Anda di halaman 1dari 28

Prinsip Kerja Trafo Arus

Posted onJuni 21, 2014 by BambangMS

Block CT In Door Type


Pengantar.
Pada pembahasan sebelumnya, disampaikan bahwa trafo arus bertujuan
mengkonversi arus primer yang memiliki nilai arus yang besar
menjadi arus sekunder yang memilik inilai rendah sebesar 1A atau
5A, tergantung dari aplikasi yang dibutuhkan.
Karena bertujuan untuk mengkonversikan arus, maka pada kedua sisi
trafo arus tersebut harus terbentuk rangkaian tertutup sehingga
dimungkinkan mengalirnya arus pada rangkaian tersebut. Dengan kata
lain, pada sisi primer trafo arus harus di pasang seri dengan
beban dan pada sisi sekunder trafo arus harus diterkoneksi pada
beban peralatan ukur atau peralatan proteksi.
Gambar dibawah ini adalah ilustrasi atau contoh sederhana dari
penggunaan trafo arus dalam sistem distribusi tenaga listrik.
Trafo arus dipasang diantara beban dan sumber. Trafo arus dipasang
pada Perangkat Hubung bagi tegangan menengah (PHB TM)atau
perangkat hubung bagi tegangan rendah (PHB TR) sebelum arus di
distribusikan ke masing-masing beban.

Gambar1. Lokasi Peletakan CT pada sistem distribusi jaringan


listrik
Prinsip kerja trafo arus.

Arus yang mengalir pada sistem distribusi tegangan menegah ataupun


tegangan rendah berkisar ratusan hingga ribuan ampere. Oleh karena
itu, belitan primer dari trafo arus terbuat dari batangan tembaga
dengan dimensi yang relative besar agar mampu menahan arus yang
mengalir secara terus-menerus disisi primer ataupun arus sesaat
ketika terjadi kegagalan sistem. Karena terbuat dari batang
tembaga yang cukup besar dan maksimal 2 lilitan untuk rasio
ganda , maka impedansi disisi primer bisa diabaikan karena terlalu
kecil dibandingkan impedansi sistem.
Gambar2 dibawah ini adalah contoh sederhana dari trafo arus yang
menggunakan batang tembaga lilitan tunggal sebagai belitan primer.

Gambar2. Trafo arus dengan batang tembaga tunggal disisi primer.


Pada saat arus primer Ip mengalir pada lilitan primer, maka
akan muncul medan magnet disekeliling lilitan primer tersebut.
Medan magnet tersebut akan terkumpul lebih banyak pada inti
atau core. Medan magnet yang berputar di dalam inti atau core
menghasilkan perubahan flux primer dan memotong lilitan
sekunder sehingga menginduksikan tegangan pada lilitan sekunder
sesuai hukum faraday.

Karena lilitan sekunder membentuk loop tertutup, maka akan


mengalir arus sekunder Is yang akan membangkitkan medan magnet
untuk melawan flux magnet yang dihasilkan oleh belitan primer
sesuai hukum lenz.
Gambar3 dibawah ini adalah model diagram listrik dari trafo arus.

Gambar3. Model diagram listrik Trafo Arus


Dimana:
N1 dan N2 adalah jumlah lilitan primer.
Zm adalah impedansi untuk magnetisasi.
Es adalah tegangan induksi pada sisi sekunder.
JX1 dan JX1 adalah reaktansi bocor dikedua sisi dari trafo. Karena
nilainya kecil, maka bisa kita hilangkan dalam perhitungan.
Karena impedansi primer dan reaktansi bocor bisa diabaikan, maka
model diagram listrik dari trafo arus yang lebih sederhana
ditunjukan pada gambar4.

Gambar4. Model diagram listrik sederhana dari trafo arus.


Dari gambar4 diatas terlihat bahwa arus sekunder Is yang mengalir
pada burden atau beban mengalami perubahan karena adanya arus

eksitasi yang diperlukan untuk menjamin terlaksananya proses


transformasi.
Rasio Kesalahan Arus.
Dari gambaran diatas, terlihat bahwa tidak semua arus primer akan
terduplikasi disisi kumparan sekunder. Akan dibutuhkan suatu arus
eksitasi Im agar proses reproduksi arus sekunder dapat terjadi.
Dengan demikian, apabila arus eksitasi Im atau Ie kita masukan
dalam formulasi, besarnya arus sekunder menjadi:

Gbr5. Arus Eksitasi pada Inti


Dimana Ie adalah arus eksitasi yang dibutuhkan agar proses
reproduksi arus sekunder dapat terjadi. Karena Arus eksitasi
tidak dapat diabaikan, maka proses reproduksi arus sekunder akan
mengalami kesalahan dan biasa disebut sebagai kesalahan
transformasi ( transformation error). Selain daripada itu, akan
terjadi juga pergeseran fasa. Kesalahan pada fasa biasa disebut
sebagai pergeseran fasa.
Perhitungan Kesalahan Arus (Current Error/ Ratio Error).
Standar IEC 60044-1 telah mendefinisikan secara khusus tentang hal
tersebut diatas, yaitu:
Kesalahan arus atau kesalahan perbandingan adalah kesalahan
yang ditimbulkan oleh transformer dalam melakukan pengukuran
disebabkan karena adanya kenyataan bahwa aktual perbandingan
transformasi adalah tidak sama dengan perbandingan transformasi
pengenal (Rated Transformation Ratio).

Kesalahan Arus (Current Error) atau kesalahan perbandingan (Ratio


Error) diekspresikan dalam persen (%) dan diformulasikan dengan
persamaan sebagai berikut:

Kesalahan Arus atau


Kesalahan Perbandingan
Dimana:
Kn adalah Perbandingan transformasi pengenal (Rated Transformation
Ratio).
Ip adalah arus primer actual/sebenarnya (Actual Primary Current).
Is adalah arus sekunder actual/sebenarnya (Actual Secondary

Current) pada saat Ip mengalir disisi primer dan kondisi


pengukuran terjadi.
Ilustrasi sederhana dari penggunaan formulasi diatas adalah
sebagai berikut:
Sebuah trafo arus dengan ratio 2000/5, memiliki tingkat kesalahan
transformasi atau ratio error sebesar 0.5%. Jika pada trafo
tersebut mengalir arus primer sebesar 1900A, berapakah arus
sekunder sebenarnya yang akan mengalir pada sisi kumparan
sekunder?
Penyelesaian:
Diketahui bahwa error ratio adalah 0.5%, rated ratio adalah 2000/5
dan arus primer sebenarnya yang mengalir adalah 1950. Maka
besarnya arus sekunder adalah:
(0.5 * 1950) = ((2000/5 * Is) 1950) * 100
975 /100 = 400 * Is 1950
9,75 + 1950 = 400Is
Is = 1957,75/400
Is = 4,8994A.
Dengan demikian, besarnya arus sekunder yang mengalir adalah
4,8994A ketika mengalir arus di sisi primer sebesar 1950A.

Sumber Referensi:
Basic of Current and Voltage Transformer, Siemens AG
Current Transformers, ALSTOM
Instrument Transformers, Technical Information and
Application Guide, ABB.
Standar Internasional tentang trafo arus, IEC60044-1

Prinsip Kerja Trafo Arus (MV)


oleh Mas Bejo September 3, 2014

Trafo Arus
tegangan
menengah
(Medium
Voltage
Current
Transformer)a
dalah sebuah
trafo yang
digunakan
untuk mengkonversi arus bolak-balik yang nilainya puluhan hingga
ribuan ampere yang mengalir disisi primer, menjadi hanya 1 atau 5
ampere disisi kumparan sekunder.
Dalam kondisi ideal, dengan tidak memperhatikan rugi-rugi yang
muncul pada kumparan sekunder dan primer, serta rugi-rugi yang
muncul pada inti/core, maka besarnya arus sekunder yang
dibangkitkan oleh fluk magnetik akan berbanding linier dengan
ratio dari trafo arus tersebut dan memiliki sudut fasa yang sama.
Struktur Trafo Arus Tegangan Menengah.

Sebuah trafo
arus tegangan
menengah, akan
terdiri dari
beberapa
bagian utama
seperti
ditunjukkan
pada Gbr1,
yaitu:
Batang
penghantar
Primer
(Primary
Bus Bar)
dan terminal Primer (Primary Terminal).
Inti Sekunder(Secondary Core).
Kumparan Sekunder (Secondary Winding).
Material insulasi (insulation Material).
Terminal sekunder (Secondary Terminal) dan pelindungnya.
Informasi Product (Name Plate).

Prinsip Kerja Trafo Arus.


Prinsip kerja sebuah trafo arus dapat digambarkan sebagai berikut:

Trafo
arus
tegangan
menengah
bekerja

berdasarkan prinsip kopling medan magnetik. Pada saat arus


bolak-balik mengalir di dalam batang penghantar primer (primary
bus bar), maka akan dibangkitkan medan magnetik disekitar
batang penghantar primer tersebut.
Medan magnetik tersebut akan memotong inti/core. Medan
magnetik yang menembus luasan tertentu dari inti/core akan
membangkitkan fluk magnetik yang mengalir diseluruh inti/core.
Fluk magnetik yang menembus kumparan sekunder akan
membangkitkan tegangan atau beda potensial dikedua ujung
kumparan. Apabila pada sisi kumparan sekunder diberi beban
sehingga tercipta rangkaian tertutup/ close loop, maka akan
mengalir arus sekunder pada kumparan sekunder.

Formulasi Kesalahan Transformasi Arus.


Jika rugi-rugi yang muncul pada kumparan sekunder dan kumparan
primer dianggap tidak ada, maka perbandingan antara arus primer
terhadap arus sekunder akan sama dengan perbandingan antara jumlah
kumparan sekunder dibagi dengan jumlah kumparan primer seperti
ditunjukkan pada Gbr2.

Dimana:
Ip adalah Arus Primer,
Is adalah Arus Sekunder.

Ns adalah jumlah kumparan Sekunder, Np adalah jumlah kumparan


primer.
Perbandingan dari Arus Primer terhadap arus sekunder disebut juga
Rated ratio.
Dari persamaan diatas, maka besarnya arus sekunder Is yang akan
mengalir disisi sekunder adalah jumlah kumparan Primer Np dibagi
jumlah kumparan sekunder Ns dikalikan dengan arus yang mengalir
disisi primer Ip atau dalam bentuk formulasi menjadi:

Dimana:
Is adalah arus
sekunder, Ip adalah arus sekunder
Np adalah Jumlah kumparan primer, Ns adalah jumlah kumparan
sekunder.
Pada kenyataannya, tidak semua arus primer akan terduplikasi
disisi kumparan sekunder. Akan dibutuhkan suatu arus eksitasi Ie
agar proses reproduksi arus sekunder dapat terjadi. Dengan
demikian, apabila arus eksitasi kita masukan dalam formulasi,
besarnya arus sekunder menjadi:

Dimana Ie adalah arus


eksitasi yang
dibutuhkan agar proses
reproduksi arus sekunder dapat terjadi. Karena Arus eksitasi
tidak dapat diabaikan, maka proses reproduksi arus sekunder akan
mengalami kesalahan dan biasa disebut sebagai kesalahan
transformasi ( transformation error). Selain daripada itu, akan
terjadi juga pergeseran fasa. Kesalahan pada fasa biasa disebut
sebagai pergeseran fasa.
Jika disederhanakan, maka skematik diagram dari arus primer, arus
eksitasi dan arus sekunder ditunjukan pada garmbar dibawah ini;

Dari Gbr6.
terlihat bahwa
arus sekunder
Is yang
mengalir pada

burden merupakan perkalian antara ratio dengan arus primer


dikurangi dengan arus eksitasi Ie yang diserap oleh inti/core
untuk membangkitkan arus sekunder.
Perhitungan Kesalahan Arus (Current Error/ Ratio Error).
Kesalahan arus atau kesalahan perbandingan adalah kesalahan yang
ditimbulkan oleh transformer dalam melakukan pengukuran disebabkan
karena adanya kenyataan bahwa
aktual perbandingan transformasi adalah tidak sama dengan
perbandingan transformasi pengenal (Rated Transformation Ratio).

Kesalahan Arus (Current Error) atau kesalahan perbandingan (Ratio


Error) diekspresikan dalam persen (%) dan diformulasikan dengan
persamaan sebagai berikut:

Dimana:
Kn adalah Perbandingan transformasi pengenal (Rated Transformation
Ratio).
Ip adalah arus primer actual/sebenarnya (Actual Primary Current).
Is adalah arus sekunder actual/sebenarnya (Actual Secondary
Current) pada saat Ip mengalir disisi primer dan kondisi
pengukuran terjadi.

Ilustrasi sederhana dari penggunaan formulasi diatas adalah


sebagai berikut:
Sebuah trafo arus dengan ratio 2000/5, memiliki tingkat kesalahan
transformasi atau ratio error sebesar 0.5%. Jika pada trafo
tersebut mengalir arus primer sebesar 1900A, berapakah arus
sekunder sebenarnya yang akan mengalir pada sisi kumparan
sekunder?
Penyelesaian:
Diketahui bahwa error ratio adalah 0.5%, rated ratio adalah 2000/5
dan arus primer sebenarnya yang mengalir adalah 1950. Maka
besarnya arus sekunder adalah:
(0.5 * 1950) = ((2000/5 * Is) 1950) * 100

975 /100 = 400 * Is 1950


9,75 + 1950 = 400Is
Is = 1957,75/400
Is = 4,8994A.
Dengan demikian, besarnya arus sekunder yang mengalir adalah
4,8994A ketika mengalir arus di sisi primer sebesar 1950A.
Refferensi:

PEMELIHARAAN KUBIKEL 20 KV

Pemeliharaan cubicle 20 kv dapat dibedakan menjadi 4


macam,yaitu:

Pemeliharaan rutin.

Pemeliharaan korektif.

Pemeliharaan prediktif.

Pemeliharaan darurat (emergency).

Pemeliharaan rutin
a) Harian (inpeksi)
Faktor berikut ini yang akan mempengaruhi keputusan kapan untuk
inspeksi:
1). Skedul shutdown (turn around).
2). Emergency Shutdown.

3). Kondisi tidak normal atau tidak biasa.


4). Terjadi gangguan pada penyulang atau bus.
5). Kondisi atmosfir yang ekstrim seperti: panas, dingin, heavy
cold, rain, snow high wind, fog, smog, salt spray, high humidity,
perubahan temperatur yang tidak biasa dan lain-lain.
6). Persyaratan dan jadwal pemeliharaan.
Inspeksi sebagian mungkin saja dilakukan jika bagian lain tidak
diperbolehkan untuk tidak beroperasi. Pemeliharaan harian
dilakukan dengan cara visual karena kondisi kubikel dalam kondisi
beroprasi.
Pemeliharaan tersebut antara lain :
1. Pemeriksaan kondisi level minyak PMT atau gas
SF6.
2. Pemeriksaan lampu-lampu indicator.
3. Pemeriksaan alat ukur.
4. Pemeriksaan kelainan suara, bau pada peralatan.

Mingguan
Pemeliharaan berupa monitoring keadaan panel ataupun switch

gear yang dilakukan oleh petugas patroli

setiap Mingguan serta

dilaksanakan dalam keadaan operasi.

Bulanan
Pemeliharaan dilakukan pada saat kondisi operasi.

Enam bulanan /semesteran


Pemeliharan dilakukan pada saat kondisi padam.

Pemeliharaan tersebut antara lain :

Pemeriksaan PMS / LBS (20 kV)


o Pemeriksaan / pembersihan sambungan sambungan.
o Pembersihan isolator.
o Pemeriksaan kekencangan baut baut.
o Pengukuran nilai tahanan isolasi.
o Untuk PMT, pemeliharaan lainya sama dengan PMT
penyulang.

Pemeriksaan Rel / Busbar 20 kV.


o Pemeriksaan suhu operasi dengan Infra Red thermo
vision.
o Pembersihan fisik rel / busbar.
o Pemeriksaan kekencangan baut baut.
o Pembersihan isolator tumpu.
o Pengukuran nilai tahanan isolasi.
o Pengukuran nilai tahanan kontak antar sambungan.
o Pembersihan lingkungan instalasi.

Pemeriksaan Batere Set

Pemberihan fisik batere berikut terminal terminal dan

lingkunganya.
2

Pembersihan lingkungan dan system ventilasi.

Pembersihan peralatan pemutus arus : Pelebur, ohm saklar

berikut pelapisan zat anti oksida (missal : gemuk, vet ).


4

Pemeriksaan BD elektrolit.

Pengisian batere dengan metode boost charge.

Pemeriksaan kekencangan baut terminal.

Pelapisan terminal batere dengan zan anti oksida.

Tahunan
Pemeliharaan yang berupa Pengukuran dan pengujian untuk

Kompnen panel dan switch gear dan dilakukan oleh petugas


Pemeliharaan setiap tahun dan dilaksanakan dalam keadaan padam.
Pemelihaaran tersebut antara lain :

Pemeriksaan PMT (kopel, seksi penyulang) 20 kV Media Vacum.

8
Pembersihan fisik PMT.
9
Pembersihan isolator-isolator tumpu.
10
Pemeriksaan terminal out going.
11
Pemeriksaan celah (gap) kontak.
12
Pemeriksaan mekanik penggerak dan pemberian pelumas.
13
Pengukuran nilai tahanan isolasi.
14
Pengukuran nilai tahanan kontak.
15
Pemeriksaan kabel-kabel control.
16
Pengukuran tegangan pick-up/drop-off triping dan
closing coil.
17
Percobaan operasi secara manual.
18
Pengukuran arus bocor.

Pemeriksaan Trafo Arus (CT) 20 kV.

o
o
o
o
o

Pembersihan fisik CT.


Pemeriksaan terhadap kelainan fisik.
Pembersihan bidang kontak.
Pemeriksaan kekencangan baut-baut.
Pengukuran nilai tahanan isolasi.

o Pemeriksaan terminal-terminal sekunder.


o Pengujian rasio (bila perlu).
o Pemeriksaan system pentanahan.

Pemeriksaan Trafo Tegangan (PT) 20 kV.

Pembersihan fisik PT.

Pemeriksaan terhadap kelainan fisik.

Pemeriksaan terminal-terminal kabel sekunder.

Pengukuran nilai tahanan isolasi.

Pemeriksaan Kabel 20 kV

Pemeriksaan terminal kabel.

Pembersihan terminal kabel.

Pemeriksaan kekencangan baut baut sambungan.

Pengukuran tahanan isolasi.

Pemeriksaan pentanahan kabel .

Pemeriksaan Proteksi 20 kV

10
1

Relai Proteksi Elektronik.


Pemeriksaan

instalasi

&

Peralatan

catu

daya

deposit

dan

berikut system alarm nya.


2

Pembersihan

PCB

dari

karbon,

sebagainya (bila perlu).


3

Pengukuran tegangan output DC converter (bila

perlu).
4

Pembersihan kontak kontak relai utama dan

bantu (bila memungkinkan).


5

Pemeriksaan kabel pengawatan.

Pengujian individu.

Pengujian arus kerja pada tap seting.

Pengujian karakteristik waktu kerja pada

tap seting.
3

Pengujian arus kerja instantaneous.

Pengujian

fungsi

(mengukur

terhadap

opening time).
5

Pengujian

fungsi

relai

rekloser

(bila

ada).
11

Relai Proteksi Mekanik

Pemeriksaan

instalasi

&

Peralatan

catu

daya

berikut system alarm nya.


8

Pembersihan mekanik relai dari karbon, deposit

dan (bila perlu).


9

Pembersihan kontak kontak relai utama dan

bantu (bila memungkinkan).


10

Pemeriksaan kabel pengawatan .

11

Pengujian individu.

Pengujian arus kerja pada tap seting.

Pengujian karakteristik waktu kerja pada

tap seting.
8

Pengujian arus kerja instantaneous.

Pengujian

fungsi

(mengukur

terhadap

opening time).
10

Pengujian

fungsi

relai

rekloser

(bila

ada).
12

Function test

12

Injeksi arus sekunder.

Pemeriksaan Peralatan Pengukuran (Ampere,Volt,kWH Meter) .

13

Pembersihan fisik peralatan.

14

Kalibrasi terhadap standard.

15
2)

Pemeriksaan kabel pengawatan.

Pemeliharaan korektif
Adalah

pemeliharaan

yang

bertujuan

untuk

meningkatkan

keandalan peralatan.
Pemeliharaan korektif yang dilaksanakan antara lain:

Pemeliharaan terminal.

Mengatasi suara getaran akibat korona.

Pengecekan partial discharge kabel daya.

Mengganti minyak PMT.

Penggantian/menambah gas SF6.

Pengukuran keserempakan kontak PMT.


Pemeliharaan prediktif
Adalah

pemeliharaan

pemantauan

terhadap

yang

berupa

peralatan

peningkatan
instalasi.

frekwensi

Hasil

dari

pemantauan ini merupakan input untuk memprediksi kelainankelainan kinerja peralatan dan rencana permbaikanya.
Pemeliharaan prediktif yang dilaksanakan antara lain:
Pengukuran

partal

discharge

yaitu

pengukuran

tingkat

kebocoran isolasi pada permukaan terminasi pada kabel daya jika


terlalu tinggi dapat mengakibatkan kerusakan isolasi.
Pengukuran titik panas dengan infra red thermovision ,
dimaksudkan untuk memonitor suhu pada sambungan atau klem
klem peralatan jika terlalu tinggi (overheathing) akan merudak
peralatan.
Pemeliharaan darurat (emergency)

Pemeliharaan

ini

problem/masalah

hanya

dilakukan

tertentu

dan

pada

bersifat

saat

terjadi

mendadak

suatu

saja

dan

mengakibatkan hal yang fatal pada pabel tersebut.


PEMELIHARAAN KUBIKEL 20 KV

Pemeliharaan cubicle 20 kv dapat dibedakan menjadi 4


macam,yaitu:

Pemeliharaan rutin.

Pemeliharaan korektif.

Pemeliharaan prediktif.

Pemeliharaan darurat (emergency).

Pemeliharaan rutin
a) Harian (inpeksi)
Faktor berikut ini yang akan mempengaruhi keputusan kapan untuk
inspeksi:
1). Skedul shutdown (turn around).
2). Emergency Shutdown.
3). Kondisi tidak normal atau tidak biasa.
4). Terjadi gangguan pada penyulang atau bus.
5). Kondisi atmosfir yang ekstrim seperti: panas, dingin, heavy
cold, rain, snow high wind, fog, smog, salt spray, high humidity,
perubahan temperatur yang tidak biasa dan lain-lain.

6). Persyaratan dan jadwal pemeliharaan.


Inspeksi sebagian mungkin saja dilakukan jika bagian lain tidak
diperbolehkan untuk tidak beroperasi. Pemeliharaan harian
dilakukan dengan cara visual karena kondisi kubikel dalam kondisi
beroprasi.
Pemeliharaan tersebut antara lain :
1. Pemeriksaan kondisi level minyak PMT atau gas
SF6.
2. Pemeriksaan lampu-lampu indicator.
3. Pemeriksaan alat ukur.
4. Pemeriksaan kelainan suara, bau pada peralatan.
Mingguan
Pemeliharaan berupa monitoring keadaan panel ataupun switch
gear yang dilakukan oleh petugas patroli

setiap Mingguan serta

dilaksanakan dalam keadaan operasi.


Bulanan
Pemeliharaan dilakukan pada saat kondisi operasi.
Enam bulanan /semesteran
Pemeliharan dilakukan pada saat kondisi padam.
Pemeliharaan tersebut antara lain :

Pemeriksaan PMS / LBS (20 kV)


o Pemeriksaan / pembersihan sambungan sambungan.

o Pembersihan isolator.
o Pemeriksaan kekencangan baut baut.
o Pengukuran nilai tahanan isolasi.
o Untuk PMT, pemeliharaan lainya sama dengan PMT
penyulang.

Pemeriksaan Rel / Busbar 20 kV.


o Pemeriksaan suhu operasi dengan Infra Red thermo
vision.
o Pembersihan fisik rel / busbar.
o Pemeriksaan kekencangan baut baut.
o Pembersihan isolator tumpu.
o Pengukuran nilai tahanan isolasi.
o Pengukuran nilai tahanan kontak antar sambungan.
o Pembersihan lingkungan instalasi.

Pemeriksaan Batere Set

16 Pemberihan fisik batere berikut terminal terminal dan


lingkunganya.
17 Pembersihan lingkungan dan system ventilasi.
18 Pembersihan peralatan pemutus arus : Pelebur, ohm saklar
berikut pelapisan zat anti oksida (missal : gemuk, vet ).
19 Pemeriksaan BD elektrolit.
20 Pengisian batere dengan metode boost charge.

21 Pemeriksaan kekencangan baut terminal.


22 Pelapisan terminal batere dengan zan anti oksida.
Tahunan
Pemeliharaan yang berupa Pengukuran dan pengujian untuk
Kompnen panel dan switch gear dan dilakukan oleh petugas
Pemeliharaan setiap tahun dan dilaksanakan dalam keadaan padam.
Pemelihaaran tersebut antara lain :

Pemeriksaan PMT (kopel, seksi penyulang) 20 kV Media Vacum.

23
Pembersihan fisik PMT.
24
Pembersihan isolator-isolator tumpu.
25
Pemeriksaan terminal out going.
26
Pemeriksaan celah (gap) kontak.
27
Pemeriksaan mekanik penggerak dan pemberian pelumas.
28
Pengukuran nilai tahanan isolasi.
29
Pengukuran nilai tahanan kontak.
30
Pemeriksaan kabel-kabel control.
31
Pengukuran tegangan pick-up/drop-off triping dan
closing coil.
32
Percobaan operasi secara manual.
33
Pengukuran arus bocor.

Pemeriksaan Trafo Arus (CT) 20 kV.

o
o
o
o
o
o
o
o

Pembersihan fisik CT.


Pemeriksaan terhadap kelainan fisik.
Pembersihan bidang kontak.
Pemeriksaan kekencangan baut-baut.
Pengukuran nilai tahanan isolasi.
Pemeriksaan terminal-terminal sekunder.
Pengujian rasio (bila perlu).
Pemeriksaan system pentanahan.

Pemeriksaan Trafo Tegangan (PT) 20 kV.

Pembersihan fisik PT.

Pemeriksaan terhadap kelainan fisik.

Pemeriksaan terminal-terminal kabel sekunder.

Pengukuran nilai tahanan isolasi.

Pemeriksaan Kabel 20 kV

Pemeriksaan terminal kabel.

Pembersihan terminal kabel.

Pemeriksaan kekencangan baut baut sambungan.

Pengukuran tahanan isolasi.

Pemeriksaan pentanahan kabel .

Pemeriksaan Proteksi 20 kV

10

Relai Proteksi Elektronik.

13

Pemeriksaan

instalasi

&

Peralatan

catu

daya

deposit

dan

berikut system alarm nya.


14

Pembersihan

PCB

dari

karbon,

sebagainya (bila perlu).


15

Pengukuran tegangan output DC converter (bila

perlu).
16

Pembersihan kontak kontak relai utama dan

bantu (bila memungkinkan).


17

Pemeriksaan kabel pengawatan.

18

Pengujian individu.

Pengujian arus kerja pada tap seting.

Pengujian karakteristik waktu kerja pada

tap seting.
3

Pengujian arus kerja instantaneous.

Pengujian

fungsi

(mengukur

terhadap

opening time).
5
ada).

Pengujian

fungsi

relai

rekloser

(bila

11

Relai Proteksi Mekanik

19

Pemeriksaan

instalasi

&

Peralatan

catu

daya

berikut system alarm nya.


20

Pembersihan mekanik relai dari karbon, deposit

dan (bila perlu).


21

Pembersihan kontak kontak relai utama dan

bantu (bila memungkinkan).


22

Pemeriksaan kabel pengawatan .

23

Pengujian individu.

Pengujian arus kerja pada tap seting.

Pengujian karakteristik waktu kerja pada

tap seting.
8

Pengujian arus kerja instantaneous.

Pengujian

fungsi

(mengukur

terhadap

opening time).
10

Pengujian

fungsi

relai

rekloser

(bila

ada).
12

Function test

24

Injeksi arus sekunder.

2)

Pemeriksaan Peralatan Pengukuran (Ampere,Volt,kWH Meter) .

13

Pembersihan fisik peralatan.

14

Kalibrasi terhadap standard.

15

Pemeriksaan kabel pengawatan.

Pemeliharaan korektif
Adalah

pemeliharaan

yang

bertujuan

untuk

keandalan peralatan.
Pemeliharaan korektif yang dilaksanakan antara lain:

meningkatkan

Pemeliharaan terminal.
Mengatasi suara getaran akibat korona.
Pengecekan partial discharge kabel daya.
Mengganti minyak PMT.
Penggantian/menambah gas SF6.
Pengukuran keserempakan kontak PMT.
Pemeliharaan prediktif
Adalah

pemeliharaan

pemantauan

terhadap

yang

berupa

peralatan

peningkatan
instalasi.

frekwensi

Hasil

dari

pemantauan ini merupakan input untuk memprediksi kelainankelainan kinerja peralatan dan rencana permbaikanya.
Pemeliharaan prediktif yang dilaksanakan antara lain:
Pengukuran

partal

discharge

yaitu

pengukuran

tingkat

kebocoran isolasi pada permukaan terminasi pada kabel daya jika


terlalu tinggi dapat mengakibatkan kerusakan isolasi.
Pengukuran titik panas dengan infra red thermovision ,
dimaksudkan untuk memonitor suhu pada sambungan atau klem
klem peralatan jika terlalu tinggi (overheathing) akan merudak
peralatan.
Pemeliharaan darurat (emergency)
Pemeliharaan

ini

problem/masalah

hanya
tertentu

dilakukan
dan

pada

bersifat

saat

terjadi

mendadak

saja

suatu
dan

mengakibatkan hal yang fatal pada pabel tersebut.


PENGERTIAN KUBIKEL
1.Pengertian Kubikel
Kubikel ialah suatu perlengkapan atau peralatan listrik
yang berfungsi sebagai pengendali, penghubung dan pelindung

serta

membagi

tenaga

listrik dari sumber tenaga listrik.

2. Jenis dan fungsi kubikel


Berdasarkan fungsi/penempatannya, kubikel TM 20 kV di Gardu Induk
antara lain :

Kubikel Incoming berfungsi sebagai penghubung dari sisi


sekunder trafo daya ke busbar 20 kV

Kubikel Outgoing : sebagai penghubung / penyalur dari


busbar ke beban

Kubikel Pemakaian sendiri (Trafo PS) : sebagai


penghubung dari busbar ke beban pemakaian sendiri GI

Kubikel Kopel (bus kopling); sebagai penghubung antara


rel 1 dan rel 2

Kubikel PT / LA:: sebagai


proteksi pengaman terhadap surja.

sarana pengukuran dan

Kubikel Bus Riser / Bus Tie (Interface): sebagai


penghubung antar sel.
3. Bagian-bagian
Kubikel

TM 20 kV

terdiri dari 4

kompartemen,

yaitu :

a. Kompartemen PMT.
Pada kompartemen ini terpasang Withdrawable Circuit Breaker.
PMT dan mekanisme penggeraknya dapat dengan mudah
dikeluarkan/dimasukkan ke dalam kubikel untuk keperluan
pemeliharaan.
b. Kompartemen Busbar
Semua tertutup oleh bagian metal. Kompartemen busbar didisain agar
bagian-bagian yang bergerak pada bagian ini seminimum mungkin.
Busbar dibuat dari tembaga atau aluminium dengan bentuk sesuai
dengan desain dari masing-masing pabrik.

c. Kompartemen Sambungan Kabel


Pada Kompartemen ini terdapat :
Terminasi kabel tegangan menengah
3(tiga) pembagi tegangan (potensial divider), dilengkapi
pada setiap pasa terminasi kabel, yang disambung dengan tiga
neon indikator yang dipasang di muka panel. Fungsinya untuk
melihat secara visual bahwa kabel tersebut dalam keadaan
bertegangan atau tidak, sehingga aman terhadap petugas yang
melaksanakan pengoperasian.
Satu rangkaian hubung pendek dan pemisah tanah untuk sisi
kabel. Dioperasikan dari depan panel, dilengkapi dengan
mekanisme operasi kecepatan tinggi sehingga mempunyai kecepatan
masuk yang tidak tergantung kecepatan operator.
Trafo arus Trafo tegangan (sesuai permintaan). Bisa type
tetap atau lepasan. Dilengkapi dengan pelebur dengan kapasitas
pemutusan tinggi.
d. Kompartemen Tegangan Rendah
Kompartemen ini didisain untuk memperkecil resiko propagasi saat
terjadi kegagalan. Auxiliary disambung ke PMT oleh susunan multi
pin connector

4. Peralatan di dalam Kubikel

1. Busbar
Busbar digunakan untuk mengumpulkan tenaga listrik dengan
tegangan 20 kV serta membaginya ke tempat-tempat yang
diperlukan.

2. Pemutus Daya
Pemutus tenaga (PMT) adalah saklar yang digunakan untuk
menghubungkan atau memutuskan arus/daya listrik sesuai
ratingnya. Pada saat terjadi pemutusan maka akan terjadi
busur api. Pemadam busur api listrik pada waktu pemutusan
dapat dilakukan oleh beberapa macam bahan seperti
minyak,
udara atau gas.
Berikut macam PMT :

a. Pemutus daya udara (Air Circuit Breaker)


PMT jenis ini menggunakan metode yang paling sederhana,
yaitu memperpanjang lintasan arc. Karena efek pemanjangan
lintasan ini diharapkan arc dapat segera dipadamkan.
Beberapa bentuk pemanjangan lintasan pada kontak PMT sebagai
berikut :
1.

Kontak Sela Tanduk

Pada PMT ini arc dihilangkan dengan memperpanjang lintasan


arc hingga ujung terjauh kontak. PMT jenis ini biasa
digunakan ada instalasi listrik AC dan DC tegangan rendah
dengan arus pemutusan hingga ratusan ampere.
2. Kontak Tabir Konduktor
Pada PMT ini, konduktor metal yang terletak di antara kontak
memotong arc yang muncul sehingga hasil pemotongan arc pada
tiap tabir mengalami pemanjangan lintasan dan pendinginan
dan arc dapat segera dipadamkan. PMT jenis ini dapat
digunakan hingga tegangan beberapa ribu volt dan arus hingga
beberapa ribu ampere.
3. Kontak Tabir Isolator
Pada PMT ini,
membuat arc
bisamencapai
tegangan 10kV

tabir isolator yang terdapat di antara kontak


terpaksa menelusuri permukaan tabir untuk
kontak. PMT jenis ini dapat digunakan hingga
dan arus hingga 50kA

b.Pemutus daya minyak (Oil Circuit Breaker)


Prinsip kerjanya, kontak dipisahkan, busur api akan terjadi
di dalam minyak, sehingga minyak menguap dan menimbulkan
gelembung gas yang menyelubungi busur api.
Kelemahannya adalah minyak mudah terbakar dan kekentalan
minyak memperlambat pemisahan kontak, sehingga tidak cocok
untuk sistem yang membutuhkan pemutusan arus yang cepat
serta dimensi PMT yang terlalu besar.

c.Pemutus daya udara tekan


Pemutus daya ini dirancang untuk mengatasi kelemahan pada pemutus
daya minyak, yaitu dengan membuat media isolator kontak dari
bahan yang tidak mudah terbakar dan tidak menghalangi
pemisahan kontak, sehingga pemisahan kontak dapat dilaksanakan
dalam waktu yang sangat cepat.

5. PEMELIHARAAN KUBIKEL

1. Pengertian Pemeliharaan
Pemeliharaan merupakan upaya untuk mempertahankan atau
mengembalikan pada tingkat prestasi awal dan dapat beroperasi
dengan keandalan yang tinggi sehingga kontinuitas pelayanan
listrik akan tercapai. Apabila pemeliharaan tidak
dilaksanakan kemudian peralatan menjadi rusak atau terjadi
gangguan maka dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar.

2. Tujuan Pemeliharaan
Tujuan pemeliharaannya adalah untuk mempertahankan kondisi
atau menjaga agar peralatan menjadi tahan lama dan
meyakinkan bahwa peralatan dapat berfungsi sebagaimana
mestinya sehingga dapat dicegah terjadinya gangguan yang dapat
menyebabkan kerusakan.
3. Jenis-jenis pemeliharaan
a. Pemeliharaan preventive : Pemeliharaan
untuk mencegah terjadinya kerusakan
b. Pemeliharaan Prediktif
kondisi peralatan listrik

: Dilakukan

yang dilaksanakan

dengan

cara memprediksi

c. Pemeliharaan korektif
:Pemeliharaan yang dilakukan
secara terencana ketika peralatn listrik mengalami kelainan
d. Pemeliharaan darurat : Pemeliharaan
setelah terjadi kerusakan mendadak
Apabila
menjadi

yang

dilakukan

pemeliharaan tidak dilaksanakan kemudian peralatan


rusak atau terjadi gangguan Misalnya busbar akan

berkarat,

atau

solefuse

akan

terbakar tanpa diketahui.

mungkin ini saja yang bisa saya sajikan di kesempatan ini, dan
semoga ini berguna bagi teman-teman semua

Sumber Referensi :
http://electricdot.wordpress.com/2012/07/01/kubikel-20-kv/
http://enda-wahyu.blogspot.com/p/pengertian-kubikel_30.html