Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KASUS STEMI


DIRUANG ETHA RS. PANTIWILASA DR.CIPTO SEMARANG

DISUSUN OLEH :
CHANDYKA OPRASETYA. S
P.17420113046

PRODI DIII KEPERAWATAN SEMARANG


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2014

A. DEFINISI
STEMI adalah rusaknya bagian otot jantung secara permanen akibat trombus arteri
koroner. Terjadinya trombus disebabkan oleh ruptor plak yang kemudian di ikuti oleh
pembentukan trombus oleh trombosit. STEMI umumnya terjadi jika aliran darah koroner
menurun secara mendadak.Infark mokard akut dengan elevasi ST (ST elevation myiocardinal
infrarction = STEMI) merupakan bagian dari spektrum koroner akut (SKA) yang terdiri dari
angina pektoris tak stabil, IMA tanpa elevasi ST dan IMA dengan elevasi ST (ilmu penyakit
dalam, 2006).
Infark miocard akut (IMA) merupakan gangguan aliran darah ke jantung
yangmenyebabkan sel otot jantung mati. Aliran darah di pembuluh darah terhenti
setelahterjadi sumbatan koroner akut, kecuali sejumlah kecil aliran kolateral dari
pembuluhdarah di sekitarnya. Daerah otot di sekitarnya yang sama sekali tidak
mendapataliran

darah

atau

alirannya

sangat

sedikit

sehingga

tidak

dapat

mempertahankanfungsi otot jantung, dikatakan mengalami infark (Guyton & Hall, 2007).

B. PATOFISIOLOGI
STEMI umumnya terjadi jika aliran darah koroner menurun secara mendadak setelah
oklusi thrombus pada plak aterosklerotik yang sudah ada sebelumnya. Stenosis arteri koroner
derajat tinggi yang berkembang secara lambat biasanya tidak memicu STEMI karena
berkembangnya banyak kolateral sepanjang waktu. STEMI terjadi jika trombus arteri koroner
terjadi secara cepat pada lokasi injuri vascular. Pada sebagian besar kasus, infark terjadi jika
plak aterosklerosis mengalami fisur, rupture atau ulserasi dan jika kondisi local atau sistemik
memicu trombogenesis, sehingga terjadi thrombus mural pada lokasi rupture yang
mengakibatkan oklusi arteri koroner. Penelitian histology menunjukkan plak koroner
cendeeung mengalami rupture jika mempunyai vibrous cap yang tipis dan intinya kaya lipid
(lipid rich core).
Infark Miokard yang disebabkan trombus arteri koroner dapat mengenai endokardium
sampai epikardium,disebut infark transmural, namun bisa juga hanya mengenai daerah
subendokardial,disebut infark subendokardial. Setelah 20 menit terjadinya sumbatan,infark
sudah dapat terjadi pada subendokardium,dan bila berlanjut terus rata-rata dalam 4 jam telah

terjadi infark transmural. Kerusakan miokard ini dari endokardium ke epikardium menjadi
komplit dan ireversibel dalam 3-4 jam. Meskipun nekrosis miokard sudah komplit,proses
remodeling miokard yang mengalami injury terus berlanjut sampai beberapa minggu atau
bulan karena daerah infark meluas dan daerah non infark mengalami dilatasi.

C. PENYEBAB
STEMI terjadi jika trombus arteri koroner terjadi secara cepat pada lokasi injuri
vascular, dimana injuri ini dicetuskan oleh faktor seperti merokok, hipertensi dan
akumulasi lipid.
a. Penyempitan arteri koroner nonsklerolik
b. Penyempitan aterosklerotik
c. Trombus
d. Plak aterosklerotik
e. Lambatnya aliran darah didaerah plak atau oleh viserasi plak
f. Peningkatan kebutuhan oksigen miokardium
h. Penurunan darah koroner melalui yang menyempit
i. Penyempitan arteri oleh perlambatan jantung selama tidurSpasme otot segmental
pada arteri kejang otot.
D. PATHWAYS
Perubahan elektrokardiogram speifik pada infark moikard transmural akut :
Daerah infark
Perubahan EKG
Anterior
Elevasi segmen ST pada lead V3 -V4, perubahan resiprokal
(depresi ST) pada lead II, III, aVF.
Inferior
Elevasi segmen T pada lead II, III, aVF, perubahan resiprokal
(depresi ST) V1 V6, I, aVL.
Lateral
Elevasi segmen ST pada I, aVL, V5 V6.
Posterior
Perubahan resiprokal (depresi ST) pada II, III, aVF, terutama
gelombang R pada V1 V2.
Ventrikel kanan
Perubahan gambaran dinding inferior

E. PROSES KEPERAWATAN

1. Pengkajian

1.

Riwayat keperawatan

a. Keluhan nyeri dada (lokasi, penyebab, lama nyeri)


b. Gambaran nyeri (gejala barubul atau sering hilang timbul)
c. Gejala yang menyertai : berkeringat, pucat dan mual, sulit bernapas, cemas, dan lemas.
d. Pekerjaan
e. Hoby (menunjukkan gaya hidup Px)
f. Kaji faktor resiko penyakit jantung

Riwayat penyakit klien : Dm, hipertensi, penyakit pembuluh darah, dll.

Riwayat kesehatan lain (peningkatan kolesterol, kebiasaan merokok, konsumsi


minuman alkohol, dll)

g. Obat-obatan: terapi obat-obatan yang didapat saat timbul serangan


h. Riwayat gangguan sistem gastrointestinal (kesulitan mencerna)
i. Riwayat kesehatan keluarga (penyakit jantung dan pembuluh darah)
2.

Pemeriksaan fisik

a. Aktivitas / istirahat : dispnea saat kerja, gangguan pola tidur


b. Sirkulasi : takikardi, disritmia, TD normal/meningkat/menurun, bunyi jantung, kulit membren
mukosa lembab, pucat pada saat vasokonstriksi.
c. Makanan dan cairan : mual, nyeri ulu hati, ikat pinggang sesak, distensi gaster.
d. Integritas ego : ketakutan, mudah marah.
e. Nyeri / ketidaknyamanan : wajah berkerut, meletakkan pergelangan tangan pada midsternum,
memijit tangan kiri, tegangan otot, gelisah.
2. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri yang berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai darah dan oksigen dengan
kebutuhan miokardium akibat sekunder dari penurunan suplai darah ke miokardium,
peningkatan produksi asam laktat.
2. Aktual/Risiko tinggi menurunnya curah jantung yang berhubungan dengan perubahan
frekuensi, irama, konduksi elektrikal.
3. Risiko kekambuhan yang berhubungan dengan ketidakpatuhan terhadap aturan terapeutik,
tidak mau menerima perubahan pola hidup yang sesuai.

3. Rencana Asuhan Keperawatan


a. Rencana Tujuan
Diagnosa 1 :
Nyeri yang berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai darah dan oksigen dengan
kebutuhan miokardium akibat sekunder dari penurunan suplai darah ke miokardium,
peningkatan produksi asam laktat.
Tujuan :
Dalam waktu 1x24 jam terdapat penurunan respons nyeri dada
Kriteria Hasil : Secara subjektif, klien menyatakan penurunan rasa nyeri dada, secara obyektif
didapatkan tanda vital dalam batas normal, wajah rileks, tidak terjadi penurunan perfusi
perifer, produksi urini>600 ml/hari

Diagnosa 2 :
Aktual/Risiko tinggi menurunnya curah jantung yang berhubungan dengan perubahan
frekuensi, irama, konduksi elektrikal.
Tujuan :
Dalam waktu 2 x 24 jam tidak terjadi penurunan curah jantung
Kriteria :
Hemodinamika stabil (tekanan darah dkm batas normal, curah jantung kembali meningkat,
asupan dan keluaran sesuai, irama jantung tidak menunjukkan tanda-tanda disritmia),
produksi urine > 600 ml/hari.

Diagnosa 3 :
Risiko kekambuhan yang berhubungan dengan ketidakpatuhan terhadap aturan terapeutik,
tidak mau menerima perubahan pola hidup yang sesuai.
Tujuan :
Dalam waktu 2 x 24 jam klien mengenal factor-faktor yang menyebabkan peningkatan risiko
kekambuhan.

Kriteria Hasil :
Klien secara subjektif menyatakan bersedia dan termotivasi untuk melakukan aturan
terapeutik jangka panjang dan mau menereima perubahan pola hidup yang efektif, klien
mampu mengulang factor-faktor risiko kekambuhan
b. Rencana Tindakan dan rasional tindakan
Diagnosa 1 :
Nyeri yang berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai darah dan oksigen dengan
kebutuhan miokardium akibat sekunder dari penurunan suplai darah ke miokardium,
peningkatan produksi asam laktat.
Rencana Tindakan
Catat karakteristk nyeri, lokasi,

Rasional Tindakan
Variasi penampilan dan perilaku klien karena

intensitas, lamanya, dan

nyeri yang terjadi dianggap sebagai temuan

penyebaran.

pengkajian.

Anjurkan kepada klien untuk

Nyeri berat dapat menyebabkan syok

melaporkan nyeri dengan segera.

kardiogenik yang berdampak pada kematian

Lakukan manajemen nyeri

mendadak.
Posisi fisiologi akan meningkatkan asupan

keperawatan:

oksigen kejaringan yang mengalami iskemia.

1. Atur posisi fisiologis,


Istirahat akan menurunkan kebutuhan oksigen
2. Istirahatkan klien,

jaringan perifer sehingga akan menurunkan


kebutuhan miokardium yang membutuhkan
oksigen untuk menurunkan iskemia.
Meningkatkan jumlah oksigen yang ada untuk

3. Berikan oksigen
tambahan dengan kanula

pemakaian miokardium sekaligus mengurangi


ketidaknyamanan sekunder terhadap iskemia

nasal atau masker sesuai


dengan indikasi,
Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus
4. Manajemen lingkungan:
lingkungan tenang dan
batasi pengunjung.

nyeri ekternal dan pembatasan pengunjung akan


membantu meningkatan kondisi oksigen

ruangan. Oksigen ruangan akan berkurang


apabila banyak pengunjung yang berada di
ruangan.
Meningkatkan asupan oksigen sehingga akan
5. Ajarkan teknik relaksasi
pernapasan dalam pada

menurunkan nyeri akibat sekunder dari iskemia


jaringan.

saat nyeri,
Distraksi (pengalihan perhatian) dapat
6. Ajarkan teknik distraksi
pada saat nyeri,

menurunkan stimulus internal melalui


mekanisme peningkatan produksi endorphin dan
enkefalin yang dapat memblok reseptor nyeri
sehingga nyeri tidak dikirimkan ke korteks
serebri dan selanjutnya akan menurunkan
persepsi nyeri.
Manajemen sentuhan pada saat nyeri berupa

7. Lakukan manajemen
sentuhan.

sentuhan, dukungan psikologis dapat membantu


menurunkan nyeri. Masase ringan dapat
meningkatkan aliran darah dan dengan otomatis
membantu suplai darah dan oksigen ke area

Kolaborasi pemberian terapi

nyeri dan menurunkan sensasi nyeri.


Obat-obatan antiangina bertujuan untuk

farmakologis antiangina:

meningkatkan aliran darah baik dengan


menambah suplai oksigen atau dengan
mengurangi kebutuhan miokardium akan
oksigen.
Nitrat berguna untuk control nyeri dengan efek

Antiangina (nitrogliserin);

vasodilatasi koroner.
Menurunkan nyeri hebat, memberikan sedasi,

Analgesic (morphin 2-

dan mengurangi kerja miokardium

5mg intravena);
Penghambat (adrenergic) beta menghambat

Penghambat bela seperti


atenolol, tonomim,
pindolol (visken),
propanolol (inderal);

reseptor beta1 untuk pengontrol nyeri melalui


efek hambatan rangsang simpatis, dengan
demikian mengurangi denyut jantung. Obatobatan ini dipakai sebagai antiangina,

antiaritmia, dan antihipertensi. Penghambat beta


efektif sebagai antiangina karena mengurangi
denyut jantung dan kontraktilitas miokardium,
obat ini menurunkan kebutuhan pemakaian
oksigen dengan demikian juga meredakan rasa
nyeri angina.
Kalsium mengaktivasi kontraksi miokardium,

Penghambat kalsium
seperti verapamil (calan),
diltiazem (prokardia)

menambah beban kerja jantung, dan keperluan


jantung akan oksigen. Penghambat kalsium
menurunkan kontraktilitas jantung (efek
inotropik negative) dan beban kerja jantung,
sehingga dengan demikian mengurangi
keperluan jantung akan oksigen. Obat ini efektif
dalam meredakan angina klasik dengan
mengurangi oksigen.
Antikoagulan dipakai untuk menghambat

Kolaborasi pemberian
terapi famakologis
antikoagulan: heparin

pembentukan bekuan darah. Tidak seperti


trombolitik, obat ini tidak melarutkan bekuan
yang sudah ada tetapi bekerja sebagai pencegah
pembentukan bekuan baru. Antikoagulan
dipakai pada klien yang memiliki gangguan
pembuluh arteri dan vena yang membuat
mereka berisiko tinggi untuk pembentukan
bekuan darah. Heparin adalah antikoagulan
pilihan yang membantu mempertahankan
integritas jantung.
Trombolitik menghancurkan thrombus dengan

Kolaborasi pemberian
terapi farmakologis
trombolitik.

mekanisme fibrinolitik mengubah plasminogen


menjadi plasmin, yang menghancurkan fibrin di
dalam bekuan darah.
Kolaborasi apabila tindakan farmakologis tidak

Kolaborasi untuk
tindakan terapi
nonfarmakologis:

menunjukkan perbaikan atau penurunan nyeri.

Angioplasty koroner transluminal perkutan

Ptca (angioplastt koroner


transluminal perkutan);

adalah usaha untuk memperbaiki aliran darah


arteri koroner dengan menghancurkan plak atau
ateroma yang telah tertimbun dan mengganggu
aliran darah ke jantung.
Tandur pintas arteri koroner bertujuan unruk

CABG

meningkatkan asupan suplai darah ke


miokardium dengan mengganti alur pintas.

Diagnosa 2 :
Aktual/Risiko tinggi menurunnya curah jantung yang berhubungan dengan perubahan
frekuensi, irama, konduksi elektrikal.
Rencana Tindakan
Ukur tekanan darah. Bandingkan

Rasional Tindakan
Hipotensi dapat terjadi akibat disfungsi

tekanan darah kedua lengan, ukur ventrikel, hipertensi juga fenomena umum
dalam keadaan berbaring, duduk,

berhubungan dengan nyeri cemas yang

atau berdiri bila memungkinkan

mengakibatkan terjadinya pengeluaran

Evaluasi kualitas dan kesamaan

katekolamin.
Penurunan curah jantung mengakibatkan

nadi
Auskultasi dan catat terjadinya

menurunnya kekuatan nadi


BJ3 berhubungan dengan gagal jantung kronis

bunyi jantung BJ3/BJ4

atau gagal mitral yang disertai infark berat. BJ4


berhubungan dengan iskemia, kekakuan

Auskultasi dan catat murmur

ventrikel, atau hipertensi pulmonal.


Menunjukkan gangguan aliran darah dalam
jantung akibat kelainan katup, kerusakan

Pantau frekuensi jantung dan

septum, atau vibrasi otot papilaris.


Perubahan frekuensi dan irama jantung dapat

irama
Berikan makanan dengan porsi

menunjukkan adanya komlikasi distrimia.


Makanan dengan porsi besar dapat

sedikit tapi sering dan mudah

meningkatkan kerja miokardium. Kafein dapat

dikunyah, batasi asupan kafein.

merangsang langsung ke jantung sehingga

Kolaborasi :

meningkatkan frekuensi jantung.


Jalur yang penting untuk pemberian obat darurat

Pertahankan jalur IV
pemberian heparin (IV)
sesuai indikasi;
Enzim dapat digunakan untuk memantau

Pantau data laboratorium


enzim jantung, GDA dan

perluasan infark, perubahan elektrolit


berpengaruh terhadap irama jantung

elektrolit.

Diagnosa 3 :
Risiko kekambuhan yang berhubungan dengan ketidakpatuhan terhadap aturan terapeutik,
tidak mau menerima perubahan pola hidup yang sesuai.
ntervensi
Identifikasi

Rasional
yang Keluarga terdekat baik suami/isteri atau anak

factor

mendukung

pelaksanaan yang

terapeutik

mampu

menerima

penjelasan

dapat

menjadi pengawas klien dalam menjalankan


pola hidup yang efektif selama klien di rumah
dan memiliki waktu yang optimal dalam

Berikan

menjaga klien.
penjelasan Setelah mengalami serangan akut, perawat

penatalaksanaan terapeutik

perlu menjelaskan penatalaksanaan lanjutan


dengan tujuan dapat:

Beri penjelasan tentang:

Membatasi ukuran infark

Menurunkan nyeri dan kecemasan

Mencegah aritmia dan komlikasi

Meminum obat nitrogliserin (veno dilatasi


perifer dan koroner) 0,4-0,6 mg tablet secara

Pemakaian
Nitrogliserin;

obat

sublingual 3-5 menit sebelum melakukan


aktivitas

bertujuan

serangan angina.

untuk

mengantisipasi

Klien dianjurkan untuk selalu membawa obat


tersebut setiap keluar rumah walaupun klien
tidak merasakan gejala angina.
Exertion. Aktivitas yang berlebihan merupakan

Perubahan pola aktivitas;

presipitasi serangan angina kembali. Klien


dianjurkan untuk mengurangi kualitas dan
kuantitas kegiatan fisik dari yang biasa klien
lakukan sebelum keluhan angina terjadi.
Konsumsi banyak makanan yang terbuat actor

Pendidikan

kesehatan

tentang diet

dari tepung merupakan salah satu factor


presipitasi serangan angina. Aktivitas yang
dilakukan setelah makan yang cukup banyak
dapat

meningkatkan

risiko

angina.

Klien

dianjurkan agar beraktivitas minimal satu jam


setelah makan. Pemberian makanan sedikit tapi
sering akan mempermudah saluran pencemaran
dalam mencerna makanan sangat dianjurkan
pada klien setelah mengalami serangan angina.

Hindari merokok;

Merokok akan meningkatkan adhesi


trombosit

sehingga

pembentukan

thrombus

merangsang
pada

arteri

koroner.

Hemoglobin lebih mudah berikatan


dengan karbon monoksida dibandingkan
dengan

oksigen

sehingga

akan

menurunkan asupan oksigen secara


umum.

Nikotin dan tar mempunyai repons


terhadap
vasokonstriktor

sekresi

hormone

sehingga

meningkatkan beban kerja jantung.

akan

Klien dianjurkan untuk menghindari terpaan

Hindari dingin

angin dan suhu yang sangat dingin dengan


tujuan agar serangan angina dapat dihindari.
Penutupan

hidung

dan

mulut

saat

klien

membuka pitu dapat mengurangi terpaan angin


yang

masuk

ke

saluran

pernapasan.

Menganjurkan klien menggunakan selimut saat


tidur dapat mengontrol suhu yang baik bagi
klien.
Klien dianjurkan untuk menghindari maneuver

Hindari

maneuver

dinamik;

dinamik (lihat kembali pembahasan pada Bab


2) seperti berjongkok, mengejan, dan terlalu
lama menahan napas yang merupakan factor
presipitasi timbulnya angina. Dalam melakukan
defekasi,

klien

dianjurkan

mengonsumsi

laksatik agar dapat mempermudah pola defekasi


klien.
Jika hubungan seksual merupakan salah satu

Pendidikan

kesehatan

tentang hubungan seksual;

factor presipitasi angina pada klien, maka


sebelum melakukan aktivitas seksual klien,
dianjurkan untuk meminum obat nitrigliserin
atau

sedative

atau

keduanya.

Pengaturan

aktivitas fisik yang minimal pada klien ketika


melakukan aktivitas seksual harus dijelaskan
termasuk pada pasangannya.
Konsumsi
garam
yang

Pembatasan
garam;

asupan

meningkatkan

dan

tinggi

memperberat

akan

serangan

angina karena akan meningkatkan tekanan


darah. Pemberian obat diuretic dilakukan untuk
mempercepat penurunan garam dalam sirkulasi.
Serangan angina lebih sering terjadi pada klien

Stres emosional;

yang

mengalami

kecemasan,

ketegangan,

eforia, atau kegembiraan yang berlebihan.


Pemberian obat sedative ringan seperti diazepin
dapat mengurangi respons lingkungan yang

member

dampak

stre

emosional.

Klien

dianjurkan untuk melakukan curah pendapat


pada perawat dengan tujuan untuk mengurangi
ketegangan dan kecemasan.
Dapat membantu meningkatkan motivasi klien

Beri

dukungan

secara

dalam mematuhi aturan terapeutik.

psikologis

4. EVALUASI KEPERAWATAN
Untuk mengetahui pencapaian tujuan dalam asuhan keperawatan yang telah dilakukan
pada klien perlu dilakukan evaluasi dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut :
Apakah klien sudah tidak mengalami nyeri ? Apakah sudah terhindar dari
Aktual/Risiko tinggi menurunnya curah jantung? Apakah klien sudah mampu
mengatasi jika suatu saat klien mengalami Resiko kekambuahan ?

DAFTAR PUSTAKA

Ester, M. 2002. Keperawatan Medical Bedah. Jakarta: EGC


Juni,W.U. 2010. Keperawatan Kardio Vaskuler. Jakarta: Salemba Medika
Nurarif, Amin Huda. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan
NANDA NIC-NOC. Yogyakarta:Mediaction
(http://www.fkumyecase.net/wiki/index.php?page=ST+Elevasi+Miokard+Infark+%28STEMI
%29+pada+Laki-Laki+54+Tahun+Memiliki+Kebiasaan++Minum+Alkohol, (diakses 24
November 2014)