Anda di halaman 1dari 21

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hipertensi
1. Definisi Hipertensi
Hipertensi adalah tenaga yang dipakai oleh darah yang dipompakan
dari jantung melawan tahanan pembuluh darah atau kata lain, tekanan
darah adalah sejumlah tenaga yang di butuhkan untuk mengedarkan darah
ke seluruh tubuh. Kekuatan ini bersumber pada pekerjaan jantung yang
secara langsung dipengaruhi darah itu sendiri. Faktor yang secara tidak
langsung mempengaruhi adalah fisik, dan ketegangan. Hipertensi itu
sendiri merupakan peningkatan tekanan darah yang berkepanjangan di atas
ketinggian normal yang dapat diterima, yaitu : di atas 140 mmHg dan
diastolik di atas 90 mmHg ( Soesirah. S, dkk 2000 ).
a.

Joint National Commitee on Prevention, Detection, Evaluasion and


Treatment of High Blood Pressure (JNC VI).

Kategori

TABEL 1
KLASIFIKASI TEKANAN DARAH
sistolik

Normal
Hipertensi
Hipertensi Ringan
Hipertensi Sedang
Hipertensi Berat
WHO (World Health Organization)

(mmHg)
< 130
>140
140 - 159
160 179
180 - 209

distolik
(mmHg)
< 85
90
90 -9 9
100 109
110 - 119

b.

WHO (World Health Organization)


Menurut WHO (World Health Organization), organisasi
kesehatan dunia di bawah PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa),
klasifikasi tekanan darah tinggi sebagai berikut :
1) Tekanan darah normal, yakni jika sistolik kurang atau sama dengan
140 dan diastolik kurang atau sama dengan 90 mmHg.
2) Tekanan darah perbatasan, yakin sistolik 141-149 dan diastolik 9194 mmHg.
3) Tekanan darah tinggi atau hipertensi, yakni jika sistolik lebih besar
atau sama dengan 160 mmHg dan diastolik lebih besar atau sama
dengan 95 mmHg.

2. Etiologi / Penyebab
Meningkatnya tekanan darah tergantung pada beberapa mekanisme
kimiawi yang berhubungan, akan tetapi perubahan yang menyebabkan
masalah tekanan darah pada setiap individu sulit untuk dilacak dan masih
belum diketahui dengan jelas. Namun para ahli telah mengungkapkan
bahwa paling tidak, ada dua faktor yang memudahkan seseorang terkena
hipertensi yaitu : faktor yang tidak dapat dikontrol dan faktor yang dapat
dikontrol.
a. Faktor yang tidak dapat dikontrol
Beberapa faktor yang tidak dapat dikontrol diantaranya :

10

1) Keturunan
Dari penelitian, diungkapkan bahwa jika seseorang mempunyai
orang tua yang menderita hipertensi, maka orang tersebut
mempunyai resiko lebih besar untuk terkena hipertensi, daripada
seseorang yang mempunyai orang tua dengan tekanan darah
normal (Hans Pwolf, 1994).
2) Umur dan jenis kelamin
Pada umumnya semua peneliti menunjukan hubungan erat
antara umur dan prevalensi, makin lanjut usia, makin tinggi
prevalensi terjadinya hipertensi, baik pada wanita maupun pria.
Fakta ini lebih nyata pada wanita setelah umur 50 tahun. Pada
perempuan,

tekanan

darah

umumnya

meningkat

setelah

menopause. Mereka yang sudah menopause memiliki risiko


hipertensi yang lebih tinggi dibanding yang belum menopause.
Jumlah wanita yang terserang hipertensi lebih besar dari pria.
Kesimpulan

ini

dikemukakan

Prof.

Boedhi

Darmojo,

mengungkapkan, di hampir semua penelitian, persentase hipertensi


dikalangan wanita kita selalu lebih besar dari persentase
pria.tingginya angka penderita darah tinggi secara langsung
berhubungan dengan tingginya angka penderita stres dan depresi
di kalangan wanita. Beban kerja yang harus ditanggung wanita
sangat berat. Dalam membina karier mereka berusaha keras di luar
rumah, tapi masih harus melakukan kewajiban juga sebagai ibu

11

rumah tangga (Iqbal, 2008).


b. Faktor Yang Dapat Dikontrol
Faktor penyebab hipertensi yang dapat dikontrol pada umumnya
berkaitan dengan gaya hidup dan pola makan. Faktor faktor tersebut
antara lain :
1) Konsumsi Alkohol dan Merokok
Alkohol sesungguhnya dapat membantu menurunkan
tekanan darah. Manfaatnya berasal dari kerja alkohol untuk
membuka pembuluh darah halus di kulit, oleh karena itu dapat
menurunkan tekanan terhadap aliran darah, dan menurunkan
tekanan diastolik. Akan tetapi bahaya mulai mengancam apabila
minum setiap hari sampai pada suatu tingkat yang lebih dari dua
puluh minuman standar seminggu. Minuman standar adalah:
segelas anggur ( Tom Smith, 1998 ).
Fakta

otentik

menunjukkan

bahwa

merokok

dapat

menyebabkan tekanan darah tinggi. Kebanyakan efek ini


berkaitan dengan kandungan nikotin (Lovastatin, 2005).
2) Stress
Hubungan stress dengan hipertensi adalah melalui aktivitas
saraf simpatis. Saraf simpatis merupakan saraf yang bekerja pada
saat

kita

beraktivitas.

Peningkatan

saraf

simpatis

dapat

meningkatan tekanan darah secara tidak menentu. Apabila stress


berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah menetap

12

tinggi (Lovastatin, 2005).


3) Macam pekerjaan
Studi prevalensi yang disertai dengan penelitian macam
pekerjaan. Mereka menemukan perbedaan tidak nyata antara
berbagai golongan sosio-ekonomi. Ditemukan prevalensi tinggi
(18,9 %) diantara penduduk yang buta huruf, tetapi seperti
diharapkan sebelumnya, angka prevalensi tinggi (25%) juga
ditemukan pada pekerjaan pekerjaan administratif dan pimpinan
( administrative dan managerial workers ) (Rafflizar, 2004).
4) Kebiasaan minum kopi
Minum banyak kopi dapat meningkatkan denyut jantung
dan tekanan darah untuk sementara waktu. Menurut penelitian
James 1997 mengungkapkan bahwa kopi dapat meningkatkan
tekanan darah baik sistolik maupun distolik, 5-15 mmHg selama
beberapa jam sampai 12 jam setelah minum kopi.
5) Lingkungan dan faktor geografik
Kepadatan penduduk supaya juga tidak berpengaruh nyata
pada prevalensi, seperti dapat dilihat pada angka-angka kota dan
desa. Kepadatan penduduk kota kita sekarang ini mencapai lebih
dari 700 orang per kilometer tersebut, sedangkan angka kepadatan
ini di desa hanya kira-kira 50 orang per kilometer. Suatu
pengecualian dalm hal ini ialah angka prevalensi di Jakarta
(14,2%) angka yang tinggi mungkin pula disebabkan oleh

13

kehidupan di kota Jakarta yang penuh dengan ketegangan (stress)


(Rafflizar,2004).
6) Faktor sosio-budaya dan perbedaan antar suku
Kebiasaan hidup dan sosio budaya ini merupakan faktor
yang sukar sekali dselidiki, tetapi didapat kesan bahwa perbedaan
yang nyata pada angka prevalensi juga tidak dapat ditemukan.
Pada sampel survei pada 4 suku bangsa, yaitu Jawa, Sunda, dan
Dayak, Batak tidak menemukan perbedaan nyata, kecuali justru
pada suku Jawa (diperiksa di daerah Yokyakarta) yang angkatnya
tergolong tinggi (11,4%). Ini justru bertentangan dengan angka
rendah

yang

ditemukan

di

Kalirejo,

Ungaran

(Parwadi

Iwan,1992).
7) Ketegangan
Menurut keyakinan yang sudah tersebar luas semua jenis
ketegangan

dapat

menyebabkan

penyakit

darah

tinggi.

Kecemasan-kecemasan yang berubungan dengan pekerjaan, status


sosial, kegaduhan, kemarahan, pergolakan batin dan semua
pengaruh dari emosi negatif ini dianggap menyebabkan tekanan
darah tinggi yang kronis (Hans Pwolf, 1994).
8) Asupan Natrium
Penderita tekanan darah tinggi sering diwajibkan untuk
banyak mengurangi garam. Pada beberapa waktu suku bangsa
yang miskin akan garam, penyakit tekanan darah tinggi boleh

14

dikatakan hampir tidak ada.


Asupan natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium
di dalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya,
cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga volume cairan
ekstraseluler

meningkat.

Meningkatnya

volume

cairan

ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah,


sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi, karena itu
disarankan untuk mengurangi konsumsi natrium (Budi Sutomo,
2009).
9) Konsumsi lemak
Makanan berlemak meningkatkan kandungan lemak dalam tubuh
dan menyebabkan pembuluh darah menebal dan jalur darah
menyempit. Jalur darah yang menyempit ini membuat jantung
memompa lebih keras dan meningkatkan tekanan darah. Makanan
berlemak juga memungkinkan seseorang untuk mengidap
kelebihan berat badan.
10) Obesitas
Obesitas atau kegemukan adalah ketidakseimbangan jumlah
makanan yang masuk dibanding dengan pengeluaran energi oleh
tubuh. Obesitas juga sering didefinisikan sebagai kondisi
abnormal atau kelebihan lemak yang serius dalam jaringan
adiposa sehingga mengganggu kesehatan (Bray, 2004; dalam
Oetomo, 2011;2). Obesitas merupakan gangguan metabolik

15

komplek yang disebabkan oleh banyak faktor termasuk genetik


dan faktor lingkungan, dimana kejadian obesitas merupakan
kombinasi dari kedua faktor tersebut (James, et al., 2001; dalam
Oetomo, 2011;5).
Orang yang mengalami kelebihan berat badan dan obesitas
membutuhkan darah dengan volume yang lebih besar dari orang
normal. Kenaikan volume darah ini akan meningkatkan nilai
tekanan darah orang tersebut. Seseorang yang mengalami
kelebihan bobot badan, kemungkinan mengalami hipertensi
meningkat lebih dari tiga kali lipat. Resiko itu akan terus
meningkat dengan bertambahnya bobot badan. Menurnkan bobot
badan merupakan strategi sangat efektif dlam mengatur pola
hidup untuk menormalkan tekanan darah. Bila kita berhasil
menurunkan bobot badan 2,5 5 kg saja, tekanan darah diastolik
dapat diturunkan sebanyak 5 mmHg. Penurunan bobot badan 10
kg dapat melipatduakan perbaikan ini (Yudik Prasetyo, 2007).
Metode yang dipergunakan untuk menentukan obesitas
cukup banyak. Meskipun demikian metode klasifikasi obesitas ini
diperlukan untuk menentukan penatalaksanaan obesitas. Pada
kenyataannya metode klasifikasi obesitas dapat berubah berkaitan
dengan besarnya risiko terjadinya penyakit-penyakit yang
berbasis sindroma metabolic. Prevalensi hipertensi pada orang
yang memiliki IMT > 30 kg/m2 adalah 42% pada pria dan 38%

16

pada wanita dibandingkan dengan prevalensi hipertensi pada


orang yang memiliki IMT normal < 25 kg/m2 adalah 15% pada
pria dan wanita (Brown, 2000)
Salah satu dari metode pengukuran obesitas adalah Indeks
Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI). Metode ini
juga menggunakan parameter tinggi dan berat badan, tetapi
penetapan indeksnya menggunakan rumus :
Indeks Masa Tubuh =

Berat badan ( kg )
Tinggi Badan ( m 2 )

Pengukuran IMT ini dilakukan tanpa mempertimbangkan


jenis kelamin.
Tabel 2
Klasifikasi berat badan lebih dan obesitas berdasarkan IMT
menurut Kriteria Asia pasifik (Sugondo, 2006).
Klasifikasi
Berat Badan kurang
Kisaran normal
Berat badan lebih
Berisiko
Obes I
Obes II

IMT (Kg/m2)
< 18,5
18,5 22,9
23,0
23,0 24,9
25,0 29,9
30,0

Beberapa perubahan fisiologis yang menjelaskan adanya


hubungan antara kelebihan berat badan dan tekanan darah adalah
overactivation saraf simpatik dan system rennin-angiotensin
(National Institures of Health, 2004).

17

11) Pola Makan


Pola makan adalah gambaran tentang jenis, sumber dan
jumlah bahan makanan yang dikonsumsi setiap hari yang sudah
merupakan kebiasaan. Tanpa disadari seseorang itu telah terbiasa
menyantap makanan yang asin secara berlebihan maka lama
kelamaan, akan merasakan tubuhnya berubah, seperti cepat
merasa pusing, berkurang keseimbangan tubuhnya dan sering
merasakan aneka gejala yang tidak enak. Pola konsumsi natrium
yang berlebihan merupakan ancaman bagi kesehatan, diantara
dipengaruhi oleh :
a) Batas Ambang Rasa
Indra perasa kita sejak kanak kanak telah terbiasa
untuk memiliki ambang batas yang tinggi terhadap rasa asin,
sehingga sulit menerima makanan yang agak tawar.
b) Penggunanan Penyedap Masakan
Budaya penggunaan MSG sudah sampai taraf yang
menghawatirkan. Hampir semua menggunakannya tanpa
takaran yang jelas. Sehingga kebiasaan makan dari sumber
natrium yang berlebihan berdampak pada timbulnya hipertensi.
Penyedap masakan lain yang masih lazim digunakan
masyarakat untuk menambah cita rasa masakan yaitu kecap,
terasi, petis, saos tomat ( Astawan, 2005 ).

18

c) Gaya Hidup
Gaya hidup masyarakat pada saat ini mengalami
berbagai perubahan, termasuk dalam hal pola makan. Banyak
dan padatnya aktifitas dengan waktu yang terbatas, telah
membuat masyarakat cenderung memilih makanan cepat saji.
Hal ini yang perlu diwaspadai, makanan cepat saji ini tinggi
kandungan lemak jenuh, kurang serat, kurang vitamin dan
tinggi natrium. Produk-produk fast food tersebut seperti sosis,
hambuger, fried chicken, pizza, dan lain-lain (Astawan, 2005).
3. Gejala Hipertensi
Perjalanan hipertensi berkembang secara perlahan tetapi secara
potensial sangat membahayakan, kadang kadang seseorang tidak
mengetahui dirinya menderita hipertensi. Dan mereka baru mengetahui
setelah hipertensi yang dideritanya menyebabkan komplikasi (Susi
Purwati, dkk, 1999).
Gejala hipertensi yang sering muncul adalah : pusing, muka merah,
sakit kepala, penglihatan menjadi kabur, tengkuk terasa pegal. Dampak
yang dapat di timbulkan oleh hipertensi adalah kerusakan ginjal,
pendarahan pada selaput bening (retina mata), pecahnya pembuluh darah
di otak, serta kelumpuhan. Dikatakan seseorang menderita hipertensi bila
tekanan darahnya lebih dari 140/90 mmHg dan normal bila tekanan
darahnya kurang dari 130/85 mmHg (William, 2007 ).

19

4. Patofisiologi
Sampai sekarang ini pengetahuan tentang patofisiologi hipertensi
terus berkembang, karena belum terdapat jawaban yang memuaskan yang
dapat menerapkan terjadinya tekanan darah

(Sarjadi, 2000). Asupan

garam berlebih dapat menyebabkan peningkatan volume cairan yang


berakibat tekanan darah meningkat.
Ginjal akan menahan natrium saat tubuh kekurangan natrium dan
sebaliknya ginjal akan mengeluarkan natrium melalui urin pada saat kadar
natrium meningkat didalam tubuh. Apabila kadar natrium terus-menerus
meningkat didalam tubuh, ginjal akan bekerja keras untuk mengeluarkan
natrium melalui urin dan dapat mengakibatkan fungsi ginjal terganggu.
Apabila fungsi ginjal tidak normal, kelebihan natrium tidak bisa
dibuang dan menumpuk didalam darah. Volume cairan dalam tubuh
meningkat dan membuat jantung dan pembuluh darah bekerja lebih keras
untuk memompa darah dan mengalirkannya keseluruh tubuh, tekanan
darah pun akhirnya meningkat (Rizannisa, 2009).
5. Komplikasi Hipertensi
Beberapa komplikasi dari hipertensi dapat terjadi seperti :
a. Jantung
Jantung dapat dirusakan oleh tekanan darah tinggi yang lama tidak
diobati. Pada awalnya jantung mengatasi ketegangan karena harus
menghadapi tekanan darah tinggi dengan meningkatnya kerja otot
sehingga membesar agar dapat memompa lebih kuat. Pompa jantung

20

mulai macet, tidak dapat lagi mendorong darah untuk beredar ke


seluruh tubuh, sebagian darah menumpuk pada jaringan. Zat gizi dan
oksigen diangkut oleh darah melalui pembuluh darah. Persoalan akan
timbul bila terdapat halangan atau kelainan dipembuluh darah, yang
berarti kurangnya suplai oksigen dan zat gizi untuk menggerakan
jantung secara normal ( Maulana, 2008).
b. Ginjal
Hipertensi yang berkelanjutan menebalkan pembuluh darah pada ginjal
sehingga

menganggu

mekanisme

yang

sangat

halus

yang

menghasilkan urin. Salah satu gejala utama kerusakan ginjal yang


disebabkan oleh tekanan darah tinggi adalah : berkurangnya
kemampuan untuk menyaring darah ( Tom Smith, 1998 ).
c. Stroke
Hipertensi dapat menyebabkan tekanan yang lebih besar pada dinding
pembuluh darah sehingga dinding pembuluh darah menjadi lemah dan
pembuluh darah akan mudah pecah. Pada kasus seperti itu, biasanya
pembuluh darah akan pecah akibat lonjakan tekanan darah yang terjadi
secara tiba-tiba. Pecahnya pembuluh darah di otak dapat menyebabkan
sel-sel otak yang seharusnya mendapatkan asupan oksigen dan zat gizi
yang dibawa melalui pembuluh darah tersebut menjadi kekurangan zat
gizi dan akhirnya mati (Auryn, 2007).

21

6. Penatalaksanaan
a. Macam Diet Garam Rendah
1) Diet Garam Rendah I (200-400 mg)
Diet ini diberikan pada pasien dengan odema, asitesis, dan
hipertensi berat. Pada pengolahan makanannya tidak ditambahkan
garam dapur, hindari makanan tinggi natrium.
2) Diet Garam Rendah II (600-800 mg)
Diet ini berlaku kepada pasien odema, asitesis, dan hipertensi
tidak terlalu berat. Dalam pengolahan makanannya boleh
menggunakan sendok teh garam dapur (2 gr).
3) Diet Garam Rendah III (1000-1200 mg Na)
Diet ini diberikan pada pasien dengan odema atau hipertensi
ringan. Dalam pengolahan makananya boleh menggunakan garam
1 sendok teh (6 gr) garam dapur ( Almatsier, 2005 ).
b. Pengobatan
Tujuan dari pengobatan hipertensi adalah untuk menurunkan
tekanan darah batas normal, tanpa mengganggu aktifitas sehari-hari.
Obat-obat yang digunakan untuk mengobati hipertensi meliputi:
diuretic, obat penghambat enzim konvensi angiotensin, antagonis
kalium, dan penghambat reseptor angiotesin II (William, 2007 ).

22

B. Peranan Natrium terhadap Hipertensi


1. Pengertian Natrium
Natrium adalah kation utama dalam cairan ekstraseluler tubuh yang
mempunyai fungsi menjaga keseimbangan cairan dan asam basa tubuh,
serta berperan dalam transmisi syaraf dan kontraksi otot ( Sunita
Almatiser, 2004).
Garam natrium terutama terdapat dalam cairan di luar sel seperti
cairan dalam pembuluh darah dan cairan dalam jaringan di antara sel sel.
Garam dapur mengandung natrium yang dibutuhkan oleh tubuh untuk
menjalankan fungsi tubuh. Tubuh hanya membutuhkan natrium 500 mg
per hari, sedangkan konsumsi garam orang indonesia sekitar 30-40 gram.
Ginjal akan menahan natrium saat tubuh kekurangan natrium dan
sebaliknya saat kadar natrium tinggi, ginjal akan mengeluarkan kelebihan
natrium melalui urin. apabila fungsi ginjal tidak optimal, kelebihan
natrium tidak bisa dibuang dan menumpuk di dalam darah. Volume cairan
tubuh akan meningkat dan membuat jantung dan pembuluh darah bekerja
lebih keras untuk memompa darah, tekanan darah pun akhirnya meningkat
(Budi Sutomo, 2009).
2. Fungsi Natrium
Natrium dan kalium mengatur keseimbangan asam basa darah,
mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh, mengatur kontraksi otot-otot,
dan merangsang fungsi syaraf. Natrium juga mengatur agar garam-garam

23

mineral lain larut dalam darah supaya jangan mengendap pada dinding
pembuluh darah (Simorangkir, 1998).
3. Penyerapan dan penyimpanan natrium
Natrium diserap dari lambung dan usus, kemudian dihantarkan
dalam darah ke ginjal dan disaring dikembalikan lagi ke dalam darah.
Untuk menyerap natrium, diperlukan energi. Kelebihan natrium dibuang
memulai urine. Hormon mengatur metabolisme natrium.
4. Pengaruh Terhadap Penyakit
Orang yang menderita hipertensi perlu mengurangi konsumsi
natrium. Penenlitian Klinik menunjukan bahwa diet rendah natrium sangat
baik mencegah dan meringankan odema, proteinuria (albumin dalam urin).
5. Sumber Natrium dalam Bahan Makanan
Sumber natrium antara lain adalah Makanan yang diawetkan
dengan garam dapur : Ikan asin, terasi, ebi, udang kering, telur asin, telur
pindang, buah kaleng, asinan; makanan laut; makanan yang mengandung
natrium / pengawet : Roti, biskuit, sosis, cornet, kecap, petis, tauco;
makanan ringan; makanan siap saji; garam (Almatsier, 2005).

C. Peranan Serat Terhadap Tekanan Darah


1. Pengertian Serat
Serat makanan adalah bahan makanan residu sel tanaman yang tidak dapat
dihidrolisis (diuraikan) oleh enzim pencernaan manusia dalam suasana
keasaman lambung, serta hasil-hasil fermentasinya tidak dapat digunakan

24

oleh tubuh. Definisi terbaru tentang serat makanan yang disampaikan


oleh the American Association of Cereal Chemist (AACC, 2001) adalah
bagian yang dapat dimakan dari tanaman atau karbohidrat analog yang
resisten terhadap pencernaan dan absorpsi pada usus halus dengan
fermentasi lengkap atau parsial pada usus besar.
2. Fungsi Serat
Mengonsumsi serat pangan (dietary fiber) secukupnya setiap hari
merupakan cara mudah untuk hidup sehat. Buah dan sayuran merupakan
gudang komponen penting bagi pencegahan bermacam-macam penyakit
degeneratif, selain mendukung upaya untuk menjaga berat badan tidak
bertambah. Serat dibagi menjadi serat pangan larut air dan serat pangan
tidak laur air. Komponen serat pangan larut air dapat membentuk gel
dengan cara menyerap air.
Adapun serat di bagi menjadi dua yaitu :
a. Serat Makanan Larut Air
Menghambat proses pencernaan di dalam usus, sehingga perolehan
energi menjadi berkurang. Memberikan perasaan kenyang lebih lama.
Memperlambat kenaikan gula darah, sehingga dibutuhkan sedikit
insulin

untuk

mengubah

glukosa

menjadi

energi.

Membantu

mengendalikan berat badan dengan memperlambat munculnya rasa


lapar. Meningkatkan kesehatan saluran pencernaan dengan cara
meningkatkan motilitas (pergerakan) usus besar. Mengurangi risiko
penyakit jantung. Meningkat asam empedu, lemak, dan kolesterol, serta

25

mengeluarkannya melalui proses buang air besar (BAB).


b. Serat Makanan Tidak Larut Air
Memperpendek waktu transit makanan di dalam usus dan meningkatkan
massa tinja, memperlancar proses BAB, mengurangi risiko wasir dan
kanker kolon.
Serat makanan terdiri dari dua bagian yaitu serat-serat larut dan serat
tidak larut dalam air. Dokter ahli serat makanan james anderson dari
Kentucky Collage Of Medicine-Amerika Serikat mengungkapkan
bahwa serat kasar dapat berfungsi mencegah penyakit tekanan darah
tinggi. Serat ini akan mengikat kolesterol maupun asam empedu dan
selanjutnya membuangnya bersama kotoran. Keadaan itu dapat dicapai
jika makanan yang di konsumsi mengandung serat kasar cukup tinggi.
3. Sumber Serat dalam Sumber Makanan
Sumber bahan makanan yang mengandung serat kasar cukup tinggi
adalah :
a. Golongan Buah-buahan : jambu biji, belimbing, jambu bol, kedondong,
anggur, nangka masak, markisa, pepaya, jeruk, manggis, apel,
semangka dan pisang.
b. Golongan Sayuran : daun bawang, kecipir muda, jamur segar, bawang
putih, daun dan kulit melinjo, buah kelor, daun kacang panjang, kacang
panjang, daun kemangi, daun katuk, daun singkong, daun ubi jalar,
daun seledri, lobak, tomat, kangkung, tauge, buncis, pare, kol, wortel,
bayam dan sawi.

26

c. Golongan protein nabati : kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai,


kacang merah dan biji-bijian ( Almatsier, 2005 ).

D. Asupan Lemak
Lemak dalam tubuh diperlukan sebagai cadagan energy, mengatur suhu
tubuh dan masih banyak lagi fungsi lain lemak bagi tubuh. Selain fungsi
tersebut lemak dapat juga membahayakan kesehatan, bila asupan lemak tidak
bijaksana seperti asupan yang tinggi lemak jenuh, lemak tidak jenuh yang
terlalu rendah, serta asupan kolesterol dan lemak total yang berlebih. Asupan
lemak yang dianjurkan untuk orang adalah 20-30% dari total energy
(Wasowicz, 2003). Diet yang direkomendasikan adalah asupan lemak 30%
total energy dan tidak kurang dari 20% total energy, asam lemak jenuh < 10%
total kalori, serta diet kolesterol < 300 mg/hari (Lee, 2001). Rata-rata asupan
makanan anak dan dewasa di Amerika sekitar 30-36% lebih tinggi dari diet
yang direkomendasikan (Munoz, 1997 dalam Ahlian, 2005). Lemak
merupakan zat organic yang tersusun terutama oleh karbon, hydrogen dan
oksigen, beberapa jenis lemak juga berisi nitrogen dan fosfor. Senyawa ini
tidak larut dalam air tetapi dapat larut dalam pelarut organic seperti : eter,
kloroform dan benzene. Lemak terdapat dalam semua bagian tubuh manusia
terutama dalam otak, mempunyai peran dalam proses metabolisme secara
umum, sebagian lemak sel jaringan terdapat sebagai komponen utama
membrane sel dan berperan mengatur jalannya metabolism di dalam sel
(Okada, dkk, 2002).

27

E. Kerangka Teori
Hipertensi

Tidak Terkontrol

Terkontrol

Keturunan
Umur
Jenis kelamin

Keterangan :

Alkohol
Rokok
Stress
Pekerjaan
Konsumsi Natrium
Konsumsi lemak
Serat
Obesitas
Pola makan
Ketegangan
Kopi
Lingkungan dan Faktor geografik
Faktor sosio-budaya
Perbedaan suku

- - - - - - : Diteliti
F. Kerangka Konsep
Asupan Serat
Lemak
Hipertensi
Natrium
IMT

28

Hipotesis :
1.

Ada hubungan asupan serat dengan tekanan darah pada penderita


hipertensi.

2.

Ada hubungan asupan lemak dengan tekanan darah pada penderita


hipertensi.

3.

Ada hubungan asupan natrium dengan tekanan darah pada penderita


hipertensi.

4.

Ada hubungan IMT dengan tekanan darah pada penderita hipertensi.