Anda di halaman 1dari 13

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)


Jl. Arjuna Utara No.6 Kebun Jeruk Jakarta Barat

STATUS
STATUSOBSTETRI
OBSTETRI
FAKULTAS
FAKULTASKEDOKTERAN
KEDOKTERANUKRIDA
UKRIDA
KEPANITERAAN
KEPANITERAANKLINIK
KLINIK
Nama Mahasiswa : RUMAH
RUMAHSAKIT
SAKITUMUM
UMUMDAERAH
DAERAHKOJA
KOJA
NIM
Dr. Pembimbing

:
: dr. Musa Soebiantoro, Sp.OG

IDENTITAS
IDENTITAS PASIEN

IDENTITAS SUAMI

Nama pasien
Umur

: Ny. T
: 25 tahun

Jenis kelamin
Perempuan

Umur

Ibu

Pendidikan

: SD

: Tn. H
: 30 tahun

Jenis kelamin

Status perkawinan : Menikah


Pekerjaan
Tangga

Nama pasien

: Laki-laki

Status perkawinan : Menikah


Rumah Pekerjaan
Pendidikan

Agama

: Islam

Alamat
Penjaringan No.24

Agama
Jl. Alamat
Penjaringan No.24

: Pedagang
: SLTA
: Islam
:

ANAMNESIS
Tanggal masuk
Autoanamnesis

: 14 November 2010 pukul 06.30


: tanggal 14 November 2010 pukul 06.30

Keluhan utama
Keluar air-air sejak tanggal 14 November 2010 pukul 03.00

Keluhan tambahan
Keluar lendir dan darah sejak jam 03.00

Jl.

Riwayat Kehamilan Sekarang


Ny. T usia 25 tahun datang ke RSUD KOJA atas rujukan dari Puskesmas
Pademangan dengan diagnosa G3P2A0 H 41-42 minggu dengan KPD. OS mengaku
sudah keluar air-air yang tidak dapat ditahan dari kemaluannya sejak 3,5 jam
SMRS (pukul 03.00). OS mengatakan cairan yang keluar berwarna putih jernih.
OS mengeluh sudah mules-mules dan disertai dengan keluarnya lendir darah
sejak tanggal 14 November 2010 pukul 02.00. Os masih dapat merasakan
gerakan janin dan mengatakan usia kandungan sudah 9 bulan.
OS mengaku ini merupakan kehamilan ke-3 dengan riwayat kehamilan
sebelumnya tidak pernah mengalami keguguran. Os mengatakan HPHT-nya
tanggal 28 Januari 2010, taksiran partus 06 November 2010.

Riwayat Kehamilan Dahulu


Persalinan
Persalinan ke I : spontan belakang kepala/ perempuan/ 3300 gram/ bidan/ 2003
Persalinan ke II : spontan belakang kepala/ laki-laki/ 3800 gram/ bidan pada/
2008

Riwayat Penyakit Dahulu


Tidak ada.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada.

PEMERIKSAAN FISIK
1. STATUS GENERALIS
Keadaan umum
Kesadaran
Tinggi Badan
Berat Badan
Tekanan Darah
Nadi
Suhu
Pernafasaan
Mata
Jantung

Paru

Abdomen

Ekstremitas

:
:
:
:
:
:
:
:

baik
:
compos mentis
158 cm
72 kg
110 / 70 mmHg
80 x / menit
36,3 C
22 x / menit
conjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/Bunyi jantung I & II reguler murni, gallop
-, murmur Suara nafas vesikuler, wheezing -/-, ronkhi
-/Perut membuncit, linea nigra +, striae
gravidarum +
varices -/-, oedema -/-

2. STATUS OBSTETRIK

Pemeriksaan luar

o Inspeksi
: abdomen tampak membesar sesuai usia kehamilan,
tampak linea nigra dan striae gravidarum (+)
o Palpasi
:
Leopold I
: Tinggi fundus uteri 3 jari di bawah processus xyphoideus
(33 cm), teraba bagian bulat, lunak, dan tidak melenting
Leopold II : Teraba bagian keras, memanjang seperti papan di sisi kiri
ibu
Leopold III : Teraba bagian bulat, keras, dan melenting
Leopold IV : Bagian terendah janin sudah masuk PAP, 4/5 bagian
HIS
: 3x /10 menit, lamanya 30 detik, kekuatan sedang
DJJ
: 151 x/menit, teratur
TBJ
: (33 - 13) x 155 = 3100 gram

Pemeriksaan dalam :
Inspekulo
Vaginal toucher
Pembukaan
Portio
Selaput ketuban
Bagian terendah
-

o
o

: tidak dilakukan
:
: 3 cm
: tebal, lunak
: (-)
: HI

RESUME
Ny. T usia 25 tahun, datang ke RSUD KOJA atas rujukan dari Puskesmas
Pademangan dengan diagnosa G3P2A0 H 41-42 minggu dengan KPD. OS mengaku
sudah keluar air-air yang tidak dapat ditahan dari kemaluannya sejak 3,5 jam
SMRS, sudah mules-mules dan disertai dengan keluarnya lendir darah. OS
mengatakan usia kandungan sudah 9 bulan. Hari pertama haid terakhirnya
tanggal 28 Januari 2010. Ini merupakan kehamilan pertama. Pada pemeriksaan
fisik yaitu status generalis dalam batas normal, status obstetrik menunjukkan
janin dalam presentasi kepala, HIS sedang, DJJ 151 x/menit, VT pembukaan 3 cm,
tebal lunak, ketuban (-), hodge I.

DIAGNOSA
G3P2A0 H

41

minggu, janin tunggal, hidup dengan KPD

PENATALAKSANAAN
1. Pro partus spontan belakang kepala
2. Observasi HIS, DJJ, penurunan kepala, bundl ring evaluasi 6 jam
3. Antibiotik profilaksis : Amoxycillin 1 x 2 gr IV
3

PROGNOSA

Ibu
Ad vitam
Ad functionam
Ad sanationam
Janin

:
:
:
:

dubia
dubia
dubia
dubia

ad
ad
ad
ad

bonam
bonam
bonam
bonam

FOLLOW UP
Tanggal 14 November 2010 jam 12.30
S
O

: OS merasakan mules-mules yang semakin sering


:

Status
Generalis

Status
Obstetrik

Keadaan
umum

: baik

Kesadaran

: CM

Tekanan
darah

: 120/80
mmHg

DJJ

: 148 x/menit

Nadi

: 100 x/menit

VT

: 5 cm, tipis, lunak, ketuban


(-), H I

Pernafasan

: 20 x/menit

Suhu

: 36,9C

A
P

HIS

: 2 x/10
kekuatan

menit

(30

sedang

: G3P2A0 H 41 minggu, janin tunggal hidup dengan KPD


: Pro partus spontan belakang kepala
Observasi HIS, DJJ, penurunan kepala, Bundl ring
Evaluasi 4 jam

Tanggal 14 November 2010 jam 16.30


S
O

: OS merasakan mules yang semakin sering dan rasa ingin mengedan


:

Status
Generalis

detik)

Status
Obstetrik

Keadaan
umum

: baik

DJJ

: 138 x/menit

Kesadaran

: CM

VT

: lengkap, portio tidak teraba,

Tekanan
darah

:
110/70
mmHg

Nadi

: 92 x/menit

Pernafasan

: 20 x/menit

Suhu

: 36,7C

A
P

ketuban (-), H III+

: G3P2A0 H 41 minggu Partus Kala II dengan KPD


: Pimpin meneran
Pro partus spontan belakang kepala
Observasi DJJ, penurunan kepala, Bundl ring
Evaluasi jam

Tanggal 14 November 2010 jam 16.40


S
O
A
P

: OS merasa kelelahan
: Bayi lahir spontan belakang kepala dengan jenis kelamin : perempuan,
BBL= 3100 gram, PB= 48 cm, A/S = 8/9, anus (+), cacat (-)
: P3A0 Partus Kala III dengan KPD
: Pimpin lahirkan plasenta

Tanggal 14 November 2010 jam 16.55


S
O

A
P

: OS merasa kelelahan dan lemas


: Plasenta lahir spontan, kesan : lengkap, utuh
TFU = 2 jari di bawah pusat
Kontraksi uterus : baik
Perdarahan : 100 cc
Perineum utuh
TD post partum : 110/70 mmHg
: P3A0 Partus Kala IV dengan KPD
: Observasi TTV, perdarahan, kontraksi uterus
Evaluasi 2 jam
Amoxycillin 3 x 500 mg
As. Mefenamat 3 x 500 mg

Tanggal 14 November 2010 jam 19.00


S
O

: OS merasa lemas
:

Status
Generalis

Status
Obstetrik

Keadaan
umum

: baik

TFU

: 2 jari di bawah pusat

Kesadaran

: CM

Perdarahan

: 50 cc

Tekanan
darah

: 120/70
mmHg

Kontraksi
uterus

: baik

Nadi

: 82 x/menit

Pernafasan

: 22 x/menit

Suhu

: 37C

A
P

: P3A0 post partum spontan belakang kepala dengan KPD


: Observasi TTV, perdarahan, kontraksi uterus
Amoxycillin 3 x 500 mg
As. Mefenamat 3 x 500 mg
Pindah RPKK

Tanggal 15 November 2010 jam 06.15


S
O

: Tidak ada keluhan


:

Status
Generalis

Status
Obstetrik

Keadaan
umum

: baik

TFU

: 2 jari di bawah pusat

Kesadaran

: CM

Perdarahan

: 50 cc

Tekanan
darah

: 110/80
mmHg

Kontraksi
uterus

: baik

Nadi

: 78 x/menit

Pernafasan

: 20 x/menit

Suhu

: 36,4C

A
P

: P3A0 post partum spontan belakang kepala dengan KPD


: Observasi TTV, perdarahan, kontraksi uterus
Amoxycillin 3 x 500 mg
As. Mefenamat 3 x 500 mg
Boleh pulang

TINJAUAN PUSTAKA
KETUBAN PECAH DINI
Definisi
Ada bermacam-macam batasan, teori dan definisi mengenai KPD. Beberapa
penulis mendefinisikan KPD yaitu apabila ketuban pecah spontan dan tidak
diikuti tanda-tanda persalinan, ada teori yang menghitung beberapa jam
sebelum inpartu, misalnya 1 jam atau 6 jam sebelum inpartu. Ada juga yang
menyatakan dalam ukuran pembukaan servik pada kala I, misalnya ketuban
pecah sebelum pembukaan servik pada primigravida 3 cm dan pada
multigravida kurang dari 5 cm.

Insidensi
Beberapa peneliti melaporkan hasil penelitian mereka dan didapatkan hasil yang
bervariasi. Insidensi KPD berkisar antara 8 - 10 % dari semua kehamilan. Hal
yang menguntungan dari angka kejadian KPD yang dilaporkan, bahwa lebih
banyak terjadi pada kehamilan yang cukup bulan dari pada yang kurang bulan,
yaitu sekitar 95 %, sedangkan pada kehamilan tidak cukup bulan atau KPD pada
kehamilan preterm terjadi sekitar 34 % semua kelahiran prematur.
KPD merupakan komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan kurang bulan,
dan mempunyai kontribusi yang besar pada angka kematian perinatal pada bayi
yang kurang bulan. Pengelolaan KPD pada kehamilan kurang dari 34 minggu
sangat komplek, bertujuan untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya
prematuritas dan RDS.

Etiologi
Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya masih belum
diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan
menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD, namun faktorfaktor mana yang lebih berperan sulit diketahui. Kemungkinan yang menjadi
faktor predisposisi adalah:

Infeksi

Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban atau infeksi pada
cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD.

Servik yang inkompetensia, kanalis servikalis yang selalu terbuka oleh karena
kelainan pada servik uteri (akibat persalinan, currettage).

Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan


(overdistensi uterus) misalnya trauma, hidramnion, gemelli. Trauma oleh
beberapa ahli disepakati sebagai faktor predisposisi atau penyebab terjadinya
KPD. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam,
maupun amniosintesis menyebabakan terjadinya KPD karena biasanya
disertai infeksi.

Kelainan letak, misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian terendah yang
menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan
terhadap membran bagian bawah.

Faktor lain
a. Faktor golongan darah
Akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak sesuai dapat menimbulkan
kelemahan bawaan termasuk kelemahan jarinngan kulit ketuban.
b. Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu.
c. Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan antepartum.
d. Defisiensi gizi dari tembaga atau asam askorbat (Vitamin C).

Diagnosis
Menegakkan diagnosis KPD secara tepat sangat penting. Karena diagnosis yang
positif palsu berarti melakukan intervensi seperti melahirkakn bayi terlalu awal
atau melakukan seksio yang sebetulnya tidak ada indikasinya. Sebaliknya
diagnosis yang negatif palsu berarti akan membiarkan ibu dan janin mempunyai
resiko infeksi yang akan mengancam kehidupan janin, ibu atau keduanya. Oleh
karena itu diperlukan diagnosis yang cepat dan tepat. Diagnosis KPD ditegakkan
dengan cara :
1.

Anamnesis

Penderita merasa basah pada vagina, atau mengeluarkan cairan yang banyak
secara tiba-tiba dari jalan lahir. Cairan berbau khas, dan perlu juga diperhatikan
warna, keluarnya cairan tersebut HIS belum teratur atau belum ada, dan belum
ada pengeluaran lendir darah.
2.

Inspeksi

Pengamatan dengan mata biasa akan tampak keluarnya cairan dari vagina, bila
ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak, pemeriksaan ini akan
lebih jelas.

3.

Pemeriksaan dengan spekulum

Pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak keluar cairan dari
orifisium uteri eksternum (OUE), kalau belum tampak keluar, fundus uteri
ditekan, penderita diminta batuk, mengejan atau mengadakan manuever
valsava, atau bagian terendah digoyangkan, akan tampak keluar cairan dari
ostium uteri dan terkumpul pada fornik anterior.
4.

Pemeriksaan dalam

Didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi.
Mengenai pemeriksaan dalam vagina toucher perlu dipertimbangkan, pada
kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam persalinan tidak perlu diadakan
pemeriksaan dalam. Karena pada waktu pemeriksaan dalam, jari pemeriksa
akan mengakumulasi segmen bawah rahim dengan flora vagina yang normal.
Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi patogen. Pemeriksaan
dalam vagina hanya dilakukan kalau KPD yang sudah dalam persalinan atau
yang dilakukan induksi persalinan dan dibatasi sedikit mungkin.

5.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboraturium

Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi, bau dan pH
nya. Cairan yang keluar dari vagina ini selain air ketuban mungkin juga urine
atau sekret vagina. Sekret vagina ibu hamil pH : 4-5, dengan kertas nitrazin
tidak berubah warna, tetap kuning.
-

Tes Lakmus (tes Nitrazin), jika krtas lakmus merah berubah menjadi biru
menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). pH air ketuban 7 7,5, darah
dan infeksi vagina dapat menghasilkan tes yang positif palsu.
Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek
dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran
daun pakis.

Pemeriksaan ultrasonografi (USG)

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum
uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit. Namun
sering terjadi kesalahan pada penderita oligohidromnion.
Walaupun pendekatan diagnosis KPD cukup banyak macam dan caranya, namun
pada umumnya KPD sudah bisa terdiagnosis dengan anamnesa dan pemeriksaan
sedehana.

Komplikasi
Ada 2 komplikasi yang sering terjadi pada KPD, yaitu :
9

1. Infeksi, karena ketuban yang utuh merupakan barier atau penghalang


terhadap masuknya penyebab infeksi. Dengan tidak adanya selaput ketuban
seperti pada KPD, flora vagina yang normal ada bisa menjadi patogen yang
akan membahayakan baik pada ibu maupun pada janinnya. Oleh karena itu
membutuhkan pengelolaan yang agresif seperti diinduksi untuk mempercepat
persalinan dengan maksud untuk mengurangi kemungkinan resiko terjadinya
infeksi ;
2. Kurang bulan atau prematuritas, karena KPD sering terjadi pada kehamilan
kurang bulan. Masalah yang sering timbul pada bayi yang kurang bulan
adalah gejala sesak nafas atau respiratory Distress Syndrom (RDS) yang
disebabkan karena belum masaknya paru.

Penatalaksanaan
Ketuban pecah dini termasuk dalam kehamilan beresiko tinggi. Kesalahan dalam
mengelola KPD akan membawa akibat meningkatnya angka morbiditas dan
mortalitas ibu maupun bayinya.
Penatalaksanaan KPD masih dilema bagi sebagian besar ahli kebidanan, selama
masih beberapa masalah yang masih belum terjawab. Kasus KPD yang cukup
bulan, kalau segera mengakhiri kehamilan akan menaikkan insidensi bedah
sesar, dan kalau menunggu persalinan spontan akan menaikkan insidensi
chorioamnionitis. Kasus KPD yang kurang bulan kalau menempuh cara-cara aktif
harus dipastikan bahwa tidak akan terjadi respiratory distress syndrome (RDS),
dan kalau menempuh cara konservatif dengan maksud untuk memberi waktu
pematangan paru, harus bisa memantau keadaan janin dan infeksi yang akan
memperjelek prognosis janin.
Penatalaksanaan KPD tergantung pada umur kehamilan. Kalau umur kehamilan
tidak diketahui secara pasti segera dilakukan pemeriksaann ultrasonografi (USG)
untuk mengetahui umur kehamilan dan letak janin. Resiko yang lebih sering
pada KPD dengan janin kurang bulan adalah respiratory distress syndrome (RDS)
dibandingkan dengan sepsis. Oleh karena itu pada kehamilan kurang bulan perlu
evaluasi hati-hati untuk menentukan waktu yang optimal untuk persalinan. Pada
umur kehamilan 34 minggu atau lebih biasanya paru-paru sudah matang,
chorioamnionitis yang diikuti dengan sepsis pada janin merupakan sebab utama
meningginya morbiditas dan mortalitas janin. Pada kehamilan cukup bulan,
infeksi janin langsung berhubungan dengan lama pecahnya selaput ketuban atau
lamanya perode laten.
Kebanyakan penulis sepakat mengambil 2 faktor yang harus dipertimbangkan
dalam mengambil sikap atau tindakan terhadap penderita KPD yaitu umur
kehamilan dan ada tidaknya tanda-tanda infeksi pada ibu.

Penatalaksanaan KPD pada kehamilan aterm (> 37 Minggu)


Beberapa penelitian menyebutkan lama periode laten dan durasi KPD keduanya
mempunyai hubungan yang bermakna dengan peningkatan kejadian infeksi dan
komplikasi lain dari KPD. Jarak antara pecahnya ketuban dan permulaan dari
10

persalinan disebut periode latent = L.P = lag period.


kehamilan makin memanjang L.P-nya.

Makin muda umur

Pada hakekatnya kulit ketuban yang pecah akan menginduksi persalinan dengan
sendirinya. Sekitar 70-80 % kehamilan genap bulan akan melahirkan dalam
waktu 24 jam setelah kulit ketuban pecah, bila dalam 24 jam setelah kulit
ketuban pecah belum ada tanda-tanda persalinan maka dilakukan induksi
persalinan, dan bila gagal dilakukan bedah caesar.
Pemberian antibiotik profilaksis dapat menurunkan infeksi pada ibu. Walaupun
antibiotik tidak berfaeadah terhadap janin dalam uterus namun pencegahan
terhadap chorioamninitis lebih penting dari pada pengobatannya sehingga
pemberian antibiotik profilaksis perlu dilakukan. Waktu pemberian antibiotik
hendaknya diberikan segera setelah diagnosis KPD ditegakkan dengan
pertimbangan : tujuan profilaksis, lebih dari 6 jam kemungkinan infeksi telah
terjadi, proses persalinan umumnya berlangsung lebih dari 6 jam.
Beberapa penulis menyarankan bersikap aktif (induksi persalinan) segera
diberikan atau ditunggu sampai 6-8 jam dengan alasan penderita akan menjadi
inpartu dengan sendirinya. Dengan mempersingkat periode laten durasi KPD
dapat diperpendek sehingga resiko infeksi dan trauma obstetrik karena partus
tindakan dapat dikurangi.
Pelaksanaan induksi persalinan perlu pengawasan yang sangat ketat terhadap
keadaan janin, ibu dan jalannya proses persalinan berhubungan dengan
komplikasinya. Pengawasan yang kurang baik dapat menimbulkan komplikasi
yang fatal bagi bayi dan ibunya (HIS terlalu kuat) atau proses persalinan menjadi
semakin kepanjangan (HIS kurang kuat).
Induksi dilakukan dengan
memperhatikan bishop score jika > 5 induksi dapat dilakukan, sebaliknya < 5,
dilakukan pematangan servik, jika tidak berhasil akhiri persalinan dengan sectio
caesaria.

Kesimpulan
Ketuban pecah dini merupakan problematika yang sering terjadi dan sering kali
menimbulkan berbagai konsekuensi yang dapat meningkatkan morbiditas dan
mortalitas pada ibu maupun bayi kematian perinatal yang cukup tinggi.
Dilema sering terjadi pada pengelolaan KPD dimana harus bersikap aktif
terutama pada kehamilan aterm atau harus menunggu sampai terjadi proses
persalinan sehingga masa tunggu akan memanjang, berikutnya akan
meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi.
Pengelolalaan yang tidak tepat bisa menimbulkan akibat yang berbahaya bahkan
kematian bayi maupun ibunya. Karena itu peningkatan pengetahuan KPD dan
pengelolaannya terutama bagi tenaga medis maupun para medis yang jauh dari
pelayanan dokter ahli perlu dilakukan.
Pengelolaan KPD dipengaruhi oleh berbagai faktor namun ada 2 faktor penting
yang harus dipertimbangkan dalam mengambil sikap atau tindakan terhadap
penderita KPD, yaitu umur kehamilan, dan ada tidaknya tanda infeksi pada ibu.
11

Pengelolaan KPD pada kehamilan aterm masih ada yang mengambil sikap
menunggu sebelum dilakukan tindakan aktif, disebutkan bahwa sikap aktif
(induksi persalinan) dapat segera dilakukan atau ditunggu sampai 6 jam setelah
kulit ketuban pecah dengan harapan akan terjadi inpartu dengan sendirinya.

12

DAFTAR PUSTAKA
1. Premature Rupture of Membrane. Diunduh dari www.chclibrary.org, November
2010.
2. Premature Rupture of Membrane. Diunduh dari www.medem.com, November
2010.
3. Premature Rupture of Membrane. Diunduh dari www.mcevoy.demon.co.uk,
November 2010.
4. Syaifuddin Abdul Bari. Ketuban Pecah Dini; Buku Panduan Praktis Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; hal : M-112 M-115. Jakarta, 2002.
5. Parry Samuel, Strauss Jerome.F. Premature Rupture of the Fetal Membrane;
The New England Jurnal of medicine, Volume 338:663-670. March 1998.
6. Knuppel Robert A, Drukker Joan E. Premature Rupture of Membrane; High-Risk
Pregnancy. Penerbit W. B. Saunders Company; hal 290 - 301. Canada, 1986.

13