Anda di halaman 1dari 11

ABSTRAK

Latar belakang : Penelitian di Indonesia pada beberapa daerah masih melaksanakan


sunat perempuan dimana hasilnya di Padang 88,5% dan di Padang Pariaman 67,5%
dilakukan oleh tenaga medis, sedangkan sisanya non tenaga medis. Sementara itu, di
Makasar dan Bone hampir 100% sunat perempuan dilakukan oleh non tenaga kesehatan
atau dukun beranak.
Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi ibu tentang sunat
perempuan di desa Cranggang kecamatan Dawe Kudus.
Metode : Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan
fenomenologi. Teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam. Jumlah
partisipan terdiri dari 4 partisipan sunat perempuan di Bidan dan 3 partisipan sunat
perempuan di Dukun Setempat.
Hasil : Hasil wawancara pada informan didapatkan informasi tentang persepsi ibu
terhadap sunat perempuan merupakan segala prosedur, baik menggores maupun melukai
bagian alat kelamin perempuan, baik didasari oleh perintah agama Islam, budaya, turuntemurun dari orang tua agar tidak menimbulkan penyakit dan kemandulan, serta alasan
non medis lainnya. Sunat perempuan tidak memberikan manfaat dalam kesehatan dan
dilakukan pada anak perempuan usia 0-3 tahun oleh bidan desa maupun dukun setempat.
Alat yang digunakan untuk menyunat dan cara penyunatan berbeda antara bidan dan
dukun bayi.
Simpulan : Sunat perempuan hanyalah merupakan sebuah tradisi/budaya masyarakat
dimana tindakan tersebut tidak memiliki manfaat dan dasar kesehatannya.
Kata kunci : Sunat Perempuan

PENDAHULUAN
Sunat perempuan merupakan prosedur pemotongan (pembuangan)
sebagian atau seluruh bagian klitoris (clitoridectomy), pemotongan klitoris dan
sebagian atau seluruh bagian labia minora (excision), atau pemotongan sebagian
atau seluruh bagian luar genital dengan menjahit atau menyempitkan pembukaan
vaginal (infibulations) (Oktarina, 2011, h.178)
Sunat pada perempuan (Female Genital Mutilation, FGM) atau Female
Genital Cutting (FGC) mengacu pada tindakan mengangkat sebagian atau seluruh
genitalia eksternal perempuan atau cedera lainnya pada genitalia perempuan tanpa
alasan medis. Hingga saat ini, sekitar 100-130 juta remaja perempuan dan wanita
di seluruh dunia menjalani tindakan sunat setiap tahunnya dan hampir 3 juta
remaja perempuan diperkirakan akan menjalani tindakan tersebut. Tindakan FGM
banyak dilakukan di Afrika Barat, Afrika Tenggara, Afrika Utara, dan beberapa
Negara Asia dan Timur Tengah, selain komunitas imigran tertentu di Amerika
Utara dan Eropa Sunat perempuan diketahui membahayakan kesehatan dan
kesejahteraan wanita, namun praktik tersebut masih dilakukan. Alasan sosial dan
agama sering digunakan untuk melegalkan tindakan sunat perempuan.
Ketidakadilan dan diskriminasi terhadap wanita juga turut mendorong FGM
(Rahyani, 2012, h.81).
Sunat perempuan merupakan tindakan yang melampaui sifat kemanusiaan
dan merendahkan wanita selain melanggar hak kesehatan, keamanan dan
integritas fisik individu; hak untuk terbebas dari penyiksaan dan kekejaman; dan
hak untuk hidup (Rahyani, 2012, h.81).
Penelitian Population Council yang didukung oleh USAID untuk meneliti
praktik khitan perempuan di Indonesia memperlihatkan, khitan di Indonesia tidak
seperti di Sudan yang menghilangkan seluruh klitoris dan menjahit rapat-rapat
vagina. Di daerah Banten, Gorontalo, Makassar, Padang Sidempuan, maupun
daerah lainnya ternyata praktik khitan perempuan amat beragam. Meski tidak
seperti praktik di Sudan, namun banyak keluhan yang diterima dari kaum
perempuan, mereka kehilangan kepuasan seksual, padahal ajaran Islam
menegaskan istri adalah pakaian bagi suami dan sebaliknya (Sururin, 2011, h.59).
Penelitian di Indonesia pada beberapa daerah tentang sunat perempuan.
Hasilnya, di Padang hampir 88,5% dan di Padang Pariaman 67,5% dilakukan oleh
tenaga medis, sedangkan sisanya non tenaga medis. Sementara itu, di Makasar
dan Bone hampir 100% sunat perempuan dilakukan oleh non tenaga kesehatan
atau dukun beranak. Bila dilakukan oleh non tenaga medis, Kemenkes tidak bisa
mengatur (Oktarina, 2011, h.178).
Peraturan diberlakukan parlemen Mesir yang mengesahkan UndangUndang (UU) tentang pelarangan khitan perempuan. Bagi yang melanggar akan
dikenai denda 185 dollar AS sampai 900 dollar AS dan kurungan penjara antara 3
bulan dan 2 tahun. Praktik sunat perempuan sampai saat ini masih dilakukan di
Negara Asia meliputi Pakistan, India, Banglades, dan Malaysia (Oktarina, 2011,
h.178).
Pelaksanaan sunat perempuan di Indonesia umumnya didasari oleh adanya
tradisi masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi yang dimaksud
adalah sesuatu yang berada di luar kemauan individu, di luar kemampuan

perseorangan, dan memaksakan kehendaknya pada setiap individu. Adanya


tekanan-tekanan sosial sering menghalangi individu untuk melakukan hal-hal
yang sebetulnya diinginkan (Budi, 2010, h.217).
Manusia dalam berperilaku tidak hanya didasarkan pada pemikirannya
sendiri. Pemikiran tersebut akan mengalami proses pemaknaan atas kenyataan
eksternal yang melingkupinya untuk kemudian diolah dalam kognitif manusia.
Jika pemikiran tersebut disepakati, terjadilah tindakan mengkhitankan sebagai
ekspresi penerimaan atas nilai-nilai sekitarnya. Perilaku manusia terdiri atas tiga
faktor yaitu afektif, kognitif, dan psikomotorik. Psikomotorik individu ini di ukur
melalui praktik yang dilakukan individu. Praktik tersebut mempunyai empat
tingkatan yaitu persepsi, respons terpimpin, mekanisme, dan adaptasi. Praktik
yang didasarkan pada pengetahuan akan lebih langgeng daripada praktik yang
tidak didasari oleh pengetahuan (Nurdiyana, 2010, h.118).
Indonesia yang mutlak dengan keberagaman tradisi, beberapa daerahnya
seperti Madura, Lampung, Kudus dan banyak lainnya mempunyai konsep yang
sama tentang khitan perempuan. Bila tidak melakukan khitan perempuan, seorang
perempuan dianggap sebagai perempuan yang tidak baik, kotor, menjijikkan dan
berbagai citra negatif lainnya oleh masyarakat, sehingga perempuan yang tidak
melakukan khitan perempuan selalu diejek dan dianggap tidak layak dalam
bermasyarakat (Nurdiyana, 2010, h.118).
Salah satu daerah yang masih melaksanakan khitan perempuan adalah
Kota Kudus. Fenomena sunat perempuan pada masyarakat Kudus sebenarnya
berkaitan dengan persepsi masyarakat, terutama para ibu sebagai orangtua tentang
sunat perempuan itu sendiri. Persepsi menunjukkan proses mental yang
menghasikan bayangan pada diri individu, sehingga dapat mengenal suatu objek
dengan jalan asosiasi pada sesuatu ingatan tertentu, baik secara indera
penglihatan, indera perabaan, dan sebagainya sehingga akhirnya bayangan itu
dapat disadari. Keseluruhan masyarakat memiliki pandangan tersendiri dalam
memandang pelaksanaan khitan perempuan. Apakah pelaksanaan sunat
perempuan merupakan ajaran agama atau merupakan tradisi kuno yang
diwariskan turun-temurun dengan label agama karena kepentingan kelompok
tertentu. Hal inilah kemudian menarik untuk diteliti (Rakhman, 2010, h.8).
Survey awal yang dilakukan peneliti pada tanggal 11 Januari 2015.
Berdasarkan catatan pelaksanaan sunat perempuan dapat diketahui bahwa sunat
perempuan yang dilakukan selama bulan Oktober-Desember 2014, yaitu 31 anak
(63,2%) oleh bidan desa, dan 18 anak (36,7%) oleh dukun setempat. Bidan desa
Cranggang kecamatan Dawe Kudus dalam survey awal menyatakan bahwa para
ibu masih membawa anaknya ke bidan/dukun setempat untuk melakukan sunat
perempuan. Sunat perempuan bisa dilakukan di bidan atau dukun setempat
dengan cara menggores daerah klitoris menggunakan jarum maupun pisau silet
atau bisturi. Para ibu mempercayai bahwa sunat perempuan merupakan tradisi/
adat kepercayaan orang tua secara turun-temurun, dan bila tidak dilakukan akan
menimbulkan kemandulan, serta menimbulkan penyakit. Resiko dilakukan sunat
perempuan meliputi perdarahan sedikit hingga banyak pada daerah kelamin.
Apabila hal ini tidak mendapatkan perhatian dapat menimbulkan kesalahan

persepsi masyarakat, khususnya para ibu sebagai orang tua dan membahayakan
dalam ruang lingkup kesehatan reproduksi.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengambil
judul,Persepsi ibu tentang Sunat Perempuan di desa Cranggang Kecamatan
Dawe Kudus tahun 2015
METODE
Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif, yaitu pendekatan induktif
untuk menemukan atau mengembangkan persepsi ibu tentang sunat perempuan
yang memerlukan keterlibatan peneliti dalam mengidentifikasi pengertian atau
relevansi dari sunat perempuan terhadap individu (Afifuddin & Saebani, 2009, h.
76). Peneliti menggunakan pendekatan fenomenologi untuk merumuskan satu
pernyataan persepsi ibu tentang sunat perempuan.
Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara mendalam
atau In Dept Interview, yaitu merupakan suatu cara mengumpulkan data dengan
cara langsung beratatap muka dengan partisipan, dengan maksud untuk
mendapatkan gambaran lengkap tentang topik yang diteliti.
Partisipan dalam penelitian ini dibagi menjadi 2, yaitu partisipan sunat
perempuan di Bidan dan dukun setempat. Subyek dalam penelitian ini diambil
dari sebagian populasi dengan menggunakan teknik pengambilan subyek secara
homogen (partisipan yang memilki karakteristik/ kasus yang sama). Dalam
pendekatan ini yang diambil adalah sejumlah kecil kasus homogen, agar peneliti
dapat mendiskripsikan kelompok tertentu secara mendalam. Partisipan homogen
dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak perempuan dan sudah disunat,
baik oleh bidan dan dukun setempat di desa Cranggang Kecamatan Dawe
Kabupaten Kudus.
Prosedur pengambilan partisipan yang digunakan adalah pengambilan
partisipan berdasarkan konstruk operasional (Theory based/ operational construct
sampling) dimana partisipan dipilih dengan kriteria tertentu, berdasarkan teori /
konstruk operasional sesuai studi sebelumnya, atau sesuai tujuan penelitian. Hal
ini dilakukan agar partisipan sungguh-sungguh mewakili fenomena. Pengambilan
partisipan ini menggunakan teknik snowball sampling, yaitu berdasarkan
rekomendasi orang ke orang sesuai dengan penelitian dan adekuat untuk menjadi
partisipan. Peneliti meminta rekomendasi calon informan dari bidan desa dan
dukun setempat. Setelah itu, peneliti kembali meminta rekomendasi partisipan
lain yang sesuai dengan karakteristik penelitian pada subjek, demikian seterusnya.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di tentukan informan
yang diwawancarai sebanyak 9 orang yang terdiri dari: Bidan desa, dukun
setempat, serta para ibu yang memiliki anak perempuan usia 0-3 tahun dan sudah
disunat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kebudayaan adalah suatu hasil karya yang diciptakan oleh masyarakat
yang dapat dipelajari dan diwariskan kepada generasi selanjutnya secara turuntemurun. Kebudayaan dan masyarakat adalah satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Salah contoh dari kebudayaan yang ada di masyarakat
adalah tradisi sunat. Pengertian sunat secara umum yaitu segala prosedur melukai

maupun menghilangkan sebagian atau seluruh bagian klitoris perempuan baik


karena didasari oleh alasan kebudayaan atau alasan nonmedis lainnya (Zamroni,
2011, hal. 104).
Hasil penelitian Taufiq (2010) sejalan dengan hasil wawancara peneliti
terhadap bidan selaku triangulasi sumber bahwa sunat perempuan adalah tindakan
menggores alat genitalia/kemaluan maupun klitoris karena alasan budaya dari
tetua (orang yang dituakan), maupun alasan non medis lainnya.
Keterangan yang telah diperoleh dapat dilihat bahwa fenomena di atas
memungkinkan adanya kepercayaan yang masih kental dari masyarakat, terutama
para ibu tentang sunat perempuan. Fenomena ini dimungkinkan kurang adanya
kesadaran dan informasi tentang sunat perempuan, terutama dari tenaga kesehatan
sebagai salah satu role model kesehatan dalam masyarakat. Faktor dari individu
sendiri, yaitu ketidaktahuan tentang sunat perempuan sebagai bagian dari isu
kesehatan reproduksi serta resiko pelaksanaan sunat perempuan, serta perilaku
dan sikap yang masih kental dengan adat dan budaya dari seseorang sehingga
apapun informasi yang disampaikan belum dapat di respon (Notoatmodjo, 2007).
Hasil wawancara partisipan di dukun setempat tidak berbeda dengan
partisipan di bidan bahwa partisipan sudah mampu mengungkap persepsi tentang
pengertian sunat perempuan sesuai dengan pengetahuan dan pendapat mereka
masing-masing. Sunat perempuan adalah suatu tindakan menyayat bagian vagina
maupun alat kelamin perempuan, baik karena budaya maupun perintah agama
Islam.
Hasil penelitian Indah (2013) sejalan dengan hasil wawancara peneliti
terhadap triangulasi sumber, yaitu didapatkan bahwa sunat perempuan merupakan
sunat yang dilakukan pada daerah klitoris sebagai budaya serta perintah agama
Islam dimana tidak hanya laki-laki saja yang disunat melainkan juga perempuan.
Hal ini dilakukan agar ibadah yang dilakukan menjadi sah dan diterima oleh Allah
SWT karena setelah disunat badan menjadi bersih. Maka untuk menjaga dari
kesucian dan kemurnian perempuan itu sendiri, maka perempuan itu harus
disunat.
Praktik sunat perempuan seringkali pelaksanaannya didasarkan pada ajaran
agama dan adat masyarakat, begitu juga dengan praktik sunat perempuan pada
masyarakat Cranggang. Para ibu menganggap sunat perempuan merupakan
sesuatu yang wajib dilakukan sebab apabila tidak maka dianggap ibadahnya
belum sah atau sempurna dan tidak boleh masuk masjid. Sehingga, pendasaran
agama sebagai landasan praktik sunat perempuan menjadi sebuah dorongan yang
sangat besar bagi para ibu untuk menyunatkan anak perempuannya.
Selain itu, para ibu menganggap sunat perempuan merupakan sebuah budaya
dan adat-istiadat yang sudah dilaksankan secara turun temurun. Bagi orang Jawa
melestarikan dan menjalankan tradisi merupakan hal yang harus dilakukan, karena
bagi mereka tradisi yang telah diwariskan oleh leluhur mereka adalah penentu
identitas diri mereka sebagai orang Jawa. Hal inilah yang membuat masyarakat
ditempat tinggal informan masih melangsungkan khitan pada perempuan,
walaupun pada dasarnya pacuan mereka dari tradisi nenek moyang. Kurangnya
informasi dari agama yang dari semua informan belum ketahui. Mereka merasa
kurang sempurna kalau kegiatan tersebut tidak dilaksanakan. Selain itu, dorongan

dari orang tua mempengaruhi seorang ibu untuk menyunatkan anak


perempuannya.
Ditinjau dari segi medis dan kesehatan, sunat perempuan tidak ada manfaat
dan kegunaan. Berbeda dengan dengan sunat yang dilakukan pada laki- laki yaitu
berguna untuk menjaga kebersihan dari alat kelamin luar (Juli, 2006) Aide
Medicale Internationale, hal 39. Persepsi ibu tentang manfaat sunat perempuan
masih dipengaruhi mitos yang belum tentu kebenarannya. Para ibu di desa
Cranggang mengungkapkan bahwa manfaat sunat perempuan adalah agar tidak
terjadi kemandulan dan terhindar dari penyakit ketika beranjak dewasa.
Hasil wawancara dengan partisipan mengungkapkan bahwa penggoresan
kemaluan saat sunat perempuan mengandung makna bahwa manusia hendaknya
ingat untuk mengendalikan hawa nafsunya serta mengurangi libido yang tinggi
dan dengan penggoresan merupakan suatu isyarat bahwa manusia telah disucikan,
untuk itu ia harus senantiasa menjaga kesucian dirinya dengan menjaga kemaluan
dan keturunannya, sehingga dapat terhindar dari penyakit menular.
Usia pelaksanaan sunat perempuan bervariasi mulai dari neonatus, anak usia
6-10 tahun, remaja, hingga dewasa. Masyarakat di Indonesia melakukan sunat
perempuan pada usia anak 0- 18 tahun, tergantung budaya setempat. Pada
umumnya sunat perempuan dilakukan pada bayi setelah dilahirkan. Di Jawa dan
Madura, sunat perempuan 70% dilaksanakan pada anak usia kurang dari satu
tahun (Juliansyah, 2009, h.49).
Pelaksanaan sunat perempuan di lokasi penelitian berbeda-beda. Hal ini sesuai
dengan adat dan kepercayaan masing masing. Waktu pelaksanaan sunat tersebut
juga tergantung dari permintaan dan keputusan dari orang tua atau wali anak
perempuan. Status kesehatan bayi perempuan juga sangat penting, jika bayi
tersebut sedang sakit maka tidak boleh dilaksanakan sunat perempuan.
Waktu pelaksanaan sunat perempuan yang berbeda dengan pelaksanaan sunat
laki-laki. Pelaksanaan sunat perempuan dapat dilakukan ketika umur 7 hari, 40
hari, 1 tahun, dan maksimal usia 3 tahun. Rata-rata sunat perempuan dilakukan
pada saat mereka masih balita antara umur 7 hari setelah kelahiran atau ketika tali
pusat bayi kering dan terlepas atau disebut dengan puput (dalam bahasa jawa)
hingga usia 3 tahun.
Data yang diperoleh dari para ibu menganggap bahwa penyunatan
dilakukan dengan cara memotong atau menggores bagian kelamin klitoris bayi
sampai mengeluarkan sedikit darah, mereka menyebutnya bawuk (Vagina) atau
inthil-inthil (Klitoris). Selain itu, dalam pelaksanaan sunat perempuan terdapat
unsur budaya yang melekat dalam pelaksanaan sunat ini, yaitu dengan memotong
kunir (kunyit) sebagai syarat dan dikubur bersamaan dengan kassa betadine yang
digunakan saat sunat. Hal ini dimaksudkan agar anak perempuan tersebut dapat
memperoleh kesuburan.
Pernyataan triangulasi membenarkan persepsi para ibu tentang
pelaksanaan sunat perempuan. Pelaksanaan sunat perempuan di bidan sejatinya
merupakan bentuk Sunat Psikologis dimana sekedar menggores ujung jarum
pada klitoris, sehingga keluar setetes darah, dan orang tua pasien merasa puas.
Persyaratan sunat perempuan adalah dilakukan di ruangan yang bersih,
tempat tidur atau meja tindakan yang bersih, menggunakan alat yang steril,

pencahayaan yang cukup dan terdapat air bersih. Hal itu sesuai dengan apa yang
dikatakan oleh bidan desa. Proses pelaksanaan sunat perempuan antara bidan
dengan dukun sunat berbeda. Jika bidan yang melaksanakan sunat perempuan
yaitu lebih sesuai dengan peraturan menteri kesehatan tersebut. Proses
pelaksanaan sunat perempuan yang dilakukan oleh bidan desa, yaitu dimulai
dengan mencuci tangan terlebih dahulu sebelum proses penyunatan, setelah itu
menggunakan sarung tangan. Bayi perempuan tersebut ditidurkan dan kakinya
direntangkan. Alat kelamin dibersihkan menggunkan air hangat dan Alat kelamin
dibersihkan dan kulit yang menutupi klitoris dibersihkan dengan menggunakan
jarum ataupun bisturi yang sudah disterilkan. Darah yang keluar kemudian
ditekan dengan kassa betadin lalu ditempel dengan kunir, lalu kunirnya itu
dipotong sebagai simbol/syarat, lalu dikasih kassa. Alat kelaminnya kembali
dibersihkan dan yang terakhir mencuci tangan.
Pelaksanaan sunat perempuan tidak ada ketentuan yang jelas tentang
seberapa besar bagian klitoris yang digores. Penyunatan dilakukan dengan
menggores sedikit bagian dari klitoris hingga berdarah. Jenis / tipe tindakan sunat
perempuan di desa Cranggang merupakan tipe IV dimana menurut WHO
merupakan tindakan sunat yang tidak terklarifikasi, termasuk di sini adalah
menusuk/memotong/menggores dengan jarum/bisturi, baik di permukaan saja
ataupun sampai menembus, atau insisi klitoris dan atau labia; meregangkan
klitoris dan atau vagina; kauterisasi klitoris dan jaringan sekitarnya; menggores
jaringan sekitar introitus vagina (angurya cuts) atau memotong vagina (gishiri
cut), memasukkan benda korosif atau tumbuh-tumbuhan agar vagina
mengeluarkan darah, menipis, dan menyempit.
Berdasarkan wawancara pada partisipan mengungkap bahwa pelaksanaan
sunat perempuan di dukun setempat lebih kental akan makna budaya
dibandingkan di bidan. Pertama, bagian alat genetalia dibersihkan dengan
menggunakan kapas basah untuk membersihkan kotoran (debug), kemudian
dibacakan doa sebelum disunat sebagai suatu syarat. Bagian klitoris digores
menggunakan silet, lalu diberi kunyit (kunir).
Pelaksanaan sunat, yaitu cara penggoresan klitoris maupun bagian dari
kelamin perempuan tidak ada ketentuan yang jelas tentang seberapa besar bagian
klitoris yang digores. Pada umumnya penyunatan hanya menggores sedikit dari
klitoris yang penting sampai berdarah, itu sudah cukup. Sehingga, jenis/tipe
tindakan sunat perempuan merupakan tipe IV, yaitu tidak terklarifikasi.
Alat yang digunakan untuk sunat perempuan adalah sarung tangan, silet,
betadin, kassa, dan kunir. Pelaksanaan dari sunat perempuan masih dilakukan
secara sederhana menggunakan kunir (kunyit) yang dijadikan sebagai salah satu
syarat sah pelaksanaan sunat perempuan. Setelah itu, kunyit dan bekas alat untuk
menyunat akan dibawa pulang dan dikubur tujuannya agar anak perempuan
mereka mendapat kesuburan saat menikah kelak.
Praktik khitan tradisional yang dilakukan oleh tenaga non medis tidak
mengikuti prosedur tindakan medis, dengan alat-alat seperti gunting, pisau, silet
dan lainnya yang membahayakan nyawa orang, di lokasi-lokasi yang mudah
terkontaminasi kuman, bakteri, ataupun virus.

Sumber-sumber terkait sunat perempuan tidak menyebutkan alat-alat


medis khusus yang harus digunakan untuk sunat perempuan, tetapi hal tersebut
dapat peneliti peroleh dari jawaban keempat partisipan, yaitu didapatkan hasil
bahwa alat yang digunakan untuk sunat perempuan adalah kapas DTT, silet dan
kunir dimana setelah itu semua peralatan akan dibawa pulang oleh ibu untuk
ditanam. Tujuannya adalah agar anak perempuan tersebut mendapatkan
kesuburan.
Para ibu mengungkapkan bahwa tidak ada perawatan khusus setelah
dilakukan tindakan sunat perempuan. Meskipun begitu, dari bidan menjelaskan
bahwa pada bagian alat kelamin anak perempuan diberi kassa betadin dan
dianjurkan untuk tidak memberi bedak pada alat kelaminnya dan dibersihkan
dengan air hangat jika sewaktu-waktu terjadi pembengkakan pada bagian kelamin
maupun bayi menangis akibat menahan nyeri ketika buang air kecil.
Beberapa data dari lapangan mengungkapkan bahwa tenaga yang
melakukan sunat perempuan adalah dukun bayi dan bidan. Mereka dipercaya
sebagai tenaga yang mampu menyunat anak perempuan. Bidan dianggap tenaga
yang mampu melakukan sunat perempuan dengan aman dibandingkan dukun
bayi.
Resiko setelah sunat perempuan yang dilakukan oleh bidan di desa
Cranggang sering terjadi meskipun mereka mengatakan bahwa tidak ada resiko
dalam pelaksanaan sunat perempuan. Mereka menganggap bahwa sunat
perempuan merupakan kegiatan yang aman dan minim resiko penyakit. Namun,
dari beberapa partisipan mengatakan bahwa anak mereka menangis dan timbul
perdarahan, rasa sakit ketika buang air kecil (BAK). Resiko yang telah diungkap
oleh para ibu tersebut dianggap sebagai sesuatu yang normal dialami anak
perempuan yang telah disunat. Hal ini diperkuat oleh pernyataan dari triangulasi
sumber bahwa pasca dilakukan sunat anak perempuan tersebut hanya menangis
sesaat setelah disunat ataupun ketika Buang Air Kecil (BAK).
Sedangkan resiko setelah sunat perempuan yang dilakukan oleh dukun di
desa Cranggang sering terjadi meskipun mereka mengatakan bahwa tidak ada
resiko dalam pelaksanaan sunat perempuan. Mereka menganggap bahwa sunat
perempuan merupakan kegiatan yang aman dan minim resiko penyakit.
Ada beberapa kasus pasca sunat perempuan dimana penggoresan klitoris
terlalu dalam. Kasus ini ditemukan dari ungkapan Bidan desa Cranggang
mengenai pasiennya yang mengalami perdarahan yang cukup banyak pasca sunat
perempuan di dukun bayi. Pasien didiagnosa mengalami robekan yang dalam
pada daerah klitoris. Dukun setempat mengatakan bahwa hal tersebut bukan
merupakan sesuatu yang perlu dikhawatirkan dan hanya menekan daerah klitoris
dengan kunir, tetapi kenyataannya praktik sunat tersebut membahayakan pasien.
Pernyataan bidan desa di atas menunjukkan adanya fenomena di mana ada
beberapa perempuan yang disunat dengan cara memotong klitoris, tidak hanya
digores. Bahkan pada kenyataannya, ditemukan kasus pemotongan sampai
klitorisnya habis. Mengingat klitoris merupakan daerah yang dapat merangsang
hasrat perempuan, maka Bidan desa tersebut mengingatkan kalau pun sunat

perempuan harus dilaksanakan, agar penggoresan maupun pemotongan klitoris


jangan terlalu banyak, dan kalau bisa perempuan itu jangan disunat.
Proses penyembuhan luka setelah sunat perempuan terbilang singkat, yaitu
sekitar 1 sampai 3 hari tanpa disertai panas pada anak dimana hal ini semakin
memperkuat anggapan para ibu bahwa sunat perempuan merupakan tindakan yang
aman dari resiko. Sehubungan dengan masalah tersebut, sebaiknya dilakukan
program edukasi tentang sunat pada anak perempuan di masyarakat. Hal tersebut
harus mempertimbangkan faktor budaya dari masyarakat setempat ( Taufiq, 2010,
h. 29).
SIMPULAN
1. Sunat perempuan adalah segala prosedur, baik menggores maupun melukai
bagian alat kelamin perempuan, baik didasari oleh perintah agama Islam,
budaya, turun temurun dari orang tua agar tidak menimbulkan penyakit dan
kemandulan, serta alasan non medis lainnya.
2. Tujuan/ alasan dilakukan sunat perempuan sebagai adat dari orang tua agar
bersih, untuk kesuburan, anak tidak menjadi perempuan yang nakal dan alasan
perintah agama
3. Manfaat sunat perempuan, diantaranya:
a. Agar tidak terkena penyakit kelamin
b. Agar mendapatkan pahala
c. Agar anak tidak menjadi perempuan nakal
d. Meningkatkan kesuburan
e. Agar keinginan seks tidak tinggi.
f. menjaga kebersihan alat genetalia.
4. Pelaksanaan sunat perempuan di lokasi penelitian berbeda-beda. Hal ini sesuai
dengan adat dan kepercayaan masing masing, yaitu mulai dari keadaaan
puput (tali pusat kering dan lepas) sampai umur 3 tahun.. Pelaksanaan sunat
perempuan di dukun setempat tidak boleh dilakukan secara sembarangan,
yaitu dilakukan pada hari yang baik dimana penentuan hari pelaksanaannya
dihitung mulai dari weton (penanggalan menurut orang Jawa). Status
kesehatan bayi perempuan juga sangat penting, jika bayi tersebut sedang sakit
maka tidak boleh dilaksanakan sunat perempuan. Pelaksanaan sunat
perempuan di Bidan lebih mengutamakan prinsip steril dan kebersihan.
Penyunatan dilakukan dengan cara memotong atau menggores bagian kelamin
klitoris bayi sampai mengeluarkan sedikit darah dimana bidan sejatinya hanya
melaksanakan Sunat Psikologis.
5. Jenis/tipe tindakan sunat perempuan di desa Cranggang merupakan tipe IV,
yaitu tidak terklarifikasi.
6. Alat yang digunakan untuk sunat perempuan yang dilakukan oleh bidan
berbeda dengan dukun setempat. Alat yang digunakan di bidan adalah sarung
tangan, kapas DTT, jarum/bisturi, kassa dan kunir, sedangkan alat yang
digunakan oleh dukun bayi adalah kapas DTT, silet, dan kunir.

7. Perawatan post tindakan sunat perempuan adalah menganjurkan untuk


menjaga kebersihan alat kelamin perempuan, tidak memberi bedak maupun
ramu-ramuan pada alat kelamin dan dibersihkan dengan air hangat.
8. Tenaga yang melakukan sunat perempuan adalah bidan dan dukun bayi.
9. Resiko tindakan sunat perempuan adalah anak menangis dan terjadi
perdarahan, serta rasa sakit ketika buang air kecil (BAK).
SARAN
Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti efek pemberian MSG
terhadap fungsi endometrium.
DAFTAR PUSTAKA
1. Afifuddin, Saebaeni, Ahmad Beni. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: Pustaka Setia.
2. Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta :
Rineka Cipta.
3. Budi, ASD. 2010. Khitan perempuan: dari sudut pandang sosial,
budaya,kesehatan, dan agama lembaga studi kependudukan dan gender,
Jakarta, 179-218.
4. Hidayatullah. Taufiq. 2010. Khitan Wanita Perspektif Hukum Islam dan
Kesehatan. 1-75.
5. Ihromi. 2012. id.shvoong.com tanggal akses: 12 Januari 2015.
6. Merril, Ray M. 2013. Epidemiologi Reproduktif. Jakarta: EGC.
7. Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
8. Muhammad, Husein. 2011. Isa Muhammad Apa Bukan,
terjemahan Basyarahil, H. Salim. Jakarta: Germani Insani
Press.
9. Nawawi. 2009. Sunat Perempuan di Mata Para Pemuka Agama. Batam :
Binarupa Aksara.
10. Nurdiyana, Tutung. 2010. Sunat Perempuan Pada Masyarakat Banjar di Kota
Banjarmasin. Jurnal Komunitas., 116-124.
11. Nurdiyana. 2010. Bahaya di Balik Sunat Perempuan, 110-123.
12. Nursalam, 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Ilmu Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika.

13. Oktarina. 2011. Permenkes Sunat Kaum Perempuan: Pro dan Kontra antara
Tradisi dan Perlindungan Kepentingan Perempuan. Pusat Humaniora
Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat,Surabaya., 177-180.
14. Parthami, Putu Wisudantari. 2010. Konstruksi Identitas Gender, 20-75.
15. Pramudiarja. 2013. syakira-blog.blogspot.com tanggal akses: 12 Januari 2015.
16. Rahyani, Ni Komang Yuni. 2012. Kesehatan Reproduksi Buku Ajar Bidan.
Jakarta: EGC.
17. Rakhman, Arif Kurniar. 2010. Kajian Hukum Islam tentang Perempuan di
Indonesia: Sebuah Aplikasi Konsep Hermeutika Fazlur Rahman, 2-80.
18. Saryono, Anggraeni, M.D. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif dalam
Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika.
19. Sugiyono. 2009. Statistik untuk Penelitian. Bandung : Alfa Beta.
20. Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan RD. Bandung :
Alfa Beta.
21. Sururin. 2011. Female genital mutilation and obstetric outcome: WHO
collaborative prospective study in six African countries. Europe Pepmed
Central. Vol 4 (1): 20-80.