Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori


2.1.1 Definisi
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum
janin dapat hidup di luar kandungan dengan batasan kehamilan kurang
dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram (Sarwono, 2010).
Abortus Imminens adalah abortus tingkat permulaan dan
merupakan ancaman terjadinya abortus, ditandai perdarahan pervaginam,
ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan
(Sarwono, 2010).
2.1.2 Epidemiologi
Keguguran adalah komplikasi yang paling sering terjadi pada
kehamilan, terjadi sedikitnya 15% dari kehamilan. Tingkat keguguran juga
bervariasi berdasarkan usia ibu, sekitar 12% pada wanita kurang dari 20
tahun dan lebih dari 50% pada wanita usia lebih dari 45 tahun (Gibbs,
2008).
Lebih dari 80% abortus terjadi pada 12 minggu pertama, dan setelah
itu angka ini cepat menurun. Insidensi abortus juga meningkat apabila
wanita yang bersangkutan hamil dalam 3 bulan setelah melahirkan bayi
aterm (Cunningham, 2010).

2.1.3 Insiden
Berdasarkan penelitian di Alton Health Centre, UK, pada
tahun 1989-1990, sekitar 20% dari wanita hamil mengalami perdarahan
pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu dan lebih dari setengahnya
berakhir dengan abortus spontan.
Dari data yang diperoleh dari rekam medik di Rumah Sakit Umum
Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2006, angka kejadian
abortus sebesar 123 kasus dengan kejadian abortus imminens sebanyak
106 kasus (86,17%), abortus komplit sebanyak 2 kasus (1,62%), abortus

inkomplit sebanyak 12 kasus (9,75%) dan missed abortion sebanyak 3


kasus (2,44%).
Dari data yang diperoleh dari rekam medik di bagian kebidanan
Rumah Sakit Siti Khadijah Palembang tahun 2011 (Ekta, 2011)
didapatkan bahwa :
a. Abortus imminens paling banyak terjadi pada kelompok usia 21-35 tahun
(96,55%) dengan onset usia 23 dan 27 tahun sebanyak 13,8%
b. Abortus imminens lebih banyak terjadi pada pasien yang tidak memiliki
riwayat abortus sebelumnya (65,5%)
c. Penderita abortus imminens paling banyak terjadi pada kehamilan
pertama dan kedua (31,0%)
d. Pasien dengan status multigravida lebih sering mengalami abortus
imminens (69,0%)
e. Abortus imminens paling banyak terjadi pada pasien yang belum pernah
bersalin yaitu sebanyak 48,2%
f. Hasil rawat penderita abortus imminens pada penelitian menunjukkan
sebanyak 55,2% janin dapat dipertahankan.

2.1.4 Etiologi
Penyebab abortus bervariasi dan sering diperdebatkan. Umumnya
lebih dari satu penyebab. Penyebab terbanyak diantaranya adalah sebagai
berikut.
a. Faktor Janin
Kelainan yang paling sering dijumpai pada abortus adalah
gangguan pertumbuhan zigot, embrio, janin atau plasenta. Kelainan
tersebut biasanya menyebabkan abortus pada trimester pertama, yaitu :
1. Kelainan telur, misalnya telur kosong (blighted ovum),
2. Kelainan embrio, misalnya kelainan sitogenik embrio biasanya
berupa aneuploidi yang disebabkan oleh kejadian sporadi,
misalnya nondisjunction meiosis atau poliploid dari fertilitas
abnormal yang dapat menyebabkan sebagian abortus pada awal
kehamilan.

3. Kelainan kromosom
Monosomi X (45,X)
Monosomi adalah tidak adanya satu kromosom
pasangan homolog dalam komplemen kecuali sel
diploid (2n-1), seperti yang ditemukan pada sindrom
Turner.
Trisomi Autosomal
Trisomi adalah terdapatnya kromosom tambahan satu
tipe dalam suatu sel diploid (2n-1). Trisomi autosomal
merupakan kelainan kromosom yang tersering dijumpai
pada abortus trimester pertama.Trisomi dapat
disebabkan oleh nondisjunction tersendiri, translokasi
seimbang maternal atau paternal, atau inversi
kromosom seimbang.
Triploidi
Triploidi adalah terdapat 69 kromosom pada manusia,
atau tiga set kromosom lengkap yang sering ditemukan
pada bayi abortus. Triploidi ditemukan pada 16 %
kejadian abortus, dimana terjadi fertilisasi ovum
haploid oleh dua sperma (dispermi) sebagai patologi
primer. Triploidi sering dikaitkan dengan degenerasi
hidropik pada plasenta.
Tetraploidi
Tetraploidi adalah keadaan terdapatnya empat set
kromosom (4n) dimana terjadi kelainan pada fase
sangat awal sebelum proses pembelahan. Janin
tetraploidi jarang lahir hidup dan umumnya mengalami
abortus sangat dini (Sarwono, 2010)
b.

Faktor Maternal
1. Infeksi maternal dapat membawa resiko bagi janin yang sedang
berkembang, terutama pada akhir trimester pertama atau awal
trimester kedua. Tidak diketahui penyebab kematian janin secara
pasti, apakah janin yang terinfeksi atau toksin yang dihasilkan oleh
mikroorganisme penyebabnya. Penyakit-penyakit yang dapat
menyebabkan abortus :
a. Virus, misalnya rubella, sitomegalovirus, virus herpes
simpleks, vericella zozter, vaccinia, campak, hepatitis, polio
dan ensefalomielitis.
b. Bakteri, misalnya Salmonella typhi.
c. Parasit, misalnya toxoplasma gondi, plasmodium.

2. Penyakit vascular, misalnya hipertensi vascular.


3. Penyakit endokrin, abortus spontan dapat terjadi bila produksi
progesterone tidak mencukupi atau pada penyakit disfungsi tyroid,
defesiensi insulin.
4. Faktor imunologis, ketidak cocokan (inkompabilitas) system HLA
(Human Leukocyte Antigen).
5. Kelainan uterus, hipoplasia uterus, mioma (terutama mioma sub
mukosa ), serviks
inkompetan
atau
retroflexio uteri
gravidiuncarcerata
6. Trauma, misalnya trauma akibat pembedahan :
a. Pengangkatan ovarium yang mengandung korpus
luteum graviditatum sebelum minggu ke 8.
b. Pembedahan intraabdominal dan operasi pada uterus saat
hamil (Sastrawinata S, 2005).
c.

Faktor Eksternal
1. Radiasi, dosis 1-10 rad bagi janin pada kehamilan 9 minggu
pertama dapat merusak janin dan dosis yang lebih tinggi
dapat menyebabkan keguguran.
2. Obat-obatan, anatagonis asam folat, antikoagulan, dan lain - lain,
sebaiknya tidak menggunakan obat-obatan sebelum kehamilan
16 minggu, kecuali telah dibuktikan bahwa obat tersebut tidak
membahayakan janin, atau pengobatan penyakit Ibu yang
parah.
3. Bahan-bahan kimia lainnya, seperti bahan yang mengandung
arsen atau benzene (Sastrawinata S, 2005).

d.

Faktor ayah
Translokasi kromoson pada sperma dapat menyebabkan abortus
(Cunningham G, dkk, 2005 ).

2.1.5 Faktor Risiko


Beberapa faktor risiko yang dicurigai dapat memicu terjadinya
abortus, antara lain :
a. Kehamilan di usia rawan
b. Infeksi genitalia
c. Jarak kehamilan terlalu dekat dengan persalinan (tiga sampai enam
bulan setelah persalinan)
d. Riwayat keguguran sebelumnya

e. Penggunaan IUD (Cunningham, 2010).

2.1.6 Gambaran Klinis


Diagnosis abortus imminens biasanya diawali dengan keluhan
perdarahan pervaginam pada umur kehamilan kurang dari 20 minggu.
Penderita mengeluh mulas sedikit atau tidak ada keluhan sama sekali
kecuali pendarahan pervaginam. Ostium uteri masih tertutup, besarnya
uterus masih sesuai umur kehamilan dan tes kehamilan urine masih positif
(Sarwono, 2010).

2.1.7 Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang (Sarwono, 2010).
2.1.7.1 Anamnesis
Hal-hal yang ditanyakan pada saat anamnesis :
1.
2.
3.
4.
5.

Usia pasien
Status pernikahan
Paritas
Operasi yang pernah dilakukan
Riwayat penyakit umum, seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit
jiwa, penyakit ginjal, penyakit darah, penyakit jantung, dan penyakit
TBC.

6. Riwayat obstetrik
a. Riwayat kehamilan sebelumnya apakah berakhir dengan
keguguran atau persalinan.
b. Persalinan sebelumnya dilakukan normal atau seksio sesarea.
c. Keadaan anak setelah dilahirkan.
7. Riwayat Ginekologi
a. Riwayat penyakit kelainan
b. Pengobatan yang dijalani, terutama operasi yang pernah
dilakukan
8. Riwayat Haid

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Menarche
Siklus haid teratur atau tidak
Banyak darah yang keluar ketika haid
Lamanya haid
Disertai nyeri atau tidak
Hari pertama haid terakhir

9. Keluhan Sekarang
2.1.7.2 Pemeriksaan Ginekologi
a. Pemeriksaan Genitalia Eksterna
Pada inspeksi harus diperhatikan bentuk, warna, peradangan, dan
sebagian dari genitalia eksterna, perianus, anus, dan sekitarnya. Apabila
terjadi perdarahan pervaginam, maka perlu diperhatikan banyaknya
darah yang keluar, warnanya, kental atau encer, dan aromanya.
b. Pemeriksaan Spekulum
Pada pemeriksaan spekulum kita dapat memeriksa keadaan
dinding vagina dan portio vaginalis servisis uteri.
c. Pemeriksaan Bimanual
Pada pemeriksaan bimanual, kita dapat melakukan perabaan
korpus uteri untuk mengetahui letak, bentuk, besar, konsistensi,
permukaan, dan gerakan korpus uteri.
2.1.7.3 Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Kadar Hb diperiksa pada wanita hamil yang tampak pucat
mengalami perdarahan dan mengalami kehamilan ektopik terganggu.
Jumlah leukosit dan laju endap darah perlu diperiksa untuk mengetahui
apakah proses peradangan atau infeksi. Pemeriksaan kadar hormon hCG
pada urin dapat menentukan prognosis kasus abortus imminens.

b. Pemeriksaan USG
Pemeriksaan USG dapat dilakukan secara transabdominal
maupun transvaginal. Pemeriksaan ini diperlukan untuk mengetahui
pertumbuhan janin dan keadaan plasenta (Sarwono, 2010).

2.1.8 Diagnosis Abortus Berdasarkan Klasifikasinya:


1. Abortus Imminens
Diagnosis abortus imminens terjadi ketika keluarnya cairan vagina
disertai darah atau perdarahan yang keluar melalui serviks uteri dimana
ostium uterinya masih dalam keadaan tertutup.
a. Anamnesis :
Usia kehamilan kurang dari 20 minggu
Keluhan : Perdarahan dengan atau tanpa disertai rasa nyeri
abdomen.
b. Pemeriksaan Genitalia Eksterna :
Perdarahan pervaginam.
c. Pemeriksaan Spekulum
Ostium uteri masih tertutup.
d. Pemeriksaan Bimanual :
Besarnya uterus sesuai dengan usia kehamilan.
e. Pemeriksaan Laboratorium :
Tes kehamilan positif.
f. Pemeriksaan USG :
Hasil konsepsi masih dalam keadaan baik di dalam kandungan.
(Sarwono, 2010).

2. Abortus Insipiens
Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks
telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil
konsepsi masih berada di kavum uteri.
a. Anamnesis :

Usia kehamilan kurang dari 20 minggu


Keluhan : Perdarahan disertai rasa nyeri atau mulas karena
kontraksi yang sering dan kuat.

b. Pemeriksaan Genitalia Eksterna :


Perdarahan pervaginam.
c. Pemeriksaan Spekulum :
Serviks telah mendatar dan ostium uteri telah terbuka.
d. Pemeriksaan Bimanual :
Besarnya uterus sesuai dengan usia kehamilan.
e. Pemeriksaan Laboratorium :
Tes kehamilan masih positif
f. Pemeriksaan USG :
Ukuran uterus masih sesuai dengan usia kehamilan, gerak janin
dan gerak jantung janin masih jelas walaupun mungkin sudah mulai
tidak normal (Sarwono, 2010).
3. Abortus Inkompletus
a. Anamnesis :

Usia kehamilan kurang dari 20 minggu


Keluhan : perdarahan pervaginam.

b. Pemeriksaan Genitalia Eksterna :


Perdarahan pervaginam dalam jumlah banyak atau sedikit
tergantung pada banyaknya jaringan yang tersisa

c. Pemeriksaan Spekulum :
Kanalis servikalis masih terbuka
d. Pemeriksaan Bimanual :

Teraba jaringan dalam kavum uteri atau menonjol pada


ostium uteri eksternum
e. Pemeriksaan Laboratorium :
Tes kehamilan masih positif
f. Pemeriksaan USG :

Ukuran uterus lebih kecil dari usia kehamilan


Kantong gestasi sulit dikenali
Tampak massa hiperekoik yang tidak beraturan bentuknya di
kavum uteri (Sarwono, 2010).

4. Abortus Kompletus
a. Anamnesis :

Usia kehamilan kurang dari 20 minggu


Keluhan : perdarahan pervaginam

b. Pemeriksaan Genitalia Eksterna :


Perdarahan pervaginam.
c. Pemeriksaan Spekulum :
Ostium uteri telah menutup.
d. Pemeriksaan Bimanual :
Uterus sudah mengecil sehingga perdarahan sedikit.
e. Pemeriksaan Laboratorium :
Tes kehamilan masih positif 7 - 10 hari setelah abortus.
f. Pemeriksaan USG :
Semua hasil konsepsi telah keluar (Sarwono, 2010).

5. Missed Abortus

Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah


meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan
hasil konsepsi seluruhnya tertahan dalam kandungan.
a. Anamnesis:

Usia kehamilan kurang dari 20 minggu


Keluhan :
Tidak ada keluhan berarti hanya merasakan
pertumbuhan kehamilan tidak seperti yang diharapkan.

b. Pemeriksaan Laboratorium :
Tes urin kehamilan biasanya negatif setelah satu minggu dari
terhentinya pertumbuhan kehamilan.
c. Pemeriksaan USG :

Ukuran uterus mengecil


Kantong gestasi mengecil dan bentuknya tidak beraturan disertai
gambaran fetus yang tidak ada tanda-tanda kehidupan (Sarwono,
2010).

2.1.9 Penatalaksanaan
Penderita abortus imminens harus ditatalaksana dengan cara :
a. Tirah baring sampai perdarahan berhenti
b. Tidak melakukan coitus sampai kurang lebih dua minggu setelah
perdarahan berhenti
c. Apabila kadar progesteron rendah, pasien dapat diobati dengan
suplemen hormon untuk mempertahankan kehamilan, namun tidak
ada bukti kuat bahwa terapi hormon ini berguna (Sarwono, 2010).
2.1.10 Pengaruh Abortus Imminens Terhadap Kelanjutan Kehamilan
Mereka yang mengalami perdarahan pada awal kehamilan, sekitar
separuhnya akan keguguran. Perdarahan pada abortus imminens umumnya
sedikit, tetapi dapat menetap selama beberapa hari sampai beberapa minggu.
Hal ini meningkatkan risiko hasil kehamilan yang suboptimal dalam bentuk
kelahiran preterm, berat lahir rendah, dan kematian perinatal, namun risiko
malformasi janin tampaknya tidak meningkat (Camargo, 2011).

2.1.11 Komplikasi
Komplikasi yang dapat timbul akibat dari abortus imminens, antara lain :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Keguguran
Infeksi
Anemia
Syok
Kematian perinatal
Berat bayi lahir rendah
Perdarahan sebelum kelahiran
Persalinan preterm
Pengeluaran plasenta secara manual saat melahirkan
Malpresentasi janin (Cunningham, 2010)

2.1.12 Prognosis
Untuk mengetahui prognosis abortus imminens dapat dilakukan
dengan melihat hormon hCG pada urin dengan cara melakukan tes urin
tanpa pengenceran dan pengenceran 1/10. Bila hasil tes urin kehamilan
positif keduanya, maka prognosisnya adalah baik, pengenceran 1/10
hasilnya negatif, maka prognosisnya dubia ad malam (Sarwono, 2010).

Faktor Risiko
2.1.13 Kerangkan Teori Faktor Penyebab

Kehamilan di usia
rawan
b bbb
Infeksi Genitalia
Jarak kehamilan
terlalu dekat
dengan persalinan
sebelumnya

Faktor Janin
Tatalaksana
Faktor Maternal
Faktor
Tirah
BaringEksternal
Faktor
Ayah coitus
Tidak
melakukan
Diberikan suplemen
hormon bila progesteron
ABORTUS IMMINENS
rendah

Gambaran Klinistidak
Penatalaksanaan
berhasil :
Perdarahan pervaginam
pada
kehamilan
umur
Abortus
Insipiens
kurang
dari
20
Abortus minggu
Ostium
uteri masih
Inkompletus
Penatalaksanaan
tertutup
Abortus
berhasil :
BesarKompletus
uterus masih
sesuai
umurdapat
kehamilan
Death
Conceptus
Janin