dan
akibatnya terjadi anemia dan anoksia jaringan dan hemolisis intravaskuler.
2. Pelepasan mediator Endotoksin-makrofag. Pada proses skizoni yang melepaskan
endotoksin,makrofag melepaskan berbagai mediator endotoksin.
3. Pelepasan TNF. Merupakan suatu monokin yang dilepas oleh adanya parasit malaria.
TNF ini bertanggung jawab terhadap demam dan hipoglikemia.
4. Sekuetrasi eritrosit. Eritrosit yang terinfeksi dapat membentuk knob di permukaannya.
Knobini mengandung antigen malaria yang kemudian akan bereaksi dengan antibody.
Eritrosityang terinfeksi akan menempel pada endotel kapiler alat dalam dan membentuk
gumpalan sehingga terjadi bendungan.
Manifestasi Klinik Malaria
Perjalanan penyakit malaria berbeda antara orang yang tidak kebal (tinggal di daerah
nonendemis) dan orang yang kebal atau semi-imun (tinggal di daerah endemis malaria). Pada
orang non imun, biasanya demam terjadi lebih kurang 2 minggu setelah kembali dari
daerahendemis malaria. Demam atau riwayat demam dengan suhu tubuh lebih dari
38OC biasanya ditemukan pada penderita malaria. Pada permulaan penyakit, biasanya demam
tidak bersifat periodic, sehingga tidak khas dan dapat terjadi setiap hari. Demam dapat bersifat
remitmen atau terus-menerus. Demam mulai timbul saat pecahnya skizon darah yang
mengeluarkan bermacam- macam antigen yang akan merangsang makrofag, monosit atau
limfosit mengeluarkan berbagai sitokin seperti faktor TNF. TNF akan dibawa ke hipotalamus ke
pusat pengatur suhu dan terjadilah demam. Demam dapat disertai gejala lain yang tidak spesifik
seperti menggigil, lemas, sakitkepala, sakit otot, batuk dan gejala gastrointestinal seperti mual,
muntah dan diare. Setelah kurang lebih 1-2 minggu serangan demam yang disertai gejala lain
akan diselingi periode bebas penyakit. Demam kemudian bersifat periodik yang khas untuk
9

penyakit malaria yaitu bersifat intermiten atau tidak terus-menerus. Sebaliknya, pada kelompok
semi-imun atau imun yang tinggal di daerah endemis malaria, gejala klinis biasanya lebih ringan
dibandingkan penderita non-imun. Sakit kepala, perasaan dingin dan nyeri sendi merupakan
gejala klinik yang sering ditemukan pada kelompok anak. Anemia, splenomegali, dan
hepatomegali juga sering kali berhubungan dengan malaria.2,7 Splenomegali adalah pembesaran
limpa karena limpa merupakan tempat eliminasi parasitmalaria. Pada keadaan akut, limpa
membesar dan tegang, penderita merasa nyeri di perut kwadran kiri atas. Pada perabaan
konsistensinya lunak. Sedangkan anemia dapat terjadi karena penghancuran eritrosit yang
mengandung parasit dan yang tidak mengandung parasit terjadi didalam limpa, eritrosit normal
tidak dapat hidup lama dan gangguan pembentukan eritrosit karenadepresi eritropoesis dalam
sumsum tulang. Anemia tampak jelas pada malaria falciparum dengan penghancuran eritrosit
yang cepat dan hebat yaitu pada malaria akut dan berat. Pada serangan akut, kadar hemoglobin
turun secara mendadak. Pada anemia berat dapat terlihat sel darah merah yang berinti. Pada
malaria, dapat terjadi trombositopenia baik pada infeksi P.falciparum maupun P.vivax dan
ikterus. Ikterus disebabkan karena hemolisis dan gangguan hepar. Serangan demam yang khas
terdiri atas beberapa stadium:6
1. Stadium menggigil dimulai dengan perasaan dingin sekali, sehingga menggigil. Penderita
menutupi badannya dengan baju tebal dan selimut. Nadinya cepat tetapi lemah, bibir
dan jari tangan menjadi biru, kulitnya kering dan pucat. Kadang-kadang disertai muntah.
Pada anak sering disertai kejang. Stadium ini berlangsung 15 menit sampai 1 jam.
2. Stadium puncak demam dimulai pada rasa dingin sekali berubah menjadi panas
sekali.Muka menjadi merah, kulit kering dan terasa panas seperti terbakar, sakit kepala
makin hebat, biasanya ada mual dan muntah, nadi penuh dan berdenyut keras. Perasaan
haus sekali pada saat suhu naik sampai 41OC atau lebih. Stadium ini berlangsung selama
2sampai 6 jam.
3. Stadium berkeringat dimulai dengan penderita berkeringat banyak sehingga tempat
tidurnya basah. Suhu turun dengan cepat, kadang-kadang sampai di bawah ambang
normal. Penderita biasanya dapat tidur nyenyak dan waktu bangun merasa lemah tetapi
lebih sehat. Stadium ini berlangsung 2-4 jam.Serangan demam yang khas sering dimulai
pada siang hari dan berlangsung 8-12 jam. Setelah itu terjadi stadium apireksia. Serangan
demam makin lama makin berkurang beratnyakarena tubuh menyesuaikan dengan
adanya parasit dalam badan dan respon imun hospes. Gejala infeksi yang timbul kembali
10

setelah serangan pertama biasanya disebut rekrudesensi yang timbul karena parasit dalam
eritrosit jumlahnya meningkat kembali. Hal ini biasanya terjadi karena dosis obat yang
inadekuat atau karena parasit resisten terhadap obat yang diberikan.Demam dapat timbul
kembali sewaktu-waktu dalam 4-6 minggu. Relaps dapat terjadi 4-6 minggu setelah
pemberian klorokiun. Periode laten parasit terjadi bila parasit tidak ditemukan di dalam
darah tepi tetapi stadium eksoeritrosit masih bertahan dalam jaringan hati.
Komplikasi Malaria
Komplikasi malaria umumnya disebabkan karena P.falciparum dan sering disebut pernicious
manifestasions. Sering terjadi mendadak tanpa gejala-gejala sebelumnya, dan sering terjadi pada
penderita yang tidak imun seperti pada orang pendatang dan kehamilan. Penderita malaria
dengan kompikasi umumnya digolongkan sebagai malaria berat yang menurut WHO
didefinisikan sebagai infeksi P.falciparum dengan satu atau lebih komplikasi sebagai berikut :6
1. Malaria serebral (coma) yang tidak disebabkan oleh penyakit lain atau lebih dari 30 menit
setelah serangan kejang ; derajat penurunan kesadaran harus dilakukan penilaian
berdasar GCS (Glasgow Coma Scale) ialah dibawah 7 atau equal dengan keadaan klinis
soporous.
2. Anemia berat. Komplikasi ini ditandai dengan menurunnya Ht secara mendadak (<15%)
ataukadar Hb <5 gr%. Bila nilai Ht <20% atau Hb <7g/dl, penderita dapat diberi
transfuse darahsegar.
3. Gagal ginjal akut (urine kurang dari 400 ml/24 jam pada orang dewasa atau 12 ml/kg
BB/24 jam pada anak-anak dan akhirnya anuria yang disebabkan nekrosis tubulus akut)
setelahdilakukan rehidrasi, disertai kreatinin yang dapat meningkat > 3 mg/dl.
4. Edema paru non-kardiogenik/ARDS (acute respiratory distress syndrome). Tandanya
adalah meningkatnya frekuensi pernapasan dan diikuti hipoksia.
5. Hipoglikemi. Pada pemeriksaan laboratorium konsentrasi gula darah turun sampai
<40mg/dl.
6. Gagal sirkulasi atau syok : penderita datang dengan keadaan kolaps, tekanan
sistolik <50mmHg (pada anak) atau <80mmHg pada orang dewasa.
7. Perdarahan abnormal dan spontan dari hidung atau gusi, saluran cerna dan disertai
kelainanlaboratorik adanya gangguan koagulasi intravaskuler serta pada penderita
trombositopenia.
8. Kejang berulang lebih dari 2 kali/24 jam karena suhu 39-40 derajat celcius.

11

9. Makroskopik hemoglobinuri oleh karena infeksi malaria akut (bukan karena obat
antimalaria/kelainan eritrosit (kekurangan G-6-PD).
Pemeriksaan Fisik dan Penunjang
Pada pemeriksaan penyakit malaria, pemeriksaan fisik dan penunjang yang dilakukan adalah:
1. Perabaan limpa
Apakah terjadi pembesaran kelenjar limpa (splenomegali) atau tidak yangdapat diketahui
dengan meraba abdomen. Pada keadaan malaria akut, limpa membesar dan tegang,
penderita merasa nyeri di perut kuadran kiri atas. Pada perabaan, konsistensinya lunak,
namun pada keadaan kronis, konsistensinya keras.
2. Pemeriksaan darah tepi
Pembuatan preparat darah tebal dan darah tipis dilakukan untuk melihat keberadaan
parasit dalam darah tepi, seperti trofozoid yang berbentuk cincin. Metode mendeteksi
protein atau asam nukleat yang berasal dari parasit yaitu dengan Rapidantigen detection
test atau PCR.
3. Pemeriksaan hematologi lengkap (CBC)
Kadar hemoglobin normal biasanya tergantung usia yaitu baru lahir : 17-22 gm/dl, usia
seminggu: 15-20 gm/dl, usia sebulan : 11-15gm/dl,kanak-kanak: 11-13 gm/dl, lelaki
dewasa: 14-18 gm/dl, wanita dewasa: 12-16 gm/dl, lelakiseparuh usia: 12.4-14.9 gm/dl,
wanita separuh usia: 11.7-13.8 gm/dl. Konsentrasi Hb rendah mungkin menunjukkan
anemia atau pendarahan yang baru terjadi sedangkan konsentrasi Hb tinggi mengarah
pada dugaan adanya polisitemia. Hematokrit normal manusia pada pria 40-48%
sedangkan pada wanita 37-43%. Hematokrit yang rendah menunjukkan adanya anemia
sedangkan hematokrit yang tinggi menunjukkan adanya polisitemia.
Pada malaria, gejala atau komplikasi yang sering ditemukan bersama gejala umum pada malaria
berat adalah hiperparasitemia (>5% atau 250.000/mm3), anemia berat (Hb <6 g% atau hematokrit
<18%), jumlah leukositnya rendah hingga normal, sekalipun pada infeksi yang berat dapat
meninggi. Laju endap darah, viskositas plasma, dan kadar C-reaktif protein meningkat. Jumlah
trombosit biasanya mengalami penurunan yang sedang (hingga sekitar 100.000 per mikroliter).
Juga dapat dijumpai trombositopenia yang dapat mengganggu proses koagulasi. Pada malaria
tropika

yang

berat

maka

plasma

fibrinogen

dapat

menurun

yang

disebabkan

peningkatankonsumsi fibrinogen karena terjadinya koagulasi intravskuler. Terjadi ikterus ringan


dengan peningkatan bilirubin indirek yang lebih banyak dan tes fungsi hati yang abnormal
12

seperti meningkatnya transaminase, tes flokulasi sefalin positif, kadar glukosa dan fosfatase
alkali menurun. Plasma protein menurun terutama albumin, walaupun globulin meningkat.
Perubahan ini tidak hanya disebabkan oleh demam semata melainkan juga karena meningkatkan
fungsi hati.
Penatalaksanaan Malaria
Berdasarkan suseptibilitas berbagai macam stadium parasit malaria terhadap obat antimalaria,
maka obat antimalaria dapat juga dibagi dalam 5 golongan yaitu :6
1.Skizontisida jaringan primer yang dapat membunuh parasit stadium praeritrositik dalam
hatisehingga mencegah parasit masuk dalam eritrosit, jadi digunakan sebagai obat
profilaksiskausal. Obatnya adalah proguanil, pirimetamin.
2.Skizontisida jaringan sekunder dapat membunuh parasit siklus eksoeritrositik P. vivax
dan P.ovale dan digunakan untuk pengobatan radikal sebagai obat anti relaps, obatnya
adalah primakuin. Primakuin merupakan satu-satunya obat dipasaran yang dapat digunakan
untuk mencegah relaps.
3.Skizontisida darah yang membunuh parasit stadium eritrositik, yang berhubungan
dengan penyakit akut disertai gejala klinik. Obat ini digunakan untuk pengobatan supresif bagi
keempat spesies Plasmodium dan juga dapat membunuh stadium gametosit P. vivax, P.malariae
dan P. ovale, tetapi tidak efektif untuk gametosit P. falcifarum. Obatnya adalah kuinin, klorokuin
atau amodiakuin; atau proguanil dan pirimetamin yang mempunyai efek terbatas.
4.Gametositosida yang menghancurkan semua bentuk seksual termasuk gametosit P. falcifarum.
Obatnya adalah primakuin sebagai gametositosida untuk keempat spesies dankuinin, klorokuin
atau amodiakuin sebagai gametositosida untuk P. vivax, P. Malariae dan P.ovale.
5.

Sporontosida

untuk membentuk

yang

dapat

ookista

dan

mencegah
sporozoit

atau

menghambat

dalam

gametosit

nyamuk Anopheles.

dalam

Obat-obat

darah
yang

termasuk golongan ini adalah primakuin dan proguanil.


Prognosis malaria
Prognosis

malaria

vivax

biasanya

baik,

tidak

menyebabkan

kematian.

Bila

tidak

diberi pengobatan, serangan pertama dapat berlangsung 2 bulan atau lebih. Rata-rata infeksi
malariavivax tanpa pengobatan berlangsung 3 tahun, tetapi pada beberapa kasus dapat
13

berlangsung lebihlama, terutama karena relapsnya. Pada malaria ovale, penyakitnya ringan dan
dapat sembuhsendiri tanpa pengobatan.6 Pada penderita malaria falciparum berat, prognosisnya
buruk sedangkan pada penderita malaria falciparum tanpa komplikasi prognosisnya cukup baik
bila dilakukan pengobatan segeradan dilakukan observasi hasil pengobatan. Lain halnya dengan
malaria malariae, jika tidak diobati, malaria malariae ini dapat berlangsung sangat lama dan
rekurens pernah tercatat 30-50tahun sesudah infeksi.6
Pemberantasan dan Pencegahan Malaria
Tujuan pemberantasan adalah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian,sehingga tidak
lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat. Program pemberantasan malaria yang saat ini
dilakukan meliputi penyemprotan DDT. Kontak nyamuk dengan DDT mengakibatkan
berkurangnya umur nyamuk serta mengobati segera penderita malaria.Pencegahan yang
dilakukan adalah program kelambu dengan insektisida dan penyemprotan untuk mematikan
nyamuk. Penggunaan kelambu khususnya kelambu yang sudah dipercikan insektisida dan
pemakaian insektisida semprot disarankan bagi individu yang tinggal di daerah endemis.
Kemudian, pemasangan kawat kasa pada jendela juga dapat dilakukan untuk mencegah gigitan
nyamuk serta penggunaan obat semprot nyamuk.

Kesimpulan
Malaria merupakan penyakit yang disebabkan Plasmodium dan ditularkan melalui nyamuk
Anopheles betina melalui tusukan pada kulit manusia. Gejala yang khas dari malaria adalah trias
malaria atau demam dengan 3 stadium. Gejala-gejala klinis penyakit malaria terlihat pada pasien
pada skenario yang menderita demam yang timbul hilang disertai menggigil, muntah dan mual,
serta baru sebulan berdomisili di daerah endemic malaria. Sehingga dapat disimpulkan pasien
pada skenario menderita malaria.

Daftar pustaka
1. Natadisastra D, Agoes R. Parasitologi kedokteran. Jakarta: EGC;2009.h.209-27.
14

2. Bherman, Kliegman, Arvin. Ilmu kesehatan anak. Edisi ke-15. Jakarta:EGC;2000.h.97074,1115-30.


3. Zain U. Konsultan Penyakit Tropik Infeksi Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK Unversitas
Sumatera Utara. Leptospirosis. Buku ajar penyakit dalam: ed 5 th. Jakarta : EGC;
2009.h.2807-12.
4. Saputra L. Buku ajar mikrobiologi kedokteran. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia;2012.h.260-2.
5. Anies. Manajemen berbasis lingkungan. Jakarta: Gramedia. 2006. h.73-5
6. Staf Pengajar Departemen Parasitologi. Parasitologi kedokteran. Edisi ke-4. Jakarta:
FK UI;2011.h.189-241.
7. Santoso M, Sumadikarya I, Winami W, dkk. Buku penuntun keterampilan medik (skilllab).Jilid ke-2. Jakarta: FK UKRIDA; 2008.h.14-7.
8. Sudiono H, Iskandar I, Edward H, dkk. Penuntun patologi klinik hematologi. Jakarta:
BiroPublikasi FK UKRIDA;2009..h.31-79.

http://www.scribd.com/doc/173569163/Pblku-12-Pem-Ervin

15