Anda di halaman 1dari 34

SERANG, 11 JUNI 2015

DASAR HUKUM PENYUSUNAN APBD


Dasar Hukum Penyusunan APBD , antara lain :
1)UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
2)UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3)UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara ;
4)UU No. 25 Tahun 2004 Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional;
5)UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana
telah diubah dengan UU No. 12 Tahun 2008; (diganti dengan UU No.
23 Tahun 2014)
6)UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah ;
7)UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;
8)PP No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;

LANJUTAN ......
11)Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan

Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Permendagri No.


21 Tahun 2011;
12)Permendagri No. 32 Tahun 2011 Pedoman Pemberian Hibah dan
Bantuan Sosial yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah sebagaimana telah diubah dengan Permendagri No.
39 Tahun 2012;
13)Permendagri tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah.
14)Peraturan Gubernur Banten tentang Pedoman Penyusunan RKA
SKPD/PPKD
15)Dan seterusnya....
3

Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah


(RKA-SKPD)

adalah

dokumen

perencanaan

dan

penganggaran yang berisi rencana pendapatan, rencana


belanja

program

dan

kegiatan

SKPD

serta

rencana

pembiayaan sebagai dasar penyusunan APBD.

RKA-SKPD
kerangka

disusun

dengan

pengeluaran

penganggaran

terpadu

menggunakan

jangka
dan

pendekatan

menengah

penganggaran

daerah,

berdasarkan

prestasi kerja

PRINSIP PENYUSUNAN APBD


Prinsip Penyusunan APBD :
1) Sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan
daerah;
2) Tepat waktu;
3) Transparan;
4) Melibatkan partisipasi masyarakat;
5) Memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan;
6) Substansi APBD tidak bertentangan dengan kepentingan
umum, peraturan yang lebih tinggi dan peraturan daerah
lainnya.

PRINSIP DALAM DISIPLIN


ANGGARAN
Prinsip dalam disiplin anggaran yang diperlukan dalam
penyusunan anggaran daerah, antara lain :
1) Pendapatan yang direncanakan merupakan perkiraan yang
terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber
pendapatan;
2) Belanja yang dianggarkan merupakan batas tertinggi
pengeluaran belanja;
3) Penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya
kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup
dan tidak dibenarkan melaksanakan kegiatan yang belum
tersedia atau tidak cukup anggarannya dalam APBD/Perubahan
APBD;
4) Semua penerimaan dan pengeluaran daerah dalam tahun
anggaran yang bersangkutan harus dimasukkan dalam APBD
dan dilakukan melalui rekening Kas Umum Daerah.
6

Tahapan dan Jadwal Proses Penyusunan APBD berdasarkan


Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 sebagaimana telah diubah
dengan Permendagri 21 Tahun 2011
NO

URAIAN

WAKTU

LAMA

1.

Penyusunan RKPD

Akhir bulan Mei

2.

Penyampaian KUA dan PPAS kpd Minggu I bulan Juni


KDH

1 minggu

3.

Penyampaian Rancangan KUA dan Pertengahan bulan Juni


PPAS oleh KDH ke DPRD

6 minggu

4.

Rancangan KUA
dan PPAS Akhir bulan Juli
disepakati antara KDH & DPRD

5.

SE KDH perihal Pedoman RKA- Awal bulan Agustus


SKPD

6.

Penyusunan dan Pembahasan RKA- Awal Agustus


SKPD
dan RKA PPKD serta september
Penyusunan RAPBD

7.

Penyampaian RAPBD kpd DPRD

8.

Pengambilan Persetujuan Bersama Paling lama 1 (satu) bulan


DPRD & KDH
sebelum tahun anggaran yang
bersangkutan ( Akhir bulan
Nopember )

Minggu
Oktober

s.d.

pertama

1 minggu
akhir 8 minggu

bulan 2 bulan

Lanjutan .
9.

Hasil evaluasi RAPBD

15 hari
kerja
Desember )

bulan

10.

Penetapan Perda ttg APBD & Paling lambat Akhir Desember


Perkada ttg Penjabaran APBD (31 Desember )
sesuai dgn hasil evaluasi

Tahapan dan Jadwal Proses Penyusunan P-APBD berdasarkan


Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 sebagaimana telah diubah
dengan Permendagri 21 Tahun 2011
NO

URAIAN

WAKTU

1.

Penyampaian
Rancangan Minggu pertama Agustus
Perubahan KUA dan PPAS kepada
DPRD

2.

Kesepakatan Perubahan KUA dan Minggu kedua Agustus


PPAS antara Kepala Daerah dan
DPRD

3.

Pedoman Penyusunan RKA SKPD Minggu ketiga Agustus


Perubahan APBD

4.

Penyampaian
Raperda
APBD Minggu kedua September
beserta lampiran kepada DPRD

5.

Pengambilan persetujuan bersama 3 bulan sebelum TA berakhir


DPRD dan KDH terhadap Raperda
P-APBD

6.

Penyampaian
kepada 3 hari kerja
Mendagri/Gubernur untuk dievaluasi

7.

Kepmendagri/Gubernur ttg
evaluasi Raperda P-APBD

hasil 15 hari kerja

LAMA

1 minggu

Akhir Sept

Tengah
okt
9

Lanjutan .
8.

Pengesahan Perda P-APBD yang Pertengahan oktober


telah dievaluasi dan dianggap sesuai
dengan ketentuan

9.

Penyempurnaan raperda sesuai hasil 7 hari kerja


evaluasi
apabila
dianggap
bertentangan dengan kepentingan
umum dan peraturan yang lebih
tinggi

10.

Pembatalan Perda P-APBD apabila 7


hari
kerja
setelah M.IV Okt
tidak dilakukan penyempurnaan
pemberitahuan
untuk
penyempurnaan sesuai hasil
evaluasi

11

Pencabutan Perda P-APBD

12.

7 hari kerja

M.III Okt

M.I Nov

Pemberitahuan untuk penyampaian 3 hari kerja setelah P-APBD M.III okt.


Rancangan Perubahan DPA SKPD
disahkan

10

Tahapan Penganggaran
Rancangan
Pembahasan APBD
RKA - SKPD
Pemerintah
Atasan Evaluasi

APBD
Peraturan
Daerah
Penetapan

DPASKPD

APBD
Verifikasi

Rancangan
DPA-SKPD

11

KEBIJAKAN PENYUSUNAN APBD


PENDAPATAN DAERAH
PENDAPATAN
PENDAPATANASLI
ASLIDAERAH
DAERAH(PAD)
(PAD)
1. Kondisi perekonomian yang terjadi pada tahun-tahun
sebelumnya, perkiraan pertumbuhan ekonomi pada tahun
berkenaan dan realisasi penerimaan PAD tahun sebelumnya, serta
ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.
2. Tidak memberatkan masyarakat dan dunia usaha.
3. Peraturan daerah tentang pajak daerah dan retribusi daerah yang
berpedoman pada Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009.
4. Rasionalitas hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan
atas penyertaan modal atau investasi daerah lainnya, dengan
memperhitungkan nilai kekayaan daerah yang dipisahkan, baik
dalam bentuk uang maupun barang sebagai penyertaan modal
(investasi daerah) sesuai dengan tujuan penyertaan modal
dimaksud.
12

DANA PERIMBANGAN
Dasar Penganggaran:
1.DBH, baik DBH-Pajak maupun DBH-Sumber Daya Alam
berpedoman pada PMK mengenai perkiraan alokasi DBH
TA berkenaan.
2.DAU dialokasikan sesuai Peraturan Presiden tentang
DAU Daerah Prov/Kab/Kota TA berkenaan.
3.DAK dapat dianggarkan sebagai pendapatan daerah,
sepanjang telah ditetapkan dalam PMK tentang Alokasi
DAK TA berkenaan.

13

LAIN-LAIN PD YANG SAH


1. Alokasi dana penyesuaian dianggarkan sepanjang
telah ditetapkan dalam PMK TA berkenaan.
2. Penganggaran Dana Otsus dan Dana BOS didasarkan
pada PMK TA berkenaan.
3. Pendapatan daerah yang bersumber dari bankeu
dianggarkan dalam APBD penerima bantuan
sepanjang sudah dianggarkan dalam APBD pemberi
bantuan.
4. Penganggaran penerimaan hibah yang bersumber
dari APBN, pemerintah daerah lainnya atau
sumbangan pihak ketiga, dianggarkan dalam APBD
setelah adanya kepastian penerimaan dimaksud.

14

BELANJA TIDAK LANGSUNG


BELANJA
PEGAWAI
o Disesuaikan dengan hasil rekonsiliasi jumlah pegawai dan
belanja pegawai dengan memperhitungkan rencana
kenaikan gaji pokok dan tunjangan PNSD serta pemberian
gaji ketiga belas.
o

Untuk kebutuhan
formasi pegawai;

Memperhitungkan acress yang besarnya maksimum 2,5%


dari jumlah belanja pegawai untuk gaji pokok dan
tunjangan.

Penyediaan dana penyelenggaraan jaminan kesehatan


bagi PNSD yang dibebankan pada APBD berpedoman
pada Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)

Penganggaran TP-PNSD, memperhatikan amanat Pasal 6315

pengangkatan

Calon

PNSD

sesuai

BELANJA TIDAK LANGSUNG


BELANJA
PEGAWAI
o Tunjangan guru PNSD dan tambahan penghasilan guru
PNSD dianggarkan sepanjang telah dianggarkan dalam
APBN

16

BELANJA BUNGA
Bagi daerah yang belum memenuhi kewajiban pembayaran bunga
pinjaman supaya dianggarkan pembayarannya dalam APBD TA
berkenaan.

BELANJA
SUBSIDI
Hanya diberikan kepada perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual
dari hasil produksinya terjangkau oleh masyarakat yang daya belinya
terbatas. Produk yang diberi subsidi merupakan kebutuhan dasar dan
menyangkut hajat hidup orang banyak. Sebelum belanja subsidi
tersebut dianggarkan dalam APBD harus terlebih dahulu dilakukan
pengkajian agar diketahui besaran subsidi yang akan diberikan, tepat
sasaran dan tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan.
17

BELANJA HIBAH DAN BANTUAN


SOSIAL
Tata
cara penganggaran, pelaksanaan dan penatausahaan, pelaporan
dan pertanggungjawaban serta monitoring dan evaluasi pemberian
hibah dan bantuan sosial mempedomani perkada yang telah
disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan di bidang hibah
dan bantuan sosial.

BELANJA BAGI
HASIL
Penganggaran dana bagi hasil mempedomani UU 28/2009. Tata cara
penganggarannya memperhitungkan rencana pendapatan pajak
daerah dan retribusi daerah pada TA berkenaan, pelampauan target
TA sebelumnya yang belum direalisasikan ditampung dalam P-APBD
TA berkenaan.
18

BELANJA BANTUAN
KEUANGAN
Pemprov atau pemerintah kab/kota dapat menganggarkan bankeu
kepada pemerintah daerah lainnya dan kepada desa dengan
pertimbangan untuk mengatasi kesenjangan fiskal, membantu
pelaksanaan urusan pemerintahan daerah yang tidak tersedia
alokasi dananya, sesuai kemampuan keuangan masing-masing
daerah.

Pemberian bantuan keuangan dapat bersifat umum dan bersifat


khusus.

Bantuan keuangan kepada parpol berpedoman pada peraturan


perundang-undangan di bidang bankeu kepada parpol.

Pemerintah kab/kota menganggarkan bankeu kepada pemerintah


desa paling sedikit 10% dari dana perimbangan yang diterimanya
kecuali DAK.
19

BELANJA TIDAK
TERDUGA BTT dilakukan
Penganggaran

secara
rasional
dengan
mempertimbangkan realisasi TA sebelumnya dan kemungkinan
adanya kegiatan-kegiatan yang sifatnya tidak dapat diprediksi
sebelumnya, diluar kendali dan pengaruh pemerintah daerah. BTT
merupakan belanja untuk mendanai kegiatan yang sifatnya tidak biasa
atau tidak diharapkan terjadi berulang, seperti kebutuhan tanggap
darurat bencana, penanggulangan bencana alam dan bencana sosial,
yang tidak tertampung dalam bentuk program dan kegiatan pada TA
berkenaan, termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan
daerah tahun-tahun sebelumnya.

20

BELANJA LANGSUNG
BELANJA
PEGAWAI
o Penganggaran honorarium bagi PNSD dan Non PNSD
memperhatikan asas kepatutan, kewajaran dan rasionalitas dalam
pencapaian sasaran program dan kegiatan sesuai dengan
kebutuhan dan waktu pelaksanaan kegiatan dalam rangka
mencapai target kinerja kegiatan.
o

Dibatasi dan hanya didasarkan pada pertimbangan bahwa


keberadaan PNSD dan Non PNSD dalam kegiatan benar-benar
memiliki peranan dan kontribusi nyata terhadap efektifitas
pelaksanaan kegiatan.

Dalam satu kegiatan tidak diperkenankan hanya diuraikan ke


dalam jenis belanja pegawai, obyek belanja honorarium dan
rincian obyek belanja honorarium Non PNSD.

21

BELANJA BARANG DAN


JASA

Pemberian jasa narasumber/tenaga ahli besarannya ditetapkan


dengan Keputusan KDH

Uang untuk diberikan kepada pihak ketiga/masyarakat hanya


diperkenankan dalam rangka pemberian hadiah pada kegiatan yang
bersifat perlombaan atau penghargaan atas suatu prestasi.

Penganggaran untuk pengadaan barang (termasuk berupa aset


tetap) yang akan diserahkan/dijual kepada pihak ketiga/masyarakat
pada tahun anggaran berkenaan, dianggarkan pada jenis belanja
barang dan jasa termasuk seluruh belanja yang terkait dengan
pengadaan/pembangunan barang/jasa sampai siap diserahkan.

Penganggaran belanja perjalanan dinas dalam rangka kunjungan


kerja dan studi banding, dilakukan secara selektif, frekuensi dan
jumlah harinya dibatasi serta memperhatikan target kinerja dari
perjalanan dinas sehingga relevan dengan substansi kebijakan
pemerintah daerah.
22

BELANJA BARANG DAN


JASA
Penganggaran untuk menghadiri diklat, bintek/sejenisnya yang
terkait dengan pengembangan SDM Pimpinan dan Anggota DPRD
serta pejabat/staf pemda, yang tempat penyelenggaraannya di luar
daerah harus dilakukan sangat selektif dengan mempertimbangkan
aspek-aspek urgensi dan kompetensi serta manfaat yang akan
diperoleh dari kehadiran dalam diklat, bintek/sejenisnya guna
pencapaian efektifitas penggunaan anggaran daerah;

Penganggaran untuk penyelenggaraan kegiatan rapat, pendidikan


dan pelatihan, bimbingan teknis atau sejenisnya diprioritaskan untuk
menggunakan fasilitas aset daerah, seperti ruang rapat atau aula
yang sudah tersedia milik pemerintah daerah.

23

BELANJA BARANG DAN


JASA
Penganggaran pajak kendaraan bermotor dan bbnkb milik pemda
dialokasikan pada masing-masing SKPD;

Penganggaran belanja barang pakai habis disesuaikan dengan


kebutuhan nyata yang didasarkan atas pelaksanaan tugas dan
fungsi SKPD, jumlah pegawai dan volume pekerjaan serta
memperhitungkan sisa persediaan tahun anggaran sebelumnya;

Penganggaran hibah/bansos berupa barang dilakukan tidak terus


menerus/tidak mengikat serta memiliki kejelasan peruntukan
penggunaannya dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan
daerah dan telah melalui verifikasi SKPD terkait.

24

BELANJA MODAL
o

Penganggaran belanja modal diprioritaskan untuk pembangunan


dan pengembangan sarana dan prasarana yang terkait dengan
penjingkatan pelayanan kepada masyarakat;

Penganggaran untuk pengadaan kebutuhan barang milik daerah


dilakukan secara selektif sesuai kebutuhan masing-masing SKPD,
terlebih dilakukan evaluasi dan pengkajian terhadap barang-barang
inventaris kantor yang tersedia baik dari segi kondisi maupun umur
ekonomisnya;

Khusus penganggaran untuk pembangunan gedung dan bangunan


milik daerah memperhatikan Perpres 73/2011 tentang Pembangunan
Gedung Negara;

Penganggaran pembangunan fisik, proporsi belanja modal lebih


besar dibandingkan belanja pegawai & barang jasa. Untuk itu
diberikan batasan jumlah belanja penunjang.
25

Penyusunan
Anggaran Pembiayaan
Penerimaan pembiayaan :
a)
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Lalu
Sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu merupakan selisih
lebih antara realisasi pendapatan dengan belanja daerah yang
dalam APBD induk dianggarkan berdasarkan estimasi.
Sedangkan realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun
Lalu dianggarkan dalam perubahan APBD sesuai dengan yang
ditetapkan
dalam
peraturan
daerah
tentang
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD tahun sebelumnya.
1.

b)

Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan


Penerimaan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang dipisahkan
digunakan untuk menganggarkan hasil penjualan
kekayaan
daerah yang dipisahkan dapat berupa penjualan
perusahaan milik daerah/BUMD, penjualan kekayaan milik

26

Lanjutan....
pemerintah daerah yang dikerjasamakan dengan pihak
ketiga
atau hasil divestasi penyertaan modal
pemerintah daerah.
c. Penerimaan Pinjaman Daerah
Penerimaan
pinjaman
daerah
digunakan
untuk
menganggarkan semua transaksi yang mengakibatkan
daerah
menerima sejumlah uang dari pihak lain
(termasuk obligasi)
sehingga daerah tersebut dibebani
kewajiban untuk membayar kembali.

27

Lanjutan
2. Pengeluaran Pembiayaan :

a.

Pembentukan dana cadangan


Pembentukan
dana
cadangan
digunakan
untuk
menganggarkan dana yang disisihkan untuk dicadangkan
dalam
tahun anggaran
berkenaan yang akan ditransfer ke
rekening
dana cadangan dari rekening kas umum
daerah. Jumlah yang dianggarkan dan ditransfer ke rekening dana
cadangan sesuai
dengan yang ditetapkan dalam peraturan
daerah.
b.

Penyertaan modal pemerintah daerah


Penyertaan modal pemerintah daerah digunakan untuk
menganggarkan
sejumlah
dana
yang
akan
diinvestasikan/disertakan untuk merealisasikan kerjasama
dengan pihak ketiga dan/atau kepada perusahaan
daerah/BUMD
atau BUMN dalam tahun anggaran berkenaan.
28

Lanjutan
3.

Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan (SILPA)


Sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan digunakan
untuk menganggarkan sisa lebih antara pembiayaan neto
dengan surplus/defisit APBD. Pembiayaan neto merupakan
selisih antara penerimaan pembiayaan dengan pengeluaran
pembiayaan yang harus dapat menutup defisit anggaran yang
direncanakan.

Dalam hal perhitungan penyusunan RAPBD menghasilkan


SILPA Tahun Berjalan Positif, dimanfaatkan untuk :
a. Penambahan program dan kegiatan prioritas yang dibutuhkan,
volume program dan kegiatan yang telah dianggarkan;
b. Dan/atau pengeluaran pembiayan

29

Lanjutan
Dalam hal perhitungan penyusunan RAPBD menghasilkan SILPA
Tahun Berjalan Negatif, harus dilakukan :
a. Melakukan pengurangan bahkan penghapusan pengeluaran yang
bukan merupakan kewajiban daerah;
b. Pengurangan program dan kegiatan yang kurang prioritas;
c. Dan/atau pengurangan volume program dan kegiatan.

30

Hal-hal yang perlu


mendapat perhatian
Hal yang perlu mendapat perhatian :
1)
Kegiatan yang harus dikoordinasikan dan dikonsultasikan
dengan SKPD Terkait sebagai pelengkap dokumen RKA dalam
bentuk surat rekomendasi yang ditandatangani Kepala SKPD
Terkait :
a.
Kegiatan yang menganggarkan hibah/bantuan sosial barang
dan jasa harus dilengkapi dengan Surat Pernyataan Kepala
SKPD, bahwa hibah bansos dimaksud telah sesuai dengan
mekanisme penganggaran dalam Permendagri 32/2011
sebagaimana telah diubah dengan Permendagri 39/2012;
b.
Kegiatan dalam rangka peningkatan kapasitas aparatur dan
pengembangan
sumberdaya
aparatur
hanya
dapat
dilaksanakan setelah dikoordinasikan dengan Badan Diklat dan
BKD;
c.
Profil SKPD agar dikonsultasikan dengan Bappeda;
2)
Penyelenggaraan Bintek lebih dari 3 (tiga) hari dilaksanakan
oleh Badan Diklat;
31

Hal-hal yang perlu


mendapat perhatian
Penganggaran kendaraan dinas, memperhatikan hal-hal sbb
(dilampirkan pada saat penelitian/verifikasi RKA SKPD) :
a. RKBU untuk kendaraan dinas yang ditandatangani oleh
Kepala SKPD dan telah diverifikasi oleh Kepala Biro
Perlengkapan dan Aset selaku Pembantu Pengelola Barang
Milik Daerah;
b. Daftar inventaris kendaraan dinas dan nama pemegang
kendaraan yang ditandatangani oleh Kepala SKPD.
4) Penyusunan perencanaan teknis detail (DED) untuk pekerjaan
fisik konstruksi dilakukan tidak dalam tahun yang bersamaan
dengan pelaksanaan fisik dan konstruksinya;
5) Penganggaran belanja modal aset tetap seperti komputer,
printer dll yang tidak berkaitan langsung dengan tolok ukur
kegiatan dianggarkan pada kegiatan pengadaan sarana dan
prasarana SKPD;
6) Kegiatan tahun jamak dianggarkan sesuai dengan pasal 54A
Permendagri 13 Tahun 2006 sebagaimana telah diubah
dengan Permendagri 21 Tahun 2011;
3)

32

Hal-hal yang perlu


mendapat perhatian
7)

8)

9)

Penganggaran untuk pelaksanaan kegiatan lanjutan yang


tidak selesai pada TA berkenaan yang disebabkan karena
force
majeure
dengan
menggunakan
mekanisme
penganggaran DPA-L (Lanjutan);
Penganggaran keajiban kepada ketiga terkait dengan
pekerjaan yang telah selesai pada tahun anggaran
sebelumnya, dianggarkan kembali sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan;
Penganggaran kembali terhadap sisa pekerjaan yang
melewati tahun anggaran berkenaaan sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan.

33

TERIMA KASIH
&
SELAMAT BEKERJA

34

Anda mungkin juga menyukai