Anda di halaman 1dari 5

PENGARUH ISOLATOR (FOAM) TERHADAP ALTERASI TEMPERATUR PADA EFEK

MPEMBA
Iip Trisna Maulinda 1)
Wipsar Sunu Brams Dwandaru 2), Eko Widodo 3)
1)
Mahasiswa Program Studi Fisika FMIPA UNY ({HYPERLINK "mailto:iiptrisnamaulinda@gmail.com"})
2), 3)
Dosen Program Studi Fisika FMIPA UNY
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) terjadinya efek Mpemba pada air pada suhu 90oC
dan pada suhu 27oC, (2) pengaruh isolator (foam) terhadap alterasi temperatur dan (3) titik potong laju
penurunan suhu keduanya.
Subjek pada penelitian ini adalah air. Objek penelitian ini adalah proses perubahan suhu tanpa
menggunakan isolator dan dengan menggunakan isolator dari busa (foam). Isolator dilapiskan dengan
beberapa variasi yang berbeda yakni terbuka semua (tanpa isolator), terbuka atas (isolator pada sisi
permukaan selimut tabung dan permukaan alas tabung), terbuka samping (isolator pada permukaan atas
tabung), dan tertutup semua (seluruh permukaan dilapiskan isolator). Metode yang digunakan untuk
menganalisis data adalah dengan menggunakan Microsoft Excel dan Origin 6.1.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terjadi efek Mpemba pada air pada suhu yang 90 oC dan
pada suhu 27oC, (2) isolator (foam) berpengaruh terhadap alterasi temperatur dan (3) titik potong laju
penurunan suhu keduanya adalah: (1) terbuka semua fittingnya berpotongan pada menit ke (x = 50,338)
pada suhu (y = 5,831300) sedangkan kelajuannya berpotongan pada menit ke (x = 67,11864) pada suhu (y
= -0,108) dan percepatannya berpotongan pada menit ke (x = 86,9491525) pada suhu (y = 0,001265308),
(2) terbuka atas fittingnya tidak berpotongan sedangkan kelajuannya berpotongan pada menit ke (x =
67,11864) pada suhu (y = -0,109) dan percepatannya berpotongan pada menit ke (x = 85,42372) pada
suhu (y = 0,0017411), (3) terbuka samping tidak terjadi perpotongan baik fitting, kelajuannya maupun
percepatannya, (4) tertutup semua tidak terjadi perpotongan baik fitting, kelajuannya maupun
percepatannya
Kata-kata kunci: isolator, alterasi temperatur, efek Mpemba
Abstract
The aims of this study were to determine (1) the Mpemba effect on water at 90 oC and 27oC, (2)
the influence of insulator (foam) on the alteration of temperature and (3) the cutoff poin of the decrease of
temperature.
The subjects of this study was water. The object of this study is the alteration of temperature by
without using foam and using foam. Insulation with different designs were applied to two cylindrical
containers, these are: opened all (without insolator), opened at top container (insulator on the cylinder
surface and the surface of the base tubes), with insulators at top and bottom only, and with all sides
covered by insulator (the entire surface covered by insulator). The collected data were then analyzed
using Microsoft Excel and Origin 6.1.
The results showed that (1) the Mpemba effect on water at 90oC and 27oC, (2) the influence of
insulator (foam) on the alteration of temperature and (3) the cutoff poin of the decrease of temperature
are: (1) without insulators: the two fitting graphs intersect at minute (x = 50.338) at a temperature (y =
5.831300) where as velocity intersect at minute (x = 67.11864) at a temperature (y = -0.108) and
acceleration intersect at minute (x = 86.9491525) at a temperature (y = 0.001265308), (2) opened at top

container fitting graphs not intersect, while minute speed intersect at (x = 67.11864) on the temperature (y
= -0.109) and acceleration minute intersect at (x = 85.42372 ) on the temperature (y = 0.0017411), (3)
with insulators at top and bottom only not intersected well fitting, speed and acceleration, (4) with all
sides covered by insulator intersected well fitting, speed and acceleration
Key words: insulator, the alteration of temperature, Mpemba effect
1. Pendahuluan
Jika ada dua container berisi air dengan
jenis air yang sama, volume yang sama, dengan
suhu yang berbeda (90oC dan 27oC) ketika
dimasukkan ke dalam freezer apa yang terjadi?
Serentak orang akan mengatakan bahwa air
yang bersuhu lebih rendah yakni 27oC akan
lebih cepat membeku dibandingkan dengan air
bersuhu tinggi yakni 90oC. Mereka berasumsi
bahwa air dengan suhu lebih tinggi
membutuhkan waktu lebih lama untuk
mencapai suhu nol derajat celcius. Sehingga
membeku lebih lama dibandingkan dengan air
bersuhu rendah. Ternyata yang terjadi adalah
air dengan suhu yang lebih tinggi lebih cepat
membeku. Peristiwa ini disebut dengan efek
Mpemba, yang diambil dari Erasto B. Mpemba
yaitu seorang pelajar sekolah menengah (SMA)
di Tanzania Afrika yang pada tahun 1963
menemukan peristiwa aneh tersebut. Secara
tidak sengaja saat berada dalam kelas memasak
ketika ia ingin membekukan adonan es krim
panas dan menemukan bahwa adonannya ini
membeku lebih cepat daripada adonan lain
yang sudah dingin.
Beberapa peneliti berasumsi peristiwa ini
terjadi karena adanya evaporasi, yang lainnya
mengatakan adanya konveksi. Namun sampai
saat ini belum ada satu pun dari para peneliti
yang mampu menjelaskan secara pasti apa
yang menyebabkan terjadinya efek Mpemba.
Peristiwa
efek
Mpemba
berpotensi
menyebabkan terjadinya salah konsep bagi
guru,
mahasiswa
dan
peneliti
yang
berkecimpung dalam bidang Fisika. Oleh
karena itu diperlukan penelitian yang lebih
dalam terhadap berbagai faktor yang
berpengaruh terhadap efek tersebut. Peneliti
berpendapat bahwa isolator pada wadah
(container) air berpengaruh terhadap efek
Mpemba. Untuk itu penelitian telah dilakukan

untuk mengungkap pengaruh isolator terhadap


penurunan suhu pada efek Mpemba.
2. Kajian Pustaka
Efek Mpemba adalah salah satu gejala
anomali air dimana air dengan suhu tinggi
lebih cepat membeku daripada air dengan suhu
yang lebih rendah. Efek Mpemba pertama kali
ditemukan pada tahun 1963, oleh seorang
siswa SMA Tanzania yang bernama Mpemba
dan menerbitkan hasil penelitian tersebut
dalam sebuah jurnal Physics Education dengan
judul The Mpemba Effect bersama Dr. G.
Osborne. Hasil penelitian oleh Mpemba dan
Dr. Osborne disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Grafik hubungan antara temperatur


awal air dengan waktu yang diperlukan untuk
mencapai titik 00C (oleh Mpemba dan
Osborne). Dikutip dari: Keanu Po-Yen Hsu.
2008. A Study of the Mpemba Effect and
Water Solidification, a master thesis in
National Taiwan University of Science and
Technology

{ PAGE

\* MERGEFORMAT }

3. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan air sumur
Universitas Negeri Yogyakarta yang diambil
dari keran. Sampel air digunakan sebanyak 2
sampel dengan jumlah air masing-masing 100
ml. Salah satu sampel air diberi perlakuan
dengan pemanasan sebesar 90oC, sedangkan
sampel air lainnya digunakan dengan suhu
ruangan yaitu 27oC. wadah sampel air berupa
beaker glass dengan diberi variasi penyekat
wadahnya yang berbahan foam. Macam varian
penyekat wadahnya adalah wadah air terbuka
semua (tanpa isolator), terbuka atas (isolator
pada sisi permukaan selimut tabung dan
permukaan alas tabung), terbuka samping
(isolator pada permukaan atas tabung), dan
tertutup semua (seluruh permukaan dilapiskan
isolator). Air pada masing-masing beaker glass
yang telah diberi perlakuan di masukan ke
dalam freezer secara bersamaan, dan dilihat
perubahan suhunya yang terjadi setiap 5 menit
sampai menit ke 90. Semua langkah kerja di
atas dilakukan untuk setiap penyekat wadah
dan diulang sebanyak 5 kali. 5 hasil data yang
didapatkan pada masing-masing perlakuan
penyekat wadah, kemudian dirata-ratakan.
Hasil dari rata-rata data dianalisis dalam
bentuk grafik menggunakan program Origin
6.1.
4. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Grafik perubahan penurunan suhu air
terhadap
waktu,
mendekati
grafik
eksponensial. Maka, fitting grafik yang
digunakan untuk grafik penurunan suhu air
terhadap waktu adalah fitting exponensial
(Decay 1). Dengan menggunakan persamaan
ini diperoleh tingkat kesalahan yang cukup
kecil, jika dibandingkan dengan model yang
lainnya, hal itu ditandai dengan nilai R2 yang
mendekati 1. Pada grafik eksponensial, nilai A1
merupakan titik potong grafik dengan sumbu y,
nilai 1/t1 menyatakan kemiringan dari grafik
eksponensial, y0 adalah ketetapan.
Berikut grafik dari perubahan penurunan
suhu terhadap waktu masing-masing sampel air
pada masing-masing perlakuan wadah.

{ EMBED PowerPoint.Slide.12 }Gambar 2. Grafik


perubahan penurunan suhu terhadap waktu
terbuka atas
Pada Gambar 2 di atas dapat kita lihat
bahwa fitting grafik perubahan penurunan suhu
90oC mula-mula (saat menit ke-0 adalah
84,9059) sementara fitting grafik perubahan
penurunan suhu 27oC mula-mula (saat menit
ke-0 adalah 27,1935), seiring berjalannya
waktu fitting grafik perubahan penurunan suhu
90oC pada menit terakhir (menit ke-90 menjadi
7,55914) sedangkan fitting grafik perubahan
penurunan suhu 27oC pada menit terakhir
(menit
ke-90
menjadi 6,01604). Ini
menunjukkan bahwa grafik perubahan
penurunan suhu pada suhu 90oC lebih cepat
jika dibandingkan dengan suhu 27oC walaupun
tidak terjadi titik perpotongan antara kedua
grafik.
{ EMBED PowerPoint.Slide.12 }Gambar 3. Grafik
perubahan penurunan suhu terhadap waktu
terbuka samping
Pada Gambar 3 di atas dapat kita lihat
bahwa fitting grafik perubahan penurunan suhu
90oC mula-mula (saat menit ke-0 adalah
89,4063) sementara fitting grafik perubahan
penurunan suhu 27oC mula-mula (saat menit
ke-0 adalah 26,9682), seiring berjalannya
waktu fitting grafik perubahan penurunan suhu
90oC pada menit terakhir (menit ke-90 menjadi
5,86873) sedangkan fitting grafik perubahan
penurunan suhu 27oC pada menit terakhir
(menit
ke-90
menjadi 1,98336). Ini
menunjukkan bahwa grafik perubahan
penurunan suhu pada suhu 90oC lebih cepat
jika dibandingkan dengan suhu 27oC walaupun
tidak terjadi titik perpotongan antara kedua
grafik.
{ EMBED PowerPoint.Slide.12 }Gambar 4. Grafik
perubahan penurunan suhu terhadap waktu
terbuka semua
Pada Gambar 4 di atas dapat kita lihat
bahwa fitting grafik perubahan penurunan suhu
{ PAGE

\* MERGEFORMAT }

90oC mula-mula (saat menit ke-0 adalah


89,9368) sementara fitting grafik perubahan
penurunan suhu 27oC mula-mula (saat menit
ke-0 adalah 25,839), seiring berjalannya waktu
fitting grafik perubahan penurunan suhu 90oC
pada menit terakhir (menit ke-90 menjadi
0,67551) sedangkan fitting grafik perubahan
penurunan suhu 27oC pada menit terakhir
(menit
ke-90
menjadi 2,78115). Ini
menunjukkan bahwa grafik perubahan
penurunan suhu pada suhu 90oC lebih cepat
jika dibandingkan dengan suhu 27oC dan
terjadi titik perpotongan antara kedua grafik
pada menit ke 50,339 pada suhu 5,8313 oC.
{ EMBED PowerPoint.Slide.12 }Gambar 5. Grafik
perubahan penurunan suhu terhadap waktu
tertutup semua
Pada Gambar 5 di atas dapat kita lihat
bahwa fitting grafik perubahan penurunan suhu
90oC mula-mula (saat menit ke-0 adalah
89,4177) sementara fitting grafik perubahan
penurunan suhu 27oC mula-mula (saat menit
ke-0 adalah 27,1878), seiring berjalannya
waktu fitting grafik perubahan penurunan suhu
90oC pada menit terakhir (menit ke-90 menjadi
16,3752) sedangkan fitting grafik perubahan
penurunan suhu 27oC pada menit terakhir
(menit
ke-90
menjadi 6,76174). Ini
menunjukkan bahwa grafik perubahan
penurunan suhu pada suhu 90oC lebih cepat
jika dibandingkan dengan suhu 27oC walaupun
tidak terjadi titik perpotongan antara kedua
grafik.
Berdasarkan uraian di atas, dapat
disimpulkan
bahwa
grafik
perubahan
penurunan suhu air terhadap waktu pada air
yang bersuhu 90oC lebih cepat menuju titik nol
derajat daripada air dengan suhu 27oC. Hal ini
dapat juga dibuktikan dari nilai kemiringan
garis (gradient) masing-masing grafik sampel
air, yang diwakilkan oleh nilai

pada grafik

fitting eksponensial decay 1. Berikut adalah


tabel nilai gradien masing-masing grafik
sampel air.

Tabel 1. Nilai gradien pada grafik perubahan


penurunan suhu terhadap waktu pada setiap
kondisi wadah
Kondisi
wadah
Terbuka
atas
Terbuka
samping
Terbuka
semua
Tertutup
semua

Nilai t1

Nilai Gradien

90oC

27oC

90oC

27oC

18,268

39,594

0,0547

0,025

23,970

24,308

0,0417

0,041

18,399

26,328

0,0543

0,037

44,5225

71,533

0,0224

0,013

Grafik dengan nilai gradien yang besar


menunjukan bahwa grafik tersebut curam dan
grafik dengan nilai gradien yang kecil
menunjukan bahwa grafik tersebut landai. Pada
kasus perubahan penurunan suhu air, grafik
yang curam menunjukkan bahwa data pada
grafik tersebut berada pada suhu yang lebih
tinggi dan grafik yang landai menunjukkan
bahwa data pada grafik tersebut berada pada
suhu yang lebih rendah.
5. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan
bahwa:
1. Terjadi efek Mpemba pada pendinginan air
yang bersuhu 90oC dan yang bersuhu 27oC
2. Isolator (foam) berpengaruh terhadap
alterasi temperatur pada efek Mpemba
3. Laju penurunan suhu dan titik potongnya
(fitting, kelajuan dan percepatan):
a. Terbuka atas kedua grafik sebagai hasil
fitting data tidak berpotongan sedangkan
kelajuannya berpotongan pada menit ke
(x = 67,11864) pada suhu (y = -0,109)
dan percepatannya berpotongan pada
menit ke (x = 85,42372) pada suhu (y =
0,0017411)
b. Terbuka
samping
tidak
terjadi
perpotongan baik kedua grafik sebagai
hasil fitting data, kelajuan maupun
percepatannya
{ PAGE

\* MERGEFORMAT }

c. Terbuka semua kedua grafik sebagai


hasil fitting data berpotongan pada menit
ke (x = 50,338) pada suhu (y =
5,831300)
sedangkan
kelajuannya
berpotongan pada menit ke (x =
67,11864) pada suhu (y = -0,108) dan
percepatannya berpotongan pada menit
ke (x = 86,9491525) pada suhu (y =
0,001265308)
d. Tertutup
semua
tidak
terjadi
perpotongan baik kedua grafik sebagai
hasil fitting data, kelajuan maupun
percepatannya
6. Daftar Pustaka
[1] Jeng, Monhwea. 2006. The Mpemba
Effect: When hot water freeze quicker than
cold. Am. J. Phys, Vol 74, No.6.11 514-522

diakses dari {HYPERLINK


"http://arxiv.org/abs/physics/0512262"}, pada
tanggal 22 Juli 2012
[2] Keanu Po-Yen Hsu. 2008. A study of the
Mpemba Effect and Water Solidification, a
master thesis in National Taiwan University of
Science and Technology
[3] Sears & Salinger. 1975. Thermodynamics,
Kinetic Theory, and Statistical
Thermodynamics (third edition). New York:
Addison Wesley
[4] Frank Kreith dan Arko Prijono M.Sc.
1991. Prinsip-prinsip Perpindahan Panas
(edisi ketiga). Jakarta: Erlanga.

{ PAGE

\* MERGEFORMAT }