Anda di halaman 1dari 24

BAGIAN PSIKIATRI

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN

AGUSTUS 2015

REFERAT:
PERANAN TERAPI PERILAKU KOGNITIF TERHADAP
GANGGUAN FOBIA
LAPSUS:
SKIZOFRENIA PARANOID (F20.0)

Disusun Oleh:
Muh. Firdaus Burhan
C111 11 132
Pembimbing:
dr. Veronika Suwono
Supervisor:
Dr. dr. Sonny T. Lisal, Sp.KJ.

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN


KLINIK
BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa:


Nama

: Muh. Firdaus Burhan

NIM

: C111 11 132

Universitas

: Universitas Hasanuddin

Judul Refarat

: Peranan Terapi Perilaku Kognitif terhadap


Gangguan Fobia
: Skizofrenia Paranoid (F20.0)

Judul Laporan Kasus

Telah menyelesaikan tugas Kepaniteraan Klinik pada Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, Juli 2015

Supervisor Pembimbing,

Residen Pembimbing,

Dr. dr. Sonny T. Lisal

dr. Veronika Suwono

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN...

ii

DAFTAR ISI.

iii

I.
II.

III.

PENDAHULUAN.
A. LATAR BELAKANG..
PEMBAHASAN...
A. DEFINISI..
B. EPIDEMIOLOGI..
C. ETIOLOGI
D. DIAGNOSIS.
E. DIAGNOSIS BANDING..
F. PENATALAKSANAAN..
G. PROGNOSIS
KESIMPULAN.

DAFTAR PUSTAKA....................

1
2
2
2

7
10
10
18
19
21

BAB I
PENDAHULUAN
Fobia (dalam arti klinis) adalah bentuk paling umum dari gangguan
kecemasan. Sebuah studi di Amerika oleh National Institute of Mental Health
(NIMH) menemukan bahwa antara 8,7% dan 18,1% dari orang Amerika
menderita fobia. Broken bawah usia dan gender, penelitian ini menemukan bahwa
fobia adalah penyakit mental yang paling umum di kalangan wanita di semua
kelompok usia dan yang kedua penyakit yang paling umum di antara pria yang
lebih tua dari 25.
Penelitian epidemiologis baru-baru ini telah menemukan bahwa fobia
adalah gangguan mental tunggal yang paling sering di Amerika Serikat.
Diperkirakan 5 sampai 10 persen populasi menderita gangguan yang mengganggu
dan kadang-kadang menimbulkan ketidakberdayaan tersebut.
Perkiraan yang kurang konservatif adalah sampai 25 persen populasi. Penderitaan
yang berhubungan dengan fobia, khususnya jika keadaan tersebut tidak dikenali
atau dianggap sebagai gangguan mental, dapat menyebabkan komplikasi
psikiatrik lain, termasuk gangguan kecemasan lain, gangguan depresi berat, dan
gangguan berhubungan zat, khususnya gangguan penggunaan alkohol. Tidak
dikenalinya fobia adalah disayangkan, karena penelitian riset terakhir telah
menemukan bahwa fobia seringkali responsif terhadap pengobatan dengan
psikoterapi kognitif dan perilaku dan terhadap pengobatan dengan farmakoterapi
spesifik, termasuk obat trisiklik, inhibitor monoamine oksidase, dan antagonis
reseptor beta adrenergik.
Suatu fobia adalah suatu ketakutan yang tidak rasional yang
menyebabkan penghindaran yang disadari terhadap objek, aktivitas, atau situasi
yang ditakuti. Adanya atau diperkirakan akan adanya situasi fobik menimbulkan
ketegangan parah pada orang yang terkena, yang mengetahui bahwa reaksi adalah
berlebihan. Namun demikian, reaksi fobik menyebabkan suatu gangguan pada
kemampuan seseorang untuk berfungsi di dalam kehidupannya.

Disamping agorafobia, Diagnostic dan Statistical Manual of Mental


Disorders edisi keempat (DSM-IV) menuliskan dua fobia lainnya : fobia spesifik
dan fobia sosial. Fobia spesifik dinamakan fobia sederhana di dalam DSM edisi
ketiga yang direvisi (DSM-III-R). Fobia sosial juga disebut gangguan kecemasan
sosial, ditandai oleh ketakutan yang berlebihan terhadap penghinaan dan rasa
memalukan di dalam berbagai lingkungan sosial, seperti berbicara di depan
publik, miksi dikamar kecil (disebut shy bladder), dan menjanjikan kencan.
Tipe umum fobia sosial seringkali suatu keadaan yang kronis dan menimbulkan
ketidakberdayaan yang ditandai oleh penghindaran fobik terhadap sebagian besar
situasi sosial. Jenis fobia sosial tersebut mungkin sulit dibedakan dari gangguan
kepribadian menghindar.
Terapi kognitif adalah terapi terstruktur jangka pendek yang menggunakan
kerjasama aktif antara pasien dan ahli terapi untuk mencapai tujuan terapeutik.
Terapi ini berorientasi terhadap masalah sekarang dan pemecahannya. Terapi
biasanya dilakukan atas dasar individual, walaupun metode kelompok juga
digunakan. Terapi juga dapat digunakan bersama-sama dengan obat. Terapi
kognitif telah diterapkan terutama untuk gangguan depresif, tetapi terapi ini juga
telah digunakan pada gangguan panik, obsesif kompulsif, gangguan kepribadian
paranoid dan gangguan somatoform. Terapi perilaku kognitif dapat berperan
sebagai paradigma pendekatan kognitif pada kepribadian paranoid dan utamanya
pada fobia.

BAB II
PEMBAHASAN
A. KAJIAN DASAR FOBIA
Fobia didefinisikan sebagai ketakutan irasional yang menghasilkan
penghindaran sadar, aktivitas situasi subjek ditakuti. Orang yang terkena
biasanya mengakui bahwa reaksi yang berlebihan. Menurut Manual American
Psychiatric Association Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental, Edisi
Kelima (DSM-V), gangguan fobia dapat dibagi menjadi 3 jenis: fobia sosial
(sekarang disebut gangguan kecemasan sosial), fobia khusus (sederhana), dan
agoraphobia.
Secara kolektif, gangguan fobia adalah bentuk paling umum dari
gangguan jiwa, melebihi tingkat gangguan mood dan penyalahgunaan zat.
Kecemasan berhubungan dengan objek tertentu atau situasi adalah subtipe
yang paling umum. Keparahan dapat berkisar dari ringan sampai parah dan
tidak mengganggu dan dapat mengakibatkan ketidakmampuan untuk bekerja,
bepergian, atau berinteraksi dengan orang lain.
Fobia spesifik lebih sering dijumpai dibandingkan dengan fobia sosial.
Gangguan ini paling sering dialami perempuan. Prevalensi 6 bulan fobia
spesifik berkisar antara 5 10 / 100 orang. Rasio wanita berbanding laki laki
adalah 2 : 1, walaupun rasio untuk fobia terhadap darah, injeksi dan cedera
berkisar antara 1 : 1. Puncak onset fobia spesifik darah-suntikan-sakit berkisar
antara 5 9 tahun. Sedangkan puncak onset fobia situasional berkisar pada
umur 20 tahun. Umumnya objek penyebab rasa takut adalah hewan, badai,
ketinggian, penyakit, cedera, dan kematian.
Prevalensi untuk fobia sosial berkisar antara 3 13 %. Untuk prevalensi
6 bulannya berkisar antara 2 3 / 100 orang dimana perempuan lebih sering
mengalami fobia sosial dibandingkan pria, namun pada studi klinis seringkali
ditemukan kebalikannya. Puncak onset fobia sosial adalah pada masa remaja,
namun berkisar antara usia 5 hingga 35 tahun.

B.

ETIOPATOGENESIS FOBIA
Prinsip-prinsip umum pada fobia terdiri dari faktor psikoanalitik dan
faktor perilaku.

Faktor Psikoanalitik
Teori Sigmund Freud menyatakan neurosis fobik, merupakan
penjelasan analitik untuk fobia spesifik dan fobia sosial. Rasa cemas
adalah sinyal untuk menyadarkan ego, bahwa dorongan terlarang di
alam bawah sadar yang akan memuncak dan untuk menyadarkan ego
untuk melakukan mekanisme pertahanan melawan daya insting yang
mengancam. Fobia merupakan hasil konflik yang terpusat pada masalah
masa kanak-kanak yang tidak terselesaikan. Jika tindakan represi untuk
mencegah cemas gagal, sistem ego seseorang akan mengaktifkan
mekanisme pertahanan yang berupa mengalihkan (displacement),
dimana masalah yang tidak selesai dari masa kanak - kanak akan
dialihkan kepada objek atau situasi yang memiliki kemampuan untuk
membangkitkan rasa cemas. Objek atau situasi tersebut menjadi simbol
dari masalah yang dahulu dialaminya (symbolization). Mekanisme
pertahanan ego terhadap rasa cemas terdiri dari tiga hal, yakni
represion, displacement, dan symbolization. Sehingga rasa cemas
tersebut teratasi dengan membentuk phobic neurosis.
Pada agoraphobia atau erythrophobia, rasa cemas diduga datang dari
rasa malu yang memengaruhi superego. Setiap orang dilahirkan dengan
tingkat temperamen yang berbeda yang menyebabkan mereka dapat
menangani stimuli stres dari luar dengan cara yang berbeda. Dalam
memunculkan fobia, diperlukan tingkat stres yang cukup, seperti
kekerasan dalam rumah tangga, terkucilkan dari kehidupan sosial
sampai kehilangan orang yang dicintai.

Faktor Perilaku
John B. Watson memiliki hipotesis mengenai fobia, dimana
fobia muncul dari rasa cemas dari stimuli yang menakutkan yang
muncul bersamaan dengan stimulus kedua yang bersifat netral. Jika dua
stimuli dihubungkan bersamaan,

stimulus

netral

tersebut bisa

membangkitkan kecemasan oleh dirinya sendiri. Contohnya pada


seseorang yang fobia dengan kucing, dahulu ia pernah dicakar oleh
kucing, dimana cakaran tersebut merupakan stimuli yang menakutkan,
sedangkan kucing tersebut merupakan stimulus yang netral, namun
karena stimuli tersebut muncul secara bersamaan, sehingga kucing
tersebut juga menjadi stimulus yang menakutkan.
Teori pembebasan perilaku menyatakan, kecemasan adalah
dorongan yang memotivasi manusia melakukan perilaku tertentu untuk
menghilangkan

pengaruh

yang

menyakitkan.

Teori

ini

dapat

diaplikasikan pada fobia spesifik terhadap situasi tertentu atau fobia


sosial, dengan contoh dimana seseorang dapat menghindari berbicara di
depan khayalak ramai.
Berikut ini etiopatogenesis fobia spesifik dan fobia sosial :
1.

Fobia Spesifik
Pembentukan fobia spesifik muncul karena proses pemasangan
objek spesifik atau situasi tertentu dengan perasaan takut dan
panik. Kecenderungan nonspesifik untuk merasakan takut dan
cemas membentuk efek back group, misalnya pada suatu keadaan
tertentu seperti mengemudi bila dihubungkan dengan kecelakaan,
akan menyebabkan seseorang mengalami asosiasi permanen antara
mengemudi dengan kecelakaan. Mekanisme asosiasi lain antara
objek fobik dan emosi fobik adalah modelling, dimana seseorang
mengamati reaksi orang lain dan pengalihan informasi, seseorang
diperingati tentang bahaya tertentu misalnya ular berbisa

Hasil studi menemukan jikalau seseorang dengan fobia spesifik


tersebut memiliki anggota keluarga tingkat satu memiliki fobia
dengan jenis yang sama. Sehingga faktor genetik juga memiliki
peran dalam fobia spesifik, contohnya pada fobia terhadap darahsuntikan-sakit yang tampak nyata terkait dengan keluarga.
2.

Fobia Sosial
Penelitian melaporkan jika beberapa anak kemungkinan memiliki
faktor keturunan berdasarkan inhibisi perilaku yang konsisten. Hal
ini cukup sering pada anak-anak dengan orang tua yang memiliki
gangguan serangan panik, dan mungkin berkembang menjadi
pemalu yang parah saat dewasa. Hal ini kemungkinan disebabkan
oleh lingkungan didikan keluarga yang tertutup, kurang perduli,
dan terlalu protektif mengenai anak mereka. Beberapa hal kecil
dapat menjadi indikator dari sifat seseorang, seperti seseorang yang
berkuasa mungkin cenderung berjalan dengan dagu terangkat dan
melakukan kontak mata, dibandingkan dengan seseorang yang
dikalahkan sering berjalan dengan kepala tertunduk dan jarang
melakukan kontak mata.
Faktor genetik diduga memiliki keterkaitan dengan fobia sosial.
Anggota keluarga tingkat pertama pada seseorang dengan
gangguan fobia memiliki kecenderungan untuk mengalami fobia
sosial sebanyak tiga kali lebih sering dibandingkan dengan yang
tidak.

C. TANDA DAN GEJALA FOBIA


Fobia ditandai oleh kesadaran akan kecemasan yang berat ketika pasien
terpapar situasi atau objek spesifik. DSM-V menyatakan bila serangan panik
dapat terjadi pada pasien dengan fobia spesifik atau fobia sosial, namun
mereka sudah mengetahui kemungkinan terjadinya serangan panik tersebut.

Paparan terhadap stimuli tertentu dapat mencetuskan terjadinya serangan


panik.
Seseorang yang memiliki fobia akan menghindari stimuli fobianya,
bahkan sampai pada taraf yang berlebihan. Contohnya seorang pasien fobia
mungkin menggunakan bus untuk bepergian jarak jauh daripada pesawat
terbang. Seringkali, pasien dengan gangguan fobia juga memiliki masalah
dengan gangguan penggunaan zat - zat terlarang sebagai upaya pelarian
mereka dari rasa cemas tersebut. Selain itu, diperkirakan sepertiga dari
seluruh pasien fobia juga memiliki keadaan depresif yang berat.
Pada pemeriksaan status mental ditandai dengan adanya ketakutan yang
irasional dan ego-distonik terhadap situasi, aktifitas atau objek tertentu.
Pasien umumnya menceritakan bagaimana cara mereka menghindari stimulus
tersebut. Umumnya pasien dengan fobia juga memiliki gejala depresi.
D.

PEDOMAN DIAGNOSIS FOBIA


1.

Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III


(PPDGJ)
a.

Agorafobia
Semua kriteria ini harus dipenuhi untuk :
1) Gejala psikologis/otonomik yang timbul harus merupakan
manifestasi primer dari anxietas dan bukan merupakan gejala lain
yang sekunder seperti waham atau pikiran obsesif.
2) Anxietas yang timbul harus terutama terjadi dalam sekurangkurangnya dua dari situasi berikut :

Banyak orang

Tempat-tempat umum

Bepergian keluar rumah

Bepergian sendiri

3) Menghindari situasi fobik harus/sudah merupakan gambaran yang


menonjol.

b.

Fobia Khas (Terisolasi)


Semua kriteria yang dibawah ini untuk diagnosis :
1.

Gejala psikologis atau otonomik harus merupakan manifestasi


primer dari anxietas, dan bukan sekunder dari gejala-gejala lain
seperti waham atau pikiran obsesif.

2. Anxietas harus terbatas pada adanya objek situasi fobik tertentu.


3.
c.

Situasi fobik tersebut sedapat mungkin dihindarinya.

Fobia Sosial
Semua kriteria di bawah ini harus dipenuhi untuk suatu diagnosis
pasti:
1.

Gejala-gejala psikologis, perilaku /otonomik harus merupakan


manifestasi primer dari anxietas dan bukan sekundari gejala lain
seperti waham / pikiran obsesif

2. Anxietas harus hanya terbatas / menonjol pada situasi sosial


tertentu saja
3.

Penghindaran dari situasi fobik harus merupakan gambaran yang


menonjol

2. Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders V (DSM-V)


a.

Fobia Spesifik
Revisi Kelima dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders (DSM-V), menggunakan istilah fobia spesifik untuk
dicocokkan dengan hasil revisi kesepuluh dari International Statistical
Classification of Diseases and Related Health Problems ( ICD-10 ).
DSM-V 300.29 FOBIA SPESIFIK
1) Ketakutan yang jelas dan menetap yang berlebihan

atau tidak

beralasan, ditandai oleh adanya atau antisipasi dari suatu obyek atau
situasi spesifik (misalnya, naik pesawat terbang, ketinggian,
binatang, mendapat suntikkan, melihat darah).

2) Pemaparan stimulus fobik hampir selalu mencetuskan respon


kecemasan segera, dapat berupa serangan panik yang berhubungan
dengan situasi atau predisposisi oleh situasi.
Catatan : pada anak-anak, kecemasan dapat diekspresikan dengan
menangis, tantrum, diam membeku, atau melekat erat menggendong.
3)

Orang menyadari bahwa ketakutan adalah berlebihan atau tidak


beralasan .
Catatan : pada anak-anak, gambaran ini mungkin tidak ditemukan

4)

Situasi fobik dihindari atau kalau dihadapi adalah dengan kecemasan


atau dengan penderitaan yang jelas.

5)

Penghindaran, kecemasan antisipasi, atau penderitaan dalam situasi


yang ditakuti secara bermakna mengganggu rutinitas normal, fungsi
pekerjaan (atau akademik), atau aktivitas sosial atau hubungan
dengan orang lain, atau terdapat penderitaan yang jelas karena
menderita fobia.

6)

Pada individu yang berusia dibawah 18 tahun, durasi paling sedikit 6


bulan.

7) Kecemasan, serangan panik, atau penghindaran fobik dihubungkan


dengan objek atau situasi spesifik tidak lebih baik dijelaskan oleh
gangguan mental lain, seperti Gangguan Obsesif-Kompulsif
(misalnya,seseorang

takut

kotoran

dengan

obsesi

tentang

kontaminasi), Gangguan Stres pascatrauma (misalnya,penghindaran


stimulus yang berhubungan dengan stresor yang berat0, Gangguan
Cemas Perpisahan (misalnya,menghindari sekolah), Fobia Sosial
(misalnya,menghindari situasi sosial karena takut merasa malu),
Gangguan Panik dengan Agorafobia, atau Agorafobia Tanpa
Riwayat Gangguan Panik.
Dalam tabel ini, kriteria A dan B telah disebutkan didalam DSM-IV-TR
untuk memberikan kemungkinan jika suatu pajanan terhadap stimuli
fobia dapat mencetuskan serangan panik. Kontras dengan gangguan

serangan panik, serangan panik pada fobia spesifik sangat terikat dengan
stimuli penyebabnya. Fobia darah-suntikan-sakit dibedakan dari fobia
yang lain karena didapatkan respon yang berbeda dari fobia tersebut,
yaitu hipotensi yang disusul dengan bradikardi. Penegakan diagnosa
fobia spesifik juga harus difokuskan pada benda yang menjadi stimulus
fobia. Berikut di bawah ini adalah contoh fobia spesifik yakni :

b.

Acrophobia

Takut akan ketinggian

Agoraphobia

Takut akan tempat terbuka

Ailurophobia

Takut akan kucing

Hydrophobia

Takut akan air

Claustrophobia

Takut akan tempat tertutup

Cynophobia

Takut akan anjing

Mysophobia

Takut akan kotoran dan kuman

Pyrophobia

Takut akan api

Xenophobia

Takut akan orang yang asing

Zoophobia

Takut akan hewan

Fobia Sosial
Menurut DSM-V untuk fobia sosial dinyatakan bahwa fobia sosial dapat
diikuti dengan serangan panik. DSM-V juga menyertakan untuk fobia
sosial yang bersifat menyeluruh yang berguna untuk menentukan terapi,
prognosis, dan respon terhadap terapi. DSM-V menyingkirkan diagnosa
fobia sosial bila gejala yang timbul merupakan akibat dari penghindaran
sosialisasi karena rasa malu dari kelainan mental atau non-mental.
Kriteria Diagnostik Fobia Sosial pada DSM-V :
A. Ketakutan yang jelas dan menetap terhadap satu atau lebih situasi
sosial atau memperlihatkan perilaku dimana orang bertemu dengan
orang asing atau kemungkinan diperiksa oleh orang lain. Ketakutan
bahwa ia akan bertindak dengan cara (atau menunjukkan gejala
kecemasan) yang akan menghinakan atau memalukan.

Catatan : pada anak-anak, harus terbukti adanya kemampuan sesuai


usianya untuk melakukan hubungan sosial dengan orang yang telah
dikenalnya dan kecemasan hanya terjadi dalam lingkungan teman
sebaya, bukan dalam interaksi dengan orang dewasa.
B. Pemaparan dengan situasi sosial yang ditakuti hampir selalu
mencetuskan kecemasan, dapat berupa seragan panik yang
berhubungan dengan situasi atai dipredisposisi oleh situasi.
Catatan : pada anak-anak, kecemasan dapat diekspresikan dengan
menangism tantrumm diam membeku, atau bersembunyi dari situasi
sosial dengan orang asing.
C. Orang menyadari bahwa ketakutan adalah berlebihan atau tidak
beralasan.
Catatan : pada anak-anak, gambaran ini mungkin tidak ditemukan
D. Situasi sosial atau memperlihatkan perilaku dihindari atau kalau
dihadapi adalah dengan kecemasan atau dengan penderitaan yang
jelas
E. Penghindaran, kecemasan antisipasi, atau penderitaan dalam situasi
yang ditakuti secara bermakna mengganggu rutinitas normal, fungsi
pekerjaan (atau akademik), atau aktivitas sosial atau hubungan
dengan orang lain, atau terdapat penderitaan yang jelas karena
menderita fobia.
F. Pada individu yang berusia dibawah 18 tahun, durasi paling sedikit 6
bulan.
G. Kecemasan atau penghindaran fobik bukan karena efek fisiologis
langsung dari zat (misalnya, penyalahgunaan zat, pengobatan) atau
suatu kondisi medis umum dan tidak lebih baik dijelaskan oleh
gangguan mental lain ( misalnya, Gangguan Panik Dengan atau
Tanpa Agorafobia,

Gangguan

Cemas

Dismorfik

Gangguan

Perkembangan

Tubuh,

Gangguan Kepribadian Skizoid).

Perpisahan,

Gangguan

Pervasif,

atau

H. Jika terdapat suatu kondisi medis umum atau gangguan mental


dengannya misalnya takut adalah bukan gagap, gemetar pada
penyakit Parkinson, atau memperlihatkan perilaku makan abnormal
pada Anoreksia Nervosa atau Bulimia Nervosa.

E. PERANAN

TERAPI

PERILAKU

KOGNITIF

PADA

PENATALAKSANAAN GANGGUAN FOBIA


Terdapat beberapa macam bentuk terapi, yakni terapi perilaku, psikoterapi
dan berbagai modalitas terapi lainnya. Namun, pada refarat ini akan dibahas
lebih mendalam mengenai peranan terapi perilaku kognitif terhadap
penatalaksanaan gangguan fobia.
1. Kajian Awal Terapi Perilaku Kognitif
Terapi perilaku kognitif adalah terapi terstruktur jangka pendek yang
menggunakan kerjasama aktif antara pasien dan ahli terapi untuk mencapai
tujuan terapeutik.Terapi ini berorientasi terhadap masalah sekarang dan
pemecahannya.Terapi biasanya dilakukan atas dasar individual, walaupun
metode kelompok juga digunakan. Terapi juga dapat digunakan bersamasama dengan obat. Terapi kognitif telah diterapkan terutama untuk
gangguan depresif, tetapi terapi ini juga telah digunakan pada gangguan
panik, obsesif kompulsif, gangguan kepribadian paranoid dan gangguan
somatoform. Terapi depresi dapat berperan sebagai paradigma pendekatan
kognitif.
Terapi perilaku kognitif adalah terapi yang menganggap kesulitankesulitan emosional berasal dari pikiran dan keyakinan yang salah yang
menyebabkan perilaku yang tidak produktif. Terapi ini berusaha untuk
mengintegrasikan teknik-teknik terapeutik yang berfokus untuk membantu
individu melakukan perubahan-perubahan, tidak hanya pada perilaku
nyata tetapi juga dalam pemikiran, keyakinan dan sikap yang

mendasarinya. Terapi ini memiliki asumsi bahwa pola berpikir dan


keyakinan mempengaruhi perilaku, dan perubahan pada kognitif ini dapat
menghasilkan perubahan perilaku yang diharapkan.
Teknik modifikasi perilaku-kognitif merupakan teknik yang sedang
berkembang pesat sejak dekade yang lalu. Mchenbaum (dalam Ivey, 1993)
menggabungkan antara modifikasi perilaku dan terapi kognitif. Modifikasi
perilaku kognitif didasarkan pada asumsi bahwa perilaku manusia secara
resiprok dipengaruhi oleh pemikiran, perasaan, proses fisiologis, serta
konsekuensinya pada perilaku. Jadi bila ingin mengubah perilaku yang
maladaptif dari manusia, maka tidak hanya sekedar mengubah perilakunya
saja, namun juga menyangkut aspek kognitifnya. Terapi perilaku-kognitif
merupakan gabungan terapi perilaku dan terapi kognitif. Dalam
pelaksanaannya,

modifikasi

perilaku-kognitif

menekankan

pada

pemahaman terhadap aspek pengalaman kognisi yang berbeda-beda


misalnya kepercayaan, harapan, imaji, pemecahan masalah, disamping
mempelajari ketrampilan teknik perilaku. Penggunaan terapi perilaku
kognitif mengubah gagasan klien agar emosi klien terobati atau tidak
sekedar perubahan perilaku mereka saja. Rute yang langsung ke
berubahnya emosi dan perilaku yang tidak berfungsi adalah dengan
memodifikasi jalan pikiran yang tidak tepat dan tidak berfungsi.
Terapi perilaku kognitif adalah sebuah pendekatan untuk membantu
menanggulangi masalah dengan lebih efektif dengan menyediakan suatu
kerangka berpikir dan berperilaku, yang memungkinkan mereka untuk
memimpin diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Terapi Kognitif adalah terapi pemahaman yang menekankan pada
pengenalan dan pengubahan jalan pikiran negatif dan keyakinan yang
salah adaptasi. Pendekatan ini disadarkan pada rasionalisasi teoritis
bahwasanya cara orang merasakan dan berperilaku itu ditentukan oleh cara

mereka menyusun pengalaman. Teori dasar dari model kognitif pada


kelainan emosional dalam memahami gangguan emosional, maka hal
esensial adalah menfokuskan pada isi kognitif dari reaksi individual
terhadap

peristiwa

atau

alur

pikiran

yang

menimbulkan

masalah.Sasarannya adalah mengubah cara berpikir konseling.


Terapi kognitif telah menunjukkan hasilnya jika diaplikasikan pada
penanganan depresi, kecemasan umum, kecemasan sosial, kecemasan
terhadap tes, fobia, kelainan psikosomatik, kelainan persoalan makanan,
amarah, masalah rasa sakit yang kronis.
Terapi kognitif didasarkan pada asumsi bahwa kognisi merupakan penentu
utama mengenai bagaimana kita merasakan dan berbuat. Dalam arti yang
paling luas terapi kognitif terdiri dari semua pendekatan yang menjadikan
kepedihan psikologis lebih bisa tertahankan melalui medium mengoreksi
konsepsi keliru dan sinyal-sinyal dirinya sendiri. Hal ini dapat digunakan
dalam terapi gangguan fobia dimana terdapat konsepsi yang keliru
terhadap hal-hal yang ada di sekitar orang yang mengalami gangguan
fobia ini, ataupun objek spesifik yang menjadi pusat perhatian dari
penderita fobia itu sendiri.
2. Prinsip - prinsip Terapi Perilaku- Kognitif
Prinsip dasar dari terapi perilaku kognitif adalah mengajarkan
kepada pasien bahwa kepercayaan dan pemikiran tidak rasional adalah
penyebab dari gangguan emosional dan tingkah laku (Hoffman, 1984).
Sebelum proses terapi dimulai, terapis perlu terlebih dahulu menjelaskan
susunan terapi kepada subjek, yang meliputi penjelasan tentang sudut
pandang teori modifikasi perilaku dan teori terapi kognitif terhadap
perilaku yang tidak adaptif, prinsip yang melandasi prosedur modifikasi
perilaku kognitif, dan tentang langkah-langkah di dalam terapi. Penjelasan
ini penting perannya untuk meningkatkan motivasi individu dan menjalin

kerjasama yang baik. Perlu pula dijelaskan bahwa fungsi terapis hanyalah
sebagai fasilitator timbulnya perilaku yang dikehendaki, dan individu yang
berperan aktif dalam proses terapi (Ivey, 1993). Oleh karena itu individu
harus benar-benar terampil menggunakan prinsip-prinsip terapi kognitif
dan modifikasi perilaku dengan masalah yang dialaminya, dan peran
terapis penting dalam mengajak individu memahami perasaannya dan
teknik terapi yang efektif untuk terjadinya perubahan perilaku yang
dikehendaki. Terkait dengan perlunya pemahaman tentang prinsip-prinsip
modifikasi perilaku-kognitif, 10 hal yang harus diperhatikan seorang
terapis dalam penggunaan modifikasi perilaku-kognitif, yaitu:
1.

Terapis perlu memahami bahwa perilaku klien ditentukan oleh pikiran,


perasaan, proses fisiologis, dan akibat yang dialaminya. Terapis dapat
memasuki sistem interaksi dengan memfokuskan pada pikiran,
perasaan, proses fisiologis, dan perilaku yang dihasilkan klien.

2.

Proses kognitif sebenarnya tidak menyebabkan kesulitan emosional,


namun yang menyebabkan kesulitan emosional adalah karena proses
kognitif itu sendiri merupakan proses interaksi yang kompleks. Bagian
penting dari proses kognisi adalah meta-kognisi yaitu klien berusaha
untuk memberi komentar secara internal pada pola pemikiran dan
perilakunya saat itu. Struktur kognisi yang dibuat individu untuk
mengorganisasi pengalaman adalah personal schema. Terapis perlu
memahami personal schema yang digunakan oleh klien untuk lebih
mamahami masalah yang dialami klien. Perubahan personal skema
yang tidak efektif adalah bagian yang penting dari terapi

3.

Tugas penting dari seorang terapis adalah menolong klien untuk


memahami cara klien membentuk dan menafsirkan realitas.

4.

Modifikasi perilaku-kognitif memahami persoalan dengan pendekatan


psikoterapi yang diambil dari sisi rasional atau objektif.

5.

Modifikasi perilaku-kognitif ditekankan pada penjabaran serta


penemuan proses pemahaman pengalaman klien

6.

Dimensi yang cukup penting adalah untuk mencegah kekambuhan


kembali.

7.

Modifikasi perilaku-kognitif melihat bahwa hubungan baik yang


dibangun antara klien dan terapis merupakan sesuatu yang penting
dalam proses perubahan klien.

8.

Emosi memainkan peran yang penting dalam terapi, untuk itu klien
perlu dibawa ke dalam suasana terapi yang mengungkap pengalaman
emosi.

9.

Terapis perlu menjalin kerjasama dengan pihak keluarga ataupun


pasangan klien.

10. Modifikasi

perilaku-kognitif

dapat

diperluas

sebagai

proses

pencegahan timbulnya perilaku maladaptif.


3. Tujuan Pendekatan Terapi Perilaku Kognitif
Pendekatan terapi perilaku kognitif adalah pendekatan pemberian
bantuan yang bertujuan mengubah suasana hati dan perilaku individu
dengan mempengaruhi pola berfikirnya. Hal ini dapat digunakan untuk
mengubah pola pikir penderita gangguan fobia terhadap hal-hal di
sekitarnya ataupun objek spesifik yang menjadi perhatian penderita fobia
itu sendiri utamanya pada fobia spesifik. Pada dasarnya pendekatan terapi
perilaku kognitif bertujuan untuk mengenali kejadian yang memberi
tekanan, mengenali dan memantau gangguan-gangguan kognitif yang
muncul dalam menanggapi kejadian atau peristiwa, dan mengubah cara
berfikir dalam menginterpretasikan dan menilai kejadian dengan cara-cara
yang lebih sehat.
Tujuan terapi perilaku kognitif adalah mengajak klien untuk menentang
pikiran yang salah dengan menampilkan bukti-bukti yang bertentangan
dengan keyakinan mereka tentang masalah yang dihadapi. Terapis
diharapkan mampu menolong klien untuk mencari keyakinan yang
sifatnya

dogmatis

dalam

diri

klien

dan

secara

kuat

mencoba

menguranginya. Terapis harus hati-hati terhadap munculnya pemikiran


yang tiba-tiba yang mungkin dapat dipergunakan untuk merubah klien.
4. Teknik yang Digunakan pada Terapi Perilaku Kognitif
Teknik pemantauan dan kontrol diri
Pemantauan dan kontrol diri merupakan langkah awal untuk
merubah perilaku target. Seseorang itu harus mengetahui terlebih dahulu
perilaku yang mana yang menjadi target terapi perilaku kognitif. Kedua
teknik tersebut mengkaji seberapa sering perilaku target itu timbul dan
resiko yang apa yang muncul kalau tidak segera ditangani. Pada tehnik ini,
klien sangat berperan penting. Teknik ini berfungsi sebagai alat pengumpul
data sekaligus berfungsi terapeutik. Dasar pemikiran teknik ini adalah
pemantauan diri terkait dengan evaluasi diri dan pengukuhan diri. Subjek
memantau dan mencatat perilakunya sendiri.
Reinforcement (Penguatan diri)
Penguatan diri adalah teknik yang paling menarik apabila kita belajar teori
terapi perilaku kognitif. Teknik ini juga diharapkan dapat memberikan
peranan yang lebih besar terhadap penanganan gangguan fobia. Penguatan
diri meliputi pemberian pujian atau hukuman pada diri sendiri untuk
meningkatkan atau meminimalkan beberapa kejadian perilaku target.
Pujian itu terbagi atas dua bagian yaitu pujian positif dan pujian negatif.
Pujian positif yaitu memberikan pujian yang sepantasnya pada diri sendiri
karena telah berhasil merubah atau memodifikasi perilaku target. Pujian
negatif adalah pujian melalui modifikasi faktor pencetus perilaku target di
linkungan klien. Seperti pemberian pujian pada diri sendiri, hukuman juga
dibagi dua bagian yaitu hukuman yang positif dan hukuman yang negatif.
Akan tetapi jarang digunakan dalam memanajemen atau memodifikasi
perilaku (Taylor, 1983). Reinforcement dihubungkan dengan hemodialisa
adalah hal yang sangat tepat untuk mencapai berat badan yang idel untuk

pasien, dan pada umumnya merupakan intervensi yang paling sering


diberikan para medis ke pasiennya.
Distraksi (pengalihan perhatian)
Distraksi mengalihkan perhatian klien ke hal yang lain yang lebih
menyenangkan sehingga klien mampu mengabaikan pemikiran yang tidak
menyenangkan yang sedang dialami. Distraksi bekerja memberi pengaruh
paling baik untuk jangka waktu yang singkat. Perawat dapat mengkaji
aktivitas-aktivitas yang dinikmati klien sehingga dapat dimanfaatkan
sebagai distraksi. Aktivitas tersebut dapat meliputi kegiatan menyanyi,
berdoa, mendengarkan musik, menonton TV, membaca, bercerita, dan
lain-lain. Sebagian besar distraksi dapat digunakan di rumah sakit, di
rumah , atau pada fasilitas perawatan jangka panjang (Potter, 2005).
Distraksi dapat berkisar dari hanya pencegahan monoton sampai
menggunakan aktivitas fisik dan mental yang sangat kompleks. Ada orang
tertentu yang akan mampu mengalihkan perhatiannya hanya dengan
memainkan suatu permainan yang butuh konsentrasi penuh sperti main
catur. Keefektifan distraksi tergantung pada kemampuan pasien untuk
menerima dan membangkitkan input sensori selain sensori yang sedang
dialami.
Desensitasi sistematis
Terapi perilaku yang sering digunakan adalah desensitisasi sistematis,
dimana pasien dipajankan dengan stimuli yang berkekuatan menimbulkan
cemas yang paling rendah hingga yang paling kuat. Teknik ini merupakan
teknik yang memiliki peranan yang paling besar dalam melakukan terapi
terhadap gangguan fobia. Dengan penggunaan obat-obat antianxietas,
hipnosis, dan instruksi relaksasi otot, pasien diajarkan untuk membentuk
suatu mekanisme respon yang baru terhadap stimuli tersebut. Selain itu,
terdapat terapi perilaku yang lain yakni image flooding, dimana pasien

dipajankan dengan gambar-gambar stimulus cemas sampai pada masa


dimana pasien tidak merasakan cemas lagi.

BAB III
KESIMPULAN

Fobia didefinisikan sebagai ketakutan irasional yang menghasilkan


penghindaran sadar, aktivitas situasi subjek ditakuti. Orang yang terkena biasanya
mengakui bahwa reaksi yang berlebihan. Menurut Manual American Psychiatric
Association Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental, Edisi Kelima (DSM-V),
gangguan fobia dapat dibagi menjadi 3 jenis: fobia sosial (sekarang disebut
gangguan kecemasan sosial), fobia khusus (sederhana), dan agoraphobia.
Secara kolektif, gangguan fobia adalah bentuk paling umum dari gangguan
jiwa, melebihi tingkat gangguan mood dan penyalahgunaan zat. Kecemasan
berhubungan dengan objek tertentu atau situasi adalah subtipe yang paling umum.
Keparahan dapat berkisar dari ringan sampai parah dan tidak mengganggu dan
dapat mengakibatkan ketidakmampuan untuk bekerja, bepergian, atau berinteraksi
dengan orang lain.
Terdapat beberapa macam bentuk terapi, yakni terapi perilaku, psikoterapi
dan berbagai modalitas terapi lainnya. Namun, pada refarat ini akan dibahas lebih
mendalam mengenai peranan terapi perilaku kognitif terhadap penatalaksanaan
gangguan fobia. Terapi perilaku yang sering digunakan adalah desensitisasi
sistematis, dimana pasien dipajankan dengan stimuli yang berkekuatan
menimbulkan cemas yang paling rendah hingga yang paling kuat. Teknik ini
merupakan teknik yang memiliki peranan yang paling besar dalam melakukan
terapi terhadap gangguan fobia. Dengan penggunaan obat-obat antianxietas,
hipnosis, dan instruksi relaksasi otot, pasien diajarkan untuk membentuk suatu
mekanisme respon yang baru terhadap stimuli tersebut. Selain itu, terdapat terapi
perilaku yang lain yakni image flooding, dimana pasien dipajankan dengan
gambar-gambar stimulus cemas sampai pada masa dimana pasien tidak merasakan
cemas lagi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Adariian

Preda,

MD.

2011.

Fobik

disorder.

Diunduh

dari

http://emedicine.medscape.com/article/288016
2. Advances in Psychiatric Treatment (2003), vol. 9, 25826. Diunduh dari
http://apt.rcpsych.org/
3. American Psychiatric Association, Diagnostic Creteria, DSM V - TR, 2005 :
209 -223
4. Asnawi H.,Evalina Dari. Sp.KJ. Tatalaksana Diagnosis dan Terapi Gangguan
Anxietas. Diunduh dari www.idijakbar.com tanggal 5 Mei 2013
5. Kaplan, Harold I., Sadock, Benjamin J, Grebb, Jack A. (2002). Sinopsis
Psikiatri Ilmu Pengetahuan Psiatri Klinis. Jakarta : Binarupa Aksara.
6. Maslim R, editor. Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari
PPADAGJ-III. Hal : 72-73
7. Phobias and fear, symptoms, treatment, and self-help. 2011. Diunduh dari:
http://helpguide.org/mental/phobia_symptoms_types_treatment.htm