Anda di halaman 1dari 20

TUGAS MATA KULIAH MANAJEMEN ENERGI

AUDIT ENERGI PADA HOTEL KETINTANG ASRI SURABAYA


Dosen pengampuh : Indra Herlamba Siregar, S.T.,M.T.

Oleh :
Muji

125754236

Sutra Angga W

125754237

Andi Ferianto

125754225

Achmad Faizal R

125754230

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2015

BAB I
Pendahuluan

Industri perhotelan merupakan suatu usaha yang kinerja operasionalnya sangat


membutuhkan ketersediaan energi yang besar. Kebutuhan akan energi yang besar tersebut
digunakan untuk menjalankan sistem fasilitasfasilitas yang terdapat pada hotel, seperti system
pendingin udara, sistem penerangan, sistem lift, dan sistem fasilitas hotel lainnya.
Ketersediaan energi yang ada untuk operasional hotel tentunya menjadi salah satu faktor yang
dapat menjaga kepuasan dan kepercayaan konsumen terhadap sebuah hotel. Hotel sebagai
pengguna energi, rata-rata menghabiskan 30 % dari biaya operasionalnya untuk pembelian
komponen energi (Elyza et al, 2005). Dan seiring dengan meningkatnya biaya energi yang
ditetapkan, maka biaya untuk pembelian energi akan berpotensi mengalami kenaikan.
Menurut Shiming & Burnett (2002), konsumsi energi untuk penerangan, system pengaturan
suhu, dan sistem pemanas air umumnya mencapai 70 % dari penggunaan total energi pada
bangunan hotel. Jumlah kebutuhan energi tersebut tentunya akan menentukan biaya
operasional yang harus dikeluarkan pihak pengelola hotel setiap periode tertentu. Biaya
operasional tersebut tentunya harus ditekan serendah mungkin agar pengelola hotel mampu
mendapatkan keuntungan secara maksimal. Namun tentunya dilakukan dengan tetap
mempertimbangkan faktor-faktor yang lain, seperti customer, biaya, tenaga kerja, dan
sebagainya. Hal tersebut menjadi salah satu latar belakang mengapa pemilihan jenis
penghematan energi pada operasional hotel menjadi suatu permasalahan yang dihadapi oleh
pelaku industry perhotelan. Industri hotel memiliki waktu operasional penggunaan energi
yang relatif kontinyu selama 24 jam sehari. Hal ini membutuhkan jaminan ketersediaan
suplai listrik yang mencukupi untuk menjaga produktivitas pelayanan hotel. Namun,
keterbatasan PLN sebagai penyedia energi listrik negara serta ketentuan tarif dasar listrik
untuk konsumsi industri yang lebih tinggi menjadi suatu pertimbangan pelaku industri hotel
untuk melakukan penghematan energi. Adanya peraturan Pemerintah (PP) 70/2009 tentang
konservasi energi juga menjadi suatu tekanan dari pemerintah untuk menurunkan tingkat
konsumsi energi pada bangunan industri. Selain itu, adanya tekanan isu lingkungan yang
berkembang belakangan ini juga mendukung dilakukannya penghematan dalam penggunaan
energi. Oleh karena itu, adanya wacana untuk melakukan proses konservasi energi pada
operasional hotel dapat menjadi sebuah solusi yang dapat dilakukan. Konservasi energy
merupakan upaya mengefisienkan pemakaian energi dalam menghasilkan suatu produk

barang maupun jasa tanpa mengurangi kualitas dari produk tersebut. Dalam industri
perhotelan, efisiensi energi harus dilakukan tanpa mengurangi kenyamanan pelanggan dalam
menggunakan fasilitas hotel. Audit energi sendiri merupakan bagian dari manajemen energi.
Hasil dari audit energy digunakan sebagai dasar untuk mengelola dan mengatur energi yang
terpakai dalam suatu bangunan agar efisien tanpa mengurangi tingkat pelayanan bagi para
konsumen.

BAB II
Tinjauan Pustaka
2.1 Tinjauan Umum Hotel
2.1.1 Pengertian Hotel Secara Umum
Pengertian Hotel menurut Hotel Prpictors Act, 1956 (Sulatiyono, 1999:5) adalah suatu
perusahaan yang dikelola oleh pemiliknya dengan menyediakan makanan, minuman, dan
fasilitas kamar untuk tidur kepada orang orang yang sedang melakukan perjalanan dan
mampu membatar dengan jumlah wajar sesuai dengan pelayanan yang diterima tanpa adanya
perjanjian khusus (perjanjian membeli barang yang disertai dengan perundingan perundingan
sebelumnya).
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi No. KM.
37/PW.304/MPPT-86 : Hotel sebagai jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian besar
atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makan dan minum serta jasa
lainnya bagi umum, yang dikelola secara komersial.
Definisi hotel menurut Webster New World Dictionary Hotel as a commercial
establishment providing lodging and usually meals and other services for the public,
especially for travels. (Fred R.Lawson, 1988). Yang artinya hotel adalah suatu bangunan
yang menyediakan jasa penginapan, makanan, minuman, serta pelayanan lainnya untuk
umum yang dikelola secara komersial terutama untuk para wisatawan.
Sedangkan pengertian yang dimuat oleh Grolier Electronic Publishing Inc.(1995) yang
menyebutkan bahwa : Hotel adalah usaha komersial yang menyediakan tempat menginap,
makanan, dan pelayanan-pelayanan lain untuk umum.
Maka dari beberapa pernyataan itu dapat disimpulkan bahwa hotel adalah suatu akomodasi
yang menyediakan jasa penginapan, makan, minum, dan bersifat umum serta fasilitas lainnya
yang memenuh syarat kenyamanan dan dikelola secara komersil.
2.1.2 Pengertian City Hotel
City Hotel merupakan hotel yang terletak di bagian kota dengan katareristik kegiatan
perdagangan. Sehingga disediakan fasilitas-fasilitas pusat busana, bisnis, restoran, bar,
konferensi, pusat kebugaran, dan sebagainya (Walter A rutes and Partners, 1985). City Hotel
atau Hotel kota biasanya termasuk hotel mewah, hotel kepariwisataan. Karateristiknya antara
lain tingginya perbandingan pemakaian ruang-ruang, keteraturan pemanfaatan ruang-ruang

yang disediakan, termasuk pertokoan atau perkantoran, sehingga dalam pengembangannya


memungkinkan keberhasilan hotel tersebut (Ernst Neufert, 1987 hal 211)
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa City Hotel atau
Hotel Kota adalah Hotel yang ditinjau dari lokasinya terletak di perkotaan, umumnya
dipergunakan untuk kegiatan bisnis seperti rapat atau pertemuan-pertemuan perusahaan juga
bagi para tamu yang mengadakan perjalanan dan menginap dalam waktu singkat. Tetapi tidak
menutup kemungkinan adanya tamu yang sedang berwisata dan lebih suka mengidap di area
perkotaan, terlebih jika jarak tempat wisatanya dekat atau terletak di daerah perkotaan.

2.1.3 Penggolongan Hotel


Pemerintah telah menetapkan kualitas dan kuantitas hotel yang menjadi kebijaksanaan
yang berupa standar jenis klasifikasi yang ditujukan serta berlaku bagi suatu hotel. Penentuan
jenis hotel berdasarkan letak, fungsi, susunan organisasinya dan aktifitas penghuni hotel
sesuai dengan SK Mentri Perhubungan RI No. 241/4/70 tanggal 15 Agustus 1970. Hotel
digolongkan atas :
1) Residential Hotel, yaitu hotel yang disediakan bagi para pengunjung yang mnginap dalam
jangka waktu yang cukup lama. Tetapi tidak bermaksud menginap. Umumnya terletak dikota,
baik pusat maupun pinggir kota dan berfungsi sebagai penginapan bagi orang-orang yang
belum mendapatkan perumahan dikota tersebut.
2) Transietal Hotel, yaitu hotel yang diperuntukkan bagi tamu yang mengadakan perjalanan
dalam waktu relative singkat. Pada umumnya jenis hotel ini terletak pada jalan jalan utama
antar kota dan berfungsi sebagai terminal point. Tamu yang menginap umumnya sebentar
saja, hanya sebagai persinggahan.
3) Resort Hotel, yaitu diperuntukkan bagi tamu yang sedang mengadakan wisata dan liburan.
Hotel ini umumnya terletak didaerah rekreasi/wisata. Hotel jenis ini pada umumnya
mengandalkan potensi alam berupa view yang indah untuk menarik pengunjung.
Penentuan jenis hotel yang didasarkan atas tuntutan tamu sesuai dengan keputusan
Mentri Perhubungan RI No.PM10/PW.301/phb-77, dibedakan atas:
1) Bussiness hotel, yaitu hotel yang bertujuan untuk ,melayani tamu yang memiliki
kepentingan bisnis.
2) Tourist hotel, yaitu bertujuan melayani para tamu yang akan mengujungi objek objek
wisata.

3) Sport hotel, yaitu hotel khusus bagi para tamu yang bertujuan untuk olahraga atau sport
4) Research hotel, yaitu fasilitas akomodasi yang disediakan bagi tamu yang bertujuan
melakukan riset.
Sedangkan penggolongan hotel dilihat dari lokasi hotel menurut Keputusan Dirjen
Pariwisata terbagi menjadi dua, yaitu :
1) Resort hotel (pantai/gunung), yaitu hotel yang terletak didaerah wisata, baik pegunungan
atau pantai. Jenis hotel ini umumnya dimanfaatkan oleh para wisatawan yang datang untuk
wisata atau rekreasi.
2) City hotel (hotel kota), yaitu hotel yang terletak diperkotaan, umumnya dipergunakan
untuk melakukan kegiatan bisnis seperti rapat atau pertemuan-pertemuan perusahaan.
Penggolongan berbagai jenis hotel serta bentuk akomodasi tersebut pada dasarnya
tidak merupakan pembagian secara mutlak bagi pengujung. Dapat juga terjadi overlapping
yaitu salingmenggunakan satu dengan yang lainnya, misalnya seorang turis tidak akan ditolak
jika ingin menginap pada sebuah city hotel, ataupun sebaliknya.
2.1.4 Klasifikasi Hotel
Berdasarkan keputusan Dirjen Pariwisata No. 14/U/II/1988, tentang usaha dan
pengelolaan hotel menjelaskan bahwa klasifikasi hotel menggunakan sistem bintang.Dari
kelas yang terendah diberi bintang satu, sampai kelas tertinggi adalah hotel bintang lima.
Sedangkan hotel-hotel yang tidak memenuhi standar kelima kelas tersebut atau yang berada
dibawah standar minimum yang ditentukan disebut hotel non bintang. Pernyataan penentuan
kelas hotel ini dinyatakan oleh Dirjen Pariwisata dengan sertifikat yang dikeluarkan dan
dilakukan tiga tahun sekali dengan tata cara pelaksanaan ditentukan oleh Dirjen Pariwisata.
Dasar penilaian yang digunakan antara lain mencakup:
Persyaratan fisik, meliputi lokasi hotel dan kondisi bangunan.
Jumlah kamar yang tersedia.
Bentuk pelayanan yang diberikan
Kualifikasi tenaga kerja, meliputi pendidikan dan kesejahteraan karyawan.

Fasilitas olahraga dan rekreasi lainnya yang tersedia seperti kolam renang lapangan
tenis dan diskotik.
2.2 Manajemen Energi
Manajemen energi adalah sebuah teknik dan fungsi manajemen untuk memonitoring,
merekam, menganalisis dan mengontrol aliran energi yang bekerja dalam sebuah sistem
untuk mencapai efisiensi penggunaan yang maksimum. Manajemen energi mencakup
beberapa bidang, yaitu : teknik (engeneering), ilmu pengetahuan (science), matematika,
ekonomi, akuntansi, dan teknologi informasi. Manajeman energi merupakan kombinasi dari
technical skill dan manajemen bisnis yang befokus pada business engineering. Suatu
rancangan stategis untuk mengendalikan penggunaan energi.

2.3 Audit Energi


Energi merupakan salah satu faktor penting dalam operasional sebuah industri,
perusahaan, maupun instansi lain, karena memiliki tingkat ketergantungan tinggi terhadap
kebutuhan energi untuk operasional usahanya. Sehingga diperlukan upaya konservasi untuk
mencapai tujuan efisiensi. Energi Listrik memilki kontribusi besar terhadap biaya operasional
yang harus dikeluarkan. Peranan listrik ini menjadi semakin penting mengingat adanya
kenaikan tarif dasar listrik yang mau tak mau memaksa berbagai pihak berlomba-lomba
untuk melakukan penghematan. Kenaikan harga listrik dunia rata-rata 7% setahun, sedangkan
Indonesia sudah dicanangkan akan ada kenaikan 6% tiap 4 bulan. Salah satu alasan kenaikan
harga ini adalah untuk membangun pembangkit baru guna mencukupi kebutuhan kenaikan
konsumsi listrik. Jika setiap konsumen bisa menghemat antara 5 10% saja, maka ada
kemungkinan pada tahun ini tidak diperlukan pembangkit baru.
Pemerintah bisa ikut berperan untuk mendukung program penghematan energi ini
dengan memberikan insentif pada pelaksanaannya. Sesungguhnya program hemat energi ini
memberikan keuntungan pada semua pihak, konsumen bisa mengurangi pembayaran
rekening, perusahaan listrik tidak dikejar-kejar membuat pembangkit baru, pemerintah bisa
mengurangi jumlah rencana hutang. Program penghematan listrik adalah bukan sekedar
masalah teknis semata, melainkan merupakan pertimbangan dan keputusan manajemen,
terutama ditinjau dari segi keuangan.
Dalam Audit energi merupakan kegiatan penelitian pemaanfaatan energi untuk
mengetahui keseimbangan dan mengidentifikasi peluang-peluang penghematan energi.
Melalui audit energi, kita dapat mengetahui pola distribusi energi, sehingga bagian yang

mengkonsumsi energi terbesar dapat diketahui. Dari hasil audit energi juga dapat diketahui
besarnya peluang potensi penghematan apabila dilakukan peningkatan efisiensi.
Apabila dalam sebuah rumah tangga, AC adalah perangkat penggerogot listrik terbesar maka
bisa dibayangkan berapa banyak batubara harus dibakar untuk memenuhi listrik sebuah Mal,
industri, pabrik-pabrik.
Audit energi dilakukan untuk mencapai hal sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui nilai Intensitas Konsumsi Energi dan profil pemakaian energi
eksisting operasional fasilitas suatu industri pada periode tertentu.
2. Untuk mengidentifikasi jenis alternatif konservasi energi, maupun penghematan
energi sebagai bagian dari manajemen energi sebuah industri.
3. Memilih suatu keputusan alternatif jenis konservasi energi yang terbaik sebagai
rekomendasi perencanaan manajemen energi industri.
Pelaksanaan audit energy pada dasarnya akan menguntungkan pihak itu sendiri.
Kerena ada Aspek Pencapaian yang diharapkan dari proses Audit Energi, yaitu
saving in money : adanya manajemen energi, dapat mengurangi biaya operasional.
Dengan demikian keuntungan yang diperoleh perusahaan akan meningkat.
environmental protection : adanya penggunaan energi yang efisien maka akan
memberikan kontribusi bagi dunia dalam hal membantu pelestarian alam dengan
menjaga dan mempertahankan cadangan minyak bumi dunia agar tidak segera habis.
sustainable development : adanya penggunaan energi yang efisien maka akan
memberikan kontribusi bagi perusahaan di bidang pertumbuhan yang berkelanjutan
baik di sisi finansial maupun penggunaan peralatan industri yang memiliki lifetime
maksimum/optimum.

BAB III
Metode Penelitian
3.1 Metode Perancangan Penerangan Buatan
Perancangan penerangan buatan secara kuantitas dapat dilakukan perhitungan dengan
2 metode yaitu :
a. Metode titik demi titik (point by point method)
b. Metode lumen
a Metode Titik Demi Titik
Metode ini hanya berlaku untuk cahaya langsung, tidak memperhitungkan cahaya
b. Metode Lumen
Metode lumen adalah menghitung intensitas penerangan rata-rata pada bidang kerja.
Fluks cahaya diukur pada bidang kerja, yang secara umum mempunyai tinggi antara 75 90
cm diatas lantai. Besarnya intensitas penerangan (E) bergantung dari jumlah fluks cahaya dari
luas bidang kerja yang dinyatakan dalam lux (lx).

3.2 Macam Lampu


Macam lampu yang dianalisa adalah sebagai berikut
1. Lampu Halogen
Lampu Halogen dibuat untuk mengatasi masalah ukuran fisik dan struktur pada lampu
pijar dalam penggunaannya sebagai lampu sorot, lampu projector, lampu projector film.
Dalam bidang-bidang ini diperlukan ukuran lampu yang kecil sehingga system pengendalian
arah dan focus cahaya dapat dilakukan lebih presisi. Lampu halogen bekerja pada suhu 2.800
oC jauh lebih tinggi dari kerja lampu pijar yang hanya 400 oC, karena adanya tambahan gas
halogen, seperti iodium oleh karena itu, walaupun lampu halogen termasuk jenis lampu pijar
tetapi mempunyai efikasi sekitar 22 lumen/watt. Cahaya lampu halogen dapat memunculka n
warna asli obyek yang terkena cahaya, karena cahaya yang dihasilkan lampu halogen
umumnya lebih terang dan lebih putih disbanding cahaya lampu pijar (pada daya yang sama)
lampu halogen pada umumnya ukuran fisiknya kecil, rumit pembuatanya sehingga harganya
relatif lebih mahal dibanding lampu pijar dan neo

2. Lampu Hemat Energi


Kini terdapat lampu neon jenis terbaru yang mempunyai komponen listrik yang terdiri
dari balast, starter dan kapasitor kompensasi yang terpadu dalam satu kesatuan. Lampu
teknologi baru ini disebut sebagai Compact Fluorescence dan beberapa produsen lampu
menyebutnya sebagai lampu SL dan PL. Pada dasarnya lampu hemat energi merupakan
lampu fluoresen dalam bentuk mini, yang dirancang strukturnya seperti lampu GLS. Lampu
ini dibuat dalam berbagai macam bentuk dan ukuran, sehingga dapat dipasang pada suatu
fitting lampu pijar. Gambar dibawah menunjukkan jenis lampu hemat energi dari suatu
produk yang sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Lampu hemat energy yang
berbentuk lubang akan memancarkan cahaya radial..

BAB IV
Analisa Pembahasan
4.1 Perhitungan penghematan ruangan di hotel ketintang asri Surabaya
Jenis Ruangan

Jumlah Ukuran Ruangan

Fasilitas
AC

TV

Lampu

Standart

3m x 4m = 12 m

1 HP

21 Inch

118 Watt

Superior

5m x 4m = 20 m

1 1/2 HP

29 Inch

154 Watt

President Suite

5m x 6m = 30 m

2 x 1 1/2 HP

32 Inch

175 Watt

Tabel 4.1 Spesifikasi Kamar hotel


Perhitungan Lampu
Tipe Ruangan

Jenis Lampu
HE Philips HE Philips

HE Philips

Halogen

Neon

Total

5watt

14watt

20watt

20watt

36 watt

watt/jam

Standart

2 buah

2 buah

2 buah

2 buah

Superior

2 buah

2 buah

2 buah

2 buah

1 buah

154

President Suite

3 buah

2 buah

2 buah

1 buah

2 buah

175

118

Tabel 4.2 konsumsi dari setiap ruang semula


Tipe Ruangan

Standart

Jenis Lampu
HE Philips HE Philips

HE Philips

Halogen

Neon

Total

5watt

14watt

20watt

20watt

36 watt

watt/jam

2 buah

2 buah

3 buah

2 buah

2 buah

3 buah

2 buah

2 buah

1 buah

Superior

President Suite

2 buah

98
128
1 buah

134

Tabel 4.3 Rencana penghematan dari setiap ruang

Jenis Ruangan

Perhitungan Penghematan/
pemakaian per hari)

Standart

118 Watt x 6 kamar = 8,4 KW

12

jam

(asumsi

Superior

154 Watt x 5 kamar = 9,2 KW

President Suite

175 Watt x 3 kamar = 6,3 KW

Total penghematan

23,9 KW/hari
Tabel 4.4 konsumsi / hari dari setiap ruang semula

Jenis Ruangan

Perhitungan Penghematan/
pemakaian per hari)

Standart

98 Watt x 6 kamar = 7 KW

Superior

128 Watt x 5 kamar = 7,6 KW

President Suite

134 Watt x 3 kamar = 4,8 KW

Total penghematan

19,4 KW/hari

12

jam

(asumsi

Tabel 4.5 Penghematan dalam KW/hari


Tarif per KW

Rp. 1.200

Penggunaan sebelum 23,9 KW/hari-> 30 hari

= 23,9 KWx 30 hari


= 717 KW

Jadi biaya penggunaan per bulan = 717 KW x Rp. 1.200 = Rp. 860.400

Penggunaan sesudah penghematan 19,4 KW/hari -> 30 hari

= 19,4 KWx 30 hari


= 582 KW

Jadi biaya penggunaan per bulan = 582 KW x Rp. 1.200 = Rp. 698.400

Dari perhitungan dilihat dapat menghemat Rp. 860.400 - Rp. 698.400 = Rp. 162.000/ bulan

Perhitungan AC
1/2 HP

5.000 BTU/hr

3/4 HP

7.000 BTU/hr

1 HP

9.000 BTU/hr

1 1/2 HP

12.000 BTU/hr

2 HP

18.000 BTU/hr

2 HP

24.000 BTU/hr

3 HP

28.000 BTU/hr
Tabel 4.6 Konversi HP ke BTU/hr
Cara Menghitung Kapasitas AC
Kapasitas = luas wilayah x 500 BTU/hr
Kapasitas Standart

= (3m x 4m) x 500 BTU/hr


= 6000 BTU/hr

Kebutuhan AC adalah 6000 BTU/hr maka ambil 7000 BTU/hr, Jadi kebutuhan yang
harus di pakai adalah HP,
Jenis Ruangan

Jenis Ac

BTU/H

Jumlah

Penggunaan
pemakaian)

AC/

12

jam

Standart

1 HP

9.000

745,7 Watt x 6 kamar = 53,69 KW

Superior

1 1/2 HP

12.000

1118,35 Watt x 5 kamar = 67,1 KW

President Suite

2 x 1 1/2 HP

28.000

1491,4 Watt x 3 kamar = 53,68 KW

Total

4 1/2 HP

62.000

174,47 KW/ hari

(asumsi

Tabel 4.7 Penggunaan AC sebelumnya dalam KW/hari

Jenis Ruangan

Jenis Ac

BTU/H

Jumlah

Penggunaan

AC/

12

jam

(asumsi

pemakaian)
Standart

HP

7.000

559,275 Watt x 6 kamar = 40,26 KW

Superior

1 1/2 HP

12.000

1118,55 Watt x 5 kamar = 67,11 KW

President Suite

2 x 1 HP

18.000

745,7 Watt x 3 kamar =26,84 KW

Total

4 1/4 HP

62.000

134,21 KW/ hari

Tabel 4.8 Penghematan dalam KW/hari


Tarif per KW

Rp. 1.200

Penggunaan sebelum 174,47 KW/ hari -> 30 hari

= 174,47 KW x 30 hari
= 5234,1 KW

Jadi biaya penggunaan per bulan = 5234,1 KW x Rp. 1.200 = Rp. 6.280.920

Penggunaan sesudah penghematan 134,21 KW/ hari -> 30 hari

= 134,21 KW x 30 hari
= 4026,3 KW

Jadi biaya penggunaan per bulan = 4026,3 KW x Rp. 1.200 = Rp. 4.831.560

Dari perhitungan dilihat dapat menghemat Rp. 6.280.920 - Rp. 4.831.560 = Rp.1.449.360 /
bulan

Penggunaan TV
Jenis Ruangan

Jenis TV Jumlah Penggunaan TV/ 8 jam (asumsi 8 jm per hari


pemakaian )

Standart

21 Inch

35 Watt x 6 kamar = 1,68 KW

Superior

24 Inch

48 Watt x 5 kamar = 1,92 KW

President Suite

32 Inch

85 Watt x 3 kamar = 2,04 KW

5,64KW/ hari

Total

Tabel 4.9 Konsumsi dalam KW/hari


Tarif per KW

Rp. 1.200

Penggunaan 5,64KW/ hari -> 30 hari

= 5,64KW x 30 hari
= 169,2 KW

Jadi biaya penggunaan per bulan = 169,2 KW x Rp. 1.200 = Rp. 203.040

(lampiran tagihan listrik)

Pengeluaran tiap hari tercatat dalam rekening yang ada terbilang Rp 500.000 per hari ,
sehingga dalam 30 hari pengeluaran energy listrik yang harus dibayar adalah Rp
500.000 x 30 hari = Rp 15.000.000
Pengeluaran sebelum perencanaan
pengeluaran perbulan = pengeluaran listrik pengeluaran AC - pengeluaran TV
penegluaran lain lain
Rp 15.000.000 = Rp. 860.400 - Rp. 6.280.920 - Rp. 203.040 biaya lain lain
Biaya lain lain

= Rp. 7.655.640

Setelah di lakukan penghematan energi di dapatkan :


Pengeluaran perbulan setelah dilakukan penghematan = pengeluaran listrik +
pengeluaran AC + pengeluaran TV + penegluaran lain lain
= Rp. 698.400 + Rp. 4.831.560 + Rp. 203.040 + Rp. 7.655.640
= Rp. 13.388.640
Kesimpulan :
Setelah di adakan penghematan didapatkan = Rp 15.000.000 - Rp. 13.388.640
= Rp 1.611.360

V. Kesimpulan
1.Setelah dianalisa menggunakan metode penghitungan lumen didapat kesimpulan bahwa
pemasangan lampu di Hotel Ketintang Asri Surabaya masih terlalu boros karena hanya
mementingkan faktor estetika saja
2. Dari hasil perhitungan penghematan didapat penghematan sebesar Rp 1.611.360 per bulan

Lampiran :

Gambar
Hotel

Gambar
Ruangan

Gambar Ruang
Tengah

Struk Pembayaran
Listrik