Anda di halaman 1dari 9

Laylia Nur Afidah (1307100027)

Tugas Mata Kuliah Sistem Manajemen Mutu

DEFINISI SIX SIGMA, QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD), DAN


BALANCED SCORECARD
1.

Six Sigma
Six Sigma merupakan sebuah metodologi terstruktur untuk memperbaiki proses yang

difokuskan pada usaha mengurangi variasi proses (process variances) sekaligus mengurangi cacat
(produk/jasa yang diluar spesifikasi) dengan menggunakan statistik dan problem solving tools
secara intensif (Manggala, 2005). Six sigma merupakan proses disiplin tinggi yang membantu
mengembangkan dan mengantarkan produk mendekati sempurna. Six sigma adalah suatu visi
peningkatan kualitas menuju target 3,4 kegagalan per sejuta kesempatan (DPMO) untuk setiap
transaksi produk baik barang maupun jasa (Trihendradi, 2006). Dengan demikian Six Sigma dapat
dijadikan ukuran target kinerja sistem industri tentang bagaimana baiknya suatu proses transaksi
produk antara pemasok (industri) dan pelanggan (pasar). Semakin tinggi target sigma yang dicapai,
kinerja sistem industri akan semakin baik. Six Sigma juga dapat dianggap sebagai terobosan yang
memungkinkan perusahaan melakukan peningkatan luar biasa (dramatic) dan sebagai pengendalian
proses industri yang berfokus pada pelanggan, melalui penekanan pada kemampuan proses (process
capability).
Berikut adalah definisi six sigma dari beberapa segi:

Beberapa terminologi yang menjadi kunci dalam konsep Six Sigma (Gaspersz, 2002) adalah:

CTQ ( Critical to Quality )


Critical to Quality merupakan atribut- atribut yang sangat penting karena berkaitan langsung
dengan kepuasan pelanggan, yang merupakan elemen dari suatu produk, proses atau praktekpratek yang berdampak pada kualitas.

Laylia Nur Afidah (1307100027)


Tugas Mata Kuliah Sistem Manajemen Mutu

Defect
Defect adalah kegagalan untuk memberikan apa yang diinginkan pelanggan.
Defect Opportunity
Defect Opportunity merupakan kejadian atau kondisi yang terstruktur yang memberikan
kesempatan untuk tidak terpenuhinya kebutuhan pelanggan.
DPO (Defect per Opportunity)
Defect per Opportunity adalah kegagalan per satu kesempatan. Untuk menghitung DPO
digunakan rumus sebagai berikut :
DPO=

Jumlah Defect
Unit yang diperiksa Defect Opportunity

1. DPMO (Defect Per Million opportunity)


DPMO adalah ukuran kegagalan yang menunjukkan banyaknya cacat atau kegagalan per satu
juta kesempatan. Target dari pengendalian kualitas six sigma sebesar 3,4 DPMO. DPMO
dihitung dengan persamaan berikut ini:
DPMO=

Jumlah Defect
1.000 .000
Unit yang diperiksa Defect Opportunity

2. Process Capability
Proses Capability adalah kemampuan proses untuk memproduksi atau menyerahkan output
sesuai dengan ekspektasi dan kebutuhan pelanggan.
3. DMIAC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control)
DMIAC merupakan proses untuk peningkatan terus menerus menuju target six sigma. DMIAC
dilakukan secara sistematik berdasar ilmu pengetahuan dan fakta (systematic, scientific, and
fast based).
Pergeseran dalam Six Sigma :
Ketika suatu proses berjalan maka pasti terjadi variasi, baik itu pada proses manufaktur
maupun pada proses penghantaran jasa. Variasi dapat disebabkan oleh dispersi (lebar proses) dan
pengukuran lokasi (pusat proses). Pengendalian proses Six Sigma yang dikembangkan Motorola
mengijinkan adanya pergeseran variasi pada proses berkisar 1,5 sigma, sehingga akan dihasilkan
3,4 DPMO. Dengan demikian berdasar konsep ini berlaku toleransi penyimpangan = T 1,5_.
Hal tersebut dapat dilihat pada gambar berikut:

Laylia Nur Afidah (1307100027)


Tugas Mata Kuliah Sistem Manajemen Mutu

Satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa konsep six sigma yang dikembangkan oleh
Motorola dengan pergeseran nilai rata-rata (mean) dari proses yang diizinkan sebesar 1.5 sigma
merupakan hal yang berbeda dari konsep six sigma dalam distribusi normal yang umum dipahami
selama ini yang tidak mengizinkan adanya pergeseran dalam nilai rata-rata dari proses.
Sumber:
http://www.ittelkom.ac.id/library/index.php?option=com_content&view=section&id=3&Itemid=15
2.

Quality Function Deployment (QFD)


Quality Function Deployment (QFD) adalah metodologi dalam proses perancangan dan

pengembangan produk atau layanan yang mampu mengintegrasikan suara-suara konsumen ke


dalam proses perancangannya. QFD sebenarnya adalah merupakan suatu jalan bagi perusahaan
untuk mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan serta keinginan konsumen terhadap produk atau
jasa yang dihasilkannya. Berikut ini dikemukakan beberapa definisi Quality Function Deployment
menurut para pakar :
1. QFD merupakan metodologi untuk menterjemahkan keinginan dan kebutuhan konsumen ke
dalam suatu rancangan produk yang memiliki persyaratan teknis dan karakteristik kualitas
tertentu (Akao, 1990; Urban, 1993).
2. QFD adalah metodologi terstruktur yang digunakan dalam proses perancangan dan
pengembangan produk suntuk menetapkan spesifikasi kebutuhan dan keinginan konsumen,
serta mengevaluasi secara sistematis kapabilitas produk atau jasa dalam memenuhi kebutuhan
dan keinginan konsumen (Cohen, 1995).
3. QFD adalah sebuah sistem pengembangan produk yang dimulai dari merancang produk, proses
manufaktur, sampai produk tersebut ke tangan konsumen, dimana pengembangan produk
berdasarkan keinginan konsumen (Djati, 2003).

Laylia Nur Afidah (1307100027)


Tugas Mata Kuliah Sistem Manajemen Mutu
Manfaat QFD
Penggunaan metodologi QFD dalam proses perancangan dan pengembangan produk
merupakan suatu nilai tambah bagi perusahaan. Sebab perusahaan akan mempunyai keunggulan
kompetitif dengan menciptakan suatu produk atau jasa yang mampu memuaskan konsumen.
Manfaat-manfaat yang dapat diperoleh dari penerapan QFD dalam proses perancangan
produk adalah (Dale, 1994):
1. Meningkatkan keandalan produk
2. Meningkatkan kualitas produk
3. Meningkatkan kepuasan konsumen
4. Memperpendek time to market
5. Mereduksi biaya perancangan
6. Meningkatkan komunikasi
7. Meningkatkan produktivitas
8. Meningkatkan keuntungan perusahaan
Keunggulan QFD
Keunggulan keunggulan yang dimiliki QFD adalah:
1. Menyediakan format standar untuk menerjemahkan kebutuhan konsumen menjadi persyaratan
teknis, sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumen.
2. Menolong tim perancang untuk memfokuskan proses perancangan yang dilakukan pada faktafakta yang ada, bukan intuisi.
3. Selama proses perancangan, pembuatan keputusan direkam dalam matriks-matriks sehingga
dapat diperiksa ulang serta dimodifikasi di masa yang akan datang.
Hierarkhi matrik QFD
Dengan menggunakan metodologi QFD dalam proses perancangan dan pengembangan
produk, maka akan dikenal empat jenis tahapan, yaitu masing-masing adalah:
1. Tahap Perencanaan Produk (House of Quality)
2. Tahap Perencanaan Komponen (Part Deployment)
3. Tahap Perencanaan Proses (Proses Deployment)
4. Tahap Perencanaan Produksi (Manufacturing/ Production Planning)
House of Quality
Rumah kualitas atau biasa disebut juga House of Quality (HOQ) merupakan tahap pertama
dalam penerapan metodologi QFD. Secara garis besar matriks ini adalah upaya untuk
mengkonversi voice of costumer secara langsung terhadap persyaratan teknis atau spesifikasi teknis
dari produk atau jasa yang dihasilkan. Perusahaan akan berusaha mencapai persyaratan teknis yang
sesuai dengan target yang telah ditetapkan, dengan sebelumnya melakukan benchmarking terhadap
produk pesaing. Benchmarking dilakukan untuk mengetahui posisiposisi relatif produk yang ada di
pasaran yang merupakan kompetitor. Berikut ini adalah struktur matrik pada HOQ:

Laylia Nur Afidah (1307100027)


Tugas Mata Kuliah Sistem Manajemen Mutu

Bagian A
Bagian A berisikan data atau informasi yang diperoleh dari penelitian pasar atas kebutuhan
dan keinginan konsumen. Suara konsumen ini merupakan input dalam HOQ. Metode identifikasi
kebutuhan konsumen yang biasa digunakan dalam suatu penelitian adalah wawancara, baik secara
grup atau perorangan. Melalui wawancara, perancang dapat dengan bebas mengetahui lebih jauh
kebutuhan konsumen. Wawancara secara perorangan dapat dianggap mencukupi, dalam arti cukup
menggambarkan kebutuhan konsumen sampai sekitar 90% adalah sebanyak 30 wawancara. Ini
berdasarkan pada penelitian untuk suatu produk picnic coolers oleh Griffin dan Houser (Ulrich &
Eppinger, 1995).
Bagian B
Bagian B berisikan tiga jenis data yaitu:
1. Tingkat kepentingan dari tiap kebutuhan konsumen.
2. Data tingkat kepuasan konsumen terhadap produk-produk yang dibandingkan.
3. Tujuan strategis untuk produk atau jasa baru yang akan dikembangkan.
Bagian C
Bagian C berisikan persyaratan-persyaratan teknis terhadap produk atau jasa baru yang akan
kembangkan. Data persyaratan teknis ini diturunkan berdasarkan suara konsumen yang telah
diperoleh pada bagian A. Untuk setiap persyaratan teknis ditentukan satuan pengukuran, Direction
of Goodness dan target yang harus dicapai. Direction of Goodness terdiri dari 3, yaitu:
1. The More the Better atau semakin besar semakin baik, target maksimal tidak terbatas.
2. The Less the Better atau semakin kecil semakin baik, target maksimal adalah nol.
3. Target is the Best atau target maksimalnya adalah sedekat mungkin dengan suatu nilai nominal
dimana tidak terdapat variasi disekitar nilai tersebut.

Laylia Nur Afidah (1307100027)


Tugas Mata Kuliah Sistem Manajemen Mutu
Bagian D
Bagian D berisikan kekuatan hubungan antara persyaratan teknis dari produk atau jasa yang
dikembangkan (bagian C) dengan suara konsumen (bagian A) yang mempengaruhinya. Kekuatan
hubungan ditunjukkan dengan symbol tertentu atau angka tertentu. Berikut ini hubungan antara
kepuasan pelanggan dengan persyaratan teknis, ada empat kemungkinan korelasi:
1. Not linked (Blank) diberi nilai nol. Perubahan pada persyaratan teknis, menurut direction of
goodness-nya, tidak akan berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan.2.
2. Possibly linked, diberi nilai 1. Perubahan yang relative besar pada persyaratan teknis, menurut
direction of goodness-nya akan memberi sedikit perubahan pada kepuasan pelanggan.
3. Moderate linked, diberi nilai 3. Perubahan yang relative besar pada persyaratan teknis, menurut
direction of goodness-nya, akan memberikan pengaruh yang cukup berarti pada kepuasan
pelanggan.
4. Strongly linked, diberi nilai 9. Perubahan yang relative kecil pada persyaratan teknis, menurut
direction of goodness-nya, akan memberikan pengaruh yang cukup berarti pada kepuasan
pelanggan.

Bagian E
Bagian E berisikan keterkaitan antar persyaratan teknis yang satu dengan persyaratan teknis
yang lain yang terdapat pada bagian C. Korelasi antar persyaratan teknis tergantung pada direction
of goodness dari setiap persyaratan teknis, ada lima kemungkinan:
1. Strong Possitive Impact : perubahan pada persyaratan teknis 1 ke arah direction of goodnessnya, akan menimbulkan pengaruh positif kuat terhadap direction of goodness persyaratan teknis
2.
2. Moderate Possitive Impact : perubahan pada persyaratan teknis 1 ke arah direction of goodnessnya, akan menimbulkan pengaruh positif yang sedang terhadap direction of goodness
persyaratan teknis 2.
3. No Impact : perubahan pada persyaratan teknis 1 ke arah direction of goodnessnya, tidak akan
menimbulkan pengaruh terhadap direction of goodness persyaratan teknis 2.
4. Moderate Negative Impact ( x ) : perubahan pada persyaratan teknis 1 ke arah direction of
goodness-nya, akan menimbulkan pengaruh negatif yang sedang terhadap direction of goodness
persyaratan teknis 2.
5. Strong Negative Impact ( xx ) : perubahan pada persyaratan teknis 1 ke arah direction of
goodness-nya, akan menimbulkan pengaruh negatif kuat terhadap direction of goodness
persyaratan teknis 2.
Bagian F

Laylia Nur Afidah (1307100027)


Tugas Mata Kuliah Sistem Manajemen Mutu
Bagian F beriskan tiga macam jenis data, yaitu:
1. Tingkat kepentingan (ranking) persyaratan teknis.
2. Technical benchmarking dari produk yang dibandingkan.
3. Target kinerja persyaratan teknis dari produk yang dikembangkan.
Part Deployment
Part Deployment merupakan iterasi kedua dalam metode QFD. Berikut ini adalah struktur
matrik pada Part Deployment:
1. Bagian A
Bagian ini berisi persyaratan teknis yang diperoleh dari QFD iterasi 1.
2. Bagian B
Bagian ini berisi hasil normalisasi kontribusi persyaratan teknis yang diperoleh dari QFD iterasi
1.
3. Bagian C
Bagian ini berisi:
1. Persyaratan part yang berhubungan dan bersesuaian dengan persyaratan teknis yang
diperoleh pada QFD iterasi 1.
2. Direction of goodness dari masing-masing persyaratan part.
4. Bagian D
Bagian ini menggambarkan hubungan diantara persyaratan part dan persyaratan teknis.
Sehingga hubungan ini didasarkan pada dampak persyaratan part terhadap persyaratan teknis.
5. Bagian E
Bagian ini berisi:
1. Part spesification Merupakan satuan dari persyaratan part.
2. Column weight
Merupakan kontribusi dari persyaratan part.
3. Target
Spesifikasi yang ingin dicapai oleh masing-masing persyaratan part dalam rangka
pengembangan.
Adapun keterangan di atas digambarkan pada matriks berikut ini:

Laylia Nur Afidah (1307100027)


Tugas Mata Kuliah Sistem Manajemen Mutu

Sumber: http://www.ittelkom.ac.id/library/index.php?
view=article&catid=25%3Aindustri&id=247%3Aquality-functiondeploymen&format=pdf&option=com_content&Itemid=15

3.
Balanced Scorecard
Balanced Scorecard Sebagai Alat Perencanaan Strategik
Balanced Scorecard adalah alat perencanaan strategik yang sangat berdaya untuk
meningkatkan kemampuan organisasi dalam melipatgandakan kinerja keuangan
berkesinambungan. Implementasi Balanced Scorecard sebagai alat perencanaan strategik pada
hakikatnya menuntut perubahan secara radikal gaya manajemen (management style) yang meliputi:
1. Perubahan alat (toolset)
2. Perubahan pengetahuan manajemen (skillset)
3. Pergeseran sikap mental (mindset).
Sebagai alat perencanaan, Balanced Scorecard dilandasi oleh falsafah perencanaan yang fit
dengan zamannya dan diisi dengan pengetahuan manajemen yang dilandasi dengan paradigma
manajemen baru.

Balanced Scorecard Sebagai Sistem Manajemen Kinerja


Balanced Scorecard merupakan sistem manajemen kinerja yang diperlukan bila perusahaan

ingin berinvestasi jangka panjang demi memperoleh hasil finansial yang memungkinkan
perkembangan organisasi bisnisnya dan bila organisasi pemerintah ingin meningkatkan kinerjanya
dalam era otonomi daerah sekarang ini. Untuk mewujudkan satu kesatuan sistem manajemen yang
andal, kita bahkan dapat mengintegrasikan Six Sigma, sebagai model peningkatan kinerja secara
terus-menerus, dengan Balanced Scorecard.

Laylia Nur Afidah (1307100027)


Tugas Mata Kuliah Sistem Manajemen Mutu
Vincent Gaspersz, seorang ahli yang kompetensinya telah diakui secara nasional maupun
internasional, telah membahas dalam bukunya secara tuntas:
- Empat Perspektif dalam Balanced Scorecard.
- Penetapan Target dan Program Peningkatan Kinerja.
- Langkah-langkah Implementasi Sistem Manajemen Balanced Scorecard.
- Contoh Kasus Implementasi Sistem Manajemen Balanced Scorecard pada Organisasi Bisnis
- Implementasi Balanced Scorecard pada Organisasi Pemerintah
- Integrasi Program Six Sigma dengan Balanced Scorecard.
Rencana-rencana bisnis strategis dapat diterapkan dengan menggunakan pendekatan sistem
manajemen kinerja Balanced Scorecard, sementara berbagai program tindakan (action plan) dapat
dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan Six Sigma.
Sumber:
http://www.bung-aswin.com/menu.php?id=4