Anda di halaman 1dari 32

Diagnosa Banding Tumor Jinak

Payudara
BAB 1. PENDAHULUAN
Mayoritas dari lesi yang terjadi pada mammae adalah benigna. Hampir 40% dari pasien
yang mengunjungi poliklinik dengan keluhan pada mammae mempunyai lesi jinak. Perhatian yang
lebih sering diberikan pada lesi maligna karena kanker payudara merupakan lesi maligna yang paling
sering terjadi pada wanita di negara barat walaupun sebenarnya insidens lesi benigna payudara adalah
lebih tinggi berbanding lesi maligna.1
Mayoritas dari lesi benigna tidak terkait dengan pertambahan risiko untuk menjadi kanker,
maka prosedur bedah yang tidak diperlukan harus dihindari. Pada masa lalu, kebanyakan dari lesi
benigna ini dieksisi dan hasilnya terdapat peningkatan dari jumlah pembedahan yang tidak
diperlukan. Faktor utama adalah karena pandangan dari wanita itu sendiri bahwa lesi iniadalah
sebuah keganasan. Oleh karena itu, penting bagi ahli patologi, ahli radiologi dan ahlionkologi untuk
mendeteksi lesi benigna dan membedakannya dengan kanker payudara in situ dan invasif serta
mencari faktor risiko terjadinya kanker supaya penatalaksanaan yang sesuai dapat diberikan kepada
pasien.1
Penggunaan mammografi, Ultrasound , Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan juga
biopsi payudara dapat membantu dalam menegakkan diagnosis lesi benigna pada mayoritas dari
pasien.Selain tingginya insiden dari ;lesi mamae yang bersifat benign, keganasan pada
kelenjarmamae juga menjadi penyebab utama kematian pada wanita. Kanker adalah salah satu
penyakityang banyak menimbulkan kesengsaraan dan kematian pada manusia. Di negara-negara
barat, kanker merupakan penyebab kematian nomor 2 setelah penyakit-penyakit kardiovaskular
(Ama,1990). Diperkirakan, kematian akibat kanker di dunia mencapai 4,3 juta per tahun dan 2,3 juta
diantaranya ditemukan di negara berkembang. Jumlah penderita baru per tahun 5,9 juta di seluruh
dunia dan 3 juta di antaranya ditemukan di negara sedang berkembang (Parkin,et al 1988 dalamSirait,
1996).Di Indonesia diperkirakan terdapat 100 penderita kanker baru untuk setiap 100.000 penduduk
per tahunnya. Prevalensi penderita kanker meningkat dari tahun ke tahun akibat peningkatan angka
harapan hidup, sosial ekonomi, serta perubahan pola penyakit (Tjindarbumi, 1995).
Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1992, kanker menduduki urutan ke-9 dari
10 penyakit terbesar penyebab utama kematian di Indonesia.Angka proporsi penyakit kanker di
1 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
Indonesia cenderung meningkat dari 3,4 (SKRT 1980)menjadi 4,3 (SKRT 1986), 4,4 (SKRT 1992),
dan 5,0 (SKRT 1995). Data Profil KesehatanRI 1995 menunjukkan bahwa proporsi kanker yang
dirawat inap di rumah sakit di Indonesia mengalami peningkatan dari 4,0% menjadi 4,1%. Selain itu,
peningkatan proporsi penderita yang dirawat inap juga terjadi peningkatan di rumah sakit DKI
Jakarta pada 1993 dan 1994,dari 4,5% menjadi 4,6%.Kanker payudara sering ditemukan di seluruh
dunia dengan insidens relatif tinggi, yaitu 20% dari seluruh keganasan (Tjahjadi, 1995). Dari 600.000
kasus kanker payudara baru yang didiagnosis setiap tahunnya. Sebanyak 350.000 di antaranya
ditemukan di negara maju,sedangkan 250.000 di negara yang sedang berkembang (Moningkey,
2000). Di AmerikaSerikat, keganasan ini paling sering terjadi pada wanita dewasa. Diperkirakan di
AS 175.000 wanita didiagnosis menderita kanker payudara yang mewakili 32% dari semua kanker
yang menyerang wanita. Bahkan, disebutkan dari 150.000 penderita kanker payudara yang
berobatke rumah sakit, 44.000 orang di antaranya meninggal setiap tahunnya (Oemiati, 1999).
American Cancer Society memperkirakan kanker payudara di Amerika akan mencapai
2 juta dan 460.000 di antaranya meninggal antara 1990-2000 (Moningkey, 2000).Kanker payudara
merupakan kanker terbanyak kedua sesudah kanker leher rahim diIndonesia (Tjindarbumi, 1995).
Sejak 1988 sampai 1992, keganasan tersering di Indonesia tidak banyak berubah. Kanker leher rahim
dan kanker payudara tetap menduduki tempat teratas. Selain jumlah kasus yang banyak, lebih dari
70% penderita kanker payudara ditemukan pada stadium lanjut (Moningkey,2000). Data dari
Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa Case Fatality
Rate (CFR) akibat kanker payudara menurut golongan penyebab sakit menunjukkan peningkatan
dari tahun 1992-1993, yaitu dari 3,9 menjadi 7,8 (Ambarsari, 1998).Gejala permulaan kanker
payudara sering tidak disadari atau dirasakan dengan jelas oleh penderita sehingga banyak penderita
yang berobat dalam keadaan lanjut. Hal inilah yang menyebabkan tingginya angka kematian kanker
tersebut. Padahal, pada stadium dini kematian akibat kanker masih dapat dicegah. Tjindarbumi
(1982) mengatakan, bila penyakit kanker payudara ditemukan dalam stadium dini, angka harapan
hidupnya (life expectancy) tinggi, berkisar antara 85 s.d. 95%. Namun, dikatakannya pula bahwa
70--90% penderita datang ke rumah sakit setelah penyakit parah, yaitu setelah masuk dalam stadium
lanjut. Pengobatan kanker pada stadium lanjut sangat sukar dan hasilnya sangat tidak memuaskan.
Pengobatan kuratif untuk kanker umumnya operasi dan atau radiasi. Pengobatan pada
stadium dini untuk kanker payudara menghasilkan kesembuhan 75% (Ama, 1990). Pengobatan pada
2 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
penderita kanker memerlukan teknologi canggih, ketrampilan, dan pengalaman yang luas. Perlu
peningkatan upaya pelayanan kesehatan, khususnya di RS karena jumlah yang sakit terus-menerus
meningkat, terlebih menyangkut golongan umur produktif. Informasi tentang faktor-faktor ketahanan
hidup memberikan manfaat yang besar. Bukan hanya untuk peningkatan penanganan penderita
kanker payudara,tapi juga untuk memberikan informasi yang cukup kepada masyarakat tentang
kanker payudara dan perkembangan serta prognosis penyakit tersebut di masa mendatang

BAB 2. PEMBAHASAN
2.1. Embriologi
Payudara (mammae) sebagai kelenjar subkutan mulai tumbuh sejak minggu keenam masa embrio,
yaitu berupa penebalan ektodermal sepanjang garis yang disebut sebagai garis susu,terbentang dari
aksila sampai ke regio inguinal. Payudara merupakan suatu kelompok kelenjar-kelanjar besar yang
berasal dari epidermis, yang terbungkus dalam fascia yang berasal daridermis, dan fascia superficial
dari permukaan ventral dada. Puting susu sendiri merupakansuatu proliferasi lokal dari stratum
3 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
spinosum epidermis. Selama bulan kedua kehamilan, dua berkas lapisan tebal ectoderm muncul pada
dinding depan tubuh terbentang dari aksila ke lipat paha. Dua berkas ini adalah milk linedan
melambangkan jaringan kelenjar mamma yang potensial (Gambar 1.1). Pada manusia, hanya bagian
pectoral dari berkasi ini yang akan menetap dan akhirnya berkembang menjadi kelenjar mamma
dewasa. Kadang-kadang, jaringan payudara yang tersisa atau bahkan fungsional dapat muncul dari
bagian lain dari milk line.1

Gambar 2.1. A. Milk line dari embrio mamalia secara umum, kelanjar mamma
terbentuksepanjang garis ini. B. Tempat umum terbentuknya kelenjar mamma atau
supernumerary nipples pada manusia

4 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
Gambar 2.2. Pembentukkan payudara. A-D : stadium pembentukkan kelenjar dan sistem duktus
berasal dari epidermis. Septa jaringan ikat berasal dari mesenkim dermis. E: eversi
putting menjelang kelahiran.
2.2. Anatomi
Payudara wanita dewasa berlokasi dalam fascia superficial dari dinding depan dada. Dasar
dari payudara terbentang dari iga kedua di sebelah atas sampai iga keenam atau ketujuh disebelah
bawah, dan dari sternum batas medialnya sampai ke garis midaksilrasis sebagai batas lateralnya. Dua
pertiga dasar tersebut terletak di depan M.pectoralis major dan sebagianM.serratus anterior. Sebagian
kecil terletak di atas M.obliquus externus. Pada 95% wanita terdapat perpanjangan dari kuadran
lateral atas sampai ke aksila. Ekor ini (tail of Spence) dari jaringan mammae memasuki suatu
hiatus (dari Langer) dalam fascia sebelah dalam dari dinding medial aksilaI. Hanya ini jaringan
mammae yang ditemukan secara normal dibawah fascia sebelah dalam.1,2

Gambar 2.3. Potongan sagital mammae dan dinding dada sebelah depan

5 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara

Gambar 2.4. Topografi aksila ( Anterior view)


Setiap payudara terdiri dari 15 sampai 20 lobus, beberapa lebih besar daripada yang lainnya,
berada dalam fascia superficial, dimana dihubungkan secara bebas dengan fascia sebelah dalam.
Lobus-lobus ini beserta duktusnya adalah kesatuan dalam anatomi, bukankesatuan dalam bedah.
Suatu biopsy payudara bukan suatu lobektomi, dimana pada prosedur semacam itu, sebagian dari 1
atau lebih lobus diangkat. Antara fascia superficial dan yang sebelah dalam terdapat ruang
retromammary(submammary)yang mana kaya akan limfatik
Lobus-lobus parenkim beserta duktusnya tersusun secara radial berkenaan dengan posisi
dari papilla mammae, sehingga duktus berjalan sentral menuju papilla seperti jari-jari rodaberakhir
secara terpisah di puncak dari papilla. Segmen dari duktus dalam papilla merupakan bagian duktus
yang tersempit. Oleh karena itu, sekresi atau pergantian sel-sel cenderung untuk terkumpul dalam
bagian duktus yang berada dalam papilla, mengakibatkan ekspansi yang jelas dari duktus dimana
ketika berdilatasi akibat isinya dinamakan lactiferous sinuse. Pada area bebas lemak di bawah
areola, bagian yang dilatasi dari duktus laktiferus (lactiferous sinuses) merupakan satu-satunya
tempat untuk menyimpan susu. Intraductal papillomas sering terjadi disini.
Ligamentum suspensori Cooper membentuk jalinan yang kuat, pita jaringan ikat berbentuk
ireguler menghubungkan dermis dengan lapisan dalam dari fascia superfisial,melewati lobus-lobus
parenkim dan menempel ke elemen parenkim dan duktus. Kadang-kadang,fascia superfisial
terfiksasi ke kulit, sehingga tidak mungkin dilakukan total mastectomy subkutan yang ideal.
Dengan adanya invasi keganasan, sebagian dari ligamentum Cooper akanmengalami kontraksi,
6 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
menghasilkan retraksi dan fiksasi atau lesung dari kulit yang khas. Iniberbeda dengan penampilan
kulit yang kasar dan ireguler yang disebut peau d'orange, imana pada peau d'orange perlekatan
subdermal dari folikel-folikel rambut dan kulit yang bengkak menghasilkan gambaran cekungan dari
kulit. (1,2)

Gambar 2.5.
Dumpling of the breast, akibat dari terlibatnya ligamentum Cooper padapenyakit
yang invasive. Dapat diperjelas dengan penekanan oleh tangan pemeriksa.1
Suplai darah
Vaskularisasi mammae terdiri dari arteri dan vena yaitu:
1.Arteria.
a. Cabang-cabang perforantes A. mammaria interna (A. thoracica interna)
b.Cabang lateral dari A. intercostalis posterior
c.Cabang-cabang dari A. Axillaris
d.A. thoracodorsalis yang merupakan cabang A. Subscapularis
2.Vena
a.Cabang-cabang perforantes V.thoracica interna
b.Cabang-cabang V. axillaris yang terdiri dari V. thoraco-acromialis, V. thoracica lateralisdan V thoraco
dorsalis
c. Vena-vena kecil yang bermuara pada V.Intercostalis
Mammae diperdarahi dari 2 sumber, yaitu A. thoracica interna, cabang dari A. axillaries, dan A.intercostal.

7 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara

Gambar 2.6. A. Pada 18% individu, payudara diperdarahi oleh arteri internal
thoracic,axillary, dan intercostals. B. Pada 30%, kontribusi dari A.aksilaris tidak
berarti. C.Pada 50%, A.intercostal hanya sedikit kontribusinya.1
Vena aksilaris, vena thoracica interna, dan vena intercostals 3-5 mengalirkan darah dari
kelenjar mamma. Vena-vena ini mengikuti arterinya.Vena aksilaris terbentuk dari gabungan vena
brachialis dan vena basilica, terletak di medial atau superficial terhadaop arteri aksilaris, menerima
juga 1 atau 2 cabang pectoral dari mammae. Setelah vena ini melewati tepi lateral dari iga pertama,
vena ini menjadi vena subclavia. Dibelakang, vena intercostalis berhubungan dengan sistem vena
vertebra dimana masuk vena azygos, hemiazygos, dan accessory hemiazygos, kemudian
mengalirkan ke dalam vena cavasuperior. Ke depan, berhubungan dengan brachiocephalica.Melaui
jalur kedua jalur pertama, metastasis ca mammae dapat mencapai paru-paru.Melalui jalur ketiga,
metastasis dapat ke tulang dan system saraf pusat.

8 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara

Gambar 2.7. Diagram potongan frontal mammae kanan menunjukkan jalur drainase
vena. A. Drainase medial melalui internal thoracic vein ke jantung kanan. the right
heart. B.Drainage posterior ke vertebral veins. C. Drainase lateral ke intercostal,
superior epigastric veins, dan hati. D. Darinase superior lateral superior melalui vena
aksilaris ke jantungkanan.
Aliran limfatik
Kelenjar getah bening dari regio mammae terdapat dalam kelompok inkonstan yang bervariasi.
Seringnya pembagian menurut Haagensen.

9 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara

Gambar 2.8. Kelenjar getah bening aksila dan payudara menurut klasifikasi dari
Haagensen (kiri).Aliran limfatik mammae (kanan).1
Klasifikasi utama Haagensen adalah axillary dan internal thoracic (mammary).
1. Drainase Aksilaris (35.3 nodes).
Group 1. External mammary nodes(1.7 nodes).
Group ini juga dikenal sebagai anterior pectoral nodes. Ini terletak sepanjang batas
lateral dariM. pectoralis minor, di bawah M. pectoralis major, sepanjang sisi medial dari
10 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
aksila mengikuti aliran lateral thoracic artery pada dinding dada, mulai dari iga 2-6. Di
bawah areola terdapat perluasan jaringan pembuluh-pembuluh limfatik, dinamakan
subareolar plexus of Sappey.

Gambar 2.9. Aliran limfatik mammae. Aliran limfe langsung dari kulit ditunjukkan
olehtanda panah pada mammae kanan dan sisi medial mammae kiri. 1. Areolar plexus
of vessels, draining areola, nipple and some parenchyma. 2. Anterior pectoral nodes.
3.Central axillary nodes. 4. Interpectoral nodes (a path which can bypass central
axillarynodes). 5. Apical, infraclavicular nodes. 6. Retrosternal nodes.
Group 2.
Scapular nodes(5.8 nodes).
Terletak di atas pembuluh-pembuluh darah subsakapular. Limfatik dari KGB ini salng berhubungan
dengan pembuluh limfe intercistal.
Group 3.
Central nodes(12.1 nodes).
Merupakan kelompok kelenjar getah bening yang terbesar; merupakan KGB yang paling mudah
dipalpasi di aksila karena ukurannya yang besar. Ketika KGB ini membesar, dapat menekan
intercostobrachial nerve, cabang kutaneus lateral dari second atau third thoracic nerve, dapat
timbul nyeri.
Group 4. Interpectoral nodes (Rotter's nodes) (1.4 nodes).
Terletak antara otot pektoralis mayor dan minor, sering terdapat tunggal. Merupakan kelompok KGB
terkecil dari KGB aksila dan tidak dapat ditemukan walaupun M. pectoralis major diangkat
11 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
Group 5.
Axillary vein nodes (10.7 nodes).
Merupakan kelompok KGB terbesar kedua di aksila. Terletak di permukaan ventral dan kaudal dari
bagian lateral vena aksilaris.
Group 6.
Subclavicular nodes (3.5 nodes).
Terletak pada permukaan ventral dan kaudal dari bagian medial vena aksilaris. These lie on thecaudal
and ventral surfaces of the medial part of the axillary vein.
2. Drainase Internal Thoracic (Mammary)(8.5 Nodes)
Pembuluh-pembuluh limfatik timbul dari tepi medial mammae pada fascia pectoralis. KGB
ini juga menerima trunkus limfatikus dari kulit mammae kontralateral, hati, diafragma, rectus
sheath, bagian atas rectus abdominis. KGB sekitar 4-5 setiap sisinya, kecil, dan biasanya
dalamlemak dan jaringan ikat dari ruang interkosta. Saluran ini bermuara ke ductus thoracicus
atauductus limfatikus dextra. Rute ke vena aksilaris lebih pendek daripada rute aksila.1
Dalam staging, bila ditemukan metastasis ke KGB supraclavicular, cervical, atau
contralateral internal mammary dianggap telah mengadakan metastasis jauh (M1). Yang termasuk
KGB regional :
1.KGB aksila (ipsilateral): interpectoral (Rotter's) nodes dan KGB sepanjang vena aksilarisdan
bagian-bagiannya yang dapat dibagi ke dalam beberapa tingkat :
a. Level I (low axilla): KGB lateral dari tepi lateral M pectoralis minor
b. Level II (midaxilla): KGB antara tepi medial dan lateral M pectoralis minor dan KGB interpectoral
(Rotter's)
c. Level III (apical axillary): KGB medial dari tepi medial M pectoralis minor termasuk subclavicular,
infraclavicular, or apical

12 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara

Gambar 2.10. Kelompok kelenjar getah bening aksila. Level I meliputi beberapa
kelenjargetah bening yang terletak lateral dari M. Pectoralis minor, Level II meliputi
beberapakelenjar getah bening yang terletak di bawah M. Pectoralis minor, Level III
meliputibeberapa kelenjar getah bening yang terletak medial dari M. Pectoralis minor.
Catatan : KGB intramammary disandikan sebagai KGB aksila.
Persarafan
Persarafan kulit mammae bersifat segmental dan berasal dari segmen dermatom T2 sampai T6.
Jaringan kelenjar mammae sendiri diurus oleh sistem saraf otonom. Pada prinsipnya inervasi mammae
berasal dari N. intercostalis IV,V,VI dan cabang dari plexus cervicalis.(2)
Pengetahuan mengenai lokasi struktur saraf utama pada axilla sangatlah penting guna mengenal
komplikasi dari diseksi pada daerah axilla. Saraf N. thoracalis berada di sepanjang dinding thorax pada sisi
medial dari axilla. Nervus ini mempersarafi M. serratus anterior dan fiksasi scapula pada dinding dada saat
melakukan ekstensi lengan. Cedera pada N. thoracalis inidapat menyebabkan deformitas pada scapula. N.
thoracodorsal mempersarafi M. latissimusdorsi.Cedera pada saraf ini dapat menyebabkan
ketidakmampuan lengan untuk melakukan abduksi dan rotasi eksterna. Di daerah ruang axilla terdapat
Nervus sensoris intercostobrachialis (N.Cutaneous brachialis), dimana cedera pada saraf ini dapat
mengakibatkan mati rasa atau dysesthesia di sepanjang permukaan medial dan posterior lengan, juga
mati rasa pada kulit axilladi sepanjang dinding dada yang dipersarafinya. Pada diseksi axilla saraf ini
sukar disingkirkansehingga sering terjadi mati rasa pasca bedah.(1,2)
13 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
Mammae dipersarafi oleh nervus intercosta 2-6, dengan cabang-cabangnya melewati
permukaan kelenjar. 2 cabang mammae dari nervus kutaneus lateral keempat juga mempersarafi
papilla mammae.

Gambar 2.11. Saraf-saraf perifer penting yang ditemukan selama mastectomy


Fisiologi Payudara
Payudara mengalami tiga macam perubahan yang dipengaruhi hormon. Perubahan pertama
adalah sejak masa hidup anak melalui pubertas, masa fertilitas, sampai ke klimakterium dan
menopause. Sejak pubertas pengaruh estrogen dan progesteron yang diproduksi ovarium dan juga
hormon hipofise telah menyebabkan duktus berkembang dan timbulnya asinus.
Perubahan kedua adalah perubahan sesuai siklus menstruasi. Sekitar hari kedelapan
menstruasi, payudara menjadi lebih besar dan beberapa hari sebelum menstruasi berikutnyaterjadi
pembesaran maksimum. Kadang timbul benjolan yang nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari
menjelang menstruasi payudara menjadi tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik, terutama
palpasi, tidak mungkin dilakukan. Pada saat itu pemeriksaan mammogram tidak berguna karena
kontras kelenjar terlalu besar. Begitu menstruasi mulai, semuanya berkurang.
Perubahan ketiga terjadi saat hamil dan menyusui. Saat itu payudara membesar karena epitel
duktus lobul dan alveous berproliferasi dan tumbuh duktus baru.Sekresi hormon prolaktin dari
hipofisis anterior memicu (trigger) laktasi. Air susu diproduksi oleh sel-sel alveolus, mengisi asinus,
kemudian dikeluarkan melalui duktus ke puting susu.

14 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
2.3 Tumor Jinak Payudara
Definisi
Tumor jinak mammae ialah lesi jinak yang berasal dari dari parenkim, stroma, areola dan papilla
mamma. Termasuk: Tumor jinak jaringan lunak mamma, lipoma, hemangioma mamma dan
displasia mamma. 3
Manifestasi Klinis
Tumor jinak mamma maupun tumor non neoplasma bermanifestasi sebagai:
1. Tumor pada mamma.
2. Jaringan mamma yang padat dan noduler.
3. Nyeri pada mamma.
Benjolan jinak pada payudara
Kebanyakan benjolan jinak pada payudara berasal dari perubahan normal pada perkembangan
payudara, siklus hormonal, dan perubahan reproduksi. Terdapat 3 siklus kehidupan yang dapat
menggambarkan perbedaan fase reproduksi pada kehidupan wanita yang berkaitan dengan
perubahan payudara, yaitu :
1. Pada fase reproduksi awal (15-25 tahun) terdapat pembentukan duktus dan stroma payudara. Pada
periode ini umumnya dapat terjadi benjolan FAM dan juvenil hipertrofi (perkembangan payudara
berlebihan).
2.Periode reproduksi matang (25-40 tahun). Perubahan siklus hormonal mempengaruhi kelenjar dan
stroma payudara.
3.Fase ketiga adalah involusi dari lobulus dan duktus yang terjadi sejak usia 35-55 tahun.
Pemeriksaan fisik payudara4
SADARI (Pemeriksaan payudara sendiri).
Tujuan dari pemeriksaan payudara sendiri adalah mendeteksi dini apabila terdapat benjolan
pada payudara, terutama yang dicurigai ganas, sehingga dapat menurunkan angka kematian.
Meskipun angka kejadian kanker payudara rendah pada wanita muda, namun sangat penting untuk
diajarkan SADARI semasa muda agar terbiasa melakukannya di kala tua. Wanita premenopause
(belum memasuki masa menopause) sebaiknya melakukan SADARI setiap bulan,1 minggu setelah
siklus menstruasinya selesai.
15 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
Cara melakukan SADARI adalah :
1.Wanita sebaiknya melakukan SADARI pada posisi duduk atau berdiri menghadapcermin.
2.Pertama kali dicari asimetris dari kedua payudara, kerutan pada kulit payudara, dan puting yang
masuk.
3.Angkat lengannya lurus melewati kepala atau lakukan gerakan bertolak pinggang
untuk mengkontraksikan otot pektoralis (otot dada) untuk memperjelas kerutan pada kulitpayudara.
4.Sembari duduk / berdiri, rabalah payudara dengan tangan sebelahnya.
5.Selanjutnya sembari tidur, dan kembali meraba payudara dan ketiak.Terakhir tekan puting untuk
melihat apakah ada cairan.
Pemeriksaan Penunjang(1,5)
Dua jenis alat yang digunakan untuk mendeteksi dini benjolan pada payudara
adalahmammografi dan ultrasonografi (USG). Teknik yang baru adalah menggunakan
MagneticResonance Imaging (MRI) dan nuklear skintigrafi.
Mammografi
Mammografi dapat mendeteksi tumor-tumor yang secara palpasi tidak teraba; jadi sangat
baik untuk diagnosis dini dan screening. Ketepatan 83 95%, tergantung dari teknisi dan ahli
radiologinya. Mammografi adalah metode terbaik untuk mendeteksi benjolan yang tidak teraba
namun terkadang justru tidak dapat mendeteksi benjolan yang teraba atau kanker payudara yang
dapatdideteksi oleh USG. Mammografi digunakan untuk skrining rutin pada wanita di usia awal 40
tahun untuk mendeteksi dini kanker payudara.
Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini dapat dibedakan lesi solid dan kistik.
Scintimammografi
Adalah teknik pemeriksaan radionuklir dengan menggunakan radiosotop Tc 99
sestamibi.Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas tinggi untuk menilai aktivitas sel kanker pada
payudara.Selain itu dapat pula mendeteksi lesi multipel dan keterlibatan KGB regional.
Diagnosa pasti
Diagnosa pasti hanya dapat ditegakan dengan pemeriksaan histopatologis. Bahan pemeriksaan dapat
diambil dengan beberapa cara, yaitu
-Biopsi aspirasi (fine needle biopsy)
16 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
-Needle core biopsi dengan jarum Silverman
-Excisional biopsy dan pemeriksaan frozen section (potong beku) waktu operasi
Pemeriksaan potong beku (frozen section) waktu operasi banyak dilakukan di senter-senter pendidikan.
Ketepatan cukup tinggi 97,65 % dengan tidak ada false positif dan hanya 0,6% false negatif.
Jenis-Jenis Tumor Jinak Payudara
2.3.1 Fibrokistik
Penyakit fibrokistik atau dikenal juga sebagai mammary displasia adalah benjolan payudara
yang sering dialami oleh sebagian besar wanita. Benjolan ini harus dibedakan dengan keganasan. Penyakit
fibrokistik pada umumnya terjadi pada wanita berusia 25-50 tahun (>50%).
Kelainan fibrokistik pada payudara adalah kondisi yang ditandai penambahan jaringan fibrous
dan glandular. Manifestasi dari kelainan ini terdapat benjolan fibrokistik biasanya multipel, keras, adanya
kista, fibrosis, benjolan konsistensi lunak, terdapat penebalan, dan rasanyeri. Kista dapat membesar dan
terasa sangat nyeri selama periode menstruasi karena hubungannya dengan perubahan hormonal tiap
bulannya. Wanita dengan kelainan fibrokistik mengalami nyeri payudara siklik berkaitan dengan adanya
perubahan hormon estrogen dan progesteron. Biasanya payudara teraba lebih keras dan benjolan pada
payudara membesar sesaatsebelum menstruasi. Gejala tersebut menghilang seminggu setelah menstruasi
selesai. Benjolanbiasanya menghilang setelah wanita memasuki fase menopause.
Pembengkakan payudara biasanya berkurang setelah menstruasi berhenti. Kelainan fibrokistik
dapat diketahui dari pemeriksaan fisik, mammogram, atau biopsi. Biopsi dilakukanterutama untuk
menyingkirkan kemungkinan diagnosis kanker. Perubahan fibrokistik biasanya ditemukan pada kedua
payudara baik di kuadran atas maupun bawah.Evaluasi pada wanita dengan penyakit fibrokistik harus
dilakukan dengan seksama untuk membedakannya dengan keganasan. Apabila melalui pemeriksaan
fisik didapatkan benjolan difus (tidak memiliki batas jelas), terutama berada di bagian atas-luar payudara
tanpa adabenjolan yang dominan, maka diperlukan pemeriksaan mammogram dan pemeriksaan ulangan
setelah periode menstruasi berikutnya. Apabila keluar cairan dari puting, baik bening, cair, atau kehijauan,
sebaiknya diperiksakan tes Hemoccult untuk pemeriksaan sel keganasan. Apabila cairan yang keluar
dari puting bukanlah darah dan berasal dari beberapa kelenjar, maka kemungkinan benjolan tersebut
jinak.
2.3.2 Fibrosis
17 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
Sesuai dengan asal katanya fibrosis, yaitu terdiri atas fibrosis dan kista. Fibrosis
menunjukkan penambahan jaringan fibrous, bahan yang sama dengan pembentuk
ligamen dan jaringan parut. Daerah dengan fibrosis tampak elastis, konsistensi padat
dan keras pada perabaan. Fibrosis tidak meningkatkan resiko untuk terjadinya kanker
dan tidak memerlukan tindakan yang khusus.
2.3.3 Fibroadenoma
Fibroadenoma merupakan tumor payudara jinak yang terkadang terlalu kecil untuk dapat
teraba oleh tangan, walaupun diameternya bisa saja meluas beberapa inchi. Fibroadenoma dibentuk
baik itu oleh jaringan payudara glandular maupun stroma, dan biasanya terjadi padawanita muda
berusia 15-25 tahun. Setelah menopause, tumor tersebut tidak lagi ditemukan. Fibroadenoma sering
membesar mencapai ukuran 1 atau 2 cm. Kadang fibroadenoma tumbuhmultiple (lebih 5 lesi pada
satu mammae) tetapi sangat jarang.
Etiologi dari fibroadenoma masih tidak diketahui pasti tetapi dikatakan bahwa
hipersensitivitas terhadap estrogen pada lobul dianggap menjadi penyebabnya. Usia menarche,usia
menopause dan terapi hormonal termasuklah kontrasepsi oral tidak merubah risikoterjadinya lesi ini.
Faktor genetik juga dikatakan tidak berpengaruh tetapi adanya riwayatkeluarga (first-degree) dengan
karsinoma mammae dikatakan meningkatkan risiko terjadinyapenyakit ini.
Fibroadenoma mammae dianggap mewakili sekelompok lobus hiperplastik dari mammae
yang dikenal sebagai kelainan dari pertumbuhan normal dan involusi.
Fibroadenoma sering terbentuk sewaktu menarche (15-25 tahun), waktu dimana struktur lobul
ditambahkan ke dalam sistem duktus pada mammae. Lobul hiperplastik sering terjadi pada waktu ini
dan dianggap merupakan bagian dari perkembangan mammae. Gambaran histologi dari lobul
hiperplastik iniidentik dengan fibroadenoma. Analisa dari komponen seluler fibroadenoma dengan
Polymerase Chain Reaction (PRC) menunjukkan bahwa stromal dan sel epitel adalah poliklonal. Hal
ini mendukung teori yang menyatakan bahwa fibroadenoma merupakan lesi hiperplastik yang terkait
dengan kelainan dari maturitas normal mammae.
Lesi ini merupakan hormone-dependent neoplasma distimulasi oleh laksasi sewaktu hamil
dan mengalami involusi sewaktu perimenopause. Terdapat kaitan langsung antara penggunaan
kontrasepsi oral sebelum usia 20 tahun dengan risiko terjadinya fibroadenoma. Pada pasien
immunosupresi, virus Epstein-Barr memainkan peranan dalam pertumbuhan tumor ini.
18 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
Biasanya wanita muda menyadari terdapatnya benjolan pada payudara ketika sedang mandi
atau berpakaian. Kebanyakan benjolan berdiameter 2-3 cm, namun FAM dapat tumbuh dengan
ukuran yang lebih besar (giant fibroadenoma). Pada pemeriksaan, benjolan FAM kenyal dan
halus. Benjolan tersebut tidak menimbulkan reaksi radang (merah, nyeri, panas), mobile (dapat
digerakkan) dan tidak menyebabkan pengerutan kulit payudara ataupun retraksi puting (puting
masuk). Benjolan tersebut berlobus-lobus.
Pemeriksaan mammografi menghasilkan gambaran yang jelas jinak berupa rata dan
memiliki batas jelas. Wanita dengan FAM simpel tanpa penampakan histologi komplek dantanpa
penyakit proliferatif pada parenkim payudara tidak memiliki peningkatan risiko kankerpayudara.
Pada masa adolesens, fibroadenoma tumbuh dalam ukuran yang besar. Pertumbuhan bisa
cepat sekali selama kehamilan dan laktasi atau menjelang menopause, saat ransangan estrogen
meningkat.
Fibroadenoma teraba sebagai benjolan bulat atau berbenjol-benjol, dengan simpai licin dan
konsistensi kenyal padat. Tumor ini tidak melekat ke jaringan sekitarnya dan amat mudahdigerakkan
kesana kemari. Biasanya fibroadenoma tidak nyeri bila ditekan. Kadang-kadang fibroadenoma
tumbuh multipel. Pada masa adolescen fibroadenoma bisa terdapat dalam ukuranyang besar.
Pertumbuhan bisa cepat sekali selama kehamilan dan laktasi atau menjelangmenopause, saat
rangsangan estrogen meninggi. Pada pasien dengan usia kurang dari 25 tahun, diagnosa bisa
ditegakkan melalui pemeriksaan klinik walaupun dianjurkan untuk dilakukan aspirasi sitologi.
Konfirmasi secara patologi diperlukan untuk menyingkirkan karsinoma seperti kanker tubular
karena sering dikelirukan dengan penyakit ini. Fine-needle aspiration (FNA) sitologi merupakan
metode diagnosa yang akurat walaupun gambaran sel epitel yang hiperplastik bisa dikelirukan
dengan neoplasia.
Diagnosa fibroadenoma bisa ditegakkan melalui gambaran klinik pada pasien usia mudadan
karena itu, mammografi tidak rutin dikerjakan. Pada pasien yang berusia, fibroadenoma memberikan
gambaran soliter, lesi yang licin dengan densitas yang sama atau hampirmenyerupai jaringan sekitar
pada mammografi. Dengan pertambahan usia, gambaran stippled calcification terlihat lebih
jelas.Ultrasonografi mammae juga sering digunakan untuk mendiagnosa penyakit ini.Ultrasonografi
dengan core-needle biopsy dapat memberikan diagnosa yang akurat. Kriteriafibroadenoma yang
dapat terlihat pada pemeriksaan ultrasonografi adalah massa solid berbentuk bulat atau oval, berbatas

19 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
tegas dengan internal echoes yang lemah, distribusinya secara uniform dan dengan intermediate
acoustic attenuation. Diameter massa hipoechoic yang homogenous ini adalah antara 1 20 cm.
Fibroadenoma dapat dengan mudah didiagnosa melalui aspirasi jarum halus atau
biopsi jarum dengan diameter yang lebih besar (core needle biopsi).
Pada umumnya dokter menyarankan untuk dilakukannya pengangkatan fibroadenoma
terutama jika pertumbuhan terus berlangsung atau terjadi perubahan bentuk payudara. Terkadang
(terutama pada usia petengahan atau wanita usia dewasa) tumor ini akan berhenti tumbuh atau
bahkan mengecil dengan sendirinya tanpa terapi apapun. Dalam hal ini, selama dokter yakin massa
tersebut adalah benar-benar fibroadenoma dan bukan kanker payudara, pembedahan
untuk mengangkat fibroadenoma mungkin tidak diperlukan. Pendekatan ini berguna untuk wanita
dengan fibroadenoma yang multipel yang tidak berlanjut pertumbuhannya.
Pada beberapa kasus, pengangkatan fibroadenoma multipel berarti mengangkat
sejumlahbesar jaringan payudara sekitar yang normal, sehingga menyebabkan jaringan parut yang
akanmengubah bentuk dan tekstur payudara. Hal ini juga nantinya akan menyebabkan hasil
pemeriksaan fisik serta mammografi menjadi sulit untuk diinterpretasikan. Sangat penting bagiwanita
yang tidak melakukan pengangkatan fibroadenoma tersebut untuk memeriksakan payudaranya
secara teratur untuk meyakinkan bahwa massa tersebut tidak berlanjut pertumbuhannya. Terkadang
satu atau lebih fibroadenoma akan tumbuh setelah salah satufibroadenoma diangkat. Hal ini berarti
bahwa fibroadenoma baru telah terbentuk dan bukanlah fibroadenoma yang lama yang tumbuh
kembali.
2.3.4 Adenoma
Adenoma tubular dan lactatinal adalah lesi yang secara histologis jinak berhubungan dengan
FAM. Cirinya adalah struktur glandular dengan sedikit atau tanpa struktur stroma. Secara klinisdan
Radiologi, mirip dengan FAM. Lactation adenoma terjadi selama kehamilan dan laktasi, membesar
saat dipengaruhi hormon gestational, dan diferensiasi sekresi saat analisis PA. Sekalilagi biopsi adalah
diagnostik dan terapi (Harris J.R, Lippman M.E, Morrow M, Osborne K,2000).
2.3.5 Adenosis
Adenosis adalah temuan yang sering didapat pada wanita dengan kelainan fibrokistik.
Adenosis adalah pembesaran lobulus payudara, yang mencakup kelenjar-kelenjar yang lebihbanyak
dari biasanya. Apabila pembesaran lobulus saling berdekatan satu sama lain, maka kumpulan lobulus
dengan adenosis ini kemungkinan dapat diraba.
20 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
Banyak istilah lain yang digunakan untuk kondisi ini, diantaranya adenosis agregasi, atau
tumor adenosis. Sangat penting untuk digaris bawahi walaupun merupakan tumor, namun kondisiini
termasuk jinak dan bukanlah kanker. Adenosis sklerotik adalah tipe khusus dari adenosis dimana
pembesaran lobulus disertai dengan parut seperti jaringan fibrous. Apabila adenosis dan adenosis
sklerotik cukup luas sehingga dapat diraba, dokter akan sulit membedakan tumor ini dengan kanker
melalui pemeriksaan fisik payudara. Kalsifikasi dapat terbentuk pada adenosis,adenosis sklerotik, dan
kanker, sehingga makin membingungkan diagnosis. Biopsi melalui aspirasi jarum halus biasanya
dapat menunjukkan apakah tumor ini jinak atau tidak. Namun dengan biopsi melalui pembedahan
sabat dianjurkan untuk memastikan tidak terjadinya kanker.
Sklerosing adenosis adalah proliferasi jinak baik jaringan stromal (scerosis) berhubungan
dengan peningkatan ductules terminalis yang kecil (adenosis). Biasanya merupakan komponen
fibrocystic disease dan bermanifestasi sebagai mikro kalsifikasi yang ditemukan saat screening
mammogram. Stereotactic core atau wire localization biopsy adalah diagnosis pastinya.
Terapi lebih jauh dilakukan bila lesi ini ditemukan sebagai etiologi mikro kalsifikasi saat biopsy
(EvansA, Pinder S, Wilson R, Ellis I, 2002).
2.3.6 Tumor Filoides ( Sistosarkoma Filoides )
Tumor filodes atau dikenal dengan sistosarkoma filodes adalah tumor fibroepitelial yang ditandai
dengan hiperselular stroma dikombinasikan dengan komponen epitel. Tumor filodesumum terjadi pada
dekade 5 atau 6. Benjolan ini jarang bilateral (terdapat pada kedua payudara), dan biasanya muncul
sebagai benjolan yang terisolasi dan sulit dibedakan dengan FAM. Ukuran bervariasi, meskipun tumor
filodes biasanya lebih besar dari FAM, mungkin karena pertumbuhannya yang cepat. Berdasarkan
pemeriksaan histologi (sel), diketahui bahwa tumorfilodes jinak berkisar 10%, dimana tumor filodes ganas
berkisar 40%.
Tumor filoides merupakan suatu neoplasma jinak yang bersifat menyusup secara lokal dan
mungkin ganas (10-15%). Pertumbuhannya cepat dan dapat ditemukan dalam ukuran yangbesar. Tumor
ini terdapat pada semua usia, tapi kebanyakan pada usia sekitar 45 tahun.Tumor filoides adalah tipe yang
jarang dari tumor payudara, yang hampir sama dengan fibroadenoma yaitu terdiri dari dua jaringan,
jaringan stroma dan glandular. Perbedaan antara tumor filoides dengan fibroadenoma adalah bahwa
terdapat pertumbuhan berlebih dari jaringan fibrokonektif pada tumor filoides. Sel yang membangun
jaringan fibrokonektif dapat terlihat abnormalitasnya dibawah mikroskop. Secara histologis, tumor filoides
21 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
dapat diklasifikasikanmenjadi jinak, ganas, atau potensial ganas (perubahan tumor ke arah kanker masih
diragukan).Tumor filoides pada umumnya jinak namun walaupun jarang dapat juga berubah menjadi
ganas dan bermetastase. Tumor filoides jinak diterapi dengan cara melakukan pengangkatan tumor disertai
2 cm (atau sekitar 1 inchi) jaringan payudara sekitar yang normal. Sedangkan tumor filoides yang ganas
dengan batas infiltratif mungkin membutuhkan mastektomi (pengambilan jaringan payudara).
Mastektomi sebaiknya dihindari apabila memungkinkan. Apabila pemeriksaan patologi
memberikan hasil tumor filodes ganas, maka re-eksisi komplit dari seluruh area harus dilakukan agar tidak
ada sel keganasan yang tersisa.
Tumor filoides tidak berespon terhadap terapi hormon dan hampir sama dengan kanker payudara
yang berespon terhadap kemoterapi atau radiasi.
2.3.7 Nekrosis Lemak
Nekrosis lemak terjadi bila jaringan payudara yang berlemak rusak, bisa terjadi spontan atau
akibat dari cedera yang mengenai payudara. Nekrosis lemak dapat juga terjadi akibat terapi radiasi. Ketika
tubuh berusaha memperbaiki jaringan payudara yang rusak, daerah yang mengalami kerusakan
tergantikan menjadi jaringan parut.
Nekrosis lemak berupa massa keras yang sering agak nyeri tetapi tidak membesar. Kadang
terdapat retraksi kulit dan batasnya tidak rata. Karena kebanyakan kanker payudara berkonsistensi keras,
daerah yang mengalami nekrosis lemak dengan jaringan parut sulit untuk dibedakan dengan kanker jika
hanya dari pemeriksaan fisik ataupun mammogram sekalipun. Dengan biopsi jarum atau dengan tindakan
pembedahan eksisi sangat diperlukan untuk membedakan nekrosis lemak dengan kanker. Secara
histopatologik terdapat nekrosis jaringanlemak yang kemudian menjadi fibrosis.
Menurut American Cancer Society, beberapa area dari nekrosis dapat berespon berbeda-beda
terhadap cedera. Disamping pembentukan jaringan parut, sel-sel lemak akan mati danmengeluarkan isi
sel, yang membentuk kumpulan seperti kantong-kantong berisi cairanberminyak dan disebut kista
minyak. Kista minyak dapat ditemukan melalui aspirasi jarum halus,yang sekaligus merupakan tindakan
untuk terapinya.
2.3.8 Intraductal Papilloma
Papilloma intraduktal adalah pertumbuhan menyerupai kutil dengan disertai tangkai
yangtumbuh dari dalam payudara yang berasal dari jaringan glandular dan jaringan fibrovaskular.
Papilloma seringkali melibatkan sejumlah besar kelenjar susu. Lesi jinak yang berasal dari duktus
laktiferus dan 75% tumbuh di bawah areola mamma ini memberikan gejala berupa sekresi cairan
22 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
berdarah dari puting susu. Hampir 90% dari Papilloma Intraduktus adalah dari tipe soliter dengan
diameternya kurang dari 1cm dan sering timbul pada duktus laktiferus dan hampir 70% dari pasien datang
dengan nipple discharge yang serous dan bercampur darah. Ada juga pasien yang datang dengan keluhan
massa pada area subareola walaupun massa ini lebih seringditemukan pada pemeriksaan fisis. Massa yang
teraba sebenarnya adalah duktus yang berdilatasi.
Pasien dengan Papilloma Intraduktus multiple biasanya tidak gejala nipple discharge dan
biasanya terjadi pada duktus yang kecil. Diperkirakan hampir 25% dari Papilloma Intraduktus multiple
adalah bilateral.
Papilloma Intraduktus ini bisa terjadi pada laki-laki. Kasus terbaru menunjukkan bahwa pada
laki-laki penyakit ini terkait dengan penggunaan phenothiazine. Papilloma dapat juga ditemukan di duktus
yang kecil di daerah yang jauh dari puting. Keadaan ini seringkali tumbuh dalam jumlah banyak dan juga
mungkin disertai hiperplasi epitelial. Secara histologi, tumor initerdiri dari papilla multiple yang setiap
satunya terdiri dari jaringan ikat dan dilapisi sel epitelkuboidal atau silinder yang biasanya terdiri dari dua
lapisan dengan lapisan terluar epitel menutupi lapisan mioepitel.
Etiologi dan patogenesis dari penyakit ini masih belum jelas. Dari kepustakaan dikatakanbahwa,
Papilloma Intraduktus ini terkait dengan proliferasi dari epitel fibrokistik yanghiperplasia. Ukurannya
adalah 2-3 mm dan terlihat seperti broad-based atau pedunculatedpolypoid epithelial lesion yang bisa
mengobstruksi dan melebarkan duktus terkait. Kista jugabisa terbentuk hasil dari duktus yang mengalami
obstruksi.
Perubahan payudara jinak yang menyebabkan keluarnya sekresi cairan dari puting,hampir
setengahnya adalah papilloma, dan sisanya adalah campuran perubahan fibrokistik ataupun ektasia
duktus. Walaupun papilloma bisa dicurigai dari pemeriksaan terhadap discharge,namun banyak dokter
menganggap pemeriksaan tersebut tidak begitu bermanfaat. Apabila papilloma cukup besar, biopsi jarum
bisa dilakukan. Papilloma dapat juga didiagnosa melaluipemeriksaan pencitraan pada duktus payudara
yaitu dengan duktogram atau galaktogram.Terapi untuk papilloma adalah dengan mengangkat papilloma
serta bagian duktus dimana papilloma tersebut ditemukan, dimana biasanya dengan melakukan insisi pada
tepi sekeliling areola.
Papilloma Intraduktus subareolar soliter atau intrakistik adalah benigna. Namun, telah terjadi
pertentangan apakah penyakit ini merupakan prekursor bagi karsinoma papillary ataumerupakan
predisposisi untuk meningkatkan resiko terjadinya karsinoma. Menurut komuniti dariCollege of American
Pathologist, wanita dengan lesi ini mempunyai risiko 1,5 2 kali untuk terjadinya karsinoma mammae.
23 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
2.3.9 Tumor Sel Granular
Tumor sel granular biasanya terdapat pada mulut atau kulit, namun dalam jumlah yang jarang
dapat ditemukan juga di payudara. Kebanyakan tumor sel granular pada saat perabaan
dapat digerakkan, konsistensi keras, berdiameter antara sampai 1 inchi. Konsistensinya yang keras
terkadang mengacaukan diagnosisnya dengan kanker, namun aspirasi jarum halus ataubiopsi jarum
dapat dilakukan untuk membedakannya.
Tumor ini diatasi dengan cara mengangkat tumor beserta sedikit jaringan normal
disekelilingnya. Tumor sel granular tidak akan meningkatkan resiko pada wanita untuk terjadinya
kanker payudara di kemudian hari.
2.3.10 Kista
Kista adalah ruang berisi cairan yang dibatasi sel-sel glandular. Kista terbentuk dari cairan
yang berasal dari kelenjar payudara. Mikrokista terlalu kecil untuk dapat diraba, danditemukan hanya
bila jaringan tersebut dilihat di bawah mikroskop. Jika cairan terus berkembangakan terbentuk
makrokista. Makrokista ini dapat dengan mudah diraba dan diameternya dapat mencapai 1 sampai 2
inchi.
Selama perkembangannya, pelebaran yang terjadi pada jaringan payudara menimbulkanrasa
nyeri. Benjolan bulat yang dapat digerakkan dan terutama nyeri bila disentuh, mengarahpada kista.
Walaupun penyebab kista masih belum diketahui, namun para ahli mengetahui bahwaterdapat
hubungan antara kista dengan kadar hormon. Kista muncul seminggu atau 2 minggusebelum periode
menstruasi mulai dan akan menghilang sesudahnya. Kista banyak terjadi padawanita saat
premenopause, terutama bila wanita tersebut menjalani terapi sulih hormon. Beberapa penelitian
membuktikan bahwa kafein dapat menyebabkan kista payudara walaupunhal ini masih menjadi
kontroversial di kalangan medis. Kebanyakan wanita hanya mengalamikista payudara sebanyak satu
atau dua, namun pada beberapa kasus, kista multipel dapat terjadi. Kista biasanya dipastikan dengan
mammografi dan ultrasound (sonogram). Ultrasound sangat tepat digunakan untuk mengidentifikasi
apakah abnormalitas payudara tersebut merupakan kista ataukah massa padat.
Kebanyakan kista yang simpel dapat digambarkan dengan baik, yaitu memiliki tepi
yangkhas, dan sinyal ultrasound dapat dengan mudah melewati. Walaupun begitu, beberapa kista
didapatkan dengan tingkat ekoik internal yang rendah yang menyulitkan ahli radiologi
untuk mendiagnosis sebagai kista tanpa mengeluarkan cairan. Tipe kista yang seperti ini disebut
kistakompleks. Walaupun kista kompleks tersebut terlihat sebagai massa yang solid, namun kista
24 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
tersebut bukanlah kanker. Dalam keadaan tertentu, kista dapat menimbulkan nyeri yang
hebat.Mengeluarkan isi kista dengan aspirasi jarum halus akan mengempiskan kista dan mengurangi
ketidaknyamanan. Beberapa ahli radiologis memasukkan udara ke daerah tersebut setelah drainase
untuk meminimalkan kemungkinan kista muncul lagi. Apabila cairan dari kista tampak seperti darah
atau terlihat mencurigakan, cairan tersebut harus diperiksakan ke laboratorium patologi untuk dilihat
di bawah mikroskop. Cairan kista yang normal dapat berwarna kuning, coklat, hijau , hitam, atau
berwarna seperti susu.
Menurut kepustakaan dikatakan kista terjadi pada hampir 7% dari wanita pada suatu waktu
dalam kehidupan mereka. Dikatakan bahwa kista ditemukan pada 1/3 dari wanita berusiaantara 35
sampai 50 tahun. Secara klasik, kista dialami wanita perimenopausal antara usia 45 dan 52 tahun,
walaupun terdapat juga insidens yang diluar batas usia ini terutamanya pada individuyang
menggunakan terapi pengganti hormon Menurut beberapa studi autopsi, ditemukan bahwahampir
20% mempunyai kista subklinik dan kebanyakan berukuran antara 2 atau 3 cm.
Secara klasik, kista dialami wanita perimenopausal antara usia 45 dan 52 tahun,walaupun
terdapat juga insidens yang diluar batas usia ini terutamanya pada individu yangmenggunakan terapi
pengganti hormon. Kebiasaannya kista ini soliter tetapi tidak jarang ditemukan kista yang multiple.
Pada kasus yang ekstrim, keseluruhan mammae dapat dipenuhidengan kista.
Kista dapat memberikan rasa tidak nyaman dan nyeri. Dikatakan bahwa terdapat hubungan
antara ketidak nyamanan dan nyeri ini dengan siklus menstruasi dimana perasaan tidak nyaman dan
nyeri ini meningkat sebelum menstruasi. Kista ini biasanya dapat dilihat.Karekteristiknya adalah licin
dan teraba kenyal pada palpasi. Kista ini dapat juga mobil namun tidak seperti fibroadenoma.
Gambaran klasik dari kista ini bisa menghilang jika kista terletak pada bagian dalam mammae.
Jaringan normal dari nodular mammae yang meliputi kista bisa menyembunyikan gambaran klasik
dari lesi yakni licin semasa dipalpasi.
Diagnosis kista mammae ditegakkan melalui aspirasi sitologi. Jumlah cairan yangdiaspirasi
biasanya antara 6 atau 8 ml. Cairan dari kista bisa berbeda warnanya, mulai dari kuning pudar sampai
hitam, kadang terlihat translusen dan bisa juga kelihatan tebal dan bengkak. Mammografi dan
ultrasonografi membantu dalam penegakkan diagnosis tetapi pemeriksaan initidak begitu penting
bagi pasien yang simptomatik.
Massa soliter dengan dilatasi dari duktus retroareolar merupakan gambaran yang bisaterlihat
pada mammografi atau ultrasonografi sekiranya massa yang terbentuk agak besar. Massa yang kecil
25 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
tidak memberikan gambaran khas pada mammografi dan ultrasonografi. Gambaran kalsifikasi
jarang terlihat pada penyakit ini namun bisa terjadi pada massa yang kecil maupun besar.
Pemeriksaan galaktografi memberikan gambaran filling defect atau complete obstructionbagi aliran
retrograd dari kontras. Pada pemeriksaan MRI pula terlihat lesi berbatas tegas dengan duktus berisi
cairan. Pemeriksaan FNA tidak begitu bermakna pada penyakit ini. Pemeriksaan lain yang bisa
dilakukan adalah eksisi massa dan diperiksa dengan teknik histopatologikonvensional.
Sebelum ini, eksisi merupakan tatalaksana bagi kista mammae. Namun terapi ini sudah tidak
dilakukan karena simple aspiration sudah memadai. Setelah diaspirasi, kista akan menjadi lembek
dan tidak teraba tetapi masih bisa dideteksi dengan mammografi. Walaubagaimanapun,bukti klinis
perlu bahwa tidak terdapat massa setelah dilakukan aspirasi.
Terdapat dua cardinal rules bagi menunjukkan aspirasi kista berhasil yakni :
(1) massa menghilang secara keseluruhan setelah diaspirasi.
(2) cairan yang diaspirasi tidak mengandungi darah.Sekiranya kondisi ini tidak terpenuhi,
ultrasonografi, needle biopsy dan eksisi direkomendasikan. Terdapat dua indikasi untuk dilakukan
eksisi pada kista. Indikasi pertama adalah sekiranya cairan aspirasi mengandungi darah (selagi tidak
disebabkan oleh trauma dari jarum), kemungkinan terjadinya intrakistik karsinoma yang
sangat jarang ditemukan. Indikasi kedua adalah rekurensi dari kista. Hal ini bisa terjadi karena
aspirasi yang tidak adekuat dan terapi lanjut perlu diberikan sebelum dilakukan eksisi. Apabila kista
masih terus membesar,eksisi direkomendasikan.
Pasien dengan kista yang berulang sukar ditangani. Rekurensi sering terjadi pada daerah
yang berbeda dari kista yang pertama. Hampir 15% pasien mengalami rekurensi kista dalam waktu 5
sampai 10 tahun dengan mayoritasnya mengalami satu atau dua kali rekurensi. Terdapat sebagian
kecil wanita dengan kista berulang yang regular mengunjungi dokter setiap dua sampai tiga bulan
sekali untuk drainase kista. Dahulu, sebagian pasien dengan kondisi seperti ini diterapi dengan
mastektomi subkutan. Walaupun tidak membantu dalam penegakan diagnosis,mammografi harus
dikerjakan sebagai prosuder skrining rutin pada wanita berusia lebih dari 35 tahun yang mempunyai
kista dengan penampakan dari kanker yang rendah. Menurut kepustakaan, terdapat bukti yang
menyatakan bahwa terjadinya peningkatan risiko terhadapkanker pada pasien dengan kista. Oleh
karena itu, pemeriksaan mammografi secara berkala inibisa membantu dalam deteksi awal dari
kanker. Pasien dengan kista soliter biasanya tidak memerlukan pemeriksaan mammografi regular.
Teknik yang digunakan untuk aspirasi kista mammae yang dapat dipalpasi sama dengan
teknik yang digunakan untuk pemeriksaan sitologi FNA. Permukaan kulit dibersihkan
26 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
denganalkohol. Biasanya digunakan jarum 21-gauge dan juga syringe 20 ml. Kista di fiksasi
menggunakan ibu jari dan jari telunjuk atau jari telunjuk dan jari tengah. Syringe dipegang olehtangan
yang lain dan kista dipalpasi sehingga sudah tidak teraba. Volume dari cairan kistabiasanya 5 ml
sampai 10 ml tetapi dapat mencapai 75 ml atau lebih. Cairan dari kista biasanya berwarna coklat,
kuning atau kehijauan. Sekiranya didapatkan cairan sedemikian, pemeriksaan sitologi tidak
diperlukan. Apabila ditemukan cairan kista bercampur darah, 2 ml dari cairandiambil untuk
pemeriksaan sitologi.
Apabila kista ditemukan pada ultrasound tetapi tidak bisa dipalpasi, aspirasi dengan
ultrasound-guided needle bisa dilakukan. Kulit dibersihkan dengan alkohol. Probe ultrasound
dipegang dengan satu tangan untuk mengidentifikasi kista. Syringe dipegang dengan tangan lain dan
kista diaspirasi.
2.3.11 Ektasia Duktus
Ektasia duktus merupakan pelebaran dan pengerasan dari duktus, dicirikan dengan sekresi
puting yang berwarna hijau atau hitam pekat, dan lengket. Pada puting serta daerahdisekitarnya akan
terasa sakit serta tampak kemerahan. Ektasia duktus adalah kondisi yang biasanya menyerang wanita
usia sekitar 40 sampai 50 tahun. Ektasia duktus adalah kelainan jinak yang walaupun begitu
dapat mengacaukan diagnosis dengan kanker dikarenakan benjolan yang keras di sekitar
duktus yang abnormal akibat terbentuknya jaringan parut. Kondisi ini umumnya tidak memerlukan
tindakan apapun, atau dapat membaik dengan melakukan pengkompresan dengan air hangat dan
obat-obat antibiotik. Apabila keluhan tidak membaik, duktus yang abnormal dapat diangkat melalui
pembedahan dengan cara insisi pada tepi areola.
2.3.12 Mastitis
Mastitis adalah infeksi yang sering menyerang wanita yang sedang menyusui atau
padawanita yang mengalami kerusakan atau keretakan pada kulit sekitar puting. Kerusakan pada
kulit sekitar puting tersebut akan memudahkan bakteri dari permukaan kulit untuk memasuki duktus
yang menjadi tempat berkembangnya bakteri dan menarik sel-sel inflamasi. Sel-sel inflamasi
melepaskan substansi untuk melawan infeksi, namun juga menyebabkan pembengkakan
jaringandan peningkatan aliran darah. Perubahan ini menyebabkan payudara menjadi merah, nyeri,
danterasa hangat saat perabaan.

27 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
Gambaran klinisnya sukar dibedakan dengan karsinoma, yaitu massa berkonsistensi keras,
bisa melekat ke kulit, dan menimbulkan retraksi puting susu akibat fibrosis periduktal, danbisa
terdapat pembesaran kelenjar getah bening aksila. Kondisi ini diterapi dengan antibiotik. Pada
beberapa kasus, mastitis berkembang menjadi abses atau kumpulan pus yang harus dikeluarkan
melalui pembedahan.
2.3.13 Galaktokel
Galaktokel adalah kista berisi susu yang terjadi pada wanita yang sedang hamil atau
menyusui. Seperti kista lainnya, galaktokel tidak bersifat seperti kanker. Biasanya galaktokel tampak
rata, benjolan dapat digerakkan, walaupun dapat juga keras dan susah digerakkan.Penatalaksanaan
galaktokel sama seperti kista lainnya, biasanya tanpa melakukan tindakanapapun. Apabila diagnosis
masih diragukan atau galaktokel menimbulkan rasa tidak nyaman,maka dapat dilakukan drainase
dengan aspirasi jarum halus.
2.3.14 Hiperplasia Epitel
Hiperplasi epitel ( disebut juga kelainan payudara proliferatif) adalah pertumbuhan abnormal
dari sel-sel yang membatasi antar duktus atau lobulus. Apabila hiperplasi melibatkan duktus maka
disebut hiperplasia duktus. Sedangkan bila melibatkan lobulus, maka disebut hiperplasia lobular.
Berdasarkan pengamatan dibawah mikroskop, hiperplasia dapatdikelompokkan menjadi tipe biasa
dan atipikal. Hiperplasia tipe biasa mengindikasikan peningkatan yang tipis dari resiko seorang
wanita untuk berkembang menjadi kanker payudara. Resikonya adalah 1,5 sampai 2 kali lipat
dibandingkan wanita tanpa abnormalitas payudara. Hiperplasia atipikal mengindikasikan
peningkatan yang sedang yaitu 4 sampai 5 kali lipat dibandingkan wanita tanpa abnormalitas
payudara.
Hiperplasi epitelial biasanya didiagnosa melalui biopsi jarum atau biopsi melalui
pembedahan. Apabila telah didiagnosis menderita hiperplasia terutama hiperplasia atipikal,berarti
diperlukan pemantauan yang lebih oleh dokter, misalnya pemeriksaan fisik payudara yang rutin dan
mammografi setiap setahun sekali. Hal ini dikarenakan mengalami hiperplasia akan meningkatkan
kemungkinan untuk berkembang menjadi kanker payudara di masa yang akan datang.

28 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara

Tabel. ANDI Classification of Benign Breast Disorder


Terapi untuk Kelainan dan Penyakit Mammae Jinak
Kista : investigasi awal dari massa yang terpalpasi adalah biopsi jarum, yang dapat mendiagnosis
kista sejak awal. Sebuah 21-gauge needle dengan syringe 10 mL ditusukkan secara langsung ke
massa, yang difiksasi dengan tangan yang tidak dominant. Volume dari kista tipikaladalah 5-10 mL,
tapi dapat mencapai 75 mL atau lebih. Jika cairan yang teraspirasi tidak mengandung darah, makan
dilakukan aspirasi hingga kering, lalu jarum ditarik, lalu dilakukan pemeriksaan sitologi. Setelah
aspirasi, mammae dipalpasi lagi untuk menentukan adanya massa residual. Jika ada, dilakukan USG
untuk menyingkirkan adanya kista persisten, dan dapat dilakukan reaspirasi. Bila masa solid,
dilakukan pengambilang spesimen jaringan. Bila pada aspirasi ditemukan darah, makan diambil 2
mL untuk dilakukan pemeriksaan sitologi. Massa kemudian dilihat dengan USG dan adanya area
solid pada dinding kista dilakukan biopsi jarum. Adanya darah biasanya dapat terlihat jelas, tetapi
kista dengan cairan yang gelap perlu dilakukan occult blood test atau pemeriksaan mikroskopis
untuk memastikan. Dua aturan kardinal dari aspirasi kista yang aman, yaitu (1) massa harus hilang
secara komplit setelah aspirasi, (2) cairanharusnya tidak mengandung darah. Jika salah satu dari
29 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
ketentuan tersebut tidak ditemukan,makan USG, biopsi jarum, dan mungkin biopsi eksisi
direkomendasikan.
Fibroadenoma: pengangkatan seluruh fibroadenoma telah dianjurkan terlepas dari usia pasien
atau pertimbangan lainnya, fibroadenoma soliter pada wanita muda biasanya diangkat untuk
menghilangkan kecemasan pasien. Walaupun begitu, kebanyakan fibroadenoma bersifat selflimitting dan banyak yang tidak terdiagnosis, sehingga pendekatan konservatif lebihdigunakan.
Pemeriksaan USG dan core-needle biopsy dapat memberikan diagnosis yang akurat. Kemudian,
pasien dijelaskan mengenai hasil biopsi, dan eksisi fibroadenoma dapat dihindari.
Sclerosing disorder: klinis dari sclerosing adenosis mirip dengan carcinoma. Oleh karena itu
kelainan ini dapat disalahartikan sebagai carcinoma pada pemeriksaan fisik, mammography, dan
pemeriksaan patologi makroskopis. Biopsi eksisi dan pemeriksaan histology seringkali diperlukan
untuk menyingkirikan diagnosis carcinoma.
Periductal mastitis: massa yang nyeri dibelakang areola mammae diaspirasi dengan 21-gauge
needle yang melekat ke syringe 10 mL. Adanya cairan yang terambil dilakukan pemeriksaan sitologi
dan untuk kultur digunaka medium transport yang sesuai untuk deteksi bakteri anaerob. Pasien diberi
antibiotik mulai dari Metronidazol dan Dicloxacillin sambil menunggu hasil kultur. Kebanyakan
kasus berrespon dengan baik, tetapi bila ditemukan pus, maka tindakan operatif harus dilakukan. Abses
subareolar biasanya unilocular dan sering mengenai satu sistem duktus. USG preoperative dapat
membantu menentukan daerah perluasannya. Ahli bedah dapat mengambil tindakan simple drainage
(ada risiko problemberulang lagi) atau pembedahan definitive. Pada wanita child-bearing age,
simple drainage lebihdipilih, tetapi bila ada infeksi anaerob, infeksi berulang sering terjadi. Abses
berulang dengan fistula merupakan masalah yang sulit dan diterapi dengan fistulectomy atau major duct
excision (tergantung keadaan). Bila abses periareolar yang terlokalisasi berulang pada daerah yang
samadan terbentuk fistula, tindakan yang lebih dipilih adalah fistulectomy. Di lain pihak, bila sub areolar
sepsis difus, lebih dari 1 segmen atau lebih dari 1 fistula, makan total duct excision lebih dipilih. Terapi
antibiotik bermanfaat untuk infeksi berulang setalh eksisi fistulasi, dan dikonsumsi 2-4 minggu
direkomendasikan sebelum total duct excision

30 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara

BAB 3. KESIMPULAN
Tumor payudara dibedakan menjadi 2 kelompok kategori besar, yaitu tumor
jinak dan tumor ganas. Tumor jinak secara umum tidak memerlukan tindakan bedah,
namun terkadang, tindakan dipikirkan pada kasus tertentu dengan resiko kanker yang
tinggi. Sedangkan tumor ganas memerlukan perencanaan terapi yang lebih kompleks,
bisa dengan terapi hormonal, kemoterapi, radioterapi, dan mastektomi radikal.
Tumor jinak payudara sangat berbagai macam bentuknya, diantaranya adalah
fibrokistik, fibroma, fibroadenoma, adenoma, adenosis, tumor filoides, nekrosis
lemak, papiloma intraduktal, tumor sel granular, kista, ektasia duktus, mastitis,
galaktokel, dan hiperlasia epitel. Jenis-jenis tumor diatas dapat dibedakan melalui
pemeriksaan fisik seperti SADARI, pemeriksaan penunjang berupa USG,
mammografi, CT-Scan, ataupun MRI, dan juga dengan pemeriksaan diagnosa pasti,
31 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014

Diagnosa Banding Tumor Jinak


Payudara
yaitu dengan menggunakan biopsi, baik menggunakan FNAB, needle core biopsy,
ataupun dengan Frozen Section Biopsy.
Yang harus menjadi perhatian bagi semua klinisi adalah untuk membedakan
tumor jinak dari tumor ganas, hal ini daapt dicapai dengan pemeriksaan fisik yang
teliti, dan dibantu dengan pemeriksaan penunjang yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Cohen S.M, Aft R.L, and Eberlein T.J. 2002. Breast Surgery. In: Doherty G.M et all, ed. The
Washington Manual of Surgery. Third edition. Philadelphia: Lippincott Williams and
Wilkins. p 40.
2. De jong, Syamsuhadi. Ilmu Bedah. EGC. Jakarta. 2005
3. Kumpulan Naskah Ilmiah Muktamar Nasional VI Perhimpunan Ahli Bedah
Onkologi

Indonesia.Semarang.20034.

Moningkey,

Shirley

Ivonne,

2000.

Epidemiologi Kanker Payudara. Medika; Januari 2000. Jakarta.


4. Profil Kesehatan Indonesia. Pusat Data Kesehatan. Jakarta, 1997
5. Tjindarbumi, 2000. Deteksi Dini Kanker Payudara dan Penaggulangannya,
Dalam: Deteksi Dini Kanker. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta

32 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 7 Juli 2014 24 Agustus 2014