Anda di halaman 1dari 32

dipaparkan oleh:

Dosen STPMD APMD

Peraturan di Desa adalah Peraturan yang meliputi Peraturan Desa,


Peraturan Bersama Kepala Desa dan Peraturan Kepala Desa.

Jenis Peraturan di desa meliputi:


a. Peraturan Desa;
b. Peraturan Bersama Kepala Desa; dan
c. Peraturan Kepala Desa.

Peraturan Desa adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan


oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama BPD.
Peraturan Bersama Kepala Desa adalah Peraturan yang ditetapkan oleh
dua atau lebih Kepala Desa dan bersifat mengatur.
Peraturan Kepala Desa adalah Peraturan yang ditetapkan oleh Kepala
Desa dan bersifat mengatur.
Keputusan Kepala Desa adalah penetapan yang bersifat konkrit,
individual, dan final.

Peraturan Desa adalah

Peraturan Perundang-undangan yang dibuat


oleh BPD bersama Kepala Desa
Materi muatan Perdes adalah seluruh materi
muatan dalam rangka penyelenggaraan
pemerintahan desa, pembangunan desa, dan
pemberdayaan masyarakat, serta penjabaran
lebih lanjut dari ketentuan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi
Perdes adalah sebuah perangkat hukum untuk
memerintah maupun mengelola barang-barang
publik.
Sebagai bentuk kebijakan publik, Perdes adalah
bentuk regulasi (aturan main) desa yang
mempunyai banyak fungsi

Fungsi Perdes ( Regulasi )


1. Sebagai pembatas apa yang boleh dilakukan
2.
3.
4.
5.
6.

dan yang tidak boleh dilakukan oleh pemerintah


desa maupun masyarakat;
Menegaskan pola-pola hubungan antar
lembaga di desa;
Mengatur pengelolaan barang-barang publik di
desa;
Memberikan perlindungan terhadap lingkungan;
Menegaskan sumber-sumber penerimaan desa;
Memastikan penyelesaian masalah dan
penangan konflik;

Prinsip-Prinsip Peraturan Desa


Perdes harus bersifat konstitusional, artinya

membatasi yang berkuasa dan melindungi


yang lemah
Tidak bertentangan dengan perda dan
peraturan di atasnya
Menciptakan ketertiban
Memudahkan, artinya memberi ruang kepada
masyarakat untuk mengembangkan kreasi,
potensi, inovasi dan mendapatkan akses,
serta memberi insentif

Membatasi, artinya mencegah

eksploitasi terhadap SDA dan warga


masyarakat, mencegah
penyalahgunaan kekuasaan, dan
mencegah dominasi
Mendorong pemberdayaan
masyarakat, artinya memberi ruang
partisipasi masyarakat, dan
melindungi minoritas

Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam


Membuat Perdes (Azas Peraturan
Perundang-undangan):
1. Kejelasan Tujuan (setiap pembentukannya

mempunyai tujuan yang jelas)


2. Kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat
(harus dibuat oleh lembaga/pejabat pembentuk
peraturan perundang-undangan yang berwenang)
3. Kesesuaian antara jenis dan materi muatan(harus
benar-benar memperhatikan materi muatan yang
tepat dengan jenis peraturan perundangan)
4. Dapat dilaksanakan (harus memperhatikan
efektivitas dalam masyarakat baik secara filosofis,
yuridis maupun sosiologis)

5. Kedayagunaan dan kehasilgunaan (dibuat karena


memang dibutuhkan dan bermanfaat dalam
mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara)
6. Kejelasan rumusan; dan (harus memenuhi
persyaratan teknis penyusunan, sistematika dan
pilihan kata atau terminologi, serta bahasa
hukumnya jelas dan mudah dimengerti, sehingga
tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi
dalam pelaksanaannya)
7. Keterbukaan ( proses pembentukannya dari
perencanaan, persiapan, penyusunan, dan
pembahasan bersifat transparan dan terbuka )
8. Peraturan Desa dilarang bertentangan dengan
kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi

Tahap Persiapan dan Pembahasan


Peraturan Desa
Rancangan Peraturan Desa diprakarsai oleh

Pemerintah Desa dan dapat berasal dari usul inisiatif


BPD
Masyarakat berhak memberikan masukan baik secara
tertulis maupun lisan terhadap Rancangan Peraturan
Desa
Masukan secara tertulis maupun lisan dari masyarakat
dapat dilakukan dalam proses penyusunan rancangan
Peraturan Desa

Rancangan Peraturan Desa dibahas secara

bersama oleh Pemerintah Desa dan BPD


Rancangan Peraturan Desa yang berasal dari
Pemerintah Desa, dapat ditarik kembali sebelum
dibahas bersama BPD
Hasil evaluasi rancangan Perdes disampaikan oleh
Bupati/Walikota kepada Kepala Desa paling lama 20
( dua puluh ) hari sejak rancangan Peraturan Desa
tersebut diterima

PRINSIP PEMBUATAN PERDES YG DIDASARKAN KEARIFAN LOKAL

Prinsip Demokrasi, artinya hrs


mencerminkan keterbukaan,
pelibatan masy, aspek pengakuan
thd hak-hak masy, kemajemukan
dan pertanggung jawaban publik.

Prinsip keberlanjutan adalah


bagaimana asas manfaat utk
generasi selanjutnya
terpelihara dengan baik

Prinsip keadilan, artinya menyangkut


hub. masy. dan negara, pengakuan hak dan
kewajiban terutama thd masy yg terpinggirkan
spt perempuan, buruh dll.

TATA CARA USULAN RAPERDES DARI PEMERINTAH


DESA
Kepala Desa
Raperdes diusulkan Kades kpd
pimp.BPD dng surat Kades.
Pimp BPD menyampaikan
Raperdes kpd seluruh angg
BPD utk ditelaah, dipahami
dan disiapkan masukan bagi
penyempurnaan usulan
Raperdes dr Pemdes (Kades)

Perdes yg telah ditetapkan dng


surat keputusan BPD, diserahkan
kpd Kades utk ditandatangani dan
segera dilaksanakan.

Rapat/Sidang I
Pimp BPD undang semua angg BPD
dng agenda pembahasan dan tanggapan
atas Raperdes usulan Pemdes (Kades).
Raperdes yg diajukan dpt ditambah,
dikurangi, disempurnakan atau ditolak
oleh BPD dng menyebut scr tertulis hal yg
menjadi penyempurnaan atau penolakan.
Hslkan Raperdes yg tlah disempurnakan
Rapat/Sidang II
Dilakukan atas undangan BPD
dihadiri Pemdes utk mendengar
pendapat akhir BPD thd Raperdes yg
diajukan Pemdes (Kades).
Sidang ini dpt ambil persetujuan BPD utk
mengesahkan Raperdes menjadi Perdes.
Menetapkan Raperdes

TATA CARA USULAN RAPERDES DARI BADAN


PERMUSYAWARATAN DESA
Badan Permusyawaratan Desa
Raperdes hsl musywarah BPD
disampaikan scr tertulis kpd
Kades.
Pimpinan BPD menyampaikan
Raperdes tsb kpd seluruh
anggota BPD utk ditelaah

Perdes yg telah ditetapkan dng


surat keputusan BPD,
diserahkan kpd Kades utk
ditandatangani dan sgr
dilaksanakan.

Rapat/Sidang I
Pimp BPD mengundang seluruh angg BPD dng
agenda mendengar tanggapan Kades thd
Raperdes yg diajukan BPD.
Raperdes tsb dpt ditambah, dikurangi,
disempurnakan atau ditolak oleh Kades dng
menyebut scr tertulis hal yg menjadi
penyempurnaan atau penolakan.
Hasilkan Raperdes yg telah disempurnakan
Rapat/Sidang II
Dilakukan atas undangan BPD.
Agendanya mendengarkan pendapat akhir
Kades thd Raperdes yg diajukan BPD.
Sidang ini dpt mengambil ketetapan untuk
mengesahkan Raperdes menjadi Perdes.
Menetapkan Perdes.

Raperdes APBdes,
Pungutan dan Penataan Ruang

Raperdes tentang APBDes, pungutan dan

penataan ruang yang telah disetujui


bersama dengan BPD, sebelum ditetapkan
oleh kepala Desa paling lama 3 (tiga) hari
disampaikan oleh Kepala Desa kepada
Bupati/Walikota untuk dievaluasi.
Hasil evaluasi Raperdes disampaikan oleh
Bupati/ Walikota kepada Kepala Desa paling
lama 20 (dua puluh) hari sejak Raperdes
tersebut diterima.
Apabila Bupati/Walikota belum memberikan
hasil evaluasi rancangan APBDes, Kepala
Desa dapat menetapkan Raperdes tentang
APBdes menjadi Perdes
Evaluasi
rancangan
Perdes
tentang
APBDes dapat didelegasikan kepada Camat

Pengesahan dan Penetapan Peraturan


Desa
Rancangan Perdes yang telah disetujui bersama

oleh Kepala Desa dan BPD disampaikan oleh


pimpinan BPD kepada kepala Desa paling
lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal
persetujuan bersama, untuk ditetapkan menjadi
Peraturan Desa
Rancangan Peraturan Desa wajib ditetapkan
oleh Kepala Desa dengan membubuhkan tanda
tangan paling lambat 30 hari sejak diterimanya
Rancangan Peraturan Desa tersebut.
Peraturan Desa wajib mencantumkan batas
waktu penetapan pelaksanaan

Peraturan Desa sejak ditetapkan dinyatakan

mulai berlaku dan mempunyai kekuatan


hukum yang mengikat, kecuali ditentukan lain
di dalam Peraturan Desa tersebut.

Peraturan Desa tidak boleh berlaku surut

Peraturan Desa dimuat dalam Berita Daerah


Pemuatan Peraturan Desa dalam Berita

Daerah dilakukan oleh Sekretaris Daerah


Pelaksanaan

pengumuman
dapat
didelegasikan kepada Sekretaris Desa

Penyampaian Peraturan Desa


Kepada Bupati/Walikota
Peraturan desa disampaikan oleh Kepala

Desa kepada Bupati/Walikota melalui


camat sebagai bahan pengawasan dan
pembinaan paling lambat 7 ( tujuh ) hari
setelah ditetapkan

Beberapa hal Yang Diatur dengan Perdes Menurut


PP 72 Tahun 2005
Pembentukan dan pemberian sebutan dusun sesuai

kondisi sosial-budaya masyarakat setempat ( Pasal 3


ayat 1,2 )

Susunan organisasi dan tata kerja pemerintahan desa

( Pasal 12 ayat 5 )

Rencana

Pembangunan
( Pasal 64 ayat 2 )

jangka

Menengah

Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa

ayat 3 )

Desa

(Pasal 73

Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa


( Pasal 73 ayat 3 )

Pengelolaan Keuangan Desa ( Pasal 76 )

Badan Usaha Milik Desa ( Pasal 78 ayat 2 )

Pembentukan Lembaga Kemasyarakatan


( Pasal 89 ayat 2 )

Peraturan Desa dan peraturan pelaksanaannya wajib disebarluaskan oleh Pemerintah


Desa kepada masyarakat.

Struktur Peraturan Desa


A. Penamaan/Judul;
B. Pembukaan;
C. Batang Tubuh;
D. Penutup;
E. Lampiran (bila diperlukan)

A. Penamaan Judul
1. Setiap Peraturan Desa mempunyai

penamaan/Judul
2. Penamaan/Judul Peraturan Desa memuat
keterangan mengenai jenis, nomor, tahun dan
tentang nama peraturan yang diatur
3. Nama Peraturan Desa dibuat singkat dan
mencerminkan isi Peraturan Desa
4. Judul ditulis dengan huruf kapital tanpa diakhiri
tanda baca

B. Pembukaan
Pembukaan pada Peraturan Desa terdiri dari:

1. Frasa DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

MAHA ESA (huruf kapital dan tanpa tanda


baca);
2. Jabatan Pembentuk Peraturan Desa
(KEPALA DESA ..,) diakhiri tanda baca
koma (,);
3. Konsiderans (Menimbang: ), berisi uraian
singkat ttg pokok2 pikiran yg menjadi latar
belakang, alasan serta landasan yuridis,
filosofis, sosiologis dan politis dibentuknya
Perdes. Jika konsiderans lebih dari 1 pokok
pikiran, maka setiap pokok pikiran diawali
huruf a, b, cdst dan diakhiri tanda baca
titik koma (;);

Lanjutan bagian Pembukaan Perdes

4.

a.
b.

4.
5.
6.

Dasar Hukum (Mengingat: ), memuat dasar hukum pembuatan


produk hukum (Perdes).
Dasar hukum dibagi 2, yaitu:
Landasan yuridis kewenangan membuat Perdes;
Landasan yuridis materi yang diatur.
Yang dpt dipakai sbg dasar hukum hanya peraturan perundangundangan yg lebih tinggi atau sama derajatnya dg Perdes.
Penulisan dasar hukum harus lengkap dg Lembaran Negara
Repunlik Indonesia, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia, Lembaran Daerah, dan Tambahan Lembaran Daerah
(jika ada)
Dasar hukum dirumuskan secara kronologis dan urut sesuai
derajatnya
Penomoran dasar hukum dg angka arab (1, 2, 3, dst) dan diakhiri
dengan tanda baca titik koma (;);
Frasa Dengan Persetujuan Bersama Badan Permusyawaratan
Desa
Memutuskan; dan
Menetapkan

Lanjutan bagian Pembukaan Perdes

5.

Frasa:
Dengan Persetujuan Bersama
BADAN PERMUSYAWARATAN DESA ........
dan
KEPALA DESA .. (tanpa tanda baca)

6.

MEMUTUSKAN: (DITULIS DG HURUF KAPITAL, POSISI


tulisan di tengah dan diakhiri tanda baca titik dua (:)

7.

Menetapkan (ditulis di tepi kiri dan diakhiri tanda baca titik dua
(:), dilanjutkan penulisan kembali judul lengkap Perdes dg
huruf kapital dan diakhiri tanda baca titik (.).

C. Batang Tubuh (1)


Ketentuan Umum

Ketentuan umum diletakkan dalam bab ke satu


pasal pertama. Jika tidak ada pengelompokan
dalam bab, diletakkan dalam pasal pertama.
Ketentuan umum berisi:
1. batasan dari pengertian;
2. singkatan atau akronim yang digunakan
dalam
Peraturan Desa; dan
3. Hal hal lain yang bersifat umum yang
berlaku
pada pasal-pasal berikutnya

Batang Tubuh (2)


Materi Yang Diatur

Materi yang diatur adalah semua obyek


yang diatur secara sistematik sesuai
dengan lingkup dan pendekatan yang
digunakan. Materi yang diatur harus
memperhatikan dasar-dasar dan kaidahkaidah yang ada seperti:
1. Landasan hukum materi yang diatur,
artinya dalam menyusun materi Perdes
harus memperhatikan dasar hukumnya;

2. Landasan filosofis, artinya alasan yang mendasari


diterbitkannya Peraturan Desa
3. Landasan Sosiologis, maksudnya agar Perdes
yang diterbitkan jangan sampai bertentangan
dengan nilai-nilai yang hidup di tengah-tengah
masyarakat, misalnya adat istiadat, agama
4. Landasan politis; maksudnya agar peraturan desa
yang diterbitkan dapat berjalan sesuai dengan
tujuan.

Batang Tubuh (3)


Ketentuan Peralihan
Ketentuan peralihan timbul sebagai cara mempertemukan
antara azas mengenai akibat kehadiran peraturan baru
dengan keadaan sebelum peraturan baru itu berlaku. Pada
saat peraturan baru berlaku, maka pada dasarnya semua
peraturan lama beserta akibat-akibatnya menjadi tidak
berlaku.
Ketentuan Peralihan berfungsi:
1. Menghidari kemungkinan terjadinya kekosongan hukum
2. Menjamin kepastian hukum
3. Perlindungan hukum bagi rakyat atau kelompok tertentu
atau orang tertentu

Batang Tubuh (4)


Ketentuan Penutup
Ketentuan Penutup Batang Tubuh berisi ketentuanketentuan sebagai berikut:
1. Penunjukan organ atau alat kelengkapan yang
diikutsertakan dalam melaksanakan Peraturan Desa
2. Nama Singkat
3. Ketentuan saat mulai berlakunya Peraturan Desa
4. Ketentuan tentang pengaruh Peraturan Desa yang
baru terhadap Peraturan Desa yang lain

D. Penutup
Penutup suatu Peraturan Desa memuat hal-hal
sebagai berikut:
1. Rumusan tempat dan tanggal penetapan,
diletakkan di sebelah kanan
2. Nama jabatan ditulis dengan huruf kapital dan
pada akhir kata diberi tanda baca koma,
3. Nama lengkap pejabat yang menandatangani,
ditulis dengan huruf kapital tanpa gelar dan
pangkat;
4. Penetapan Peraturan Desa ditandatangani oleh
Kepala Desa

E. Penjelasan
Adakalanya suatu Peraturan Desa memerlukan

penjelasan, baik penjelasan umum maupun penjelasan


pasal demi pasal
Pada bagian penjelasan umum biasanya dimuat politik
hukum yang melatarbelakangi penerbitan Peraturan
Desa yang bersangkutan
Pada bagian penjelasan pasal demi pasal dijelaskan
materi dari norma-norma yang terkandung dalam setiap
pasal di dalam batang tubuh

SELAMAT SUKSES