Anda di halaman 1dari 19

A. Latar Belakang.

Grande multipara adalah kondisi dimana seorang ibu pernah melahirkan lebih
dari 5 kali. Sedangkan apabila lebih dari 10 kali ditambahkan predikatnya menjadi
Great Grande Multipara. Jelas sekali bahwa ibu tersebut tidak turut serta
menyukseskan gerakan Keluarga Berencana yang dicanangkan pemerintah
Dalam tinjauan medis, grande multipara memiliki resiko-resiko yaitu:
1. Komplikasi selama persalinan
2. Placenta Praevia (ket: ari-ari/placenta menempel di jalan lahir sehingga bayi
tidak bisa lahir secara normal)
3. Solutio Placenta ( ari-ari lepas sebelum bayi lahir )
4. Malpresentasi
5. Persalinan dengan alat
6. Operasi Sesar
7. Perdarahan pasca persalinan
8. Persalinan prematur
9. Kematian ibu
Bahkan ditambahkan adanya resiko yang sangat besar terkena kangker leher
rahim bila perempuan melahirkan banyak anak.
dr. Kusuma Andriana SpOG menyebutkan adanya suatu penelitian yang
dilakukan terhadap 299.710 persalinan tunggal (tidak kembar) di Utah- Amerika
Serikat pada tahun 1995-2001. Menurut penelitian itu, dari 299.710 kasus persalinan
terdapat 4937 ibu yang berusia antara 18-35 tahun mengalami kasus grande

multipara. Artinya, bahwa dalam rentang umur antara 18-35 tahun, ibu-ibu tersebut
telah mengalami persalinan lebih dari 4 kali.
Tetapi anehnya, ibu-ibu tersebut justru mengalami penurunan resiko
komplikasi persalinan, fatal distress, malpresentasi, persalinan prematur dan cidera
bayi dibandingkan dengan non grande multipara. Bukankah hal ini berarti hasil
penelitian tsb justru bertolak belakang dengan teori?

Untuk memudahkan

memahami, misalkan ada seorang ibu yang berusia 30 tahun telah melahirkan 5 anak.
Saat ini ia hamil anak ke 6 dan melakukan persalinan, maka persalinan tersebut
memiliki resiko yang lebih rendah dibandingkan dengan ibu yang memiliki anak
pertama pada usia 28 tahun.
Semakin tua usia ibu maka resiko komplikasi persalinan semakin tinggi. Jadi,
sesuai hasil penelitian ini, jika seorang ibu melahirkan banyak anak pada usia antara
18 sampai 35 tahun, maka resiko-resiko persalinan justru lebih kecil
terjadi. (KEPUSTAKAAN: SIMONSEN SME, LYON JL, ALDER SC, VARNER MW. EFFECT OF
GRAND MULTIPARITY ON INTRAPARTUM AND NEWBORN COMPLICATIONS IN YOUNG
WOMEN OBSTETRICS & GYNECOLOGY 2005;106:454-460)

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Keluarga
1. Keluarga adalah unit atau unsur terkecil dalam masyarakat yang memberikan
pada individu (anggota keluarga) mengenai norma dari nilai-nilai yang
mengatur kehidupan masyarakat sebagai tatanan sosial (menurut ilmu sosial).
2. Keluarga adalah kelompok dua orang atau lebih yang berhubungan karena
kelahiran dari perkawinan, adopsi atau tinggal bersama dalam suatu rumah
tangga (National Centre Health, Natisme, 1990).
3. Keluarga resiko tinggi adalah suatu keadaan di mana dalam keluarga tersebut
ada salah satu atau lebih faktor resiko khususnya dalam bidang kesehatan
(Stanhope, 1998)
B. Ciri-Ciri Keluarga
Meliputi :
1. Mempunyai ikatan erat antar anggota keluarga
2. Hubungan antar anggotanya secara langsung dan tatap muka
3. Masing-masing anggota merasakan, menilai tanggung jawab (hak dan
kewajiban) demi kelangsungan hidup keluarga (Aldous, 1978).

C. Struktur Peran

Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi


sosial yang diberikan. Yang dimaksud dengan posisi atau status adalah posisi
individu dalam masyarakat, misalnya status sebagai istri / suami atau anak.
Perilaku peran, dibagi menjadi 3 :
1. Peranan Ayah
a. Pencari nafkah
b. Pelindung dan pemberi rasa aman
c. Kepala Keluarga
d. Sebagai anggota dari kelompok sosialnya
e. Sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya
2. Peranan Ibu
a. Mengurus rumah tangga
b. Pengasuh dan pendidik anak-anaknya
c. Sebagai pelindung
d. Sebagai salah satu anggota kelompok dari peranan sosialnya serta
e. Sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya
f. Bisa berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarga
3. Peranan Anak
Melaksanakan peranan psiko sosial sesuai dengan tingkat perkembangannya,
baik fisik, mental, sosial dan spiritual
(Kantor Menteri Negara Kependudukan / BKKBN, 1996).
D. Tahapan Keluarga Sejahtera

1. Prasejahtera
Keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal
atau belum seluruhnya terpenuhi seperti : spiritual, pangan, sandang, papan,
kesehatan dan KB
2. Sejahtera I
Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal,
tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya seperti
kebutuhan akan berpendidikan, KB, interaksi dalam keluarga, interaksi
lingkungan tempat tinggal, dan transportasi.
3. Sejahtera II
Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya dan kebutuhan
sosial psikologisnya tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan pengembangan,
seperti kebutuhan untuk menabung dan memperoleh informasi.
4. Sejahtera III
Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar, sosial psikologis dan
pengembangan, tetapi belum dapat memberikan sumbangan yang teratur bagi
masyarakat atau kepedulian sosialnya belum terpenuhi seperti sumbangan
materi, dan berperan aktif dalam kegiatan masyarakat.
5. Sejahtera III Plus
Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar, sosial psikologis dan
pengembangan, dan telah dapat memberikan sumbangan yang teratur dan

berperan dalam kegiatan kemasyarakatan atau memiliki kepedulian sosial


yang tinggi.
(Kantor Menteri Negara Kependudukan / BKKBN, 1996)
E. Keperawatan Kesehatan Keluarga
Health care activities, health beliefs, and health values merupakan bagian
yang dipelajari dari sebuah keluarga. Sehat dan sakit merupakan bagian dari
kehidupan, perilaku individu menunjukkan sebagaimana anggota keluarga yang
harus dipelajari. Friedman (1992) mengidentifikasi dengan jelas kepentingan
pelayanan keperawatan yang terpusat pada keluarga (family-centered nursing
care), yaitu :
1. Keluarga terdiri dari anggota yang saling ketergantungan satu sama lainnya
(interdependent) dan berpengaruh dengan yang lainnya. Jika salah satu sakit
maka anggota keluarga yang lain juga merupakan bagian yang sakit.
2. Adanya hubungan yang kuta di antara keluarga dengan status kesehatan
anggotanya, maka anggota keluarga sangat penting peranannya dalam setiap
pelayanan kepeawatan.
3. Tingkat kesehatan anggota keluarga sangat signifikan dengan aktivitas di
dalam promosi kesehatannya.
4. Keadaan sakit pada salah satu anggota keluarga dapat sebagai indikasi
problem yang sama di dalam anggota yang lainnya.
(Friedman, 1992)

Dalam perawatan kesehatan masyarakat, sasaran yang menerima


pelayanan kesehatan dibagi menjadi 3 (tiga) tingkat, yaitu :
1. Tingkat Individu
Tenaga kesehatan memberi pelayanan kepada individu dengan kasuskasus tertentu, pasien dengan TBC, pasien dengan DM, ibu hamil dan
sebagainya yang mereka jumpai di poliklinik. Tenaga kesehatan melihat kasus
ini sebagai individu dengan memperhatikan atau tanpa memberi perhatian
kepada keluarga atau masyarakat di mana pasien ini adalah anggotanya.
Individu yang menjadi sasaran perawatan dan yang pemecahan masalahnya.
Keluarga pasien tidak mutlak diikutsertakan dalam pemecahan masalah.
2. Tingkat Keluarga
Dalam tingkatan ini yang menjadi sasaran pelayanan adalah keluarga.
Anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan akan dirawat sebagai
pasien. Maka tenaga kesehatan akan menghadapi pasien yaitu keluarga
dengan ibu hamil keluarga dengan ayah berpenyakit TBC, keluarga dengan
anak retardasi mental, dan lain-lain.
3. Tingkat Masyarakat
Masyarakat adalah kumpulan dari keluarga- keluarga. Kata masyarakat
mengadung arti geografis dan sosia budaya. Yang menjadi obyek dan subyek
tenaga kesehatan adalah kelompok masyarakat pada daerah tertentu dengan
permasalahan kesehatan, misalnya masyarakat dengan kejadian demam
berdarah atau cholera, dan lain-lain. (Friedman, 1992)

F. Beban Kasus Keluarga


Beban kasus keluarga (family case load) adalah jumlah macam kasus dalam
keluarga yang dipelihara / dibina oleh seorang tenaga kesehatan dalam jangka
waktu tertentu. Pada umumnya keluarga yang ditangani oleh tenaga esehatan
adalah keluarga- keluarga yang mempunyai masalah dan kebanyakan keluarga ini
adalah keluarga dengan penghasilan yang rendah. Hal ini akan dimengerti karena
kebutuhan akan pelayanan dan bimbingan kesehatan lebih tinggi pada kalangan
masyarakat yang berpenghasilan rendah.

Penghasilan
Rendah
Produktifitas
berkurang

Kecenderungan terjadi :
1. Sanitasi jelek
2. Gizi kurang
3. Pendidikan rendah
4. Kebiasaan kesehatan

Tubuh menjadi
rentan terhadap
penyakit
Daya tahan tubuh terhadap
penyakit berkurang atau
menurun
Dalam pemberian pelayanan kesehatan pada keluarga, pengambilan
keputusan tetap pada keluarga. Tenaga kesehatan hanya membantu keluarga
dalam mendapatkan keterangan dan pandangan yang realitis terhdap masalah,
keunggulan, dan kelemahan tiap tindakan yang mereka hadapi. Sehingga semua

penentuan kebijkan dan keputusan adalah hak, kewajiban dan tanggung jawab
keluarga, di mana tenaga kesehatan hanya memfasilitasinya.
1. Tugas Kesehatan Keluarga
a. Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarga. Ini
ada hubungannya dengan kesanggupan keluarga untuk mengenal masalah
kesehatan pada setiap anggota keluarga.
b. Mengambil keputusan untuk tindakan kesehatan yang tepat
c. Memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit, yang tidak
dapat membantu diri karena cacat atau usianya terlalu muda.
d. Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan untuk kesehatan
dan perkembangan kepribadian anggota keluarga.
e. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembagalembaga kesehatan. Ini menunjukkan pemanfaatan dengan baik akan
fasilitas-fasilitas kesehatan.
(Friedman, 1992)
2. Peran Tenaga Kesehatan Keluarga
Tenaga kesehatan keluarga adalah pelayanan kesehatan yang ditujukan
pada keluarga sebagai unit pelayanan untuk mewujudkan keluarga yang sehat.
Fungsi tenaga kesehatan membantu keluarga untuk menyelesaikan masalah
kesehatan dengan cara meningkatkan kesanggupan keluarga melakukan fungsi
dan tugas kesehatan keluarga.

Peran tenaga kesehatan dalam melakukan perawatan kesehatan


keluarga adalah sebagai berikut :
a. Pendidikan
b. Koordinator
c. Pelaksana
d. Pengawas Kesehatan
e. Konsultan
f. Kolaborasi
g. Fasilitator
h. Penemu Kasus
i. Modifikasi lingkungan (Friedman, 1992)
G. Faktor-Faktor Resiko Tinggi Dalam Keluarga
1. Keluarga dengan anggota keluarga dalam masa usia subur dengan masalah
a. Tingkat sosial ekonomi keluarga rendah
b. Keluarga kurang atau tidak mampu mengatasi kesehatan sendiri
c. Keluarga dengan keturunan yang kurang baik atau keluarga dengan
penyakit
2. Keluarga dengan ibu resiko tinggi kebidanan waktu hamil
a. Umur ibu hamil kurang dari 16 tahun atau lebih dari 35 tahun
b. Menderita kurang gizi atau anemis
c. Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun atau terlalu dekat

d. Riwayat persalinan dengan komplikasi


3. Riwayat dimana anak menjadi resiko tinggi
a. Lahir prematur atau BBLR
b. Berat badan sukar naik
c. Lahir dengan cacat bawaan
d. ASI kurang sehingga tidak mencukupi kebutuhan bayi
e. Ibu menderita penyakit menular yang mengancam bayi
4. Keluarga mempunyai masalah dalam hubungan antar anggota keluarga
a.

Anak yang tidak dikehendaki

b.

Tidak ada kesesuaian antar anggota atau sering


cekcok

c.

Ada anggota yang sering sakit

d.

Salah satu orang tua (ayah atau ibu) meninggal,


cerai atau lari meninggalkan keluarga (Dainur, 1995)

H. Grande Multipara
1. Definisi
Grande multipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi 6 kali atau lebih
hidup atau mati (Rustam, 1998).
Grande multipara adalah seorang wanita hamil yang pernah melahirkan lebih
dari 5 bayi aterm atau bayi sudah dapat hidup di luar kandungan. (Sumber :

Perawatan Ibu dan Anak di Rumah Sakit dan Pusat Kesehatan Masyarakat,
225 tahun 1996 / 1997).
Grandemultipara adalah kondisi di mana seorang ibu pernah melahirkan lebih
dari 4 kali (http://redtea4u.multiply.com/journal/item/5).
2. Komplikasi
Kehamilan pada grande multipara mengandung lebih banyak resiko dari pada
kehamilan pada multipara lainnya, baik untuk ibu maupun bayi. Karena
seringnya melahirkan maka pada grande multipara yang menimbulkan :
a. Kelainan letak karena dinding uterus atau perut yang telah longgar.
b. Kesehatan terganggu karena gangguan anemia atau kurang gizi.
c. Kekendoran dinding rahim.
d. Gangguan Kardiovaskuler, misalnya kelaina jantung atau hipertensi.
e. Kelainan endokrin,misalnya diabetes millitus, hiperthiroid
f. Plasenta previa, karena dinding uterus di daerah fundus dan korpus telah
pernah dilekati plasenta, sehingga sekarang plasenta melekat di bawah.
g. Solusio plasenta.
h. Ruptur uteri.
i. Kelemahan his.
j. Kelemahan His.
k. Perut menggantung
l. Persalinan yang lam.
m. Perdarahan pasca persalinan.

Pada masa nifas atau kala IV mungkin terjadi :


a. Atonia uteri.
b. Retensio plasenta karena plasenta akreta
c. Subinvolusio uteri.
Grande multipara termasuk golongan resiko tinggi, karena banyaknya
kemungkinan timbulnya kesulitan-kesulitan ini, seorang grande multipara
seharusnya bersalin di rumah sakit dan mendapat perawatan antenatal yang
ketat. Adalah satu kenyataan bahwa sering pada grande multipara terdapat
kecenderungan untuk mengabaikan peralatan antenatal dan perawatan
persalinan. Hal ini disebabkan karena mereka tidak begitu memikirkan
timbulnya penyakit persalinannya. Mereka merasa aman karena kehamilankehamilan dan persalinan-persalinan yang lalu dialaminya dengan selamat.
Di samping itu terutama keluarga yang keadaan sosial ekonominya rendah.
Kesibukan rumah tangga merawat anak-anaknya yang masih kecil, banyak
mengurangi perhatiannya terhadap kesehatan sendiri (Hacker, 2001).
I. Keluarga Berencana
1. Kontrasepsi untuk perempuan berusia lebih dari 35 tahun
a. Perempuan berusia lebih dari 35 tahun memerlukan kontrasepsi yang
aman dan efektif karena kelompok ini akan mengalami peningkatan
morbiditas dan mortalitas jika mereka hamil.

b. Untuk

yang

benar-benar

tidak

menginginkan

anak

lagi

dapat

menggunakan kontrasepsi mantap atau kontap (Saifuddin, 2003).

2. Tubektomi
a. Profil
1) sangat efektif dan permanen
2) Tindakan penbedahan yang aman dan sederhana
3) Tidak ada efek samping
4) Konseling dan informed consent mutlak diperlukan
5) Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan
fertilitas (kesuburan) seorang perempuan secara permanen (Saifuddin,
2003).
b. Jenis
1) Minilaparatemi
2) Laparoskopi (Saifuddin, 2003)
c. Mekanisme Kerja
Dengan mengoklusi tuba falopii (mengikat danmemotong atau memasang
cincin), sehingga sperma tidak dapat bertemu ovum (Hartanto, 2004).
d. Manfaat
1) Kontrasepsi

a) Sangat efektif (0, 2-4 kehamilan per 100 perempuan selama tahun
pertama penggunaan)
b) Permanen
c) Tidak mempengaruhi proses menyusui (breast feeding)
d) Tidak bergantung pada fakor senggama
e) Baik bagi klien apabila kehamilan akan menjadi resiko kesehatan
yang serius
f) Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi lokal
g) Tidak ada efek samping dalam jangka panjang
h) Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual (tidak ada efek dalam
fungsi ovarium)
2) Nonkontrasepsi
Berkurangnya rsiko kanker ovarium (Hanifa, 2005).
e. Keterbatasan
1) Harus dipertimbangkan sifat permanen metode kontrasepsi ini (tidak
dapat dipulihkan kembali),kecuali dengan operasi rekanalisasi.
2) Klien dapat menyesal di kemudian hari.
3) Resiko komplikasi kecil (meningkat apabila digunakan anestesi
umum)
4) Rasa sakit atau ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah
tindakan.

5) Dilakukan oleh dokter yang terlatih (dibutuhkan dokter spesialis


ginekologi atau dokter spesialis bedah untuk proses laparoskopi)
6) Tidak melindungi terhadap IMS, termasuk HBV dan HIV / AIDS
(Hartanto, 2004).

f. Indikasi
1) Perempuan pada usia > 26 tahun
2) Perempuan dengan paritas > 2
3) Perempuan yang yakin telah mempunyai keluarga besar yang sesuai
dengan kehendaknya.
4) Perempuan yang pada kehamilannya dan menimbulkan resiko
kesehatan yang serius.
5) Perempuan pasca persalinan
6) Perempuan pasca keguguran
7) Perempuan yang paham dan secara sukarela setuju dengan prosedur ini
(Hanifa, 2005).
g. Kontraindikasi
1) Perempuan yang hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai)
2) Perempuan dengan perdarahan vaginal yang belum terjelaskan (hingga
harus dievaluasi)

3) Perempuan dengan infeksi sistematik atau pelvik yang akut (hingga


masalah itu disembuhkan aau dikontrol)
4) Perempuan yang tidak boleh menjalani proses pembedahan
5) Perempuan yang kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas
di masa depan
6) Perempuan yang belum memberikan persetujuan tertulis (Hartanto,
2004).

h. Waktu
1) Setiap waktu selama siklus haid apabila diyakini secara rasional klien
tersebut tidak hamil
2) Hari ke-6 hingga hari ke-13 dari siklus haid (fase proferasi)
3) Pasca persalinan 2 hari atau setelah 6 minggu atau 12 minggu
4) Pasca keguguran
Dalam waktu 7 hari sepanjang tidak ada bukti infeksi pelvik (Hanifa,
2005).
i. Informasi Umum
1) Nyeri bahu selama 12-24 jam setelah laparoskopi relatif lazim dialami
karena gas (CO2 atau udara) di bawah diafragma, sekunder terhadap
pneumoperitoneum.
2) Tubektomi efektif setelah operasi
3) Periode menstruasi akan berlanjut seperti biasa

4) Tubektomi tidak memberikan perlindungan atau IMS, termasuk HIV /


AIDS. Apabila pasangannya beresiko, pasangan tersebut sebaiknya
mempergunakan kondom bahkan setelah tubektomi (Hartanto, 2004).
3. Vasektomi
a. Profil
1) Sangat efektif
2) Tidak ada efek samping jangka panjang
3) Tindakan bedah yang aman dan sederhana
4) Efektif setelah 20 kali ejakulasi atau 3 bulan
5) Konseling dan informed consent mutlak diperlukan (Hartanto, 2004)
b. Batasan
Vasektomi adalah prsedur klinik untuk menghentikan kapasitas reproduksi
pria dengan jalan melakukan oklusi vas deferensia sehingga alur
transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi (penyatuan dengan
ovum) tidak terjadi (Hartanto, 2004).
c. Indikasi
Vasektomi merupakan upaya untuk menghentikan fertilisasi di mana
fungsi reproduksi merupakan ancaman atau gangguan terhadap kesehatan
pria dan pasangannya serta melemahkan ketahanan dan kualitas keluarga
(Hanifa, 2005).
d. Kontraindikasi Vasektomi
1) Infeksi kulit pada daerah operasi

2) Infeksi sistematik yang sangat mengganggu kondisi kesehatan klien


3) Hidrokel atau varikokel yang besar
4) Hernia inguinalis
5) Filariasis (elefantiasis)
6) Undensensus testikularis
7) Masa intraskrotalis
Anemia berat, gangguan pembekuan darah atau sedang menggunakan
anti koagulansia (Hartanto, 2004).
Tempat pelayanan dan petugas pelaksana Vasektomi Tanpa Pisau
(VTP). Tim medis VTP merupakan petugas kesehatan yang dilatih secara
khusus untuk melakukan prsedur vasektomi. Di Indonesia, pusat kesehatan
masyarakat (Puskesmas) yang memiliki Tim Medis VTP merupakan fasilitas
kesehatan terdepan yang dapat memberikan pelayanan kontrasepsi khusus ini.
Walaupun prosedur vasektomi merupakan tindakan bedah minor, ketersediaan
peralatan dan medikamentosa untuk tindakan gawat darurat merupakan syarat
mutlak pelayanan. Akses ke fasilitas kesehatan rujukan juga harus tersedia
setiap saat (Saifuddin, 2003).