Anda di halaman 1dari 55

REPUBLIK INDONESIA

KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/BAPPENAS

AGENDA PELAKSANAAN MUSRENBANG TAHUN


2011
DAN PENYUSUNAN ISU STRATEGIS PERCEPATAN
PEMBANGUNAN KTI
DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN REGIONAL DAN OTONOMI
DAERAH
KEMENTERIAN PPN/BAPPENAS
Jakarta, 11 Maret 2011

OUTLINE
1. AGENDA PELAKSANAAN MUSRENBANG
TAHUN 2011
2. PENTINGNYA ISU STRATEGIS DALAM
PENYUSUNAN RKP
3. ISU STRATEGIS PULAU (RPJMN 2010 2014
BUKU III)
4. KINERJA PEMBANGUNAN PROVINSI
5. PENENTUAN ISU STRATEGIS PROVINSI
6. ISU STRATEGIS PER PROVINSI:

KUALITAS PERTUMBUHAN DAN APBD


SEKTOR UNGGULAN

I
AGENDA PELAKSANAAN MUSRENBANG
TAHUN 2011

PENDAHULUAN
1. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2012 ditujukan untuk
memastikan tujuan dan sasaran pembangunan nasional
dapat dicapai dengan langkah mengoptimalkan seluruh
sumber daya yang ada;
2. Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
Indonesia didorong melalui 3 Klaster Program Pro-Rakyat
dengan Klaster Ke-4 dan 6 Program Baru. Selain itu, juga
memasukkan new iniciatives, direktif presiden serta
rencana
pengembangan
koridor
ekonomi
untuk
meningkatkan keterkaitan domestik.
3. Rencana Kerja Pemerintah 2012 akan disusun melalui
format pelaksanaan musrenbang yang baru dengan
memperhatikan isu strategis daerah serta harapan akan
peran aktif Gubernur (Pemerintah Provinsi) sebagai
wakil Pemerintah Pusat.
4

FORMAT BUKU I, II, dan III


RKP 2012
Buku I

Buku II

BAB I

PENDAHULUAN

KONDISI UMUM

BAB II

TEMA DAN
PRIORITAS
PEMBANGUNAN
NASIONAL

PERMASALAHAN
DAN SASARAN
PEMBANGUNAN

BAB III

BAB
IV
LAMPIRA
N

KERANGKA
EKONOMI MAKRO &
PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN
KAIDAH
PELAKSANAAN
Matriks Kegiatan
Prioritas Nasional

Buku III
BAB I ARAH KEBIJAKAN
PENGEMBANGAN WILAYAH
TAHUN 2010-2014

Untuk Bab II VIII


dalam Buku III RKP,
STRATEGI DAN ARAH terdiri atas :
KEBIJAKAN
1.Kondisi untuk
PEMBANGUNAN
masing-masing
Wilayah saat ini
*) Khusus untuk bab 1, pada
2.Arah kebijakan
bagian pengarusutamaan
mencantumkan matriks
pengembangan
implementasi
wilayah pulau
pengarustamaan dalam
program dan kegiatan K/L.
3.Tujuan dan sasaran
Sedangkan bagian lintas
4.Strategi
bidang mengikuti format
sebagaimana bab lainnya.
pengembangan
wilayah pulau
5.Matriks program dan
kegiatan wilayah pulau

PROSES DAN JADWAL PENYUSUNAN


RKP 2012
27 Des 2010 1 Jan 2011

Telaah Buku I, II III


RPJMN 2012-2014
dalam tahun 2012
Pra
Rakernis/
Ratek K/L
Raker
Bappenas
Tema
RKP 2012
Penyusun
an Awal
UPPD

10 Mar
Temu
Konsultasi
Triwulanan i2011

Penyusuna
n Ranc
Awal RKP
2012
2-28 Feb

1-23 Januari

Rakorbangpus RKP
2012
30 Mar-11 Apr
Musrenbang
Provinsi

Penyusunan
Ranc Final
Renja K/L
2012
30 Mar-11 Apr

Pra
Musrenbangna
s

Pasca
Musrenban
g Nasional
3 Mei

Menghasilkan
Ranc Awal Pagu
Indikatif per K/L

16-25 Mar

Penyusunan
Ranc Final
UP-PD 2012

Persandingan
UPPD Renja
K/L

Musrenba
ng
Nasional
RKP 2012
27-28 Apr

Forum
Konsultasi
Publik
15 Mar
30 Mar-11 Apr

13-15 Apr

18-26 Apr

Sidkab dan
Finalisasi Ranc
RKP 2012

Ratek/Rakerni
s K/L
30 Mar-11 Apr

Sidkab
Rancangan
Akhir RKP 2012
5 Mei

Penetapan
RKP 2012
6 Mei

28 Mar
Trilateral
Meeting
30 Mar-11
Apr

II
PENTINGNYA ISU STRATEGIS DALAM
PENYUSUNAN RKP

ISU STRATEGIS PROVINSI


DAN PENYUSUNAN RKP 2012
PENCAPAIAN TARGET PEMBANGUNAN
NASIONAL ADALAH PENTING
MENCERMINKAN KINERJA NASIONAL
LOKASI DAN DAMPAK LANGSUNG
PEMBANGUNAN ADALAH DI DAERAH
MAKA PERBAIKAN KINERJA PEMBANGUNAN
DAERAH AKAN BERDAMPAK PULA PADA
PERBAIKAN KINERJA PEMBANGUNAN
NASIONAL
PERLU IDENTIFIKASI ISU STRATEGIS DI
DAERAH DALAM PENCAPAIAN TARGET

ISU STRATEGIS PROVINSI


DAN PENYUSUNAN RKP 2012

Teridentifikasi
permasalahan

Teridentifikasi
Intervensi

Teridentifikasi kegiatan,
penanggungjawab, lokasi
9

ISU STRATEGIS PROVINSI


DAN PENYUSUNAN RKP 2012
PROVINSI A

ISU
STRATE
GIS PER
PULAU
RPJMN
2010
2014
BUKU III

PROGRAM DAN KEGIATAN

ISU
STRATEGI
S1

ISU
STRATEGI
S2

ISU
STRATEGI
S3

ISU
STRATEGI
S4

3
PRIORITAS
LAINNYA

RKP
2012

10

RKP 2012

RENCANA
PEMBANGUN
AN JANGKA
MENENGAH
(NASIONAL
DAN
DAERAH)

RKPD 2012

ISU STRATEGIS PROVINSI


DAN PENYUSUNAN RKP 2012
PROGRA
M DAN
KEGIATA
N YANG
TEPAT
SASARAN
(SESUAI
ISU
STRATEG
IS
DAERAH)

TERCAPAINYA
TUJUAN DAN
SASARAN
PEMBANGUN
AN NASIONAL
DAN DAERAH

11

III
ISU STRATEGIS PULAU (RPJMN 2010 2014
BUKU III)

12

Isu Strategis Umum Semua Pulau:


Buku III RPJMN 2010-2014
1.
2.
3.
4.
5.

Optimalisasi dan Pengembangan Sektor Unggulan Wilayah.


Kualitas Sumber Daya Manusia dan Tingkat Kemiskinan Wilayah.
Kualitas Birokrasi dan Tata Kelola termasuk didalamnya Permasalahan Tindak Pidana
Korupsi dan Pelaksanaan Tata Kelola dalam Wilayah Otonomi Khusus.
Kualitas dan Jaringan Infrastruktur Wilayah dalam Mendukung Intra Regional Connectivity.
Degradasi Lingkungan Hidup termasuk keragaman hayati dan Mitigasi Bencana

1. Pengamanan dan
1.Keterbatasan sumber daya energi listrik
ISU
STRATEGIS
WILAYAH:BUKU
III
RPJMN
2010-2014
dalam mendukung pengembangan
peningkatan kesejahteraan
ekonomi lokal
di wilayah perbatasan,
2.Integrasi jaringan transportasi intermoda
tertinggal dan bencana
2. Tingginya prevalensi
wilayah
1. Interkonektivitas domestik
1. Kuantitas dan kualitas jaringan
3.Pengembangan kawasan perbatasan,
kesakitan HIV/AIDS
intrawilayah.
infrastruktur
wilayah
pulau-pulau terdepan dan terpencil
3. Tingginya potensi
2. Kapasitas energi listrik.
2. Kesenjangan intrawilayah
pelanggaran hak asasi
3. Revitalisasi modal sosial.
Kalimantan
manusia berbasis ikatan
3. Pembangunan kawasan perbatasan 4. Pembangunan kawasan
adat dan komunal
perbatasan dan pulau-pulau
4. Meningkatnya kebutuhan
terpencil.
ketahanan pangan

1. Ketimpangan pembangunan intra-regional wilayah JawaBali


2. Menjaga momentum pertumbuhan di Jawa-Bali
3. Belum optimalnya potensi peningkatan nilai tambah dari
aktivitas perdagangan internasional
4. Semakin meningkatnya peran sektor sekunder dan tersier
dalam perekonomian
5. Terancamnya fungsi wilayah Jawa-Bali sebagai salah satu
lumbung pangan nasional
6. Tingginya kepadatan dan konsentrasi penduduk di
wilayah metropolitan Jabodetabek dan sekitarnya
7. Tingginya tingkat pengangguran di pusat-pusat
pertumbuhan ekonomi
8. Tingginya ancaman terorisme terhadap obyek vital

1. Pembangunan wilayah
perbatasan dan kerja
sama dengan negaranegara yang berbatasan
dengan Negara Kesatuan
Republik Indonesia
2. Potensi konflik antar
golongan yang didukung
oleh organisasi massa.

1. Pembangunan wilayah perbatasan,


tertinggal dan pulau terpencil, dan
kawasan bencana.
2. Tingginya dampak konflik Maluku
terhadap keamanan lingkungan,
kehidupan sosial dan ekonomi,
serta lingkungan.
3. Ketergantungan pasokan pangan
dari luar wilayah sebagai
konsekuensi menurunnya luas
areal dan produksi tanaman
pangan.

IV
KINERJA PEMBANGUNAN PROVINSI

15

11..500N
S
u
l
b
a
r
G
o
n
t
a
l
o
T
M
a
l
u
k
S
u
l
t
r
a
N
T
B
P
a
p
u
M
a
l
u
t
e
n
g
S
u
l
s
e
00..5 S
u
l
t
P
a
p
u
B
a
r
t
-0.54.0R
.a
5
0
6
.
0
7
.
0
8
.
0
9
.
0
t-raP
ertum
bhanP
D
R
B
N
onM
igas205209

Rat-raPengurangKem
iskna205-10()

KUALITAS PERTUMBUHAN: Dampak Pertumbuhan


Ekonomi terhadap Penurunan Tingkat Kemiskinan

II

III

1.Kuadran
1.Kuadran I:I:
Pertumbuhan
Pertumbuhan Tinggi
Tinggi ,,
Pro-Poor
Pro-Poor
2.Kuadran
2.Kuadran II:
II:
Pertumbuhan
Pertumbuhan Rendah,
Rendah,
Pro-Poor
Pro-Poor
3.Kuadran
3.Kuadran III:
III:
Pertumbuhan
Pertumbuhan
Rendah
Rendah ,, Kurang
Kurang ProProPoor
Poor
4.Kuadran
4.Kuadran
IV:
IV:
Bisa
Bisa disebabkan
disebabkan
karena
karena
Pertumbuhan
Pertumbuhan Tinggi,
Tinggi,
penggerak
penggerak
Kurang
Kurang Pro-Poor
Pro-Poor
pertumbuhan
pertumbuhan
bukan
bukan
dari
dari sektor
sektor yang
yang
menyerap
menyerap banyak
banyak
tenaga
tenaga kerja.
kerja.

IV

16

11..4200 S
u
l
s
e
G
o
r
n
t
a
l
o
10..80 S
P
a
p
u
B
a
r
t
u
l
t
r
P
a
p
u
00..64N
M
a
l
u
k
T
B
M
a
l
u
t
00..24.0N
T5R
S
u
l
b
a
r
S
u
l
t
e
n
g
t
.0a
6
.
0
7
.
0
8
.
0
9
.
0
t-raP
ertu
m
bh
anP
D
R
B
N
o
nM
ig
as205-201(%
)

Rat-rapengurangTingkatPengauranTerbuka205-10()

KUALITAS PERTUMBUHAN : Dampak Pertumbuhan


Ekonomi terhadap Penurunan Tingkat
Pengangguran

II

III

IV

1.Kuadran
1.Kuadran I:I:
Pertumbuhan
Pertumbuhan
Tinggi
Tinggi ,, Pro-Job
Pro-Job
2.Kuadran
2.Kuadran II:
II:
Pertumbuhan
Pertumbuhan
Rendah,
Rendah, Pro-Job
Pro-Job
3.Kuadran
3.Kuadran III:
III:
Pertumbuhan
Pertumbuhan
Rendah
Rendah ,, Kurang
Kurang
Pro-Job
Pro-Job
4.Kuadran
4.Kuadran IV:
IV:
1.Bisa
1.Bisa
disebabkan
disebabkan
Pertumbuhan
Pertumbuhan Tinggi,
Tinggi,
karena
karena banyak
banyak suplai
suplai
Kurang
Kurang Pro-Job
Pro-Job

tenaga
tenaga kerja
kerja dari
dari luar.
luar.
2.Bisa
2.Bisa disebabkan
disebabkan
sektor
sektor utama
utama
penggerak
penggerak utama
utama
pertumbuhan
pertumbuhan bukan
bukan
sektor
sektor yang
yang menyerap
menyerap
banyak
banyak tenaga
tenaga kerja.
kerja.
3.Bisa
3.Bisa disebabkan
disebabkan
sektor
sektor penggerak
penggerak
pertumbuhan
pertumbuhan
kualifikasi
kualifikasi tenaga
tenaga
kerja
kerja yang
yang diserap
diserap
tidak
tidak sesuai
sesuai dengan
dengan
17
kualifikasi
kualifikasi tenaga
tenaga

10..90N
P
a
p
u
B
a
r
t
S
u
l
b
a
r
G
o
n
t
a
l
o
T
B
00..87N
T
P
a
p
u
S
u
l
t
e
n
g
S
u
l
s
e
00..65 M
S
u
l
t
r
a
S
u
l
t
M
a
l
u
t
lR
u
k
00..434.05.0a
6
.
0
7
.
0
8
.
0
9
.
0
at-raP
ertum
bhanP
D
R
B
N
onM
igas205-209(%
)

KUALITAS PERTUMBUHAN : Dampak Pertumbuhan


Ekonomi terhadap Peningkatan IPM

Rat-raPenigkatnIPM
205-09

II

III

IV

1.Kuadran
1.Kuadran I:I:
Pertumbuhan
Pertumbuhan Tinggi
Tinggi ,,
ProPro- Human
Human Dev
Dev
2.Kuadran
2.Kuadran II:
II:
Pertumbuhan
Pertumbuhan Rendah,
Rendah,
ProPro- Human
Human Dev
Dev
3.Kuadran
3.Kuadran III:
III:
Pertumbuhan
Pertumbuhan Rendah
Rendah ,,
Kurang
Kurang ProPro- Human
Human Dev
Dev
4.Kuadran
4.Kuadran IV:
IV:
Pertumbuhan
Pertumbuhan Tinggi,
Tinggi,
Kurang
Kurang
ProPro- Human
Human
Dev
Dev
Bisa
Bisa
disebabkan
disebabkan
karena
karena

sektor
sektor penggerak
penggerak
pertumbuhan
pertumbuhan
mendorong
mendorong konsumsi
konsumsi
dan
dan bukan
bukan investasi
investasi
sosial
sosial dasar
dasar

18

11..500G
S
u
l
b
a
r
orntaloN
N
T
M
a
l
u
k
S
u
l
t
r
a
T
B
M
a
l
u
t
S
u
l
t
e
n
g
P
a
p
u
S
u
l
s
e
00..5 Sult
P
a
p
u
B
a
r
t
-0.50.R
1at0.-raP
.ertu
2
0
3
0
.
4
0
.
5
0
.
6
0
.
m
bhanP
edaptndaerh(A
P
B
D
)20-21(%
)

KUALITAS APBD: Dampak Pertumbuhan APBD


terhadap Penurunan Tingkat Kemiskinan

Rat-raPengurangPersntaepndukm
isn205-10

II

III

1.Kuadran
1.Kuadran I:I: Pendapatan
Pendapatan
Daerah
Daerah Tinggi
Tinggi ,, Pro-Poor
Pro-Poor
2.Kuadran
2.Kuadran II:
II: Pendapatan
Pendapatan
Daerah
Daerah Rendah,
Rendah, Pro-Poor
Pro-Poor
3.Kuadran
3.Kuadran III:
III: Pendapatan
Pendapatan
Daerah
Daerah Rendah,
Rendah, Kurang
Kurang
Pro-Poor
Pro-Poor
4.Kuadran
4.Kuadran IV:
IV: Pendapatan
Pendapatan
Daerah
Daerah Tinggi
Tinggi ,, Kurang
Kurang
Pro-Poor
Pro-Poordisebabkan
Mungkin
Mungkin
disebabkan

karena
karena belanja
belanja yang
yang
tidak
tidak tepat
tepat sasaran
sasaran
kepada
kepada rakyat
rakyat miskin.
miskin.

IV

19

11..4200G
S
u
l
s
e
o
r
n
t
a
l
o
10..80 PPaappuuBartSultra
00..64 NTBM
a
l
u
k
M
a
l
u
t
00..20.10.20.NT30.SulStb4r0.50.Sulteng60.
R
at-raP
ertum
bhanP
edaptndaerh(A
P
B
D
)20-21(%
)

KUALITAS APBD: Dampak Pertumbuhan APBD


terhadap Penurunan Tingkat Pengangguran

Rat-raPengurangTingkatPengauranTerbuka205-10

II

III

1.Kuadran
1.Kuadran I:I: Pendapatan
Pendapatan
Daerah
Daerah Tinggi
Tinggi ,, Pro-Job
Pro-Job
2.Kuadran
2.Kuadran II:
II: Pendapatan
Pendapatan
Daerah
Daerah Rendah,
Rendah, Pro-Job
Pro-Job
3.Kuadran
3.Kuadran III:
III: Pendapatan
Pendapatan
Daerah
Daerah Rendah,
Rendah, Kurang
Kurang
Pro-Job
Pro-Job
4.Kuadran
4.Kuadran IV:
IV: Pendapatan
Pendapatan
Daerah
Daerah Tinggi
Tinggi ,, Kurang
Kurang
Pro-Job
Pro-Job
Hal
Hal ini
ini mungkin
mungkin disebabkan
disebabkan
karena
karena belanja
belanja yang
yang tidak
tidak
tepat
tepat sasaran
sasaran pada
pada program
program
yang
yang secara
secara langsung
langsung dapat
dapat
mengurangi
mengurangi pengangguran
pengangguran
(meningkatkan
(meningkatkan lapangan
lapangan
kerja
kerja formal).
formal).

IV

20

10..90G
S
u
l
b
a
r
P
a
p
u
B
a
r
t
o
r
n
t
a
l
o
N
T
B
00..87 SulseNTPapuSulteng
00..65 M
S
u
l
t
r
a
S
u
l
t
M
a
u
a
l
u
k
00..430.10.20.30.40.50.60.
R
at-raP
ertum
bhanP
edaptnD
aerh(A
P
B
D
)205-209(%
)

KUALITAS APBD: Dampak Pertumbuhan APBD


terhadap
Peningkatan IPM

Rat-raPenigkatnIPM
205-09

II

III

IV

1.Kuadran
1.Kuadran I:I: Pendapatan
Pendapatan
Daerah
Daerah Tinggi
Tinggi ,, ProProHuman
Human Dev
Dev
2.Kuadran
2.Kuadran II:
II: Pendapatan
Pendapatan
Daerah
Daerah Rendah
Rendah ,, ProProHuman
Human Dev
Dev
3.Kuadran
3.Kuadran III:
III: Pendapatan
Pendapatan
Daerah
Daerah Rendah,
Rendah, Kurang
Kurang
Pro-Human
Pro-Human Dev
Dev
4.Kuadran
4.Kuadran IV:
IV: Pendapatan
Pendapatan
Daerah
Daerah Tinggi
Tinggi ,, Kurang
Kurang
Pro-Human
Pro-Human
Dev
Dev
Hal
Hal
ini
ini mungkin
mungkin

disebabkan
disebabkan karena
karena
belanja
belanja yang
yang tidak
tidak tepat
tepat
sasaran
sasaran kepada
kepada
pelayanan
pelayanan sosial
sosial dasar.
dasar.

21

Persentase Penduduk Miskin


Menurut Provinsi, Tahun 2010

Sebagian besar
provinsi di KTI
memiliki tingkat
kemiskinan di atas
rata-rata nasional
Wilayah Papua dan
Prov. Maluku memiliki
tingkat kemiskinan
tertinggi

IPM Menurut Provinsi, Tahun 2008

Sebagian besar
provinsi di KTI
memiliki IPM di bawah
IPM nasional
IPM terendah berada
di Provinsi Papua dan
NTB

Umur Harapan Hidup (UHH)


Menurut Provinsi, Tahun 2008
Sebagian besar
Umur Harapan
Hidup provinsiprovinsi di KTI
masih berada di
bawah UHH
nasional.
UHH terendah
berada di Provinsi
NTB dan
Kalimantan
Selatan.

Indeks Pendidikan Menurut


Provinsi,
Tahun 2008
Sebagian besar
Indeks Pendidikan
provinsi-provinsi
di KTI masih
berada di bawah
Indeks Pendidikan
nasional.
Indeks Pendidikan
terendah berada
di Provinsi Papua
dan NTB
Keterangan:
Indeks pendidikan = 2/3 (indeks melek huruf) +1/3 (indeks RLS);
(Standar UNDP, NHDR)

Indeks Daya Beli Menurut Provinsi,


Tahun 2008

Sebagian besar Indeks


Daya Beli provinsiprovinsi di KTI berada
di bawah rata-rata
nasional
Wilayah Papua Barat
dan Maluku Utara
memiliki tingkat daya
beli terendah

PDRB PERKAPITA (ADHB) MENURUT PROVINSI


TAHUN 2008
Wilayah KTI secara umum
memiliki PDRB perkapita
yang rendah
Wilayah Kalimantan Timur
memiliki PDRB Perkapita
Migas Tertinggi
PDRB perkapita Wilayah
Maluku, Prov NTT, dan
Gorontalo terendah di KTI,
maupun Nasional

PERSENTASE DAERAH TERTINGGAL


DI SETIAP PROVINSI
Sebagian
besar
persentase
daerah
tertinggal
berada di
provinsiprovinsi di
wilayah KTI.
Persentase
tertinggi
terdapat di

V
PENENTUAN ISU STRATEGIS PROVINSI

29

PENENTUAN ISU STRATEGIS:


Memperbaiki Kualitas Pertumbuhan

30

PENENTUAN ISU STRATEGIS:


Memperbaiki Kualitas Belanja Daerah

31

PENENTUAN ISU STRATEGIS:


Pencapaian Target RPJMN 2010 2014
(Kemiskinan, Pengangguran, dan IPM)

32

VI
ISU STRATEGIS PROVINSI : KUALITAS
PERTUMBUHAN DAN KUALITAS APBD
(DAMPAK TERHADAP KEMISKINAN,
PENGANGGURAN DAN IPM)

33

ISU STRATEGIS PROVINSI: NUSTRA, MALUKU DAN


PAPUA
KUALITAS PERTUMBUHAN EKONOMI DAN APBD
KUALITAS PERTUMBUHAN EKONOMI

NO.

PROVINSI

TERHADAP
KEMISKINAN

TERHADAP
PENGANGGURAN

TERHADAP IPM

KUALITAS PERTUMBUHAN APBD

TERHADAP
KEMISKINAN

TERHADAP
PENGANGGURAN

TERHADAP
IPM

NTB

Pertumbuhan
Rendah, Pro-Poor

Pertumbuhan
Rendah , Kurang
Pro-Job

Pertumbuhan Rendah,
Pro- Human Dev

Pendapatan
Daerah
Rendah, ProPoor

Pendapatan Daerah
Rendah, Kurang ProJob

Pendapatan
Daerah
Rendah , ProHuman Dev

NTT

Pertumbuhan
Rendah, Pro-Poor

Pertumbuhan
Rendah , Kurang
Pro-Job

Pertumbuhan Rendah,
Pro- Human Dev

Pendapatan
Daerah
Rendah, ProPoor

Pendapatan Daerah
Rendah, Kurang ProJob

Pendapatan
Daerah
Rendah , ProHuman Dev

Maluku

Pertumbuhan
Rendah, Pro-Poor

Pertumbuhan
Rendah , Kurang
Pro-Job

Pertumbuhan
Rendah , Kurang ProHuman Dev

Pendapatan
Daerah Tinggi ,
Pro-Poor

Pendapatan Daerah
Tinggi , Kurang ProJob

Pendapatan
Daerah Tinggi
, Kurang ProHuman Dev

Malut

Pertumbuhan
Rendah, Pro-Poor

Pertumbuhan
Rendah , Kurang
Pro-Job

Pertumbuhan
Rendah , Kurang ProHuman Dev

Pendapatan
Daerah Tinggi ,
Pro-Poor

Pendapatan Daerah
Tinggi , Kurang ProJob

Pendapatan
Daerah Tinggi
, Kurang ProHuman Dev

Papua Barat

Pertumbuhan Tinggi,
Kurang Pro-Poor

Pertumbuhan
Tinggi , Pro-Job

Pertumbuhan Tinggi ,
Pro- Human Dev

Pendapatan
Daerah Tinggi ,
Kurang ProPoor

Pendapatan Daerah
Tinggi , Pro-Job

Pendapatan
Daerah Tinggi
, Pro-Human
Dev

Papua

Pertumbuhan
Tinggi , Pro-Poor

Pertumbuhan
Tinggi , Pro-Job

Pertumbuhan Tinggi ,
Pro- Human Dev

Pendapatan
Daerah Tinggi ,
Pro-Poor

Pendapatan Daerah
Tinggi , Pro-Job

Pendapatan
Daerah Tinggi
, Pro-Human
Dev 34

ISU STRATEGIS PROVINSI: SULAWESI


KUALITAS PERTUMBUHAN EKONOMI DAN APBD
KUALITAS PERTUMBUHAN EKONOMI
NO.

PROVINSI

TERHADAP
KEMISKINAN

TERHADAP
PENGANGGURAN

TERHADAP IPM

KUALITAS PERTUMBUHAN APBD


TERHADAP
KEMISKINAN

TERHADAP
PENGANGGURAN

TERHADAP
IPM

Sulut

Pertumbuhan
Tinggi, Kurang ProPoor

Pertumbuhan Tinggi,
Kurang Pro-Job

Pertumbuhan Tinggi,
Kurang Pro- Human
Dev

Pendapatan
Daerah Tinggi
, Kurang ProPoor

Pendapatan Daerah
Tinggi , Kurang ProJob

Pendapatan
Daerah Tinggi
, Kurang ProHuman Dev

Sulteng

Pertumbuhan
Tinggi , Pro-Poor

Pertumbuhan Tinggi,
Kurang Pro-Job

Pertumbuhan Tinggi ,
Pro- Human Dev

Pendapatan
Daerah Tinggi
, Pro-Poor

Pendapatan Daerah
Tinggi , Kurang ProJob

Pendapatan
Daerah Tinggi
, Pro-Human
Dev

Sulsel

Pertumbuhan
Tinggi, Kurang ProPoor

Pertumbuhan
Tinggi , Pro-Job

Pertumbuhan Tinggi ,
Pro- Human Dev

Pendapatan
Daerah
Rendah,
Kurang ProPoor

Pendapatan Daerah
Rendah, Pro-Job

Pendapatan
Daerah
Rendah , ProHuman Dev

10

Sultra

Pertumbuhan
Tinggi , Pro-Poor

Pertumbuhan
Tinggi , Pro-Job

Pertumbuhan Tinggi,
Kurang Pro- Human
Dev

Pendapatan
Daerah Tinggi
, Pro-Poor

Pendapatan Daerah
Tinggi , Pro-Job

Pendapatan
Daerah Tinggi
, Kurang ProHuman Dev

11

Gorontalo

Pertumbuhan
Tinggi , Pro-Poor

Pertumbuhan
Tinggi , Pro-Job

Pertumbuhan Tinggi ,
Pro- Human Dev

Pendapatan
Daerah
Rendah, ProPoor

Pendapatan Daerah
Rendah, Pro-Job

Pendapatan
Daerah
Rendah , ProHuman Dev

12

Sulbar

Pertumbuhan
Tinggi , Pro-Poor

Pertumbuhan Tinggi,
Kurang Pro-Job

Pertumbuhan Tinggi ,
Pro- Human Dev

Pendapatan
Daerah Tinggi
, Pro-Poor

Pendapatan Daerah
Tinggi , Kurang ProJob

Pendapatan
Daerah Tinggi
35
, Pro-Human
Dev

ISU STRATEGIS PROVINSI : SEKTOR


UNGGULAN*

Sektor Utama Menurut Nilai Tambah

Sektor dengan kontribusi terbesar dalam pembentukan PDRB (2008)

Sektor Basis

Sektor spesialisasi daerah yang ditunjukkan oleh nilai Location


Quotient lebih besar dari satu (pada sektor tradable)

Sektor Pendorong Pertumbuhan

Sektor dengan sumbangan terbesar dalam pertumbuhan PDRB provinsi


(rata-rata 2004-2008)

Sektor Utama Menurut Penyerapan


Tenaga Kerja

Sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar (rata-rata 20052009)

36

WILAYAH NUSTRA, MALUKU


DAN PAPUA
PROVINSI

SEKTOR UTAMA
MENURUT NILAI
TAMBAH

SEKTOR BASIS
(SPESIALISASI)

SEKTOR UTAMA
PENDORONG
PERTUMBUHAN

SEKTOR UTAMA
MENURUT
PENYERAPAN
TENAGA KERJA

Nusa
Tenggara
Barat

Pertambangan
Bukan Migas,
Tanaman Bahan
Makanan,
Perdagangan

Pertambangan
Bukan Migas,
Penggalian,
Tanaman Bahan
Makanan

Perdagangan,
Pengangkutan,
Tanaman Bahan
Makanan

Pertanian,
Perdagangan
Hotel & Restoran,
Jasa-jasa

Nusa
Tenggara
Timur

Tanaman Bahan
Makanan,
Pemerintahan
Umum,
Perdagangan

Peternakan,
Tanaman Bahan
Makanan,
Perikanan

Pemerintahan
Umum,
Perdagangan,
Tanaman Bahan
Makanan

Pertanian, Jasajasa, Industri

Maluku

Perdagangan,
Perikanan,
Pemerintahan
Umum

Perikanan,
Perkebunan,
Kehutanan

Perdagangan,
Pengangkutan,
Pemerintahan
Umum

Pertanian, Jasajasa,
Perdagangan
Hotel & Restoran

Maluku
Utara

Perdagangan,
Perkebunan,
Industri Bukan
Migas

Perkebunan,
Perikanan,
Kehutanan

Perdagangan,
Perkebunan,
Tanaman Bahan
Makanan

Pertanian,
Perdagangan
Hotel & Restoran,
Jasa-jasa

Papua Barat

Industri Migas,
Pertambangan
Migas,
Perdagangan

Kehutanan,
Perikanan, Industri
Migas

Konstruksi,
Pemerintahan
Umum,
Perdagangan

Pertanian, Jasajasa,
Perdagangan
Hotel & Restoran

WILAYAH SULAWESI
PROVINSI

SEKTOR UTAMA
MENURUT NILAI
TAMBAH

SEKTOR BASIS
(SPESIALISASI)

SEKTOR UTAMA
PENDORONG
PERTUMBUHAN

SEKTOR UTAMA
MENURUT
PENYERAPAN
TENAGA KERJA

Sulawesi
Utara

Konstruksi,
Perdagangan,
Pemerintahan
Umum

Penggalian,
Perikanan,
Perkebunan

Konstruksi,
Perdagangan,
Pengangkutan

Pertanian,
Perdagangan
Hotel & Restoran,
Jasa-jasa

Sulawesi
Tengah

Perkebunan,
Tanaman Bahan
Makanan,
Perdagangan

Perkebunan,
Kehutanan,
Perikanan

Perkebunan,
Perdagangan,
Pemerintahan
Umum

Pertanian,
Perdagangan
Hotel & Restoran,
Jasa-jasa

Sulawesi
Selatan

Perdagangan,
Tanaman Bahan
Makanan, Industri
Bukan Migas

Perikanan,
Pertambangan
Bukan Migas,
Tanaman Bahan
Makanan

Perdagangan,
Perkebunan,
Pemerintahan
Umum

Pertanian,
Perdagangan
Hotel & Restoran,
Jasa-jasa

Sulawesi
Tenggara

Perdagangan,
Pemerintahan
Umum, Perikanan

Perikanan,
Peternakan,
Perkebunan

Perdagangan,
Perikanan, Industri
Bukan Migas

Pertanian,
Perdagangan
Hotel & Restoran,
Jasa-jasa

Gorontalo

Pemerintahan
Umum, Tanaman
Bahan Makanan,
Perdagangan

Perikanan,
Tanaman Bahan
Makanan,
Peternakan

Pemerintahan
Umum, Tanaman
Bahan Makanan,
Pengangkutan

Pertanian, Jasajasa,
Perdagangan
Hotel & Restoran

VII
CONTOH ISU STRATEGIS PROVINSI:
Nusa Tenggara Timur

39

Rat-raPengurangPesntaePndukMisn205-08(%)

4
.2
0
K
U
P
A
N
G
L
E
M
B
A
T
.0
0
S
U
M
B
A
R
A
T
A
L
O
R
M
A
N
G
A
R
I
B
A
R
T
S
U
M
B
A
T
I
M
U
R
M
A
N
G
A
R
I
T
I
M
O
R
T
E
H
S
E
L
N
F
L
O
R
E
S
S
I
K
A
B
E
L
U
N
G
A
D
.-2
E
N
D
E
K
O
T
A
K
U
P
A
N
G
.-4
0
R
O
T
E
N
D
A
O
.0-1
0
.R
-a
.tra
5
0
0
.
5
.
0
1
0
.
tP
e
rtu
m
b
u
h
a
n
P
D
R
B
N
o
n
M
ig
a
s
25
-2
0
8
(%
)

ANALISIS KUALITAS PERTUMBUHAN NTT

II

III

Kuadran
Kuadran I:I: Pertumbuhan
Pertumbuhan
Tinggi
Tinggi ,, Pro-Poor
Pro-Poor SUMBA
SUMBA
TIMUR
TIMUR
TIMOR
TIMOR TENGAH
TENGAH SELATAN
SELATAN
TIMOR
TIMOR TENGAH
TENGAH UTARA
UTARA
ALOR
ALOR
LEMBATA
LEMBATA
FLORES
FLORES TIMUR
TIMUR
SIKKA
SIKKA
MANGGARAI
MANGGARAI BARAT
BARAT
Kuadran
Kuadran II:
II:
Pertumbuhan
Pertumbuhan Rendah,
Rendah,
Pro-Poor
Pro-Poor
SUMBA
SUMBA BARAT
BARAT
KUPANG
KUPANG
MANGGARAI
MANGGARAI

IV

Kuadran
Kuadran III:
III:
Pertumbuhan
Pertumbuhan Rendah
Rendah ,,
Kurang
Kurang Pro-Poor
Pro-Poor

NGADA
NGADA
Kuadran
Kuadran IV:
IV:
Pertumbuhan
Pertumbuhan Tinggi,
Tinggi,
40
Kurang
Kurang Pro-Poor
Pro-Poor ROTE
ROTE
NDAO
NDAO

.1
1
2
0
T
I
M
O
R
T
E
N
G
A
H
U
T
A
R
D
O
K
U
P
A
N
G
.0
0
F
L
O
R
E
S
T
I
M
U
R
N
G
A
D
A
L
O
S
U
M
B
A
R
A
T
.0
8
B
E
L
U
T
I
M
O
R
T
E
N
G
A
H
S
E
L
A
T
N
K
O
T
A
K
U
P
A
N
G
S
I
K
A
.0
6
L
E
M
B
A
T
E
N
D
E
M
A
N
G
A
R
I
B
A
R
T
S
U
M
B
A
T
I
M
U
R
.4-1
M
A
N
G
A
R
I
0
.R
5
.
0
0
.
5
.
0
1
0
.
a
t-ra
tP
e
rtu
m
b
u
h
a
n
P
D
R
B
N
o
n
M
ig
a
s2
05
-2
08(%
)

Rat-raPenigkatnIPM205-08

ANALISIS KUALITAS KEUANGAN DAERAH NTT

II

III

Kuadran
Kuadran I:I: Pertumbuhan
Pertumbuhan
Tinggi
Tinggi ,, ProPro- Human
Human Dev
Dev
TIMOR
TIMOR TENGAH
TENGAH UTARA
UTARA
BELU
BELU
ALOR
ALOR
FLORES
FLORES TIMUR
TIMUR
ROTE
ROTE NDAO
NDAO
Kuadran
Kuadran II:
II: Pertumbuhan
Pertumbuhan
Rendah,
Rendah, ProPro- Human
Human Dev
Dev
SUMBA
SUMBA BARAT
BARAT
KUPANG
KUPANG
NGADA
NGADA
Kuadran
Kuadran III:
III: Pertumbuhan
Pertumbuhan
Rendah
Rendah ,, Kurang
Kurang ProPro- Human
Human
DevMANGGARAI
DevMANGGARAI

IV

Kuadran
Kuadran IV:
IV: Pertumbuhan
Pertumbuhan
Tinggi,
Tinggi, Kurang
Kurang ProPro- Human
Human
DevSUMBA
DevSUMBA TIMUR
TIMUR
TIMOR
TIMOR TENGAH
TENGAH SELATAN
SELATAN
LEMBATA
LEMBATA
SIKKA
SIKKA
ENDE
ENDE
MANGGARAI
MANGGARAI BARAT
BARAT
41
KOTA
KOTA KUPANG
KUPANG

Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi


Provinsi Nusa Tenggara Timur Memiliki
Trend Positif
1.Pertumbuhan
1.Pertumbuhan Ekonomi
Ekonomi
Provinsi
Provinsi Nusa
Nusa Tenggara
Tenggara
Timur
Timur selama
selama tahun
tahun
2005-2008
2005-2008 cenderung
cenderung
fluktuatif,
fluktuatif, Namun
Namun
memiliki
memiliki trend
trend potensi
potensi
ekonomi
ekonomi yang
yang tumbuh
tumbuh
positif
positif dengan
dengan
pertumbuhan
pertumbuhan ekonomi
ekonomi
pada
pada kisaran
kisaran 3,5
3,5 5,2
5,2
persen.
persen.
2.Namun,
2.Namun, potensi
potensi ini
ini
masih
masih berada
berada dibawah
dibawah
kisaran
kisaran target
target
pertumbuhan
pertumbuhan ekonomi
ekonomi
Prov.
Prov. Nusa
Nusa Tenggara
Tenggara
Timur
Timur yang
yang tertuang
tertuang
dalam
dalam RPJMN
RPJMN 201020102014.
2014.
3.Perlu
3.Perlu pengembangan
pengembangan
sektor
sektor pengerak
pengerak utama
utama
42
pertumbuhan
pertumbuhan ekonomi
ekonomi

Penurunan Tingkat Kemiskinan Provinsi


Nusa Tenggara Timur Menunjukkan Kinerja
Yang Cukup Baik
1.
1. Perkembangan
Perkembangan tingkat
tingkat
kemiskinan
kemiskinan selama
selama
periode
periode 2005-2009
2005-2009
cenderung
cenderung menurun.
menurun.
2.
2. Berdasarkan
Berdasarkan data
data
Maret
Maret 2010,
2010, tingkat
tingkat
kemiskinan
kemiskinan Provinsi
Provinsi
Nusa
Nusa Tenggara
Tenggara Timur
Timur
berada
berada pada
pada posisi
posisi
23,03
23,03 persen.
persen.
3.
3. Tren
Tren penurunan
penurunan
kemiskinan
kemiskinan sampai
sampai
dengan
dengan tahun
tahun 2014
2014
(yang
(yang dihitung
dihitung
berdasarkan
berdasarkan data
data
2005-2009)
2005-2009) masih
masih
berada
berada di
di atas
atas kisaran
kisaran
target
target kemiskinan
kemiskinan
dalam
dalam RPJMN
RPJMN 201020102014.
2014.
4.
4. Untuk
Untuk itu,
itu, perlu
perlu
43
dilakukan
dilakukan Kebijakan
Kebijakan

Perkembangan Tingkat Pengangguran


Provinsi Nusa Tenggara Timur Berada
Diatas Kisaran Target RPJMN 2010-2014
1.
1. Perkembangan
Perkembangan tingkat
tingkat
pengangguran
pengangguran selama
selama
periode
periode 2005-2010
2005-2010
cenderung
cenderung menurun.
menurun.
2.
2. Berdasarkan
Berdasarkan data
data
Februari
Februari 2010,
2010, tingkat
tingkat
pengangguran
pengangguran Provinsi
Provinsi
Nusa
Nusa Tenggara
Tenggara berada
berada
di
di level
level 3,49
3,49 persen
persen
meningkat
meningkat dari
dari tahun
tahun
sebelumnya.
sebelumnya.
3.
3. Tren
Tren penurunan
penurunan
pengangguran
pengangguran sampai
sampai
dengan
dengan tahun
tahun 2014
2014
(yang
(yang dihitung
dihitung
berdasarkan
berdasarkan data
data 200620062009)
2009) berada
berada di
di bawah
bawah
kisaran
kisaran target
target
pengangguran
pengangguran dalam
dalam
RPJMN
RPJMN 2010-2014.
2010-2014.
4.
4. Namun
Namun demikian,
demikian, tetap
tetap
perlu
perlu dilakukan
dilakukan
44
kebijakan
kebijakan yang
yang pro
pro job,
job,
khususnya di Kab/Kota

ISU STRATEGIS 1: PERCEPATAN


PERTUMBUHAN EKONOMI YANG
BERKUALITAS

Dalam tiga tahun terakhir,


pertumbuhan ekonomi disertai
dengan penurunan tingkat
kemiskinan dan pengangguran,
menunjukkan tren perbaikan
kualitas pertumbuhan.
Namun laju pertumbuhan masih
lebih rendah dari nasional. Ratarata laju pertumbuhan pertahun
selama 2004-2009 4,8%, sementara
nasional 5,5%. Akselerasi
pertumbuhan diperlukan untuk
mengurangi kesenjangan, serta
menurunkan tingkat kemiskinan
dan pengangguran lebih cepat lagi.
Pendorong utama pertumbuhan
daerah adalah konsumsi,
sedangkan sumbangan investasi
(PMTB) masih rendah.
Selalu mengalami defisit
perdagangan antardaerah dalam
periode 2004-2008
45

ISU STRATEGIS 2: KUALITAS SUMBER DAYA


MANUSIA

Indeks Pembangunan Manusia


(IPM) termasuk tertinggal
secara nasional, khususnya
pada aspek rata-rata lama
sekolah dan pengeluaran
perkapita.
Tingkat pengangguran jauh
lebih rendah dari tingkat
nasional, namun tingkat
kemiskinan jauh di atas
tingkat nasional. Demikian
juga pangsa pekerja informal.
Hal ini menunjukkan
rendahnya kesempatan
pekerjaan yang berkualitas.
69,4% angkatan kerja
(penduduk usia 15 tahun ke
atas) tidak memiliki ijasah

NTT

NASIONA
L

RANKIN
G DARI
33
PROVIN
SI

Usia Harapan Hidup


(th)

67

69

25

Angka Melek Huruf


(%)

87.66

92.19

27

6.55

7.52

32

599.93

628.33

30

66.15

71.17

31

KOMPONEN IPM

Rata-Rata Lama
Sekolah (th)
Pengeluaran Perkapita
Disesuaikan (Rp
Ribu)
IPM

PENGANGGURA
N TERBUKA
2009 (%)

PEKERJA
INFORMAL
2009 (%)

KEMISKINA
N 2009 (%)

NTT

2.8

83.3

23.3

NASIONAL

8.1

62.1

14.2

46

ISU STRATEGIS 3: KINERJA BIROKRASI DAN


PELAYANAN PUBLIK
PERINGKAT KABUPATEN/KOTA NTT
MENURUT SKOR KELEMBAGAAN
(KPPOD 2009)
KABUPATEN/KOTA
Kupang

RANKING
3 dari 59 kota

PERINGKAT DAYA SAING


KABUPATEN/KOTA NTT MENURUT
SKOR KESELURUHAN (KPPOD 2009)
KABUPATEN/KOTA
Kupang

RANKING
45 dari 59 kota

Lembata

16 dari 169 kab

Ende

114 dari 169 kab

Ende

41 dari 169 kab

Lembata

126 dari 169 kab

Manggarai

55 dari 169 kab

Timor Tengah Sel.

133 dari 169 kab

Timor Tengah
Selatan

59 dari 169 kab

Sika

150 dari 169 kab

Sumba Barat

87 dari 169 kab

Ngada

151 dari 169 kab

Ngada

90 dari 169 kab

Timor Tengah Utara

152 dari 169 kab

Timur Tengah Utara

93 dari 169 kab

Manggarai

157 dari 169 kab

Sumba Barat

168 dari 169 kab

Sika

109 dari 169 kab

Faktor kualitas kelembagaan sangat penting untuk meningkatkan daya saing dan
daya tarik investasi daerah, khususnya daerah-daerah yang tidak memiliki sumber
daya alam melimpah.
Kerjasama antardaerah dan sinergi pusat-daerah sangat strategis dalam mengurangi
47
hambatan distribusi barang antarwilayah dan mengurangi duplikasi perpajakan yang

ISU STRATEGIS 4: PENGEMBANGAN


KOMODITAS UNGGULAN DAERAH
Sektor unggulan masih
sektor primer
Peran sektor unggulan
dalam mendorong
pertumbuhan wilayah
masih rendah. Secara
keseluruhan kontribusi
sektor unggulan dalam
pertumbuhan wilayah baru
28%.
Intensitas perdagangan
yang signifikan baru terjadi
dengan wilayah Jawa-Bali,
sedangkan dengan pulaupulau lain relatif kecil.

SEKTOR (tradable)

SKOR LQ
200
5

200
6

200
7

200
8

Tanaman Bahan Makanan

3.04

3.20

3.00

3.21

Tanaman Perkebunan

1.32

1.25

1.24

1.28

Peternakan

5.86

5.65

5.90

5.93

Kehutanan

0.23

0.25

0.23

0.23

Perikanan

2.07

2.12

2.31

2.22

Pertambangan Minyak & Gas


0.00
Bumi

0.00

0.00

0.00

Pertamabangan Bukan Migas 0.00

0.00

0.00

0.00

Penggalian

2.07

1.67

1.84

1.80

Industri Migas

0.00

0.00

0.00

0.00

Industri Bukan Migas

0.08

0.08

0.08

0.08

ISU STRATEGIS 5: RENDAHNYA


INTERKONEKTIVITAS DOMESTIK INTRA
& ANTARPULAU

Termasuk salah satu dari delapan provinsi kepulauan, terdiri dari 1192 pulau (711
belum bernama)

Prasarana dan sarana perhubungan antarpulau masih minim. Pangsa angkutan laut
dalam PDRB hanya 0,8%, ASDP (penyeberangan) hanya 0,1%.
KONDISI
SangatJALAN
bergantung pada pelabuhan di Jawa Timur dan Bali untuk pengiriman
TINGKAT
PANJANG
PRASARANA TRANSPORTASI
komoditas
ekspor.PANJANG
NASIONAL di NTT
KETERSEDIAAN
(Km)

(Des 2008)

Baik
Sedang
Rusak
Total

(%)

568.0

44.6

465.7

36.6

239.3

18.8

1,273.0

(Podes 2005)

Darat

94.5

Air

0.8

Darat dan air

4.8

Dapat dilalui kendaraan roda


empat sepanjang tahun

100.0

JALAN NEGARA

(Persen)

JALAN PROVINSI

81.9

JALAN KABUPATEN

RASIO
PANJANG
JALAN
NON-ASPAL
(%)

RASIO
PANJANG
JALAN RUSAK
(%)

RASIO
PANJANG
JALAN
NON-ASPAL
(%)

RASIO
PANJANG
JALAN RUSAK
(%)

RASIO
PANJANG
JALAN
NON-ASPAL
(%)

RASIO
PANJANG
JALAN RUSAK
(%)

2003

19.6

26.7

11.1

19.9

62.4

45.2

2004

9.4

9.4

81.1

9.4

62.4

45.2

2005

9.4

24.7

81.1

75.0

79.9

13.2

2006

9.4

24.7

81.1

75.0

62.4

45.2

TAHUN

KONDISI PRASARANA JALAN NTT


JALAN NEGARA

JALAN PROVINSI

JALAN
KABUPATEN

RASIO
PANJANG
JALAN
NONASPAL
(%)

RASIO
PANJANG
JALAN
RUSAK
(%)

RASIO
PANJANG
JALAN
NONASPAL
(%)

RASIO
PANJANG
JALAN
RUSAK
(%)

RASIO
PANJANG
JALAN
NONASPAL
(%)

RASIO
PANJANG
JALAN
RUSAK
(%)

2003

19.6

26.7

11.1

19.9

62.4

45.2

2004

9.4

9.4

81.1

9.4

62.4

45.2

2005

9.4

24.7

81.1

75.0

79.9

13.2

2006

9.4

24.7

81.1

75.0

62.4

45.2

TAHUN

Sumber: Statistik Perhubungan

ISU STRATEGIS 6: PEMBANGUNAN KAWASAN


PERBATASAN

51

Kawasan perbatasan di NTT yang diprioritaskan dalam RPJMN


2010-2014 meliputi kawasan perbatasan di Kabupaten
Kupang, Timor Tengah Utara, Belu, Alor, dan Rote Ndao.
Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) yang diprioritaskan
adalah Kefamenanu (Timor Tengah Utara) dan Atambua
(Belu).

ISU STRATEGIS 7: DEGRADASI LINGKUNGAN


HIDUP
Kelestarian sumber daya
alam dan lingkungan hidup
sangat penting bagi wilayah
kepulauan yang
perekonomiannya sangat
bergantung pada produksi
komoditas primer.
Dampak perubahan iklim
akan dirasakan paling besar
di wilayah kepulauan,
khususnya pulau-pulau kecil.
Rehabilitasi lingkungan lahan
kritis akan meningkatkan
daya tahan lingkungan.
Perlu pengembangan
ekonomi perdesaan untuk
merangsang tumbuhnya
kegiatan alternatif pertanian
dan penggalian tradisional.

NTT

LUAS (Km2)

Lahan kritis

4.390.370

Total wilayah

4.613.787

Persentase lahan
kritis
Tingkat kesesuaian
penggunaan lahan
dengan Rencana
Tata Ruang Pulau

95%
52,7%*

Sumber: Statistik Lingkungan Hidup,


2006/2007
Badan Pertanahan Nasional
2007
53

HARAPAN DALAM DISKUSI:

54

SEKIAN DAN TERIMA KASIH

55