Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Hemorrhoid adalah pelebaran dan inflamasi dari pleksus


arteri-vena di saluran anus yang berfungsi sebagai katup untuk
mencegah inkontinensia flatus dan cairan. Selain itu pleksus arterivena tersebut juga dapat mengalami perdarahan.1
Hemorrhoid merupakan penyakit di daerah anus yang cukup
banyak ditemukan dalam praktek dokter sehari-hari. Di Amerika
Serikat lima ratus ribu orang didiagnosa menderita hemorrhoid
setiap tahunnya. Bahkan 75% penduduk dunia pernah mengalami
hemorrhoid.1
Tingginya prevalensi hemorrhoid disebabkan oleh beberapa
faktor

antara

konstipasi,

lain:

usia,

kurangnya

keturunan,

konsumsi

kebiasaan

makanan

duduk

berserat,

terlalu

lama,

peningkatan tekanan abdominal karena tumor, pola buang air besar


yang salah, hubungan seks peranal, kurangnya intake cairan,
kurang olah raga dan kehamilan.1
Sebuah penelitian di Amerika Utara

pada tahun 2008

menunjukkan bahwa 14,8% orang dewasa mengalami konstipasi.


Angka ini lebih tinggi daripada penyakit kronis lainnya seperti
hipertensi, obesitas, dan diabetes melitus, sementara konstipasi
merupakan salah satu faktor risiko dari kejadian hemorrhoid.1
Tumor rektum juga dapat memicu terjadinya hemorrhoid.
Berdasarkan data yang diperoleh dari United States Cancer
Statistics pada tahun 2007 terdapat 142.672 orang yang didiagnosa
menderita tumor rektum di Amerika Serikat, dengan rincian 72.755

pria dan 69.917 wanita. Sementara itu penelitian yang dilakukan di


Hemorrhoid Care Medical Clinic didapatkan hasil bahwa sebanyak
90% pasien tumor rektum juga menderita hemorrhoid.1
Selain kedua hal di atas, kebiasaan duduk terlalu lama juga
merupakan faktor penyebab kejadian hemorrhoid. Hal tersebut
dapat dicegah dengan melakukan aktivitas fisik ringan seperti
berolahraga,

karena

dapat

melemaskan

dan

mengurangi

ketegangan otot. Sebuah penelitian di Australia pada tahun 2004


menunjukkan bahwa sebanyak 43% orang dewasa tidak gemar
berolahraga. Hal tersebut dapat meningkatkan risiko terhadap
masalah kesehatan, salah satunya adalah hemorrhoid.2
Prevalensi hemorrhoid di Indonesia juga tergolong cukup
tinggi. Di RSCM Jakarta pada dua tahun terakhir, hemorrhoid
mendominasi sebanyak 20% dari pasien kolonoskopi. 2 Sedangkan di
RS Bhakti Wira Tamtama Semarang pada tahun 2008 dari 1575
kasus di instalasi rawat jalan klinik bedah, kasus hemorrhoid
mencapai 16% dari seluruh total kasus di instalasi tersebut.
Penelitian yang dilakukan pada penderita hemorrhoid di rumah sakit
tersebut diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan antara riwayat
keluarga dan konstipasi dengan kejadian hemorrhoid.2
Masuknya

pengaruh

budaya

barat di

Indonesia

seperti

pemakaian jamban duduk juga memegang peranan dalam kejadian


hemorrhoid.

Sebab

hemorrhoid

dapat

terjadi

akibat

proses

mengejan berlebihan pada posisi duduk saat defekasi yang


berkelanjutan.2
Kejadian hemorrhoid cenderung meningkat seiring dengan
bertambahnya usia seseorang, dimana usia puncaknya adalah 4565 tahun.2 Sekitar setengah dari orang-orang yang berumur 50
tahun pernah mengalami hemorrhoid.11 Suatu penelitian yang

dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan pada tahun 2010


menunjukkan bahwa tingkat kejadian hemorrhoid lebih besar pada
usia lebih dari 45 tahun. Hal tersebut dikarenakan orang lanjut usia
sering

mengalami

konstipasi,

sehingga

terjadi

penekanan

berlebihan pada pleksus hemorrhoidalis karena proses mengejan.2


Namun sekarang ini terjadi perubahan pola hidup manusia.
Perubahan ini meliputi perubahan pola makan yang cenderung lebih
menyukai makanan siap saji yang tinggi lemak, garam dan rendah
serat serta kurangnya aktivitas fisik manusia, terlebih lagi pada usia
produktif (21-30 tahun). Usia produktif adalah usia ketika seseorang
masih mampu bekerja dan menghasilkan sesuatu. Sehingga dalam
rentang usia tersebut seseorang akan cenderung aktif bekerja dan
rentan terjadi perubahan pola hidup seperti yang telah diuraikan di
atas.

Hal

tersebut

tentunya

juga

dapat

memicu

terjadinya

hemorrhoid.2
Suatu studi prospektif yang dilakukan di Rajashi Medical
College Hospital menunjukkan bahwa dari 430 pasien yang
didiagnosa menderita hemorrhoid, terdapat 180 pasien atau sekitar
41,86% berada dalam rentang usia 21-30 tahun.13 Penelitian yang
dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan pada tahun 2005 juga
menunjukkan angka yang cukup tinggi, yaitu sebesar 31,4% orang
Indonesia berusia 21-30 tahun menderita Iritable Bowel Syndrome
yang dapat disebabkan oleh hemorrhoid.2
I.2. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan referat ini, yaitu untuk mengetahui faktor penyebab hemoroid,
mengetahui faktor risiko terjadinya hemoroid, dan mengetahui penatalaksanaan yang
terbaik untuk hemoroid sesuai dengan macam dan derajat hemoroid.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1

Definisi Hemorrhoid dan Anatomi Kanalis Analis

Hemorrhoid merupakan pelebaran dan inflamasi pembuluh


darah vena di daerah anus yang berasal dari plexus hemorrhoidalis.
Plexus hemorrhoidalis tersebut merupakan jaringan normal yang
terdapat pada semua orang yang memiliki fungsi kontinens yaitu
menahan pasase abnormal gas, feses cair dan feses padat. Karena
adanya suatu faktor pencetus, pleksus tersebut dapat mengalami
pelebaran, inflamasi, bahkan perdarahan. Pelebaran ini berkaitan
dengan peningkatan tekanan vena pada pleksus tersebut yang
sering terjadi pada usia 50 tahun ke atas. Dimana pelebaran ini
tidak diikuti dengan perubahan kondisi anatomi dari kanalis analis.

Kanalis analis merupakan bagian terbawah dari usus besar yang berfungsi
untuk mengeluarkan feses. Secara anatomi, kanalis analis memiliki panjang kurang
lebih 1,5 inci atau sekitar 4 cm, yang berjalan ke bawah dan belakang dari ampulla
rekti sampai anus. Selain saat defekasi, dinding kanalis analis dipertahankan oleh
musculus levator ani dan musculus sphincter ani supaya saling berdekatan.3

Mekanisme sphincter ani memiliki tiga unsur pembentuk yakni musculus sphincter
ani externus, musculus sphincter ani internus, dan musculus puborectalis.

Gambar 1. Anatomi anal canal yang memperlihatkan pleksus


hemoroid internal dan eksternal.
Musculus sphincter ani internus dibentuk oleh penebalan otot
polos stratum circulare pada ujung atas kanalis analis sehingga
bekerja secara involuntar. Sedangkan musculus sphincter ani
externus dilapisi oleh otot lurik sehingga bekerja secara voluntar. 3
Vaskularisasi kanalis analis sebagian besar diperoleh dari arteri
hemorrhoidalis superior, arteri hemorrhoidalis medialis, dan arteri
hemorrhoidalis inferior. Arteri hemorrhoidalis superior merupakan
kelanjutan

langsung

dari

arteri

mesenterika

inferior.

Arteri

hemorrhoidalis medialis merupakan percabangan anterior arteri


iliaka interna, dan arteri hemorrhoidalis inferior merupakan cabang
arteri pudenda interna.3

Sistem

vena

pada

kanalis

analis

berasal

dari

vena

hemorrhoidalis superior dan vena hemorrhoidalis inferior. Vena


hemorrhoidalis superior berasal dari plexus hemorrhoidalis internus
dan berjalan ke arah kranial ke dalam vena mesenterika inferior dan
seterusnya melalui vena lienalis ke vena porta. Vena hemorrhoidalis
inferior mengalirkan darah ke dalam vena pudenda interna dan ke
dalam vena iliaka interna dan sistem kava.3

Penderita hemorrhoid sering mengeluh merasa tidak nyaman akibat benjolan


yang keluar dari anus. Keluhan tersebut dikarenakan gangguan rotasi bantalan anus.
Dalam keadaan normal, bantalan anus akan menempel secara longgar pada lapisan
otot sirkuler. Namun ketika defekasi, musculus sphincter ani externa akan
berelaksasi. Bantalan anus akan berotasi ke arah luar (eversi) membentuk bibir
anorektum. Faktor endokrin, usia, konstipasi, dan mengejan dalam waktu yang lama
menyebabkan gangguan eversi pada bantalan tersebut.3
Defekasi merupakan suatu proses pembuangan kotoran seperti pembuangan
tinja atau feses. Pada prosesnya, rektum dan kanalis analis memiliki peranan untuk
6

mengeluarkan massa feses yang terbentuk dengan cara yang terkontrol. Refleks
kontraksi dari rektum dan otot sphincter akan menimbulkan keinginan untuk defekasi.
Refleks tersebut dipicu oleh gerakan usus yang mendorong feses ke arah rektum.
Selain itu, dengan adanya kontraksi dari sphincter ani externa dan sphincter ani
interna menyebabkan feses tidak keluar secara terus menerus melainkan sedikit demi
sedikit.3
Persarafan pada bagian atas anal canal disuplai oleh plexus otonom, bagian
bawah dipersarafi oleh saraf somatik rektal inferior yang merupakan akhir
percabangan saraf pudendal.4

Gambar 2. Anatomi Kanalis Anal


Hemoroid dibedakan antara yang interna dan eksterna. Hemoroid interna
adalah pleksus vena hemoroidalis superior di atas linea dentata/garis mukokutan dan
ditutupi oleh mukosa. Hemoroid interna ini merupakan bantalan vaskuler di dalam
jaringan submukosa pada rektum sebelah bawah. Sering hemoroid terdapat pada tiga
posisi primer, yaitu kanan depan ( jam 11 ), kanan belakang (jam 7), dan kiri lateral
(jam 3). Hemoroid yang lebih kecil terdapat di antara ketiga letak primer tesebut.
Hemoroid eksterna yang merupakan pelebaran dan penonjolan pleksus hemoroid
inferior terdapat di sebelah distal linea dentata/garis mukokutan di dalam jaringan di
bawah epitel anus.
7

Gambar 3. Letak Hemoroid


Kedua pleksus hemoroid, internus dan eksternus berhubungan secara longgar
dan merupakan awal aliran vena yang kembali bermula dari rektum sebelah bawah
dan anus. Pleksus hemoroid interna mengalirkan darah ke vena hemoroidalis
superior dan selanjutnya ke vena porta. Pleksus hemoroid eksternus mengalirkan
darah ke peredaran sistemik melalui daerah perineum dan lipat paha ke vena iliaka.4

II.2.2 EPIDEMIOLOGI
Hemoroid tidak pandang bulu. Baik laki-laki maupun perempuan punya risiko
yang sama. Di sisi lain, risiko hemoroid justru meningkat seiring bertambahnya usia.
Usia puncak adalah 45-65 tahun.5
II.2.3 KLASIFIKASI
Hemoroid dibedakan antara yang intern dan yang ekstern. Hemoroid intern
adalah pleksus v.hemoroidales superior diatas garis mukokutan dan ditutupi oleh
mukosa. Hemoroid intern ini merupakan bantalan vaskuler di dalam jaringan
submukosa pada rectum sebelah bawah. Hemoroid sering ditemukan di tiga posisi
primer, yaitu kanan-depan, kanan-belakang, dan kiri lateral.6
Hemoroid interna dibagi menjadi 4 derajat yaitu :
Derajat I :

Terdapat perdarahan merah segar pada rectum pasca defekasi

Tanpa disertai rasa nyeri

Tidak terdapat prolapse

Pada pemeriksaan anoskopi terlihat permulaan dari benjolan hemoroid


yang menonjol ke dalam lumen

Gambar 4. Derajat I
Derajat II :

Terdapat perdarahan/tanpa perdarahan sesudah defekasi

Terjadi prolaps hemoroid yang dapat masuk sendiri (reposisi spontan)

Gambar 5. Derajat II
Derajat III :

Terdapat perdarahan/tanpa perdarahan sesudah defekasi

Terjadi prolaps hemoroid yang tidak dapat masuk sendiri jadi harus
didorong dengan jari (reposisi manual)

Gambar 6. Derajat III


Derajat IV :

Terdapat perdarahan sesudah defekasi

Terjadi prolaps hemoroid yang tidak dapat didorong masuk (meskipun


sudah direposisi akan keluar lagi)

Gambar 7. Derajat IV

10

Hemoroid Eksterna merupakan varises vena hemoroidalis inferior yang


umumnya berada di bawah otot dan berhubungan dengan kulit. Biasanya wasir ini
terlihat tonjolan bengkak kebiruan pada pinggir anus yang terasa sakit dan gatal.6
Hemoroid eksrterna jarang sekali berdiri sendiri, biasanya perluasan hemoroid
interna. Tapi hemoroid eksterna dapat di klasifikasikan menjadi 2 yaitu:
a. Akut
Bentuk akut berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan
sebenarnya adalah hematom, walaupun disebut sebagai trombus eksterna akut.
Tanda dan gejala yang sering timbul adalah:
1. Sering rasa sakit dan nyeri
2. Rasa gatal pada daerah hemorid
Kedua tanda dan gejala tersebut disebabkan karena ujung ujung saraf
pada kulit merupakan reseptor rasa sakit .
b. Kronik
Hemoroid eksterna kronik atau Skin Tag terdiri atas satu lipatan atau
lebih dari kulit anus yang berupa jaringan penyambung dan sedikit pembuluh
darah.6
II.2.4 ETIOPATOGENESIS
Anal canal memiliki lumen triradiate yang dilapisi bantalan (cushion) atau
alas dari jaringan mukosa. Bantalan ini tergantung di anal canal oleh jaringan ikat
yang berasal dari sfingter anal internal dan otot longitudinal. Di dalam tiap bantalan
terdapat plexus vena yang diperdarahi oleh arteriovenosus. Struktur vaskular
tersebut

membuat

tiap

bantalan

membesar

untuk

mencegah

terjadinya

inkontinensia.6
Efek degenerasi akibat penuaan dapat memperlemah jaringan penyokong dan
bersamaan dengan usaha pengeluaran feses yang keras secara berulang serta
mengedan akan meningkatkan tekanan terhadap bantalan tersebut yang akan

11

mengakibatkan prolapsus. Bantalan yang mengalami prolapsus akan terganggu


aliran balik venanya. Bantalan menjadi semakin membesar dikarenakan mengedan,
konsumsi serat yang tidak adekuat, berlama-lama ketika buang air besar, serta
kondisi seperti kehamilan yang meningkatkan tekanan intra abdominal. Perdarahan
yang timbul dari pembesaran hemoroid disebabkan oleh trauma mukosa lokal atau
inflamasi yang merusak pembuluh darah di bawahnya. Sel mast memiliki peran
multidimensional terhadap patogenesis hemoroid, melalui mediator dan sitokin yang
dikeluarkan oleh granul sel mast. Pada tahap awal vasokonstriksi terjadi bersamaan
dengan peningkatan vasopermeabilitas dan kontraksi otot polos yang diinduksi oleh
histamin dan leukotrin. Ketika vena submukosal meregang akibat dinding pembuluh
darah pada hemoroid melemah, akan terjadi ekstravasasi sel darah merah dan
perdarahan. Sel mast juga melepaskan platelet-activating factor sehingga terjadi
agregasi dan trombosis yang merupakan komplikasi akut hemoroid.6
Pada tahap selanjutnya hemoroid yang mengalami trombosis akan mengalami
rekanalisasi dan resolusi. Proses ini dipengaruhi oleh kandungan granul sel mast.
Termasuk diantaranya tryptase dan chymase untuk degradasi jaringan stroma,
heparin untuk migrasi sel endotel dan sitokin sebagai TNF- serta interleukin 4
untuk pertumbuhan fibroblas dan proliferasi. Selanjutnya pembentukan jaringan
parut akan dibantu oleh basic fibroblast growth factor dari sel mast.7
Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran
balik dari vena hemoroidalis. Beberapa factor etiologi telah digunakan, termasuk
konstipasi/diare, sering mengejan, kongesti pelvis pada kehamilan, pembesaran
prosfat; fibroma arteri dan tumor rectum. Penyakit hati kronik yang disertai
hipertensi portal sering mengakibatkan hemoroid karena vena hemoroidalis superior
mengalirkan darah ke dalam system portal. Selain itu system portal tidak
mempunyai katup sehingga mudah terjadi aliran balik.7
II.2.5 FAKTOR RESIKO
1. Keturunan

12

Dinding pembuluh darah yang lemah dan tipis


2. Pekerjaan
Orang yang harus berdiri dan duduk lama atau harus mengangkat barang
berat, mempunyai predisposisi untuk hemoroid
3. Umur
Pada umur tua timbul digenerasi dari seluruh jaringan tubuh, juga otot
sfingter menjadi tipis dan atonis
4. Endokrin
Misalnya pada wanita hamil ada dilatasi vena ekstermitas dan anus (sekresi
hormon kelaksin)
5. Mekanis
Semua keadaan yang mengakibatkan timbulnya tekanan yang meninggi
dalam rongga perut. Misalnya penderita hipertrofi prostat
6. Fisiologis
Bendungan pada peredaran darah portal misalnya pada penderita
dekompensiasio hordis atau sikrosis hepatis
7. Kurang intake cairan
Kurangnya intake cairan setiap hari dapat meningkatkan kejadian
hemorrhoid. Hal tersebut dikarenakan, kurangnya intake cairan dapat
menyebabkan tinja menjadi keras sehingga seseorang akan cenderung
mengejan untuk mengeluarkan tinja tersebut. Sementara itu, proses
mengejan tersebut dapat meningkatkan tekanan pada plexus hemorrhoidalis.
Dengan intake cairan yang cukup setiap harinya dapat membantu

13

melunakkan tinja dan membersihkan usus. Sehingga tidak perlu mengejan


untuk mengeluarkan tinja.
8. Pola buang air besar yang salah
Pemakaian jamban duduk juga dapat meningkatkan insidensi
hemorrhoid. Menurut dr. Eka Ginanjar, dengan pemakaian jamban yang
duduk posisi usus dan anus tidak dalam posisi tegak. Sehingga akan
menyebabkan tekanan dan gesekan pada vena di daerah rektum dan anus.
Berbeda halnya pada penggunaan jamban jongkok. Posisi jongkok saat
defekasi dapat mencegah terjadinya konstipasi yang secara tidak langsung
dapat mencegah terjadinya hemorrhoid. Hal tersebut dikarenakan pada
posisi jongkok, valvula ilicaecal yang terletak antara usus kecil dan caecum
dapat menutup secara sempurna sehingga tekanan dalam colon cukup untuk
mengeluarkan feses.
9. Konstipasi
Konstipasi berarti pelannya pergerakan tinja melalui usus besar yang
disebabkan oleh tinja yang kering dan keras pada colon descenden yang
menumpuk karena absorpsi cairan yang berlebihan.18 Pada konstipasi
diperlukan waktu mengejan yang lebih lama. Tekanan yang keras saat
mengejan

dapat

mengakibatkan

trauma

berlebihan

pada

plexus

hemorrhoidalis sehingga menyebabkan hemorrhoid.


10. Kurangnya konsumsi makanan berserat
Serat makanan yang tinggi mampu mencegah dan mengobati
konstipasi apabila diiringi dengan peningkatan intake cairan yang cukup
setiap hari. Konsumsi cairan dapat membantu kerja serat makanan dalam
tubuh.7

14

II.2.6 DIAGNOSIS
1. Pemeriksaan fisik yaitu inspeksi dan rektaltouche (colok dubur).
Pada inspeksi hemoroid interna derajat I sulit ditemukan keadaan
patologis. Untuk hemoroid interna derjat II bisa disuruh mengedan dan kita lihat
ada prolaps atau tidak. Pada pemeriksaan colok dubur, hemoroid interna
stadium awal tidak dapat diraba sebab tekanan vena di dalamnya tidak terlalu
tinggi dan biasanya tidak nyeri. Hemoroid dapat diraba apabila sangat besar.
Apabila hemoroid sering prolaps, selaput lendir akan menebal. Trombosis dan
fibrosis pada perabaan terasa padat dengan dasar yang lebar. Pemeriksaan colok
dubur ini untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma rektum.8
2. Pemeriksaan dengan teropong yaitu anoskopi atau rectoscopy.
Dengan cara ini dapat dilihat hemoroid interna yang tidak menonjol
keluar. Anoskop dimasukkan untuk mengamati keempat kuadran. Penderita
dalam posisi litotomi. Anoskop dan penyumbatnya dimasukkan dalam anus
sedalam mungkin, penyumbat diangkat dan penderita disuruh bernafas panjang.
Hemoroid interna terlihat sebagai struktur vaskuler yang menonjol ke dalam
lumen. Apabila penderita diminta mengejan sedikit maka ukuran hemoroid akan
membesar dan penonjolan atau prolaps akan lebih nyata. Banyaknya benjolan,
derajatnya, letak ,besarnya dan keadaan lain dalam anus seperti polip, fissura
ani dan tumor ganas harus diperhatikan.8
3. Pemeriksaan proktosigmoidoskopi
Proktosigmoidoskopi perlu dikerjakan untuk memastikan keluhan bukan
disebabkan oleh proses radang atau proses keganasan di tingkat tinggi, karena

15

hemoroid merupakan keadaan fisiologik saja atau tanda yang menyertai. Feses
harus diperiksa terhadap adanya darah samar.8
4.

Rontgen (colon inloop) dan/atau kolonoskopi.


5. Pemeriksaan darah, urin, feses sebagai pemeriksaan penunjang

II.2.7 PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan Medik
Gejala hemoroid dan ketidaknyamanan dapat dihilangkan dengan
hygiene personal yang baik dan menghindari mengejan berlebihan selama
defekasi. Diet tinggi serat, buah-buahan dan sayuran sangat dianjurkan.
Terdapat berbagai tipe tindakan nonoperatif untuk hemoroid.
Fotokoagulasi inframerah, diatermi bipolar, dan terapi laser adalah teknik
terbaru yang digunakan untuk melekatkan mukosa ke otot yang mendasarinya.
Injeksi larutan sklerosan juga efektif untuk hemoroid berukuran kecil dan
berdarah. Prosedur ini membantu mencegah prolaps.9

Gambar 8. Skleroterapi

16

Teknik lain bisa juga ligasi dengan cincin karet. Tonjolan ditarik dan
pangkalnya diikat dengan cincin karet. Karena iskemik, terjadi nekrosis dan
terlepas, bekasnya akan mengalami fibrosis dalam beberapa hari.

Gambar 9. Ligasi
2. Penatalaksanaan Surgikal

Terapi bedah
Terapi bedah dipilih untuk penderita yang mengalami keluhan
menahun dan pada penderita hemoroid derajat III dan IV. Terapi bedah
juga dapat dilakukan dengan perdarahan berulang dan anemia yang tidak
dapat sembuh dengan cara terapi lainnya yang lebih sederhana. Penderita
hemoroid derajat IV yang mengalami trombosis dan kesakitan hebat dapat
ditolong segera dengan hemoroidektomi. Prinsip yang harus diperhatikan
dalam hemoroidektomi adalah eksisi yang hanya dilakukan pada jaringan
yang benar-benar berlebihan. Eksisi sehemat mungkin dilakukan pada
anoderm dan kulit yang normal dengan tidak mengganggu sfingter anus.
Eksisi jaringan ini harus digabung dengan rekonstruksi tunika mukosa
karena telah terjadi deformitas kanalis analis akibat prolapsus mukosa.
Ada tiga tindakan bedah yang tersedia saat ini yaitu bedah konvensional
(menggunakan pisau dan gunting), bedah laser ( sinar laser sebagai alat

17

pemotong) dan bedah stapler (menggunakan alat dengan prinsip kerja


stapler).9

Bedah Konvensional
Saat ini ada 3 teknik operasi yang biasa digunakan yaitu :
1. Teknik Milligan Morgan
Teknik ini digunakan untuk tonjolan hemoroid di 3 tempat
utama. Basis massa hemoroid tepat diatas linea mukokutan dicekap
dengan hemostat dan diretraksi dari rektum. Kemudian dipasang
jahitan transfiksi catgut proksimal terhadap pleksus hemoroidalis.
Penting untuk mencegah pemasangan jahitan melalui otot sfingter
internus.
Hemostat kedua ditempatkan distal terhadap hemoroid
eksterna. Suatu incisi elips dibuat dengan skalpel melalui kulit dan
tunika mukosa sekitar pleksus hemoroidalis internus dan eksternus,
yang dibebaskan dari jaringan yang mendasarinya. Hemoroid dieksisi
secara keseluruhan. Bila diseksi mencapai jahitan transfiksi cat gut
maka hemoroid ekstena dibawah kulit dieksisi. Setelah mengamankan
hemostasis, maka mukosa dan kulit anus ditutup secara longitudinal
dengan jahitan jelujur sederhana.
Biasanya tidak lebih dari tiga kelompok hemoroid yang
dibuang pada satu waktu. Striktura rektum dapat merupakan
komplikasi dari eksisi tunika mukosa rektum yang terlalu banyak.
Sehingga lebih baik mengambil terlalu sedikit daripada mengambil
terlalu banyak jaringan.10
2. Teknik Whitehead
Teknik operasi yang digunakan untuk hemoroid yang sirkuler
ini yaitu dengan mengupas seluruh hemoroid dengan membebaskan

18

mukosa dari submukosa dan mengadakan reseksi sirkuler terhadap


mukosa daerah itu. Lalu mengusahakan kontinuitas mukosa kembali.
3. Teknik Langenbeck
Pada teknik Langenbeck, hemoroid internus dijepit radier
dengan klem. Lakukan jahitan jelujur di bawah klem dengan cat gut
chromic no 2/0. Kemudian eksisi jaringan diatas klem. Sesudah itu
klem dilepas dan jepitan jelujur di bawah klem diikat. Teknik ini lebih
sering digunakan karena caranya mudah dan tidak mengandung resiko
pembentukan jaringan parut sekunder yang biasa menimbulkan
stenosis. Dalam melakukan operasi diperlukan narkose yang dalam
karena sfingter ini harus benar-benar lumpuh.10
Bedah Laser
Pada prinsipnya, pembedahan ini sama dengan pembedahan
konvensional, hanya alat pemotongnya menggunakan laser. Saat laser
memotong, pembuluh jaringan terpatri sehingga tidak banyak
mengeluarkan darah, tidak banyak luka dan dengan nyeri yang
minimal. Pada bedah dengan laser, nyeri berkurang karena saraf rasa
nyeri ikut terpatri. Di anus, terdapat banyak saraf. Pada bedah
konvensional, saat post operasi akan terasa nyeri sekali karena pada
saat memotong jaringan, serabut saraf terbuka akibat serabut saraf
tidak mengerut sedangkan selubungnya mengerut. Sedangkan pada
bedah laser, serabut saraf dan selubung saraf menempel jadi satu,
seperti terpatri sehingga serabut syaraf tidak terbuka. Untuk
hemoroidektomi, dibutuhkan daya laser 12 14 watt. Setelah jaringan
diangkat, luka bekas operasi direndam cairan antiseptik. Dalam waktu
4 6 minggu, luka akan mengering. Prosedur ini bisa dilakukan hanya
dengan rawat jalan.10

19

Bedah Stapler
Alat yang digunakan sesuai dengan prinsip kerja stapler. Bentuk
alat ini seperti senter, terdiri dari lingkaran di depan dan pendorong di
belakangnya. Pada dasarnya hemoroid merupakan jaringan alami yang
terdapat di saluran anus. Fungsinya adalah sebagai bantalan saat buang
air besar. Kerjasama jaringan hemoroid dan m.sfingter ini untuk
melebar dan mengerut menjamin kontrol keluarnya cairan dan kotoran
dari dubur. Teknik PPH ini mengurangi prolaps jaringan hemoroid
dengan mendorongnya ke atas garis mukokutan dan mengembalikan
jaringan hemoroid ini ke posisi anatominya semula karena jaringan
hemoroid ini masih diperlukan sebagai bantalan saat BAB, sehingga
tidak perlu dibuang semua.
Mula-mula jaringan hemoroid yang prolaps didorong ke atas
dengan alat yang dinamakan dilator, kemudian dijahitkan ke tunika
mukosa dinding anus. Kemudian alat stapler dimasukkan ke dalam
dilator. Dari stapler dikeluarkan sebuah gelang dari titanium diselipkan
dalam jahitan dan ditanamkan di bagian atas saluran anus untuk
mengokohkan posisi jaringan hemoroid tersebut. Bagian jaringan
hemoroid yang berlebih masuk ke dalam stapler. Dengan memutar
sekrup yang terdapat pada ujung alat, maka alat akan memotong
jaringan yang berlebih secara otomatis. Dengan terpotongnya jaringan
hemoroid maka suplai darah ke jaringan tersebut terhenti sehingga
jaringan hemoroid mengempis dengan sendirinya.

20

Keuntungan teknik ini yaitu mengembalikan ke posisi


anatomis, tidak mengganggu fungsi anus, tidak ada anal discharge,
nyeri minimal karena tindakan dilakukan di luar bagian sensitif,
tindakan berlangsung cepat sekitar 20 45 menit, pasien pulih lebih
cepat sehingga rawat inap di rumah sakit semakin singkat.11
II.2.8 KOMPLIKASI
1. Terjadi trombosis
Karena hemoroid keluar sehingga lama - lama darah akan membeku
dan terjadi trombosis.
2. Peradangan
Kalau terjadi lecet karena tekanan vena hemoroid dapat terjadi infeksi
dan meradang karena disana banyak kotoran yang ada kuman kumannya.
3. Terjadinya perdarahan
Pada derajat satu darah keluar menetes dan memancar. Perdarahan akut
pada umumnya jarang, hanya terjadi apabila yang pecah adalah
pembuluh darah besar. Hemoroid dapat membentuk pintasan portal
sistemik pada hipertensi portal, dan apabila hemoroid semacam ini
mengalami perdarahan maka darah dapat sangat banyak. Yang lebih
sering terjadi yaitu perdarahan kronis dan apabila berulang dapat
menyebabkan anemia karena jumlah eritrosit yang diproduksi tidak
bisa mengimbangi jumlah yang keluar. Anemia terjadi secara kronis,
sehingga sering tidak menimbulkan keluhan pada penderita walaupun
Hb sangat rendah karena adanya mekanisme adaptasi. Apabila
hemoroid keluar, dan tidak dapat masuk lagi (inkarserata/ terjepit)
akan mudah terjadi infeksi yang dapat menyebabkan sepsis dan bisa
mengakibatkan kematian.11

21

BAB III
KESIMPULAN
1. Hemoroid adalah pelebaran vena di dalam pleksus hemoroidalis akibat kongesti
vena yang disebabkan gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis yang tidak
merupakan

keadaan

patologik.

Diperlukan

tindakan

apabila

hemoroid

menimbulkan keluhan.
2. Faktor resiko terjadinya hemoroid yaitu keturunan, anatomi, pekerjaan, umur,
endokrin, mekanis, fisiologis dan radang.
3. Hemoroid terdiri dari 2 jenis yaitu hemoroid interna yang terletak di atas garis
mukokutan dan hemoroid eksterna yang terletak di bawah garis mukokutan.
4. Manifestasi klinis hemoroid yaitu perdarahan per anum berwarna merah segar
dan tidak tercampur dengan faeces.
5. Diagnosis ditegakkan dengan anamnesa, inspeksi, colok dubur dan penilaian
anoskop. Bila perlu dilakukan pemeriksaan proktosigmoidoskopi untuk
menyingkirkan kemungkinan radang dan keganasan.
6. Diagnosis banding dari hemoroid yaitu Ca kolorektum, penyakit divertikel, polip,
kolitis ulserosa dan fissura ani.
7. Komplikasi dari hemoroid yaitu perdarahan hebat, inkarserasi dan sepsis.

22

8. Penatalaksanaan hemoroid yaitu dengan konservatif, membuat nekrosis jaringan


dan bedah.
9. Prognosis hemoroid baik bila diberikan terapi yang sesuai.

Daftar Pustaka
1. Nelson, Heidi MD., Roger R. Dozois, MD., Anus, in Sabiston Text
Book of Surgery, Saunders Company, Phyladelphia 2001
2. Skandalakis ,John E. , Colon and Anorectum, in Surgical Anatomy
and Technique,Second edition, Atlanta, 1999.
3.

Diagnosing Hemorrhoid Types

and Rectal Prolaps, http:\\

www.pph.com Ethicon Endo-Surgery, Inc. 2003-2005. This site is


published by Ethicon Endo-Surgery, Inc. and is intended for U.S.
audiences only.
4. Haemorrhoid treatment-Rectal Bleeding, http:\\ www.pph.com
Ethicon Endo-Surgery, Inc. 2003-2005.
5. What are Hemorrhoid., www.hemorrhoid.net.

23

6. Hemorrhoidectomy Procedure for Prolaps and Hemorrhoids.,


www.pphinfo.com
7.

Haemorrhoids,

www.hcd2.bupa.co.uk/

fact_sheet/html/haemorrhoids.html
8. Sjamsuhidajat, R., De jong, Wim., 2005, Buku Ajar Ilmu Bedah
Edisi 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
9.

Snell,

Richard,

2006,

Anatomi

Klinik

Untuk

Mahasiswa

Kedokteran, Edisi 6, Buku Kedokteran EGC, Jakarta.


10. http://pekok.webnode.com/products/hemoroid/ diunduh tanggal
17 Mei 2013.
11.

http://www.hemoroidtreatment.com/diagnosed.html

diunduh

tanggal 18 Mei 2013.

24