Anda di halaman 1dari 92

Fatwa MUI Tentang

Bunga Bank
KEPUTUSAN FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor 1 Tahun 2004
Tentang
BUNGA (INTERSAT/FAIDAH)
Majelias Ulama Indonesia,
MENIMBANG :
1.

bahwa umat Islam Indonesia masih mempertanyakan status hukum


bunga (interst/faidah) yang dikenakan dalam transaksi pinjaman (alqardh) atau utang piutang (al-dayn), baik yang dilakukan oleh lembaga
keuangan,individu maupun lainnya;

2.

bahwa IjtimaUlama Komisi Fatwa se-Indonesia pada tanggal 22 Syawal


1424 H./16 Desember 2003 telah menfatwakan tentang status hukum
bunga;

3.

bahwa karena itu, Majelis Ulama Indonesia memnadang perlu


menetapkan fatwa tentang bunga dimaksud untuk di jadikan pedoman.

MENGINGAT :
1.

Firman Allah SWT, antara lain :


Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri
melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran
(tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah
disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu
sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya
larangan dari Tuhannya,lalu terus berhenti (darimengambil riba), maka
baginya maka yang telah diambilnya dahulu (sebelum dating larangan);
dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi
(mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka,
mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan
sedekah. Dan Allah tiadak menyukai setiap orang yang tetap dalam
kekafiran,dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang
beriman,mengerjakan amal shaleh,mendirikan sembahyang dan
menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya.Tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan
tinggalkan sisa riba (yang belum di pungut) jika kamu orang-orang yang
beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba),
maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak

(pula)dianiaya.Dan jika (orang-orang berhutang itu) dalam


kesukaran,mereka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan
menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu,lebih baik bagimu,
jika kamu mengetahui.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan
berlipat ganda dan Hal :1
bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan
(AliImmran [3]: 130).
2.

Hadis-hadis Nabi s.a.w., antara lain :


Dari Abdullah r.a., ia berkata : Rasulullah s.a.w. melaknat orang yang
memakan orang yang memakan (mengambil) dan memberikan riba.
Rawi berkata: saya bertanya:(apakah Rasulullah melaknat juga) orang
yang menuliskan dan dua orang yang menajdi saksinya? Ia (Abdullah)
menjawab : Kami hannya menceritakan apa yang kami dengar.
(HR.Muslim).
Dari Jabir r.a.,ia berkata : Rasulullah s.a.w. melaknat orang yang
memakan (mengambil) riba, memberikn, menuliskan, dan dua orang
yang menyaksikan. Ia berkata: mereka berstatus hukum sama. (HR.
Muslim).
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah bersabda: Akan dating
kepada umat manusia suatu masa dimana mereka (terbiasa) memakan
riba. Barang siapa tidak memakan (mengambilnya)-nya,ia akan terkena
debunya.(HR.al-NasaI).
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah bersabda: Riba adalah
tujuh puluh dosa; dosanya yang paling ringan adalah (sama dengan)
dosa orang yang berzina dengan ibunya. (HR. Ibn Majah).
Dari Abdullah, dari Nabi s.a.w., beliau bersabda: Riba mempunyai tujuh
puluh tiga pintu (cara,macam). (HR. Ibn Majah).
Dari Abdullah bin Masud: Rasulullah s.a.w. melaknat orang yang
memakan (mengambil) riba, memberikan, dua orang yang
menyaksikannya. (HR. Ibn Majah)
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah bersabda: Sungguh akan
datang kepada umat manusia suatu masa dimana tak ada seorang pun
diantara mereka kecuali (terbias) memakan riba. Barang siapa tidak
memakan (mengambil)-nya,ia akan terkena debunya.(HR. Ibn Majah).

3.

Ijma ulama tentang keharaman riba dan bahwa riba adalah salah
satu dosa besar (kabair) (lihat antara lain: al-Nawawi, al-MajmuSyarch
al-Muhadzdzab, [t.t.: Dar al-Fikr,t.th.],juz 9,h 391)

MEMPERHATIKAN :
1.

Pendapat para Ulama ahli fiqh bahwa bunga yang dikenakan dalam
transaksi pinjaman (utang piutang, al-qardh wa al-iqtiradh) telah

memenuhi kriteria riba yang di haramkan Allah SWT., seperti


dikemukakan,antara lain,oleh :
Al-Nawawi berkata, al-Mawardi berkata: Sahabat-sahabat kami (ulama
mazhab SyafiI) berbeda pendapat tentang pengharaman riba yang
ditegaskan oleh al-Quran, atas dua pandangan.Pertama, pengharaman
tersebut bersifat mujmal (global) yang dijelaskan oleh sunnah. Setiap
hukum tentang riba yang dikemukakan oleh sunnah adalah merupakan
penjelasan (bayan) terhadap kemujmalan al Quran, baik riba naqad
maupun riba nasiah.
Kedua, bahwa pengharaman riba dalam al-Quran sesungguhnya hanya
mencakup riba nasayang dikenal oleh masyarakat Jahiliah dan
permintaan tambahan atas harta (piutang) disebabkan penambahan
masa (pelunasan). Salah seorang di antara mereka apabila jatuh
Hal :2

tempo pembayaran piutangnya dan pihang berhutang tidak


membayarnya,ia menambahkan piutangnya dan menambahkan pula
masa pembayarannya. Hal seperti itu dilakukan lagi pada saat jatuh
tempo berikutnya. Itulah maksud firman Allah : janganlah kamu
memakan riba dengan berlipat ganda kemudian Sunnah
menambahkan riba dalam pertukaran mata uang (naqad) terhadap bentuk
riba yang terdapat dalam al-Quran.

2.

A.

Ibn al-Araby dalam Ahkam al-Quran :

B.

Al-Aini dalam Umdah al-Qary :

C.

Al-Sarakhsyi dalam Al-Mabsuth :

D.

Ar-Raghib al-Isfani dalam Al-Mufradat Fi Gharib al-Qur;an :

E.

Muhammad Ali al-Shabuni dalam Rawa-I al-Bayan :

F.

Muhammad Abu Zahrah dalam Buhuts fi al-Riba :

G.

Yusuf al-Qardhawy dalam fawaid al-Bunuk :

H.

Wahbah al-Zuhaily dalam Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuh :

Bunga uang atas pinjaman (Qardh) yang berlaku di atas lebih buruk
dari riba yang di haramkan Allah SWT dalam Al-Quran,karena dalam riba
tambahan hanya dikenakan pada saat jatuh tempo. Sedangkan dalam
system bunga tambahan sudah langsung dikenakan sejak terjadi
transaksi.

3.

Ketetapan akan keharaman bunga Bank oleh berbagai forum Ulama


Internasional, antara lain:
A.

Majmaul Buhuts al-Islamy di Al-Azhar Mesir pada Mei 1965

B.

Majma al-Fiqh al-Islamy Negara-negara OKI Yang di


selenggarakan di Jeddah tgl 10-16 Rabiul Awal 1406 H/22 28
Desember 1985.

C.

Majma Fiqh Rabithah al-Alam al-Islamy, keputusan 6 Sidang IX


yang diselenggarakan di makkah tanggal 12-19 Rajab 1406 H.

4.

D.

Keputusan Dar Al-Itfa, kerajaan Saudi Arabia,1979

E.

Keputusan Supreme Shariah Court Pakistan 22 Desember 1999.

Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI)


Tahun 2000 yang menyatakan bahwa bunga tidak sesuai dengan
Syariah.

5.

Keputusan Sidang Lajnah Tarjih Muhammdiyah tahun 1968 di Sidoarjo


yang menyarankan kepada PP Muhammadiyah untuk mengusahakan
terwujudnya konsepsi system perekonomian khususnya Lembaga
Perbankan yang sesuai dengan kaidah Islam.

6.

Keputusan Munas Alim Ulama dan Konbes NU tahun 1992 di Bandar


Lampung yang mengamanatkan berdirinya Bank Islam dengan system
tanpa Bunga.

7.

Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia tentang Fatwa


Bunga (interest/faidah), tanggal 22 Syawal 1424/16 Desember 2003.

8.

Keputusasn Rapat Komisi Fatwa MUI, tanggal 11 Dzulqaidah 1424/03


Januari 2004;28 Dzulqaidah 1424/17 Januari 2004;dan 05 Dzulhijah
1424/24 Januari 2004.
Dengan memohon ridha Allah SWT
MEMUTUSKAN
MEMUTUSKAN : FATWA TENTANG BUNGA (INTERST/FA`IDAH):
Pertama : Pengertian Bunga (Interest) dan Riba
Hal :3
A.

Bunga (Interest/faidah) adalah tambahan yang dikenakan dalam


transaksi pinjaman uang (al-qardh) yang di per-hitungkan dari
pokok pinjaman tanpa mempertimbangkan pemanfaatan/hasil
pokok tersebut,berdasarkan tempo waktu,diperhitungkan secara
pasti di muka,dan pada umumnya berdasarkan persentase.

B.

Riba adalah tambahan (ziyadah) tanpa imbalan yang terjadi


karena penagguhan dalam pembayaran yang di perjanjikan
sebelumnya, dan inilah yang disebut Riba Nasiah.

Kedua : Hukum Bunga (interest)


C.

Praktek pembungaan uang saat ini telah memenuhi kriteria riba


yang terjadi pada jaman Rasulullah SAW, Ya ini Riba Nasiah.
Dengan demikian, praktek pembungaan uang ini termasuk salah
satu bentuk Riba, dan Riba Haram Hukumnya.

D.

Praktek Penggunaan tersebut hukumnya adalah haram,baik di


lakukan oleh Bank, Asuransi,Pasar Modal, Pegadian, Koperasi, Dan
Lembaga Keuangan lainnya maupun dilakukan oleh individu.

Ketiga : Bermuamallah dengan lembaga keuangan konvensional


E.

Untuk wilayah yang sudah ada kantor/jaringan lembaga


keuangan Syariah dan mudah di jangkau,tidak di bolehkan
melakukan transaksi yang di dasarkan kepada perhitungan bunga.

F.

Untuk wilayah yang belum ada kantor/jaringan lembaga


keuangan Syariah,diperbolehkan melakukan kegiatan transaksi di
lembaga keuangan konvensional berdasarkan prinsip
dharurat/hajat.
Jakarta, 05 Djulhijah 1424H
24 Januari 2004 M

MAJELIS ULAMA INDONESIA,


KOMISI FATWA
Ketua Sekretaris
K.H. Maruf Amin Drs. Hasanudin ,M.Ag.
CATATAN: Halaman ini di buat sebagaimana mestinya dalam bentuk
yang bisa di sajikan di halaman situs dengan isi yang sama dengan
dokumen asli.
Hal:4

Hukum Menjadi Pegawai Bank Dalam Pandangan Islam


Majelis Ulama Indonesia (MUI), melalui Komisi Fatwa-nya dalam forum Rapat Kerja Nasional dan
Ijtima Ulama Indonesia, sejak hampir 6 tahun yang lalu tepat pada hari Selasa 16 Desember 2003
telah mengeluarkan fatwa tentang bunga. Fatwa itu intinya menyatakan bahwa bunga pada bank dan
lembaga keuangan lain yang ada sekarang telah memenuhi seluruh kriteria riba. Riba tegas
dinyatakan haram, sebagaimana firman Allah SWT:


Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS al-Baqarah [2]: 275).
Karena riba haram, berarti bunga juga haram. Karena itu, sejujurnya tidak ada yang istimewa dari
fatwa MUI ini. Bahkan sejatinya, untuk perkara yang segamblang atau qath itu tidaklah diperlukan
fatwa, alias tinggal dilaksanakan saja. Artinya, fatwa itu lebih merupakan penegasan saja. Sebagai
penegasan, fatwa ini sungguh penting karena meski jelas-jelas dilarang al-Quran, praktik
pembungaan uang di berbagai bentuk lembaga keuangan tetap saja berlangsung hingga saat ini.

Tulisan kali ini akan lebih membahas tentang besarnya dosa riba dan keterlibatan di dalamnya
(Tulisan lengkapnya dapat dilihat di buku kami: Hukum Seputar Riba dan Pegawai Bankyang
diterbitkan Ar-Raudhoh Pustaka).
Dosa Riba
Seberapa besar dosa terlibat dalam riba, maka cukuplah hadits-hadits shahih berikut menjawabnya:
Satu dirham yang diperoleh oleh seseorang dari (perbuatan) riba lebih besar dosanya 36 kali
daripada perbuatan zina di dalam Islam (setelah masuk Islam) (HR Al Baihaqy, dari Anas bin
Malik).
Tinggalkanlah tujuh hal yang dapat membinasakan Orang-orang bertanya, apakah gerangan wahai
Rasul? Beliau menjawab: Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa orang yang diharamkan Allah
kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri waktu datang
serangan musuh dan menuduh wanita mumin yang suci berzina. (HR Bukhari Muslim)
Terlibat dalam riba (Bunga Bank) adalah termasuk dosa besar, yang sejajar dengan dosa syirik, sihir,
membunuh, memakan harta anak yatim, melarikan dari jihad, dan menuduh wanita baik-baik
berzina. Naudzubillah. Bahkan apabila suatu negeri membiarkan saja riba berkembang di daerahnya
maka sama saja ia menghalalkan Allah untuk mengazab mereka semua.
Apabila riba dan zina telah merajalela di suatu negeri, maka rakyat di negeri itu sama saja telah
menghalalkan dirinya dari azab Allah (HR. Al Hakim)
Pertanyaannya, jika Bank itu diharamkam karena Riba, lalu bagaimanakah hukum bagi orang yang
bekerja di dalamnya (pegawai Bank)?
Hukum Menjadi Pegawai Bank Konvensional
Telah sampai kepada kita hadits riwayat Ibnu Majah dari jalan Ibnu Masud dari Nabi SAW:
Bahwa beliau (Nabi SAW) melaknat orang yang makan riba, orang yang menyerahkannya, para
saksi serta pencatatnya. (HR. Bukhari Muslim)
Jabir bin Abdillah r.a. meriwayatkan:
Rasulullah melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan hasil riba, dan dua orang yang
menjadi saksinya. Dan beliau bersabda: Mereka itu sama. (HR. Muslim)
Ibnu Masud meriwayatkan:
Rasulullah saw. melaknat orang yang makan riba dan yang memberi makan dari hasil riba, dua
orang saksinya, dan penulisnya. (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)
Sementara itu, dalam riwayat lain disebutkan:
Orang yang makan riba, orang yang memben makan dengan riba, dan dua orang saksinya jika
mereka mengetahui hal itu maka mereka itu dilaknat lewat lisan Nabi Muhammad saw. hingga han
kiamat. (HR. Nasai)
Dari hadits-hadits ini kita bisa memahami bahwa tidak diperbolehkan untuk melakukan
transaksi ijarah (sewa/kontrak kerja) terhadap salah satu bentuk pekerjaan riba, karena transaksi
tersebut merupakan transaksi terhadap jasa yang diharamkan.
Ada empat kelompok orang yang diharamkan berdasarkan hadits tersebut. Yaitu; orang yang makan
atau menggunakan (penerima) riba, orang yang menyerahkan (pemberi) riba, pencatat riba, dan saksi
riba. dan saat ini jenis pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang membanggakan sebagian kaum
muslimin serta secara umum dan legal (secara hukum positif) di kontrak kerjakan kepada kaum
muslimin di bank-bank atau lembaga-lembaga keuangan dan pembiayaan.
Berikut adalah keempat kategori pekerjaan yang diharamkan berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan
diatas:
1. Penerima Riba

Penerima riba adalah siapa saja yang secara sadar memanfaatkan transaksi yang menghasilkan riba
untuk keperluannya sedang ia mengetahui aktivitas tersebut adalah riba. Baik melalui pinjaman kredit,
gadai, ataupun pertukaran barang atau uang dan yang lainnya, maka semua yang mengambil atau
memanfaatkan aktivitas yang mendatangkan riba ini maka ia haram melakukannya, karena
terkategori pemakan riba. Contohnya adalah orang-orang yang melakukan pinjaman hutang dari bank
atau lembaga keuangan dan pembiayaan lainnnya untuk membeli sesuatu atau membiayai sesuatu
dengan pembayaran kredit yang disertai dengan bunga (rente), baik dengan sistem bunga majemuk
maupun tunggal.

2. Pemberi Riba.
Pemberi riba adalah siapa saja, baik secara pribadi maupun lembaga yang menggunakan hartanya
atau mengelola harta orang lain secara sadar untuk suatu aktivitas yang menghasilkan riba. Yang
termasuk dalam pengertian ini adalah para pemilik perusahaan keuangan, pembiayaan atau bank
dan juga para pengelolanya yaitu para pengambil keputusan (Direktur atau Manajer) yang memiliki
kebijakan disetujui atau tidak suatu aktivitas yang menghasilkan riba.

3. Pencatat Riba
Adalah siapa saja yang secara sadar terlibat dan menjadi pencatat aktivitas yang menghasilkan riba.
Termasuk di dalamnya para teller, orang-orang yang menyusun anggaran (akuntan) dan orang yang
membuatkan teks kontrak perjanjian yang menghasilkan riba.
4. Saksi Riba
Adalah siapa saja yang secara sadar terlibat dan menjadi saksi dalam suatu transaksi atau perjanjian
yang menghasilkan riba. Termasuk di dalamnya mereka yang menjadi pengawas (supervisor).
Sedangkan status pegawai bank yang lain, instansi-instansi serta semua lembaga yang berhubungan
dengan riba, harus diteliti terlebih dahulu tentang aktivitas pekerjaan atau deskripsi kerja dari status
pegawai bank tersebut. Apabila pekerjaan yang dikontrakkan adalah bagian dari pekerjaan riba, baik
pekerjaan itu sendiri yang menghasilkan riba ataupun yang menghasilkan riba dengan disertai
aktivitas lain, maka seorang muslim haram untuk melaksanakan pekerjaan tersebut, semisal menjadi
direktur, akuntan, teller dan supervisornya, termasuk juga setiap pekerjaan yang menghasilkan jasa
yang berhubungan dengan riba, baik yang berhubungan secara langsung maupun tidak. Sedangkan
pekerjaan yang tidak berhubungan dengan riba, baik secara langsung maupun tidak, seperti juru
kunci, penjaga (satpam), pekerja IT (Information Technology/Teknologi Informasi), tukang sapu dan
sebagainya, maka diperbolehkan, karena transaksi kerja tersebut merupakan transaksi untuk
mengontrak jasa dari pekerjaan yang halal (mubah). Juga karena pekerjaan tersebut tidak bisa
disamakan dengan pekerjaan seorang pemberi, pencatat dan saksi riba, yang memang jenis
pekerjaannya diharamkan dengan nash yang jelas (sharih).
Yang dinilai sama dengan pegawai bank adalah pegawai pemerintahan yang mengurusi kegiatankegiatan riba, seperti para pegawai yang bertugas menyerahkan pinjaman kepada petani dengan
riba, para pegawai keuangan yang melakukan pekerjaan riba, termasuk para pegawai panti asuhan
yang pekerjaannya adalah meminjam harta dengan riba, maka semuanya termasuk pegawai-pegawai
yang diharamkan, dimana orang yang terlibat dianggap berdosa besar, karena mereka bisa
disamakan dengan pencatat riba ataupun saksinya. Jadi, tiap pekerjaan yang telah diharamkan oleh
Allah SWT, maka seorang muslim diharamkan sebagai ajiir di dalamnya.
Semua pegawai dari bank atau lembaga keuangan serta pemerintahan tersebut, apabila
pekerjaannya termasuk dalam katagori mubah menurut syara untuk mereka lakukan, maka mereka
boleh menjadi pegawai di dalamnya. Apabila pekerjaan tersebut termasuk pekerjaan yang menurut
syara tidak mubah untuk dilakukan sendiri, maka dia juga tidak diperbolehkan untuk menjadi pegawai
di dalamnya. Sebab, dia tidak diperbolehkan untuk menjadi ajiir di dalamnya. Maka, pekerjaanpekerjaan yang haram dilakukan, hukumnya juga haram untuk dikontrakkan ataupun menjadi pihak
yang dikontrak (ajiir).
Selain itu juga Allah SWT mengharamkan kita untuk melakukan kerjasama atau tolong-menolong
dalam perbuatan dosa.



Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada
Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. al-Maidah: 02)
Wallahualam

BAB RIBA

Pengetahuan tentang masalah riba merupakan hal yang penting untuk kita ketahui,
supaya dalam bermuamalah yang biasa kita lakukan sehari-hari tidak terjerumus ke
dalam kategori riba yang diharamkan oleh Allah Swt. Karena ancaman Allah tidak
hanya ditunjukkan bagi pelaku riba saja, melainkan juga bagi setiap orang yang
berperan dan berhubungan dengan riba tersebut. Sebagaimana yang dijelaskan
dalam Hadis Nabi Saw. Rasulullah saw. melaknat orang-orang yang makan barang
riba dan yang mewakilinya, penulis dan dua orang saksinya. Beliau bersabda :
mereka itu sama saja.
Pada kesempatan ini penulis akan mengutip keterangan tentang masalah riba dan
macam-macamnya, dengan harapan mudah-mudahan setelah mengetahui masalah
ini kita akan terhindar dari lingkaran riba, sehingga kita selamat dari laknat dan
ancaman Allah Swt.

Riba yang sudah disepakati haramnya adalah riba yang mengandung Ziadah
(tambahan/kelebihan) yang berlaku pada zaman jahiliyah yang disebut juga dengan
riba Nasiah. Riba Jahiliyah atau riba Nasiah ini adalah bentuk riba yang telah
diterangkan dengan jelas di dalam al-Quran, bahkan sudah diterangkan juga dalam
kitab Injil, Tauret dan kitab-kitab lainnya. Sedangkan yang empat macam lagi
dijelaskan dalam Hadist Nabi Saw. Yaitu Riba fadlin, Qordlu, Nasa dan Riba Yad.
Adapun yang dimaksud dengan riba yang haram adalah suatu aqad (transaksi) yang
terdapat dalam bentuk menghutangkan dan dalam menukarkan barang
ribawi (emas, perak dan makanan) baik yang mengandung unsur ziadah (tambahan)
maupun tidak. Bentuk riba yang mengandung unsur ziadah (tambahan) meliputi riba
Nasiah (Jahiliyah), riba Qordu dan riba Fadhlin. Sedangkan bentuk riba yang tidak
mengandung ziadah (tambahan) adalah riba Yad dan riba Nasa.
Secara umum jika dilihat dari hukumnya riba terbagi atas dua macam, yaitu riba
yang halal dan riba yang haram. Adapun riba yang halal adalah riba sebagaimana
yang terdapat dalam firman Allah Swt. Qs. Ar-Rum : 39 Artinya : Apa yang kamu
telah berikan dari pemberian dengan mengharapkan ingin mendapat balasan yang
lebih besar pada harta orang lain, maka itu tidak akan menjadi besar pahalanya
dihadapan Allah. Berdasarkan ayat ini para ahli tafsir menjelaskan bahwa riba yang
halal adalah seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain dengan harapan
mendapatkan balasan yang lebih besar dari orang tersebut. Pemberian tersebut
dihadapan Allah tidak ada nilai pahalanya, akan tetapi sekalipun demikian perbuatan
tersebut dibolehkan.
Mengenai hal ini, sebagaimana telah dijelaskan dalam Tafsir Jamal : 393.

Yang artinya : Bahwa riba itu ada dua bagian ada yang halal dan ada yang haram.
Sedangkan riba yang haram sebagaimana dijelaskan oleh Allah Swt dalam Qs. AnNisa. Yang artinya : Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Yang dimaksud riba yang haram menurut mazhab Imam SyafiI adalah akad tertentu
yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Baik akad tersebut yang mengandung ziadah
(tambahan) ataupun tidak, baik dalam bentuk menghutangkan atau menukarkan
barang ribawi (emas, perak dan makanan).

Hal:1
Riba yang hukumnya haram ada lima macam, yaitu :
1. Riba Nasiah
Riba ini sebagaimana yang diharamkan Allah dalam Qs. An-Nisa: . Menurut ahli
tafsir berdasarkan ayat tersebut Allah telah mengharamkan bentuk riba yang berlaku
pada zaman Jahiliyah, yang disebut juga dengan riba Nasiah. Yaitu riba yang dalam
perakteknya orang yang memberi hutang mensyaratkan kepada orang yang
menghutangya, ketika sudah jatuh tempo pembayaran orang yang berhutang harus
memilih antara melunasi hutangnya atau diberi tempo lagi dengan membayar dua

kali lipat, seperti hutang seribu menjadi dua ribu. Dengan demikian riba Jahiliyah
(Nasiah) adalah bentuk riba yang memaksa dan memeras orang yang berhutang.
Sehingga orang yang berhutang merasa sangat berat dan tertekan, lebih-lebih jika
yang berhutang itu adalah orang susah.
2. Riba Qordlu
Menurut mazhab Imam SyafiI riba Qordlu adalah orang yang menghutangkan
mensyaratkan manfaat kepada orang yang menghutangnya, baik merupakan ziadah
(tambahan) dari pokok hutangnya maupun tidak, serta syarat manfaat tersebut
disebutkan pada saat transaksi (akad). Hal ini sebagaimana sabda Nabi Saw. :

Maksud hadits tersebut menurut ulama mazhab Imam Syafii adalah setiap pinjaman
dalam bentuk Qordlu yang menggunakan syarat, menarik kemanfaatan bagi yang
menghutangkannya dan syarat-syaratnya disebutkan pada waktu akad, maka itu
disebut riba Qordlu.
Dengan demikian, jika syarat-syarat tersebut tidak disebutkan pada waktu akad
(transaksi) maka hal itu tidak termasuk riba Qordu. Seperti sebelum melakukan akad
ada kesepakatan terlebih dahulu antara orang yang menghutang dengan orang yang
menghutangkan untuk mengadaan keuntungan/manfaat. Akan tetapi syaratnya tidak
boleh ada unsur pemerasan, curang dan paksaan. Keuntungan atau manfaat itu bisa
dijadikan sebagai hadiah, hibah atau shodaqoh kepada orang yang memberi hutang.
Mengenai hal ini sebagaimana diterangkan dalam kitab Fathul Muin: 23 juz : 3
Dalam kitab tersebut juga dijelaskan, bahwa menghailah riba (mencari jalan lain
supaya tidak masuk ke dalam kategori riba) dalam mazhab Imam Syafii itu
hukumnya makruh. Oleh karenanya, apabila kita akan meminjam uang sementara
kebiasaan ditempat pinjaman tersebut ada bunganya, maka kelebihan atau
bunga tersebut jangan disebutkan pada waktu transaksi (akad) nya, kelebihan/bunga
tersebut kita jadikan sebagai hadiah atau shodaqoh bagi pemberi hutang. Namun
jika tidak dihailah, seperti kelebihan/bunganya disebutkan pada saat transaksi maka
itu hukumnya haram dan berdosa. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibnu
Ziyad dalam Kitab Fathul Muin.
3. Riba Fadlin
Riba Fadlin adalah menukarkan barang ribawi (emas, perak, makanan) yang sejenis
dengan ukuran yang tidak sama. Seperti menukarkan emas dengan emas, perak
dengan perak, beras dengan beras. Contohnya menukarkan 10 gram emas dengan
12 gram emas, atau 1 Kg beras dengan 1,5 Kg beras. Perbuatan tersebut termasuk
riba dan hukumnya haram. Akan tetapi dalam keadaan sangat membutuhkan, ada
jalan keluarnya supaya terhindar dari hukum haram, yaitu dengan cara saling
memberi atau saling meminjamkan lalu kedua belah pihak saling membebaskan.
Menghailah seperti ini menurut Mazhab Imam Syafii itu boleh dilakukan.
Hal:2
4.Riba Nasa

Riba Nasa yaitu menjual barang ribawi dengan cara dihutangkan. Seperti menjual
emas dengan emas, perak dengan perak, kemudian proses pembayarannya tidak
kontan.
5. Riba Yad
Riba Yad yaitu menjual barang ribawi dengan cara tidak saling menyerah terimakan.
Seperti menjual emas dengan emas, perak dengan perak, beras dengan beras akan
tetapi tidak saling menyerahterimakan barangnya, lalu keduanya berpisah pada
saat belum terjadi serah terima. Mengenai ketiga jenis riba ini sebagaimana yang
dijelaskan dalam hadis Nabi Saw :

Kamu tidak boleh menjual emas dengan emas, perak dengan perak, gandum
dengan gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam, kecuali dengan
timbangan yang sama, dengan cara kontan dan saling menyerahterimakan
barangnya. Apabila jenisnya berbeda maka boleh berbeda ukurannya akan tetapi
harus kontan dan saling serah terima.
Setelah kita mengetahui penjelasan tentang macam-macam riba, kemudian yang
menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah bunga bank konvensional itu
termasuk kepada kategori riba atau bukan ? .Sebelum menjawab pertanyaan
ini, secara singkat kami akan beri gambaran terlebih dahulu mengenai perbankan.
Yang dimaksud dengan bank sesuai undang-undang no. 7 tahun 1992 tentang
perbankan adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam
bentuk simpanan, dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka
meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Orang yang menyimpan uangnya di bank diberikan keuntungan oleh bank itu yang
disebut dengan bunga bank berdasarkan persentase uang yang disimpannya. Bank
biasanya hanya memberikan pinjaman kepada nasabah untuk keperluan produktif
seperti modal berdagang, pengembangan usaha dan lain-lain. Namun ada juga
pinjaman atau kredit yang diberikan bank untuk keperluan konsumtif seperti kredit
pemilikan rumah (KPR). Uang simpanan nasabah di dalam suatu bank tidak akan
didiamkan begitu saja tetapi uang itu akan dijalankan untuk melancarkan
perekonomian atau melaksanakan pembangunan. Dari keuntungan bank inilah
sebagian diberikan kepada nasabah sebagai bunga bank. (Pendidikan Agama Islam,
Fiqih untuk Madrasah Tsanawiyah : 34).
Tentang permasalahan bunga bank ini para ahli berbeda pendapat. Secara garis
besar terdapat tiga pendapat yang berbeda yaitu: Haram, halal dan syubhat (belum
jelas halal dan haramnya). Kita tidak perlu mempermasalahkan perbedaan tersebut,
karena masalah bunga bank itu ada dalam tataran hukum fiqih. Artinya masalah ini
merupakan masalah khilafiyyah, seperti halnya mengenai jumlah rakaat dalam
sholat tarawih, ada yang berpendapat 8 rakaat, 20 rakaan, bahkan ada yang lebih
dari itu. Perbedaan tersebut seyoyanya kita sikapi dengan lapang dada dan jangan
sampai menjadikan perpecahan diantara kita ummat Islam. Karena sesungguhnya
perbedaan itu merupakan rahmat (kenimatan) buat kita. Sebagaimana sabda Nabi
Saw :

Untuk lebih jelasnya berikut kami paparkan pendapat-pendapat para ahli tentang
penentuan hukum bunga bank konvensional.

Hal :3

PENDAPAT YANG MENGHARAMKAN BANK KONVENSIONAL


Jumhur (mayoritas) ulama mengharamkan bank konvensional karena adanya
praktek bunga bank yang secara prinsip sama persis dengan riba, Baik itu bunga
pinjaman, bunga tabungan atau bunga deposito.
PRAKTIK PERBANKAN YANG DIHARAMKAN
Praktik perbankan konvensional yang haram adalah (a) menerima tabungan dengan
imbalan bunga, yang kemudian dipakai untuk dana kredit perbankan dengan bunga
berlipat. (b) memberikan kredit dengan bunga yang ditentukan; (c) segala praktik
hutang piutang yang mensyaratkan bunga.
Bagi ulama yang mengharamkan sistem perbankan nasional, bunga bank adalah
riba. Dan karena itu haram.
PRAKTIK BANK KONVENSIONAL YANG HALAL
Namun demikian, pendapat yang mengharamkan tidak menafikan adanya sejumlah
layanan perbankan yang halal seperti: (a) layanan transfer uang dari satu tempat ke
tempat lain dengan ongkos pengiriman; (b) menerbitkan kartu ATM; (c) menyewakan
lemari besi; (d) mempermudah hubungan antarnegara.
ULAMA DAN LEMBAGA YANG MENGHARAMKAN BANK KONVENSIONAL
1. Pertemuan 150 Ulama terkemuka dalam konferensi Penelitian Islam di bulan
Muharram 1385 H, atau Mei 1965 di Kairo, Mesir menyepakati secara
aklamasi bahwa segala keuntungan atas berbagai macam pinjaman semua
merupakan praktek riba yang diharamkan termasuk bunga bank.
2. Majmaal Fiqh al-Islamy, Negara-negara OKI yang diselenggarakan di Jeddah
pada tanggal 10-16 Rabiul Awal 1406 H/22 Desember 1985;
3. Majma Fiqh Rabithah alAlam al-Islamy, Keputusan 6 Sidang IX yang
diselenggarakan di Makkah, 12-19 Rajab 1406
4. Keputusan Dar It-Itfa, Kerajaan Saudi Arabia, 1979;
5. Keputusan Supreme Shariah Court, Pakistan, 22 Desember 1999;
6. Majmaul Buhuts al-Islamyyah, di Al-Azhar, Mesir, 1965.
7. Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tahun
2000 yang menyatakan bahwa bunga bank tidak sesuai dengan syariah.
8. Keputusan Sidang Lajnah Tarjih Muhammadiyah tahun 1968 di Sidoarjo
menyatakan bahwa sistem perbankan konvensional tidak sesuai dengan
kaidah Islam.
9. Keputusan Munas Alim Ulama dan Konbes NU tahun 1992 di Bandar
Lampung.
10. Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia tentang Fatwa Bunga
(interest/faidah), tanggal 22 Syawal 1424/16 Desember 2003.

11. Keputusan Rapat Komisi Fatwa MUI, tanggal 11 Dzulqaidah 1424/03 Januari

2004, 28 Dzulqaidah 1424/17 Januari 2004, dan 05 Dzulhijah 1424/24


Januari 2004.

HUKUM BEKERJA DAN GAJI PEGAWAI BANK KONVENSIONAL


Menurut fatwa Syekh Jad al-Haq, salah satu Mufti Mesir, memperoleh
gaji/honorarium dari bank-bank tersebut dapat dibenarkan, bahkan kendati bankbank konvensiobnal itu melakukan transaksi riba. Bekerja dan memperoleh gaji di
sana pun masih dapat dibenarkan, selama bank tersebut mempunyai aktivitas lain
yang sifatnya halal.
Hal:4
Yusuf Qaradhawi termasuk ulama yang mengharamkan bank namun dalam soal gaji
pegawai bank ia menyatakan bahwa apabila pegawai tersebut bekerja karena tidak
ada pekerjaan di tempat lain maka ia dalam kondisi darurat. Dalam Islam, kondisi
darurat menghalalkan perkara yang asalnya haram. Kebutuhan hidup termasuk
kondisi darurat. Dalam konteks ini, maka pekerjaannya di bank hukumnya boleh.
Begitu juga boleh mengikuti pendapat ulama terpercaya yang menghalalkan bank
konvensional.
Teks asli sebagai berikut:




.
(Sumber: http://webmail.qaradawi.net/fatawaahkam/30/1766.html)
PENDAPAT HALALNYA BANK KONVENSIONAL
1. Beberapa alasan para ulama ahli fiqih yang menghalalkan bank konvensional
adalah
a. bunga bank bukanlah riba yang dilarang seperti yang disebut dalam Quran
dan hadits;
b. riba adalah bunga yang berlipat ganda; sedang bunga pinjaman bank tidaklah
demikian.
ULAMA DAN LEMBAGA YANG MENGHALALKAN BANK KONVENSIONAL
1. Syekh Al-Azhar Sayyid Muhammad Thanthawi menilai bunga bank bukan riba
dan halal.
2. Dr. Ibrahim Abdullah an-Nashir. dalam buku Sikap Syariah Islam terhadap
Perbankan
3. Keputusan Majma al-Buhust al-Islamiyah 2002 membahas soal bank
konvensional.
4. A.Hasan Bangil, tokoh Persatuan Islam (PERSIS), secara tegas menyatakan
bunga bank itu halal.
5. Dr.Alwi Shihab dalam wawancaranya dengan Metro TV berpendapat bunga
bank bukanlah riba dan karena itu halal.

6. KH. Ahmad Makky (pimpinan Pon-Pes As-Salafiyyah Sukabumi). Beliau

berpendapat bahwa bunga bank konvensional dan Usaha kerjasama itu


hukumnya halal dan tidak termasuk kepada kategori riba. Sebagaimana yang
dijelaskan dalam karyanya yang berjudul : "Perspektif Ilmiyah Tentang
Halalnya Bunga Bank."
ALSAN
ULAMA
DAN
LEMBAGA
YANG
MENGHALALKAN
BANK
KONVENSIONAL
1. Menurut Sayyid Muhammad Thanthawi bank konvensional/deposito itu halal
dalam berbagai bentuknya walau dengan penentuan bunga terlebih dahulu.
Menurutnya, di samping penentuan tersebut menghalangi adanya perselisihan atau
penipuan di kemudian hari, juga karena penetuan bunga dilakukan setelah
perhitungan yang teliti, dan terlaksana antara nasabah dengan bank atas dasar
kerelaan mereka.
2. Dr. Ibrahim Abdullah an-Nashir mengatakan, Perkataan yang benar bahwa tidak
mungkin ada kekuatan Islam tanpa ditopang dengan kekuatan perekonomian, dan
Hal:5
tidak ada kekuatan perekonomian tanpa ditopang perbankan, sedangkan tidak ada
perbankan tanpa riba. Ia juga mengatakan, Sistem ekonomi perbankan ini memiliki
perbedaan yang jelas dengan amal-amal ribawi yang dilarang Al-Quran yang Mulia.
Karena bunga bank adalah muamalah baru, yang hukumnya tidak tunduk terhadap
nash-nash yang pasti yang terdapat dalam Al-Quran tentang pengharaman riba.
3. Isi keputusan Majma al-Buhust al-Islamiyah 2002:
"Mereka yang bertransaksi dengan atau bank-bank konvensional dan menyerahkan
harta dan tabungan mereka kepada bank agar menjadi wakil mereka dalam
menginvestasikannya dalam berbagai kegiatan yang dibenarkan, dengan imbalan
keuntungan yang diberikan kepada mereka serta ditetapkan terlebih dahulu pada
waktu-waktu yang disepakati bersama orang-orang yang bertransaksi dengannya
atas harta-harta itu, maka transaksi dalam bentuk ini adalah halal tanpa syubhat
(kesamaran), karena tidak ada teks keagamaan di dalam Alquran atau dari Sunnah
Nabi yang melarang transaksi di mana ditetapkan keuntungan atau bunga terlebih
dahulu, selama kedua belah pihak rela dengan bentuk transaksi tersebut."
Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta di
antara kamu dengan jalan yang batil. Tetapi (hendaklah) dengan perniagaan yang
berdasar kerelaan di antara kamu. (QS. an-Nisa': 29).
Kesimpulannya, penetapan keuntungan terlebih dahulu bagi mereka yang
menginvestasikan harta mereka melalui bank-bank atau selain bank adalah halal
dan tanpa syubhat dalam transaksi itu.
Ini termasuk dalam persoalan "Al-Mashalih Al-Mursalah", bukannya termasuk
persoalan aqidah atau ibadat-ibadat yang tidak boleh dilakukan atas perubahan atau
penggantian.
4. Kata A. Hasan Bangil bunga bank itu halal. karena tidak ada unsur lipat gandanya.
5. Menurut keyakinan dan pendapat KH. Ahmad Makky bahwa bunga bank itu
adalah halal. Hal ini berdasarkan dua dalil, yaitu berdasarkan dalil Aqly dan dalil
Naqly.

A. Dalil Aqly tentang halalnya bunga bank, yaitu :


1. Bunga bank itu halal ( bukan riba ). Alasannya jika bunga bank itu diharamkan
seperti riba, maka pasti sudah tertanam rasa kebencian dalam hati orang muslim
yang baik-baik. Sebagaimana Firman Allah yang artinya Allah menanamkan rasa
kebencian di dalam hati kaum terhadap kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan.
Sedangkan kebencian terhadap bunga bank itu tidak terwujud. Dengan demikian,
maka bunga bank itu tidak haram (bukan riba).
2. Jika bunga bank itu termasuk riba, maka pasti sudah dimusnahkan. Karena
Allah sudah menentukan bahwa Allah akan memusnahkan peraktek riba setelah 40
tahun. Sebagaimana firman Allah yang artinya : Allah akan memusnahkan riba dan
menyuburkan shodaqoh. Dan firman Allah yang artinya : Jka kamu tidak
melakukan yaitu tidak meninggalkan sisa-sisa riba, maka ketahuilah bahwa Allah
dan Rasul-Nya memeranginya. Sedangkan realitas yang terjadi ternyata musnahnya
bunga bank itu tidak terwujud. Dengan demikian, bunga bank itu tidak haram (bukan
riba).
3. Realitas orang Muslim yang baik-baik memandang baik terhadap bunga bank,
sehingga 97 % pengusaha Muslim berhubungan dengan bank Konvensional.
Apabila ada sesuatu yang dipandang baik oleh orang Muslim yang baik-baik, maka
itu artinya baik pula menurut pandangan Allah. Sebagaimana sabda Rasul Saw.
Yang artinya : Sesuatu yang dianggap baik oleh orang Muslim yang baik-baik,
maka menurut Allah pun baik. Dengan demikian, bunga bank itu tidak haram (bukan
riba).
Hal:6
4. Jika bunga bank itu riba, maka pasti pelakunya sudah dijauhkan dari Allah
( sudah tidak melakukan sholat ) karena Rasul Saw. bersabda yang artinya : Rasul
Allah menjauhkan (melaknat) semua pelaku riba baik yang membelanjakannya,
mewakilinya, menyaksikannya dan penulisnya dari rahmat Allah Swt. Akan tetapi
terlaknatnya pelaku bunga bank konvensional itu tidak terwujud, mereka melakukan
sholat, puasa, haji dll. Yang diridoi oleh Allah Swt. Dengan demikian, bunga bank
konvensional itu tidak haram (bukan riba).
B. Dalil Naqly
Dikutif dari kitab fuqoha seperti yang terdapat dalam kitab Ianatuth tholibin : 99 zuz:
3.
Yang artinya : Diperbolehkan Qirod (usaha kerja sama), yaitu mengadakan
perjanjian antara dua belah pihak dimana pihak ke satu menyerahkan sejumlah
modal kepada pihak ke dua untuk di usahakan agar sama-sama mendapat
keuntungan. Qirod ini dalam istilah perbankan disebut dengan kredit produktif.
Dalam kamus besar dikatakan bahwa bunga bank itu disebut bunga pinjaman, yang
pengertiannya adalah Sejumlah uang yang harus diberikan kepada pemilik modal
dalam usaha kerja sama yang dikenal dengan kredit, yaitu perjanjian antara dua
belah pihak yaitu antara pemilik modal (dalam hal ini bank) dengan pengusaha,
dimana pemilik modal menyerahkan sejumlah uang (modal) kepada pengusaha
untuk dikembangkan agar sama-sama mendapat keuntungan. Usaha kerja sama ini
dalam istilah fuqoha (ulama ahli fiqih) disebut Qirod. Hukum qirod (usaha kerja
sama) dalam syariat islam adalah halal berdasarkan ijma Ulama. Dengan demikian
Ziadah (tambahan) atau dalam istilah perbankan disebut bunga yang terdapat dalam

kredit produktif itu bukan termasuk riba, karena riba hanya terdapat dalam qordu, jual
beli barang ribawi dan hibah. Sedangkan dalam qirod (usahakerja sama) atau dalam
istilah perbankan disebut kredit produktif itu tidak ada riba. Melainkan ziadah
(tambahan) yang terdapat dalam kredit produktif adalah keuntungan dari hasil usaha
bersama. Karena ziadah atau bunga yang telah disepakati haramnya itu adalah
bunga uang, yang pengertiannya adalah sejumlah uang yang harus diberikan
kepada pemberi hutang. Sedangkan bunga yang terdapat pada bank konvensional
adalah bunga pinjaman, yang pengertiannya adalah sejumlah uang yang harus
diberikan kepada pemilik modal dalam usaha kerja sama (qirod). Mengenai bunga
pinjaman ini sudah disepakati tentang halalnya.
Kemudian mengenai kredit konsumtif yang berlaku dalam muamalah murobahah
(saling menguntungkan), yaitu hubungan antara pemilik modal dengan orang yang
akan mendapatkan keuntungan sehingga mampu mengembalikan modal beserta
keuntungannya. Yaitu dengan mendapatkan bantuan dari bank, orang itu akan
mendapat keuntungan seperti rumah murah atau ongkos naik haji. Ziadah
(tambahan) atau bunga yang terdapat dalam kredit konsumtif juga disebut dengan
bunga pinjaman, karena termasuk sejumlah uang yang harus dikembalikan kepada
pemilik modal. Praktek seperti ini hukumnya sama diperbolehkan. Dan tentang
kehalannya diperkuat oleh keputusan musyawarah di Darul Ifta Mesir. (Kh. Ahmad
Makky dalam Perspektif ilmiyah tentang halalnya Bunga Bank : 218-219). Begitu
juga dengan bunga depositu dan tabungan semuanya dibolehkan, Dengan niat
untuk meminjamkan atau menitipkan dan mengijinkan pula uang tersebut untuk
dipergunakan, asalkan ketika kita membutuhkannya, uang tersebut ada. Atau
dengan niat memberikan modal kepada bank dengan mengharapkan agar kita
mendapat keuntungan. Karena menurut pendapat beliau yang diperkuat oleh hasil
musyawarah Darul Ifta di Mesir, hal terebut tidak termasuk kepada kategori riba.
Hal:7
Untuk lebih jelasnya kami sarankan untuk membaca sumbernya yaitu dalam :
Perspektif Ilmiyah Tentang Halalnya Bunga Bank yang disusun oleh guru kami
yakni KH. Ahmad Makky Pimpinan Pon-Pes Asslafiyyah Sukabumi.
KESIMPULAN HUKUM BANK KONVENSIONAL DALAM ISLAM
Mayoritas ulama (jumhur) sepakat bahwa praktik bunga yang ada di perbankan
konvensional adalah sama dengan riba dan karena itu haram. Walaupun ada
sejumlah layanan perbankan yang tidak mengandung unsur bunga dan karena itu
halal. Namun demikian, ada sejumlah ulama yang menganggap bahwa bunga bank
bukanlah riba dan karena itu halal hukumnya.
Lalu bagaimana sikap kita setelah mengetahui perbedaan pendapat tentang hukum
bunga bank konvensional tersebut ? Kita bisa memilih salah satu dari pendapat di
atas, akan tetapi tentu harus berdasarkan ilmunya (mengetahui dasarnya) dan juga
harus konsisten. Artinya jika memilih pendapat bahwa bank konvensional itu haram,
maka bagi orang tersebut jangan pernah mendekati bank. Sementara untuk zaman
sekarang apakah mungkin hal itu bisa dilakukan ? sementara bank itu sudah
menjadi kebutuhan yang tidak bisa terpisahkan, bahkan untuk naik haji saja pasti
kita harus berhubungan dengan pihak bank. Oleh karena itu, kenapa kita harus
mempersulit diri ? Bukankah ada pendapat yang menghalalkan bunga bank

konvensional ? Justru dengan adanya perbedaan pendapat ini menjadi sebuah


rahmat (kenimatan) buat kita. Namun demikian, keputusan terakhir terserah kepada
pertimbangan dan keyakinan kita masing-masing.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa bagi seorang muslim yang taat dan berada
dalam kondisi yang ideal dan berada dalam posisi yang dapat memilih, tentunya
akan lebih baik kalau berusaha menjauhi praktik bank konvensional yang
diharamkan. Namun, apabila terpaksa, Anda dapat memanfaatkan segala layanan
bank konvensional karena ada sebagian ulama yang menghalalkannya.
Demikianlah pembahasan singkat tentang riba dan macam-macam riba serta fatwa
hukum bunga bank konvensional. Semoga ada manfaatnya.
Amin

Referensi
:
1. Kh. Ahmad Makky dalam Perspektif Ilmiyah Tentang Halalnya Bunga Bank
2. Artikel Tentang Kontroversi Hukum Bunga Bank Oleh Pon-Pes Al-Khoirot Jawa Timur
3. Pendidikan Agama Islam Untuk Mts dan Ma.
Hal:8

Fiqh Khilafiyah NUMuhammadiyah: Seputar Shalat


Jumat
Shalat jumat adalah ibadah fardhu ain bagi laki-laki yang mukallaf,
tak ada ikhtilaf di titik ini. Perbedaan di kalangan ulama fiqih baru muncul
pada tata cara pelaksanaannya. Kita tidak perlu terkejut ketika shalat
Jumat di kampung orang lain, yang mana cara pelaksanaannya berbeda
dengan shalat jumat di kampung kita. Dan kita tak perlulah terburu-buru
menganggap bahwa shalat Jumat di kampung B salah, bidah, atau telah
keluar dari syariat, hanya karena berbeda tata cara pelaksanaannya
dengan yang biasa kita lakukan.

Muhammadiyah dan NU, sebagai organisasi Islam yang memiliki


massa terbesar di Indonesia, memiki pendapat yang berbeda dalam hal
tata cara pelaksanaan shalat Jumat. Perbedaan tersebut, antara lain
terletak pada pertanyaan, apakah adzan Jumat dilakukan satu kali atau
dua kali? Apakah dalam shalat jumat perlu adanya shalat qobliyah?
Apakah petugas khotib perlu menggunakan tombak sewaktu khotbah?
Ringkasan pada bab ini adalah, sebagai berikut:
a. Dalam masalah adzan Jumat, Muhammadiyah berpendapat bahwa adzan
Jumat hanya satu kali yakni setelah khatib naik ke mimbar dan
menguapkan salam. Sementara NU berpendapat bahwa adzan Jumat
dilakukan dua kali, sebelum khatib naik mimbar, dan setelah khatib naik
mimbar dan mengucapkan salam.
b. NU berpendapat bahwa shalat qabliyah Jumat adalah sunnah,
sebagaimana shalat qabliyah dhuhur, sementara Muhammadiyah tidak
menganggapnya bagian dari sunnah.
c. Petugas Khotib di masjid-masjid NU biasanya memegang tombak ketika
khotbah, bagi Muhammadiyah itu tidak perlu.
Memang, kita tidak bisa seketika menyimpulkan; misal jika di
sebuah masjid adzan shalat Jumat dilakukan dua kali berarti masjid
tersebut di kuasai warga NU, dan sebaliknya, jika adzan Jumat cuma satu
kali berarti dikuasai warga Muhamamdiyah. NU dan Muhammadiyah
hanya mengeluarkan fatwa, dengan harapan bisa dijadikan rujukan bagi
kaum Muslimin, khususnya bagi kelompoknya. Fatwa-fatwa tersebut akan
kami jabarkan satu persatu, bukan dengan maksud untuk mengotakkotakkan. Melainkan agar kita semakin dapat memahami perbedaan
pendapat seputar pelaksanaan shalat Jumat.

1. Muhammadiyah
a. Adzan Jumat

Dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah tidak


diterangkan secara rinci mengenai cara penyelanggaraan shalat Jumat.
Demikian pula mengenai pendapat di sekitar shalat Jumat, seperti
mengenai berapa kali adzan, cara penyampain khutbah, maupun bab
shalat qabliyah Jumat.
Dalam memutuskan kapan adzan dimuai dalam shalat jumat, tarjih
menyatakan: Apabila Imam telah duduk di atas mimbar, maka adzanlah
salah seorang dari kamu dan apabila Imam telah turun dari mimbar maka
berqamatlah.
Dasar dari tuntunan di atas, sebagaimana terdapat dalam HPT
adalah hadis dari Syaib bin Yazid yang artinya:
Karena hadis riwayat Bukhari, Nasai dan Abu dawud dari Saib bin
Yazid r.a, yang berkata: Adapun seruan pada hari Jumah itu pertama
(adzan) tatkala Imam duduk di atas mimbar, pada masa Rasulullah SAW,
pada masa Khalifah Abu Bakar r.a, pada masa Khalifah Umar r.a, setelah
tiba masa Khalifah Utsman r.a, dan orang semakin banyak maka beliau
menambah adzan ketiga di atas Zaura (nama tempat di pasar) yang
mana pada masa Nabi Saw hanya ada seorang Muadzain.

Tarjih Muhammadiyah mengaku mengikuti apa yang telah berlaku


pada masa Rasululah saw. Jadi, apa yang dilakukan oleh Khalifah Utsman
tidak dilanjutkan atau ditiru oleh Muhammadiyah.
Perlu kami singgung lagi, bahwa HPT Muhammadiyah tidak memberi
keterangan yang lebih jauh berkait pengambilan hukum ini. Namun,
penulis perlu menambahkan alasan-alasan Ulama lain yang sependapat
dengan Muhammadiyah berkaitan masalah adzan Jumat.
Bahwa Khalifah Utsman menambahkan adzan pertama karena suatu
alasan yang masuk akal, yakni pada masa itu kaum Muslimin semakin
banyak jumplahnya dan tempat-tempat mereka berjauhan dari Masjid
Nabawi. Beliau hanya ingin menyampaikan kepada mereka (kaum
Muslimin) tentang masuknya waktu shalat, dengan mengqiyaskan shalatshalat lainnya. Oleh karena itu, beliau memasukkan shalat Jumat ke
dalamnya dan menetapkan kekhususan Jumat dengan adzan di depan
khatib.
Syaikh al-Albani dalam al-Ajwibah an-Nafiah berpendapat bahwa
kondisi sekarang dianggap sudah tidak memerlukan adzan tambahan
sebelum khatib naik mimbar. Hampir tidak ada seorang pun yang berjalan
beberapa langkah, melainkan pasti mendengar adzan Jumat dari menaramenara masjid. Apalagi alat-alat pengeras suara telah dipasang di
menara-menara tersebut, jam-jam penunjuk waktu dan selainnya telah
tersebar di mana-mana.
Ada pula yang berpendapat bahwa, melakukan adzan Jumat sama
seperti yang dilakukan oleh Utsman r.a. sekarang ini termasuk di
dalam tashiilul haashil(berusaha mewujudkan sesuatu yang sudah ada)
dan ini tidak boleh, terutama masalah ini mengandung unsur tambahan
atas sunnah yang telah dilakukan oleh Rasulullah Saw. tanpa alasan yang
membenarkannya.
Pendapat tersebut mencoba dikuatkan dengan mencermati lagi
sejarah, di mana Ali bin Abi Thalib r.a ketika berada di Kuffah merasa
cukup dengan sunnah Rasulullah saw tidak melakukan seperti yang
dilakukan oleh Utsman r.a., hal ini seperti yang diungkap di dalam Tafsir
al-Qurthubi.
b. Shalat Qabliyah Jumat

Dalam HPT Muhammadiyah tidak terdapat pembahasan khusus


mengenai Shalat qabliyah Jumat. Namun demikian, pendapat Tarjih
berkaitan dengan adzan Jumat secara langsung membuat konsekwensi
terahadap masalah shalat qabliyah Jumat.
Shalat qabliyah adalah shalat yang mengiringi shalat wajib yang
dilakukan setelah adzan. Maka, ketika adzan Jumat cuma sekali dan itu
dilakukan ketika khatib berada di atas mimbar, maka shalat qabliyah pun
jadi tidak ada. Ini senada dengan putusan Tarjih Muhammadiyah yang
menyatakan bahwa: khusus shalat tathawwupada hari Jumat jumrah
rakaatnya tidak terbatas, sehingga dapat dikerjakan begitu berada di
dalam masjid sesudah tahiyatul Masjid hingga datang Imam shalat, (yang
mana Imam tersebut akan bersalam dan duduk, kemudian adzan
dilakukan).

Sementara untuk shalat sunnah sesudah shalat Jumat dapat


dilakukan dengan dua atau empat Rakaat. Yang dimaksud
Shalat tathawwu di sini adalah shalat sunnah tahiyatal masjid dan shalat
sunnah selain qabliyah Jumat. karena shalat sunnah qabliyah
dilangsungkan setelah adzan.
Pendapat Tarjih sejalan dengan pendapat Imam Malik, dan sebagian
penganut Hanabilah dalam riwayat yang masyhur. Adapun Dalil yang
menerangkan tidak dianjurkannya shalat sunnat qabliyah Jum'at adalah
sebagai berikut:
Hadist dari Saib Bin Yazid: "Pada awalnya, adzan Jum'at dilakukan pada
saat imam berada di atas mimbar yaitu pada masa Nabi SAW, Abu bakar
dan Umar, tetapi setelah zaman Ustman dan manusia semakin banyak
maka Sahabat Ustman menambah adzan menjadi tiga kali (memasukkan
iqamat), menurut riwayat Imam Bukhori menambah adzan menjadi dua
kali (tanpa memasukkan iqamat). (H.R. riwayat Jama'ah kecuali Imam
Muslim).
Dengan hadist di atas Ibnu al-Qoyyim berpendapat, "Ketika Nabi
keluar dari rumahnya langsung naik mimbar kemudian Bilal
mengumandangkan adzan. Setelah adzan selesai Nabi SAW langsung
berkhutbah tanpa adanya pemisah antara adzan dan khutbah, lantas
kapan Nabi SAW dan jamaah itu melaksanakan shalat sunnat qabliyah
Jum'at?
Demikianlah hujjah dari Muhammadiyah tentang tidak adanya
shalat qabliyah Jumat.
2. Nahdhatul Ulama
a. Adzan Jumat

Sebagaimana sudah disinggung di muka, bahwa NU berpendapat


sunnah hukumnya adzan Jumat dilakukan dua kali. Pendapat ini tentu
tidak asal-asalan muncul, melainkan ada hujjah dan dalil yang
mendasarinya.
NU sepakat bahwa di zaman Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar
bin Khathab mengumandangkan adzan untuk shalat Jumat hanya
dilakukan sekali saja. Penambahan adzan Jumat kemudian dilakukan di
zaman Khalifah Utsman bin Affan r.a. sebelum khatib naik ke atas mimbar,
sehingga adzan Jumat menjadi dua kali.
KH. Cholil Nafis, salah seorang pembesar NU yang mengurusi
Lembaga Bahtsul Masail, menyadari bahwa apa yang dilalukan Khalifah
Utsman r.a. dikarenakan melihat manusia sudah mulai banyak dan tempat
tinggalnya berjauhan. Sehingga dibutuhkan satu adzan lagi untuk
memberi tahu bahwa shalat Jum'at hendak dilaksanakan. Apa yang
dilakukan Khalifah tersebut, menurut NU masih dianggap relevan sampai
sekarang.
Untuk
menguatkan
pendapatnya,
Cholil
Nafis
mengutip
kitab Shahih al-Bukhari, di sana dijelaskan:

Dari Sa'ib ia berkata, "Saya mendengar dari Sa'ib bin Yazid, beliau
berkata, Sesungguhnya adzan di hari jumat pada asalnya ketika masa
Rasulullah SAW, Abu Bakar RA dan Umar RA dilakukan ketika imam duduk
di atas mimbar. Namun ketika masa Khalifah Utsman RA dan kaum
muslimin sudah banyak, maka beliau memerintahkan agar diadakan
adzan yang ketiga. Adzan tersebut dikumandangkan di atas Zaura' (nama
pasar). Maka tetaplah hal tersebut (sampai sekarang)". (Shahih alBukhari)
Pendapat NU tentang sunnahnya dua adzan pada shalat Jumat juga
sejalan dengan pendapat Syaikh Zainuddin al-Malibari, pengarang
kitab Fath al-Mu'in, yang mengatakan:
"Disunnahkan adzan dua kali untuk shalat Shubuh, yakni sebelum
fajar dan setelahnya. Jika hanya mengumandangkan satu kali, maka yang
utama dilakukan setelah fajar. Dan sunnah dua adzan untuk shalat Jum'at.
Salah satunya setelah khatib naik ke mimbar dan yang lain sebelumnya".
(Fath al-Mu'in: 15)
NU menganggap bahwa ijtihad Utsman sebagai ijma sukuti, yaitu
kesepakatan para sahabat Nabi SAW terhadap hukum suatu kasus dengan
cara tidak mengingkarinya. Ijma sukuti dianggap memiliki landasan yang
kuat dari salah satu sumber hukum Islam, yakni ijma' para sahabat. Hal ini
sebagaimana
termaktub
dalam
kitab al-Mawahib
al
Laduniyah sebagaimana juga dikutip oleh Cholil Nafis sebagai berikut:
"Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Sayyidina Ustman ra. itu
merupakan ijma' sukuti (kesepakatan tidak langsung) karena para
sahabat yang lain tidak menentang kebijakan tersebut (al-Mawahib al
Laduniyah, juz II,: 249).
Dalam menjawab apakah pengambilan hukum tersebut tidak
mengubah sunah Rasul? Dengan tegas NY menyatakan tidak! Kenapa
tidak? Karena mengikuti Utsman bin Affan r.a. itu juga berarti ikut
Rasulullah SAW. Sebab Rasulullah saw telah bersabda yang artinya:
"Maka hendaklah kamu berpegang teguh kepada sunnahku dan
sunnah al-Khulafa' al-Rasyidun sesudah aku ". (Musnad Ahmad bin
Hanbal)
Pendapat lain yang sejalan dengan fiqh NU perihal adzan dua kali
sebelum shalat Jumat beralasan bahwa tambahan satu kali adzan
meskipun tidak diperintahkan, tetapi juga tidak dilarang. Karena
perbuatan itu ada yang dilarang, ada yang diperintahkan dan ada pula
yang tidak dilarang dan juga tidak diperintahkan. Adzan Jumat dua kali
memang perbuatan yang tidak diperintahkan, tetapi juga tidak dilarang,
dan mengandung unsur maslahah, selain juga dianggap ijma sukuti.
b. Shalat Qabliyah Jumat

Dalam masalah shalat qabliyah Jumat NU pendapat bahwa shalat


qabliyah Jumat adalah sunnah hukumnya, dikarenakan dalilnya
lebih rajih (unggul). Pendapat ini sejalan dengan Imam Abu Hanifah,

Syafi'iyyah (menurut pendapat yang dalilnya lebih tegas) dan pendapat


Hambaliah dalam riwayat yang tidak masyhur, demikian Cholil Nafis.
Adapun dalil yang dipakai untuk menyatakan dianjurkannya sholat
sunnah qabliyah Jum'at adalah hadist Rasulullah SAW yang artinya:
"Semua shalat fardlu itu pasti diikuti oleh shalat sunnat qabliyah dua
rakaat". (HR.Ibnu Hibban yang telah dianggap shohih dari hadist Abdullah
Bin Zubair).
Dari hadist di atas maka dapat dimengerti bahwa semua shalat
fardhu, termasuk shalat Jumat terdapat shalat sunnah qabliyah.
Selain hadist di atas juga ada hadist Rasulullah saw lainnya, yang
artinya:
Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a. berkata: Sulayk al-Ghathafani datang
(ke masjid), sedangkan Rasulullah saw sedang berkhuthbah. Lalu Nabi
SAW bertanya: Apakah kamu sudah shalat sebelum datang ke sini? Sulayk
menjawab: Belum. Nabi SAW bersabda: Shalatlah dua rakaat dan
ringankan saja (jangan membaca surat panjang-panjang) (Sunan Ibn
Majah).
Berdasar dalil-dalil tersebut, Imam an-Nawawi menegaskan dalam
kitab al-Majmu Syarh al-Muhadzdzab: Disunnahkan shalat sunnah
sebelum dan sesudah shalat jumat. Paling sedikit dua rakaat sebelum
dan sesudah shalat jumat. Namun yang paling sempurna adalah shalat
sunnah empat rakaat sebelum dan sesudah shalat Jumat. (Al Majmu,
Juz 4: 9)
c. Memegang Tongkat pada Saat Khutbah

Tarjih Muhammadiyah tidak membahas permasalahan apakah ketika


khatbah, khatib membawa tombak atau benda-benda lain di atas mimbar
atau tidak? Dalam HPT hanya dinyatakan: Sebelum shalat hendaklah
Imam berkhutbah dua kali dengan berdiri dan duduk di atantara kedua
khutbah itu. Di dalam khutbah Imam supaya membaca ayat al-Quran dan
memberikan peringatan-peringatan kepada orang banyak. Tuntunan
demikian didasarkan pada pandangan hadist Sumarah r.a. Ibnu Umar, dari
Hadist Abu Hurairah, yang artinya:
Karena hadist riyawat jamaah kecuali Bukhari dan Tirmidzi dari Jabir bin
Samurah r.a. yang berkata: Adalah Rasulullah berkhutbah sambil berdiri
dan duduk di antara dua khutbah, dan membaca beberapa ayat al-Quran
dan memberi peringatan kepada orang banyak.
Sementara itu NU, melalui lembaga Bahtsul Masail sependapat
dengan jumhur ulama fiqh yang mengatakan bahwa sunnah hukumnya
khatib memegang tongkat dengan tangan kirinya pada saat membaca
khutbah.
Dalam masalah ini NU bermadzhab Syafiiyyah, di mana di dalam
kitab al-Umm diterangkan: Imam Syafi'i berkata: Telah sampai kepada
kami (berita) bahwa ketika Rasulullah saw berkhuthbah, beliau berpegang
pada tongkat. Ada yang mengatakan, beliau berkhutbah dengan
memegang tongkat pendek dan anak panah. Semua benda-benda itu

dijadikan tempat bertumpu (pegangan). Ar-Rabi' mengabarkan dari Imam


Syafi'i dari Ibrahim, dari Laits dari 'Atha', bahwa Rasulullah SAW jika
berkhutbah memegang tongkat pendeknya untuk dijadikan pegangan".
(al-Umm)
Hadist Rasulullah saw, yang artinya:
Dari Syu'aib bin Zuraidj at-Tha'ifi ia berkata ''Kami menghadiri shalat
Jum'at pada suatu tempat bersama Rasulullah SAW. Maka Beliau berdiri
berpegangan pada sebuah tongkat atau busur". (Sunan Abi Dawud).
Al Gazali dalam Ihya Ulumuddin, juga telah menulis:
Apabila muadzin telah selesai (adzan), maka khatib berdiri
menghadap jama' ah dengan wajahnya. Tidak boleh menoleh ke kanan
dan ke kiri. Dan kedua tangannya memegang pedang yang ditegakkan
atau tongkat pendek serta (tangan yang satunya memegang) mimbar.
Supaya dia tidak mempermainkan kedua tangannya. (Kalau tidak begitu)
atau dia menyatukan tangan yang satu dengan yang lain". (Ihya' 'Ulum alDin)
Memegang tongkat selama khotbah selain merupakan sunnah
(pernah dilakukan Rasul) juga dianjurkannya sebagai cara untuk mengikat
hati (agar lebih konsentrasi) dan agar tidak mempermainkan tangannya.
Demikian dalam kitabSubulus Salam, juz II, sebagaimana dikutip dari
Cholil Nafis.

Ziarah Kubur, Membaca ayat-ayat Al-Quran, Talqin


dan Tahlil untuk orang yang telah wafat
Daftar isi Bab 5 ini diantaranya:

Dalil-dalil Ziarah kubur


Ziarah kubur bagi wanita
Adab berziarah dan berdoa didepan pusara Rasulallah saw.
Dalil-dalil yang melarang ziarah kubur dan jawabannya.
Pembacaan Al-Quran di kuburan untuk orang yang telah wafat
Keterangan dari Ustadz Quraish Shihab
Pahalanya membaca Al-Quran
Amalan orang hidup yang bermanfaat bagi si mayyit
Kehidupan ruh-ruh manusia yang telah wafat
Talqin (mengajari dan memberi pemahaman/peringatan) mayyit
yang baru dimakamkan
Tahlilan/Yasinan
Keterangan singkat tentang Haul (peringatan tahunan)
Dalil-dalil orang yang membantah dan jawabannya
Pahala sedekah untuk orang yang telah wafat
Pahala Puasa dan Sholat untuk orang yang telah wafat
Pahala Haji untuk orang yang telah wafat
Membangun masjid disisi kuburan
Memberi penerangan terhadap kuburan
Membangun kubbah diatas kuburan

Sebelum saya mencantumkan dalil-dalil ziarah kubur, pembacaan ayat Al-Quran disana dan lain
sebagainya, ingin mengupas sedikit mengenai kewajiban umat muslim bagi saudaranya kaum muslim
yang sudah wafat. Sudah tentu hampir setiap saudara kita muslim mengetahui bahwa mayat tersebut
harus dimandikan, dishalatkan dan diantarkan sampai keliang kubur. Ini adalah merupakan fardhu
kifayah (kewajiban bila telah dilakukan oleh sebagian orang, maka gugurlah kewajiban seluruh muslimin).
Dengan adanya keterangan-keterangan berikut ini, Insya Allah cukup jelas bagi kita bahwa ziarah kubur,
membaca ayat suci al-Quran yang pahalanya dihadiahkan pada si mayit dan sebagainya, itu semua
menurut tuntunan syariat Islam yang benar serta diamalkan oleh para salaf dan ulama-ulama pakar.
Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah sebagai berikut :

.

.
,
(()

)

Bahwa seorang laki-laki yang meninggal dalam keadaan berhutang


disampaikan beritanya pada Nabi saw. Maka Nabi saw. menanyakan apakah ia
ada meninggal kan kelebihan buat membayar hutangnya. Jika dikatakan
bahwa ia ada meninggal kan harta untuk membayarnya, maka beliau
menyalatkannya. Jika tidak beliau akan memerintahkan kaum muslimin;
Shalatkanlah teman sejawatmu .
Begitu juga masih banyak hadits yang menyebutkan pahala-pahala orang yang menyalatkan mayat dan
mengantarkannya sampai keliang kubur.
Shalat jenazah juga mempunyai rukun-rukun yang dapat mewujudkan hakikatnya, hingga bila salah satu
rukun tersebut tak terpenuhi, maka ia dianggap kurang sempurna oleh syara. Jumlah rukun-rukun
tersebut menurut ahli fiqih ada delapan. Sudah tentu yang pertama niat, takbir dan terakhir salam,
sebagaimana syarat dari semua macam shalat. Dan diantara rukun-rukun tersebut yaitu doa untuk si
mayat tersebut.
Sebagaimana sabda Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Abud Daud dan Baihaqi serta disahkan oleh Ibnu
Hibban sebagai berikut :

( )

Jika kamu menyalatkan jenazah, maka berdoalah untuknya dengan


tulus ikhlas.
Disamping itu banyak juga riwayat hadits Rasulallah saw. yang mengajarkan
kita kalimat-kalimat doa yang diucapkan dalam shalat jenazah tersebut.
Rasulallah saw. menganjurkan pada kaum muslimin yang masih hidup untuk
menyalatkan yang mana doa itu sebagai salah satu rukun daripadanya
pada saudaranya muslim-muslimah yang wafat. Ini membuktikan bahwa semua
amalan-amalan tersebut diantaranya doa pengampunan dan lain
sebagainya sangat bermanfaat baik bagi si mayat khususnya maupun kaum
muslimin yang menyalatinya. Juga menunjukkan bahwa kita harus doa
mendoakan sesama kaum muslimin baik waktu masih hidup atau sudah wafat.
Jadi bukan sesat mensesatkan, kafir mengafirkan antara sesama muslimnya.
Doa itu tidak hanya dianjurkan pada waktu shalat jenazah saja, tapi untuk
setiap waktu baik setelah shalat wajib atau dalam hidup sehari-hari,
sebagaimana banyak hadits yang mengungkapkan hal tersebut dan ayat-ayat
Quran yang menyebutkan doa-doa yang diucapkan oleh manusia untuk
pribadi mereka sendiri dan untuk muslimin lainnya.
Dalil-dalil Ziarah Kubur
Setelah kita membaca keterangan mengenai sholat Jenazah yang semuanya
berkaitan dengan orang yang telah wafat, mari kita sekarang meneliti dalil-dalil
ziarah kubur dan pembacaan Al-Quran dikuburan. Ziarah kubur itu adalah
sunnah Rasulallah saw., sebagaimana hadits dari Sulaiman bin Buraidah yang
diterima dari bapaknya, bahwa Nabi saw bersada:

, ,
..

Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, namun kini berziarahlah kalian!. Dalam riwayat lain;
(Maka siapa yang ingin berziarah kekubur, hendaknya berziarah), karena sesungguhnya (ziarah
kubur) itu mengingat- kan kalian kepada akhirat. (HR.Muslim)
Juga ada hadits yang serupa diatas tapi berbeda sedikit versinya dari Buraidah ra. bahwa Nabi saw.
bersabda :

Dahulu saya melarang kalian menziarahi kubur, sekarang telah diizinkan dengan Muhammad untuk
berziarah pada kubur ibunya, karena itu berziarah lah ke perkuburan sebab hal itu dapat mengingatkan
pada akhirat. (HR. Muslim (lht.shohih Muslim jilid 2 halaman 366 Kitab al-Janaiz), Abu Dawud, Tirmidzi
dan Nasai, Ahmad).
Imam Syafii dalam kitabnya Al Umm meriwayatkan hadits dari Abu Said Al-Khudri bahwa Rasulallah saw.
bersabda :
Saya pernah melarang kamu berziarah kubur, maka berziarahlah padanya dan jangan kamu mengatakan
ucapan yang mungkar [Hajaran]. (Tartib Musnad Imam Syafii, pembahasan tentang sholat, bab ke 23
Sholat jenazah dan hukum-hukumnya hadits nr. 603 jilid 1 hal. 217)
Dari hadits-hadits diatas jelaslah bahwa Nabi saw. pernah melarang ziarah kubur namun lantas
membolehkannya setelah turunnya pensyariatan (lega- litas) ziarah kubur dari Allah swt Dzat Penentu
hukum (Syari al-Muqaddas).
Larangan Rasulallah saw. pada permulaan itu, ialah karena masih dekatnya masa mereka dengan zaman
jahiliyah, dan dalam suasana dimana mereka masih belum dapat menjauhi sepenuhnya ucapan-ucapan
kotor dan keji. Tatkala mereka telah menganut Islam dan merasa tenteram dengannya serta mengetahui
aturan-aturannya, di-izinkanlah mereka oleh syariat buat menziarahinya. Dan anjuran sunnah untuk
berziarah itu berlaku baik untuklelaki maupun wanita. Karena dalam hadits ini tidak disebutkan
kekhususan hanya untuk kaum pria saja.
Dalam kitab Makrifatul as-Sunan wal Atsar jilid 3 halaman 203 bab ziarah kubur disebutkan bahwa Imam
Syafii telah mengatakan: Ziarah kubur hukumnya tidak apa-apa (boleh). Namun sewaktu menziarahi
kubur hendak- nya tidak mengatakan hal-hal yang menyebabkan murka Allah.
Al-Hakim an-Naisaburi dalam kitab Mustadrak Ala as-Shahihain jilid 1 halaman 377 menyatakan: Ziarah
kubur merupakan sunnah yang sangat ditekankan.Hal yang sama juga dapat kita jumpai dalam kitabkitab para ulama dan tokoh Ahlusunah seperti Ibnu Hazm dalam kitab al-Mahalli jilid 5 halaman 160; Imam
Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin jilid 4 halaman 531; Abdurrahman al-Jaziri dalam
kitab al-Fikh alal Madzahibil Arbaah jilid 1 halaman 540 (dalam penutupan kajian ziarah kubur) dan
banyak lagi ulama Ahlusunah lainnya. Atas dasar itulah Syeikh Manshur Ali Nashif dalam kitab at-Tajul
Jami lil Ushul jilid 1 halaman 381 menyatakan: Menurut mayoritas Ahlusunah dinyatakan bahwa ziarah
kubur adalah sunnah.
Disamping itu semua, masih ada lagi hadits Nabi saw. yang memerintahkan ziarah kubur tersebut tapi
saya hanya ingin menambahkan dua hadits lagi dengan demikian lebih jelas buat pembaca bahwa ziarah
kubur dan pemberi- an salam terhadap ahli kubur itu adalah sunnah Rasulallah saw.
Masih ada lagi hadits Nabi saw. yang memerintahkan ziarah kubur tersebut tapi saya hanya ingin
menambahkan dua hadits lagi dengan demikian lebih jelas buat pembaca bahwa ziarah kubur dan
pemberian salam terhadap ahli kubur itu adalah sunnah Rasulallah saw.
Hadits dari Ibnu Abbas berkata: Ketika Rasulallah saw. melewati perkuburan di kota Madinah maka beliau
menghadapkan wajahnya pada mereka seraya mengucapkan: Semoga salam sejahtera senantiasa
tercurah atas kalian wahai penghuni perkuburan ini, semoga Allah berkenan memberi ampun bagi kami
dan bagi kalian. Kalian telah mendahului kami dan kami akan menyusul kalian. (HR.Turmudzi)

Hadits dari Aisyah ra.berkata:

.
. :

,
,


( )

Adalah Nabi saw. pada tiap malam gilirannya keluar pada tengah malam kekuburan
Baqi lalu bersabda: Selamat sejahtera padamu tempat kaum mukminin, dan nanti
pada waktu yang telah ditentukan kamu akan menemui apa yang dijanjikan. Dan insya
Allah kami akan menyusulmu dibelakang. Ya Allah berilah ampunan bagi penduduk
Baqi yang berbahagia ini. (HR. Muslim).
Ziarah kubur bagi wanita
Golongan madzhab Wahabi/Salafi (pengikut Muhammad bin Abdul
Wahhab)dan pengikutnya melarang wanita ziarah kubur berpegang kepada kalimat
hadits yang diriwayatkan dikitab-kitab as-Sunan kecuali Bukhori dan Muslim yaitu
Allah melaknat
perempuan-perempuan yang menziarahi
kubur (Lihat
kitab Mushannaf Abdur Razzaq jilid 3 halaman 569).
Sebenarnya hadits ini telah dihapus (mansukh) dengan riwayat-riwayat tentang
Aisyah ra. menziarahi kuburan saudaranya yang diungkapkan oleh adzDzahabi dalam kitab Sunan al-Kubra, Abdurrazaq dalam kitab Mushannaf, al-

Hakim an-Naisaburi dalam kitab Mustadrak Alas Shahihain dan hadits riwayat
Imam Muslim (lihat catatan pada halaman selanjutnya ).
Riwayat-riwayat itu, nampak sekali pertentangan antara dua bentuk riwayat
dimana satu menyatakan bahwa perempuan akan dilaknat jika melakukan
ziarah kubur namun yang satunya lagi menyatakan bahwa Rasulallah saw.
telah memerintahkan umatnya untuk menziarahi kubur, yang mana perintah ini
mencakup lelaki dan perempuan.
Jika kita teliti lebih detail lagi, ternyata sanad hadits diatas Allah melaknat
perempuan-perempuan yang menziarahi kubur melalui tiga jalur utama: Hasan
bin Tsabit, Ibnu Abbas dan Abu Hurairah [ra].
Ibnu Majah dalam kitab Sunan Ibnu Majah jilid 1 halaman 502 menukil hadits
tersebut melalui ketiga jalur diatas.
Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 3 menukil
hadits tersebut melalui dua jalur saja yaitu Hasan bin Tsabit (Lihat jilid 3
halaman 442) dan Abu Hurairah (Lihat jilid 3 halaman 337/356).
At-Turmudzi dalam kitab al-Jami as-Shahih jilid 2 halaman 370 hanya menukil
dari satu jalur yaitu Abu Hurairah saja.
Abu Dawud dalam kitab Sunan Abu Dawud jilid 3 halaman 317 hanya menukil
melalui satu jalur yaitu Ibnu Abbas saja.
Sedangkan Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkan hadits itu sama sekali.
Begitu juga tidak ada kesepakatan di antara para penulis kitab as-Sunan dalam
menukil hadits tersebut jika dilihat dari sisi jalur sanad haditsnya. Ibnu Majah,
Imam Ahmad bin Hanbal dan Turmudzi sepakat meriwayatkan melalui jalur Abu
Hurairah. Sedang dari jalur Hasan bin Tsabit hanya dinukil oleh Ibnu Majah dan
Imam Ahmad saja dan jalur Ibnu Abbas dinukil oleh Abu Dawud dan Ibnu
Majah.
Dari jalur pertama yang berakhir pada Hassan bin Tsabit yang dinukil oleh
Ibnu Majah dan Imam Ahmad terdapat pribadi yang bernama Abdullah bin
Utsman bin Khatsim. Semua hadits yang diriwayatkan olehnya dihukumi tidak
kuat. Hal itu sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Daruqi dari Ibnu Muin.
Ibnu Abi Hatim sewaktu berbicara tentang Abdullah bin Utsman tadi
menyatakan bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Utsman tidak
dapat dijadikan dalil. An-Nasai dalam menjelaskan kepribadian Ibnu Usman
tadi mengatakan: Ia sangat mudah meriwayatkan (menganggap remeh
periwayatan .red) hadits (Lihat kitab Mizan al-Itidal jilid 2 halaman 459). Dan
melalui jalur tersebut juga terdapat pribadi seperti Abdurrahman bin Bahman.
Tidak ada yang meriwayatkan hadits darinya selain Ibnu Khatsim. Ibnu alMadyani mengatakan: Aku tidak mengenal pribadinya (Lihat kitab Mizan alItidal jilid 2 halaman 551).
Dari jalur kedua yang berakhir pada Ibnu Abbas ra terdapat pribadi seperti Abu
Shaleh yang aslinya bernama Badzan.
Abu Hatim berkata tentang dia: Hadits-hadits dia tidak dapat dipakai sebagai
dalil. An-Nasai menyatakan: Dia bukanlah orang yang dapat dipercaya. Ibnu
Adi mengatakan: Tak seorang pun dari para pendahulu yang tak kuketahui
dimana mereka tidak menunjukkan kerelaannya (ridho) terhadap pribadinya
(Badzan) (Lihat kitab Tahdzib al-Kamal jilid 4 halaman 6).
Dari jalur ketiga yang berakhir pada Abu Hurairah ra terdapat pribadi seperti
Umar bin Abi Salmah yang an-Nasai mengatakan tentang dirinya: Dia tidak
kuat (dalam periwayatan .red). Ibnu Khuzaimah mengatakan: Haditsnya tidak
dapat dijadikan dalil. Ibnu Muin mengatakan: Dia orang yang lemah.
Sedangkan Abu Hatim menyatakan: Haditsnya tidak dapat dijadikan dalil
(Lihat kitab Siar Alam an-Nubala jilid 6 halaman 133).
Mungkin karena sanad haditsnya tidak sehat inilah akhirnya Imam Bukhari dan
Imam Muslim tidak meriwayatkan hadits tadi. Bukankah dua karya besar itu
memiliki gelar shahih sehingga terhindar dari hadits-hadits yang tidak jelas
sanadnya? Melihat hal-hal tadi maka hadits pelarangan ziarah kubur buat
perempuan di atas tadi tidak dapat dijadikan dalil pengharaman.

Salah seorang ulama madzhab Wahabi/Salafi yang bernama Nashiruddin alAlbani ahli hadits Wahabi pernah menyatakan tentang hadits pelaknatan
penziarah wanita tadi dengan ungkapan berikut ini :
Di antara sekian banyak hadits tidak kutemui hadits-hadits yang menguat- kan hadits
tadi. Sebagaimana tidak kutemui hadits-hadits lain yang dapat memberi kesaksian atas
hal tersebut. Hadits ini adalah penggalan dari hadits: Laknat Allah atas perempuanperempuan yang menziarahi kubur dan orang-orang yang menjadikannya (kuburan)
sebagai masjid dan tempat yang terang benderang yang disifati sebagai hadits lemah
(Dzaif). Walau pun sebagian saudara-saudara dari pengikut Salaf (baca: Wahabi)
suka menggunakan hadits ini sebagai dalil. Namun saya nasehatkan kepada
mereka agar tidak menyandarkan hadits tersebut kepada Nabi. Karena
hadits itu adalah hadits yang lemah (Lihat kitab Silsilah al-Ahadits adhDhoifah wa Atsaruha as-Salbi fil Ummah halaman 260).
Tetapi sayangnya sampai sekarang bisa kita lihat dan alami kaum wanita
pelaksana haji di Makkah dan Madinah, masih tetap dilarang oleh ulama
Madzhab Wahabi untuk berziarah di kuburan Baqi (Madinah) dan di Mala (di
Makkah) untuk menziarahi makam para keluarga dan sahabat Rasulallah saw..
Mereka menvonis saudara-saudara mereka sesama muslim dengan sebutan
penghamba Kubur (Quburiyuun), bahkan mereka berkepala keras menyatakan
bahwa ziarah kubur bagi perempuan adalah haram menurut ajaran Rasulallah
saw dan para Salaf Sholeh ? (Dikutip dari website Salafy, 13 Feb 2007 ) .
Menurut ahli fiqh, adanya hadits yang melarang wanita ziarah kubur, ini karena
umumnya sifat wanita itu ialah lemah, sedikitnya kesabaran sehingga
mengakibatkan jeritan tangis yang meraung-raung (An-Niyahah) menampar
pipinya sendiri dan perbuatan-perbuatan jahiliyah dikuburan itu yang mana ini
semua tidak dibenarkan oleh agama Islam. Begitu juga sifat wanita senang
berhias atau mempersolek dirinya sedemikian rupa atau tidak mengenakan
hijab sehingga dikuatirkan dengan campur baurnya antara lelaki dan wanita
mereka ini tidak bisa menjaga dirinya dikuburan itu sehingga menggairahkan
para ziarah kaum lelaki.
Hal tersebut dipertegas dalam kitab Ianatut Thalibin jilid 2/142. Begitupun juga
Al-Hafidz Ibnu Arabi (435-543H), pensyarah hadits Turmudzi dalam
mengomentari masalah ini berkata :
Yang benar adalah bahwa Nabi saw. membolehkan ziarah kubur untuk lakilaki dan wanita. Jika ada sebagian orang menganggapnya makruh bagi kaum
wanita, maka hal itu dikarenakan lemahnya kemampuan wanita itu untuk
bersikap tabah dan sabar sewaktu berada diatas pekuburan atau dikarenakan
penampilannya yang tidak mengenakan hijab (menutup auratnya) dengan
sempurna .
Kalimat semacam diatas juga dinyatakan dalam kitab at-Taajul Jami lil
Ushuljilid 2 halaman 381, atau kitab Mirqotul Mafatih karya Mula Ali Qori jilid 4
halaman 248.
Rasulallah saw. membolehkan dan bahkan menekankan kepada umatnya
untuk menziarahi kubur, hal itu berarti mencakup kaum perempuan juga. Walau
dalam hadits tadi Rasulallah saw. menggunakan kata ganti (Dhamir) lelaki,
namun hal itu tidak lain dikarenakan hukum kebanyakan (Taghlib) pelaku ziarah
tersebut adalah dari kaum lelaki. Ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Mula
Ali Qori dalam kitab Mirqotul Mafatih jilid 4 halaman 248 dan at-Turmudzi dalam
kitab al-Jami as-Shahih jilid 3 halaman 372 hadits ke-1056.
Kalaupun kita harus berbicara tentang jumlah obyek yang diajak bicara
(mukhatab), terbukti dalam tata bahasa Arab walau ada seribu perempuan dan
lelaki hanya segelintir saja jumlahnya maka kata ganti yang dipakai untuk
berbicara kepada semua yang sesuai dengan tata bahasa yang baik dan
benar yang hadir tadi adalah menggunakan kata ganti lelaki. Dan masih
banyak ulama Ahlusunah lain yang menyatakan pembolehan ziarah kubur oleh
kaum perempuan.

Jadi kesimpulannya ialah ziarah kubur itu tidak dianjurkan untuk wanita bila
para wanita diwaktu berziarah melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh
agama atau dimakruhkan seperti yang tersebut diatas, tapi kalau semuanya ini
bisa dijaga dengan baik, maka tidak ada halangan bagi wanita tersebut untuk
berziarah kubur seperti halnya kaum lelaki. Dengan demikian bukan ziarah
kuburnya yang dilarang, tetapi kelakuan wanita yang berziarah itulah yang
harus diperhatikan.
Mari kita lanjutkan dalil-dalil mengenai ziarah kubur bagi wanita:
Imam Malik, sebagian golongan Hanafi, berita dari Imam Ahmad dan
kebanyakan ulama memberi keringanan bagi wanita untuk ziarah kubur.
Mereka berdasarkan sabda Nabi saw. terhadap Aisyah ra. yang diriyatkan oleh
Imam Muslim. Beliau saw. didatangi malaikat Jibril as. dan disuruh
menyampaikan kepada Aisyah ra.sebagai berikut :

Sesungguhnya Tuhanmu menyuruhmu untuk menziarahi para
penghuni perkuburan Baqi untuk engkau mintakan ampun bagi
mereka
Kata Aisyah ra; Wahai Rasulallah, Apa yang harus aku ucapkan bila
berziarah pada mereka? Sabda beliau saw. :
:
,

Ucapkanlah; salam atasmu wahai penduduk kampung, dari golongan


mukminin dan muslimin. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pada kita
bersama, baik yang telah terdahulu maupun yang terbelakang, dan insya Allah
kami akan menyusul kemudian .
Untuk lebih jelasnya hadits yang dimaksud diatas adalah bahwasanya Nabi
saw. bersabda pada Aisyah ra :
Jibril telah datang padaku seraya berkata: Sesungguhnya Tuhanmu
menyuruhmu untuk menziarahi para penghuni perkuburan Baqi untuk engkau
mintakan ampun bagi mereka. Kata Aisyah; Wahai Rasulallah, apa yang harus
aku ucapkan bagi mereka? Sabda beliau saw: Ucapkanlah: Semoga salam
sejahtera senantiasa tercurah bagi para penduduk perkuburan ini dari orangorang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah merahmati orang-orang
kami yang terdahulu maupun yang terkemudian, insya Allah kamipun akan
menyusul kalian . (HR.Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan:
Semoga salam sejahtera senantiasa tercurahkan bagi para penghuni
perkuburan dari orang-orang beriman dan Islam, dan kamipun insya-Allah akan
menyusul kalian, kami berharap semoga Allah berkenan memberi keselamatan
bagi kami dan kalian.
Juga riwayat dari Abdullah bin Abi Mulaikah, bahwa pada suatu hari Aisyah
datang dari pekuburan, maka dia bertanya :
Ya Ummul Mukminin, darimana anda? Ujarnya: Dari makam, saudaraku
Abdurrahman. Lalu saya tanyakan pula: Bukankah Nabi saw. telah melarang
ziarah kubur? Benar, ujarnya, mula-mula Nabi melarang ziarah kubur,
kemudian menyuruh menziarahinya. ( Adz-Dzahabi dalam kitabSunan alKubra jilid 4 halaman 131, Abdur Razaq dalam kitab Mushannaf Abdurazaq jilid
3 halaman 572/574 dan dalam kitab Mustadrak alas Shahihain karya al-Hakim
an-Naisaburi jilid 1 halaman 532 hadits ke-1392). adz-Dzahabi telah
menyatakan kesahihannya sebagaimana yang telah tercantum dalam catatan
kaki yang ia tulis dalam kitab Mustadrakkarya al-Hakim an-Naisaburi tersebut.
(Lihat: Mustadrak al-Hakim an-Naisaburi Jil:1 Hal: 374)
Dalam kitab-kitab itu juga diriwayatkan bahwa Siti Fathimah Az-Zahrah ra,
puteri tercinta Rasulullah saw. hampir setiap minggu dua atau tiga kali
menziarahi para syuhada perang Uhud, khususnya paman beliau Sayyidina
Hamzah ra.

Aisyah ra. melakukan penziarahan tersebut berarti apa yang dilakukan Aisyah
adalah sebaik-baik dalil dalam mengungkap hakekat hukum pen- ziarah kubur
dari kalangan perempuan. Hal itu dikarenakan selain Aisyah sebagai istri
Rasulallah saw. yang bergelar ummul mukminin (ibu kaum mukmin) sekaligus
sebagai Salaf Sholeh. Karena Salaf Sholeh tidak hanya dikhususkan buat
sahabat dari kaum lelaki saja, namun mencakup kaum perempuan juga
(shahabiyah).
Hadits dari Anas bin Malik berkata: Pada suatu hari Rasulallah saw. berjalan
melalui seorang wanita yang sedang menangis diatas kuburan.Maka Nabi saw.
bersabda: Bertaqwalah kepada Allah dan sabarlah.Dijawab oleh wanita itu:
Tinggalkanlah aku dengan musibah yang sedang menimpaku dan tidak
menimpamu ! Wanita itu tidak tahu kepada siapakah dia berbicara. Ketika dia
diberitahu, bahwa orang yang berkata padanya itu adalah Nabi saw., maka ia
segera datang ke rumah Nabi saw. yang kebetulan pada waktu itu tidak dijaga
oleh seorangpun. Kata wanita itu: Sesungguhnya saya tadi tidak mengetahui
bahwa yang berbicara adalah engkau ya Rasulallah. Sabda beliau saw.:
Sesungguhnya kesabaran itu hanyalah pada pukulan yang pertama dari
datangnya musibah. (HR Bukhori dan Muslim)
Lihat hadits terakhir diatas ini, Rasulallah saw. melihat wanita tersebut
dipekuburan dan tidak melarangnya untuk berziarah, hanya dianjurkan agar
sabar menerima atas kewafatan anaknya (yang diziarahi tersebut).
Muhibbuddin at-Thabari pun dalam kitabnya yang berjudul ar-Riyadh anNadhirah jilid 2 halaman 330 menyebutkan bahwa: Suatu saat, ketika Umar
bin Khatab (Khalifah kedua ) ra. bersama beberapa sahabatnya pergi untuk
melaksanakan ibadah haji di tengah jalan ia berjumpa dengan seorang tua
yang meminta tolong kepadanya. Sepulang dari haji kembali ia melewati
tempat dimana orang tua itu tinggal dan menanyakan keadaan orang tua tadi.
Penduduk daerah itu mengatakan: Ia telah meninggal dunia. Perawi berkata:
Kulihat Umar bergegas menuju kuburan orang tua itu dan di sana ia melakukan
shalat. Kemudian dipeluknya kuburan itu sambil menangis.
Nah, insya Allah keterangan diatas itu jelas bahwa ziarah kubur itu sunnah dan
berlaku bagi lelaki maupun wanita. Yang lebih heran lagi kami pernah
mendengar dari saudara muslim bahwa ada orang yang pergi ke tanah suci
untuk menunaikan Haji atau Umrah tapi tidak mau ziarah pada junjungan kita
Rasulallah saw., karena hal ini dianggap bidah. Mungkin saudara-saudara kita
itu mendapat kesalahan informasi tentang ziarah kubur. Kita telah membaca
keterangan diatas banyak hadits shohih Rasulallah saw. yang menganjurkan
kaum muslimin untuk berziarah, memberi salam dan berdoa untuk si mayit
pada waktu sholat jenazah dan berziarah tersebut, dengan tujuan agar kita
lebih mengingat pada Allah swt. dan akhirat.
Dengan adanya hadits-hadits dan wejangan para ulama pakar diatas itu
menunjukkan bahwa ziarah kubur adalah sunnah Rasulallah saw. Kalau kita
disunnahkan ziarah kubur pada kaum muslimin, bagaimana kita bisa melupa
kan ziarah kubur makhluk Ilahi yang paling mulya dan taqwa Rasulallah saw.
Tanpa beliau kita tidak mengetahui syariat-syariat Islam,juga dengan berdiri
dimuka makam beliau saw. kita akan lebih konsentrasi untuk ingat pada Allah
dan Rasul-Nya !.
Adab berziarah dan berdoa di depan makam Rasulallah saw.
Sebagaimana yang telah kami singgung diatas bahwa adab berziarah
kekuburan orang muslimin yang diajarkan oleh Rasulallah sw. yaitu menghadapkan wajahnya kekuburan itu kemudian memberi salam dan berdoa..
Tetapi golongan Wahabi/Salafi yang menjaga disekitar makam Rasulallah
saw. sering membentak orang-orang yang sedang berziarah agar waktu
berdoa supaya menghadap ke kiblat.
Para ulama mengatakan, bahwa diperbolehkan bagi orang yang berziarah
kemakam Rasulallah saw., berdiri mengucapkan doa mohon kepada Allah swt.
agar dikarunia kebajikan dan kebaikan apa saja yang diinginkan dantidak

harus menghadap kearah kiblat (Kabah). Berdiri seperti ini bukan bidah, bukan
perbuatan sesat dan bukan pula perbuatan syirik. Para ulama telah
menfatwakan masalah itu bahkan ada diantara mereka yang memandangnya
mustahab/baik.
Masalah tersebut pada mulanya berasal dari peristiwa yang dialami oleh Imam
Malik bin Anas ra., yaitu ketika beliau mendapat tegoran dari Khalifah Abu Jafar
Al-Manshur di dalam masjid Nabawi di Madinah. Ketika itu Imam Malik
menjawab: Ya Amirul-Muminin, janganlah anda bersuara keras didalam masjid
ini, karena Allah swt. telah mengajarkan tatakrama kepada ummat ini dengan
firman-Nya: Janganlah
kalian
memperkeras
suara
kalian (dalam
berbicara) melebihi suara Nabi.dan seterusnya (QS.Al-Hujurat:2). Allah swt.
juga memuji sejumlah orang dengan firman-Nya : Sesungguhnya mereka yang
melirihkan suaranya dihadapan Rasulallahdan seterusnya (QS.Al-Hujurat:3).
Begitu juga Allah swt. mencela sejumlah orang dengan firmanNya : Sesungguhnya orang-orang yang memanggil-manggilmu dari luar
kamardan seterusnya. (QS.Al-Hujurat :4).
Rasulallah saw. adalah tetap mulia, baik selagi beliau masih hidup maupun
setelah wafat. Mendengar jawaban itu Abu Jafar terdiam, tetapi kemudian
bertanya: Hai Abu Abdullah (nama panggilan Imam Malik), apakah aku harus
berdoa sambil menghadap Kiblat, atau menghadap (pusara) Rasulallah saw.?.
Imam Malik menjawab: Mengapa anda memalingkan muka dari beliau saw.,
padahal beliau saw. adalah wasilah anda dan wasilah Bapak anda, Adam
as., kepada Allah swt. pada hari kiamat kelak ?. Hadapkanlah wajah anda
kepada beliau saw. dan mohonlah syafaat beliau, beliau pasti akan memberi
syafaat kepada anda di sisi Allah swt. Allah telah berfirman: Sesungguhnya
jikalau mereka ketika berbuata dhalim terhadap dirinya sendiri (lalu
segera) datang menghadapmu (Muhammad saw.)dan seterusnya (QS. AnNisa:64) . (Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Qadhi Iyadh dengan isnadnya yang
terdapat didalam kitabnya Al-Maruf Bisy-Syifa Fit-Tarif pada bab Ziarah.)
Banyak ulama yang menyebut peristiwa/riwayat diatas ini.
Ibnu Taimiyyah sendiri menuturkan apa yang pernah diriwayatkan oleh Ibnu
Wahb mengenai Imam Malik bin Anas. Tiap saat ia (Imam Malik)
mengucapkan salam kepada Nabi saw., ia berdiri dan menghadapkan
wajahnya ke arah pusara Nabi saw., tidak kearah kiblat. Ia mendekat,
mengucapkan salam dan berdoa, tetapi tidak menyentuh pusara dengan
tangannya (dari Iqtidha-us Shiratul-Mustaqim halaman 397).
(Mengenai riwayat menyentuh pusara silahkan baca babTawassul/Tabarruk di
buku inipen).
Imam Nawawi didalam kitabnya yang berjudul Al-Idhah Fi BabizZiyarahmengetengahkan juga kisah itu. Demikian juga didalam Al-Majmu jilid
VIII halalam 272.
Al-Khufajiy didalam Syarhusy-Syifa menyebut, bahwa As-Sabkiy mengata- kan
sebagai berikut: Sahabat-sahabat kami menyatakan, adalah mustahab jika
orang pada saat datang berziarah ke pusara Rasulallah saw. menghadapkan
wajah kepadanya (Rasulallah saw) dan membelakangi Kiblat, kemudian
mengucapkan salam kepada beliau saw., beserta keluarganya (ahlu-bait beliau
saw.) dan para sahabatnya, lalu mendatangi pusara dua orang sahabat beliau
saw. (Khalifah Abubakar dan Umar radhiyallhu anhuma). Setelah itu lalu
kembali ketempat semula dan berdiri sambil berdoa . (Syarhusy-Syifa jilid III
halaman 398).
Lihat pula Mafahim Yajibu An Tushahhah, oleh As-Sayyid Muhammad bin Alwi
Al-Maliki Al-Hasani, seorang ulama di Tanah Suci, Makkah.
Dengan demikian tidak ada ulama yang mengatakan cara berziarah yang
tersebut diatas adalah haram, bidah, sesat dan lain sebagainya, kecuali
golongan Wahabi dan pengikutnya.
Dalil-dalil yang melarang ziarah kubur dan jawabannya.
Golongan yang melarang ziarah kubur menukil dalil-dalil sebagai berikut :

Fatwa Ibnu Taimiyah dalam kitab Minhaj as-Sunah jilid 2 halaman 441
menyatakan: Semua hadits-hadits Nabi yang berkaitan dengan menziarahi
kuburnya merupakan hadits yang lemah (Dzaif), bahkan dibikin-bikin (Jali) .
Dan dalam kitab yang berjudul at-Tawassul wal Wasilah halaman 156 kembali
Ibnu Taimiyah mengatakan: Semua hadits yang berkaitan dengan ziarah kubur
Nabi adalah hadits lemah, bahkan hadits bohong. Ungkapan Ibnu Taimiyah ini
diikuti secara fanatik oleh semua ulama Wahabi, termasuk Abdul Aziz bin Baz
dalam kitab kumpulan fatwanya yang berjudul Majmuatul Fatawa bin Baz jilid: 2
halaman 754, dan banyak lagi ulama-ulama Wahabi lainnya.
Disamping dalil diatas mereka juga berdalih dengan beberapa ayat al-Quran
dan hadits yang sama sekali tidak bisa diterapkan kepada kaum muslimin. Dalil
mereka yang disandarkan pada ayat 84 dari surat at-Taubah, dimana Allah swt
berfirman: Dan
janganlah
kamu
sekali-kali
menyembahyangkan (jenazah) seorang mati di antara mereka, dan janganlah
kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya.
Kaum pengikut Wahabi menganggap bahwa ayat itu membuktikan
akanpelarangan ziarah kubur secara mutlak. Padahal, mayoritas ulama
Ahlusunah yang menafsirkan ayat tadi dengan tegas menyatakan bahwa ayat
itu berkaitan dengan kuburan kaum munafik, bukan kaum muslim, apalagi
kaum mukmin. Jadi ayat tersebut tidak berlaku jika penghuni kubur itu adalah
seorang muslim dan mukmin sejati, apalagi jika penghuni kubur tadi tergolong
kekasih (Wali) Allah swt..
Al-Baidhawi dalam kitab Anwarut Tanzil jilid 1 halaman 416 dan al-Alusidalam
kitab Ruhul Maani jilid 10 halaman 155 dalam menafsirkan ayat tadi
menyatakan bahwa ayat itu diturunkan untuk penghuni kubur yang
tergolong kaum munafik dan kafir.
Bagaimana mungkin kelompok Wahabi memutlakkannya yang berarti
mencakup segenap kaum muslimin secara keseluruhan, termasuk mencakup
kuburan wali Allah? Apakah kaum Wahabi telah menganggap bahwa segenap
kaum muslimin dihukumi sama dengan kaum kafir dan munafik? Apakah hanya
yang meyakini akidah Wahabi yang dianggap muslim dan monoteis
(Muwahhid) sejati? Pikiran semacam itu adalah pikiran yang dangkal sekali.
Kita ingin bertanya lagi pada golongan pengingkar itu; Bagaimana dengan
argumentasi hadits-hadits diatas dan hadits-hadits lainnya yang tercantum
dalam kitab-kitab standart dan karya para ulama terkemuka Ahlusunah wal
Jamaah? Dalam kitab-kitab hadits disebutkan bahwa Nabi saw. bukan hanya
tidak melarang umatnya untuk menziarahi kubur, bahkan beliau menganjurkan
hal tersebut, guna mengingat kematian dan akherat! Hal itu dikarenakan
dengan ziarah kubur manusia akan mengingat akhirat. Dan dengan itu akan
meniscayakan manusia beriman untuk semakin ingat dengan Tuhannya. Malah
beliau saw. mengajarkan kepada kita bagaimana adab atau cara berziarah!!
Begitu juga beberapa fatwa para Imam madzhab fikih Ahlusunah wal Jamaah
yang membuktikan bahwa ziarah kubur diperbolehkan.
Apakah Ibnu Taimiyyah dan golongan Wahabi serta pengikutnya akan
meragukan keshahihan Sahih Muslim dan para perawi lainnya yang tersebut
diatas, sehingga mereka mengatakan bahwa legalitas hadits ziarah kubur
merupakan kebohongan? Jika menziarahi kuburan muslim biasa saja diperbolehkan secara syariat lantas apa alasan mereka mengatakan bahwa
menziarahi kubur manusia agung seperti Muhammad Rasulullah saw. yang
merupakan kekasih sejati Allah pun adalah kebohongan?
Beranikah golongan pengingkar itu menvonis Umar bin Khatab ra. yang shalat
dan menangis di depan kuburan orang tua itu sebagai seorang yang musyrik?
Beranikah mereka mengatakan bahwa ummul mukminin Aisyah ra. dan Umar
bin Khattab ra. telah melakukan hal yang tanpa dalil (bidah)? Beranikah
golongan pengingkar ini mengatakan bahwa shalat, berdoa dan tangisan Umar
bin Khatab di sisi kuburan orang tua tadi merupakan perbuatan Syirik?

Mungkinkah khalifah kedua dan ummul mukiminin Aisyah melakukan syirik,


perbuatan yang paling dibenci oleh Allah?
Bukankah mereka berdua adalah tokoh dari Salaf Sholeh yang konon ajarannya akan dihidupkan kembali oleh pengikut Wahabi, lantas mengapa mereka
ini berfatwa tidak sesuai dengan ajaran mereka berdua, dan tidak sesuai
dengan ajaran Rasulallah saw.?
Jika benar bahwa kelompok Wahabi memiliki misi untuk menghidupkan kembali
ajaran Salaf Sholeh maka hendaknya mereka membolehkan berziarah kubur,
melaksanakan shalat di sisi kuburan dan atau menangis di samping kubur
sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khattab (khalifah kedua)!
Ada lagi dari golongan pengingkar yang melarang ziarah kemakam Nabi saw.
dengan alasan hadits berikut ini: Jangan susah-payah bepergian jauh kecuali
ke tiga buah masjid; Al-Masjidul-Haram, masjidku ini (di Madinah) dan AlMasjidul-Aqsha (di Palestina).
Sebenarnya hadits diatas ini berkaitan dengan masalah sembahyang jadi
bukan masalah ziarah kubur. Yang dimaksud hadits tersebut ialah jangan
bersusah-payah bepergian jauh hanya karena ingin bersembahyang di masjid
lain, kecuali tiga masjid yang disebutkan dalam hadits itu. Karena sembahyang
disemua masjid itu sama pahalanya kecuali tiga masjid tersebut. Makna ini
sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal yaitu
Rasulallah saw. pernah bersabda:
Orang tidak perlu bepergian jauh dengan niat mendatangi masjid karena ingin
menunaikan sholat didalamnya, kecuali Al-Masjidul-Haram(di Makkah), AlMasjidul- Aqsha (di Palestina) dan masjidku (di Madinah)Imam Al-Hafidz Ibnu
Hajar mengatakan bahwa hadits ini terkenal luas (masyhur) dan baik.
Hadits yang semakna diatas tapi sedikit perbedaan kalimatnya yang
diriwayatkan oleh Aisyah ra. dan dipandang sebagai hadits baik dan masyhur
oleh Imam Al-Hafidz Al-Haitsami yaitu :
Orang tidak perlu berniat hendak bepergian jauh mendatangi sebuah masjid
karena ingin menunaikan sholat didalamnya kecuali Al-Masjidul-Haram, AlMasjidul-Aqsha (di Palestina) dan masjidku ini (di Madinah) . (MajmauzZawaid jilid 4/3). Dan beredar banyak hadits yang semakna tapi berbeda
versinya.
Dengan demikian hadits-hadits diatas ini semuanya berkaitan dengan sholat
bukan sebagai larangan untuk berziarah kubur kepada Rasulallah saw. dan
kaum muslimin lainnya!
Ada lagi pikiran yang aneh dari golongan pengingkar yang mengatakan bahwa
ziarah kubur dilarang pada masa awal perkembangan Islam karena masalah ini
memang akan bisa menjatuhkan orang dalam bahaya kesyirikan dan kondisi
keimanan seseorang. Jadi sebagai tindakan hati-hati sangatlah wajar jika kita
kaum muslimin untuk tidak melakukan ziarah kubur.
Lebih lanjut kata mereka; Sering terjadi kekeliruan waktu Ziarah Kubur
umpamanya: Mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk berziarah (bulan
Syaban, idul Fithri dll), berdoa kepada penghuni kubur, menyembelih
binatang di sisi kuburan yang ditujukan kepada si mayit, sujud, membungkuk ke
arah kuburan, kemudian mencium dan mengusapnya, shalat di atas kuburan.
Ini semua tidak diperbolehkan kecuali shalat jenazah dan Nabi saw. bersabda,
(Janganlah kalian sholat di atas kubur), menaburkan bunga-bunga dan pelepah
pepohonan di atas pusara kubur. Adapun apa yang dilakukan Nabi saw. ketika
meletakkan pelepah kurma di atas kubur adalah kekhususan untuk beliau dan
berkaitan dengan perkara ghaib, karena Allah memperlihatkan keadaan
penghuni kubur yang sedang disiksa, mempunyai persangkaan bahwa berdoa
di kubur itu lebih terkabulkan sehingga harus memilih tempat tersebut,
memakai sandal ketika memasuki pekuburan, duduk di atas kubur dan lain
sebagainya.
Jawabannya:

Pemikiran-pemikiran seperti diatas dari golongan pengingkar sebagai alasan


untuk mengharamkan ziarah kubur adalah tidak berdasarkan dalil dari Sunnah
Rasulallah saw., tidak lain berdasarkan pikiran dan logika mereka
sendiri. Begitu juga bila pemikiran diatas dijadikan alasan untukmelarang ziarah
kubur maka hal itu akan berbenturan dengan hadits-hadits shohih Rasulallah
saw. yang membolehkan dan menganjurkan ziarah kubur, memberi salam dan
berdoa untuk dimuka makam ahli kubur, dan lain sebagainya (baca keterangan
diatas dan selanjutnya pada bab ziarah kubur ini dan lihat juga bab
tawassul/tabarruk dll. dibuku ini).
Hadits Nabi saw. tadi Dahulu saya melarang ziarah kubur, namun kini
berziarahlah.. jelas sekali bagi orang yang mau berpikir hukum yang lama
yaitu larangan ziarah kubur akan terhapus/mansukh dengan hukum yang baru
yaitu diperbolehkannya ziarah tersebut. Mengapa golongan pengingkar ini
selalu takut-takut sendiri orang jatuh kedalam kesyirikan bila berziarah
kekuburan ?Sedangkan manusia yang paling taqwa dan mulia disisi Allah swt.
Muhammad Rasulallah saw. telah menganjurkannya!!
Apakah beliau saw. akan menganjurkan sesuatu amalan yang berbau
kesyirikan atau kemungkaran atau mengakibatkan kesyirikan ? Apakah para
sahabat Nabi saw. yang mulia dan tokoh dari para Salaf Sholeh serta para
ulama pakar yang berziarah kemakam Rasulallah saw., kemakam para sholihin
serta bertawassul dan bertabarruk (baca bab tawassul/tabarruk dibuku
ini) kepada mereka tidak mengerti hukum syariat Islam ?, dan hanya ulama
dari pengikut madzhab Wahabi saja yang memahaminya ?
Waktu-waktu tertentu untuk berziarah: Rasulallah saw. tidak pernahmewajib
kan maupun melarang waktu-waktu tertentu untuk berziarah kubur, orang boleh
berziarah pada waktu apapun baik itu malam, pagi, siang hari dan pada bulan
Syaban, Idul Fihtri dan lain sebagainya. Dimana dalilnya bahwa Rasulallah
saw. melarang ziarah kubur pada waktu-waktu tertentu? Kenapa justru
golongan pengingkar ini yang melarangnya?
Dalam syariat Islam telah menyatakan adanya bulan, hari yang mulia umpama
bulan-bulan Hurum/suci (Muharram, Dzul-Kiddah, Dzul-Hijjah, Rajab) begitu
juga bulan Syaban, Ramadhan, hari Kamis, Jumat dan lain sebagainya
(mengenai hal ini silahkan baca keterangan pada bab nishfu Syaban, majlis
dzikir dan lainnya pada halaman lain dibuku ini atau dikitab-kitab ulama ahli
fiqih). Pada bulan dan hari itu Allah swt. lebih meluaskan Rahmat dan
Ampunan-Nya kepada makhluk yang berdoa, beramal sholeh dan
mengharapkan Rahmat dan Ampunan Ilahi.
Disamping bulan-bulan atau hari-hari biasa kaum muslimin berziarah ke
pekuburan, mereka juga lebih memanfaatkannya pada bulan dan hari yang
mulia untuk beramal sholeh diantaranya berziarah kekuburan kerabatnya atau
para sholihin. Jadi tidak ada diantara kaum muslimin yang berfirasat hanya
(khusus) pada bulan atau hari tertentu orang dibolehkan berziarah, ini tidak lain
hanya pikiran dan karangan golongan pengingkar sendiri!!
Apakah
mereka
ini
tahu
hukumnya
dalam
Islam
orang
yangmengharamkan sesuatu amalan yang halal dan menghalalkan suatu
amalan yang haram? Kalau sudah mengetahui hukumnya mengapa kok masih
sering berani menghukumi setiap amalan yang tidak sepahamdengannya
sebagai amalan haram, syirik dan lain sebagainya? Ingat firman
Allah swt.dalam surat An-Nahl:116; Dan janganlah kamu mengatakan
terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta Ini halal dan in
haram untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allahsampai akhir
ayat
Golongan pengingkar ini sering mengharamkan suatu amalan yang tidak
sepaham dengan mereka dengan alasan bahwa Nabi saw. atau para sahabat
tidak pernah melakukan mengapa kita melakukan hal itu. Kaedah seperti inilah
yang sering digembar-gemborkan oleh mereka. Padahal kalau kita teliti firman
Allah swt. yang telah kami kemukakan sebelumnya dalam surat Al-Hasyr :7 :


Apa saja yang didatangkan oleh Rasul kepadamu, maka ambillah dia dan apa saja yang
kamu dilarang daripadanya, maka berhentilah (mengerjakan nya).(QS. Al-Hasyr :7). Dalam ayat ini jelas
bahwa perintah untuk tidak mengerjakan sesuatu itu adalah apabila telah tegas dan jelas larangannya dari
Rasulallah saw. !

Dalam ayat diatas ini tidak dikatakan :

Dan apa saja yang tidak pernah dikerjakannya (oleh


(mengerjakannya).
Juga dalam hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Bukhori:

Rasulallah),

Jika
aku menyuruhmu melakukan
sesuatu,
maka
aku melarangmu melakukan sesuatu, maka jauhilah dia !
Dalam hadits ini Rasulallah saw. tidak mengatakan:

lakukanlah

maka

berhentilah


semampumu

dan

jika


Dan apabila sesuatu itu tidak pernah aku kerjakan, maka jauhilah dia!
Begitu juga syariat Islam telah menyatakan adanya kehidupan ruh-ruh orang mumin yang telah wafat
dialam barzakh (bisa mengerjakan sholat, bisa menghadiri tempat kuburnya, terbang kemana-mana
menurut kehendaknya, berdoa kepada Allah swt. untuk para kerabatnya yang masih hidup, mendengar
omongan orang yang hidup dan lain sebagainya baca keterangan selanjutnya dibab ini dan pada bab
tawassul/tabarruk dibuku ini). Kalau ruhnya orang mumin biasa saja bisa berbuat demikian apalagi
dengan Ruhnya Rasulallah saw. para Nabi, para wali, dan kaum sholihin!! Dengan adanya hadits-hadits
itu, disamping para penziarah berdoa kepada Allah swt.untuk ahli kubur (bukan berdoa kepada ahli
kubur tetapi untuk ahli kubur) juga bertawassul, bertabarruk dengan penghuni kubur agar penghuni kubur
itu ikut berdoa kepada Allah swt.untuk penziarah itu.
Menaburkan bunga, menanam pelepah pohon: Dengan adanya hadits-hadits tentang kehidupan ruh-ruh
itu itu, para penziarah ada yang menaburkan bunga diatas kuburan tidak lain hanya sebagai
penghormatan atau kecintaan kepada ahli kubur itu, sebagaimana orang yang masih hidup yang sering
antara satu dan lain memberi bunga untuk penghormatan. Itu semua tidak ada salahnya, selama
penghormatan kepada manusia baik yang hidup maupun yang telah mati tidak dibarengi dengan
keyakinan bahwa obyek yang dihormati itu memiliki sifat ketuhanan.
Sedangkan menaruh atau menanam pelepah diatas kuburan juga tidak ada salahnya, Nabi saw. sendiri
telah mencontohkannya didalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan lain-lain dari Ibnu
Abbas ra. Dalam hadits itu Nabi saw. minta pelepah pucuk kurma lalu dibelahnya satu ditanamkannya
kepada satu kubur dan satu lagi pada kubur yang lain dengan berdoa semoga mereka berdua diberi
keringanan (dari siksa kubur) selama pelepah ini belum kering.
Dengan adanya hadits itu ummat beliau saw. juga mencontoh perbuatan beliau saw. menanamkan
pelepah pohonan diatas kubur sambil berdoa kepada ahli kubur. Dalam hadits itu Nabi saw.
tidak melarang atau menyuruh umatnya untuk berbuat seperti beliau saw., tapi bila ada kaum muslimin
yang meniru perbuatan beliau saw. tidak lain karena beliau saw. sebagai contoh dari umatnya. Malah ada
hadits shohih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori bahwa Buraidah Aslami berpesan agar pada
kuburnya ditanamkan dua pucuk kurma. Ada juga riwayat hadits bahwa binatang-binatang dan pepohonan
itu selalu bertasbih kepada Allah swt.
Pertanyaan sekarang terhadap golongan pengingkar, mengapa merekamengharamkan perbuatan itu
sedangkan Nabi saw. tidak melarang bila ada ummatnya yang meniru perbuatannya tersebut?
Mana dalilnya dari Nabi saw. bahwa orang tidak boleh menaburkan bunga atau menanam pelepah diatas
kuburan? Apakah Buraidah Aslami waktu berwasiat itu tidak mengerti hukum syariat Islam?
Berdiri secara khidmat, atau berbuat tawadhu (rendah diri) dan sopandihadapan kuburan itu tidak ada
salahnya selama perbuatan itu sebagai penghormatan/tadim saja terhadap ahli kubur dan bukan
sebagai ibadah.Begitu juga mencium atau mengusap-usap kuburan tidak ada salahnya selama niatnya
sebagai tabarruk / pengambilan barokah (baca bab tawassul/ tabarruk). Apakah golongan pengingkar ini
masih ingat ayat Al-Quran yang menyebutkan tentang sujudnya para malaikat kepada Adam as.
dan sujudnya saudara-saudara Yusuf as. kepada Nabi Yusuf as. Semua ahli tafsir mengatakan bahwa
sujud diayat itu sebagai sujud penghormatan bukan sebagai ibadah kepadaobyek yang dihormati.
Kalau sujud disitu tidak dicela oleh Allah swt. karena tidak lain hanya merupakan penghormatan mengapa
golongan pengingkar beranimengharamkan sampai mensyirikkan orang yang berdiri khidmat dan lain
sebagainya dihadapan kuburan Rasulallah saw., para sahabat atau para sholihin lainnya? Semua amalan

itu tergantung dari niatnya.(hadits shohih), kalau niat orang itu untuk menghormat kepada ahli kubur,
maka tidak ada masalah nya, tetapi kalau niatnya beribadah kepada kuburan, maka inilah yang tidak
dibolehkan oleh syariat. Sama halnya orang yang rukuk dan sujud dimuka bangunan dari batu yaitu
Kabah, bila dia rukuk atau sujud menganggap sebagai ibadah kepada Kabah maka akan hancurlah
keimanannya, karena ibadah hanya ditujukan kepada Allah swt.!!.
Bila ada penziarah kubur berkeyakinan bahwa ahli kubur (obyek yang diziarahi) itu bisa merdeka (tanpa
izin Allah swt.) memberi syafaat pada penziarah kubur, keyakinan inilah yang dilarang oleh agama. Jadi
sekali lagi semua itu terletak pada keyakinan seseorang. Kita tidak boleh mengharam- kan ziarah
kubur karena perbuatan perorangan/individu yang berkeyakinan salah itu. Karena ziarah kubur ini sejalan
dengan hukum syariat Islam !
Maka dari itu janganlah seenaknya sendiri tanpa dalil agama yang jelasanda mensyirikkan seseorang
karena melihat secara lahir perbuatan orang tersebut, karena anda tidak mengetahui keyakinan di
hati setiap orang !! Ingatlah hadits riwayat Muslim (Shahih Muslim Bab 41 no. 158 dan hadits yang
sama no.159) bahwa Usamah bin Zaid ra membunuh seorang pimpinan Laskar Kafir yang telah terjatuh
pedangnya, lalu dengan wajah tidak serius ia (laskar kafir) mengucap syahadat, lalu Usamah
membunuhnya. Betapa murkanya Rasulallah saw. saat mendengar kabar itu.., seraya bersabda : Apakah
engkau membunuhnya padahal ia mengatakan Laa ilaaha Illallah !!? Lalu Usamah ra. berkata: Kafir itu
hanya bermaksud ingin menyelamatkan diri Wahai Rasulullah.., maka beliau saw. bangkit dari duduknya
dengan wajah merah padam dan membentak: Apakah engkau telah belah sanubarinya hingga engkau
tahu isi hatinya (perkataan ini diulangi tiga kali)..sampai akhir hadits ? Renungkanlah !
Allah swt. akan mengabulkan doa para hamba-Nya dimanapun dia berada, tetapi bila kita berdoa
disekitar Kabah, Maqam Ibrahim dan tempat-tempat lain yang mulia disisi Allah swt. termasuk juga
disekitar kuburan Rasulallah saw., kuburan para Nabi lainnya, para sahabat Rasulallah saw. dan para
kaum sholihin yang pribadi mereka dimuliakan oleh Allah swt. harapan cepat terkabulnya doa lebih
besar daripada kalau kita berdoa kepada Allah swt. dirumah atau dipasar. Banyak riwayat yang
menceritera- kan tempat-tempat mustajab doa, jadi tidak semua tempat sama !.
Memakai
sandal di
kuburan
para
ulama
berbeda
pendapat
hukumnya.Kebanyakan
ulama berpendapat tak ada salahnya berjalan di pekuburan dengan memakai terompah dan ada lagi
ulama yang memakruhkan memakaiterompah yang mewah bila tidak ada udzurnya (banyak duri dll).
Jureir bin Ibnu Hazim berkata : Saya melihat Hasan dan Ibnu Sirin berjalan diantara kubur-kubur dengan
memakai terompah.
Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Muslim, Abu Daud dan Nasai dari Anas bin Malik ra. bahwa Nabi
saw. bersabda : Seorang hamba bila ia telah diletakkan dalam kuburnya dan teman-temannya telah
berpaling, maka sesungguhnya ia (si mayyit) mendengar bunyi terompah-terompah mereka. Hadits ini
sebagai alasan dibolehkannya berjalan di kuburan memakai terompah. Karena tidaklah akan didengar
bunyi terompah itu jika tidak dipakai.!!
Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal telah menganggap makruh memakai terompah Sibtit terompah
mewah di pekuburan berdasarkan riwayat Abu Daud, Nasai dan Ibnu Majah dari Basyir bekas budak
Nabi saw. yang berkata: Rasulallah saw. melihat seorang lelaki yang berjalan di pekuburan dengan
berterompah, maka sabdanya; Hai orang yang berterompah Sibtit,lemparkanlah terompahmu itu!. Lelaki
itu pun menoleh, dan demi dikenal nya Rasulallah saw. maka ditanggalkannya terompahnya lalu
dilemparkan-nya.
Imam Ahmad mengatakan makruh ialah jika tidak ada udzur. Maka jika terdapat sesuatu keudzuran yang
mengharuskan seseorang buat memakai terompah misalnya karena banyak duri atau
najis, lenyaplah hukum makruh itu !!
Berkata Khathabi: Tampaknya hal itu dimakruhkan ialah karena menunjuk- kan kemewahan,
sebab terompah Sibtit itu biasanya dipakai oleh golongan mampu yang bermewah-mewah. Lalu katanya
lagi : Maka Keinginan Nabi saw. hendaklah memasuki pekuburan itu dengan sikap tawadhu (rendah
diri) dan berpakaian seperti orang khusyu .
Dengan adanya dalil-dalil diatas para pembaca bisa menilai sendiri apakah benar komentar golongan
pengingkar yang mengharamkan orang yang pakai sandal di pekuburan?.Hukum makruhnya saja masih
belum mutlak!!
Duduk diatas kubur dianggap kurang penghargaan terhadap penghuni kubur, maka dari itu para ulama
berbeda pendapat juga waktu menerangkan hadits Rasulallah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,
Ahmad, Abu Daud dan lainnya dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda: Lebih baik jika
seseorang diantaramu duduk diatas bara panas hingga membakar pakaian- nya dan tembus kekulitnya
daripada ia duduk diatas kubur.

Dengan adanya hadits itu, jumhur (pada umumnya) ulama ada yangmemakruhkan hal itu, ada lagi yang
membolehkan dan ada lagi yangmengharamkan. Untuk mempersingkat halaman marilah kita ambil dalil
dari jumhur ulama yang memakruhkan.
Imam Nawawi berkata : Melihat gelagat ucapan Syafii dalam kitab Al-Umm, begitu pun golongan
terbesar dari kawan-kawan sealiran, dimakruhkan duduk dikubur, maksudnya larangan itu adalah buat
makruh, sebagaimana biasa terdapat dalam pengertian fukaha, bahkan banyak diantara mereka yang
menyatakannya dengan tegas. Ulasnya pula: Demikian pula halnya pendapat jumhur ulama, termasuk
didalamnya Nakhi, Laits, Ahmad dan Abu Daud.Imam Nawawi melanjutkan; Juga sama makruh
hukumnya, bertelekan diatasnya dan bersandar padanya.
Sebaliknya Ibnu Umar dari golongan sahabat, Imam Abu Hanifah, dan Imam Malik menyatakan tidak ada
salahnya (boleh) duduk di kubur. Sedangkan pendapat yang mengharamkan ialah Ibnu Hazmin. Wallahu
alam
( Keterangan diatas mengenai memakai sandal dan duduk diatas kubur dinukil dari kitab Fiqih Sunnah
Sayyid Sabiq jilid 4 cet.pertama th 1978 hal.175 dan 181)
Sedangkan hadits riwayat Imam Bukhori mengenai membina masjid diatas(bukan disisi) kubur
ialah: Mereka (Yahudi dan Nasrani) itu, jika ada seorang yang sholeh diantara mereka meninggal,
mereka binalah diatasmakamnya sebuah masjid dan mereka buat didalamnya patung-patung.sampai
akhir hadits dan hadits lainnya tentang sholat diatas kuburan, itu tidak jelas apakah pelarangan (tempat
ibadah dan arah kiblat) menjurus kepada hukum haram ataupun hanya sekedar makruh (tidak sampai
pada derajat haram) saja. Hal itu dikarenakan Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya (lihat kitab Shahih alBukhari jilid 2 halaman 111) dimana beliau mengumpulkan hadits-hadits semacam itu ke dalam topik Bab
apa yang dimakruhkan dari menjadikan masjid di atas kuburan (Bab maa yukrahu min ittikhodz alMasajid alal Qubur) dimana ini meniscayakan bahwa hal itu sekedar pelarangan yang
bersifat makruh saja yang selayaknya dihindari, bukan mutlak haram. Begitu juga hadits diatas itu jelas
makruh membina masjid atau sholat diatas kuburan bukan disisi kuburan.
Larangan Nabi saw. dalam hadits tadi dapat diambil suatu pelajaran bahwa kaum Yahudi dan Nasrani
telah menjadikan kuburan para nabi dan manusia sholeh dari mereka bukan hanya sebagai tempat ibadah
melainkan sekaligus sebagai kiblat (arah ibadah). Lainnya halnya dengan orang muslimin yang
mengambil tempat sholat disisi kuburan orang sholeh hanya sebagaitabarrukan bukan sebagai arah
kiblat.
Imam Syafii dalam kitabnya Al Umm bab Pekerjaan setelah penguburan mengatakan: Saya
memandang makruh membangun masjid di atas kuburan, atau diratakan kemudian sholat diatasnya.
Namun apabila ia telah sholat, maka ia tidak mengapa, tapi ia telah berbuat yang tidak baik.
Kalau golongan pengingkar tetap bersikeras mengharamkan sholat meng- hadap kuburan dan lain
sebagainya seperti yang telah dikemukakan, kami ingin bertanya kepada mereka: Dimana letak kuburan
Rasulallah saw. khalifah Abubakar dan khalifah Umar bin Khattab [ra], apakah tidak terletak didalam
masjid Nabawi? Mengapa ulama-ulama mereka yang di Madinah membiarkan orang muslimin sholat
dihadapan, dibelakang, disamping kuburan tersebut? Malah kebanyakan kaum muslimin ingin sholat
dekat atau disekitar kuburan Rasulallah saw. dan dua sahabatnya itu, sebagai tabarrukan.
Keterangan lebih mendetail masalah ini silahkan baca halaman selanjutnya mengenai membina masjid
disisi kuburan dan memberi penerangan dikuburan. Wallahu alam
Pembacaan Al-Quran di kuburan untuk orang yang telah wafat
Hadits tentang wasiat Ibnu Umar ra yang tertulis dalam syarah Aqidah Thahawiyah hal. 458 :


)(

Dari Ibnu Umar ra : Bahwasanya beliau berwasiat agar diatas


kuburnya nanti sesudah pemakaman dibacakan awal-awal surat alBaqarah dan akhirnya...
Dari Ibnu Umar ra: Bahwasanya beliau berwasiat agar diatas kuburnya nanti
sesudah pemakaman dibacakan awal-awal surat al-Baqarah dan akhirnya...
Hadits ini menjadi pegangan Muhammad bin Hasan dan Imam Ahmad bin
Hanbal padahal Imam Ahmad ini sebelumnya termasuk orang yang
mengingkari sampainya pahala amalan dari orang yang hidup pada orang yang
telah mati. Namun setelah beliau mendengar dari orang-orang kepercayaan
tentang wasiat Ibnu Umar ini beliaupun mencabut pengingkar- annya itu
(Mukhtasar Tazkirah Qurtubi hal. 25).
Ada hadits yang serupa dalam Sunan Baihaqi dengan isnad Hasan:
Bahwasanya Ibnu Umar menyukai agar dibaca diatas pekuburan sesudah
pemakaman awal surat Al-Baqarah dan akhirnya.

Perbedaan dua hadits terakhir diatas ialah yang pertama adalah wasiat Ibnu
Umar sedangkan yang kedua adalah pernyataan bahwa beliau menyukai hal
tersebut.
Hadits dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulallah saw.bersabda :Jika mati seorang
dari kamu, maka janganlah kamu menahannya dan segeralah mem- bawanya
kekubur dan bacakanlah Fatihatul Kitab disamping kepalanya. (HR. Thabrani
dan Baihaqi)
Abu Hurairah ra.meriwayatkan bahwasanya Nabi saw. bersabda :
Barangsiapa yang berziarah di kuburan, kemudian ia membaca Al-Fatihah,
Qul Huwallahu Ahad dan Alhaakumut takatsur, lalu ia berdoa Ya Allah,
kuhadiahkan pahala pembacaan firman-Mu pada kaum Muminin dan Muminat
penghuni kubur ini, maka mereka akan menjadi penolong baginya (pemberi
syafaat) pada hari kiamat.
Hadits-hadits diatas atau hadits-hadits lainnya dijadikan dalil yang kuat oleh
para ulama untuk menfatwakan sampainya pahala pembacaan Al-Quran bagi
orang yang telah wafat. Apa mungkin para sahabat Nabi seperti Ibnu Umar dan
Abu Hurairah [ra] mengeluarkan kata-kata yang mengandung ilmu gaib (yaitu
mengenai imbalan pahala) tidak dari Rasulallah saw. atau meriwayatkan
sesuatu amalan yang berbau kesyirikan atau larangan dalam agama Islam?
Mereka berdua adalah termasuk salah satu tokoh dari golongan Salaf Sholeh,
mengapa golongan pengingkar ini menolaknya ?
Imam Nawawi dalam Syahrul Muhadzdzib mengatakan: Disunnahkan bagi
orang yang berziarah kekuburan membaca beberapa ayat Al-Quran dan
berdoa untuk penghuni kubur.
Imam Nawawi menyimpulkan bahwa membaca Al-Quran bagi arwah orangorang yang telah wafat dilakukan juga oleh kaum Salaf (terdahulu). Pada
akhirnya Imam Nawawi mengutip penegasan Taqiyyuddin Abul Abbas Ahmad
bin Taimiyah (Ibnu Taimiyyah) sebagai berikut :
Barangsiapa berkeyakinan bahwa seorang hanya dapat memperoleh pahala
dari amal perbuatannya sendiri, ia menyimpang dari ijma para ulama dan
dilihat dari berbagai sudut pandang keyakinan demikian itu tidak dapat
dibenarkan.
Juga keterangan singkat yang diungkapkan seorang ulama terkemuka di
Indonesia Ustadz Quraish Shihab dalam bukunya Fatwa-fatwa Seputar ibadah
dan Muamalah halaman 27 mengenai berdoa dan membacakan Al-Quran
untuk orang mati adalah sebagai berikut :
Berdoa untuk kaum Muslimin yang hidup atau yang sudah wafat adalah
anjuran agama. Membaca Al-Quran juga merupakan salah satu bentuk ibadah
yang dianjurkan. Hanya saja, terdapat perbedaan paham di kalangan para
ulama masalah bermanfaat atau tidaknya bacaan itu bagi orang yang telah
wafat. Memang, dalam kitab-kitab hadits, ditemukan yang menganjurkan
pembacaan Al-Quran bagi orang yang akan atau telah wafat. Diantara- nya,
Abu Dawud meriwayatkan bahwa sahabat Nabi, Maqil bin Yasar, menyatakan
bahwa Nabi saw. bersabda: Bacalah surat Yaa Sin untuk orang-orang
yang (akan atau sudah) mati (dari kaum Muslim).
Nilai keshohihan hadits diatas ini dan semacamnya masih ada yang memper
selisihkannya. Sekalipun ada golongan yang mengatakan hadits-hadits
tersebut lemah atau tidak ada sama sekali tidak ada halangan untuk membaca
ayat Al-Quran bagi orang yang akan wafat atau telah wafat. Dikalangan para
ulama hadits, dikenal kaidah yang menyatakan bahwa hadits-hadits yang tidak
terlalu lemah dapat diamalkan khususnya dalam bidang fadhail (keutamaan) !
Para Ulama juga menyatakan bahwa membaca Al-Quranpada dasarnya
dibenarkan oleh agama dan mendapat pahala, kapan (kecuali orang yang
sedang junub/haidpen.) dan dimanapun berada (kecuali di wcpen.). Diantara
perselisihan ulama itu adalah Apakah dapat diterima hadiah pahala bacaan
tersebut oleh almarhum atau tidak! (Jadi bukan masalah pembacaannya!
pen.)

Syekh Muhammad Al-Syarabashi dalam bukunya Yasalunaka mengutip


pendapat Al-Qarafi dalam kitab Al-Furuq bahwa kebaikan yang dilakukan
seseorang untuk orang lain yang telah meninggal mencakup tiga kategori :
a). Disepakat tidak bermanfaat: memberi pahala keimanan kepada orang yang
telah wafat.
b). Disepakati bermanfaat: seperti shodaqah yang pahalanya diberikan kepada
orang telah wafat.
c) Diperselisihkan apakah bermanfaat atau tidak: seperti menghajikan,
berpuasa dan membaca Quran untuk orang yang telah meninggal.
Sementara madzhab Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, berpendapat pahalanya
dapat diterima oleh yang telah mati. Kemudian Imam Al-Qarafi yang
bermadzhab Maliki ini menutup keterangannya bahwa persoalan ini (pahala
untuk yang wafat), walaupun diperselisihkan, tidak wajar untuk ditinggalkan
dalam hal pengamalannya. Sebab, siapa tahu, hal itu benar-benar dapat
diterima oleh orang yang telah wafat, karena yang demikian itu berada diluar
jangkauan pengetahuan kita.
Perbedaan pendapat terjadi bukan pada hukum boleh tidaknya membaca AlQuran untuk orang yang akan atau telah wafat, melainkan pada
kenyataan sampai tidaknya pahala bacaan itu kepada si mayit! Demikianlah
keterang- an yang diungkapkan oleh Ustadz Quraish Shihab dalam bukunya
Fatwa-fatwa seputar ibadah dan muamalah.
Untuk mempersingkat halaman, penulis ingin mengutip sebagian saja
nama ulama-ulama pakar dan kitab mereka yang mengakui sampainyahadiah
pahala bacaan yang ditujukan untuk si mayit diantaranya sebagai berikut:
Imam Ahmad bin Hanbal; ulama-ulama dalam madzhab Hanafi, Maliki dan
Syafii; Muhammad bin Ahmad al-Marwazi dalam kitab Hujjatu Ahli Sunnah
Wal-Jamaah hal.15 ; Syaikh Ali bin Muhammad bin Abil Iz (Syarah Aqidah
Thahawiyah hal. 457); Dr. Ahmad Syarbasi ( Yasaluunaka fid din wal-hayat
3/413 ); Ibnu Taimiyyah (Yasaluunaka fid din wal-hayat jilid 1/442 ) ; Ibnul
Qayyim al-Jauziyyah (Yasaluunaka fid din wal-hayat jilid 1/442) juga Ibnul
Qayyim dalam kitabnya Ar-Ruh mengatakan bahwa Al-Khallal dalam kitabnya
Al-Jami sewaktu membahas Bacaan disamping kubur ; Al-Allamah
Muhammad al-Arobi (Majmu Tsholatsi Rosaail ) ; Imam Qurtubi ( Tazkirah AlQurtubi hal. 26 ) ; Imam Syabi mengatakan: Orang-orang Anshor jika ada
diantara mereka yang wafat, maka mereka berbondong-bondong kekuburnya
sambil membaca Al-Quran disampingnya (kuburan nya). Ucapan Syekh Syabi
ini dikutip oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ar-Ruh halaman 13; Ibnu
Taimiyyah dalamMajmu Fatawa.
Dan masih banyak lagi ulama-ulama berbeda madzhab yang
membenarkan hadiah pahala bacaan ini. Jadi jelas bagi kita setelah membaca
dan meneliti kutipan pada lembaran sebelum dan berikut ini banyak hadits Nabi
saw. serta anjuran para sahabat dan ulama-ulama pakar tentang
dibolehkannya
serta
sampainya pahala
amalan orang
yang
masih
hidup ditujukan
kepada
si
mayyit. Disamping
itu, semua
madzhab
sepakat bahwa pembacaan Al-Quran akan mendapat pahala bagi pembacanya
kapan dan dimanapun, yang mana pahala itu selalu diharapkan oleh setiap
muslim.
Kita tidak boleh langsung menuduh semua amalan yang menurut pendapat
sebagian ulama haditsnya terputus, lemah, palsu, atau tidak ada haditsnya
dan sebagainya itu haram untuk diamalkannya. Kita harus meneliti lebih jauh
lagi bagaimana pendapat ulama lainnya dan harus meneliti apakah amalan
tersebut menyalahi atau keluar dari syariat yang telah digariskan Islam atau
tidak ?, bila tidak menyalahi syariat Islam, boleh dijalankan ! Apalagi amalanamalan yang masih mempunyai dalil maka tidak ada alasan orang untuk
mengharamkan, mensesatkan atau membidahkan sesat amalan-amalan
tersebut karena tidak sependapat dengan mereka, menghukum suatu amalan

sebagai haram, harus mengemukakan dalil yang jelas dan shohih dari
Rasulallah saw.
Pahalanya membaca Al-Quran
Setelah keterangan singkat diatas mengenai membaca Al-Quran untuk si
mayyit dikuburan, marilah kita meneliti dalil-dalil dan wejangan ulama pakar
mengenai pahala orang yang membaca ayat Al-Quran, juga anjuran-anjuran
untuk membaca surat Yaasin, surat Al-Ikhlas dan lainnya pada orang-orang
yang akan atau sudah wafat. Dengan demikian buat pembaca lebih jelas lagi
bahwa bacaan yang dibaca (didalam majlis-majlis dzikir termasuk tahlilan/
yasinan dan lainnya) pasti akan mendapatkan pahala dari Allah swt., jadi bukan
sebaliknya akan mendapat dosa dan sebagainya sebagaimana yang dikatakan
oleh golongan pengingkar .
Ibn Masud ra berkata: Rasulallah saw. bersabda:
.
. : )( ,

, , ,
() .

Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka mendapat hsanat/ kebaikan dan tiap hsanat
mempunyai pahala berlipat sepuluh kali. Saya tidak berkata: Alif lam mim itu satu huruf, tetapi Alif satu
huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.(HR. Attirmidzy).
Lihat Hadits ini siapa yang membaca al-Quran akan dilipatkan pahala setiap hurufnya menjadi sepuluh
kali. Pahala apa yang akan diberikan Allah swt. setiap hurufnya itu tidak ada keterangan yang jelas. Untuk
lebih gampangnya kita ambil misal saja, bila pahala yang diberikan Allah swt. untuk satu huruf tersebut
misalnya sudah kita ketahui yaitu berupa satu pohon di surga dan Dia akan melipatkan 10x pahalanya
berarti kita akan memperoleh 10 pohon untuk setiap hurufnya, jadi kita bisa hitung sendiri berapa pohon
yang akan kita peroleh hanya dengan bacaan surat Fatihah saja??. Ingat Rahmat dan Kurnia Allah swt.
tidak ada batasnya. Jangan kita sendiri yang mem- batasinya !
Mari kita teruskan membaca dalil-dalil mengenai pembacaan Al-Quran yang bermanfaat bagi orang yang
akan atau sudah wafat berikut ini :
Bacalah Yaa Siin bagi orang-orang yang (akan atau telah) meninggal diantara kalian (muslimin).
Riwayat serupa oleh Abu Hurairah ra juga telah dicatat oleh Abu Yala dalam Musnad beliau dan Hafidz
ibn Katsir telah mengklasifikasikan rantai periwayatnya (sanadnya) sebagai Hasan/baik (lihat Tafsiir Ibn
Katsiir Juz 3 hal. 570).
Al-Baihaqi dalam Syabul Iman menjelaskan sebuah hadits riwayat Miqal bin Yasar bahwa Rasulallah
saw. bersabda :

, .

Barangsiapa membaca Yaa Sin semata-semata demi keridhaan Allah, ia


memperoleh ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu. Karena itu
hendaklah kalian membacakan Yaa Sin bagi orang yang (akan atau telah)wafat
diantara kalian (muslimin). (Hadits ini disebutkan juga dalam Al-Jamius
Shaghier dan Misykatul Mashabih).
Maaqal ibn Yassaar ra meriwayatkan bahwa Rasulallah saw. bersabda;
Yasin adalah kalbu (hati) dari Al-Quran. Tak seorang pun yang membacanya
dengan niat menginginkan Akhirat melainkan Allah akan mengampuninya.
Bacalah atas orang-orang yang (akan dan telah)wafat diantaramu. (Sunan Abu
Dawud). Imam Hakim mengklasifikasikan hadits ini sebagai Shohih/ Autentik,
lihat Mustadrak al-Haakim juz 1, halaman 565; lihat juga at-Targhiib juz 2
halaman 376.
Hadits yang serupa juga diriwayatkan oleh Hafidz AsSalafi (Mukhtasar AlQurtubi hal. 26).
Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam Musnad-nya dengan sanad dari
Safwaan bahwa ia berkata: Para ulama biasa berkata bahwa jika Yaasin
dibaca oleh orang-orang yang akan wafat, Allah akan memudahkan maut itu
baginya. (Lihat tafsir Ibnu Katsir jild 3 halaman 571).
Dari Jund bin Abdullah ra. meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda:Barang
siapa membaca Surat Yaasin pada malam hari dengan niat mencari ridha Allah
dosa-dosanya akan diampuni (Imam Malik bin Anas, dalam kitabnya Al
Muwattha). Ibnu Hibban menshohihkannya (lihat shohih Ibn Hibban jilid 6
halaman 312, juga lihat At Targhiib jilid 2 hal. 377).

Lihat hadits ini pahala tertentu bacaan Yaasin Allah swt akan mengampuni
dosa-dosa si pembacanya. Manfaat pengampunan ini yang selalu diharap- kan
oleh setiap Muslimin !!
Riwayat serupa dari Abu Hurairah ra juga dicatat oleh Abu Yala dalam
Musnadnya dan Ibnu Kathir telah mengklasifikasikan rantai perawinya sebagai
Hasan/baik. (Lihat tafsir Ibnu Katsir jilid 3 hal.570).
Syaikh Muhammad Al-Arabi At-Tibani, seorang ulama Masjidil Haram dalam
risalahnya yang berjudul Isaful Muslimin wal Muslimat bi Jawazil Qiraah wa
Wushulu Tsawabiha Lil Amwat mengatakan membaca Al-Quran itu dapat
sampai kepada arwah orang yang telah meninggal.
Juga mengenai fadhilah/pahala membaca surat Al-Ikhlas, Abu Muhammad AsSamarkandy, Ar-Rafii dan Ad-Darquthni, masing-masing menunjuk sebuah
hadits yang diriwayatkan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kw bahwa
Rasulallah saw. bersabda:
Maaqal ibn Yassaar ra meriwayatkan bahwa Rasulallah saw.
bersabda;
,
,
Barangsiapa lewat melalui kuburan, kemudian ia membaca Qul Huwallahu
Ahad sebelas kali dengan niat menghadiahkan pahalanya pada para penghuni
kubur, ia sendiri akan memperoleh pahala sebanyak orang yang mati
disitu (atau mendapat pahala yang diperoleh semua penghuni kubur).
Berdasarkan riwayat surat Yaasin yang cukup banyak maka ulama-ulama pakar
atau orang-orang lainnya yang memegang hadits-hadits ini, mengamal kannya
baik secara individu atau berkelompok sebagai amalan tambahan. Haditshadits diatas mengenai keistemewa an dan pahala-pahala tertentu surat
Yaasin.
Mari kita rujuk lagi hadits-hadits mengenai pahala-pahala dan keistemewaan
tertentu surat Al-Quran selain surat Yaasin. Walaupun kita setiap hari
membaca berulang-ulang hanya satu surat saja dari Al-Quran tersebut akan
tetap dapat pahala bagi yang membacanya karena termasuk ayat Al-Quran
dan tidak ada satu hadits atau ayat ilahi yangmelarang orang membaca hanya
satu ayat dari Al-Quran. Dan tidak ada satu orang pun dari kaum muslimin
yang mengamalkan ini berkeyakinan atau mengatakan bahwa Al-Quran itu
hanya terdiri dari satu ayat yang dibaca itu saja serta mengharuskan/mewajibkan orang membaca hanya ayat itu saja !
Golongan pengingkar ada yang mengatakan bahwa Ibnul Qayyim berkata :
Barangsiapa membaca surat ini akan diberikan pahala begini dan
begitusemua hadits tentang itu adalah Palsu ! Beliau dengan alasan bahwa
orang-orang yang memalsukan hadits-hadits itu telah mengakuinya sendiri
bahwa tujuan mereka membuat hadits palsu tersebut adalah agar manusia
sibuk
dengan
membaca
surat-surat
tertentu
dari
Al
Quran
sertamenjauhkan mereka membaca isi Al Quran yang lain !!!
Umpama saja Ibnul Qayyim benar berkata demikian, ini juga bukan suatu
dalil/hujjah untuk melarang membaca ayat-ayat tertentu dari ayat Al-Quran,
karena tidak sedikit hadits yang menyebutkan keistemewaan tertentu dan
pahala tertentu pada ayat-ayat Al-Quran, dengan demikian pendapat IbnulQayyim terbantah dengan hadits-hadits tentang bacaan surat Yasin diatas dan
surat-surat lain berikut ini :
Hadits dari Abu Said ra bahwa Nabi saw bersabda: Apakah kalian sanggup
membaca sepertiga (1/3) Quran dalam satu malam? Rupanya hal itu memang
terasa berat bagi mereka, maka jawab mereka: Siapa pula yang akan sanggup
melakukan itu diantara kami, ya Rasulallah!. Maka sabda Nabi saw Allaahul
wahidus shamad maksudnya surat Al Ikhlas adalah sepertiga dari AlQuran. (HR.Bukhori, Muslim dan An-Nasai)
Ada riwayat yang serupa dari Abu Hurairah ra yang diriwayatkan oleh Muslim.
Lihat hadits diatas ini termasuk juga sebagai pahala tertentu, siapa baca sekali
surat Al-Ikhlas sudah memadai seperti baca sepertiga ayat dari Al-

Quran. Disini tidak berarti kita mengharuskan dan hanya membaca surat AlIkhlas saja, seperti isu-isu belaka golongan pengingkar ini !
Hadits dari Abu Said Al Khudri ra bahwa Nabi saw bersabda: Adanya
Rasulallah saw. berlindung dari gangguan jin dan mata manusia dengan
beberapa doa, tetapi setelah diturunkan kepadanya Almuawwidatain (Surat AlFalaq dan An-Naas), beliau saw. membaca keduanya itu dan meninggalkan segala
doa-doa lainnya. (HR At Tirmidzi)
Hadits diatas ini menunjukkan dua surat (Al-Falaq dan An-Naas) mempunyai
keistemewaan tertentu juga, bisa menghalangi dan menolak gangguan jin dan
mata manusia. Juga mendapat pahala yang membacanya. Disini tidak berarti
orang mempunyai firasat bahwa Al-Quran hanya terdiri dari surat Al-Falaq dan
An-Naas saja dan kita hanya diharuskan membaca dua surat tersebut serta
menjauhi ayat Al-Quran lainnya !
Hadits dari Abu Masud Al Badry ra berkata, bersabda Nabi saw: Siapa yang
membaca dua ayat dari akhir surat Al-Baqoroh pada waktu malam telah
mencukupinya. (HR.Bukhori dan Muslim).
Kata-kata telah mencukupinya dalam hadits itu berarti ia telah terjamin
keselamatannya dari gangguan syaithon pada malam itu. Ini juga termasuk
keistemewaan tertentu dari dua ayat terakhir dari surat Al Baqoroh (yaitu
dimulai dari Aamanar Rosuulu bimaa unzila ilaihi ayat 285sampai akhir ayat
al Baqoroh Disini tidak berarti orang mempunyai firasat bahwa Al-Quran hanya
terdiri dari surat Al-Baqoroh dan kita hanya diharuskan membaca surat tersebut
serta menjauhi ayat Al-Quran lainnya!
Hadits dari Abu Hurairah ra, Rasulallah saw bersabda: Didalam Quran ada
surat berisi tiga puluh ayat dapat membela seseorang hingga diampunkan
baginya yaitu Tabarokalladzi Biyadihil Mulku (surat Al-Mulk). (HR. Abu Dawud, AtTirmidzi)
Hadits ini menunjukkan keistemewaan dan pahala tertentu juga bahwa siapa
yang membacanya akan dapat membelanya dan mengampunkan dosanya !
Pahala pengampunan ini sangat diharapkan oleh semua kaum muslimin. Disini
tidak berarti orang mempunyai firasat bahwa Al-Quran hanya terdiri dari surat
Al-Mulk saja dan kita hanya diharuskan membaca surat tersebut serta menjauhi
ayat Al-Quran lainnya !
Hadits dari Abu Hurairah ra Nabi saw bersabda: Jangan kamu menjadikan
rumahmu bagaikan kubur (hanya untuk tidur belaka), sesungguhnya setanlari
dari rumah yang dibacakan padanya surat Al-Baqoroh. (HR.Muslim)
Hadits ini juga mempunyai keistemewaan tertentu Al-Baqoroh bisa mengusir
setan dari rumah kita. Disini tidak berarti orang mempunyai firasat bahwa AlQuran hanya terdiri dari surat Al-Baqoroh saja dan kita hanya diharuskan
membaca surat tersebut serta menjauhi ayat Al-Quran lainnya !
Hadits dari Abu Darda ra, Sabda Rasulallah saw : Siapa yang hafal sepuluh
ayat dari permulaan surat Al-Kahfi, akan terpelihara dari godaan fitnah
Dajjal. (HR.Muslim). Dalam lain riwayat: Sepuluh ayat dari akhir surat Al Kahfi.
Hadits ini menunjukkan keistemewaan tertentu yaitu siapa yang dapat
menghafal dan membacanya dari ayat tersebut, terhindar dari fitnahan Dajjal.
Disini tidak berarti orang mempunyai firasat bahwa Al-Quran hanya terdiri dari
10 ayat dari surat Al-Kahfi saja dan kita hanya diharuskan membaca surat
tersebut serta menjauhi ayat Al-Quran lainnya!
Dan masih banyak lagi mengenai keistemewaan dan pahala tertentu mengenai
Ayat Kursi, ayat Al-Fatihah (Ummul Kitab/ibunya Quran), mengenai keutamaan
mengucapkan Laa ilaaha illallah, membaca Tasbih, Takbir dan Sholawat atas
Nabi saw. dan sebagainya yang tidak saya sebutkan satu persatu disini. Juga
pahala-pahala tertentu amalan-amalan puasa, sholat dan sebagainya.
Apakah semua hadits-hadits keistemewaan dan pahala tertentu tersebut diatas
yang diriwayatkan oleh perawi-perawi terkenal adalah hadits palsu? Apakah
dengan adanya hadits-hadits tersebut, orang mempunyai firasathanya harus

membaca
ayat-ayat
tertentu
itu
dan meniadakan ayat
Al-Quran
lainnya ? Sudah Tentu Tidak !
Pandangan yang demikian itu menunjukkan kedangkalan ilmu serta
kefanatikan golongan pengingkar ini terhadap fahamnya sendiri sehingga
semua hadits yang tidak sefaham dengan mereka dianggap tidak ada,palsu,
lemah dan melarang dan lain sebagainya ! Saya berlindung pada Allah swt..
dalam hal ini.
Amalan orang hidup yang bermanfaat bagi si mayit
Mari kita telaah lagi amalan orang hidup yang bermanfaat bagi si mayit.Hadits
yang diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu Abbas ra berkata:

.. :

( )

Saya telah mendengar Rasulallah saw. bersabda: Tiada seorang muslim wafat, maka berdiri
menyembahyangkannya empat puluh (40) orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun,
melainkan dapat dipasti- kan Allah menerima syafaat dan permintaan ampun mereka itu. (HR. Muslim)

Hadits dari Martsad bin Abdullah Alyazani berkata:



: )(



)

:
(
Adalah Malik bin Hubairoh jika menyembahyangkan jenazah dan melihat
orang-orangnya hanya sedikit, maka dibagi mereka tiga (3) baris, kemudian ia
berkata: Rasulallah saw. bersabda: Siapa yang disembahyangkan oleh tiga
barisan, maka telah dapat dipastikan . (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi)
Maksud kata-kata dapat dipastikan dalam hadits itu ialah pasti diampunkan
mayitnya dan Allah akan menerima syafaat dan permohon an mereka.
Hadits dari Abu Hurairah berkata: Ada seorang tukang sapu masjid, pada
beberapa hari tidak terlihat oleh Rasulallah saw. sehingga beliau bertanya
tentang orang itu. Dijawab; Ia telah wafat. Nabi bersabda: Mengapakah kamu
tidak memberitahu padaku? Tunjukkan padaku kuburannya. Maka orang-orang
menunjukkan kepada Nabi saw. kuburan tukang sapu itu, dan disitu Nabi sholat
mayat (jenazah). Kemudian setelah sholat bersabda: Sesungguhnya kuburkubur ini tadi penuh kegelapan, dan Allah telah menerangi padanya dengan
sholatku pada mereka. (HR.Bukhori, Muslim)
Hadits-hadits diatas ini menunjukkan juga bahwa seorang yang telah
wafatmasih dapat tertolong oleh bantuan amalan orang yang masih hidup, dan
yang demikian ini terserah pada Allah, karena rahmat Allah dan kurnia-Nya
tidak terbatas. Juga hadits terakhir diatas menunjukkan dibolehkannya orang
yang ketinggalan sholat jenazah untuk bersholat didepan kuburannya. Ini
berlaku untuk semua muslimin karena dihadits itu tidak disebutkan sholat
jenazah ditempat kuburan tersebut hanya khususberlaku untuk Nabi saw.
Beliau saw. adalah contoh bagi ummatnya, bila itu dilarang atau khusus untuk
beliau saja, maka beliau saw. pasti akan memberitahunya ! Semuanya ini
menunjukkan bahwa doa itu manfaatnya sangat banyak baik untuk orang yang
masih hidup maupun yang sudah wafat. Allah swt. sendiri telah menjanjikan
siapa yang berdoa kepada-Nya pasti akan dikabulkannya. Firman-firman Allah
swt. agar manusia selalu berdoa baik untuk dirinya maupun untuk
lainnya : Dan Tuhanmu berfirman; Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan
Kukabulkan bagimu .(Al- Mumin :60).
Firman-Nya: Dan
seandainya
hamba-hambaKu
bertanya
padamu(Muhammad) mengenai Aku, maka sesungguhnya Aku ini Maha dekat.
Aku akan mengabulkan permohonan dari orang yang berdoa, jika ia berdoa
pada-Ku. (Al-Baqoroh : 186)
Juga firman Allah swt.: Dan orang-orang yang datang sesudah
mereka(Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa; Ya Tuhan kami, beri ampunlah
kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami
. (Al-Hasyr:10)

Ibnu Hajr dalam kitabnya Khatimatul Fatwa mengatakan bahwa manfaat


terbesar yang dapat diperoleh dengan doa ialah orang yang berdoa tidak akan
dikecewakan sama sekali. Bila takdirnya bergantung pada doa, maka ia akan
melihat manfaat doanya, namun bila takdirnya itu tidak bergantung pada doa
maka manfaat doa adalah ganjaran pahala, karena doa termasuk ibadah.
Sedangkan hadits-hadits Rasulallah saw. yang berkaitan dengan doa berikut
ini :
Hadits dari Salman Farisi bahwa Rasulallah saw. bersabda; Tidak dapat
menolak gadha/takdir (Allah swt.) kecuali doa, dan tidak bisa menambah umur
kecuali kebaikan ! (HR.At-Tirmidzi).
Sedangkan
hadits
yang
diriwayatkan
oleh Bazzar dan Thabrani juga
olehHakim yang menyatakan isnadnya sah dari Aisyah ra. bahwa Rasulallah
saw. bersabda:
Tidak mempan (tidak bisa menolak) sikap berhati-hati terhadap takdir, sedang
doa itu akan memberi manfaat, baik terhadap hal-hal yang telah terjadi
maupun yang belum terjadi. Dan sungguh, malapetaka itu turun, lalu disambut
oleh doa, maka bergulatlah keduanya sampai hari kiamat.
Maksud hadits itu ialah Allah swt. bisa merubah takdir malapetaka yang akan
dikenakan pada hamba-Nya dikarenakan doa hamba itu kepada-Nya.
Masih banyak lagi ayat Ilahi dan hadits Rasulallah saw. mengenai doa ini yang
tidak bisa kami kemukakan satu persatu disini. Kita dibolehkan berdoa apa
saja kepada Allah swt. yang penting dalam kebaikan, tetapi bacaan atau
kalimat doa yang terbaik ialah yang diajarkan oleh Rasulallah saw. termasuk
disini ialah bacaan/kalimat doa pada waktu sholat jenazah atau waktu ziarah
kubur. Sudah tentu dalam sholat jenazah atau ziarah kubur kita dibolehkan
membaca doa selain yang diajarkan oleh Rasulallah saw. yang terpenting
semua ini terfokus (tertuju) untuk mohon pengampunan bagi si mayat. (info:
berdoa pada waktu sholat banyak ahli fiqih mengatakan harus berbahasa Arab,
bila tidak bisa membatalkan sholatnya).
Ini semua sunnah Rasulallah saw. serta menunjukkan bahwa si mayit itu masih
bisa menerima syafaat dari amalan orang lain yang masih hidup. Dengan
demikian isi dan inti doa dalam sholat jenazah dan ziarah kubur ialah mohon
ampunan untuk si mayit, ampunan ini adalah salah satusyafaat dan
manfaat yang besar serta selalu diharapkan oleh setiap muslimin.
Ingat sekali lagi, jangan melihat cara atau bagaimana orang melakukan suatu
amalan, tapi lihatlah apakah amalan tersebut melanggar yang telah digariskan
oleh syariat Islam atau tidak?
Begitu juga halnya dalam majlis tahlilan/yasinan (baca keterangan selanjutnya) tujuan utama setelah membaca ayat-ayat Al-Quran, tasbih, tahmid,
sholawat pada Nabi saw. dan sebagainya adalah membaca doapada Allah swt.
khusus untuk si mayyit. Semua bacaan dzikir yang dibaca dalam majlis ini
sudah pasti akan mendapat pahala, banyak hadits yang meriwayatkan- nya.
Kalau ada ulama yang mengatakan bahwa membaca hal-hal tersebut berdosa,
haram dan tidak mendapat pahala, ini hanya fitnahan-fitnahan ulama dari
kalangan orang yang tidak senang menghadiri majlis dzikir tersebut, serta
omongan mereka ini tidak berdasarkan dalil. Ingat sekali lagi bahwa membaca
dzikir dan doa ini tidak diperlukan waktu, tempat dan cara-cara tertentu yang
disyariatkan, jadi bebas setiap waktu hanya pembacaan Al-Quran-nya saja
menurut para ulama ahli fiqih yang mempunyai syarat-syarat tertentu,
umpamanya wanita yang sedang haidh atau orang yang sedang junub (suami
istri belum bersuci setelah berkumpul) itu dilarang membaca ayat-ayat Al
Quran.
Beliau saw. juga menganjurkan kita untuk ziarah kubur dan mengajarkan
kalimat-kalimat salam dan doa untuk ahli kubur tersebut. Disini tidak ada
bedanya orang yang baru wafat atau sudah lama wafat semuanya adalah
mayit. Karena mayyit itu bisa mendengar salam dan bacaan kita tersebut
sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Rasulallah saw.. Pendengaran

mereka itu lebih tajam dari pendengaran kita yang masih hidup ini. Begitu juga
tidak ada larangan dalam syariat untuk membacakan Al-Quran, dan berdoa
untuk mayat baik waktu baru di kubur, waktu ziarah kubur maupun setiap waktu
baik habis sholat atau lainnya.
Kehidupan ruh-ruh manusia yang telah wafat
Mari kita rujuk ayat-ayat ilahi dan hadits-hadits Rasulallah saw. mengenai ruhruh orang yang telah wafat.
Firman Allah swt.: Janganlah kalian berkata; bahwa orang-orang yang gugur
dijalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup (dialam lain), tetapi kalian tidak
menyadarinya.(Al-Baqarah : 154)
Dan firman-Nya: Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur
dijalan Allah itu mati. Bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dan mereka
memperoleh rizki (kenikmatan besar) ( Ali Imran : 169)
Firman-Nya juga: Mereka bertanya kepadamu (hai Muhammad)tentang ruh.
Jawablah : Itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi
ilmu (pengetahuan) melainkan sedikit (Al Israa : 85)
Dua firman Allah diatas disamping menyebutkan orang-orang yang gugur
dijalan Allah itu tidak mati tetap hidup (ruhnya) mendapat kenikmatan, juga
dalam ayat-ayat itu tidak menyebutkan pembatasan yakni hanya ruh-ruh orangorang yang gugur dalam peperangan saja yang masih hidup. Dengan demikian
baik wafatnya itu waktu dalam peperangan sabil maupun wafat diatas tempat
tidur, ruh-ruh (jadi bukan jasadnya) ini semuanya masih hidup dialam barzakh,
makna yang demikian ini sejalan dengan hadits-hadits Rasulallah saw. tentang
ruh manusia yang telah wafat (baca keterangan selanjutnya).
Malah ada riwayat waktu sahabat selesai dari perang besar, mereka gembira
tetapi Rasulallah saw. bersabda : Kita sekarang selesai perang yang kecil dan
menghadapi perang yang lebih besar. Sahabat bertanya; Perang apakah itu Ya
Rasulallah, beliau saw. menjawab ; Memerangi hawa nafsu !
Firman Allah swt.: Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir
nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap
umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas
mereka itu (sebagai umatmu). (QS 4:41)
Firman-Nya juga; Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan
kamu (ummat Islam), ummat pertengahan (yang adil dan pilihan) agar kamu
menjadi
saksi
atas (perbuatan) manusia
dan
agar
Rasul(Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu (QS 2:143)
Para Muthawwi sekitar makam Rasulallah saw. di Madinah selalu berteriakteriak kepada para penziarah dengan ucapan, Wahai haji, Rasul telah mati,
berikan salam dan segera pergilah dan jika ada yang sedikit berlama-lama
dalam berziarah lantas diteriaki, Wahai haji, syirik!!. Bagi si pembaca
bisa menyaksikan sendiri bila nantinya berziarah ke makam Rasulallah
saw.. Apa maksud kata-kata itu?.Apakah mereka ini tidak memahami ayatayat ilahi diatas? Kalau golongan Wahabi mengatakan Rasulallah sudah
wafat, bagaimana beliau saw. mau menjadi saksi bagi ummatnya yang
setelah wafatnya beliau saw.? Tidak mungkin pula Nabi saw. dipanggil
sebagai seorang saksi atas apa yang tidak beliau ketahui atau tidak beliau
lihat!!
Sebuah
hadits
yang
diriwayatkan
oleh
Imam
Ahmad
bin
Hanbal dalamMusnad-nya jilid III halaman 3 dari Abu Amir, Abu Amir
menerimanya dari Abdulmalik bin Hasan Al-Haritsiy, Abdulmalik menerimanya
dari Said bin Amr bin Sulaim, yang menuturkan sebagai berikut : Saya
mendengar dari seorang diantara kita, namanya aku lupa, tetapi (menurut
ingatanku) ia bernama Muawiyah atau Ibnu Muawiyah. Ia menyampaikan
hadits dari Abu Said Al-Khudri ra. yang mengatakan, bahwasanya Rasulallah
saw. pernah menyatakan ; Seorang mayyit mengetahui siapa yang
mengangkatnya, siapa yang memandikannya dan siapa yang menurunkannya
ke liang kubur. Ketika dalam suatu majlis Ibnu Umar mendengar hadits

tersebut ia bertanya; Dari siapa anda mendengar hadits itu ? Orang yang
ditanya menjawab; Dari Abu Said Al-Khudri. Ibnu Umarpergi untuk menemui
Abu Said, kepadanya ia bertanya; Hai Abu Said, dari siapakah anda
mendengar hadits itu ? Abu Said menjawab; Dari Rasulallah saw. .
Ibnul Qayyim didalam kitabnya Ar-Ruh menyatakan, bahwa ruh Abubakar
Ash-Shiddiq ra. tampak (setelah ia wafat) didalam suatu peperangan bertempur
bersama-sama pasukan muslimin melawan kaum musyrikin.
Ibnul-Wadhih pun dalam Tarikh-nya mengemukakan kesaksian seorang yang
melihat Rasulallah saw. (beliau saw.telah lama wafat) membawa sebuah
tombak pendek ikut berperang melawan musuh-musuh Ahlul-Bait beliau di
Karbala, medan perang tempat Al-Husain ra. gugur sebagai pahlawan syahid.
Dalam hadits-hadits Nabi saw. menerangkan bahwa ruh-ruh orang yang
wafat itu hidup dialam barzakh, bisa mendengar terompah-terompah kaki orang
yang mengantarkan kekuburnya (HR Bukhori, Muslim dan lain-lain), bisa
mendoakan kerabatnya dan sebagainya (HR Ahmad dan Turmudzi dari Anas).
Rasulallah saw. juga bersabda bahwa arwah kaum muminin bisa terbang
kemana saja yang mereka kehendaki (dari Salman Al-Farisy yang ditulis
oleh Ibnul Qayyim Mengenai soal ruh halaman 144, serta ada sabda
Rasulallah saw. yang serupa juga diriwayatkan oleh Imam Malik ra). Begitu juga
mengenai adzab/siksa didalam kubur dan lain sebagainya.
Agama Islam mewajibkan mempercayai adanya alam ruh walaupun semuanya ini belum terjangkau dengan akal manusia. Semuanya ini telah dijelas- kan
baik dalam ayat ilahi maupun sunnah Rasulallah saw.. Hadits-hadits diatas ini
(bisa melihat siapa yang memandikannya, yang mengantarkan keliang kubur,
bisa terbang kealam mana saja yang dia dikehendaki dan lain sebagainya) juga
menunjukkan dan memperkuat kenyataan adanya kehidupan dialam ghaib
(barzakh).
Didalam perang Badr pun banyak sahabat Nabi saw. melihat sejumlah Malaikat
turun dari langit, berpakaian jubah dan serban berwarna kuning dan membawa
pedang ditangan ikut berperang dipihak pasukan muslimin. Riwayat ini juga
menunjukkan bahwa ada manusia-manusia yang bisa melihat Malaikat, yaitu
orang-orang yang diberi ilmu dan dikarunia kemuliaan khusus
(karamah/keramat) diantara para waliyullah.
Mari kita teliti lagi hadits-hadits mengenai orang-orang yang telah wafat berikut
ini:
Hadits dari Anas bin Malik sebagai berikut :
.

. )( :


: .
: .

( )

Bahwa Rasulallah saw. membiarkan mayyit orang kafir yang terbunuh dalam
peperangan Badar selama tiga hari. Kemudian beliau saw mendatangi mereka
lalu berdiri sambil menyeru mereka: Hai Abu Jahal bin Hisyam, Hai Umayyah
bin Khalaf, Hai Utbah bin Rabiah, Hai Syaibah bin Rabiah! Bukankah kamu
telah mendapatkan janji Tuhanku sebagai sesuatu yang benar (yakni kalah dan
terbunuh). Sesungguhnya aku telah mendapatkan janji Tuhanku sebagai
sesuatu yang benar (yakni memperoleh kemenangan) Umar bin Khattab ra
mendengar ucapan Nabi saw. bertanya: Wahai Rasulallah, bagaimana mereka
bisa mendengar dan bagaimana pula mereka bisa menjawab sedangkan
mereka telah menjadi bangkai ? Maka Rasulallah saw. bersabda: Demi zat
yang diriku ada di tangan-Nya, tidaklah kamu memiliki kemampuan mendengar
yang melebihi mereka terhadap apa yang aku ucapkan, akan tetapi mereka
tidak mampu menjawab . (HR.Bukhori, Muslim).
Lihat hadits terakhir diatas ini yang mana Rasulallah saw. telah tegas
menjawab pertanyaan Umar bin Khattab ra bahwa mayyit itu bisa mendengar

perkataan Nabi saw. malah pendengaran mereka itu lebih tajam dari para
sahabat yang hadir. Hadits ini menunjukkan kebolehan kita untuk memanggil
orang yang telah wafat dengan kata-kata Ya Fulan ( Hai anu) atau memanggil
Ya Rasulalllah dan sebagainya. Begitu juga apa salahnya kalau kita sering
memanggil junjungan kita Muhammad saw. dengan kata-kata Ya
Rasulallah? (silahkan baca bab tawassul dan tabarruk dalam website ini)
Ada golongan yang senang memutar balik makna hadits dari Anas bin Malik
tersebut dengan mengatakan hal ini karena Rasulallah saw. yang berkata
kepada si mayyit bila selain beliau saw. maka mayyit tersebut tidak akan bisa
mendengar. Pikiran mereka semacam ini sudah tentu salah karena yang
pertama dalam hadits itu Rasulallah saw. tidak mengatakan khusus untuk
beliau mayyit tersebut bisa mendengar ucapannya, sedangkan selain beliau
mayyit itu tidak bisa mendengar. Bila demikian Rasulallah saw akan menjawab
terhadap Umar mereka itu mendengar karena aku yang berbicara padanya
dan selain aku maka mereka tidak bisa mendengarnya tapi jawaban beliau
saw. adalah: tidaklah kamu memiliki kemampuan men- dengar yang melebihi
mereka terhadap apa yang aku ucapkan..
Yang kedua; banyak hadits lain mengatakan bahwa orang yang sudah
dikuburkan itu dikembalikan ruhnya kedalam tubuhnya dan dia bisa mendengar
terompah para pengantar jenazahnya, bisa merasakan hidup bahagia atau
sengsara (adzab kubur) di-alam barzakh, dan lain sebagainya. Dalam
hadits lain Rasulallah saw. menyuruh kita menziarahi kubur dan memberi salam
kepada mereka. Tidak lain yang menjadikan semua mayyit bisa mendengar
dan sebagainya ini adalah Allah swt. dan tidak ada seorang pun yang
meragukan bahwa Allah swt. mampu melakukan yang demikian ini.
Telitilah hadits-hadits Rasulallah baik yang telah kami kemukakan maupun
pada halaman berikut yang mana beliau saw. bisa menjawab semua salam
yang disampaikan kepadanya. Beliau saw. juga bisa berdoa kepada Allah swt.
untuk kaum muslimin yang masih hidup dan lain sebagainya, walaupun beliau
saw. sudah wafat. Begitupun juga ruh kaum mukminin lainnya.
Hadits dari Abu Yala dalam mengemukakan persoalan Nabi Isa as. dari Abu
Hurairah ra bahwa Rasulallah saw. bersabda : Jika orang berdiri diatas
kuburku lalu memanggil Ya Muhammad Rasulallah pasti kujawab. Hadits ini
dikemukakan juga oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Al-Mathalibil-Aliyah jilid
4/23 pada bab : Kehidupan Rasulallah saw. didalam kuburnya.
Anas bin Malik ra meriwayatkan sebuah hadits, bahwa Rasulallah saw.
pernah menerangkan: Para Nabi hidup didalam kubur mereka dan mereka
bersembahyang. Hadits ini diketengahkan oleh Abu Yala dan Al-Bazaar di
dalam kitab Majmauz- Zawaid jilid 8/211. Imam Al-Baihaqi juga mengetengahkan juga dalam bagian khusus dari risalahnya.
Anas bin Malik ra. juga mengatakan, bahwa Rasulallah saw. pernah
memberitahu para sahabatnya bahwa : Para Nabi tidak dibiarkan didalam
kubur mereka setelah empat puluh hari, tetapi mereka bersembah-sujud
dihadapan Allah swt.hingga saat sangkala ditiup (pada hari kiamat)
Al-Baihaqi menanggapi hadits ini dengan tegas mengatakan : Tentang
kehidupan para Nabi setelah mereka wafat banyak diberitakan oleh haditshadits shohih. Setelah itu ia menunjuk kepada sebuah hadits shohih yang
meriwayatkan bahwa Rasulallah saw. bersabda :Aku melewati Musa(dalam
waktu Isra) sedang berdiri sembahyang didalam kuburnya.
Sebagaimana telah diketahui oleh kaum muslimin, bahwa dalam perjalanan
Isra Rasulallah saw. melihat Nabi Musa as.sedang berdiri sholat, Nabi
Isa as.juga sedang berdiri sholat. Bahkan Rasulallah saw. mengatakan bahwa
Nabi Isa as mirip dengan Urwah bin Masud Ats-Tsaqafy. Beliau saw. juga
melihat Nabi Ibrahim as. sedang berdiri sholat dan Nabi ini mirip dengan beliau
saw. Setiba saat sholat berjamaah beliaulah yang meng- imami para Nabi dan
Rasul sebelumnya. Usai sholat malaikat Jibril as berkata kepada beliau
saw.: Ya Rasulallah, lihatlah, itu malaikat Malik, pengawal neraka, ucapkanlah

salam kepadanya. Akan tetapi baru saja Rasulallah saw. menoleh ternyata
malaikat Malik sudah mengucapkan salam lebih dahulu.
Riwayat tentang Isra ini dapat kita baca dalam Shohih Muslim yaitu riwayat
yang berasal dari Anas bin Malik dan diketengahkan oleh Abdurrazzaq
didalam Al-Mushannaf jilid 3/577.
Dalam Dalailun-Nubuwwah Al-Baihaqi mengetengahkan sebuah hadits
shohih dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulallah saw. mengatakan setelah
Isra: Pada malam Isra aku melihat Musa dibukit pasir merah sedang berdiri
sembahyang dalam kuburnya. Hadits ini diketengahkan juga oleh Muslim dan
Shohihnya jilid 11/268.
Banyak hadits dari Rasulallah saw. waktu beliau saw. Isra dan Miraj telah
melihat para Nabi dan Rasul ; Musa as. Isa as. Ibrahim as. Idris as., Yunus,
Yusuf as. dan lain-lain. Ini juga membuktikan bahwa para Nabi dan
Rasul hidup dialam barzakh dengan kemuliaan, keagungan dan keluhuran
yang serba sempurna berkat karunia Allah swt. dan mereka tetap bersembah
sujud kepada Allah swt. Begitu juga dalam riwayat Isra dan Miraj ini, setiap
Rasulallah saw. bertemu para Rasul selalu berdoa kepada Allah swt. kebaikan
dan kebajikan untuk Rasulallah saw. Dengan demikian menunjuk kan bahwa
orang yang telah wafat masih bisa juga berdoa kepada Allah swt. untuk orang
yang masih hidup.
Sedangkan hadits-hadits Nabi saw. mengenai pertanyaan dan siksa kubur
diantaranya: Diriwayatkan oleh Muslim dari Zaid bin Tsabit, diriwayatkan oleh
Bukhori dan Muslim dari Qatadah yang diterimanya dari Anas bin Malik,
diriwayatkan oleh Bukhori, Muslim dan Ash Habus Sunan dari Barra bin Azib,
dan yang tercantum dalam Musnad Imam Ahmad, dan shohih Abu Hatim,
diriwayatkan shohih Bukhori yang diterima dari Samurah bin Jundub,
diriwayatkan oleh Thahawi dari Ibnu Masud, diriwayatkan oleh Nasai dan
Muslim yang diterima dari Anas, yang diriwayatkan oleh NasaI, Bukhori dan
Muslim dari Ibnu Umar. (Kami sengaja mencantumkan perawi-perawi nya saja
dan tak mencantumkan hadits-haditsnya karena cukup panjang sehingga
memerlukan halaman yang lebih banyak lagi. Bagi pembaca yang ingin
mengetahui hadits mengenai ruh-ruh dialam barzakh dan adzab kubur, lebih
mudahnya silahkan rujuk pada buku terjemahan bahasa Indonsia Fikih Sunnah
Sayyid Sabiq jilid 4 dari halaman 221).
Jadi jelas sekali banyak riwayat hadits mengenai ruh-ruh dialam barzakh,
mereka bisa tetap mendapat pahala, bisa merasakan sedih dan bahagia dan
sebagainya. Yang mana semuanya ini adalah kekuasaan Ilahi yang kadang
kala tidak terjangkau oleh pikiran manusia biasa, yang belum diberi ilmu oleh
Allah swt. mengenai hal itu. Dan dengan adanya hadits-hadits diatas
menunjukkan bahwa ruh-ruh tersebut ada yang masih tetap di alam kubur nya,
sedih, bahagia, bisa juga terbang kemana-mana menurut kehendaknya, dan
lain sebagainya.
Nabi saw. mensunnahkan memohon ampun bagi mayat pada waktu sholat
jenazah, ziarah kubur dan waktu lainnya atau berdoa pada waktu selesai
dimakamkan agar dikuatkan pendiriannya sebagaimana hadits yang diterima
dari Usman bin Affan diriwayatkan oleh Abu Dawud dan oleh Hakim yang
menyatakan sahnya, juga oleh Al Bazzar.
: , .
.


()

Bila selesai menguburkan mayat, Nabi saw., berdiri di depannya dan


bersabda:
Mohonkanlah
ampun
bagi
saudaramu,
dan
mintalah dikuatkanhatinya, karena sekarang ini ia sedang ditanya (oleh
Malaikat Munkar dan Nakir).
Talqin

Dengan adanya ayat ilahi dan hadits-hadits diatas dari Anas bin Malik
mengenai mendengarnya gembong-gembong kafir yang telah wafat atas
ucapan Rasulallah saw. dan hadits terakhir diatas dari Utsman bin Affan serta
hadits-hadits lainnya tentang kehidupan ruh-ruh manusia yang telah wafat.
Banyak ulama pakar membolehkan bacaan Talqin (berarti mengajari dan
memberi pemahaman/ peringatan) dimuka kuburan mayyit yang baru selesai
dimakamkan yang akan berhadapan dengan malaikat Munkar dan Nakir untuk
menanyainya. Sudah tentu semua orang itu tergantung dari amal sholehnya
waktu dia masih hidup bukan hanya tergantung dari Talqin ini. Tapi ini bukan
berarti si mayyit tidak bisa mengambil manfaat dari amalan orang yang masih
hidup (diantaranya Talqin ini), juga bukan berarti Allah swt. telah menutup
manfaat amalan orang yang masih hidup pada si mayyit ini. (baca keterangan
amalan pahala yang manfaat bagi si mayyit pada buku ini). Rahmat, Kurnia dan
Ampunan Ilahi sangat luas sekali, janganlah kita sendiri yang membatasinya !
Menurut istilah talqin ini memiliki dua pengertian yaitu; Mengajarkan kepada
orang yang akan wafat kalimat tauhid yakini Laa ilaaha illallahyang kedua ialah:
Mengingatkan orang yang sudah wafat yang baru saja dikuburkan beberapa
hal yang penting baginya untuk menghadapi dua malaikat yang akan datang
padanya.
Didalam kitab Fikih Sunnah (bahasa Indonesia) oleh Sayyid Sabiq babHukum
menalkinkan mayyit jilid 4 halaman 168-169 cetakan pertama 1978, cetakan
(angka terakhir) 2019181716151413 diterbitkan oleh PT Almaarif, dihalaman
buku ini ditulis :
Dianggap sunnah oleh Imam Syafii dan sebagian ulama lainnya menalkin- kan
mayat yakni yang telah mukallaf, bukan anak kecil setelah ia (mayit)
dikuburkan, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Said bin Manshur dari
Rasyid bin Saad dan Dhamrah bin Habib dan Hakim bin Umeir (ketiga mereka
ini adalah tabiin yakni yang bertemu dengan para sahabat dan tidak
menjumpai Nabi saw.) kata mereka: Jika kubur mayat itu telah selesai
diratakan dan orang-orang telah berpaling mereka menganggap sunnah
mengajarkan kepada mayat dikuburnya itu sebagai berikut: Hai Anu (nama si
mayit disebutkan), ucapkanlah Laa ilaaha illallah asyhadu allaa ilaaha illallah,
sebanyak tiga kali ! Hai Anu, katakanlah; Tuhanku ialah Allah, agamaku ialah
Islam dan Nabiku Muhammad saw. Setelah mengajarkan itu barulah orang
tadi berpaling .
Riwayat dari tabiin diatas ini ada disebutkan juga oleh Hafidz dalam AtTakhlis dan beliau berdiam diri mengenai hal itu.
Dan diriiwayatkan oleh Thabarani dari Abu Umamah yang katanya sebagai
berikut:
Jika salah seorang diantara saudaramu meninggal dunia, dan kuburnya telah
kamu ratakan, maka hendaklah salah seorang diantaramu berdiri dekat kepala
kubur itu dan mengatakan : Hai Anu anak si Anu ! Karena sebenar nya ia (si
mayit) bisa mendengarnya tetapi tidak dapat menjawab. Lalu hendaklah
dipanggilnya lagi ; Hai Anu anak si Anu ! Maka mayit itu akan duduk lurus. Lalu
dipanggilnya lagi ; Hai Anu anak si Anu ! Maka ia(si mayit) akan menjawab ;
Ajarilah kami ini ! Hanya kamu (orang-orang yang masih hidup) tidak
menyadarinya. Maka hendaklah diajarinya(sebagai berikut) : Ingatlah apa yang
kaubawa sebagai bekal tatkala meninggalkan dunia ini, yaitu mengakui bahwa
tiada Tuhan, melainkan Allah, dan bahwa Muhammad itu hamba dan utusanNya, dan bahwa engkau telah meridhoi Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai
agama, Muhammad sebagai Nabi dan Al-Quran sebagai Imam. Maka Munkar
dan Nakir akan saling memegang tangan sahabatnya dan mengatakan :
Ayolah kita berangkat ! Apa perlunya klita menunggu orang yang diajari
jawabannya yang benar ini ! Seorang lelaki bertanya: Ya Rasulallah,
bagaimana kalau ibunya tidak dikenal ?. Ujarnya (Nabi saw.) Hubungkan saja
dengan neneknya Hawa dan katakan; Hai Anu anak Hawa .

Berkata Hafidz dalam At-Talkhish : Isnad hadits itu baik dan dikuatkan oleh
Dhiya dalam buku Ahkam-nya. Dan pada sanadnya terdapat: Ashim bin
Abdullah, seorang yang lemah. Berkata Haritsani setelah mengemukakan
hadits diatas ini: Pada sanadnya terdapat sejumlah orang yang tidak saya
kenal. Sedangkan kata Imam Nawawi: Hadits ini walaupun lemah, tapi dapat
diterima!
Para ulama hadits dan lain-lain telah menyetujui sikap yang luwes dalam
menerima hadits-hadits mengenai keutamaan-keutamaan, anjuran-anjuran dan
ancaman-ancaman. Apalagi ia telah dikuatkan oleh keterangan-keterangan lain
seperti hadits yang lalu; ..Dan mohonlah agar hatinya dikuatkan (hadits yang
diterima dari Usman bin Affan diriwayatkan oleh Abu Dawud dan oleh Hakim
yang menyatakan sahnya, juga oleh Al Bazzar). Dan wasiat dari Amar bin Ash,
sedang keduanya merupakan keterangan yang sah. Dan hal ini (talqin) tetap
dilakukan oleh penduduk Syria dari masa Amr itu hingga sekarang.
Ada juga yang memakruhkan (tidak mengafirkan atau membidahkan sesat)
talqin ini diantaranya sebagian golongan Maliki dan sebagian golongan
Hanbali.
Untuk menyingkat halaman dibuku ini, lebih mudahnya, maka saya anjurkan
bagi pembaca yang ingin tahu mendetail mengenai dalil-dalil dan wejangan
para ulama pakar tentang pembolehan talqin ini bisa membaca buku yang
berjudul Argumentasi Ulama Syafiiyah oleh Ust.H.Mujiburrahman atau
langsung merujuk kitab-kitab ulama yang disebutkan dibuku itu.
Diantara ulama-ulama yang membolehkan talqin ialah Imam Nawawi dalam
kitabnya Majmu
Syarah
Muhazzab 5/303
dan
kitabnya AlAzkarhal.206 didalam kitab ini disebutkan juga nama ulama salaf yang
membolehkan talqin ; Syaikh Dr.Wahbah Zuhaily dalam kitabnya Al-Fighul
Islami 11/536 ; Syaikh Yusuf Ardubeli dalam kitabnya Al-Anwar1/124 ; Syaikh
Khatib Syarbini dalam kitabnya Al-Iqna/183 ; Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami
dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj 3/207; Imam Ramli dalam kitabnya Nihayatul
Muhtaj 3 /40. Dan masih ada lagi ulama pakar lainnya yang membolehkan ini
tallqin, tidak lain semuanya ini merupakanFadhailul Amal amalan-amalan
yang mengandung keutamaan yang terdiri dari doa-doa dan dzikir .
Dengan demikian amalan Talqin sudah dikenal dan diamalkan oleh para
salaf serta ulama-ulama pakar dari zaman dahulu. Bagi orang yang tidak mau
mengamalkan hal ini karena mengikuti wejangan ulamanya itu silahkan
karena hal ini bukan amalan wajib, tapi janganlah mencela, mensesatkan,
mengharamkan sampai-sampai berani mensyirikkan orang yang mau
mengamalkan talqin ini, karena mereka ini juga mengikuti wejangan ulamanya.
Hati-hatilah !! Ingat hadits-hadits Rasulallah saw.yang telah saya cantumkan
didalam website ini mengenai orang yang mengafir kan saudaranya mulsim.
Sekalipun ada golongan yang mengatakan hadits-hadits mengenai talqindiatas
adalah lemah atau tidak ada sama sekali tidak ada halangan untuk
mengamalkan amalan-amalan yang mengandung keutamaan yang terdiri dari
doa-doa dan dzikir. Sebagaimana kaidah yang dikenal para ulama hadits
diantaranya Ibnu Hajr dalam kitab Fathul Mubin :32 yang mengatakan:
Sesungguhnya para ulama sepakat bahwa hadits lemah/dhoif boleh
dipakai/diamalkan pada Fadhailul Amal (amal-amal yang mengandung
keutamaan).
Mari kita lanjutkan mengenai ruh manusia yang telah wafat dapat berdoa,
melihat para kerabatnya yang masih hidup didunia.
Firman Allah swt. dalam At-Taubah : 105 :
Dan katakanlah (hai Muhammad); Hendaklah kalian berbuat. Allah dan RasulNya serta kaum Muminin akan melihat perbuatan kalian. Kemudian kalian
akan dikembalikan kepada-Nya Maha Mengetahui segala yang ghaib dan yang
nyata, lalu oleh-Nya kalian akan diberitahukan apa yang telah kalian perbuat.
Sekaitan dengan makna ayat diatas ini, ada beberapa hadits Nabi yang
menerangkan bahwa semua perbuatan kaum Muminin akan dihadapkan

kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad saw. dan kepada sanak-keluarga
dan kaum kerabat yang telah wafat. Mereka yang telah meninggal itu akan
bersedih hati bila kerabat mereka yang didunia melakukan amalan-amalan
yang dilarang oleh Allah swt., sehingga mereka berdoa pada Allah swt. agar
kerabatnya yang didunia mendapat hidayah dari Allah sebelum mereka wafat.
Mereka juga akan merasa bahagia bila mendengar amalan-amalan baik dari
kerabatnya yang didunia.
Ibnu Masud ra menuturkan, bahwasanya Rasulallah saw. telah menyata kan:
Hidupku adalah suatu kebaikan bagi kalian. Kalian akan memberitakan haditshadits dan akan diberitakan (periwayat-periwayat hadits). Wafatku pun suatu
kebaikan bagi kalian. Amal perbuatan kalian akan dihadapkan kepada- ku. Tiap
aku melihat yang baik, kupanjatkan puji syukur kepada Allah, dan tiap aku
melihat yang buruk akan kumohonkan ampunan-Nya bagi kalian.
Hadits lainnya :


) ,

Sesungguhnya perbuatanmu akan dihadapkan pada kaum kerabatmu yang telah meninggal. Jika
dilihatnya baik, maka mereka akan gembira, dan jika dilihatnya jelek, mereka akan kecewa. (Riwayat
Ibnu Jarir dari Abu Hurairah)

Ibnu Katsir juga menerangkan bahwa amal perbuatan orang-orang yang


masih hidup diperlihatkan kepada sanak-keluarga dan kaum
kerabat yang telah wafat, dialam barzakh. Kemudian ia mengetengahkan hadits
yang diriwayatkan oleh Abu Dawud At-Thayalaisi, berasal dari Jabir ra. yang
menuturkan, bahwasanya Rasulallah saw. telah menegaskan:
Amal perbuatan kalian akan diperlihatkan kepada sanak-keluarga dan kaum
kerabat. Jika amal kalian itu baik mereka menyambutnya dengan gembira. Jika
sebaliknya mereka berdoa; Ya Allah berilah mereka ilham agar berbuat baik
dan taat kepada-Mu .
Selanjutnya Ibnu Katsir mengetengahkan hadits yang diriwayatkan oleh
Imam Ahmad berasal dari Anas bin Malik ra. yang menuturkan bahwa
Rasulallah saw. pernah menyatakan :

,

( ) . :

Sesungguhnya amal perbuatanmu akan dihadapkan kepada kaum kerabat dan keluargamu yang telah
meninggal. Jika baik, mereka akan gembira karenanya, dan jika tidak mereka akan memohon: Ya Allah,
janganlah mereka diwafatkan sebelum mereka Engkau tunjuki, sebagaimana Engkau telah menunjuki
kami.(Riwayat Ahmad dan Turmudzi dari Anas)
Begitu juga masih banyak hadits yang serupa tapi versinya berbeda. Tidak lain semuanya menunjukkan
bahwa rahmat dan karunia Allah taala tidak ada batasnya. Jika kita tidak mempercayai kehidupan selain
dialam dunia saja, seperti yang disebutkan oleh ayat-ayat Ilahi dan hadits-hadits Rasulallah saw., serta
tidak mau tahu hal-hal ghaib maka kita bukan tergolong sebagai orang yang beriman. Allah sendiri
menerangkan bahwa urusan ruh tersebut adalah urusan Allah swt., (Al-Israa : 85), karena ilmu manusia
yang sangat minim ini sangatlah sulit untuk menjangkau hal-hal yang ghaib, kecuali orang-orang pilihan
yang diberi ilmu oleh Allah swt. untuk mengetahuinya.
Mungkin golongan pengingkar akan mengatakan sebagaimana kebiasaan mereka bahwa hadits-hadits
yang telah dikemukakan semuanya tidak dapat dipercaya, bukan hadits shohih ! Baiklah, tetapi apakah
mereka ini dapat membuktikan atas dasar kesaksiannya sendiri bahwa hadits itu bohong atau tidak
shohih? Tidak lain mereka ini akan mengemukakan hadits atau wejangan menurut pandangan ulama
mereka mengenai masalah diatas. Apakah mereka hendak memaksakan dan mewajibkan kepada orang
lain supaya mempercayai atau mengikuti ulama mereka mengenai kebenar- annya hadits atau wejangan
ulamanya ? Renungkanlah !
Banyak sekali contoh pada zaman modern ini yang kita lihat dan dengar sendiri tentang kejadian yang
menakjubkan tapi tidak semua yang terjadi tersebut terjangkau oleh setiap akal manusia. Begitu juga
ayat-ayat Ilahi yang menerangkan kejadian-kejadian yang semuanya masih diluar jangkau an akal
manusia, seperti kejadian pada zaman Nabi Sulaiman as. yang tercantum didalam surat An-Naml; 38-40,
kejadian para pemuda yang berada di gua Kahfi (Al-Kahfi: 9-12), juga mengenai orang yang dimatikan
oleh Allah swt. selama seratus tahun kemudian dihidupkannya kembali ( Al-Baqarah: 259) dan masih

banyak ayat-ayat lainnya yang tidak terjangkau dengan akal manusia. Semua kisah ini adalah firman Ilahi
yang harus kita imani/percayai walaupun belum bisa terjangkau dengan akal manusia kecuali mereka
yang telah diberikan ilmu oleh Allah swt. Wallahu alam .
Tahlilan/Yasinan (amalan atau hadiah pahala untuk orang mati serta dalilnya)
Setelah kita membaca uraian diatas mengenai amalan orang hidup yang bisa bermanfaat bagi si mayit,
pembacaan Al-Quran dikuburan, ruh-ruh kaum muslimin, talqin dan lain sebagainya insya Allah jelas
bagi pembaca bahwa amalan-amalan yang dikerjakan saudara-saudara kita itu mempunyai dalil dan akar
yang kuat. Begitu juga dengan majlis dzikir tahlilan/yasinan yang sering kita lihat, dengar atau kita alami
sendiri terutama di Indonesia. Didalam majlis ini diadakan pembacaan bersama ayat Al-Quran dan
berdoa yang ditujukan untuk kita, kaum muslimin umumnya dan khususnya untuk saudara-saudara kita
muslimin yang baru wafat atau yang telah lama wafat. Tahlilan ini boleh diamalkan baik secara berkumpul
maupun perorangan.
Hal yang sama ini dilakukan juga baik oleh ulama maupun orang awam dibeberapa kawasan dunia
umpamanya: Malaysia, Singapore, Yaman dan lainnya.
Memang berkumpul untuk membaca tahlilan ini tidak pernah diamalkan pada zamannya Rasulallah saw.
dan para sahabat. Itu memang bidah (rekayasa), tetapi bidah hasanah (rekayasa baik), karena sejalan
dengan dalil-dalil hukum syara dan sejalan pula dengan kaidah-kaidah umum agama. Sifat rekayasa
terletak pada bentuk berkumpulnya jamaah (secara massal), bukan terletak pada bacaan yang dibaca
pada majlis tersebut. Karena bacaan yang dibaca disana banyak diriwayatkan dalam hadits Rasulallah
saw. Tidak lain semuanya ini sebagai ijtihad para ulama-ulama pakar untuk mengumpulkan orang dan
mengamalkan hal tersebut.
Bacaan Tahlilan yang dibaca di Indonesia, Malaysia, Singapora, Yemen ialah: Pertama-tama berdoa
dengan di-iringi niat untuk orang muslimin yang telah lama wafat dan baru wafat tersebut, kemudian
disambung dengan bacaan surat Al-Fatihah, surat Yaasin, ayat Kursi (Al-Baqoroh :255) dan beberapa
ayat lainnya dari Al-Quran, tahlil (Pengucapan Lailahaillallah) tasbih (Pengucapan subhanallah), sholawat
Nabi saw. dan sebagainya. Setelah itu ditutup dengan doa kepada Allah swt. agar pahala bacaan yang
telah dibaca itu dihadiahkan untuk orang-orang yang telah wafat terutama dikhususkan untuk orang yang
baru wafat itu, yang oleh karenanya berkumpulnya orang-orang ini untuk dia. Juga berdoa pada Allah
swt. agar dosa-dosa orang muslimin baik yang masih hidup maupun telah wafat diampuni olehNya. Nah, dalam hal ini apanya yang salah? Allah swt. Maha Pengampun dan Dia telah berfirman akan
mengabulkan doa sese- orang yang berdoa pada-Nya !
Sedangkan mengenai makanan-makanan yang dihidangkan oleh sipembuat hajat itu bukan masalah
pokok tahlilan ini tidak lain hanya untuk menggembirakan dan menyemarakkan para hadirin sebagai
amalan sedekah dan dan tidak ada paksaan ! Bila ada orang yang sampai hutang-hutang untuk
mengeluarkan jamuan yang mewah, ini bukan anjuran dari agama untuk berbuat demikian, setiap orang
boleh mengamalkan menurut kemampuannya. Dengan adanya ini nanti dibuat alasan oleh golongan
pengingkar untuk mengharamkan tahlil dan makan disitu. Ini sebenarnya bukan alasan yang tepat karena
Tahlil tidak harus diharamkan atau ditutup karena penjamuan tersebut. Seperti halnya ada orang yang
ziarah kubur beranggapan bahwa ahli kubur itu bisa merdeka memberi syafaat pada orang tersebut tanpa
izin Allah swt., keyakinan yang demikian ini dilarang oleh agama. Tapi ini tidak berarti kita harus
mengharamkan atau menutup ziarah kubur karena perbuatan perorangan tersebut. Karena ziarah kubur
ini sejalan dengan hukum syariat Islam !
Sekali lagi penjamuan tamu itu bukan suatu larangan, kewajiban dan paksaan, setiap orang boleh
mengamalkan menurut kemampu annya, tidak ada hadits yang mengharamkan atau melarang keluarga
mayyit untuk menjamu tamu orang-orang yang taziah atau yang berkumpul untuk membaca doa
bersama untuk si mayyit..
Imam Syafii dalam kitabnya Al Umm mengatakan bahwa disunnahkan agar orang membuat makanan
untuk keluarga mayyit sehingga dapat menyenang kan mereka, yang mana hal ini telah diriwayatkan
dalam hadits bahwa Rasulallah saw. tatkala datang berita wafatnya Jafar bersabda;Buatkanlah
makanan untuk keluarga Jafar, karena telah datang kepada mereka urusan yang menyibukkan (Tartib
Musnad Imam Syafii, pembahasan tentang sholat, bab ke 23 Sholat jenazah dan hukum-hukumnya
hadits nr. 602 jilid 1 hal. 216)
Tetapi riwayat itu bukan berarti keluarga si mayyit haram untuk mengeluar- kan jamuan kepada para tamu
yang hadir. Begitu juga orang yang hadir tidak diharamkan untuk menyuap makanan yang disediakan oleh
keluarga mayyit. Penjamuaan itu semua adalah sebagai amalan sedekah dan suka rela terserah pada
keluarga mayyit. Rasulallah saw. sendiri setelah mengubur mayit pernah diundang makan oleh keluarga si
mayyit dan beliau memakan nya.

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu dawud dan Baihaqi dari Ashim bin Kulaib dari ayah seorang
sahabat Anshar, berkata:
Kami telah keluar menyertai Rasulallah saw. mengiringi jenazah, maka kulihat Rasulallah saw. berpesan
kepada penggali kubur, kata beliau saw., perluaslah arah kedua kakinya, perluaslah arah kepalanya.
Ketika beliau pulang ditemuilah orang yang mengundang dari pihak istrinya (istri mayyit), beliaupun
memenuhi undangan itu dan kami menyertainya lalu dihidangkan makanan, maka beliau mengulurkan
tangannya, kemudian hadirin mengulur- kan tangan mereka, lalu mereka makan, dan aku melihat
Rasulallah saw. mengunyah suapan di mulutnya.
Golongan pengingkar majlis tahlilan ada juga yang mengatakan bahwamembaca Tahlilan/Yasinan
dirumah si mayyit yang baru wafat, diadopsi oleh para Dai terdahulu dari upacara kepercayaan Animisme,
agama Budha dan Hindu. Menurut kepercayaan Animesme ruh-ruh keluarga yang wafat akan datang
kerumahnya masing-masing setelah pada hari 1-3-7 dan seterusnya, dan ruh-ruh ini mengharap sajiansajian dari keluarganya, bila tidak mereka akan marah dan lain-lain. Setelah mereka masuk Islam, akidah
yang sama tersebut masih dijalankan golongan ini (repot untuk dihilangkannya). Maka para Dai
penyebar pertama Islam di Indonesia termasuk wali songo merubah keyakinan mereka dan
memasukkan ajaran-ajaran dzikir untuk orang yang telah wafat itu. Jadi para Dai/ahli dakwah ini tidak
merubah adat mereka ini tapi memberi wejangan agar mereka berkumpul tersebut membaca dzikir pada
Allah swt. dan berdoa untuk si mayat, sedangkan sajian-sajian tersebuttidak ditujukan pada ruh mayat
tapi diberikan para hadirin sebagai sedekah/ peng hormatan untuk tamu !
Penafsiran golongan ini bahwa majlis tahlilan sebagai adopsi dari Hindu yang tidak beragama Islam dan
mempunyai banyak Tuhan dan sebagainya ini ialah pemikiran yang tidak benar serta dangkal sekali !
Penulis sejarah seperti ini adalah penulis yang hanya mengarang-ngarang saja dan anti majlis dzikir.
Pengarang ini tanpa memperhatikan tulisan atau ucapannya sehingga dia telah menyamakan kaum
muslimin termasuk para Dai, ulama pakar maupun orang awam yang ikut bercengkerama pada majlis
tahlilan/ yasinan ini dengan orang-orang kafir Hindu yang tidak bertauhid. Hati-hatilah !!
Para Dai sebelum datang di Indonesia sudah mengenal dan mengamalkan majlis dzikir, walaupun cara
mereka mengamal kan berbeda dengan kita yang di Indonesia tapi intinya sama
mereka mengenal riwayat-riwayat yang berkaitan dengan hadiah pahala amalan yang bermanfaat untuk
mayit. Semuanya ini (dzikiran, hadiah pahala amalan) sudah diterangkan dalam hadits Rasulallah saw.,
wejangan para ulama pakar dari semua madzhab Imam Hanafi, Maliki, Syafii dan Imam Ahmad beberapa
ratus tahunsebelum para Dai datang ke Indonesia.
Sedangkan cara pengamalan majlis dzikir ini berbeda-beda tapi inti dan maknanya sama
yaitu pembacaan do dan penghadiahan pahala bacaan ini kepada orang yang telah wafat. Ada
yang mengamalkannya sendirian/per-orangan saja dan ada yang mengamalkan dengan mengumpulkan
orang banyak untuk berdoa bersama yang ditujukan untuk si mayyit. Bertambah banyak orang
yang berdoa kepada Allah swt. sudah tentu bertambah baik dan lebih besar syafaat yang diterima untuk
si mayyit itu .
Didalam Islam kita dibolehkan serta dianjurkan untuk berdakwah dengan cara apapun selama cara
tersebut tidak keluar dari garis-garis syariat akidah Islam. Dengan demikian para Dai
merubah keyakinan orang-orang Hindu yang salah kepada yang benar yang sesuai dengan syariat Islam.
Dakwah mereka ini sangat hebat sekali mudah diterima dan dipraktekan oleh orang-orang yang fanatik
dengan agama dan adatnya yang tadinya di Jawa 85 % beragama Hindu menjadi 85% beragama
Islam sehingga mereka memeluk agama yang bertauhid satu !
Berdzikir pada Allah swt. itu boleh diamalkan setiap detik, menit, hari, bulan dan lain-lain lebih sering lebih
baik. Dakwah yang bisa merubah adat buruk suatu kaum kepada adat yang sejalan dengan syariat Islam
serta bernafaskan tauhid adalah dakwah yang sangat baik sekali. Dengan demikian kaum itu akan
kembali kejalan yang benar yang diridhoi Allah swt. Jadi para Dai waktu itu bukannya mengadopsi adatadat hindu sebagai mana pandangan golongan pengingkar tetapi mengajari pengikut adat Hindu ini
kepada jalan yang benar yang dibolehkan oleh syariat Islam. Dalam hal ini apanya yang salah.?
Sejarah mencatat juga bahwa penyebar Islam yang pertama kali ke Indonesia dari Gujarat, Cina, Persia
dan Iraq dimulai pada permulaan abad ke-12 M ( jadi sebelum wali songo). Di negara penyebar-penyebar
Islam (para Dai) yang pertama kali di Indonesia ini sudah sering diadakan kumpulan/majlis dzikir dan
peringatan-peringatan keagamaan diantaranya peringatan hari lahir dan wafatnya Nabi saw. (silahkan
baca bab maulidin Nabi saw. dalam buku ini), peringatan kelahiran dan kewafatan Amirul Mukminin Ali bin
Abi Thalib kw., peringatan kelahiran dan kewafatan Sayyidah Fatimah Az-Zahra putri Muhammad saw.
dan lain sebagainya, walaupun cara mereka mengadakan peringatan-peringatan tersebut tidak persis
atau sama dengan kita di Indonesia, tapi inti dan maknanya sama memperingati, menghadiahkan pahala
bacaan dan mendoakan orang-orang yang telah wafat.

Jadi majlis dzikir dan penghadiahan pahala bacaan yang dibaca ini sudah diamalkan oleh para ulama
pakar sebelum penyebar-penyebar Islam ini datang ke Indonesia ! Hal yang sama sering diamalkan juga
oleh kaum muslimin dari berbagai madzhab: Madzhab Hanafi, Maliki, Syafii dan sebagainya diseluruh
dunia, yang mana pengikut madzhab-madzhab ini sudah ada dimulai pertengahan abad ke 8 M atau
sekitar tahun 100 Hijriah yaitu mulai zamannya Imam Jafar Shodiq ( 80-148 H/ 699-765 M) bin
Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husin bin Ali bin Abi Thalib kw., yang mana Imam Hanafi,
Imam Malik ra pernah berguru pada Imam Jafar ini.
Tidak lain mengumpulkan orang untuk peringatan keagamaan ini dan berkumpulnya orang-orang untuk
membaca tahlil adalah hasil ijtihad yang baik dari para ulama pakar, yang semuanya ini tidak keluar dari
garis yang telah ditentukan oleh syariat. Amalan ini mereka teruskan dan jalankan di negara kita yang
mana sampai detik ini diamalkan oleh sebagian besar kaum muslimin di Indonesia.
Malah sekarang bisa kita lihat bukan hanya di negara kita saja, tetapi peringatan-peringatan Maulidin Nabi
saw. dan kumpulan majlis dzikir ini sudah menyebar serta dilaksanakan oleh sebagian besar kaum
muslimin diseluruh dunia dari berbagai madzhab (Hanafi, Maliki, Syafii, dan lain-lain) diantaranya:
Malaysia, Indonesia, Mesir, Irak, Iran, Afrika, Turki, Yemen, Marokko, negara Saudi Arabia, Pakistan dan
sebagainya.
Umpama saja, kita tolerans dan benarkan sejarah yang ditulis oleh golongan pengingkar ini mengenai
majlis tahlilan tersebut, sekali lagi umpamanya diketemukan sejarah yang benar/authentik dari zamannya
para Dai ke Indonesia yaitu meneruskan adat Hindu ini dengan mengarahkan kepada amalan-amalan
dzikir/tahlilan yang ditujukan untuk yang hadir dan si mayit apanya yang salah dalam hal ini ?
Para Dai merubah dan mengarahkan adat Hindu yang keliru ini yang mempercayai akan marahnya ruh
kerabat-kerabat mereka yang baru wafat bila tidak diberi sajian-sajian kepada si mayyit ini selama 1-3-7
hari kepada adat yang dibolehkan dan sejalan dengan syariat Islam. Dengan demikian adat-adat hindu
yang masih dilakukan oleh orang-orang yang baru memeluk agama Islam/ muallaf ini, diteruskan dengan
bacaan-bacaan dzikir serta doa-doa pada Allah swt. yang bisa bermanfaat untuk si mayyit. Sedangkan
sajian-sajian yang biasanya oleh kaum Hindu disajikan kepada ruh si mayyit, dirubah oleh para Dai untuk
disajikan kepada para kerabat mereka atau kepada para hadirin yang ada disitu.
Sedangkan waktu pelaksanaan berdzikir dan berdoa kepada Allah swt. untuk si mayyit selama 1-3-7 hari
atau lebih banyak hari lagi, ini semua boleh diamalkan. Karena didalam syariat Islam tidak ada larangan
setiap waktu untuk berdzikir dan berdoa kepada Allah swt. yang ditujukan baik untuk orang yang
masih hidup maupun yang sudah wafat. Malah sebaliknya banyak riwayat-riwayat Ilahi dan hadits
Rasulallah saw. yang menganjurkan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk berdzikir dan
berdoa setiap saat, lebih banyak waktu yang digunakan untuk berdzikir dan berdoa itu malah lebih baik!!
Sekali lagi bahwa para Dai waktu itu bukannya mengadopsi adat-adat hindu sebagaimana pandangan
golongan pengingkar tetapi mengajari pengikut adat Hindu ini kepada jalan yang benar yang dibolehkan
oleh syariat Islam. Dua kata-kata mengadopsi dan mengajari itu mempunyai arti yang berbeda!
Jika pikiran golongan pengingkar yang telah dikemukakan dituruti, beranikah mereka ini menuduh puasa
sunnah Asyura (10 Muharram) yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. dan beliau anjurkan kepada
para sahabatnyasebagai perbuatan meniru-niru orang Yahudi atau sebagai adopsi dari kaum ini? Karena
puasa sunnah Asyura dianjurkan oleh Rasulallah saw. setelah beliau melihat kaum Yahudi di Madinah
puasa pada hari 10 Muharram tersebut. Beliau saw. bertanya kepada kaum Yahudi mengapa mereka ini
berpuasa pada hari itu ? Mereka menjawab; Pada hari ini Allah swt. menyelamatkan nabi mereka dan
menenggelamkan musuh mereka. Kemudian Nabi saw. menjawab: Kami lebih berhak memperingati
Musa dari- pada kalian!(Nahnu aula bi muusaa minkum).
Begitu juga Nabi saw. pernah ditanya mengenai puasa sunnah setiap hari Senin, beliau saw.
menjawab; Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu juga (Allah swt.) menurunkan wahyu
kepadaku. Mengapa golongan pengingkar ini tidak menuduh puasa sunnah hari Senin yang dilakukan
Nabi saw. untuk memperingati hari kelahiran beliau dan menghormati turunnya wahyu yang pertama,
sebagai perbuatan meniru-niru golongan Kristen yang memperingati hari kelahiran Yesus ?
Wahai golongan pengingkar, janganlah kalian selalu mencari-cari alasan untuk melarang orang tahlilan
dengan memasukkan macam-macam riwayat atau sejarah yang mana semuanya ini tidak ada sangkut
pautnya dengan larangan agama untuk membaca tahlilan dan hanya menambah dosa kalian saja !! Jadi
selama ini yang mengatakan menurut ceritera bahwa tahlilan, yasinan adalah warisan atau adopsi dari
kepercayaan Animesme, Hindu atau Budha adalah tidak benar! Ini hanya sekedar Dongengan
Belaka yang diada-adakan oleh mereka yang anti majlis dzikir.
Mereka juga mengatakan seperti biasanya amalan-amalan tersebut adalah Bidah, Syirk dan
sebagainya karena tidak pernah dilakukan atau dianjurkan oleh Rasulallah saw., para sahabat atau
tabiin, dan bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah sambil mengambil dalil hanya dari beberapa

bagian al-Qurandan Sunnah yang sepaham dengan pikiran mereka dan meninggalkan serta
melupakan dari surat-surat Al-Quran dan Sunnah yang lainnya. Mereka lebih mengartikan Bidah secara
tekstual (bahasa) daripada secara Syariat. (Baca keterangan mengenai Bidah).
Ingatlah saudara-saudaraku, mereka ini berkumpul untuk berdzikir pada Allah swt. dengan niat dan tujuan
untuk mendekatkan diri kepada-Nya yang mana dzikir ini sudah pasti mendapat pahala karena banyak
ayat ilahi dan hadits Rasulallah saw. mengenai pahala bacaan-bacaan dzikir (tahmid, sholawat, takbir,
tahlil dan lain-lain) yang dibaca dimajlis-majlis tersebut (rujuklah pahala baca Al-Quran dan sebagainya
dibuku ini). Bila golongan yang tidak senang amalan tersebut serta ingin menyerukan yang baik dan
melarang yang munkar/jelek, laranglah dan nasehatilah secara baik pada orang-orang yang melanggar
agama yang pelanggaran tersebut sudah disepakati oleh seluruh ulama madzhab Sunnah tentang
haramnya (pelacuran, peminum alkohol dan lain-lain). Janganlah selalu menteror, mensesatkan atau
mengharamkan majlis dzikir, tawassul, tabarruk dan sebagainya yang semuanya mempunyai dalil.
Dan janganlah mudah mengafirkan golongan muslimin yang berdosa tersebut selama mereka masih
mentauhidkan Allah swt. dan mengakui kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya. Camkanlah hadits
Rasulallah saw. yang mengecam orang yang menuduh muslimin sebagai kafir, fasiq, munafik karena
hanya amal perbuatan mereka tersebut !
Bila golongan pengingkar ini tidak mau mengamalkan tawassul, tabarruk, ziarah kubur, kumpulan majlis
dzikir dan sebagainya, disebabkan mengikuti wejangan ulama-ulama mereka yang melarang hal
tersebut, silahkan dan itu adalah urusan mereka sendiri dan tidak ada kaum muslimin lainnya yang
mencela, mensesatkan mereka atau merasa rugi dalam hal ini, karena semuanya itu amalan
sunnah bukan wajib. Tapi janganlah, karena keegoisan dan kefanatikannya pada wejangan ulamanya
sendiri, menyuruh dan mewajibkan muslimin seluruh dunia untuk tidak melaksanakan tawassul, tabarruk,
kumpulan dzikir bersama dan sebagainya, sampai-sampai berani mengkafirkan, menghalalkan darahnya,
mensesatkan dan memunkarkan mereka karena mengamalkan hal-hal tersebut. Orang-orang yang
mengamalkan kebaikan ini sebagai amalan tambahannya serta mereka tidak mensyariatkan atau
mewajibkan amalan-amalan tersebut.
Pikiran mereka seperti itu juga akan dibodohkan oleh muslimin, karena banyak wejangan ulama-ulama
pakar yang berkaitan dengan amalan-amalan diatas serta mereka ikut bercengkerama didalam majlismajlis tersebut ! Bagi non-muslim akan lebih mempunyai bukti atas kelemahan muslimin dan mereka akan
berpikiran bahwa agama Islam adalah agama yang suka mencela, tidak toleransi, dengan sesama
agamanya saja mereka mensesatkan atau menghalallkan darahnya apalagi dengan kita yang non-muslim
!
Perselisihan/perbedaan dalam hal tersebut seharusnya diselesaikan secara baik oleh sesama ulamaulama Islam, sehingga bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan ummat Islam.
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa perbedaan pendapat setiap manusia atau golongan itu selalu
ada, tetapi bukan untuk diperuncing atau dipertajam. Setiap golongan muslimin berdalil pada Kitabullah
dan Sunnah Rasulallah saw., tetapi berbeda cara penafsiran dan penguraiannya. Alangkah baiknya kalau
sesama muslim satu sama lain tidak mengkafirkan, mensesatkan pada orang yang senang mengamalkan
amalan-amalan sunnah yang baik itu ! Begitupun juga kita harus saling toleransi baik antara muslimin
sesamanya atau antara muslimin dan non-muslimin (yang tidak memerangi kita). Dengan demikian
keharmonisan hidup akan terlaksana dengan baik.
Telah dikemukakan juga bahwa kita dibolehkan mengeritik, mensalahkan akidah atau keyakinan suatu
golongan muslimin yang sudah jelas dan tegasdilarang oleh agama umpamanya; menyembah berhala,
mengatakan bahwa Nabi Muhammad sebagai anak Allah swt., menyerupakan/tasybih Allah swt. dengan
makhluk-Nya, tidak mempercayai adanya Malaikat, menghalalkan makan babi, main judi, membolehkan
orang meninggalkan sholat wajib dengan sengaja dan sebagainya, ini semua sudah jelas bertentangan
dengan ajaran syariat Islam. Semoga kita semua diberi Taufiq oleh Allah swt. Amin
Keterangan singkat mengenai Peringatan Haul
Orang-orang Arab Jahiliyyah setelah menunaikan haji mereka hanya bermegah-megahan tentang
kebesaran nenek moyangnya saja. Kemudian turun perintah Allah swt. agar mereka sebagaimana
mereka menyebut-yebut nenek moyangnya agar banyak berdzikir pada Allah swt.:
Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah,
sebagaimana
kamu
menyebut-nyebut (membangga-bangga
kan) nenek
moyangmu,
atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. (Al-Baqarah: 200)
Dalam ayat diatas ini, Allah swt. tidak melarang adat mereka setiap tahun setelah usai haji menceriterakan
riwayat hidup dan membangga-bangga kan nenek moyangnya, hanya Allah swt. menghendaki agar orang
Arab Jahiliyyah disamping membangga-banggakan tersebut juga banyak berdzikir pada Allah swt.!

Sebagian ulama mengatakan ayat ini bisa dijadikan sebagai dalil diboleh- kannya orang-orang setiap
tahun memperingati para wali atau sholihin yang telah wafat (Haul). Karena dalam peringatan ini para
ulama akan menyebut- kan/mengumandangkan kepada hadirin riwayat hidup para wali/sholihin yang
diperingati ini, kemudian diakhiri dengan berdoa kepada Allah swt. agar amalan-amalan para
wali/sholihin ini diterima oleh Allah swt. dan para hadirin diberi taufiq oleh Allah sehingga bisa mencontoh
amal perbuatan para sholihin yang terpuji, dimasa hidupnya mereka.
Kita juga telah membaca beberapa riwayat mengenai ruh-ruh sedemikian besar artinya dan sedemikian
tinggi martabat yang dikaruniakan Allah swt. kepada para waliyullah khususnya dan hamba Allah
mukminin pada umum nya. Mereka bisa berdoa pada Allah swt. baik untuk para kerabatnya maupun para
hadirin yang berziarah dimakam-makam mereka. Ruh-ruh mereka bisa hadir dimakamnya atau ditempat
lainnya yang mereka kehendaki setiap waktu.
Dengan demikian peringatan Haul ini banyak manfaat baik bagi orang yang masih hidup maupun yang
sudah wafat. Bagi yang sudah wafat mendapat doa dari jamaah, fadhilah atau pahala pembacaan AlQuran yang ditujukan kepadanya. Sedangkan berkumpulnya jamaah (para hadirin) yang membaca doa
ini sudah tentu akan mendapat pahala, rahmat dan berkah dari Allah swt., karena ziarah kubur pada orang
muslim yang biasa saja sudah termasuk sunnah Rasulallah saw. apalagi menziarahi para ulama, para
sholihin dan para wali yakni orang-orang yang dibanggakan, dipuji oleh Allah swt. dan Rasul-Nya.
Jika haul yakni berkumpulnya orang banyak untuk ziarah dimuka kuburan para wali sebagai bidah, itu
sungguh merupakan bidah mahmudah (bidah yang terpuji) atau bidah hasanah (bidah yang baik)
karena sejalan dengan kaidah hukum syariat Islam (baca bab Bidah di buku ini).Tidak ada alasan untuk
menuduh penyelenggaraan Haul itu bidah dholalah (bidah sesat) atau haram, selagi tuduhan itu tidak
didasarkan pada nash-nash Kitabullah dan Sunnah Rasulallah saw. yang dengan tegas dan jelas
mengharamkan Haul. Mengharamkan sesuatu yang oleh syara tidak diharamkan, apalagi jika tidak
disertai dalil yang tegas dari Kitabullah dan Sunnah Rasulallah, itu bukan lain hanyalah omong kosong
dan semata-mata mengada-adakan kedustaan terhadap Allah dan Rasul-Nya dan sama sekali bukan dari
ajaran agama ! Ingat ayat Allah swt. dalam surat Asy-Syuraa:21: .mereka yangmensyariatkan
sebagian dari agama sesuatu yang tidak di-izinkan Allah.
Jadi sesuatu yang menurut asalnya (pada dasarnya) halal tidak boleh diharamkan kecuali atas dasar dalil
yang benar dan jelas serta sejalan dengan penegasan Allah dan Rasul-Nya tentang pengharamannya.
Banyak masalah ilmu figih yang tidak menghapus sama sekali adat-adat Jahiliyyah. Nabi saw. meneliti
adat-adat Jahiliyyah yang baik dan tidak melanggar syariat Islam itu boleh diamalkan sedangkan adat
Jahiliyyah yang buruk dan melanggar syariat itu harus dihapus. Umpama hal meminang dalam
perkawinan, perceraian, masa iddah dan lain sebagainya ini sudah ada pada zaman jahiliyyah jadi bukan
masalah yang baru dalam agama Islam. Rasulallah saw. meneliti kembali masalah-masalah tersebut
untuk bisa disesuaikan dengan hukum syariat Islam.
Demikianlah sekelumit keterangan mengenai peringatan Haul, sebagai tambahan setelah keterangan
mengenai tahlilan/yasinan. Semoga Allah swt. memberi petunjuk yang benar kepada kita semua. Amin
Dalil-dalil orang yang membantah dan jawabannya
Banyak orang salah mengartikan makna beberapa hadits atau ayat ilahi berikut ini, dengan adanya salah
penafsiran tersebut mereka mudah mengharamkan atau mensesatkan amalan-amalan orang hidup yang
dituju- kan pahalanya untuk orang yang mati.

1. Hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasai dan


Ahmad :
: .


. )( :

( )
,

Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal :
Sedekah jariyah, anak yang shalih yang mendoakannya atau ilmu yang
bermanfaat sesudahnya.
Mereka berkata: Kata-kata ingataa amaluhu (putus amalnya) pada hadits
tersebut menunjukkan bahwa amalan-amalan apapun kecuali yang tiga
itu tidak akan sampai pahalanya kepada mayyit !
Pikiran seperti itu adalah tidak tepat, karena sebenarnya yang dimaksud hadits
tersebut sangat jelas bahwa tiap mayit telah selesai dan putus amal- nya,
karena ia tidak diwajibkan lagi untuk beramal. Tetapi ini bukan berarti putus
pengambilan manfaat dari amalan orang yang masih hidup untuk si mayit itu.
Juga tidak ada keterangan dalam hadits tersebut bahwa si mayyit tidak dapat
menerima syafaat, hadiah bantuan doa dan sebagainya dari orang lain selain

dari anaknya yang sholeh. Tidak juga berarti bahwa si mayit tidak bisa berdoa
untuk orang yang masih hidup. Malah ada hadits Rasulallah saw.bahwa para
Nabi dan Rasul masih bersembah sujud kepada Allah swt.didalam kuburnya.
Dalam syarah Thahawiyah halaman 456 disebutkan: bahwa dalam hadits
tersebut tidak dikatakan ingataa intifauhu (terputus keadaannya untuk
memperoleh manfaat) hanya disebutkan ingataa amaluhu (terputus amal- nya).
Adapun amalan orang lain maka itu adalah milik orang yang mengamal kannya,
jika dia menghadiahkannya kepada si mayit, maka akan sampailah pahala
orang yang mengamalkan itu kepadanya. Jadi yang sampai itu adalah pahala
orang yang mengamalkan bukan pahala amal si mayit itu.
Banyak hadits Nabi saw. yang berarti bahwa amalan-amalan orang yang hidup
bermanfaat bagi si mayit diantaranya ialah doa kaum muslimin untuk si mayit
pada sholat jenazah dan sebagainya (baca keterangan sebelumnya) yang
mana doa ini akan diterima oleh Allah swt., pelunasan hutang setelah wafat,
pahala haji, pahala puasa dan sebagainya (baca haditsnya dihalaman
selanjutnya) serta doa kaum muslimin untuk sesama muslimin baik yang masih
hidup maupun yang sudah wafat sebagaimana yang tercantum pada ayat
Ilahi Al-Hasyr.10 .
Begitu juga pendapat sebagian golongan yang mengikat hanya doa dari anak
sholeh saja yang bisa diterima oleh Allah swt. adalah pikiran yang tidak tepat
baik secara naqli (nash) maupun aqli (akal) karena hal tersebut akan
bertentangan juga dengan ayat ilahi dan hadits-hadits Nabi saw. mengenai
amalan-amalan serta doa seseorang yang bermanfaat bagi si mayit maupun
bagi yang masih hidup.
Mengapa dalam hadits ini dicontohkan doa anak yang sholeh karena dialah
yang bakal selalu ingat pada orang tuanya dimana orang-orang lain telah
melupakan ayahnya. Sedangkan anak yang tidak pernah atau tidak mau
mendoakan orang tuanya yang telah wafat itu berarti tidak termasuk
sebagai anak yang sholeh.
Dari anak sholeh ini si mayit sudah pasti serta selalu (kontinu) menerima
syafaat darinya. Begitulah yang dimaksud makna dari hadits ini, dengan
demikian hadits ini tidak akan berlawanan/berbenturan maknanya dengan
hadits-hadits lain yang menerangkan akan sampainya pahala amalan orang
yang masih hidup (penebusan hutang, puasa, haji, sholat dan lain-lain) yang
ditujukan kepada simayit. Begitu juga mengenai amal jariahnya dan ilmu yang
bermanfaat selama dua hal ini masih diamalkan oleh manusia yang masih
hidup, maka si mayit selalu (kontinu) menerima juga syafaat darinya.
Kalau kita tetap memakai penafsiran golongan pengingkar yang hanya
membatasi doa dari anak sholeh yang bisa sampai kepada mayyit, bagaimana
halnya dengan orang yang tidak mempunyai anak ? Apakah orang yang tidak
punya anak ini tidak bisa mendapat syafaat/manfaat doa dari amalan orang
yang masih hidup? Sekali lagi penafsiran dan pembatasan hanya doa anak
sholeh yang bermanfaat bagi si mayyit adalah tafsiran yang salah, karena
bertentangan dengan hadits-hadits shohih mengenai amalan-amalan orang
hidup yang bermanfaat buat si mayyit, diantaranya doa orang-orang muslimin
pada waktu sholat jenazah.
Dalam Al-Majmu jilid 15/522 Imam Nawawi telah menghikayatkan ijma ulama
bahwa sedekah itu dapat terjadi untuk mayyit dan sampai pahalanya dan
beliau tidak mengaitkan bahwa sedekah itu harus dariseorang anak .
Hal yang serupa ini juga diungkapkan oleh Syaikh Bakri Syatha Dimyati dalam
kitab Ianatut Thalibin jilid 3/218 : Dan sedekah untuk mayyit dapat memberi
manfaat kepadanya baik sedekah itu dari ahli warisnya ataupun dari yang
selainnya
Juga hadits-hadits Nabi saw. mengenai hadiah pahala Qurban diantaranya
yang diriyayatkan oleh Muslim dari Anas bin Malik ra:

)( ) ( .
.

Dari Anas bahwasanya Ali kw. berkorban dengan dua ekor kambing kibas. Yang satu (pahalanya) untuk
Nabi Muhammad saw.dan yang kedua (pahalanya) untuk beliau sendiri. Maka ditanyakanlah hal itu
kepadanya (Ali kw.) dan beliau menjawab : Nabi saw.memerintahkan saya untuk melakukan hal demikian
maka saya selalu memperbuat dan tidak meninggalkannya . (HR Turmudzi).
Aisyah ra mengatakan bahwasanya Rasulallah saw. menyuruh didatangkan seekor kibas untuk
dikorbankan. Setelah didatangkan beliau saw. berdoa :

Dengan nama Allah ! Ya, Allah terimalah (pahala korban ini) dari Muhamad, keluarga Muhamad dan dari
ummat Muhammad ! Kemudian Nabi menyembelihnya. (HR. Muslim)
Begitu juga hadits yang senada diatas dari Jabir ra yang diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud dan Turmudzi
yang menerangkan bahwa ia pernah shalat Iedul Adha bersama Rasulallah saw., setelah selesai shalat
beliau diberikan seekor domba lalu beliau menyembelihnya seraya mengucapkan:
Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah, kurban ini untukku dan untuk umatku yang belum
melakukan qurban.
Tiga hadits diatas ini menunjukkan hadiah pahala korban dari Sayyidina Ali kw untuk dirinya dan untuk
Nabi saw., begitu juga pahala korban dari Nabi saw untuk para keluarganya dan bahkan untuk segenap
ummatnya. Hadits-hadits ini malah membolehkan hadiah pahala amalan yang ditujukan kepada orang
yang masih hidup yang belum sempat berqurban, padahal orang yang hidup itu masih bisa beramal
sendiri didunia ini. Rasulallah saw. berdoa kepada Allah swt. agar Dia menerima (pahala) qurban
untuk dirinya, keluarganya dansemua ummat muslimin.
Imam Nawawi dalam syarah Muslim jilid 8/187 mengomentari hadits diatas ini dengan katanya :
Diperoleh dalil dari hadits ini bahwa seseorang boleh berkorban untuk dirinya dan untuk segenap
keluarganya serta menyatukan mereka bersama dirinya dalam hal pahala. Inilah madzhab kita dan
madzhab jumhur.
Juga pengarang kitab Bariqatul Muhammadiyah mengkomentari hadits diatas tersebut dengan katanya ;
Doa Nabi saw. itu menunjukkan bahwa Nabi menghadiahkan pahalakorbannya kepada ummatnya dan
ini merupakan pengajaran dari beliau bahwa seseorang itu bisa memperoleh manfaat dari amalan orang
lain. Dan mengikuti petunjuk beliau saw. tersebut berarti berpegang dengan tali yang teguh.
Juga sepakat kaum muslimin bahwa membayarkan hutang dapat menggugur kan tanggungan mayyit
walaupun pembayaran tersebut dilakukan oleh orang yang lain yang bukan dari keluarga mayyit. Hal yang
demikian ini ditunjukkan oleh Abi Qatadah dimana beliau menanggung hutang seorang mayyit sebesar
dua dinar. Tatkala beliau telah membayarkan yang dua dinar itu Nabi saw. bersabda : Sekarang bisalah
dingin kulitnya. (HR. Imam Ahmad).
Walaupun cukup banyak hadits yang membolehkan amalan orang yang hidup (hadiah pahala dan lainlain) yang berguna untuk si mayit tanpa menyebutkan syarat-syarat tertentu, tapi masih ada saja golongan
yang berbeda pendapat mengenai hukumnya penghadiahan pahala ini. Ada golongan yang membedakan
antara ibadah badaniyah (jasmani) dan ibadah maliyah (harta).
Mereka berkata; pahala ibadah maliyah seperti sedekah dan haji sampai kepada mayit, sedangkan ibadah
badaniyah seperti shalat dan bacaan Alquran tidak sampai. Mereka berpendapat juga bahwa ibadah
badaniyahadalah termasuk kategori ibadah yang tidak bisa digantikan orang lain, sebagaimana sewaktu
hidup seseorang tidak boleh menyertakan ibadah tersebut untuk menggantikan orang lain. Hal ini sesuai
dengan sabda Rasulallah saw.: Seseorang tidak boleh melakukan shalat untuk mengganti- kan orang
lain, dan seseorang tidak boleh melakukan shaum (puasa) untuk menggantikan orang lain, tetapi ia
memberikan makanan untuk satu hari sebanyak satu mud gandum? (HR An-Nasai)
Sebenarnya makna hadits terakhir ini ialah: Misalnya si A malas untuk sholat Ashar maka si A minta pada
Si B untuk menggantikannya, inilah yang dilarang oleh agama. Karena orang yang masih hidup harus
menunaikan sholat dan puasa sendiri-sendiri tidak boleh diwakilkan pada orang lain.
Begitu juga bila orang yang masih hidup tidak mampu puasa lagi karena alasan-alasan tertentu yang
dibolehkan agama umpama sudah tua sekali atau mempunyai penyakit chronis dan lain
sebagainya tidak boleh digantikan oleh orang lain tetapi yang bersangkutan setiap harinya harus
mengeluarkan sedekah untuk memberi makan orang miskin satu mud ( 800 gram).
Dengan demikian hadits terakhir diatas ini tidak tepat sekali untuk digunakan sebagai dalil melarang
amalan ibadah badaniyah yang pahala amalannya dihadiahkan kepada mayit. Karena cukup banyak
hadits Rasulallah saw. baik secara langsung maupun tidak langsung yang membolehkan penghadiahan
pahala amalan untuk orang yang telah wafat baik itu berupa ibadah badaniyah maupun ibadah maliyah.
(baca haditsnya pada halaman berikut)
Ada
golongan
ulama
yang berpendapat
bahwa
penghadiahan
pahala
baik
ituibadah
badaniyah maupun ibadah maliyah akan sampai kepada simayyitumpama pembacaan Al-Quran, puasa,

haji, pelunasan hutang setelah wafat, sedekah dan lain-lainnya dengan mengqiyaskan hal ini pada
hadits-hadits Nabi saw mengenai sampainya pahala ibadah puasa, haji, sholat, pelunasan hutang setelah
wafat, doa kaum muslimin untuk muslimin yang telah wafat dan sebagainya.
Golongan ini berkata: Pahala adalah hak orang yang beramal, jika ia menghadiahkan kepada sesama
muslim maka hal itu mustahab/baik sebagai mana tidak adanya larangan menghadiahkan harta untuk
orang lain diwaktu hidupnya atau membebaskan hutang setelah wafatnya.
Begitupun juga tidak ada dalil jelas yang mengatakan pembacaan Al-Quran tidak akan sampai pada si
mayit. Jadi dengan banyaknya hadits dari Nabi saw. mengenai sampainya pahala amalan atau manfaat
doa untuk si mayit bisa dipakai sebagai dalil sampainya juga pahala pembacaan Al-Quran pada si mayit.
Sayang sekali kalau hal ini kita remehkan dan tinggalkan, karena Rahmat dan Karunia Ilahi tidak ada
batasnya.
2. Golongan pengingkar menyebutkan beberapa dalil lagi untuk menolak hadiah pahala untuk si mayyit
diantaranya :
Firman Allah dalam surat an-Najm ayat 39: Tidaklah ada bagi seseorang itu kecuali apa yang dia
usahakan.
Mereka berkata: Bukankah ini menunjukkan bahwa amal orang lain tidak akan bermanfaat bagi orang
yang sudah mati karena itu bukan usahanya. Dengan demikian dalam Islam tidak ada yang dinamakan
hadiah pahala !
Ayat tersebut dijadikan oleh mereka sebagai dalil untuk menolak adanya hadiah pahala untuk si mayyit, ini
juga tidak tepat sekali. Dalam ayat ini Allah swt. tidak mengatakan juga bahwa si mayit tidak dapat
mengambil manfaatkecuali dari usahanya sendiri. Bila golongan ini konsekwen dan adil, maka dengan
penafsiran mereka seperti diatas ini, mereka juga harus mengatakan bahwa semua amalan muslimin
yang masih hidup (termasuk doa) baik itu dari anaknya atau orang lain tidak bisa memberi manfaat atau
syafaat pada si mayit. Juga dengan penafsiran mereka itu, mereka tidak bisa mengatakan;amalan, doa
dari anak sholeh atau dari seorang anak untuk orang tuanya saja yang bisa diterima tapi kalau dari selain
itu tidak bisa.
Karena ayat ilahi (An-Najm :39) tersebut mengatakan: Tidaklah ada bagi seseorang itu kecuali apa yang
dia usahakan, tanpa tambahan atau perkecualian kalimathanya/kecuali amalan seorang anak
sholeh terhadap orang tuanya yang telah wafat saja yang bisa diterima !
Dengan adanya penafsiran mereka dan penolakannya yang tidak tepat ini, akan terjadi kontradiksi dengan
hadits-hadits Rasulallah saw. yang telah diakui keshohihannya oleh ulama-ulama pakar masalah
sampainya pahala amalan orang lain untuk si mayyit. (puasa, shodaqah, haji, sholat, pembayar an hutang
dan sebagainya).
Disamping itu banyak ulama-ulama pakar yang telah menerangkan maksud ayat (An- Najm:39) tersebut
diantaranya dalam kitab Syarah Thahawiyah hal. 455 kita ambil garis besar intinya saja
menerangkan: Manusia dengan usaha dan pergaulannya yang santun akan memperoleh banyak kawan
dan sahabat, menikahi istri dan melahirkan anak, melakukan hal-hal yang baik untuk masyarakat dan
menyebabkan orang-orang cinta dan suka padanya. Manusia yang banyak sahabat dan kawan yang cinta
padanya itu bila wafat akan memperoleh manfaat dari doa para sahabat dan kawan-kawannya tersebut
(umpama pada waktu sholat jenazah, ziarah kuburnya dan sebagainyapen). Dalam satu penjelasan Allah
swt. juga menjadikan iman sebagai sebab untuk memperoleh kemanfaatan dengan doa serta usaha dari
kaum mukminin yang lain. Merekapun akan berdoa untuknya, itu semua adalah bekas dari usahanya
sendiri.
Ayat Al-Quran tidak menafikan adanya kemanfaatan untuk seseorang dengan sebab usaha orang lain.
Ayat Al-Quran hanya menafikan kepemilik-anseseorang terhadap usaha orang lain. Dua perkara ini jelas
berbeda. Allah swt. hanya menfirmankan bahwa orang itu tidak akan memiliki kecuali apa yang dia
usahakan sendiri. Adapun usaha orang lain, maka itu adalah milik bagi siapa yang mengusahakannya.
Jika dia mau, dia boleh memberi-kannya kepada orang lain atau boleh menetapkannya untuk dirinya
sendiri. (jadi pada kata kata lil-insan pada ayat itu adalah lil-istihqaq yakni menunjukkan arti milik).
Beginilah jawaban yang dipilih oleh pengarang kitab Syarah Thahawiyah.

Sedangkan menurut ahli tafsir Ibnu Abbas ra dalam menafsirkan ayat


An- Najm : 39 adalah :

Ini (ayat) telah dinaskh (dikesampingkan) hukumnya dalam syariat kita


dengan firman Allah Taala; Kami hubungkan dengan mereka anak-anak
mereka, maka dimasukkanlah anak (yang beriman) kedalam surga berkat
kebaikan yang diperbuat oleh bapaknya.(Tafsir Khazin jilid 4/223).

Firman Allah swt yang dimaksud oleh Ibnu Abbas sebagai pengenyampingan
surat An-Najm: 39 adalah surat At-Thur ayat 21 yang berbunyi sebagai
berikut: Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti
mereka dengan iman, maka Kami hubungkan anak cucu mereka itu dengan
mereka dan Kami tidaklah mengurangi sedikitpun dari amal mereka. Tiap-tiap
orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.(At-Thur ayat 21)
Dengan demikian menurut Ibnu Abbas surat An-Najm; 39 itu sudah
dikesampingkan hukumnya, berarti sudah tidak bisa dimajukan sebagai dalil.
Kalau kita baca ayat At-Thur ini menunjukkan bahwa amalan-amalan datukdatuk kita yang beriman yang telah wafat, bisa memberi syafaat bagi
kerabatnya yang beriman yang masih hidup. Nah, bukan hanya amalan-amalan
orang yang hidup saja yang bisa bermanfaat bagi si mayyit tetapi orang yang
beriman yang telah wafatpun bisa memberi syafaat.Tidak lain ini semua
menunjukkan Rahmat dan Karunia Ilahi yang sangat luas sekali. Pikirkanlah!
3. Dalil lainnya dari golongan pengingkar yaitu firman Allah swt. dalam surat AlBaqarah ayat 286 :
Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya.Bagi- nya
apa yang dia usahakan (daripada kebaikan) dan akan menimpanya apa yang
dia usahakan (daripada kejahatan).
Mereka ini berkata : Bukankah ayat ini menunjukkan bahwa usaha orang lain
tidak akan didapatkan pahalanya dan kejahatan orang lain tidak akan
dipikulkan dosanya.
Pengertian yang seperti itu adalah tidak benar sekali ! Karena dalam ayat itu
juga tidak menafikan seseorang akan mendapatkan manfaat dari usaha orang
lain. Hal ini sama dengan ucapan: Seorang akan memperoleh harta dari
usahanya sendiri. Ucapan ini bukan berarti dia tidak bisa memperoleh harta
yang bukan dari usahanya sendiri, karena bisa saja dia memperoleh harta dari
warisan orang tuanya, pemberian hadiah dari orang lain. Lain halnya kalau ayat
diatas mengandung pembatasan (hasr) umpama bunyi- nya sebagai berikut :

Tidak ada baginya kecuali apa yang dia usahakan atau


seseorang hanya bisa mendapat apa yang dia usahakan.
c). Mereka juga berdalil pada firman Allah swt. dalam surat Yaasin
ayat 54 :
Tidaklah mereka diberi balasan kecuali terhadap apa yang mereka
kerjakan.
Dengan berdalil dengan ayat ini mereka meniadakan pahala dari orang lain,
pikiran seperti ini juga tidak tepat sekali karena dalam ayat ini jelas Allah swt
juga tidak menafikan hadiah pahala terhadap orang lain karena pangkal ayat
tersebut adalah :
Pada hari dimana seseorang tidak akan didzalimi sedikitpun dan seseorang
tidak akan diberi balasan kecuali terhadap apa yang mereka kerjakan.
Dengan memperhatikan konteks ayat tersebut dapatlah dipahami bahwa
seseorang tidak akan disiksa sebab kejahatan orang lain, jadi bukan berarti
seseorang tidak bisa memperoleh pahala sebab amal kebaikan orang lain
(baca Syarah Thahawiyah hal. 456).
5. Golongan pengingkar ini juga berkata bahwa membaca Al-Quran untuk
mayyit tidak dikenal dan tidak diamalkan oleh ulama-ulama salaf dan juga tidak
ada petunjuk dari Nabi saw. lalu mengapa hal itu dilakukan oleh orang-orang
sekarang ? Juga kata mereka: Yang sudah nyata-nyata disyariatkan adalah
berdoa untuk mayyit. Mengapa tidak itu saja yang dilakukan tanpa harus
capek-capek membaca Al-Quran, tahlil dan dzikir terlebih dahulu.
Sebagaimana telah dikemukakan pada bab Bidah dibuku ini bahwa Nabi saw.
sendiri meridhoi amalan para sahabatnya tentang tambahan bacaan dalam
sholat yang diamalkan oleh sahabat beliau saw yang mana amalan bacaan
tersebut tidak pernah adanya petunjuk sebelumnya dari Nabi saw.serta tidak
pernah sesudahnya diperintahkan oleh beliau saw.!

Tidak ada petunjuk Nabi saw. atau tidak diamalkan oleh ulama-ulama salaf
bukanlah sebagai satu dalil atau hujjah untuk melarang dan mengharamkan hal
ini apalagi mereka memutuskan bahwa pahala bacaan tersebut tidak akan
sampai pada si mayyit!!
Pikiran dan pertanyaan semacam diatas ini juga bukan sebagai dalil atau
hujjah untuk tidak sampainya pahala bacaan. Kalau mereka mengakui hadits
shohih mengenai sampainya pahala haji, puasa dan doa, makaapakah
perbedaan yang demikian itu dengan sampainya pahala membaca Al-Quran?
Janganlah kalian membatasi sendiri Rahmat Ilahi karena Rahmat-Nya sangat
luas sekali !!
Rasulallah saw. waktu itu ditanya mengenai haji untuk orang yang sudah
wafat, puasa untuk orang yang sudah wafat dan sedekah untuk orang yang
sudah wafat, beliau mengizinkan semuanya ini dan amalan-amalan tersebut
akan sampai pada si mayit serta beliau saw. tidak melaranguntuk selain yang
demikian. Lalu apakah perbedaan sampainya pahala puasa yang sematamata niat dan imsak dengan sampainya pahala bacaan dan dzikir (yang diiringi
dengan niat juga)? ( Syarah Aqidah Thahawiyah hal.457).
Orang yang membaca Al-Quran, tahlil dan dzikir, sudah tentu akan mendapat
pahala karena banyak sekali hadits yang meriwayatkan pahala-pahala bacaan
Al-Quran dan dzikir. Pahala itu adalah hak milik orang yang berdzikir,
kemudian dia berdoa kepada Allah swt. agar pahala yang dimiliki itu
disampaikan kepada orang yang sudah wafat baik itu orang tuanya, sanak
kerabatnya atau orang lain. Dalam hal ini apanya yang dilarang?
Imam Syaukani dalam Nailul Authar jilid 4/101 bersabda:

Kalau boleh berdoa untuk mayyit dengan sesuatu yang tidak dimiliki oleh sipendoa, maka tentu
kebolehan berdoa untuk mayyit dengan sesuatu yang dimiliki oleh sipendoa (yaitu pahala)adalah terlebih
utama.
Jadi kita dibolehkan doa apa saja kepada Allah swt. walaupun isi doa itu belum kita miliki sendiri
umpamanya Ya Allah berikanlah pada dia seorang keturunan yang sholeh, rizki yang makmur dan
kesuksesan . Doa seperti initidak ada yang membantah apalagi melarang bahkan sangat dianjurkan.
Jadi mengapa orang yang berdoa untuk menghadiahkan sesuatu yang telah dimiliki yaitu pahala, malah
justru dilarang ?
Hadits dari Auf bin Malik ia berkata: Saya telah mendengar Rasulallah saw. bersabda yakni ketika
menyalatkan jenazah : Ya Allah ampunilah dosanya, sayangilah dia, maafkanlah dia, sehatkanlah dia,
muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah dia dengan air es dan air embun,
bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih bersih dari kotoran, gantikanlah untuknya
tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya,
pasangan yang lebih baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka.(HR
Muslim).
Diterima dari Waila bin Asqa katanya; Nabi saw. menyalatkan seorang lelaki Islam bersama kami, maka
saya dengar beliau mengucapkan : Ya Allah, sesungguhnya si Anu anak si Anu adalah dalam
tanggungan dan ikatan perlindungan-Mu, maka lindungilah ia dari bencana kubur dan siksa neraka,
sungguh Engkau Penepat janji dan Penegak kebenaran. Ya Allah, ampunilah dia dan kasihanilah dia,
karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Penyayang. (HR.Ahmad dan Abu Daud)
Rasulallah saw. yang mengajarkan pada kita bacaan doa dalam sholat jenazah diatas ini untuk si mayat
yang mana isi doa tersebut belum semuanya dimiliki oleh si pendoa sendiri dan doa ini toh akan
bermanfaat pada si mayyit. Apa gunanya atau keistemewaannya Rasulallah saw. mengajarkan dan
menganjurkan agar muslimin membaca doa-doa tersebut pada sholat jenazah kalau semuanya tidak ada
manfaat/syafaat untuk mayyit ?
Telah dikemukakan juga bahwa sunnah berdoa setelah mayit dikuburkan, Rasulallah saw. bersabda:
Dari Ustman bin Affan ra berkata: Adalah Nabi saw. apabila selesai menguburkan mayyit beliau beridiri
lalu bersabda: mohonkan ampun untuk saudaramu dan mintalah keteguhan hati untuknya, karena
sekarang dia sedang ditanya !. (HR Abu Dawud, oleh Hakim yang menyatakan sahnya, juga oleh Al
Bazzar). Wallahu alam.
Mari kita rujuk pendapat Ibnu Taimiyah ulama yang diandalkan oleh golongan pengingkar dalam tafsir
Jamal jilid 4 bahwa beliau berkata :

Barangsiapa meyakini bahwa seseorang tidak dapat mengambil manfaat kecuali dengan amalnya
sendiri, maka sungguh dia telah melanggar ijma dan yang demikian itu adalah batil . Ibnu Taimiyyah juga
memberi alasan-alasan dalam hal ini sebagai berikut :
a. Nabi saw. akan memberi syafaat terhadap orang-orang dipadang mahsyar dalam hal hisab dan
terhadap calon-calon penghuni surga dalam hal masuk kedalamnya. Dan nabi saw. akan memberi
syafaat terhadap para pelaku dosa besar dalam hal keluar dari neraka. Ini semua berarti seseorang
mengambil manfaat dengan usaha orang lain.
b. Anak-anak orang mukmin (yang wafat dalam keimanan) akan masuk surga dengan amal bapak
mereka (yang mukmin) dan ini juga berarti mengambil manfaat semata-mata amal orang lain. (QS at-Thur
: 21pen.).
c. Orang yang duduk dengan ahli dzikir akan diberi rahmat (ampunan) dengan berkah ahli dzikir itu
sedangkan dia bukanlah diantara mereka dan duduknya itupun bukan untuk dzikir melainkan untuk
keperluan tertentu, maka nyatalah bahwa orang itu telah mengambil manfaat dengan amalan orang lain.
(HR Bukhori, Muslim dari Abu Hurairah, baca haditsnya pada bab Faedah majlis dzikir di buku

inipen).
d. Shalat untuk mayyit (baca: sholat jenazah) dan berdoa untuk si mayyit didalam shalat ini, adalah
pemberian syafaat untuk mayyit dengan shalatnya itu, ini juga pengambilan manfaat dengan amalan
orang lain yang masih hidup.
e. Alllah swt berfirman pada Rasulallah saw : Tidaklah Allah akan mengadzab/menyiksa mereka
sedangkan engkau masih ada diantara mereka. Kalaulah bukan karena laki-laki yang mukmin dan
wanita-wanita yang mukmin.. (Al Fath: 25). Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian
manusia terhadap sebagian yang lain niscaya rusaklah bumi ini. (Al Baqarah :25). Dalam ayat-ayat ini
Allah swt mengangkat adzab/siksa (adzab umumpen.) terhadap sebagian manusia dengan sebab
sebagian yang lain dan ini juga termasuk pengambilan manfaat dengan amalan orang lain.
Demikianlah sebagian alasan-alasan yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah mengenai pengambilan
manfaat dari amalan-amalan orang lain untuk si mayit. Sebenarnya masih banyak lagi alasan Ibnu
Taimiyah mengenai ini tapi penulis tidak cantumkan semua disini.
Juga kesimpulan Ibnul Qayyim dalam kitab Al-Ulama wa aqwaaluhum fii syanil amwat wa
ahwaalihim hal.36-37 :
Nash-nash ini jelas menerangkan sampainya pahala amalan untuk mayyit apabila dikerjakan oleh orang
yang hidup untuknya karena pahala itu adalah hak bagi yang mengamalkan, maka apabila dia
menghadiahkan kepada saudaranya yang muslim tidaklah tercegah yang demikian itu sebagaimana tidak
tercegah orang yang menghadiahkan hartanya dimasa hidupnya dan membebaskan piutangnya untuk
seseorang sesudah matinya. Rasulallah saw. menegaskan sampainya pahala puasa yang hanya terdiri
dari niat dan tidak makan minum yang semua itu hanya diketahui oleh Allah, maka sampainya pahala
bacaan yang merupakan amalan lisan yang didengar oleh telinga dan disaksikan oleh mata adalah lebih
utama.
Dan masih banyak lagi dari golongan ulama yang mengatakan bahwa doa dan ibadah baik maliyah
(harta) maupun badaniyah (jasmani) bisa bermanfaat untuk mayit berdasarkan dalil-dalil hadits
Rasulallah saw.! Apakah golongang pengingkar berani menmunkarkan ulama yang selalu mereka
andalkan dan ambil makalah-makalah untuk membantah amalan yang tidak sepaham dengannya ?
Mari kita rujuk dalil-dalil pahala amalan yang bisa sampai kepada mayyit, diantaranya adalah :

Pahala sedekah untuk orang yang sudah wafat.


Hadits dari Abu Hurairah :

: ..
)(

Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulallah saw.: Ayah saya meninggal dunia, dan ada
meninggalkan harta serta tidak memberi wasiat. Apakah dapat menghapus dosanya bila saya
sedekahkan ? Nabi saw. menjawab : Dapat! (HR Ahmad, Muslim dan lain-lain)

Hadits dari Aisyah r.a.berkata:


: .

.
:

Seorang lelaki datang kepada Nabi saw. dan berkata: Ibuku telah mati mendadak, dan tidak berwasiat
dan saya kira sekiranya ia sempat bicara, pasti akan bersedekah, apakah ada pahala baginya jika Aku
bersedekah untuknya? Jawab Nabi saw: Ya. (HR.Bukhori, Muslim dan Nasai)
Hadits dari Saad ibnu Ubadah ra. bahwa ia pernah berkata : Wahai Rasulallah, sesungguhnya Ummu
Saad telah meninggal dunia, kiranya sedekah apa yang lebih utama untuknya? Sabda beliau saw.: Air .

Maka Saad menggali sebuah sumur, kemudian ia berkata: Sumur ini aku sedekahkan untuk Ummu
Saad. (HR Abu Dawud, Ahmad dan Nasai)

Dari Ibnu Abbas (rah). dia berkata :


:


, .
Ibu Saad bin Ubadah meninggal dunia disaat dia (Saad bin Ubadah) sedang tidak ada ditempat. Maka
berkatalah ia : Wahai Rasulallah! Sesungguhnya ibuku telah wafat disaat aku sedang tidak ada disisinya,
apakah ada sesuatu yang bermanfaat untuknya jika aku sedekahkan ? Nabi menjawab; Ya ! Berkata
Saad bin Ubadah : Saya persaksikan kepadamu (wahai Rasulallah) bahwa kebun kurma saya yang
sedang berbuah itu sebagai sedekah untuknya. (HR Bukhori, Turmudzi dan Nasai)
Hadits-hadits dan wejangan para ulama yang tercantum dalam buku ini jelas menunjukkan bahwa
amalan-amalan sedekah orang yang masih hidup dan diniatkan pahalanya untuk orang yang sudah wafat
akan dapat membawa manfaat dan sampai pahalanya baginya.

Pahala Puasa dan Sholat.


Hadits dari Aisyah ra. Rasulallah saw. bersabda:


:
.
,

Barang siapa yang wafat dengan mempunyai kewajiban shaum (puasa) makawalinya berpuasa
untuknya. (Yang dimaksud wali disini yaitu kerabat- nya walaupun bukan termasuk ahli waris).
(HR.Bukhari dan Muslim, Abu Daud dan Nasai )

Hadits dari Ibnu Abbas :



.
: .

.
: , :

Seorang lelaki datang menemui Rasulallah saw. ia berkata : Ya Rasulallah, ibuku meninggal dunia,
sedang ia mempunyai kewajiban berpuasa selama sebulan. Apakah saya wajib kadha atas namanya?
Nabi saw. berkata; Bagaimana jika ibumu mempunyai hutang, apakah akan kamu bayarkan untuknya?
Benar jawabnya. Nabi berkata, maka hutang kepada Allah lebih layak untuk dibayar! (HR.Bukhori dan
Muslim)

Hadits riwayat Daruquthni :




:

,

:
Bahwa seorang laki-laki bertanya : Ya Rasulallah, saya mempunyai ibu dan bapak yang selagi mereka
hidup saya berbakti kepadanya. Maka bagaimana caranya saya berbakti kepada mereka, setelah mereka
meninggal dunia? Jawab Nabi saw : Berbakti setelah mereka wafat ! , caranya adalah dengan melakukan
sholat untuk mereka disamping shalatmu, dan berpuasa untuk mereka disamping puasamu !.

Pahala Haji.
: .

.


, :


: .

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma- bahwa seorang wanita dari Juhainnah
datang kepada Nabi saw. dan bertanya: Sesungguhnya ibuku nadzar untuk
haji, namun belum terlaksana sampai ia meninggal, apakah saya melakukan
haji untuknya? Rasulallah saw. menjawab: Ya, bagaimana pendapatmu kalau
ibumu mempunyai hutang, apakah kamu membayarnya?, bayarlah hutang
Allah, karena hutang Allah lebih berhak untuk dibayar. (HR Bukhari)
Pada hadits ini Nabi saw. memberi perintah agar membayar haji ibunya yang
sudah wafat. Namun bila si mayyit tidak memiliki harta, makadisunnahkan bagi
ahli warisnya untuk menghajikannya. Apabila alasan sesuatu atau lain- nya
sehingga hal ini tidak bisa dihajikan oleh ahli warisnya, maka penggantian
hajinya itu boleh dilimpahkan kepada orang lain, dengan syarat orang ini sendiri
harus sudah menunaikan haji, bila belum maka haji yang dikerjakan tersebut
berlaku untuk dirinya. Cara seperti ini biasa disebut dengan badal haji.
Dalilnya ialah hadits dari Ibnu Abbas :

Bahwa Nabi saw.pernah mendengar seorang laki-laki berkata: Labbaik an


Syubrumah (Ya Allah, saya perkenankan perintahMu untuk si Syubrumah).
Nabi bertanya: Siapa Syubrumah itu ? Dia menjawab : Saudara saya atau
teman dekat saya. Nabi bertanya: Apakah engkau sudah berhaji untuk dirimu?
Dia menjawab: belum! Nabi bersabda: Berhajilah untuk dirimu kemudian
berhajilah untuk Syubrumah ! . (HR.AbuDaud)
Ditinjau dari dalil Ijma (sepakat) ulama dan Qiyas bahwa doa dalam sholat
jenazah akan bermanfaat bagi mayit, bebasnya hutang mayit yang ditanggung
oleh orang lain sekalipun bukan keluarga (HR.Ahmad dari Abi Qatadah) dan
lain sebagainya, semuanya ini bisa bermanfaat bagi mayit. Pahala itu adalah
hak orang yang beramal. Jika ia menghadiahkan kepada saudaranya yang
muslim, maka hal itu tidak ada halangan sebagaimana tidak dilarang
menghadiahkan harta atau membebaskan hutang untuk orang lain diwaktu
hidupnya dan setelah wafatnya.
Demikian juga Rasulallah saw. menganjurkan puasa untuk menggantikan
puasa orang yang telah meninggal. Rasulallah saw. menghadiahkan
pahala qurban untuk keluarga dan ummatnya yang tidak mampu berqurban,
padahal qurban adalah melalui menumpahkan darah.
Ibadah haji merupakan ibadah badaniyah (bagi yang dekat). Harta bukan
merupakan rukun dalam haji tetapi sarana. Hal itu karena seorang penduduk
Makkah wajib melakukan ibadah haji apabila ia mampu berjalan ke Arafah
tanpa disyaratkan harus memiliki harta. Jadi ibadah haji bukan ibadah yang
terdiri dari harta dan badan, namun ibadah badan saja (bagi yang mampu
berjalan). Begitu juga kita perhatikan arti fardhu kifayah, dimana sebagian
orang bisa mewakili sebagian yang lain. Persoalan menghadiahkan pahala itu
mustahab/boleh, jadi bukan menggantikan pahala, sebagaimana seorang
buruh tidak boleh digantikan orang lain, tapi gajiannya/upahnya boleh diberikan kepada orang lain jika ia mau.
Islam telah memberikan penjelasan sampainya pahala ibadah badaniyah
seperti membaca Al-Quran dan lainnya diqiyaskan dengan sampainya puasa,
karena puasa adalah menahan diri dari yang membatalkan disertai niat, dan itu
pahalanya bisa sampai kepada mayit. Jika demikian bagaimana mungkin tidak
sampainya pahala membaca Alquran yang berupa perbuatan dan niat juga?
Hubungan melalui agama merupakan sebab yang paling besar bagi sampainya manfaat orang Islam kepada saudaranya dikala hidup dan sesudah
wafatnya. Bahkan doa orang Islam dapat bermanfaat untuk orang Islam lain.
Al-Quran tidak menafikan seseorang mengambil manfaat dari usaha orang
lain. Adapun amal orang lain adalah miliknya, jika orang lain tersebut
menghadiahkan amalnya untuk dia, maka pahalanya akan sampai kepadanya
bukan pahala amalnya, sebagaimana dalam pembebasan utang.
Allah swt. menjelaskan bahwa Dia tidak menyiksa seseorang karena kesalahan
orang lain, dan seseorang tidak mendapatkan kebahagiaan kecuali dengan
usahanya sendiri. Dan dalam firman-Nya itu, Allah swt.tidak menyatakan bahwa
orang tidak dapat mengambil manfaat kecuali dari usahanya sendiri. Ini tidak
lain menunjukkan keadilan Allah swt..
Menurut madzhab Hanafi, setiap orang yang melakukan ibadah baik berupa
doa, istiqhfar, shadaqah, tilawatul Quran, dzikir, shalat, puasa, thawaf, haji,
umrah maupun bentuk-bentuk ibadah lainnya yang bersifat ketaatan dan
kebaktian dan ia berniat menghadiahkan pahalanyakepada orang lain, baik
yang masih hidup atau yang telah wafat, pahala ibadah yang dilakukannya itu
akan sampai kepada mereka dan juga akan diperolehnya sendiri. Demikianlah
sebagaimana disebut dalam Al-Hidayah, Al-Bahr dan kitab-kitab lainnya.
Didalam kitab Al-Kamal terdapat penjelasan panjang lebar mengenai itu.
Didalam sebuah hadits shahih yang keshahihannya setaraf dengan hadits
mutawatir menuturkan, bahwa barangsiapa meniatkan amal kebajikan bagi
orang lain, dengan amal kebajikannya itu Allah swt. berkenan memberikan
manfaat kepada orang lain yang diniatinya. Hal ini sama dengan hadits

mengenai shalat dan puasanya seorang anak untuk kedua orang tuanya, yang
dilakukan bersama shalat dan puasanya sendiri. Begitu juga masih banyak
hadits shahih dan mutawatir yang berasal dari Rasulallah saw., berita-berita
riwayat terpercaya, pendapat-pendapat para ulama baik dari kalangan kaum
Salaf dan Khalaf yang menerangkan dan membenarkan bahwa pahala
membaca Al-Quran, doa dan istiqhfar yang diniatkan pahalanya untuk orang
yang telah wafat benar-benar akan sampai kepada orang yang telah wafat itu.
Ibnu Taimiyyah didalam Fatawa-nya mengatakan: Adalah benar bahwa orang
yang telah wafat beroleh manfaat dari semua ibadah jasmaniahseperti shalat,
puasa, membaca Al-Quran dan lain-lain yang dilakukan orang yang masih
hidup baginya. Ia (si mayyit) pun beroleh manfaat juga dari ibadah
maliyah seperti shadaqah dan sebagainya. Semua ini sama halnya jika orang
yang masih hidup berdoa dan beristiqhfar baginya.Mengenai ini para Imam
madzhab sepakat.
Dengan adanya hadits-hadits dan wejangan para ulama pakar baik dalam Ijma
maupun Qiyas yang cukup banyak pada buku ini, insya Allah jelas bagi kita
bahwa penghadiahan pahala baik itu membaca Al-Quran, tahlilan, doa maupun
amalan-amalan sedekah yang ditujukan atau dihadiahkan untuk si mayyit,
semuanya akan sampai pahalanya. Ingat jangan lupa Rahmat dan Karunia Ilahi
sangat luas sekali jangan kita sendiri yang membatasinya ! Setelah membaca
keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang telah dikemukakan, insya Allah
saudara-saudara kita yang menerima kesalahan informasi tersebut bisa
menjawab dan meneliti sendiri masalah-masalah yang masih diragukan !
Membangun masjid disisi kuburan
Berikut ini kumpulan sekelumit makalah dari website Salafy Indonesia 28
Februari 2007.
Salah satu keyakinan Ahlusunah yang mempunyai dasar dalil al-Quran, asSunnah dan prilaku Salaf Sholeh yang dituduhkan sebagai perilaku syirik oleh
kelompok Wahabi adalah tentang diperbolehkannya membangun masjid di
sisi kuburan para Rasul, nabi dan waliyullah. Hal ini sebagaimana yang
dinyatakan (fatwa) oleh Ibnu Taimiyah yang kemudian di-ikuti (secara taklid
buta) oleh segenap kelompok Wahabi sebagaimana yang tercantum dalam
kitab al-Qaidah al-Jalilah halaman 22.
Ibn Taimiyah mengatakan: Nabi melarang menjadikan kuburannya sebagai
masjid, yaitu tidak memperbolehkan seseorang pada waktu-waktu shalat untuk
mendatangi, shalat dan berdoa di sisi kuburannya, walaupun dengan maksud
beribadah untuk Allah sekalipun. Hal itu dikarenakan tempat-tempat semacam
itu menjadi sarana untuk perbuatan syirik. Yaitu boleh jadi nanti mengakibatkan
seseorang melakukan doa dan shalat untuk ahli kubur dengan mengagungkan
dan menghormatinya. Atas dasar itu maka mem- bangun masjid di sisi kuburan
para waliyullah merupakan perbuatan haram. Oleh karenanya walaupun
pembangunan masjid itu sendiri merupakan sesuatu yang ditekankan namun
dikarenakan perbuatan seperti tadi dapat menjerumuskan seseorang kedalam
prilaku syirik maka hukumnya secara mutlak haram.
Apa dalil dari ungkapan Ibnu Taimiyah di atas? Memang Ibnu Taimiyah
menyandarkan fatwanya tadi dengan hadits-hadits yang diriwayatkan dalam
beberapa kitab Ahlusunah. Namun sayangnya beliau tidak memiliki analisa dan
penerapan yang tepat dan bagus dalam memahami hadits-hadits tadi
sehingga menyebabkannya terjerumus kedalam kejumudan (kekakuan) dalam
menerapkannya. Selain pemahaman Ibnu Taimiyah terhadap hadits-hadits tadi
terlampau kaku, juga tidak sesuai dengan ayat al-Quran, as-Sunnah dan
perilaku Salaf Sholeh.
Ibnu Taimiyah menyandarkan fatwanya tersebut dengan hadits-hadits sebagai
berikut :
Pertama: Rasulallah bersabda: Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani
dikarenakan mereka telah menjadikan kubur para nabinya sebagai tempat
ibadah. (lihat kitab Shahih Bukhari jilid 2 halaman 111 dalam kitab al-

Janaiz (jenazah-jenazah), hadits serupa juga dapat ditemukan dalam


kitabSunan an-Nasai jilid 2 halaman 871 kitab al-Janaiz)
Kedua: Sewaktu Ummu Habibah dan Ummu Salamah menemui Rasulallah dan
berbincang-bincang tentang tempat ibadah (gereja) yang pernah dilihat- nya di
Habasyah, lantas Rasulallah bersabda: Mereka adalah kaum yang setiap ada
orang sholeh dari mereka yang meninggal niscaya mereka akan membangun
tempat ibadah diatasnya dan mereka punmenghadapkan mukanya ke situ.
Mereka di akhirat kelak tergolong makhluk yang buruk di sisi Allah. (lihat
kitab Shahih Muslim jilid 2 halaman 66 kitab al-Masajid)
Ketiga: Dari Jundab bin Abdullah al-Bajli yang mengatakan; aku mendengar
lima hari sebelum Rasulallah meninggal, beliau bersabda:Ketahuilah,
sesungguhnya sebelum kalian terdapat kaum yang menjadikan kuburan para
nabi mereka sebagai tempat ibadah. Namun janganlah kalian melakukan
semacam itu. Aku ingatkan hal tersebut pada kalian. (lihat kitab Shahih Muslim
jilid 1 halaman 378)
Keempat: Diriwayatkan dari Nabi bahwa beliau pernah bermunajat kepada
Allah swt dengan mengatakan: Ya Allah, jangan Kau jadikan kuburku sebagai
tempat penyembahan berhala. Allah melaknat kaum yang menjadikan
kuburan para nabi sebagai tempat ibadah. (lihat kitab Musnad Ahmad bin
Hanbal jilid 2 halaman 246)
Ini adalah riwayat-riwayat yang dijadikan dalil para pengikut Wahabi/Salafi
untuk mengatakan syirik terhadap kaum Ahlusunah termasuk di Indonesia
yang ingin membangun masjid di sisi kubur para kekasih Allah (waliyullah). Di
Indonesia para sekte Wahabi tadi mengejek dan menghinakan kuburan para
sunan (dari Wali Songo) yang rata-rata di sisimakam mereka terdapat
bangunan yang disebut masjid. Lantas apakah benar bahwa hadits-hadits itu
mengandung larangan pembuatan masjid di sisi kubur para waliyullah secara
mutlak? Disini kita akan telaah dan kritisi cara berdalil kaum Wahabi dalam
menggunakan hadits-hadits shohih tadi sebagai sandarannya.
Ada beberapa poin yang harus diperhatikan dalam mengkritisi dalil kaum
Wahabi yang menjadikan hadits-hadits diatas sebagai pelarangan
pembangunan masjid di sisi makam waliyullah secara mutlak:
a. Untuk memahami hadits-hadits tadi maka kita harus memahami terlebih
dahulu tujuan/niat kaum Yahudi dan Nasrani dari pembikinan tempat ibadah di
sisi para manusia sholeh mereka tadi. Dikarenakan melihat tujuan buruk
kaum Yahudi dan Nasrani dalam membangun tempat ibadah di sisi kuburan itu
maka keluarlah larangan Rasulallah. Dari hadits-hadits tadi dapat diambil suatu
pelajaran bahwa kaum Yahudi dan Nasrani telah menjadikan kuburan para nabi
dan manusia sholeh dari mereka bukan hanya sebagai tempat ibadah
melainkan sekaligus sebagai kiblat (arah ibadah). Kepada kuburan itulah
mereka menghadapkan muka mereka sewaktu bersujud (sebagai kiblat dan
beribadah yang ditujukan pada penghuni kubur itu pen.). Hakekat perilaku
inilah yang meniscayakan sama hukumnya dengan menyembah kuburankuburan itu. Inilah yang dilarang dengan tegas oleh Rasulallah Muhammad
saw.
Jadi jika seorang muslim membangun masjid disisi kuburan seorang waliyullah
sekedar untuk mengambil berkah (baca bab Tabarrukpen.)dari tempat
tersebut dan sewaktu ia melakukan shalat tidak ada niatansedikit pun
untuk menyembah kubur tadi maka hal ini tidak bertentangan dengan haditshadits di atas tadi, terkhusus hadits dari Ummu Salamah dan Ummu Habibah
yang menjelaskan kekhususan kaum Yahudi dan Nasrani dalam menjadikan
kubur manusia sholeh dari mereka sebagai tempat ibadah.
Al-Baidhawi dalam mensyarahi hadits tadi menyatakan: Hal itu dikarenakan
kaum Yahudi dan Nasrani selalu mengagungkan kubur para nabi dengan
melakukan sujud dan menjadikannya sebagai kiblat (arah ibadah). Atas dasar
inilah akhirnya kaum muslimin dilarang untuk melakukan hal yang sama
dikarenakan perbuatan ini merupakan perbuatan syirik yang nyata. Namun jika

masjid dibangun di sisi kuburan seorang hamba sholeh dengan niatan bertabarruk (mencari berkah) maka pelarangan hadits tadi tidak dapat diterapkan
padanya.
Hal serupa juga dinyatakan oleh As-Sanadi dalam mensyarahi kitab Sunan anNasai jilid 2 halaman 41 dimana ia menyatakan: Nabi melarang umatnya
untuk melakukan perbuatan yang mirip prilaku Yahudi dan Nasrani dalam
memperlakukan kuburan para nabi mereka, baik dengan menjadikannya
sebagai tempat sujud dan tempat pengagungan (pada kuburnya) maupun arah
kiblat
dimana
mereka
akan
menghadapkan
wajahnya
ke
arahnya (kubur) sewaktu ibadah.
b. Sebagian hadits di atas menyatakan akan pelarangan membangun
masjid diatas kuburan, bukan disisi (disamping) kuburan. Letak perbedaan
redaksi inilah yang kurang diperhatikan oleh kaum Wahabi dalam berdalil.
c. Begitu juga tidak jelas apakah pelarangan (tempat ibadah dan arah kiblat)
dalam hadits itu menjurus kepada hukum haram ataupun hanya
sekedar makruh (tidak sampai pada derajat haram) saja. Hal itu dikarenakan
Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya (lihat kitab Shahih al-Bukhari jilid 2
halaman 111) dimana beliau mengumpulkan hadits-hadits itu ke dalam topik
Bab apa yang dimakruhkan dari menjadikan masjid di atas kuburan (Bab maa
yukrahu min ittikhodz al-Masajid alal Qubur) dimana ini meniscayakan bahwa
hal itu sekedar pelarangan yang bersifat makruh saja yang selayak- nya
dihindari, bukan mutlak haram.
Atas dasar itu, dalam kitab al-Maqolaat as-Saniyah halaman 427 disebutkan
bahwa Syeikh Abdullah Harawi dalam menjelaskan hadits di atas tadi
mengatakan: Hadits tadi diperuntukkan bagi orang yang hendak melakukan
ibadah diatas kuburan
para
nabi
dengan
niat
untuk
mengagungkan (menyembah) kubur mereka. Ini terjadi jika posisi kuburan itu
nampak (menonjol .red) dan terbuka. Jika tidak maka melaksanakan shalat di
situ tidak haram hukumnya.
Begitu pula apa yang dinyatakan oleh salah seorang ulama Ahlusunah lain
yang bermadzhab Hanafi yang bernama Abdul Ghani an-Nablusi dalam
kitab al-Hadiqoh ast-Tsaniyah jilid 2 halaman 631. Ia menyatakan:
Jika sebuah masjid dibangun di sisi kuburan (makam) orang sholeh ataupun di
samping kuburannya yang hanya berfungsi untuk mengambilberkahnya saja,
tanpa ada niatan untuk mengagungkannya (maksud:menyembahnya) maka hal
itu tidak mengapa. Sebagaimana kuburan Ismail as terletak di Hathim di
dalam Masjidil Haram dimana tempat itu adalah sebaik-baik tempat untuk
melaksanakan shalat.
Allamah Badruddin al-Hautsi pun menyatakan hal serupa dalam kitabZiarah alQubur halaman 28: Arti dari mejadikan kuburan sebuah masjid adalah
seseorang menjadikan kuburan sebagai kiblat (arah ibadah) dan untuknya
dilaksanakan peribadatan.
d. Bahkan terbukti bahwa at-Tabrani dalam kitab al-Mujam al-Kabir jilid 3
halaman 204 menyatakan bahwa di dalam masjid Khaif (di Mina dekat
Makkah .red) terdapat delapan puluh makam para nabi, padahal masjid itu
telah ada semenjak zaman Salaf Sholeh. Lantas kenapa para Salaf Sholeh
tetap mempertahankan berdiri tegaknya masjid tersebut. Jika itu merupakan
perbuatan syirik (haram) maka selayaknya sejak dari dulu telah dihancurkan
oleh Rasulallah besrta para sahabat mulai beliau.
Dalil lain yang dijadikan oleh kaum Wahabi/Salafi terkhusus Ibnu Qoyyim alJauziyah adalah
kaidah Sadd
adz-Dzarayi dimana
kaidah
itu
menyatakan: Jika sebuah perbuatan secara dzatnya (esensial) dihukumi boleh
ataupun sunah, namun dengan melalui perbuatan itu menjadikan seseorang
mungkin akan terjerumus kedalam perbuatan haram maka untuk menghindari
hal buruk tersebut agar orang tadi tidak terjerumus ke dalam jurang
tersebut perbuatan itupun lantas dihukumi haram. (lihat kembali kitab Alam
al-Muwaqiin jilid 3 halaman 148).

Dalil di atas itu secara ringkas dapat kita jawab bahwa; Dalam pembahasan
Ushul Fikih disebutkan Hanya mukadimah untuk pelaksanaan perbuatan wajib
yang menjurus secara langsung kepada kewajiban itu saja yang juga dihukumi
wajib seperti kita tahu kewajiban wudu karena ia merupakan mukadimah
langsung dari shalat yang wajib. Begitu juga dengan mukadimah yang
menjurus langsung kepada hal haram, hukumnya pun haram, jadi tidak
mutlak berlaku untu semua mukadimah. Atas dasar ini maka membangun
masjid disisi kuburan manusia mulia (para nabi atau waliyullah) jika tidak
untuk tujuan syirikmaka tidak menjadi apa-apa (boleh). Dan terbukti mutlak
bahwa mayoritas mutlak masyarakat muslim disaat melakukan hal tersebut
dengan niatan penghambaan terhadap Allah (tidak untuk menyekutukan
Allah/Syirik). Kalaupun ada seorang muslim yang berniat melakukan syirik, itu
merupakan hal yang sangat jarang (minim) sekali (dan dosanya ditanggung
orang ini karena kita tidak bisa mengharam kan pembangunan masjid disisi
kuburan disebabkan perbuatan perorangan/ individu inipen).
Dalil inti yang dapat dijadikan argument diskusi dengan pengikut Wahabi dalam
masalah pelarangan membangun masjid di sisi makam para manusia Sholeh
adalah ayat dan perilaku Salaf Sholeh. Berikut ini akan kita sebutkan beberapa
dalil saja untuk meringkas pembahasan.
Dalam ayat 21 dari surat al-Kahfi disebutkan: Ketika orang-orang itu ber-selisih
tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: dirikanlah sebuah bangunan
diatas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka. orangorang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: Sesungguhnya kami akan
mendirikan sebuah rumah peribadatan diatasnya.
Jelas sekali bahwa mayoritas masyarakat ahli tauhid (monoteis) kala itu
sepakat untuk membangun masjid disisi makam para penghuni gua (AshabulKahfi). Tentu kaum Wahabi pun sepakat dengan kaum muslimin lainnya bahwa
al-Quran bukan hanya sekedar kitab cerita yang hanya begitu saja
menceritakan peristiwa-peristiwa menarik zaman dahulu tanpa memuat ajaran
untuk dijadikan pedoman hidup kaum muslimin. Jika kisah pembuatan masjid di
sisi makam Ashabul-Kahfi merupakan perbuatan syirik maka pasti Allah swt
menyindir dan mencela hal itu dalam lanjutan kisah al-Quran tadi, karena syirik
adalah perbuatan yang paling dibenci oleh Allah swt. Namun terbukti Allah swt
tidak melakukan peneguran baik secara langsung maupun secara tidak
langsung (sindiran).
Atas dasar itu pula terbukti para ulama tafsir Ahlusunah menyatakan bahwa
para penguasa kala itu adalah orang-orang yang bertauhid kepada Allah swt.,
bukan kaum musyrik penyembah kuburan (Quburiyuun). Hal ini seperti yang
dikemukakan oleh az-Zamakhsari dalam kitab Tafsir al-Kassyaf jilid 2 halaman
245, Fakhrurrazi dalam kitab Mafatihul Ghaib jilid 21 halaman 105, Abu Hayyan
al-Andalusy dalam kitab al-Bahrul Muhithdalam menjelaskan ayat 21 dari surat
al-Kahfi tadi dan Abu Saud dalam kitab Tafsir Abi Saud jilid 5 halaman 215.
Sebagai penutup akan kita lihat perilaku Salaf Sholeh yang dalam hal ini
diwakili oleh Abu Jundal salah seorang sahabat mulia Rasulallah. Para Ahli
sejarah menjelaskan peristiwa yang dialami oleh Abu Jundal dengan
menyatakan: Suatu saat, sepucuk surat Rasulallah sampai ke tangan Abu
Jundal. Kala surat itu sampai, Abu Bashir (juga sahabat mulia Rasulallah yang
menemani Abu Jundal .red) tengah mengalami sakaratul-maut (naza). Beliau
meninggal dengan posisi menggenggam surat Rasulallah. Kemudian Abu
Jundal mengebumikan beliau (Abu Bashir .red)di tempat itu dan mem- bangun
masjid di atasnya. Kisah ini dapat dilihat dalam karya Ibnu Asakir dalam
kitab Tarikh Ibnu Asakir jilid 8 halaman 334 dan atau kitab al-Istiab jilid 4
halaman 21-23 karya Ibnu Hajar.
Apakah mungkin seorang sahabat Rasulallah seperti Abu Jundal melakukan
perbuatan syirik? Jika itu syirik, mengapa Rasulallah saw. sendiri atau para
sahabatnya tidak menegurnya? Apakah Rasulallah dan sahabat-sahabat lain
nya tidak tahu akan peristiwa itu? Jika mereka tahu, kenapa mereka tetap

membiarkannya melakukan kesyirikkan? Jelas bahwa membangun masjid di


sisi kuburan merupakan hal yang diperbolehkan oleh Islam sesuai dengan
dalil ayat al-Quran dan prilaku Salaf Sholeh, hukumnya tidak seperti yang
diklaimkan oleh kelompok Wahabi yang berkedok Salafi itu. Wallahu Alam.
Dengan demikian golongan Wahabi/Salafi sebagaimana yang telah
dikemukakan
di
buku
ini
tidak
bisa
membedakan
antara ibadah dantadzim (penghormatan
tinggi)
atau
antara ibadah dan tabarruk pada
Rasulallah
atau
pada
orang
sholeh, antara ibadah dan tawassul pada Rasulallah atau pada orang
sholeh dan lain sebagainya. Golongan Wahabi ini tidak bisa memahami tolak
ukur Tauhid dan Syirik serta memahami ayat-ayat ilahi dan sunnah Rasulallah
secara tekstual dan literal saja tanpa melihat motif dan makna yang
dimaksudkan dalam ayat Ilahi atau Sunnah Rasulallah saw. tersebut.
Begitu juga kalau kita lihat dimasjid Nabawi Madinah, didalamnya masjid ini
ada kuburan manusia yang termulia yaitu Rasulallah saw. dan kuburan
Sayyidinaa Abubakar dan Sayyidinaa Umar bin Khattab [ra] yang mana kaum
muslimin sholat disamping, dibelakang, dimuka kuburan yang mulia ini.
Kuburan ini walaupun sekarang sekelilingnya diberi pagar besi letaknya
malah bukan disisi masjid tetapi didalam masjid Nabawi. Begitu juga kuburan
Nabi Ismail a.s di Hathim di dalam Masjidil Haram Makkah.
Jutaan muslimin yang berebutan untuk bisa sholat disamping kiri dan kanan
atau dimuka kuburan Nabawi ini dan di Hathim didalam Masjidil Haram
Makkah. Kalau memang itu perbuatan syirik dan haram tidak mungkin
dilaksanakan oleh jutaan muslimin yang sholat di tempat-tempat ini baik dari
kalangan ulama maupun kalangan awam serta dibiarkan oleh para ulamaulama pakar sedunia termasuk disini ulama-ulama Wahabi yang ada di Saudi
Arabia. Tidak lain semuanya bukan termasuk beribadah kepada kuburan (yakni
tidak ada keniatan untuk beribadah kepada kuburan melainkan hanya
pengambilan barokah/tabarruk pada tempat yang mulia itupen.) dan bukan
perbuatan haram. Wallahu alam.
Memberi Penerangan terhadap kuburan
Salah satu hal yang sangat dibenci dan diharamkan oleh kaum Wahabi/ Salafi
adalah memberi penerangan terhadap kuburan. Lepas dari apakah fungsi dari
pemberian penerangan tersebut, namun ketika mereka ditanya tentang boleh
atau tidaknya memberikan penerangan tersebut niscaya mereka akan
menjawab secara mutlak Haram. Apalagi selain memberi penerangan atas
kuburan juga ditambah dengan memberikan hiasan-hiasan pada makam para
wali (kekasih) Allah maka menurut mereka adalah haram di atas haram.
Golongan pengingkar ini menyandarkan pendapatnya dengan riwayat yang
dinukil oleh an-Nasai dalam kitab Sunan-nya jilid 4 halaman 95 atau kitab
Mustadrak alas Shahihain jilid 1 halaman 530 hadits ke-1384 yang diriwayatkan
dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulallah saw. bersabda: Allah melaknat
perempuan yang datang guna menziarahi kubur dan orang yang menjadikan
kubur sebagai masjid, juga buat orang yang meneranginya(kuburan) dengan
penerang.
Padahal jika kita melihat pendapat ulama pakar Ahlusunah lainnya maka akan
kita dapati bahwa mereka membolehkannya, bahkan dalam beberapa hal justru
sangat menganjurkannya. Lantas apakah ulama Ahlusunah ini lupa atau lalai
terhadap hadits terakhir diatas itu, sehingga mereka menfatwakan yang
bertentangan dengan hadits tersebut, bahkan dengan tegas mereka
menyatakan boleh untuk memberi penerangan dikuburan ?
Kami telah kemukakan sebelumnya mengenai argumentasi hadits diatas itu,
umpamanya pengakuan seorang alim yang sangat diandalkan oleh kelompok
Wahabi sendiri, Nashiruddin al-Albani dalam kitabnya yang ber- judul Tahdzirul
Masajid min it-Tikhodzil Qubur Masajid halaman 43-44dimana ia
mengatakan: Hadits ini telah dinukil oleh Abu Dawud dan selainnya. Namun
dari sisi sanad (urutan perawi) ternyata Hadits ini dihukumi lemah

(Dhaif). ). Al-Albani kembali mengatakan: Kelemahan hadits ini telah saya


tetapkan dalam kitab al-Ahadits adh-Dhoifah wal Maudhuah wa Atsaruha asSayi fi al-Ummah. Tetapi nyatanya banyak dari kelompok Salafi/Wahabi sendiri
tidak mengikuti wejangan ulamanya ini dan mengharamkan menerangi kuburan
dengan berdalil pada hadits diatas itu.
Salah seorang yang menyatakan bahwa hadits itu lemah adalah alMuslim(pemilik kitab shahih). Beliau dalam karyanya yang berjudul atTafshilmengatakan: Hadits ini tidak jelas. Masyarakat tidak berpegangan
terhadap hadits yang diriwayatkan oleh Abu Shaleh Badzam. Orang itulah yang
meriwayatkan hadits tadi dari Ibnu Abbas. Tidak jelas apakah benar bahwa ia
telah mendengarkan hadits tersebut darinya (Ibnu Abbas).
Taruhlah bahwa analisa Nashiruddin al-Albani (ahli hadits Wahabi) tadi tidak
dapat kita terima, namun kembali harus kita lihat argumentasi (dilalah) yang
dapat kita lihat dari hadits tersebut. Jika kita melihat kandungan haditsnya
niscaya akan semakin terlihat kelemahan hadits diatas tadi yang dijadikan
landasan berpikir dan bertindak kaum Wahabi/Salafi dan pengikutnya.
Pertama: Tentu hadits itu tidak dapat diterapkan secara mutlak pada semua
kuburan, umpamanya;. kuburan para nabi, Rasulallah, waliyullah, imam dan
para ulama sholeh. Dimana mengagungkan kuburan mereka ini merupakan
perwujudan dari Tadhim Syaairallah (pengagungan syiar-syiar Allah) yang
tercantum dalam ayat 32 surat al-Hajj dimana Allah swt berfirman: Dan
barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul
dari ketakwaan hati.
Bagaimana tidak, Shofa dan Marwah yang hanya dikarenakan larian-larian
kecil Siti Hajar (ibu nabi Ismail as.) yang bukan nabi saja tergolong syiar Allah
sebagaimana firman Allah: Sesungguhnya Shafa dan Marwah merupa kan
sebagian dari syiar Allah (QS al-Baqarah: 158), apalagi jika itu adalah bekasbekas penghulu para nabi dan Rasul yang bernama Muhammad saw. Ataupun
bekas-bekas para ulama dan kekasih Allah (Waliyullah) dari umat Muhammad
yang dinyatakan sebagai pewaris para nabi dan ummat yang terbaik.
Kedua: Hadits tadi hanya dapat diterapkan pada hal-hal yang tidak ada
manfaatnya sama sekali. Terkhusus kuburan orang biasa yang jarangdiziarahi
oleh keluarga dan sanak familinya. Dengan memberi penerangan kuburan
semacam itu niscaya akan menyebabkan membuang-buang harta bukan pada
tempatnya (Israf /Mubadzir) yang tidak dianjurkan oleh Islam. Jadi
pengharaman pada hadits tadi lebih dikarenakan sesuatu yang lain,
membuang-buang harta tanpa tujuan (Mubadzir), bukan masalahpemberian
penerangan itu sendiri secara mutlak.
Namun jika penerangan kuburan tersebut dipakai untuk menerangi kuburan
orang-orang mulia seperti contoh di atas tadi dimana kuburan tersebut sering
dipakai orang untuk berziarah, membaca al-Quran, membaca doa,
melaksanakan shalat dan kegiatan-kegiatan berfaedah lain yang dihalalkan
oleh Allah, maka dalam kondisi semacam ini bukan hanya tidak dapat divonis
haram atau makruh melainkan sangat dianjurkan, karena menjadi perwujudan
dari ungkapan Taawun alal Birri wat Taqwa (tolong menolong dalam kebaikan
dan takwa) sebagaimana yang diperintahkan dan dijelaskan dalam al-Quran
surat al-Maidah ayat 2 dimana Allah berfirman: Dan tolong menolonglah kalian
dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam
perbuatan dosa dan pelanggaran.
Jelas hal itu bukan termasuk kategori dosa dan pelanggaran, karena jika itu
kenyataannya maka mungkinkah Rasulallah yang kemudian diikuti oleh para
Salaf Sholeh melakukan dosa dan pelanggaran, sebagaimana nanti yang akan
kita singgung ?
Atas dasar itu pula akhirnya para ulama Ahlusunah menyatakan boleh
memberikan penerangan terhadap kuburan para nabi, para Rasul dan para
kekasih Ilahi (Waliyullah) lainnya. Azizi dalam kitab Syarh Jami as-Shaghir jilid
tiga halaman 198 dalam rangka mensyarahi/menjelaskan makna hadits tadi

mengatakan: Hadits tadi menjelaskan tentang ketidakperluan orang-orang


yang masih hidup akan penerang. Namun jika hal tadi menyebabkan
manfaat (buat yang masih hidup) maka tidak menjadi masalah.
Sanadi dalam mensyarahi kitab Sunan an-Nasai jilid keempat halaman 95
mengatakan: Larangan memberikan penerangan tersebut dikarenakan
penggunaan lampu untuk hal tersebut merupakan membuang-buang harta
tanpa ada manfaat yang berarti. Hal ini meniscayakan bahwa jika terdapat
manfaat di balik itu semua maka hal itu telah mengeluarkannya dari
pelarangan.
Hal serupa juga dikemukakan oleh Syeikh Ali Nashif dalam kitab at-Tajul Jami
lil Ushul jilid pertama halaman 381: Memberi penerangan pada kubur
merupakan perbuatan yang dilarang. Hal itu dikarenakan membuang-buang
harta. Kecuali jika di sisi kuburan tersebut terdapat seorang yang masih hidup
(yang memerlukan penerangan) maka hukumnya tidak apa-apa.
Dan terbukti bahwa penerangan terhadap kuburan merupakan hal lumrah
yang telah dilakukan oleh para Salaf Sholeh semenjak dahulu. Khatib alBaghdadi dalam kitab Tarikh al-Baghdadi jilid 1 halaman 154 yang pengisahannya disandarkan kepada seorang syeikh penduduk Palestina, dimana ia
menyatakan: Kulihat terdapat bangunan yang terang yang terletak di bawah
tembok Kostantiniyah. Lantas kutanyakan perihal bangunan tersebut. Mereka
menjawab: Ini adalah makam Abu Ayyub al-Anshari seorang sahabat
Rasulallah. Kudatang mendekati makam tersebut. Kulihat makam beliau
terletak di dalam bangunan tersebut dimana terdapat lampu yang tergantung
dengan rantai dari arah atas atap.
Ibnu Jauzi dalam kitab al-Muntadham jilid 14 halaman 383 menyatakan:
Salah satu kejadian tahun 386 Hijriyah adalah para penghuni kota Basrah
mengaku bahwa mereka telah berhasil menemukan kuburan tua yang ternyata
kuburan Zubair bin Awam. Setelah itu berbagai peralatan penerangan dan
penghias diletakkan (dalam pemakaman) dan lantas ditunjuk seseorang yang
bertugas sebagai penjaga. Dan tanah yang berada di sekitarnya pun
diwakafkan.
Minimalnya, semua argument diatas merupakan bukti bahwa pelarangan
tersebut tidak sampai pada derajad haram, paling maksimal hanyalah dapat
divonis sebagai makruh (kurang disenangi) saja, dan (makruh) inipun
tidak mutlak. Terbukti ada beberapa hal yang menyebabkan pemberian
penerang- an itu dihukumi boleh (Jaiz). Malah jika itu termasuk
kategori Tadhim Syaariallah atau Taawun alal Birri wat Takwa sebagaimana
yang telah kita singgung di atas tadi maka tergolong sesuatu yang sangat
ditekankan/ dianjurkan
Begitu juga hadits di atas tadi larangan pemberian lampu penerang yang
diriwayatkan dari Ibnu Abbas bertentangan dengan hadits lainnya yang
diriwayatkan juga oleh Ibnu Abbas yang pernah dinukil oleh at-Turmudzi dalam
kitab al-Jami as-Shahih jilid 3 halaman 372 bab ke-62 dimana Ibnu Abbas
berkata: Suatu malam Rasulallah memasuki areal pemakaman(untuk
berziarah). Saat itu ada seseorang yang menyiapkan penerang buat beliau. Ini
membuktikan bahwa menerangi pemakaman dengan lampu penerang tidak
dapat dihukumi haram secara mutlak, namun sangat bergantung terhadap
tujuan dan faedah di balik hal tersebut.
Membuat bangunan (kubbah) diatas kuburan
Saya tambahkan sedikit keterangan pendapat para ulama pakar
mengenaipembangunan kubbah dan memberi penerangan diatas kuburan.
Membuat bangunan diatas kuburan para sahabat Nabi, Ahlul-Bait, para
waliyullah dan para ulama dibolehkan (jaiz), bahkan dipasang penutup (kain
dan sebagainya) pun dibolehkan. Mengenai pemasangan kubbah diatasnya,
para ulama berbeda pendapat, jika kuburan itu terletak pada tanah wakaf atau
diwakafkan fi sabilillah. Lain halnya jika kuburan itu terletak pada tanah hak
milik, dalam hal ini tidak dilarang dan para ulama pun sepakat atas

kebolehannya. Menyalakan lampu diatas kuburan pun dibolehkan apabila


bangunannya digunakan sebagai musholla, atau sebagai tempat belajar ilmu,
atau tempat orang tidur didalam bangunan, membaca al-Quran atau untuk
menerangi lalu lintas sekitarnya. Semuanya ini dibolehkan.
Banyak riwayat diketengahkan oleh para ulama ahli hadits dan para ulama ahli
Fiqih mengenai jaiznya (dibolehkannya) hal-hal diatas itu. Bahkan diantara
mereka ada yang berpendapat : Meskipun dengan maksud kemegahan. Hal
ini disebut dalam kitab Ad-Durr Al-Mukhtar. Ada pula yang menegaskan jaiznya
pembuatan bangunan diatas kuburan, walau berupa rumah. Demikian itulah
yang dikatakan para ulama muhaqqiqun(para ulama yang tidak diragukan
kebenaran fatwa-fatwanya) dari empat madzhab dan lain-lain.
Ibnu Hazm didalam Al-Muhalla mengatakan: Jika diatas kuburan itu dibangun
sebuah rumah atau tempat persinggahan pun tidak dimakruhkan (yakni bolehboleh saja). Demikian juga yang dikatakan oleh Ibnu Muflih didalam Al-Furu,
bagian dari Fiqh madzhab Hanbali. Penulis Al-Mustauab dan Al-Muharrir
mengatakan: Pembuatan kubbah (di kuburan), rumah dan tempat untuk
berkumpul diatas tanah milik sendiri tidak ada salahnya, karena penguburan
jenazah didalamnya dibolehkan.
Demikian juga yang dikatakan oleh Ibnul-Qashshar dan jamaah madzhab
Maliki, yaitu sebagaimana dikatakan oleh Al-Khattab didalam SyarhulMukhtashar. Itu mengenai kuburan orang awam. Mengenai kuburan orangorang Sholeh, Ar-Rahmani mengatakan: Diatas kuburan orang-orang sholeh
boleh didirikan bangunan, sekalipun berupa kubbah, guna menghidupkan
ziarah dan tabarruk.
Murid Ibnu Taimiyyah yaitu Imam Ibnu Muflih dari madzhab Hanbali menyata
kan pendapatnya didalam Al-Fushul : Mendirikan bangunan berupa kubbah,
atau Hadhirah (tempat untuk berkumpul jamaah) diatas kuburan, boleh
dilakukan asal saja kuburan itu berada ditanah milik sendiri. Akan tetapi jika
tanah itu telah diwakafkan di jalan Allah (musbalah), hal itu makruh (tidak
disukai), karena mengurangi luas tanah tanpa guna.
Mengenai Ibnu Muflih itu, Ibnul Qayyim yang juga murid Ibnu Taimiyyah dari
madzha Hanbali, mengatakan : Dibawah kolong langit ini saya tidak melihat
seorang ahli Fiqih (pada zamannya) madzhab Ahmad bin Hanbal yang ilmunya
melebihi dia (Ibnu Muflih). Wallahu alam.
Demikianlah keterangan mengenai ziarah kubur, alam ruh dan lain sebagainya,
insya Allah semuanya ini bisa memberi manfaat bagi saya sekeluarga
khususnya dan semua kaum muslimin, khususnya bagi orang yang mendapati
kesalahan informasi mengenai ziarah kubur dan lain-lain yang telah
dikemukakan tadi. Semoga hidayah Ilahi selalu mengiringi kita semua. Amin
Buku baru yang berjudul Telaah kritis atas doktrin faham
Salafi/Wahabi belun beredar merata pada toko-toko buku di
Indonesia. Bagi peminat bisa langsung hubungi toko-toko di
jalan Sasak. Surabaya-Indonesia.
PENGARUH FAHAMAN WAHHABI DI KALANGAN MASYARAKAT ISLAM DI MALAYSIA 1.1 Pendahuluan Satusatunya negeri di Malaysia yang mencatat sejarah kegemilangan dalam gerakan fahaman Wahhabi ialah di
Negeri Perlis. Sebagai sebuah dari negeri-negeri Melayu Tidak Bersekutu, kelihatannya Perlis semacam tidak
ada kisah atau sejarah menarik. Namun jika diteliti dari rentetan sejarah, terdapat banyak keistimewaan yang
berkembang di negeri Perlis dari dahulu hinggalah sekarang. Demikian juga mengenai pergerakan fahaman
Wahhabi, barangkali tidak ada satu negeri pun yang dapat menandingi kehebatan pengaruh dan kedudukannya
seperti yang terdapat di Perlis. Perlis satu-satunya di antara semua negeri di Malaysia terkenal sebagai negeri
tidak bermazhab. Dalam perlembagaannya tercatat: Ahli Sunnah wal Jamacah. Pada pandangan Majlis Agama
Islam Perlis, mazhab-mazhab fiqah ialah pendapat ulama, oleh itu majlis tidak terikat kepada mana-mana
mazhab. Di dalam mana mazhab mana pun yang jelas dan nyata pendapat mereka itu daripada kitab Allah atau
Sunnah RasulNya atau jemaah-jemaah sahabat Rasulullah maka Majlis sedia menerima dan beramal
dengannya. Sekiranya pendapat mazhab mana pun yang tidak ada dalil daripada kitab Allah atau sunnah
Rasulnya atau jemaah sahabat Rasulullah maka Majlis tidak terikat dengan pendapat mazhab itu. Wahhabi Satu
fahaman yang diasaskan oleh satu jemaah yang berpengkalan di Arab Saudi pada kurun ke 17. Ini ialah sebuah

gerakan yang mahu mengembalikan keaslian Islam dengan kembali kepada al-Quran dan al-Sunnah tanpa ada
kompromi dalam hal-hal yang bercanggahan dengan dua sumber tersebut. Pengikut-pengikut Muhammad bin
cAbdul Wahhab berpegang kepada tauhid, dan memastikan semua keputusan mesti berdasarkan al-Quran dan
al-Sunnah. Beliau adalah Syeikh al-Islam al-Imam Muhammad bin cAbdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin
Muhammad bin al-Masharif at-Tamimi al-Hanbali an-Najdi. Mereka dipimpin oleh Muhammad bin Sacud, mereka
mempengaruhi seluruh Jazirah Arab. Apa ada pada nama, dan walau dari mana sekalipun gelaran Wahhabi ini
dimulai namun ia merupakan satu gerakan yang sentiasa menimbulkan kontrovesi sepanjang zaman. Menurut
Dr Yusuf Qardawi, Wahhabi ialah gerakan Salafiyyah Tajdidiyah yang dibawa oleh Ibnu Taimiyyah dan muridmuridnya. Kelompok ini mempunyai pengaruh yang sangat mendalam dalam masalah aqidah, fiqah, pemikiran
dan akhlak sampai sekarang ini. Mungkin ada pihak yang tidak setuju dengan gerakan Wahabiyyah, yaitu
gerakan salafiah yang bersandar kepada peninggalan fahaman Ibnu Taimiyyah tetapi ia tidak dikenali sebagai
pembaharuan dan ijtihad. Oleh kerana itu Dr. Muhammad Imarah menyebutnya dengan Salafiyyah alNususiyyah. Yang dimaksud dengan nususiyyah ialah memahami nas secara harfiyyah (secara huruf), dan
mungkin gerakan inilah yang berpengaruh terhadap banyak orang yang mengaku sebagai penganut salafiah
pada masa kita sekarang ini, yang menentang pembaharuan. Di Malaysia, fahaman Wahhabi ditakrifkan dengan
pelbagai taksiran dan fahaman tersendiri seperti fahaman yang banyak menolak amalan sunat golongan Ahli
Sunnah wal Jamacah yang diamalkan oleh umat Islam di negara ini seperti talkin, tahlil arwah dan bacaan
Yaasin malam jumaat Ada yang menyatakan ia merupakan satu pendekatan keras semata-mata memberi
penekanan kepada ayat-ayat Allah dan sunnah Rasulullah, tawassul, syafaat dan sebagainya. Tidak semestinya
penggerak fahaman ini semestinya mempunyai kaitan dengan Muhammad bin cAbdul Wahhab ataupun
menjadikan kitab-kitabnya sebagai rujukan tetapi memadai dengan memakai manhaj akidah dan fiqah yang
sama. Tiada puak yang mahu mengakui mereka adalah Wahhabi walaupun menyetujui dan membenarkan
gerakan Muhammad bin cAbdul Wahhab. Ini menimbulkan satu persoalan, kenapa gelaran Wahhabi dipandang
negatif oleh pengikut manhaj Muhammad bin cAbdul Wahhab sendiri sedangkan mereka bermati-matian
mempertahankan akidah dan syariat yang diperjuangkan beliau. Dari segi bahasa sendiri pun ia tidak membawa
kepada makna yang negatif bahkan merujuk kepada salah satu nama Allah (Al-Wahhab). Mereka lebih selesa
menggelar gerakan mereka sebagai pejuang sunnah, salafi dan sebagainya. Ini makin menjadikan gelaran
Wahhabi semakin dipandang negatif. SEJARAH RINGKAS KEMASUKAN FAHAMAN WAHHABI DI PERLIS
DAN PERKEMBANGANNYA Sebelum kemunculan fahaman Wahhabi di Perlis terlebih dahulu berkembang
aliran mazhabiyyah, yakni mazhab Shafici baik dari segi akidah mahupun syariatnya. Fenomena ini bukan
sekadar berlaku di Perlis malah di seluruh nusantara pada zaman tradisi. Di Perlis sendiri pengaruh Shaficiyyah
ini ada hubung kaitnya dengan faktor kepimpinan, iaitu kerana tokoh-tokoh pembesarnya yang berasal dari
keturunan Syed Hadramaut yang memang terkenal dengan pendukung mazhab Shafici yang setia.
Bagaimanapun fenomena itu tidak kekal lama apabila sekitar tahun 1920-an, munculnya gerakan pembaharuan
agama oleh tokoh-tokoh aliran La-mazhabiyyah, sebagai reaksi terhadap aliran mazhabiyyah yang berpengaruh
sejak lama itu . Jika aliran mazhabiyyah dikatakan hanya merujuk kepada mazhab Shafici sahaja, sebaliknya
tokoh-tokoh aliran La-mazhabiyyah menyeru agar berpegang kepada al-Quran dan al-Sunnah sahaja. Pada
zaman Datok Laksamana Haji Mohd Razalli sebagai Menteri Besar, berlaku satu peristiwa paling bersejarah
dalam gerakan Islah di Perlis. Peristiwa itu berlaku pada 26 Mac 1959 dengan terkanunnya ideologi Islah di
dalam undang-undang tubuh kerajaan Perlis, iaitu pada Perkara 17 yang menetapkan bahawa seseorang raja
yang akan dilantik hendaklah beragama Islam yang beraliran Ahli Sunnah wal Jamacah. Demikian juga untuk
melantik seorang Pemangku Raja atau Jemaah Pemangku Raja haruslah juga yang beraliran Ahli Sunnah wal
Jamacah (Perkara 3:1). Dalam menetapkan syarat seorang waris diraja, dia hendaklah juga beraliran Ahli
Sunnah wal Jamacah (Perkara 27). Tokoh-tokoh yang menandatangani Undang-Undang Tubuh Kerajaan Perlis
ialah seperti berikut: 1. Syed Hussain b. Syed Zain Jamalulail (wakil raja) 2. Datok Laksamana Haji Mohd Razalli
b. Haji Ali Wasi (Menteri Besar) 3. Haji Ahmad b. Haji Mohamad (Yang Dipertua Majlis Agama Islam dan Adat
Istiadat Melayu Perlis) 4. Wan Ahmad b. Wan Daud (Ahli Majlis Negeri) 5. Syeikh Ahmad b. Mohd Hashim (Ahli
Majlis Negeri) Menurut takrif yang terpakai dan difahami di Perlis, maksud Ahli Sunnah wal Jamacah tersebut
ialah aliran yang hanya berpegang kepada al-Quran dan al-Sunnah sahaja bukannya berpegang kepada
mazhab-mazhab tertentu. Dalam aliran tasyrik ia dikenali sebagai al-La Mazhabiyyah, yakni tidak menganut
mana-mana mazhab atau berpegang kepada sesuatu mazhab. Bahkan ada kalanya menolak terus pegangan
bermazhab. Sejarah Ahli Sunnah wal Jamacah amat rapat kaitannya dengan sejarah gerakan pembaharuan (
) di seluruh dunia Islam. Negeri Perlis telah mengorak langkah ke arah pembaharuan seperti yang
dipelopori oleh Syeikh Mohd cAbduh (Mesir, 1849-1905) dan Muhammad bin cAbdul Wahhab ( 1703-1787) di
Saudi Arabia dan beberapa tokoh pembaharuan di tanah Melayu seperti Syeikh Tahir Jalaluddin (1869-1957),
Syed Syeikh al-Hadi dan lain-lainnya. Setelah angin perubahan bertiup ke seluruh dunia Islam termasuk negeri
Perlis , maka secara kebetulan dalam tahun 1345 Hijriah- 1927 Masihi, seorang ulama Wahhabi bernama Syeikh
Hassan dari Saudi Arabia datang berkunjung ke negeri Perlis. Kedatangannya tepat pada waktu pembesarpembesar Perlis mencari tokoh yang boleh membawa perubahan untuk Negeri Perlis seperti yang berlaku di
Saudi Arabia. Syeikh Hassan bin Ahmad menjadi pengasas As-Sunnah yang pertama sekali di Perlis. Beliau
berasal dari Surabaya, Indonesia. Beliau tiba di Perlis sebelum tahun 1916. Lagu Amin-Amin yang menjadi Lagu
Negeri Perlis adalah ajaran Syeikh Hassan untuk menyambut raja. Syeikh Hassan pada ketika itu digelar kaum
Muda. Dakwah yang disampaikan adalah pengaruh dari Saudi Arabia, Mesir dan juga Indonesia. Tokoh yang
bertanggungjawab memperkenalkan Syeikh Hassan Bandung kepada kerajaan Negeri Perlis pada ketika itu
ialah Wan Ahmad Wan Daud iaitu penolong Raja Syed Alwi, beliau bertanggungjawab dengan Penasihat Diraja
pergi ke Sumatera berjumpa dengan Profesor Hamka dan Syeikh Hassan Bandung. Raja Syed Alwi bukanlah

asal pengikut sunnah dari awalnya tetapi hasil kerja keras Wan Ahmad membantu penyebaran dakwah Syeikh
Hassan., beberapa pembaharuan drastik telah dilakukan di Perlis seperti mewujudkan Pejabat Zakat dan Fitrah
(yang pertama ditubuhkan di tanah air pada ketika itu). Sebelum itu, zakat tidak dikutip oleh pihak kerajaan. Pada
mulanya ia menimbulkan kemarahan masyarakat namun akhirnya dapat diterima sehingga sekarang. Dakwah
pada waktu itu juga meliputi menentang amalan khurafat seperti laga ayam, hutang ceti yang akhirnya
mengkayakan golongan Punjabi . Dakwah itu juga berjaya menaikkan tahap ekonomi orang melayu hasil dari
penubuhan syarikat kerjasama masyarakat melayu yang bersih dari amalan riba. Gerakan dakwah ini dilihat
berjalan kerana berjaya menubuhkan beberapa sistem baru yang mendapat bantuan dari pihak pemerintah dan
seterusnya berjaya menambat hati rakyat. Penubuhan Sekolah Menengah Alawiyah Kangar dan pembinaan
Masjid Alwi memberi banyak jasanya terhadap perkembangan dakwah Syeikh Hassan Bandung. Syeikh Abu
Bakar al-Shacari merupakan imam pertama dilantik dan dibayar elaun oleh kerajaan negeri. Beliau juga
membuka kuliah-kuliah di masjid berkenaan. Di samping itu beliau merupakan seorang wartawan suratkhabar
tempatan. Beliau banyak membantu mengembang dakwah ini melalui tulisan di dada akhbar dan mengarang
beberapa buah buku. Beliau dianggap satu-satunya tokoh yang dianggap champion bagi pengembangan
fahaman ini. Beliau merupakan bekas penuntut Universiti al-Azhar dari tahun 1925-1932. Dalam perjuangannya,
isu besar yang selalu dibawa beliau ialah masalah sunnah dan bidaah, serta masalah ijtihad dan taklid. Baik
melalui lisan atau tulisan, soal-soal inilah yang menjadi pokok pemikirannya. Beliau dikatakan tidak putus-putus
mengajak mengamalkan sunnah dan ijtihad serta menjauhi bidaah dan taklid. Di antara fatwa-fatwa yang pernah
menggemparkan masyarakat Melayu ialah tentang bolehnya dimakan binatang-binatang yang tidak jelas
hukumnya dalam al-Quran, seperti biawak misalnya. Baginya binatang-binatang seumpama itu mestilah
berdasarkan ketentuan al-Quran dan al-Sunnah sendiri bukan berdasarkan selera manusia yang mahu atau
tidak memakannya. Beliau ingin mengajak umat Islam khususnya pemerintah membebaskan diri dari segala
yang mengongkong mereka. Beliau menjadi imam Masjid Alwi yang merupakan tempat solat dan mendengar
penjelasan agama pembesar-pembesar negeri pada ketika itu. Kesempatan ini digunakan oleh beliau untuk
menjelaskan konsep yang dibawanya. Beliau yang berpengetahuan luas dan bersemangat Islam telah
menggerakkan umat Islam untuk menghayati Islam dalam setiap aspek. Bukan sekadar dalam ibadat, beliau
juga menyeru kembali kepada al-Quran dan al-Sunnah dalam hal muamalat ( hubungan antara manusia),
munakahat ( perkahwinan ) dan jinayat (jenayah). Lebih jelas lagi beliau mengajak umat Islam mengubah corak
negara sekular kepada negara Islam. Di antara ulama-ulama luar yang lain datang ke Negeri Perlis ialah Hamid
b. Baar dan Syeikh Taqiyuddin dari Kaherah. Mereka datang pada tahun 1956, iaitu pada zaman Syed Qutub
dan Presiden Mesir sedang kecoh menangkap dan memburu pejuang-pejuang Ikhwan Muslimin. Pada tempoh
awal perkembangan dakwah ini, kebanyakkan pendakwah dan penggeraknya adalah penyokong kerajaan dan
berada di bawah Persatuan Melayu Perlis iaitu satu persatuan di bawah UMNO. Walaupun berlaku
pertembungan pemikiran dan dasar di antara PAS dan UMNO. Namun ia tidak menghalang dakwah ini dari terus
berjalan. Syeikh Abu Bakar sendiri merupakan Pengerusi Dewan Ulamak Pas Perlis pada ketika itu. Tuan Guru
Nik Abdul Aziz Nikmat sendiri selalu datang ke Perlis untuk menemui Syeikh Abu Bakar dan mereka sering
berhimpun di kedai Pak Hussin. Pada tahun 1960 an, hadir Syeikh Nur al-Surur seoarang ulamak yang berasal
dari Bangkok, Thailand. Beliau pernah berkhidmat sebagai hakim di Saudi Arabia dan banyak menggunakan
kitab-kitab karangan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab. Beliau datang ke Negeri Perlis iaitu dan berdakwah
atas bantuan zakat dari Negeri Thailand. Beliau terkenal dengan ulama yang pemurah. Dakwah beliau lebih
meliputi kepada penyucian dari sudut akidah berbanding dengan Syeikh Abu Bakar yang banyak menjurus ke
arah syariah. Sungguhpun negeri asalnya Thailand, tetapi beliau dilahirkan di Pulau Pinang dalam tahun 1911,
keturunan Arab Hadramaut. Beliau menetap di Perlis di rumah emak angkatnya Hajjah Tijah yang kemudian
menjadi emak saudara isterinya. Beliau membawa diri ke Perlis semata-mata hendak menjaga agama Islam
yang terasnya akidah Ahli Sunnah wal Jamacah yang mendapat tentangan hebat dari keluarganya sendiri di
Bangkok. Pegawai-pegawai agama pada ketika itu dicelikkan dengan sumber dari dua tokoh ini iaitu Syeikh Abu
Bakar dan Syeikh Nur hingga lahirlah tokoh baru Syeikh cAbdul Rahman (pemangku Mufti dan juga Imam Masjid
Kangar). Di waktu itu, Masjid Alwi menjadi tumpuan pengunjung tempatan dan luar kerana ceramah-ceramah
kerap diadakan. Bagi terus menghangatkan dakwah, Persatuan al-Islah ditubuhkan bertujuan supaya ulama
terus mendapat sokongan rakyat di samping meneruskan dakwah. Dewan Islah yang ditubuhkan di Mata Ayer
merupakan hasil sumbangan orang ramai. Dewan itu tidak berjaya menarik golongan-golongan muda kerana
televisyen mula mendapat tempat di setiap rumah-rumah. Atas beberapa sokongan dari beberapa murid awal
Syeikh Boor seperti Darus Taib, Ali Wahid, Cikgu Man Daud dan Osman Muhammad maka akhirnya tertubuhlah
Persatuan al-Islah dengan Yang Dipertua pertamanya ialah Syed Ali bin Syed Osman. Sepertimana persatuanpersatuan yang lain, al-Islah juga telah membuat permohonan untuk pendaftaran kepada Pejabat pendaftar
Pertubuhan Kedah/ Perlis. Pihak pendaftaran memberi jawapan tidak boleh dibuat melainkan melalui Jabatan
Agama Islam dan Adat Istiadat Melayu Perlis namun mereka telah membuat beberapa penapisan dan pindaan.
Mereka membuat keputusan tidak membenarkan ditubuh bersama persatuan as-sunnah yang baru kerana
sudah ada as-Sunnah Perlis, dan jika hendak diwujudkan juga mestilah dimasukkan di bawah Jabatan Agama
Islam dan Adat Istiadat Melayu.. Syeikh Noor tidak berpuas hati dan terus berhenti mengajar as-Sunnah
walaupun untuk sekadar mengajar kepada Ahli Jawatankuasanya sahaja. Menurut Syed Ali: Sheikh Noor
membelanjakan wangnya, tanahnya dan dirinya sendiri untuk kebaikan persatuan. Persatuan ini dinamakan alIslah, tujuannya supaya dapat mengajar ilmu as-sunnah dan pelajaran ini dapat disampaikan secara lebih
terperinci dan berterusan. 3 AJARAN-AJARAN DAN FAHAMAN WAHABI Wahhabi tidak dikenali di tanah Arab
kerana kaum Wahhabi sendiri menamakan diri mereka al-Muwahhidun, yang ertinya para penganut faham
ketuhanan yang Maha Esa. Adapun gelaran Wahhabi itu berasal dari golongan yang benci kepada aliran ini.

Nama Wahhabi itu dilancarkan oleh mereka yang tidak setuju kepada aliran ini dengan maksud untuk
propaganda agar orang banyak membencinya. Ajaran dan fahaman ini membawa supaya kembali kepada
keimanan dan amalan kaum salaf yang suci dari segala khurafat dan bidaah yang menyesatkan. Mereka
mendakwa bahawa Islam makin rosak dan tidak murni lagi disebabkan oleh unsur-unsur penambahan dan
pengurangan yang dilakukan sesuka hati oleh mereka yang tidak bertanggungjawab. Banyak amal ibadah,
pekerjaan-pekerjaan dan perbuatan orang Islam sendiri yang menyebabkan keruntuhan umat Islam dan
kehancurannnya. Banyak perbuatan-perbuatan bidaah dan khurafat timbul dan bermaharajalela setelah tiga
generasi berlaku selepas wafatnya Nabi s.a.w. tindakan-tindakan syirik telah banyak mewarnai tingkah laku,
perbuatan dan keyakinan umat Islam yang mana semua itu banyak mendapat pengaruh dari kepercayaan lama
yang boleh diragui kesahihannya atau sebagai hasil dari akulturisasi atau adaptasi dengan kepercayaankepercayaan lain. Perjuangan fahaman ini adalah ditujukan untuk membina kembali keyakinan Islam kepada
aslinya yang sesuai dengan keesaan Allah dan tauhid yang murni. Ini adalah kerana perbuatan merosak tauhid
dan keesaan Allah telah menjadi suatu hal kebiasaan yang tidak terasa syiriknya oleh umat Islam. Syeikh
Muhammad bin cAbdul Wahhab saat itu bangkit mengajak dunia Islam untuk sedar atas kepincangan aqidah ini.
Beliau menulis beberapa risalah untuk menyedarkan masyarakat dari kesalahannya. Salah satunya adalah Kitab
al-Tauhid, yang hingga kini masih menjadi rujukan banyak ulama di bidang akidah. Dakwah Syeikh Muhammad
bin cAbdul Wahhab ini kemudian melahirkan gerakan umat yang aktif menumpas segala bentuk khurafat, syirik,
bidaah dan bermacam hal yang menyeleweng dari ajaran Islam yang asli. Mereka melarang membangun
bangunan di atas kuburan, juga mengharamkan untuk menyelimuti kuburan atau memasang lampu di dalamnya.
Mereka juga melarang orang meminta kepada kuburan, orang yang sudah mati, dukun, peramal, tukang sihir
dan tukang teluh. Mereka juga melarang tawassul dengan menyebut nama orang soleh seperti kalimat bi
jaahirrasul atau keramatnya syeikh fulan dan fulan. Dakwah beliau lebih tepat dikatakan sebagai dakwah
salafiah. Dakwah ini telah membangun umat Islam di bidang akidah yang telah lama jumud (beku) akibat
kemunduran akidah umat. Dakwah beliau sangat memperhatikan pengajaran dan pendidikan umum serta
merangsang para ulama dan tokoh untuk kembali membuka literatur kepada buku induk dan rujukan yang
muktabar, sebelum menerima sebuah pemikiran. Mereka meminta agar umat ini lebih jauh meneliti dan merujuk
kembali kepada nas-nas dan dalil dari Kitabullah dan sunnah Rasulullah s.a.w. serta pendapat para ulama salaf
al-salih. Di antara tokoh ulama salaf yang sering mereka jadikan rujukan ialah : i) Imam Ahmad bin Hanbal (164241 H). ii) Ibnu Taimiyyah (661- 728 H). iii) Muhammad Ibnu Qayyim Al-Jauziah (691-751 H). Secara umumnya
dakwah beliau ialah meliputi: i) Dakwah kepada sebenar-benar tauhid. ii) Memerangi perkara-perkara bidaah. iii)
Kembali kepada Al-Quran dan al-Sunnah. iv) Membuka pintu ijtihad. v) Menentang pemujaan kubur . vi)
Menghidupkan kefarduan jihad. vii) Membahagikan tawassul kepada yang dibolehkan dengan yang tidak
dibolehkan. viii) Memerangi golongan taghut . Dan demikian juga di antara beberapa tambahan terhadap fatwa
dari Wahhabiah 1) Doa dengan tawasul adalah syirik. 2) Perjalanan untuk ziarah makam Rasulullah adalah
maksiat. 3) Binaan di atas kuburan adalah haram. 4) Semua amalan tarikat adalah bidaah dan haram. 5) Hisap
rokok adalah haram. Fatwa ini dikatakan bersumber dari fatwa Ibnu Taimiyyah. Bahkan menurut Kamus Munjid,
Wahhabiah adalah penerus dari fatwa-fatwa Ibnu Taimiyyah. Perbezaan di antara mereka ialah gerakan
Wahhabiah dipengaruhi oleh politik manakala Ibnu Taimiyyah bertujuan untuk membasmi amalan bidaah dan
khurafat Islam pada masanya. Fatwa-fatwa Ibnu Taimiyyah nyata menyentuh bidang fiqah, yang berlawanan
dengan ijtihad empat mazhab fiqah yang besar, malah dari beberapa segi ia berbeza dengan dasar Ahli Sunnah
wal Jamacah. RUMUSAN MANHAJ AKIDAH DAN FEKAH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB Manhaj Akidah :
i) Al-Quran dan al-Sunnah merupakan asas utama di dalam semua aspek samada akidah, ibadah mahupun
akhlak. ii) Menerima hadis-hadis sahih sahaja di dalam semua perkara tanpa membezakan dalam masalah
akidah atau ibadah. iii) Menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, dan menafikan apa
yang dinafikan oleh Allah dan Rasul-Nya. iv) Tidak mendahulukan akal dari nas. v) Beriktikad dengan aqidah ahli
Sunnah wal Jamacah. vi) Menentang keras penggunaan manhaj, metod atau pendekatan ilmu kalam di dalam
akidah. Manhaj Fiqah: i) Pada umumnya berdasarkan kepada dalil-dalil sahih daripada al-Quran dan al-Sunnah.
ii) Di dalam bab ibadat adalah ditunaikan mengikut sifat dan cara yang dilaksanakan dan diajar Rasulullah tanpa
menambah atau mengurangkannya. iii) Dalam bab muamalat (hubungan sesama manusia), adalah dibuka pintu
secara luas tanpa disempitkan melainkan perkara yang dilarang oleh Allah. iv) Dalam bab politik adalah
dilaksanakan mengikut cara yang paling aslah (terbaik) walaupun tidak ada nas daripada nas al-Quran dan alSunnah serta beriltizam dengan hukum-hukum yang disyariatkan. PERSAMAAN ANTARA FAHAMAN WAHHABI
DI PERLIS (AS-SUNNAH) DENGAN FAHAMAN MUHAMMAD BIN cABDUL WAHHAB Di Negeri Perlis,
golongan Wahhabi melabelkan diri mereka dengan gelaran as-Sunnah. Mereka menolak gelaran Wahhabi
kerana mereka berpendapat gelaran Wahhabi diberi oleh musuh gerakan pemurnian akidah umat Islam. Walau
bagaimanapun pengkaji juga tidak menyalahkan pihak luar memandang golongan as-Sunnah di Perlis adalah
Wahhabi kerana ia menepati beberapa aspek fahaman ibadat seperti yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul
Wahab iaitu pengasas fahaman Wahhabi ini. Secara keseluruhan mereka menepati manhaj akidah dah fiqah
yang dibawa oleh Syeikh Muhammad bin cAbdul Wahhab. Ciri-ciri yang terperinci adalah seperti berikut : i)
Mengutamakan dalil dari al-Quran dan al-Sunnah demi menjaga ketulenan amalan umat Islam. Ini telah jelas di
dalam kitab Akidah Syeikh Muhammad bin cAbdul Wahhab . As-Sunnah di Perlis juga berpendirian demikian.
Secara kesimpulan mereka tidak mahu beramal melainkan ada dalil yang kuat. ii) Menolak taklid mazhab yang
empat dengan mendakwa ia adalah taklid adalah sesat dan menganggap imam mazhab laksana paderi dalam
ajaran Kristian. Ini merupakan dakwaan Syeikh al-Albani dan ini juga merupakan pandangan mufti Perlis yang
beralasan bahawa ia tidak tulen. iii) Memahami bidaah dengan makna dalam ruang lingkup yang sempit. Mereka
meletakkan setiap perkara yang yang tidak pernah dilakukan Rasulullah adalah bidaah yang menyesatkan dan

menggolongkan pengamalnya ke dalam golongan api neraka. Ini merupakan pendapat Imam Syatibi yang
dipegang oleh Wahhabi atau salafi di seluruh dunia. Fahaman bidaah seperti ini juga yang disebarkan oleh
Institut as-Sunnah. iv) Mengharamkan majlis sambutan hari kebesaran Islam seperti mengadakan sambutan
Maulid Nabi, Israk Mikraj dan lain-lain. Ini pendapat Syeikh cAbdullah al-Harari dan pendapat ini juga satu
dipegang oleh as-Sunnah di Perlis. v) Menafikan sampainya pahala amalan bacaan al-Quran kepada mayat.
Oleh kerana itu, mereka membidaahkan amalan talkin dan bacaan al-Quran kepada si mati. vi) Majlis bacaan
tahlil dan talkin adalah bidaah. vii) Lafaz Usolli sebelum sembahyang adalah bidaah. viii) Membidaahkan bacaan
Qunut secara berterusan. ix) Berdoa dan berzikir selepas solat adalah bidaah. x) Majlis zikir adalah haram.
PERKARA-PERKARA KHILAFIAH YANG MENJADI PERBALAHAN PENDAPAT DI NEGERI PERLIS Terdapat
beberapa masalah khilafiah yang berlaku di Negeri Perlis yang menjadi kecelaruan masyarakat dan juga yang
menimbulkan perselisihan dalam menegakkan pendapat masing-masing. Kebanyakkan masalah ini ialah
masalah yang sama ditimbulkan dan diperselisihkan oleh Wahhabi di luar Malaysia. Di Perlis, Institut As-Sunnah
bertindak sebagai penjelas kepada masalah-masalah berikut dan menegaskan mereka adalah benar dan yang
lain dari amalan mereka adalah bidaah. Di antara perkara-perkara khilafiah tersebut adalah seperti berikut : i)
Qunut pada solat Subuh Bagi mazhab Shafici, bacaan qunut pada rakaat kedua solat subuh adalah sunat. Bagi
Imam Abu Hanifah, qunut tidak disunatkan pada setiap subuh, hanya dituntut qunut nazilah sahaja. Ini kerana
beliau berpegang kepada dalil : Ertinya: Rasulullah berqunut sebulan
atas pembunuhan sahabat-sahabatnya di Biri Macunah kemudian baginda meninggalkannya( qunut). Inilah
yang dipegang oleh Wahhabi di Perlis, mereka membidaahkan bacaan qunut secara berterusan setiap Subuh,
kerana menurut mereka hadis yang sahih, Rasulullah hanya qunut selama sebulan sahaja. Namun disebut juga
di dalam Majmuc, qunut yang dilakukan hanya sebulan oleh Rasulullah seperti dimaksudkan di dalam hadis di
atas ialah qunut nazilah, yang dilakukan bukan hanya pada solat Subuh, tapi pada setiap akhir rakaat setiap
solat fardhu. Berpandukan dalil : :
Ertinya: Daripada Akramah, beliau berkata: Rasulullah berqunut selama sebulan berturut-turut pada
waktu Zohor, Asar, Maghrib, Isya dan Subuh di setiap hujung rakaat setiap solat. ii) Menyebut lafaz niat ketika
solat, usalli. Menurut fahaman Wahhabi niat yang dilafazkan adalah bidaah kerana lafaz usalli itu tidak pernah
dilakukan oleh Rasulullah dan para isterinya serta tidak pernah dikerjakan oleh khulafak al-Rasyidin. Jika lafaz
niat ini dihasilkan dari kias hasilnya adalah bidaah. Tambahan pula mengkiaskan lafaz niat dengan talbiyyah di
waktu haji itu adalah qiyas yang batal. Alasannya ialah datangnya syariat solat lebih dahulu dari datangnya
syariat haji. Solat disyariatkan ketika peristiwa Israk Mikraj manakala disyariatkan haji pada tahun ke 6 Hijrah,
adalah satu perkara yang pelik benda diqiyaskan adalah terkemudian dari perkara yang mengqiyaskan. Kaum
muslimin sendiri pada ketika itu tidak mengamalkan usalli, sebab Rasulullah tidak mengamalkannya dan yang
manakah yang lebih afdal kita ikut? Namun jika diperhatikan di dalam kitab Fathu al-Muin karangan Syeikh
Zainuddin cAbdul Aziz, beliau meletakkan hukum sunat dilafazkan niat agar mudah mendapat tumpuan. iii)
Bacaan Basmallah di dalam surah al-Fatihah dan tambahan lafaz wabihamdih di dalam rukuk dan sujud. Bagi
golongan Wahhabi, bacaan Basmalah tidak dikuatkan walau ketika solat yang disunatkan menguatkan bacaan di
dalamnya. Menurut pandangan ulama mazhab Shafici, bacaan Bismillah wajib dikuatkan jika Fatihah dibaca
dengan suara yang kuat di dalam solat tersebut. Ini adalah kerana Bismillah termasuk di dalam surah al-Fatihah,
maka tidak harus cara bacaannya dipisahkan. Menurut mazhab lain dan yang juga dipegang oleh Wahhabi,
Bismillah tidak dibaca dengan kuat, akan tetapi hendaklah dibaca secara israr (disembunyikan). Mereka
berdalilkan hadis berikut:
Ertinya: Dikhabarkan kami oleh Muslim bin
Ibrahim dari qatadah dari Anas bahawasanya Nabi S.A.W , Abu Bakar, cUmar dan cUthman adalah mereka
memulai bacaan dengan Alhamdulillahi rabbil calamin. Berkata Abu Muhammad dengan ini kami berkata :
tidaklah aku melihat dijelaskan bacaan Bismillahhir rahmanir rahim. . .
: : . . .
. Ertinya: Menceritakan kepada kami Syacbah, dia berkata: aku mendengar
Qatadah berbual dengan Anas dan berkata : aku solat bersama Rasulullas S.A.W , Abu Bakar, Umar dan
cUthman. Maka tidak aku mendengar daripada mereka membaca Bismillahir rahmanir rahim. Bagi pandangan
Wahhabi, bacaan di dalam sujud hanya sekadar subhanarabbiyal acla dan bacaan di dalam rukuk ialah
subhanarabbiyal cazim. Sedangkan bagi pengikut mazhab Shafici, disebut penambahan wabihamdih. Manakala
amalan di negeri lain dan juga yang menjadi ikutan turun temurun dalam pembelajaran fiqah penambahan wa
bihamdih. Ulama hadis sendiri mempunyai pelbagai pandangan mengenai hukum penambahan lafaz
wabihamdih. Berdasarkan hadis riwayat Muslim dan beberapa riwayat yang lain, menurut Sayyid Sabiq di dalam
kitabnya Fiqh al-Sunnah, lafaz pernambahan wabihamdih yang ada di dalam beberapa riwayat kesemuanya
adalah daif. Namun menurut Imam Nawawi, disunatkan bacaan subhanarabbiyal acla atau subhanarabbiyal
cazim dengan penambahan wabihamdih. Di antara yang menyetujui pendapatnya ialah Kadi Abu Tayyib, Kadi
Husain, dan Imam al-Ghazali , manakala yang membantahnya ialah Imam al-Rafici. iv) Bacaan Yaasin secara
berjemaah dan membuat air Yaasin. Bacaan Yaasin secara beramai-ramai yang sering dilakukan masyarakat di
Malaysia dengan menganggap ia merupakan satu amalan sunat untuk dilakukan pada malam atau siang hari
Jumaat merupakan satu bidaah bagi Wahhabi di Perlis. Begitu juga menyediakan air bacaan Yaasin yang
mujarab untuk beberapa masalah. Jika dilihat kelebihan surah Yaasin, ia banyak disebut di dalam hadis-hadis di
antaranya ialah:
Ertinya: Berkata Rasulullah
S.A.W, siapa yang membaca Yaasin pada waktu malam dan mengharapkan redha Allah, diampunkan baginya.
Memang jelas tidak ada dalil khusus Rasulullah mengadakan bacaan Yaasin beramai-ramai dan menyediakan

air Yaasin kemudian air itu diminum untuk menyempurnakan hajat-hajat tertentu. Mengambil keberkatan dengan
surah Yaasin adalah tidak salah, saintifik sendiri membuktikan air yang dibaca bacaan ayat-ayat suci molekulmolekulnya akan berubah dan mempunyai beberapa khasiatnya yang tersendiri. v) Azan dua kali ketika solat
Jumaat dan mengira-ngira ahli solat Jumaat .Di negeri Perlis azan pada hari jumaat ialah hanya di kala imam
sudah menaiki mimbar. Sebaik sahaja azan itu selesai, khatib terus menyampai khutbahnya. Bagi negeri-negeri
lain, azan dilakukan dua kali, kali pertama dilakukan sebelum khatib menaiki mimbar, azan yang kedua sesudah
khatib menaiki mimbar. Mengikut kitab Fath al-Mucin, sunnah azan dua kali untuk solat Jumaat. Yang mula-mula
mengadakan azan dua kali sebelum solat Jumaat dibuat pada zaman Saidina cUthman setelah kaum muslimin
semakin ramai. Kesunnahan dua kali azan itu terjadi apabila keadaan memerlukan sebagaimana kaum muslimin
berpandukan kepadanya untuk hadir ke masjid dengan azan tersebut. Kalau tidak demikian, afdal dilakukan
azan sekali sahaja mengikut cara Rasulullah. Ketetapan azan pada hari Jumaat dilakukan sekali sahaja oleh
Bilal di pintu Masjid Nabawi sesudah duduknya nabi di atas mimbar. Cuma semasa cUthman, ia diperintahkan
azan di tempat orang ramai (di luar masjid) untuk memaklumkan bahawa waktu telah pun masuk kerana di
antara tujuan azan itu ialah memberitahu sudah masuk waktu solat Jumaat dan memberitahu dekatnya
permulaan khatib memulakan khutbah supaya orang ramai tinggal bercakap-cakap. Azan yang dilakukan pada
zaman khalifah Uthman mengikut kaedah : Ma la yutimmu al-wajib illa bihi fahuwa wajib (apa yang tidak
sempurna wajib melainkan dengannya maka ia adalah wajib). Oleh kerana itu maka ia tidak dikira masuk dalam
istilah bidaah. Pada zaman sekarang ia tidak lagi menepati kaedah itu maka ia dianggap bidaah oleh pendukung
sunnah di Malaysia. Andai masih ada kewajaran untuk melaungkan azan sebanyak dua kali maka mestilah
menepati cara yang dilakukan pada zaman Rasulullah iaitu : a) Azan pertama dilaungkan di luar masjid b) Azan
pertama dilakukan lebih awal iaitu setengah jam atau satu jam sebelum masuknya waktu solat Jumaat yang
sebenar. Azan sekali ini juga disukai oleh Imam Shafici di dalam kitab al-Um. Imam Shafici suka azan dilakukan
di sisi mimbar dan imam telah berada di atas mimbar. Yang afdal dilakukan dua kali azan ialah pada waktu
Subuh, iaitu yang pertama sebelum masuk waktu untuk mengejutkan manusia yang tidur supaya segera bangun
untuk mandi hadas dan sebagainya. Manakala azan kedua apabila telah masuk waktu.
Ertinya: Bahawasanya Bilal azan pada waktu malam, maka makanlah dan minumlah sehingga
azan Ibnu Ummi Maktum. Di negeri Perlis juga adalah tidak disyaratkan mencukupkan 40 orang sebagai syarat
untuk jamaah solat jumaat. Adalah bidaah mengira-ngira ahli Jumaat kerana ia tidak pernah dilakukan oleh
Rasulullah mahupun sahabat baginda. Sementara bagi negeri-negeri lain yang berpegang kepada mazhab
Shafici, disyaratkan mencukupkan bilangan 40 orang yang kesemua mereka itu memenuhi syarat wajib Jumaat
ke atas mereka dan tidak sah jika kurang dari 40 orang. Bagi pendapat Imam Abu Hanifah pula, cukup sekadar
bilangan ahli Jumaat sekadar empat orang sahaja. vi) Angkat tangan semasa berdoa dan makmum
mengaminkan doa imam. Pendapat golongan Wahhabi di Perlis, berdoa dengan menadah tangan serta
menyapu muka selesai berdoa dan berdoa beramai-ramai setiap kali selesai solat adalah bidaah. Berbeza
dengan pemegang mazhab Shafici yang mensunnahkan amalan berdoa beramai-ramai dan menyapu muka
setelah selesai berdoa juga adalah sunnah. Hadis-hadis yang menceritakan bahawa Nabi mengangkat
tangannya ketika berdoa adalah banyak. : .
Ertinya: Berkata Abu Musa as-Shacari: berdoa nabi S.A.W kemudian baginda mengangkat kedua tangannya dan
aku melihat putih dua ketiaknya. Di dalam kitab Fath al-Mucin sendiri ada menyebut, ketika berhajat meminta
kebaikan, disunatkan menadah tangan, dan jika meminta ditolak perkara keburukan disunatkan menterbalikkan
telapak tangan. Tidak ada satu keterangan naqli dari rasul yang menerangkan bahawa imam dan makmum
berdoa bersama-sama sesudah solat. Dalam masalah ini ulamak mempunyai beberapa pandangan: Imam dan
makmum disukai berdoa beramai-ramai sesudah solat Asar dan Subuh sahaja: pendapat Imam Hanafi, Imam
Malik dan Imam Ahmad. Disukai berdoa beramai-ramai di setiap kali selesai solat: pendapat Imam Shafici. Imam
Nawawi sendiri menukilkan bahawa dituntut imam berdoa bersama-sama dengan makmum di setiap kali selesai
solat fardhu. Bagi yang mensyaratkan hanya pada Subuh dan Asar sahaja, maka tidak ada asal bagi pendapat
mereka itu. Disunatkan juga imam menghadap kepada makmum ketika berdoa. vii) Majlis zikir. Menjadi amalan
pengikut Shafici di sini ialah mengeraskan zikir pada kebanyakkan waktu terutama solat Maghrib dan Subuh,
kuat dengan gaya dan rentak tertentu. Wahhabi di Perlis tidak menyetujuinya dan mereka mengamalkan secara
israr (perlahan) dan bersendirian. Dalil Wahhabi yang berpegang dengan hadis riwayat Dailami yang
mengatakan sahabat besar seperti Ibnu Mascud memarahi para sahabat yang sedang berzikir di dalam Masjid
Nabawi dengan mengadakan halaqat masing-masing. Kata mereka sekalipun zikir dan tasbih itu baik namun ia
adalah bidaah kerana tidak dilakukan oleh Rasulullah. Kalau diandaikan hadis itu sahih sekalipun tetapi ia tetap
tidak boleh menolak terus amalan zikir dan tasbih yang memang digalakkan oleh Rasulullah. Apa yang dilarang
ialah caranya iaitu mengadakan halaqat atau kumpulan di dalam masjid juga mengambil alih tugas yang
diberikan kepada sahabat besar baginda (Ibnu Mascud) oleh Rasulullah sendiri. Dari sini dapat difahami bukan
amalan ibadat yang dihalang tetapi cara dan pendekatan yang diambil yang boleh membawa kepada
perpecahan di kalangan umat. Sebab itu ulama besar yang faham seperti Abu Musa sanggup menunggu
cAbdullah Ibnu Mascud supaya berada di dalam halaqat beliau kerana beliau diakui Rasulullah sendiri dan ingin
mendengar dari mulutnya dan mengarah para sahabat lain supaya mengambil al-Quran daripadanya. Dalil
daripada al-Quran yang menyuruh kita banyak berzikir adalah: . Ertinya: Serta ingatlah
akan Allah banyak-banyak (dalam segala keadaan), supaya kamu berjaya (di dunia dan di akhirat). Di dalam
kitab Fiqh al-Sunnah ada menyebut, tidak salah membaca surah atau zikir-zikir tertentu, tetapi apa yang dilarang
ialah mengeraskan bacaannya kerana dikhuatiri mengganggu orang lain yang sedang bersembahyang. viii)
Bilangan rakaat tarawikh dan witir selepas tarawikh. Di Perlis menganggap adalah baik mengerjakan tarawikh itu
sebelas rakaat sekali dengan witirnya dan tidak boleh menetapkan tarawikh itu 20 rakaat. Pengikut Shafici ada

yang menetapkan 11 dan ada 23. Menurut Sayyid Sabiq, Kamal bin Hamman berkata: menilik dalilnya yang
masnun dari yang 20 rakaat itu hanyalah yang lazim oleh nabi, lalu ditinggalkannya kerana khuatir dianggap
sebagai solat yang wajib, jadi yang selebihnya adalah mustahab (dituntut). Adapun yang jelas, yang biasa
dikerjakan oleh Rasulullah ialah 11 sebagaimana yang disebut dalam sahih Bukhari dan Muslim. Namun di
dalam kitab al-Azkar solat tarawikh sunat dilakukan 20 rakaat menurut sepakat ulama dan ia dilakukan satu
salam bagi setiap dua rakaat. Yang disebutkan bidaah ialah mewajibkan bacaan surah al-Ancam sepenuhnya
dalam satu rakaat pada malam ke 7 Hijrah kerana surah itu turun sekaligus. Fatwa Ibnu Taimiyyah sendiri pun
membenarkan solat tarawikh melebihi 11 rakaat tanpa membidaahkan perbuatan tersebut. Golongan Wahhabi
Perlis juga tidak mengamalkan tahlil atau wirid di antara salam dan rakaat baru dalam tarawikh seperti yang
diamalkan kerana ia tidak mempunyai nas dan tidak pula diamalkan oleh golongan salaf dan khalaf. ix) Bacaan
al-Quran utk mayat, doa tahlil dan kenduri arwah. Di dalam al-Tahzib, disunatkan membaca di sisi mayat surah
Yaasin berpandukan hadis dari Sunan Abi daud terdapat hadis yang menyebut mengenai bacaan Yaasin ke atas
mayat. Ertinya: Bacalah Yaasin ke atas mayat di kalangan kamu. Kenduri sering diadakan pada
hari pertama, kedua, ketiga, ketujuh, keempat belas, keempat puluh dan juga pada hari keseratus. Wahhabi
menganggap ini sebagai bidaah kerana kenduri yang diadakan adalah mengadakan syariat baru dan tidak ada
pula di masa golongan salaf. Mereka memandang ia mendatangkan lebih banyak masyaqqah kepada keluarga
si mati dan sebaiknya para hadirin yang menjamu makanan kepada keluarga si mati. Perkara ini ada disebut di
dalam kitab Fiqh al-Sunnah. Namun ada juga pendapat lain yang memandang kenduri tahlil oleh keluarga si mati
adalah satu amalan yang mahmudah dan termasuk dari amalan-amalan kebaikan kecuali bagi golongan yang
kesempitan wang (kerana mengangkat kepayahan bagi keluarga si mati lebih diutamakan). Dan tidak ada beza
samada kenduri sebelum jenazah dikebumikan atau selepas jenazah dikebumikan. Dalil bagi mereka yang
mengatakan si mati dapat mengambil manfaat dari amalan orang yang masih hidup untuknya ialah :
. Ertinya: Dan orang-orang
(Islam) yang datang kemudian daripada mereka (berdoa dengan) berkata: "Wahai Tuhan kami! Ampunkanlah
dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman, dan janganlah Engkau jadikan
dalam hati perasaan hasad dengki dan dendam terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami!
Sesungguhnya Engkau amat melimpah belas kasihan dan RahmatMu". Ayat di atas menceritakan tentang sikap
orang-orang yang beriman yang datang kemudian selepas generasi sahabat iaitu mereka yang mendoakan
keampunan untuk diri mereka dan juga orang-orang yang sebelum dari mereka. Ayat tersebut menjadi dalil
bahawa memohon keampunan untuk orang yang telah mati akan memberi manfaat kepadanya. :
: " . " :
. : " .. ! : ": . ! : .
. Pendapat yang menolak manfaat sampai kepada si mati adalah berdasarkan ayat berikut:
. Ertinya: (dalam Kitab-kitab itu ditegaskan): Bahawa Sesungguhnya seseorang Yang boleh
memikul tidak akan memikul dosa perbuatan orang lain (bahkan dosa usahanya sahaja). Namun dijawab oleh
ulama-ulama yang berpandangan pertama tadi bahawa ayat di atas ditahsiskan dengan hadis-hadis sahih yang
menyebut tentang doa, istighfar dan sebagainya akan sampai kepada si mati walaupun bukan dari usahanya
sendiri. Ada ulama berpendapat; ayat tersebut ditujukan kepada orang-orang kafir sahaja iaitu atas balasan siksa
terhadap mereka tidak lain akibat dari perbuatan mereka di dunia. x) Talkin Talkin sesudah mayat dikebumikan
adalah bidaah dalalah (bidaah sesat) pada pandangan Wahhabi di Perlis kerana nas yang dipegang oleh selain
mereka adalah tidak kuat. Di negeri-negeri lain, talkin diamalkan dan dianggap sunat oleh Syafice. Ia
berdasarkan satu riwayat tabicin, akan tetapi menurut Sayiid Sabiq periwayat-periwayat itu hanya sampai
kepada sahabat dan tidak sampai kepada Rasulullah. Mengikut kitab Fath al-Muin ia diulang sebanyak tiga kali.
Dan berkata Imam Nawawi jika hadis ini dianggap daif sekalipun, dimaafkan baginya dan sudah sepakat para
ulama di dalam membenarkan hadis-hadis di dalam bab menggalakkan perkara baik dan menghalang perkara
buruk. Yang sahih dari Rasulullah ialah : (( : . Ertinya: Berkata
Rasulullah S.A.W : talqinkan orang mati di kalangan kamu: Lailaha illallah. Bagi pendapat Wahhabi, mereka
mendakwa, si mati tidak mendengar dan tidak ada gunanya mengajar sesudah ia dikebumikan . Namun dijawab
semula oleh satu pendapat lain lafaz laqqinu bukanlah bermaksudkan taclim atau mengajar tapi ia bermaksud
memberitahu dan yang lebih keutamaan sebagai satu peringatan buat mereka yang menghadiri pengkebumian
itu. xi) Menetapkan bacaan zikir tertentu pada waktu-waktu yang tertentu dan majlis zikir. Pendokong as-Sunnah
(Wahhabi) di Perlis membidaahkan menetapkan bacaan tertentu pada hari tertentu seperti membaca surah Kahfi
atau surah Yaasin pada malam Jumaat dengan suara keras. Perkara yang disunnahkan ialah setiap muslim
dapat membacanya di mana sahaja dan tidak terbatas waktu. Di samping itu hadis yang menyebut membaca
surah Kahfi pada hari Jumaat adalah daif bahkan munkar. Namun ia dapat ditolak setelah kita meneliti dalil-dalil
yang terlalu banyak yang ada menyebut mengenai kelebihan hari-hari tertentu, bacaan-bacaan tertentu, surahsurah tertentu dan juga waktu-waktu tertentu. Di antaranya ialah hadis yang menyebut :
Ertinya:
Daripada Abu Sacid al-Khudri berkata : siapa yang membaca surah Kahfi pada malam Jumaat, diterangi baginya
cahaya pada apa yang di antaranya dengan Baitul Atiq. Manakala dalil yang menyebut kelebihan hari-hari
tertentu ialah : " :
" . Ertinya: Daripada Abu Hurairah, sampai dengannya dari Nabi S.A.W : siapa yang
berpuasa pada bulan Ramadhan penuh keimanan dan muhasabah, diampunkan baginya dosa-dosanya yang
terdahulu, dan siapa yang mendirikan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan muhasabah,
diampunkan baginya dosa-dosanya yang terdahulu. Hadis yang menyebut kelebihan majlis zikir ialah :
: , ... Ertinya; Sesungguhnya Allah dan

Malaikatnya mencari-cari ahli zikir, dan apabila menemui satu kaum sedang berzikir menyebut nama Allah,
mereka (Allah dan para Malaikat menyeru: Perkenankanlah hajat-hajat mereka. Apa yang tegas bidaah menurut
Dr Yusuf Qardawi ialah dakwaan bahawa al-Quran turun malam nisfu Syacban adalah salah dan menyalahi
syarak. Cara berdoa yang dilakukan oleh masyarakat juga tidak mathur dari nabi atau dari golongan salaf itu
sendiri. Ia adalah bidaah dalalah. RUJUKAN cAbdul Halim Ahmad Saising. 2006. Penyebaran ilmu salafi
khususnya penulisan Muhammad bin cAbdul Wahhab, Kertas Kerja Seminar Antarabangsa Mengenai
Muhammad bin cAbdul Wahhab. Anjuran kerajaan Negeri Perlis, 16-17 Mac. cAbdullah al-Husaini al-Hashimi.
1416H/1995M. al-Itbac wa al-Ibtidac. Madinah: Al-Risalah al-Salafiyah. cAbdul Malik bin cAbd Karim al-Juwaini.
1997. al-Burhan. Jil 1. Cetakan ulang. Mansurah: Dar al-Wafa li al-Tibacah wa al-Nasr wa al-Tauzic . cAbdul
Qadir Salleh. 2003M/1424H. Al-cAkaid wa al-Adyan. Beirut: Dar al-Makrifah. cAbdul Rahman Abdullah. 1989.
Gerakan Islah di Perlis, sejarah dan pemikiran, Pulau Pinang: Penerbitan Pena Sdn Bhd. cAbdul Rashid b. Idris.
2006. Kesarjanaan Sheikh Muhammad bin cAbdul Wahhab Muhammad bin cAbdul Wahhab dan fitnah
terhadapnya di alam Melayu, Kertas Kerja Seminar Fahaman Pemikiran Muhammad bin cAbdul Wahhab
peringkat Negeri Perlis. Anjuran Institut as-Sunnah, Perlis, 26 Februari. Abu Bakar Atjeh. t.th. Ilmu fekah Islam di
dalam lima mazhab. Kuala Lumpur : Penerbitan Pustaka. Abu Muhammad cAbd Wahab bin Ali. 1420H/1999M.
al-Isyraf cala nakti masail al-khilaf. Jil 1. Beirut: Dar Ibnu Hazim. Abu Saif. 2006. Isu Wahhabiyyah tingkap yang
disangka pintu. Majalah i Ogos : 77. Ahmad Adnan Fadzil. 2007. 35 Jawapan bagi soalan anda. Changloon:
Wawasan Ummah. Ahmad Ridzuan Mohd Dzambrah. 2005. Mengutamakan khilafiah merupakan satu kekalutan
yang merosakkan agenda dakwah. Majalah Dewan Agama dan Falsafah, September. Anon. Berita Harian. 2005.
9 Disember: 11. Ariffin Omar et al, 2005. Hadith dacif ciri-ciri dan hukum. Kuala Lumpur: Utusan Publications Sdn
Bhd. Asmadi Mohd Naim, Polemik bidaah masa kini, Berita Harian 5 Disember:13. al-Darimi, Sunan al-Darimi,
Kitab al-Solah, Bab Karahiyah al-Jahr Bibismillah, no 1240. Fadhul Hay , 1420H/ 2000M, Al-Inkar fi masailil
khilaf, Cetakan ulang. Riyadh: Maktabah al-Maarif li al-Nashri wa al- Tauzic. al-Ghazali Muhammad.
1412H/1991M. Turasuna al-fikri fi mizan al-syarci wa al-aqli. Cetakan 2. USA: The International Institute of
Islamic Thought. al-Ghazali Muhammad. 1424H/2004. Bidaah bukan ajaran Islam. Kuala Lumpur: Cerscent
News Sdn Bhd. al-Hafiz Abi al-Fadl et.al. 1417H/1997M. Itqan al-suncah fi tahkik macna al-bidcah, Kaherah:
Maktabah al-Kaherah. al-Hamid al- Husaini. 1998. Liku-liku bidaah. Terj. Singapore: Pustaka Nasional PTE LTD.
Hamka, Sejarah umat Islam. Cetakan ke 2. 1997, Singapore: Pustaka Nasional PTE LTD. Haron Din.
1421H/2001. Manusia dan Islam. Jil2. Cetakan ulang. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Haron Din.
t.th. Sejauh manakah perbezaan amalan keislaman yang terdapat di Negeri Perlis. Bangi: Fakulti Pengajian
Islam UKM. Hersi Mohd Hilole. 14157H/ 1995. Distertasi Sarjana Pengajian Islam : Al- Salafiah wa alWahabiyyah baina Muayyidiiha wa Muntaqodiiha. Bangi: Fakulti Pengajian Islam, UKM. Ismail Koksal.
1421H/2000M. Taghaiur al-ahkam fi al-syariah al-islamiah. Beirut: Muassasah al-Risalah. Ismail bin Omar. 1999.
Manhaj akidah Ahli Sunnah wal Jamacah, Shah Alam : Access Infotech Sdn Bhd. Ismail Usman Zain.
1413H/1992M. Qurratul Ain . Darul Rad al-Arabi Jalal Abu al-Rub. t.th. Siapa Wahhabi. Terj: Kertas Kerja
Seminar Fahaman Pemikiran Muhammad bin cAbdul Wahhab Peringkat Negeri Perlis. Anjuran Institut asSunnah, Perlis, 26 Februari. Johari Mat. 1997. Akidah Ahli Sunnah wal Jamacah dan khalaf, Selangor: Badan
Perkhidmatan Penerangan Islam, hlm. 8. Lihat Al-Fasl fi al-Milal wa al-ahwa wa al-Nihal, 2/113. Johari bin Mat.
2006. Akidah Muhammad bin cAbdul Wahhab. Kertas Kerja Seminar Antarabangsa Mengenai Muhammad bin
cAbdul Wahhab. Anjuran kerajaan Negeri Perlis, 16-17 Mac. Manih bin Hammad al-Juhni. 1997M/1418H. alMausucah al-muyassarah fi al-adyan wa al-mazahib wa al-ahzab al-mucasirah. Cetakan ulang. Riyadh: Dar alNadwah al-cAlimiyah li al-Syabab al-Islami. Mat Jahya Haji Hussin. 2004. Fatwa dan hubungannya dengan
sunnah satu kes kajian kes di semenanjung Malaysia. Perlis : Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Perlis. Mohd Kamil
Abd Majid. 1996. Gerakan tajdid: sejarah dan perpekstif masa kini. Jurnal Usuluddin. Bil 4. Kuala Lumpur:
Universiti Malaya. Mohd Radzi Osman. 1995. Gerakan pembaharuan Islam, satu kajian di Negeri Perlis dan
hubung kaitnya dengan Malaysia. Pulau Pinang: USM. Mohd. Sulaiman Yasin. 1997. Ahlis Sunnah wal Jamaah.
Bangi : Yayasan Salman. Mohd Yusuf Abas. 2005. Persoalan bidaah. Mingguan Malaysia 25 Februari: 8.
Muhammad bin Abdul Wahab. Rasail Shaikh al-Islam Muhammad bin Abdul Wahab. Terj: Baharuddin Ayuddin.
1993. Kuala Lumpur: Cahaya Pantai Sdn Bhd. Dikeluarkan oleh Majlis Agama Islam dan Adat Istiadat Melayu
Perlis. Muhammad bin Alwi al-Maliki. 1995. Mafahim yajibu an tusahhah. Cetakan ulang. Dubai: Dairat al-Auqaf
wa al-Syuun al-Islamiyah. Muhammad bin Sayyid al-cAlawi. 1419H/1999M. Manhaj al-salaf fi fahmi al-nusus
baina al-nazariyyah wa al-taqbiq. t.pt. Muhammad b. Umar. 1415H/1995M. al-Hakikah al-syarciyah fi tafsir alQuran al-azim wa al-sunnah al-nabawiyyah. Riyadh: Dar al-Hijrah li al-Nasyri wa al-Tauzic. Muhammad Ahmadi
Abu Nur (pnys.).1986. al-Ahadis al-qudsiyyah. Juz 1. Bab Fadh Zikrullah wa kalimah tauhid, Hadis no 1. Cetakan
ulang. Kaherah: Majlis al-Akla li al-Syuun al-Islamiyyah. Muhammad Fuad bin Kamaluddin. 2004. Wahabisme
dari neraca syarak. Rembau: Madrasah al-Taufiqiah al- Husainiah. Muhammad Hussin b.Mascud al-Baghawi.
t.th. al-Tahzib. Jil 2. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah. Muhammad Khalil Mascud. 1997. Shatibis philosophy of
Islamic law, India : Adam Publisher and Distributors. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi. 1422H/2001. Bahaya
bebas madzhab dalam keagungan syariat Islam. Jawa Barat: CV Pustaka Setia. Muhammad Sulthan alMashumi al-Khajandi. 1999. Perlukah bermazhab .Terj. Jakarta Penerbit Aras Sarana Widia. Muhammad
Uthman. 2005. Fahaman Wahhabi menular . Utusan Malaysia . 27 Nov: 21. Muhammad Yusuf Hablas.
1411H/1991M. al-Bahsu al-dalali cinda usulyiyin. Maktabah Alim al-Kitab. Mustafa Abdul Rahman. 2005.
Wahhabi jejaskan perpaduan umat Islam. Utusan Malaysia 28 Nov: 21. Mustafa Suhaimi. t.th. Imam Asyacari
Penyelamat iktikad Ahli Sunnah wal Jamacah. Selangor: Progressivve Publishing House Sdn Bhd. Nadiyah
Syarif al Umri.1405H/1985M. al-Ijtihad fi al-Islam. Cetakan ulang. Beirut: Muasasah al-Risalah al-Nawawi
Mahyuddin bin Syaran. t.th. al-Majmuc. Jil: 3. Madinah: al-Maktabah al Salafiah. al-Nawawi Mahyuddin bin

Syaran. 1375H/1955M. al-Azkar. Cetakan ulang. Kaherah: Maktabah Kaherah. Noaeldeen Salah
Gaberalah.14247H/ 2004. Distertasi Sarjana Pengajian Islam : dorongan-dorongan psikologi sebalik kelahiran
puak-puak dan jamaah-jamaah- al-Tabligh, al-Wahabiyyah, al-Syiaah dan Budha. Bangi: Fakulti Pengajian
Islam, UKM. Rohimi Shafiee, 1984. Perbandingan amalan mazhab khusus antara negeri Perlis dan Kedah,
amnya negeri-negeri lain di Malaysia secara umum dan kritis. Bangsar: Fakulti Undang-undang, UM. Sahidan
Kassim. 2006. Kesinambungan perjuangan Perlis Darul Sunnah. Majalah i Disember:33. Salih bin Abdullah.
1419H/1999M. Akidah Sheikh Muhammad bin cAbdul Wahhab, Madinah : al-Jamicah al-Islamiah. Salim b. Id al
Hilaly.t.th. Manhaj salaf manhaj alternatif, Terj. Jakarta: Pustaka Azam. Sayyid Sabiq. 1392H/1973M. Fiqh alsunnah. Jil 1. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi. al-Shafici, Muhammad bin Idris. 1393H/ 1972M. al-Um, Dar alMakrifah, Beirut: Lubnan, Shakila Ahmad, 1421H/2002M, Ahli al-Sunnah wal Jamacah, konsep Imam Mahdi,
Johor: UITM. Sheikh Abul Acla al-Maudidi. 1998M/1419H. Gerakan tajdid Islam. Cetakan ulang . Terj. Alor Star:
Pustaka Ikhwan. Shukor Mat. 1422H/2001M. Al-Sunnah di Perlis. Kangar: MediaOne Publication. Sulaiman alAsyqar etc. 1419H/1999M. Masail fi al-fiqh al-muqarin. Cetakan ulang. Jordan: Dar al-Nafais. Sulaiman Bin
Shalih Al-Khurasyi . 2003. Permikiran Dr Yusuf Alqardawi dalam timbangan, , Terj. Bogor: Pustaka Imam AsShafici. Thiblawi Mahmoud Saad. 1415H/ 1995M. Tasauf menurut Ibnu Taymiyyah.. Kuala Lumpur: Darul
Numan. cUmar cAbd Muncim, 1420H/1999M, Difacan can al-salafiyyah, Kaherah: Maktabah al-Tabicin. Umar
Hashim. 2000. Siapa ahli Sunnah wal Jamaah. Cetakan ulang. Selangor: Galeri Watikah. Wamaid b. Ramzi alcUmri, 1419H/1999M, al-Minhaj al-farid fi al-ijtihad wa al-taqlid, Jordan : Dar al-Nafais. Yusuf Ahmad Muhammad
al-Badwi. 1421H/2000M. Maqasid al-syariah cinda Ibnu Taymiyyah. Jordan: al-Nufus. Yusuf al-Qardawi Dr.
1409H /1989M. Fatawa al-mucasirah. Cetakan ulang. Kuwait: Darul Qalam. Yusuf al-Qardawi Dr. 1420H/1999M.
Taisir al-fiqh li al muslim al- mucasir. Kaherah: Maktabah Wahbah. Yusuf al-Qardawi Dr. 2000M/ 1421H. Sunnah:
sumber ilmu dan peradaban. Terj: Mohd Firdaus. Gombak: International Institut of Islamic Thought. Zainal Abidin
Syihab Drs. 1997. Gerakan Islah Muhammad bin Abdul Wahhab. Terj: Ibnu Hussin. Kajang: Nuur Publications.
Zainuddin Abdul Aziz, al-Malimbari . Fath al-Mucin. Cetakan ulang. Terj. Selangor: Klang Book Centre. Zulkifly b.
Muda.1420H/ 2000. ThesisPhd : Pertukaran agama dan mazhab; implikasinya terhadap undang-undang diri di
Malaysia. Bangi: Fakulti Pengajian Islam, UKM.
Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ

Bimbingan Mengurus Jenazah (1)


Senin, 16 Mei 2011 22:46:42 WIB
Kategori : Fiqih : Jenazah & Kematian
BIMBINGAN MENGURUS JENAZAH
Oleh
Ustadz Abu Sulaiman Aris Sugiyantoro
Risalah Islam bersifat paripurna, menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia dari
sejak ia belum menghirup udara dunia, sampai akhirnya kubur menjadi huniannya.
Ini juga menjadi pesona khas, bagi agama yang diemban Rasulullah Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam . Sekali lagi, sebagian keindahan Islam akan terbukti,
dengan Anda menyimak sajian rubrik fiqih kali ini. (Redaksi)
A. HAL-HAL YANG HARUS DIKERJAKAN OLEH ORANG YANG SAKIT
1. Rela terhadap qadha dan qadar Allah, sabar dan berprasangka baik kepadaNya.
2. Diperbolehkan untuk berobat dengan sesuatu yang mubah, dan tidak boleh
berobat dengan sesuatu yang haram, atau berobat dengan sesuatu yang merusak
aqidahnya; misalnya, seperti datang kepada dukun, tukang sihir atau ke tempat
lainnya.
Dari Abu Hurairah,dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda:

."
Allah tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah turunkan juga obatnya. [HR Al
Bukhari].
Dan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

.

Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah kalian,
dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram. [Dikeluarkan Al Haitsami di dalam
Majma'az Zawa'id].
3. Apabila bertambah parah sakitnya, tidak boleh baginya untuk mengharapkan
kematian. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian, dan janganlah
meminta kematian sebelum datang waktunya. Apabila seorang di antara kalian
meninggal, maka terputus amalnya. Dan umur seorang mukmin tidak akan
menambah baginya kecuali kebaikan. [HR Muslim].
4. Hendaknya seorang muslim berada di antara khauf (rasa takut) dan raja'
(berhara).
Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam mendatangi seorang pemuda yang dalam keadaan sakaratul maut; kemudian
Beliau bertanya: Bagaimana engkau menjumpai dirimu? Dia menjawab: Wahai,
Rasulullah! Demi Allah, aku hanya berharap kepada Allah, dan aku takut akan dosadosaku. Kemudian Rasulullah bersabda:

Tidaklah berkumpul dua hal ini ( yaitu khauf dan raja') di dalam hati seseorang,
dalam kondisi seperti ini, kecuali pasti Allah akan berikan dari harapannya dan Allah
berikan rasa aman dari ketakutannya. [HR At Tirmidzi].
5. Wajib baginya untuk mengembalikan hak dan harta titipan orang lain, atau dia
juga meminta haknya dari orang lain. Kalau tidak memungkinkan, hendaknya
memberikan wasiat untuk dilunasi hutangnya, atau dibayarkan kafarah atau
zakatnya.
6. Hendaknya bersegera untuk berwasiat sebelum datang tanda-tanda kematian.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:



Tidak sepatutnya bagi seorang muslim yang masih memiliki sesuatu yang akan
diwasiatkan untuk tidur dua malam kecuali wasiatnya sudah tertulis di dekatnya [HR
Al Bukhari].
Apabila hendak berwasiat dari hartanya, maka tidak boleh berwasiat lebih banyak
dari sepertiga hartanya. Dan tidak boleh diwasiatkan kepada ahli waris. Tidak
diperbolehkan untuk merugikan orang lain dengan wasiatnya, dengan tujuan untuk
menghalangi bagian dari salah satu ahli waris, atau melebihkan bagian seorang ahli
waris daripada yang lain.
B. HAL-HAL YANG DIKERJAKAN KETIKA SESEORANG SAKARATUL MAUT
1. Mentalqin (menuntun) dengan bacaan Laa ilaaha illallah.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda:



Tuntunlah orang yang akan mati di antara kalian dengan bacaan Laa ilaha illallah.
[HR Muslim].
Dari Muadz bin Jabal Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:





Barangsiapa yang akhir perkataannya Laa ilaha illallah, dia akan masuk surga. [HR
Al Bukhari].
Apabila berbicara dengan ucapan yang lain setelah ditalqin, maka diulangi kembali,
supaya akhir dari ucapannya di dunia kalimat tauhid.
2. Berdo'a untuknya dan tidak berkata kecuali yang baik.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:



Apabila kalian mendatangi orang sakit atau orang mati, maka janganlah berkata
kecuali yang baik, karena sesungguhnya malaikat mengamini yang kalian ucapkan.
[HR Muslim, Al Baihaqi dan yang lainnya].
Tanda-Tanda Kematian:
Para ulama menyebutkan beberapa tanda, bahwa seseorang sudah bisa dikatakan
mati. Di antaranya:
a. Terhentinya nafas.
b. Kedua pelipisnya melemas.
c. Hidung menjadi lunak.
d. Kulit wajahnya menjadi lebih panjang.
e. Terpisahnya kedua telapak tangan dari kedua lengannya.
f. Kedua kakinya melemas dan terpisah dari kedua mata kaki.
g. Tubuh menjadi dingin.
h. Tanda yang sangat jelas, yaitu adanya perubahan bau pada tubuhnya. [Lihat
Fiqhun Nawazil, Syaikh Bakr Abu Zaid (1/227), Asy Syarhul Mumti' (5/331)].
Tanda-tanda di atas diketahui dengan tanpa menggunakan alat, dan ada tanda lain
yang bisa diketahui dengan alat-alat kedokteran.
3. Tidak mengapa bagi seorang muslim untuk mendatangi seorang kafir yang dalam
keadaan sakaratul maut untuk menawarkan kepadanya agama Islam.
Dari Anas Radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: Dahulu ada seorang budak Yahudi
yang melayani Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika dia sakit, maka
Rasulullah menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya. Kemudian Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:



Masuklah ke dalam agama Islam, maka dia melihat ke arah bapaknya yang berada
di sampingnya. Bapaknya berkata: Taatilah Abul Qasim (ya'ni Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam). Maka dia masuk Islam, kemudian Rasulullah keluar,
dan Beliau berkata: Segala puji bagi Allah Yang telah menyelamatkan dia dari
neraka." [HR Al Bukhari].
C. HAL-HAL YANG DIKERJAKAN SETELAH SESEORANG MENINGGAL DUNIA
1. Disunnahkan untuk menutup kedua matanya. Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam menutup kedua mata Abu Salamah Radhiyallahu 'anhu ketika dia
meninggal dunia. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:





Sesungguhnya ruh apabila telah dicabut, akan diikuti oleh pandangan mata, maka
janganlah kalian berkata kecuali dengan perkataan yang baik, karena malaikat akan
mengamini dari apa yang kalian ucapkan. [HR Muslim].
2. Disunnahkan untuk menutup seluruh tubuhnya, setelah dilepaskan dari

pakaiannya yang semula. Hal ini supaya tidak terbuka auratnya. Dari Aisyah
Radhiyallahu a'nha, beliau berkata:


Dahulu ketika Rasulullah meninggal dunia ditutup tubuhnya dengan burdah habirah
(pakaian selimut yang bergaris). [Muttafaqun 'alaih].
Kecuali bagi orang yang mati dalam keadaan ihram,maka tidak ditutup kepala dan
wajahnya.
3. Bersegera untuk mengurus jenazahnya.
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

Tidak pantas bagi mayat seorang muslim untuk ditahan di antara keluarganya. [HR
Abu Dawud].
Karena hal ini akan mencegah mayat tersebut dari adanya perubahan di dalam
tubuhnya. Imam Ahmad rahimahullah berkata: "Kehormatan seorang muslim adalah
untuk disegerakan jenazahnya." Dan tidak mengapa untuk menunggu diantara
kerabatnya yang dekat apabila tidak dikhawatirkan akan terjadi perubahan dari
tubuh mayit.
Hal ini dikecualikan apabila seseorang mati mendadak, maka diharuskan menunggu
terlebih dahulu, karena ada kemungkinan dia hanya pingsan (mati suri). Terlebih
pada zaman dahulu, ketika ilmu kedokteran belum maju seperti sekarang.
Pengecualian ini, sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama. [Lihat Asy Syarhul
Mumti' (5/330), Al Mughni (3/367)].
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: "Jika ada orang yang bertanya,
bagaimana kita menjawab dari apa yang dikerjakan oleh para sahabat, mereka
mengubur Nabi pada hari Rabu, padahal Beliau meninggal pada hari Senin? Maka
jawabnya sebagai berikut: Hal ini disebabkan untuk menunjuk Khalifah setelah
Beliau. Karena Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai pemimpin yang
pertama telah meninggal dunia, maka kita tidak mengubur Beliau hingga ada
Khalifah sesudahnya. Hal ini yang mendorong mereka untuk menentukan Khalifah.
Dan ketika Abu Bakar dibaiat, mereka bersegera mengurus dan mengubur jenazah
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu, jika seorang Khalifah (Pemimpin)
meninggal dunia dan belum ditunjuk orang yang menggantikannya, maka tidak
mengapa untuk diakhirkan pengurusan jenazahnya hingga ada Khalifah
sesudahnya. [Asy Syarhul Mumti' 5/333].
4. Diperbolehkan untuk menyampaikan kepada orang lain tentang berita
kematiannya. Dengan tujuan untuk bersegera mengurusnya, menghadiri janazahnya
dan untuk menyalatkan serta mendoakannya. Akan tetapi, apabila diumumkan
untuk menghitung dan menyebut-nyebut kebaikannya, maka ini termasuk na'yu
(pemberitaan) yang dilarang.
5. Disunnahkan untuk segera menunaikan wasiatnya, karena untuk menyegerakan
pahala bagi mayit. Wasiat lebih didahulukan daripada hutang, karena Allah
mendahulukannya di dalam Al Qur'an.
6. Diwajibkan untuk segera dilunasi hutang-hutangnya, baik hutang kepada Allah
berupa zakat, haji, nadzar, kaffarah dan lainnya. Atau hutang kepada makhluk,
seperti mengembalikan amanah, pinjaman atau yang lainnya. Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:


Jiwa seorang mukmin terikat dengan hutangnya hingga dilunasi. [HR Ahmad, At

Tirmidzi, dan beliau menghasankannya].


Adapun orang yang tidak meninggalkan harta yang cukup untuk melunasi
hutangnya, sedangkan dia mati dalam keadaan bertekad untuk melunasi hutang
tersebut, maka Allah yang akan melunasinya.
7. Diperbolehkan untuk membuka dan mencium wajah mayit. Aisyah Radhiyallahu
anha berkata:


Aku melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mencium Utsman bin Madh'un
Radhiyallahu 'anhu , saat dia telah meninggal, hingga aku melihat Beliau
mengalirkan air mata. [HR Abu Dawud dan At Tirmidzi].
Demikian pula Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu 'anhu, beliau mencium
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallamn ketika beliau meninggal dunia.
D. MEMANDIKAN MAYIT
1. Hukum memandikan dan mengkafani mayit adalah fardhu kifayah. Apabila telah
dikerjakan oleh sebagian kaum muslimin, maka bagi yang lain gugur kewajibannya.
Dengan dalil sabda Nabi n tentang seorang muhrim (orang yang mengerjakan
ihram) yang terjatuh dan terlempar dari untanya:

Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, dan kafanilah dengan dua helai
kainnya. [Muttafaqun 'alaih].
2. Orang yang paling berhak memandikan seorang mayit, ialah orang yang diberi
wasiat untuk mengerjakan hal ini. Seseorang terkadang berwasiat karena ingin
dimandikan oleh orang yang bertaqwa, orang yang mengetahui hukum-hukum
memandikan mayit.
Dahulu Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu 'anhu berwasiat supaya dimandikan oleh
isterinya, yaitu Asma' binti Umais, kemudian dia (Asma' binti Umais)
mengerjakannya. Dikeluarkan oleh Malik dalam Al Muwatha', Abdur Razzaq dan Ibnu
Abi Syaibah.
Setelah orang yang diberi wasiat, orang yang paling berhak untuk memandikan ialah
bapaknya, kemudian kakeknya, kemudian kerabat dekat dari ashabahnya (kerabat
lelaki). Jika mereka semua sama di dalam hak ini, maka diutamakan orang yang
paling mengetahui hukum-hukum mengurus jenazah.
3. Diperbolehkan bagi suami atau isteri untuk memandikan pasangannya.
Diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda kepada
'Aisyah Radhiyallahu 'nha:

Seandainya engkau mati sebelumku, pasti aku akan memandikan dan
mengkafanimu. [HR Ahmad, Ibnu Majah, Ad Darimi].
4. Bagi seorang lelaki atau wanita, boleh memandikan anak yang di bawah umur
tujuh tahun, baik laki-laki atau perempuan.
Ibnul Mundzir berkata,Telah sepakat para ulama yang kami pegang pendapatnya,
bahwa seorang wanita boleh memandikan anak kecil laki-laki." Karena tidak ada
aurat ketika hidupnya, maka demikian pula setelah matinya. [Lihat Al Mulakhash Al
Fiqhi (1/207)].
5. Seorang muslim tidak boleh memandikan dan menguburkan seorang kafir.
Allah berfirman kepada NabiNya Shallallahu 'alaihi wa sallam:





Janganlah engkau menyalatkan seorang yang mati di antara mereka selamalamanya, dan janganlah engkau berdiri di atas kuburnya, sesungguhnya mereka
kafir kepada Allah.[At Taubah:84].
Yang dimaksud dengan ayat tersebut, yaitu haram menguburnya seperti mengubur
seorang muslim. Akan tetapi kita gali untuknya lubang, kemudian dimasukkan
mayat orang kafir ke dalam lubang tersebut, atau ditutup dengan sesuatu. Karena
Rasulullah n memerintahkan untuk melempar mayat-mayat kaum musyrikin yang
terbunuh dalam Perang Badar ke dalam satu sumur di antara sumur-sumur yang
ada di Badar. [HR Al Bukhari di dalam kitab Al Maghazi].
6. Kaifiyat memandikan jenazah.
Hendaklah dipilih tempat yang tertutup, jauh dari pandangan umum, tidak
disaksikan kecuali oleh orang yang memandikan dan orang yang membantunya.
Kemudian melepaskan pakaiannya semula dipakainya setelah diletakkan kain di atas
auratnya, sehingga tidak terlihat oleh seorangpun. Kemudian dilakukan istinja'
terhadap mayit dan dibersihkan kotorannya. Sesudah itu dilakukan wudhu' seperti
wudhu' ketika akan shalat. Akan tetapi, Ahlul Ilmi mengatakan, tidak dimasukkan air
ke dalam mulut dan hidungnya, namun diambil kain yang dibasahi dengan air, lalu
dipakai untuk menggosokkan giginya dan bagian dalam hidungnya, kemudian
dibasuh kepala dan seluruh tubuhnya, dimulai dengan bagian kanan.
Hendaknya dicampurkan daun bidara ke dalam air. Daun bidara tersebut dipakai
untuk membersihkan rambut kepala dan janggutnya. Pada kali yang terakhir diberi
kapur (butir wewangian), karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan
demikian kepada para wanita yang memandikan putrinya. Beliau bersabda:
"Ambillah kapur pada kali yang terakhir, atau sesuatu dari kapur." Kemudian
dikeringkan dan diletakkan di atas kain kafan. [70 Su'alan Fi Ahkamil Janaiz, Syaikh
Muhammad Al 'Utsaimin, hlm. 6].
7. Tidak diperbolehkan untuk mendatangi tempat pemandian mayit, kecuali orang
yang akan memandikan dan orang yang membantunya.
8. Ketika memandikan mayit, perlu memperhatikan hal-hal berikut ini:
Yang wajib dalam memandikan mayit adalah sekali. Apabila belum bersih, maka tiga
kali dan seterusnya yang diakhiri dengan hitungan ganjil. Dan disunnahkan untuk
menyertainya dengan daun bidara atau sesuatu yang membersihkan, seperti sabun
atau yang lainnya. Hendaknya pada kali yang terakhir, dicampurkan butir wewangian
(kapur). Melepaskan ikatan rambut dan membersihkannya dengan baik,
menguraikan dan menyisir rambutnya, mengikat rambut wanita menjadi tiga ikatan
dan meletakkan di belakangnya. Memulai memandikan dengan bagian tubuhnya
yang kanan, anggota wudhu'nya terlebih dahulu. [Lihat Ahkamul Janaiz, hlm. 48].
9. Apabila tidak ada air untuk memandikan mayit, atau dikhawatirkan akan tersayatsayat tubuhnya jika dimandikan, atau mayat tersebut seorang wanita di tengahtengah kaum lelaki, sedangkan tidak ada mahramnya atau sebaliknya, maka mayat
tersebut di tayammumi dengan tanah (debu) yang baik, diusap wajah dan kedua
tangannya dengan penghalang dari kain atau yang lainnya.
10. Disunnahkan untuk mandi bagi orang yang telah selesai memandikan mayit.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa yang memandikan mayit, maka hendaklah dia mandi. Dan barangsiapa
yang memikul jenazah, maka hendaklah dia wudhu'. [HR Ahmad, Abu Dawud dan
beliau menghasankannya].
11. Seorang yang mati syahid (terbunuh) di medan perang tidak boleh dimandikan,

meskipun dia dalam keadaan junub, bahkan dikubur dengan pakaian yang
menempel padanya.
Dalam hadits Jabir Radhiyallahu 'anhu :



Bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengubur para
syuhada' Uhud dalam (bercak-bercak ) darah mereka, tidak dimandikan dan tidak
dishalatkan. [HR Al Bukhari].
Hukum ini khusus bagi syahid ma'rakah (orang yang terbunuh di medan perang).
Adapun orang yang mati terbunuh karena membela hartanya atau kehormatannya,
mereka tetap dimandikan, meskipun mereka juga syahid. Demikian pula orang yang
mati karena wabah tha'un, atau karena penyakit perut, mati tenggelam atau
terbakar. Meskipun mereka syahid, mereka tetap dimandikan. Lihat Asy Syarhul
Mumti' (5/364).
12. Apabila janin yang mati keguguran dan telah berumur lebih dari empat bulan,
maka dimandikan dan dishalatkan. Berdasarkan hadits Al Mughirah yang marfu':

( : )
Seorang anak kecil (dan dalam satu riwayat, janin yang mati keguguran), dia
dishalatkan dan dido'akan untuk kedua orang tuanya dengan ampunan dan rahmat.
[HR Abu Dawud dan At Tirmidzi].
Karena setelah empat bulan sudah ditiupkan padanya ruh, sebagaimana dalam
hadits tentang penciptaan manusia yang diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim dari
Abdullah bin Mas'ud.
E. MENGKAFANI MAYIT
1. Yang wajib dari kafan adalah yang menutup seluruh tubuhnya. Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda di dalam hadits Jabir Radhiyallahu a'nhu :

Apabila salah seorang diantara kalian mengkafani saudaranya, maka hendaklah
memperbagus kafannya. [HR Muslim].
Ulama berkata: "Yang dimaksud dengan memperbagus kafannya, yaitu yang bersih,
tebal, menutupi (tubuh jenazah) dan yang sederhana. Yang dimaksud bukanlah
yang mewah, mahal dan yang indah." [Ahkamul Janaiz, 58].
2. Biaya kain kafan diambilkan dari harta mayit, lebih didahulukan daripada untuk
membayar hutangnya. Rasulullah n bersabda tentang seorang yang mati dalam
keadaan ihram:
....
Kafanilah dia dengan dua bajunya. [Muttafaqun 'alaih]
Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk dikafani
dengan pakaian ihram miliknya sendiri. Demikian pula kisah Mush'ab bin Umair yang
terbunuh pada perang Uhud, kemudian dikafani oleh Rasulullah n dengan
pakaiannya sendiri.
3. Disunnahkan untuk dikafani dengan tiga helai kain putih.
Karena Rasulullah dikafani dengan tiga lembar kain putih suhuliyyah, berasal dari
negeri di dekat Yaman.
Di beri wewangian dari bukhur (wewangian dari kayu yang dibakar). Rasulullah

Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


Apabila kalian memberi wewangian kepada mayit, maka berikanlah tiga kali. [HR
Ahmad].
4. Apabila ada beberapa mayit, sedangkan kain kafannya kurang, maka beberapa
orang boleh untuk dikafani dengan satu kafan dan didahulukan orang yang paling
banyak hafalan Al Qur'annya, sebagaimana kisah para syuhada Uhud.
5. Kafan seorang wanita sama seperti kafan seorang lelaki.
Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: "Dalam hal ini telah ada hadits marfu' (kafan seorang
wanita adalah lima helai kain, Pen). Akan tetapi, di dalamnya ada seorang rawi yang
majhul (tidak dikenal). Oleh karena itu, sebagian ulama berkata: Seorang wanita
dikafani seperti seorang lelaki. Yaitu tiga helai kain, satu kain diikatkan di atas yang
lain." Lihat Asy Syarhul Mumti' (5/393) dan Ahkamul Janaiz, 65.
F. SHALAT JENAZAH (MENYALATKAN MAYIT)
1. Hukum shalat jenazah adalah fardhu kifayah berdasarkan keumuman perintah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menyalati jenazah seorang muslim.
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang orang yang bunuh diri dengan
anak panah:

Shalatkanlah saudara kalian. [HR Muslim].


2.Tata cara shalat jenazah.
a. Imam berdiri sejajar dengan kepala mayit lelaki dan bila mayitnya wanita, imam
berdiri di bagian tengahnya. Makmum berdiri di belakang imam. Disunnahkan untuk
berdiri tiga shaf (barisan) atau lebih. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:



Barangsiapa yang menyalatkan jenazah dengan tiga shaf, maka sesungguhnya dia
diampuni. [HR At Tirmidzi]
b. Kemudian bertakbir yang pertama, membaca Al Fatihah setelah ta'awwudz, tidak
membaca do'a iftitah sebelum Al Fatihah. Kemudian takbir yang kedua, membaca
shalawat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana dalam tasyahhud.
Setelah takbir yang ketiga, membaca do'a untuk mayit. Sebaik-baik do'a adalah
sebagai berikut:


Wahai, Allah! Ampunilah orang yang hidup di antara kami dan orang yang mati,
yang hadir dan yang tidak hadir, (juga) anak kecil dan orang dewasa, lelaki dan
wanita kami. [HR At Tirmidzi]
Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam, dan beliau menambahkan:




Wahai, Allah! Orang yang Engkau hidupkan di antara kami, maka hidupkanlah dia di
atas keimanan. Dan orang yang Engkau wafatkan di antara kami, maka wafatkanlah
ia di atas keimanan. Wahai, Allah! Janganlah Engkau halangi kami dari pahalanya,
dan janganlah Engkau sesatkan kami sesudahnya. [HR Abu Dawud].



Wahai, Allah! Berilah ampunan baginya dan rahmatilah dia. Selamatkanlah dan
maafkanlah ia. Berilah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya,
mandikanlah ia dengan air, es dan salju. Bersihkanlah dia dari kesalahan
sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah baginya
rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya
semula, isteri yang lebih baik dari isterinya semula. Masukkanlah ia ke dalam surga,
lindungilah dari adzab kubur dan adzab neraka. [HR Muslim dari 'Auf bin Malik]
Apabila mayitnya seorang wanita, maka diganti dengan dhamir muannats.
( ....)
c. Kemudian takbir yang keempat dan berhenti sejenak. Kemudian salam ke arah
kanan sekali salam.
Syaikh Ibnu Utsaimin menegaskan: "Pendapat yang benar, ialah tidak masalah (jika)
salam dua kali, karena hal ini telah tertera di sebagian hadits Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam." [Lihat Asy Syarhul Mumti' (5/424)]
Di antara dalil yang menunjukkan salam dua kali dalam shalat jenazah, yaitu hadits
Ibnu Mas'ud.

,

(Ada) tiga kebiasaan (yang pernah) dikerjakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam , namun kebanyakan orang meninggalkannya. Salah satunya, (yaitu) salam
dalam shalat jenazah seperti salam di dalam shalat. (HR Al Baihaqi). Maksudnya,
dua kali salam seperti yang telah kita ketahui.
Syaikh Al Albani menyatakan, diperbolehkan hanya dengan satu kali salam yang
pertama saja, karena hadits Abu Hurairah:



Sesungguhnya Rasulullah dahulu shalat jenazah; Beliau bertakbir empat kali dan
salam satu kali. (HR Ad Daraquthni dan Al Hakim). Al Baihaqi meriwayatkan dari
jalan Abul 'Anbas dari bapaknya dari Abu Hurairah.(Ahkamul Janaiz, 128).
Dan disunnahkan untuk sirri (pelan) saat mengucapkan salam pada shalat jenazah.
d.Disunnahkan mengangkat tangan pada setiap kali takbir.
Terdapat hadits yang shahih dari Ibnu Umar secara mauquf, bahwasanya beliau
Radhiyallahu anhuma mengerjakannya. Hadits ini memiliki hukum marfu', karena
hal seperti ini tidak mungkin dikerjakan oleh seorang sahabat dengan hasil
ijtihadnya.
Ibnu Hajar berkata: "Terdapat riwayat shahih dari Ibnu Abbas, bahwasanya beliau
mengangkat tangannya pada seluruh takbir jenazah." [Diriwayatkan oleh Sa'id, di
dalam At Talkhishul Habir (2/147)].
3.Tidak diperbolehkan shalat jenazah pada tiga waktu yang dilarang untuk
mengerjakan shalat.Yaitu ketika matahari terbit hingga naik setinggi tombak, ketika
matahari sepenggalah hingga tergelincir dan ketika matahari condong ke barat
hingga terbenam. Ini disebutkan sebagaimana di dalam hadits 'Uqbah bin 'Amir.
4. Bagi kaum wanita, diperbolehkan untuk menyalatkan jenazah dengan berjama'ah.
Dan tidak mengapa apabila shalat sendirian, karena dahulu Aisyah Radhiyallahu
anhuma menyalatkan jenazah Sa'ad bin Abi Waqqash.
5. Apabila terkumpul lebih dari satu jenazah dan terdapat mayat lelaki dan wanita,
maka boleh dishalatkan dengan bersama-sama. Jenazah lelaki meskipun anak kecil,
diletakkan paling dekat dengan imam. Dan jenazah wanita diletakkan ke arah

kiblatnya imam. Yang paling afdhal di antara mereka, diletakkan di dekat adalah
yang paling dekat dengan imam.
6.Dalam menyalatkan mayit, disunnahkan dengan jumlah yang banyak dari kaum
muslimin. Semakin banyak jumlahnya, maka semakin baik.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


Tidaklah seorang yang mati, kemudian dishalatkan oleh kaum muslimin, jumlahnya
mencapai seratus orang, semuanya mendo'akan untuknya, niscaya mereka bisa
memberikan syafa'at untuknya. [HR Muslim].

Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, kemudian dishalatkan oleh empatpuluh
orang yang tidak menyekutukan Allah, niscaya Allah akan memberikan syafa'at
kepada mereka untuknya. [HR Muslim].
7. Apabila seseorang masbuq setelah imam salam, maka dia meneruskan shalatnya
sesuai dengan sifatnya.
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: "Apabila dia salam dan tidak mengqadha',
tidaklah mengapa. Karena Ibnu Umar berkata,'Tidak mengqadha'. Dan dikarenakan
shalat jenazah merupakan takbir-takbir yang beruntun ketika berdiri'." [Lihat Al
Mughni (2/511)].
8. Apabila tertinggal dari shalat jenazah secara berjama'ah, maka dia shalat
sendirian selama belum dikubur. Apabila sudah dikubur, maka dia shalat jenazah di
kuburnya.
Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
shalat jenazah di kuburan setelah mayat dikuburkan semalam. Suatu ketika setelah
jarak tiga hari dan pernah jarak satu bulan. Beliau tidak memberikan batas waktu
tertentu. [Lihat Zaadul Ma'ad (1/512)].
Jadi diperbolehkan shalat jenazah di kuburan mayat tersebut dan tidak ada batas
waktu tertentu, dengan syarat bahwa ketika mayat tersebut mati, orang yang
menyalatkan sudah menjadi orang yang sah shalatnya.
9. Diperbolehkan shalat ghaib bagi mayat yang belum di shalatkan di tempatnya
semula. Karena Nabi menyalatkan Raja Najasyi yang meninggal dunia ketika Beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam mengetahui berita kematiannya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: "Pendapat yang benar, mayat
ghaib yang mati di tempat (di negara) yang belum dishalatkan disana, maka
dishalatkan shalat ghaib. Sebagaimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
menyalatkan Najasyi, karena dia mati di lingkungan orang kafir dan belum
dishalatkan di tempatnya tersebut. Apabila sudah dishalatkan, maka tidak
dishalatkan shalat ghaib, karena kewajiban sudah gugur. Suatu saat, Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam menyalatkan mayat yang ghaib, dan juga suatu ketika
tidak menyalatkannya. Beliau mengerjakan dan Beliau meninggalkannya. Demikian
ini merupakan sunnah. Yang satu dalam keadaan tertentu, dan yang lainnya dalam
keadaan yang berbeda. Wallahu a'lam. Dan ini, juga merupakan pendapat yang
dipilih Ibnul Qayyim rahimahullah." [Lihat Zaadul Ma'ad (1/520)].
10. Diperbolehkan untuk menyalatkan mayat yang dibunuh karena ditegakkan
hukum Islam atas diri si mayit. Sebagaimana di dalam hadits Muslim tentang kisah
wanita Juhainah yang berzina, kemudian bertaubat. Usai dirajam, Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam menyalatkannya.
11. Seorang pemimpin kaum muslimin/ahli ilmu dan tokoh agama tidak
menyalatkan orang yang mencuri harta rampasan perang,atau orang yang mati
bunuh diri.
Dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mau menyalatkan seorang yang

mencuri harta rampasan perang, akan tetapi Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
memerintahkan para sahabat untuk menyalatkannya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:

Shalatkanlah saudara kalian. [HR Abu Dawud].


Dan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mau menyalatkan orang yang mati
karena bunuh diri. Dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu 'anhu , berkata:




Seseorang yang membunuh dirinya dengan anak panah didatangkan kepada Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian Beliau tidak mau menyalatkannya. [HR
Muslim].
Hal ini karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai imam (pemimpin),
maka Beliau tidak mau menyalatkan supaya menjadi pelajaran bagi orang yang
semisalnya. Akan tetapi, bagi kaum muslimin wajib untuk menyalatkannya.
12. Demikian pula bagi orang yang mati sedangkan dia meninggalkan hutang, maka
dia juga dishalatkan.
13. Shalat jenazah boleh dikerjakan di dalam masjid. Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha
, beliau berkata:




Demi, Allah! Tidaklah Nabi n menyalatkan jenazah Suhail bin Baidha' dan
saudaranya (Sahl), kecuali di masjid. [HR Muslim].
Akan tetapi, yang afdhal, dikerjakan di luar masjid, di tempat khusus yang
disediakan untuk shalat jenazah, sebagaimana pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam . [Lihat Ahkamul Janaiz (106), Asy Syarhul Mumti' (5/444)].
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun VIII/1426H/2005. Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Ringkasan Pengurusan Jenazah


Des 09, 2013Muhammad Abduh Tuasikal, MScShalat5 Komentar

Berkaitan dengan masalah pengurusan jenazah, ada 4 kewajiban terhadap jenazah


yang mesti dilakukan oleh orang yang hidup. Empat hal ini dihukumi fardhu kifayah,
artinya harus ada sebagian kaum muslimin yang melakukan hal ini terhadap mayit.
Jika tidak, semuanya terkena dosa.
Empat hal yang mesti dilakukan terhadap mayit oleh yang hidup adalah:
1- Memandikan
2- Mengafani
3- Menyolatkan
4- Menguburkan
Empat hal di atas hanya berlaku pada mayit muslim. Adapun mayit kafir, tidak
dishalatkan baik kafir harbi maupun dzimmi. Boleh memandikan orang kafir, namun
cuma dalam dua keadaan. Dan wajib mengafani kafir dzimmi dan menguburkannya,
tetapi hal ini tidak berlaku bagi kafir harbi dan orang yang murtad. Adapun orang

yang mati dalam keadaan ihram (sedang berumrah atau berhaji), jika dikafani, maka
kepalanya tidak ditutup.
Berikut kami sebutkan point-point penting yang mesti dilakukan yang terdapat pada
empat hal di atas. Sebagai rujukan utama kami adalah fikih ulama Syafii dari
penjelasan Al Qodhi Abu Syuja dalam Matan Al Ghoyah wat Taqrib, ditambah
beberapa dari penjelasan lainnya.
Memandikan Mayit
Ada dua mayit yang tidak dimandikan: (1) orang yang mati dalam medan perang
(mati syahid), (2) janin yang belum mengeluarkan suara tangisan, ini menurut
madzhab Imam Syafii. Sedangkan menurut madzhab Imam Ahmad, yang tidak perlu
dimandikan adalah janin yang keguguran di bawah 4 bulan.
Mayit disiram dengan bilangan ganjil, yaitu boleh tiga, lima kali siraman atau lebih
dari itu. Namun jika mayit disiram dengan sekali siraman saja ke seluruh badannya,
maka itu sudah dikatakan sah.
Pada siraman pertama diperintahkan diberi daun sider (bidara) dan saat ini boleh
diganti dengan air sabun. Sedangkan pada siraman terakhir diberi kapur barus.
Mengafani Mayit
Mengafani mayit dilakukan dengan tiga helai kain berwarna putih, tidak ada pakaian
dan tidak imamah (penutup kepala).
Menyolatkan Mayit
Shalat jenazah terdapat tujuh rukun:
1- Berniat (di dalam hati).
2- Berdiri bagi yang mampu.
3- Melakukan empat kali takbir (tidak ada ruku dan sujud).
4- Setelah takbir pertama, membaca Al Fatihah.
5- Setelah takbir kedua, membaca shalawat (minimalnya adalah allahumma sholli
ala Muhammad).
6- Setelah takbir ketiga, membaca doa untuk mayit. Inilah maksud inti dari shalat
jenazah.
7- Salam setelah takbir keempat.
Tujuh rukun di atas disebutkan oleh Muhammad Al Khotib dalam kitab Al Iqna.
Di antara yang bisa dibaca pada doa setelah takbir ketiga:

Allahummaghfirla-hu warham-hu wa aafi-hi wafu an-hu wa akrim nuzula-hu, wa


wassi madkhola-hu, waghsil-hu bil maa-i wats tsalji wal barod wa naqqi-hi minal
khothoyaa kamaa naqqoitats tsaubal abyadho minad danaas, wa abdil-hu daaron
khoirom min daari-hi, wa ahlan khoirom min ahli-hi, wa zawjan khoirom min zawjihi, wa ad-khilkul jannata, wa aidz-hu min adzabil qobri wa adzabin naar.
Ya Allah! Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari
beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang
mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es.
Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang
putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah
keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri
(atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke
Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka. (HR. Muslim no. 963)

Catatan: Doa di atas berlaku untuk mayit laki-laki. Jika mayit perempuan, maka
kata hu atau hi diganti dengan haa. Contoh Allahummaghfirla-haa warham-haa
. Doa di atas dibaca setelah takbir ketiga dari shalat jenazah.
Doa khusus untuk mayit anak kecil:

Allahummajahu lanaa farothon wa salafan wa ajron


Ya Allah! Jadikan kematian anak ini sebagai simpanan pahala dan amal baik serta
pahala buat kami. (HR. Bukhari secara muallaq -tanpa sanad- dalam Kitab AlJanaiz, 65 bab Membaca Fatihatul Kitab Atas Jenazah 2: 113)
Doa setelah takbir keempat:

Allahumma laa tahrimnaa ajro-hu wa laa taftinnaa bada-hu waghfir lanaa wa la-hu
Ya Allah! Jangan menghalangi kami untuk tidak memperoleh pahalanya dan jangan
sesatkan kami sepeninggalnya, ampunilah kami dan ampunilah dia.
Untuk mayit perempuan, kata hu diganti haa.
Menguburkan Mayit
Mayit dikuburkan di liang lahat dengan diarahkan ke arah kiblat.

Bentuk Liang Lahat (Rumaysho.Com)


Mayit dimasukkan dalam kubur dengan mengakhirkan kepala dan dimasukkan
dengan lemah lembut.
Bagi yang memasukkan ke liang lahat hendaklah mengucapkan: Bismillah wa
alaa millati rosulillah (Dengan nama Allah dan di atas ajaran Rasulullah).
Larangan Terhadap Kubur
Dilarang mendirikan bangunan di atas kubur dan tidak boleh kubur disemen. Ini
pendapat dalam madzhab Syafii namun banyak diselisihi oleh kaum muslimin di
negeri kita karena kubur yang ada saat ini dipasang kijing, marmer dan atap.
Padahal terdapat hadits, dari Jabir, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam melarang dari memberi semen pada kubur, duduk di atas kubur dan memberi
bangunan di atas kubur. (HR. Muslim no. 970). Sudah dibahas oleh
Rumaysho.Com: Memasang Kijing, Marmer dan Atap di Atas Kubur.
Terhadap Keluarga Mayit
Boleh menangisi mayit asal tidak dengan niyahah (meratap atau meraung-raung
dengan suara teriak atau keras), diharapkan keluarga sabar dan ridho.
Disunnahkan mentaziyah keluarga mayit hingga hari ketiga setelah pemakaman.
Masing-masing dari point di atas, insya Allah akan disajikan dalam bahasan
tersendiri di Rumaysho.Com.
Hanya Allah yang memberi taufik.
Referensi:
Al Iqna fi Halli Alfazhi Abi Syuja, Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al Khotib,
terbitan Maktabah At Taufiqiyyah.

Hasyiyah Al Qoulul Mukhtar fii Syarhi Ghoyatil Ikhtishor (Fathul Qorib), Muhammad
bin Qosim Al Ghozzi, taliq: Dr. Saadud Din bin Muhammad Al Kubbi, terbitan
Maktabah Al Maarif, cetakan pertama, tahun 1432 H.
Mukhtashor Abi Syuja (Matan Al Ghoyah wat Taqrib), Ahmad Al Husain Al Ashfahani
Asy Syafii, terbitan Darul Minhaj, cetakan pertama, tahun 1428 H.

Oleh Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal


Disusun di saat hujan mengguyur Warak, Panggang, Gunungkidul, 6 Safar 1435 H,
06: 15 AM
Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page
Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom

Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku
Mengenal Bidah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre
order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB
2AF1727A: Buku Bidah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku
sudah siap untuk dikirim.