Anda di halaman 1dari 56

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Ruang lingkup mata pelajaran pendidikan jasmani di Sekolah Menengah
Pertama diberikan setiap semester mulai dari kelas VII sampai dengan kelas IX dan
ditekankan pada usaha memacu/meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan
jasmani, emosional, mental dan sosial. Macam kegiatan yang diajarkan di SMP
menurut Depdiknas (2001:6) meliputi kegiatan pokok dan kegiatan pilihan.
Kegiatan pilihan yang terdiri dari pencak silat, renang, bulu tangkis, tenis meja,
sepak bola, sepak takraw, bola voly, dan permainan tradisional.
Salah satu bahan pengajaran yang diajarkan di sekolah dasar yaitu permainan
bola voly mini. Baacke (2000) dalam Mawarti (2009:23) menjelaskan: Bola voly
mini adalah permainan yang sederhana tapi susah dipelajari. Oleh karenanya kita
perlu menyesuaikan cara mengajar bagi para pemula. Bola voly mini menyajikan
sejenis bola voly mini yang diselenggarakan dengan kebutuhan dan kapasitas anakanak usia 9 tahun sampai 12 tahun. Bola voly mini adalah cara terbaik untuk
mempelajari keterampilan dasar. Dengan cara ini tiap pemain lebih banyak
menyentuh bola dan ukuran bermain lebih kecil jadi lebih selaras bagi keterampilan.
Kualitas permainan ditentukan oleh penguasaan teknik dasar tentang
permainan bola voly mini. Taktik tanpa teknik tidak mungkin kecuali bila taktik itu
sederhana. Prinsip bermain bola voly ialah memukul sebanyak - banyaknya tiga kali
dalam lapangan sendiri dan mengusahakan bola itu melewati atas jaring dan masuk
ke arah lawan. Permainan ini sederhana tetapi akan sulit apabila tempo permainan
1

2
berlangsung cepat dan dinamis. Salah satu faktor penunjang bisa bermain baik adalah
menguasai teknik dasar. Untuk menguasai teknik dasar, diperlukan latihan yang
teratur, sistematis dan terencana, serta memperhatikan prinsip - prinsip latihan yang
benar.
Adapun macam-macam teknik dasar bola voly menurut Sarumpaet dkk.
(2002: 87) yaitu: (1) passing atas, (2) passing bawah, (3) set-up (4) bermacammacam service, (5) bermacam - macam smash (spike), (5) bermacam - macam block
(bendungan).
Teknik dasar bermain bola voly pada prinsipnya terdiri dua macam yaitu,
teknik tanpa bola dan teknik dengan bola. Teknik tanpa bola berupa gerakan gerakan khusus yang mendukung teknik dengan bola, sedangkan teknik dengan bola
adalah cara memainkan bola dengan anggota badan secara efektif dan efisien sesuai
dengan peraturan yang berlaku. Teknik tanpa bola dan teknik dengan bola merupakan
dua komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam bermain bola voly. Keterkaitan
antara teknik tanpa bola dan teknik dengan bola didasarkan kebutuhan dalam
permainan.
Jadi untuk bisa bermain bola voly mini maka pemain harus menguasai teknik
- teknik dasar agar lebih mudah melakukan permainan yang benar. Permainan bola
voly modern sangat membutuhkan teknik dasar yang baik dalam meningkatkan
performa permainan.
Seperti telah dijelaskan di atas bahwa bola voly adalah permainan yang
dinamis, maka teknik dasar harus dikuasai dalam berbagai posisi dan berbagai sikap.
Untuk mengatasinya diperlukan latihan - latihan yang menunjang dan mengarah

3
kepada saat permainan sesungguhnya berlangsung. Prestasi di cabang bola voly akan
tercapai apabila pemain sejak usia dini sampai dengan umur emas dibina secara
ilmiah, kontinyu, bertahap, meningkat, dan berkesinambungan dengan pola
pembinaan yang terencana, sistematis, dan konsepsional.
Pembinaan usia dini cabang bola voly dimanifestasikan dalam bentuk
permainan bola voly mini yang ditujukan kepada anak usia 12 tahun, dilaksanakan di
Sekolah Menegah Pertama atau klub sebagai wahana pemasalan dan pembibitan serta
pembinaan tahap dasar. Hal ini selaras dengan teori kepelatihan, bahwa untuk
permainan bola voly dimulai pada usia 12 tahun dan diharapkan mencapai puncaknya
pada usia 20 - 25 tahun.
Permainan bola voly mini terlahir karena dalam perkembangan permainan
bola voly yang cukup pesat ternyata banyak sekali anak - anak di berbagai negara
tertarik dengan permainan ini. Oleh sebab itu diciptakanlah permainan bola voly
mini sebagai adik kandung permainan bola voly dengan memodifikasi berbagai
peraturan dan perlengkapan sesuai kemampuan anak - anak.
Evaluasi berasal dari kata evaluation yang berarti menilai (Moekarto,
2002:3). Evaluasi atau penilaian merupakan kegiatan yang mempunyai arti yang
sangat besar bagi keberhasilan dalam suatu pembelajaran. Evaluasi dalam proses
pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga pada dasarnya memfokuskan
bagaimana murid dapat mengetahui efektifitas hasil suatu pembelajaran atau olahraga
yang telah dilakukan.
Sejauh mana murid telah memiliki penguasaan keterampilan gerak sesuai
dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan.

4
Berkaitan dengan pembelajaran permainan bola voly mini, penulis telah
mengadakan observasi terhadap kondisi pembelajaran bola voly mini di sekolah
menengah pertama. Temuan berikut ini sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut.
Pertama, guru menggunakan media/ alat belajar (bola, net, lapangan) yang lazim atau
standar untuk bermain bola voly mini, tanpa berinisiatif mengadakan perubahan perubahan atau modifikasi terhadap alat - alat belajar tersebut. Selain itu guru juga
tidak mengadakan modifikasi terhadap peraturan - peraturan permainan yang
berlaku. Walaupun permainan bola voly mini merupakan modifikasi dari permainan
bola voly orang dewasa namun masih menyulitkan anak - anak. Penggunaan bola
voly mini yang standar misalnya, masih banyak anak - anak yang kesulitan
memainkannya, hal ini karena bola tersebut hampir sama dengan bola voly dewasa
sehingga akan menyulitkan bagi sebagian besar pemula.
Kedua, untuk menguasai teknik - teknik dasar permainan bola voly mini guru
menggunakan pendekatan drill atau pengulangan - pengulangan yang sifatnya
monoton, sehingga terkesan mengajar sama dengan melatih. Dengan drill yang
monoton, sebagian anak kesulitan mengikutinya antara lain karena tidak didukung
oleh kemampuannya. Penyajian materi tanpa permainan juga membuat anak cepat
bosan sehingga motivasi belajar menurun dan menimbulkan kesan bahwa permainan
bola voly mini kurang menarik.
Hasil survey awal yang peneliti lakukan di SMP Muhammadiyah 1 Banda
Aceh, diketahui bahwa para siswa di sekolah tersebut sangat berminat mengikuti
pembelajaran permainan bola voly mini. Hal ini terungkap dari hasil wawancara
singkat yang peneliti lakukan dengan guru penjasorkes di sekolah tersebut, guru
tersebut menjelaskan bahwa di SMP Muhammadiyah 1 Banda Aceh sudah lama di

5
ajarkan materi tentang permainan bola voly mini, dan ada beberapa kali dilakukan
kegiatan ekstra kurikuler pembelajaran bola voly mini. Pada kesempatan itu peneliti
juga sempat mengamati para siswa yang sedang melakukan permainan bola voly
mini, dan dari hasil pengamatan tersebut peneliti belum bisa menyimpulkan
keterampilan keseluruhan para siswa dalam permainan bola voly mini.
Berdasarkan dari kenyataan di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan
suatu penelitian dalam bentuk penulisan proposal skripsi yang berjudul Evaluasi
Keterampilan Bermain Bola Voly Mini Pada Siswa SMP Muhammadiyah 1
Banda Aceh.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, maka yang menjadi masalah
dalam penelitian ini adalah bagaimana keterampilan dasar bermain bola voly mini
pada siswa Pada Siswa SMP Muhammadiyah 1 Banda Aceh.

1.3. Tujuan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai
dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui keterampilan dasar dalam bermain bola voly mini pada
Pada Siswa SMP Negeri Muhammadiyah 1 Banda Aceh

1.4. Manfaat Penelitian


Dari hasil penelitian ini diharapkan temuan-temuan yang nantinya
mempunyai manfaat yang berguna:

6
1. Sebagai bahan masukan bagi dunia olahraga pendidikan tingkat pendidikan
dasar, terutama pada cabang olahraga permainan bola voly mini.
2. Diharapkan dapat membangkitkan perhatian pihak - pihak yang terkait
dengan perkembangan dunia olahraga yaitu para pakar, guru olahraga,
pembina olahraga, mengenal pentingnya bentuk - bentuk latihan.
3. Menjadi bahan masukan bagi yang akan melakukan penelitian terutama di
bidang keolahragaan yang permasalahannya ada hubungannya dengan
penelitian.
4. Bagi peneliti penelitian ini bermanfaat sebagai tambahan wawasan, yang di
kemudian hari peneliti siap menjadi guru penjas yang profesional, inovatif,
dan kreatif dalam mengajarkan pelajaran Penjas di Sekolah.

1.5. Pertanyaan Penelitian


Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka yang menjadi pertanyaan dalam
penelitian ini adalah:
1. Bagaimana keterampilan dasar dalam bermain bola voly mini pada Pada
Siswa SMP Muhammadiyah 1 Banda Aceh?

1.6. Definisi Operasional


1. Evaluasi
Evaluasi berarti menilai. Evaluasi dalam proses pembelajaran pendidikan
jasmani dan olahraga pada dasarnya memfokuskan bagaimana untuk
mengetahui efektifitas hasil pembelajaran yang telah ia lakukan dan sejauh
mana siswa telah memiliki penguasaan keterampilan sesuai dengan tujuan

7
pembelajaran yang diinginkan dari tingkat pencapaian suatu pembelajaran
yang dinyatakan dalam bentuk nilai (Wahjoedi, 2001:11).
2. Keterampilan
Keterampilan adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas atau sesuatu
(KBBI, 2001). Sedangkan keterampilan yang dimaksud dalam penelitian ini
adalah kecakapan siswa dalam olah raga bola voly mini.

3. Bola voly mini


Bola voly mini pada dasarnya sama dengan bola voly biasa, namun hanya
berbeda pada peraturan dan modifikasi perbandingan saja. Permainan bola
voly mini menurut Backe (2005:23) adalah menyajikan sejenis bola voly
yang diselaraskan dengan kebutuhan dan kapasitas anak-anak usia 9 sampai
12 tahun sejalan dengan prinsip mengajar yang baik.

1.7. Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di SMP Muhammadiyah 1 Banda Aceh yang
terletak di pusat kota, yang akan dilaksanakan pada tanggal 12 November 2014.
Peneliti sengaja melakukan penelitian di sekolah tersebut di karenakan agar lebih
menghemat waktu dan tenaga sampel.
Penelitian ini berlangsung dari pukul 08.00 hingga selesai dengan prosuder
dan dan ketentuan tes yang telah dipersiapkan oleh panitia pelaksanaan tes
keterampilan bola voly dasar yang telah ditetapkan oleh peneliti.

BAB II
LANDASAN TEORITIS

2.1. Pengertian Evaluasi


Evaluasi pada dasarnya sangat dibutuhkan tidak hanya di ruang lingkup
pendidikan akan tetapi juga mempunyai peran yang penting dalam mengetahui
kebugaran jasmani pada atlet. Selanjutnya Wandt dan Brown itu untuk memberikan
defenisi evaluasi pendidikan, yaitu :
Suatu tindakan yang dilaksanakan dengan maksud untuk atau suatu proses
yang berlangsung dalam rangka menentukan nilai dari segala sesuatu dalam
dunia pendidikan yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan ataau yang
terjadi dilapangan pendidikan atau singkatnya evaluasi pendidikan adalah
kegiatan atau proses penentuan nilai pendidikan, sehingga dapat diketahui
mutu atau hasil - hasilnya.
Arikunto (2004:1) evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi
tentang bekerjanya sesuatu yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk
menggunakan alternative yang tepat dalam mengambil keputusan. Fungsi utama
evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi - informasi yang berguna bagi
pihak pembuat keputusan untuk menentukan kebijakan yang akan diambil
berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan. Evaluasi tidak hanya mencakup pada
aspek pendidikn saja, akan tetapi juga perlu ditetapkaan dalam bidang olahraga.
Dalam dunia olahraga, evaluasi juga tidak kalah penting hal ini di karena evaluasi
dapat mengkoreksi individu maupun kelompok. Dalam pendidikan olahraga, evaluasi
sangat berperan aktif dalam peningkatan prestasi olahraga kelompok maupun
individu. Maka dari itu seorang guru maupun pelatih memerlukan pembelajaran
evaluasi.
8

2.2. Hakikat Evaluasi


Evaluasi merupakan proses penafsiran (interpretasi) serta pemberian
keputusan berkenaan dengan informasi assesment. Jadi jika dibandingkan dengan tes
dan pengukuran, evaluasi merupakan tahap pemberian nila yang bisa berupa
kuantitatif maupun kualitatis dari hasil data tes dan pengukuran. Misalnya kita akan
melakukan evaluasi terhadap tes lari jauh, maka pemberian nilai/keputusan pada lari
jauh tersebut berupa kuantitatif yakni dengan menilai berapa jarak tempuh dan waktu
yang digunakan.
Tes adalah sebuah instrumen atau alat yang digunakan untuk mendapatkan
informasi mengenai individu atau objek. Alat tersebut bisa berbentuk sejumlah
pertanyaan yang tertulis di atas kertas seperti; UTS, UAS, ujian masuk perguruan
tinggi, dan lain sebagainya. Atau juga bisa berbentuk performance tes seperti tes lari
2,4 km, tes keterampilan masuk FIK, dan lain sebagainya.
Sasaran tes tidak hanya orang atau individu sebagaimana dikemukakan diatas,
melainkan juga objek atau suatu benda.Misalnya, untuk memastikan apakah jenis
makanan

tahu

mengandung

formalin

atau

tidak,

maka

harus

dites

laboatorium.Demikian juga untuk memastikan apakah kandungan kaporit atau


belerang yang ada dalam kolam renang melebihi ambang batas atau tidak, maka
harus dites laboratorium.Meskipun demikian perlu dicatat di sini bahwa dalam
konteks olahraga, sasaran tes lebih banyak berupa individu.
Evaluasi atau penilaian berarti tindakan untuk menentukan nilai sesuatu.
Dalam arti luas evaluasi adalah suatu proses dalam merencanakan, memperoleh, dan
menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif - alternatif

10
keputusan. Untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan evaluasi, maka
dapat dikatakan bahwa :
1.

Kegiatan evaluasi merupakan proses yang sistematis. Yang dimaksud dengan


proses sistematis ialah kegiatan yang terencana dan dilakukan secara
berkesinambungan yang dilakukan pada permulaan, selama program

2.

berlangsung dan pada akhir program setelah program dianggap selesai.


Di dalam kegiatan evaluasi diperlukan berbagai informasi atau data yang
menyangkut objek yang sedang dievaluasi. Dalam hal ini berkaitan dengan
perilaku, penampilan, hasil ulangan atau pekerjaan rumah, nilai semester dan

3.

sebagainya.
Dalam setiap kegiatan evaluasi, tidak lepas dari tujuan - tujuan yang hendak
dicapai. Hal ini karena setiap kegiatan penilaian memerlukan suatu criteria
tertentu sebagai acuan dalam menentukan batas ketercapaian objek yang
dinilai.
Berkaitan dengan dengan evaluasi pendidikan jasmani di sekolah, maka yang

dimaksud dengan evaluasi pendidikan jasmani adalah segala upaya, tindakan atau
proses untuk menentukan derajat kualitas kemajuan kegiatan yang berkaitan dengan
pelaksanaan program pendidikan jasmani di sekolah dengan mengacu pada kriteria
atau patokan - patokan tertentu sesuai dengan program pendidikan jasmani (Juntika,
2005: 57).
Berdasarkan hal tersebut maka selaku guru pendidikan jasmani perlu
memperhatikan potensi yang dimiliiki oleh setiap individu di sekolah dalam kegiatan
olahraga sehingga dapat dikembangkan hingga menjadi sebuah skill bagi siswa/i
tersebut.

11

2.3. Permainan Bola Voly Mini


Permainan bola voly merupakan salah satu cabang olahraga yang cukup
banyak penggemarnya dan dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang pesat.
Permainan bola voly dimainkan oleh dua regu yang saling berhadapan dan masing masing regu terdiri enam orang pemain. Permainan bola voly dilakukan dengan cara
bola dipantulkan sebanyak - banyaknya tiga kali. Seperti dijelaskan dalam peraturan
permainan bola voly edisi 2001 - 2004 halaman 7 bahwa, Tujuan dari permainan
bola voly adalah melewatkan bola di atas net agar dapat jatuh menyentuh lantai
lapangan lawan dan untuk mencegah usaha yang sama dari lawan. Setiap tim dapat
memainkan tiga pantulan untuk mengembalikan bola (di luar perkenaan block).
Sedangkan Sarumpaet, dkk (2002: 86) berpendapat bahwa Prinsip bermain
bola voly adalah memainkan bola dengan mem - voly (memukul dengan tangan) dan
berusaha

menjatuhkannya

ke

dalam

permainan

lapangan

lawan

dengan

menyeberangkan bola lewat atas net atau jaring, dan mempertahankannya agar bola
tidak jatuh di lapangan sendiri.
Permainan bola voly harus dilakukan dengan dipantulkan. Syarat pantulan
bola harus sempurna tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. Dari masing
- masing tim dapat memantulkan bola sebanyak - banyaknya tiga kali dan setelah itu
bola harus diseberangkan melewati net ke daerah permainan lawan.
Untuk memantulkan bola dapat menggunakan seluruh tubuh. Seperti
dikemukakan Amung Mamun & Toto Subroto (2001: 37) mengatakan bahwa,
Semula bagian tubuh yang sah untuk memainkan bola batasannya dari lutut ke atas.

12
Sekarang seluruh bagian tubuh diperkenankan untuk memainkan bola. Untuk
mencapai keterampilan bermain bola voly harus menguasai teknik dasar bola voly.

2.4. Macam - Macam Teknik Dasar Bermain Bola Voly Mini


Syarat utama agar dapat bermain bola voly adalah menguasai teknik dasar
bermain bola voly. Hal ini sesuai pendapat Sarumpaet dkk., (2002: 86) bahwa, Agar
permainan bola voly berjalan atau berlangsung dengan baik, lancar dan teratur, maka
para pemain dituntut harus menguasai unsur - unsur dasar permainan, yaitu teknik
dasar bermain bola voly.
Teknik dasar bola voly pada dasarnya suatu upaya seorang pemain untuk
memainkan bola berdasarkan peraturan dalam permainan bola voly. Berkaitan
dengan teknik dasar bola voly Aip Syarifuddin (2002: 187) menyatakan, Teknik
dasar permainan bola voly merupakan permainan untuk melakukan bentuk - bentuk
gerakan yang berhubungan dengan permainan bola voly. Menurut M. Yunus (2002:
68) bahwa, Teknik dalam permainan bola voly dapat diartikan sebagai cara
memainkan bola dengan efektif dan efisien sesuai dengan peraturan permainan yang
berlaku untuk mencapai hasil yang optimal.
Sedangkan Beutelstahl (2003:9) berpendapat bahwa, Teknik merupakan
prosedur yang telah dikembangkan berdasarkan praktek, dan bertujuan mencari
penyelesaian suatu problem pergerakan tertentu dengan cara yang paling ekonomis
dan berguna.
Berdasarkan pengertian teknik dasar bola voly yang dikemukakan tiga ahli
tersebut dapat disimpulkan bahwa, teknik dasar bola voly merupakan suatu gerakan
yang dilakukan secara efektif dan efisien untuk menyelesaikan tugas yang pasti

13
dalam permainan bola voly. Teknik dalam permainan bola voly merupakan aktivitas
jasmani yang menyangkut cara memainkan bola dengan efektif dan efisien sesuai
peraturan permainan yang berlaku untuk mencapai suatu hasil yang optimal.
Adapun macam - macam teknik dasar bola voly menurut Sarumpaet dkk.
(2002: 87) yaitu: (1) passing atas, (2) passing bawah, (3) set-up (4) bermacam macam service, (5) bermacam - macam smash (spike), (5) bermacam - macam block
(bendungan). Sedangkan teknik dasar bermain bola voly menurut Suharno (2001:
23) dibedakan menjadi dua yaitu:
1) Teknik tanpa bola terdiri atas:
a. Sikap siap normal
b. Pengambilan posisi yang tepat dan benar
c. Langkah kaki gerak ke depan, ke belakang, ke samping kiri, ke
samping kanan.
d. Langkah kaki untuk awalan smash dan block
e. Guling ke samping , ke belakang
f. Gerak meluncur
g. Gerak tipuan
2) Teknik dengan bola terdiri atas :
a. Servis untuk penyajian bola pertama
b. Pass bawah untuk passing dan umpan bertahan
c. Pass atas berguna untuk umpan dan passing
d. Umpan untuk menyajikan bola ke smasher
e. Smash untuk menyerang/ mematikan lawan
f. Block, pertahanan di net.
Teknik dasar bermain bola voly pada prinsipnya terdiri dua macam yaitu,
teknik tanpa bola dan teknik dengan bola. Teknik tanpa bola seperti gerakan gerakan khusus yang mendukung teknik dengan bola, sedangkan teknik dengan bola
adalah cara memainkan bola dengan anggota badan secara efektif dan efisien sesuai
dengan peraturan yang berlaku. Teknik tanpa bola dan teknik dengan bola merupakan
dua komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam bermain bola voly. Keterkaitan

14
antara teknik tanpa bola dan teknik dengan bola didasarkan kebutuhan dalam
permainan.

2.5. Pentingnya Menguasai Teknik Dasar Bola Voly


Hal yang mendasar dan harus dikuasai agar dapat bermain bola voly adalah
menguasai macam - macam teknik dasar bola voly. Tanpa menguasai teknik dasar
bola voly tidak mungkin mencapai prestasi bola voly yang optimal. Dalam hal ini
Dinata (2004: 5) menyatakan, Untuk meningkatkan prestasi, seorang pemain bola
voly harus menguasai beberapa teknik dasar terlebih dahulu. Teknik dasar merupakan
faktor utama selain kondisi fisik, taktik dan mental.
Penguasaan teknik dasar bola voly merupakan unsur yang sangat mendasar
untuk mencapai prestasi bola voly, selain faktor fisik, taktik dan mental. Teknik dasar
bola voly merupakan faktor utama yang harus dikembangkan melalui latihan yang
baik dan teratur. Berkaitan dengan teknik dasar bola voly M. Yunus (2002: 68)
menyatakan, Teknik dalam permainan bola voly dapat diartikan sebagai cara
memainkan bola dengan efektif dan efisien sesuai dengan peraturan permainan yang
berlaku untuk mencapai hasil yang optimal. Menurut Soedarwo dkk. (2000:6)
bahwa, Teknik dasar bola voly adalah proses melahirkan keaktifan jasmani dan
pembuktian praktek dengan sebaik mungkin untuk menyelesaikan tugas yang pasti
dalam cabang olahraga permainan bola voly. Sedangkan Beutelstahl (2003:9)
berpendapat, Teknik merupakan prosedur yang telah dikembangkan berdasarkan
praktek, dan bertujuan mencari penyelesaian suatu problem pergerakan tertentu
dengan cara yang paling ekonomis dan berguna.

15
Berdasarkan pengertian teknik dasar bola voly yang dikemukakan tiga ahli
tersebut dapat disimpulkan bahwa, teknik dasar permainan bola voly merupakan
suatu proses gerak tubuh yang dibuktikan dengan praktek yang dilakukan dengan
sebaik mungkin dalam arti efektif dan efisien untuk menyelesaikan tugas yang pasti
guna mencapai hasil yang baik dalam permainan bola voly. Teknik permainan bola
voly merupakan aktivitas jasmani yang menyangkut cara memainkan bola dengan
efektif dan efisien sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk mencapai hasil
optimal.
Penguasaan teknik dasar bermain bola voly mempunyai peran penting dalam
usaha mencapai prestasi yang optimal. Seorang pemain yang menguasai teknik dasar
bola voly dengan baik akan mendukung penampilannya baik secara individu maupun
secara kolektif. Yunus (2002: 68) menyatakan, Seni dalam permainan bola voly
terlihat dari pemain yang sudah menguasai teknik tinggi hingga menyerupai
akrobatik dengan pukulan - pukulan dan tipu muslihat yang indah serta mempesona
para penonton yang menyaksikannya. Menurut Sarumpaet (2002: 87) mengatakan
bahwa, Penguasaan teknik dasar bola voly merupakan salah satu unsur yang
menentukan menang atau kalahnya suatu regu dalam pertandingan. Oleh karena itu,
teknik dasar tersebut harus benar - benar dikuasai terlebih dahulu, agar dapat
mengembangkan mutu permainan, lancar dan teratur. Hal senada dikemukakan
Soedarwo dkk. (2000: 6) menyatakan, Penguasaan teknik dasar permainan bola voly
merupakan salah satu unsur yang ikut menentukan menang atau kalahnya suatu regu
di dalam suatu pertandingan di samping unsur - unsur kondisi fisik, taktik dan
mental.

16
Berdasarkan tiga pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, penguasaan
teknik dasar bola voly mempunyai peran penting baik secara individual maupun
secara kolektif dalam bermain bola voly di samping faktor fisik, taktik dan mental.
Dengan menguasai teknik dasar bola voly akan mendukung penampilan
seorang pemain lebih baik, dan secara kolektif dapat mempengaruhi menang atau
kalahnya suatu tim dalam pertandingan. Pentingnya penguasaan teknik dasar
permainan menurut Soedarwo dkk. (2000: 6) mengingat hal - hal sebagai berikut:
1) Hukuman terhadap pelanggaran permainan yang hubungannya dengan
kesalahan teknik.
2) Karena terpisahnya tempat antara regu ke satu dengan regu yang lain,
sehingga tidak terjadi adanya sentuhan badan dari permainan lawan, maka
pengawasan wasit terhadap kesalahan teknik ini lebih seksama.
3) Banyaknya unsure - unsur yang menyebabkan terjadinya kesalahan kesalahan teknik ini antara lain membawa bola, mengangkat bola, serta
pukulan rangkap.
4) Permainan bola voly adalah, waktu untuk memainkan bola sangat
sempurna sehingga akan memungkinkan timbulnya kesalahan - kesalahan
teknik yang lebih besar.
5) Penguasaan teknik - teknik yang tinggi hanya memungkinkan kalau
penguasaan teknik dasar, teknik tinggi dalam bola voly ini cukup
sempurna.
Hal-hal seperti di atas harus dipahami dan dimengerti oleh setiap pemain bola
voly. Setiap pemain harus mengerti dan memahami peraturan dasar permainan bola
voly, sehingga akan terhindar dari kesalahan teknik. Kesalahan teknik yang
dilakukan seorang pemain akan merugikan timnya dan menguntungkan pihak lawan.
Teknik dasar juga hal yang sangat kursial dalam sebuah pertandingan bola
voly mini dengan menguasai teknik dasar yang baik maka dapat membantu dalam
penguasaan bola atau permainan di lapangan
2.6. Permainan Bola Voly Mini

17
Di tengah - tengah populernya permainan bola voly ternyata banyak sekali
anak-anak di berbagai negara yang tertarik dengan permainan ini. Oleh sebab itu
diciptakanlah permainan bola voly mini sebagai adik kandung permainan bola
voly dengan merubah berbagai peraturan dan perlengkapan sesuai kemampuan anak
- anak usia 9 - 12 tahun.
Permainan bola voly mini menurut Backe (2005 : 23) adalah: Bola voly mini
menyajikan sejenis bola voly yang diselaraskan dengan kebutuhan dan kapasitas
anak - anak usia 9 sampai 12 tahun sejalan dengan prinsip mengajar yang baik.
Permainan bola voly mini memiliki karakteristik sama dengan permainan
bola voly dewasa, yaitu olahraga beregu dimainkan oleh dua regu di setiap lapangan
dengan dipisahkan oleh net. Tujuan dari permainan itu adalah agar setiap regu
melewatkan bola secara teratur melalui atas net sampai bola tersebut jatuh
menyentuh lantai di lapangan lawan dan mencegah agar bola yang dilewatkan tidak
menyentuh lantai dalam permainan sendiri. (http://www.volleyball.org). Perbedaan
bola voly mini dengan bola voly dewasa terletak peraturan yang dimodifikasi
sehingga menjadi sederhana.
Permainan bola voly mini berperan dalam meningkatkan jumlah pemain aktif
dan merupakan wahana pembinaan usia dini. Atlet muda akan lebih mudah
mempelajari keterampilan bola voly, sebab agak sulit memperkembangkan
keterampilan tersebut pada usia dewasa.
Permainan bola voly mini memberikan kesempatan kepada anak untuk
mengembangkan berbagai kemampuan, fisik, mental dan sosial sebagai dasar dalam
pengembangan prestasi bola voly sebenarnya. Hal ini selaras pula dengan teori

18
kepelatihan bahwa permainan bola voly dimulai pada usia 11 - 12 tahun dan
diharapkan mencapai puncaknya pada usia 20 - 25 tahun.
Permainan bola voly mini merupakan salah satu bentuk pencapaian tujuan
pendidikan jasmani di sekolah dasar sebagaimana dikemukakan Ateng (2002) yaitu
peningkatan kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan kecerdasan dan
pembentukan watak. Terkait dengan itu, analisis berikut ini menggambarkan nilai nilai pendidikan yang terkandung dalam permainan bola voly mini, yaitu: (1) nilai
-nilai sosial seperti kerjasama dan toleransi; (2) nilai - nilai kompetitif seperti sikap
pantang menyerah, berusaha merebut peluang; (3) nilai - nilai sportivitas seperti mau
mengakui keunggulan lawan dan mengakui keterbatasan diri; (4) keterampilan
berpikir dan kreativitas seperti penerapan taktik dalam situasi permainan yang
komplek untuk memenangkan suatu permainan; (5) taat pada aturan karena dalam
permainan dibatasi oleh aturan - aturan yang disepakati bersama.
Logsdon, dkk (1997) mengemukakan permainan bola voly mini dapat
diberikan pada siswa sekolah dasar kelas III sampai kelas VI. Untuk kelas III materi
yang diberikan adalah passing bawah (forearm pass) dan kelas IV, passing atas
(overhead pass). Untuk kelas V, service bawah (underhand serve) dan strategi beregu
dan kelas VI, passing atas dan pengembangan keterampilan.
Permainan bola voly mini sekarang sudah berkembang pesat dan merupakan
olahraga yang popular, baik tingkat dunia maupun di Indonesia. Hal ini merupakan
modal dasar bagi PBVSI khususnya dan pembina bola voly pada umumnya untuk
terus mengembangkan serta meningkatkan mutu perbolavolyan di Indonesia. Tapi
yang paling penting, ternyata banyak sekali anak - anak di berbagai negara tertarik

19
akan permainan bola voly mini. Para remaja inilah yang akan meningkatkan jumlah
pemain dan pribadi aktif dalam perbolavolyan nantinya. Juga sangat penting untuk
menyusun teknik dasar penguasaan kontrol bola pada usia dini, sebagai serang atlet
muda yang lebih mempelajari keterampilan dasar tersebut. Untuk mengembangkan
keterampilan tersebut, sangat penting arti kecintaan terhadap bola voly dari usia,
mereka akan memainkan dengan gairah, kegembiraan dan permainan tingkat tinggi.

2.7. Pendekatan yang Digunakan dalam Pengembangan Keterampilan Bola


Voly Mini
Pendekatan dapat diartikan sebagai proses, metode atau cara untuk mencapai
aesuatu. Pendekatan sama dengan metode yang artinya cara atau alat yang
digunakan untuk mengatur aktivitas siswa dalam mencapai tujuan (Gerlach, dkk,
1998 dalam Suharta, 2007:134-153). Beranjak dari definisi tersebut, maka
pendekatan pembelajaran adalah usaha atau cara yang dilakukan dalam rangka
aktivitas pembelajaran guna mencapai tujuan pengajaran. Pendekatan pembelajaran
bola voly mini dalam tulisan ini adalah usaha atau cara yang dilakukan guru dalam
rangka aktivitas pembelajaran bola voly mini dengan tujuan siswa dapat mencapai
penguasaan keterampilan bola voly mini.
Pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar harus mempertimbangkan
tingkat kematangan fisik, psikologis dan sosial. Dengan demikian pendekatan
pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan anak
sebagaimana penegasan Singer (2002) dalam Suharta (2007:134-153) tentang
penggunaan suatu metode pembelajaran. Dikemukakannya bahwa tidak ada sebuah
pendekatan pembelajaran yang cocok untuk segala situasi. Kompleksitas situasi

20
merupakan salah satu faktor utama sebagai bahan pertimbangan pemilihan
pendekatan mana yang paling efektif.
Penjelasan di muka menegaskan bahwa dalam suatu aktivitas pembelajaran,
guru penjas tidak boleh terpaku dengan satu pendekatan. Guru penjas harus
menguasai beberapa pendekatan pembelajaran untuk berbagai situasi dan
karakteristik anak yang berbeda. Suatu metode yang cocok untuk situasi dan
karakteristik anak tertentu, mungkin tidak akan cocok untuk situasi dan karakteristik
anak yang lain.
Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa secara umum guru - guru
Penjas SD menggunakan suatu pendekatan pembelajaran bola voly mini yang dalam
konteks kajian ini penulis namakan sebagai pendekatan konvensional atau
pendekatan yang biasa atau lazim dilakukan oleh guru Penjas di SD.
Terdapat dua hal yang penulis soroti dalam pembelajaran bola voly mini yang
lazim dilakukan dan selanjutnya di sebut sebagai cirri - ciri pendekatan konvensional.
Ciri pertama, guru menggunakan media/alat belajar (bola, net, lapangan) yang lazim
atau menurut petunjuk peraturan yang ada tanpa berinisiatif mengadakan perubahan perubahan atau modifikasi terhadap alat - alat belajar tersebut. Selain itu guru juga
tidak mengadakan modifikasi terhadap peraturan -peraturan permainan yang berlaku.
Jadi guru pendidikan jasmani di sekolah dasar terpaku kepada alat dan peraturan
yang ada dalam permainan bola voly mini yang diketahuinya.
Dalam hal ini bisa dikatakan guru pendidikan jasmani kurang kreatif untuk
mengembangkan proses belajar mengajar di lapangan. Penjelasan Gabbard, dkk
(1987) dalam Suharta (2007:134-153) tentang permainan konvensional mendukung
asumsi hasil telaahan di muka. Dijelaskannya bahwa Permainan konvensional adalah

21
suatu aktivitas yang dirancang sebagaimana biasanya dan diajarkan tanpa modifikasi.
Senada dengan itu Dougherty dan Bonano (1979) dalam Suharta (2007:134-153)
mengemukakan bahwa pendekatan kontemporer dalam pembelajaran pendidikan
jasmani guru harus mengajar dengan kreatif antara lain memodifikasi permainan
olahraga dengan cara mengganti peralatan dan mengadaptasi peraturan. Ini berarti
secara implisit dinyatakan oleh Dougherty dan Bonano bahwa dalam pendekatan
lama atau pendekatan konvensional, guru tidak melakukan modifikasi.
Ciri kedua, penguasaan gerak atau teknik permainan bola voly mini didekati
dengan drill atau pengulangan - pengulangan yang sifatnya monoton, tidak melalui
situasi permainan, sehingga terkesan mengajar seperti melatih. Mereka menganggap
bahwa drill merupakan metode yang biasa dilakukan dalam belajar keterampilan
gerak.
Singer menyatakan bahwa drill merupakan dasar dalam belajar keterampilan
gerak dan tidak memerlukan banyak kreativitas dan pemikiran dari guru (Singer,
2002:70).

Gambar 1. Skema Stimulus Respon dalam Drill

Di dalam drill siswa hanya berkonsentrasi terhadap satu stimulus untuk


menjawab dengan satu respon atau dengan perkataan lain keterampilan gerak
dilakukan di bawah kondisi lingkungan yang tetap. Inilah ciri dari drill sebagaimana
digambarkan Singer pada Gambar 1. Dengan pendekatan konvensional guru

22
menggunakan bola voly mini yang standar sesuai peraturan yang berlaku. Hal ini
menyebabkan sebagian besar anak tidak bisa memainkannya dengan baik.
2.7.1. Modifikasi Permainan
Gagasan pertama dalam pendekatan baru adalah melakukan modifikasi
permainan bola voly mini. Modifikasi permainan dalam olahraga memiliki
karakteristik sebagai berikut: (1) sesuai dengan kemampuan anak (umur, kesegaran
jasmani, status kesehatan, tingkat keterampilan, dan pengalaman sebelumnya); (2)
aman dimainkan; (3) memiliki beberapa aspek alternatif seperti ukuran berat dan
bentuk peralatan, lapangan permainan, waktu bermain atau panjangnya permainan,
peraturan, jumlah pemain, rotasi atau posisi pemain; (4) mengembangkan pemain
dengan keterampilan olahraga yang relevan yang dapat dijadikan dasar pembinaan
selanjutnya (Australian Sports Commission, 1996 dalam Suharta, 2007:134-153).
Modifikasi dalam olahraga penting untuk dikembangkan dengan beberapa
alasan sebagai berikut: (1) secara fisik dan emosi anak - anak berbeda dengan orang
dewasa sehingga mereka tidak bisa bermain olah raga dengan peraturan dan perlatan
orang dewasa; (2) dapat mengembangkan kemampuan anak tanpa resiko cedera; (3)
mempercepat penguasaan keterampilan untuk beradaptasi dengan olahraga orang
dewasa di kemudian waktu; (4) olahraga modifikasi sangat menyenangkan bagi anak
- anak.
Modifikasi permainan bertujuan untuk: (1) dapat mengembangkan pola gerak
yang benar; (2) menciptakan situasi yang menyenangkan; (3) mengembangkan lebih
banyak lagi aktivitas; (4) meningkatkan partisipasi anak dalam berolahraga. Menurut
Ateng (2002) dalam Suharta (2007:134-153) modifikasi bertujuan: (1) agar siswa
memperoleh kepuasan dan memberikan hasil yang baik; (2) untuk meningkatkan

23
kemungkinan keberhasilan partisipasi; (3) agar siswa dapat mengerjakan pola gerak
yang benar.
Modifikasi permainan meliputi: peralatan, ukuran bola, ukuran lapangan,
ukuran sasaran dan jumlah pemain (Australian Sports Commission, 1996 dalam
Suharta, 2007:134-153). Modifikasi permainan meliputi perubahan - perubahan
dalam: (1) jumlah pemain; (2) peralatan yang digunakan; (3) peraturan; (4)
pencatatan skor; (5) keterampilan alternatif.
2.7.2. Permainan dan Kompetisi
Gagasan kedua dalam pendekatan baru pembelajaran bola voly mini adalah
menciptakan pembelajaran dalam suasana permainan dan kompetisi. Permainan atau
Games adalah suatu aktivitas pertandingan yang bersifat sukarela disertai peraturan
yang disepakati dan memiliki tujuan jelas. Untuk membedakan games dengan
pertandingan lainnya seperti olahraga profesional adalah sbb: (1) games mengandung
unsur bermain; (2) menang atau kalah merupakan kondisi sesaat yang hanya berlaku
pada saat games berlangsung; (3) games dipertandingkan dengan lawan yang sama;
(4) mengandung kerjasama untuk menjalankan peraturan dengan fair play (Morris &
Stiehl, 1989 dalam Suharta, 2007:134-153).
Menurut Ateng (2002) dalam Suharta (2007:134-153) metode dan materi
pembelajaran pendidikan jasmani yang paling tepat di sekolah dasar adalah
dilakukan dengan cara bermain dan permainan. Senada dengan itu Moris dan Stiehl
(1989) dalam Suharta (2007:134-153) menjelaskan, games sangat disukai anak - anak
dan dapat mengembangkan aspek - aspek sebagai berikut: (1) keterampilan gerak; (2)

24
kesegaran jasmani; (3) keterampilan kognitif; (4) sosial; (5) emosional; (6) potensi
fisik.
Gallahue (1989) dalam Suharta (2007:134-153) menjelaskan fungsi bermain
bagi anak - anak, yaitu: (1) permainan memungkinkan anak dapat belajar dengan try
and error; (2) permainan dapat mengembangkan mental seperti emosional,
agresivitas, dan menghindari rasa bosan. Lebih lanjut dijelaskannya bahwa dalam
memilih alat permainan harus mempertimbangkan hal - hal sebagai berikut: (1)
aman, tidak berbahaya, tidak menimbulkan cedera; (2) menyenangkan; (3) dapat
mengembangkan kemampuan anak.
Menurut Gabbard (1987) dalam Suharta (2007:134-153) games bersifat
menyenangkan dan menimbulkan motivasi. Hal ini selaras dengan salah satu
karakteristik psikologis anak usia 10

- 13 tahun sebagaimana dikemukakan

Annarino, yaitu menyukai aktifitas yang bersifat kompetitif (Annarino, 1980 dalam
Suharta, 2007:134-153).
Dalam memilih permainan harus mempertimbangkan hal - hal sebagai
berikut: (1) menyenangkan; (2) memungkinkan aktivitas bagi seluruh siswa atau
seluruh siswa dapat melakukan aktivitas tersebut; (3) dapat mengembangkan
keterampilan motorik dan kesegaran jasmani; (4) keamanan diutamakan; (5)
memungkinkan partisipasi maksimum (Gabbard, 1987 dalam Suharta, 2007:134153).
Dari uraian di muka dapat dirumuskan bahwa permainan dan kompetisi
dalam kajian ini adalah suatu aktivitas pertandingan yang mengandung unsur
permainan sebagai salah satu pendekatan pembelajaran untuk menguasai

25
keterampilan bola voly mini dengan peraturan - peraturan yang dibuat dan disepakati
siswa atas arahan guru.
Permainan dan kompetisi dalam pembelajaran bola voly mini memiliki
keuntungan - keuntungan sebagai berikut: (1) menghindari rasa bosan; (2)
menimbulkan motivasi; (3) menyenangkan; (4) dapat mengembangkan keterampilan
gerak; (5) memungkinkan partisipasi maksimum.

2.8. Tujuan dan Fungsi Evaluasi


Tujuan evaluasi adalah untuk mendapatkan informasi yang dapat memberikan
gambaran tentang hasil kegiatan pembelajaran yang dilakukannya (Tamat dkk:
2002:9.5). Dengan gambaran tersebut dapat di rangkai perencanaan pelaksanaan
program untuk dapat mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang paling
tepat guna memperbaiki kegiatan yang akan di laksanakan.
Tujuan evaluasi sangat berkaitan dengan fungsi evaluasi maka dalam
mengambil keputusan harus dapat mengetahui fungsi evaluasi tersebut, adapun
fungsi evaluasi dalam kegiatan pembelajaran yang di kemukakan oleh Tamat dkk
(2002:9.5) terdiri dari :
a. Fungsi formatif merupakan hasil evaluasi di gunakan untuk memperbaiki
secara langsung hasil belajar peserta didik dan kegiatan pembelajaran
tersebut.
b. Fungsi sumatif merupakan fungsi dari evaluasi ini untuk menentukan
tingkat keberhasilan murid dalam belajarnya (bisa berupa pengamatan tes
dan pengukuran).
c. Fungsi penempatan merupakan fungsi penempatan ini bermaksud untuk
mengelompokkan murid sesuai dengan kriteria yang di kelompokkan.
d. Fungsi diagnostik evaluasi merupakan fungsi diagnostik evaluasi bersifat
permanen seperti kemampuan kejiwaan.
2.8.1. Evaluasi dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan
Kesehatan

26

Evaluasi dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga pada


dasarnya memfokuskan bagaimana untuk dapat mengetahui efektifitas hasil
pembelajaran yang telah ia lakukan dan sejauh mana siswa telah memiliki
penguasaan keterampilan gerak sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan
dari tingkat pencapaian suatu pembelajaran dinyatakan dalam bentuk nilai.
(Wahjoedi:2001:11).
2.8.2. Prinsip Dasar Pelaksanaan Evaluasi Pendidikan Jasmani Olahraga dan
Kesehatan
Agar isu pelaksanaan evaluasi pendidikan jasmani sedikit - demi sedikit dapat
dikurangi dan agar pelaksanaan evaluasi dapat memenuhi fungsinya untuk
meningkatkan mutu proses belajar mengajar, penyelenggaraan evaluasi harus
mempertimbangkan beberapa prinsip sebagai berikut.
1. Proses pengumpulan data dilakukan melalui kerjasama secara alami.
Untuk meningkatkan aktivitas belajar dan memotivasi siswa, hendaknya
dihindarkan penggunaan standar yang baku atau perbandingan dengan teman.
Bagi siswa tertentu, hal itu dapat menurunkan motivasi belajar. Sebagai
penggantinya, hendaknya kerjasama antara guru dengan siswa dilakukan
secara individu untuk mendiskusikan tujuan belajar yang ingin dicapainya,
membimbing dan mendorong siswa untuk menentukan tujuan - tujuan yang
maksimal akan tetapi realistik, sesuai dengan tingkat kemampuannya. Para
siswa akan lebih termotivasi untuk melakukan tes, tekun belajar dengan baik
manakala mereka bekerja sama dengan gurunya (Simanjuntak, 2010:7-15).
2. Proses

pengumpulan

berkesinambungan.

data

dilakukan

secara

terus

menerus

dan

27
Bukti kemajuan belajar siswa, ada di antaranya yang dapat secara langsung
dilihat hasilnya dalam tempo waktu relatif singkat. Ada juga kemajuan belajar
siswa yang hanya dapat dilihat hasilnya setelah menempuh program yang
panjang, misalnya satu tahun atau lebih. Karena itu, kemajuan belajar siswa
harus dicatat dan didokumentasikan agar dapat diperlihatkan peningkatannya
kepada siswa, orang tua siswa, atau kepada pihak pimpinan sekolah yang
membutuhkan. Proses pengumpulan data yang dilakukan hanya satu kali
kurang cocok untuk melihat kemajuan belajar siswa, dan cara ini mungkin
lebih cocok untuk melihat keunggulan dan kelemahan masing -masing siswa
(Simanjuntak, 2010:7-15).
3. Data yang dihimpun meliputi berbagai aspek
Kemajuan belajar, motivasi, dan proses belajar merupakan tiga komponen
utama yang satu sama lain saling berinteraksi, saling mempengaruhi dengan
kuat. Karena itu, data yang dikumpulkan harus meliputi berbagai aspek.
Proses pengumpulan data harus dapat mengumpulkan informasi tentang
kapan sesuatu diketahui oleh siswa (pengetahuan), apa yang dirasakan dan
bagaimana perasaan siswa terhadap pelajarannya (sikap), kemampuan apa
yang diperoleh (produk) dan apa yang dilakukan untuk memperoleh tujuan
belajarnya.

Proses

belajar

sama

pentingnya

dengan

hasil

belajar

(Simanjuntak, 2010:7-15).
4. Laporan kemajuan belajar harus dibuat dan disampaikan kepada orang tua
siswa

28
Kemajuan belajar siswa tidak hanya cukup diketahui oleh guru yang
bersangkutan saja, tetapi juga oleh pihak sekolah, siswa, dan orang tua siswa.
Agar pihak yang berkepentingan tersebut memahami secara mendalam
tentang kemajuan belajar siswa, sebaiknya laporan tidak hanya memuat nilai
saja, misalnya 7 atau 8. Akan lebih baik jika nilai tersebut disertai dengan
data dari berbagai aspek kemajuan belajarnya, misalnya perkembangan
disiplin, keterampilan gerak, atau kebugaran jasmaninya. Laporan itu dapat
memuat berbagai aspek kemajuan belajarnya. Laporan yang memuat berbagai
aspek perkembangan kemajuan belajar, jauh akan lebih berharga bagi orang
tua siswa.
2.8.3. Pelaksanaan Evaluasi Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Berdasarkan uraian di atas, secara teoritis disadari bahwa evaluasi merupakan
bagian yang tidak dapat dipisahkan (integral) dari suatu proses belajar mengajar.
Evaluasi berfungsi sebagai salah satu cara untuk memantau perkembangan belajar
dan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan pengajaran dapat dicapai oleh siswa.
Namun, harapan ini sering kali menyimpang dalam kenyataannya. Beberapa
penyimpangan tersebut, antara lain adalah sebagai berikut:
Pelaksanaan evaluasi. Pelaksanaan evaluasi belum begitu tampak terpadu
dalam sebuah proses belajar mengajar. Pengecekan terhadap pemahaman siswa dan
pemberian umpan balik yang memadai guna meningkatkan penguasaan materi oleh
siswa sebagai salah satu bentuk evaluasi, tampaknya belum merupakan bagian yang
menyatu dalam sebuah proses belajar mengajar. Guru merasa dikejar - kejar oleh
bahan yang harus diselesaikan tuntas pada suatu pertemuan, tanpa memperhatikan

29
apakah siswa sudah saatnya menerima materi berikutnya atau belum. Untuk itu,
seringkali guru memberikan evaluasi yang sifatnya formalitas saja, asal
menyampaikan tanpa bahan, menjadikan umpan balik untuk perbaikan proses
berikutnya. Bahkan seringkali guru memberikan evaluasi pada waktu terpisah yang
tidak jarang menyita waktu cukup banyak sehingga menyita waktu untuk keperluan
lainnya. Beberapa dampak yang mungkin muncul pada diri siswa akibat keadaan
seperti ini antara lain adalah (wordpress.com/2013/11/08/manfaat-dan-dampakevaluasi-pendidikan) :
a. Kurang memahami fokus materi yang dipelajarinya.
b. Kurang memahami materi yang perlu dipertahankan dan perlu
ditingkatkan.
c. Kurang termotivasi untuk memperdalam materi di luar jam pelajaran.
d. Kurang mengetahui secara terarah apa yang harus dilakukan untuk
memperbaiki kemampuannya di luar jam pelajaran.
2. Relevansi materi evaluasi. Materi evaluasi terkadang kurang mencerminkan
materi proses belajar mengajar, sesuai dengan tujuan dan peruntukannya.
Kecenderungan untuk mengambil materi evaluasi dari bank-bank soal dari
seluruh sekolah atau dari soal sebelumnya, tanpa terlebih dahulu direvisi atau
disesuaikan. Materi belajar yang sudah diberikan, memang merupakan cara
yang cepat. Tetapi apabila hal itu tidak dilakukan dengan teliti, bisa jadi akan
melemahkan validitas dan reliabilitas soal. Tingkat keterampilan siswa, fokus
pembelajaran, dan relevansi materi evaluasi seringkali merupakan aspek
pokok validitas instrumen. Beberapa dampak yang mungkin muncul pada diri

30
siswa

akibat

keadaan

ini

antara

lain

adalah

(wordpress.com/2013/11/08/manfaat-dan-dampak-evaluasi-pendidikan):
a. Siswa merasa bingung dengan materi evaluasi yang diperolehnya.
b. Siswa kurang percaya lagi terhadap fokus pembelajaran karena tidak
sesuai dengan materi evaluasi.
c. Siswa bisa jadi tidak serius dalam belajar yang penting adalah hasil
evaluasi.
d. Siswa histeris dan frustrasi karena materi pembelajaran tidak sesuai
dengan materi evaluasi.
e. Siswa merasa rendah diri atau tidak percaya diri terhadap materi evaluasi
yang akan diberikan sehingga berusaha nyontek dari teman karena takut
tidak lulus.
f. Hasil evaluasi siswa bersifat biasa bukan merupakan kemampuan hasil
belajar siswa yang sebenarnya.
3.

Situasi pelaksanaan evaluasi. Dalam situasi tes tulis di kelas, hasil tes
mungkin hanya diketahui oleh siswa yang di tes dan gurunya. Sebaliknya,
dalam tes penampilan di lapangan, hasil tes diketahui oleh semua orang.
Semua siswa tahu, siapa yang larinya paling lambat, siapa yang mungkin
dihindari oleh para guru Pendidikan jasmani sehingga dapat memelihara
kondisi perasaan siswa agar tetap positif. Kalau situasi demikian tidak
dihindari maka tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan perasaan
yang tidak menguntungkan bagi diri siswa antara lain seperti sebagai berikut
(wordpress.com/2013/11/08/manfaat-dan-dampak-evaluasi-pendidikan):
a. Rendah diri.

31
b. Berusaha nyontek atau manipulasi hasil.
c. Histeris menghadapi evaluasi.
d. Tidak senang terhadap evaluasi.
e. Tidak senang terhadap pelajaran.
f. Memiliki sikap negatif terhadap evaluasi.
2.8.4. Prinsip pengembangan evaluasi pendidikan jasmani
Pendidikan jasmani merupakan bentuk pendidikan yang menggunakan
aktivitas gerak sebagai media pendidikan. Sehubungan dengan hal tersebut, seluruh
rangkaian proses pembelajaran dilakukan melalui aktivitas gerak dengan prinsip
-prinsip pembelajaran yang sesuai dengan pendidikan jasmani. Demikian pula
dengan pengembangan instrumen evaluasi.
Pengembangan instrumen evaluasi dalam pendidikan jasmani dilakukan
dengan mengacu pada perkembangan gerak siswa seperti yang diuraikan dalam
kurikulum. Namun demikian, pengembangan instrumen evaluasi seperti tersebut di
atas

bukan

berarti

mengabaikan

bagian/kelompok

kognitif

dan

afektif.

Pengembangan instrumen kedua bagian tersebut merupakan bagian integral dari


pengembangan instrumen evaluasi yang berorientasi pada pengukuran kemampuan
gerak siswa, bukan dikembangkan secara terpisah.
Perkembangan yang terjadi saat ini di lapangan adalah masih ditemukannya
evaluasi yang dilakukan secara terpisah antara bagian psikomotor - fisik, kognitif dan
afektif. Dalam beberapa buku pegangan siswa dan guru masih terdapat berbagai
instrumen yang cenderung mengukur komponen psikomotor, kognitif, dan afektif
secara terpisah dan berdiri sendiri - sendiri.

32
Evaluasi terhadap kemampuan kognitif yang tergambar dari berbagai butir
instrumen teori pendidikan jasmani hendaknya dihindari oleh guru, demikian pula
terhadap afektif. Sikap siswa seharusnya dapat diukur dari apresiasi positif dari nilai nilai pendidikan jasmani yang tersosialisasi dalam kegiatan sehari - hari dari kegiatan
proses pembelajaran. Disiplin, kerja sama, kerja keras, pantang menyerah, ulet,
saling menghargai baik sesama kawan maupun terhadap lawan, dan menerima
kenyataan seharusnya butir - butir instrumen yang terakumulasi dari seluruh
rangkaian pengukuran keterampilan gerak yang dimiliki oleh siswa bukan dilakukan
secara terpisah dan berdiri sendiri.
Untuk dapat dikembangkan instrumen yang dapat mengukur kemampuan
siswa secara total, prinsip - prinsip di bawah ini perlu mendapatkan perhatian dari
guru pendidikan jasmani. Arikunto (2008) bahwa prinsip - prinsip tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Evaluasi harus dilakukan dengan tujuan yang jelas
Guru pendidikan jasmani agar menetapkan tujuan evaluasi sebelum
mengembangkan instrumen evaluasi dan melakukannya. Dengan tujuan yang
jelas, guru pendidikan jasmani dapat mengembangkan butir - butir instrumen
yang dapat mengukur kinerja siswa sesuai dengan tujuan evaluasi. Di
samping hal tersebut, guru pun dapat mengembangkan pendekatan
pengelolaan yang efektif dan efisien.

2. Evaluasi harus dilakukan dengan obyektif

33
Obyektivitas

harus

sudah

diberlakukan

sebelum

suatu

pengukuran

dilaksanakan, yakni saat guru pendidikan jasmani menyusun instrumen


evaluasi. Demikian pula pada saat tes dan penilaian dilakukan. Dengan
demikian. guru pendidikan jasmani dapat menilai kemampuan siswanya
sesuai dengan data yang didapat dari tes dan pengukuran. Sehubungan dengan
hal tersebut, maka tidak benar bila guru pendidikan jasmani memberikan
penilaian berdasarkan unsur - unsur subjektivitas.
3. Evaluasi dilaksanakan sebelum, selama dan sesudah proses pembelajaran
Secara ideal evaluasi harus dilakukan pada proses pembelajaran. yakni, a)
sebelum, b) saat proses, dan c) sesudah proses pembelajaran dilangsungkan.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1.

Jenis dan Pendekatan Penelitian


Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu suatu bentuk penelitian yang ditujukan

untuk mendeskripsikan fenomena - fenomena yang ada, baik fenomena alamiah


maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas,
karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang
satu dengan fenomena lainnya (Sukmadinata, 2006:72). Pendekatan dalam penelitian
ini menggunakan kuantitatif.
Sejalan dengan tujuan dari penelitian ini, maka penulis memilih jenis penelitian
dengan menggunakan metode deskriptif untuk mendeskripsikan hasil evaluasi
keterampilan permainan bola voly mini pada Pada Siswa SMP Muhammadiyah 1
Banda Aceh.

3.2.
3.2.1

Populasi dan Sampel


Populasi
Menurut Arikunto (2006:108) populasi adalah keseluruhan subyek penelitian.

Populasi dibatasi jumlah subyek atau individu paling sedikit mempunyai sifat yang
sama. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Siswa SMP Muhammadiyah 1
Banda Aceh yang berjumlah 20 orang.
3.2.2

Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sampel yang di

ambil dalam penelitian ini adalah seluruh murid laki - laki yang berjumlah 20 siswa,
adapun teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling
34

35
sampling, hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan Arikunto (2006:109),
yang mengatakan bahwa jika populasi lebih dari 100 orang, maka di ambil 10-15%
atau 20-25% dari total populasi untuk dijadikan sampel, namun jika populasi kurang
dari 100 orang, maka seluruhnya dijadikan sampel.
Berdasarkan pendapat tersebut, dan karena jumlah populasi dalam penelitian
ini kurang dari 100 siswa, maka dijadikan sampel penelitian siswa laki - laki, atau
total sampel, yaitu sebanyak 13 orang siswa SMP Negeri Muhammadiyah 1 Banda
Aceh.

3.3.

Teknik Pengumpulan Data


Adapun teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data dalam penelitian

ini adalah berupa tes. Petunjuk pelaksanaan tes keterampilan dasar bermain bolavoly
mini (Mawarti, 2009:95), terdiri dari empat item tes yaitu ; 1) passing, 2) servis, 3)
smash, dan 4) block.
1. Passing :
Siswa berdiri menghadap tembok dengan jarak 3 meter. Pada dinding
tembok ada kotak ukuran 1 x 1 meter. Jarak tinggi dari lantai 2.20 meter.
Anak melakukan passing dengan arah bola ke kotak. Dihitung sebanyak
10 x, dihitung berapa masuk (baik), berapa bola tidak masuk (kurang).
Penilaian : Bola masuk - bola keluar x 100% : 10
2. Service :
Anak melakukan servis bawah sebanyak 10 kali. Dihitung berapa bola
masuk dan berapa bola yang keluar.
Peniliaian: Bola masuk - bola keluar x 100% : 10

36
3. Smash :
Anak melakukan smash dengan bola diumpan (disajikan) oleh guru atau
pembimbing. Masing - masing 10 x setiap siswa.
Peniliaian: smash masuk - smash salah x 100% : 10.
4. Block :
Anak melakukan block dengan bola di smash dibantu dipikul oleh
pembimbing atau pengajar (10 kali). Dihitung berapa kali berhasil
memblock, beberapa yang tidak berhasil.
Penilaian: block sukses - block gagal x 100% : 10
Selanjutnya, untuk menentukan kategori keterampilan siswa dalam bermain
bola voly mini pada siswa Sekolah Dasar, berpedoman pada norma tes dan penilaian
berikut ini:
Tabel 3.1. Norma Tes Keterampilan Permainan Bola Voly Mini
No

Tes dan
Penilaian

Baik
Sekali

Baik

Cukup

Kurang

Kurang
Sekali

Passing

80 s/d 100

60 s/d 79

40 s/d 59

20 s/d 39

0 s/d 19

Service

80 s/d 100

60 s/d 79

40 s/d 59

20 s/d 39

0 s/d 19

Smash

80 s/d 100

60 s/d 79

40 s/d 59

20 s/d 39

0 s/d 19

4
Block
80 s/d 100
Sumber: Mawarti (2009:96)

60 s/d 79

40 s/d 59

20 s/d 39

0 s/d 19

3.4.

Teknik Analisis Data


Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan metode statistik

sederhana, yaitu teknik sebagai berikut :


1. Analisis Data

37
Menghitung nilai rata - rata
Rumus menghitung nilai rata - rata (mean)
x

X
N

Keterangan :
x

= Mean (Nilai rata - rata)

x = Jumlah nilai x
N = Sampel
2. Menghitung Persentasi
Teknik analisa data yang penulis gunakan untuk mendeskripsikan
hasil penelitian ini adalah menggunakan metode statistik sederhana yaitu
teknik persentase dengan rumus:
P =

f
x 100%
n

Keterangan :
P = Angka persentase
f

= Frekuensi jawaban responden

= Jumlah frekuensi

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1.

Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Muhammadiyah 1 Banda Aceh, yang

telah dilaksanakan pada tanggal 12 Maret 2014. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui untuk mengetahui keterampilan bermain bola voly mini pada kategori
pasing, servis, smash dan block pada SMP Muhammadiyah 1 Banda Aceh. Hasil
penelitian tersebut akan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi berikut ini:

4.1.1

Tes Pasing

Tabel 4.1.

No
(1)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Distribusi Frekuensi Hasil Tes Passing Pada SMP Muhammadiyah 1


Banda Aceh

Passing
Masuk Keluar Masuk Keluar
x 100
(2)
(3)
(4)
(5)
6
4
2
200
5
5
0
0
4
6
-2
-200
5
5
0
0
7
3
4
400
6
4
2
200
3
7
-4
-400
5
5
0
0
4
6
-2
-200
7
3
4
400
5
5
0
0
6
4
2
200
8
2
6
600
4
6
-2
-200
7
3
4
400
38

: 10
(6)
20
0
-20
0
40
20
-40
0
-20
40
0
20
60
-20
40

Kategori
(7)
Baik
Cukup
Kurang
Cukup
Baik
Baik
Kurang
Cukup
Kurang
Baik
Cukup
Baik
Baik sekali
Kurang
Baik

39
(1)
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53

(2)
8
8
6
7
4
5
6
7
8
7
6
9
8
5
8
7
5
6
8
7
8
8
7
5
6
8
7
5
6
4
7
7
5
8
7
7
7
6

(3)
2
2
4
3
6
5
4
3
2
3
4
1
2
5
2
3
5
4
2
3
2
2
3
5
4
2
3
5
4
6
3
3
5
2
3
3
3
4

(4)
6
6
2
4
-2
0
2
4
6
4
2
8
6
0
6
4
0
2
6
4
6
6
4
0
2
6
4
0
2
-2
4
4
0
6
4
4
4
2

(5)
600
600
200
400
-200
0
200
400
600
400
200
800
600
0
600
400
0
200
600
400
600
600
400
0
200
600
400
0
200
-200
400
400
0
600
400
400
400
200

(6)
60
60
20
40
-20
0
20
40
60
40
20
80
60
0
60
40
0
20
60
40
60
60
40
0
20
60
40
0
20
-20
40
40
0
60
40
40
40
20

(7)
Baik sekali
Baik sekali
Baik
Baik
Kurang
Cukup
Baik
Baik
Baik sekali
Baik
Baik
Baik sekali
Baik sekali
Cukup
Baik sekali
Baik
Cukup
Baik
Baik sekali
Baik
Baik sekali
Baik sekali
Baik
Cukup
Baik
Baik sekali
Baik
Cukup
Baik
Kurang
Baik
Baik
Cukup
Baik sekali
Baik
Baik
Baik
Baik

40
(1)
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66

(2)
6
5
8
5
4
5
7
6
5
4
5
8
8

(3)
4
5
2
5
6
5
3
4
5
6
5
2
2

(4)
2
0
6
0
-2
0
4
2
0
-2
0
6
6

(5)
200
0
600
0
-200
0
400
200
0
-200
0
600
600

(6)
20
0
60
0
-20
0
40
20
0
-20
0
60
60

(7)
Baik
Cukup
Baik sekali
Cukup
Kurang
Cukup
Baik
Baik
Cukup
Kurang
Cukup
Baik sekali
Baik sekali

Untuk lebih jelasnya persentase keterampilan passing bola voly mini SMP
Muhammadiyah 1 Banda Aceh, seperti tabel berikut ini:
Tabel 4.2.

Keterampilan Bermain Bola Voly Mini Berdasarkan Tes Passing Pada


SMP Muhammadiyah 1 Banda Aceh

No

Keterampilan Passing

Frekuensi

Persentase

1.

Baik sekali

15

22,7

2.

Baik

28

42,4

3.

Cukup

15

22,7

4.

Kurang

12,2

66

100

Jumlah

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa, keterampilan permainan bola


voly mini pada teknik dasar passing SMP Muhammadiyah 1 Banda Aceh, sebanyak
28 orang (42,4%) berada pada kategori baik, sebanyak 15 orang (22,7%) berada pada
kategori baik sekali, sebanyak 15 orang (22,7%) lainnya berada pada kateogri cukup,

41
sedangkan yang paling sedikit berada pada kategori kurang, yaitu sebanyak 8 orang
(12,1%), dan tidak ada keterampilan siswa yang berada pada kategori kurang sekali.

4.1.2

Tes Servis

Tabel 4.3.

No
(1)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

Distribusi Frekuensi Hasil Tes Servis SMP Muhammadiyah 1 Banda


Aceh

Service
Masuk Keluar Masuk Keluar
x 100
(2)
(3)
(4)
(5)
7
3
4
400
6
4
2
200
4
6
-2
-200
5
5
0
0
6
4
2
200
2
8
-6
-600
3
7
-4
-400
5
5
0
0
4
6
-2
-200
7
3
4
400
8
2
6
600
6
4
2
200
5
5
0
0
8
2
6
600
7
3
4
400
6
4
2
200
9
1
8
800
4
6
-2
-200
5
5
0
0
6
4
2
200
8
2
6
600
6
4
2
200
5
5
0
0
6
4
2
200
4
6
-2
-200
7
3
4
400
5
5
0
0

: 10
(6)
40
20
-20
0
20
-60
-40
0
-20
40
60
20
0
60
40
20
80
-20
0
20
60
20
0
20
-20
40
0

Kategori
(7)
Baik
Baik
Kurang
Cukup
Baik
Kurang sekali
Kurang
Cukup
Kurang
Baik
Baik sekali
Baik
Cukup
Baik sekali
Baik
Baik
Baik sekali
Kurang
Cukup
Baik
Baik sekali
Baik
Cukup
Baik
Kurang
Baik
Cukup

42
28
(1)
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65

8
(2)
6
9
5
6
3
4
7
7
5
6
8
4
6
3
5
8
4
7
6
3
5
8
6
3
6
8
6
4
7
7
6
6
3
5
8
5
8

2
(3)
4
1
5
4
7
6
3
3
5
4
2
6
4
7
5
2
6
3
4
7
5
2
4
7
4
2
4
6
3
3
4
4
7
5
2
5
2

6
(4)
2
8
0
2
-4
-2
4
4
0
2
6
-2
2
-4
0
6
-2
4
2
-4
0
6
2
-4
2
6
2
-2
4
4
2
2
-4
0
6
0
6

600
(5)
200
800
0
200
-400
-200
400
400
0
200
600
-200
200
-400
0
600
-200
400
200
-400
0
600
200
-400
200
600
200
-200
400
400
200
200
-400
0
600
0
600

60
(6)
20
80
0
20
-40
-20
40
40
0
20
60
-20
20
-40
0
60
-20
40
20
-40
0
60
20
-40
20
60
20
-20
40
40
20
20
-40
0
60
0
60

Baik sekali
(7)
Baik
Baik sekali
Cukup
Baik
Kurang
Kurang
Baik
Baik
Cukup
Baik
Baik sekali
Kurang
Baik
Kurang
Cukup
Baik sekali
Kurang
Baik
Baik
Kurang
Cukup
Baik sekali
Baik
Kurang
Baik
Baik sekali
Baik
Kurang
Baik
Baik
Baik
Baik
Kurang
Cukup
Baik sekali
Cukup
Baik sekali

43
66

Untuk

lebih

2
jelasnya

keterampilan

200
servis

20
bola

Baik
voly

mini

SMP

Muhammadiyah 1 Banda Aceh, seperti tabel berikut ini:


Tabel 4.4.

Keterampilan Bermain Bola Voly Mini Berdasarkan Tes Servis SMP


Muhammadiyah 1 Banda Aceh

No

Keterampilan Servis

Frekuensi

Persentase

1.

Baik sekali

12

18,2

2.

Baik

27

40,9

3.

Cukup

12

18,2

4.

Kurang

14

21,2

5.

Kurang sekali

1,5

66

100

Jumlah

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa, keterampilan permainan bola


voly mini pada teknik dasar servis SMP Muhammadiyah 1 Banda Aceh, yaitu
sebanyak 27 orang (40,9%) berada pada kategori baik, sebanyak 12 orang (18,2%)
berada pada kategori baik sekali, sebanyak 12 orang (18,2%) lainnya berada pada
kategori cukup, sebanyak 14 orang (21,2%) berada pada kategori kurang, dan hanya
1 orang (1,5%) saja yang berada pada kategori kurang sekali.
4.1.3

Tes Smash

Tabel 4.5.

Distribusi Frekuensi Hasil Tes Smash SMP Muhammadiyah 1 Banda


Aceh

No
(1)
1
2

Masuk
(2)
4
5

Keluar
(3)
6
5

Smash
Masuk Keluar
x 100
(4)
(5)
-2
-200
0
0

: 10
(6)
-20
0

Kategori
(7)
Kurang
Cukup

44
3
4
(1)
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42

4
5
(2)
6
3
5
8
7
5
6
9
4
5
6
3
5
4
7
5
5
6
3
5
5
7
4
5
6
3
6
5
4
5
5
6
3
4
5
2
7

6
5
(3)
4
7
5
2
3
5
4
1
6
5
4
7
5
6
3
5
5
4
7
5
5
3
6
5
4
7
4
5
6
5
5
4
7
6
5
8
3

-2
0
(4)
2
-4
0
6
4
0
2
8
-2
0
2
-4
0
-2
4
0
0
2
-4
0
0
4
-2
0
2
-4
2
0
-2
0
0
2
-4
-2
0
-6
4

-200
0
(5)
200
-400
0
600
400
0
200
800
-200
0
200
-400
0
-200
400
0
0
200
-400
0
0
400
-200
0
200
-400
200
0
-200
0
0
200
-400
-200
0
-600
400

-20
0
(6)
20
-40
0
60
40
0
20
80
-20
0
20
-40
0
-20
40
0
0
20
-40
0
0
40
-20
0
20
-40
20
0
-20
0
0
20
-40
-20
0
-60
40

Kurang
Cukup
(7)
Baik
Kurang
Cukup
Baik sekali
Baik
Cukup
Baik
Baik sekali
Kurang
Cukup
Baik
Kurang
Cukup
Kurang
Baik
Cukup
Cukup
Baik
Kurang
Cukup
Cukup
Baik
Kurang
Cukup
Baik
Kurang
Baik
Cukup
Kurang
Cukup
Cukup
Baik
Kurang
Kurang
Cukup
Kurang sekali
Baik

45
43
44
(1)
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66

7
5
(2)
6
3
4
2
5
6
4
5
6
3
5
6
6
5
6
7
4
5
7
4
5
6

3
5
(3)
4
7
6
8
5
4
6
5
4
7
5
4
4
5
4
3
6
5
3
6
5
4

4
0
(4)
2
-4
-2
-6
0
2
-2
0
2
-4
0
2
2
0
2
4
-2
0
4
-2
0
2

400
0
(5)
200
-400
-200
-600
0
200
-200
0
200
-400
0
200
200
0
200
400
-200
0
400
-200
0
200

40
0
(6)
20
-40
-20
-60
0
20
-20
0
20
-40
0
20
20
0
20
40
-20
0
40
-20
0
20

Baik
Cukup
(7)
Baik
Kurang
Kurang
Kurang sekali
Cukup
Baik
Kurang
Cukup
Baik
Kurang
Cukup
Baik
Baik
Cukup
Baik
Baik
Kurang
Cukup
Baik
Kurang
Cukup
Baik

Untuk lebih jelasnya keterampilan smash bola voly mini SMP Negeri I
Samudera, seperti tabel berikut ini:
Tabel 4.6.

Keterampilan Bermain Bola Voly Mini Berdasarkan Tes Smash SMP


Muhammadiyah 1 Banda Aceh

No

Keterampilan Servis

Frekuensi

Persentase

1.

Baik sekali

3,0

2.

Baik

21

31,8

3.

Cukup

22

33,3

4.

Kurang

19

28,8

46
5.

Kurang sekali
Jumlah

3,0

66

100

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa, keterampilan permainan bola


voly mini pada teknik dasar semas SMP Muhammadiyah 1 Banda Aceh, yaitu
sebanyak 22 orang (33,4%) berada pada kategori cukup, sebanyak 21 orang (31,8%)
berada pada kategori baik, sebanyak 19 orang (28,8%) berada pada kategori kurang,
dan masing - masing sebanyak 2 orang (3%) berada pada kategori baik sekali, dan
kategori kurang sekali.

4.1.4

Tes Block

Tabel 4.7.

No
(1)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Distribusi Frekuensi Block Sukses Kategori Tes Block SMP


Muhammadiyah 1 Banda Aceh

Sukses
(2)
6
6
5
5
5
3
5
5
3
6
6
4
5
8
4
7

Gagal
(3)
4
4
5
5
5
7
5
5
7
4
4
6
5
2
6
3

Block
Sukses Gagal x 100
(4)
(5)
2
200
2
200
0
0
0
0
0
0
-4
-400
0
0
0
0
-4
-400
2
200
2
200
-2
-200
0
0
6
600
-2
-200
4
400

: 10
(6)
20
20
0
0
0
-40
0
0
-40
20
20
-20
0
60
-20
40

Kategori
(7)
Baik
Baik
Cukup
Cukup
Cukup
Kurang
Cukup
Cukup
Kurang
Cukup
Cukup
Kurang
Cukup
Baik sekali
Kurang
Baik

47
17
18
19
(1)
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54

5
4
6
(2)
3
5
4
5
7
4
6
5
6
4
2
3
6
5
8
4
7
5
6
5
4
5
6
3
1
4
5
5
4
6
6
5
3
6
5

5
6
4
(3)
7
5
6
5
3
6
4
5
4
6
8
7
4
5
2
6
3
5
4
5
6
5
4
7
9
6
5
5
6
4
4
5
7
4
5

0
-2
2
(4)
-4
0
-2
0
4
-2
2
0
2
-2
-6
-4
2
0
6
-2
4
0
2
0
-2
0
2
-4
-8
-2
0
0
-2
2
2
0
-4
2
0

0
-200
200
(5)
-400
0
-200
0
400
-200
200
0
200
-200
-600
-400
200
0
600
-200
400
0
200
0
-200
0
200
-400
-800
-200
0
0
-200
200
200
0
-400
200
0

0
-20
20
(6)
-40
0
-20
0
40
-20
20
0
20
-20
-60
-40
20
0
60
-20
40
0
20
0
-20
0
20
-40
-80
-20
0
0
-20
20
20
0
-40
20
0

Cukup
Kurang
Baik
(7)
Kurang
Cukup
Kurang
Cukup
Baik
Kurang
Baik
Cukup
Baik
Kurang
Kurang sekali
Kurang
Baik
Cukup
Baik sekali
Kurang
Baik
Cukup
Baik
Cukup
Kurang
Cukup
Baik
Kurang
Kurang sekali
Kurang
Cukup
Cukup
Kurang
Baik
Baik
Cukup
Kurang
Baik
Cukup

48
55
56
57
(1)
58
59
60
61
62
63
64
65
66

6
6
5
(2)
4
7
5
6
5
8
4
6
6
Untuk

4
4
5
(3)
6
3
5
4
5
2
6
4
4
lebih

2
2
0
(4)
-2
4
0
2
0
6
-2
2
2
jelasnya

keterampilan

200
200
0
(5)
-200
400
0
200
0
600
-200
200
200

20
20
0
(6)
-20
40
0
20
0
60
-20
20
20

block

bola

Baik
Baik
Cukup
(7)
Kurang
Baik
Cukup
Baik
Cukup
Baik sekali
Kurang
Baik
Baik
voly

mini

SMP

Muhammadiyah 1 Banda Aceh, seperti tabel berikut ini:


Tabel 4.8.

Keterampilan Bermain Bola Voly Mini Berdasarkan Tes Block SMP


Muhammadiyah 1 Banda Aceh

No

Keterampilan Servis

Frekuensi

Persentase

1.

Baik sekali

4,5

2.

Baik

20

30,3

3.

Cukup

23

34,8

4.

Kurang

18

27,3

5.

Kurang sekali

3,0

Jumlah
66
100
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa, keterampilan permainan bola
voly mini pada pada teknik dasar block SMP Muhammadiyah 1 Banda Aceh, yaitu
sebanyak 23 orang (34,8%) berada pada kategori cukup, sebanyak 3 orang (4,5%)
berada pada kategori baik sekali, sebanyak 20 orang (30,3%) berada pada kategori

49
baik, sebanyak 18 orang (27,3%) berada pada kategori kurang, dan sebanyak 2 orang
(3%) berada pada kategori kurang sekali.

4.2.

Pembahasan
Sesuai dengan tujuan dari penelitian ini, yaitu untuk mengetahui untuk

mengetahui keterampilan bermain bola voly mini pada kategori pasing, servis, smash
dan block SMP Muhammadiyah 1 Banda Aceh, maka pembahasan dalam penelitian
ini pun dibatasi sesuai dengan apa yang menjadi tujuan penelitian ini saja.
Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan, diketahui bahwa,
mayoritas keterampilan permainan bola voly mini SMP Muhammadiyah 1 Banda
Aceh berada pada kategori baik, yaitu sebanyak 28 orang (42,4%) siswa, sedangkan
yang paling sedikit berada pada kategori kurang, yaitu sebanyak 8 orang (12,1%)
siswa, dan tidak ada keterampilan siswa yang berada pada kategori kurang sekali.
Pada keterampilan permainan bola voly mini berdasarkan kategori servis
SMP Muhammadiyah 1 Banda Aceh, diketahui berada pada kategori baik, yaitu
sebanyak 27 orang (40,9%) siswa, sedangkan yang paling sedikit berada pada
kategori kurang sekali, yaitu sebanyak 1 orang (1,5%) siswa saja. Selanjutnya pada
pada keterampilan permainan bola voly mini berdasarkan kategori smash pada SMP
Muhammadiyah 1 Banda Aceh, diketahui berada pada kategori cukup, yaitu
sebanyak 22 orang (33,4%) siswa, sedangkan yang paling sedikit berada pada
kategori baik sekali dan kurang sekali, masing - masing yaitu sebanyak 2 orang (3%)
siswa.

50
Sedangkan keterampilan permainan bola voly mini berdasarkan kategori
block SMP Muhammadiyah 1 Banda Aceh, diketahui berada pada kategori cukup,
yaitu sebanyak 23 orang (34,8%) siswa, sedangkan yang paling sedikit berada pada
kategori kurang sekali, yaitu sebanyak 2 orang (3%) siswa.
Dengan demikian, dengan melihat hasil penelitian tersebut, diketahui bahwa
keterampilan permainan bola voly mini SMP Muhammadiyah 1 Banda Aceh sudah
berada pada kategori lebih dari cukup, dan hanya beberapa orang saja yang masih
berada pada kategori kurang.
Menurut A. Sarumpaet dkk., (2002: 86), syarat utama agar dapat bermain
bola voly adalah menguasai teknik dasar bermain bola voly. Berkenaan dengan hal
tersebut Aip Syarifuddin (2002:187) juga mengemukakan bahwa, Teknik dasar
permainan bola voly merupakan permainan untuk melakukan bentuk - bentuk
gerakan yang berhubungan dengan permainan bola voly.
Adapun macam - macam teknik dasar bola voly menurut A. Sarumpaet dkk.
(2002: 87) yaitu: (1) passing atas, (2) passing bawah, (3) set - up (4) bermacam
-macam service, (5) bermacam - macam smash (spike), (5) bermacam - macam block
(bendungan).
Pada

penelitian

ini,

terlihat

bahwa

sebagian

besar

Siswa

SMP

Muhammadiyah 1 Banda Aceh memiliki keterampilan bermain bola voly mini yang
berada pada kategori cukup. Hal ini terlihat pada saat observasi dimana keterampilan
siswa masih pas - pasan. Hanya sedikit sekali siswa yang sudah terampil menguasai
teknik - teknik dasar bermain bola voly, khususnya bola voly mini.

51
Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa secara umum guru - guru
Penjas SMP menggunakan suatu pendekatan pembelajaran bola voly mini yang
dalam konteks kajian ini penulis namakan sebagai pendekatan konvensional atau
pendekatan yang biasa atau lazim dilakukan oleh guru Penjas di SMP..
Terdapat dua hal yang penulis soroti dalam pembelajaran bola voly mini yang
lazim dilakukan dan selanjutnya di sebut sebagai ciri - ciri pendekatan konvensional.
Ciri pertama, guru menggunakan media/ alat belajar (bola, net, lapangan) yang lazim
atau menurut petunjuk peraturan yang ada tanpa berinisiatif mengadakan perubahan
-perubahan atau modifikasi terhadap alat - alat belajar tersebut. Selain itu guru juga
tidak mengadakan modifikasi terhadap peraturan - peraturan permainan yang
berlaku. Jadi guru pendidikan jasmani di sekolah dasar terpaku kepada alat dan
peraturan yang ada dalam permainan bola voly mini yang diketahuinya.
Ciri kedua, penguasaan gerak atau teknik permainan bola voly mini didekati
dengan drill atau pengulangan-pengulangan yang sifatnya monoton, tidak melalui
situasi permainan, sehingga terkesan mengajar seperti melatih. Mereka menganggap
bahwa drill merupakan metode yang biasa dilakukan dalam belajar keterampilan
gerak.
Gagasan pertama dalam pendekatan baru adalah melakukan modifikasi
permainan bola voly mini. Modifikasi permainan dalam olahraga memiliki
karakteristik sebagai berikut: (1) sesuai dengan kemampuan anak (umur, kesegaran
jasmani, status kesehatan, tingkat keterampilan, dan pengalaman sebelumnya); (2)
aman dimainkan; (3) memiliki beberapa aspek alternatif seperti ukuran berat dan
bentuk peralatan, lapangan permainan, waktu bermain atau panjangnya permainan,

52
peraturan, jumlah pemain, rotasi atau posisi pemain; (4) mengembangkan pemain
dengan keterampilan olahraga yang relevan yang dapat dijadikan dasar pembinaan
selanjutnya (Australian Sports Commission, 1996 dalam Suharta, 2007:134-153).
Gagasan kedua dalam pendekatan baru pembelajaran bola voly mini adalah
menciptakan pembelajaran dalam suasana permainan dan kompetisi. Permainan atau
Games adalah suatu aktivitas pertandingan yang bersifat sukarela disertai peraturan
yang disepakati dan memiliki tujuan jelas. Untuk membedakan games dengan
pertandingan lainnya seperti olahraga profesional adalah sbb: (1) games mengandung
unsur bermain; (2) menang atau kalah merupakan kondisi sesaat yang hanya berlaku
pada saat games berlangsung; (3) games dipertandingkan dengan lawan yang sama;
(4) mengandung kerjasama untuk menjalankan peraturan dengan fair play (Morris &
Stiehl, 1989 dalam Suharta, 2007:134-153).
Hasil wawancara singkat yang peneliti lakukan dengan guru penjasorkes SMP
Muhammadiyah 1 Banda Aceh diketahui bahwa, permainan bola voly mini memang
sering dilakukan latihan, dengan berbagai macam modifikasi, dan minat para siswa
juga tinggi dalam mengikuti permainan bola voly mini, sehingga secara langsung
berpengaruh terhadap keterampilan para siswa tersebut.

BAB V
PENUTUP

5.1.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian pada bab sebelumnya, maka peneliti akan

membuat beberapa kesimpulan, yaitu sebagai berikut:


5.1.1

Sebagian besar keterampilan passing dalam permainan bola voly mini SMP
Muhammadiyah 1 Banda Aceh berada pada kategori baik, yaitu sebanyak 28
orang (42,4%) siswa.

5.1.2

Sebagian besar keterampilan servis dalam permainan bola voly mini SMP
Muhammadiyah 1 Banda Aceh berada pada kategori baik, yaitu sebanyak 27
orang (40,9%) siswa.

5.1.3

Sebagian besar keterampilan smash dalam permainan bola voly mini SMP
Muhammadiyah 1 Banda Aceh berada pada kategori cukup, yaitu sebanyak
22 orang (33,4%) siswa.

5.1.4

Sebagian besar keterampilan block dalam permainan bola voly mini SMP
Muhammadiyah 1 Banda Aceh berada pada kategori cukup, yaitu sebanyak
23 orang (34,8%)

5.2.

Saran
Dengan melihat hasil penelitian yang diperoleh SMP Muhammadiyah 1

Banda Aceh, maka peneliti akan mengemukakan beberapa saran sebagai berikut:

53

54
5.2.1

Diharapkan kepada para guru Penjasorkes, agar menggunakan suatu


pendekatan pembelajaran bola voly mini dimodifikasi, jangan hanya terfokus
kepada pendekatan konvensional atau pendekatan biasa dan lazim dilakukan.

5.2.2

Diharapkan juga kepada guru Penjasorkes, agar lebih sering melakukan


pertandingan atau kompetisi agar para peserta didik termotivasi untuk
melakukan latihan, baik itu latihan bersama maupun latihan sendiri - sendiri.

55
DAFTAR PUSTAKA
Ateng, Abdulkadir. 2002. Asas dan Landasan Pendidikan Jasmani. Jakarta: Ditjen
Dikti Depdikbud.
Aip Syarifuddin dan Muhadi, 2002. Pendidikan Jasmani. Jakarta: Depdikbud.
Dirjendikti. Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
Amung Mamum & Toto Subroto. 2001. Pendekatan Keterampilan Taktis Dalam
Permainan Bola voly Konsep & Metode Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas.
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Bekerjasama Dengan
Direktorat jenderal Olahraga.
Dieter Beutelstahl. 2003. Belajar Bermain Bola Volley. Bandung: Pioner Jaya.
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
Dewan & Bidang Perwasitan PP.PBVSI. 2001-2004. Peraturan Permainan Bola
Voly. Jakarta: PBVSI.
Depdiknas, 2001. Pedoman dan Modal Pelatihan Kesehatan Olahraga Bagi
Pelatih Olahragarawan. Jakarta: Pelajar.
Harsono, 1988. Aspek-aspek Psikologi dalam Coaching. Jakarta: CV. Tambak
Kusuma Jakarta.
Hadi, S., 2002. Metodologi Research. Yogyakarga: Universitas Gajah Mada
Lutan, Rusli. 1988. Belajar Keterampilan Motorik: Pengantar Teori dan Metode.
Jakarta: Ditjen Dikti Depdikbud.
M. Yunus. 2002. Bola voly Olahraga Pilihan. Jakarta: Depdikbud Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi.
Mawarti, Sri, 2009. Permainan Bola Voly Mini Untuk Anak Sekolah Dasar, dalam
Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia. Yogyakarta: Universitas Negeri
Yogyakarta.
Moekarto, 2002. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta: Universitas Terbuka
PBVSI, 2005. Jenis-Jenis Permainan Bola Voly. Jakarta: Sekretariat Umum PP.
PBVSI.
Sarumpaet, dkk, 2002. Permainan Bola Besar. Jakarta: Depdikbud. Dirjendikti.
Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.

56
Simanjuntak, 2010. Evaluasi Pendidikan Jasmani. Jakarta. PJJPGSD, DIKTI.
Suharta, A., 2007. Pendekatan Pembelajaran Bola Voly Mini Sebuah Gagasan
Konseptual. Jurnal Iptek Olahraga, VOL.9, No.2, Mei-Agustus 2007
Soedarwo, Sunardi dan Agus Margono. 2000. Teori dan Praktek Bola Voly Dasar.
Surakarta: UNS Press.
Suharno HP. 2001. Metodologi Pelatihan Bola Voly. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.
Tamat, dkk., 2002. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan untuk SD Kelas V.
Semarang: PT. Gelora Aksara Pratama
Wahjoedi, 2001. Landasan Evaluasi Pendidikan Jasmani. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.