Anda di halaman 1dari 17

TUGAS KIE

SIMULASI PELAYANAN INFORMASI OBAT

Kelas

Kelompok

Anggota

Safitri Purnamayanti

2012000120

Shafa Nabilah

2012000125

Silvia Megawati S.

2012000126

Suwanita Sukardi

2012000133

Veronica Atik W.P

2012000137

Vina Handayani

2012000138

Viona Laurensia

2012000140

Wening Ariwanty

2012000141

Yus Marcelina

2012000150

Zefanya Disti Suprapto

2012000152

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
2012

1.

Soal : Dosis obat


Penanya : Asisten Apoteker
R/ Diazepam
S. 3 x 10 ampul
Umur : Dewasa
Obat lainnya : ATS (Anti Tetanus Serum)
Keluhan : Kesakitan
Kemungkinan apa yang terjadi ?
Apa yang harus dilakukan ?

Indikasi :

kondisi psikoneurotik (ansietas, tegang, tidak bisa tidur),

kondisi

psikosomatik (gangguan otot karena tegang, masalah

jantung), dan

untuk relaksasi otot pada kejang (epilepsi,

tetanus, kejang demam)

(MIMS ed.9 th.2009/2010 dan Martindale ed.

28)

Kontra Indikasi :

hipersensitivitas terhadap diazepam, glaukoma sudut

sempit, tidak boleh digunakan anaka dibawah umur 6 tahun (oral, rektal gel), < 30
hari (parenteral) (Drug Information Handbook 14 th edition hal 451 th 2006).

Efek samping :
mengantuk, vasodilatasi, gatal, kemerehan, konstipasi,
diare, vertigo, phlebitis, sakit pada tempat penyuntikan (Drug Information
Handbook 14 th edition hal 451 th 2006).

Interaksi obat :
alkohol,
antasida,
antikolinergik lain,
antidepresan

Dosis :

antikoagulan,

atropin

dan

disulfiram, lithium, metoklopramid, fenition,


trisiklik (Martindale ed. 28)
untuk relaksasi otot pada tetanus : 20-30 mg intravena setiap 2-

8 jam. Tidak boleh melebihi 30 mg dalam periode 8 jam (Drug Information 2010

hal. 2576-2578)
Sediaan diazepam : ampul 10 mg/2 ml (ISO vol. 46 2011/2012 Hal.424)
Dosis diazepam untuk pengobatan tetanus pada dewasa adalah lebih besar 20
mg setiap 2-8 jam. Tidak boleh melebihi 30 mg dalam periode 8 jam (AHFS Drug

Information 2010 hal. 2576-2578)


Dosis lazim daizepam : 1 x pakai = 20 mg-30 mg
1 hari
= 3 x (20 mg-30 mg) = 60-90 mg per hari
Pemakaian dalam resep : 3 x 10 ampul
Sediaan diazepam : 10 mg/ampul
1 ampul = 2 ml
Dosis 1 x pakai : 10 x 10 mg/ampul = 100 mg > Dosis lazim
1 hari : 3 x 100 mg = 300 mg > Dosis lazim
Hal yang harus diperhatikan :

a. Pemberian diazepam melalui infus intravena harus diperhatikan laju infusnya,


laju infus antara 5 mg/menit (AHFS Drug Information 2010 hal. 2577), karena
apabila lajunya lebih dari 5 mg/menit akan menimbulkan rasa sakit dan terjadi
tromboflebitis. Ketika diberikan langsung secara intravena maka harus
disuntikkan langsung kedalam pembuluh besar vena untuk mencegah trombosis.
b. Sebelum disuntikkan kepada pasien, sediaan harus diamati terlebih dahulu,
apakah telah terbentuk endapan atau masih tetap jernih. Hal ini dikarenakan
kelarutan diazepam adalah 1 : 333 dalam air (sukar larut dalam air), walaupun
dalam sediaan diazepam sudah dalam bentuk larutan (dengan penambahan
kosolven : propilenglikol dan etanol), namun kemungkinan terbentuknya endapan

masih dapat terjadi (Handbook of Injectable Drugs).


Kemungkinan yang terjadi :
a. Laju infus terlalu cepat (lebih dari 5 mg/menit) sehingga terjadi tromboflebitis
dan ekstravasasi, bila laju tidak dikurangi akan terjadi trombosis. Akibatnya,
pasien mngeluh kesakitan.
b. Sediaan telah mengendap, karena ada endapan tersebut kemungkinan perawat
mengocok ampul untuk menghomogenkan sediaan kembali, akibatnya timbul
gelembung udara dan gelembung tersebut menyebabkan tromboemboli.
c. Pemberian anti tetanus serum juga memberikan efek samping antara lain : nyeri,

kemerahan, bengkak pada tempat penyuntikan.


Yang harus dilakukan :
a. Laju infus tidak lebih 5 mg/menit.
b. Apabila sediaan telah terbentuk endapan, untuk mengurangi endapan tersebut
sediaan dibalik, jangan dikocok, sehingga tidak ada gelembung udara yang
mungkin terbentuk.
c. Memberi tahu dokter apakah dosis diazepam dapat diturunkan, jika dapat
diturunkan maka digunakan 3 ampul untuk satu kali pakai.
1 kali pakai = 3 x 10mg/ampul = 30 mg.
1 hari pakai = 3 x 30 mg = 90 mg.
d. Diazepam disuntikkan pada selang infus dekat vena, sementara infus tetap
mengalir untuk mencegah rasa sakit akibat suntikan dan mengurangi trombosis.

2. Soal Cara Pemakaian


Penanya: Asisten Apoteker
R/ Depakote tab no. LX
S2x1
Umur: 11 tahun
Anak tidak bisa menelan tablet. Bagaimana?

Sumber Literatur:
1. ISO (untuk melihat isi dari Depakote)
2. Drug Information (untuk mengetahui karakteristik dari zat aktif)
3. Voight (untuk mengetahui alasan pembuatan enteric coated tablets)
Penyelesaian:
1. Menurut ISO vol 44-2009 dan Martindale 36
Isi

: Divalproat Na

Indikasi

: Terapi kejang parsial dan kejang petit mal

Kontra Indikasi

: Gangguan fungsi hati, hipersensitif

Perhatian

: Anak dengan penyakit metabolik bawaan, hamil, penyakit


otak organik, gangguan mental

Efek Samping

: Mual, muntah, gangguan pencernaan, diare, kram perut,


konstipasi, anoreksia, sedasi, pusing, ruam kulit

Interaksi Obat

: Aspirin, karbamazepin, dikumarol, fenobarbital, fenitoin;


mempengaruhi kadar obat dalam serum

Dosis

: Dosis awal 15 mg/kgBB/hr


Ditingkatkan dengan interval 1 minggu 5-10 mg/kgBB/hr
Max 60 mg/kgBB/hr
Dosis 600 mg/hr harus diberikan dalam dosis terbagi

Kemasan

: Tablet salut enterik 250 mg x 100

Harga

: Rp 462.225,-

2. Menurut Drug Information 2010 hal 2300-2307


Sediaan tablet divalproat natrium merupakan tablet salut enterik. Tablet ini tidak rusak
oleh lingkungan yang bersifat asam, tetapi di dalam usus halus yang lingkungannya
asam lemah, netral atau alkali, relatif cepat hancur atau larut, sehingga bahan obat
yang terkandung dalam inti tablet baru bekerja di dalam usus.
Jika diberikan secara oral, divalproat natrium akan terdisosiasi menjadi asam valproat
yang kemudian akan diabsorbsi di saluran pencernaan. Pembuatan tablet salut enterik
ini bertujuan untuk melindungi lambung dari iritasi, karena asam valproat dapat
mengiritasi lambung.

Bioavaibilitas dari divalproat natrium tablet extended-realese apabila diberikan secara


oral setelah makan adalah 90%. Sediaan ini merupakan tablet salut enterik sehingga
tablet ini tidak boleh dkunyah ataupun digerus.
Menurut literatur, Depakote hanya tersedia dalam bentuk kapsul atau tablet salut
enterik. Bagi anak yang sulit menelan, obat ini tidak boleh digerus karena bentuknya
adalah tablet salut enterik. Dapat dikonsultasikan kembali ke dokter, untuk mencari
obat lain yang memiliki indikasi sama untuk penyakit yang diderita. Obat lain yang
memiliki isi yang sama dan tersedia dalam bentuk larutan adalah Depakene Syrup.
Depakene memiliki isi valporoat natrium yang nantinya di dalam usus akan
terdisosiasi menjadi asam valproat. Depakene Syr. juga memiliki harga yang lebih
murah. Dosis yang diberikan sama dengan dosis Depakote Tab.

3.

Soal : Dosis Anak


R/ Ozen drops
S. 3 x 3 tetes
Umur 1 tahun
Dosis?
Ozen drops
Kandungan
Indikasi
Dosis

: Cetirizine dihidroklorida 10 mg/mL drops


: Rhinitis alergi seasonal dan perennial, urtikaria idiopatik kronis
: Dewasa dan anak >12 tahun: 10 mg sehari
Anak-anak 6-11 tahun: 5 mg sehari
Anak-anak 2-5 tahun: 2,5 mg sehari
Anak-anak 6 bulan-2 tahun: 0.25 mg/kg BB sehari
(MIMS ed. 119 th.2011 h.517)
Dewasa dan anak > 6 tahun: 10 mg sehari / 5 mg dua kali sehari
Anak anak 2-5 tahun: 5 mg sehari / 2,5 mg dua kali sehari
(Martindale ed.36 h.571)
Dewasa dan anak >12 tahun: 10 mg sehari
Dewasa dan anak-anak >6 tahun: 5 atau 10 mg sehari
Anak-anak 2-5 tahun: 2,5 mg sehari
Anak-anak 6 bulan-2 tahun: 2,5 mg sehari, 0,25 mg/kg BB sehari
(AHFS Drug Information 2010 h. 27)

Pemberian
: Diberikan secara oral
Perhatian khusus: Anak-anak, pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan hati, wanita
hamil dan menyusui
Efek samping
: Sakit kepala, pusing, mulut kering, gangguan GI
Interaksi obat
: Teofilin
Sediaan
: Tablet salut film, sirup, oral drops

Perhitungan Dosis
Pasien dengan umur 1 tahun berat badan umumnya 10 kg (skala Denekamp)
Dosis Cetirizine diHCL yang digunakan seharusnya untuk anak umur 1 tahun:
0,25 mg/kg BB sehari = 0,25 mg/kg. 10 kg
= 2,5 mg (1 hari pakai)
Dosis Ozen: bentuk drops = 10 mg/mL ; 1 mL = 20 tetes
= 10 mg/20 tetes
= 0,5 mg/tetes
Dosis dalam R/: Untuk pemakaian 1 hari = 3 x 3 tetes
1x pakai: 3 tetes x 0,5 mg = 1,5 mg (3 tetes)
1hari pakai: 3 x 1,5 mg = 4,5 mg (9 tetes)
Kesimpulan:
Dosis dalam R/ tidak sesuai dengan dosis lazim yang diberikan dalam 1 hari yaitu dosis
dalam R/ lebih tinggi dari dosis lazim Cetirizine diHCl. Oleh karena itu, hal ini perlu

ditanyakan kembali kepada dokter untuk mencegah efek yang tidak diinginkan,
khususnya pasien merupakan anak-anak dengan umur <2 tahun yang beresiko tinggi
terhadap overdosis dan toksisitas suatu obat (AHFS DI 2010 h. 29).

4.

Soal Dosis anak


Penanya : Asisten Apoteker
R/ ZDV 1,5 mg, S 4 x 1
R/ 3 TC 3 mg, S 2 x 1
R/ NVP 15 mg, S 1 x 1
Umur : 3 bulan
Berat badan : 3,2 kg, tinggi 56 cm
Persediaan : Duviral, hifiral, nevirapin
Dosis?

ZDV = Zidovudin
Menurut MIMS 2008
o Indikasi : Infeksi HIV, pencegahan HIV dari ibu ke janin.
o Peringatan : lakukan pengawasan parameter hematologi, sesuaikan dosis bila terjadi
myelosupression, kehamilan.
o Kontra indikasi : Neutropenia dan atau anemia berat, neonatus dengan
hiperbilirubinemia yang memerlukan terapi selain fototerapi atau dengan
peningkatan transaminase.
o Efek samping : Anemia, neutropenia, leukopenia, muntah, nyeri dada, demam,
insomnia, anoreksia,sakit kepala, luka lambung.
o Interaksi obat : Penggunaan parasetamol jangka panjang, obat yang berefek
nefrotoksik atau obat yang mendepresi sumsum tulang belakang, probenesid.

o Dosis lazim :
Dosis diperoleh dari DI 2003
Dosis 1 x pakai = 4mg/kg BB = 4 mg x 3,2 = 12,8 mg
Dosis 1 hari = 12,8 mg x 4 = 51,2 mg
o Dosis dalam resep :
1 x pakai = 1,5 mg
1 hari = 1,5 mg x 4 = 6 mg
o Kesimpulan : Dosis dalam resep untuk anak berusia 3 bulan lebih kecil dari dosis

lazim.
3 TC = Lamivudin
Menurut MIMS 2008
o Indikasi : Infeksi HIV, infeksi hepatitis B kronik.
o Peringatan : merusak ginjal, kehamilan.
o Efek samping : mual, diare, sakit kepala, luka lambung.
o Interaksi obat : Trimetroprim dapat meningkatkan kadar Lamivudin dalam darah.
o Dosis lazim :
Dosis diperoleh dari DI 2003
1 x pakai : 4 mg/kg BB x 3,2 kg = 12,8 mg
1 hari = 12,8 mg x 2 = 25,6 mg
o Dosis dalam resep :
1 x pakai = 3 mg
1 hari = 3 mg x 2 = 6 mg
o Kesimpulan : Dosis dalam resep untuk anak berusia 3 bulan lebih kecil dari dosis
lazim.
NVP = Nevirapin
Menurut MIMS 2008
o Indikasi :Terapi kombinasi dengan obat anti retroviral lain, pencegahan penularan
HIV dari ibu ke anak.
o Dosis :
Dosis diperoleh dari MIMS 2008
Anak 2 bulan 8 tahun = 4 mg/kg 1 kali 1 hari ( untuk 14 hari pertama ), dosis
dapat ditingkatkan hingga 7 mg/kg BB 2 kali 1 hari, dosis maksimal 400 mg/hari.
o Peringatan :Disfungsi hati dan ginjal. Lakukan pengawasan selama 18 bulan
pertama terapi, tes fungsi hati secara periodik disarankan.
o Efek samping : mual, demam, kelelahan, pusing, muntah, diare, luka lambung,
fungsi hati abnormal.
o Interaksi obat : Ketokonazol, kontrasepsi oral, rifampisin, metadon, flukonazol,
warfarin, efavirens,indinavir, lopinavir.
o Dosis lazim :
Dosis diperoleh dari DI 2003
1 xpakai : 4 mg/kg BB x 3,2 kg = 12,8 mg
1 hari : 12,8 mg x 1 = 12,8 mg
o Dosis dalam resep :
1 x pakai : 15 mg
1 hari : 15 mg x 1 = 15 mg

o Kesimpulan : Dosis yang diberikan dalam resep lebih besar daripada dosis lazim.
5.

Penanya : Pasien dari klub geriatri / osteoporosis


ISDN SL sudah digunakan 1 tablet, tapi dada masih sakit.
Apa yang harus dilakukan?
ISDN SL (Isosorbid Dinitrat Sublingual)

Indikasi

: Pengobatan dan pencegahan angina pektoris dan gagal

jantung
kongestif.

Dosis

Angina 5-10 mg setiap 2-3 jam secara sublingual atau 2,5-5 mg setiap 5-10 menit,
maksimal 3 dosis dalam 15-30 menit.

Kontraindikasi: Pasien hipersensitif terhadap nitrat, kondisi hipotensi, pasien


yang sedang menggunakan phosphodiesterase (PDE-5)
inhibitors (sildenafil, tadalafil)

Interaksi obat :
o Etanol/Alkohol, dapat meningkatkan resiko hipotensi.
o Cytochrome P450 (Substrat dari CYP3A4)

Meningkatkan efek :
Inhibitor CYP3A4 dapat meningkatkan efek ISDN, misalnya inhibitor
Clarithomycin, diklofenak, erythromycin.

Menurunkan efek :
Menginduksi CYP3A4 dapat menurunkan/menghilangkan efek ISDN,
misalnya aminoglutethimide, carbamazepin, phenytoin.

Efek samping : Sakit kepala, hipotensi, muntah, toleransi nitrat, udema.

Penyelesaian :
Gunakan 1 tablet ISDN SL 5mg, letakkan di bawah lidah. Jika dada masih nyeri, 510 menit kemudian gunakan 1 tablet ISDN SL 5mg lagi. Pemakaian tidak lebih dari
3 tablet, dengan rentang waktu 15-30 menit. Jika setelah 3 kali pemakaian nyeri
dada masih belum hilang, disarankan menghubungi Unit Gawat Darurat.
Pustaka :
1. Drug Information Handbook International Ed. 14th p.

2. Martindale Ed. 36th.


3. British National Formulary 54

6. Soal - Cara pemakaian


Penaya : Asisten apoteker
Urografin ampul dapat diminum ?
Etiketnya biru atau putih ?
(ISO vol 43 2008 hal 207)
Komposisi : 1 ml Urografin 76% mengandung 100 mg natrium amidotriozat dan 600 mg
Meglumin amidotriozat (natrium diatrizoat dan meglumin diatrizoat) dalam
larutan air.
Indikasi

Intravenous

untuk

urografi,

pemeriksaan

angiografi

secara

injeksi

intraarticular,
KI

: Hipertiroidism, payah jantung, histerosalpingografi tidak boleh diberikan pada


wanita hamil atau adanya peradangan akut pada kantung kemih.

Dosis

: Sesuai dengan/kgBB dan jenis pemeriksaannya.

.dan urografin bila diberikan secara oral kurang baik karena amidotrizoat absorbsinya di
saluran gastrointestinal sangat kecil.
(Martindale 35 hal 1328-1330)
Urografin ampul tidak dapat diminum, karena bentuk sediaannya berupa ampul, dimana
bentuk sediaan ampul diberikan secara injeksi intravenous. Urografin dapat diberikan secara
peroral untuk melihat gambaran gastrointestinal tetapi absorbsinya tidak baik.
Etiket yang digunakan adalah warna biru karna pemakaiannya secara luar (intravena).

7. Soal : efek samping obat


Penanya : Pasien
R/ Phaproxin S 3 x 1
Pasien mengalami sakit di perut
Apakah boleh minum obat maag seperti Mylanta Susp atau Gastrul ?
Sumber Literatur :
-

ISO vol 44, 2009 hal. 118

Martindle, edisi 36

Drug Interaction Facts 2001 hal. 1020

Farmakologi Terapi Edisi 4 hal. 682-685

Tjay TH, Rahardja K. Obat-obat Penting, Khasiat, Penggunaan dan Efek-efek


sampingnya Edisi 5. Jakarta. PT. Elex Media Computindo; 2002, hal. 140

Penyelesaian :
1

Kandungan : Siprofloxacin 500 mg

Indikasi :
Infeksi saluran kemih termasuk prostatika, gonorhoe kulit akut, saluran cerna termasuk
demam tifoid dan paratifoid, saluran nafas kecuali pneumonia oleh streptokokus, kulit
dan jaringan lunak, tulang dan sendi, gangguan fungsi ginjal.

Kontra Indikasi :
Hipersensitivitas terhadap derivat kuinolon, anak-anak, remaja sedang tumbuh dan
wanita hamil/menyusui.

Efek Samping :
Keluhan pada saluran cerna, reaksi pada kulit, gangguan SSP (Sakit kepala, vertigo, dan
insomnia), mual, hilang napsi makan.

Dosis :
- Infeksi saluran kemih : 2x sehari 250 500 mg
-

Infeksi saluran nafas, tulang, sendi, kulit dan jaringan lunak : 2x sehari 500 750 mg

Gonorhoe kulit akut, 200 500 mg dosis tunggal oral, dan 100 mg untuk dosis
intravena.

Untuk memperoleh kadar yang adekuat pada osteomielitis akut maka pemberian tidak
kurang dari 2x sehari 750 mg.

Gangguan fungsi ginjal : kreatinin klirens kurang dari 20 ml/menit, maka dosis
normal hanya diberikan sekali sehari atau jika 2x sehari dosis harus dikurangi
separuhnya.

Infeksi saluran cerna : 2x sehari 500 mg


Interaksi obat
Absorbsi Siprofloxacin dapat menurun karena antasida (Mg(OH)2) dan Al(OH)3,
sehingga farmakologinya menurun.
Solusi : jika penggunaan tidak dapat dihindari, antasida diberikan lebih dari 6 jam
sebelum pemberian Siprofloxacin atau 2 jam sesudah pemberian.

Penderita mengalami sakit perut disebabkan karena efek samping obat dari Phaproxin
dan untuk mengatasi sakitnya penderita diperbolehkan minum obat maag. Obat maag
yang dipilih bukan dari golongan antasida, karna antasida mengandung Al(OH) 3 dan
Mg(OH)2 yang dapat mengganggu atau menurunkan absorbsi Siprofloxacin akibatnya
infeksi yang diderita pasien tidak terobati dengan baik. Pilihan obat maag untuk
penderita adalah Gastrul karna mengandung Misoprostol yang bukan merupakan logam
Al(OH)3, ataupun Mg(OH)2.
Mylanta Susp
Komposisi

: - Gel kering Al(OH)3 200 mg


- Mg (OH)2 200 mg
- Simetikon 20 mg

Indikasi

: Kelebihan asam lambung, gangguan cerna

Efek samping

: Konstipasi, diare, mual, muntah, hipofosfakemia.

Gastrul
Kandungan zat aktif

: Misoprostol

Indikasi

: Mencegah ulkus gaster yang diinduksi AINS pada


pasien dengan resiko tinggi mengalami komplikasi.

Efek samping

: Gangguan GI (diare dan nyeri abdomen)

8. Soal Interaksi obat


R/ Cisapride
S 3 dd I
R/ Ranitidin
S 3 dd I
Keluhan : telinga berdengung
Apakah karena obat ?

Cisapride
Indikasi
Dosis
KI

: gangguan motilitas GI seperti gastroparesis, gangguan refluks


gastroesophageal (GERD), dispepsia non ulcer
: Dewasa : 5-10 mg 3-4x/hari, max 40 mg/hari
Anak : 0,2-0,8 mg/kg BB 3-4x/hari.
Diminum 15-30 menit sebelum makan dan sebelum tidur
:Penyakit organik seperti pendarahan GI (lambung, usus), perforasi
dan obstruksi mekanik. Obat yang menginhibisi P450 3A4 yang

Peringatan

memetabolisme cisapride,
: Aritmia jantung, gagal jantung kronik, meningkatkan motilitas GI,

ES

gangguan pernafasan.
: kram abdomen, diare, pusing, hipersensitifitas, diuresis, muntah,

aritmia, takikardia.
I.O
: simetidin dan ranitidin meningkatkan bioavailabilitas cisapride.
Cisapride mempengaruhi absorpsi beberapa obat karena merangsang motilitas GI.

Ranitidin
Indikasi

: Ulkus duodenum, gangguan refluks gastroesophageal (GERD),

Dosis
Peringatan
ES

dispepsia.
: Dewasa : 150 mg 2x sehari selama 4 minggu
: Disfungsi hati dan ginjal, ibu hamil, ibu menyusui, kanker lambung
: Sakit kepala, pusing, mual, diare, ruam kulit, hepatoksik, reaksi

I.O

hipersensitifitas, demam, lelah.


: Mempengaruhi pH usus sehingga mengubah absorpsi beberapa obat,
konsentrasi plasma ranitidin dicapai lebih cepat jika dikonsumsi
bersama cisapride.

Penggunanan Cisapride dapat meningkatkan absorbsi dari Ranitidin, bila absorbsi


Ranitidin meningkat maka efek ranitidin dicapai lebih cepat.

Efek samping Cisapride & Ranitidin tidak ada hubungannya dengan organ
pendengaran, jadi telinga berdengung bukan karena disebabkan interaksi obat
tersebut.
Telinga berdengung (tinnitus) adalah suara berdenging atau suara lain, yang dirasakan
seperti berasal dari dalam telinga atau kepala. Tinnitus bukan sebuah penyakit, tapi
merupakan refleksi dari sesuatu yang lain yang terjadi pada sistem pendengaran atau
dalam otak. Penyebab yang paling sering dari tinnitus adalah penurunan pendengaran
sampai ketulian. Penyebab kedua tersering adalah obat-obatan seperti aspirin (bila
melebihi dosis terapi), antibiotik golongan aminoglycoside, dan kina.
Pustaka:
Martindale edisi 36
Drug Information Handbook
British National Formulary 58

9. Soal Menyusui
Penanya : Pasien
R/ Lincocin 500, S 3x1
Exaflam 50, S 3x1
Kaki pasien luka dan bengkak, karena tersiram air panas
Apakah boleh diminum ibu yang sedang menyusui ?

Lincocin : Lincomysin Hidroklorida


Indikasi
: Infeksi berat oleh bakteri Staphylococcus , Sreptococcus,
staphylococcus, Klostridia, dan Pneumococcus.
Kontraindikasi : Reaksi hipersensitifitas dengan linkomisin atau klindamisin.
Interaksi Obat : Eritromisin, kaolin, neuromuscular blocking agent
Efek samping : Gangguan GI, kelainan hematopoesis pruritus, ruam kulit, ikterus
Dosis

arena gangguan pada hati dan fungsi ginjal.


500 mg 3x sehari

Linkomisin terdistribusi ke air susu ibu. Karena berpotensi mengakibatkan reaksi


yang merugikan bila ibu menyusui bayinya, maka harus dipilih apakah ibu berhenti
menyusui dan melanjutkan terapi dengan linkomisin atau ibu menghentikan terapi dan
dapat menyusui bayinya. Konsentrasi linkomisin dalam ASI sama dengan konsentrasi
dalam plasma darah ibu, sehingga tidak boleh diberikan untuk wanita yang menyusui.

Exaflam : Kalium Diklofenak


Indikasi
: Terapi jangka panjang untuk kondisi akut nyeri inflamasi setelah
trauma, terkilir, setelah operasi tulang, cabut gigi, terapi tambahan
pada nyeri inflamasi berat dari infeksi THT.
Kontaindikasi : Ulkus peptik
Efek samping : Nyeri lambung, mual, muntah, diare, kram perut, kembung, sakit
kepala
Interaksi Obat : Antikoagulan, diuretik, methotreksat
Dosis
: 25-50 mg 3x sehari
Exaflam merupakan obat NSAID dimana sebagian cara kerja NSAIDs adalah
menghambat sintesa prostaglandin sehingga dapat berbahaya pada saat minggu
terakhir kehamilan. Diklofenak harus dikonsumsi selama masa awal kehamilan dan
tidak boleh dikonsumsi selama masa terakhir kehamilan. Exaflam absorbsinya melalui
saluran cerna. Hampir semua obat NSAID terikat 80-98% pada serum albumin,
sehingga obat ini tidak boleh dikonsumsi oleh ibu menyusui.

Penyelesaian :

Diberikan obat topikal seperti Centabio, Bioplan yang dapat mengobati luka.
Sumber literatur :
1. Drug Information
2. ISO volume 44 tahun 2009