Anda di halaman 1dari 17

Beberapa hari terakhir masuk sejumlah topik diskusi seputar Panitia/Pejabat Penerima Hasil

Pekerjaan (PPHP). Tidak banyak referensi yang bisa didapatkan terkait PPHP atau pada
konstruksi bangunan dikenal dengan Tim PHO/FHO. Khususnya tentang alur kerja dan ruang
lingkup tanggungjawab.
Namun ada baiknya kita menelusuri PPHP dari Perpres 54/2012 jo Perpres 70/2012:
Pasal 1 ayat 10 bahwa Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan adalah panitia/ pejabat
yang ditetapkan oleh PA/KPA yang bertugas memeriksa dan menerima hasil pekerjaan.
Kemudian Pasal 7 ayat 1 dan 2 menjelaskan bahwa PPHP merupakan bagian dari
organisasi pengadaan.
Pasal 8 ayat 1 huruf e menjelaskan bahwa PPHP adalah merupakan salah satu yang
ditetapkan oleh PA/KPA.
Kemudian penjelasan rinci terdapat khusus pada Bagian Keenam yang terdiri dari 1 pasal
yaitu pasal 18.
1. PA/KPA menetapkan Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan.
2. Anggota Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan berasal dari pegawai negeri,
baik dari instansi sendiri maupun instansi lainnya.
3. Dikecualikan dari ketentuan pada ayat (2), anggota Panitia/Pejabat Penerima Hasil
Pekerjaan pada Institusi lain Pengguna APBN/APBD atau Kelompok Masyarakat
Pelaksana Swakelola dapat berasal dari bukan pegawai negeri.
4. Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan wajib memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
1. memiliki integritas, disiplin dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas;
2. memahami isi Kontrak;
3. memiliki kualifikasi teknis;
4. menandatangani Pakta Integritas; dan
5. tidak menjabat sebagai Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar
(PPSPM) atau Bendahara.
5. Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
mempunyai tugas pokok dan kewenangan untuk:
1. melakukan pemeriksaan hasil pekerjaan Pengadaan Barang/Jasa sesuai
dengan ketentuan yang tercantum dalam Kontrak;

2. menerima hasil Pengadaan Barang/Jasa setelah melalui pemeriksaan/


pengujian; dan
3. membuat dan menandatangani Berita Acara Serah Terima Hasil Pekerjaan.
6. Dalam hal pemeriksaan Barang/Jasa memerlukan keahlian teknis khusus, dapat
dibentuk tim/tenaga ahli untuk membantu pelaksanaan tugas Panitia/Pejabat
Penerima Hasil Pekerjaan.
7. Tim/tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (6) ditetapkan oleh PA/KPA.
8. Dalam hal pengadaan Jasa Konsultansi, pemeriksaan pekerjaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (5) huruf a, dilakukan setelah berkoordinasi dengan Pengguna
Jasa Konsultansi yang bersangkutan.
Sampai disini yang saya pahami adalah bahwa PPHP ditetapkan oleh PA/KPA sejak awal
dalam organisasi pengadaan barang/jasa baik melalui swakelola maupun pemilihan penyedia.
Posisi ini sejajar dengan PPK ataupun pejabat pengadaan.
Diagram 1: Hubungan Kerja Para Pihak

Tugas pokok dan kewenangan PPHP dalam ruang lingkup Pemeriksaan Hasil Pekerjaan
adalah melakukan pemeriksaan hasil pekerjaan apakah telah sesuai dengan ketentuan
yang tercantum dalam Kontrak. Dalam proses pemeriksaan PPHP dapat dibantu oleh
tim/tenaga ahli yang ditunjuk PA/KPA.
Apabila hasil pekerjaan telah sesuai dengan yang tercantum dalam kontrak, PPHP menerima
hasil Pengadaan Barang/Jasa dengan membuat dan menandatangani Berita Acara Serah
Terima Hasil Pekerjaan.
Apabila hasil pekerjaan belum atau tidak sesuai dengan yang tercantum dalam kontrak maka
PPHP tidak membuat dan menandatangani Berita Acara Serah Terima Hasil Pekerjaan.
Namun menyampaikan kepada PPK bahwa hasil pekerjaan penyedia masih terdapat
kekurangan.
Kemudian terkait serah terima pekerjaan ada baiknya pula kita memperhatikan Pasal 95
tentang Serah Terima Pekerjaan:
1. Setelah pekerjaan selesai 100% (seratus perseratus) sesuai dengan ketentuan yang
tertuang dalam Kontrak, Penyedia Barang/Jasa mengajukan permintaan secara
tertulis kepada PA/KPA melalui PPK untuk penyerahan pekerjaan.
2. PA/KPA menunjuk Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan untuk melakukan
penilaian terhadap hasil pekerjaan yang telah diselesaikan.
3. Apabila terdapat kekurangan dalam hasil pekerjaaan sebagaimana dimaksud pada
ayat
(2),
Panitia/Pejabat
Penerima
Hasil
Pekerjaan

melalui PPK memerintahkan Penyedia Barang/Jasa untuk memperbaiki dan/atau


melengkapi kekurangan pekerjaan sebagaimana yang disyaratkan dalam Kontrak.
4. Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan menerima penyerahan pekerjaan setelah
seluruh hasil pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Kontrak.
5. Khusus Pekerjaan Konstruksi/Jasa lainnya:
1. Penyedia Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya melakukan pemeliharaan atas
hasil pekerjaan selama masa yang ditetapkan dalam Kontrak, sehingga
kondisinya tetap seperti pada saat penyerahan pekerjaan;
2. masa pemeliharaan paling singkat untuk pekerjaan permanen selama 6
(enam) bulan, sedangkan untuk pekerjaan semi permanen selama 3 (tiga)
bulan; dan
3. masa pemeliharaan dapat melampaui Tahun Anggaran.
6. Setelah masa pemeliharaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) berakhir, PPK
mengembalikan Jaminan Pemeliharaan/uang retensi kepada Penyedia Barang/Jasa.
7. Khusus Pengadaan Barang, masa garansi diberlakukan sesuai kesepakatan para
pihak dalam Kontrak.
8. Penyedia Barang/Jasa menandatangani Berita Acara Serah Terima Akhir Pekerjaan
pada saat proses serah terima akhir (Final Hand Over).
9. Penyedia Barang/Jasa yang tidak menandatangani Berita Acara Serah Terima Akhir
Pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (8) dimasukkan dalam Daftar Hitam.
Dari pasal ini runtutannya Penyedia secara tertulis meminta PPK untuk mengadakan acara
penyerahan pekerjaan. Kenapa demikian? Karena sudah jelas yang melakukan ikatan
perjanjian adalah penyedia dan PPK. PPK sebagai pihak I dan Penyedia pihak II.
Ketika surat permintaan disampaikan, PPK selaku pihak yang ditetapkan oleh PA/KPA
menyampaikan permintaan ini kepada PA/KPA. PA/KPA selaku penanggungjawab anggaran
dan mempunyai kewenangan penuh terkait pembayaran, wajib berhati-hati dan memastikan
hasil pekerjaan sesuai dengan yang dibutuhkan, baik secara administratif maupun teknis.
Untuk itu PA/KPA menunjuk PPHP untuk melakukan pemeriksaan hasil pekerjaan.
PPHP dan PPK berkoordinasi dalam rangka memastikan hasil pekerjaan dapat diterima.
Apabila hasil pekerjaan tidak/belum sesuai dengan kontrak maka PPHP menyampaikan
kepada PPK, selaku yang berikat janji dengan penyedia. PPK sesuai dengan wewenang yang
diatur dalam kontrak/perjanjian memerintahkan penyedia untuk memperbaiki dan/atau
melengkapi kekurangan pekerjaan sebagaimana yang disyaratkan dalam Kontrak.
Kenapa PPHP tidak langsung meminta penyedia untuk melakukan perbaikan atau melengkapi
kekurangan? Ini logis karena PPHP bukanlah pihak yang tertuang didalam kontrak.

Analoginya apabila Penyedia, yang melakukan akad nikah dengan PPK, melaporkan hasil
pekerjaannya justru langsung kepada PPHP maka potensi perselingkuhan sangat mungkin
terjadi.
Hal yang menarik pula dicermati adalah tentang terminologi hasil pekerjaan dengan
pekerjaan. Pada penjelasan tentang wewenang tugas PPHP selalu disebutkan hasil
pekerjaan. Sementara untuk PPK selalu disebutkan pekerjaan.
Dari sini saya memahami bahwa PPHP bertugas memeriksa hasil pekerjaan bukan
menerima pekerjaan-nya. Dalam bahasa mudahnya pekerjaan adalah barang/jasa-nya yang
tetap diterima oleh PPK selaku yang berikat kontrak dengan penyedia, bukan diterima oleh
PPHP.
Hasil pekerjaan yang diperiksa dan diterima PPHP adalah kesesuaian secara administrasi
dan teknis dari proses penyelesaian pekerjaan dan fisik pekerjaan dengan kontrak untuk
kemudian dibuatkan BAST hasil pekerjaan.
Pertanyaan yang juga sering disampaikan. Siapa yang bertandatangan dalam BAST Hasil
Pekerjaan? Ada beberapa pendapat terkait ini. Namun yang dapat ditekankan berdasarkan
Pasal 18 ayat 5, PPHP bertandatangan pada BAST Hasil Pekerjaan. Kemudian terkait Serah
Terima Pekerjaan maka sewajarnyalah PPK dan Penyedia bertandatangan dalam BAST
Pekerjaan.
Dalam kerangka efisiensi menurut saya BAST Hasil Pekerjaan dan BAST Pekerjaan dapat
dijadikan dalam satu format. PPHP menandatangani dan membuat BAST Hasil Pekerjaan dan
menyerahkan kepada PPK untuk kemudian ditandatangani PPK bersama Penyedia sebagai
BAST Pekerjaan.
Satu hal lagi. Tentang apakah PPHP didampingi penyedia pada saat proses pemeriksaan hasil
pekerjaan? Saya belum menemukan referensi yang mengharuskan juga melarang. Sehingga
dikembalikan kepada prinsip dan etika pengadaan barang/jasa, selama tidak ada potensi
melanggar etika, seperti Conflict of Interest, dan memang dibutuhkan dalam rangka
efektifitas dan efisiensi proses pemeriksaan hasil pekerjaan. PPHP didampingi penyedia atau
tidak tentu tidak menjadi persoalan.
Untuk lebih meyakinkan kita coba buka petunjuk teknis pelaksanaan P70/2012 yaitu Perka
14/2012.

BARANG

KONSTRUKSI/JASA
KONSULTANSI
LAINNYA
Serah Terima Pekerjaan

Serah Terima Barang

1. Setelah pekerjaan 100% (seratus perseratus),


Penyedia mengajukan permintaan secara
tertulis kepada PPK untuk penyerahan
pekerjaan;

2. Dalam rangka penilaian hasil pekerjaan,


PPK menugaskan Panitia/Pejabat Penerima
Hasil Pekerjaan.

3. PPK melakukan penilaian terhadap


hasil pekerjaan
yang telah diselesaikan
oleh Penyedia. Apabila terdapat kekurangankekurangan dan/atau cacat hasil pekerjaan,
Penyedia wajib
memperbaiki/menyelesaikannya.

4. PPK menerima penyerahan pekerjaan


setelah:

1. seluruh hasil pekerjaan


dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan Kontrak dan diterima
oleh Panitia/Pejabat Penerima
Hasil Pekerjaan; dan

2. Penyedia menyerahkan sertifikat


garansi kepada PPK (apabila
diperlukan).
Pembayaran Barang

1. Penyelesaian pembayaran hanya dapat


dilaksanakan setelah barang dinyatakan
diterima sesuai dengan berita acara serah
terima barang dan bilamana dianggap perlu
dilengkapi dengan berita acara hasil uji
coba.

1. Setelah pekerjaan selesai 100% (seratus perseratus), Penyedia mengajukan permintaan secara tertulis
kepada PPK untuk penyerahan pekerjaan.

2. Dalam rangka penilaian hasil pekerjaan, PPK menugaskan Panitia/Pejabat Penerima Hasil
Pekerjaan.

3. Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan melakukan penilaian terhadap hasil pekerjaan yang telah
diselesaikan oleh Penyedia. Apabila terdapat kekurangan-kekurangan dan/atau cacat hasil pekerjaan,
Penyedia wajib memperbaiki/menyelesaikannya.

4. PPK menerima penyerahan pertama pekerjaan


setelah seluruh hasil pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Kontrak
dan diterima oleh Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan.

5. ..
Pengawasan dan Pemeriksaan

Ketentuan tentang kewenangan PPK melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap pelaksanaan
pekerjaan yang dilaksanakan oleh Penyedia. Apabila diperlukan, PPK dapat
memerintahkan/menugaskan/meminta
panitia/pejabat penerima hasil pekerjaan, pengguna jasa dan/atau kepada pihak ketiga untuk melakukan
pengawasan dan
pemeriksaan atas semua pelaksanaan pekerjaan yang dilaksanakan oleh Penyedia.Penyelesaian Pekerjaan

1. PPK melakukan penilaian terhadap hasil pekerjaan yang telah diselesaikan oleh Penyedia. Apabila
terdapat kekurangankekurangan, Penyedia wajib menyelesaikannya.

2. Dalam rangka penilaian hasil pekerjaan, PPK menugaskan Panitia/Pejabat Penerima Hasil
Pekerjaan.

3. PPK menerima penyerahan pekerjaan setelah seluruh hasil pekerjaan dilaksanakan dan diterima
oleh dari Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan.

4. Membuat berita acara serah terima laporan akhir, setelah seluruh pekerjaan diselesaikan.
Pengawasan dan Pemeriksaan
Ketentuan tentang kewenangan PPK melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap pelaksanaan
pekerjaan yang dilaksanakan oleh Penyedia. Apabila diperlukan, PPK dapat
memerintahkan/menugaskan/meminta panitia/pejabat penerima hasil pekerjaan, pengguna jasa dan/atau
kepada pihak ketiga untuk melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas semua pelaksanaan pekerjaan
yang dilaksanakan oleh Penyedia.

Dari perbandingan antar jenis barang/jasa pada Perka 14/2012 terkait PPHP diatas, apa yang
saya sampaikan terdahulu mendapatkan penguatan.
Hasil Pekerjaan diperiksa oleh PPHP adalah terkait proses penilaian. Sedangkan Pekerjaannya tetap diterima oleh PPK selaku pemilik pekerjaan. Yang mungkin perlu mendapatkan
perhatian adalah kalimat: Dalam rangka penilaian hasil pekerjaan, PPK menugaskan
Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan.
Kata menugaskan agak kurang sreg mengingat posisi PPK dan PPHP sejajar sebagai
pihak yang sama-sama ditetapkan oleh PA/KPA. Sehingga menugaskan ini dikembalikan
pada tugas dan wewenang yang diberikan oleh PA/KPA.
Fakta lain yang juga menggelitik adalah pembentukan PPHP yang biasa nya diakhir
pekerjaan atau setelah pekerjaan 100%. Untuk pengadaan barang yang berorientasi pada
output saja proses penilaian hasil pekerjaan dapat dilakukan. Namun untuk pekerjaan yang
merupakan satu kesatuan proses input, proses dan output tentu melihat hasil pekerjaan hanya
dari produk akhir sangatlah riskan. Untuk itu PPHP tidak hanya dituntut mampu memeriksa
output namun juga menilai input dan proses. Tentu saja tetap wewenang PPHP muncul
setelah diperlukan oleh PA/KPA melalui PPK.
Merujuk Pasal 7 tentang organisasi pengadaan barang/jasa maka seyogyanya PPHP telah
dibentuk sejak awal. Ini agar PPHP dapat minimal memantau proses pekerjaan meski belum
berwenang melakukan pemeriksaan. Seperti dituangkan oleh Perka 14/2012, PPHP juga
dilibatkan dalam Pengawasan dan Pemeriksaan, Apabila diperlukan, PPK dapat
memerintahkan/menugaskan/meminta
panitia/pejabat penerima hasil pekerjaan, pengguna jasa dan/atau kepada pihak ketiga

untuk
melakukan
pengawasan
pemeriksaan atas semua pelaksanaan pekerjaan yang dilaksanakan oleh Penyedia.

dan

Sebagai bahan masukan Standar Operasional Prosedur Pemeriksaan dan Penerimaan Hasil
Pekerjaan dari BRR NAD-NIAS, yang didapat dari internet mungkin dapat dijadikan
benchmark. Kebetulan PPHP masih menggunakan nomenklatur PHO dan FHO. Silakan
didownload disini.

Memuat...

Related
Honor GandaIn "Pengadaan Barang/Jasa"
Bicarain Kerja PPHP dalam Serah Terima Pertama PekerjaanIn "Pengadaan Barang/Jasa"
Dasar Hukum dan Para Pihak dalam Penyusunan SpesifikasiIn "Pengadaan Barang/Jasa"
Tag:ahli pengadaan, ahli pengadaan barang, badan usaha, bukti, bukti perjanjian, daftar,
distributor status, dokumen, dokumen penawaran, formulir, forum diskusi, GU, hukum
perikatan, isian, jasa, juta, keuangan daerah, kompetensi, kontrak, kontrak kerja, kontraktor,
koperasi, kuitansi, lkpp, LS, mari kita, negosiasi, nilai, nota, pajak penghasilan, pelelangan,
pengadaan barang dan jasa' pengendalian kontrak, pengadaan langsung, pengetahuan,
pengguna anggaran, perjanjian, perka, permendagr 13, perpajakan, persaingan usaha tidak
sehat, perti, poin, pph, ppn, principal supplier, rantai, ratus, rp 200, rp200, rp50, rupiah, serta,
tanda, undang undang republik indonesia, usaha kecil, usaha mikro, usaha percetakan

Komentar & Komentar

Kategori Pengadaan Barang/Jasa

Yuk, Belajar lelang Itemized


Honor Ganda

10 Tanggapan to PPHP dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

1.
weelhia Juli 15, 2013 pada 10:48 pm #

Rate This
nanya lagi pak, masalah tim pho/fho.
apakah mutu dari suatu pekerjaan menjadi tangung jawab dari tim pho/fho? padahal
disaat melaksanakan pemeriksaan tim pho/fho tidak membawa alat test dan juga tidak
mengikuti proses pelaksanaan pekerjaan dilapangan. sehingga bisa saya simpulkan
tim pho/fho tidak bisa memastikan mutu dari pekerjaan tersebut. masalahnya jika ada
pemeriksaan dari instansi berwenang mutu sering di pertanyakan pada tim pho/fho.
tx pak.

2.
samsulramli Juli 15, 2013 pada 11:09 pm #

Rate This
Kalau mencermati Persyaratan seorang anggota PPHP dalam pasal 18 ayat 4 dimana
disebutka bahwa Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan wajib memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
memiliki integritas, disiplin dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas;
memahami isi Kontrak;
memiliki kualifikasi teknis;
Kemudian pasal 5 huruf b bahwa tugas pokok PPHP adalah menerima hasil
Pengadaan Barang/Jasa setelah melalui pemeriksaan/ pengujian
Maka tanggungjawab PPHP adalah memastikan hingga mutu barang/jasa atau
pekerjaan sesuai dengan kontrak. Antisipasinya jika PPHP merasa tidak sanggup
secara keahlian dapat meminta kepada PA/KPA untuk dibantu tim ahli. Kemudian
sesuai bunyi Perka 14/2012 tentang pemeriksaan dan pengawasan bahwa Apabila
diperlukan, PPK dapat memerintahkan/menugaskan/meminta panitia/pejabat
penerima hasil pekerjaan, pengguna jasa dan/atau kepada pihak ketiga untuk
melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas semua pelaksanaan pekerjaan

yang dilaksanakan oleh Penyedia. saya menangkap kalimat ini tidak mengharamkan
PPHP mengawasi pelaksanaan pekerjaan tidak hanya diakhir.

3.
alif_tara (@alif__tara) Januari 12, 2014 pada 9:32 pm #

Rate This
mas ada tidak contoh pembuatan laporan akhir pemeriksa barang/jasa untuk
pemerintahan kab./kota

4.
samsulramli Januari 15, 2014 pada 11:03 am #

Rate This
Saya hanya punya contoh terlampir pakmaaf..

5.
Roel Nicolas Januari 25, 2014 pada 8:36 am #

Salam sejahtera Bang Samsul,


Saya mau tanya perihal tarik ulur kewenangan antara Pejabat Penerima Hasil
Pekerjaan (Perpres 54 th 2010) dengan Penyimpan Barang (Permendagri 17 th 2007).
Dalam Permendagri 17 th 2007 Tentang Pengelolaan BMD disebutkan Tugas
Penyimpan Barang (huruf C) adalah meneliti jumlah dan kualitas barang yang
diterima sesuai dengan dokumen pengadaan. Pertanyaan ;
1. Bukankah hal ini agak mirip dengan Perpres 54 th 2010 yang menyebutkan tugas
dan kewenangan Pejabat PHP ?
2. Dalam hal pengadaan barang / jasa baik Persediaan maupun Belanja Modal, siapa
yang berwenang membuat berita acara Penerima/Pemeriksa Barang ?
Thanks.
Mohon Pencerahan

6.
samsulramli Januari 26, 2014 pada 10:19 pm #

Rate This
Menurut saya wilayahnya berbeda
PPHP dalam kaitan verifikasi terkait kesesuaian barang/jasa yang direalisasikan
dengan kontrak dan tujuannya adalah pembayaran
Penyimpan barang berada diluar wilayah pengadaan karena barang sudah
diserahterimakan penyedia tugasnya adalah memverifikasi barang yang telah
diterima PA/KPA telah sesuai dengan dokumen pelaksanaan pengadaan. Penyimpan
barang tidak berorientasi pada pembayaran namun kebenaran barang yang nantinya
akan dikelolanya dengna dokumen pengadaan

7.
Saptadhi Sampurno Februari 6, 2014 pada 4:50 pm #

Rate This
Salam Sejahtera, Saya mau bertanya pak,,
1. Setelah pekerjaan selesai 100% (seratus perseratus), Penyedia
mengajukan permintaan secara tertulis kepada PPK untuk
penyerahan pekerjaan.
2. Dalam rangka penilaian hasil pekerjaan, PPK menugaskan
Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan.
dan Tugas PPHP salah satunya adalah membuat dan menandatangani Berita Acara
Serah Terima Hasil Pekerjaan.
Berita Acara Serah Terima Hasil Pekerjaan yang dimaksud apakah termasuk tanda
tangan untuk berita acara FHO pada masa pemeliharaan ?
Pada berita acara serah terima selesai pekerjaan (PHO), PPHP sudah menilai 100%
pekerjaan. Pada akhir masa pemeliharaan apakah masih menjadi kewenangan PPHP
untuk memeriksa? terima kasih pak,

8.
samsulramli Februari 7, 2014 pada 6:23 am #

Rate This
PPHP bertugas memeriksa dan menerima hasil pekerjaan yang dapat dibayar pada
BAST1 (PHO) progres fisik memang 100% namun belum dibayar penuh secara nyata
karena ada retensi/jaminan pemeliharaan (5%) sehingga utk memastikan pekerjaan
telah selesai dan berfungsi 100% sesuai ketentuan kontrak PPHP tidak hanya
melakukan PHO tapi juga FHO

9.

ema Februari 22, 2014 pada 1:54 pm #

Rate This
apakah ada dua panitia pemeriksaan hasil pekerjaan yaitu PPHP dan Tim PHO/FHO ?
Kalau didaerah saya yang memeriksa hasil pekerjaan khusus Kontruksi/Fisik adalah
Tim PHO/FHO yang dikoordinir oleh Bag.Administrasi Pembangunan Setdakab dan
kalau pengadaan barang/Jasa lainnya dilaksanakan oleh PPHP dari DPKKD.
menurut saya cukup satu saja baik Fisik maupun Barang/Jasa lainnya dilaksanakan
oleh PPHP sesuai dengan Perpres 54 dan perubahannya
mohon penjelasan trims

10.
samsulramli Februari 22, 2014 pada 10:18 pm #

Rate This
PPHP adalah nama lain dari Panitia PHO/FHO PHO dan FHO sebenarnya PPHP
pada BAST1 adalah PHO sedangkan FHO adalah PPHP pada BAST Akhir digunakan
pada pekerjaan konstruksi

Tinggalkan Balasan

Tentang Saya

Trainer Pengadaan Barang/Jasa [ LKPP Certified


(http://www.lkpp.go.id)], PNS Kabupaten Banjar.
Berbagi Ilmu, Belajar Ilmu Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Perpres 54/2010). Hobby:
berkeliling Indonesia berbagi ilmu pengadaan.
===========================================================
Explore the Science of Procurement and Information Technology, Share with any people. Do
not hesitate to contact me to discuss or train public procurement skill or Information
Technology for public services.
Just Contact me at :
email: samsulramli@yahoo.com
mobile: +6281351090308
fb: samsulramli
bbm: 239FA608
Forum Diskusi Pengadaan Barang/Jasa

Buku Samsul Ramli

Info Lengkap silakan akses pada menu Pustaka Buku

Kalender Kegiatan
Komentar Terakhir
samsulramli on Ngobrolin Peran PPTK dalam Pen
samsulramli on Masih Tentang Jaminan Penawara
samsulramli on Jaminan dari Asuransi Tidak Be
samsulramli on Bicarain Kerja PPHP dalam Sera
Sandy Mahmud on Masih Tentang Jaminan Penawara
Andri on Ngobrolin Peran PPTK dalam Pen
ady on Jaminan dari Asuransi Tidak Be
samsulramli on Rumus Kontrak Lumpsum dan Harg
zulkarnain on Rumus Kontrak Lumpsum dan Harg
aqil farhan on Bicarain Kerja PPHP dalam Sera

Public Procurement

Atas Yuda Kandita

Belajar pengadaan

Blog Agus Imam Sonhaji Surabaya

Curhat PNS Online Heldi

Dunia Kontraktor

http://idbarangjasa.com

husinansari.co.nr

Ikak G. Patriastomo

Kumpulan Artikel Tentang Pengadaan Barang/Jasa

Lembaga Kebijakan Pengadaan barang/jasa Pemerintah

Mandar Trisno

Pusat Pengkajian Pengadaan Indonesia

rahfanmokoginta

Realm of Ramaputra

Rusman R. Manik

Studi Administrasi Indonesia

Syukriy Abdullah

Teknologi dan Pengadaan Barang/Jasa

Thomas PM

Website eProcurement Banjar

Website Guskun

Website Khalid Mustafa

Website Thomas PM

yunizar.com

Catatan Hati Markemblung

PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN DAN ANGGARAN DI LINGKUNGAN


KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Inikah yang dinamakan cinta?

Sebab Kamu..

Kontak LKPP
Informasi Umum & Permintaan Informasi
E-mail : humas@lkpp.go.id
Kontak Direktorat e-Procurement
Helpdesk : 021 - 7918 1153
Fax : 021 - 797 3548
Email : helpdesk-lpse@lkpp.go.id
Kontak Sertifikasi
Telepon yang dapat dihubungi untuk penyelenggaraan ujian :
Phone : 021-7974321 & 021-7991025 ex. 169/137
Fax : 021-79181137
E-mail : ujian2005@lkpp.go.id
Sekretariat Bina Sertifikasi Profesi :
Phone : 021-44469812
HP : 081219403350
Penjadwalan Ujian :
Phone : 021-44469813
HP : 081219403360
Penjadwalan Ujian 32 Provinsi dan Kabupaten/Kota :
HP : 081298498400

Berlangganan
Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.
Bergabunglah dengan 2.976 pengikut lainnya.

Statistik Blog

256,120 hits

Galleri Samsul Ramli

More Photos

Samsul Ramli
Blog pada WordPress.com.
The Bueno Theme.