Anda di halaman 1dari 17

I.

IDENTITAS SKRIPSI
1. Judul Skripsi
Perancangan Sistem Kendali Prototipe Jembatan Kanal Kereta Api Berbasis
Programmable Logic

Control (PLC)

2. Data Mahasiswa
a) Nama Lengkap
b) NPM
c) Jurusan / Fakultas
d) Perguruan Tinggi
e) Alamat
f) Telp rumah / HP
g) E-mail
3.

: Mochammad Fatchurrachman
: 03.2007.1.06447
: Teknik Elektro / Teknologi Industri
: Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
: JL. Kupang Segunting VI no. 34 Surabaya
: 03170172991
: fatch.keyracman@gmail.com

Tim peneliti
Nama dan
No

Gelar Akademik

Bidang
Keahlian
Sistem

Moch.
Fatchurrachman

Tenaga

Alokasi Waktu
Jurusan
Teknik
Elektro

Jam /Minggu Bulan Kerja

Listrik
Ekonomi

Bambang
Suprijono,ST.MT.

Sistem
Tenaga

Teknik
Elektro

Listrik

4.

Objek Skripsi
Jembatan kanal kereta api merupakan satu struktur yang dibuat untuk menyeberangi

suatu sungai, dan memperbolehkan layar ataupun kapal-kapal besar untuk melewati
jembatan tersebut. Dalam kajian teknis ini sistem kontrol jembatan ini dikendalikan
Proggrammable Logic Control (PLC) yang digerakkan oleh motor DC dan d integrasikan
oleh sensor dan traffic light sebagai sinyal pada perlintasan kereta api.
5.

Lokasi penelitian

Labotarium sistem kendali, Jurusan Teknik Elektro, FTI, ITATS

Labotarium Simulasi, Jurusan Teknik Elektro, FTI< ITATS

6.

masa Pelaksanaan Skripsi


Mulai
: Februari2012
Berakhir
: Juni 2012

7.

Hasil yang ditargetkan


Dari pengembangan sistem kendali ini, diketahui bahwa pemanfaatan jembatan dari

kanal atau sungai dapat mempermudah sarana kereta api untuk menghubungkan jalur-jalur
kereta api, hasil akhir yang ditargetkan dari perancangan prototype ini adalah peralatan untuk
merancang suatu prototipe jembatan kanal kereta api berbasis PLC dengan menggunakan
sistem kontrol motor .
8.

Jurnal Ilmiah sebagai rujukan publikasi IPTEK ITATS , Alamat Redaksi dan Tata

usaha : Lembaga penelitian dan pengabdian Kepada Masyarakat, gedung A Lantai IV, Ruang
A. 405-406, jalan Arief Rachman Hakim Nomor 100, Surabaya 60117.
9.

Kontribusi Mendasar Pada Bidang Ilmu


Penelitian yang bersifat lintas/trans disiplin diharapkan akan menghasilkan

pengetahuan baru tentang fenomena kompleks dan meningkatkan prestasi keilmuan para
peneliti di kampus Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) di tingkat nasional atau
regional. Pentingnya
II.
SUBTANSI PENELTIAN
Abstrak
Dengan adanya kemajuan teknologi di berbagai bidang, terutama didalam sektor
pembangunan jembatan misalnya pada jembatan ampera dimana kontrol pengoperasian buka
tutup dilakukan secara manual sehingga kurang efektif. Oleh karena itu, pengoperasian
kontrol sistem buka tutup jembatan secara otomatis sangat diperlukan sehingga dapat
mempermudah lalu lintas kendaraan dengan kapal-kapal besar
Data yang ada didapatkan melalui literatur, eksperimen, internet, dan observasi.
Kemudian data ini dianalisa menggunakan dasar teori yang dikembangkan oleh Wilkinson
(1996) dan Wahyudin (2007)
Dalam hal ini jembatan akan mendeteksi kapal besar yang akan lewat dengan sensor jarak
kemudian traffic light akan memberi tanda pada kendaraan kemudian palang menutup dan
jembatan membuka secara otomatis kemudian jembatan akan menutup kembali setelah kapal
selesai lewat dengan melewati sensor disebelahnya dan palang akan membuka kembali. Pada
kontrol sistem buka tutup jembatan secara otomatis ini, Penulis menggunakan sebuah
Programmable Logic Control (PLC) sebagai pengontrol simulasi jembatan. Penulis

menyimpulkan bahwa simulasi sistem buka tutup jembatan secara otomatis ini sangat
berguna karena dapat membantu kelancaran lalu lintas serta tidak perlu membutuhkan tenaga
operator sehingga lebih efisien dalam penggunaan.
BAB I. PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Perkembangan IPTEK khususnya komputer sudah demikian majunya merambah setiap
bidang kehidupan. Hampir semua aktifitas kegiatan manusia menggunakan tekhnologi
modern, mulai dari dunia industri, rumah tangga bahkan bidang pertanian. Yang menjadi
salah satu alasan utama banyaknya penggunaan dan pemanfaatan tekhnologi komputer adalah
karena komputer mampu melakukan pekerjaan yang berulang secara terus-menerus, tanpa
mengenal waktu, hal ini dapat dimanfaatkan.
untuk membantu manusia mengerjakan pekerjaan yang rutinitas. Pemanfaatan teknoligi
modern pada biang transportasi diharapkan dapat meningkatkan sarana transportasi yang
tidak secara langsung tentu meningkatkan perekonomian wilayah.
Dengan adanya perkembangan teknologi diberbagai sector, terutama sektor
pembangunan jembatan misalnya jembatan Ampera dimana kontrol pengoperasiaan buka
tutup jembatan dilakukan secara manual dengan menggunakan tenaga operator mesin
sehingga kurang efektif. Oleh karena itu, pengoperasian kontrol system buka tutup jembatan
secara otomatis sangat diperlukan sehingga dapat mempermudah lalu lintas antara kereta api
dengan kapal-kapal besar. Pada kontrol system buka tutup jembatan secara otomatis ini.
Penulis menggunakan sebuah Proggammable Logic Control (PLC) sebagai pengontrol
prototipe jembatan.
Berdasarkan latar belakang dan pertimbangan tersebut maka Penulis tertarik mencoba
membuat rangkaian dan simulasi dengan judul Perancangan Sistem Kendali Prototipe
Jembatan Kanal Kereta Api Berbasis Programmable Logic Control (PLC)

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Prototype
Menurut Kristianto (2006), Prototype adalah model kerja dari aplikasi sistem
informasi yang dikembangkan untuk mengetes ide dan asumsi tentang sistem yang baru.

Strategi yang digunakan untuk metode prototipe adalah strategi prototype antarmuka,
prototype prosedur pemrosesan, dan prototype fungsi utama.
Menururt Siswanto (2007), Prototipe, purwarupa, atau arketipe adalah bentuk awal
(contoh) atau standar ukuran dari sebuah entitas. Dalam bidang desain, sebuah prototipe
dibuat sebelum dikembangkan atau justru dibuat khusus untuk pengembangan sebelum dibuat
dalam skala sebenarnya atau sebelum diproduksi secara massal.
Menurut Hidayat (2008), Prototyping merupakan salah satu metode pengembangan
perangat lunak yang banyak digunakan. Dengan metode prototyping ini pengembang dan
pelanggan dapat saling berinteraksi selama proses pembuatan sistem. Seiring terjadi seorang
pelanggan hanya mendefinisikan secara umum apa yang dikehendakinya tanpa menyebutkan
secara detail output apa saja yang dibutuhkan, pemrosesan dan data-data apa saja yang
dibutuhkan. Sebaliknya disisi pengembang kurang memperhatikan efesiensi algoritma,
kemampuan sistem operasi dan interface yang menghubungkan manusia dan komputer.
Untuk mengatasi ketidakserasian antara pelanggan dan pengembang , maka harus
dibutuhakan kerjasama yanga baik diantara keduanya sehingga pengembang akan
mengetahui dengan benar apa yang diinginkan pelanggan dengan tidak mengesampingkan
segi-segi teknis dan pelanggan akan mengetahui proses-proses dalm menyelasaikan system
yang diinginkan. Dengan demikian akan menghasilkan sistem sesuai dengan jadwal waktu
penyelesaian yang telah ditentukan. Kunci agar model prototype ini berhasil dengan baik
adalah dengan mendefinisikan aturan-aturan main pada saat awal, yaitu pelanggan dan
pengembang harus setuju bahwa prototype dibangun untuk mendefinisikan kebutuhan.
Prototype akan dihilangkan sebagian atau seluruhnya dan perangkat lunak aktual aktual
direkayasa dengan kualitas dan implementasi yang sudah ditentukan
Menurut Ardy (2008), Prototype adalah pendekatan ke desain sistem yang
mengembangkan model kerja yang disederhanakan dari sistem. Prototype, atau rancngan
awal ini, dapat dengan cepat dan murah untuk dibangun dan diberikan pada para pemakai
atau diuji. Kesalahpahaman antara user dan analis mengakibatkan perubahan yang berarti
atau sistem tidak akan pernah sempurna dalam pelaksanaannya atau sekaligus ditolak.
Prototipe dapat memecahkan masalah ini untuk tipe-tipe tertentu dalam sistem. Jika
perubahan diperlukan prototipe dapat dimodifikasi, memungkinkan dimodifikasi beberapa
kali sampai keadaaan yang ditetapkan user.

Menurut Ginanjar (2009), Prototype adalah satu versi dari system potensial yang
memberika ide bagi para pengembang dan calon pengguna, bagaimana system akan berfungsi
dalam bentuk yang telah selesai. Proses pembuatan prototype ini disebut prototyping. Dasar
pemikirannya adalah membuat prototype secepat mungkin, bahkan dalam waktu semalam,
lalu memperoleh umpan balik dari pengguna yang memungkinkan prototype tersebut
diperbaiki kembali dengan sangat cepat.
Menurut Wisnu (2010), prototyping merupakan sebuah mekanisme yang dilakukan
untuk mencoba membuat sebuah aplikasi awal. Aplikasi awal ini bukanlah suatu aplikasi jadi
yang sudah benar, namun sebatas bisa memberikan gambaran kepada pengguna atau klien
akan seperti apa aplikasi yang akan dibangun. Dengan melihat versi prototype tersebut,
pengguna atau klien bisa mengerti aplikasi apa yang akan dibangun, bisa memberikan
masukan dan saran serta kritik, dan juga bisa mengurangi resiko kesalahpahaman persepsi
akan aplikasi yang akan dibangun.
Menurut Marwan (2010), Prototype adalah suatu contoh awal atau model dibangun
untuk menguji suatu konsep atau proses atau untuk bertindak sebagai sesuatu yang harus
direplikasi atau belajar dari. Dalam banyak bidang, ada ketidakpastian besar sebagai apakah
desain baru benar-benar akan melakukan apa yang diinginkan. Desain baru sering memiliki
masalah tak terduga. Sebuah prototipe sering digunakan sebagai bagian dari proses desain
produk untuk memungkinkan insinyur dan desainer kemampuan untuk mengeksplorasi
alternatif desain, teori test dan konfirmasi kinerja sebelum memulai produksi sebuah produk
baru. Insinyur menggunakan pengalaman mereka untuk prototipe menyesuaikan sesuai
dengan spesifik tidak diketahui masih hadir dalam desain yang dimaksudkan. Sebagai contoh,
beberapa prototipe digunakan untuk mengkonfirmasi dan memverifikasi minat konsumen
dalam desain yang diusulkan sedangkan prototipe lainnya akan berusaha untuk memverifikasi
kinerja atau kesesuaian pendekatan desain tertentu. Sebuah Bukti konsep prototipe digunakan
untuk menguji beberapa aspek dari desain yang dimaksudkan tanpa berusaha untuk tepat
mensimulasikan tampilan visual, pilihan bahan atau proses manufaktur dimaksudkan.
prototipe tersebut dapat digunakan untuk "membuktikan" keluar pendekatan desain yang
potensial seperti rentang gerak, mekanika, arsitektur sensor, dll. jenis model yang sering
digunakan untuk mengidentifikasi pilihan desain tidak akan bekerja, atau di mana
pengembangan lebih lanjut dan pengujian diperlukan. enis prototipe akan memungkinkan
desainer untuk mengeksplorasi ukuran dasar, tampilan dan nuansa dari suatu produk tanpa
simulasi fungsi aktual atau tampilan visual yang tepat dari produk. Mereka dapat membantu

menilai faktor ergonomis dan memberikan wawasan tentang aspek visual dari bentuk akhir
produk. Formulir Prototip studi sering tangan-ukiran atau mesin model dari mudah diukir,
bahan murah (misalnya, busa urethane), tanpa mewakili warna yang dimaksud, selesai, atau
tekstur. Karena bahan yang digunakan, model ini dimaksudkan untuk pengambilan keputusan
internal dan biasanya tidak tahan lama cukup atau cocok untuk digunakan oleh pengguna
perwakilan atau konsumen.

2.2 Sistem Kendali


Menurut Karamanlis (2006) Sistem dapat didefinisikan sebagai berikut : Sistem
adalah kombinasi dari beberapa komponen yang bekerja bersama-sama dan melakukan suatu
sasaran tertentu. Sistem tidak dibatasi hanya untuk sistem fisik saja. Konsep sistem dapat
digunakan pada gejala yang abstrak dan dinamis seperti yang dijumpai dalam ekonomi. Oleh
karena itu istilah sistem harus dinterpretasikan untuk menyatakan sistem fisik, biologi,
ekonomi, dan sebagainya.
Menurut Sunarto (2006), Sistem kendali adalah susunan komponen fisik yang
dihubungkan sedemikian rupa untuk mengatur suatu kondisi agar mencapai kondisi yang
diharapkan. Sistem kendali ini secara umum terdiri dari tiga bagian yaitu input, proses dan
output. Sistem kendali ini dibagi menjadi dua yaitu bersifat terbuka (open loop) dan tertutup
(close loop).
Menurut Wibowo (2010), Sistem kendali adalah proses pengaturan ataupun
pengendalian terhadap satu atau beberapa besaran (variabel, parameter) sehingga berada
pada suatu harga atau dalam suatu rangkuman harga (range) tertentu. Di dalam dunia
industri, dituntut suatu proses kerja yang aman dan berefisiensi tinggi untuk menghasilkan
produk dengan kualitas dan kuantitas yang baik serta dengan waktu yang telah ditentukan.
Otomatisasi sangat membantu dalam hal kelancaran operasional, keamanan (investasi,
lingkungan), ekonomi (biaya produksi), mutu produk, dll.
Menurut Andriani (2010), Sistem kendali dapat dikatakan sebagai hubungan antara
komponen yang membentuk sebuah konfigurasi sistem, yang akan menghasilkan tanggapan
sistem yang diharapkan. Jadi harus ada yang dikendalikan, yang merupakan suatu sistem
fisis, yang biasa disebut dengan kendalian (plant).

Masukan dan keluaran merupakan

variabel atau besaran fisis. Keluaran merupakan hal yang dihasilkan oleh kendalian, artinya

yang dikendalikan; sedangkan masukan adalah yang mempengaruhi kendalian, yang


mengatur keluaran. Kedua dimensi masukan dan keluaran tidak harus sama.
2.3 Proggrammable Logic Control (PLC)
Menurut National Electrical Manufacturing Assosiation (NEMA), PLC didefinisikan
suatu perangkat elektronik digital dengan memori yang dapat deprogram untuk menyimpan
instruksi yang menjalankan fungsi-fungsi spesifik seperti : logika, sequen, timing, counting
dan aritmatika, untuk mengontrol suatu mesin industri atau proses industry sesuai dengan
yang diinginkan. PLC mampu mengerjakan suatu proses terus menerus sesuai pemrograman,
sehingga nilai keluaran / output tetap terkontrol.

Gambar. Hardware penyusun PLC

Menurut Forum Sains.Com PLC merupakanKomputer khususuntuk aplikasi dalam


industri untuk memonitor proses dan untuk menggantikan Hard Wiring Control dan memiliki
bahasa pemrograman sendiri.Akan tetapi PLC berbeda dengan perangkat computer,karena
PLC dirancang untuk instalasi dan perawatan oleh tehnisi dan ahli listrik di industri yang
tidak harus mempunyai kemampuan elektronika tinggi dan memberikan kendali yang
fleksible berdasarkan eksekusi instruksi logika.
Menurut CAPIEL 1982,PLC adalah system electronic yang beroperasi secara digital
dan didesain untuk pemakaian di lingkungan industri,dimana system ini menggunakan
memori yang dapat diprogram untuk penyimpanan secara internal instruksi instruksi yang
mengimplementasikan fungsi fungsi spesifik seperti logika,urutan,perwaktuan,pencacahan

dan operasi aritmatik untuk mengontrol mesin atau proses melalui modul modul I/O digital
maupun analog.
2.4 Penyearah
Menurut Damianti (2010), Kinerja penyearah dinyatakan dalam parameter-parameter
unjuk kerja. Unjuk kerja penyearah satu fasa dengan metode konvensional biasanya rendah,
tapi dapat diperbaiki dengan menambahkan filter kapasitif-induktif yang terhubung paralel
(parallel-resonant) pada sisi masukan penyearah. Nilai dari komponen filter LC ditentukan
dengan perhitungan untuk mendapatkan unjuk kerja yang optimal dari penyearah.
Menurut Heri (2008), Sebuah penyearah (Rectifier) mengacu pada proses pengubahan
sinyal bolak-balik (AC) menjadi sinyal searah (DC) menggunakan dioda daya. Tujuan dari
suatu penyearahan adalah menghasilkan suatu keluaran yang mendekati searah (DC) atau
menghasilkan bentuk gelombang arus dan tegangan yang mengandung komponen DC dengan
spesifikasi tertentu.
Menurut Yayan (2008), Secara umum beban adalah bersifat non linier, sehingga akan
menghasilkan bentuk gelombang arus jala-jala yang tidak sinusoidal, sedangkan beban
membutuhkan suatu catu tegangan dengan kandungan riak (ripple) yang rendah. Bentuk
gelombang yang tajam (narrow) dari arus jala-jala akan mengurangi unjuk kerja dari
penyearah. Beberapa akibatnya adalah kandungan harmonisa yang tinggi, faktor daya yang
rendah, pemanasan berlebihan pada peralatan, rugi-rugi bertambah, dan distorsi tegangan
jala-jala melalui impedansi jala-jala. Adanya distorsi tegangan jala-jala akan mempengaruhi
beban lain yang terhubung ke jaringan distribusi listrik.
Menurut Rahadi (2008), Memperbaiki bentuk gelombang dari arus jala-jala
dibutuhkan untuk mengurangi harmonisa arus jala-jala, dengan demikian akan memperbaiki
faktor daya masukan penyearah. Ada beberapa cara untuk memperbaiki faktor daya
penyearah satu fasa dioda jembatan, yaitu metode pasif dan metode aktif. Metode aktif adalah
memakai saklar aktif (yang diatur dengan pengendali luar) bersamaan dengan komponen
reaktif untuk meningkatkan keefektipan bentuk gelombang arus jala-jala dan menghasilkan
tegangan keluaran yang dapat dikendalikan. Metode pasif adalah penambahan elemen pasif
(kapasitor dan induktor) pada rangkaian dioda penyearah jembatan untuk memperbaiki
bentuk gelombang arus jala-jala tanpa dapat mengatur nilai tegangan keluaran penyearah.

Menurut Helmi(2008), Penyearah adalah sebuah sirkuit elektronik yang mengubah


tegangan dua arah (AC tegangan) ke tegangan searah (DC tegangan) dengan menggunakan
dioda daya atau mengendalikan sudut penembakan switch thyristor / terkendali. Rectifier
biasanya dapat dibagi menjadi dua jenis yang tidak terkendali dan fase-dikendalikan. Masingmasing jenis dapat memiliki singlephase baik atau tiga-fase. Sebuah dioda adalah saklar
elektronik yang paling sederhana yang tidak terkendali.
Menurut Cahyo (2010), Penyearah adalah suatu alat yang digunakan untuk mengubah
arus AC menjadi DC. Pada umumnya, dari sumber tegangan AC dan frekuensi yang tetap
menjadi tegangan DC baik tetap maupun berubah. Penyearah yang mempunyai tegangan
keluaran tetap, atau penyearah tak terkontrol, digunakan untuk mencatu daya DC pada
peralatan-peralatan yang tidak memerlukan pengaturan daya masukan dalam operasinya.
Sedangkan penyearah yang mempunyai tegangan keluaran dapat diubah-ubah, atau
penyearah terkontrol, terutama untuk peralatan-peralatan listrik yang dalam operasinya
memerlukan pengaturan daya, misalnya untuk control kecepatan pada motor DC. Secara
umum dalam perancangan DC power supply satu fase selalu diawali oleh proses penyearahan
gelombang sehingga diperoleh bentuk gelombang searah. Umumnya menggunakan
penyearah fullbridge atau model jembatan dimana dengan memasang 4 buah diode sebagai
saklar atau switch untuk mengatur arah aliran gelombang ke output beban.
Menurut Sudirman dan Kurniati (2010), penggunaan konverter dalam system akan
menimbulkan tegangan atau arus yang nonsinusoidal. Bentuk tegangan atau arus yang
nonsinusoidal tersebut akan menghasilkan arus harmonisa. Kadar harmonisa yang tinggi
dalam sistem tidak dikehendaki, karena dapat menimbulkan beberapa kerugian. Diantaranya
adalah naiknya distorsi terhadap input, kegagalan fungsi dari peralatan elektronik yang
sensitif, menurunkan efisiensi dan yang lebih penting lagi adalah pemborosan energi listrik.
Dengan demikian, kadar harmonisa yang terlalu tinggi harus diperkecil.
Menurut Mestika (2010), Pada konverter, untuk menghasilkan tegangan keluaran
yang terkendali digunakan thyristor (phase controlled-thyristor). Tegangan keluaran
terkendali tersebut dapat divariasikan dengan mengontrol atau mengatur sudut penyalaan
thyristor dan faktor dayanya biasa rendah, terutama pada daerah tegangan keluaran rendah.
Dalam penyearah terkendali, tegangan keluaran konverter akan membangkitkan harmonisa
pada sumber. Beberapa teknik komutasi thyristor dikembangkan untuk meningkatkan faktor

daya sisi masukan dan mengurangi level harmonisa. Teknik komutasi yang akan dibicarakan
adalah kontrol sudut extinction dan kontrol sudut simetris.

2.5

Motor DC
Menurut Wahyu (2006), Motor DC merupakan jenis motor yang banyak

digunakan di industri, elektronik dan komponen pendukung untuk beberapa peralatan atau
instrumentasi elektronik. Aplikasi industri motor DC yang dipergunakan dalam industri pada
umumnya memiliki kapasitas daya yang relatif besar dan disesuaikan dengan beban mekanis
dan volume produksi. Identifikasi motor DC dengan HP besar dengan menggunakan simulasi
program computer akan banyak membantu dalam pengamatan karakteristik dinamis motor
tersebut. Informasi yang dihasilkant bermanfaat dalam perencaan dan biaya investasi.
Menurut Deny (2007), Motor merupakan alat yang mengubah energi listrik menjadi
energi mekanis. Motor arus searah terdiri dari penguatan bebas dan penguatan sendiri.
Pengontrolan kecepatan dengan mengunakan rangkaian elektronika banyak sekali digunakan
karena tidak membutuhkan alat yang banyak dan tempat sehingga biaya yang dibutuhkan
untuk pengaturan kecepatan motor tidak terlalu besar.
Menurut Andry (2008), Reduksi kecepatan dalam konsep pengereman dilakukan
berdasarkan jarak kendaraan dengan objek penghalang. Jenis motor yang digunakan sebagai
penggerak dalam kendaraan listrik adalah motor dc yang relative mudah untuk dikendalikan.
Salah satu cara pengendalian kecepatan motor dc yang sering digunakan adalah PWM.
Pengendalian dilakukan untuk mangatur tegangan terminal yang terterap ke motor. Hubungan
antara kecepatan motor dengan tegangan terminal adalah berbanding lurus, sehingga semakin
kecil tegangan maka kecepatan motor akan menurun. Keuntungan pengendalian kecepatan
motor dc dengan PWM adalah praktis dan ekonomis dalam penerapannya. Hal ini didukung
dengan adanya kemajuan teknologi semikonduktor yang memungkinkan penggunaan
penyaklaran PWM dengan kecepatan tinggi.
Menurut Nugraha (2009), Dalam pengaturan kecepatan motor arus searah terdiri dari
tiga metode yaitu dengan pengaturan tegangan jepit ( Vt ) , fluksi ( ) dan mengatur tahanan
jangkar ( Ra ). Penggunan rangkaian elektronika dapat dilakukan dengan metode kontrol
phasa, integral siklus kontrol dan pengendalian dengan chopper untuk pengaturan kecepatan
motor arus searah. Integral siklus kontrol merupakan pengaturan tegangan terminal motor

arus searah dengan menggunakan thyristor dua arah yang saling berlawanan untuk mengatur
kecepatan.
Menurut Narpendyah (2009), Motor DC merupakan motor yang banyak digunakan
sebagai aktuatuor, baik dalam sistem kendali posisi maupun sistem kendali kecepatan. Kini
motor DC memegang peranan penting dalam dunia perindustrian. Hal ini tampak dari
banyaknya penggunaan motor DC pada devais-devais elektronik. Motor DC ini umumnya
digunakan untuk pergerakan mekanis pada aplikasi-aplikasi tertentu, seperti gerakan memutar
pada kertas atau drive CD.Karena hubungan antara masukan tegangan pada motor DC
dengan keluaran kecepatan putaran motor DC tidak linear, motor DC tidak disarankan untuk
digunakan secara lup terbuka pada daerah kerja yang luas. Agar dapat digunakan lebih akurat
pada daerah kerja yang lebih luas, pemakaian motor DC sebaiknya menggunakan pengendali
lup tertutup. Pengendali ini berfungsi untuk menjaga agar keluaran motor DC sesuai dengan
setpoint yang telah ditetapkan.
Menurut Firmansyah (2009), Sistem reduksi kecepatan memerlukan adanya piranti
untuk mengukur jarak penghalang. Pengukuran jarak dengan menggunakan gelombang
ultrasonik mampu memberikan hasil yang sangat presisi. Aspek integrasi dan fleksibilitas
yang dimiliki mikrokontroler mengakibatkan implementasi rangkaian pengukur jarak menjadi
sangat sederhana.
Menurut

Fathurrohim

(2010),

Motor

DC

merupakan

sebuah

perangkat

elektromagnetis yang mengubah energi listrik menjadi energi mekanik. Energi mekanik ini
digunakan untuk, misalnya, memutar impeller pompa, fan atau blower, menggerakan
kompresor, mengangkat bahan, dll. Motor listrik digunakan juga di rumah (mixer, bor listrik,
fan angin) dan di industri. Motor listrik kadangkala disebut kuda kerja nya industri sebab
diperkirakan bahwa motor-motor menggunakan sekitar 70% beban listrik total di industri.
Keuntungan utama motor DC adalah sebagai pengendali kecepatan, yang tidak
mempengaruhi kualitas pasokan daya.
Menurut Duffey dan Stranford (2006), Distorsi harmonisa pada daya penyearah
terkendali memegang peranan yang penting. Khususnya, faktor daya rendah dan hubungan
arus masukan dan tegangan masukan Penyearah terkendali ac ke dc dan tak terkendali yang
tidak sefasa adalah masalah yang cukup serius. Untuk memperbaiki kualitas sumber daya
pada level yang diterima sesuai dengan IEEE-519 standart teknik untuk gelombang arus
masukan sinusoida penyearah terkendali satu-fasa ac ke dc sedang dikembangkan.

Menurut Holtz (2007), Sejak tahun 1980, penyearah terkendali satu-fasa dan tiga-fasa
dengan power faktor satu telah menjadi objek yang mendapat perhatian secara khusus,
terutama penyearah terkendali tiga-fasa. Topologi dasar penyearah ini dapat menunjukkan
bahwa perbaikan harmonisa rendah pada konverter satu-fasa, dimungkinkan menggunakan
pensaklaran tunggal tanpa kontrol aktif arus dan penggunaan elemen pasif dengan frekwensi
rendah.
Menurut Marzuki (2007), Dengan menggunakan teknik kendali sudut simetris yang
diapikasikan pada penyearah terkendali satu fasa akan menghasilkan koreksi power faktor
menjadi baik, sedang teknik perancangan koreksi power faktor untuk memperbaiki faktor
daya dan mengurangi harmonisa yang induktor diletakkan sebelum dan perancangan tapis
masukan untuk mengurangi harmonisa.

BAB III. DESAIN DAN METODOLOGI PENELITIAN


3.1 Waktu Dan Lokasi Penelitian
o Waktu penelitian akan dilangsungkan pada bulan Februari 2012 sampai Mei 2012 di
laboratorium Sistem Kontrol Institut Adhi Tama Surabaya yang beralamat di JL. Arief
Rachman Hakiem No 100 Surabaya 60117.

3.2 RANGKAIAN BAHAN DAN PENELITIAN


1. Rangkaian Bahan

Gambar 3.1 Blok Diagram Sistem Kontrol Jembtan Kanal Kereta Api

2. ALAT PENELITIAN
Dari gambar 3.1 dan 3.2 peralatan-peralatan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah :
1.

Rangkaian Penyearah Terkendali Jembatan Penuh, yang terdiri


dari 4 buah thyristor / SCR. Thyristor mempunyai tiga terminal : sebuah anoda, sebuah
katoda, dan sebuah gerbang. Ketika ada sedikit arus yang melalui terminal gerbang
menuju katoda, thyristor akan terkonduksi, dengan syarat tegangan pada anoda lebih
besar daripada katoda.

2.

Rangkaian Traffic light, merupakan rangkaian pararel dari


berbagai LED dan resistor.

3.

Motor DC

4.

Rangkaian Sensor, merupakan rangkaian seri atau pararel dari


berabgai sensor .

3.3 Tahapan Penelitian


Perancangan Sistem Kendali Prototipe Jembatan Kanal Kereta Api Berbasis Programmable
Logic Control (PLC), dalam penelitian ini memiliki satu tahapan aktifitas yaitu Perancangan
Sistem Kendali Prototipe Jembatan Kanal Kereta Api Berbasis Programmable Logic
Control (PLC), yang dikerjakan enam bulan

3.3.1. Tahapan Pertama


Aktifitas pada tahap pertama melaksanakan beberapa perancangan yang secara garis besar
dirancang dalam beberapa tahap, yaitu :
3.3.1.1 Perancangan Perangkat Keras (Hardware)
Perancangan perangkat keras dari sistem konrol ini meliputi :

Perancangan komponen elektronika daya

Perancangan rangkaian Driver

Perancangan wirring PLC

3.3.1.2 Perancangan Perangkat Lunak (Software)

Memilih bahasa pemrograman yang dipakai

Sampling time dan bit resolution

Scaling

3.3.1.3 Simulasi Hasil Perancangan


Pada simulasi ini dilakukan simulasi komputer guna hasil dari rancangan benar-benar sudah
benar dan siap untuk di implementasikan kedalam bentuk pembuatan alat. Dalam simulasi ini
menggunakan bantuan software aplikasi PLC Simulator, PSIM, MULTISIM dan MATLAB.

3.3.1.4 Pembuatan Alat

Pembuatan alat ini merupakan inti dari penelitian ini, karena peralatan ini dirancang untuk
menunjang praktikum kendali motor-motor listrik, khususnya kendali motor-motor dc.dalam
penelitian ini akan dibuat sebuah prototype system kontrol jembatan kanal kereta api.

3.3.1.5 Pengujian Peralatan


Peralatan yang sudah terbuat akan diuji. Pengujian ini untuk mendapatkan data-data jembatan
kanal kereta api berbasis PLC, meliputi :

Pengujian kontrol motor DC

Pengujian wiring PLC

Pengujian sensor

Pengujian mekanik jembatan

3.4 Analisa Data


Dari data yang didapat diatas akan dilakukan analisa hasil perancangan dan hasil
pengujian. Pengecekan terhadap fungsi peralatan juga akan dilakukan disini.

BAB IV. Rencana Jadwal Penelitian

No.

Jenis Kegiatan

Studi Pustaka

2
3

Survey lapangan dan pengumpulan data terkait


dengan penelitian
Perancangan Komponen Elektronika Daya

Perancangan Driver

Perancangan software

Pembuatan Alat

Evaluasi hasil perancangan yang sudah dibuat

Pengujian Peralatan

Penyusunan laporan hasil penelitian

10

Seminar hasil penelitian

11

Penggandaan dan pengiriman laporan hasil


penelitian

12

Penulisan artikel ilmiah

Bulan ke
1 2 3

DAFTAR PUSTAKA
E.El-Hawary.Mohamed, Principles of Electric Machines with Power Electronic
Applications, Prentice Hall International Editions, 1993.
Mohan Ned, Tore M. Undeland, William P. Robbins, Power Electronics Converter,
Aplications, and design, John Wiley&Sons Inc., Canada, 1995.
Rashid.M.H, Power Electronics Circuits, Devices and Applications, Prentice Hall
International Editions, 1993.
Rajagopalan V., Computer-Aided Analysis of Power Electronic System. New York:Marcel
Dekker,1987.

National Operational Amplifiers Databook, National Semiconductor Corporation, Germany,


1995.