Anda di halaman 1dari 5

SKENARIO

Seorang laki-laki berusia 48 tahun datang ke klinik gigi mengeluhkan rasa nyeri dan
pembengkakkan pada daerah kanan bawah belakang. Pasien membawa surat pemeriksaan lab
yang dilakukan 3hari yang lalu, didapatkan nilai kadar gula darah sewaktu mencapai
320mg/dl, dan nilai HbA1c 8%. Pasien juga membawa surat dari internist yang memohon
untuk dilakukan perawatan gigi darurat pada pasien tersebut. Dari pemeriksaan klinis
didapatkan:

gigi 15 bloking dengan gigi 45

gigi 16 terdapat karies meluas hingga dinding proksimal sisi mesial

gigi 24 terdapat abfraksi akibat bloking dengan gigi 34

gigi 25 sisa akar

gigi 26 terdapat amalgam dengan permukaan yang kasar

gigi 35 dan 36 penebalan tulang marjinal

gigi 36 terdapat karies sekunder pada tumpatan resin komposit di sisi okulsal

gigi 45 goyang derajat 2, terdapat fistula pada apikal, suppurasi +, poket mesial
10mm, poket distal 5mm

gigi 46 missing

gigi 47 migrasi ke arah mesial

poket di seluruh regio berkisar 4-5mm kecuali pada gigi 45, resesi di seluruh gigi
berkisar 2-3mm, seluruh gingiva mengalami BOP +, edema, dan hiperemi

PBI 2, HYG 23%, Kalkulus index 2,5

Dari pemeriksaan radiografis didapatkan adanya kerusakan tulang horizontal diseluruh regio
mencapai 1/3 tengah akar. Kerusakan tulang vertikal pada sisi mesial gigi 45 hingga
mencapai apikal akar gigi.
Hal-hal yang perlu didiskusikan:
1. Klasifikasi Merin dan perawatan fase pemeliharaan untuk pasien diatas
2. Pemilihan bahan bone graft dan membran untuk perawatan regenerasi tulang gigi 45

(jika pasien telah diperbolehkan untuk melanjutkan ke perawatan bedah)


3. Biological width
4. Persiapan umum dan khusus dalam penatalaksanaan bedah perio
5. Prosedur konturisasi tulang

1. Klasifikasi Merin dan perawatan fase pemeliharaan untuk pasien diatas


Klasifikasi Merin dibagi menjadi 3 kelas
- Kelas 1 : Pasien tanpa penyakit sistemik
- Kelas 2 : Pasien dengan penyakit sistemik terkontrol
- Kelas 3 : Pasien dengan penyakit sistemik tidak terkontrol
Pasien dalam kasus tersebut termasuk dalam kelas 2 karena dari kasus telah diketahui
bahwa pasien adalah rujukan dari dokter internis sehingga dapat disimpulkan bahwa
pasien menderita diabetes melitus terkontrol. Dari kasus disebutkan pula bahwa
pasien memiliki beberapa poket yang masih dapat dirawat
Fase pemeliharaan
- Evaluasi kontrol plak, melakukan recall untuk menjaga status oral hygiene pasien
mengevaluasi kemampuan pasien untuk menjaga oral hygiene
- Restorasi tumpatan
- Skalling dan root planning
- Pencatatan perubahan yang terjadi setelah fase darurat dilakukan (skaliing
supragingiva, koronoplasty, tumpatan sementara)
2. Pemilihan bahan bone graft dan membran untuk perawatan regenerasi tulang.
Bahan bone graft yang digunakan adalah allograft. Allograft adalah bone graft yang
diambil dari tissue bank, dari individu yang berbeda diperoleh 12jsm setelah
kematian. Dan masih terdapat sifat osteoinduksi dan osteokonduksi yaitu sifat yang
dapat menginduksi pertumbuhan tulang dan mempertahankan ruang bagi
pertumbuhan ruang
Membran yang digunakan adalah membran yang berbahan Resorbable. Contoh dari
membran resorbable antara lain : Osseo quest, BioGuide, Atrisob, BioMond

3. Biological Width

Merupakan jarak antara dasar sulkus ke crest tulang alveolar. Termasuk didalamnya
penjumlahan jarak antara ephitel attachment dan konektif attachment. Bila bagian
marginal restorasi terletak pada daerah antara sulkus sampai crest tulang alveolar
maka akan terjadi : lepasnya crest tulang alveolar dan terjadinya inflamasi gingiva

4. Pemeriksaan umum
- Evaluasi fase 1, premedikasi (penyakit jantung, DM), inform consent, diagnosis,
prognosis, prosedur perawatan.
- Mencegah penularan penyakit (AIDS, hepatitis B, herpes) dengan sarung tangan dan
masker
- Pemberian sedativ dan anastesi jika diperlukan
- Penanganan operasi : halus atau kasar, hati-hati dan seksama, amati reaksi pasien,
pastikan alat-alat tajam agar memudahkan proses.
Pemeriksaan pasien lokal
- Skeling, penghalusan akar
- Kontrol perdarahan dengan gauze, gelfoam, obat-obatan, vitamin K
- Periodontal dressing (diperlukan hanya untuk luka terbuka, tidak dibutuhkan pada
kuret karena luka tertutup.

5. Prosedur konturisasi tulang


Konturisasi tulang dilakukan pada kerusakan tulang 1 dinding atau 2 dinding yang lebar
dan dangkal. Terdapat 4 tahap konturisasi tulang :
- VERTICAL GROOVING
Desain untuk mengurangi ketebalan alveolar dan memberi atau menyediakan
ketinggian relatif terhadap aspek radikular dari gigi. Dilakukan dengan instrumen
mesin seperti bur karbid bulat atau diamond. Kontraindikasinya adalah area dengan
akar tertutup atau alveolar tipis.

- RADICULAR BLENDING
Merupakan tahap kedua dari teknik pembentukan kembali tulang yang merupakan
perluasan dari vertikal grooving. Tahap ini memberikan permukaan tulang yang halus
untuj adaptasi fleb yang baik. Tahap ini tidak perlu dilakukan jika vertikal hrooving
sangat minor.
- FLATTENING INTERPROXIMAL BONE
Membutuhkan pembuangan sejumlah kecil tulang pendukung, kebanyakan indikasi
tahap ini adalah kerusakan interproximal satu dinding atau kerusakan hemiseptal
- GRANDUALIZINF MARGINAL BONE
Tahap akhir daru teknik reseksi tulang yang juga merupakan proses ostektomi.
Pembuangan tulang dilakukan minimal, tetapi penting untuk memberikan dasar
jaringan gingiva.

Anda mungkin juga menyukai