Anda di halaman 1dari 17

PENGUJIAN LABORATORIUM (LABORATORY TEST).

Contoh tanah terganggu (disturbed sample) dan contoh tanah tidak terganggu (undisturbed
sample) yang diambil dari lapangan dilaksanakan pengujian Laboratorium untuk mengetahui
sifat-sifat tanah yaitu sifat-sifat

pengenal

(index propperties) dan sifat-

sifat

teknis

(engineering properties).
Cara pelaksanaan pengujian laboratorium untuk tanah loose dilaksanakan menggunakan sistem
Remoulded dari bahan contoh tanah terganggu.
Metode pengujian laboratorium menggunakan metode dan standar American Society for Testing
Material (ASTM) yang meliputi pengujian sebagai berikut dibawah ini.
2.3.1. Pengujian Index Properties

1. Pengujian Kadar Air (Moisture Content Test)


Kadar air di defenisikan sebagai perbandingan antara berat air
dengan berat butir tanah. Prosedur pengujian tanah untuk
menentukan kadar air dilaksanakan dengan tahapan berikut :
a. Persiapan Bahan Uji
Bahan tanah untuk benda uji diambil sebagian dari contoh tanah
tidak terganggu yang telah diambil dari lapangan
b. Persiapan Peralatan
Peralatan yang digunakan antara lain neraca dengan ketelitian
0.01 gram, krus atau cawan kecil, oven pengering dan peralatan
tambahan lainnya berupa alat tulis dan tabel pencatat data dan
hasil pengujian.
c. Penentuan Kadar Air
Benda uji yang telah di persiapkan dimasukkan kedalam cawan
yang telah diketahui berat dan tanda cawannya, kemudian
dimasukkan kedalam oven pengering. Selam 24 jam dengan

suhu 1050 C. Setelah tanah dalam cawan kering ditimbang dan


beratnya dicatat. Misalkan :
Berat cawan + tanah basah, = W1 gram
Berat cawan + tanah kering, = W2 gram
Berat cawan kosong,
= W3 gram
Maka kadar air :
(2-1)
Hasil pengujian kadar air dapat dilihat pada lampiran Tabel data
dan hasil pengujian dapat dilihat pada lampiran - 2.4. dan 3.3.
2. Pengujian berat jenis (Spesific Gravity Test)
Berat jenis (Spesific Gravity Test) adalah perbandingan berat
satuan bahan dengan berat satuan air.
Prosedur penentuan berat jenis tanah di laboratorium
dilaksanakan sebagai berikut :
a. Persiapan Benda Uji
Bahagian dari sampel tanah tidak terganggu dikeringkan dan
disaring lolos saringan no 10.
b. Persiapan Peralatan
Peralatan yang digunakan antara lain timbangan dengan
ketelitian 0.01 gram, tabung picnometer, dan bak air.
a.

Bahan Dan Peralatan Yang Lain

Air suling, alat tulis dan tabel pencatat hasil pengujian.


d. Penentuan Berat Jenis
Piknometer dalam keadaan bersih ditimbang, = W 1gram

Piknometer yang bersih diisi dengan air suling sampai batas yang
ditentukan dan ditimbang pada suhu 240C = W4 gram
Piknometer yang bersih diisi benda uji tanah, = W2gram
Piknometer yang berisi benda uji tanah diisi dengan air suling
sampai proses vori tanah terisi air suling sampai batas, = W 3 gram
(2-2)

Hasil pengujian Berat Jenis dapat dilihat pada lampiran Tabel


data dan hasil pengujian dapat dilihat pada lampiran 2.5 dan
3.4.
3. Analisa Saringan (Sieve Analysis Test)
Sifat-sifat tanah tertentu banyak tergantung kepada ukuran
butirannya, besar butiran tanah juga merupakan dasar untuk
mengklasifikasikan dan mendeskripsikan tanah. Biasanya suatu
macam tanah tertentu terdiri dari butir-butir yang termasuk
beberapa golongan tanah yang ukuran butirannya kecil dikatakan
bergradiasi baik. Bilamana terdapat kekurangan atau kelebihan
salah satu ukuran butir tertentu maka dikatakan bergradasi
buruk. Sedangkan bilamana besar butirannya hampir semua
sama dikatakan tanah tersebut bergradasi seragam.
Untuk lapisan tanah berbutir halus seperti lempung dan lanau
sifatnya lebih baik ditunjukkan oleh besaran indeks plastisnya
daripada distribusi ukuran butirannya.
Prosedur pengujian analisa saringan di laboratorium
dilaksanakan sebagai berikut :
a. Persiapan Benda Uji

Benda uji untuk analisa saringan digunakan sebagian dari tanah


tidak terganggu yang telah dibawa dari lapangan. Benda uji ini
dikeringkan dan dipisahkan butiran tanahnya dengan cara
memukul gumpalan butiran dengan martil karet (tetap dijaga
agar butiran tanah tidak hancur). Setelah ditimbang siap
dimasukkan pada susunan saringan tertentu, sesuai dengan
Amerika Society for Testing Material (ASTM).
b. Persiapan Peralatan
Peralatan yang digunakan adalah saringan dengan susunan
nomor saringan yang dipersyaratkan, timbangan alat pengering
dan pembersih dan mesin penggetar saringan.
c. Penentuan gradasi butiran
Benda uji yang telah dipersiapkan dan ditimbang beratnya
dimasukkan kedalam satu susunan saringan selanjutnya susunan
saringan dimasukkan kealat penggetar selanjutnya untuk
diadakan penggetaran 15 menit.
Setelah penyaringan diadakan kemudian benda uji yang tertahan
untuk setiap nomor saringan tersusun ditimbang dan dicatat.
Nomor serta susunan saringan hasil pengujian untuk setiap
pengujian dicantumkan pada tabel data.
Hasil pengujian analisa saringan dapat dilihat pada lampiran 2.6,
dan 3.5.
4. Pengujian Batas Konsistensi Atterberg (Aterberg Limit
Test)
Suatu contoh tanah berbutir halus dicampur air sehingga
mencapai keadaan cair, jika campuran ini dikeringkan secara

perlahan-lahan maka tanah ini akan melalui beberapa keadaan


tertentu, seperti gambar berikut :
Keadaan Cair

Keadaan Plastis

Keadaan Semi Plastis

Keadaan kering

Batas Cair
(Liquid Limit)

Batas Plastis
(Plastis Limit)

Batas Pengerakan
(Shrinkage Limit)

Gambar 1. Skema Batas Atterberg

Batas-batas Atterberg yang paling penting adalah Batas Cair dan


batas Plastis. Batas-batas Atterberg dapat menggambarkan secara
garis besar sifat-sifat tanah. Tanah yang mempunyai batas cair
tinggi biasanya mempunyai sifat teknik yang buruk yaitu
kekuatannya rendah, compressibilitynya tinggi, sulit dipadatkan.
Untuk jenis tanah tertentu batas-batas Atterberg dapat
dihubungkan secara empiris dengan sifat lainnya seperti kekuatan
geser atau compression index.
Pengujian Batas-batas atterberg yang dilakukan adalah pengujian
batas cair dan pengujian batas plastis.

A. Pengujian Batas Cair (Liquid Limit)


Batas cair didefenisikan sebagai harga kadar air tanah pada
keadaan batas antara cair dan plastis untuk menentukan besaran
ini diadakan pengujian sebagai berikut :
a. Persiapan Benda Uji

Benda uji tanah untuk menentukan besaran batas cair diambil


dari contoh tanah tidak terganggu. Benda uji seberat 100 gram
(untuk benda uji batas cair dan batas plastis), lolos saringan No.
40
b. Persiapan Peralatan
Peralatan yang diggunakan adalah timbangan dengan ketelitian
0.01 gram, alat batas Atterberg standard, Grooving Tool, Spatula,
Cawan, Plat kaca 45 x 45 x 0.9 cm3, oven pengering, scop
pengaduk dan alat pembersih dan pengering peralatan.
c. Pengujian Batas Cair (Liquid Limit)
Benda uji yang telah dipersiapkan dibagi dua (untuk dua jenis
pengujian). Sebagian dari tanah ini diletakkan diatas plat kaca
dan diaduk agar keadaannya homogen. Benda uji yang telah
homogen ini disendok sebagian dimasukkan kedalam cawan alat
batas cair, permukaan benda uji dalam cawan diratakan sejajar
dengan bidang horizontal, pembuatan alur dilakukan membagi
dua benda uji dalam cawan dengan grooving tool kemudian
diadakan pengetukan dengan cara memutar engkol alat batas cair
sampai alur yang membagi dua benda uji diatas cawan bertemu
sepanjang 1.3 cm. Setelah keadaan ini dicapai jumlah ketukan
dicatat dan diperiksa kadar air benda uji. Hal yang sama diulang
hingga terdapat minimal empat jumlah ketokan/pukulan yang
berbeda dengan kadar air yang berbeda pula yaitu dua jenis
jumlah ketokan/pukulan dibawah dua puluh lima dan dua jenis
jumlah ketokan diatas dua puluh lima ketokan. Hasil ini
digambarkan dalam grafik, kadar air (ordinat) versus jumlah

pukulan (absis). Besar batas cair diambil dari jumlah n dua


puluh lima pukulan.
B. Penentuan Batas Plastis (Plastis Limit)
Bagian benda uji yang telah dipersiapkan pada saat pengujian
batas cair diletakkan diatas plat kaca dibentuk dengan cara
mengulung hingga berdiameter 3.0 mm dengan panjang 7 cm
sampai keadaan permukaan retak-retak. Untuk mencapai kondisi
ini benda uji tanah digeleng-gelengkan diatas plat kaca dengan
telapak tangan. Setelah kondisi diatas dicapai kadar air tanah uji
diperiksa. Kadar air yang diperoleh merupakan besaran batas
plastis.
Hasil pengujian Batas Cair dan Batas Plastis dapat dilihat pada
lampiran tabel data dan hasil pengujian pada lampiran 2.7 dan
3.6.
2.3.2. Pengujian Engineering Properties
1. Pengujian Berat Satuan Isi (Natural Density
Weight)
Berat satuan isi didefenisikan sebagai perbandingan antara berat
tanah dengan volume tanah. Berat satuan isi dapat sebagai
petunjuk awal tentang kepadatan suatu lapisan tanah, semakin
padat suatu lapisan tanah dimungkinkan beban yang dapat
dipikulkan kepadanya semakin besar pula. Oleh karena itu berat
isi merupakan petunjuk awal tentang kekuatan satuan lapisan
tanah. Semakin besar berat isi semakin besar beban yang dapat
dipikulnya.
Prosedur untuk menentukan Berat Isi Tanah :
a. Persiapan Benda Uji

Benda uji yang digunakan adalah benda uji tanah tidak terganggu
yang diperoleh dari titik bor mesin lokasi pengambilan benda uji
di lapangan.
b. Persiapan Peralatan
Peralatan yang digunakan adalah Extruder yaitu alat pendorong
benda uji dari tabung yang berisi benda uji, timbangan ketelitian
0.01 gram, gergaji pemotong benda uji, cincin penguji yang telah
diketahui volumenya.
c. Menentukan berat isi dikerjakan sebagai berikut :
Tanah benda uji dari dalam tabung di dorong pakai extruder dan
diterima/dimasukkan ke dalam cincin penguji tanpa
mempengaruhi tingkat kepadatannya setelah cincin persis terisi
penuh dengan benda uji lalu ditimbang kemudian benda uji
dikeluarkan dari cincin, cincin dibersihkan dan ditimbang (W1
gram) kemudian diukur diameter dalam cincin dan tingginya
untuk mengetahui volume tanah yang masuk ke dalam cincin
penguji (V cm3 ), jadi berat jenis tanah adalah :
( gram/cm3)

(2-3)

Hasil pengujian Berat Isi dapat dilihat pada lampiran tabel data
dan hasil pengujian pada lampiran 2.8. dan 3.7.
2. Pengujian Tekan Bebas ( Unconfined Compression
Test )
Pengujian ini terutama dilakukan untuk tanah lempung atau
lanau bila mana lempung tersebut mempunyai derajat kejenuhan
(Sr) 100% maka kekuatan geser dapat ditentukan langsung dari

nilai Unconfined. Jika Unconfined Compression Streght = q,


maka kekuatan geser undrened Cu = qu/z. Sedangkan qu didapat
dari hasil pengujian yaitu besar beban aksial persatuan luas pada
saat benda uji mengalami keruntuhan atau pada saat tegangan
axial mencapai 20%.
Pengujian tekan bebas ini dikerjakan dengan tahapan sebagai
berikut :
a. Persiapan Benda Uji
Benda uji yang digunakan untuk pengujian ini adalah benda uji
tanah yang tidak terganggu yang telah dibawa dari hasil
pengeboran dilapangan. Benda uji dipersiapkan sepanjang dua
kali diameter benda uji.
b. Persiapan Peralatan dan Pelaksanaan
Pengujian
Peralatan yang digunakan dalam pengujian ini adalah satu set alat
uji tekan bebas yang dilengkapi dengan Proving Ring dan dial
pengukur tekanan bebas Cqu, dial pengukur regangan dan alat
penggerak serta dua buah plat penghantar tekanan.
Penentuan besaran tekanan bebas (Cqu) dilakukan dengan
memasukkan benda uji yang telah dipersiapkan ke antara plat
penghantar beban, kemudian tekanan dibiarkan dengan
kecepatan konstan sampai mencapai regangan maksimum.
Besar gaya yang diberikan dibaca pada dial proving ring dan besar
qu diperoleh dari gaya axial yang diberikan dibagi luas penampang
benda uji yang ditekan.
Hasil pengujian Tekan Bebas (Unconfined Compression Test)
dapat dilihat pada lampiran 2.9. dan 3.8.

3. Pengujian Geser Langsung ( Direct Shear Test )


Tujuan pengujian geser langsung dimaksudkan untuk menentukan parameter perlawanan geser
dari tanah. Parameter yang dapat menunjukkan kemampuan tanah, untuk menerimagaya geser
adalah harga kohesi (c) dan sudut geser tanah untuk mendapatkan kohesi C dan sudut geser
suatu lapisan tanah diperlukan pengujian geser langsung.

a. Persiapan Benda Uji


Bahan uji yang digunakan untuk pengujian ini adalah benda uji
tanah tidak terganggu yang telah diambil dari titik kedalaman
tertentu dilapangan, lokasi tanah yang akan ditentukan nilai
kohesi dan sudut geser tanahnya.
b. Persiapan Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam pengujian ini adalah satu set alat
geser langsung terdiri dari proving ring untuk mengukur tekanan
geser, dongkrak untuk memberi tekanan, batu berpori arloji / dial
untuk menentukan besar pergeseran beban untuk memberikan
tekanan normal dan cincin tempat benda uji yang akan
ditentukan nilai kohesi dan sudut gesernya.
c. Penentuan besaran kohesi c dan sudut geser
Benda uji dimasukkan ke dalam cincin penguji dan di beri tegangan vertikal yang konstan,
kemudian diberikan tegangan geser sampai tercapai besaran maksimum. Tegangan geser ini
diberikan dengan kecepatan bergerak yang konstan, secara perlahan lahan sehingga
teganganpori diperkirakan tetap nol. Untuk mendapatkan nilai kohesi c dan sudut geser
diadakan pengujian beberapa kali dengan memakai nilai tegangan normal yang berbeda.

Hasil pengujian Direct Shear Test dapat dilihat pada lampiran


2.10., dan 3.9.
4. Pengujian Triaxial (Triaxial Test)

Pengujian triaxial adalah untuk menentukan parameter tanah


berupa harga kohesi tanah (c dan c) dan sudut geser dalam tanah
( dan ), dengan Prosedur pelaksanaan pengujian sebagai
berikut :
Klep-klep yang menghubungkan alat triaxial dengan alat ukur
tegangan air pori dibuka, pasang batu pori pada alat triaxial.
Klep buret dibuka supaya air dari buret masuk ke dalam saluran
menuju alat triaxial.
Tutup klep buret bila batu pori sudah jenuh air, pasang kertas
filter di atas batu pori, membran karet dimasukkan dalam
strecher, pompa vakum membran karet menempel dalam dinding
strecher. Sampel dimasukkan dalam strecher dan membran
diselubungkan di atas sampel diletakkan silinder kaca dan di atas
silinder kaca diletakkan butir penekan yang akan meneruskan
tekanan ke sampel.
Pada chamber ketiga baut dikencangkan, buka klep pada bagian
atas chamber, diisi dengan air hingga penuh sampai tegangan
sebesar 3 kemudian ditutup klepnya.
Sampel dibiarkan dulu berkonsolidasi. Dial ring dan Null
Indicator dinolkan dengan menyetel srew control sehingga Hg
pada berat tetap.
Kran pengukur tekanan air pori dibuka, Triaxial dijalankan
sehingga sampel menerima tegangan vertikal. Pembacaan dial
dan tegangan air pori dilakukan tiap menit dan atur Hg agar
posisi tetap. Pembacaan dial dilakukan sampai sampel runtuh.
Pesawat triaxial dimatikan, Null Indicator dinolkan dan kran
reservoir dibuka, Chamber dibuka dan sampel dikeluarkan,

Batu pori dibersihkan dan Pengujian ini dilakukan pada tiga


sampel.
Hasil pengujian triaxial dapat dilihat pada lampiran 2.11. dan
3.10.
5. Pemeriksaan Konsolidasi (Consolidation Test)
a. Pemeriksaan konsolidasi dimaksud adalah :
Untuk menentukan sifat pemanfaatan dari suatu jenis tanah
yaitu sifat perobahan perobahan isi dan proses keluarnya air dari
dalam pori tanah yang diakibatkan adanya perubahan tekanan
pertikal yang bekerja pada tanah tersebut.
Mencari besaran-besaran dalam perhitungan yaitu kecepatan
konsolidasi dan besarnya penurunan tanah akibat adanya
perubahan tekanan.
Meramalkan besarnya penurunan dilapangan (sebagai
pendekatan) akibat struktur bangunan diatasnya.
b. Peralatan Yang Digunakan
Satu set konsolidasi yang terdir dari , alat pembebanan dan alat
konsolidasi
Arloji dengan ketelitian 0,01 mm dan panjang gerak tangki
minimal 1,0 cm
beban-beban sebagai pemberat
Stopwach
Alat pengeluaran sample (extruder)
Alat-alat pemotong, minyak pelumas
Pemegang cincin sample
Kertas saring
Neraca dengan ketelitian 0,1 gr

Oven untuk mengeringkan sample


c. Prosedur Pengujian :
Cincin dikeringkan dan dibersihkan kemudian ditimbang
Batu pori dipasang pada bagian atas dan bawah dari cincin,
sehingga benda uji yang telah dilapisi kertas saring ter-apit oleh
kedua batu pori tersebut
Cincin berisi sample dimasukkan kedalam sel konsolidasi
Pasang alat penumpu diatas batu pori
Letakkan sel konsolidasi yang telah berisi sample pada alat
konsolidasi sehingga bagian yang runcing dari pelat penumpu
menyentuh tempat pada alat penumpu
Atur kedudukan arloji pengukur agar menunjukkan angka nol
Pasang beban I (1 kg), kemudian arloji dibaca dan dicatat
pada waktu pada skala waktu detik, menit dan jam
Setelah pembacaan menunjukkan angka yang tetap (jam) dicatat
penunjukan arloji
Pasang beban II (2x beban I) kemudian catat penunjukan arloji
pengukur
Dengan cara yang sama dilakukan untuk beban yang berbedabeda
Setelah pembacaan maksimum dan pembacaan sudah tetap,
beban secara bertahap dikurangi
Kemudian benda uji beserta cincinnya dikeluarkan dari sel
konsolidasi
Benda uji dikeluarkan dan ditimbang, kemudian dikeringkan
didalam oven untuk mengetahui kadar airnya
d. Perhitungan dilakukan sebagai berikut :

Menghitung berat tanah basah, berat isi dan kadar airnya,


sebelum dan sesudah pengujian.
Menggambar grafik hasil konsolidasi yaitu, grafik penurunan
terhadap tekanan dan grafik angka poriterhadap tekanan
Untuk grafik penurunan terhadap tekanan, maka pembacaan
terakhir pada setiap pembebanan digambarkan terhadap tekanan
Untuk grafik angka pori terhadap tekanan, dilakukan beberapa
perhitungan
Menghitung tinggi efektif benda uji

(2-4)
dimana,
Ht = tinggi efektif benda uji (tinggi butiran tanah jika dianggap
menjadi satu)
A = luas penampang benda uji
Bk = berat tanah kering
G = berat jenis tanah
Dihitung besar penurunan total (H) yang terjadi pada tiap
pembebanan
H = pembacaan arloji pada permulaan pengujian dikurangi
pembacaan pada akhir pembebanan

e. Menghitung angka pori mula (angka pori asli = e0)

(2-5)
dimana,
H0 = tinggi contoh semula
f. Menghitung perubahan angka pori (e) pada
setiap pembebanan

(2-6)

g. Menghitung angka pori (e) pada setiap


pembebanan,

(2-7)
Harga-harga pori ini digambarkan versus tekanan
h. Menghitung derajat kejenuhan sebelum dan
sesudah pengujian

(2-8)

dengan,
Sr = derajat kejenuhan
W = Kadar air
i. Menghitung harga koefisien konsolidasi (Cv)

(2-9)
dimana,
Cv = koefisien konsolidasi
Hm = tinggi benda uji rata-rata pada pembebanan yang
bersangkutan
T90 = waktu untuk mencapai konsolidasi 90%
j. Aplikasi Data
Dari hasil pengujian diperoleh data-data Gs, Cv, e, Sr,Cc
Data ini dipergunakan pada perhitungan penurunan
suatu bangunan
Misalnya pada pondasi langsung, untuk menghitung

(2-10)
Dengan memperoleh Cv maka waktu penurunan
dapat dicari

(2-11)

di mana,
t = waktu penurunan
T = time factor yang tergantung pada
persentase penurunan yang
ditinjau
H = tebal lapisan
Adanya ruangan antara void ratio (angka pori) dengan tegangan
P, maka

(2-12)
di mana,
Cc = compression index
Hasil pengujian konsolidasi dapat dilihat pada lampiran tabel
data dan hasil pengujian pada lampiran 2.12, dan 3.11