Anda di halaman 1dari 4

3/18/2015

UniSosialDemokrat

Menggugat'keagungan'pertumbuhanekonomi
Oleh:RofikohRohim

Pekan lalu, Forum Indonesiayang diprakarsai Harian Bisnis Indonesia dan Continuing
Professional Education Indonesiamenggelar diskusi terbatas bertema Membangun Ekonomi
Bangsa:AntaraEkonomiMakrodanKemakmuranRakyat.Acarayangdiselenggarakanbersama
IkatanSarjanaEkonomiIndonesiaitumenghadirkanpembicaraDeputiGubernurBIMuliaman
Darmansyah Hadad, Ketua Umum Kadin Indonesia M.S. Hidayat, Ketua Umum Apindo
SofjanWanandi, dan Ketua Umum REI Lukman Purnomosidi. Turut berbicara pada forum
itu Direktur Perencanaan Ekonomi Makro Bappenas Bambang Prijambodo, Kepala Pusat
Kebijakan Ekonomi dan Keuangan, Depkeu, Andi Megantara, Sekjen Gabungan Perusahaan
Ekspor Indonesia Toto Dirgantoro, Ketua Asosiasi Emiten Indonesia Airlangga Hartarto,
Guru Besar Universitas Padjadjaran Armida Alisyahbana, Guru Besar IPB Mangara
Tambunan, Guru Besar Universitas Lampung Bustanul Arifin, serta mantan Menteri
Pariwisata,Seni,danBudayaMarzukiUsman.
Berikutlaporanhasildiskusipadaforumtersebut.
Dapat dikatakan bahwa pengejaran performa indikator makro, seperti pertumbuhanyang
merupakan indikator makro terpentingmasih menjadi tema sentral yang dinilai sebagai
keberhasilansuatupemerintah.Pasalnya,denganmengejarpertumbuhan,dinilaiotomatisakan
terjaditetesankebawahsecaraalamiahmenujumasyarakatyangmakmur,sepertipenciptaan
lapangankerjadanpengurangankemiskinan.
Pemerintah tampak telah berusaha memulihkan pertumbuhan ekonomi yang sempat anjlok
minus13%saatkrisis.Tahundemitahuntampakadanyakenaikanpertumbuhanekonomiyang
cukupsignifikandanselalupositif.
Tetapi bagi masyarakat awam, pertumbuhan bukan indikator yang cukup penting. Ini karena
bagi mereka yang terpenting apakah kehidupan sudah beranjak, misalnya, tidak miskin lagi
aliaslebihmakmurdibandingkandenganmasasebelumnya.
Tidak pernah menjadi risau ketika pertumbuhan ekonomi yang dicapai itu salah sasaran alias
hanya dinikmati oleh kelompok tertentu. Ini karena adanya distribusi yang tidak merata. Atau
bahkan ada anggapan bahwa ketimpangan perolehan kekayaan yang bermuara pada
kemiskinan hanya dinilai sebagai kondisi sementara. Yang penting, indikator makro di atas
kertasselalumenunjukkanperformabagus.
Tetapi pemberantasan kemiskinan sebenarnya justru merupakan kondisi penting atau syarat
yang harus diadakan guna menunjang pertumbuhan ekonomi. Bagaimana pun, bertambahnya
penduduk miskin mendorong taraf hidup yang rendah, sehingga akan menurunkan
produktivitasmerekayangpadagilirannyaekonominasionalmenurundanakhirnyamendorong
melambatnyapertumbuhanekonomi.
Padahal, kalau strategi ditekankan pada pemerataan pendapatan dan pengurangan angka
kemiskinan, maka taraf hidup masyarakat secara keseluruhan akan meningkat, sehingga
mendorongpermintaanbarangprimerdansekunderyangdapatdihasilkanolehperekonomian
nasional.
Ini pada gilirannya menunjang makin melajunya pertumbuhan ekonomi melalui kenaikan
permintaan barang lokal dari hasil produksi industri lokal, selanjutnya mendorong penciptaan
lapangankerjadaninvestasi.Bandingkanjikakenaikanpendapatanhanyaterjadipadasikaya
dan yang miskin tetap miskin atau justru bertambah miskin, maka golongan kaya akan
mengonsumsibarangtersieryangumumnyamerupakanbarangimpor.
Jika kesenjangan pendapatan terus berlangsung, maka akan tercipta disinsentif material dan
psikologis yang pada gilirannya menghambat kemajuan ekonomi. Padahal, sudah pasti
pemerintah bersusah payah melakukan serangkaian strategi guna menyajikan kemakmuran
masyarakat.
Karena itu, strategi pembangunan yang terlalu mengagungkan pertumbuhan ekonomi dan
http://www.unisosdem.org/article_printfriendly.php?aid=7737&coid=2&caid=19

1/4

3/18/2015

UniSosialDemokrat

kurang penekanan pemerataan pendapatan dan pengurangan angka kemiskinan perlu dipikir
ulang.Inikarenapemerataanpendapatanadalahsuatualatyangefektifuntukpemberantasan
kemiskinanyangmerupakantujuanutamadaripembangunanekonomi.
Prioritasstrategi
Dalam pembentukan kebijakan strategi pembangunan, masalah yang sering timbul adalah ke
mana seharusnya strategi pembangunan diarahkan: pengejaran pertumbuhan ekonomi,
melakukan pemerataan pendapatan, atau mengurangi kemiskinan? Tiga pilihan yang sama
samapentingtetapiharusditentukanprioritasnya.
Pemerintah tampak tengah berupaya menyeimbangkan ketiga strategi pembangunan itu.
Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga melalui pola pendistribusian hasil pembangunan yang
akhirnyabermuarapadamengurangiangkakemiskinan,terutamasekaliprogrampengurangan
kemiskinan absolut dengan menjamin setiap penduduk akan terpuaskan kebutuhan dasarnya
melaluipertumbuhanekonomi.
Hal itu dilakukan karena ada hubungan aritmatik antara kegiatan pembangunan untuk
pencapaian pertumbuhan ekonomi dan pemerataan hasilnya. Ini dapat dilihat dari
pertumbuhan ratarata pendapatan per kapita, perubahan dalam pemerataan, dan
pengurangankemiskinanabsolut.
Dengan kata lain, pengurangan kemiskinan di suatu negara pada suatu waktu tertentu akan
ditentukan sepenuhnya oleh tingkat pertumbuhan ratarata pendapatan per kapita dan
perubahan dalam distribusi pendapatan. Dengan demikian, strategi pembangunan ditentukan
oleh tingkat pertumbuhan ekonomi yang otomatis akan memunculkan perubahan pemerataan
pendapatan,sehinggapadagilirannyamengangkatkondisikaummiskindimasyarakat.
Namun, terdapat banyak bukti yang menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan
pemerataan pendapatan tidak dapat otomatis jalan berbarengan dan kenyataannya cenderung
timpang, sehingga justru akan meningkatkan persentase kemiskinan. Berdasarkan data,
kendati ekonomi selalu tumbuh positif, pertumbuhan penduduk miskin masih fluktuatif (lihat
grafik).
Secarateori,pertumbuhandanelastisitasdistribusikemiskinantergantungsecarapositifpada
tingkat pembangunan dan secara negatif pada tingkat ketidakmerataan. Artinya, strategi
kombinasi optimal pada pertumbuhan ekonomi dan distribusi yang mengarah pada
pengurangankemiskinanharusditerapkan.
Terdapat hipotesis yang bisa menjelaskan mengapa pemerataan pendapatan yang progresif
akan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Hal ini dapat terjadi karena sampai saat ini
masihadakendalaaksesmodal(kredit)mengingatadanyaketidaksempurnaanpasarkredit.
Diperlukan pola pendistribusian kembali modal dari perusahaan/individu yang kaya kapital
kepada yang kekurangan kapital telah meningkatkan efisiensi, investasi, dan pertumbuhan
ekonomi. Saat ini pemerintah tampak mengejar pertumbuhan ekonomi untuk jalan bersamaan
denganstrategipemerataanpendapatanyangprogresifmelalui:
Pertama,pemerintahdapatmerealisasikannyadenganprogramprogramkreditlunakdanjuga
penjaminankreditberbasiskomunitas,sehinggakredittetappadasasarandanadamekanisme
pengawasan dari komunitas untuk mengurangi korupsi. Artinya, saat ini masih menjadi
problemaklasikbagimasyarakatmiskinuntukmendapatkantetesanpendapatanmelaluikredit
lunakdariperbankanataulembagakeuanganlainnya,karenaminimnyaprogrampenjaminan.

1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

JumlahpendudukmiskindiIndonesia
(Jutaorang)
Jumlahpendudukmiskin
Jumlahpenduduk
Kota
Desa
204,3
17,6
204,8
15,64
202,2
12,3
205,9
8,6
211
13,3
214,1
12,2
217,4
11,4

http://www.unisosdem.org/article_printfriendly.php?aid=7737&coid=2&caid=19

31,9
32,33
25,4
29,3
25,1
25,1
24,8
2/4

3/18/2015

UniSosialDemokrat

2005
Maret2006

219,9
220

12,4
14,29

22,7
24,76

Sumber:BPS

Agst.04
Feb.05
Nov.05
Feb.06
Agst.06

AngkapengangguranIndonesia
Penganggurterbuka(juta)
Tingkatpengangguranterbuka(%)
10,3
0,099
10,9
0,1026
11,9
0,1124
11,1
0,1045
10,93
0,1028

Sumber:BPS

Kedua, pemerintah menjalankan berbagai program pembangunan padat karya, seperti


pendirian sentra industri kecil dan menengah serta melalui segenap pelatihan di balai karya
yang memberikan pelatihan keterampilan khusus, sehingga masyarakat miskin memiliki
keahlianyangdapatdijawantahkanbagiperolehanpenghasilan.
Ketiga, pemerintah memberikan jaminan akses kebutuhan dasar bagi rakyat bawah, seperti
kebutuhan hidup seharihari, akses pendidikan, dan kesehatan yang saat ini sudah dilakukan
melalui biaya pendidikan dan kesehatan gratis. Saat ini, pemerintah melakukannya dan
diharapkanmenjadisemakindiperluasfasilitasnya.
Ada keinginan untk melakukan distribusi kepemilikan aset, tetapi hal ini tidak mudahapalagi
landreformsehinggalangkahlainnyaperluditempuh,yaitudenganmeningkatkanpenerimaan
melaluipolapengambilansebagianpendapatandankekayaanpribadigolonganberpenghasilan
tinggi secara progresif dan proporsional. Jadi, ada transfer pembayaran dari kelompok kaya
kepada negara untuk disalurkan ke si miskin melalui pembebasan uang sekolah, kesehatan,
penciptaanlapangankerja,dansebagainya.
Keempat,pemerintahbekerjasamadenganswastalokaldanasinguntukmenjalankanprogram
corporate social responsibility (CSR)bahkan kalau perlu mewajibkan persentase laba bersih
untukkegiatanCSRmelaluipolabapakangkatdalamkegiatanekonomi.CSRselanjutnyadapat
dijadikansebagaisalahsatuindikatortanggungjawabsosialbagiduniakorporasi.
Kelima, pemerintah konsisten dan mewujudkan penegakan hukum, sehingga dunia usaha
nasional dan asing dapat melakukan usaha secara berkesinambungan untuk menciptakan
lapangankerjasecaraluas.
Dengan demikian, kebijakan pemerataan pendapatan akan menghasilkan manfaat ganda, yaitu
mengurangi kemiskinan pada jangka pendek dan mempercepat proses pengurangan
kemiskinandimasamendatang.Jadi,programpenguranganketimpangankemakmuranmelalui
pendistribusiankembalikekayaandanprogramkebijakanpertumbuhanyangprorakyatmiskin
akanmewujudkanpertumbuhanekonomiyangberkelanjutan.
Bagaimanapun, penghapusan kemiskinan yang cepat dalam segala bentuknya adalah tujuan
yang berarti untuk pembangunan. Pengurangan kemiskinan membutuhkan kombinasi optimal
daripertumbuhanekonomidankebijakanpemerataan.
Jadi, selain akselerasi pertumbuhan juga perlu penanganan ketimpangan pendapatan,
pengentasan kemiskinan, dan perubahan struktural dalam kehidupan sosial. Bagaimanapun
perekonomian yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi tinggi saja tidak cukup, tetapi perlu
diukur dan dilihat atas dasar jumlah kesempatan kerja baru, peningkatan keadilan sosial, dan
pemberantasankemiskinan.
Secara garis besar, pembangunan harus menyentuh pemenuhan kebutuhan dasar, jati diri,
dan kemerdekaan. Kemerdekaan adalah kemampuan berdiri tegak, sehingga tidak diperbudak
oleh aspek material. Perbudakan materi menimbulkan kecenderungan untuk korupsi, cuek,
individualistis,bahkantidakseganseganmengorbankankepentinganoranglain.
Jadi,sudahsaatnyakonseppembangunanharusdidefinisikankembali.Inikarenasampaisaat
ini masih ditemukan masyarakat yang kurang gizi, putus sekolah, pemukiman kumuh,
pengangguran, dan ketimpangan pendapatan yang tetap tidak teratasi. Lebih tegas lagi, hal
yang dicapai dari hasil pertumbuhan ekonomi bukan hanya kekayaan, tetapi juga tambahan
pilihan.(rofikoh.rokhim@bisnis.co.id)
http://www.unisosdem.org/article_printfriendly.php?aid=7737&coid=2&caid=19

3/4

3/18/2015

URL

UniSosialDemokrat

Source:

http://www.bisnis.com/servlet/page?

_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL
RofikohRohim
BisnisIndonesia
KeteranganArtikel
Sumber:BisnisIndonesia
Tanggal:05Mar07
Catatan:
URLArtikel:http://www.unisosdem.org/ekopol_detail.php?aid=7737&coid=2&caid=19
Copyright2007UniSosialDemokrat,http://www.unisosdem.org

http://www.unisosdem.org/article_printfriendly.php?aid=7737&coid=2&caid=19

4/4