Anda di halaman 1dari 25

Oleh : Aries Pratomo, SP, MSc

Pengendalian hayati khususnya pada penyakit


tumbuhan dengan menggunakan mikroorganisme
telah dimulai sejak lebih dari 90 tahun yang lalu,
tepatnya pada tahun 1920 sampai 1930 ketika pertama
kali diperkenalkan antibiotik yang dihasilkan
mikroorganisme tanah.
DAMPAK DARI EFEK NEGATIF
Dunia pertanian seperti pencemaran lingkungan di
lahan-lahan pertanian yang menggunakan bahan
kimia, biaya produksi yang semakin tinggi dan
ketergantungan negara konsumen pada negara
penghasil pupuk dan pestisida.

PGPR = Plant Growth Promoting


Rhizobacteria = Bakteri Perakaran
Pemacu Pertumbuhan Tanaman (BP3T)
PGPR = Campuran yang mengandung
bakteri Pseudomonas fluorescence dan
Bacillus ploymixa, mampu meningkatkan
pertumbuhan tanaman dan mengendalikan penyakit

Mekanisme PGPR meningkatkan


performansi tanaman:
Menekan perkembangan penyakit
(Bioprotectant)
Memproduksi fitohormon
(Biostimulant)
Meningkatkan ketersediaan nutrisi
bagi tanaman (Biofertilizer)

Mekanisme penekanan tehadap penyakit dan hama :


Induksi ketahanan secara sistemik (terhadap
hama dan patogen)
Produksi siderofor dan antibiotik (terhadap
patogen perakaran)
Kompetisi nutrisi (terhadap patogen
perakaran)
Produksi fitohormon:
IAA (Indole Acetic Acid)
Sitokinin
Giberellin
Penghambat produksi etilen

Biofertilizer (Pupuk Hayati)


Meningkatkan penyerapan /pemanfaat unsur N
oleh PGPR pemfiksasi nitrogen (Azospirillum,
Rhizobium, Bradyrhizobium, dll)
Meningkatkan kemampuan pengambilan unsur
besi (Fe3+) oleh PGPR penghasil siderofor
(Pseudomonas kelompok Fluorecens)
Meningkatkan kemampuan penyerapan unsur S
oleh PGPR pemfiksasi sulfur (Thiobacillus)
Meningkatkan ketersediaan unsur P oleh PGPR
pelarut fosfat (Bacillus, Pseudomonas)
Meningkatkan ketersediaan unsur Mn2+ oleh
PGPR pereduksi Mangan

KILAS
PERKEMBANGAN
PGPR

Rhizosphere Colonization

Plant growth-promoting rhizobacteria (PGPR)


were first defined by Kloepper and Schroth to
describe soil bacteria that colonize the roots of
plants following inoculation onto seed and that
enhance plant growth.
Laser scanning
micrograph of a 5-day old
canola root colonized by
Pseudomonas putida strain
6-8 labelled with green
fluorescent protein (as
indicated by the arrow).
The bar is equal to 60 m.
(From the author's
laboratory, photo by R.
Pallai.)

Mechanisms of Action :

PGPR enhance plant growth by direct and indirect


means, but the specific mechanisms involved have not all
been well-characterized.
Direct mechanisms of plant growth promotion by PGPR
can be demonstrated in the absence of plant pathogens
or other rhizosphere microorganisms, while indirect
mechanisms involve the ability of PGPR to reduce the
deleterious effects of plant pathogens on crop yield.
PGPR have been reported to directly enhance plant
growth by a variety of mechanisms: fixation of
atmospheric nitrogen that is transferred to the plant,
production of siderophores that chelate iron and make it
available to the plant root, solubilization of minerals
such as phosphorus, and synthesis of phytohormones .

PGPR that indirectly enhance plant growth via suppression


of phytopathogens do so by a variety of mechanisms. These
include the ability to produce siderophores that chelate
iron, making it unavailable to pathogens; the ability to
synthesize anti-fungal metabolites such as antibiotics .
Example of in vitro assay for
inhibition of fungal growth.
Different bacterial isolates
were tested for their ability to
inhibit the growth of
Rhizoctonia spp., a soil-borne
plant pathogen of legumes.
2004 Plant Management Network.
Accepted for publication 14 January 2004. Published 1 March
2004.

Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR):


Prospects for New Inoculants
Louise M. Nelson, Vice President (Research), Okanagan
University College, 3333 University Way, Kelowna BC V1V 1V7

1928: Alexander Fleming discovered the first antibiotic.


He observed that Penicillium fungus made an antibiotic,
penicillin, that killed Staphylococcus aureus.
1940s: Penicillin was tested clinically and mass produced.

UJI IN VITRO PGPR PADA SEMAI


KACANG PANJANG

EKSPLORASI PGPR
(PLANT GROWTH PROMOTING RHIZOBACTERIA)
PADA BEBERAPA MEDIA TUMBUH

Tahapan:
perakaran tanaman bambu diambil dengan sedikit tanah yang masih
menempel
potong akar menjadi bagian kecil dan masukkan kedalam botol plastik yang
berisi air matang, rendam (inkubasi) potongan akar tersebut selama 3-4 hari.
Pengujian in vitro:
Pembuatan larutan induk biang PGPR menggunakan bahan-bahan sebagai
media dasar berupa bekatul 1 kg, kapur sirih 100 g, gula merah 400 g, air 10 liter.
Dalam tahap pembuatan ini, media dasar dikombinasikan dengan bahan-bahan
yang bermanfaat, antara lain:
Tepung udang 100 g (A)
Tepung ikan 100 g dan terasi 100 g (B)
Tepung udang 100 g dan madu 20 ml (C)
Terasi 100 g (D)
Tepung ikan 100 g, buah nanas 1 buah dan terasi 100 g (E)
Media dasar dengan setiap kombinasinya dimasukkan kedalam air mendidih
dan dimasak selama 10 15 menit, selanjutnya didinginkan
Setelah dingin, saring larutan tersebut dan campurkan isolate PGPR kemudian
diinkubasikan selama 7 10 hari di dalam jerigen plastik dengan catatan setiap
hari tutup dibuka sesaat untuk mengeluarkan udara hasil fermentasi dan di
goyang untuk mempercepat proses pembelahan sel sel bakteri.
Hasil fermentasi sebagai larutan induk biang PGPR dan siap dimanfaatkan atau
diperbanyak lebih lanjut atau sebagai bahan sediaan.

Bahan dasar larutan PGPR yang digunakan adalah :


1) jenis varietas bambu;
2) jenis tepung dan bahan tambahan lain serta
3) konsentrasi aplikasinya
pada volume 2 ml secara in vitro pada pertumbuhan
kecambah kacang hijau di laboratorium. Parameter
yang diukur panjang akar kacang panjang yang tumbuh
selama 3 (tiga) hari dari saat aplikasi. Penambahan air
steril sebanyak 2 ml diberikan setiap hari untuk menjaga
kelembapan media tumbuh pada cawan petri yang
mengandung kapas steril. Rancangan yang digunakan
adalah Acak Kelompok (RAK) menggunakan analisis
varians yang dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil
(BNT) pada taraf 5 % jika terdapat perbedaan.

JENIS BAMBU

BAHAN YANG DICOBA


A

Pembuatan larutan induk biang PGPR menggunakan bahan-bahan sebagai


media dasar berupa bekatul 1 kg, kapur sirih 100 g, gula merah 400 g, air 10 liter.
Dalam tahap pembuatan ini, media dasar dikombinasikan dengan bahanbahan yang bermanfaat, antara lain:
Tepung udang 100 g (A)
Tepung ikan 100 g dan terasi 100 g (B)
Tepung udang 100 g dan madu 20 ml (C)
Terasi 100 g (D)
Tepung ikan 100 g, buah nanas 1 buah dan terasi 100 g (E)

UJI IN VITRO

Dari grafik 1 tersebut, diketahui bahwa penggunaan


ekstrak terasi pada konsentrasi 2,5 % menunjukkan hasil
yang terbaik dalam pembuatan PGPR untuk merespons
pertumbuhan kacang hijau pada stadia perkecambahan.
Kondisi ini dimungkinkan terjadi karena bahan utama
pembuat terasi adalah ikan laut yang diketahui
mengandung kadar protein yang cukup tinggi.
Selain kandungan protein, keberadaan organisme
perombak berupa bakteri Lactobacillus spp. dalam terasi
diduga memberikan pengaruh yang baik dalam
pertumbuhan kecambah kacang hijau.
Purwasasmita (2009) menyatakan, beberapa jenis
mikroba yang bersifat mikroorganisme lokal (MOL) yang
menguntungkan telah diteliti di Pusat Penelitian
Bioteknologi ITB seperti Bacillus sp, Sacharomyces sp,
Azospirillum sp, Pseudomonas, dan Lactobacillus sp.

Lebih
lanjut
dinyatakan
bahwa
bakteri
laktat
(Lactobacillus) merupakan kelompok mikroba yang
menghasilkan senyawa asam laktat (bersifat asam) dengan
habitat dan lingkungan hidup sangat luas, baik di perairan
(air tawar ataupun laut), tanah, lumpur, maupun batuan.
Bakteri ini juga menempel pada jasad hidup, dengan
manfaat
yang
diperoleh
adalah
kemampuannya
menghambat perkembangan organisme lain seperti
patogen, terutama yang bersifat soil borne.
Beberapa jenis bakteri tersebut, diantaranya Lactobacillus
selain mempunyai kemampuan sebagai agen antagonis
untuk mengendalikan jamur Rhizoctonia oryzae dan
Cercospora oryzae penyebab rebah kecambah pada tanaman
padi, juga dapat meningkatkan daya kecambah dan
pertumbuhan semai padi (Plant Growth Promoting
Rizhobacteria-PGPR).

Menurut Wan, Hickey dan Coventry (1995), bakteriosin


berupa asam laktat yang dihasilkan oleh mikroorganisme
memiliki kemampuan menghambat perkembangan
beberapa jenis mikroorganisme lain, baik yang bersifat
food-borne patogen atau soil-borne patogen.
Senyawa berupa asam laktat tersebut biasanya dihasilkan
oleh bakteri yang dikelompokkan dalam genus
Lactobacillus sp. Lebih lanjut dinyatakan, beberapa
senyawa lain seperti brevicin, nisin dan pediocin diketahui
dapat diproduksi oleh Lactobacillus bavaricus.
Senyawa-senyawa tersebut dapat diproduksi oleh
oleh bakteri melalui fermentasi dan memiliki sifat
sebagai senyawa penghambat pertumbuhan bakteribakteri lain (antibacterial compounds).

Dari gambar 2 di atas, diketahui bahwa penggunaan akar bambu varietas Tali
menunjukkan respon terbaik dalam pertumbuhan akar kecambah, kemudian diikuti
oleh varietas Gombong, Wulung dan Ampel. Hal ini diduga terdapat interaksi antara
varietas Tali dengan populasi bakteri Pseudomonas flourescens dengan hasil akhir
berupa pertumbuhan kecambah yang optimal pada tanaman kacang hijau. Untuk itu
perlu diteliti lebih lanjut tentang eksplorasi dan uji patogenisitas bakteri bermanfaat
seperti Pseudomonas flourescens (dari akar bambu) dan Lactobacillus spp. (dari terasi)
dalam pembuatan plant growth promoting rhizobacter (PGPR) yang mengarah pada
ketahanan tanaman terhadap patogen.

KESIMPULAN: 1) Bahan dasar pembuat PGPR berupa akar bambu


varietas Tali menunjukkan respon terbaik dalam pertumbuhan akar
kecambah kacang hijau, kemudian diikuti oleh varietas Gombong,
Wulung dan Ampel. 2) Tepung ikan terasi diketahui memberikan
respon terbaik sebagai PGPR dalam pertumbuhan akar kecambah
kacang hijau, kemudian diikuti tepung udang, tepung ikan terasi
yang ditambah nanas, tepung ikan terasi yang ditambah madu
ataupun tepung udang yang ditambah madu. 3) Secara in vitro,
konsentrasi PGPR sebanyak 2,5% diketahui yang terbaik dalam
memberikan respon pertumbuhan akar kecambah kacang hijau dan
4) Tidak terdapat interaksi antara bahan dasar berupa tepung dan
konsentrasi aplikasinya dalam pertumbuhan akar kecambah kacang
hijau.
SARAN: Perlu diteliti lebih lanjut tentang uji patogenisitas PGPR
dalam menghambat pertumbuhan patogen berupa bakteri dan
jamur pada skala in vitro dan in planta pada skala kecil untuk
tanaman penting seperti kedelai.

TERIMA KASIH