Anda di halaman 1dari 3

Tradisi dan kebudayaan merupakan anugrah terindah yang diberikan Allah SWT

melalui hasil pikiran nenek moyang. Indonesia adalah salah satu negara yang beruntung
karena terdiri dari berbagai daerah yang memiliki berbagai kebudayaan dan tradisi yang
begitu unik dan memesona.
Seperti daerah lainnya di Indonesia, di Sumatera Barat ada suatu tradisi yang unik
disebut tradisi bainai. Kegiatan bainai adalah melekatkan tumbukan halus daun pacar merah
yang dalam istilah Sumatera Barat disebut daun inai ke kuku-kuku jari calon pengantin
wanita. Tumbukan halus daun inai ini kalau dibiarkan lekat semalam, akan meninggalkan
bekas warna merah yang cemerlang pada kuku.
Keunikannya terletak pada proses pelekatan daun inai ini dan makna yang terkandung
dalam tradisi ini. Namun masih banyak pihak yang tidak menyadari tentang manfaat lain
yang dimiliki oleh tanaman yang biasanya digunakan sebagai pewarna kuku ini. Pada
umumnya manfaat inai yang diketahui oleh masyarakat adalah sebagai pewana kuku, cat
rambut dan tatto temporer dan beberapa orang menggunakan tanaman ini sebagai obat untuk
menyembuhkan luka pada bagian luar tubuh.

Daun ini biasa digunakan untuk mewarnai rambut dan kuku, ternyata memiliki khasiat
sebagai antibakteri, anti-iritan, antioksidan, anti-karsinogenik, anti-inflamasi, analgetik, dan
antipiretik melalui pengujian secara in vitro dan invivo. Di dalam daun Lawsonia inermis L
terdapat senyawa 2-hydroxy-1:4-napthoquinone (lawsone), asam p-coumaric, 2-methoxy-3methyl-1,4-naphthoquinone, apiin, apigenin, luteolin, dan cosmosiin. Selain itu daun
Lawsonia inermis L juga mengandung golongan senyawa aktif, seperti alkaloid, glikosida,

flavonoid, fenol, saponin, tanin, dan minyak atsiri. Fenol dan flavonoid merupakan senyawa
aktif yang paling banyak ditemukan.
Penelitian-penelitian di luar negeri telah membuktikan bahwa daun Lawsonia inermis
L efektif terhadap berbagai bakteri (Kritikar dan Basu, Awadh-Ali dkk, Habbal dkk, dan Aqil
dkk.), dan memiliki efek anti-inflamasi, analgesik, dan antipiretik (Ali dkk.), sehingga daun
ini banyak digunakan untuk pengobatan. Hal ini telah dibuktikan juga oleh Zubardiah, dan
Zubardiah dkk, bahwa daun Lawsonia inermis L efektif menghambat pertumbuhan bakteri
Actinobacillus actinomycetemcomitans dan Streptococcus mutans melalui pengujian dengan
minimum inhibitory concentration (MIC) dan minimal bactericidal concentration (MBC).
Dengan demikian diharapkan daun Lawsonia inermis L efektif sebagai bahan pengobatan
untuk berbagai penyakit, termasuk penyakit dan peradangan di dalam rongga mulut.
Menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Tahun 2004, secara umum 39%
penduduk Indonesia mempunyai masalah kesehatan gigi dan mulut. Prevalensi masalah
kesehatan gigi dan mulut pada kelompok umur 25-64 tahun pada penduduk pedesaan dan
penduduk Kawasan Timur Indonesia (KTI) berada di atas prevalensi nasional. Secara
keseluruhan 7% penduduk kehilangan seluruh gigi. Persentase tertinggi penduduk yang
kehilangan seluruh gigi adalah pada kelompok 65 tahun atau lebih, yaitu sebesar 30%,
kemudian kelompok umur 55- 64 tahun (18%), dan kelompok umur 45-54 tahun (7%).
Pengujian efektivitas daun Lawsonia inermis L telah dilakukan oleh Zubardiah, terhadap
bakteri Actinobacillus actinomycetemcomitans (Aa), karena Aa merupakan salah satu jenis
bakteri patogen penyebab penyakit periodontal yang ditemukan di dalam plak. Actinobacillus
actinomycetemcomitans merupakan salah satu mikroorganisme utama yang erat kaitannya
dengan early-onset localized periodontitis, atau Localized aggressive periodontitis. Bakteri
Aa dinyatakan memiliki kemampuan yang tinggi dalam memproduksi lekotoksin yang
mendorong kerusakan jaringan periodontal. Pada orang dewasa muda yang terserang
Localized aggressive periodontitis ditemukan bakteri Aa dalam jumlah lebih besar. Bakteri
Aa juga banyak ditemukan pada penderita penyakit endokarditis.
Pengujian efektivitas daun Lawsonia inermis L dilakukan juga terhadap Streptococcus
mutans oleh Zubardiah dkk. Streptococcus mutans merupakan spesies bakteri rongga mulut
yang terdapat dalam jumlah banyak, beberapa diantaranya sangat patogen, dan lainnya
merupakan penghuni flora normal pada orofaring dan traktus gastrointestinal. Black dkk,
menyatakan juga bahwa Streptococcus rongga mulut adalah spesies bakteri yang pertama kali
berkolonisasi pada permukaan gigi dan banyak terdapat pada biofilm plak gigi. Streptococcus
mutans merupakan bakteri yang pertama kali berada pada biofilm selama awal pembentukan
plak di samping Streptococcus sanguis dan Streptococcus salivarius.
Gingivitis timbul akibat aksi bakteri yang terdapat di dalam plak gigi. Plak melekat
sangat erat pada permukaan gigi dan hanya dapat hilang melalui pembersihan dengan sikat
gigi dan alat pembersih interdental. Senyawa yang bersifat antibakteri dibutuhkan untuk
membantu menghilangkan peradangan dengan cara menghambat pertumbuhan bakteri dan
menurunkan konsentrasi bakteri di dalam plak gigi. Pemberian agen antimikroba berupa obat

kumur kepada pasien gingivitis terbukti dapat mengurangi kedalaman poket, mengurangi
jumlah bakteri patogen periodontal, dan menghasilkan perawatan yang maksimal.
Berdasarkan berbagai penelitian yang telah dilakukan tersebut, dapat disimpulakan
bahwa dan tanaman Lawsonia inermis L dapat dimanfaatkan sebagai obat kumur yang
terbukti aktif dalam menghamat pertumbuhan berbagai bakteri patogen di dalam mulut.
Daun Lawsonia inermis L memerlukan penelitian lebih lanjut, agar dapat dihasilkan
suatu bahan antibakteri baru khususnya untuk pengobatan berbagai penyakit di dalam rongga
mulut yang berasal dari tanaman obat tradisional dengan efektivitas memadai, aman
digunakan, dan terjangkau oleh masyarakat umum.