Anda di halaman 1dari 23

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Air Susu Ibu (ASI)


1. Definisi ASI
ASI adalah air susu yang keluar dari seorang ibu pasca melahirkan
bukan sekedar sebagai makanan, tetapi juga sebagai suatu cairan yang
terdiri dari sel-sel yang hidup seperti sel darah putih, antibodi, hormon,
faktor-faktor pertumbuhan, enzim, serta zat yang dapat membunuh bakteri
dan virus. ASI eksklusif adalah pemberian hanya ASI saja tanpa makanan
dan minuman lain, baik berupa susu formula, jeruk, madu, air teh, air
putih, maupun makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit,
bubur nasi dan tim (Roesli, 2005).
Air Susu Ibu merupakan makanan yang ideal untuk bayi terutama
pada bulan-bulan pertama, karena mengandung zat gizi yang diperlukan
bayi untuk membangun dan menyediakan energi (Pudjiadi, 2000).
ASI bukan minuman, namun ASI merupakan satu-satunya makanan
tunggal paling sempurna bagi bayi hingga usia 6 bulan. ASI cukup
mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi. Selain itu, secara
alamiah ASI dibekali enzim pencerna susu sehingga organ pencernaan
bayi mudah mencerna dan menyerap gizi ASI. Sistem pencernaan bayi
usia dini belum diberikan pada bayi ASI saja hingga usia 6 bulan, tanpa
tambahan minuman atau makanan apapun (Arief, 2009).

2. Komposisi ASI
Berdasarkan stadium laktasi komposisi ASI dibagi menjadi 3 bagian
yaitu kolostrum, ASI transisi/ peralihan, dan ASI matur. Kolostrum adalah
cairan emas, cairan pelindung yang kaya zat anti infeksi dan berprotein
tinggi yaitu 10-17 kali lebih dibanding ASI matur, serta kadar karbohidrat

dan lemak yang rendah, volume tersebut mendekati kapasitas lambung


bayi yang baru berusia 1-2 hari dan kolostrum harus diberikan pada bayi
(Roesli, 2000). ASI transisi atau peralihan adalah ASI yang keluar setelah
kolostrum sebelum menjadi ASI matang, kadar protein semakin rendah
sedangkan karbohidrat dan lemak semakin tinggi dan volume makin
meningkat. ASI matur merupakan ASI yang keluar sekitar hari ke-14
sampai seterusnya, dengan komposisi yang relatif konstan. Pada ibu yang
sehat dengan produksi ASI yang cukup, ASI merupakan satu-satunya
makanan yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai 6 bulan (Roesli,
2000).
3. Volume Produksi ASI

Pada bulan terakhir kehamilan kelenjar-kelenjar pembuat air susu


mulai menghasilkan ASI. Dalam kondisi normal, pada hari pertama dan
kedua sejak lahir, air susu yang dihasilkan sekitar 50-100 ml sehari.
Jumlahnyapun meningkat hingga 500 ml pada minggu kedua. Dan
produksi ASI semakin efektif dan terus menerus meningkat pada hari 10
14 hari setelah melahirkan. Bayi yang sehat mengkonsumsi 700 -800 ml
ASI setiap hari. Setelah memasuki masa 6 bulan volume pengeluaran ASI
mulai menurun (Prasetyono, 2009).

4. Struktur Payudara
Payudara wanita dirancang untuk memproduksi ASI. Pada setiap
payudara terdapat 20 lobus dan setiap lobus memiliki sistem saluran
(duct sistem). Saluran utama bercabang menjadi saluran-saluran kecil
yang berakhir pada sekelompok sel-sel yang memproduksi susu, yang
dinamakan alveoli. Saluran melebar menjadi tempat penyimpanan susu,
yang bermuara pada puting payudara. Adapun sel-sel otot mengelilingi
alveoli (Prasetyono, 2009).

5. Produksi ASI
Setelah melahirkan, laktasi dikontrol oleh dua macam reflek.
Pertama, reflek produksi air susu (milk production refleks). Bila bayi
menghisap puting payudara, maka akan diproduksi suatu hormon yang
disebut prolaktin (prolactin), yang mengatur sel-sel dalam alveoli agar
memproduksi air susu. Air susu tersebut dikumpulkan dalam saluransaluran air susu. Kedua, refleks mengeluarkan (let down reflex). Isapan
bayi juga merangsang produksi hormon lain yang dinamakan oksitosin
(oxytocin), yang membuat sel-sel otot di sekitar alveoli berkontraksi,
sehingga air susu didorong menuju puting payudara. Jadi, semakin bayi
menghisap semakin banyak air susu yang dihasilkan (Prasetyono, 2009).
Reflex let down adalah rangsangan dari isapan bayi dilanjutkan ke
neurohipofise (hipofisis posterior) yang mengeluarkan oksitosin. Hormon
oksitosin diangkut ke uterus melalui aliran darah yang menimbulkan
kontraksi pada uterus sehingga terjadi involusi dari organ tersebut.
Oksitosin sampai ke alveoli mempengaruhi sel miopitelium. Kontraksi
dari sel akan memeras susu keluar dari alveoli masuk ke ductus yang
akan mengalir melalui ductus lactiferus masuk ke mulut bayi. Faktorfaktor yang meningkatkan reflex let down adalah melihat bayi,
mendengarkan suara bayi, mencium dan memikirkan bayi, sedangkan
yang menghambat adalah keadaan bingung atau pikiran kacau, takut,
merasa sakit, atau malu ketika menyusui dan cemas (Kristiyanasari,
2009).
Bayi mempunyai suatu refleks pengisapan (suckling reflex).
Dengan adanya refleks ini, air susu akan diperas dari ampula menuju
mulut bayi. Pengisapan puting menunjukan gerakan yang berbeda, jika
dibandingkan dengan pengisapan dot (Prasetyono, 2009).

6. Manfaat ASI
Besarnya manfaat ASI telah dikampanyekan oleh UNICEF (United
Nations Childrens Fund) melalui pekan menyusui sedunia atau World

Breastfeeding Week yang diselenggarakan setiap tanggal 17 Agustus.


Kampanye itu antara lain mengajak masyarakat diseluruh dunia, terutama
kaum ibu untuk memberikan manfaat ASI kepada bayi serta mengenal
manfaat pemberian ASI bagi dirinya sendiri (Novianti, 2009).
Manfaat ASI untuk ibu yang menyusui adalah sebagai berikut :
1. Memberikan ASI segera setelah melahirkan akan meningkatkan
kontraksi rahim, yang berarti mengurangi resiko perdarahan.
2. Memberikan ASI juga membantu memperkecil ukuran rahim ke
ukuran sebelum hamil.
3. Menyusui (ASI) membakar kalori sehingga mempercepat
penurunan berat badan.
4. Menyusui mengurangi resiko terkena kanker rahim dan kanker
payudara.
5. ASI lebih praktis karena ibu bisa jalan-jalan keluar rumah tanpa
harus membawa perlengkapan seperti botol, kaleng susu formula
dan air panas.
6. ASI tidak basi karena selalu diproduksi oleh payudara.
Manfaat ASI untuk bayi adalah sebagai berikut :
1. ASI adalah makanan alamiah yang disediakan untuk bayi
dengan komposisi nutrisi yang sesuai untuk perkembangan
bayi.
2. ASI mudah dicerna oleh bayi.
3. ASI kaya akan antibodi yang membantu melawan infeksi dan
penyakit lainnya.
4. ASI menurunkan resiko diare, infeksi saluran kemih dan
menurunkan resiko kematian bayi mendadak.
Manfaat ASI untuk keluarga adalah sebagai berikut :
1. Menghemat pengeluaran karena tidak harus membeli susu
formula
2. Bayi sehat, sehingga keluarga bisa berhemat untuk biaya
perawatan kesehatan.

10

3. Penjarangan kelahiran karena efek kontrasepsi alamiah dari


menyusui.(Novianti, 2009).

7. Langkah- Langkah Menyusui Yang Benar


Langkah-langkah menyusui yang benar adalah : (a) Sebelum
menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting susu
dan areola sekitarnya. Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfektan
dan menjaga kelembaban puting susu. (b) Bayi diletakkan menghadap
perut ibu atau payudara. (c) Payudara dipegang dengan ibu jari di atas
dan jari yang lain menopang di bawah. Jangan menekan puting susu saja
atau areolanya saja. (d) Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut
dengan cara menyentuh pipi dengan puting susu atau menyentuh sisi
mulut bayi. (e) Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi
didekatkan ke payudara ibu dengan puting serta areola dimasukkan ke
mulut bayi. (f) Usahakan sebagian besar areola dapat masuk ke dalam
mulut bayi, sehingga puting susu berada di bawah langit-langit dan lidah
bayi akan menekan ASI ke luar dari tempat penampungan ASI yang
terletak di bawah areola. (g) Setelah bayi mulai menghisap, payudara
tidak perlu disanggah lagi (Perinasia, 2003).

8. Faktor Penyebab Berkurangnya ASI (IDAI, 2008).


a). Faktor Menyusui
Hal-hal yang dapat mengurangi produksi ASI adalah tidak
melakukan inisiasi, menjadwal pemberian ASI, bayi diberi minum
dari botol atau dot sebelum ASI keluar, kesalahan pada posisi dan
perlekatan bayi pada saat menyusui.
b). Faktor Psikologi Ibu
Setelah proses kelahiran tanggung jawab keluarga bertambah
dengan hadirnya bayi yang baru lahir, dorongan serta perhatian
anggota keluarga lainnya merupakan dukungan positif bagi ibu.

11

Perubahan psikologis mempunyai peranan yang sangat


penting. Pada masa ini, ibu nifas menjadi sangat sensitif, sehingga
diperlukan pengertian dari keluarga terdekat. Peran perawat sangat
penting dalam hal memberi pegarahan pada keluarga tentang kondisi
ibu serta pendekatan psikologis yang dilakukan perawat pada ibu
nifas agar tidak terjadi perubahan psikologis yang patologis (Bobak,
2004).
Persiapan psikologi ibu sangat menentukan keberhasilan
menyusui.

Ibu

yang

tidak

mempunyai

keyakinan

mampu

memproduksi ASI umumnya produksi ASI akan berkurang. Stress,


khawatir, ketidakbahagiaan ibu pada periode menyusui sangat
berperan dalam mensukseskan pemberian ASI. Peran keluarga dalam
meningkatkan percaya diri ibu sangat besar (IDAI, 2008).
Berdasarkan Konsep teori Mercer Perkembangan identitas
peran ibu sangat terpengaruh oleh kondisi psikologis dan perilaku
ibu dan bayi. Pada bayi respon perkembangan yang berpengaruh
terhadap interaksi dengan perkembagan identitas peran ibu antara
lain adanya kontak mata sebagai isyarat komunikasi, refleks
menggenggam, refleks tersenyum dan tingkah laku yang tenang
sebagai respon terhadap perawatan ibu, konsistensi tingkah laku
interaksi dengan ibu serta respon ibu terhadap bayinya dapat
meningkatkan pergerakan bayi (Bobak, 2004).
Mercer menjelaskan bahwa untuk mencapai peran menjadi
seorang ibu (Maternal Role Attainment) merupakan sekumpulan
siklus dari mikrosistem, mesosistem dan makrosistem. (Tomey,
Aligood 2006).
a. Mikrosistem adalah lingkungan segera dimana peran
pencapaian ibu terjadi. Komponen dari mikrosistem ini

12

antara lain fungsi keluarga, hubungan ibu, ayah,


dukungan sosial, status ekonomi, kepercayaan keluarga
dan stresor bayi baru lahir yang dipandang sebagai
individu yang melekat dalam sistem keluarga.
b. Mesosistem meliputi, mempengaruhi dan berinteraksi
dengan individu di mikrosistem. Mesosistem mencakup
perawatan sehari-hari, sekolah, tempat kerja, tempat
ibadah dan lingkungan yang umum berada dalam
masyarakat.
c. Makrosistem adalah budaya pada lingkungan individu.
Makrosistem terdiri atas sosial, politik. Lingkungan
pelayanan kesehatan dan kebijakan sistem kesehatan yang
berdampak pada pencapaian peran ibu.
Menurut Reva Rubin, dalam menjalani adaptasi pasca
melahirkan, ibu akan mengalami fase-fase sebagai berikut, (Bobak,
2004) :
1. Fase Taking In
Fase ini merupakan fase ketergantungan yang berlangsung
dari hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat
ini fokus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Pengalaman
selama

proses

persalinan

sering berulang

diceritakannya.

Kelelahannya membuat ibu perlu cukup istirahat untuk mencegah


gejala kurang tidur, seperti mudah tersinggung. Hal ini membuat
ibu cenderung menjadi pasif terhadap lingkungannya. Oleh
karena itu kondisi ini perlu dipahami dengan menjaga komunikasi
yang baik. Pada fase ini, perlu diperhatikan pemberian ekstra
makanan untuk proses pemulihannya, disamping nafsu makan ibu
yang memang sedang meningkat.

13

2. Fase Taking hold


Fase ini berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan.
Pada fase taking hold, ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan
dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Selain itu
perasaan yang sangat sensitive sehingga mudah tersinggung jika
komunikasinya kurang hati-hati. Oleh karena itu ibu memerlukan
dukungan karena saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk
menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya,
sehingga tumbuh rasa percaya diri, termasuk penyuluhan tentang
proses laktasi.
3. Fase Letting Go
Fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab akan
peran barunya yang berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu
sudah mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya.
Keinginan untuk merawat diri dan bayinya meningkat pada fase
ini.
c). Faktor Bayi
Ada beberapa faktor kendala yang bersumber pada bayi
misalnya bayi sakit, prematur, dan bayi dengan kelainan bawaan
sehingga ibu tidak memberikan ASI-nya menyebabkan produksi ASI
akan berkurang.
d). Faktor Fisik Ibu
Ibu sakit, lelah, menggunakan pil kontrasepsi atau alat
kontrasepsi lain yang mengandung hormon, ibu menyusui yang
hamil lagi, peminum alkohol, perokok atau ibu dengan kelainan
anatomis payudara dapat mengurangi produksi ASI .

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI


Faktor

yang mempengaruhi pemberian ASI dapat disebabkan oleh

bermacam-macam faktor, antara lain umur ibu saat melahirkan, pendidikan

14

yang rendah, pengetahuan ibu tentang ASI dan macam persalinan. Beberapa
kondisi yang membuat ibu sulit menyusui antara lain : puting susu rata atau
masuk ke dalam, bedah payudara, ibu terserang penyakit, menyusui sambil
minum obat, bayi kembar, gangguan epidural dan tulang belakang serta bedah
caesar (Prasetyono, 2009).
Berdasarkan hasil penelitian Fitriani di Rumah Sakit dr. Pirngadi
Medan tahun 2011 didapatkan bahwa ternyata masih terdapat ibu pasca Sectio
Caesaria dengan bius regional tidak dapat memberikan ASI segera setelah
operasi. Hasil penelitian diperoleh data mayoritas responden memberikan
ASI pada hari pertama (3 jam pasca Sectio Caesaria) sebanyak 37,5 % dan
minoritas responden memberikan ASI pada hari ke empat pasca Sectio
Caesaria 12,5 %), kemudian 18,8 % menyusui pada hari ketiga pasca Sectio
Caesaria dan 31,3 % menyusui pada hari kedua pasca Sectio Caesaria.
Penelitian Kristina (2003) dengan desain penelitian cross sectional,
memberikan hasil tidak ada pengaruh antara usia ibu dengan pemberian ASI
eksklusif pada bayi 0-4 bulan (p > 0,05). Begitu pula penelitian yang
dilakukan Madjid (2003) tidak ada hubungan antara umur ibu melahirkan
dengan praktik pemberian ASI selama tiga hari setelah kelahiran.
Pendidikan akan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk
membuka jalan pikiran dalam menemui ide-ide atau nilai-nilai baru. Tingkat
pendidikan ibu mempunyai pengaruh dalam pemberian kolostrum. Makin
tinggi tingkat pendidikan ibu makin rendah

prevalensi menyusui segera

setelah lahir. Namun tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan
tinggi dengan praktik pemberian ASI dalam tiga hari setelah kelahiran
(Madjid, 2003).
Paritas adalah jumlah kehamilan yang berakhir dengan kelahiran bayi
dalam keadaan hidup dengan usia kehamilan yang lebih dari 28 minggu.
Penelitian Madjid (2003) menyimpulkan bahwa ibu-ibu yang baru pertama
kali mempunyai anak (primipara) memiliki masalah-masalah menyusui.
Berbeda dengan ibu-ibu yang sudah menyusui sebelumnya lebih baik
daripada yang pertama.

15

Kurangnya pengetahuan tentang menyusui dari satu generasi bahkan


lebih akan menyebabkan banyak ibu masa kini mendapati bahwa ibu dan
nenek mereka rendah pengetahuan tentang menyusui dan tidak mampu
memberikan banyak dukungan terhadap pemberian ASI sehingga pemberian
ASI tidak dapat diberikan (Welford, 2008).

1. Umur Ibu
Ibu yang berumur kurang dari 20 tahun belum siap secara fisik dan
mental dalam menghadapi kehamilan dan persalinan. Dari segi fisik rahim
dan panggul ibu belum tumbuh mencapai ukuran dewasa, sehingga
kemungkinan akan mendapatkan kesulitan dalam persalinan. Dari segi
mental ibu belum siap untuk menerima tugas dan tanggung jawab sebagai
orang tua sehingga diragukan ketrampilan perawatan diri dan bayinya
(Rochiyati,2003).
Berdasarkan hasil penelitian Kusmayanti (2005) bahwa semakin
meningkat umur maka presentase berpengetahuan semakin baik karena
disebabkan oleh akses informasi, wawasan dan mobilitas yang meningkat
dan menurut pendapat Hurlock (2002), bahwa semakin meningkatnya
umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang dalam berfikir dan
bekerja semakin matang.
Penelitian Kristina (2003) dengan desain penelitian cross sectional,
memberikan hasil tidak ada pengaruh antara usia ibu dengan pemberian
ASI eksklusif pada bayi 0-4 bulan ( p > 0.05). Begitu pula penelitian yang
dilakukan Madjid (2003) tidak ada hubungan antara umur ibu melahirkan
dengan praktik pemberian ASI selama tiga hari setelah kelahiran
(Rinaningsih, 2007).

2. Pendidikan
Pendidikan adalah aktivitas proses belajar mengajar yang
memberikan

tambahan

pengetahuan,

ketrampilan

serta

dapat

mempengaruhi proses berfikir secara sistematis. Tingkat pendidikan ibu

16

mempunyai pengaruh dalam pemberian kolostrum. Makin tinggi tingkat


pendidikan ibu makin rendah prevalensi menyusui segera setelah lahir.
Penelitian Darti (2005) dalam studi etnografi tentang pemberian ASI
kolostrum menyatakan bahwa penyebab lain yang menimbulkan
pemahaman terhadap ASI kolostrum rendah adalah rata-rata pendidikan
informal adalah SD. Tingkat pendidikan berhubungan dengan kemampuan
seseorang dalam memaknai pesan dan memahami sesuatu (Sobur, 2000).
Hasil penelitian Deswani (2007) dari penelitian 96 ibu dengan
tingkat pendidikan tinggi sebanyak 88 ibu ( 97,1%) memutuskan untuk
menyusui bayinya secara dini, dan 56 ibu dengan pendidikan rendah 46
orang (81,7%) ibu yang menyusui bayinya secara dini (P=0,07). Hasil
penelitian ini bertentangan dengan pendapat Lueckenote (2000) bahwa
tingkat pendidikan mempunyai hubungan yang kuat dengan faktor
kesehatan terutama perilaku hidup sehat. Hal ini mungkin disebabkan ibu
dengan pendidikan tinggi lebih memilih memberikan susu formula.
Kondisi ini terjadi karena ibu terpengaruh iklan susu formula, sehingga
ibu tidak merasakan pentingnya pemberian ASI secara dini. Pendapat ini
didukung hasil penelitian Paiman (2000) bahwa ibu dengan tingkat
pendidikan rendah mempunyai kemungkinan menyusui secara eksklusif 6
kali lebih besar dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan tinggi.

3. Lingkungan

Menurut Perinasia (2003) lingkungan menjadi faktor penentu


kesiapan ibu untuk menyusui bayinya. Setiap orang selalu terpapar dan
tersentuh oleh kebiasaan di lingkungannya serta mendapat pengaruh dari
masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pada kebanyakan wanita di perkotaan, sudah terbiasa menggunakan
susu formula dengan pertimbangan lebih modern dan praktis. Menurut
penelitian Valdes dan Schooley

dalam Briawan (2004) wanita yang

berada dalam lingkungan modern di perkotaan lebih sering melihat ibu-ibu


menggunakan susu formula sedangkan di pedesaan masih banyak dijumpai

17

ibu yang memberikan ASI tetapi cara pemberian tidak tepat. jadi
pemberian ASI di pengaruhi oleh lingkungan.

4. Pengalaman
Menurut hasil penelitian Diana (2007) pengalaman wanita
semenjak kecil akan mempengaruhi sikap dan penampilan wanita dalam
kaitannya dengan menyusui dikemudian hari. Seorang wanita yang dalam
keluarga atau lingkungannya mempunyai kebiasaan atau sering melihat
wanita yang menyusui bayinya secara teratur maka akan mempunyai
pandangan yang positif tentang menyusui sesuai dengan pengalaman
sehari-hari. Tidak mengheran bila wanita dewasa dalam lingkungannya
hanya sedikit bahkan sama sekali tidak memiliki informasi, pengalaman
cara menyusui, keyakinan akan mampu menyusui. Sehingga pengalaman
tersebut mendorong wanita tersebut untuk menyusui atau sebaliknya.

5. Dukungan Keluarga
Kelompok ibu-ibu yang sehat dan produksi ASI-nya bagus,
sebetulnya yang paling memungkinkan dapat memberikan ASI dengan
baik. Tetapi tidak semua suami atau orangtua akan mendukung pemberian
ASI. Misalnya suami merasa tidak nyaman apabila istrinya menyusui.
Pada waktu ibu melahirkan, keluarga besarnya atau kerabatnya
berdatangan untuk membantu merawat ibu dan bayinya dan pada saat
itulah keluarga memberikan makanan atau minuman pada usia yang dini.
Pandangan suami yang merasa tidak nyaman dan keluarga yang tidak
mendukung dengan kegiatan menyusui merupakan alasan yang utama para
ibu memilih memberikan susu formula (Briawan, 2004).
Menurut penelitian Diana (2007) ibu yang tinggal serumah dengan
ibunya atau nenek mempunyai peluang sangat besar untuk memberikan
MP-ASI dini pada bayi, bahkan ada ibu yang memberikan MP-ASI mulai
bayi usia 11 hari atau setelah tali pusat lepas. Walaupun ibu mengetahui
bahwa pemberian MP-ASI terlalu dini dapat mengganggu kesehatan bayi

18

namun mereka beranggapan bahwa jika bayi tidak mengalami gangguan


maka pemberian MP-ASI dapat dilanjutkan. Selain itu kebiasaan
pemberian MP-ASI dini telah dilakukan turun-temurun dan tidak pernah
menimbulkan masalah.
Menurut Roesli (2000) ayah merupakan bagian yang vital dalam
keberhasilan atau kegagalan menyusui. Banyak ayah yang berpendapat
salah. Mereka berpendapat bahwa menyusui adalah urusan ibu dan
bayinya, dan menganggap cukup menjadi pengamat yang pasif saja.
Sebenarnya ayah mempunyai peran yang sangat menentukan dalam
keberhasilan menyusui karena ayah akan turut menentukan kelancaran
refleks pengeluaran ASI yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau
perasaan ibu.

6. Pandangan Ibu Terhadap payudaranya


Ukuran payudara yang kecil sering dicemaskan sebagai faktor
penyebab kegagalan pemberian ASI. Padahal besar kecilnya payudara
tidak berkaitan dengan kemampuan memberikan ASI. Payudara besar
mengandung lebih banyak jaringan lemak sedangkan ASI dibentuk oleh
jaringan kelenjar alveoli atau pembentuk ASI jadi besar kecilnya payudara
tidak menjadi ukuran keberhasilan menyusui (Perinasia, 2003).
Menyinggung ukuran payudara, Arlina dalam Siswono (2001)
mengatakan besar atau kecilnya payudara, serta bentuk payudara tidak
terkait langsung dengan produksi ASI. Tidak ada jaminan kalau payudara
besar akan menghasilkan lebih banyak ASI, sedang payudara kecil
menghasilkan lebih sedikit.

7. Paritas
Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin hidup,
bukan jumlah janin yang dilahirkan. Janin yang lahir hidup atau mati
setelah viabilitas dicapai, tidak mempengaruhi paritas (Bobak, 2004).

19

Beberapa istilah yang berkaitan dengan paritas yaitu (1) nullipara


merupakan seorang wanita yang belum pernah melahirkan bayi, (2)
primipara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi hidup untuk
pertama kali, (3) multipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi
beberapa kali (sampai 5 kali), dan (4) grandemultipara adalah wanita yang
pernah melahirkan bayi 6 kali atau lebih hidup atau mati (Bobak, 2004).
Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami
masalah ketika menyusui yang sebenarnya karena tidak tahu cara yang
sebenarnya dan apabila ibu mendengar ada pengalaman menyusui yang
kurang baik dari orang lain memungkinkan ibu untuk ragu dalam
memberikan ASI kepada bayinya (PERINASIA,2004).
Penelitian Madjid (2003) menyimpulkan bahwa ibu-ibu yang baru
pertama kali mempunyai anak (primipara) memiliki masalah-masalah
menyusui. Berbeda dengan ibu-ibu yang sudah menyusui pernah menyusui
sebelumnya, lebih baik dibandingkan yang baru pertama kali menyusui.

8. Pengetahuan
Pengetahuan adalah proses kehidupan yang diketahui manusia
secara langsung dari kedasarannya sendiri (Bahtiar, 2004). Pengetahuan
adalah sesuatu proses untuk mengetahui dan menghasilkan sesuatu yang
didorong rasa ingin tahu yang bersumber dari kehendak dan kemauan
manusia (Suhartono, 2005).Sedangkan menurut Notoatmojo (2003)
pengetahuan adalah hasil tahu setelah seseorang melakukan penginderaan
terhadap objek tertentu. Penginderaan ini melalui panca indera manusia
yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
Pengetahuan melandasi seseorang untuk berperilaku sehat atau
tidak seperti perilaku pemberian kolostrum sangat ditentukan oleh
pengetahuan yang dimiliki. Kurangnya pengetahuan tentang menyusui dari
satu generasi bahkan lebih akan menyebabkan banyak ibu masa kini
mendapati bahwa ibu dan nenek mereka rendah pengetahuan tentang
menyusui dan tidak mampu memberikan banyak dukungan terhadap

20

pemberian ASI sehingga pemberian ASI tidak dapat diberikan (Welford,


2008).
Menurut Suhartono (2005) pengetahuan diperlukan manusia untuk
memecahkan setiap persoalan yang muncul sepanjang kehidupan manusia
dalam pencapaian tujuan hidup yaitu kebahagiaan. Keadaan makmur,
tentram, damai dan sejahtera baik pada taraf individual maupun taraf
sosial. Pengetahuan juga dapat membuat manusia memiliki kemampuan
untuk mempertahankan dan mengembangkan hidup. Pengetahuan juga
berguna supaya manusia tidak melakukan penyelidikan dan pemikiran
mengenai sesuatu hal yang pada akhirnya menjadi sia-sia.
Pengetahuan dibentuk oleh beberapa sumber yang lebih kompleks
yaitu kepercayaan, kesaksian orang lain, pengalaman, akal pikiran dan
intuisi. Sumber pertama yaitu kepercayaan berdasarkan adat-istiadat,
tradisi dan agama yang merupakan nilai-nilai warisan nenek moyang.
Sumber ini biasanya berbentuk norma atau kaidah yang kebenarannya
tidak dapat dibuktikan secara rasional dan empiris, tetapi sulit untuk
dikritik atau diperbaiki karena sumber pengetahuan ini sudah ditanamkan
sejak seseorang dilahirkan.
Sumber kedua adalah kesaksian orang lain. Kesaksian ini biasanya
didapatkan dari orang yang berpengalaman dan berpengetahuan lebih luas
sebelumnya seperti orang tua, guru, ulama dan orang yang dituakan dan
apapun yang dikatakan mereka baik atau buruk, benar atau salah biasanya
diikuti tanpa kritik.
Sumber ketiga adalah pengalaman individu. Pengalaman sering
dijadikan sebagai alat vital dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Pengalaman yang dimaksud dalam hal ini adalah pengalaman indrawi
karena dengan indera manusia dapat menggambarkan sesuatu dengan
benar (Bahtiar, 2004).
Sumber keempat adalah akal pikiran. Akal pikiran mampu
menangkap hal-hal yang metafisis, spiritual, abstrak, universal, yang
seragam dan bersifat tetap. Akal pikiran cenderung memberikan

21

pengetahuan lebih umum, objektif dan pasti sehingga dapat diyakini


kebenarnannya (Bahtiar, 2004; Suhartono,2005).
Sumber kelima yaitu intuisi. Intuisi merupakan pemahaman yang
tertinggi,

juga merupakan pengalaman batin yang bersifat langsung

artinya berbuat dengan alasan yang jelas. Dengan demikian pengetahuan


intuisi kebenarnnya tidak dapat diuji karena hanya berlaku secara personal
saja (Suhartono, 2005).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan antara lain adalah
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang
berasal dari dalam diri manusia yang mengandung kebenaran lebih
objektif, pasti dan dapat dipercaya. Faktor internal meliputi motivasi,
pendidikan, pengalaman dan persepsi yang bersifat bawaan. Faktor
eksternal yaitu dorongan dari luar yang memerlukan pengetahuan khusus
dan pasti dalam mengelola sumber daya yang ada sehingga dapat
bermanfaat

dalam

memenuhi

kebutuhan

hidup

seperti

ekonomi,

lingkungan, informasi dan kebudayaan (Notoadmojo, 2002; Suhartono,


2005).
Sebagian besar pengetahuan dapat diperoleh melalui pendidikan
formal maupun non formal. Sedangkan pendididkan sendiri dipengaruhi
oleh pengalaman, ekonomi, tersedianya fasilitas dan lingkungan yang
mendukung perkembangan pengetahuan individu. Sedangkan pengalaman
didukung oleh pengetahuan yang didapat dan diingat dari kejadian
sebelumnya. Jadi, semakin tinggi pendidikan seseorang semakin tinggi
pengetahuannya (Sudarmita, 2002).

9. Mitos-Mitos Tentang Menyusui


Menurut Hatta (2007) mitos merupakan hambatan dalam
pemberian

ASI.

(a).Kolostrum

Mitos-mitos

tidak

baik

seputar

bahkan

ASI diantaranya

bahaya

untuk

bayi.

adalah

(b).Bayi

membutuhkan teh khusus atau cairan lain sebelum menyusui. (c).Bayi

22

tidak mendapat cukup makanan atau cairan kalau hanya diberi kolostrum
atau ASI.
Menurut

Danuatmaja

(2003)

mitos-mitos

yang merupakan

penghambat pemberian ASI adalah : (a).Menyusui mengubah bentuk


payudara. (b).Menyusui menyebabkan penyusutan berat badan. (c). ASI
belum keluar pada hari-hari pertama sehingga perlu ditambah susu
formula. (d).Payudara kecil tidak menghasilkan cukup ASI. (e). ASI ibu
kurang gizi sehingga kualitas ASI kurang baik. (f).ASI yang pertama kali
keluar harus dibuang karena kotor. (g). Bayi alergi terhadap ASI.
Menurut Diana (2003) beberapa ibu percaya bahwa apa yang
dimakan ibu dapat menyebabkan bayi sehat atau sebaliknya dapat
menyebabkan gangguan kesehatan. Semua ibu percaya bahwa makan
sambal atau es dapat menyebabkan bayi terserang diare dan penyakit l jadi
umumnya mereka menghindari atau mengkonsumsi tetapi sedikit.

10. Peran Petugas Kesehatan


Menurut WHO (1991), dalam Linkages (2009) ada beberapa
kewajiban untuk menolong ibu menyusui dengan baik seperti petugas
kesehatan harus memiliki kewajiban tertulis mengenai pemberian ASI
yang secara rutin di sampaikan pada ibu menyusui, memberitahukan pada
ibu hamil tentang manfaat dan proses pemberian ASI, membantu ibu mulai
menyusui bayinya dalam waktu setengah jam setelah melahirkan,
menunjukan pada ibu cara menyusui bayi dan cara mempertahankan
kelancaran produksi ASI bila ibu harus terpisah dengan bayinya. Tidak
memberikan makanan dan minuman lain selain ASI kepada bayi baru
lahir, kecuali terdapat indikasi medis seperti ibu mengalami kanker
payudara, menempatkan ibu dalam kamar sehingga selalu bersama-sama
selama 24 jam sehari. Wikojosastro (2002) menganjurkan pemberian ASI
sesuai dengan permintaan bayi, tidak memberikan dot kepada bayi dan
menyusui, membina dibentuknya kelompok-kelompok pendukung pemberi
ASI dan menganjurkan ibu menghubungi petugas kesehatan setelah

23

mereka pulang dari rumah sakit atau klinik. Semua hal di atas adalah
kebijakan yang dapat disampaikan petugas kesehatan demi mendukung
lancarnya pemberian ASI.

11. Sectio caesaria


Hasil penelitian Susilowati (2009) didapatkan bahwa terdapat
hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap tentang cara
menyusui dengan praktek menyusui ibu pasca Sectio Caesaria primipara
baik secara individu maupun bersama-sama.
Ibu yang melahirkan dengan cara sectio caesaria sering kali
sulit menyusui bayinya segera setelah ia lahir, terutama jika ibu diberikan
anastesi umum. Ibu relatif tidak sadar untuk dapat mengurus bayinya di
jam pertama setelah bayi lahir. Meskipun ibu mendapat anastesi epidural
yang membuatnya tetap sadar, kondisi luka operasi di bagian perut relatif
membuat membuat proses menyusui sedikit terganggu (Novianti, 2009).
Anastesi merupakan upaya untuk menghilangkan rasa sakit
dan nyeri pada waktu menjalani operasi. Tehnik anastesi yang sering
digunakan pada sectio caesaria adalah anastesi regional. Pada pembiusan
regional ibu tetap dalam keadaan sadar sebab yang mati rasa hanya sarafsaraf dibagian perut termasuk rahimnya. Pembiusan regional yang
digunakan untuk operasi sectio caesaria adalah bius eridural, spinal dan
kelamin. Jenis pembiusan ini dilakukan dengan memberi obat pemati
rasa ke daerah tulang belakang, mengakibatkan sebatas panggul ke
bawah mati rasa, tetapi ibu masih sadar selama proses pembedahan
berlangsung (Dini, 2003).
Sectio caesaria adalah kelahiran janin melalui insisi yang
dibuat pada dinding abdomen dan uterus (Reeder, 2011). Indikasi sectio
caesaria adalah : (1) Ibu : Penyakit ibu yang berat seperti jantung,
Diabetus melitus, Pre Eklampsia Berat, Disproporsi kepala, panggul
CPD/FPD, disfungsi uterus, distosia jaringan lunak, plasenta previa.

24

(2) Anak : janin besar, gawat janin, dan letak lintang janin dengan
presentasi dahi (Reeder 2011).
Menurut Arifin (2004) kualitas dan kuantitas ASI dapat
dipengaruhi proses persalinan. Proses persalinan yang normal sangat
mendukung dalam pemberian ASI khususnya satu jam atau lebih setelah
persalinan. Persalinan yang normal akan memudahkan ibu langsung
berinteraksi segera dengan si bayi. Jika tidak segera diberikan, bayi
sudah mulai mengantuk dan mengalami kesulitan untuk memegang
puting dengan efektif .
Bayi yang terlahir secara sectio caesaria dan bayi yang terlahir
normal memang berbeda. Bayi yang terlahir dengan operasi sectio
caesaria mungkin lebih banyak tidur dan terlihat lesu. Hal ini disebabkan
karena terkena imbas obat anastesi operasi sectio caesaria. Bayi akan
sehat namun butuh waktu beberapa hari bagi bayi agar serangan kantuk
bisa hilang`(Kodrat, 2010).
Namun ada juga dokter yang memberikan bius lokal sehingga
bayi bisa segera menyusui setelah lahir. Dengan begitu maka ASI bisa
mulai diberikan sejak di ruang operasi begitu proses kelahiran selesai.
ASI juga bisa mulai diberikan di ruang pemulihan. Masalah yang biasa
timbul pada saat menyusui bayi sectio caesaria adalah lamanya ASI
keluar. Jika ASI memang tidak keluar maka ibu dapat tetap menyusui
bayi, sebab jika payudara tidak segera dirangsang maka ASI juga tidak
akan keluar (Kodrat, 2010).
ASI baru mulai mengalir tiga sampai lima hari setelah
persalinan tetapi bayi akan mendapat kolostrum, yaitu cairan yang
berwarna kekuning-kuningan yang berisi protein dan antibodi untuk
melindungi bayi dari infeksi. Kolostrum tidak memberikan kalori
maupun cairan sebanyak ASI, tetapi tetap merupakan sumber penting
dari nutrisi dan kekebalan. Maka pada saat seperti ini sangat diperlukan
peran petugas kesehatan untuk menjelaskan kondisi yang sedang dialami
ibu, karena kondisi belum keluarnya ASI membuat ibu mengira bahwa

25

ASInya tidak cukup sehingga ibu akan berhenti menyusui (Shelov,


2004).
Dalam penelitian Mutiara (2011) Jahengeer 2009 menyatakan
bahwa ibu yang melahirkan secara sectio caesaria lebih cenderung tidak
memberikan ASI dibandingkan dengan ibu yang melahirkan secara
normal karena kondisi ibu setelah operasi sangat tidak memungkinkan
ibu untuk melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) akhirnya bayi
terpaksa di beri susu formula (Mutiara, 2011).
Pengalaman lain yang berpotensi merusak dalam kelahiran dan
periode pasca partum meliputi mendapat anastesia dan analgesia selama
proses persalinan, penundaan kontak ibu bayi, penundaan permulaan
menyusui, pemisahan ibu/bayi, suplementasi yang tidak perlu pada bayi
yang menyusu, dan pengajaran serta dukungan terhadap menyusui terbatas
atau tidak ada (Varney, dkk, 2007).

26

C. Kerangka Teori
Gambar 2.1
Kerangka Teori
Kondisi fisik dan
Psikologis
Predisposing Factor:
1.
2.
3.
4.
5.

Pengetahuan
Pendidikan
Umur
Paritas
Pandangan
ibu
terhadap
payudara
6. Mitos-mitos tentang ASI

Enabling factor:

Pemberian ASI pasca


Sectio Caesaria

Ketrampilan / pengalaman

Reinforcing factor:
Peran petugas kesehatan
Lingkungan tempat tinggal

Sumber : Teori Perilaku L. Green dan Ramona. T. Mercer.

27

D. Kerangka Konsep
Kerangka konsep dalam penelitian ini merupakan bagian dari
kerangka teori yang ada, mengingat tidak semua variabel yang tercantum
dalam kerangka teori dapat dilakukan pengukuran, karena keterbatasan dalam
masalah waktu, biaya, tenaga, sehingga yang dipilih adalah variabel-variabel
yang benar-benar mempunyai hubungan terhadap kegagalan pemberian ASI
pada ibu pasca sectio caesaria berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya.
Dengan mengacu pada landasan teori dapat digambarkan kerangka konsep
penelitian ini bahwa faktor risiko kegagalan pemberian ASI pada ibu pasca
sectio caesaria dapat disebabkan oleh faktor internal yaitu faktor dari dalam
diri ibu dan faktor eksternal.
Faktor sebelum ibu melahirkan lebih didominasi oleh faktor internal
yaitu mulai dari karakteristik ibu (umur, pendidikan, paritas), selanjutnya
tingkat pendidikan ibu yang akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI,
dimana keduanya berhubungan dengan frekuensi antenatal yang dilakukan
oleh ibu yang pada akhirnya akan membentuk mindset ibu.
Secara garis besar kerangka konsep faktor-faktor yang berhubungan
dengan pemberian ASI pasca sectio caesaria digambarkan dalam bagan :
Gambar 2.2
Kerangka Konsep
Variabel bebas :

Variabel Terikat:

Umur

Pendidikan
Pemberian ASI pasca
Paritas

Pengetahuan

: Variabel yang diteliti

Sectio Caesaria

28

E. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan adalah:
1. Variabel Bebas
Variabel Bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain atau
disebut juga Independent variabel. Variabel bebas dalam penelitian ini
adalah Karakteristik Ibu (umur, pendidikan dan paritas) dan Pengetahuan
Ibu tentang ASI
2. Variabel Terikat
Variabel Terikat adalah variabel sebagai akibat atau disebut juga
Dependent Variabel. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Pemberian
ASI pasca Sectio Caesaria.

F. Hipotesis Penelitian
1.

Ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI pada ibu pasca sectio
caesaria di ruang Obstetri RS Dokter Kariadi Semarang.

2.

Ada hubungan antara pendidikan dengan pemberian ASI pada ibu pasca
sectio caesaria di ruang Obstetri RS Dokter Kariadi Semarang.

3.

Ada hubungan antara paritas dengan pemberian ASI pada Ibu pasca sectio
caesaria di ruang Obstetri RS Dokter Kariadi Semarang.

4.

Ada hubungan antara pengetahuan dengan pemberian ASI pada ibu pasca
sectio caesaria di ruang obstetri RS Dokter Kariadi Semarang.