Anda di halaman 1dari 8

RANCANGAN PROMOSI KESEHATAN

DALAM RANGKA MENGURANGI KEJADIAN ISPA


DI DESA MEMBARA
TUGAS BLOK 20

Oleh Kelompok 2:
Trinoli Ipriyona

04071001006

Rahmad Ade Irawan 04071001008


Perawati

04071001009

Reni Masyita

04071001013

Pramita Rusdana D

04071001065

Ria Enjelia

04071001084

Kiagus Satria

04071001069

Ranti Andami

04071001096

Retha Metrianda

04071001099

Julianti Manurung

04071001103

Nenie Destriana

04071001122

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2010

I. Kebutuhan Promosi Kesehatan


A. Diagnosis Komunitas
1. Diagnosis Sosial Ekonomi
Desa Membara terletak pada Kabupaten Lingkarsegi, Sumatera Selatan, memiliki luas
10.533 km2, dengan jumlah penduduk 32.453 jiwa. Sebagian besar pekerjaan penduduk Desa
Membara adalah petani (70%), pedagang (8%), PNS ( 4%) , dan sisanya tidak bekerja (18%).
Secara geografis Desa ini berada pada daerah hutan dan semak-semak, jauh dari sungai
sehingga masyarakatnya mengandalkan sumur galian untuk memperoleh air. Letak antara satu
rumah ke rumah lainnya cukup berdekatan. Satu rumah rata-rata dihuni oleh tiga sampai lima
orang.
Dari observasi masalah yang dilakukan pada sebagian besar masyarakat Desa Membara,
Kabupaten Lingkarsegi, Sumatera Selatan, didapat bahwa permasalahan sosial yang umum pada
desa tersebut adalah kebakaran hutan. Selain itu masyarakat desa tersebut juga mengeluhkan
sulitnya mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka karena tingkat ekonomi yang rendah. Hal ini
tidak lepas dari sulitnya masyarakat mendapatkan mata pencaharian akibat tingkat pendidikan
yang rendah.
2. Diagnosis Epidemiologi
Dari observasi masalah yang lain mengenai penyakit yang lazim pada masyarakat Desa
Membara didapat bahwa ada angka kejadian ISPA yang tinggi pada masyarakat Desa Membara
baik pada anak maupun dewasa. Timbulnya penyakit ini biasanya seiring dengan datangnya
kabut asap akibat kebakaran hutan. Dan jumlah penderita ISPA terus meningkat seiring dengan
makin banyaknya asap akibat hutan atau semak yang terbakar. Mayarakat Desa Membara pada
umumnya tidak berobat ke Puskesmas apabila mereka mengalami ISPA meskipun saat asap
sangat pekat di daerah tersebut. Hal ini dikarenakan sulitnya masyarakat tersebut menjangkau
Puskesmas, baik karena jarak tempuh yang cukup jauh dan kurangnya ketersediaan sarana
transportasi.
3. Diagnosis Perilaku dan Lingkungan

Banyaknya kebakaran hutan yang terjadi pada Desa Membara disebabkan umumnya oleh
perilaku sebagian masyarakat desa itu sendiri. Pembakaran hutan dan semak secara liar tersebut
biasanya dilakukan masyarakat Desa Membara untuk membuka lahan baru untuk bercocok
tanam. Kebakaran hutan dan semak juga makin menjadi-jadi pada saat musim kemarau karena
banyaknya titik api (hotspot).
4. Diagnosis Pendidikan dan Organisasi
.

Tingkat pendidikan masyarakat Desa ini cukup rendah, sebagian besar hanya

mengenyam pendidikan SD (64%), lulusan SMP(16%), lulusan SMA (7%), dan sisanya tidak
mengenyam pendidikan sama sekali (13%).
5. Diagnosis Administratif
Praktek pembakaran hutan secara liar pada dasarnya dilarang menurut Undang-undang.
Namun pada kenyataannya yang terjadi di Desa Membara adalah kebalikannya. Membuka lahan
dengan cara membakar dianggap lazim karena masyarakatnya tidak mengetahui adanya
peraturan yang mengatur mengenai masalah tersebut.

Selain itu masyarakatnya tidak

mengetahui cara lain yang lebih efektif dibandingkan dengan cara membakar hutan atau semak
belukar untuk membuka lahan baru.

B. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku


1. Predisposing Factors (faktor predisposisi)
a. Pengetahuan yang kurang tentang bahaya pembakaran hutan
b. Kebiasaan pembakaran hutan dan semak belukar
c. Keyakinan masyarakat bahwa ISPA merupakan penyakit biasa yang bisa
sembuh sendiri.
2. Enabling Factors (Faktor yang Memungkinkan)
a. Lokasi Puskesmas yang sulit dijangkau
b. Transportasi sulit
c. Sedikitnya lahan yang bias digarap untuk bercocok tanam
d. Sedikitnya tenaga kesehatan
3. Reinforcing Factors (Faktor Penguat/Pendorong)
a. Musim kemarau

b. Kurangnya sosialisasi peraturan mengenai pembakaran hutan secara liar oleh


perangkat desa dan pemerintah kabupaten dalam.
C. Prioritas Masalah
Angka kejadian ISPA yang tinggi akibat asap hasil pembakaran hutan dan semak
belukar pada Desa Membara.
II. Komponen Promosi Kesehatan
A. Tujuan Promosi Kesehatan
Adapun tujuan dilakukannya promosi kesehatan di wilayah kerja Puskesmas A, yakni
desa Membara adalah:
1. Mengurangi angka kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Hal ini
dilakukan dengan cara mendorong masyarakat untuk meningkatkan dan
memelihara kesehatan pribadi dan lingkungan, yakni dengan makan makanan
yang bergizi, rajin melakukan imunisasi pada anak, serta menggunakan masker
agar terhindar dari asap dan penularan ISPA.
2. Mengurangi kebiasaan pembukaan lahan baru dengan cara pembakaran hutan dan
semak belukar. Hal ini tentunya dimaksudkan agar polusi oleh asap hasil
pembakaran hutan dan semak belukar dapat berkurang.
3. Mencegah kelompok masyarakat yang berisiko tinggi terkena ISPA, seperti anakanak agar tidak terkena penyakit tersebut (primary prevention).
4. Mencegah kelompok masyarakat yang telah mengalami ISPA agar tidak menjadi
lebih parah (secondary prevention).
5. Untuk pemulihan kelompok masyarakat yang baru sembuh dari penyakit ISPA
(tertiary prevention).
B. Sasaran Promosi Kesehatan
Sasaran promosi kesehatan di wilayah kerja puskesmas A, yakni desa Membara
ditujukan pada seluruh masyarakat desa Membara, baik masyarakat yang sehat,
masyarakat yang berisiko tinggi mengalami ISPA, seperti anak-anak, masyarakat
yang sedang mengalami ISPA, dan masyarakat yang baru sembuh dari penyakit ISPA.
Hal-hal tersebut sesuai dengan tujuan dari promosi kesehatan ini.
C. Isi Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan pada desa Membara berisi materi sebagai berikut:

1. Menjelaskan bahaya dan dampak pembakaran hutan dan semak belukar terhadap
kesehatan masyarakat, khususnya mengenai ISPA.
Pembakaran hutan dan semak belukar tentunya memiliki bahaya dan dampak bagi
kesehatan masyarakat. Berbagai penyakit dapat timbul akibat pencemaran udara
dari asap hasil pembakaran hutan dan semak belukar, seperti asma, penyakit mata,
diare, dan jika terkena dalam waktu yang panjang dapat menyebabkan kanker.
Namun yang paling sering terjadi, sebagaimana pula yang banyak terjadi pada
desa Membara adalah Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Penyakit ini
memiliki gejala berupa demam, batuk, dan sering juga nyeri tenggorok, pilek,
sesak napas, mengi, atau kesulitan bernapas. Biasanya terjadi selama 14 hari. Jika
telah parah, dapat menyebabkan kematian.
Cara penularan ISPA :

Kontak langsung ( handuk, saputangan, dan sprei)

Melalui doplet

Darah

Bersin

Penyebab:

Adanya kuman

Lingkungan yang tidak bersih

Nutrisi dan sistem kekebalan yang kurang

2. Menjelaskan cara meningkatkan kesehatan pada masyarakat agar terhindar dari


penyakit ISPA akibat pembakaran hutan dan semak belukar.
Setiap anak (bayi dan balita) hendaknya memperoleh makanan yang mengandung
gizi yang cukup. ASI bagi bayi, buah-buahan berwarna kuning dan sayuran yang
mengandung vitamin A, tempe dan tahu yang mengandung protein, nasi yang
mengandung karbohidrat sangat baik bagi kesehatan. Jangan lupa untuk
melakukan imunisasi lengkap hingga bayi berusia 1 tahun dan selalu menjaga
kebersihan rumah dan lingkungan.
3. Menjelaskan cara menghindari penularan ISPA.
Untuk menghindari penularan ISPA dapat dilakukan dengan cara menjauhkan
anak-anak dari penderita ISPA, sedangkan bagi penderita ISPA hendaklah

menggunakan masker/penutup mulut agar tidak menularkan pada orang lain,


jangan meludah sembarangan, dan tidak bersin di depan orang lain.
4. Menjelaskan cara penanganan penyakit ISPA.
Jika ada orang-orang di sekeliling anda yang memiliki gejala ISPA, jangan
dianggap remeh. Sebaiknya langsung diperiksakan ke dokter. Penderita ISPA
sebaiknya tidak mengkonsumsi air dingin, penyedap makanan, makanan yang
menggunankan pewarna dan pengawet.
5. Menjelaskan cara pemulihan dari penyakit ISPA.
Bagi penderita ISPA yang baru sembuh hendaklah selalu menjaga kesehatan dan
kebersihan lingkungan, serta tidak melakukan pembakaran hutan dan semak
belukar lagi agar dapat mengurangi pencemaran udara.
6. Menjelaskan cara mencegah kebakaran hutan dan semak belukar.
Hal ini menjadi penyebab utama terjadinya pencemaran

udara

yang

mengakibatkan timbulnya penyakit ISPA di desa Membara. Untuk itu sangat


diperlukan upaya-upaya yang mendukung pencegahan hal tersebut. Upaya yang
dapat dilakukan adalah:
a. Memberikan penjelasan tentang cara pembukaan lahan yang benar (dari pihak
pertanian).
b. Menetapkan peraturan yang tegas dari pemerintah kabupaten dan perangkat
desa tentang larangan pembukaan lahan baru dengan cara pembakaran hutan
dan semak belukar.
D. Metode yang Digunakan
1. Penyuluhan langsung kepada masyarakat
Dengan cara ini kontak antara masyarakat dengan petugas lebih intensif. Setiap
masalah yang dihadapi oleh masyarakat desa tersebut dapat dikorek dan dibantu
penyelesaiannya. Akhirnya masyarakat desa akan dengan sukarela, berdasarkan
kesadaran, dan penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut (mengubah
perilaku).
2. Pemberdayaan dapat dilakukan dengan pilihan metode: ceramah & tanya jawab,

dialog, demonstrasi, konseling, bimbingan, kerja kelompok, dan lain-lain.


adalah proses pemberian informasi secara terus-menerus dan berkesinambungan
mengikuti per-kembangan sasaran, serta proses membantu sasaran, agar sasaran
tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek knowledge), dari

tahu menjadi mau (aspek attitude), dan dari mau menjadi mampu melaksanakan
perilaku yang diperkenalkan (aspek practice).
Sasaran Utama Pemberdayaan :

Individu

Keluarga

Kelompok masyarakat

3. Bina Suasana dapat dilakukan dengan metode-metode: penggunaan media massa,


dialog, debat, seminar, kampanye, petisi/ resolusi, mobilisasi, dan lain-lain.
adalah upaya menciptakan opini atau lingkungan sosial yang mendorong individu
anggota masyarakat untuk mau melakukan perilaku yang diperkenalkan.
Seseorang akan terdorong untuk mau melakukan sesuatu apabila lingkungan
sosial di mana pun ia berada (keluarga di rumah, orang-orang yang menjadi
panutan/idolanya, kelompok arisan, majelis agama, dan lain-lain, dan bahkan
masyarakat umum) memiliki opini yang positif terhadap perilaku tersebut.
Tiga Pendekatan Bina Sarana :
Pendekatan Individu,
Pendekatan Kelompok, dan
Pendekatan Masyarakat Umum.
4. Penggunaan poster, leaflet dan stiker-stiker yang dapat ditempelkan pada berbagai
tempat di desa tersebut
E. Media yang Digunakan
1. Pada Penyuluhan, berbagai media dapat digunakan, diantaranya sebagai berikut :
Dapat digunakan media seperti lembar-balik (flashcards), gambar

gambar/foto-foto dan skema yang berupa lembaran-lembaran.


Jika sarana di desa tersebut memungkinkan, dapat diadakan pertunjukan slides
(melalui overhead projector, slide projector, komputer & LCD projector, atau
lainnya), dan pertunjukan filem (melalui film projector, VCD player,

komputer & LCD projector, atau lainnya).


2. Pada proses pemberdayaan dan bina sarana diperlukan beberapa media yaitu :
Beberapa tenaga medis atau non medis yang berperan sebagai pemberi

informasi dan pelatihan yang diadakan di desa tersebut


Lokasi yang memungkinkan acara dapat dilakukan dengan maksimal seperti,

ruang aula balai desa atau lapangan dsb.


Berbagai alat peraga ataupun prasarana lain yang dapat menunjang pelatihan

3. Pembuatan Poster atau spanduk yang ditempel di berbagai tempat di desa tersebut
Ada beberapa media yang bisa digunakan untuk melakukan promosi kesehatan,
baik berupa media cetak maupun elektronik.
Dan penyuluhan nanti, kami akan menggunakan beberapa gambar untuk
mempermudah warga desa Membara dalam memahami materi yang akan kami
sampaikan.

F. Rencana Evaluasi

Indikator yang di capai adalah turunnya angka kejadian ISPA didesa Membara

Cara : membandingkan angka kejadian ISPA setelah penyuluhan dengan angka


kejadian ISPA 3 bulan setelah dilakukan penyuluhan

G. Jadwal Pelaksanaan

Anda mungkin juga menyukai