Anda di halaman 1dari 14

DEFINISI PENGKAJIAN, KOMPONEN-KOMPONEN

PENGKAJIAN DAN CONTOH KASUS KEPERAWATAN


TRANSKULTURAL
Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan dalam
Transkultural

OLEH :
KELOMPOK IV :
1. EMILIUS DAY LENA
2. HANGRY B. NAWAMATARA
3. RUT NOMLENI

NIM : (01.11.00486)
NIM : (01.11.00489)
NIM : (01.11.00514)

KELAS

: KEPERAWATAN. A

SEMESTER

: III (TIGA)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


CITRA HUSADA MANDIRI KUPANG

2012/2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas penyertaan dan
perlindunganNya bagi kami, sehingga penulisan makalah dengan judulDEFINISI PENGKAJIAN,
KOMPONEN-KOMPONEN

PENGKAJIAN

DAN

CONTOH

KASUS

KEPERAWATAN

tugas

KEPERAWATAN

TRANSKULTURAL dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Pembuatan

makalah

ini

dibuat

juga

untuk

memenuhi

TRANSKULTURAL untuk mengukur kompetensi mahasiswa sehingga mahasiswa dapat


berkreatif sendiri untuk mengolah materi belajar dan yang akan digunakan sebagai sumber
belajar mandiri bagi kami.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik
dan saran dari pembaca sangat kami harapkan untuk perbaikan pada makalah selanjutnya.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Kupang, September 2012

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Keperawatan transkultural, istilah ini yang kadang digunakan secara bergantian
dengan keperawatan antar-kultural, interkultural, atau multikultural, mengacu pada suatu
area formal disiplin ilmu dan praktik yang dipusatkan pada nilai, kepercayaan dan praktik
asuhan kultural untuk individu dan kelompok dengan kultur tertentu. Tujuan dasar
keperawatan transkultural adalah memberikan asuhan yang bersifat kultur-spesifik dan
kultur-universal yang akan menghasilkan kesehatan dan kenyamanan individu, keluarga,
kelompok, komunitas, dan institusi (Leininger, 1978, 1991, cit... Smeltzer dan Bare, 2002).
Meskipun kultur merupakan fenomena yang universal, namun memiliki gambaran
yang khas dan jelas bagi tiap kelompok tertentu, yang mencakup pengetahuan,
kepercayaan, adat dan keterampilan yang dimiliki anggota kelompok tersebut. Bila
kelompok seperti itu berada dalam suatu kelompok kultur yang besar, kelompok ini disebut
sebagai subkultur. Istilah subkultur digunakan untuk kelompok yang secara relatif atas
banyak orang yang memiliki karakteristik yang sama yang tidak umum bagi semua anggota
kultur dan yang memungkinkan mereka diidentifikasi sebagai suatu kesatuan yang berbeda.
Contoh subkultural yang berdasarkan etnik (misalnya; subkultural dengan kesamaan sifat
seperti karakteristik fisik, bahasa atau keturunan) meliputi orang Afrika-Amerika,
Hispanik, dan Amerika asli. Subkultural juga dapat berdasarkan agama (lebih dari 1200
terdapat di USA); pekerjaan (termasuk perawat, dokter, dan anggota tim kesehatan lain);
usia (bayi, anak-anak, remaja, dewasa); jenis kelamin (pria, wanita). (Smeltzer dan Bare,
2002).
Indonesia yang letaknya strategis, dengan berbagai etnik dan budaya, sampai saat
ini belum optimal mengidentifikasikan budaya yang dapat dimanfaatkan dalam
pelaksanaan program kesehatan. Pelayanan kesehatan atau keperawatan belum dirancang
secara optimal sesuai latar belakang budaya klien. Upaya kesehatan agar sehat menjadi
gaya hidup dan memberikan pelayanan kesehatan yang sesuai gaya hidup individu atau
keluarga belum digali dan diberdayakan secara optimal. Dari tinjauan sejarah sampai saat
ini, praktik-praktik keperawatan keluarga dipengaruhi oleh nilai-nilai ajaran Pra-Islam,
budaya Jawa, budaya Sunda, budaya Cina, Nasrani dan Islam. Dominasi Pra-Islam dan

Islam sangat kental dalam praktik keperawatan anggota keluarga Betawi. Praktik
menggunakan orang pintar (sebutan saat ini untuk dukun) masih mendominasi dalam
menolong anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan. (Sudiharto, 2007).
Dalam melakukan penkajian keperawatan transkultural pada masyarakat jawa
dianjurkan dilakukan dengan pendekatan budaya (transcultural nursing), pendekatan
budaya dilakukan karena dipandang lebih sensitif. Pendekatan budaya bermakna bahwa
asuhan keperawatan transkultural sesuai dengan keinginan keluarga, kebiasaan keluarga,
sumber daya yang ada dikeluarga sesuai dengan kemampuan keluarga dan sesuai dengan
struktur misalnya matrilokal atau patrilokal serta nilai-nilai yang dianut keluarga.
(Sudiharto, 2007).
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksudkan dengan pengkajian keperawatan transkultural?
1.2.2 Apa komponen-komponen pengkajian keperawatan transkultural?
1.2.3 Bagaimana kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan keperawatan
transkultural?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk meningkatkan
1.3.2

pola

pikir

ilmiah

tentang

pengkajian

keperawatan

transkultural.
Tujuan Khusus
1. Untuk meningkatkan pemahaman tentang definisi pengkajian keperawatan
transkultural.
2. Untuk meningkatkan pemahaman tentang komponen-komponen pengkajian
keperawatan transkultural.
3. Untuk meningkatkan pemahaman tentang kehidupan masyarakat yang
berhubungan dengan keperawatan transkultural.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi pengkajian

Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah


kesehatan klien sesuai latar belakang budayanya. (Sudiharto, 2007).
Pengkajian adalah suatu tahapan dimana seorang perawat mengambil informasi
secara terus menerus terhadap anggota keluarga yang dibinanya.(Andramoyo, 2012).
Pengkajian keperawatan kultural mengacu kepada penilaian dan penilaian
sistematis individu, keluarga, kelompok dan komunitas sesuai dengan kepercayaan, nilainilai dan praktik kulturalnya. (Smeltzer dan Bare, 2001).
Beberapa prinsip berikut dapat digunakan sebagai panduan untuk melakukan
pengkajian : (Smeltzer dan Bare, 2001).
1. Pahami dulu sikap, nilai-nilai, kepercayaan dan praktik kultural anda sendiri.
2. Secara umum lebih mudah memahami mereka yang warisan kulturalnya mirip dengan
kita, sementara memandang yang berbeda tampak aneh dan berbeda.
3. Jagalah sikap yang terbuka.
4. Jangan menyamaratakan orang.
5. Usahakan memahami alasan suatu tindakan dengan mendiskusikan persamaan dan
perbedaannya.
6. Bila klien mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak anda pahami, minta
penjelasannya. Jadilah pendengar yang baik.
7. Bila mungkin bicaralah dengan bahasa klien. Jangan mengubah logat atau
menggunakan kata yang tidak biasa.
8. Jadilah diri anda sendiri.

2.2 Komponen-komponen pengkajian keperawatan transkultural


2.2.1 Pemanfaatan Teknologi Kesehatan
Berkaitan dengan masalah kesehatan ini, perawat perlu mengkaji persepsi klien
tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi masalah kesehatan
saat ini, alasan mencari bantuan kesehatan, persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat
atau mengatasi masalah kesehatan. Misalnya seorang nenek yang minum jamu untuk
2.2.2

menjaga kesehatannya, jamu merupakan teknologi tradisional. (Sudiharto, 2007).


Agama dan Filosofi

Perawat perlu mengkaji faktor-faktor yang berhubungan dengan klien seperti


agama yang dianut, kebiasaan pemeluk agama yang berdampak positif trhadap
kesehatan, melakukan ikhtiar untuk sembuh tanpa mengenal putus asa, mempunyai
konsep diri yang utuh, status pernikahan, persepsi klien terhadap kesehatan, cara
klien beradaptasi dengan situasi saat ini, cara pandang klien terhadap penyebab
penyakit, cara pengobatan dan cara penularan kepada orang lain. (Sudiharto, 2007).
2.2.3

Kekeluargaan dan Sosial


Di rumah sakit negara berkembang di ruangan perawatan anak untuk mengurangi
dampak kejiwaan pada anak yang dirawat di rumah sakit, asuhan keperawatan yang
diberikan harus melibatkan keluarga. Karena budaya yang dimiliki anak lebih
dipahami oleh keluarganya. (Sudiharto, 2007).

2.2.4

Nilai-Nilai Budaya dan Gaya Hidup


Nilai-nilai adalah konsepsi abstrak di dalam diri manusia mengenai apa yang
dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Nilai budaya adalah sesuatu yang
dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut budaya yang baik atau buruk. (Soekanto,
1983).
Norma-norma budaya adalah suatu kaidah yang memiliki sifat penerapan
terbatas pada penganut budaya terkait. Nilai-nilai dan norma-norma yang diyakini
individu tampak di dalam masyarakat sebagai gaya hidup sehari-hari. (Sudiharto,
2007).

2.2.5

Kebijakan dan Peraturan Rumah Sakit yang Berlaku


Misalnya, peraturan atau kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, klien
harus memakai baju seragam, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, hak
dan kewajiban klien dalam perjanjian dengan rumah sakit, serta cara klien dalam
membayar perawatan di rumah sakit. (Sudiharto, 2007).

2.2.6

Status Ekonomi Klien


Faktor ekonomi yang perlu dikaji oleh perawat antara lain, pekerjaan klien,
sumber biaya pengobatan, kebiasaan menabung, dan jumlah tabungan dalam
sebulan. Faktor ekonomi ikut menentukan pasien atau keluarganya dirawat di
ruangan yang sesuai dengan kemampuannya. (Sudiharto, 2007).

2.2.7

Latar Belakang Pendidikan Klien

Perawat dapat mengkaji latar belakang pendidikan klien yang meliputi tingkat
pendidikan klien dan keluarga, kemampuan klien menerima pendidikan kesehatan,
serta kemampuan klien belajar secara mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga
tidak terulang kembali. (Sudiharto, 2007).
2.3 Kehidupan masyarakat dengan keperawatan transkultural
2.3.1 Aspek Demografi
Jawa Tengah merupakan salah satu daerah tingkat satu yang memiliki luas
sekitar 34.503 km2. Jawa Tengah memiliki 35 kabupaten/kota yang tersebar mulai
dari Ngawi sebagai perbatasan dengn Jawa Timur dan Brebes sebagai perbatasan
dengan Jawa Barat. Jumlah penduduk Jawa Tengah tercatat 32,05 juta jiwa atau
sekitar 15% jumlah penduduk Indonesia. Orang-orang Jawa Tengah belum menyebar
merata ke seluruh wilayah Jawa Tengah. Mereka masih terkonsentrasi di kota-kota.
Kepadatan penduduk yang tinggi terutma dijumpapi di kota yang banyak didatangi
turis, tempat bersekoalah dan pekantoran. (Sudiharto, 2007).

2.3.2

Aspek Psikososial
Perbedaan kelas sosial dalam keluarga Jawa..
Menurut sosiolog Koentjaraningrat, orang

Jawa

dapat

diklasifikasikan

berdasarkan golongan sosial sbagai berikut : (Sudiharto, 2007).


1. Wong cilik (terdiri dari petani dan berpenghasilan rendah).
2. Kaum priayi (terdiri dari pegawai dan orang-oang intelektual).
3. Kaum ningrat (orang yang gaya hidup tidak jauh dari kaum priyai).
Selain dibedakan menurut golongan sosial, orang Jawa juga dibedakan atas dasar
keagamaan sebagai berikut : (Sudiharto, 2007).
1. Jawa Kejawen yang sering disebut abangan, yang dalam kesadaran dan cara
hidupnya ditentukan oleh tradisi Jawa Pra-Islam. Kaum priayi tradisional
hampir seluruhnya dianggap Jawa Kejawen walaupun mereka secara resmi
Islam.
2. Santri yang memahami dirinya sebagai orang Islam atau orientasinya yang
kuat teerhadap agama Islam dan berusaha hidup sesuai ajaran Islam.
Bentuk-bentuk keluarga dan sistem ikatan kekerabatan.
Kehidupan keluarga pada masyarakat Jawa Tengah dikenal dengan sistem
kekerabatan. Sistem kekerabatan adalah hubungan seseorang dengan orang lain

berdasarkan ikatan darah, termasuk didalamnya sopan santun dan pergaulan hidup.
(Sudiharto, 2007).
Bentuk kekerabatan masyarakat Jawa Tengah didasarkan pada prinsip-prinsip
keturunan. Prinsip keturunan ialah menentukan siapa

diantara kaum kerabat

biologis yang terbatas jumlahnya tersebut yang akan masuk dalam batas hubungan
kekerabatan trsebut. Prinsip yang berlaku untuk masyarakat Jawa Tengah ialah
prinsip keturunan bilateral, yaitu prinsip yang menghubungkan kekrabatan melalui
laki-laki dan perampuan. Jadi, prinsip tersebut bersifat konsentris. Hal ini dapat
kita lihat dengan adanya lapisan bangsawan atau priayi. Golongan ini mempunyai
gelar di sepan nama mereka, misalnya mas, raden mas, raden dan lain-lain. Dalam
sistem ini biasanya dikenal dengan adanya sistem patrilineal. Yang trlihat dalam
perkawinan, yaitu seorang perempuan sah menjadi istri dalam sebuah perkawinan
bila dinikahkan oleh seorang wali bidadari pihak perampuan yaitu ayah dari
pengantin perampuan. Bila ayahnya meninggal penggantinya harus salah seorang
anak laki-laki ayahnya yang tertua. Bila tidak ada suadara laki-laki ayahnya dapat
juga menjadi wali pengantin perampuan. (Sudiharto, 2007).
Istilah kekerabatan yang berlaku diklasifikasikan berdasarkan generasi
(keturunan) yang berjumlah 10 generasi ke bawahnya, yaitu : (Sudiharto, 2007).
1. Generasi keatas : wong tuwo, embah, buyut, canggah, wareng, udheg-udheg,
gantung siwur, gropak santhe, debog bosok dan galih asem.
2. Generasi kebawahnya : anak, putu, buyut, canggah, wareng, udheg-udheg,
gantung siwur, gropak santhe, debog bosok dan galih asem.
Kedua generasi tersebut mengenal bebrapa istilah kekerabatan untuk
menyebutkan seseorang di dalam kelompok kerabatnya dalam kehidupan seharihari. Untuk menyebutkan seseorang di dalam kelompoknya

kita dapat

menggunakan istilah sebagai berikut : (Sudiharto, 2007).


1. Embah, pak tuwo dan kakek adalah sebutan untuk orang tua laki-laki ayah
atau ibu.
2. Simbah, embok tuwo, nenek dan mbah wedok adalah sbutan untuk orang tua
perampuan ayah atau ibu.
3. Ipe adalah sebutan untuk adik, kakak laki-laki atau perampuan, istri atau
suami.
4. Pripean adalah sebutan untuk hubungan antara saudar laki-laki atau
perampuan.

2.3.3

Nilai-nilai strategi koping


a. Nilai-nilai yang dianut
Orang Jawa asli tidak dapat memisahkan mitos dalam kehidupan
mereka. Sebagian besar orang Jawa yang bukan golongan muslim santri yang
mencampurkan beberapa konsep dan cara berpkikir Islam dengan pandangan
asli mengenai alam kodrati dan alam adikodrati disebut Jawa Kejawen atau
Islam abangan. Mereka tidak menjalaani kewajiban-kewajiban islam secara
utuh, misalnya tidak melakukan sembahyang lima waktu, tidak ke Masjid dan
ada juga yang tidak berpuasa di bulan Ramadan. Dasar pandangan mereka
adalah pendapat bahwa tatanan alam dan masyarakat sudah ditentukan dalam
segala segi. Mereka menganggap bahwa pokok kehidupan diri mereka sudah
ditentukan dalam sebelumnya. Jadi, mereka harus menanggung kesulitan
dengan sebar. Anggapan mereka itu berhubungan erat dengan kepercayaan
mereka terhadap bimbingan adikodrati dan bantuan dari roh nenek moyang
seperti Tuhan sehingga menimbulkan perasaan keagamaan dan keamanan.
(Sudiharto, 2007).
Komunikasi antara anggota keluarga Jawa memakai unggah-ungguh
basa, yaitu komunikasi antara anak dan orang tua harus menggunakan kromo
inggil. Meraka menganggap bahwa dengan berbicara kromo inggil akan lebih
sopan dan merupakan penghormatan anak terhadap orang tuanya. Biasanya
bahasa yang digunakan begantung denga lawan bicaranya. Bahasa yang
digunakan untuk berbicara dengan orang tua berbeda dengan bahasa yang
digunakan untuk taman sebaya, begitu pula jika berbicara dengan anak-anak
atau dengan orang yang lebih muda. (Sudiharto, 2007).
b. Strategi Koping
Keluarga mereka Jawa menggunakan strategi koping dengan beberapa cara

berikut ini : (Sudiharto, 2007).


1. Keinginan untuk tolong menolong
Penduduk Jawa Tengah umumnya terdiri dari orang-orang yang berstatus
sosial tinggi dan status sosial rendah,masing-masing status teersebut
masih ada tingkatan yang lebih terperinci lagi yang saling terikat dan
merupakan suatu susunan atas dasar kekeluargaan. Mereka saling

membantu dan bergotong royong dan imbalannya bukan materi teapi


bantuan juga.
Tidak hanya di dalam eluarga saja, tetapi juga untuk kepentingan desa
dan melibatkan semua warga desa. Misalnya untuk membangun
jembatan, memperbaiki jalan-jalan desa, membersihkan tempat-tempat
keramat dan sebagainya
2. Keinginan untuk berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan.
Dilihat dari sejarah perkembangannya Jawa Tengah merupakan tempat
berdirinya kerajaan islam pertama di pulau Jawa, yaitu kerajaan Demak
yang dipimpin oleh raja Raden Patah. Mesjid bukan hanya digunakan
untuk beribadah saja, tetapi juga untuk tempat mendidik dan belajar bela
diri.
3. Adanya ikatan keluraga yang kuat
Di tempat perantauan, keluarga Jawa Tengah akan berusaha semaksimal
mungkin untuk memperoleh penghasilan. Kemudian hasilya akan dikirim
ke kampung. Apabila mereka telah berhasil di tempat perantauan ada
anggota keluarga yang dibawa ke kota untuk menikmati kesuksesan.
4. Adanya fleksibilitas dalam menjalankan peran setiap anggota keluarga.
Peran seorang istri tidak hanya untuk melayani suami, merawat anak dan
mengatur kebutuhan keluraga tetapi juga bisa mencari nafkah misalnya
bekerja di pabrik atau berdagang. Sebaliknya peran seorang suami tidak
hanya untuk mencari nafkah, tetapi bisa merawat anak dan juga bersihbersih rumah
2.3.4

Aspek Budaya
a. Makanan Kebudayaan
Keluarga Jawa memiliki jenis makanan khas. Hampir di setiap kabupatan
di provinsi Jawa Tengah mempunyai makanan tradisional yang berbeda.
Contoh makanan khas dari beberapa kabupaten : Kabupaten Kudus makanan
khasnya dodol; Semarang makanan khasnya wingko babat; bantul mkanan
khasnya gudeg; Magelang makanan khasnya getuk; Banyumas makanan
khasnya kripik tempe dan Brebes makanan khasnya telor asin. (Sudiharto,
2007).
b. Praktik Kesehatan Keluarga

Sejak zaman dahulu, praktik keperawatan dalam keluarga Jawa dipengaruhi


oleh nilai-nilai pra-islam. Dominasi Pra-Islam sangat berpengaruh terhadap
praktik keperawatan keluarga Jawa. Praktik menggunakan orang pintar (dukun)
masih mendominasi dalam menolong anggota keluarga yang mengalami
gangguan kesehatan, terutam di pelosok-pelosok desa. Mereka masih yakin dan
percaya bahwa orang yang sakit karena gangguan makluk halus (setan). Untuk
mengusir makhluk tersebut dukun menggunakan mantra-mantra dalam bahasa
sansekerta atau bahasa Jawa kuno. Selain itu dukun juga menggunakan sesaji
berupa kembang setaman dan makanan serta membakar dupa. (Sudiharto,
2007).
Selain itu, banyak keluarga Jawa yang masih mempertahankan cara
pengobatan warisan leluhur yang berupa jamu/ramuan tradisional. Para kyai
juga banyak yang dianggap mampu mengobati gangguan kesehatan yang
dialami keluarga. (Sudiharto, 2007).
Dukun beranak adalah orang yang dianggap ahli dalam menolong
persalinan dan juga dapat sebagai dukun urut anak. Para dukun tersebut
biasanya menurunkan keterampilan kepada anak cucu mereka. Ada juga yang
berguru atau mendapat ilham melalui mimpi yang biasa disebut dukun tiban.
(Sudiharto, 2007).
Praktik dukun digolongkan dalam dua golongan, yaitu golongan hitam dan
golongan putih. Golongan hitam dianggap mampu membuat orang menjadi
sakit

bahkan

sampai

meninggal,

mencari

kekayaan,

memelet

dan

menghancurkan kerukunan rumah tangga. Golongan putih dianggap mampu


menolong orang sakit, mengurut, menolong persalinan, mencarikan jodoh,
merukunkan keluarga dan sebagainya. (Sudiharto, 2007).
Apabila mengalami gangguan kesehatan yang dianggap masih ringan,
keluarga Jawa dengan kelas sosial menengah ke bawah minum ramuan jamu
godok atau godokan (maksudnya direbus berulang kali). Apabila penyakitnya
tidak sembuh dan semakin parah, sebagiannya berobat ke puskesmas atau
layanan kesehatan lainnya. Walaupun sudah diberdayagunakan, petugas
kesehatan atau puskesmas belum menjadi prioritas utama. Karena alasan

ekonomi dan jauhnya jarak dengan puskesmas, maka mereka lebih memilih
dukun atau paranormal. (Sudiharto, 2007).
c. Implikasi Keperawatan Keluarga pada Etnik Jawa
Asuhan keperawatan keluarga pada etnik Jawa dianjurkan dilakukan
dengan pendekatan budaya(transcultural nursing), pendekatan budaya
dilakukan karena dipandang lebih sensitif. Pendekatan budaya bermakna
bahwa asuhan keperawatan keluarga dimulai dengan keinginan keluarga, sesuai
dengan keinginan keluarga, sesuai dengan kebiasaan keluarga, sesuai dengan
sunber daya yang ada di keluarga, sesuai dengan kemampuan keluarga dan
sesuai dengan struktur misalnya matrilokal atau patrilokal serta nilai-nilai yang
dianut keluarga. (Sudiharto, 2007).
Bentuk keluarga Jawa didominasi oleh keluarga besar dan keluarga inti
yang berpusat pada ayah. Pada waktu melakukan asuhan keperawatan
keluarga, perawat seharusnya melibatkan keluarga inti dan keluarga besar.
Karena pengambilan keputusan berpusat pada ayah, setiap langkah asuhan
keperawatan keluarga yang diambil perlu melibatkan ayah. Dengan
mempertimbangkan sistem nilai yang dianut keluarga, apakah keluarga
menganut praktik Pra-Islam atau Islam. (Sudiharto, 2007).
Pada saat melakukan kunjungan keluarga, kita juga harus mencermati
beberapa hal, misalnya cara memberi air minum dan hidangan. Pada keluarga
yang masih kental dengan budaya-budaya Jawanya terutama kaum sepuh,
pemberian air putih dingin berarti kedatangan tamu tidak dikehendaki atau
tamu diharapkan cepat pulang. Apabila tamu diberikan air teh manis panas,
tamu tersebut disukai. Apabila tamu tersebut diberikan air kelapa atau susu
tamu tersebut sangat terhormat. Perawat juga harus menguasai bahasa Jawa
walaupun hanya kulonuwun (permisi), matur nuwun (terima kasih) dan
sebagainya. Mereka merasa sangat dihargai bila kita menggunakan bahasa
mereka. (Sudiharto, 2007).

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini, pengkajian adalah proses mengumpulkan
data untuk mengidentifikasi masalah kesehatan klien sesuai latar belakang budayanya.
Dalam pengkajian juga memiliki tujuh komponen dimensi budaya dan struktur sosial
yang saling berinteraksi, diantaranya: pemanfaatan teknologi kesehatan, agama dan
filosofi, kekeluargaan dan sosial, nilai-nilai budaya dan gaya hidup, kebijakan dan
peraturan rumah sakit yang berlaku, status ekonomi klien dan latar belakang pendidikan
klien.
3.2 Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini semoga menambah pemahaman pembaca
tentang definisi pengkajian keperawatan transkultural, komponen-komponen pengkajian
keperawatan transkultural

dan kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan

keperarawatan transkultural.

DAFTAR PUSTAKA
Andromoyo, Sulistyo. 2012. Keperawatan keluarga. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Smeltzer Smeltzer S.C dan Bare B. G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah edisi 8.
Jakarta. EGC.
Soekanto, S. 1983. Kamus Sosiologi. Jakarta : CV Rajawali.
Sudiharto.

2007.

Asuhan

Keperawatan

Transkultural. Jakarta: EGC.

Keluarga

dengan

Pendekatan

Keperawatan