Anda di halaman 1dari 27

16

PENDAHULUAN
Setiap pelaku kegiatan alam terbuka harus mempunyai kemampuan untuk
penanganan kegawatdaruratan, karena kecelakaan dapat terjadi di mana dan
kapan saja. Untuk kegiatan alam terbuka diperlukan pengetahuan medis tentang
pertolongan pertama, kemampuan untuk mengatasi situasi sehingga penolong
dapat menentukan rencana dan apa yang harus dilakukan. Diperlukan kesiapan
mental, karena dengan ketenangan, keputusan yang tepat dan cepat dapat
dihasilkan, ditambah pula kesiapan fisik untuk menolong korban. Tanpa
kemampuan fisik dan perencanaan yang baik penolong akan membahayakan
dirinya sendiri.
Korban kecelakaan dibagi menjadi beberapa keadaan yang menentukan
tindakan pertama yang harus dilakukan :
1. Keadaan gawat tapi tidak darurat, dimana korban memerlukan penanganan
yang baik tetapi tidak perlu pada saat itu juga. Contoh : luka sayat, luka lecet
2. Keadaan darurat, dimana korban memerlukan penanganan segera walaupun
keadaan tidak terlalu berbahaya. Contoh : pingsan
3. Keadaan gawat darurat yaitu korban yang memerlukan penanganan yang
baik dan tepat dengan segera. Contoh : korban luka dan pingsan
Saat menemukan korban tanpa
diketahui bentuk atau penyebab
kecelakaan,

korban

harus

dianggap sebagai korban gawat


darurat sampai dipastikan bahwa
dia tidak dalam keadaan tersebut.
Hal pertama yang harus diperhatikan dan kita lakukan apabila bertemu korban,
dimana dan dalam keadaan apapun, adalah penilaian yang cepat dan
pengelolaan yang tepat untuk menghindari kematian atau resiko kecacatan. Yang
dapat dilakukan adalah langsung memeriksa korban tanpa memindahkan terlebih
dahulu, jauhkan korban dari penyebab kecelakaan apabila lingkungan sekitar
korban membahayakan dan menempatkan korban pada keadaan stabil. Setelah

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

17

stabil persiapkan evakuasi dengan aman dan selanjutnya diserahkan pada


tenaga kesehatan.
Tujuh langkah penting yang harus dilakukan ketika terjadi kecelakaan:
Langkah 1. Amankan situasi dan lingkungan sekitar kejadian. Tujuan untuk
membuat keadaan terkendali dan bisa menempatkan respon maksimum dari
anggota kelompok kegiatan alam terbuka dalam waktu singkat. Pemimpin
kelompok harus segera ditunjuk untuk membagi dan mengatur tugas
kelompok
Langkah 2. Dekati korban dengan hati-hati. Tujuan untuk menghindarkan
korban dari keadaan yang lebih parah dan menjaga anggota kelompok lain
tetap aman, dekati cepat namun hati-hati penting untuk menjaga korban dari
luka yang lebih berat. Seperti tertimpa batu, longsor atau terjatuh
Langkah 3. Lakukanlah pertolongan pertama. Tujuan untuk mengatasi
keadaan yang dapat mengancam kehidupan dalam beberapa menit (ABC).
Pada beberapa keadaan pertolongan pertama merupakan hal terpenting yang
dapat dilakukan penolong. Jika korban berada pada tempat berbahaya,
pindahkan korban ke tempat yang aman, periksa keadaan korban, paling
sedikit melihat apakah korban berhenti bernafas, tidak ada denyut nadi, atau
terjadi pendarahan hebat.
Langkah 4. Lindungi korban. Tujuan untuk mengurangi tekanan baik fisik
maupun mental pada korban. Apapun jenis cideranya korban membutuhkan
perlindungan dari lingkungan, panas atau dingin. Kita harus menjelaskan
siapa diri kita dan apa yang akan kita lakukan. Dan rencana selanjutnya
(apabila korban tidak mengenal kita dan dalam keadaan sadar)
Langkah 5. Tentukan apakah ada cidera lain. Tujuan untuk menemukan
semua cidera yang terjadi baik itu cidera besar maupun kecil. Hal ini dilakukan
setelah keadaan yang mengancam jiwa ditangani dan korban dapat diperiksa
lebih lanjut dan seksama
Langkah 6. Tentukan langkah apa yang harus dikerjakan. Tujuan untuk
mengorganisir aktivitas, sehingga dapat dilakukan perawatan maksimum
dengan usaha yang sesedikit mungkin. Ini dilakukan setelah tindakan-tindakan
di atas selesai, kemudian merencanakan tindakan selanjutnya. Penanggung
jawab harus mengevaluasi cidera yang terjadi pada korban, cuaca dan lokasi
kegiatan serta alat transportasi yang ada.

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

18

Langkah 7. Laksanakan apa yang telah direncanakan. Tujuan untuk


menyelesaikan perawatan korban dan memastikan keseleamatan dan
kesejahteraan anggota lainnya. Setelah evaluasi yang menyeluruh dari situasi
kecelakaan dan perkembangan korban, anggota kelompok disiapkan untuk
membantu

melaksanakan

rencana

yang

sudah

disusun.

(apabila

direncanakan untuk melakukan evakuasi seorang diri diperlukan pemeriksaan


dan observasi menyeluruh)
Pada suatu kecelakaan ada beberapa urutan tindakan yang harus dilakukan dan
merupakan standar yang harus dilakukan oleh seorang penolong. Urutan
tindakan

ini

dilakukan

karena

terdapat

pola-pola

tertentu

yang

dapat

menyebabkan kematian pada korban kecelakaan. Pola tersebut adalah kelainan


jalah nafas seperti sumbatan jalan nafas yang lebih cepat menimbulkan kematian
daripada

kelainan

bernafas.

Sedangkan

kelainan

bernafas lebih

cepat

menimbulkan kematian daripada pendarahan, urutan selanjutnya adalah darah


yang banyak di rongga kepala. Karena itu dikenal adanya prioritas dalam
menangani penderita trauma yang dikenal sebagai resusitasi ABC. Tindakantindakan ini dapat dibagi dalam tindakan umum yang harus dilakukan pada
setiap kecelakaan dan tindakan-tindakan khusus yang dititikberatkan pada suatu
tindakan tertentu pada kejadian alam terbuka.
Secara umum langkah-langkah yang harus diperhatikan pada setiap korban
kecelakaan adalah :
A: Airway with Cervical Spine Control
B : Breathing Support
C : Circulation with Bleeding Control
D : Disability
E : Exposure and Enviromental Control
Dalam kegiatan di alam terbuka dimana peralatan kesehatan tidak ada maka
sudah seharusnyalah setiap penggiat di alam terbuka dapat melakukan kegiatan
resusitasi jantung paru atau resusitasi ABC yang lebih dikenal nama bantuan
hidup dasar (basic life support)

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

19

A : Airway with Cervical Spine Control (membebaskan jalan nafas dengan


mempertahankan kondisi leher)
Pada setiap korban kecelakaan yang harus kita perhatikan pertama kali apakah
korban dapat bernafas atau tidak. Seseorang dapat bernafas dengan baik jika
jalan nafasnya tidak mengalami gangguan atau hambatan. Jalan nafas adalah
tempat masuknya udara mulai dari mulut atau hidung sampai paru-paru
Untuk korban yang sadar, kita dapat melihat apakah korban masih dapat
berbicara atau tidak karena jika korban masih dapat berbicara, maka dapat
dipastikan bahwa korban tidak mengalami sumbatan jalan nafas, tetapi jika
korban tidak sadar, kita dapat memeriksa seseorang dapat bernafas atau tidak
dengan melihat adanya pergerakan pada dinding dada korban atau meletakkan
punggung tangan di atas hidung dan mulut lalu merasakan hembusan nafas
korban atau melihat uap pernafasan pada kaca jam tangan atau cermin. Apabila
kita sebagai penolong tidak dapat merasakannya, kita harus membebaskan jalan
nafas korban terlebih dahulu dengan cara menengadahkan kepala kemudian
chin lift atau jaw thrust (mengangkat dagu dan mendorong rahang bawah ke arah
depan)
Apabila ada benda yang menimbulkan sumbatan pada jalan nafas,dapat
dikeluarkan dengan mengguakan jari seperti mengait tetapi harus hati-hati agar
tidak terdorong semakin dalam dan semakin menyumbat tenggorokan. Jika
benda yang menyumbat itu tidak dapat dikeluarkan dengan cara mengait maka
benda yang menyumbat itu harus dikeluarkan dengan memberikan tekanan
positif pada rongga dada dan pada rongga perut (Haemlich Manuifer)

Gambar Haemlich Manuifer

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

20

Selama memeriksa dan membebaskan jalan nafas, jika tidak diketahui ada atau
tidak kelainan pada tulang leher dan korban tidak sadar sehingga tidak dapat
memberikan

keterangan

menengadahkan,

keluhan

nemundukkan

pada

atau

leher

penolong

memutarkan

kepala

tidak

boleh

yang

dapat

menimbulkan perubahan pada leher. Jika didapat kecurigaan terdapat cidera


pada tulang leher, maka diperlukan immobilisasi tulang leher dan kepala dengan
mempertahankan posisi kepala. Cara-cara yang dapat dilakukan di lapangan
antara lain menahan kepala dengan tangan untuk sementara membuat ganjal di
kedua sisi kepala dengan baju, handuk atau benda lain yang dapat menahan
kepala agar tidak bergerak. Atau dengan membuat Collar Neck yaitu penopang
leher berbentuk cincin yang mengelilingi leher agar tidak bergerak dapat dibuat
dari handuk, kertas yang digulung atau matras yang dipotong dan digulung
dengan ukuran lebar 10 14 cm kemudian dipasangkan pada leher dengan
bagian depan lebih lebar kemudian diikat dengan tali.

Gambar Collar Neck


B : Breathing Support (Bantuan Pernafasan)
Setelah kita yakin bahwa jalan nafas korban
sudah bebas, tidak mengalami hambatan, kita
kembali menilai apakah korban telah bernafas
atau tidak. Jika korban sudah bernafas, kita
perlu

mempertahankan

keadaan

tersebut,

tetapi jika korban belum dapat bernafas atau


pernafasannya belum optimal (<10x per menit), kita perlu untuk memberikan
bantuan pernafasan dengan cara : pemberiaan bantuan pernafasan dari mulut ke
mulut, tapi bila waktu meniup ke dalam mulut timbul sumbatan atau mulut sukar
dibuka, maka pernafasan dapat dilakukan mulut ke hidung.

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

21

Langkah-langkah dalam melakukan pernafasan buatan


1. Jalan nafas telah dalam keadaan
bebas dari sumbatan
2. Tutup hidung korban dengan dua jari,
untuk

mencegah

kebocoran

saat

dilakukan pernafasan buatan


3. Ambil nafas dalam, rapatkan mulut penolong melingkari mulut korban,
hembuskan nafas ke dalam mulut korban sambil melihat pergerakan dada
korban (buka pakaian korban untuk memudahkan penilaian). Jika dada
korban terlihat naik, hentikan hembusan dan lepaskan mulut penolong dari
mulut korban, biarkan korban menghembuskan udara dari dada korban
secara pasif lakukan 3-5 kali. Bila saat menghembuskan dada korban tidak
terlihat naik, udara masuk ke lambung, hal ini dapat terjadi karena jalan nafas
tidak terbuka dengan baik. Keadaan ini harus diperbaiki karena selain
bantuan pernafasan tidak efisien, juga hembusan udara ke lambung dapat
mengakibatkan muntahan yang jika masuk ke dalam saluran nafas dapat
mengakibatkan kematian.
4. Pemberian bantuan nafas ini dilakukan dalam 5 detik.
C: Circulation with Bleeding Control (Bantuan Sirkulasi)
Bantuan sirkulasi dilakukan pada korban dengan henti jantung. Henti jantung
dapat diketahui jika didapatkan korban dalam keadaan :
1. Tidak sadar
2. Henti nafas
3. Tidak teraba denyut nadi pada pembuluh darah besar (korban dalam
keadaan syok)
Hilangnya kesadaran akan terjadi 15 20 detik setelah henti jantung. Perabaan
nadi hendaknya dilakukan pada pembuluh darah besar (pada leher, pergelangan
tangan, atau pangkal paha)

Gambar Perabaan Nadi

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

22

Teknik bantuan sirkulasi

1. Penolong berlutut pada salah satu


sisi korban atau pada sisi yang
berlawanan bila ada dua penolong

2. Tempatkan pangkal sebelah tangan


penolong pada 1/3 bagaian bawah
tulang dada korban dan tempatkan
pangkal tangan yang lain di atas
tangan yang lain

3. Dorong tulang dada tegak lurus ke bawah ke arah tulang punggung dengan
gerakan pada pinggul menggunakan berat badan kira-kira 4 5 cm

4. Pertahankan posisi tersebut kurang lebih detik, kemudian lepaskan


tekanan dan tunggu selama detik lagi

5. Penekanan berikutnya dilakukan 60 kali permenit bila pertolongan dilakukan


oleh dua oragn dan 80 kali per menit bila dilakukan oleh satu orang

6. Evaluasi setelah dilakukan RJP selama 1 menit (4 siklus) dengan memeriksa


pernafasan dan nadi pada arteri leher selama 5 detik.
Frekuensi pemberian nafas buatan dan
penekanan

jantung

adalah

kali

penekanan jantung dan 1 kali nafas


penolong

dua

orang.

Dan

15:2

bila

penolong satu orang. Tindakan bantuan


hidup dasar adalah tindakan medis darurat
sederhana yang dapat dilakukan tanpa alat
dan sesuai dengan keterbatasan sarana
Resusitasi Jantung Paru

dan sumber daya yang dimiliki di lapangan.

D : Disability (Evaluasi Gangguan Neurologis)


Pada akhir pemeriksaan awal seperti di atas, dilakukan evaluasi terhadap
keadaan neurologis secara cepat. Yang dinilai disini adalah tingkat kesadaran
korban dengan metode AVPU, yaitu :
A : Alert (sadar)
V : Verbal Respon (reaksi terhadap rangsang suara)
P : Pain Respon (reaksi terhadap rasa sakit)
U : Unresponsive (tidak ada reaksi)

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

23

Korban dalam keadaan sadar menunjukkan kondisi korban yang lebih baik tetapi
jika korban dalam keadaan tidak sadar maka penolong harus lebih waspada dan
perlu lebih waspada. Dan perlu dilakukan tindakan-tindakan pengamanan dan
pemeriksaan lebih lanjut untuk mencari kelainan lain.
Penurunan kesadaran dapat disebabkan oleh penurunan oksigen dalam darah
ke otak atau disebabkan oleh cidera langsung pada otak. Penurunan kesadaran
menuntut dilakukannya evaluasi ulang terhadap keadaan pernafasan, denyut
jantung dan aliran darah. Tanda lain terjadinya ganguan-gangguan pada sistem
saraf adalah pupil mata yang tidak sama antara pupil kanan dan kiri, tidak
bereaksi terhadap rangsang cahaya, melebar atau mengecil menunjukkan
kelainan pada otak. Kelumpuhan atau perasaan baal/kebal menunjukkan adanya
kerusakan pada tulang belakang.
Pada keadaan ini kita harus cepat membawa korban ke pusat pelayanan
kesehatan yang mempunyai peralatan pemeriksaan otak yang cukup lengkap.
E : Exposure and Enviromental Control (memeriksa korban secara
menyeluruh dan menjaga kondisi korban)
Apabila korban telah dipastikan dan dapat bernafas dan teraba denyut nadinya,
kita teruskan ke langkah berikutnya dengan memeriksa seluruh tubuh korban
dan fungsi-fungsi tubuh lainnya (jika perlu seluruh pakaian korban dibuka).
Pemeriksaan dapat dengan inspeksi (melihat secara keseluruhan dari atas
sampai ke bawah) dan dapat dilanjutkan dengan korban menggerakkan seluruh
anggota gerak badan apabila mampu, apabila ada trauma kepala atau patah
tulang pemeriksaan tubuh bagian belakang harus dilakukan secara Log Rolled
(dibalikkan secara bersamaan dengan posisi kepala dan leher sejajar dengan
batang tubuh). Selanjutnya korban dipertahankan kondisinya dalam keadaan
aman dan stabil termasuk membuka dan mengganti pakaian korban bila basah
dan melindungi korban dari pengaruh lingkungan. Setelah korban dalam
keadaan stabil dapat dilakukan evakuasi.
KEADAAN-KEADAAN KHUSUS
Setelah penanganan secara umum di atas dilakukan, perlu diperhatikan kondisikondisi khusus pada kasus kecelakaan. Adapun kasus-kasus yang sering terjadi
pada kegiatan alam terbuka antara lain :

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

24

Hipotermia
Hipotermia adalah suatu keadaan dimana suhu tubuh jatuh ke dalam suhu di
bawah normal.
Penyebab hipotermia antara lain :

1. Tubuh terendam dalam air bersuhu di bawah titik beku dimana kejadian
hipotermia akan cepat berlangsung

2. Hipotermia akan berlangsung perlahan apabila berada/kontak lama dalam


lingkungan suhu dingin

3. Hipotermia lebih mudah terjadi pada bayi, orang tua, kelelahan, kelaparan,
ketakutan, tubuh basah, terkena angin dingin dan kekurangan oksigen (pada
ketinggian)
Gejala-gejala hipotermia :
1. Penurunan suhu tubuh dengan tanda-tanda korban teraba dingin dan tampak
kelabu dan kebiruan ataupun pucaaat
2. Tanda-tanda vital : frekuensi nadi, kuat atau lemahnya denyut nadi, suhu
tubuh dibandingkan dengan orang normal dan pernafasan berubah dari
normal (bervariasi nilainya)
3. Korban dapat mengalami penurunan kesadaran : mengantuk, mengigau
(linglung) atau tidak sadar
Penanganan
1. Yang harus diperhatikan pertama kali adalah ABC, terutama jalan nafas, bila
ada henti jantung atau henti nafas lakukan RJP
2. Cegah kehilangan panas dengan memindahkan korban dari lingkungan
dingin. Korban dengan hipotermia

ringan biasanya berespon terhadap

penghangatan dari luar, dengan melepaskan baju yang basah dan dingin,
kemudian dipakaikan selimut/jaket hangat (biasanya juga dengan sleeping
bag), dekatkan ke perapian
3. Beri air minum air gula hangat
4. Segera evakuasi sambil memonitor keadaan umum (kesadaran, pernafasan
dan denyut jantung)

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

25

Hipoglikemi
Adalah keadaan dimana kadar gula darah rendah karena kekurangan zat
termasuk cadangan dalam tubuh. Keadaan ini bisa terjadi pada korban yang
lama tidak makan atau minum yang mengandung zat gula, dalam lingkungan
yang dingin dalam waktu cukup lama.
Gejala hipoglekemi :
Keringat dingin, pusing, penglihatan kabur, kehilangan kemampuan untuk
bergerak, kejang, jantung berdebar, cemas, gelisah, tremor, bingung bahkan
tidak sadar. Keluhan tersebut akan hilang atau berkurang dengan pemberian zat
gula.
Penanganan
1. Baringkan korban tanpa bantal
2. Jaga jalan nafas bila ada berikan oksigen, jika terjadi henti jantung dan atau
henti nafas lakukan kembali RJP seperti penanganan keadaan umum
3. Jika korban sadar dan dapat minum atau makan, dapat diberikan makanan
kaya kandungan glukosa (makanan dan minuman manis atau yang
mengandung zat gula/pati)
4. Korban harus tetap diusahakan dalam keadaan sadar, baik itu dengan cara
dibangunkan ataupun pemberian rangsang sakit, hangatkan korban secepat
mungkin di evakuasi ke instansi kesehatan terdekat untuk mendapatkan
pertolongan lebih lanjut.
Dehidrasi
Adalah kekurangan cairan yang disebabkan oleh kurangnya pemasukan cairan
dan atau pengeluaran cairan yang berlebihan. Keadaan ini dapat terjadi pada
orang yang melakukan aktivitas berat dalam waktu yang lama tanpa
mengkonsumsi cukup cairan yang dapat menggantikan cairan yang hilang.
Dehidrasi juga dapat terjadi pada orang yang menderita diare karena cairan
banyak terbuang melalui sistem pencernaan terganggu atau pada orang yang
demam. Bahaya lain dari dehidrasi adalah terganggunya keseimbangan elektrolit
tubuh dan dapat menjadi penyulit pada keadaan dehidrasi. Dehidrasi juga
mempermudah timbulnya keadaan bahaya lain seperti kram otot, heat stroke dan
syok.

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

26

Bila menemukan korban dengan tanda-tanda dehidrasi pada semua tingkat


harus segera dilakukan penanganan karena keadaan ini dapat segera berubah
menjadi keadaan yang lebih berat.
Penanganan
Segera hindarkan korban dari keadaan yang dapat mengakibatkandan
memperberat dehidrasi, kemudian jika korban dalam keadaan sadar segera
berikan cairan yang ditambahkan gula dan sedikit garam (larutan gula garam =
LGG), oralit atau minum sebanyak-banyaknya untuk menggantikan kehilangan
cairan. Hati-hati pada orang yang kurang kooperatif atau yang tidak sadar karena
bisa tersedak dan mengakibatkan kondisinya memburuk.
Tabel tanda-tanda terjadinya dehidrasi sesuai dengan derajatnya
Gejala Klinik
Kesadaran
Nadi
Pernafasan
Elastisitas kulit
Tangan/kaki
Selaput lendir mulut
Rasa haus
Air seni

Ringan
Sadar
Normal

Sedang
Mengantuk/apatis
Agak cepat

Berat
Tidak sadar
Cepat/susah

Normal
Normal
Hangat
Basah
+
Normal/turun

Agak cepat
Agak turun
Agak dingin
Kering
++
Sedikit

teraba
Lambat
Sangat turun
Dingin kebiruan
Sangat kering
Tidak dapat dinilai
Tidak ada

Heat Stroke
Adalah gangguan pada tubuh yang disebabkan oleh sengatan panas akibat
kegiatan fisik di lingkungan suhu udara atau cuaca yang sangat panas, sehingga
menimbulkan ganguan hebat pada sistem pengaturan tubuh disetai tanda-tanda
khas yaitu :
1. Kenaikan suhu badan yang tinggi
2. Kejang
3. Penurunan kesadaran, koma bahkan kematian
Gejala-gejala heat stroke :
-

Gejala permulaan : lemah atau lelah, sakit kepala, pusing, mual, muntah
dan keluar banyak keringat.

Gejala lanjutan : korban menjadi pasif (malas untuk berkomunikasi),


muntah yang hebat, suhu tubuh menjadi sangat panas (> 41C), nadi
sangat cepat, kejang pada bagian tubuh tertentu, kulit menjadi merah,
panas dan kering.

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

27

Gejala kritis : syok, kesadaran semakin menurun, pupil membesar, kejang


pada seluruh tubuh.

Penanganan heat stroke :


1. Jaga jalan nafas tetap bebas, pernafasan tetap baik (ABC) lakukan RJKP
bila perlu
2. Kenali gejala heta stroke secara dini, pindahkan ke tempat teduh,
baringkan korban, longgarkan pakaian dan perlengkapannya.
3. Apabila tidak ada alat pengukur suhu tubuh, kita dapat membandingkan
suhu tubuh korban dan kita sebagai penolong
4. Dinginkan tubuh korban dengan segera sampai suhu tubuh kira-kira
38,5C dengan mengompres tengkuk dengan air dingin, jika perlu siram
tubuh korban dengan air dingin dan bila mungkin beri cukup air minum
5. Keringkan tubuh korban untuk mencegah korban jatuh ke dalam kedaan
hipotermi
6. Monitor suhu tubuh setiap 5 menit, jaga korban tetap dalam keadaan
sadar
Syok
Adalah suatu keadaan karena kolapsnya sistem peredaran darah jantung
beserta kapilernya. Biasanya syok terjadi pada trauma yang berat dengan
pendarahan

atau

kehilangan

cairan

yang

banyak.

Trauma

yang

bisa

menyebabkan syok misalnya cedera pada tulang belakang atau reaksi alergi
yang hebat. Pada keadaan syok terjadi isufisiensi atau ketidak seimbangan
suplai darah sehingga suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan-jaringan tubuh
terhambat atau berkurang.
Korban biasanya terlihat lemah, cemas atau gelisah karena suplai oksigen ke
otak berkurang. Denyut nadi meningkat karena kerja jantung meningkat untuk
memberikan suplai ke organ-organ tubuh yang penting. Penanganan syok harus
sedini mungkin karena dapat meyebabkan kematian dan harus segera
dievakuasi ke rumah sakit terdekat.
Jaga suhu tubuh korban dengan cara menyelimuti korban dan menghindarkan
korban dari dasar yang dingin. Pada daerah bertemperatur tinggi korban harus
dilindungi dari sengatan matahari. Korban syok dengan penurunan kesadaran
atau penurunan rasa nyeri harus diteliti kemungkinan mempunyai trauma atau
cedera lain.

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

28

Penanganan selanjutnya yang harus dilakukan adalah memindahkan pasien


dengan gerakan minimal. Untuk memperlancar peredaran tubuh, baringkan
penderita dengan tungkai ditempatkan lebih tinggi dari kepala.
Gejala dan tanda syok
- Tanda dini

: Lemah, pucat dan denyut nadi meningkat

- Gejala lambat

: Haus, mual dan gelisah

- Tanda Lambat

: Apatis, Kulit dingin lembab, pernafasan cepat dan

dangkal, kelopak mata pucat dan pupil membesar


Penanganan
1. Bebaskan jalan nafas dan pertahankan keadaan ini
2. Tentukan pendarahan bila ada dan segera diatasi untuk mencegah
memberatnya syok
3. Jaga suhu tubuh
4. Letakkan korban dalam posisi tungkai berada lebih tinggi dari kepala,
untuk membantu sirkulasi darah
5. Hindarkan gerakan yang berlebihan pada korban
6. Cek dan catat secara rutin tanda vital pada pasien (tekanan darah, nadi,
pernafasan dan suhu tubuh bila peralatan memungkinkan)
7. Bila korban dalam keadaan sadar, berikan penambahan cairan dengan
memberi minum (hati-hati agar korban tidak tersedak) dan jaga korban
bila muntah
8. Evakuasi korban ke pusat pelayanan
Trauma Otot dan Tulang
Luka
Luka adalah jenis trauma yang sering terjadi, baik oleh kekuatan mekanis,
kimiawi, listrik atau sebab-sebab dari luar lainnya. Akibat trauma ini tidak saja
dapat mengenai kulit tapi dapat mengenai jaringan dibawahnya seperti otot, urat
syaraf, pembuluh darah, tulang dan organ-organ lainnnya.
Yang paling penting adalah kita harus menentukan jenis-jenis luka dan
bagaimana penangannya. Luka dapat dibagi ke dalam jenis dan penangannya :
1. Luka yang bersih (luka yang dapat sembuh sendiri)
2. Luka yang cenderung infeksi

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

29

3. Luka kotor
Luka jenis 2 dan 3 perlu mendapatkan perawatan yang baik, sebaiknya oleh
tenaga kesehatan.
Penanganan secara umum :
Prinsip penanganan luka adalah mengontrol pendarahan dan mencegah infeksi.
Apabila kita menemui korban dengan luka, yang harus pertama diperhatikan
adalah :
1. Kedasaran ABC bersama pemeriksaan keadaan umumj
2. Periksa bagian tubuh yang lain, apakah ada patah tulang, hati-hati bila
ada nyeri atau memar di daerah leher, pinggang dan perut
3. Untuk luka didaerah muka dan dagu harus waspada akan masuknya
darah kedalam saluran nafas.
4. Hentikan pendarahan dengan cara balut tekan didaerah luka
5. Lakukan penilaian terhadap luka, jenis luka apa, dibagian tubuh yang
mana, apakah ada penyulit atau tidak. Jika terdapat luka di daerah dada
atau perut harus berhati-hati akan kemungkinan terdapat luka yang
terdapat didalam organ-organ dalam yang tidak bisa kita lihat
6. Lakukan perawatan sesuai jenis luka
7. Jangan pegang luka dengan tangan terbuka, pakailah perban steril/bersih
atau tutup dengan kain bersih
8. Jangan biarkan luka terbuka (tutup dengan kasa steril atau kain bersih
lainnya)
9. Penanganan luka harus baik (dalam 6-8 jam pertama karena bisa
mengurangi resiko infeksi)
10. Setelah keadaan korban stabil, pindahkan korban ke daerah yang lebih
aman. Untuk luka di daerah punggung, hati-hati untuk kemungkinan patah
tulang daerah tulang belakang.

Luka memar
Penanganan :
1. Cari penyebabnya.

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

30

2. Jika terletak di daerah anggota gerak, adakah tanda-tanda patah tulang


(kelainan bentuk dibandingkan dengan sisi disebelahnya, nyeri apabila
digerakkan atau apabila ditekan), jika ada lakukan pemasangan
spalk/bidai dengan benar.
3. Bila terdapat di daerah dada, di perut atau pinggang (tindakannya dengan
melindungi daerah yang terluka agar tidak menjadi parah dan
membahayakan korban kemudian bawa segera ketempat pelayanan
kesehatan).
4. Jika tidak ada tanda-tanda seperti diatas lakukan pembalutan tekan dan
dapat diberikan obat untuk penghilang rasa sakit.
Luka Sayat, Luka Lecet, dan Luka Tusuk
Luka ini disertai pendarahan terutama timbul karena pecahan kaca atau pisau,
juga dapat disertai dengan putusnya salah satu luka otot, bila cukup lebar
lakukan penjahitan pada luka ini. Jangan bubuhkan apapun pada luka. Jika luka
kotor bersihkan dengan air bersih dan mengalir, lalu segera tutup dengan kasa
steril atau kain yang benar-benar bersih lalu dibawa ke saran kesehatan.
Apabila terjadi pendarahan yang banyak :
1.

Baringkan korban, perhatikan darah yang mengalir ke jalan nafas (jika


ada darah di daerah muka atau kepala).

2.

Lindungi luka dengan perban tebal dan bersih, balut tekan pada bagian
luka.

3.

Tinggikan

daerah

yang

berdarah

untuk

mengurangi

derasnya

pendarahan.
4.

Singkirkan pakaian yang menghalangi daerah tersebut untuk menilai


kondisi luka.

5.

Warna darah yang merah segar dan mengalir deras kadang berdenyut
merupakan pendarahan arteri. Sedangkan yang paling banyak adalah
pendarahan vena dan berwarna merah gelap dan berasal dari bagian bawah
luka. Untuk pendarahan dari arteri bisa difunakan tekanan tangan/jari pada
daerah pangkal atau luka dengan menggunakan torniket yang diikat selama 1
menit dan dikendurkan selama 5 menit berselang-selang namun keadaan ini
tidak dianjurkan dan hanya dilakukan untuk keadaan yang sangat terpaksa
seperti pendarahan hebat dimana pendarahan tidak berhenti dengan balut
tekan dan penekanan arteri pangkal dan luka.

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

31

6.

Untuk luka tusuk, jangan berusakan mencabut benda yang menusuk


tubuh, karena dapat menimbulkan luka yang terbuka sehingga menjadi infeksi
atau timbul pendarahan. Buat bantalan bulat untuk mencegah perban
menyentuh luka. Untuik membuat bantalan lilitkan ujung perban ke jari
membentuk lingkaran, buatlah lilitan melingkar di setiap ujungnya ke atas dan
kebawah letakan diatas tempat yang terkena tusukan (jika tusukan atau
pecahan kaca/benda-benda kecil lainnya).

Gambar: Cara Membuat Bantalan Balutan


Luka Gigitan Ular Berbisa
Gigitan ular berbisa biasanya meninggalkan 2 luka tusukan, adakalanya luka
tusukan hanya satu jika ular yang menyerang dari satu sisi. Bisa ular terdiri atas
3 macam : Kardiotoksik (racun bagi jantung), Neurotoksik (racun bagi urat
syaraf), dan Hematotoksik (racun bagi sel-sel darah).
Penanganan luka gigitan ular berbisa :
Luka yang diakibatkan oleh gigitan ular berbisa dapat berkibat fatal apabila
korban tidak ditangani sebaik-baiknya. Tindakan tepat untuk mengatasi gigtan
ular berbisa adalah dengan menyuntikan Serum Anti Bisa Ular (SABU) agar bisa
tersebut dapat dinetralkan. Jika serum tidak ada maka hal yang perlu dilakukan
adalah :
1. Tenangkan korban.
Baringkan korban dan jaga agar korban tidak melakukan banyak aktivitas
karena dapat mempercepat penyebaran bisa dalam tubuh korban.
2. Luka dibersihkan.
3. Pasang torniquet (pita pengikat) pada daerah yang lebih dekat jantung.
Pengikat tidak perlu terlalu dekat, sebab tujuan pengikatan hanya untuk
memperlambat

peredaran

bisa

dalam

darah,

dan

bukan

menghentikannya. Peta pengikat dibuka setiap 5-10 menit sekali dengan


tujuan agar tidak terjadi kematian jaringan.

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

32

4. Mengeluarkan bisa ular dengan melakukan penghisapan darah pada


daerah luka irisan dengan menggunakan alat penghisap (sangat
dianjurkan untuk tidak menghisap bisa ular dengan mulut karena apabila
terdapat lubang pada gigi atau luka pada mulut dapat mengakibatkan bisa
masuk kedalam tubuh dan meracuni penolong).
Hal yang harus dipertimbangkan untuk melakukan perlakuan yang efektif :

Memperlambat penyerapan (absorpsi) bisa ular.

Memindahkan sebanyak mungkin bisa ular dari luka.

Menetralisir bisa ular.

Mencegah/mengurangi akibat dari bisa ular.

Mencegah komplikasi, termasuk bisa kedua.

Bila kita seorang diri, hal yang harus dilakukan adalah :

Jangan panik.

Perkirakan ular yang menggigit kita berbisa atau tidak.

Bila berbisa, perkirakan berapa keras bisa ular tersebut.

Perkirakan waktu sebelum pertolongan datang.

Hitung kecepatan, bila harus berjalan ketempat terdekat.

Berusahalah sebaik mungkin.

Obat yang biasa digunakan untuk menawarkan bisa :

Aspirin untuk menghilangkan rasa sakit

Vitamin B kompleks dan parasetamol untuk menghilangkan rasa nyeri


dan panas

Antivenin Polyvalent merupakan serum anti bisa yang bersifat umum

Antivenin Taipan, serum untuk gigitan ular Taipan

Antivenin Brown Snake, serum untuk gigitan ular Mulga

Antivenin Papuan Black Snake, serum untuk gigitan ular hitam Irian

Hal yang harus diingat :

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

33

Ular takut kepada manusia ketimbang sebaliknya, berikan kesempatan


ular untuk mundur

Belajar mengenali ular berbisa di daerah operasi. Usahakan untuk tidak


membunuh ular yang tidak berbisa

Jangan berjalan di malam hari. Banyak ular berbisa yang aktif di malam
hari

Jika terpaksa harus berjalan di malam hari, pakailah sepatu boot untuk
melindungi kaki

Ular biasanya menghindari sinar matahari langsung. Sangat aktif pada


temperatur sedang (25-28 C)

Hindari gua-gua, lubang-lubang terbuka dan daerah ular yang diketahui.


Ular tinggal di daerah yang terlindung

Ular berbisa dapat ditemui pada ketinggian, juga dapat memanjat pohon
dan pagar

Berjalanlah di jalan setapak yang telah ada. Hindari semak belukar.


Gunakan pakaian-pakaian yang melindungi bila masuk daerah-daerah
bersemak

Hindari berjalan sendiri di daerah yang terkenal banyak ularnya

Luka Bakar
Luka bakar dibagi dalam beberapa derajat luka bakar :
Derajat I

Rusak pada kulit ari

Kulit tampak kering, kemerahan, tidak bergelembung, terasa sakit oleh


karena ujung syaraf tidak rusak

Dapat sembuh dalam 5 10 hari misalnya kulit yang terkena panas sinar
matahari atau benda yang tidak terlalu panas

Derajat II

Rusak pada daerah kulit ari dan kulit bagian dalam

Kulit tampak bergelembung, kemerahan dan terasa sakit

Penyembuhan dalam 10-14 hari atau dapat lebih dalam 1 bulan

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

34

Derajat III

Rusak pada seluruh kulit ari, kulit bagian dalam dan lapisan dibagian
dalamnya

Tampak jaringan putih, pucat atau gosong dan tidak sakit

Hati-hati pada luka bakar tingkat ini apabila mengelilingi anggota gerak karena
dapat menyebabkan jepitan pembuluh darah yang bisa menimbulkan kematian
anggota gerak bagian bawah yang terkena. Untuk penderita dengan luka ini
harus dirawat di sarana kesehatan yang baik.
Untuk memastikan luas luka bakar pada orang dewasa, tubuh dapat dibagi
menjadi beberapa bagian yang luasnya 9% atau kelipatannya.
Penjumlahan bagian-bagian yang dikenai luka bakar, menunjukkan luasnya luka
bakar tersebut. Penbagian luka bakar :
Luka bakar berat (kritis)

Luka bakar derajat II > 25%

Luka bakar derajat III pada muka, tangan dan kaki atau > dari 10% di
tempat lain

Luka bakar disertai trauma jalan nafas, trauma keras jaringan lunak dan
patah tulang

Luka bakar karena listrik

Luka bakar sedang

Luka bakar derajat II (15 25%)

Derajat III<10% kecuali lengan, muka dan kaki

Luka bakar ringan

Derajat II<15%

Derajat III<2%

Penanganan Luka Bakar


1.

Jauhkan atau menghentikan hubungan korban dengan sumber


panas. Dapat dilakukan dengan cara : menyiram dengan air, menutup
dengan kain basah (hati-hati jangan sampai korban jatuh ke dalam keadaan
hipotermi dan menyiram anggota tubuh yang terbakar apabila <1/2 jam dari
waktu kejadian)

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

35

2.

Melakukan kompres dengan air dingin. Dalam melakukan


kompres dengan air dingin. Dalam melakukan kompres luka perlu
diperhatikan agar luka tetap selalu bersih untuk mencegah terjadinya infeksi
yang akan memperburuk luka

3.

Rasa sakit akan berkurang jika korban diletakkan pada posisi


yang baik

4.

Menutup luka dengan kain steril. Dalam menutup luka bakar tidak
boleh digunakan alat pembalut yang terlalu menyerap air (kapas), karena
akan lengket dengan luka

5.

Pada korban yang gelisah menunjukkan kekurangan oksigen,


untuk itu perlu diberikan udara segar

6.

Perlu dilakukan langkah-langkah pencegahan syok

7.

Evakuasi korban. Pada korban luka bakar berat dan sedang harus
segera dibawa ke instansi terdekat.

Kram Otot
Adalah kerutan terus menerus pada satu atau beberapa otot yang terjadi secara
tiba-tiba dan tidak dikehendaki dan disertai raa nyeri yang hebat.
Kram otot bisa disebabkan oleh kelelahan, kedinginan (Hipotermi), kepanasan
(Hipertermi), atau gula darah yang rendah (Hipoglikemi) atau oleh karena
kekurangan atau kelebbihan garam-garam.
Korban biasanya mengeluh otot atau anggota geraknya terasa tegang/kejang
atau sakit bila digerakan. Dalam tanya jawab mungkin didapat bahwa
sebelumnya korban telah melakukan pekerjaan yang berat, kedinginan,
kepanasan, atau setelah mengalami diare atau muntah-muntah. Kejang otot
harus dibedakan karena kejang epilepsi atau ayan.
Penanganan :
Apabila ditemukan korban dengan kram otot, kita harus terlebih dahulu tahu apa
penyebab kram otot tersebut, jika disebakan oleh regangan yang harus dilakukan
pertma kali adalah istirahatkan organ yang bersangkutan, lakukan kompres es
atau elevasi (ditinggikan).
Meregangkan otot :

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

36

Otot betis atau/paha belakang : jinjit, melemaskan kaki dan memijit otot
atau korban berada dalam posisi tengkurap, lutut ditekuk lalu tungkai
ditekan kebawah 3-4 menit sampai korban merasa ototnya lemas
kembali.

Otot paha depan : korban dalam posisi telentang, tekuk paha sampai
mendekati dada, tekuk juga tungkai tekan kebawah 3-4 menit.

Otot betis depan/ otot punggung kaki: posisi duduk, kaki lurus, telapak
kaki ditekuk, tahan 3-4 menit.

Otot perut: korban dalam posisi berbaring terlentang. Angkat seluruh


badan korban pada daerah perut sampai setinggi + 20 cm dari
permukaan tanah lalu dalam posisi tersebut tahan + 30 detik turunkan
lagi, ulangi sampai korban merasa ototnya menjadi lemas.

Dapat juga diberikan:

Oralit untuk kekurangan garam-garam (elektrolit)

Jika disebabkan oleh hipotermi, tanggulangi sebagai hipotermi.

Apabila belum pulih pikirkan sebab llain karena mungkin memerlukan


tindakan secepatnya di rumah sakit.

Terkilir / Keseleo dan Patah Tulang


Biasanya korban mengeluh tangan atau kakinya tidak bisa digerakkan dan terasa
nyeri.

Yang

harus

diperhatikan

adalah

anggota

gerak

tersebut

harus

diistirahatkan lalu ditempatkan pada posisi yang seharusnya dan tidak boleh
digerakkan. Selain itu harus diperhatikan bagian anggota gerak mana yang
terkena, karena bagian yang berbeda memerlukan penanganan yang berbeda
pula.
Patah Tulang
Patah tulang adalah: hilangnya kontinuitas (kesinambungan) tulang. Bila patah
tulang terjadi pada seseorang dapat timbul: syok, kecacatan, kematian.
Berdasarkan hubungan dengan dunia luar patah tulang dibagi menjadi patah
tulang terbuka dan tertutup.

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

37

Patah tulang terbuka adalah: kulit luka ada hubungan antara tulang dengan
dunia luar, atau dengan kata lain kulitnya tetap utuh. Patah tulang bisa
disebabkan oleh:

Kekuatan langsung yaitu oleh benda tumpul atau tajam sehingga tulang
terjadi pada tempat yang terkena.

Kekuatan tidak langsung yaitu jika disebabkan oleh kekuatan awal


diteruskan secara langsung melalui satu atau lebih persendiaan sehingga
patah tulang terjadi tidak pada tempat yang terkena

Tekanan atau benturan berulang

Korban biasanya mengeluh terasa nyeri terutama bila anggota badan yang
mengalami patah tulang digerakkan atau tampak kelainan bentuk dari anggota
badan karena trauma, selain itu juga korban bisa mengeluh lecet atau memar
dan bengkak. Adanya keluhan lain juga harus ditanyakan dan diperiksa berupa
rasa baal atau hilangnya kemampuan untuk bergerak, kulit pucat atau kebiruan
pada jari-jari tangan/mulut bahkan mungkin hilang kesadaran
Penanganan :
Pada korban patah tulang setiap gerakan pada daerah yang terluka dapat
menyebabkan rasa nyeri hebat yang bisa menyebabkan syok dan dapat
menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Oleh karena itu pada luka terbuka
harus dilakukan penanganan agar tidak terjadi gerakan pada daerah patah
tulang
1. Letakkan daerah yang luka di posisi yang nyaman dengan sesedikit mungkin
gerakan
2. Jika ada pendarahan segera atasi dengan balut tekan
3. Buat bidai dengan papan/dahan kayu/bambu yang lurus, diberi bantalan dari
kain/handuk dengan panjang melebihi dua persendiaan di atas dan di bawah
luka
4. Pasang bidai paling sedikit dua buah pada sisi melebihi dua persendian
5. Ikat bidai di tiga tempat atau lebih, sehingga daerah yang luka dan
persendiaan di atas/ di bawah luka tidak bisa digerakkan
6. Topang daerah yang luka agar tidak bergerak terhadap tubuh korban dengan
mitella atau alat yang lain
7. Persiapkan korban untuk dievakuasi.

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

38

Macam-macam Pemakaian Mitela

Terkilir/Keseleo
Pada kejadian terkilir terjadi pergeseran

baik sebagian maupun keseluruhan

tulang-tulang pada suatu persendian. Pergeseran ini dapat terjadi sementara dan
kembali tanpa dilakukan seutu tindakan atau menetap dan tidak bisa kembali
tanpa tindakan tertentu.
Seperti pada patah tulang luka ini dapat menimbulkan rasa nyeri yang hebat
karenanya pada luka ini juga harus dijaga agar tidak terlalu banyak gerakan.
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan :
1. Letakkan daerah yang terluka dalam posisi yang nyaman

2. Lakukan RICE yaitu :


R : Rest, istirahatkan bagian yang luka dari gerakan atau menahan beban
I : Immobilisation, jaga agar daeraah yang luka tidak bergerak dengan pembalut
elastis, mitela, pembalut gulung kain, handuk atau benda lain yang dapat

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

39

menahan gerakan pada persendian


C : Compress, kompres daerah luka dengan es atau benda dingin lainnya pada
24 jam pertama kemudian dengan benda hangat
E : Elevation, tinggikan daerah yang terluka
3. Topang persendian yang terluka dengan menggunakan mitela atau benda lain
kemudian korban dibawa ke pusat pelayanan kesehatan
Trauma Kepala
Trauma kepala yang terjadi di alam terbuka dapat disebabkan oleh jatuhnya
benda-benda (pecahan batu/es dan lain-lain) atau jika kita terjatuh dan kepala
membentur benda yang keras. Semua trauma kepala berpotensi untuk
menimbulkan kematian (life threatening), keseriusan cidera tergantung dari
derajat kerusakan otak dibandingkan dengan keadaan yang terlihat. Gejala
adanya gangguan pada otak mulai dari yang ringan seperti pusing, mual, muntah
sampai yang berat seperti pingsan, timbul kelumpuhan atau gerakan-gerakan
yang tidak terkendali.
Penanganan :
Jika didapatkan korban dalam keadaan cidera di daerah kepala, periksa korban
dengan teliti. Amankan korban dan cegah gerakan-gerakan pada kepala, lakukan
resusitasi ABC jika perlu. Beri pelindung dan pengaman pada kepala dengan
membuat bantalan yang menahan kepala agar tidak bergerak. Setelah korban
stabil dan aman segera bawa korban ke pusat pelayanan kesehatan yang
lengkap.
EVAKUASI
Evakuasi adalah suatu cara pemindahan korban dari lokasi musibah ke tempat
lain yang telah ditentukan dan lebih aman. Pelaksanaan evakuasi atau
pemindahan korban perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Kondisi korban (memungkinkan untuk dipindahkan atau tidak)
2. Memilih lokasi untuk penempatan alat transportasi (ambulans, pesawat atau
helikopter)
3. Dapat dilakukan pelayanan medis selama evakuasi
4. Memilih lintasan bila harus dilakukan evakuasi darat tanpa alat transportasi
untuk evakuasi

5. Memilih alat transportasi untuk evakuasi

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

40

6. Memperhatikan keadaan sekitar (cuaca dan lain-lain)


Dalam melaksanakan pemindahan korban perlu memperhatikan kondisi korban,
yang dimaksud disini adalah melakukan penilaian apakah mungkin untuk
dipindahkan segera saat itu atau tidak, karena setiap korban harus diperbaiki
keadaan umumnya terlebih dahulu untuk dapat dievakuasi. Langkah-langkahnya
adalah :
1. Lakukan bantuan hidup dasar (ABC)
2. Atasi syok
3. Hentikan pendarahan
4. Rawat luka (untuk mencegah infeksi ) dan patah tulang
5. Evakuasi
6. Perawatan lebih
Syarat-syarat memindahkan korban ke alat transportasi yang akan digunakan
dalam evakuasi :
1. Gangguan pernafasan dan cardiovaskuler telah ditanggulangi (ABC)
2. Pendarahan telah dihentikan
3. Luka telah ditanggulangi, patah tulang telah dimobilisasi/bidai
Selama evakuasi dilakukan, harus dilakukan monitor (pengawasan ketat)
terhadap :

1. Kesadaran
2. Pernafasan
3. Tekanan darah dan denyut nadi
4. Daerah perlukaan
Cara memindahkan korban tanpa alat bantu (dengan tenaga manusia)
a. Satu orang penolong, terhadap korban tanpa patah tulang belakang
pada penderita yang bisa diberdirikan
pada penderita dalam keadaan terlentang

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

41

Pada penderita dalam keadaan berdiri

Pada penderita dalam keadaan terlentang


b. Dua orang penolong

Dalam melaksanakan evakuasi tidak selamanya medan yang akan ditempuh


dapat dilalui oleh manusia tanpa bantuan alat. Oleh sebab itu perlu pengetahuan
dan keterampilan khusus untuk pengevakuasian di medan-medan sulit yang
disebut Vertical Rescue. Adapun pengetahuan tentang vertical rescue antara lain
1. Peralatan
a.

Tali/rope : mengenai jenis dan fungsi tali yang merupakan alat


utama dalam evakuasi

b. Knots dan Hits : berkaitan dengan tali pada evakuasi, yaitu simpul. Gambar
pada lampiran.
c. Harness/tali tubuh : hal-hal mengenai jenis dan fungsi harness yang
digunakan serta alternatif pengganti harness/chest harness dari webbing.
Gambar pada lampiran

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006

42

d. Ascending teknik/teknik meniti tali : hal-hal meniti tali/naik melalui tali


dengan ascender atau dengan prusik
e. Descending teknik/teknik turun : mengenai teknik-teknik turun atau
menurunkan dengan descender atau alat lain sebagai pengganti descender
f. Anchor point/titik tambat : hal-hal mengenai titik tambatan atau pengaman
yang akan digunakan pada saat evakuasi, serta pengaman alam atau
pengaman buatan
g. Anchor sistem/sistem penambatan : hal-hal mengenai sistem-sistem
penambatan yang digunakan sebagai pengaman penolong dan korban.
2. Rescue sistem
Ada tiga cara mengevakuasi korban yang terjadi pada kegiatan-kegiatan alam
terbuka antara lain :
a. Lowering system/sistem menurunkan : hal-hal mengenai sistem atau teknik
menurunkan korban, baik dengan tandu ataupun tanpa tandu
b.

Raising system/ sistem menaikkan : hal-hal mengenai sistem atau


teknik menaikkan korban, baik dengan tanpu ataupun tanpa tandu

c. Tyrolean/tensioning sistem (sistem menyebrangkan) : hal-hal mengenai


sistem atau teknik menyebrangkan korban.
Contoh Rescue Sistem

PENANGANAN GAWAT DARURAT KECELAKAAN ALAM TERBUKA


PDM XI 2006