Anda di halaman 1dari 11

Pengaruh Humor Terhadap Stres Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Yang

Mengerjakan Skripsi Di Universitas Brawijaya Malang


Viny Alfiani
vinyalfianii@gmail.com
Yoyon Supriyono
Sumi Lestari
Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya

ABSTRACT
Thesis is the final gate that is generally passed by every college student to become a
scholar. In completing the thesis, students are often faced with many obstacles and problems
that could make it as a stressor. The number of stressors and pressures faced by students who
are working on thesis causes them to become susceptible to stress. One of ways relieve stress
is with humor. From several studies related to humor and its effects on psychological
conditions, the researchers tried to examine the effect of humor on stress at a college student
who worked on the thesis. This study uses true experimental research with pretest-posttest
design control group which was measured before and after the treatment. An instrument is
used to measure the stress level is Perceived Stress Scale (PSS). The number of partisipants
in this experiment were 34 students. From the result of t-test, it showed that humor can
significantly reduce stress. Further discussion will be presented in this research.
Keywords: stress, humor, final semester college students
ABSTRAK
Skripsi merupakan gerbang terakhir yang umumnya dilalui oleh setiap mahasiswa
sebelum menjadi sarjana. Dalam menyelesaikan skripsi, mahasiswa seringkali dihadapkan
banyak hambatan dan masalah yang dapat menjadikannya sebagai stresor. Banyaknya stresor
dan tekanan yang dihadapi menyebabkan mahasiswa yang mengerjakan skripsi menjadi
rentan mengalami stres. Salah satu cara untuk menghilangkan stres adalah dengan humor.
Dari beberapa penelitian terkait humor dan pengaruhnya terhadap kondisi psikologis, maka
peneliti mencoba untuk menguji pengaruh humor terhadap stres pada mahasiswa tingkat
akhir yang mengerjakan skripsi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen
murni dengan desain Pretest-Posttest Control Group Design yang mana akan dilakukan
pengukuran sebelum dan sesudah perlakuan. Untuk mengukur tingkatan stres digunakan alat
ukur berupa Percieved Stress Scale (PSS). Jumlah partisipan dalam eksperimen ini adalah 34
orang. Dari hasil uji t-test menunjukkan bahwa humor dapat secara signifikan menurunkan
stres. Diskusi lebih lanjut akan dipaparkan dalam penelitian ini.
Kata kunci: stres, humor, mahasiswa tingkat akhir

2
LATAR BELAKANG
Skripsi merupakan gerbang terakhir yang umumnya dilalui oleh setiap mahasiswa
sebelum menjadi sarjana. Saat mahasiswa telah menempuh semester akhir dan telah
menyelesaikan seluruh mata kuliahnya, mahasiswa diwajibkan untuk menulis skripsi. Dalam
menyelesaikan skripsi, mahasiswa adakalanya dihadapkan oleh beberapa masalah, seperti
kesulitan dalam hal mencari tema, judul, sampel, alat ukur yang digunakan, kesulitan
mendapatkan referensi, keterbatasan waktu penelitian, proses revisi yang berulang-ulang,
dosen pembimbing yang sibuk dan sulit ditemui, lamanya umpan balik dari dosen
pembimbing ketika menyelesaikan skripsi, dan lain-lain (Wulandari, dalam Maritapiska,
2003). Masalah-masalah tersebut bagi mahasiswa yang mengerjakan skripsi bisa dianggap
sebagai tantangan ataupun hambatan yang akan mengarah pada stresor negatif.
Mahasiswa yang tidak dapat menghadapi stresor yang ada dan merasa tertekan akan
skripsi rentan mengalami stres yang mengganggu dan biasanya disebut juga dengan distress.
Stres merupakan kondisi ketika individu berada dalam situasi yang penuh tekanan atau ketika
individu merasa tidak sanggup mengatasi tuntutan yang dihadapinya (Marks, Murray, &
Evans, 2002). Menurut Atkinson (Fadillah, 2013), reaksi stres dapat muncul dalam bentuk
perubahan psikologis dan fisik. Selama ini, reaksi stres yang seringkali dialami oleh
mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi adalah hilangnya motivasi dan konsentrasi
yang berdampak pada penundaan penyelesaiaan skripsi ataupun lamanya mahasiswa dalam
mengerjakan skripsi. Agar stres yang dialami mahasiswa yang mengerjakan skripsi tidak
mengarah pada distres atau stres negatif maka dibutuhkan penanganan agar stres yang
dialami mahasiswa skripsi berkurang atau hilang, sehingga dampak negatif dari stres pada
proses penyelesaian skripsi dapat teratasi. Salah satu cara untuk menghilangkan stres adalah
dengan humor.
Humor menurut Kuiper (2012) adalah stimulus yang dapat memancing tawa pada
seseorang, seperti lelucon, cerita lucu, kartun lucu, situasi memalukan, lelucon praktis, dan
sebagiannya. Humor digambarkan sebagai salah satu stimulus yang dapat membantu
seseorang untuk tertawa dan merasa bahagia (Ripoll, 2010). Seseorang yang berbahagia
menunjukkan bahwa dirinya memiliki emosi yang lebih positif, hidup yang lebih lama, dan
kesejahteraan hidup (Boniwell, dalam Desinta, 2011). Bahkan Jauregui (Colom, Alcover,
Curto & Osuna, 2011) menegaskan bahwa tertawa adalah sebuah emosi positif, yang
dilukiskan oleh perasaan subjektif dari kebahagian dan dapat dengan mudah diketahui dari
ekspresi wajah. Emosi positif ini akan melawan emosi negatif yang dialami saat seseorang

3
mengalami stres seperti kecemasan, kesedihan, dan kemarahan. Hal inilah yang
menyebabkan seseorang yang memiliki emosi positif ini akan memandang sebuah masalah
tanpa menjadikannya sebagai suatu beban atau stresor yang berarti (Grimett, 2011).
Humor dan tertawa merupakan hal yang sangat berkaitan, karena tertawa merupakan
respon fisik dari stimulasi humor (Grimett, 2011). Penelitian terhadap tertawa menunjukkan
bahwa efek tertawa baik secara psikologis maupun fisiologis. Secara psikologis, penelitian
menunjukkan tertawa dapat menurunkan level stres (Walia & Kaur, 2008). Crhistie dan
Moore (Desinta, 2011) melakukan review terhadap beberapa jurnal penelitian mengenai
humor dan tertawa yang menunjukkan bahwa humor digunakan sebagai koping terhadap
stres. Efek tertawa itu sendiri dapat membantu untuk mengontrol tekanan darah dengan
menurunkan hormon stres serta memunculkan kondisi rileks.
Dari beberapa penelitian terkait humor dan pengaruhnya terhadap kondisi psikologis,
maka peneliti mencoba untuk meneliti pengaruh humor terhadap stres pada mahasiswa
tingkat akhir dengan menjadikan humor sebagai salah satu strategi koping yang bisa
menurunkan stres mahasiswa. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, yaitu ada
pengaruh yang signifikan dari humor terhadap penurunan stres, dimana kelompok
eksperimen yang diberi humor dapat menurunkan stres lebih tinggi secara signifikan daripada
kelompok kontrol yang tidak diberi humor.

METODE
Partisipan dan Desain Penelitian
Jumlah partisipan sebanyak 34 mahasiswa (22 laki-laki dan 12 perempuan) Fakultas
Teknik Universitas Brawijaya Malang angkatan 2008-2010 yang sedang mengerjakan skripsi.
Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, dengan kriteria sampel yaitu
mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi, memiliki skor stres sedang sampai
tinggi, dan berusia 20-25 tahun. Metode penelitian menggunakan eksperimen murni dengan
pretest-posttest control group design yang mana akan dilakukan pengukuran sebelum
diberikan perlakuan (pretest) maupun setelah perlakuan (posttest) pada dua kelompok.
Kelompok dalam penlitian ini terdiri dari dua kelompok, yaitu: kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen akan diberikan perlakuan berupa media
humor, meliputi cerita humor, gambar humor, dan video humor, sedangkan kelompok kontrol
diberikan perlakuan berupa video dokumenter.

4
Alat Ukur dan Prosedur
Alat ukur yang digunakan dalam pengukuran stres baik untuk pretest maupun posttest
adalah Percieved Stress Scale (PSS-10) yang dikembangkan oleh Sheldon Cohen pada tahun
1983. Skala ini seringkali digunakan sebagai instrumen psikologi untuk mengukur persepsi
akan stres. Pertanyaan-pertanyaan yang digunakan dalam skala ini termasuk bebas budaya.
Item dalam skala ini berjumlah 10 item yang mana terdiri dari 6 item favorable (1,2,3,6,9,10)
dan 4 item unfavorable (4,5,7,8) (Cohen et al., 1983).
Manipulation check untuk kelompok eksperimen. Skala ini mengukur efektivitas media
humor (Video Humor, Cerita Humor dan Gambar Humor) yang berisi 3 pertanyaan,
Seberapa lucu video yang telah ditampilkan kepada anda?, Seberapa lucu modul cerita
yang telah anda baca? dan Seberapa lucu gambar-gambar yang telah diperlihatkan kepada
anda? dengan rentang 1-9 (1 = sangat tidak lucu, 9 = sangat lucu).
Manipulation check untuk kelompok kontrol. Skala ini mengukur efektivitas video
dokumenter sebagai stimulus netral yang berisi 1 pertanyaan, Seberapa lucu video yang
telah ditampilkan kepada anda?dengan rentang 1-9 (1 = sangat tidak lucu, 9 = sangat lucu).
Prosedur dalam penelitian ini yaitu: Pertama, peneliti menyebarkan skala PSS kepada
mahasiswa Fakultas Teknik yang sedang mengerjakan skripsi untuk mencari mahasiswa yang
memiliki skor stes sedang sampai tinggi sekaligus untuk dijadikan pretest. Pada hari
eksperimen berlangsung, partisipan pada kelompok eksperimen akan diberikan tiga media
humor yaitu cerita humor, gambar humor dan video humor dengan total durasi keseluruhan
selama 15 menit. Sedangkan pada kelompok kontrol diperlihatkan video dokumenter selama
15 menit sebagai placebo. Kemudian, partisipan mengisi manipulation check untuk
mengetahui efektifitas masing-masing media yang diberikan. Selanjutnya, partisipan diminta
untuk mengisi skala PSS sebagai posttest yang hanya diberikan di hari terakhir eksperimen.

HASIL
Manipulation Check
Manipulation check dianalisi menggunakan t-test. Hasil manipulation check
menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menunjukkan adanya
perbedaan tingkat kelucuan media yang diberikan, dimana media humor yang diberikan
kepada kelompok eksperimen bersifat lucu sedangkan video dokumenter yang diberikan
kepada kelompok kontrol bersifat tidak lucu, yaitu (M KE= 6,12, SD = 1,34 vs M KK = 1,73,
SD = 0,62; t(34) = -12,296; p = 0,00. Selain itu jika dilihat dari skor rata-rata yang ada pada
masing-masing kelompok menunjukkan juga perbedaan, yang mana skor rata-rata pada

5
kelompok eksperimen lebih besar dari pada nilai tengah yaitu 5 (rentang skala 1-9),
sedangkan skor rata-rata kelompok eksperimen jauh dibawah nilai tengah. sehingga dapat
disimpulkan bahwa masing-masing media yang diberikan bersifat efektif sesuai dengan
perannya masing-masing.

Kesetaraan Media Humor


Pada kesetaraan media humor menunjukkan hasil bahwa media humor yang diberikan
kepada kelompok eksperimen berupa video, cerita, dan gambar humor memiliki rata-rata
tingkat kelucuan adalah (M video = 7,47, SD = 0,76, M cerita = 4,89, SD = 1,07 dan M
gambar = 5,38, SD = 1,59). Nilai pada ketiga media tersebut sama-sama lebih besar dari pada
nilai tengah yaitu 5 (rentang skala 1-9), sehingga media-media humor tersebut menunjukkan
kesetaraan yang sama.

Pengaruh Humor Terhadap Stres


Peneliti melakukan analisis bootstrap dengan resampling sejumlah 5.000 kali dengan
interval kepercayaan koreksi bias 95%. Analisis ini digunakan untuk menguji hipotesis
dengan membandingkan skor posttest kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol dan
juga skor pretest kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol sebagai preliminary
baseline.
Tabel 1. Hasil Eksperimen
Stres (PSS)
Baseline
Posttest
Pretest-Posttest kelompok
eksperimen
Pretest-Posttest kelompok
kontrol

Sig. (1-tailed)
.481
.000
.000

t
-.048
3.964
4.391

.414

.220

a. Preliminary Baseline
Pada preliminary baseline peneliti melakukan perbandingan skor pretest kelompok
eksperimen dengan kelompok kontrol untuk melihat kondisi partisipan sebelum
mendapatkan perlakuan atau pada saat persiapan eksperimen. Hasil dari preliminary
baseline menunjukkan tidak adanya perbedaan skor pretest pada kelompok eksperimen
dengan kelompok kontrol (lihat tabel 5), yaitu (M humor = 18,82, SD = 3,59 vs M tanpa
humor = 18,76, SD = 3,58; t(34) = -0,048; p = 0,48. Hasil tersebut sesuai dengan harapan

6
peneliti yang mana pada preliminary baseline kondisi kedua kelompok tersebut
diharapkan sama.
b. Pengujian Hipotesis
Hasil posttest menunjukkan adanya perbedaan skor posttest pada kelompok
eksperimen dengan kelompok kontrol (lihat tabel 5), yaitu (M humor = 18,82, SD = 3,59
vs M tanpa humor = 18,76, SD = 3,58; t(34) = 3,96; p = 0,00. Dari hasil tersebut
menunjukkan bahwa humor dapat menurunkan tingkatan stres. Hal ini ditegaskan dengan
hasil bootstrap untuk paired t-test yang mana membandingkan skor stres sebelum dan
sesudah perlakuan pada masing-masing kelompok.
Kelompok eksperimen menunjukkan penurunan tingkatan stres setelah mendapatkan
media humor, yaitu (M pretest = 18,82, SD = 3,59 vs M posttest = 13.00, SD = 4,78; t(34)
= 4,39; p = 0,00). Sedangkan pada kelompok kontrol tidak menunjukkan adanya
perbedaan antara hasil prestest dengan posttest, yaitu (M pretest = 18,76, SD = 3,58 vs M
posttest = 18,65, SD = 3,41; t(34) = 0,22; p = 0,414). Sehingga dari hasil-hasil tersebut,
hipotesis penelitian diterima dan dapat disimpulkan bahwa humor dapat menurunkan
tingkatan stres, hal ini sesuai dengan apa yang telah disampaikan pada penelitianpenelitian sebelumnya (Colom, Alcover, Curto & Osuna, 2012; Bennet, Zeller, Rosenberg,
& McCann, 2003; Szabo, 2003 Abel & Maxwell, 2002).
c. Analisis Tambahan
Pada penelitian ini peneliti tidak memungkinkan untuk melakukan kontrol pada jenis
kelamin, sehingga peneliti mencoba untuk menguji kemungkinan adanya pengaruh
variabel jenis kelamin terhadap hubungan antara humor dan stres. Oleh karena itu, peneliti
melakukan analisis tambahan terkait jenis kelamin.
Penulis melakukan analisis tambahan dengan menggunakan analisis bootstrap untuk
independent t-test. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa tidak adanya perbedaan
jenis kelamin pada pretest, yaitu: (M laki-laki = 18,63, SD = 3,66 vs M perempuan =
19,08, SD = 3,42; t(34) = -0,35; p = 0,36). Begitu pula pada posttest menunjukkan tidak
adanya pengaruh jenis kelamin, yaitu (M laki-laki = 15,91, SD = 5,30 vs M perempuan
=15,67, SD = 4,60; t(34) = 0,13; p = 0,45). Sehingga secara keseluruhan dapat
disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh variabel jenis kelamin terhadap hubungan antara
humor dan stres.

7
DISKUSI
Pengujian hipotesis menunjukkan bahwa humor mempengaruhi skor atau tingkatan
stres, dimana partisipan yang mendapatkan media humor mengalami penurunan skor atau
tingkatan stres dibandingkan dengan partisipan yang tidak mendapatkan media humor (video
dokumenter).

Penurunan stres pada kelompok yang diberikan media humor ini besar

kemungkinan dikarenakan media humor dapat menstimulasi partisipan untuk tertawa dan
merasa bahagia. Seseorang yang tertawa dan berbahagia menunjukkan bahwa dirinya
memiliki emosi yang lebih positif, hidup yang lebih lama, dan kesejahteraan hidup (Desinta,
2011). Bahkan Jauregui (Colom, et al., 2011) menegaskan bahwa tertawa adalah sebuah
emosi positif, yang dilukiskan oleh perasaan subjektif dari kebahagian dan dapat dengan
mudah diketahui dari ekspresi wajah. Emosi positif ini akan melawan emosi negatif yang
dialami saat seseorang mengalami stres seperti kecemasan, kesedihan, dan kemarahan. Hal
inilah yang menyebabkan seseorang yang memiliki emosi positif ini akan memandang sebuah
masalah tanpa menjadikannya sebagai suatu beban atau stresor yang berarti (Grimett, 2011).
Pada penelitian yang dilakukan oleh Martin (Colom, et, al., 2011) menjelaskan bahwa
humor dapat dijadikan sebagai strategi yang efektif dalam proses coping problems. Seseorang
yang memiliki skor tinggi pada Coping Humor Scale menunjukkan bahwa mereka lebih dapat
berhadapan dengan situasi yang penuh dengan tekanan (stressful situasion), yang mana
mereka akan dapat mengartikan masalah-masalah yang ada sebagai sebuah tantangan dari
pada ancaman atau hambatan yang menekan, dan dapat mengatasi secara aktif permasalahanpermasalahan yang ada. Kondisi yang seperti inilah yang yang besar kemungkinan dialami
oleh partisipan yang mendapatkan media humor sebagai bentuk perlakuan selama 3 hari.
Dimana kondisi subjek yang awalnya rata-rata mengalami stres sedang menurun skor stres
nya ataupun tingkatan stresnya setelah mendapatkan perlakuan media humor.
Penurunan skor stres ini disebabkan karena adanya pengaruh humor, yang menstimulasi
partisipan untuk tertawa dan bahagia sehingga memunculkan emosi positif, yang mana pada
awalnya partisipan merasakan situasi yang menekan yang menyebabkan stres sehingga
memunculkan kondisi emosi yang negatif seperti marah, sedih, khawatir, takut, dan cemas.
Kondisi yang dirasakan oleh partisipan ini dikuatkan dengan hasil wawancara yang dilakukan
peneliti kepada beberapa partisipan sebagai hasil testimoni atau respon setelah mendapatkan
perlakuan humor selama 3 hari. Dari tujuh partisipan yang diwawancarai semuanya
memberikan respon positif terkait eksperimen yang telah diberikan, selain itu subjek juga
menyatakan bahwa terdapat perbedaan sebelum dan sesudah mendapat eksperimen.

8
Partisipan-partisipan tersebut menyatakan bahwa mereka lebih merasa sering tertawa, lebih
rileks, merasa senang, dan bahagia setelah mendapatkan media humor.
Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah humor dapat mempengaruhi stres, dimana
partisipan yang mendapatkan media humor dapat menurunkan stres secara signifikan
dibandingkan partisipan yang tidak mendapatkan media humor (media dokumenter).
Sehingga hipotesis penelitian diterima. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitianpenelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa humor dapat menurunkan level stres (Colom,
Alcover, Curto & Osuna, 2012; Bennet, Zeller, Rosenberg, & McCann, 2003; Szabo, 2003;
Abel & Maxwell, 2002). Lebih lagi, humor dan tertawa secara efektif dapat digunakan
sebagai coping stress, yang mana humor dapat membantu kita untuk melihat sebuah masalah
dari perspektif yang lain, dan tertawa dapat membantu kita untuk melepaskan akumulasi dari
ketegangan-ketegangan fisik yang diakibatkan dari ketegangan psikologis, serta menurunkan
hormon stres (Colom, et al., 2011).

KETERBATASAN
Keterbatasan pertama dari penelitian ini adalah kurang terpenuhinya jumlah subjek
sesuai dengan ketentuan G-Power. Dari keterbatasan ini, penelitian kedepannya dapat
memenuhi jumlah subjek yang sudah ditentukan oleh G-Power. Sehingga jumlah sampel
yang digunakan bisa representatif dari populasi yang ada.
Keterbatasan kedua dari penelitian ini adalah kurangnya keseragaman jumlah subjek
pada kelompok eksperimen dan kontrol pada saat eksperimen berlangsung, sebagai contoh
pada pada gelombang pertama, eksperimen ini hanya dihadiri 8 orang pada kelompok
eksperimen dan 2 orang pada kelompok kontrol. Ketidakseragaman jumlah subjek yang
datang pada masing-masing kelompok dikarenakan sulitnya mendatangkan mahasiswa teknik
dalam jumlah yang sama selama tiga hari. Sehingga peneliti terpaksa melakukan eksperimen
dari jumlah subjek yang bisa mengkonfirmasi kehadirannya untuk mengikuti eksperimen.
Dari keterbatasan ini, penelitian kedepannya diharapkan memiliki jumlah subjek yang sama
pada saat eksperimen berlangsung pada masing-masing kelompok. Sehingga kondisi dan
jumlah subjek yang mengikuti eksperimen pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
setara dan sama.
Keterbatasan ketiga dari penelitian ini adalah tempat eksperimen yang terkadang
berubah-ubah, sebagai contoh pada hari pertama berada di ruang A dengan tempat yang lebih
luas, akan tetapi pada hari kedua berada di ruang B dengan tempat yang lebih sempit, dan
pada sesi ketiga kembali lagi di ruang A. Berubah-ubahnya tempat ini dikarenakan

9
keterbatasan untuk konsistensi perijinan tempat yang sama selama beberapa hari. Sehingga
pada penelitian selanjutnya semua setting tempat diharapkan sama di setiap sesinya jika
menggunakan penelitian longitudinal.

DAFTAR PUSTAKA
Abel, Millicent H. (2002). Humor, stress, and coping strategies. Journal of Humor, 15, 365381.
Abel, Millicent H. (1998). Interaction of humor and gender in moderating relationships
between stress and outcomes. Journal of Psychology, 132, 267-276.
Abel, Millicent H. and Maxwell, David. (2002). Humor and affective consequences of a
stressful task. Journal of Social and Clinical Psychology, 21, 165-190.
Bennett, Mary P et al. (2003). The effect of mirthful laughter on stress and natural killer cell
activity. Alternative Therapies in Health and Magazine, 9, 35-45.
Berk, K. (2001). The active ingredients in humor : Psycho physiological benefit and risk for
older adult. Educational Gerontology, 27, 323-329.
Bhat, R.M., Sameer M.K., Ganaraja, B. (2011). Eustress in education: Analysis of the
perceived stress score (pss) and blood pressure (bp) during examinations in medical
students. Journal Clinical and Diagnostic Research, 5, 331-335.
Colom, Gloria G., et al. (2011). Study of the effect of positive humour as a variable that
reduces stress. Relationship Of Humour With Personality And Performance Variables.
Journal Psychology in Spain, 15, 9-21.
Darmono & Hasan, Ani M. (2002). Menyelesaikan skripsi dalam satu semester. Jakarta : PT
Grasindo.
Desinta, Sheni. (2011). Terapi tawa untuk menurunkan stres pada penderita hipertensi. Tesis.
Universitas Gajah Mada.
Fadillah, Amalia E. (2013). Stres dan motivasi belajar pada mahasiswa psikologi universitas
mulawarman yang sedang menyusun skripsi. E-Journal Psikologi, Vol. 1, No. 3.
Fitriani, Qurrota A. (2013). Peran kecenderungan kepribadian neuroticsm dan problem
focused coping dalam menjelaskan stres akademik pada mahasiswa tingkat akhir
fakultas

ilmu

sosial

dan

ilmu

politik

Universitas

Brawijaya.

Jurnal.

www.academia.edu. Diakses pada tanggal 6 Januari 2014.


Grimett, Maxine. (2011). The value of humour theraphy in dealing with anxiety in hiv
positive hiv/aids lay counsellors. Disertasi.

10
Hawkins, Drew A. (2008). Comparing the use of humor to other coping mechanisms in
relation to maslachs theory of burnout. Disertasi. University of Florida.
Kassoff, Lara Beth. (2012). The effect of humor and anxiety on task performance. Disertasi.
Fairleigh Dickinson University.
Kataria, M. (2004). Laugh for no reason (terapi tawa). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Kaur, Lakhwinder and Walia, Indarjit. (2008). Effect of laughter therapy on level of stress: A
study among nursing students. Nursing and Midwifery Research Journal, Vol. 4, No. 1.

Kuiper, Nicholas A. (2012). Humor and resiliency: Toward a process model of coping and
growth. Europes Journal of Psychology, 8, 475-491.
Latipun. (2010). Psikologi eksperimen. Malang: UMM Press.
Lubis, Namora L. (2009). Depresi tinjauan psikologis. Jakarta : Kencana.
Lubis & Nurlaila. (2010). Mengapa tingkat stres pelajar makin tinggi. www.vivanews.com.
Diakses pada tanggal 6 Januari 2014.
Mallett, Jane. (1995). Humour and laughter therapy. Complementory Therapies in Nursing &
Midwifery, 1, 73-76.
Marks, D.F., Murray M., Evens B., dan Wiling C. (2002). Health phychology. London: Sage
Publication.
Mayoral, L. (2006). Exam stres, depression, social support and sleep disturbance. Disertasi.
Miller, Barbara N. (2008). The uses and effect of humor in the school workplace. Disertasi.
University of Oregon.
Munandar, A.S. (2001). Stress dan keselamatan kerja, psikologi industri dan organisasi.
Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Mayr, S., Erdfelder, E., Buchner, A. and Faul, F. (2007). A short tutorial of GPower. Journal
of Tutorial in Quantitative Methods for Psychology, 3, 51-59.
Pin, Tan Lee. (2011). Hubungan kebiasaan berolahraga dengan tingkat stres pada mahasiswa
fakultas kedokteran Universitas Sumatera Utara. Skripsi. Universitas Sumatera Utara.
Potter, P.A. and Perry, A.G. (2005). Fundamental nursing: Concepts, process, and practice.
6th edition. St. Louis: Mosby Year Book.
Prasetyo, Anggun R. & Nurtjahjanti, Herlina. (2012). Pengeruh penerapan terapi tawa
terhadap penurunan tingkat stres kerja pada pegawai kereta api. Jurnal Psikologi
Universitas Diponegoro, Vol 11, No. 1.
Purwati, Susi. (2012). Tingkat stres akademik pada mahasiswa reguler angkatan 2010
fakultas ilmu keperawatan Universitas Indonesia. Skripsi. Universitas Indonesia.

11
Ripoll, Ramon Mora. (2010). The therapeutic value of laughter in medicine. Narrative
Review by Alternative Therapies, Vol. 16. No. 6.
Ripoll, Ramon Mora and Casado, Isabel Q. (2010). Laughter and positive therapies: Modern
approach and practical use in medicine. Journal of Psiquiatria y Salud Mental, 3, 2734.
Santrock, John W. (2003). Life span development perkembangan masa hidup. Jilid 2.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Seniati, Liche., Yulianto, Aries., dan Setiadi, Bernadette N. (2005). Psikologi eksperimen.
Jakarta: PT Indeks Kelompok Gramedia.
Sidle, S. Daniel. (2000). Humor as emotional labor. Disertasi. DePaul University.
Soehartono, Irawan. (2008). Metode penelitian sosial. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. (2008). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan r & d. Bandung: Alfabeta.
Sunaryo. (2002). Psikologi untuk keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
http://books.google.co.id/ Diakses pada tanggal 15 April 2014.
Szabo, Attila. (2003). The acute effect of humor and exercise on mood and anxiety. Journal
of Leisure Research, 35, 152-162.
Wulandari, Resti P. (2012). Hubungan tingkat stres dengan gangguan tidur pada mahasiswa
skripsi di salah satu fakultas rumpun science-technology UI. Skripsi. Universitas
Indonesia.
Yesamine, O. (2000). Hubungan antara kecenderungan problem focused coping dengan
depresi pada mahasiswa tingkat akhir. Skripsi. Universitas Gajah Mada.
Yosep, Iyus. (2007). Keperawatan jiwa. Bandung: Refika Aditama.