Anda di halaman 1dari 108

SPESIFIKASI TEKNIS

6.1.

PENGADAAN PIPA DAN PERLENGKAPANNYA

6.1.1.

Umum

Penyedia Jasa Pengadaan harus menyediakan dan menyertakan semua pipa dan fitting,
valve, coupling, meter, mur, baut, gasket, material penyambung dan bahan pelengkap
sebagaimana dirinci dalam Daftar Kuantitas Bahan atau dalam gambar/drawing.
Penyedia

Jasa

Pengadaan

harus

menyediakan

perpipaan

dari

semua

material

sebagaimana dirinci disini dan ditunjukkan dalam Daftar Kuantitas Bahan. Semua pipa,
fitting, valve dan perlengkapan lainnya harus sesuai untuk pemakaian di daerah tropis,
beriklim lembab dan bersuhu udara 32 OC. Tekanan kerja normal tidak akan lebih dari 8
Bar dan uji tekanan di lapangan tidak lebih dari

10 Bar.

Penyedia Jasa Pengadaan harus menyediakan suatu affidavit (Sertifikat Jaminan Barang)
dari pabrik pembuat yang menyatakan bahwa barang tersebut sesuai dengan kebutuhan
yang

dirinci

dalam

spesifikasi

teknis.

Penyedia

Jasa

Pengadaan

juga

harus

menyampaikan tentang laporan hasil uji kimiawi dan fisik yang telah dilakukan di pabrik
dan berlaku untuk semua jenis barang.

REFERENSI STANDAR
Referensi standar dalam dokumen lelang ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran
mengenai jenis dan kualitas material yang diminta.
Semua material yang ditawarkan harus produksi dalam negeri dengan Standar Nasional
Indonesia (SNI). Bila ternyata belum ada SNI untuk produk tertentu atau belum dibuat di
dalam negeri, maka yang ditawarkan dapat menggunakan standar lain, dengan syarat
bahwa kualitas keseluruhan sekurang-kurangnya sama dengan apa yang ditetapkan
dalam dokumen lelang ini.
Semua material yang dikirim harus seratus persen baru (bukan material bekas), dalam

keadaan baik dan memenuhi syarat spesifikasi teknis yang ditentukan.


Barang atau peralatan yang diproduksi di dalam negeri atau berasal dari luar negeri dan
sudah diatur dalam SNI maka barang/peralatan tersebut wajib memiliki SNI.
Bilamana jenis barang atau peralatan tersebut belum diatur dalam SNI, maka barang
atau peralatan tersebut harus memiliki standar-standar sebagai berikut :
ISO

International for Standardization Organization

JIS

Japanesse Industrial Standard

BS

British Standard

DIN

Deutsche Industrie Norm

AWWA

American Water Works Association

ASTM

American Society for Testing and Materials

ANSI

American National Standard Institute

BAHAN PIPA DAN FITTING


Untuk pipa dan fitting yang telah dapat dibuat di dalam negeri maka Penyedia Jasa
Pengadaan harus melampirkan surat dari pabrik untuk izin penggunaan SII/SNI yang
dikeluarkan oleh Departemen Perindustrian dan dapat menunjukkan pengalaman
minimal 3 (tiga) tahun.
Bahan pipa yang ditawarkan dapat berlainan dengan bahan pipa yang tercantum dalam
dokumen lelang ini, dengan syarat bahwa pipa yang ditawarkan mempunyai kualitas
keseluruhan yang sekurang-kurangnya sama dengan apa yang tercantum dalam
dokumen lelang ini.
Dalam hal bahan pipa yang ditawarkan berbeda dengan apa yang tercantum dalam
dokumen lelang ini, peserta pelelangan harus menyertakan gambar-gambar detail
junction (gambar detail penyambungan pipa) disertai dengan jumlah dan spesifikasi dari
tiap material yang ditawarkan.
Seluruh pipa dan fitting yang ditawarkan harus dapat digunakan di daerah tropis dengan
temperatur air yang mengalir antara 15 35 OC dan pH antara 6 sampai dengan 8.
Seluruh pipa dan fitting pipa akan ditanam di dalam tanah kecuali untuk hal-hal khusus
yang membutuhkan lain.

TEKANAN KERJA / WORKING PRESSURE


Bagian VI | 2

Tekanan kerja dari pipa minimal 100 m kolom air atau 10 kg/cm 2 (SNI 06-00841987 dan
SNI 03-6419-2000) dan tekanan pengujian minimal 2 (dua) kali tekanan kerja pipa.
Penyedia Jasa Pengadaan harus menyertakan tanda bukti hasil pemeriksaan tekanan
kerja dari pipa/fitting pipa yang ditawarkan.
Bila dianggap perlu, atas permintaan Direksi Pengawas Penyedia Jasa Pengadaan harus
dilakukan pengujian kekuatan tekanan kerja pipa/fitting pipa di lapangan pada
pipa/fitting pipa yang dikirim ke lapangan atas biaya Rekanan. Jumlah pipa/fitting pipa
yang akan diuji di lapangan akan ditentukan kemudian oleh Direksi Pengawas. Bila
ternyata hasil pengujian tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi ini, maka Penyedia Jasa
Pengadaan harus menggantinya dengan yang baru sampai memenuhi persyaratan
spesifikasi yang ditentukan.

6.1.2.

PENGADAAN PIPA PVC

1. Standar
Material yang digunakan adalah yang memenuhi standar dengan panjang efektif tidak
lebih dari 6 meter.
Pipa yang ditawarkan harus buatan pabrik yang telah mendapat izin untuk penggunaan
SNI yang dikeluarkan oleh Departemen Perindustrian. Setiap pipa harus mempunyai
tanda/cap pada bagian luar yang menunjukkan diameter nominal, kelas, nama pabrik
pembuat, dan trade mark.
Standar lain yang digunakan sesuai peruntukannya adalah :

SNI 06-2548-1991 Metode Pengujian Diameter Luar Pipa PVC untuk Air Minum
dengan Jangka Sorong.

SNI 06-2549-1991 Metode Pengujian Kekuatan Pipa PVC untuk Air Minum terhadap
Hidrostatik.

SNI 06-2550-1991 Metode Pengujian Ketebalan Dinding Pipa PVC untuk Air Minum.

SNI 06-2551-1991 Metode Pengujian Bentuk dan Sifat Tampak Pipa PVC untuk Air
Minum.

SNI 06-2552-1991 Metode Pengambilan Contoh Uji Pipa PVC untuk Air Minum.

SNI 06-2553-1991 Metode Pengujian Perubahan Panjang Pipa PVC untuk Air Minum
dengan Uji Tungku.

SNI 06-2554-1991 Metode Pengujian Ketahanan Pipa PVC untuk Air Minum terhadap
Bagian VI | 3

Metilen Khlorida.

SNI 06-2555-1991 Metode Pengujian Kadar PVC pada Pipa PVC Air Minum dengan
THF.

SNI 06-2556-1991 Metode Pengujian Diameter Luar Pipa PVC untuk Air Minum
dengan Pita Meter.

SNI 06-2558-1991 Spesifikasi Simbol Gambar Sistem Penyediaan Air dan Sistem
Drainase di Dalam Tanah.

SNI 03-6419-2000 Spesifikasi Pipa PVC Bertekanan Berdiameter 110 315 mm


untuk Air Bersih.

SK SNI S-20-1990-03

RSNI T-17-2004

Spesifikasi Pipa PVC untuk Air Minum.

Tata Cara Pengadaan, Pemasangan, dan Pengujian Pipa PVC


untuk Penyediaan Air Minum.

2. Kelas PVC
Bila tidak disebutkan dalam Volume Pekerjaan (Bill of Quantity), yang digunakan adalah
jenis pipa PVC dengan tekanan nominal 10 kg/cm 2 menurut standar SNI yang berlaku
dan mempunyai panjang efektif 6 meter.
Ketebalan minimum dinding pipa dan outside diameter mengikuti tabel berikut :
Tabel 6.1.
DIAMETER LUAR
PIPA POLYVINYL CHLORIDE (PVC)
Nominal Diameter
( mm )
100
125
150
200
250
300
350
400
450
500
600

Rata-rata Diameter Luar


( mm )
110
140
160
200
250
315
355
400
450
500
630

Tabel 6.2.
DIAMETER LUAR DAN KETEBALAN DINDING
PIPA POLYVINYL CHLORIDE (PVC)
Bagian VI | 4

Nominal Diameter
( mm )
110
140
160
200
250
315
355
400
450
500
630

6.1.3.

Seri Pipa
Tebal Dinding Nominal (mm)
S - 10
S - 12,5
5,3
4,2
6,0
4,8
7,7
6,2
9,6
7,7
11,9
9,9
15,0
12,1
16,9
13,6
19,1
15,3
21,5
17,2
23,9
19,1
30,0
24,1

SAMBUNGAN PIPA PVC

1. Push-On Rubber Ring Joint


Kecuali ditentukan lain, sambungan harus dari jenis push-on rubber ring. Pipa tersebut
harus mempunyai bell pada satu ujungnya dan polos pada ujung yang lain serta dibevel
dengan sudut kurang lebih 15 derajat. Pipa harus diberi tanda garis petunjuk
pemasangan pada permukaan luarnya.
Fitting harus dari jenis yang dispesifikasikan dan mempunyai ujung jenis bell.

2. Sleeve Coupling
Sleeve coupling dan adaptor harus didesain khusus untuk penyambungan pipa PVC dan
cocok dengan diameter luar pipa PVC.

3. Ring Karet Dan Gasket


Ring karet digunakan untuk sambungan push-on dan gasket digunakan untuk
penyambungan mekanikal fitting dari ductile iron atau besi tuang. Gasket untuk
sambungan flange harus dari styrene butadiene rubber (SBR) atau karet sintetis lain yang
tepat untuk pipa air minum.

Bagian VI | 5

4. Adaptor
Adaptor harus terbuat dari ductile iron atau besi tuang dan terdiri atas flange pada satu
ujungnya dan socket (atau bell) pada sambungan fleksibel baik dengan mekanikal
maupun push-on.

5. Fitting
Fitting sambungan harus sesuai dengan standar SNI-0084-1987 dan bila tidak
disebutkan dalam Volume Pekerjaan (Bill of Quantity) maka sistem sambungan
menggunakan sistem rubber ring joint.
Semua fitting direncanakan mempunyai tekanan kerja 1,23 Mpa (12,4 kg/cm2)
Kecuali ditentukan lain, semua fitting harus dari jenis injection molded atau heat process
(pencetakan atau proses panas) dan didesain dengan karakteristik dan kekuatan yang
sama dengan pipa yang disambung.
Bila fitting yang dispesifikasikan bukan terbuat dari PVC maka harus dari besi tuang
ductile (Ductile Cast Iron). Bell dan Flange yang dispesifikasikan harus mempunyai flange
pada satu ujungnya dan push-on bell satu sambungan jenis mekanikal pada ujung yang
lain. Tee dengan cabang flange, jika dispesifikasikan harus berupa ujung-ujung dengan
push-on dan ujung pipa cabang dengan flange. Permukaan luar fitting tersebut harus
dilapisi lapisan pelindung dari bahan bitumen, yaitu coal tar atau aspheltic base, yang
mempunyai ketebalan kering tidak kurang dari 0,3 mm. Permukaan dalam dari fitting
tersebut harus dilapisi (lining) epoxy atau coal tar epoxy. Yang dipakai untuk lining harus
dari bahan yang tepat untuk pipa air minum dan dilengkapi sertifikat dari instansi yang
berwenang (public health authorities).
Baut dan mur yang akan dipakai untuk flange dan sambungan mekanikal harus dari
baja yang digalvanis.

6.1.4.

PENGADAAN PIPA GI

1. Standar
Semua pipa dan alat penyambung harus didesain untuk menerima tekanan kerja
minimum sebesar 0,98 Mpa (10 kg/cm2) kecuali ditentukan lain.
Bagian VI | 6

Standar lain yang digunakan adalah :

SNI 07-0068-1987 Pipa Baja untuk konstruksi umum, mutu dan cara uji.

SNI 0039-1987

SNI 07-0242-1989 Pipa Baja tanpa kambuh, mutu dan cara uji.

SNI 07-0822-1989 Baja Karbon strip canai panas untuk pipa.

SNI 07-1338-1989 Baja karbon tempa.

SNI 07-0949-1991 Pipa Baja coal-tar enamel lapis lindung bagian luar.

SNI 07-1769-1990 Penyambung pipa air minum bertekanan dari besi yang kelabu.

SNI 07-1969-1991 Pipa air minum bertekanan besi tuang kelabu, penyambung.

SNI 07-2255-1991 Pipa Baja saluran air.

SNI 07-2195-1991 Permukaan pipa flens, dimensi.

SNI 07-2196-1991 Flens pipa, toleransi dimensi.

SN1 07-3080-1991 Pipa spigot dan socket dari besi tuang modular untuk jaringan

Pipa Baja Bergalvanis.

pipa bertekanan, bagian 2.

SNI 07-3025-1992 Persyaratan las - Ketentuan Umum, Persyaratan servis untuk


sambungan las.

SNI 07-3026-1992 Las, untuk pertimbangan untuk menjamin mutu struktur las.

SNI 07-3027-1992 Faktor-faktor yang harus di pertimbangkan dalam penilaian


perusahaan yang menggunakan las sebagai cara utama pabrikasi.

SNI 07- 3078-1992 Flens logam - flens besi tuang.

SNI 07-3073-1992 Penyambung pipa baja tanpa pasuan berulir.

SNI 07-6398-200

Tata cara pelapisan epoksi cair untuk bagian dalam dan luar pada
pelapisan air dari baja.

SNI 07-3360-1994 Penyambung pipa baja a baja paduan dengan las tumpu.

5112527-90

Water Supply Steel Pipe.

ISO 7/1

Pipe Threads Where Pressure Tight Joins are Made on The


Threads.

ISO 1459

Metalic coating - Protection Against Corrosion by Hot Dip


Galvanizing Guilding Principles.

ISO 1461

Metalic Coating Hot-Dip Galvanized Coating on Fabricated Ferrous


Products Requirments.

ASTM A 283F

Flow and Intermediate Tensile Strenght Carbon Steel Plates,


Shapes and Bars.
Bagian VI | 7

ASTM A 570

Steel, Sheet and Strip, Carbon, Hot Rolled Structural Quality.

AWWA C 200

Steel Water Pipe 6 Inches and Larger.

AWWA C 203

Coal-Tar Protective Coatings and Linings for Steel Water Pipelines


Enamel and Tape Hot Applied.

AWWA C 205

Cement Mortar Protective Lining and Coating for Steel Water Pipe 4
Inches and Larger Shop Applied.

AWWA C 208

Dimensions for Steel Water Pipe Fittings.

AWWA Manual M11 Steil Pipe Design and Installation.

AWWA C 210

Liquid

Epoxy

Coating

System

for

The

Interior

and

Exterior Steel Water Pipe.

JIS G 3101

Rotted Steel for General Structure.

JIS G 3452

Carbon Steel Pipes for Ordinary Piping.

JIS G 3457

Arc Welded Carbon Steel Pipe.

JIS B 2311

Steel Butt-Welding Pipe Fitting for Ordinary Use.

JIS G 3451

Fitting of Coating Steel Pipes for Water Service.

JIS G 550

Spheroidal Graphite Iron Castings.

JIS G 5702

Blackheart Malleable Iron Castings.

JIS G 3445

Carbon Steel Tubes for Machine Structures Purposes.

JIS G 3454

Carbon Steel Pipes for Pressure Service.

JIS K 6353

Rubber Goods Pipes for Water Works.

2. Material Dan Fabrikasi


Pipa baja/steel harus dibuat dari plat atau lembaran baja dan sambungannya
menggunakan pengelasan tumpul (arc-welded) atau pengelasan listrik, dikerjakan di
pabrik, dites dan dibersihkan.
Lembaran atau plat-plat baja harus mempunyai batas keruntuhan minimum tidak
kurang dari 226 N/mm2 (2.300 kg/cm2) dan harus memenuhi standar berikut :

SNI 07-0949-1989 Plat baja carbon untuk uap dan bejana tekan

SNI 07-0822-1989 Baja karbon strip canai panas untuk pipa

SNI 07-1338-1989 Baja karbon tempa

ASTM A 283, Grade D

ASTM A 570, Grade 33


Bagian VI | 8

JIS G 3101, Class 2

JIS G 3452, SGP

JIS G 3457, STPY

Fabrikasi pipa baja harus sesuai dengan AWWA C 200 atau SNI-07-0822-1989 atau 511
2527-90 atau JIS G 3452 dan JIS G 3457. Ketebalan dan lebar pengelasan harus cukup
merata pada seluruh panjang pipa dan dibuat secara otomatis, kecuali atas persetujuan
Pengguna Barang boleh dilakukan pengelasan manual dengan prosedur yang sesuai oleh
tukang yang berpengalaman.
Semua sambungan memanjang atau spiral dan sambungan las keliling yang dibuat di
pabrik harus dengan pengelasan sudut (butt welded). Banyaknya pengelasan pabrik
maksimum yang diizinkan adalah satu pengelasan memanjang dan tiga pengelasan
keliling untuk setiap batang pipa. Panjang setiap batang pipa adalah 6 meter atau
kurang, kecuali ditentukan lain.
Pengelasan memanjang harus dipasang berselang-seling pada sisi yang berlawanan untuk
bagian yang berurutan. Tidak diizinkan adanya ring, plat ataupun pelana (saddle)
penguat baik pada bagian luar maupun pada bagian dalam pipa.

3. Dimensi Pipa
Kecuali ditentukan lain, pipa dengan ukuran diameter nominal berikut ini harus
mempunyai ukuran diameter luar dan ketebalan dinding minimum sebelum dilapisi
pelindung dalam dan luar sebagai berikut :
DIAMETER LUAR DAN KETEBALAN DINDING PIPA BAJA
Nominal Diameter
( mm )

Diameter Luar
( mm )

100
150
200
250
300
350
400
450
500
600

114,3
168,3
219,1
273,0
323,8
355,6
406,4
457,2
508
609,6

Ketebalan Dinding
Minimum (mm)
4,5
5,0
5,8
6,6
6,9
6,0
6,0
6,4
6,4
6,4

4. Fitting

Bagian VI | 9

Semua fitting baja/steel harus dari bahan yang sama dan difabrikasi sesuai dengan
spesifikasi yang ditentukan pada Bagian 3.2 dan harus didesain dengan kekuatan yang
sama dengan pipanya. Ring penguat atau saddle penguat dapat dipasang pada bagian
luar bilamana perlu, sesuai dengan AWWA Manual M11 atau standar pembuatan yang
dapat disetujui. Ketebalan dinding minimum dan diameter luar dinding fitting harus
sesuai dengan persyaratan yang dispesifikasikan dalam Sub Bab 6.1.4 Bagian 2 dan
standar berikut ini :

Fitting dengan diameter 125 mm atau lebih kecil : JIS B 2311

Fitting dengan diameter 150 mm atau lebih besar : JIS B 2311 (sampai dengan 500
mm) dan JIS G 3451 atau AWWA C 208.

Bend yang mempunyai sudut defleksi sebesar 22,5 O dan lebih kecil harus terdiri dari dua
potongan bend. Bend yang mempunyai sudut defleksi lebih besar dari 22,5O sampai
dengan 45O harus difabrikasi dengan menggunakan tiga potongan bend. Bend yang
mempunyai sudut defleksi lebih besar dari 45O harus terdiri dari empat potongan bend.

5. Coating dan Lining (Lapisan Pelindung)


a.

Pemasangan Bawah Tanah

Permukaan luar pipa dan fitting untuk pemasangan di bawah tanah harus dilapisi coal
tar enamel dan dibalut dengan bonded double asbestos felt sebagaimana dispesifikasikan
pada Appendix A, Sec.A1.2 dalam AWWA C 203. Lapisan primer dan coal tar enamel
adalah sebagai berikut ;

Primer

: Type B sesuai dengan bagian A.2.4 dan AWWA C.203

Coal tar enamel

: Type I sesuai dengan bagian A.25. Table 1 dari AWWA C203

Konstruksi dari proteksi luar seperti diuraikan di atas harus terdiri dari berikut ini :
Primer, Type B yang dispesifikasikan di atas.
Coal tar enamel, Tipe I yang dispesifikasikan di atas, ketebalan lapisan kering 2,4 mm
0,8 mm.
Bonded asbestos felt dan Coal tar enamel, Tipe I sama seperti di atas, ketebalan
minimum lapisan kering 0,8 mm.

Bonded asbestos felt.

Satu lapisan water resistant whitewash.


Bagian VI | 10

Sistem pelindung luar lainnya yang menjamin kualitas yang sama atau lebih dari pada
yang dispesifikasikan di atas dapat diterima atas persetujuan Engineer tetapi segala
sistem proteksi yang menggunakan polyethylene tape tidak diperkenankan.
b.

Pemasangan Di Atas Tanah

Semua pipa dan fitting yang akan digunakan sebagai jembatan dan terpapar di
luar/dapat terlihat langsung, harus dicat di pabrik dengan lapisan primer dan lapisan
pertama (first coat) yang sesuai dengan susunan berikut ini :

Persiapan permukaan

Primer

: SSPC-SP-6 atau SP-3

: Etchin primer, ketebalan minimum lapisan kering 20 mikron

Lapisan pertama : Read lead atau lead suboxide primer, ketebalan lapisan kering 35
mikron.
Persiapan permukaan harus dilakukan sesuai dengan yang diisyaratkan oleh Steel
Structure Painting Council, USA dan kelas yang disebutkan di atas, Primer dan Etchin
Primer, Class 2.
Lapisan pertama harus sesuai dengan MS K 5622, Read Lead Anticorrosive Paint, Class 1
atau JIS K 5623, Lead-Suboxide Anticorrosive Paint, Class 1 atau sesuai dengan
persetujuan Pengguna Barang.

6. Pengecatan Tanda (Marking)


Semua pipa baja/steel dan fitting harus diberi tanda (marking) dengan jelas pada bagian
tengahnya. Bahan cat tersebut harus dari long oil alkyd resin seperti berikut ini atau dari
mutu yang setara.
P.T. Dimet Indonesia

VYGARD 260

ICI

ICI SUPER

P.T. ICI Paint Indonesia

STRUCTURE FINISH

NIPPON PAINT

BODELAC 9000

P.T. Nippon Paint Indonesia

ALKYD RESIN

6.1.5.

SAMBUNGAN PIPA GI

6.1.5.1. Standar
Semua sambungan fleksibel dan kopling didesain untuk tekanan kerja maksimum
Bagian VI | 11

sebesar 0,98 Mpa (10 kg /cm2) kecuali ditentukan lain.


Yang dipakai sebagai referensi adalah standar-standar berikut :

AWWA C 219 Bolted, Sleeve-Type Coupling for Plain-End Pipe

JIS G 3101 Rolled Steel Pipes for Water Service

JIS G 3443 Coaling Steel Pipes for Water Service

JIS G 3445 Carbon Steel Tubes for Machine Structure Purpose

JIS G 3454 Carbon Steel Pipes for Pressure Service

JIS G 5502 Spheroidal Graphite Iron Castings

JIS G 5402 Blackheart Malleable Iron Castings

JIS K 6353 Rubber Goods for Water Works Service

6.1.5.2. Sambungan Fleksibel Mekanikal


Sambungan mekanikal fleksibel didesain untuk menerima gaya atau kombinasi gaya-gaya
yang terjadi akibat pemuaian dan penyusutan, shear deflection, distorsi dan gaya-gaya
lain pada jalur pipa.
Sambungan mekanikal fleksibel harus setara dengan Closer Joint, Type CL-A yang
diproduksi oleh Victaulic Company Japan Ltd., atau yang setara dan disetujui.

1. Persyaratan Desain
Sambungan mekanikal fleksibel harus didesain dan dibuat untuk memenuhi kondisi
operasi sebagai berikut :
(a).

Pembebanan dari 2 (dua) meter ketebalan tanah (earth cover) dengan berat jenis 2
ton/m3 ditambah sebuah truk berat 20 ton.

(b).

Lendutan geser minimum sebesar 100 mm.

(c).

Persyaratan-persyaratan lain seperti di bawah ini :


Diameter
Nominal
(mm)

Panjang Maksimum
Peletakan (mm)

300 to 400
500 & 600

1600
1700

Minimum
Ekspansi yang
diizinkan
(mm)
230
270

Minimum Kontraksi
Yang diizinkan
(mm)
80
80

2. Bahan-Bahan Dan Konstruksinya

Bagian VI | 12

Sambungan fleksibel mekanikal terdiri dari slip pipes, pipa selubung, 2 (dua) ring karet
dan housing (blok) dll, dan mempunyai flange pada kedua ujungnya.
Setiap slip pipe merupakan tipe ring yang menerus dengan rangka penguat serta ujung
flange. Slip pipes dan pipa selubung harus difabrikasikan dari lembaran atau plat baja
yang mempunyai batas keruntuhan sebesar 216 N/mm 2 (2200 kg/cm2), sesuai dengan
JIS G 3101 Class, JIS G 3454 STPG 370, atau yang setara.
Rubber ring housing harus dibuat dari besi cor ductile sesuai dengan JIS G 5502 class 2
FCD 450, JIS G 5702 class 2 FCMB 310 atau setara. Ring karet harus dari Styrene
Butadiene Rubber (SBR). Karet bekas tidak boleh digunakan.

3. Coating
Semua permukaan luar sambungan mekanikal, kecuali ditentukan lain, harus dilapisi
primer seperti ditentukan dalam Sub Bab 6.1.4 Bagian 5, kecuali permukaan slip pipe
yang kontak langsung dengan air pengecatannya harus dilakukan sesuai dengan yang
dispesifikasikan disini. Semua permukaan luar dan dalam mechanical flexible joint harus
dilapisi sistem epoxy atau sistem coal tar epoxy sesuai dengan spesifikasi dalam Sub Bab
6.1.4 Bagian 5.

6.1.5.3. Sleeve Coupling


1. Umum
Sleeve coupling harus menggunakan sleeve-type coupling yang dibaut untuk ujung pipa
polos dan terdiri dari center sleeve, 2 (dua) buah gasket, 2 (dua) end ring, dan mur baut
untuk pemasangan coupling. Semuanya harus didesain dan diproduksi sesuai dengan
AWWA C.219 dan sesuai dengan standar pabrik serta mendapat persetujuan Pengguna
Barang.

2. Bahan-Bahan dan Konstruksinya


Center Sleeve
Center sleeve ini harus berukuran sesuai dengan ukuran pipa dan fitting yang digunakan

Bagian VI | 13

dan terbuat dari carbon steel atau besi ductile atau malleable cast iron (besi tuang) yang
sesuai dengan atau lebih tinggi dari persyaratan di bawah ini.

Carbon Steel
ASTM A 283

Grade C

JIS G 3101

Class 2

BS 4360

Grade 43 A

DIN 17100

RST 36

Ductile Iron
ASTM A 536

Grade 65-45-12

JIS G 5502

Class 2 FCD 45

BS 2789

Grade 420/12

Malleable Cast Iron


ASTM A 47

Grade 32510 or 35018

JIS G 5702

Class 3 FCMB 340

BS 6681

Grade B32-10 or W34-04

DIN 1692

GTS 35 or GTS 4t

Panjang Center Sleeve harus memenuhi persyaratan berikut ini :


Diameter Nominal
(mm)
12,5 50
65 250
300 450

Panjang Minimum Center Sleeve


(mm)
89
102
127

Gasket
Gasket harus terbuat dari karet sintetis, styrene butadiene rubber (SBR) yang divulkanisir
dicetak (molded) sesuai dengan standar JIS K 6353 atau nitrite butadiene rubber (NBR)
atau ethylene propylene diene monometer (EPDM). Karet bekas tidak diperkenankan untuk
digunakan.

End Rings / Ring Ujung


End rings harus dibuat dari carbon steel atau besi ductile atau besi tuang (malleable cast
iron) yang memenuhi atau lebih tinggi dari standar berikut :

Carbon Steel ASTM A 576 Grade 1020


Bagian VI | 14

JIS G 3101

Class 2

BS 6681

Grade 43 A

DIN 17100

RST 36

Ductile Iron dan Malleable Cast Iron

Sama dengan standar yang telah dispesifikasikan untuk Center Sleeve.

6.1.6.

PERLENGKAPAN LAINNYA

1. Umum

Penyedia Jasa Pengadaan harus melengkapi valve sesuai dengan yang dibutuhkan
dan menurut standar yang disetujui. Seluruh valve sesuai dengan ukuran yang
disebutkan dan bila mungkin dari jenis atau model yang sama dan dikeluarkan
oleh satu pabrik.

Seluruh valve pada badan bagian luar harus tercetak asli dari pabrik dan dicor
dengan huruf timbul yang dapat menunjukkan :

Nama pemilik proyek

Nama atau merk dagang pembuatnya

Tahun pembuatan (97 berarti 1997)

Tekanan kerja

Diameter nominal

Arah panah aliran bila valve tersebut digunakan satu aliran

Valve dengan diameter lebih kecil 50 mm terbuat dari brass/kuningan bila tidak
disebutkan lain, kecuali untuk handwheel terbuat dari besi tuang atau besi tempa
atau jenis sambungan dari sambungan ulir.

Ulir valve harus sesuai dengan ISO 7/1 "Pipe threads where pressure tight joint
are made in the thread".

Valve dengan diameter 50 mm keatas menggunakan sambungan sistem dengan


flange dan terbuat dari cast iron/besi tuang.

Ketebalan flange harus ditentukan berdasarkan tekanan kerja seperti yang


dispesifikasikan dan sesuai dengan standar internasional yang diakui. Penyedia
Jasa Pengadaan harus menyerahkan perhitungan desain atas permintaan
Pengguna Barang.

Bila tidak disebutkan dalam Volume Pekerjaan (Bill of Quantity) maka seluruh

Bagian VI | 15

valve harus dibuat khusus untuk menerima tekanan kerja minimal 10 Bar dan
untuk flange harus mempunyai dimensi sesuai dengan standar ISO 2531.

Seluruh unit yang beroperasi harus didesain untuk pembukaan berlawanan arah
jarum jam dan searah jarum jam untuk penutupan. Tanda panah harus tertera
untuk menunjukkan arah rotasi untuk membuka atau menutup valve.

Semua

lubang/bukaan

sambungan

pipa

harus

ditutup

untuk

mencegah

masuknya benda-benda asing.

Harga penawaran valve sudah termasuk perlengkapan untuk penyambungan


seperti gasket, mur, baut, dan ring untuk satu sisi flange dengan imbuhan 10 %.

Besar dan ukuran perlengkapan tersebut disesuaikan dengan spesifikasi teknis


dari flange

valve. Mur, baut, dan ring dikirim dalam keadaan bukan material

bekas dan sudah tergalvanis dengan merata dan baik. Ketebalan gasket minimal 3
mm dan terbuat dari karet sintetis.

Petunjuk pengoperasian valve harus disertakan seperti maksimum force pada


handwheel,

engkol

menimbulkan

(crank),

kesulitan

T-bar

pada

dan

operator.

perlengkapan
Penyedia

lain

Jasa

sehingga

Pengadaan

tidak
harus

menyertakan besarnya maksimum torque yang dibutuhkan untuk setiap valve


yang dikirim.

Coating seluruh permukaan logam seperti badan valve, flange, surface box dan
lain-lain yang terkontak dengan air bersih atau tanah harus dilapisi dengan non
toxic coalter epoxy, enamel, bitumen atau bahan lain yang sama dan disetujui oleh
Direktur Pengawas.

Permukaan harus bersih, kering, dan bebas dari kotoran sebelum digunakan.
Coating dengan cara penyemprotan harus dilakukan di pabrik. Ketebalan
minimum coating setelah kering 400 microns (16 mils). Material yang berkontak
dengan air harus dari jenis non toxic, sedangkan bahan yang dapat larut tidak
boleh digunakan.

Petunjuk operasi (operating manual) harus disediakan sebanyak 6 (enam) set


untuk setiap jenis valve dan perlengkapannya dan dalam Bahasa Indonesia.

Penyedia Jasa Pengadaan harus menyertakan sertifikat dari pabrik yang


menerangkan bahwa setiap valve telah memenuhi persyaratan yang diminta dalam
spesifikasi ini.

Bagian VI | 16

2. Gate Valve

Bila tidak disebut dalam Volume Pekerjaan (Bill of Quantity), maka gate valve yang
ditawarkan adalah gate valve dari jenis "Non Rising Stem".

Valve harus memenuhi standar "Gate Valve for Water and Other Liquids" (AWWA C
500) atau standar internasional lain yang sama atau yang lebih tinggi kualitasnya
dan didesain khusus untuk tekanan kerja.

Penawaran gate valve berikut handwheel harus dilengkapi dengan kunci T (Tee
Key) minimal satu buah untuk setiap 20 buah yang seukuran.

Tee key tersebut dilengkapi dengan pendongkel tutup surface boxlstreet cover dan
terbuat dari baja ST 40 yang telah digalvanis.

Bila dalam Volume Pekerjaan (Bill of Quantity) diperlukan extension spindle maka
material tersebut terbuat dari baja ST 40 yang telah digalvanis.

Harga penawaran extension spindle sudah termasuk potongan pipa PVC untuk
melindungi extension spindle tersebut dari urugan tanah.

Badan dari gate valve, handwheel/cap terbuat dari besi tuang kelabu atau bahan
dengan kualitas lebih tinggi.

Badan gate valve harus terbuat dari besi (iron body) dengan dudukan dari logam
perunggu. Tangkai valve jenis non-rising dan dengan katup yang solid (solid wedge
gate

valve) harus cocok untuk pemasangan dengan posisi tegak (vertical

mounting). Valve harus dirancang untuk saluran air yang bebas hambatan yang
mempunyai diameter tidak kurang dari diameter nominal valve apabila dalam
posisi terbuka.

Stuffing box harus terbuat dari bahan yang sama dengan badan valve seperti telah
dispesifikasikan di atas dan harus dalam posisi terbuka. Tinggi dari stuffing box
tidak boleh kurang dari diameter valve. Packing pada stuffing box harus terbuat
dari asbes atau bahan lain yang sesuai dan disetujui Pengguna Barang. Packing
dari hemp atau jute (rami) tidak boleh digunakan. 0-ring stem seal dapat
digunakan atas persetujuan Pengguna Barang dan seal ini harus terdiri dari 2
(dua) buah 0-ring seal dan paling sedikit 1 (satu) buah ditempatkan di atas stemcollar dan dapat dilakukan penggantian dalam keadaan tekanan kerja penuh
dimana valvenya dalam posisi terbuka penuh.

Stem terbuat dari perunggu atau stainless steel.

Body seat ring dan disk seat ring terbuat dari kuningan atau perunggu.
Bagian VI | 17

Surface box untuk valve yang ditanam terbuat dari grey cast iron, rata dan tahan
terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh beban lalu lintas yang padat. Tutup
harus disertakan pada surface box tersebut dan diberi cetakan ".."
pada bagian atasnya.

Joint antara tutup dengan badan tidak berupa engsel melainkan dihubungkan
dengan baut. Ukuran surface box disesuaikan dengan masing-masing dimensi
valve dan sudah dicoating dengan anti karat.

3.

Semua kecuali ditentukan lain, harus dilengkapi dengan mur (wrench nuts).

Katup Udara (Air Release Valve)

Katup udara harus dapat beroperasi secara otomatis dan mengikuti hal-hal
berikut ini :
a. dapat melepaskan udara selama pengaliran air dalam pipa.
b. dapat memasukkan udara selama penggelontoran.
c. dapat melepaskan udara bila ada udara yang terjebak dalam pipa.
d. dapat mencegah penutupan yang dini bila udara sedang dilepaskan.
e. aman terhadap vakum.

Seluruh air valve dengan standar flange JIS-B2213. Setiap valve lengkap dengan
mur, baut, ring, dan dudukan (stool). Ukuran sesuai dengan yang diberikan pada
uraian pekerjaan.

Badan valve terbuat dari cast iron atau ductile iron dan pelampung dari ebonit,
stainlees steel atau Acrynolitrie Butadiene Steel (ABS).

Seluruh bagian yang bergerak terbuat dari stainlees steel, bronze atau ABS.

Valve harus diuji dengan tekanan sebesar 1 Bar di atas tekanan kerja dan tidak
menunjukkan gejala kebocoran.

Juga tidak terjadi kebocoran bila tekanan minimum 0,1 Bar.

Penyedia barang harus menyediakan katup penutup (isolating valve) secara


terpisah untuk setiap katup udara dengan jenis kupu-kupu (butterfly valve)
dengan spesifikasi sebagai berikut :
a. Setiap badan valve terbuat dari cast iron atau ductile iron dengan rubber seal,
disc, valve shaft dan peralatan mekanisme operasional yang mengikuti
"Standards for Rubber Seated Butterfly Valves" (AWWA Designation C 504) atau
Standar Internasional lain yang

disetujui yang sama atau lebih tinggi

Bagian VI | 18

kualitasnya dari yang disebutkan.


b. Setiap piringan (valve disc) harus dapat berputar dengan sudut 90 O dari posisi
terbuka penuh sampai tertutup. Sumbu perputaran valve harus horizontal.
c. Mekanisme operasional harus terkait pada badan valve dan sesuai dengan
standar AWWA C 504.
d. Setiap mekanisme operasional harus dapat dilepas untuk pengawasan dan
perbaikan.
e. Mekanisme operasional untuk pengoperasian valve secara manual harus dapat
mengunci sendiri sehingga tangga aliran air atau vibrasi tidak mengakibatkan
piringan berpindah dari tempatnya semula.
f. Setiap valve didesain untuk tekanan melintang pada piringan (bila tertutup
rapat) sama dengan rate tekanan pada pipa.
g. Seluruh valve harus mengikuti spesifikasi ini dan harus dapat membuka atau
menutup bila tidak dioperasikan dalam periode yang lama.
h. Badan valve dan flange terbuat dari cast iron dan mengikuti "Specification for
Grey Iron Casting for Valves, Flanges and Pipe Fittings kelas B" (ASTM
Designation A 126) atau ductile iron (ASTM 536). Flange harus mengikuti
standar JIS-8 2213.
Dudukan valve harus dapat menjaga valve pada posisi yang seharusnya.
Tipe air valve harus sesuai dengan spesifikasi pada Tabel 6.3 di bawah ini yang
tergantung pada ukuran pipa yang dipasang.
Tabel 6.3.
Spesifikasi Tipe Air Valve Berdasarkan Ukuran Pipa
Ukuran Pipa
(mm)

Tipe Air Valve

Diameter Nominal Air


Valve
(mm)

300 dan lebih kecil

Tipe dengan orifice kecil


/ tunggal

25 mm dan lebih kecil

350 dan lebih besar

Tipe dengan dua orifice


atau kombinasi

75 mm dan lebih besar

1). Tipe air valve dengan lubang/orifice kecil


Air valve dengan lubang kecil didesain untuk pengoperasian secara otomatis yang
Bagian VI | 19

akan mengeluarkan udara yang terakumulasi bertekanan pada saat aliran air
dalam pipa penuh.
2). Tipe air valve dengan dua lubang atau kombinasi
Air valve dengan dua lubang atau kombinasi didesain untuk dioperasikan secara
otomatis, sehingga akan :
a.

Terbuka pada kondisi bertekanan kurang dari tekanan atmosfer dan


menampung banyak udara selama operasi pengurasan saluran pipa.

b.

Mengeluarkan banyak udara dan menutup pada saat air dalam kondisi
tekanan rendah serta mengisi badan valve selama operasi pengisian.

c.

Tidak menutup aliran pada kondisi kecepatan pembuangan udara tinggi.

d.

Mengeluarkan akumulasi udara bertekanan pada kondisi aliran air penuh


dalam pipa.

4.

Check Valve

Penyedia Barang harus menyediakan check valve jenis Swing Check Valve / Klep
Tabok dengan sambungan flange.

Bagian atasnya tertutup dengan flange buta (blank-flange) yang dapat dibuka
sewaktu-waktu bila diperlukan.

Pada bagian luar badan check valve harus terdapat cap (tercetak) yang dapat
menunjukkan merk atau dari pabrik mana yang membuatnya, besarnya diameter,
tekanan kerja, dan arah aliran air.

Badan tutup atas dan cakram dari badan check valve terbuat dari besi tuang.

Kedudukan untuk cakram terbuat dari Neophrene Synthetic Rubber yang


berkualitas baik.

Tekanan kerja dari check valve mampu menahan 10 kg/cm2.

Check valve harus didesain sedemikian rupa sehingga piringan, dudukan,


dudukan cincin dan bagian-bagian dalam lainnya yang mungkin perlu untuk
perbaikan harus mudah diambil, mudah dipindahkan dan mudah diganti tanpa
menggunakan peralatan khusus atau harus memindahkan valve dari jalurnya.

Valve harus cocok untuk pengoperasian dalam posisi horisontal atau vertikal
dengan aliran ke atas dan ketika terbuka penuh valve harus mempunyai daerah
aliran bersih (a net-flow area) tidak kurang dari luas diameter nominal pipa dan
ujung flange.
Bagian VI | 20

5.

Gate Valve Perunggu (Bronze)

Gate valve perunggu harus didesain dan dibuat sesuai dengan JIS B 2011 atau
ketentuan lain yang disetujui. Tekanan kerja besarya 0,98 Mpa (10 kg/cm 2). Valve
harus dilengkapi dengan roda pemutar dan ujung berulir (sekrup).

Valve dengan ukuran 80 mm atau lebih kecil mempunyai badan yang terbuat dari
perunggu, skrup bonnet (topi sekrup), memiliki solid wedge (baji), skrup dalam
dan tangkai pengungkit.

Badan valve harus merupakan cetakan perunggu yang mengacu pada JIS H 5111,
kelas 6 atau cetakan perunggu dengan daya rentang tidak kurang dari 196 N/mm 2
(20 kg/m2). Piringan yang terbuat dari cetakan perunggu mengacu pada spesifikasi
di atas atau dari kuningan yang mengacu pada AS H 3250, kelas C 3711 atau dari
tembaga yang mempunyai daya rentang tidak kurang dari 314 N/mm 2 (32 kg/m2).
Stem/tangkai harus terbuat dari tembaga sesuai spesifikasi di atas.

6.1.7.

PENGUJIAN QUALITY ASSURANCE (JAMINAN KUALITAS)

Pengujian quality assurance harus sesuai dengan persyaratan dan cukup mewakili unit
yang disuplai sesuai kontrak. Pengguna harus diijinkan untuk mengunjungi tempat
pembuatan untuk menyaksikan tes/pengujian tersebut.

6.1.8.

PENGUJIAN TEKANAN HIDROSTATIS

Pengujian tekanan harus dilakukan pada semua pipa dan fitting dan memenuhi standar
SNI 06-2549-1991.
Setiap jenis pipa harus diuji untuk dapat menahan tekanan pengujian hidrostatis pada
tekanan paling sedikit 42 N/mm2.

6.1.9.

PENGUJIAN LAIN

Pengujian lainnya seperti flattering test, toksisitas, tekanan terus menerus dan lain-lain
harus dilakukan sesuai dengan standar yang berlaku.

6.2.

PERSIAPAN PEKERJAAN PEMASANGAN PIPA

Bagian VI | 21

Spesifikasi teknis ini dimaksudkan untuk memberikan keterangan kepada Kontraktor


tentang metodologi teknis maupun non teknis secara umum yang berhubungan dengan
pelaksanaan pekerjaan perpipaan yang harus diikuti dan ditaati oleh Kontraktor.
Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh Kontraktor adalah sebagai berikut :

Kontraktor tidak diperbolehkan sama sekali mengubah dimensi atau lokasi/perletakan


peralatan tersebut kecuali dengan persetujuan tertulis dari Direksi.

Seluruh jenis pekerjaan perpipaan harus dilaksanakan dengan cara yang benar, teliti
dan akurat sesuai dengan yang ditunjukkan gambar rencana dan spesifikasi teknis ini
serta instruksi-instruksi dari Direksi.

Pipa yang dipasang/ditanam di dalam tanah, dasar parit harus rata dan bebas dari
benda keras yang dapat merusak pipa.

Kontraktor tidak diizinkan membengkokkan pipa dengan alasan apapun tanpa


menggunakan alat rakit belokan (bend/elbow) atau pencabang (tee) untuk maksud
tersebut.

Semua perlengkapan perpipaan seperti valve serta sambungan-sambungan pipa harus


diperlakukan hati-hati baik pada waktu pengangkutan ke lokasi pekerjaan maupun
pada waktu penyimpanannya, supaya terhindar dari kerusakan.

6.2.1.

LINGKUP PEKERJAAN

Kontraktor harus menyediakan peralatan pekerjaan sementara, tenaga kerja, dan bahan
serta memobilisasikan yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan dengan
cara yang baik. Juga menyediakan dan menyiapkan sambungan ke pipa induk yang ada,
pengujian, penggelontoran (flushing), desinfeksi jalur pipa dan semua pekerjaan yang
diperlukan untuk penyelesaian pemasangan pipa sesuai persyaratan yang ditetapkan
dalam spesifikasi teknis ini.
Jika ada pekerjaan yang tidak tercakup dalam spesifikasi teknis ini akan dilakukan
sesuai dengan cara yang telah digunakan untuk bidang teknis yang bersangkutan di
Indonesia dan menurut perintah Direksi.
Data hasil penyelidikan tanah yang telah dilakukan untuk lokasi jembatan pipa atau
lokasi reservoir (ground dan elevated reservoir) sekitarnya disimpan oleh Pemilik dan
Kontraktor akan diijinkan dan menelitinya di kantor proyek.
Semua penjelasan dalam persayaratan teknis ini khususnya yang bersifat teknis selalu
Bagian VI | 22

berpedoman pada standar yang umum dipakai di Indonesia. Semua standar yang
digunakan mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI). Dalam hal belum diatur
dalam SNI, standar yang digunakan merujuk kepada :

AISI

: American Iron and Steel Institute

ANSI

: American National Standards Institute

API

: American Petrolium Institute

ASTM

: American Society of Testing Material

AWWA

: American Water Works Association

DIN

: Deutsche Institut fur Norming

IEC

: International Electrotecnical Commision

ISO

: International for Standardization Organization

JIS

: Japanese Industrial Standard

KIWA

: Dutch Institute for the Testing of Water Supply Material

NEMA

: National Electrical Manufactures's Assosiation

PBI 71

: Peraturan Beton Indonesia Tahun 1971

SNI

: Standar Nasional Indonesia

6.2.2.

PENYERAHAN GAMBAR KERJA DAN GAMBAR PELAKSANAAN

Jadwal pekerjaan dan gambar kerja harus diserahkan untuk disetujui oleh Direksi
sebelum pekerjaan dimulai.
Kontraktor harus membuat gambar pelaksanaan (as-built) yang digambar dengan skala
yang sama dengan skala gambar perencanaan. Gambar pelaksanaan tersebut harus
diserahkan selama pekerjaan berlangsung maupun setelah penyelesaian pekerjaan.
Gambar tersebut harus memperlihatkan semua perlengkapan pipa (fitting/accessories)
perubahan lain seperti pada arah jalur pipa, ruang valve, lubang kontrol (manholes)
ukuran pipa atau sejenisnya. Semuanya harus diperlihatkan dengan adanya pengikatan
terhadap muka tanah pada bangunan permanen.

6.2.3.

TANDA PAPAN NAMA

Kontraktor harus menyediakan, memasang dan memelihara sejumlah tanda atau papan
nama yang diperlukan sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi.
Tanda atau papan nama tersebut memuat nama pemilik dan Kontraktor; nama proyek;
Bagian VI | 23

dan juga lokasi yang menunjukan jalur pemasangan pipa dengan perkiraan lama
pekerjaan dan juga perubahan arus lalu lintas dan sebagainya, semuanya dimaksudkan
sebagai informasi kepada masyarakat luas.
Papan nama harus dipasang di tempat yang telah ditentukan oleh Direksi. Pada saat
penyelesaian pekerjaan papan nama tersebut harus disingkirkan.
Bentuk dan ukuran papan nama proyek akan ditentukan kemudian oleh Direksi.

6.2.4.

RAMBU-RAMBU LALU LINTAS

Dimana yang dipandang perlu, Kontraktor harus menyediakan rambu-rambu (tandatanda) untuk keperluan lalu lintas yang dilewati. Rambu-rambu tersebut harus jelas
untuk menjamin keselamatan lalu lintas.
Pada setiap pekerjaan yang lokasinya terletak di tepi jalan yang dilalui oleh kendaraan
roda 2 (dua) atau lebih, maka harus dipasang rambu-rambu lalu lintas sesuai dengan
ketentuan lalu lintas yang berlaku.
Bila pekerjaan harus memotong/menyeberangi jalan yang sibuk, Kontraktor harus
melaksanakan secara bertahap dan apabila perlu dikerjakan pada malam hari.
Biaya yang diperlukan untuk keperluan-keperluan tersebut di atas harus sudah termasuk
dalam kontrak.

6.2.5.

SUMBER TENAGA DAN PENERANGAN

Kontraktor harus menyediakan semua peralatan dan melakukan pengaturan untuk


pemakaian tenaga listrik serta penerangan yang perlu bagi pelaksanaan pekerjaan. Harus
tersedia cukup penerangan sehingga semua pekerjaan dapat dilakukan secara wajar bila
keadaan kurang cukup sinar matahari atau/pada saat malam hari.

6.2.6.

TRASE DAN ELEVASI PIPA

6.2.6.1.Biaya Pemeriksaan Pekerjaan Pemasangan Pipa


Instansi yang berwenang atau Direksi, akan memeriksa trase dan elevasi (ketinggian)
jalur pipa pada gambar dan akan mematok (stake out) trase tersebut di lapangan.
Kontraktor harus membayar sejumlah biaya untuk pemeriksaan dan pematokan tersebut

Bagian VI | 24

kepada instansi yang berwenang.

6.2.6.2.Tanggung Jawab Kontraktor


Kontraktor harus bertanggung jawab agar persyaratan dasar untuk pipa induk diletakkan
dan dipasang pada jalur dan ketinggian yang ditetapkan dan dengan fitting, valve dan
saluran pembuang pada lokasi yang ditentukan. Untuk maksud ini, Kontraktor diminta
membuat patok pekerjaan atau titik referensi atas biaya Kontraktor sendiri.

6.2.6.3.Penyimpangan Akibat Bangunan Lain


Apabila ditemukan hambatan yang tidak terlihat dalam rencana dan mempengaruhi
pekerjaan sedemikian rupa sehingga diperlukan perubahan rencana, maka pemilik
berhak untuk merubah rencana tersebut.
Jika menurut Direksi terjadi perubahan dalam rencana, yang menyebabkan perubahan
volume pekerjaan yang dikerjakan oleh Kontraktor, maka perubahan volume pekerjaan
tersebut akan dikerjakan sesuai dengan pasal yang berkaitan dengan hal tersebut dalam
persyaratan umum.

6.2.6.4.Kedalaman Pipa
Semua pipa harus dipasang pada kedalaman tanah sebagaimana yang telah ditentukan
atau sebagaimana diminta Direksi.

6.2.7.

JALAN SEMENTARA

6.2.7.1. Umum
Dalam hal jalan sementara harus dibuat sepanjang jalur pipa sesuai dengan kontrak,
Kontraktor harus melakukan tindakan sebagaimana penjelasan di bawah ini. Kontraktor
harus menyelidiki keadaan tanah sepanjang jalur, perkerasan, jalan sementara dan
mengumpulkan data atau informasi tentang kondisi daerah tersebut pada musim
kemarau dan musim penghujan. Dengan dasar informasi yang diperoleh tersebut,
Kontraktor harus memulai pengukuran topografi berdasarkan gambar perencanaan dan
berada dibawah pengarahan Direksi.
Pekerjaan pembuatan jalan sementara harus mencakup pekerjaan sebagai berikut :
Bagian VI | 25

a . Pengukuran topografi sepanjang bentang trase pipa yang melalui pipa tersebut.
Survey ditujukan untuk menetapkan lokasi tepat trase jalur pipa. Kontraktor harus
memperhatikan saran dan arahan dari instansi yang berwenang atau Direksi, karena
trase mungkin telah ditetapkan berdasarkan Rencana Tata Kota.

b . Pekerjaan persiapan seperti pelebaran jalan lokal yang ada, pembongkaran dinding,
pengamanan, kompensasi dan pekerjaan lain yang diperlukan harus dilaksanakan
sebelum dimulainya pekerjaan pemasangan pipa.
Kontraktor harus menyediakan tenaga kerja yang diperlukan, peralatan dan bahan untuk
membuat jalan sementara sebagaimana telah ditentukan.

6.2.7.2. Pembuatan Jalan Sementara


Pembuatan jalan sementara apabila menurut Direksi diperlukan, harus dilakukan atau
diatur dengan baik sebagai berikut :

a . Bila tidak ditetapkan lain oleh Direksi, pengupasan muka tanah yang ada dengan
kedalaman tidak kurang 0,3 m dan lebar disesuaikan dengan kebutuhan atau sesuai
petunjuk Direksi.

b . Tanah bawah jalan (sub grade) terdiri dari lapisan tanah merah atau yang sejenis
(sesuai persetujuan Direksi) yang dipadatkan dengan baik dengan ketebalan
minimum 0,5 m.

c . Lapisan bawah dasar (sub base course) terdiri dari lapisan agregat yang dipadatkan
dengan baik dengan ketebalan minimum 0,2 m dan juga diisi dengan kerikil.

d . Perkerasan permukaan yang terbuat dari kerikil pasir dengan ketebalan minimum
tidak kurang 0,1 m yang dipadatkan dan dirawat dengan baik sampai selesainya
pekerjaan. Jika diperlukan perbaikan, Kontraktor harus bertanggung jawab terhadap
biaya perbaikan tersebut.

6.2.7.3. Pekerjaan Perbaikan Kembali


Setelah penyelesaian pemasangan pipa, bila diperintahkan oleh Direksi, jalan sementara
tersebut harus dibongkar dan dikembalikan seperti keadaan semula.
Semua bahan yang tersisa harus dibuang, lapisan tanah atas harus dikembalikan
menutup lokasi pekerjaan semula.
Semua bangunan yang rusak dan utilitas yang ada harus diperbaiki secara memadai,
Bagian VI | 26

sampai serupa keadaan semula.

6.2.8.

PEMBANGUNAN KANTOR SEMENTARA DAN GUDANG MILIK KONTRAKTOR

Kontraktor harus menyediakan kantor sementara (direksi kit) dan gudang yang akan
digunakan sendiri oleh Kontraktor agar diperoleh kelancaran dalam pelaksanaan
pekerjaan. Kantor sementara digunakan untuk pengelolaan yang baik, membangun dan
mengawasi pekerjaan sesuai dengan kontrak dan gudang sementara Kontraktor untuk
penyimpanan alat, mesin dan bahan lainnya menyangkup material penyambung (jointing
material).
Kontraktor harus menempatkan dan memilih lokasi-lokasi untuk kantor dan/atau
gudang dan memberi tahu pemilik untuk persetujuannya, kecuali ditetapkan lain oleh
Direksi. Lokasi kantor tersebut dibangun pada tempat yang strategis, sehingga
pengawasan daerah kerja Kontraktor dapat dilakukan dengan baik.
Sebelum dimulainya pembangunan kantor sementara dan gudang tersebut, Kontraktor
harus menyerahkan desain untuk memperoleh persetujuan Direksi.

6.2.8.1. Kantor Sementara Kontraktor


Kantor harus memiliki ruangan yang cukup dilengkapi dengan perabot kantor, ruang
rapat dan ruangan kerja untuk Direksi dan stafnya, yang biayanya menjadi tanggungan
Kontraktor.
Kontraktor harus menyimpan paling sedikit 1 (satu) set dokumen kontrak, jadwal
pelaksanaan dan data-data terkait dengan kontrak dan gambar kerja dan/atau gambar
pelaksanaan.
Kantor tersebut merupakan bangunan sementara dengan lantai rabat beton diplester,
konstruksi rangka kayu, dinding multipleks, penutup seng gelombang, diberi pintu dan
jendela secukupnya untuk penghawaan dan pencahayaan.
Kantor harus dilengkapi dengan :
a).

1 (satu) buah meja rapat ukuran 1,2 x 2 m dengan 8 buah kursi lipat.

b).

2 (dua) buah meja biro dengan 4 (empat) buah kursi lipat.

Bagian VI | 27

c).

3 (tiga) buah papan white board ukuran 1,2 x 2,4 m untuk ruang rapat dan ruang
Direksi.

d).

Fasilitas air bersih dan penerangan yang memadai.

e).

Kamar kecil dan tangki septik dengan bidang resapannya.

Dalam hal lain ditentukan Direksi dimana pengadaan kantor dapat dilakukan dengan
cara sewa, maka ketentuan luas kantor dan perlengkapannya disesuaikan dengan
kebutuhannya.

6.2.8.2. Gudang sementara Kontraktor


Kontraktor harus mengatur gudang sementara dengan atap yang memadai untuk
melindunginya dari hujan dan dengan peralatan pengatur sirkulasi udara. Lantai gudang
harus bebas dari rembesan air tanah dan sekeliling gudang dijaga dari kemungkinan
pencurian dan kerusakan selama periode pelaksanaan pembangunan.

6.3.

PEKERJAAN TANAH DAN PERBAIKAN KEMBALI PERMUKAAN

6.3.1.

UMUM

Dalam bagian ini, Kontraktor harus menyediakan peralatan, tenaga kerja, dan bahan
yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan dengan cara yang baik untuk
bangunan dan jalur pipa, yang mencakup kegiatan atau hal seperti pembongkaran;
penggalian; penimbunan; pembongkaran bahan; pengurugan kembali; pemilihan bahan
untuk pengurugan dan pelapisan dasar. Juga mencakup kegiatan penurapan dan
penopangan peralatan; pemindahan pagar dan perbaikan kembali; cara perlindungan
lokasi; perbaikan permukaan; lubang pengujian (test pit); akomodasi lalu lintas dan
pemeliharaan perkerasan; perlindungan harta benda; bangunan yang ada dan lansekap
serta semua peralatan kerja sesuai dengan dokumen kontrak dan memungkinkan
diperintahkan oleh Direksi.

6.3.2.

PEMBERSIHAN DAN PENGUPASAN

Jalur pipa harus dibersihkan dan dikupas sebelum melakukan penggantian atau
melakukan pengurugan.
Pembersihan dan pengupasan berupa membersihkan akar-akar, tonggak, tumbuhan,

Bagian VI | 28

perkerasan, jalur pejalan kaki dan hambatan apapun di permukaan yang perlu
disingkirkan secara permanen atau untuk sementara waktu dan semua itu terdapat di
area yang akan digali.
Tidak boleh ada pohon yang ditebang, dirusak, atau diganggu oleh Kontraktor tanpa
persetujuan Direksi.
Semua

kotoran,

buangan,

tumbuhan,

dan

bahan

bongkaran

seluruhnya

harus

disingkirkan dari lokasi pekerjaan dan dibuang oleh Kontraktor dengan cara yang baik,
kecuali bagi bahan atau bangunan yang akan disingkirkan untuk sementara waktu dan
nantinya akan dipasang dan diperbaiki kembali seperti semula.
Bahan maupun bangunan yang disingkirkan untuk sementara waktu dan nantinya akan
dipasang dan diperbaiki kembali harus dijaga dan disimpan dengan baik.

6.3.3.

PENGERINGAN (DEWATERING)

Kontraktor harus menyediakan dan memelihara cara dan peralatan pengeringan serta
membuang air yang masuk ke lubang galian maupun pada bagian pekerjaan lainnya
dengan cara yang baik.
Semua galian harus tetap dalam keadaan kering dan tidak ada bahan pondasi, pipa atau
beton yang diletakkan dalam air kecuali dengan persetujuan Direksi.
Air harus dibuang sedemikian rupa sehingga terhindar kerusakan harta benda dan
gangguan terhadap masyarakat luas dan lingkungan sekitarnya.
Jika Kontraktor memilih membuat saluran bawah pembuang, hal ini harus mendapat
persetujuan Direksi terlebih dahulu.
Pemasangan rambu-rambu pengaman pada galian atau lokasi yang membahayakan atau
yang lalu lintasnya padat harus dipasang rambu-rambu pengaman yang mudah dilihat
dan terbaca dengan jelas.

6.3.4.

PENGGALIAN LAPISAN BAWAH PERMUKAAN (SUB SURFACE) DAN LUBANG


PENGUJIAN (TEST PIT)

Kontraktor harus memberi tanda pada galian dan parit persiapan sehingga lokasi tempat
bangunan bawah tanah dapat ditentukan.

Bagian VI | 29

Kontraktor harus bertanggung jawab bagi perbaikan bangunan tersebut bila pecah atau
rusak karena kelalaiannya.
Apabila menurut pemikiran Direksi perlu mencari dan menggali untuk menetapkan
bangunan bawah tanah yang ada, Kontraktor harus melakukan pencarian tersebut atas
biayanya sendiri dan menurut petunjuk Direksi.
Bila diperintahkan oleh Direksi untuk tujuan penyelidikan keadaan tanah, Kontraktor
harus menggali lubang pengujian setiap 50 m sepanjang jalur pipa, kecuali jika
ditentukan lain oleh Direksi. Disamping itu Kontraktor harus menggali lubang pengujian
yang cukup untuk menetapkan tempat utilitas bawah tanah bila hal itu memang
diperlukan untuk membuat konstruksi khusus dalam melintasi utilitas tersebut.
Lubang pengujian ini akan digali dengan tangan (manual) dan dalam jarak yang cukup di
depan jalur pipa sehingga kemajuan pemasangan pipa tidak terhambat.

6.3.5.

PENGGALIAN PERMUKAAN DAN PERBAIKAN

6.3.5.1. Umum
Sebelum penggalian, Kontraktor harus menyingkirkan semua benda permukaan,
menyimpan, menjaga mencadangkan bahan tersebut dengan baik yang nantinya mungkin
diperlukan untuk perbaikan kembali daerah yang terkena pekerjaan.
Apabila pada saat melaksanakan pekerjaan penggalian tersebut terdapat suatu bangunan
atau material yang menghalangi pekerjaan sedangkan jika harus membongkar bangunan
tersebut akan memerlukan biaya tambahan, maka hal tersebut harus terlebih dahulu
dibicarakan dengan Direksi untuk dicarikan jalan keluarnya.
Dalam waktu 30 (tiga puluh) hari kalender atau segera setelah pengujian pipa
sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi, semua permukaan yang terkena pekerjaan
Kontraktor pada alur penggalian dan pada daerah kerja lainnya harus diperbaiki kembali
seperti keadaan semula, atau dalam keadaan yang lebih baik. Setelah perbaikan kembali,
Kontraktor harus memeriksa secara bulanan cekungan yang terjadi sepanjang jalur
penggalian akibat penurunan, dan hal ini harus diperbaiki sampai pada ketinggian
semula.
Apabila pada persyaratan teknis pekerjaan ini tidak tercantum pekerjaan-pekerjaan yang
seharusnya ada, ketentuan-ketentuan akan disusulkan kembali.
Bagian VI | 30

6.3.5.2. Daerah Lansekap / Pertamanan


Pada daerah lansekap yang ada, Kontraktor harus menyingkirkan semua benda
permukaan, menyimpan, menjaga dengan baik pohon kecil, pagar tanaman, semak
belukar atau bagian lansekap yang mungkin dapat rusak selama pemasangan jalur pipa,
untuk perbaikan kembali daerah tersebut nantinya.
Pohon besar sebaiknya jangan ditebang selama pemasangan pipa. Bila keadaan menuntut
penebangan
mendapatkan

pohon
ijin

untuk
dari

pemasangan

Pemilik

atau

pipa,

instansi

Kontraktornya
terkait

yang

sebelumnya
memeliharanya

harus
dan

melaporkannya pada Direksi.


Semua biaya yang diperlukan untuk penebangan pohon termasuk biaya kompensasi
ditanggung oleh Kontraktor sendiri.

6.3.5.3. Daerah Berumput


Lapisan atas atau lempung, bilamana ditemukan harus ditimbun secara terpisah dari
bahan galiannya, dan nantinya dikembalikan ke tempat semula pada kedalaman
terpadatkan yang sama dengan kondisi semula.
Lempeng rumput di daerah berumput yang akan terkena galian, atau yang akan rusak
karena terkena peralatan, harus disingkirkan, dijaga/dipelihara selama berlangsungnya
pekerjaan konstruksi dan diletakkan kembali setelah penyelesaian urugan.
Bilamana karena pekerjaan Kontraktor, tanah berumput menjadi rusak untuk diletakkan
kembali seperti semula, Kontraktor harus menyediakan dan menempatkan tanah
berumput baru atau dengan cara lain, memupuk, menyiangi, dan memelihara area
tersebut sampai didapatkan tunas baru.

6.3.5.4. Daerah Berbatu


Pada daerah yang berbatu, Kontraktor harus menyediakan peralatan yang sesuai untuk
menggalinya. Bila tidak mungkin untuk dilakukan penggalian, sedangkan bila dalam
gambar rencana ada pipa yang ditanam di bawah batu, maka apabila Direksi mengijinkan
dapat dilakukan pemasangan pipa baja yang diletakkan di atas tanah berbatu tersebut.

Bagian VI | 31

6.3.5.5. Daerah Persawahan/Perkebunan


Untuk pemasangan di daerah persawahan/perkebunan, Kontraktor sebelumnya harus
mendapatkan ijin dari pemilik. Biaya kompensasi yang diperlukan ditanggung oleh
Kontraktor sendiri. Bila melewati saluran-saluran air (irigasi), harus diusahakan tidak
mengganggu pengairan sawah dan tidak merusak saluran irigasi tersebut.

6.3.5.6. Jalan Batu dan Bahu Jalan


Perbaikan kembali permukaan jalan batu ataupun bahu jalan yang diperkeras harus
diganti dengan batu sebagaimana telah ditentukan.

6.3.5.7. Jalan yang Diperkeras


Perbaikan kembali jalan yang diperkeras harus sebagaimana yang diperlihatkan dalam
gambar atau sesuai dengan ketentuan Dinas Pekerjaan Umum setempat.

6.3.5.8. Jalur Pejalan Kaki


Jalur pejalan kaki harus diganti sebagaimana yang diperlihatkan dalam gambar bestek.

6.3.5.9. Bingkai Trotoar dan Saluran Tepi Jalan


Bingkai trotoar dan saluran tepi jalan harus diganti dengan bahan yang sama sedemikian
pula permukaannya harus kembali seperti keadaan semula. Semua pemotongan beton
harus pada garis potongan yang terdekat, bila tidak maka perlu digunakan alat pemotong.

6.3.6.

PENGGALIAN

Penggalian diperlukan bagi semua pekerjaan pemasangan dan penyambungan semua


jenis pipa.

6.3.6.1. Umum
Pada prinsipnya pekerjaan galian dalam hal ini sama dengan pekerjaan galian pada
pekerjaan sipil, apabila dalam galian ditemui batu-batu, bekas pondasi, tembok dan
Bagian VI | 32

lainnya yang dapat mengganggu kedudukan pipa, Kontraktor harus menggalinya


minimum 20 cm dari dasar parit yang direncanakan kemudian diurug kembali dan
dipadatkan, sehingga sesuai dengan dasar pipa yang direncanakan.
Penggalian mencakup penyingkiran semua bahan apapun yang ditemui termasuk pula
semua hambatan yang akan mempengaruhi pelaksanaan dan penyelesasian pekerjaan.
Penyingkiran bahan tersebut harus sesuai jalur dan kemiringan yang diperlihatkan dalam
gambar rencana ataupun yang diminta oleh Direksi.
Batu dan bahan galian lainnya yang diklasifikasikan oleh Direksi sebagai yang tidak
sesuai untuk pengurugan harus disingkirkan dari lokasi pekerjaan.
Kontraktor harus menyediakan, memasang dan memelihara semua pendukung dan
penopang yang mungkin diperlukan untuk dinding sisi galian dan semua pemompaan,
pengeringan atau cara lain yang disetujui untuk penyingkiran atau pengeringan air,
termasuk penanganan terhadap air hujan dan air limbah yang berasal dari berbagai
sumber yang mencapai lokasi guna mencegah terjadinya kerusakan pada pekerjaan
maupun kepemilikan yang berada di dekatnya.
Dinding dan permukaan seluruh galian dimana pekerja kemungkinan mengalami bahaya
dari

tanah

yang

tidak

stabil

harus

distabilkan

terlebih

dahulu

dengan

penurapan/penopangan, membuat sudut galian yang aman atau cara lainnya.


Kontraktor harus menyediakan, memasang dan menjaga turap, penopang dan lain-lain,
yang diperlukan untuk melindungi pekerja, mencegah pergerakan tanah yang dapat
menyebabkan musibah, tertundanya pekerjaan ataupun membahayakan bangunan yang
ada di sekitarnya.

6.3.6.2. Perlindungan Terhadap Bangunan Yang Ada


Bilamana perlu dapat dipakai cara penggalian yang sesuai guna melindungi bangunan,
utilitas, tiang listrik, pepohonan, perkerasan ataupun hambatan yang ada. Di daerah di
dekat fasilitas atau jalur pipa gas dan bahan bakar, Kontraktor harus melakukan
tindakan

pencegahan

guna

menghindari

kemungkinan

pecah,

gangguan,

atau

menyebabkan kerusakan pada fasilitas dan jalur tersebut.


Lebih lanjut Kontraktor harus menjaga dan memperhatikan pada kemungkinan adanya
uap bahan bakar dan gas yang mungkin merembes ke tanah atau telah terganggu selama

Bagian VI | 33

penggalian dan pemasangan jalur pipa.

6.3.6.3. Penggalian Tanpa Ijin


Kontraktor tidak diperkenankan menggali diluar jalur dan ketinggian yang ditunjukkan
dalam gambar, kecuali diperintahkan oleh Direksi. Penggalian tanpa ijin harus diurug
kembali dengan bahan yang sesuai sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi.
Bilamana menurut keputusan Direksi, penggalian yang tidak diijinkan tersebut
memerlukan penggunaan beton tumbuk atau batu pecah, Kontraktor harus menyediakan
dan menempatkan bahan tersebut dengan baik.

6.3.6.4. Galian Terbuka


1. Umum
Pekerjaan galian parit harus mengikuti dan sesuai dengan gambar rencana yang telah
ada. Perubahan dan ketidaksesuaian di dalam pekerjaan ini harus diketahui dan
disetujui oleh Direksi.
Galian terbuka harus digali sehingga pipa dapat diletakkan pada trase dan kedalaman
yang diminta, dan galian tersebut dilakukan sampai di depan perletakan pipa
sebagaimana yang diijinkan oleh Direksi dan/atau persyaratan yang ditetapkan oleh
Departemen Pekerjaan Umum. Galian terbuka tersebut harus dikeringkan dan dipelihara
selama pekerjaan agar pekerja dapat bekerja secara aman dan efisien.
Dalam pekerjaan galian parit ini harus diusahakan untuk tidak merusak properti instansi
lain, misalnya Telkom, PLN, BPN dan lain-lain.
Tanah bekas galian harus ditimbun sedemikian rupa sehingga tidak akan mengganggu
dan membahayakan lalu lintas di sekitar galian parit.
Kontraktor wajib memasang tanda-tanda peringatan pada tempat-tempat yang dianggap
bahwa pekerjaan galian parit ini dapat membahayakan masyarakat umum yang melewati
daerah tersebut.
Sebelum pipa ditanam dalam parit galian, galian harus diurug terlebih dahulu dengan
pasir setebal 15 cm. Kecuali ditentukan lain dalam gambar rencana atau menurut
petunjuk Direksi.

Bagian VI | 34

Dalam adanya tuntutan-tuntutan dari Pihak Ketiga yang berhubungan dengan galian
parit ini menjadi tanggung jawab Kontraktor.

2. Lebar Galian Terbuka


Lebar galian harus cukup agar memungkinkan pipa dapat diletakkan dan disambung
dengan baik, dan pengurugan serta pemadatan dapat dilakukan sebagaimana yang telah
ditentukan.
Bilamana diperlukan, lebar galian harus sedemikian rupa sehingga dapat memberikan
kemudahan dalam penempatan penopang kayu, turap dan penopang lainnya, maupun
penanganan khusus lainnya.

3. Lubang Galian Untuk Penyambungan


Lubang galian untuk penyambungan harus dibuat di setiap lokasi sambungan agar
penyambungan dapat dilakukan dengan baik.

4.

Panjang Galian

Galian terbuka bagi suatu pemasangan pipa tidak boleh melebihi panjang yang diijinkan
Direksi. Galian harus diselesaikan paling sedikit 10 (sepuluh) meter di depan perletakan
pipa terakhir.
Bilamana diperlukan oleh Direksi, penggalian dan pengurugan harus dilakukan dalam 24
jam, atau galian harus diurug penuh di akhir hari kerja setiap hari atau ditutupi dengan
plat baja yang ditopang dengan cukup aman serta mampu menahan beban arus lalu
lintas kendaraan.

5. Galian Terbuka dan Jarak Pipa


Galian harus digali sampai kedalaman yang telah ditentukan sebagaimana yang
diperlihatkan dalam gambar standar agar memberikan dukungan yang menerus dan
seragam dan menopang pipa pada tanah yang padat dan tak terganggu pada setiap titik di
antara lubang galian sambungan.
Bagian dasar tanah yang digali melampaui kedalaman yang ditentukan harus diurug
kembali secara merata sebagaimana diperintahkan oleh Direksi sampai pada kedalaman
Bagian VI | 35

yang ditetapkan dengan pasir atau bahan lain yang telah disetujui serta dipadatkan.
Muka akhir lapisan ini harus dilakukan dengan tepat dengan memakai peralatan tangan
(manual).
Bongkahan batu dan batu besar, bilamana ditemukan harus disingkirkan agar
memberikan jarak bebas paling sedikit 15 cm di bawah dari setiap sisi pipa dan fitting
untuk pipa dengan diameter 600 mm atau lebih kecil; dan 20 cm untuk pipa dan fitting
dengan diameter lebih besar 600 mm.

6. Penggalian di Tanah yang Kondisinya Buruk


Bilamana muka akhir dasar galian tidak stabil atau terdiri dari bahan yang kurang baik
seperti abu, bahan sampah dan lain-lain, dan atas keputusan Direksi bahan tersebut
harus disingkirkan, Kontraktor harus menggali dan menyingkirkan bahan tersebut.

7. Penopangan dan Penurapan


Galian tanah lebih dari 1 meter harus ditopang dan diturap sehingga galian tidak
gugur/runtuh, agar pekerja dapat bekerja secara aman dan menjaga permukaan jalan
dan bangunan lainnya sebagaimana ditunjukkan dalam gambar kondisi tanah atau yang
diperintahkan oleh Direksi.
Perhatian perlu diberikan untuk mencegah terjadinya rongga di luar turap, tetapi jika
terjadi rongga; rongga tersebut harus segera diisi dan dipadatkan. Sebelum memasang
penopang dan turap, Kontraktor harus memberi tahu lokasi galian dengan turap dan
penopang beserta dengan jadwal pelaksanaannya untuk mendapat persetujuan dari
Direksi.
Kecuali ditentukan lain atau diperintahkan Direksi, galian terbuka diperkerasan
sepanjang jalan utama dan atau jalan strategis harus dilakukan dengan penurapan dan
penopangan.
Semua penopang dan turap yang tidak digunakan harus dipindahkan dengan hati-hati
tanpa membahayakan pemasangan yang baru dilakukan, utilitas yang ada, atau
kepemilikan yang berada di dekatnya.
Semua rongga yang timbul akibat dicabutnya turap harus segera diisi kembali dengan
pasir dan dipadatkan dengan cara penumbukan menggunakan alat yang sesuai dengan
Bagian VI | 36

membasahinya atau cara lain yang diperintahkan.


Direksi dapat memerintahkan Kontraktor secara tertulis setiap saat selama pekerjaan
berlangsung untuk tidak mencabut semua turap, penopang dan lain-lain, untuk ditimbun
pada saat pengurugan dengan tujuan mencegah kerusakan bangunan, utilitas dan
kepemilikan.
Hak

Direksi

memerintahkan

semua

turap

dan

penopang

serta

bahan

lain

ditinggalkan/dibiarkan di tempatnya tidak boleh ditafsirkan sebagai kewajiban di pihak


Direksi untuk mengeluarkan perintah seperti itu. Kegagalan melaksanakan hak seperti
itu tidak mengurangi tanggung jawab Kontraktor terhadap kerusakan yang terjadi pada
pihak ketiga yang diakibatkan oleh kepemilikan oleh kelalaian dalam pekerjaan sebagai
akibat tidak ditinggalkannya penopang atau turap untuk mencegah longsor atau
bergeraknya tanah.

8. Penimbunan Bahan Galian


Kontraktor harus menyusun jadwal penggalian dan pemasangan pipa sehingga tidak
terjadi penimbunan bahan galian di jalan utama maupun jalan nasional. Bahan hasil
galian dapat ditimbun di bagian jalan lain dengan syarat menggunakan kotak penampung
tanah galian agar tidak menghambat arus lalu lintas.
Bahan galian yang tidak dapat dipakai untuk urugan harus ditimbun atau dibuang
dengan cara yang disetujui Direksi dan jauh dari jalan.
Bilamana diperlukan dan diperintahkan oleh Direksi, Kontraktor harus mengangkut
bahan galian untuk dibuang atas beban biaya sendiri.

6.3.7.

URUGAN

Urugan diperlukan untuk semua jenis pekerjaan pemasangan dan penyambungan pipa.

6.3.7.1. Umum
Urugan mencakup menyediakan, menempatkan dan memadatkan semua bahan untuk
mengisi/mengurug galian pemasangan pipa dan galian untuk bangunan lainnya. Urugan
tidak boleh dijatuhkan secara langsung pada pipa atau bangunan lainnya.
Pengurugan/penimbunan kembali galian parit dan pengurugan pipa mencakup perbaikan
Bagian VI | 37

pavement seperti keadaan semula menjadi tanggung jawab Kontraktor.


Kecuali ditentukan lain, bahan yang digunakan untuk pengurugan harus berupa bahan
yang terpilih. Jika urugan pasir atau kerikil tidak ditentukan dalam gambar, tetapi
menurut pendapat Direksi harus digunakan di beberapa bagian pekerjaan, Kontraktor
harus menyediakan dan mengurug dengan pasir atau kerikil sebagaimana ditentukan
dan diperintahkan oleh Direksi.
Pengurugan dilakukan setelah setiap bagian pemasangan pipa selesai dilakukan dan
telah diperiksa dan disetujui oleh Direksi, kecuali untuk bagian-bagian yang telah
diperlihatkan

sehubungan

dengan

pengetesan

pipa.

Seperti

pada

bagian-bagian

sambungan pipa, valve dan tempat-tempat yang oleh Direksi diminta untuk tetap
diperlihatkan selama pengetesan.
Pengurugan harus dilakukan selapis demi selapis dan harus dipadatkan (tiap lapis
maksimum 30 cm), pemadatan dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu
kedudukan pipa yang sudah ada.
Setelah pengujian pipa selesai dilakukan dengan hasil yang baik dan pengembalian
permukaan tanah seperti semula harus dilakukan sesuai dengan persetujuan Direksi.
Permukaan tanah timbunan harus beberapa centimeter di atas tanah asli.

6.3.7.2. Bahan Urugan


Bilamana tidak disebutkan lain dalam spesifikasi dan gambar rencana, bahan untuk
urugan ditentukan sebagai berikut :

1. Bahan Terpilih
Bahan terpilih adalah bahan yang telah diambil dengan penggalian atau diangkat yang
tidak mengandung batu atau benda padat yang ukurannya tidak lebih besar 5 cm dalam
bentuk apapun dan juga tidak mengandung bahan organik seperti rumput, akar, semak
atau tumbuhan lainnya, dan tidak bersifat mengembang (non exrisive nature).

2. Urugan Pasir
Semua pasir yang digunakan untuk urugan harus pasir alam berbutir halus hingga
sedang, tidak bergumpal, dan bebas dari kotoran, arang, abu, sampah, atau bahan
Bagian VI | 38

lainnya yang menurut pendapat Direksi dapat ditolak.


Bahan tersebut tidak boleh mengandung lempung dan tanah liat lebih dari 10 % berat
bahan keseluruhan.
Jenis dan gradasi pasir yang digunakan harus sesuai dengan yang ditunjukkan dalam
gambar atau sesuai petunjuk Direksi.
Urugan pasir untuk setiap jenis pipa yang dipasang minimum 30 cm dan/atau sesuai
dengan gambar rencana.
Urugan pasir dilakukan sedemikian rupa sehingga kedudukan pipa dapat bertumpu
secara merata, tidak tertumpu pada sambungan-sambungannya.
Urugan pasir harus dipadatkan sebaik mungkin, sehingga didapatkan urugan pasir yang
padat.

3. Urugan Kerikil
Kerikil yang dipakai untuk urugan harus berupa kerikil alam, memiliki partikel yang kuat
berbutir halus sampai sedang dalam bentuk yang cukup seragam dan tidak mengandung
batu besar atau batu dengan ukuran lebih besar dari 5 cm.
Bahan tersebut harus bebas dari kotoran, abu, arang, bahan tak terpakai/buangan atau
bahan yang tidak boleh ada atau bahan buangan lainnya. Bahan tersebut tidak boleh
mengandung tanah liat, lempung dan tidak boleh bergumpal.

6.3.7.3. Urugan Pada galian


1. Lapisan Alas
Pipa harus didasari dan dialasi hingga kedalaman minimum sebagaimana diperlihatkan
dalam gambar.
Bahan bagi lapisan alas ini harus pasir, ditempatkan dalam bentuk lapisan dengan
ketebalan tidak lebih dari 15 cm dan dipadatkan dengan tongkat pemadat atau cara lain
yang disetujui Direksi pada kepadatan kering maksimum 95 %.
Pemberian lapisan alas pipa dengan memakai kerikil diperlukan sebagai pengganti pasir
pada tempat yang dianggap perlu dan yang diperintahkan untuk dilakukan oleh Direksi.
2. Urugan di Bawah Pipa
Bagian VI | 39

Semua galian diurug kembali dengan pasir atau bahan lain yang disetujui, dengan tenaga
manusia mulai dari lapisan pasir alam hingga garis tengah pipa, diletakkan secara
berlapis dengan ketebalan tidak lebih dari 15 cm dan dipadatkan dengan tongkat
pemadat pada ketebalan kering maksimum 95 %.
Bahan urugan ditempatkan dalam galian secara penuh selebar galian di masing-masing
sisi pipa, dan perlengkapan lainnya secara menerus.
Dalam hal pipa Ductile Cast Iron, dari garis tengah pipa ke permukaan, dalam urugan
sampai permukaan harus diterapkan bagi pengurugannya.

3. Urugan di Atas Pipa


Pada garis tengah pipa dan perlengkapannya sampai pada kedalaman 15 cm di atas pipa
baja (steel), galian harus diurug dengan peralatan tangan (manual) atau cara mekanis
lainnya yang telah disetujui Direksi.
Bahan dan cara pengurugan harus sebagaimana yang ditunjukkan dalam gambar
rencana, dan ditempatkan secara berlapis dengan ketebalan tidak melebihi 20 cm dan
dipadatkan dengan tongkat pemadat dengan ketebalan kering maksimum 95 %.
Dalam pipa Polyvinyl Chloride (PVC), galian harus diurug dengan cara konvensional atau
cara mekanis yang telah disetujui, pada kedalaman 30 cm di atas puncak pipa PVC dan
tidak merusak pipa.

4. Urugan Sampai Permukaan


Dari kedalaman 15 cm di atas pipa baja sampai permukaan, galian harus diurug dengan
peralatan tangan (manual) atau yang disetujui, ditempatkan berlapis dengan ketebalan
tidak melebihi 20 cm, dan dipadatkan dengan tongkat pemadat untuk mencegah
amblasnya permukaan tanah setelah penyelesaian pekerjaan pengurugan.
Dalam pipa Polyvinyl Chloride, galian harus diurug dengan tangan (manual) atau cara
mekanis yang telah disetujui, pada kedalaman 30 cm di atas pipa PVC dan tidak merusak
pipa.

6.3.8.

PENGUJIAN KEPADATAN DI LAPANGAN


Bagian VI | 40

Dimana urugan perlu dipadatkan sampai pada kepadatan tertentu, pengujian pemadatan
dapat dilakukan oleh Direksi, menggunakan prosedur pengujian yang ditetapkan dalam
ASTM D-1556.
Referensi kepadatan tanah maksimum harus ditentukan menggunakan standard
compaction test. ASTM D-698. Pengujian dapat dilakukan dalam zona pipa dan di atas
zona pipa.
6.3.9.

PERLINDUNGAN TERHADAP LERENG SUNGAI, SALURAN, DAN SELOKAN

Dimana pipa menyeberang sungai, saluran atau selokan, dan juga pada titik buang katup
penguras (blow of), pada bangunan ini harus diberikan perlindungan terhadap lereng
dengan menggunakan batu lapis lindung (riprap) atau cara lain yang telah disetujui guna
mencegah runtuhnya kemiringan tersebut.
Batu lapis lindung yang ada atau perlindungan kemiringan harus diperbaiki kembali
sebagaimana yang ditetapkan dalam bagian "GALIAN PERMUKAAN DAN PERBAIKAN".
Pemasangan lapisan lindung secara umum harus dimulai dari bahu hingga ke dasar
kemiringan dan memenuhi sudut kemiringan yang ada dan bentuk topografi daerah
sekitarnya. Sebagaimana diputuskan Direksi, pemasangan lapis lindung dilakukan dari
bahu hingga kedalaman tertentu untuk mencegah keruntuhan.
Bahan yang digunakan untuk pemasangan batu harus batu alam yang keras dan
berbentuk bundar, batu berbentuk pipih dan panjang tidak boleh digunakan.
Ketebalan pasangan batu harus sekitar 35 cm, kecuali ditetapkan dan diperintahkan lain
oleh Direksi. Ketebalan yang disebutkan di atas, mungkin berbeda sesuai dengan lokasi
pekerjaan, yaitu sudut kemiringan, kedalaman atau bentuk topografis sungai, saluran,
dan selokan.
Kontraktor harus menyerahkan gambar kerja sebelum memasang pasangan batu untuk
persetujuan Direksi.
Rongga diantara batu harus diisi dengan beton tumbuk dan dipadatkan dengan baik atau
dengan semen bila disetujui. Area di bawah lapisan batu harus diisi dengan kerikil yang
dipadatkan dengan ketebalan 20 cm.
Pipa pengering harus dipasang bilamana menurut anggapan Direksi memang diperlukan.
Pipa pengering ini harus berdiameter 50 mm dipasang setiap (2 3) m2 pasangan batu.

Bagian VI | 41

Dasar sungai, saluran atau selokan mungkin perlu dilindungi sesuai dengan keadaan
lapangan sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi.

6.4.

KONSTRUKSI BANGUNAN KHUSUS

6.4.1.

KONSTRUKSI JEMBATAN PIPA

6.4.1.1. Umum
Kontraktor harus menyediakan tenaga, bahan, perkakas, peralatan lainnya yang
diperlukan, diluar yang disediakan atau dipinjamkan oleh Pemilik untuk pekerjaan
konstruksi jembatan pipa sebagaimana yang diperlihatkan dalam gambar dan/atau
ditentukan disini.
Batas konstruksi setiap jembatan pipa adalah pada kedua ujung sambungan flexible
dan/atau fitting yang digunakan untuk hubungan flexible sebagaimana diperlihatkan
dalam gambar. Dikarenakan perbedaan dan ketinggian alignment jembatan dan jalur
pipa, diperlukan bentang transisi guna menghubungkannya sebagaimana diperlihatkan
dalam gambar dan harus dilaksanakan sesuai dengan perintah Direksi sesuai dengan
kondisi lapangan.
Penyambungan jalur pipa pada jembatan dengan jalur pipa biasa harus dilakukan setelah
penyelesaian pekerjaan pipa dan setelah persetujuan Direksi.
Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan konstruksi jembatan pipa dengan benar
sesuai dengan ketentuan butir-butir yang dapat diterapkan dalam spesifikasi teknik ini.
Kontraktor atas biayanya sendiri memeriksa semua ukuran jembatan pipa yang
diperlihatkan dalam gambar dengan melakukan survey sendiri di lokasi pekerjaan.
Kontraktor harus melakukan, mengkoordinasikan dengan instansi terkait, dan membantu
Pemilik mendapatkan ijin dari Instansi Pemerintah yang terkait dalam pelaksanaan
pekerjaan perlintasan ini.

6.4.1.2. Gambar Kerja dan Jadwal Pelaksanaan


Kontraktor berdasarkan

pemeriksaan

lapangan dan peta geologi tersebut harus

menyusun jadwal pelaksanaan dan gambar kerja jembatan pipa yang memperlihatkan
semua ukuran, rincian pipa, bangunan bawah (abutment), pilar, pancang, pekerjaan

Bagian VI | 42

sementara termasuk penurapan, perancah dan lain-lain, perbaikan kembali atau


membuat lapis lindung (revetment) pada sungai atau saluran dimana diperlukan.
Termasuk juga perhitungan yang diperlukan serta menyerahkannya kepada Direksi untuk
persetujuannya sebelum memulai pekerjaan pembangunannya.

6.4.1.3. Perancah
Kontraktor harus menyediakan perancah yang memadai guna melintas sungai atau
saluran dengan lebar yang cukup agar dapat meletakkan, menyambung, mengelas dan
mengecat pipa dengan aman dan efisien.
Tindakan khusus harus dilakukan dalam merencanakan dan membangun perancah di
lokasi jembatan dimana pendirian pilar termasuk kedalam pekerjaan, sehingga dapat
menopang dengan baik atau mendukung berat peralatan pancang dan tekanan/kejutan
dari pelaksanaan pancang.

6.4.1.4. Konstruksi Bangunan Bawah


Kontraktor harus menyediakan turap atau perlengkapan kedap air untuk pembuatan
bangunan bawah, sehingga dapat dilaksanakan dalam kondisi kering dan aman.

1. Pondasi
Kontraktor harus membuat pondasi sesuai dengan kebutuhan yang ditentukan atau yang
diperlihatkan dalam gambar.

a).

Pondasi Langsung
Kontraktor harus melakukan pengujian kapasitas daya dukung tanah di lapangan
sebagaimana diminta oleh Direksi sesuai dengan standar yang disetujui, bilamana
penggalian dilakukan hingga gradien yang direncanakan sebagaimana terlihat dalam
gambar.
Pembuatan lantai kerja dengan beton K100 tidak boleh dilakukan sebelum diperoleh
persetujuan dari Direksi.
Tanah yang tidak sesuai untuk pondasi harus disingkirkan dan diganti dengan pasir
atau batu pecah sampai kedalaman tertentu dan ditempatkan sebagaimana
Bagian VI | 43

diperlihatkan dalam gambar atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi.


Setiap lapisan bahan tersebut harus disebar dengan ketebalan maksimum 15 cm dan
dipadatkan dengan alat pemadat tangan, minimum empat kali sebagaimana disetujui
oleh Direksi.
Pengujian lapangan harus dilakukan setelah pengisian mencapai ketinggian yang
direncanakan sebagaimana dijelaskan di atas untuk memenuhi kapasitas daya
dukung.
Ketebalan akhir tanah asli 10 cm, harus disingkirkan dengan tangan sehingga akan
diperoleh tanah dasar rata dan tak terganggu.
Jika tanah pada gradien galian yang direncanakan dan yang diperintahkan Direksi
tidak sesuai untuk pondasi, Kontraktor harus menggali lebih dalam lagi di bawah
gradien tersebut sampai kedalaman tertentu sebagaimana diperintahkan Direksi.

b).

Strouss Pile
Strouss pile harus dibuat dan dibangun pada lokasi yang tepat yang diperlihatkan
dalam gambar rencana.
Konstruksi dan ukuran strouss pile harus dibuat sesuai dengan gambar rencana dan
disetujui oleh Direksi. Kepala strouss pile direncanakan sebagai sendi dan harus
disisipkan ke dalam bangunan bawah sedalam 10 cm.

2. Pekerjaan Beton
Setelah mengecor lantai kerja dan setelah diperiksa serta disetujui Direksi, Kontraktor
harus menyelesaikan pekerjaan sebagaimana diperlihatkan dalam gambar dan sesuai
dengan ketentuan yang ditetapkan dalam bagian selanjutnya, yaitu "Pekerjaan Beton".
Harus digunakan beton dengan kuat tekan karakteristik minimum 175 kg/cm 2. Pipa yang
ditanam dalam bangunan bawah harus dimantapkan ke besi tulangan dengan cara yang
disetujui serta menghindari pergeseran dari lokasi semula selama pengecoran beton.

6.4.1.5. Konstruksi Pilar


Pilar terdiri dari sepasang pancang dan dihubungkan dengan bantalan beton. Berkaitan

Bagian VI | 44

dengan pancang yang dipancang di sungai atau saluran, Kontraktor harus memilih secara
teliti cara dan peralatan yang sesuai agar tetap pada jalur dan ketinggian yang benar
sebagaimana diperlihatkan dalam gambar. Puncak pancang harus digabungkan ke dalam
bantalan beton dengan kedalaman yang cukup sebagaimana diperlihatkan dalam gambar.
Setelah penyelesaian pekerjaan, semua bahan yang digunakan bagi pekerjaan konstruksi,
seperti perancah, peralatan kerja sementara dan lain-lain, harus disingkirkan semuanya
agar tidak mengganggu aliran sungai atau saluran.

6.4.1.6. Konstruksi Bangunan Atas


Kontraktor harus menyediakan rangka baja wide flange (WF), siku, dan canal yang
kualitas, bentuk dan ukurannya sesuai dengan gambar rencana (bestek) untuk jembatan
pipa pada setiap lokasi.

6.4.1.7. Pemasangan Pipa


Kontraktor harus memasang dan menyambung semua pipa, fitting, dan coupling sesuai
dengan jalur dan ketinggian yang diperlihatkan dalam gambar.

1.

Anti Lendutan (cambering)

Pada setiap bentang jembatan pipa, pipa harus dipasang dalam bentuk bekisting
lengkung. Besarnya anti lendutan ini harus 1/1.250 per satuan panjang bentang di
bagian garis tengah bentang sebagaimana diperlihatkan dalam gambar.
Kontraktor harus menyiapkan gambar kerja yang memperlihatkan susunan rinci bahan
pipa dan juga garis pemotongan dan sudut masing-masing pipa untuk anti lendutan dan
harus menyerahkannya ke Direksi untuk persetujuannya setelah pekerjaan pemasangan
pipa.

2.

Pendukung Berbentuk Cincin (ring support)

Fixed Type Ring Support yang ditunjukkan dalam gambar harus dianggap pendukung
berbentuk cincin yang dipasang di bantalan pilar.
Sliding Type Ring Support harus dianggap sebagai pendukung berbentuk cincin yang
dapat digeser secara horisontal di bantalan pilar ke sumbu dalam pipa.

Bagian VI | 45

Pendukung harus terbuat dari baja yang memenuhi standar yang ditentukan Direksi atau
yang dianggap setara dan dibuat sebagaimana diperlihatkan dalam gambar.
Demikian pula dengan baut, angker dan sekrup harus terbuat dari baja yang memenuhi
standar yang sesuai seperti tersebut di atas. Pendukung berbentuk cincin harus dilas
merata melingkari pipa baja.

3. Pengujian Pengecatan
a). Umum
Semua sambungan yang dilas pada jembatan pipa harus diuji secara radiografi
sebagaimana dinyatakan di bawah ini.
Setelah disetujui oleh Direksi, semua permukaan bagian dalam (interior), sambungan
las, dan permukaan bagian luar (exterior) harus dicat.

b). Pengujian Radiografi untuk Hasil Pengelasan


Kontraktor harus menyediakan tenaga kerja, peralatan, dan bahan untuk pengujian
radiografi hasil pengelasan.
Pengujian

radiografi

harus

dilakukan

oleh

penguji

yang

mampu,

memiliki

pengalaman dan kualifikasi yang cukup untuk pekerjaan penguijian. Kontraktor


harus menyerahkan pengalaman dan kualifikasi yang dimilikinya untuk persetujuan
Direksi. Semua pelaksanaan pengujian harus dikerjakan dengan dihadiri oleh Direksi
atau Wakilnya.
Pengujian hasil pengelasan harus dilakukan sesuai dengan JIS Z 3104 "Method of
Radiografic Test and Classification of (Radiographs)" cara pengujian radiografi dan
klasifikasi radiograf untuk pengelasan baja atau standar lain yang dapat diterima
oleh Direksi.
Hasil pengujian radiografi diklasifikasikan dalam standar seperti pada Tabel 6.4
berikut :
Tabel 6.4.
Klasifikasi Hasil Uji Radiografi
Kelas

Bagian VI | 46

Tingkatan

1 sampai 4

1 sampai 4

Tidak ada
peningkatan

Kelas dan tingkatan yang diterima harus kelas 1, tingkat 1, sampai tingkat 3 dan
kelas 2, tingkat 1 sampai 3.
Jika hasil pengujian memperlihatkan kelas dan tingkat lain daripada yang
disebutkan di atas, Kontraktor harus mengelas dan menguji ulang atas beban
biayanya sendiri sampai hasil yang diperoleh diterima oleh Direksi.
c). Lapisan Pelindung Luar dan Lapisan Pelindung Dalam
Semua pipa baja yang terekpos, fitting, sambungan dan pipa yang akan dipendam
dalam tanah harus dilindungi sesuai dengan yang dicantumkan dalam Sub Bab 6.1.4
Bagian 5.

6.4.2.

RUANG KATUP (VALVE CHAMBER)

Ruang katup (surface valve box dan valve chamber) harus dibuat dengan bahan dan jenis
konstruksi seperti pada gambar rencana.
Ruang katup tidak boleh meneruskan tekanan dari atas terhadap valve.Valve harus
diletakkan di tengah sesuai dengan gambar rencana, kecuali ditentukan lain oleh Direksi.

6.5.

PEKERJAAN PEMASANGAN PIPA

6.5.1.

UMUM

Kontraktor harus menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin tetapi tidak mengurangi


kualitas pekerjaan itu sendiri untuk memperpendek gangguan.
Sebelum melakukan pekerjaan tersebut, sekurang-kurangnya 3 (tiga) hari sebelumnya
harus memberitahu Direksi untuk mendapatkan persetujuannya. Kontraktor tidak
diizinkan mengubah-ubah posisi pipa dan valve yang ada dalam perencanaan.
Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor wajib mempelajari dengan seksama gambar
kerja, Rencana Kerja dan Syarat-syarat pelaksanaan serta Berita Acara Penjelasan
Pekerjaan dan harus memeperhatikan hal-hal berikut ini :

Kontraktor diwajibkan melaporkan kepada Direksi apabila menemukan perbedaan


antara

gambar

rencana

dengan

RKS

untuk

mendapatkan

keputusan.

Tidak

Bagian VI | 47

dibenarkan sama sekali Kontraktor memperbaiki sendiri perbedaan tersebut. Akibat


kelalaian Kontraktor, dalam hal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor.

Kontraktor dianggap telah mengetahui daerah kerja penanaman/pemasangan pipa


seperti yang dimaksud dalam pekerjaan pemborongan ini.

Kontraktor diwajibkan menyediakan sekurang-kurangnya 1 (satu) salinan gambar


rencana dan RKS di tempat pekerjaan untuk dapat digunakan setiap saat.

Setiap pekerjaan yang dimulai pelaksanaannya atau yang sedang dalam pelaksanaan,
Kontraktor

harus

selalu

berhubungan

dengan

Direksi

untuk

mendapatkan

pengesahan/ persetujuan.

Standar bahan peralatan dan pelaksanaan dalam gambar rencana dan RKS ini harus
diperhatikan oleh Kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan ini. Direksi berhak
menolak bahan, peralatan, dan cara pelaksanaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi
yang ditentukan, dan Pemberi Pekerjaan tidak akan mengeluarkan biaya tambahan
untuk setiap perbaikan atau penggantian bahan atau peralatan tersebut.

Semua pipa-pipa dan lain sebagainya yang diadakan oleh Kontraktor harus sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan oleh Pemberi Pekerjaan dan harus dengan
norma yang sama. Semua pipa-pipa dan lain sebagainya harus direncanakan dengan
tekanan kerja hidrolis minimum sebesar 10 kg/cm2 pada suhu 30

C. Jika tidak,

harus menurut persyaratan teknis untuk pembelian dan pengadaan pipa, sambungan,
valve dan bermacam-macam bahan dan peralatan.

Semua bahan yang diadakan oleh Kontraktor harus mendapatkan persetujuan Direksi
terlebih dahulu sebelum digunakan.

Ketelitian dan kerapian kerja akan dinilai/berbobot tinggi oleh pihak Direksi, oleh
sebab itu Kontraktor harus memperhatikan hal ini.

6.5.1.1. Lingkup Pekerjaan


Kontraktor tidak diizinkan memulai pelaksanaan pekerjaan sebelum semua alat-alat
bantu yang diperlukan tersedia di lapangan (berlaku untuk instalasi pipa yang diadakan
baik oleh Pemberi Pekerjaan maupun Kontraktor). Pipa dan perlengkapannya harus
dipasang sesuai dengan gambar rencana, kecuali bila oleh Direksi diberi petunjuk lain.
Pada umumnya gambar rencana menunjukkan tempat yang belum tepat, Direksi akan
menunjukkan tempat pipa yang paling tepat.
Sebelum memasang pipa dan perlengkapannya, pipa harus diteliti dan dibersihkan
Bagian VI | 48

dengan seksama. Pipa dan perlengkapannya yang berminyak, bergemuk dan lain
sebagainya harus dibersihkan terlebih dahulu sehingga benar-benar bersih, dan yang
mungkin telah retak atau mengalami kerusakan lain khususnya pada ujung-ujung pipa
tidak boleh dipergunakan.
Kontraktor harus mengerjakan pekerjaan pemasangan pipa berupa perletakan pipa dan
penyambungan, dengan cara yang memuaskan Direksi sesuai dengan spesifikasi dan
sebagaimana yang diperlihatkan dalam gambar kerja.
Setiap pipa harus dipasang dengan tepat menurut garis dan kelandaian sesungguhnya
dan sedemikian rupa sehingga pipa yang berbatasan merupakan suatu sambungan yang
konsentris yang tertutup.
Selama pemasangan, alat-alat bantu sementara dengan penopang pipa-pipa pada
kedudukan yang benar harus dipergunakan dan harus diperhatikan agar kerusakan
tidak terjadi pada pipa-pipa. Sedangkan semua alat pengikat pipa (penopang beton,
bantalan-bantalan penahan dan sebagainya) harus berada pada tempatnya dengan benar
sebelum pemasangan dan pemindahan semua peralatan sementara / bantu.
Pipa-pipa tidak boleh dipasang bila menurut anggapan Direksi keadaan parit tidak
memenuhi syarat.
Tidak

diizinkan

menurunkan

pipa

ke

dalam

parit

tanpa

persiapan-persiapan

menggunakan alat atau perlengkapan lain yang layak dan diperlukan. Bila pipa-pipa
diangkat / diturunkan dengan mempergunakan suatu katrol maka bagian jerat baja yang
melingkari pipa harus terbungkus (dengan karet dan sebagainya).
Valve dan perlengkapan lainnya harus dipasang dengan ukuran kerja yang baik serta
harus bebas dari kotoran dan rintangan terhadap mekanismenya. Kontraktor harus
dengan

biaya

sendiri

memperbaiki

valve

dan

perlengkapan

lain

yang

pada

pemasangannya mengalami kerusakan.


Setiap valve yang ternyata tidak berfungsi setelah pemasangannya harus dilepas kembali
dan kegagalan itu harus diperbaiki atas beban Kontraktor.
Valve dan peralatan/perlengkapan lain harus dipasang pada lokasi yang tepat sesuai
dengan gambar rencana dan apabila ada perubahan harus ada persetujuan dari Direksi.
Penyambungan antar pipa yang berbeda jenisnya harus dilakukan sesuai dengan gambar
rencana dan petunjuk Direksi.
Bagian VI | 49

Setiap kali pekerjaan hari itu berakhir, maka ujung-ujung pipa yang terbuka untuk
sementara waktu harus ditutup dengan balok-balok dari kayu, penyekat-penyekat atau
sebagaimana yang diinstruksikan oleh Direksi.
Setiap pipa harus diperiksa dengan seksama sebelum dan sesudah dipasang. Bila
kerusakan terjadi pada pipa-pipa, peralatan-peralatan rakit, valve atau alat-alat bantu
perpipaan selama pemasangan, hal itu harus dilaporkan kepada Direksi yang akan
mengambil keputusan, apakah harus diperbaiki atau diganti.
Untuk mencegah penanganan yang tidak perlu, semua batangan pipa harus ditempatkan
sedekat mungkin pada lokasi akhir dari lajur pipa dengan memperhitungkan keamanan
lalu lintas.

6.5.1.2. Penanganan Bahan Pipa, Perkakas, dan Peralatannya


Perhatian perlu diberikan dalam menangani semua bahan pipa yang disediakan oleh
Pemilik untuk menghindari kerusakan pada bahan tersebut selama pengangkutan,
penurunan, pemasangan dan penyambungan sampai pada penyelesaian pada pekerjaan.
Kerusakan pada bahan pipa yang disebutkan tadi harus diperbaiki hingga memuaskan
Direksi atas beban biaya Kontraktor.
Kontraktor harus berhati-hati dalam penanganan pipa-pipa dan lain sebagainya untuk
menjamin tidak terjadi kerusakan pada lapisan-lapisan. Pengait sama sekali tidak
diperbolehkan digunakan untuk mengait pada pinggiran ujung pipa.
Pipa-pipa dan sebagainya tidak boleh diangkut dengan mempergunakan rantai atau
tambang, akan tetapi harus dengan ikatan (sling) lebar yang melingkari pipa-pipa atau
alat penyambung.
Pipa-pipa dan fittings harus disimpan terangkat dari permukaan tanah diletakkan di atas
penopang dan harus disangga, diberi bantalan dan dipasak.
Pipa-pipa tidak boleh diletakkan langsung di atas satu sama lain dan tidak boleh
ditumpuk lebih dari 8 (delapan) pipa. Harus dilakukan perawatan khusus untuk
menjamin bahwa pipa-pipa yang fleksibel tertumpu rata dan disangga dengan baik agar
pipa-pipa tidak melendut.
Coupling, joints, dan benda-benda lain yang sama harus disimpan dalam keadaan kering,
terangkat dari permukaan tanah gudang atau ruang tertutup. Gudang harus dibuat
Bagian VI | 50

sedemikian rupa untuk mempermudah keluar dan masuknya pipa dan pengecekannya
dengan membedakan tumpukan penerimaan atau disimpan secara terpisah dan diberi
tanda dengan jelas.
Apabila ada barang-barang yang disimpan mempunyai batas waktu penyimpanan atau
memerlukan penyimpanan yang khusus, metode penyimpanan harus disetujui Direksi
dan sesuai petunjuk dari pabrik.
Penutup ujung-ujung pipa atau pengaman lainnya tidak boleh dibuka sampai pipa-pipa
dan fittings tersebut dipasang di lapangan. Semua pipa dan fitting yang disediakan
sebagai cadangan harus ditutup dan untuk pipa yang dilapisi mortar bagian dalamnya
(termasuk fittings) harus membentuk pelindung lengkap yang dapat melindungi akibat
perubahan suhu.
Pipa dan perlengkapannya yang retak/rusak harus segera dilaporkan kepada Direksi
untuk diteliti apakah dapat diperbaiki atau harus diganti.
Kehilangan atau kerusakan pipa dan perlengkapannya yang telah diserahkan Kontraktor,
menjadi tanggung jawab Kontraktor sepenuhnya.
Kontraktor wajib melaporkan secara tertulis kepada Direksi apabila terjadi kehilangan
atau kerusakan pipa dan perlengkapannya.
Kontraktor juga harus menangani perkakas dan peralatan yang disediakan oleh Pemilik
sedemikian rupa guna menghindari kerusakan pada peralatan tersebut.
Semua perkakas dan peralatan harus dijaga kebersihannya dan dipelihara dengan baik
sehingga selalu siap digunakan dalam kondisi yang baik.
Kerusakan yang terjadi pada perkakas dan peralatan tersebut harus diperbaiki hingga
memuaskan Direksi atas biaya beban Kontraktor. Dalam hal perkakas dan peralatan
tidak dapat diperbaiki atau hilang, Kontraktor harus memberi kompensasi kepada
Pemilik.

6.5.2.

PEKERJAAN PEMASANGAN PIPA POLYVINYL CHLORIDE

6.5.2.1. Umum
Singkatan PVC yang digunakan dalam spesifikasi dalam dokumen ataupun gambar
berarti polyvinyl chloride.

Bagian VI | 51

Kontraktor harus menyediakan dan memelihara dalam keadaan baik perkakas dan
peralatan yang sesuai bagi penanganan dan pemasangan pipa, valve, dan fitting.
Cara pemasangan pipa dan penggunaan perkakas serta peralatan harus sesuai dan
memahami petunjuk dari pabrik atau mengikuti pengarahan dari Direksi.

6.5.2.2. Pemasangan Pipa


1. Penurunan Pipa ke Dalam Galian
Perkakas, peralatan yang baik, dan fasilitas yang memenuhi syarat harus disediakan dan
digunakan oleh Kontraktor bagi keamanan dan kelancaran pekerjaan.
Semua pipa, fitting, dan valve harus diturunkan ke dalam galian satu persatu dengan
menggunakan derek, tali/tambang, atau dengan perkakas atau peralatan lainnya yang
sesuai, sedemikian rupa untuk mencegah kerusakan pada bahan tersebut maupun
lapisan pelindung luar dan dalamnya.
Bahan tersebut dengan alasan apapun tidak boleh dijatuhkan atau dilemparkan ke dalam
galian.
Jika terjadi kerusakan pada pipa, fitting, valve, atau perlengkapan lain dalam
penanganannya, kerusakan tersebut harus segera diberitahukan kepada Direksi. Direksi
harus menetapkan perbaikan atau penolakan bahan yang rusak tersebut.

2. Pemeriksaan Sebelum Pemasangan


Pipa, valve, dan fitting harus diperiksa dengan seksama dari kerusakan pada saat
pemasangannya. Bahan yang rusak yang ditemukan sebelum, selama atau sesudah
pemasangan pada kedudukan akhir, pipa harus diperiksa secara seksama dari retakan
dan kerusakan.
Ujung spigot harus diperiksa secara teliti karena bagian ini paling mudah rusak selama
penanganannya. Pipa atau fitting rusak harus diletakkan terpisah untuk pemeriksaan
oleh Direksi.

3. Pembersihan Pipa dan Fitting


Semua lepuhan, gumpalan dan bahan lain yang tak berguna harus disingkirkan dari bell,

Bagian VI | 52

ujung spigot setiap pipa dan bagian luar ujung spigot. Sebelum pipa dipasang, bagian
dalam bell harus diseka sampai bersih, kering, dan bebas dari lemak.
Semua bagian dalam semua pipa yang terpasang, valve, dan fitting yang telah terpasang
harus dijaga agar tetap bersih dan bebas dari benda asing dan kotoran. Tindakan
pencegahan harus berupa penggunaan kain pembersih selama pemasangan dan
penyumbatan kedap air semua bukaan/celah di setiap akhir pekerjaan setiap hari.

4. Pemasangan Pipa
Pipa harus diletakkan agar diperoleh perletakan/tumpuan yang seragam dan menerus
sesuai jalur dan gradien yang diperlihatkan dalam gambar dan sesuai dengan jadwal
perletakan yang ditentukan bagi pemasangan. Sebelum menempatkan pipa ke posisinya,
alignment dan gradien akhir harus dicek dengan peralatan survey.
Setiap tindakan pencegahan harus diambil untuk mencegah benda asing masuk ke dalam
pipa saat ditempatkan pada jalur pemasangannya. Selama pemasangan, tidak boleh ada
sampah, perkakas, kain, atau benda lainnya yang diletakkan/ditinggalkan ke dalam pipa.
Setiap dilakukan penyambungan, bagian ujung spigot harus diletakkan di tengah bell,
pipa didorong masuk dan ditempatkan pada jalur dan gradien yang benar.
Pipa harus dimantapkan di tempatnya dengan bahan urugan yang dipadatkan merata,
kecuali pada bagian bellnya. Tindakan pencegahan harus diambil untuk mencegah tanah
atau kotoran lainnya masuk ke dalam sambungan.
Pada saat tidak dilakukan pekerjaan penyambungan, ujung terbuka pipa harus ditutup
dengan cara yang memadai yang disetujui oleh Direksi.
Khususnya pada musim hujan, Kontraktor harus melakukan tindakan untuk mencegah
air hujan/atau sampah dan benda lainnya yang tidak perlu masuk ke pipa yang telah
dipasang, dan jangan sampai pipa tersebut terapung.

5. Pemotongan Pipa
Pemotongan pipa diusahakan seminimum mungkin. Bila perlu pemotongan harus
dilakukan tegak lurus terhadap sumbu pipa dan rata. Pemotongan harus dilakukan
dengan peralatan yang sesuai dengan rekomendasi pabrik yang disetujui oleh Direksi dan
dilakukan dengan cara yang benar sesuai dengan petunjuk Direksi.
Bagian VI | 53

Ujung potongan dan tepian yang kasar harus diperhalus dan dipotong serong (beveled)
sesuai dengan sudut yang diizinkan dengan alat yang khusus dibuat untuk keperluan
tersebut. Ujung potongan serong harus sama dengan yang dibuat di pabrik. Perkakas bagi
keperluan pemotongan pipa dan membuat ujung potongan serong harus sesuai dengan
rekomendasi pabrik. Tanda kedalaman (garis melingkar yang jelas) harus dibuat di ujung
spigot pipa yang dipotong di lapangan untuk menandakan kedalaman penetrasi spigot
yang benar ke dalam sambungan pipa.
Pinggiran pipa harus diruncingkan agar pipa dapat masuk dengan mudah ke dalam alat
penyambung. Untuk itu ujung pipa sebelah luar dikikir/digerinda tidak lebih dari
setengah tebal pipa sampai licin dan lingkaran ujung pipa dibuat dengan sudut kurang
lebih 15 derajat terhadap as pipa.
Penyambung-penyambung cincin karet dari PVC memerlukan sebuah alur pada ujung
pipa yang dibuat dengan sebuah alat pembuat profil ujung (end sharper tool).
Pemotongan pipa untuk sambungan dengan tee, bend/elbow, valve dan lain-lain harus
dikerjakan dengan rapi dan teliti tanpa menyebabkan kerusakan pipa dan lapisannya.

6.5.2.3. Jenis Sambungan Pipa Polyvinyl Chloride


Jenis sambungan pipa polyvinyl chloride yang dipakai dalam proyek, sebagai berikut :
a.

Push-On Rubber Ring yang dipakai untuk pipa diameter 63 mm 630 mm,

b.

Sambungan Solvent Cement, yang dipakai untuk pipa diameter 20 mm 50 mm.

Semua bahan pelicin (lubrican) untuk sambungan Push-On Rubber Ring dan Solvent
Cement untuk PVC harus disediakan oleh Kontraktor. Kontraktor harus menyerahkan
data teknis dan contoh untuk persetujuan Direksi.

1. Penyambungan Pipa Dengan Sambungan Push-On Rubber Ring


Sambungan antar pipa atau pipa dengan perlengkapan rakitnya mempergunakan cincin
karet sesuai dengan yang ditunjukkan dalam gambar rencana.
Semua sambungan dan perlengkapan rakit yang diperlukan harus dipasang dengan cara
yang memenuhi syarat dan dianggap benar oleh Direksi, sehingga tidak menimbulkan
tegangan-tegangan dalam keseluruhan sistem pipa dan harus dilaksanakan menurut
petunjuk dari pabrik yang bersangkutan atau menurut petunjuk Direksi.
Bagian VI | 54

Socket dan spigot pipa harus dibersihkan dengan seksama sebelum cincin karet (rubber
ring) dipasang di tempatnya. Cincin karet tersebut harus dipasang dan dimasukkan ke
dalam gasket pada bell socket.
Spigot kemudian dilumuri secara merata dengan bahan pelicin yang telah disetujui dan
pipa ditekan masuk ke socket.
Lapisan tipis minyak gelang harus dilapiskan baik pada permukaan bagian dalam gasket
atau pada akhir pipa atau keduanya. Minyak gelang harus berasal dari persediaan yang
diberikan

pabrik

dan

disetujui

oleh

Direksi,

Kontraktor

tidak

diizinkan

untuk

menggunakan bahan lain tanpa sepengetahuan Direksi.


Ujung spigot dari pipa dimasukkan ke dalam socket harus dilakukan dengan hati-hati
agar tidak terkena kotoran, penyambungan dilanjutkan dengan menekan bagian datar ke
dasar socket dengan alat bantu atau peralatan lain yang disetujui Direksi.
Penekanan pipa socket harus dilakukan dengan menekan ujung lain pipa yang sedang
dipasang.
Blok kayu atau alat lainnya yang memadai harus digunakan untuk mencegah
kemungkinan terjadinya kerusakan socket tersebut dimana batang tersebut ditekan.
Tidak boleh ada ganjal di bawah pipa dan pipa harus terletak merata di atas bahan
alasnya (badding material).
Bila diperlukan sekali untuk pembelokan pipa dengan sambungan push-on agar
membentuk lengkungan dengan jari-jari yang panjang, besarnya belokan harus sesuai
dengan petunjuk pabrik dan sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi.

2. Penyambungan Pipa Dengan Sambungan Solvent Cement


Socket dan spigot pipa harus dibersihkan dengan seksama sebelum ujung spigot dilumuri
solvent cement yang telah disetujui oleh Direksi.
Solvent cement dalam jumlah yang mencukupi dilumurkan secara merata di ujung spigot.
Penekanan spigot yang telah diberi solvent cement ke socket tersebut harus dilakukan
dengan

hati-hati.

Kontraktor

agar

melakukan

dengan

hati-hati

supaya

tidak

tidak

boleh

menyebabkan kerusakan pada pipa yang baru dipasang.


Pipa

yang

baru

selesai

disambung

dengan

solvent

cement,

digeser/dipindahkan ataupun dibuat lengkung.


Bagian VI | 55

Bila memang diperlukan sekali, untuk membelokkan pipa dengan sambungan solvent
cement agar membentuk lengkungan dengan jari-jari panjang, besarnya belokan harus
sesuai dengan petunjuk dari pabrik dan sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi.

6.5.3.

PEKERJAAN PEMASANGAN GALVANIZED IRON PIPE

6.5.3.1. Umum
Singkatan GIP yang digunakan dalam spesifikasi dan dokumen ataupun gambar berarti
Galvanized Iron Pipe.
Kontraktor harus menyediakan dan memelihara dalam keadaan baik perkakas peralatan
yang sesuai bagi pengamanan dan pemasangan pipa, valve, dan fitting.
Cara pemasangan pipa dan penggunaan perkakas serta peralatan harus sesuai dan
memahami petunjuk dari pabrik atau mengikuti pengarahan direksi.

6.5.3.2. Pemasangan Pipa


1. Penurunan Pipa Ke Dalam Galian
Peralatan, perkakas, dan fasilitas yang memuaskan Direksi harus disediakan dan
digunakan oleh kontraktor untuk keamanan dan kenyamanan pekerjaan. Semua pipa,
fitting, dan valve harus diturunkan secara hati-hati ke dalam galian, satu persatu dengan
batasan diameter memakai crane, derek, tali atau dengan mesin perkakas atau peralatan
lainnya yang sesuai dengan cara sedemikian rupa agar mencegah kerusakan terhadap
bahan lapisan pelindung luar (protective coating) serta lapisan pelindung dalam (lining).
Bahan tersebut sama sekali tidak diperkenankan dijatuhkan atau dilemparkan ke dalam
galian.

2. Pemeriksaan Sebelum Pemasangan


Semua pipa dan fitting harus diperiksa secara hati-hati dari kemungkinan kerusakan
pada saat berada di atas bagian sesaat sebelum dipasang pada posisi akhir.
Setiap ujung pipa harus diperiksa dengan secara khusus, karena daerah ini paling
Bagian VI | 56

mudah mengalami kerusakan dalam penanganannya. Pipa atau fitting yang rusak/cacat
harus diletakkan terpisah untuk pemeriksaan oleh Direksi yang menentukan perbaikan
yang diperlukan ataupun menolaknya.

3. Pembersihan Pipa dan Fitting


Bagian luar dan dalam ujung pipa harus dibersihkan dengan kain kering dan bersih,
dikeringkan dan bebas dari minyak, lemak sebelum dipasang.
Bila ada profil pengaku badan (stifeners) guna melindungi pipa, semua profil pengaku
tersebut harus disingkirkan sampai bersih demikian pula benda asing lainnya dalam
pipa.

4. Perletakan Pipa
Tindakan pencegahan harus dilakukan untuk mencegah benda asing masuk ke dalam
pipa pada saat pipa diletakkan pada jalur.
Selama berlangsungnya peletakan, tidak boleh ada kotoran, perkakas, kain, ataupun
benda-benda lainnya ditempatkan dalam pipa.
Saat satuan panjang pipa dalam galian, setiap ujung pipa harus dipasang berhadapan
dengan pipa yang sebelumnya, pipa dipasang dan ditempatkan pada jalur dan ketinggian
yang benar. Pipa dimantapkan ditempatkan dengan bahan urugan yang telah disetujui
dan dipadatkan dengan ketinggian yang sama kecuali pada ujung pipa. Tindakan
pencegahan perlu dilakukan untuk mencegah tanah atau kotoran lainnya masuk ke
sambungan.
Setiap

saat

bila

pemasangan

pipa

sedang

berlangsung,

ujung

pipa

harus

ditutup/disumbat dengan bahan yang memadai dan dengan cara yang disetujui oleh
Direksi.

5. Pemotongan Pipa
Pemotongan pipa untuk menyisipkan tee, bend atau valve atau tujuan lainnya, harus
dilakukan dengan mesin potong yang sesuai dengan cara yang rapi dan baik, tanpa
menyebabkan

kerusakan

pada

pipa

maupun

lapisan

pelindung

dalamnya

dan

menghasilkan ujung yang halus pada sudut yang tepat terhadap sumbu pipa.
Bagian VI | 57

Pemotongan

pipa

besi

harus

dikerjakan

dengan

mesin

pemotong

yang

sesuai

menghasilkan potongan yang halus pada sudut yang benar atau sudut yang diminta
terhadap sumbu pipa.
Pemotongan perlu dijaga agar jangan sampai merusak lapisan pelindung luar maupun
lapisan pelindung pipa dalam. Ujung potongan pipa yang dipotong tersebut, harus
dipotong serong (beveled) dengan ukuran yang sama sebagaimana yang ditentukan dalam
spesifikasi.
Tidak boleh ada fitting seperti bend, tee, flange dan spigot dipotong untuk pekerjaan
pemasangan pipa, sejauh tidak ada instruksi tertulis yang diberikan kepada Kontraktor
dari Direksi.

6.5.3.3. Penyambungan Pipa Galvanized


Sambungan antar pipa baja yang digalvanisir dan perlengkapan rakit maupun antar
perlengkapan rakit dari baja yang digalvanisir terhadap pipa-pipa lain dilakukan dengan
cara penyekrupan.
Penyambungan

pipa

galvanized

dilakukan

dengan

memakai

socket

seperti

yang

ditentukan sebelum pipa disambung, maka bagian ulir dari socket atau ujung-ujung pipa
harus dibersihkan dari kotoran-kotoran. Setelah itu pada ulir pipa dipasang serat nanas
dan baru dimasukan secara hati-hati pada socket dan diputar sampai kencang betul.

6.5.3.4. Penyambungan Dengan Pengelasan


1. Umum
Pengelasan pipa galvanized di lapangan harus disesuaikan dengan persyaratan yang
ditentukan berikut ini. Hal-hal yang tidak dijelaskan dalam spesifikasi ini, mengacu pada
standar ataupun pedoman (code) berikut ini :

Codes of Japanese Waterworks Steel Pipes Manufactures' Association (WSP)


Codes of Welding Engineering Standard (WES), Japan

Sambungan las harus sesuai dengan aturan yang diberikan dalam persyaratan norma
moder (persyaratan AWS atau AISC).
Pengelasan harus dilakukan oleh seorang tukang las yang berpengalaman. Direksi dapat
melakukan penelitian apabila dianggap perlu. Permukaan-permukaan yang akan dilas
Bagian VI | 58

harus bebas dari sisik lepas, kerak logam, karat, gemuk, dan cat.
Apabila pengelasan ganda diperlukan, maka permukaan pengelasan pertama harus
bersih dan bebas dari kerak logam. Apabila diperlukan lapisan-lapisan antara pada
pengelasan ganda, harus dibersihkan dengan pukulan-pukulan ringan dengan palu
bertenaga mesin atau alat lain yang disetujui Direksi.
Bila pengelasan dilakukan dalam galian, galian harus dilebarkan dan dibuat lebih dalam
agar memungkinkan pengelasan sebagaimana diminta.
Jumlah pipa yang akan menjadi satu, dengan panjang yang sesuai yang dilakukan di atas
permukaan tanah, serta cara perletakannya ke posisi yang sesuai, harus disetujui
terlebih dahulu oleh Direksi.
Untuk jembatan pipa, harus diuji sepanjang seluruh pinggiran setiap sambungan, dengan
cara pengujian radiografi kecuali ditentukan lain.
Penyambungan dengan pengelasan harus dilakukan baik dengan sambungan dengan las
tumpul tunggal (single-welded butt joint) atau las-tumpul ganda (double-welded butt joint)
sesuai yang ditentukan.

2.

Juru Las (Welder)

Kontraktor harus memasukkan pengalaman dan kualifikasi juru las yang diusulkan
untuk persetujuan Direksi.
Juru las tersebut harus memiliki pengalaman dan kualifikasi yang cukup bagi pekerjaan
pengelasan, dan memegang sertifikat atau ijazah yang dikeluarkan oleh badan yang
berwenang.

3. Batang Las dan Mesin Las


Batang las harus sesuai persyaratan yang ditentukan dalam JIS Z 3211 dan 3212 atau
yang memiliki kuat tarik yang setara atau lebih baik dari logam dasar bahan pipa.
Batang las yang menyerap lengas (moisture) tidak boleh digunakan dan tingkat lengas
harus lebih kecil dari 2,5 % untuk batang yang diiluminasi (illuminated rod) dan 0,5 %
untuk batang yang hidrogennya rendah (low hydrogenous rod).
Mesin las, harus mesin pengelasan busur nyala (Arc Welding Machine) dengan arus AC

Bagian VI | 59

atau pengelasan busur nyala DC, sebagaimana yang ditentukan dalam JIS C 9301 atau
pada standar yang telah diterima oleh Direksi.

4. Penyiapan Ujung Pipa


Ujung pipa seluruhnya harus mempunyai alur menyudut/serong (bevel) yang sesuai
sebelum pengelasan. Kecuali ditentukan lain atau disetujui oleh Direksi, alur tersebut
harus dibuat pada bagian permukaan luar (exterior) untuk pipa dengan diameter 700 mm
dan yang lebih kecil dan pada permukaan dalam (interior) untuk pipa dengan diameter
800 mm dan yang lebih besar.
Pipa yang mempunyai ketebalan dinding 16 mm atau lebih, harus alur di kedua sisi pipa
agar dapat diletakkan sambungan las tumpul ganda (double-welded butt joint). Bentuk
dan ukuran celah yang terbentuk oleh alur menyudut tersebut, harus sesuai dengan JIS
G-3443 atau sebagaimana yang disetujui oleh Direksi.

5. Pengelasan
Sebelum pengerjaan pengelasan, permukaan alur harus dibersihkan dari debu, tanah
dan karat dengan menyikat dan mengasah (grinding).
Bila pipa akan dipotong di lapangan, lapisan pelindung dalam maupun lapisan pelindung
luar pada kedua ujung pipa, harus dikupas minimum 10 cm, kemudian ujung pipa
dibuat alur sebagaimana yang ditentukan.
Fitting tidak boleh dipotong di lapangan.
Kualitas pengelasan dan kecepatan harus dijaga selama pekerjaan pengelasan, harus
terus menerus (berlanjut) dari bagian dasar ke bagian atas pinggiran pipa.
Bila pengelasan dilakukan di lapangan, Kontraktor harus memperhatikan keadaan cuaca
seperti hujan, temperatur, kelembaban dan angin. Pekerjaan tidak boleh dilakukan dalam
kondisi cuaca seperti yang telah disebutkan tanpa perlindungan atau persetujuan dari
Direksi.
Permukaan basil pengelasan harus seragam tanpa ada sempalan yang berlebihan,
tumpang tindih dan ketidakrataan.

Bagian VI | 60

6.5.3.5. Pengujian Tanpa Merusak pada Pipa dengan Sambungan Pengelasan di


Lapangan
1. Umum
Bagian ini dipakai untuk Pengujian Tanpa Merusak Sambungan dengan pengelasan
setelah pemasangan pipa. Bagian pipa baja bawah tanah, semua pengelasan di lapangan
harus diuji dengan cara uji cairan penembus dengan pewarna (dye penetrant test).
Pengujian harus dilakukan oleh Lembaga Pemeriksa yang independen yang memiliki
sertifikat dari badan yang berwenang.
Kontraktor harus memberikan keterangan mengenai tembaga pemeriksa yang diusulkan
beserta pengalamannya, bersama dengan kualifikasi Kepala Pengawas yang disebutkan
untuk persetujuan Direksi.
Kontraktor harus menyediakan semua tenaga kerja, peralatan dan bahan untuk
pengujian tanpa merusak pada sambungan dengan pengelasan di lapangan.
Semua pengujian harus ditakukan dengan dihadiri Direksi atau Wakilnya, kecuali
disetujui lain oleh Direksi.
Kontraktor harus menunjuk Kepala Pengawas yang mampu, yang bertanggung jawab
dalam mengawasi prosedur pengujian sambungan dengan pengelasan.
Kontraktor harus menyusun dan menyerahkan laporan mengenai hasil pengujian
sambungan dengan pengelasan yang dilakukan di lapangan kepada Direksi. Laporan
harus berisi analisis dari pengujian, film, rekaman fotografi dan sebagainya, yang
ditandatangani oleh Pengawas dan diserahkan sebanyak 5 (lima) copy kepada Direksi.

2.

Pemeriksaan dengan Pengamatan Mata (visual inspection)

Pengelasan alur dan pengelasan kedua harus diperiksa secara amatan. Kerusakan
berikut ini dapat menyebabkan ditolaknya hasil pengelasan dan Kontraktor harus
mengelas dan menguji kembali atas biayanya sendiri.
Adanya lubang (pit) di permukaan.
Adanya potongan berlebih (undercut) dengan kedalaman 1 mm atau lebih.
Adanya potongan berlebih (undercut) dengan kedalaman lebih dari 0,5 mm dan kurang
Bagian VI | 61

dari 1,0 m dan lebih dari ketebalan dinding.


Adanya tumpang tindih (overlap).
Adanya penguatan berlebihan.

Ketebalan Dinding
(mm)

Maximum Reinforcement
(mm)

12,1 atau lebih kecil

3,2

Lebih besar dari 12,7

4,8

Butiran yang tidak merata (unven beads).


Adanya kerusakan akibat nyala (are strike).

3. Uji Cairan Penembus Dengan Warna


Penetrasi warna harus dipakai pada pengelasan terakhir dan prosedur pelaksanaan
harus memenuhi rekomendasi pabrik.
Adanya retakan dan/atau lubang harus diperbaiki dan diuji ulang atas biaya Kontraktor
sendiri.
Direksi dapat meniadakan uji cairan penembus dengan warna, bila kemampuan
pengelasan Kontraktor dapat diterima atas dasar pengujian yang diserahkan oleh
perusahaan pemeriksa yang independen.

6.6.

PENGUJIAN HIDROSTATIS DAN DESINFEKSI

6.6.1.

UMUM

Setelah pemasangan jalur pipa, termasuk pipa induk, valve, bangunan khusus jembatan
pipa, perlintasan pipa dan perlengkapan lainnya, harus dilakukan pembilasan dan
pengujian pada jalur pipa tersebut sesuai dengan spesifikasi ini.
Pembilasan dengan cara mengalirkan air dengan kualitas air minum berkecepatan tinggi
harus dilakukan sebelum pengujian tekanan dan desinfeksi pipa dilakukan.
Setelah pembilasan, pipa harus benar-benar bersih dari kotoran yang dapat mengganggu
valve, seperti pasir, kerikil, dan ranting-ranting. Kerusakan peralatan dan perlengkapan
Bagian VI | 62

pipa yang disebabkan oleh kegiatan pembilasan tersebut menjadi tanggung jawab
Kontraktor.
Pengujian/pengetesan pipa dilakukan setiap maksimum 500 meter panjang pipa atau
pada jarak tertentu sesuai dengan kondisi lapangan (sesuai persetujuan Direksi) dengan
cara mengisikan / memompakan air bersih bermutu air minum ke dalamnya.
Pengujian tekanan air (hydrostatic-pressure test) pada jalur pipa dilakukan dengan tujuan
untuk meyakinkan/menjamin bahwa sambungan pipa dan perlengkapannya dalam
keadaan baik, kuat dan tidak bocor serta blok-blok penahan (thrust block permanent)
sanggup menahan tekanan sesuai dengan tekanan kerja pipa.
Kontraktor harus menyediakan tenaga kerja, peralatan dan bahan untuk pengujian
tekanan air dan pengujian kebocoran. Peralatan meter yang diperlukan untuk penguatan
tekanan dan kebocoran harus disediakan oleh Kontraktor.
Bagian jaringan pipa yang akan diuji diisi penuh dengan air. Kontraktor dapat
menggunakan sumber air yang ada tanpa biaya atau menyediakan sumber air tersendiri
dengan biaya sendiri. Pengisian air ini dilakukan dengan pemompaan (electric piston type
test pump) yang dilengkapi meteran air, harus dicegah terjadinya gelombang-gelombang
tekanan, semua udara di dalam pipa harus dilepas, dan sebuah manometer dengan kran
penutupnya harus dihubungkan pada cabang jaringan pipa yang diuji. Apabila bagian
pipa yang diuji ini tidak terdapat katup udara maka cara pengeluaran udara akan
ditentukan oleh Tenaga Ahli.
1). Air untuk pengujian akan disediakan oleh Pemilik atas beban biaya Kontraktor.
2). Seluruh pekerjaan pengujian harus dilakukan dengan disaksikan oleh Direksi atau
Wakilnya.

6.6.2.

UJI TEKAN

Tekanan hidrostatis saat pengujian adalah 1,5 x tekanan nominal kelas pipa yang akan
diuji, tekanan uji tersebut harus dipertahankan selama minimum 24 jam. Pengujian
dianggap memuaskan apabila penambahan / pemompaan air selama 24 jam tidak lebih
dari 0,02 kali diameter pipa yang diuji dalam liter.
Apabila ternyata air yang dipompakan melebihi batas tersebut, Kontraktor harus
menemukan sumber kebocoran dan memperbaikinya serta melakukan pengujian kembali.

Bagian VI | 63

Semua perlengkapan pengujian pipa seperti air, pompa air, manometer, meter air dan
sebagainya harus disediakan oleh Kontraktor dengan persetujuan Direksi.
Sebelum pengujian pipa dilakukan, Kontraktor harus memberitahukan kepada Direksi
kapan pengujian dilakukan dan Direksi akan melakukan pengawasan selama pengujian
tersebut.

6.6.2.1. Batasan Tekanan


Pengujian tekanan harus sebagai berikut :
1).

Tidak boleh lebih kecil dari 1,25 kali tekanan kerja pada tekanan tertinggi selama
pengujian.

2).

Tidak melebihi tekanan yang direncanakan.

3).

Paling sedikit dilaksanakan selama 2 jam.

4).

Tidak bervariasi > 5 Psi (0,35 Bar) untuk selama pengujian.

5).

Tekanan yang diberikan tidak boleh melebihi 2 kali tekanan yang diijinkan untuk
katup atau hidran bila batas tekanan pengujian termasuk pada gate valves atau
hidran.
Catatan :
Katup tidak boleh dioperasikan pada saat tekanan menyebar ke semua arah melebihi
tekanan yang diijinkan.

6).

Tidak boleh melebihi tekanan valve yang diijinkan bila batas tekanan bagian yang
diuji termasuk pada saat valve tertutup, baik untuk gate valve atau katup buterfly
valve.

6.6.2.2. Tekanan Udara


Setiap bagian pipa yang dipasang valve harus diisi dengan air perlahan-lahan dan
ditentukan uji tekan. Uji tekan dilakukan berdasarkan evaluasi dari titik terendah pada
jalur pipa atau bagian yang diuji dan dikoreksi terhadap evaluasi alat ukur pengujian. Uji
tersebut harus dilakukan dengan cara menyambungkan pompa ke pipa. Valve-valve tidak
boleh dioperasikan dalam keadaan tertutup pada tekanan differensial melebihi tekanan
yang diijinkan. Cara ini berguna untuk menstabilkan uji tekan sebelum uji kebocoran.

6.6.2.3. Pelepasan Udara

Bagian VI | 64

Sebelum pelaksanaan uji tekan ditentukan, udara harus dibuang seluruhnya dari valve.
Apabila ventilasi udara tidak dipasang pada semua titik tertinggi, Kontraktor harus
memasang valve cock pada titik tersebut di atas sehingga udara dapat dikeluarkan
bersamaan pada saat pipa diisi air. Setelah semua udara dikeluarkan, valve cock harus
ditutup dan uji tekan dilaksanakan. Pada akhir uji tekan, cock harus dilepas dan
disumbat atau ditinggalkan di tempat sesuai dengan permintaan Pemilik.

6.6.2.4. Pemeriksaan
Setiap pipa, fitting, dan sambungan-sambungan yang terlihat harus diperiksa secara
cermat selama pengujian. Setiap pipa dan fitting yang rusak atau cacat yang ditemukan
pada saat uji tekan harus diperbaiki atau diganti dengan bahan yang baik, dan pengujian
akan diulangi sampai memuaskan Pemilik.

6.6.3.

UJI KEBOCORAN

Uji kebocoran harus dilakukan segera setelah uji tekan.

6.6.3.1. Definisi Kebocoran


Kebocoran harus diartikan sebagai sejumlah air yang harus disuplai ke dalam pipa yang
baru dipasang atau setiap bagian yang baru dipasang valve, untuk menjaga tekanan pada
5 Psi (0,35 Bar) sebagai tekanan uji yang ditentukan sesudah udara pada jalur pipa
sudah dihilangkan dan pipa telah diisi dengan air. Kebocoran tidak boleh diukur dalam
keadaan tekanan turun pada saat pengujian melebihi periode waktu pengujian yang
ditentukan.

6.6.3.2. Kebocoran Yang Diijinkan


Pemasangan pipa dianggap gagal apabila tingkat kebocoran melebihi dari yang ditentukan
dalam persamaan berikut :
L

SD

133200

Bagian VI | 65

Dimana :
L

: Kebocoran yang diijinkan (dalam gallon/jam)

: Panjang pipa uji (feet)

: Diameter nominal pipa (inch)

: Tekanan uji rata-rata selama uji kebocoran (pound/inch atau gauge)

Dalam satuan metrik :

Lm

SD

2816

Dimana :
Lm

: Kebocoran yang diijinkan (liter/jam)

: Panjang pipa uji (meter)

: Diameter nominal pipa (inch)

: Tekanan uji rata-rata selama uji kebocoran (Bar)

Formula berdasarkan pada kebocoran yang diijinkan adalah dari 11,65 gpd per mil,
dengan diameter nominal D = 1 inch dan tekanan P = 150 Psi.
1. Kebocoran yang diijinkan dengan variasi tekanan ditunjukan pada Tabel 6.5.
2. Pada pengujian terhadap dudukan valve tertutup, penambahan kebocoran sebesar
0,0012 liter/jam dari ukuran valve nominal dapat diijinkan.

Bagian VI | 66

Bagian VI | 67

6.6.3.3. Penerimaan Hasil Pemasangan


Penerimaan harus ditentukan sesuai dengan tingkat kebocoran yang diijinkan. Bila pada
suatu uji pipa ternyata mengeluarkan bocoran yang lebih besar dari pada yang
disyaratkan pada Butir 6.6.3.2., Kontraktor akan menentukan lokasi kebocoran dan
melakukan perbaikan seperlunya sampai kebocoran sesuai persyaratan yang diijinkan,
dan atas biaya sendiri.
Semua kebocoran yang kelihatan harus diperbaiki.

6.6.4.

PENGGELONTORAN PIPA

Air untuk penggelontoran akan disediakan oleh Pemilik atas beban biaya Kontraktor.
Kontraktor harus membersihkan semua pipa yang terpasang dengan penggelontoran
memakai air bersih sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi.
Penggelontoran dilakukan dengan membuka atau menguras cabang pembuang (drainase
branch), mulai dari hulu dan secara bertahap ke arah hilir. Jangka waktu pengurasan
cabang pembuang akan diperintahkan oleh Direksi.
Kontraktor harus dengan segera menentukan lokasi dan memperbaiki apabila ditemukan
kebocoran selama penggelontoran sebagaimana diperintahkan Direksi, walaupun hasil
pengujian yang disebutkan di atas disetujui oleh Direksi.

6.6.5.

DESINFEKSI

Sebelum jaringan pipa dipakai untuk mengalirkan air bersih ke pelanggan maka terlebih
dahulu harus dilakukan pembersihan pipa dari kotoran/endapan yang ada dalam pipa
dan membersihkan pipa dari kuman-kuman penyakit dengan larutan desinfektan.
Sebelum berfungsi dalam sistem layanan dan sebelum dinyatakan selesai oleh Direksi,
semua pipa induk baru, perluasan atau sambungan ke sistem yang ada, atau valve yang
ada dalam jaringan perluasan harus didesinfeksi dengan Chlorine sesuai dengan
prosedur berikut ini, atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi.
Dengan aliran air tetap dipertahankan tetapi pada kecepatan yang lebih rendah, air
ditambah dengan cairan desinfektan yang sudah disediakan oleh Kontraktor dengan cara
dipompakan melalui lubang berdiameter kecil di ujung pipa yang dibor.

Bagian VI | 68

Volume air dan jangka waktunya sekurang-kurangnya 24 jam harus sedemikian sehingga
air yang dikeluarkan mengandung sekurangnya 20 mg sisa Chlorin per liter (mg Cl2/L).
Desinfeksi harus dilakukan dengan mengisi jalur pipa dengan air bersih yang telah diolah
yang mengandung paling sedikit 10 mg/liter sisa Chlorine.

Bagian VI | 69

Setelah 24 jam, sisa Chlorine harus diperiksa dan jika lebih dari 5 mg/liter hal tersebut
dapat dianggap desinfeksi telah dicapai dengan memuaskan.
Walaupun demikian, jika sisa Chlorine memperlihatkan kurang dari 5 mg/liter, harus
ditambah Chlorine, diikuti dengan tambahan periode kontak selama 24 jam.
Jika air ini masih mengandung Chlorin bebas setelah periode kontak ini, maka harus
dicuci dengan air sampai air yang dikeluarkan tidak mengandung Khlorida yang
berlebihan.
Jika ternyata cairan yang dikeluarkan tidak mengandung Chlorin setelah periode kontak
selama 24 jam dalam pemberian desinfektan, maka proses harus diulangi. Sebelum
pemberian desinfektan pada tiap bagian pipa dengan cairan yang mengandung Chlorin di
atas, Kontraktor harus mendapat persetujuan tertulis dan Direksi Tenaga Ahli untuk
menggunakannya.
Desinfeksi termasuk pengukuran sisa Chlorine merupakan tanggung jawab Kontraktor,
tetapi air dan bahan kimia akan disediakan oleh Pemilik atas beban biaya Kontraktor.
Pekerjaan akan mencakup pemasangan pipa sementara atau pengambilan sesuai
kebutuhan bagi injeksi air Chlorine dan pengambilan contoh air untuk pengujian dibawah
pengarahan Direksi.
Pekerjaan yang dilakukan di atas harus dilakukan setelah penyelesaian dan diterimanya
pengujian kebocoran dan tekanan yang disyaratkan.

6.7.

PEKERJAAN BETON

Pekerjaan beton untuk thrust block, anchor block dan ruang-ruang valve harus sesuai
dengan gambar rencana. Beton penyangga pipa harus sesuai dengan gambar rencana.
Dimensi dan mutu beton untuk thrust block, anchor block dan ruang-ruang valve harus
sesuai dengan yang ditunjukkan dalam gambar tipikal/standar, kecuali apabila Direksi
menentukan lain.
Semua pekerjaan beton dan material yang digunakan harus sesuai dengan syarat-syarat
dalam SKSNI T15199103 dan Kontraktor wajib melaksanakan pekerjaan dengan
ketelitian yang tinggi menurut spesifikasi dalam gambar kerja dan instruksi-instruksi dari
Direksi Pelaksana.

Bagian VI | 70

Kontraktor wajib melaksanakan tes-tes, seperti slump test untuk mengetahui dan
mempertahankan mutu beton sesuai dengan ketentuan SKSNI T15199103. Semua
hasil tes harus diketahui dan disetujui oleh Direksi.
Dalam pembuatan bekisting / acuan untuk pengecoran beton harus diusahakan untuk
menjaga kestabilan dari bekisting itu sendiri dan kebocoran-kebocoran yang mungkin
terjadi.
Kesalahan dan ketidakcocokan pekerjaan dengan spesifikasi dan gambar rencana yang
ada menjadi tanggung jawab Kontraktor, dalam hal ini Direksi berhak memerintahkan
untuk membongkar pekerjaan yang telah dilaksanakan dan semua perbaikannya menjadi
tanggung jawab Kontraktor.

6.8.

PERSYARATAN TEKNIS YANG LAIN

6.8.1.

GALIAN TANAH UNTUK PONDASI DAN BANGUNAN

a.

Titik Tetap
Sebelum pekerjaan dimulai, titik harus dibuat terlebih dahulu (oleh Kontraktor) atas
petunjuk dan disahkan oleh Direksi. Titik tetap ini dipakai sebagai titik utama dalam
pelaksanaan, oleh karena itu tidak boleh terganggu atau mudah rusak.

b.

Sumbu
Piket sumbu dipasang oleh Kontraktor atas petunjuk dan pengesahan Direksi. Piketpiket sumbu harus dipasang sedemikian rupa sehingga cukup jelas dan mudah serta
dijaga supaya tidak berubah.

c.

Profil
Profil atau patok dipasang oleh Kontraktor dan disahkan oleh Direksi. Patok-patok
harus dikontrol terhadap titik tetap dan sumbu-sumbu tersebut. Profil-profil harus
dibuat dari kayu yang berkualitas cukup baik, berukuran sesuai dengan usuk reng
dan harus terpasang dalam kedudukan yang kuat, tidak boleh berubah baik
kedudukan maupun bentuknya.

d.

Pekerjaan Galian tanah meliputi :

Meratakan / menyiapkan halaman bangunan.

Galian untuk pondasi dan pembuatan bangunan yang terletak di bawah


permukaan tanah.

Memapas dan menimbun tanah sehingga terdapat peil yang dikehendaki.


Bagian VI | 71

e.

Menimbun sesuai dengan gambar pada tempat galian untuk pasangan pondasi,
begitu pula bangunan-bangunan yang nyata-nyata termasuk di dalam pekerjaan ini,
dibuat sesuai dengan gambar rencana.

f.

Apabila dalam pelaksanaan penggalian terjadi kelongsoran terus-menerus yang


mengganggu, harus diadakan konstruksi penguat (dari sirap kayu) atau lainnya agar
terjamin keamanan dan efisiensi kerja, pembiayaan sudah termasuk di dalam harga
penawaran dan tidak diterima adanya klaim.

g.

Apabila ternyata di dalam penggalian dijumpai air yang mengganggu pengeringan,


maka Kontraktor harus mempunyai pompa untuk pengeringan dan biaya yang
ditentukan akibat pekerjaan pengeringan tersebut menjadi tanggungan Kontraktor.

6.8.2.

GALIAN TANAH UNTUK PERPIPAAN DAN PERALATANNYA

a.

Pekerjaan galian ini hanya untuk galian perpipaan transmisi dan distribusi utama.

b.

Minimum dalam, lebar dan tempat galian untuk pemasangan pipa berikut
peralatannya harus sesuai dengan gambar pelaksanaan (gambar situasi, profil
memanjang dan melintang serta potongan-potongannya).

c.

Apabila daerah yang digali air tanahnya agak tinggi, maka untuk galian yang
dalamnya lebih dari 1,20 m talud, kanan kiri galian harus dikerjakan sedemikian
rupa sehingga tanahnya tidak mudah longsor.

d.

Mengatur kemiringan/dalamnya tanah galian

Kemiringan tanah galian adalah mengikuti kemiringan jalan (kecuali diatur


secara khusus) dengan kedalaman dan lebar yang diatur oleh Direksi.

Pengaturan galian pipa yang horisontal apabila lebih dari 600 m adalah
sebagai berikut : 200 m pertama digali menurun dengan I = 0,004 (4 m/1.000 m),
400 m kemudian digali menaik dengan I = 0,002 (2 m/1.000 m).

e.

Dalam melaksanakan pekerjaan ini Kontraktor diharuskan menyediakan alat ukur


tanah berupa theodolit dan waterpass. Semua penggalian tanah, baik berupa tanah
pekarangan maupun tanah jalan (berm atau aspal) hanya dapat dilaksanakan setelah
ada izin dari Direksi atau pengusaha setempat/Pemerintah Daerah/Dinas Pekerjaan
Umum setempat.

f.

Khusus untuk pemasangan pipa dan peralatannya pada tempat-tempat atau jalan
umum, pekerjaan penggalian hanya dapat dilaksanakan setelah Kontraktor melalui
ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
Bagian VI | 72

Pipa dan peralatannya yang akan dipasang harus sudah siap di lokasi

proyek.
Pekerjaan-pekerjaan untuk pemasangan pipa harus sudah disiapkan di

lokasi proyek.
Peralatan

pengamanan

galian

berupa

rambu-rambu

jalan,

lampu

pengaman harus sudah disiapkan sebelumnya.

6.8.3.
a.

URUGAN TANAH
Urugan tanah untuk setiap pekerjaan harus dilaksanakan selapis demi selapis,

dimana tiap-tiap lapis harus dipadatkan dan bersih dari kotoran organik dan
sebagainya dengan maksimum tebal tiap lapisan adalah 30 cm.
b.

Urugan tanah yang dilaksanakan dengan cara yang tidak memenuhi ketentuan
dapat mengakibatkan amblesnya tanah, untuk itu harus dilaksanakan pengerukan
kembali segera setelah perintah pertama dari Direksi dan bila diperlukan urugan
diulang berkali-kali sampai rata dengan tinggi tanah semula sesuai petunjuk Direksi.

c.

Sisa-sisa tanah/material bekas galian setelah pengurugan selesai harus diangkut


dan dibuang jauh-jauh sehingga bersih/rapi dan pembuangan menjadi tanggung
jawab Kontraktor.

d.

Khusus untuk pemasangan pipa, baru boleh dilaksanakan setelah pengurugan


pasir di sekeliling pipa yang akan dipasang selesai dilaksanakan dan telah disetujui
Direksi.

6.8.4.

URUGAN PASIR

a.

Untuk setiap urugan pasir, harus disiram dengan air sampai padat.

b.

Apabila pada galian parit pipa didapatkan tanah gembur, maka tanah ini harus
dibuang dan diganti dengan pasir, sehingga didapatkan dasar yang rata dan padat.

c.

Urugan pasir dilaksanakan selapis demi selapis yang masing-masing diisi sampai
padat.

d.

Khusus urugan pasir untuk perpipaan, harus memenuhi ketentuan sebagai


berikut :

Urugan pasir dilakukan pada sekeliling pipa setebal 15 cm, kecuali untuk
pipa yang memotong jalan harus diurug penuh dengan pasir.

Bagian VI | 73

Pasir yang digunakan untuk pengurugan pipa harus berkualitas pasir

pasang (kadar lumpur 10 %).


Kelebihan pasir setelah pengurugan harus diangkut jauh-jauh dan

dibersihkan dari tempat pekerjaan yang semuanya ini menjadi tanggungan


Kontraktor.

6.8.5.
a.

PEMASANGAN PIPA DAN PERALATANNYA SERTA BANGUNAN PELENGKAP

Pipa dan peralatannya beserta bangunan-bangunan pelengkap yang akan dipasang


terlihat pada gambar-gambar bestek terlampir.

b.

Sebelum dan sesudah dipasang pipa-pipa dan peralatannya, terutama bagian


sebelah dalamnya harus dijaga kebersihannya dan harus diperiksa lagi kerusakan
serta retak-retaknya. Pipa dan peralatannya yang baru dipasang hanyalah pipa dan
peralatan yang baik, baru, dan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan.

c.

Pemotongan pipa benar-benar diperlukan dapat dilakukan Kontraktor dengan


persetujuan Direksi dan harus dilaksanakan dengan alat yang sesuai/khusus untuk
jenis/bahan pipa yang dipasang, agar benar-benar terjamin penyambungannya yang
baik

sesuai

dengan

syarat-syarat

teknis/petunjuk

dari

pabrik

pipa

yang

bersangkutan, misalnya pipa asbes cement dengan alat potong pipa khusus
kemudian dengan alat perapih ujung pipa, pipa galvanized iron dengan pemotong
sniy pipa dan sebagainya.
d.

Sambungan pipa yang dilaksanakan pada umumnya dengan cara :

Pipa PVC dengan rubber ring.

Pipa steel dengan las atau rubber ring dengan alat penyambung giboult atau
dengan sock.

e.

Tikungan/belokan (vertikal/horisontal) tanpa elbow/bend dilaksanakan sedemikian


rupa sehingga sudut sambungan antara pipa tidak boleh lebih besar dari yang
diizinkan oleh pabrik pipa yang bersangkutan, untuk itu akan diberikan petunjuk
lebih lanjut oleh Direksi. Misal untuk pipa PVC, maksimum deflection yang diijinkan
adalah 5 derajat dan sebagainya.

f.

Di sekeliling pipa harus diberi pasir urug sedemikian rupa sehingga terdapat pasir
setebal

15 cm di bawah, di samping, dan di atas pipa. Kecuali untuk pipa-pipa

yang memotong jalan (crossing) diurug segera dengan pasir pasang penuh, kemudian
tanah bekas galiannya harus segera disingkirkan agar segera dapat dilalui
Bagian VI | 74

kendaraan. Khusus untuk jalan-jalan protokol (lalu lintas) padat dan kendaraankendaraan berat harus dilindungi dengan plat beton bertulang (konstruksi khusus :
gambar pelaksanaan).
g.

Pada

waktu

pemasangan

pipa

harus

diperhatikan

benar-benar

mengenai

kedudukan pipa agar betul-betul lurus serta pada peil yang benar dan dasar pipa
yang harus terletak rata, tidak boleh ada batu atau benda-benda keras yang
memungkinkan rusaknya pipa di kemudian hari.
h.

Pada waktu pemasangan pipa, parit galian untuk perletakan pipa harus tidak boleh
ada

air

sama

sekali

dan

di

dalam

pipa

harus

diperiksa

kebersihannya.

Penyambungan pipa hanya dilakukan dalam keadaan kering.


Semua alat-alat perlengkapan pipa (peralatan pipa) yaitu tee, elbow/bend dan lain-

i.

lain harus diberi blok-blok anker dari beton (beton campuran 1 : 2 : 3) supaya
terhindar dari bergesernya alat-alat tersebut karena tekanan air yang timbul, dimana
besarnya disesuaikan dengan diameter pipa/sesuai gambar.
Semua ujung pipa yang tidak dilanjutkan harus diberi tutup dengan standar blank

j.

flange atau dop, kemudian dari flange atau dop tersebut diberi penahan dari beton
(campuran 1 : 2 : 3).
k.

Pengetesan pipa harus dilaksanakan dengan disaksikan oleh Direksi dan apabila
telah diterima/memenuhi syarat akan dibuatkan Berita Acara :

Pada prinsipnya, pengetesan dilakukan dengan cara bagian demi bagian


dari panjang pipa dan dengan panjang maksimum 500 m.

Pengetesan pipa dilakukan dengan tekanan 8 Bar untuk segala diameter


pipa dan apabila selama satu jam tekanan tidak berubah/turun, tes dinyatakan
berhasil dan dapat diterima.

Biaya pengetesan serta alat-alat yang diperlukan menjadi tanggungan


Kontraktor.

Pengetesan untuk jenis pipa PVC dengan sambungan rubber ring baru
boleh dilakukan setelah penyambungan pipa yang terakhir (untuk bagian yang
akan dites).

Cara untuk pengetesan pipa ini akan diberikan petunjuk oleh Direksi.
Apabila tidak berhasil, Kontraktor harus mengetahui sebab-sebabnya, kemudian
memperbaikinya dan kalau perlu diadakan pembongkaran-pembongkaran dan
perbaikan kembali yang semuanya menjadi tanggung jawab Kontraktor.

Bagian VI | 75

l.

Cara-cara pengangkutan, penyambungan dari pipa-pipa, dan ketentuan-ketentuan


teknis cara pemasangannya akan diberi petunjuk oleh Direksi.

m.

Setiap pekerjaan pemasangan pipa yang dihentikan pada waktu-waktu di luar jam
kerja, ujung-ujung pipa yang terakhir harus ditutup rapat untuk mencegah
masuknya benda-benda asing/air kotor ke dalam pipa. Material yang digunakan
untuk menutup ujung pipa tersebut harus bersih dan bebas dari minyak/oli, ter atau
aspal atau bahan-bahan pelumas lainnya. Apabila air masuk ke dalam parit sebelum
pemasangan pipa dilanjutkan lagi, tutup rapat ujung-ujung pipa tersebut, jangan
dibuka terlebih dahulu sebelum air di dalam parit galian dipompa sampai kering.
Peil dari perletakan pipa serta dalamnya terhadap muka tanah/jalan aspal harus

n.

diperiksa dengan teliti, bila perlu dengan menggunakan instrumen theodolit dan
waterpass serta disaksikan oleh Direksi.
o.

Perubahan arah perletakan pipa (belokan/tikungan) harus dilaksanakan dengan


alat penyambung bend/elbow yang sesuai, begitu pula dengan percabangan harus
dengan tee (sesuai dengan kebutuhan). Membengkokkan atau merubah bentuk pipa
dengan apapun tidak diperkenankan (secara mekanis maupun dengan cara
pemanasan).

p.

q.

Mengenai penilaian persentase pemasangan pipa ditentukan sebagai berikut :

Pengetesan pipa

= 40%

Galian tanah

= 20%

Urugan kembali

= 5%

Pemasangan pipa

= 20%

Pengaspalan jalan

= 10%

Setiap pemasangan pipa, Kontraktor diwajibkan membuat gambar pelaksanaan


sebelum dilakukan pengurugan, yang disajikan di dalam kertas ukuran A3, paling
lambat disampaikan 1 (satu) minggu setelah pengurugan.

6.8.6.

BOX VALVE

Untuk box-box valve dan box-box

peralatan perpipaan lainnya sesuai dengan gambar

bestek tersebut :

Box valve dapat diubah dari pasangan atau straatport menjadi besi cor,
yang tergantung dari ukuran valve serta atas petunjuk Direksi.

Bagian VI | 76

Untuk valve yang berukuran diameter 100 mm ke atas, harus dipakai

tumpuan beton (anchor block) campuran 1 : 2 : 3.


Pada umumnya dapat dipakai batu bata 1 : 2 dan plesteran 1 : 2.

6.8.7.
a.

PERLINTASAN KALI/SUNGAI
Untuk pipa-pipa yang melintasi kali/sungai bila memungkinan dan diizinkan,

pipa-pipa tersebut dapat digantungkan/ditempelkan pada jembatan. Pipa yang


digunakan untuk perlintasan tersebut dipakai pipa steel. Untuk hal tersebut akan
diberi petunjuk oleh Direksi.
b.

Apabila tidak memungkinkan digantungkan/ditempelkan pada jembatan yang


ada, maka harus dibuat jembatan pipa tersendiri atau dengan konstruksi syphon.

6.8.8.

PERBAIKAN KEMBALI

Kontraktor berkewajiban serta bertanggung jawab untuk perbaikan kembali seperti


keadaan/ konstruksi dan kualitas yang minimum harus sama, yaitu untuk semua
bangunan dan sebagainya yang rusak oleh Kontraktor akibat pelaksanaan pekerjaan
pemasangan pipa antara lain :

Jalan aspal harus kembali beraspal

Jalan batu harus kembali berbatu

Trotoar beton berumput/tanam-tanaman yang dirusak harus kembali


berumput / tanam-tanaman seperti semula
Dan lain-lain yang dijumpai selama pelaksanaan pekerjaan

Catatan :
Rekanan agar mengestimasikan juga masalah road crossing, dimana hal tersebut dan
resikonya menjadi tanggung jawab Kontraktor.

6.9.

PEKERJAAN STRUKTUR

6.9.1.

UMUM

a.

Semen (Semen dan Standar SII)


Semen yang dipakai harus portland cement dari sumber yang disetujui dan dalam
segala hal memenuhi syarat yang dikehendaki oleh Peraturan Beton SKSNI T15
199103 atau British Standard No. 12 Tahun 1965. Dalam pengangkutan semen
Bagian VI | 77

harus terlindung dari hujan, harus diterima dalam zak (kantong) asli dari pabriknya
dalam keadaan tertutup rapat dan harus disimpan di gudang yang cukup
ventilasinya dan tidak terkena air, ditaruh pada tempat yang ditinggikan paling
sedikit 30 cm dari lantai. Zak-zak tersebut boleh ditumpuk sampai tingginya
melampaui 2 m dan tiap pengiriman baru harus dipisahkan dan ditandai dengan
maksud agar pemakaian semen dilakukan menurut urutan pengirimannya.
b.

Agregat
Bahan yang boleh dipakai

Agregat harus keras bersifat kekal dan bersih serta tidak boleh mengandung
bahan-bahan yang rusak, seperti bentuk dan kualitasnya bertentangan dan
kualitasnya mempengaruhi kekuatan atau kekalnya konstruksi beton. Umur daya
tahan beton terhadap keras dari baja tulangan agregat dalam segala hal harus
memenuhi yang dikehendaki (ketentuan-ketentuan) SKSNI T15199103.
Penyimpanan

Agregat harus disimpan di tempat yang bersih, yang keras permukaannya dan
dicegah supaya tidak terjadi percampuran satu sama lain dan pengotoran.
c.

Air
Air untuk adukan dan merawat beton harus bersih, bebas dari bahan-bahan yang
merusak atau campuran-campuran yang mempengaruhi daya lekatan semen.

d.

Baja Tulangan
Jenis penulangan

Batang tulang merupakan baja lunak dengan kekuatan leleh 2.400 kg/cm2 dan
tegangan maksimum 3.600 kg/cm. Bahan-bahan tersebut dalam segala hal harus
memenuhi ketentuan SKSNI T15199103 Jenis U24 untuk diameter lebih kecil
atau sama dengan 12 mm.
Pemasangan

1.

Sebelum beton dicor, baja tulangan harus bebas dari minyak, kotoran, cat,
karat lepas, kulit giling atau bahan-bahan lain yang merusak. Semua
tulangan harus dipasang dengan posisi yang tepat, sehingga tidak dapat
berubah atau bergeser pada waktu pelaksanaan. Tinggi baja tulangan dan
penutup harus tepat agar perubahan-perubahan jarak beton yang disetujui
dapat dipakai.

2.

Penyambungan tulangan harus sesuai dengan syarat-syarat dalam SKSNI T

Bagian VI | 78

15199103.
e.

Cetakan (Bekisting)
Bahan

Bekisting harus memakai kayu kelas II yang cukup kering dan sesuai dengan
finishing yang diminta menurut bentuk, garis ketinggian, dan dimensi dari beton
sebagaimana diperhatikan dalam gambar. Bekisting harus cukup kuat untuk
menahan getaran-getaran vibrator dan kejutan gaya-gaya lain yang diterima tanpa
berubah bentuk. Cetakan harus dibuat dari papan plywood yang bermutu baik.
Untuk beton tidak exposed dapat dipakai kayu terentang tebal minimum 3 cm.
Konstruksi

Cetakan harus dibuat dan disangga sedemikian rupa sehingga dapat menahan
getaran yang merusak atau lengkungan akibat tekanan adukan beton yang cair
atau

sudah

padat.

Cetakan

harus

dibuat

sedemikian

rupa

sehingga

mempermudah penumbukan-penumbukan untuk memadatkan pengecoran tanpa


merusak konstruksi.
Alat Pembersihan

Pada cetak kolom atau dinding, disediakan perlengkapan-perlengkapan untuk


menyingkirkan kotoran, serbuk gergaji, potongan-potongan kawat pengikat dan
lain-lain.
Pelapis cetakan

Untuk mempermudah penyingkiran penutup-penutup pelapis cetakan dari merk


yang telah disetujui dapat dipakai.
Syarat-syarat cetakan untuk beton terbuka (expose) :

1.

Hanya cetakan plywood yang bermutu baik yang boleh dipakai, yang telah
disetujui oleh Pemberi Pekerjaan.

2.

Posisi masing-masing konstruksi harus tepat dalam batas toleransi 1 cm.


Tapi toleransi ini tidak boleh bertambah-tambah (kumulatif).

3.

Segala cacat pada permukaan beton yang telah dicor harus ditambal
(diplester) sedemikian rupa sehinggga sesuai dengan warna struktur dan
rupanya dengan permukaan yang berdekatan.

f.

Adukan Beton

Rencana adukan
Nama-nama jenis adukan beton harus diberi agregat kasar atau halus yang

Bagian VI | 79

banyaknya untuk setiap 50 Kg Portland Cement menurut tebal seperti pada Tabel
6.6.
Kekuatan beton

Tidak akan dibuat ketentuan-ketentuan khusus mengenai kubus dari jenis C1 dan
C2. Untuk jenis C3 dan C4 adalah PBI 1971 Tipe K 225.
Campuran dari beton harus sedemikian rupa sehingga mencapai kekuatan kubus
untuk umur 28 hari sebesar 225 Kg/cm2.
Beton ini dipakai sebagai pondasi block (poor), kolom balok tarik, plat lantai dan
lain-lainnya.
Tabel 6.6.
Jenis Adukan Beton Menurut Tebalnya
Jenis
C1
C2
C3
C4
C5

Adukan
1
1
1
1
1

:
:
:
:
:

2:3
2,5 : 5
2:3
2:3
2:3

Agregat

Agregat

Ukuran

Halus
0,12 m3
0,10 m3
0,08 m3
0,08 m3
0,06 m3

Kasar
0,24 m3
0,12 m3
0,12 m3
0,12 m3
0,10 m3

Nasional
38 cm
30 cm
30 cm
28 cm
10 cm

Penggunaan jenis-jenis adukan

Adukan C1 :
Beton lantai bangunan pompa, tebal 5 cm di bawah semua beton bertulang
tidak dicor ke dalam cetakan.

Adukan C2 :
Jalan setapak sekitar bangunan pompa dan reservoir.

Adukan C3 :
Semua beton bertulang, kecuali untuk yang ditentukan memakai jenis C4.

Adukan C4 :
Kolom atau balok beton bertulang yang mempunyai ukuran 15 cm atau kurang.

Adukan C5 :
Untuk yang menggunakan beton pra cetak.

Campuran tambahan (additives)


Untuk workability adukan dan hasil beton yang baik, semua adukan pada betonbeton yang terlihat (exposed) seperti langit-langit listplank dan sebagainya perlu
diberikan zat penambah beton (additives).

Bagian VI | 80

Pengadukan
Semua pengadukan beton jenis C2, C3, C4 dan C5 harus dilakukan dengan mesin
pengaduk yang berkapasitas tidak kurang dari 350 liter.

g.

Pengawasan Pondasi
Semua agregat semen harus ditakar dengan seksama, bilamana satu proporsiproporsi tertentu itu tidak dituruti, maka konstruksi yang sudah dicor itu akan
diperintahkan untuk disingkirkan. Proporsi semen yang ditentukan adalah minimum,
jadi tidak akan diizinkan untuk dikurangi.

h.

Pondasi Batu
Pasangan pondasi adalah langsung dari batu kali belah atau batu karang yang keras
tidak berpori dengan batu kali belah/batu karang dengan perekat 1 PC : 2 PS (pasir
yang dipakai adalah pasir pasang). Bagian bawah dari pondasi dipasang lapisan batu
kosong (aanstamping) setebal 15 cm seperti tertera dalam gambar rencana detail
dengan sela-sela diisi pasir urug dan ditumbuk hingga betul-betul rata. Celah-celah
yang besar antara batu diisi dengan batu kricak yang dicocok padat. Batu itu tidak
boleh menyinggung dan diantaranya harus ada perekat.
Dipakai jenis batu yang keras dan mempunyai permukaan kasar, sedangkan batubatu berlapis yang mudah pecah, terlalu tipis dan licin tidak boleh dipakai.
Kedalaman pondasi yang disyaratkan harus dipakai, kecuali kondisi galian yang
menemui batu-batu. Untuk kondisi galian berbatu, pondasi langsung di atas batuan
dengan terlebih dahulu membersihkan permukaan batu dengan air dan disikat agar
perekat dapat bekerja dengan baik dalam mengikat dasar pondasi dan pasangan
pondasi baru. Perubahan ke dalam pondasi sebagaimana disyaratkan di dalam
gambar akan diperhitungkan dalam pekerjaan tambah atau kurang.

6.9.2.

KONSTRUKSI BETON
Pekerjaan Persiapan

A.
1.

Los kerja dan gudang bahan harus disediakan oleh Kontraktor pada lokasi
pekerjaan.

2.

Jalan masuk untuk pengangkutan material ke lokasi pekerjaan, diusahakan


dengan biaya sendiri oleh Kontraktor.

B.

Pekerjaan Tanah
Bagian VI | 81

1.

Galian tanah untuk pembuatan bangunan (intake, rumah pompa, dan rumah
gardu listrik, dan sludge drying bed/SDB) harus dilaksanakan seperti yang
tertera dalam gambar baik mengenai lebar, panjang, dalam, kemiringan dan
sebagainya.

2.

Untuk mendapatkan kestabilan tanah pada dasar galian, maka di sekeliling


galian harus dibuatkan parit yang cukup, sehingga dapat mengalirkan air tanah,
air hujan atau air genangan jika memungkinkan harus disediakan pompa air.
Lubang galian harus selalu dalam keadaan kering.

3.

Untuk tanah yang lembek (labil) maka penggalian tanah harus secara trap-trap
dan setiap trapnya diberi sistem pengaman, sehingga dapat menghindari
kelongsoran yang akan timbul.

4.

Sebelum pengurugan pasir, dasar galian harus mempunyai kepadatan yang


cukup. Bilamana keadaan tanah amat jelek sehingga tidak dapat dicapai
kepadatan tersebut, maka dalam hal ini perlu diadakan perbaikan tanah sesuai
dengan petunjuk-petunjuk Direksi.

5.

Peil dasar lantai bangunan tidak boleh dianggap bersifat pasti, Direksi dapat
merubah peil tersebut, sehingga pondasi dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya
dan sesuai hasil pengukuran ulang dalam pelaksanaan di lapangan.

6.

Urugan pasir untuk pekerjaan pondasi dilaksanakan lapis demi lapis setebal 20
cm dan masing-masing lapisan harus dipadatkan dengan menggunakan alat
pemadat tanah mekanis (stamper).

C.

Beton
1. Semen yang dipakai adalah Semen Portland K I atau minimum merk standar dan
memenuhi Standar Industri Indonesia atau merk lain yang setingkat mutunya.
2. Mix design diperlukan untuk mendapatkan mutu beton yang disyaratkan.
3. Pengecoran beton diharuskan memakai beton mixer dengan jumlah yang cukup
dan disetujui oleh Direksi.
4. Pemadatan beton diharuskan memakai beton vibrator dengan jumlah yang cukup.
5. Pemakaian additive di dalam campuran beton untuk maksud-maksud tertentu
tidak diperkenankan, kecuali mendapatkan persetujuan dari Direksi dan
Konsultan.

Bagian VI | 82

6. Curing harus dilaksanakan segera setelah proses pengerasan berlangsung (setelah


24 jam dari saat selesai pengecoran).
7. Semen
Kecuali apabila ditentukan lain, maka semen yang digunakan dalam pekerjaan
adalah portland biasa (OPC atau semen Tipe I) yang sesuai dengan BS 12 atau
SII 0013-81 atau ASTM 0-150 pada saat digunakan.
8. Agregat
Agregat untuk beton hendaknya sesuai dengan PBI 1971 atau SII 0052-80 pada
saat digunakan. Agregat harus terdiri dari pasir alam. Apabila dipandang perlu
Direksi akan mengizinkan penambahan pasir batu ke dalam pasir, karena tanpa
ini tidak mungkin tercapai gradasi yang ditentukan. Jumlah maksimal tanah liat,
lumpur dan debu halus hendaknya tidak lebih dari 3 % berat (bila digunakan uji
sesuai dengan SII 007775).
Agregat kasar hendaknya sesuai dengan persyaratan dalam PBI 1971 atau SII
0052-80 untuk agregat tunggal hingga ukuran maksimum nominal yang
ditentukan bagi kelas beton yang tersedia dan yang hendaknya terdiri dari
tingkat-tingkat (grading) berikut :
a.

40 mm ukuran tunggal

b.

20 mm ukuran tunggal

c.

10 mm ukuran tunggal

9. Air
Air yang digunakan untuk pembuatan dan pengerjaan beton hendaknya berasal
dari PDAM terkait dan pada saat digunakan bebas dari pencemaran, karena :
a.

Akan mempengaruhi

pengeringan

beton lebih dari 30 menit atau

mengurangi daya tekan kubus uji lebih dari 20 % bila diuji dengan PBI
1971.
b.

Dapat mempengaruhi keberhasilan kekuatan ujii kubus yang ditentukan


pada 28 hari untuk mutu yang sesuai dari beton.

c.

Dapat menimbulkan perubahan warna atau pemucatan pada permukaan


beton yang mengeras.

Air harus bebas dari hidrokarbon dan zat organik yang merusak. Kadar zat
organik dalam larutan tidak boleh lebih dari 500 mg/liter perbandingan berat
dan dalam suspensi tidak lebih dari 50 mg/liter perbandingan berat.

Bagian VI | 83

10. Besi Beton


a.

Besi beton yang digunakan adalah baja U 24 untuk diameter lebih kecil atau
sama dengan 12 mm.

b.

Mutu besi beton harus memenuhi sebagaimana tercantum dalam gambar


bestek minimum mutu U 32 untuk diameter lebih besar dari 12 mm.

c.

Apabila dianggap perlu, Direksi berhak meminta kepada Kontraktor untuk


melakukan pengujian mutu besi beton secara random (1 sampel untuk
setiap 5 ton) dan pelaksanaan pengujian tersebut harus bersama-sama
dengan Direksi dan Konsultan.

d.

Sambungan besi beton mengikuti ketentuan PBI 1971 sedangkan


penyambungan memakai las tidak diperkenankan.

e.

D.

Beton tahu (decking) untuk selimut beton dipasang merata.

Pengecoran Beton
1. Sebelum melakukan pengecoran, Kontraktor harus mengajukan rencana kerja
detail untuk pekerjaan pengecoran guna mendapatkan persetujuan Direksi.
Rencana kerja tersebut meliputi :
a.

Rencana pelaksanaan tahap-tahap pengecoran.

b.

Rencana persiapan bahan.

c.

Rencana pemakaian peralatan (jenis dan jumlahnya).

d.

Rencana pengerahan tenaga kerja.

e.

Rencana pengamanan terhadap kemungkinan hujan sewaktu pengecoran,


dll.

2. Pengecoran dapat dilakukan apabila semua persiapan telah dilakukan sesuai


dengan bestek dan rencana kerja telah diajukan serta mendapat persetujuan dari
Direksi.
3. Penghentian tahap pengecoran harus pada posisi yang telah ditetapkan sesuai
rencana.

E.

Tes Kedap Air


1. Prosedur Tes Kedap Air untuk lantai dan dinding bangunan
a.

Pada tahap akhir pekerjaan, bangunan tersebut harus dalam keadaan


bersih, sehingga siap untuk dilakukan tes kebocoran.

Bagian VI | 84

b.

Bangunan tersebut diisi dengan air sampai dengan ketinggian yang


ditentukan dan setelah dianggap cukup air terserap oleh beton selama
kurang lebih 3 hari, kemudian ketinggian permukaan air akan diamati
selama 7 hari berikutnya.

c.

Penurunan maksimum yang masih diperbolehkan dengan memperhitungkan


kemungkinan penguapan air adalah 1/500 dari rata-rata ketinggian air atau
10 mm dipilih mana yang terendah.

d.

Meskipun telah dipenuhi persyaratan tersebut di atas, setiap adanya tandatanda kebocoran pada sisi luar bangunan harus secepatnya diperbaiki.
Cara-cara perbaikan :

Bila terjadi rembesan maka harus diperbaiki dengan injeksi dan memakai
bahan obat khusus.

Bila terjadi kebocoran, dapat diperbaiki dari dalam dengan dikeringkan


terlebih dahulu dan memakai bahan grout biasa. Perbaikan dari luar
dengan cara injeksi juga dapat di laksanakan.

2. Prosedur Tes Kedap Air untuk atap bangunan


Konstruksi atap bangunan harus kedap air dan dapat dilakukan salah satu tes
sebagai berikut :
a.

Bagian sebelah atas atap bangunan diberi air setinggi 25 mm selama 24


jam.

b.

Dengan menggunakan semprotan air atau pancuran untuk mendapatkan


permukaan air yang mengalir pada seluruh permukaan atap selama tidak
kurang dari 6 jam.

Dari hasil salah satu tes tersebut harus dipenuhi ketentuan bahwa tidak adanya tandatanda kebocoran di bagian sebelah dalam atap bangunan.

6.9.3.
a.

PONDASI TIANG PANCANG (PILE)

Konstruksi dan ukuran tiang pancang (pile) harus dibuat sesuai dengan gambar
rencana dan disetujui oleh Direksi, tiang pancang yang dipakai harus dari sumber
yang disetujui dan dalam segala hal memenuhi syarat yang dikehendaki oleh SNI 032847-2002 atau JIS A 5335 1987.

Bagian VI | 85

b.

Tiang pancang (pile) harus dibangun pada lokasi yang tepat yang diperlihatkan dalam
gambar rencana.

c.

Menggunakan taing pancang satandar WIKA Tipe B atau yang setara.

d.

Kesalahan

koordinat

tiang

pancang

yang

diperkenankan

adalah

pergeseran

maksimum 7,5 cm. Bila lebih dari batas ini maka harus diadakan perhitungan
kontrol, segala akibat dari pergeseran tersebut menjadi beban Pemborong.
e.

Dalam pemancangan, tiang harus masuk ke dalam tanah secara miring dengan
kemiringannya sudut terhadap vertikal sebesar 12,5 o. Kesalahan yang terjadi harus
diperhitungkan dan perbaikannya menjadi beban pemborong. Untuk mencegah hal
itu, proses masuknya tiang harus diikuti mulai awal sampai selesai.

f.

Tidak diperkenankan menghentikan pemancangan dalam kurun waktu yang dapat


mengganggu daya dukung/ lekatan tanah sebelum selesai sesuai persyaratan
struktural yang telah ditetapkan, kecuali dalam keadaan memaksa dan harus
mendapat persetujuan dari Direksi/ Konsultan.

g.

Setiap akhir pemancangan harus diikuti dengan pengukuran masuknya tiang tiap
pukulan, yang lazim disebut dengan kalendering. Penetapannya harus dilakukan
atas persetujuan Pengawas serta harganya harus dihitung berdasarkan spesifikasi
mesin pancang yang digunakan. Adapun daya dukung tiang yang diharapkan harus
sesuai dengan yang ditentukan oleh Perencana.

h.

Bila waktu pemancangan ada tiang yang menunjukkan hasil kalendering yang
diminta sebelum mencapai kedalaman yang disyaratkan, maka pemancangan harus
dilanjutkan sampai kedalaman yang diminta, kecuali hasil kalendering sudah
mencapai dua kali lipat daya dukung yang diminta (P = 2x daya dukung rencana).

i.

Bila ada tiang yang telah masuk ketanah sampai kedalaman yang diminta, sedang
kalenderingnya belum memenuhi, maka pemancangan harus diteruskan sampai
kedalaman yang harga kalenderingnya sesuai dengan yang telah ditentukan. Bila
diperlukan tambahan panjang tiang pancang, biaya menjadi tanggungan Kontraktor.

j.

Sebelum pemancangan, pemborong harus mempertimbangkan terlebih dahulu resiko


yang mungkin terjadi, misalnya kerusakan pada bangunan sekitarnya. Untuk itu
Pemborong harus mempertimbangkan teknik pemancangan yang sebelumnya harus
didiskusikan dengan Direksi/ Konsultan.

k.

Pemakaian jenis mesin pancang dan beratnya palu pemukul harus disesuaikan. Bila
terjadi kerusakan akibat pemancangan, pemborong harus segera menggantikannya.

Bagian VI | 86

l.

Untuk mencegah kerusakan bidang kontak dengan palu, tiang tidak boleh langsung
dipukul, melainkan harus diberi bahan perantara yang biasanya dibuat dari kayu.

6.9.4.
a.

RETAINING WALL BETON (TURAP BETON)

Konstruksi dan ukuran retaining wall harus dibuat sesuai dengan gambar rencana
dan disetujui oleh Direksi, retaining wall yang dipakai harus dari sumber yang
disetujui dan dalam segala hal memenuhi syarat yang dikehendaki oleh SNI 03-28472002 atau JIS A 5325 1983 dan JIS A 5326 1988.

b.

Retaining wall harus dibangun pada lokasi yang tepat yang diperlihatkan dalam
gambar rencana.

c.

Menggunakan Retaining wall Tipe W 450 B 1000 untuk panjang 15 m dan Tipe W
450 A 1000 untuk panjang 12 m Standar Pacific Prestress Indonesia atau yang
setara dengan.

d.

Kesalahan koordinat titik retaining wall

yang diperkenankan adalah pergeseran

maksimum 7,5 cm. Bila lebih dari batas ini maka harus diadakan perhitungan
kontrol. Segala akibat dari pergeseran tersebut menjadi beban Pemborong.
e.

Dalam pemancangan retaining wall

harus masuk ke dalam tanah secara vertikal.

Kesalahan yang terjadi harus diperhitungkan dan perbaikannya menjadi beban


Pemborong. Untuk mencegah hal itu, proses masuknya retaining wall harus diikuti
mulai awal sampai selesai.
f.

Tidak diperkenankan menghentikan pemancangan dalam kurun waktu yang dapat


mengganggu daya dukung/ lekatan tanah sebelum selesai sesuai persyaratan
struktural yang telah ditetapkan, kecuali dalam keadaan memaksa dan harus
mendapat persetujuan dari Direksi/ Konsultan.

g.

Sebelum pemancangan, Pemborong harus mempertimbangkan terlebih dahulu resiko


yang mungkin terjadi, misalnya kerusakan pada bangunan sekitarnya. Untuk itu
Pemborong harus mempertimbangkan teknik pemancangan yang sebelumnya harus
didiskusikan dengan Direksi/ Konsultan.

h.

Pemakaian jenis mesin pancang dan berat palu pemukul harus disesuaikan. Bila
terjadi kerusakan akibat pemancangan, Pemborong harus segera menggantinya.

i.

Untuk mencegah kerusakan bidang kontak dengan palu, retaining wall tidak boleh
langsung dipukul, melainkan harus diberi bahan perantara yang biasanya dibuat
dari kayu.
Bagian VI | 87

6.9.5.

PEMASANGAN BATU BATA (DINDING)

Dalam lingkup pekerjaan ini termasuk di dalamnya pekerjaan pasangan batu bata dan
pasangan trasraam.
a.

Pasangan batu bata


Semua pasangan tembok batu bata, kecuali pasangan tembok yang harus rapat air,
dibuat dengan campuran 1 PC : 4 PS atau 1 PC : 5 PS. Dinding harus dipasang tegak
lurus, siku dan tidak boleh terdapat retak-retak dan maksimum retak dari batu
merah 20 %. Bata harus berukuran sama menurut aturan normalisasi dan sebelum
dipasang, direndam dahulu dalam air yang jenuh. Bata yang digunakan harus
berkualitas baik dari hasil pembakaran yang masak dan berukuran sama. Semua
bahan harus memenuhi syarat yang ditetapkan dalam peraturan umum untuk
bahan-bahan di Indonesia (PUBI 1970 No. 1 3).
Pasangan trasraam

b.

Pasangan bata dengan perekat 1 PC : 2 PS bahan pencair dengan air biasa. Pasangan
trasraam harus dibuat pada :

Di atas pondasi, sesuai dengan gambar rencana diteruskan setinggi 20 cm


dari lantai.

Semua dinding yang berhubungan dengan toilet atau kamar mandi setinggi
165 cm dari lantai.

c.

Pasangan batu bata


Pelaksanaan pemasangan batu bata adalah sebagai berikut :

Tidak diperbolehkan dipasang batu bata yang pernah dipakai (bekas) atau
batu bata yang pecah-pecah.

Pemasangan tembok batu bata hanya diperbolehkan setinggi 1 m untuk


setiap hari.

Pasangan tembok dengan luas maksimal 9 m2 bila lebih harus dipasang


beton praktis (kolom atau ringbalk).

Semua voog (siar) diantara pasangan batu bata pada hari pemasangan
harus dikeruk sedalam 1 cm pada bagian luar dan dalam.

d.

Perancak tidak boleh dipasang menembus tembok.

Pasangan ris/pasangan satu bata


Bagian VI | 88

Semua pasangan ris tebalnya satu bata dan terdiri dari pasangan bata merah
campuran 1 PC : 3 PS (pasir pasang). Pasangan ris juga dilaksanakan untuk
pekerjaan pasangan-pasangan bata lainnya yang tertanam di bawah tanah dengan
tebal satu bata. Bidang-bidang ris harus diplester campuran 1 PC : 1 PS.
e.

Pekerjaan plesteran
Untuk pekerjaan plesteran dilaksanakan sebagai berikut :
Plesteran dinding di atas trasraam terdiri dari campuran yang sama dengan

spesi pasangan dindingnya.


Plesteran trasraam terdiri dari dinding dalam dan luar disiar dengan

campuran 1 PC : 3 PS.

Plesteran beton bertulang dengan campuran 1 PC : 2 PS.

Plesteran untuk sudut-sudut sponning (benangan) dengan campuran 1 PC :


2 PS.

Semua plesteran setelah cukup kering, selama satu minggu berturut-turut harus
dibasahi.

6.9.6.
a.

BAJA

Seluruh pekerjan baja / besi harus memenuhi ketentuan untuk pekerjaan baja yang
lazim.

b.

Lingkup pekerjaan bagian ini meliputi pengadaan dari bahan (profil, pelat, baut, mur,
angker,

batang

elektroda

las,

cat

dan

sebagainya),

tenaga,

peralatan

dan

perlengkapan serta cara-cara pemasangan dan pemeriksaan/ inspeksi dari semua


pekerjaan baja.
c.

Mutu bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini harus memenuhi mutu untuk :
1.

Profil baja, plat, baut, dan angker

adalah BJ 37

(Kekuatan leleh

minimum sebesar 2400 kg/cm ).


2.

Batang elektroda las yang dipakai harus mempunyai mutu paling


sedikit sama dengan baja yang dilas yaitu kawat las AWS. E 7018.

d.

Seluruh baja yang dipergunakan harus memenuhi standar SII, JIS yang berlaku atau
standar lainnya yang sederajat. Sebelum mulai dengan mendatangkan bahan-bahan,
Kontraktor

diwajibkan

untuk

memberikan

keterangan-keterangan

detail-detail

Bagian VI | 89

seperlunya mengenai bahan-bahan baja yang akan dipakai kepada Pemberi Tugas/
Direksi untuk mendapat persetujuan. Seluruh bahan-bahan baja ini harus lurus dan
tanpa cacat-cacat sebelum dikerjakan. Baja yang ada cacatnya harus diganti/ tidak
dipergunakan.
e.

Pemberi Tugas/ Direksi mewajibkan Kontraktor untuk terlebih dulu menguji/


mengecek bahan-bahan baja yang akan digunakan dalam struktur, minimal 3
periode @ 3 benda uji. Jenis test adalah stress-strain. Bahan-bahan yang gagal
memenuhi persyaratan dalam test seluruhnya ditolak atau sebagai alternatif lain
Pemberi Tugas/ Direksi memerintahkan untuk digunakan hanya terbatas pada
bagian-bagian tertentu

f.

Kontraktor harus menyiapkan gambar kerja menyeluruh untuk struktur dalam 3


copy kepada Pemberi Tugas/ Direksi. Sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan,
gambar kerja harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Direksi.

g.

Gambar

kerja

(shop

drawings)

harus

mengacu

pada

gambar

rencana

dan

mencantumkan semua informasi lengkap antara lain : lubang-lubang baut,


sambungan-sambungan yang tidak tercantum dalam gambar rencana dan semua
penjelasan di lapangan.
h.

Gambar kerja harus mencantumkan semua informasi walaupun tidak tercantum


dalam gambar rencana.

i.

Gambar kerja harus memuat detail-detail seperti ketebalan, tipe, grade, angker, jarak
dan panjang batang dan semua yang berhubungan dengan batang dan alat pengikat
lainnya.

j.

Gambar kerja yang perlu dibuat antara lain detail-detail sambungan, cara-cara
erection dan lain-lain.

k.

Kontraktor

boleh

mengajukan

alternatif

detail-detail

sambungan

dengan

menyertakan perhitungan yang diperlukan dan akan dipertimbangkan oleh Direksi.


l.

Sedapat mungkin dihindarkan pengelasan di lapangan, kecuali yang ditetapkan pada


gambar.

m. Tanggung Jawab atas Kesalahan-kesalahan


Kontraktor harus bertanggung jawab atas semua kesalahan-kesalahan dalan detail
pembuatan dan pemasangan yang tidak sempurna dari bagian-bagian struktur.
n.

Semua material dan contoh hasil kerja harus diperlihatkan kepada Direksi berupa
contoh untuk disetujui. Pengajuan contoh-contoh untuk persetujuan Direksi harus

Bagian VI | 90

diserahkan dalam waktu yang secepat mungkin (minimal bulan sebelum jadwal
pelaksanaan) sesuai dengan jadwal pekerjaan yang telah disetujui.
o.

Kontraktor harus memberi tahu lokasi fabrikasi dan mengijinkan Direksi setiap saat
untuk melihat cara pengerjaan/ fabrikasi di tempat tersebut (workshop Kontraktor).
Kontraktor harus menyerahkan program kerja yang menunjukan semua item
kegiatan pekerjaan dan ereksi bersama dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya
sementara.

p.

Pemotongan baja dan plat yang lebih tebal dari 9 mm tidak boleh dengan cara
menggunting. Pemotongan dengan las tidak diijinkan kecuali ada ijin khusus dari
Direksi.

q.

Pembuatan lubang harus dilaksanakan dengan menggunakan mekanik. Punching


tidak diijinkan. Sisa-sisa pengeboran harus segera dibersihkan.

r.

Penyambungan tidak diperkenankan kecuali dicantumkan dalam gambar yang telah


disetujui Direksi.

s.

Penyambungan dengan baut harus dilakukan dengan cara terbaik yang sesuai
dengan maksudnya, termasuk perlengkapan-perlengkapannya.

t.

Baut yang dipakai baut pas, badan baut harus terdiri dari bagian yang berulir dan
bagian yang tidak berulir disesuaikan dengan tebal baja yang disambung.

u.

Kontraktor yang melakukan pengelasan pada dasarnya harus memperhatikan sifat


mampu las (weldability) material baja dengan berdasarkan 3 aspek pokok :
1.

Sifat-sifat kimia, metalurgi dan fisik material.

2.

Keamanan hasil las sesuai tujuan desain konstruksi.

3.

Cara-cara produksi sehubungan metode pengelasan yang dipakai. Semua


pekerjaan yang berhubungan dengan las harus memenuhi Standar JIS, AWS,
atau DIN.

v.

Penyambungan las digunakan untuk pembuatan profil, sambungan joint, atau


bagian-bagian yang dihubungkan ke struktur utama, assembling struktur utama dan
lain-lain yang ditunjukkan dalam gambar.

w.

Pada dasarnya metode pengelasan yang dipakai adalah las listrik (arc welding).

x.

Batang elektroda yang dipakai harus sesuai dengan persyaratan sebagai berikut :
1.

Kekuatan tarik minimum las 5000 kg/cm2 dan tegangan lelehnya

4200

kg/cm2 pada temperatur ruangan.


2.

Pada uji takik 47 Joule pada temperatur + 28o C mempunyai regangan 22 %.

Bagian VI | 91

y.

Tebal las sudut yang tertera pada gambar adalah tebal efektif, bukan ukuran kaki
las. jika tidak disyaratkan lain dalam gambar, tebal sambungan las harus diambil
minimum 4 mm. Pada las tumpul, pengelasan harus menghasilkan las dengan
penetrasi penuh, sehingga mempunyai kekuatan paling tidak sama dengan elemen
yang disambung.

z.

Kontrol Mutu Hasil Pengelasan


1. Secara visual hasil pengelasan harus bebas dari pori-pori, retak, takikan dan
mempunyai bentuk gelombang (bead) yang baik.
2. Pada tempat-tempat yang diragukan untuk hasil lasnya, harus diadakan uji
mutu dengan ultrasonic atau Sinar Rontgen.
3. Mutu hasil pengelasan harus sesuai dengan standar, misal bila digunakan
Standar DIN 8563 Bagian 3, minimum termasuk kelas BS untuk las tumpul,
dan BK untuk kelas sudut.

6.10.

SPESIFIKASI TEKNIS IPA


Debit / kapasitas pengolahan IPA yang diperlukan adalah 40 L/det yang terdiri
dari 1 unit IPA Paket Fiberglass dengan kapasitas masing-masing 40 L/det.
Paket unit menggunakan bahan / material fiberglass dengan tebal disesuaikan
beban untuk kapasitas pengolahan 40 L/det.
Jenis pengolahan IPA Paket yang terdiri dari koagulasi, flokulasi, sedimentasi,
dan filtrasi lengkap dengan pompa pembubuh Aluminium Sulfat dan Chlor dan
bak pengaduk bak pembubuh.
Koagulasi mempunyai kriteria G 500 - 1000.
Flokulasi dengan G menurun dari 80 20 menit.
Sedimentasi
a. Sedimentasi menggunakan plate / tube settler dengan pengurasan sludge
paling cepat 10 hari.
b. Plate / tube settler dibuat dari material fiber dan tidak berbahaya dan tidak
berpengaruh pada kualitas air.
c. Pembersihan dapat dilakukan bergantian dan dibuat 3 (tiga) kompartemen.
d. Kemiringan plate / tube settler adalah 60o terhadap sumbu horisontal.
Filter
a. Jenis filter cepat single media.
b. Direncanakan minimal berjumlah 4 (empat) kompartemen agar saat
backwashing proses produksi masih tetap berjalan.
c. Backwash self cleansing dengan memanfaatkan hidrolik.
d. Saat backwashing dengan kondisi apapun media tidak terbawa / terbuang.

Bagian VI | 92

e. Media filter yang digunakan dari bahan yang tidak berubah bentuk, keras,
dan kuat, paling tidak seperti pasir silika.
f. UC mengikuti kriteria filter cepat yaitu 1,3 sampai 1,7.
Seluruh unit pengolahan dilindungi dengan atap agar lumut dan ganggang tidak
tumbuh dengan cepat.
Pondasi IPA dari strouss pile untuk menopang plat penyangga yang didukung
dengan analisis perhitungan yang menunjukkan bahwa pondasi cukup kuat
untuk menahan beban.
Pipa-pipa yang digunakan jenis Galvanis Iron (GI) dengan Kelas Medium A.
Valve-valve dilengkapi sesuai dengan fungsi dan kebutuhan.
Dalam penawaran telah dilengkapi dengan shop drawing yang detail dan lengkap
dengan dimensi, ukuran, serta keterangan.

6.11.

PEKERJAAN MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL

A.

Persyaratan Umum
1.

Izin Kerja Kontraktor / Instalatir


Kontraktor / Instalatir yang akan mengerjakan pekerjaan listrik ini diharuskan :
a.

Mempunyai Surat Izin Kerja Instalatir (SIKA) Tahun kerja yang berlaku (Pas. Instalasi Klas C).

b.

Mempunyai Tanda Lulus Prakualifikasi (Tanda Daftar Rekanan).

c.

Menunjukkan Surat Kemampuan / Pengalaman Kerja dalam mengerjakan


pekerjaan yang sejenis.

2.

Standar dan Normalisasi


Semua pekerjaan listrik yang dilaksanakan dalam proyek ini harus memenuhi /
mematuhi persyaratan standar dari instansi yang berwenang untuk itu.
a.

Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUlL) 2000.


Standar Konstruksi / Normalisasi PLN.
Peraturan-peraturan PLN / Jawatan Keselamatan Kerja setempat.
Standar / Normalisasi : SII dan SLI
VDE/DIN
JIS/JEC

b.

Semua Peralatan Jaringan Dstribusi Tegangan Rendah disesuaikan untuk


tegangan kerja 220/380 V, 50 Hz.

c.

Semua Peralatan Jaringan Distribusi Tegangan Menengah disesuaikan untuk


tegangan kerja 20 kV.
Bagian VI | 93

3.

Ruang Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan-pekerjaan yang termasuk dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat
pekerjaan (RKS) adalah Instalasi Listrik yang meliputi :
a.

Pengurusan dan pembayaran sampai selesai penyambungan daya listrik


PLN.

b.

Pengadaan dan pemasangan Panel Distribusi (LVMDP).

c.

Panel pompa dengan Inverter untuk mengendalikan motor pompa lengkap


dengan sistem penanganannya (WLC, P.S dll).

d.

Pengadaan dan pemasangan kabel-kabel untuk keperluan tersebut di atas.

e.

Pengadaan dan pemasangan level controller berikut kabel-kabel untuk


otomatisasi pompa terhadap level air di reservoir.

f.
4.

Pengadaan dan Pemasangan Grounding System.

Gambar-gambar Listrik
a.

Gambar-gambar listrik menunjukkan secara teknis pekerjaan listrik yang


harus dilaksanakan dimana dicantumkan besaran listrik serta keterangan
lain yang diperlukan.

b.

Pelaksana diwajibkan memeriksa gambar / desain terhadap kemungkinan


adanya kesalahan atau ketidakcocokan dalam hal-hal yang berhubungan
dengan fabrikasi maupun pelaksanaan pemasangannya.

c.

Sebaiknya hal tersebut diajukan sebelum memasukkan penawaran.


Apabila hal tersebut tidak dilakukan, maka Instalatir / Kontraktor dianggap
sudah memahami secara keseluruhan.

d.

Bila dikemudian hari diadakan penyesuaian oleh Pemberi Pekerjaan yang


mengakibatkan perubahan dalam pelaksanaan, maka menjadi kewajiban
Kontraktor untuk melaksanakannya tanpa adanya biaya tambahan.

e.

Pelaksanaan di lapangan selain yang tertera pada gambar disesuaikan


dengan kondisi lapangan atas petunjuk Direksi / Pengawas Lapangan secara
tertulis / lisan.

f.

Bila Kontraktor menganggap perlu adanya perubahan ukuran / konstruksi


dalam pelaksanaan, maka Kontraktor diwajibkan mengajukan alternatif yang
dikehendaki dan mendapat persetujuan dari Pengawas / Direksi. Perubahan
ini tidak boleh mengakibatkan adanya tambahan biaya bagi Pemberi
Pekerjaan.

Bagian VI | 94

g.

Segala perubahan yang sengaja dilakukan Kontraktor tanpa Izin Direksi /


Pengawas Lapangan adalah resiko Kontraktor, bila nantinya tidak disetujui
Direksi / Pengawas Lapangan dan harus terpaksa dibongkar. Kontraktor
dalam hal ini tidak diperkenankan menuntut ganti rugi.

h.

Kontraktor diwajibkan membuat gambar kerja untuk gambar yang perlu


detail fabrikasi atau konstruksi serta gambar pelaksanaan (as built drawing)
yang sesuai dengan keadaan yang dilaksanakan di lapangan. Gambar-gambar
tersebut harus mendapat persetujuan dari Manajer Konstruksi / Direksi.

i.

Gambar pelaksanaan harus dibuat rangkap 5 (lima) dan diserahkan


kepada Direksi / Pemberi Pekerjaan.

j.

Gambar-gambar instalasi listrik yang akan dikirimkan ke PLN terlebih


dahulu harus melalui Direksi dan setelah mendapatkan pengesahan dari
PLN, satu copy diberikan kepada Direksi.

5.

Pelaksanaan Pekerjaan
a.

Semua pekerjaan harus dilaksanakan dengan baik oleh tenaga-tenaga ahli


yang sudah berpengalaman. Pelaksana yang dianggap tidak cukup ahli /
berpengalaman oleh Direksi / Pengawas Lapangan, harus segera diganti
dengan orang lain setelah mendapat persetujuan Direksi / Pengawas
Lapangan.

b.

Kontraktor diharuskan menyediakan tenaga pelaksana yang terlatih dalam


jumlah yang cukup untuk menangani pekerjaan secara simultan. Pengawas /
Direksi berhak memerintahkan penambahan tenaga kerja apabila diperlukan.

6.

Bahan/Material dan Peralatan


a.

Bahan/material dan peralatan yang digunakan pada pekerjaan ini harus


disediakan oleh Kontraktor dan harus dalam keadaan baru serta mendapat
persetujuan Direksi.

b.

Semua bahan/material yang akan dipergunakan diutamakan produksi


dalam negeri, sejauh mana bahan/material tersebut masih memenuhi
persyaratan teknis dan standar yang berlaku.

c.

Kontraktor diwajibkan menyerahkan contoh bahan/material yang disebut


dalam lingkup pekerjaan kepada Direksi / Pengawas Lapangan untuk
mendapat persetujuan sebelum dipasang.

Bagian VI | 95

d.

Apabila hal tersebut tidak memungkinkan, minimum brosur spesifikasi


teknis harus ditunjukkan dan disetuiui Direksi / Pengawas Lapangan.

7.

Sistem Koordinasi
Untuk

a.

memudahkan

komunikasi

menempatkan seorang atau lebih

teknis,

Pemimpin

Kontraktor

Lapangan

yang

harus
dapat

mewakili Kontraktor, menerima perintah /


petunjuk Direksi / Pengawas Lapangan dan segera melaksanakannya bila
diperlukan.
Kontraktor diwajibkan membuat laporan berkala (harian / mingguan)

b.

yang memberikan gambaran tentang kegiatan proyek, misalnya :

Jadwal waktu pelaksanaan,

Kegiatan pelaksanaan,

Prestasi kegiatan fisik,

Catatan perintah / petunjuk Direksi / Pengawas Lapangan yang


disampaikan secara lisan atau tertulis,

8.

Dan kegiatan pekerjaan lain yang dianggap perlu.

Pengujian/Testing
a.

Untuk mengetahui bahwa semua pekerjaan yang telah dilaksanakan


dapat berfungsi dengan baik dan telah sesuai dengan persyaratan teknis yang
diminta, maka Kontraktor diwajibkan menguji seluruh pekerjaannya dengan
standar uji masing-masing yang telah ditetapkan dalam peraturan atau
spesifikasi peralatan.

b.

Pengujian ini dilaksanakan di bawah pengawasan Direksi / Manajer /


Pengawas Lapangan yang ditunjuk. Jadwal pelaksanaan pengujian dapat
diatur seminggu sebelumnya / atas persetujuan bersama.

c.

Semua bahan yang kurang baik, pemasangan yang kurang sempurna


yang diketahui pada saat pemeriksaan/pengujian harus segera diganti
dengan yang baru / disempurnakan sampai dapat berfungsi dengan baik dan
sesuai standar uji yang ada.

d.

Pengujian ini antara lain berupa :


1). Pemeriksaan visual,
2). Pemeriksaan pekerjaan sambungan mekanis / listrik,
3). Pengukuran tahanan isolasi dan pentahanan,

Bagian VI | 96

4). Pengujian dengan beban dalam keadaan bertegangan.


Semua hasil pengujian harus dicatat dan ditanda tangani bersama.
Semua biaya yang diperlukan untuk pengujian ini menjadi tanggung

e.

jawab pihak Kontraktor, termasuk biaya pengurusan dan pengesahan


instalasi dari instansi yang berwenang (PLN dan Depnaker).
9.

Garansi
Semua pekerjaan, pemasangan, perlengkapan dan bahan yang telah

a.

dipasang oleh Kontraktor harus digaransi selama 3 (tiga) bulan sejak masa
penyerahan pertama.
Selama masa garansi ini semua perlengkapan, bahan dan pengerjaannya

b.

yang kurang baik/rusak (yang bukan disebabkan oleh salah pakai, salah
operasi)

harus

secepatnya

diganti

atau

diperbaiki

atas

tanggungan

Kontraktor.
10. Lain-lain
a.

Bagian-bagian yang termasuk dalam pekerjaan ini, yang secara teknis


tidak dapat dipisahkan/diabaikan/dihilangkan tetapi belum disebutkan
dalam bestek / gambar, tetap harus dilaksanakan Kontraktor tanpa biaya
tambahan.

b.

Hal-hal lain yang menyangkut pelaksanaan lapangan tetapi belum


disebutkan dalam peraturan ini, akan ditentukan lebih lanjut oleh Direksi /
Pengawas Lapangan.

B.

Persyaratan Teknis
11. Kabel yang Digunakan
a.

Kabel yang digunakan pada pekerjaan ini adalah kabel yang sudah
direkomendasi oleh LMK menurut standar PUIL/SPLN/SII dengan merek
Kabelindo, Kabelmetal, Supreme atau Tranka.

b.

Kabel-kabel hanya boleh disambung di tengah apabila panjang kabel


maksimum yang diproduksi oleh pabrik lebih pendek dari panjang saluran
yang harus dipasang. Penyambungan kabel di tengah saluran dengan alasan
lain tidak dibenarkan.

c.

Jenis kabel yang digunakan adalah :


1).AAAC 20 kV digunakan untuk Saluran Udara Tegangan Menengah.
Bagian VI | 97

2).NYY 1 KV digunakan untuk saluran :

dari Transformator ke Panel LVMDP / MCC.

3).NYY 1 kV digunakan untuk saluran dari LVMDP

ke

Panel

Pompa /

Junction Box.
4).NYY 1 KV digunakan untuk :

saluran dari panel pompa ke pompa dan peralatan kontrolnya.

12. Saluran Kabel Distribusi dan Instalasi Tenaga (Pompa dan Peralatannya)
a.

Kabel NYY /

NYFGbY dlm saluran sedalam 80 cm untuk daerah di

dalam batas halaman lokasi dan sedalam 100 cm untuk saluran di luar batas
halaman dan di tepi jalan.
b.

Bagian bawah galian diberi alas pasir 10 cm dan urugan pasir setebal 15
cm di atas kabel, di atas lapisan pasir tersebut dilindungi dengan batu merah
yang dipasang melintang serapat mungkin. Berikutnya diurug dengan tanah
galian sampai permukaan tanah.

c.

Di atas jalan galian kabel di setiap belokan atau bagian saluran yang
lurus dengan panjang maksimum 50 m dipasang patok kabel (cable marker)
dengan ukuran seperti gambar.

d.

Kabel NYY yang ditanam harus dilindungi pipa PVC AW, diletakkan
rata di dalam lubang galian setelah diberi alas pasir kemudian ditimbun,
sesuai butir a dan b.

e.

Bagian kabel yang dipasang vertikal / menempel tembok harus


dilindungi dengan pipa PVC C dengan diameter yang sesuai, misalnya kabel
yang menuju panel.

f.

Kabel NYY dalam bangunan rumah pompa dipasang pada got kabel yang
tersedia, got harus diisi pasir dan ditutup plat bordes.

g.

Sambungan kabel NYY dalam tanah harus menggunakan bahan dan


peralatan sambungan merek 3 M.

h.

Sambungan ujung kabel harus menggunakan sepatu kabel sistem press


yang sesuai ukurannya dengan sepatu kabel eks Jerman atau Jepang.
Sambungan kabel model yang lain harus dengan sepengetahuan dan
persetujuan Direksi / Pengawas Lapangan.

Bagian VI | 98

Kabel NYY dipasang pada saddle clamp di tembok dengan jarak klem

i.

maksimum 50 cm, kabel dan tembok ke peralatan ditanam dengan pipa PVC
C berdiameter yang sesuai.
Kabel-kabel dipasang dan diatur sedemikian rupa sehingga aman, rapi,

j.

dan memenuhi syarat.


Pekerjaan kabel-kabel tanah harus diberi untaian (slang).

k.

13. Persyaratan Pekerjaan Panel Tegangan Rendah


a.

Konstruksi Box Panel.


1.

Panel harus terbuat dari plat baja, dengan rangka yang terbuat dari besi
siku atau besi plat yang dibentuk dan diberi cat dasar dengan meni tahan
karat serta difinish dengan cat bakar warna abu-abu. Ketebalan plat baja
untuk dinding adalah 1,5 mm dan pintu 2 mm.

2.

Dalam box panel harus disediakan sarana pendukung kabel yang


diketanahkan (grounding) dan busbar pentanahan yang berfungsi untuk
dudukan ujung kabel pentanahan.

3.

Pada dinding panel bagian sisi kiri dan kanan harus disediakan lubang
ventilasi serta pada bagian dalamnya diberi plat/lapisan pelindung
sehingga dapat dicegah kemungkinan terjadinya tusukan secara langsung
terhadap bagian-bagian dalam panel yang bertentangan.

4.

Pada circuit breaker, sepatu kabel, kabel incoming dan out going serta
terminal penyambungan kabel harus diberi indikasi/label mengenai
nama beban atau kelompok beban yang dicatu daya listriknya.

Busbar dan Terminal Penyambungan

b.
1.

Panel harus sesuai untuk sistem 3 phasa, 4 kawat dan mempunyai 5


busbar dimana busbar pentanahan terpisah. Busbar harus memiliki
kemurnian tembaga diatas 95 % dan harus tidak menyebabkan keretakan
permukaan jika ditekuk 90 derajat. Busbar terbuat dari tembaga dengan
kemurnian yang tinggi dengan kemampuan arus minimum 1,5 kali
kapasitas / kemampuan pengaman utamanya.
Semua busbar harus dicat dengan warna sesuai ketentuan PUIL 2000,
yaitu :

Bagian VI | 99

a.

Fasa R dengan warna mMerah,

b.

Fasa S dengan warna kuning,

c.

Fasa T dengan warna hitam,

d.

Fasa Netral dengan warna biru,

e.

Fasa Pembumian dengan warna hijau-kuning.

Busbar

harus

ditopang

kokoh

pada

rangka

konstruksi

dengan

menggunakan penyangga dan dijepit pertinax pada beberapa tempat


sehingga konstruksi busbar cukup kuat dan tidak lentur / bergetar.
Tahanan isolasi terhadap body/rangka minimum 50 M ohm.
2.

Pemasangan kabel (untuk semua ukuran luas penampang kabel) pada


busbar dan terminal penyambungan harus mengunakan sepatu kabel.
Circuit Breaker / Pemutus Daya.

c.
1.

Peralatan pengaman / circuit breaker ( ACB/MCCB/COS) yang dipasang


pada base plate atau plat dasar yang terpasang kuat pada rangka panel.

2.

Untuk memudahkan pengenalan distribusi beban pada setiap breaker


dan peralatan yang lain harus diberi nama yang dapat dibaca dengan
jelas.

3.

Circuit breaker yang digunakan dari Tipe MCCB dan MCB yang dilengkapi
dengan thermal overcurrent release dan electromagnetic overcurrent release
yang rating ampere tripnya dapat diatur.

4.

Circuit breaker harus mampu mengamankan beban apabila terjadi arus


lebih hubung singkat tegangan sangat rendah, tegangan sangat tinggi,
hilang salah satu phasa.

5.

Circuit breaker untuk proteksi motor-motor listrik harus menggunakan


circuit breaker yang dirancang khusus untuk pengamanan.

6.

Breaking capacity dan rating circuit breaker yang digunakan harus sebesar
yang tercantum pada BQ.

7.

Pemasangan MCB harus menggunakan omega rail, sedangkan MCCB dan


komponen lainnnya seperti relay contactor, time switch lain harus
menggunakan dudukan plat.

8.

Pemasangan

komponen-komponen

tersebut

harus

rapi

dan

kokoh

sehingga tidak lepas oleh gangguan mekanis dan thermis.


d.

Alat Ukur / Indikator.

Bagian VI | 100

1.

Panel LVMDP dilengkapi dengan alat-alat ukur seperti :


a.

Volt meter lengkap dengan Selector Switch Volt.

b.

Ampere meter dengan Current Transformer pada masing-masing


phasa. Ampere meter yang digunakan mempunyai range pengukur
sesuai dengan rating incoming circuit breakernya.

c.

Lampu indikator yang digunakan adalah :

Warna merah untuk phasa R,

Warna kuning untuk phasa S,

Warna hijau untuk phasa T,

Dan lampu-lampu indikator tersebut harus diproteksi dengan


fuse.

14. Panel Distribusi dan Kotak Sambungan


a.

Panel yang dikerjakan adalah panel pompa tipe indoor.

b.

Badan panel terbuat dari plat baja tebal 1,5 mm, sedangkan pintu panel
terbuat dari pelat baja tebal 2 mm.

c.

Panel distribusi listrik dilengkapi

dengan meter-meter serta lampu

indikator sesuai dengan gambar.


d.

Ukuran busbar minimal mempunyai kemampuan hantar arus 150 %


dari arus nominal saklar utama.

e.

Setiap panel harus menggunakan wartel mur (cable gland) untuk jalan
keluar / masuk kabel sesuai banyaknya pengaman yang terpasang di
dalamnya.

f.

Pintu panel harus dilengkapi dengan handle yang dapat dikunci dengan
kunci berkualitas baik.

g.

Semua komponen dan peralatan panel harus menggunakan barang baru


dalam kondisi baik tanpa cacat.

h.

Panel peralatan dicat empat kali, cat dasar anti karat dua kali dan cat
akhir epoxy paint dua kali. Bagian dalam dengan warna putih, bagian luar
dengan warna oranye. Untuk panel penerangan bagian luar dicat dengan
warna abu-abu.

i.

Panel harus dilengkapi dengan gambar skema rangkaian listrik lengkap


dengan keterangan mengenai bagian instalasi yang diatur oleh panel tersebut.

Bagian VI | 101

15. Peralatan Pompa


15.1 UMUM

a.

Penyedia Jasa harus menyampaikan pompa dan perlengkapannya sesuai


spesifikasi yang ditentukan. Penyedia jasa harus menyampaikan spesifikasi
yang lengkap termasuk kurva performance dan shop drawing. Semua
peralatan harus baru dari Pabrik dan memiliki kwalitas material terbaik dan
desain dengan kokoh/kuat dan tidak keropos.

b.

Ukuran standar yang dipergunakan untuk pompa ini adalah SII (Standar
Industri Indonesia) dan apabila dalam standar SII tidak ada maka yang
digunakan Standar International yang dapat diterima dan standar desain
pabrik yang dipakai setidak-tidaknya sama ata sesuai dengan spesifikasi
teknik yang diterapkan.

c.

Penawar harus mengetahui bahwa didalam evaluasi teknis akan


dipertimbangkan mengenai performance pompa yang ditawarkan harus
melalui batas kerja yang ditetapkan.Operasi dari pompa harus dapat
mencapai titik optimum performance dan variasi debit aliran dari kriteria ini
tidak melampaui 15%.Semua pompa harus mampu bekerja secara kontinyu
pada titik kerja yang ditetapkan.

d.

Pada Pompa harus terpasang label dari bahan tahan karat yang
menjelaskan spesifikasi mengenai Nama Pabrik,Debit Pompa,Head,Model dan
Kode Nomer seri dan data-data lain yang diperlukan.

e.

Flange hisap dan tekan harus sesuai dengan Standar ISO 2531 PN 10

f.

Semua perlengkapan harus didesain untuk operasi secara terus


menerus (kontinyu)dengan temperatur +/- 35 derajad celcius dengan
kelembaban +/- 95%

g.

Pompa didesain secara aman dalam pengoperasiannya untuk melindungi


personil operator dari bagian-bagian pompa yang bergerak.

h.

Pada pompa tersedia lubang-lubang untuk memberikan minyak pelumas


untuk service secara kontinyu.

i.

Semua peralatan mekanikal dan elektrikal harus diadakan uji coba


secara terus menerus selama 2 x 24 jam yang disupervisi dari penyedia
barang.

Bagian VI | 102

15.2 Pompa Centrifugal / Pompa Dorong.


Pompa Centrifugal harus sudah terkopel dengan motor penggerak yang mempu
nyai daya cukup dengan sambungan poros tetap.
Pompa Centrifugal harus maximum mempunyai putaran lebih kurang 2900 RPM
Sedangkan pada head yang lebih tinggi dapat menggunakan pompa multi stage.
Impeller pompa dapat menggunakan bahan besi tuang,besi cor atau sejenisnya
Tetapi tidak direkomendasikan dari bahan fiber glass,plastik atau sejenisnya.
Untuk kepentingan pemeliharaan semua bagian pompa harus mudah diganti.

15.3 Pompa Submersible.


Pompa Submersible harus memiliki couple elektrik yang kokoh yang sesuai
untuk dioperasikan dalam lubang sumur bor dengan diameter tertentu.
Pompa Submersible dengan rate power lebih dari 40 kW motor power input
harus menggunakan sistem basah
Pompa Submersible dengan rate power lebih kecil dari 40 kW bisa mengguna
Kan salah satu desain sistem electric basah atau kering.
Air yang akan dipompa dari sumur bor terbebas dari pasir dan kerikil.
Pompa yang ditawarkan terbuat dari bahan stainless steel.
Badan pompa harus terpasang dalam bagian terpisah untuk tiap tingkat,
terpasang menjadi satu secara akurat dengan baut2 dari bahan stainless steel.
Desain pompa yang dikehendaki adalah dengan menggunakan bahan-bahan
yang mudah untuk diganti seperti impeller,,stage cassing dan sebagainya.
Semua bagian2 yang dapat aus seperti bearing linier dan trust bearing harus
dapat diganti/diperbaiki dengan cara yang mudah.

15.3 Panel Pompa.


Setiap pompa yang disupply dan dilengkapi dengan panel pompa harus meme-

Bagian VI | 103

nuhi sebagai berikut :


a. Panel Pompa harus ditempatkan / dilindungi untuk box yang dari plat baja
yang kokoh dan dicat dengan kwalitas yang baik ( lihat PANEL DISTRIBUSI )
b. Panel Pompa harus menggunakan motor stater dengan Inverter dan semua
komponen Panel yang dipergunakan harus memenuhi syarat dan di jamin
keasliannya.

c. Untuk Inverter yang dipergunakan harus mempunyai :


- Rate Voltage Input 380 V -15% + 10%,tiga fasa
- Frekwensi input 48 63 Hz.
- Untuk digunakan dengan Generator,,AC Drive akan beroperasi 40-72 Hz
- Daya Fundamental Faktor 0,97 atau lebih,baik pada beban normal.
- Efisiensi lebih besar atau sama dengan 98% pada beban nomonal.
- Memenuhi standar tertinggi EMC (Eletro Magnetic Compatiblity,standar CE
- Kualitas Torsi yang tinggi.
- Automatic Energy Optimisation ( AEO ) : save 5 15% energy.
- Indeks Proteksi : IP 21 atau IP 54
- Proteksi : Utama perlindungan arus lebih,hubung singkat antara fasa,
hubung singkat antara fasa dan tanah,kehilangan masukkan fasa,
kerugian daya fasa,tegangan lebih,undervoltage,overspeed,overtemperature
heatsink,kesalahan internal lainnya.
d. Untuk Pengaman motor pompa maka panel pompa harus dilengkapi dengan
- Water Level Control.
e. Panel pompa harus dilengkapi dengan Exhaus Fan dan fasilitas penerangan
lokal.
f. Untuk mengontrol kerja pompa/pengendalian maka pada pintu panel pompa
harus dilengkapi dengan :
- 1 buah Volt Meter lengkap dengan selektor switch.
- 3 buah Ampere Meter dengan skala yang sesuai.

Bagian VI | 104

- Lampu Kontrol ON,RUN,TRIP dan Horn.


- Push button ON,OFF dan Tombol Emergency Stop.

16. Umum.
a. Sebelum pompa dipasang harus dilakukan pengecekan bersama antara
pelaksana dan pengawas lapangan,bahwa barang dalam keadaan baik dan
siap dipasang.
b. Prosedur pemasangan pompa harus sesuai dengan petunjuk dari pabrik
serta menggunakan material handling sesuai ketentuan pabrik.
c. Khusus untuk pompa Centrifugal sebelum dilakukan pemasangan,pondasi
dudukkan harus sudah kuat dan dalam keadaan rata.
d. Untuk pompa Subnersible ,sebelum dilakukan pemasangan peralatan dan
perlengkapan pompa harus tersedia lengkap di lokasi.
e. Pemasangan Pompa harus dilakukan secara hati-hati agar tidak berakibat
fatal.

17. Peralatan dan Perlengkapan yang dibutuhkan


17.1 Peralatan yang dibutuhkan.
a. Trippod tinggi 6 meter atau lebih lengkap dengan tackle berkekuatan 2,5 ton
atau lebih.
b. Klem dua pasang lengkap dengan bautnya.
c. Kunci pas dan kunci rantai.
d. Mesin las dengan elektrodenya.
e. Sling (tali baja) berdiameter 15 mm atau lebih sepanjang kedalaman pompa
ditambah 2 (dua) meter.
f. Tali pengikat kabel sesuai dengan spesifikasi pabrik pompa.
17.2 Perlengkapan Pompa.
Perlengkapan yang harus dipasang adalah :
a. Kabel yang sesuai dengan jenis,ukuran dan kebutuhan pemasangan pompa.
b. Pemasangan Panel harus memenuhi standar PLN dan Peraturan lainnya (
PUIL 2000 ).
c. Untuk penyambungan kabel power dan kabel kontrol harus dilengkapi dengan

Bagian VI | 105

Junction Box ( tipe Out door ).


d. Pipa Kolom yang digunakan adalah pipa jenis GI dengan sambungan flange
diameter dan panjang pipa sesuai kebutuhan.
e. Untuk pemasangan pompa Centrifugal ,pipa hisap dan pipa tekan yang digunakan adalah pipa GI dengan diameter dan sambungan flange dilengkapi
dengan water meter,air valve,check valve,mano meter dan accessories lainnya
17.3 Cara Pemasangan.
a. Tripod didirikan dengan posisi titik ujung tripod tepat ditengah cassing sumur
atau pondasi yang ada.
b. Untuk pemasangan pompa Submersible pompa diturunkan dengan cara penyambungan satu persatu pipa kolom. Penyambungan pipa kolom dilakukan
dengan mengikat baut pada flens dengan jumlah sesuai dengan lubang flans.
c. Pengamanan terhadap pompa dilakukan dengan memakai tali baja. Hal ini
untuk menghindari kerusakan pompa / kabel bila klem meleset.
d. Kabel pompa dan kabel elektroda pada posisi yang telah ditetapkan pada
pipa kolom dengan klem karet minimal setiap 2 meter panjang.
e. Untuk pemasangan Pompa Centrifugal diameter dan panjang pipa hisap harus
sesuai dengan standar dan gambar agar tidak terjadi kavitasi.
f. Pada ujung pipa hisap harus dilengkapi dengan katup kaki yang bisa
berfungsi dengan baik.

17.4 Uji Coba.


Setelah pemasangan pompa harus dilakukan uji coba selama 2 x 24 jam dan
Dibuat berita acara yang ditanda tangani oleh pelaksana dan pengawas
Lapangan.

18. Sistem Pentanahan


j.

Sistem pentanahan yang digunakan pada instalasi ini adalah sistem PNP
(Pentanahan Netral Pengaman) sesuai aturan yang digunakan pada PUIL
2000.

k.

Elektrode pentanahan mengunakan elektrode pipa dengan ground rod


5/8 dan kawat BC yang ditanam sedalam minimal 6 (enam) meter hingga
Bagian VI | 106

dicapai tahanan pentanahan minmal 1 (satu) Ohm. Apabila tidak tercapai


keadaaan 1 Ohm maka harus diusahakan dengan memparalelkan beberapa
ground rod hingga tercapai keadaan yang diinginkan.
Bila perlu elektrode pentanahan untuk badan peralatan dan panel harus

l.

dipisahkan penanamannya sejauh minimum 3 (tiga) meter satu dengan yang


lainnya.
Saluran pentanahan dari elektrode pentanahan sampai ke badan

m.

peralatan harus dilindungi dengan pipa PVC High Impact 20 mm.


n.

Penampang kawat pentanahan adalah 50 mm2.

o.

Titik pentanahan peralatan listrik ini harus dipisahkan dengan sistem


pentanahan penangkal petir minimal sejauh 10 (sepuluh) meter.

16. Standar Pemakaian Material


a.

Box Panel

b.

Komponen Panel

: Lokal

Change Over Switch

: Socomec

MCCB.MCB

: MG

Magnetic Contactor

: Telemecanique

Thermal Over Load Relay : Telemecanique

Volt Meter & SSV

: GAE

Ampere Meter & CT

: GAE

Lampu Indikator

: Telemecanique

Push button

: Telemecanique

Emergency Stop

: Telemecanique

c.

Busbar

d.

Kabel

e.

Tranformator

: Unindo, Trafindo

f.

Inverter

: MG, ABB,Danfoss

g.

Pompa

: Grundfos,Lowara,Ebara.

: Import
:

Supreme, Kabelindo, Tranka, Kabel Metal

Bagian VI | 107

Bagian VI | 108

Anda mungkin juga menyukai