Anda di halaman 1dari 25

Kasus Malpraktek dalam Bidang Kedokteran di Indonesia

Dipandang dari Aspek Hukum

Pembimbing :
Dr. dr. Wawan Mulyawan, Sp.BS, AAK

Disusun oleh :
Vanda Sativa Julianti, S.Ked (030.09.261)
Malvin Giovanni, S.Ked (030.09.141)
Adventisia Maria N. Manek, S.Ked (10.2010.337)

KEPANITERAAN KLINIK
RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA DR. ESNAWAN ANTARIKSA
PERIODE 28 APRIL 31 MEI 2014

BAB I
PENDAHULUAN

Dunia kedokteran yang dahulu seakan tak terjangkau oleh hukum, dengan
berkembangnya kesadaran masyarakat akan kebutuhannya tentang perlindungan hukum
menjadikan dunia pengobatan bukan saja sebagai hubungan keperdataan, bahkan sering
berkembang menjadi persoalan pidana. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan hak-haknya
ini sebenarnya merupakan salah satu indikator positif dengan meningkatnya kesadaran hukum di
dalam masyarakat. Namun, sisi negatifnya adalah adanya kecenderungan meningkatnya kasus
tenaga kesehatan ataupun rumah sakit di somasi, diadukan atau bahkan dituntut pasien yang
akibatnya seringkali membekas bahkan mencekam para tenaga kesehatan yang tentunya akan
mempengaruhi proses pelayanan kesehatan tenaga kesehatan di kemudian hari. Masalahnya tidak
setiap upaya pelayanan kesehatan hasilnya selalu memuaskan semua pihak terutama pasien, yang
selanjutnya dengan mudah akan menimpakan beban kepada pasien bahwa telah terjadi
malpraktek.
Kedudukan pasien yang semula hanya sebagai pihak yang bergantung pada dokter dalam
menentukan cara penyembuhan (terapi) kini berubah menjadi sederajat dengan dokter. Dengan
demikian dokter tidak boleh lagi mengabaikan pertimbangan dan pendapat pihak pasien dalam
memilih cara pengobatan. Akibatnya apabila pasien merasa dirugikan dalam pelayanan dokter
maka pasien akan mengajukan gugatan terhadap dokter untuk memberikan ganti rugi terhadap
pengobatan yang dianggap merugikan dirinya.
Dari definisi malpraktek adalah kelalaian dari seseorang dokter atau perawat untuk
mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati dan merawat
pasien, yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran
dilingkungan yang sama. Dari definisi tersebut malpraktek harus dibuktikan bahwa apakah
benar telah terjadi kelalaian tenaga kesehatan dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan
keterampilan yang ukurannya adalah lazim dipergunakan diwilayah tersebut. Andaikata akibat
yang tidak diinginkan tersebut terjadi apakah bukan merupakan resiko yang melekat terhadap
suatu tindakan medis tersebut (risk of treatment) karena perikatan dalam transaksi terapeutik
antara tenaga kesehatan dengan pasien adalah perikatan/perjanjian jenis daya upaya (inspaning
verbintenis) dan bukan perjanjian/perjanjian akan hasil (resultaa verbintenis).
2

Apabila tenaga tenaga kesehatan didakwa telah melakukan kesalahan profesi, hal ini
bukanlah merupakan hal yang mudah bagi siapa saja yang tidak memahami profesi kesehatan
dalam membuktikan ada dan tidaknya kesalahan.
Gugatan malpraktek medis bermula dari dua pandangan yang berbeda antara dokter yang
menjanjikan terapi (inspanning verbentenis) dan pasien yang mengharapkan (resultant
verbentenis). Dalam perspektif dokter, jasa yang mereka berikan adalah suatu transaksi upaya
(therapeutic) sementara pasien memandang bahwa dokter harus bertanggung-jawab atas hasil
tindakan medisnya, apalagi bila terjadi kejadian yang tidak diharapkan (adverse event). Kejadian
yang tidak diharapkan tidak selalu merupakan malpraktek. Malpraktek selalu didahului oleh
error. Kesalahan yang terjadi bisa berupa kesalahan diagnostik, kesalahan pengobatan,
kesalahan tidak melakukan pencegahan, dan kesalahan lain-lain seperti kesalahan komunikasi.
Dalam tugas pokoknya untuk mempertahankan kehidupan dan mengurangi penderitaan,
dokter mengambil tindakan-tindakan yang sesuai dengan keahliannya, sumpah profesi, dan
hukum serta peraturan yang berlaku. Namun kesalahan dan kelalaian bisa saja terjadi. Secara
kategoris ada empat macam pelanggaran yang mungkin dilakukan oleh dokter yaitu berupa etika
(sanksi diberikan oleh MKEK); disiplin (sanksi oleh MKDKI); administrasi (ditertibkan oleh
dinas atau departemen kesehatan); dan hukum (penegak hukum).

BAB II
PEMBAHASAN MALPRAKTEK

2.1 Malpraktek
Malpraktek atau malpractice berasal dari kata mal yang berarti buruk dan practice
yang berarti suatu tindakan atau praktik, dengan demikian malpraktek adalah suatu tindakan
medis buruk yang dilakukan dokter dalam hubungannya dengan pasien.
Menurut Blacks Law Dictionary mendefinisikan malpraktek sebagai professional
misconduct or unreasonable lack of skill atau failure of one rendering professional services to
exercise that degree of skill and learning commonly applied under all the circumstances in the
community by the average prudent reputable member of the profession with the result of injury,
loss or damage to the recipient of those services or to those entitled to rely upon them.
Pengertian malpraktek di atas bukanlah monopoli bagi profesi medis, melainkan juga berlaku
bagi profesi hukum (misalnya mafia peradilan), akuntan, perbankan, dan lain-lain.
Sedangkan pengertian malpraktek medis menurut World Medical Association (1992)
adalah: medical malpractice involves the physicians failure to conform to the standard of care
for treatment of the patients condition, or lack of skill, or negligence in providing care to the
patient, which is the direct cause of an injury to the patient yang berarti adanya kegagalan dokter
untuk menerapkan standar pelayanan terapi terhadap pasien, atau kurangnya keahlian, atau
mengabaikan perawatan pasien, yang menjadi penyebab langsung terhadap terjadinya cedera
pada pasien.
Selain pengertian diatas definisi lain dari malpraktek adalah setiap kesalahan profesional
yang diperbuat oleh dokter pada waktu melakukan pekerjaan profesionalnya, tidak memeriksa,
tidak menilai, tidak berbuat atau meninggalkan hal-hal yang diperiksa, dinilai, diperbuat atau
dilakukan oleh dokter pada umumnya didalam situasi dan kondisi yang sama (Berkhouwer &
Vorsman, 1950), selain itu menurut Hoekema (1981), malpraktek adalah setiap kesalahan yang
diperbuat oleh dokter karena melakukan pekerjaan kedokteran dibawah standar yang sebenarnya
secara rata-rata dan masuk akal, dapat dilakukan oleh setiap dokter dalam situasi atau tempat
yang sama, dan masih banyak lagi definisi tentang malpraktek yang telah dipublikasikan.
Dalam tata hukum Indonesia tidak dikenal istilah malpraktek, pada undang-undang No.
23 tahun 1992 tentang kesehatan disebut sebagai kesalahan atau kelalaian dokter sedangkan
4

dalam undang-undang No. 29 tahun 2004 tentang praktek kedokteran dikatakan sebagai
pelanggaran disiplin dokter. Sehingga dari berbagai definisi malpraktek diatas dan dari
kandungan hukum yang berlaku di Indonesia dapat ditarik kesimpulan bahwa pegangan pokok
untuk membuktikan malpraktek yakni dengan adanya kesalahan tindakan profesional yang
dilakukan oleh seorang dokter ketika melakukan perawatan medik dan ada pihak lain yang
dirugikan atas tindakan tersebut.
Secara material suatu tindakan medis tidak bertentangan dengan hukum apabila
memenuhi ketiga syarat berikut, yaitu :
1. Mempunyai indikasi medis ke arah suatu tujuan perawatan yang konkrit
2. Dilakukan menurut ketentuan yang berlaku di dalam ilmu kedokteran
3. Telah mendapat persetujuan pasien
Kedua syarat pertama disebut juga sebagai tindakan yang lege artis atau sesuai dengan
standar profesi medis. Syarat ketiga merupakan salah satu hak pasien yang terpenting yaitu hal
atas informed consent.[1,2]
2.1.1

Kelalaian (negligence)
Di dalam konteks hukum medik istilah dan kasus kelalaian dapat dikatakan memenuhi

sebagian besar kepustakaan yang menyangkup yurisprudensinya. Kadang kadang secara umum
dipakai istilah malpraktek medik atau kelalaian medik. Malpraktek adalah istilah umum
yang sebenarnya bukan hanya bisa terjadi di dunia kedokteran saja. Profesi lainpun, seperti
hukum atau akuntan atau apoteker juga bisa dituntut berdasarkan malpraktek profesinya.
Sehingga jika berbicara mengenai masalah yang menyangkut bidang medik, sebaiknya ditambah
juga dengan embel-embel medik sehingga menjadi malpraktek medik (medical malpractice).
Kelalaian medik adalah salah satu bentuk dari malpraktek medis, sekaligus merupakan bentuk
malpraktek medis yang paling sering terjadi. Pada dasarnya kelalaian terjadi apabila seseorang
melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan atau tidak melakukan sesuatu yang
seharusnya dilakukan oleh orang lain yang memiliki kualifikasi yang sama pada suatu keadaan
dan situasi yang sama. Perlu diingat bahwa pada umumnya kelalaian yang dilakukan orang-perorang bukanlah merupakan perbuatan yang dapat dihukum, kecuali apabila dilakukan oleh orang
yang seharusnya (berdasarkan sifat profesinya) bertindak hati-hati, dan telah mengakibatkan
kerugian atau cedera bagi orang lain.

Apa yang dinamakan kelalaian medik (medical negligance) adalah ketentuan legal yang
terdiri dari tiga unsur:
1. Terdapat hubungan antara dokter dan pasien
2. Dokter itu telah melanggar kewajibannya, karena tidak memenuhi standar pemberian
pelayanan.
3. Pelanggaran itu telah menyebabkan pasien menderita kerugian (harm) yang
sebenarnya dapat dibayangkan dan secara wajar dapat dicegah.
Evidence-based guidelines dapat mempengaruhi unsur kedua yaitu dengan cara
bagaimana pengadilan itu mengadakan penilaiannya. Sebagaimana dikatakan di atas, bahwa
dalam common law terdapat ketegangan antara (1) tes yang bersifat deskriptif dari kelalaian
medik yang mengukur sikap-tindak yang dilakukan di dalam praktek, dan (2) tes normatif yang
memfokuskan diri terhadap apa yang seharusnya dilakukan. Yang pertama secara umum
menganggap cara menjalankan praktik profesional adalah yang sudah diterima dan berdasarkan
standar legal. Sedangkan yang terakhir mengizinkan standar-standar yang ditentukan dengan
kriteria lain, seperti yang ditetapkan di dalam pernyataan untuk good practice atau pedoman
yang berdasarkan evidence-based.
Kelalaian dapat terjadi dalam 3 bentuk, malfeasance, misfeasance dan nonfeasance:
1. Malfeasance berarti melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tidak tepat/layak
(unlawful atau improper), misalnya melakukan tindakan medis tanpa indikasi yang memadai
(pilihan tindakan medis tersebut sudah improper).
2. Misfeasance berarti melakukan pilihan tindakan medis yang tepat tetapi dilaksanakan
dengan tidak tepat (improper performance), yaitu misalnya melakukan tindakan medis dengan
menyalahi prosedur.
3. Nonfeasance adalah tidak melakukan tindakan medis yang merupakan kewajiban
baginya. Bentuk-bentuk kelalaian di atas sejalan dengan bentuk- bentuk error (mistakes, slips
and lapses) yang akan diuraikan di bawah, namun pada kelalaian harus memenuhi ke-empat
unsur kelalaian dalam hukum khususnya adanya kerugian, sedangkan error tidak selalu
mengakibatkan kerugian. Demikian pula adanya latent error yang tidak secara langsung
menimbulkan dampak buruk.

Unsur-unsur Kelalaian
Dalam suatu layanan medik dikenal gugatan ganti kerugian yang diakibatkan oleh
kelalaian medik. Suatu perbuatan atau tindakan medis disebut sebagai kelalaian apabila
memenuhi empat unsur di bawah ini:
1. Duty to use due care. Duty atau kewajiban tenaga medis untuk melakukan sesuatu
tindakan medis atau untuk tidak melakukan sesuatu tindakan tertentu terhadap pasien tertentu
pada situasi dan kondisi yang tertentu. Dasar dari adanya kewajiban ini adalah adanya hubungan
kontraktual-profesional antara tenaga medis dengan pasiennya, yang menimbulkan kewajiban
umum sebagai akibat dari hubungan tersebut dan kewajiban profesional bagi tenaga medis
tersebut. Kewajiban profesional diuraikan di dalam sumpah profesi, etik profesi, berbagai standar
pelayanan, dan berbagai prosedur operasional. Kewajiban-kewajiban tersebut dilihat dari segi
hukum merupakan rambu- rambu yang harus diikuti untuk mencapai perlindungan, baik bagi
pemberi layanan maupun bagi penerima layanan; atau dengan demikian untuk mencapai safety
yang optimum. Contoh : seorang dokter terkenal di dalam pesawat duduk di sebelah seorang
penumpang lain yang baru dikenal. Karena wajah sang dokter sering terdapat di majalah maka
orang itu langsung mengenalinya dan mulai membuka pembicaraan. Antara mana diceritakan
tentang penyakitnya dan juga menanyakan obat apa yang harus Ia makan. Sang dokter
menyebutkan beberapa obat yang biasa ia pergunakan. Orang itu lalu membelinya di apotik dan
meminumnya, namun ternyata tidak cocok karena terdapat kontraindikasi untuknya, sehingga
menderita luka karenanya. Orang itu kemudian menuntut dokter tersebut, tapi di tolak oleh
hakim karena tidak memenuhi unsur pertama tersebut, dalam arti tidak ada hubungan sebagai
dokter pasien.
2. Dereliction of the duty atau penyimpangan kewajiban tersebut. Dalam menilai
kewajiban dalam bentuk suatu standar pelayanan tertentu, haruslah kita tentukan terlebih dahulu
tentang kualifikasi si pemberi layanan (orang dan institusi), pada situasi seperti apa dan pada
kondisi bagaimana. Suatu standar pelayanan umumnya dibuat berdasarkan syarat minimal yang
harus diberikan atau disediakan (das sein), namun kadang-kadang suatu standar juga melukiskan
apa yang sebaiknya dilakukan atau disediakan (das sollen). Kedua uraian standar tersebut harus
hati-hati diinterpretasikan. Demikian pula suatu standar umumnya berbicara tentang suatu situasi
dan keadaan yang normal sehingga harus dikoreksi terlebih dahulu untuk dapat diterapkan
pada situasi dan kondisi yang tertentu. Dalam hal ini harus diperhatikan adanya Golden Rule
7

yang menyatakan What is right (or wrong) for one person in a given situation is similarly right
(or wrong) for any other in an identical situation.
3. Damage atau kerugian. Yang dimaksud dengan kerugian adalah segala sesuatu yang
dirasakan oleh pasien sebagai kerugian akibat dari layanan kesehatan / kedokteran yang
diberikan oleh pemberi layanan. Jadi, unsur kerugian ini sangat berhubungan erat dengan unsur
hubungan sebab-akibatnya. Kerugian dapat berupa kerugian materil dan kerugian imaterial.
Kerugian yang materil sifatnya dapat berupa kerugian yang nyata dan kerugian sebagai akibat
kehilangan kesempatan. Kerugian yang nyata adalah real cost atau biaya yang dikeluarkan
untuk perawatan / pengobatan penyakit atau cedera yang diakibatkan, baik yang telah
dikeluarkan sampai saat gugatan diajukan maupun biaya yang masih akan dikeluarkan untuk
perawatan / pemulihan. Kerugian juga dapat berupa kerugian akibat hilangnya kesempatan untuk
memperoleh penghasilan (loss of opportunity). Kerugian lain yang lebih sulit dihitung adalah
kerugian imaterial sebagai akibat dari sakit atau cacat atau kematian seseorang.
4. Direct causal relationship atau hubungan sebab akibat yang nyata. Dalam hal ini harus
terdapat hubungan sebab-akibat antara penyimpangan kewajiban dengan kerugian yang
setidaknya merupakan proximate cause.[1,2]

BAB III
ANALISA KASUS
3.1 Kronologi Kasus
Pada tanggal 14 mei 2009, korban berobat pada salah satu dokter yang berpraktik di kota
Pematang Siantar, kota yang sama dengan domisili korban. Korban menyampaikan keluhannya,
yaitu jika korban haid darahnya bergumpal, bahwa terhadap korban dilakukan pemeriksaan USG
dan hasilnya ditemukan adanya myoma uteri (pembesaran otot rahim), yang harus dibuang
melalui tindakan operasi.
Korban menyetujui

saran dari dokter tersebut, namun saat pemeriksaan Hb

(Hemoglobin) korban terlalu rendah, oleh karenanya tidak dimungkinkannya dilakukan tindakan
operasi. Untuk itu Hb harus dinaikkan melalui transfusi darah.
Kemudian korban dirujuk ke dr. H. P. P., SpOG yang berpraktik di RS. SANTA
ELISABETH yang beralamat di jl. Haji Misbah no.7 Medan, dengan jaminan bahwa alatnya
lebih lengkap dan beliau adalah dokter yang bagus dan baik.
Pada tanggal 19 mei 2009, korban mendatangi praktik dr. H Partogi P, SpOG, setelah
dilakukan pemeriksaan maka terhadap korban perlu dilakukan Biopsi (pengambilan sebagian
jaringan untuk diperiksa) dan dianjurkan untuk dirawat inap di RS. Santa Elisabeth Medan.
Kemudian, pada tanggal 20 mei 2009, penggugat jadi menjalani rawat inap di RS. Santa
Elisabeth Medan, dimana dr. H P P, SpOG mengatakan agar dilakukan tindakan kuret (dikerok
dinding rahim) tanpa menjelaskan apa maksud dan tujuan dari tindakan tersebut, namun pada
kenyataannya bukan tindakan kuret yang dilakukan melainkan tindakan pengangkatan rahim.
Pada tanggal 27 mei 2009, pada pukul 08.00 wib sampai dengan 12.30 WIB, dr. H P P,
SpOG melakukan operasi pada korban. Pasca operasi, setelah korban sadar korban tidak dapat
mengeluarkan urin di kateter, hal ini berlangsung hingga pagi esok harinya. Kemudian pagi itu
juga dilakukan USG terhadap korban oleh dr. H P P, SpOG dan hasilnya ada penyumbatan lalu
kemudian dilakukan kembali operasi untuk kedua kalinya selama tiga jam. Sampai hari kedua
pasca operasi, urin keluar dari kateter, tetapi pada hari ketiga dan seterusnya, ada urin keluar
9

melalui vagina (seperti beser), pernah dilakukan peneropongan dari vagina dan dijelaskan bahwa
ada bocor yang halus sekali pada kandung kemih korban. Dan kemudian dr. H P P, SpOG
memberikan obat dan menyatakan akan sembuh. Setelah tiga minggu kateter dibuka, ternyata
urin keluar melalui vagina tanpa sadar dan tidak bisa ditahan.
Setelah korban dirawat selama 25 hari di RS. Santa Elisabeth Medan, korban merasa
penyakitnya tidak kunjung sembuh, malah makin parah. Akhirnya korban memutuskan untuk
pindah ke RS COLUMBIA ASIA Medan, setelah dilakukan pemeriksaan dan hasil pemeriksaan
menyebutkan ada kanker dan perlu dirawat untuk kemoterapi dan radiasi. Namun karena sering
beser, kemo tidak jadi dilaksanakan, lalu kemudian korban dipindahkan ke Rumah Sakit PGI
Cikini Jakarta pada tanggal 1 juni 2009.
Sesampainya di RS PGI Cikini, korban ditangani oleh dr. E E S, SpU. Dan selama 2
minggu dilakukan pemeriksaan ulang terhadap korban karena tidak adanya rekaman medik
korban selama dirawat di RS. Santa Elisabeth Medan.
Kemudian oleh dr. E E, SpU membentuk tim untuk melakukan tindakan operasi terhadap
korban. Setelah dua jam operasi dilakukan, pihak keluarga korban diminta masuk ke ruangan
operasi untuk memperlihatkan hasil operasi yang pernah dilakukan di RS. Santa Elisabeth
Medan, oleh dr. H P P, SpOG yaitu adanya 2 (dua) robekan sebesar ibu jari dan tidak
mungkin untuk diperbaiki lagi, serta masih adanya kelenjar yang tertinggal dan masih
belum bersih. Hal ini sangat berbeda dengan penjelasan sebelumnya oleh dr. H P P, SpOG
yang menyatakan bahwa kebocorannya sangat halus dan akan sembuh setelah diobati.
Saat itu juga dr. E E S, SpU dan dr. C, SpOK (Onk) menjelaskan bahwa kebocoran tersebut dapat
diperbaiki tetapi hanya bertahan satu minggu, sementara korban membutuhkan dilakukannya
tindakan radiasi agar kankernya tidak menyebar kemana-mana. Solusi akhir adalah dilakukannya
tindakan penutupan kandung kemih dan dipasangnya kateter langsung dari ginjal secara
permanen.
Selain dari semua proses operasi tersebut, korban telah juga menjalani 25 kali radiasi luar
dan 2 kali radiasi dalam.

10

Akibat dari semuanya itu, korban mengalami cacat permanen, kondisi fisik yang
menurun yang dapat dijelaskan dengan berulang-kalinya korban harus dirawat inap di rumah
sakit dengan keluhan yang sama, yaitu pada ginjal : (25 mei 2010 s/d 29 mei 2010, 06 sep 2011
s/d 10 sep 2011, 10 jan 2012 s/d 12 jan 2012, 26 mar 2012 s/d 29 mar 2012, 10 sep 2012 s/d 13
sep 2012) dan kondisi ini tidak tahu akan terulang untuk berapa kali lagi. Disamping itu setiap
satu bulan, korban harus melakukan kurang lebih tujuh jam perjalanan dari kota domisili korban
di Pematang Siantar ke Kota Medan untuk mengganti selang yang tertanam pada ginjal korban,
termasuk mengganti perban penutup lubang pada pinggang kiri kanan setiap tiga hari yang
terpaksa dilakukan sendiri dengan dibantu keluarga.

3.2 Dasar Hukum


Akhir-akhir ini tuntutan hukum yang diajukan oleh pasien atau keluarganya kepada pihak
rumah sakit dan atau dokternya semakin meningkat kekerapannya. Tuntutan hukum tersebut
dapat berupa tuntutan pidana maupun perdata, dengan hampir selalu mendasarkan kepada teori
hukum kelalaian. Dalam bahasa sehari-hari, perilaku yang dituntut adalah malpraktik medis,
yang merupakan sebutan genus (kumpulan) dari kelompok perilaku profesional medis yang
menyimpang dan mengakibatkan cedera, kematian atau kerugian bagi pasiennya.
Berdasarkan Undang-Undang Praktek Kedokteran No. 29 tahun 2004[3]
Pasal 2
Praktik kedokteran dilaksanakan berasaskan Pancasila dan didasarkan pada nilai ilmiah, manfaat,
keadilan, kemanusiaan, keseimbangan, serta perlindungan dan keselamatan pasien.
Pasal 45
(1) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter
gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan.
(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat
penjelasan secara lengkap.
(3) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup :

diagnosis dan tata cara tindakan medis;


11

tujuan tindakan medis yang dilakukan;

alternatif tindakan laindari risikonya;

risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan

prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.

(4) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan baik secara tertulis maupun
lisan.
(5) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung risiko tinggi harus
diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan
persetujuan.
(6) Ketentuan mengenai tata cara persetujuan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) diatur dengan
Peraturan Menteri.
Pasal 50
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai hak :
a. memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar
profesi dan standar prosedur operasional;
b. memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur operasional;
c. memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya; dan
d. menerima imbalan jasa.
Pasal 51
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban :
a. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional
serta kebutuhan medis pasien;
b. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan
yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan;
c. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu
meninggal dunia;
d. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang
lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan
12

e. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran
gigi.
Pasal 52
Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak:
a. mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 45 ayat (3);
b. meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;
c. mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;
d. menolak tindakan medis; dan
e. mendapatkan isi rekam medis.

Pasal 66
(1) Setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan atas tindakan dokter atau
dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran dapat mengadukan secara tertulis kepada
Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia.
(2) Pengaduan sekurang-kurangnya harus memuat :
a. identitas pengadu;
b. nama dan alamat tempat praktik dokter atau dokter gigi dan waktu tindakan dilakukan; dan
c. alasan pengaduan.
(3) Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak menghilangkan hak setiap
orang untuk melaporkan adanya dugaan tindak pidana kepada pihak yang berwenang dan/atau
menggugat kerugian perdata ke pengadilan.
Pembahasan:

Dokter perlu menjelaskan kepada pasien dan keluarganya. Mengenai diagnosis dan tata cara
tindakan medis, tujuan tindakan medis yang dilakukan, alternatif tindakan lain dan risikonya,

risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
Pada kronologi kasus yang ada, menurut pengakuan pihak pasien, dr. H P P, SpOG
mengatakan bahwa akan dilakukan tindakan kuret (dikerok dinding rahim) tanpa menjelaskan
13

apa maksud dan tujuan dari tindakan tersebut kepada pihak keluarga pasien, namun pada

kenyataannya bukan tindakan kuret yang dilakukan melainkan tindakan pengangkatan rahim.
Sehingga dalam kasus ini, pasien tidak mendapatkan haknya berupa penjelasan lengkap
mengenai tindakan medis yang akan dilakukan dan mendapatkan pelayanan sesuai dengan
kebutuhan medis.

Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)[4]


Pasal 90
Luka berat berarti:

Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali, atau
yang menimbulkan bahaya maut;

Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencarian;

Kehilangan salah satu panca indera;

Mendapat cacat berat;

Menderita sakit lumpuh;

Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih;

Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.


Pasal 360
(1) Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mendapat luka-luka
berat, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan selama-lamanya
satu tahun.
(2) Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian
rupa sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian selama
waktu tertentu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan
paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah.

Pembahasan :

Dalam kasus ini, terkait dengan hukuman berdasarkan KUHP, maka dokter kandungan
tersebut akibar kesalahan (kealpaannya) dapat terkena pasal 90 dan 360 yakni
menimbulkan cacat berat pada pasien, yang menyebabkan urin keluar dari vagina tanpa
14

sadar dan tidak dapat ditahan serta pada akhirnya pasien harus menjalani pemasangan
kateter permanen langsung dari ginjal. Dan juga berdasarkan pengakuan pihak pasien,
diakui bahwa kondisi pasien semakin hari semakin menurun. Hal ini tentu saja akan
menghalangi pasien dalam menjalan aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer)[5]
Pasal 1365 KUH Perdata
Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada setiap orang lain,
mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, menggantikan kerugian
tersebut.
Pasal 1366 KUH Perdata
Setiap orang bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya, tetapi
juga untuk kerugian yang disebabkan kelalaian atau kekuranghati-hatiannya.
Pasal 1367 ayat 1 KUH Perdata
Seseorang tidak hanya bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya
sendiri tetapi juga disebabkan karena perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungannya, atau
disebabkan oleh barang-barang yang berada di bawah pengawasannya.
Pasal 1371 KUH Perdata
Penyebab luka atau penyebab cacatnya sesuatu anggota badan dengan sengaja atau karena
kurang hati-hati memberikan hak kepada si korban untuk selain penggantian biaya-biaya
penyembuhan, menuntut penggantian kerugian yang disebabkan oleh luka atau cacat tersebut.
Juga penggantian ini dinilai menurut kedudukan dan kemampuan kedua belah pihak dan menurut
keadaan.
Pembahasan :

Berdasarkan kasus yang ada, ditinjau dari KUHPer, maka dokter kandungan tersebut
harus bertanggung-jawab dengan mengganti kerugian akibat kelalaian atau kekuranghatihatian yang menyebabkan adanya kecacatan pada pasien ini. Bentuk penggantian
15

kerugian yakni selain berupa penggantian biaya-biaya penyembuhan, tapi juga dapat
menuntut penggantian kerugian yang disebabkan oleh luka atau cacat terseebut dimana
penggantian ini dinilai menurut kedudukan dan kemampuan kedua belah pihak dan
menurut keadaan yang ada.
Berdasarkan Undang-Undang Rumah Sakit No. 44 Tahun 2009[6]
Pasal 13
(1) Tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran di Rumah Sakit wajib memiliki Surat
Izin Praktik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
(2) Tenaga kesehatan tertentu yang bekerja di Rumah Sakit wajib memiliki izin yang sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit harus bekerja sesuai dengan standar
profesi, standar pelayanan Rumah Sakit, standar prosedur operasional yang berlaku, etika
profesi, menghormati hak pasien dan mengutamakan keselamatan pasien.
(4) Ketentuan mengenai tenaga medis dan tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
Pasal 46
Rumah Sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang
ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di Rumah Sakit.
Pembahasan :

Pada kasus ini, tenaga medis yakni dokter kandungan melakukan kelalaian yaitu tidak
memberikan informasi sejelas-jelasnya kepada pasien dan keluarganya mengenai
tindakan medis yang akan dilakukan serta risiko dan komplikasinya, sehingga akhirnya

berdampak menimbulkan kecacatan pada pasien tersebut.


Berdasarkan UU ini, ditujukan untuk Rumah Sakit tempat pasien dirawat, RS. SANTA
ELISABETH, maka rumah sakit tersebut dipandang sebagai lembaga yang bertanggung
jawab atas kealpaan dokter yang merawat pasien tersebut hingga menimbulkan kecacatan
pada pasien, sehingga RS tersebut harus bertanggung-jawab secara hukum terhadap
semua kerugian yang terjadi.
16

Berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999[7]


Pasal 1 ayat (1), (2), (3)
Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan :
1. Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum
untuk memberi perlindungan kepada konsumen.
2. Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/ atau jasa yang tersedia dalam
masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk
hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.
3. Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk
badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau
melakukan kegiatan dalam wilayah hukum Negara Republik Indonesia, baik sendiri
maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam
berbagai bidang ekonomi.
Pasal 4
Hak konsumen adalah :
a.hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
b.hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai
dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
c. hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/ atau
jasa;
d. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang
digunakan;
e. hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa
perlindungan konsumen secara patut;
f. hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
g. hak unduk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
h. hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/ atau penggantian, apabila barang dan/atau
jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
i. hakhak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundangundangan lainnya.

17

Pasal 7 butir b dan g


b. Pelaku usaha wajib memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan
pemeliharaan.
g. pelaku usaha wajib memberi kompensasi, ganti rugi dan/ atau penggantian apabila barang dan/
atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.
Pasal 19
1) Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan
atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan atau jasa yang dihasilkan atau
diperdagangkan.
2) Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau
penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, atau perawatan
kesehatan dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan yang berlaku.
3) Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal
transaksi. Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak
menghapuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih
lanjut mengenai adanya unsur kesalahan.
4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku apabila pelaku
usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen.

Pasal 60
(1) Badan penyelesaian sengketa konsumen berwenang menjatuhkan sanksi administratif
terhadap pelaku usaha yang melanggar Pasal 19 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 20, Pasal25
dan Pasal 26.
(2) Sanksi administratif berupa penetapan ganti rugi paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua
ratus juta rupiah).
(3) Tata cara penetapan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih
lanjut dalam peraturan perundangundangan.
Pasal 61
18

Penuntutan pidana dapat dilakukan terhadap pelaku usaha dan/atau pengurusnya.


Pasal 62
(1) Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal9,
Pasal 10, Pasal 13 ayat (2), Pasal 15, Pasal 17 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c,huruf e,
ayat (2) dan Pasal 18 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau
pidana denda paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah).
(2) Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, Pasal12,
Pasal 13 ayat (1), Pasal 14, Pasal 16, dan Pasal 17 ayat (1) huruf d dan huruf f dipidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun atau pidana denda paling banyakRp 500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah).
(3) Terhadap pelanggaran yang mengakibatkan luka berat, sakit berat, cacat tetap atau
kematian diberlakukan ketentuan pidana yang berlaku.
Pasal 63
Terhadap sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62, dapat dijatuhkan hukuman
tambahan, berupa:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

perampasan barang tertentu;


pengumuman keputusan hakim;
pembayaran ganti rugi;
perintah penghentian kegiatan tertentu yang menyebabkan timbulnya kerugiankonsumen;
kewajiban penarikan barang dari peredaran; atau
pencabutan izin usaha.

Pembahasan :

Pada kasus diatas telah terjadi pelanggaran terhadap hak-hak yang harusnya diterima oleh
pasien yakni hak seperti mendapatkan penjelasan tindakan medis beserta risiko dan

komplikasinya dan persetujuan tindakan untuk dilakukan pengangkatan rahim.


Pada kasus juga tampak bahwa pasien menuntut haknya, yaitu hak untuk mendapatkan
kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima
tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. Pasien menuntut
tanggung jawab pihak RS Santa Elisabeth dan tim dr. H P P,SpOG atas kelalaian yang
terjadi pada dirinya berupa terjadi kesalahan diagnosis dan adanya komplikasi pasca
operasi pengangkatan rahim.
19

Pada kasus, pasien telah memenuhi kewajibannya sebagai konsumen yaitu membayar
sesuai dengan nilai tukar yang disepakati. Pasien membayar dengan biaya yang lebih
tinggi di RS Columbia Asia dan RS PGI Cikini untuk mencari penyebab kebocoran urin

pasca operasi karena adanya penyumbatan .


Pada kasus, dr .H P P, SpOG tidak memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur
mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta tidak memperlakukan atau

melayani konsumen secara benar .


Pada kasus, dapat terjadi penuntutan ganti rugi atas kelalaian yang dilakukan oleh dr H P
P,SpOG, karena telah melanggar pasal 19, maka dapat dikenakan saksi administratif
berupa penetapan ganti rugi paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
Terhadap sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62, dapat dijatuhkan
hukuman tambahan, berupa pembayaran ganti rugi; perintah penghentian kegiatan
tertentu yang menyebabkan timbulnya kerugian konsumen bahkan hingga bisa terjadi
pencabutan izin usaha (izin praktek dalam hal ini).

BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan kasus yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa dr. H P P, SpOG dan RS
Santa Elisabeth dapat terkena dugaan malpraktik medis dikarenakan pada kasus ini terdapat 4
unsur kelalaian seperti yang telah dibahas di atas. Lalu, untuk sanksi-sanksinya telah diuraikan
dalam UU Praktek Kedokteran No. 29 tahun 2004, UU Tentang Rumah Sakit No. 44 tahun 2009,
UU Perlindungan Konsumen No. 8 tahun 1999, KUHP, serta KUHPer.
Selanjutnya, Atas dasar beberapa uraian yang telah disebutkan di atas maka dapat diambil
beberapa kesimpulan sehubungan dengan masalah malapraktek, adalah sebagai berikut:

20

1. Ada banyak penyebab mengapa persoalan malpraktik medik menjadi sangat diperbincangkan
akhir-akhir ini dimasyarakat diantaranya yakni adanya pergeseran hubungan kepercayaan antara
tenaga medis dan pasien serta meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai hukum.
2. Apresiasi masyarakat pada nilai kesehatan makin tinggi sehingga dalam melakukan hubungan
dengan dokter, pasien sangat berharap agar dokter dapat memaksimalkan pelayanan medisnya
untuk harapan hidup dan kesembuhan penyakitnya. Selama ini masyarakat menilai banyak sekali
kasus dugaan malpraktik medik yang dilaporkan media massa atau korban tapi sangat sedikit
jumlahnya yang diselesaikan lewat jalur hukum.
3. Dari sudut penegakan hukum sulitnya membawa kasus ini ke jalur pengadilan diantaranya
karena belum ada keseragaman paham diantara para penegak hukum sendiri soal malpraktik
medik ini.
4. Dari sudut hukum acara (pembuktian) terkadang penegak hukum kesulitan mencari keterangan
ahli. Mungkin sudah saatnya diperlukan juga saksi yang memahami ilmu hukum sekaligus ilmu
kesehatan.
5. Bahaya malpraktek tidak hanya mengakibatkan kecacatan atau gangguan fatal organ tubuh,
tetapi juga menyebabkan kematian. Masalah yang ditimbulkan pun bisa sampai pada masalah
nama baik, baik pribadi bahkan negara. Sehingga benar bahwa malpraktek dikatakan sebagai
sebuah malapetaka bagi dunia kesehatan di Indonesia.

21

DAFTAR PUSTAKA

1. Wiradharma D. Penuntun kuliah hukum kedokteran. Jakarta: Binarupa Aksara. 2002. p.


87-110.
2. Wiradharma D and Hartati DS. Penuntun kuliah hukum kedokteran. 2 nd ed. Jakarta:
Sagung Seto. 2010. p. 78-98.
3. Depkes. UU RI No. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran. Available at:
http://www.depkes.go.id/downloads/UU_No._29_Th_2004_ttg_Praktik_Kedokteran.pdf.
Accessed on May 21st, 2014.
4. Tribunais.

KUHP.

Available

at:

http://www.tribunais.tl/files/Codigo_Penal_Indonesio_(Bahasa_Indonesia).pdf. Accessed
on May 21st, 2014.
22

5. Unsrat. KUHPer. Available at: http://hukum.unsrat.ac.id/uu/kolonial_kuh_perdata.pdf.


Accessed on May 21st, 2014.
6. Depkes.

UU

RI

No.

44

tahun

2009

tentang

rumah

sakit. Available

at:

http://www.depkes.go.id/downloads/UU_No._44_Th_2009_ttg_Rumah_Sakit.pdf.
Accessed on May 21st, 2014.
7. Dikti.

UU

perlindungan

konsumen.

Available

at:

http://www.dikti.go.id/files/atur/sehat/UU-8-1999PerlindunganKonsumen.pdf. Accessed
on May 21st, 2014.

23

24

25