Anda di halaman 1dari 8

Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara

vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan


cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta
menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik
yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang
tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan
bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur
jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif
tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.
Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak
tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara
generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa
keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya,
dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu
membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah
besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin,
kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan
konvensional.
Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur
jaringan adalah:
1) Pembuatan media
2) Inisiasi
3) Sterilisasi
4) Multiplikasi
5) Pengakaran
6) Aklimatisasi
Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur
jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis
tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari
garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan
tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon)
yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya,
tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang
sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media
yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan
autoklaf.
Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan
dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur
jaringan adalah tunas.
Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus
dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alatalat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu
menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang
digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.
Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan
menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk
menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan
eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak
dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.

Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya


pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang
dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari
untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat
adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi
akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan
jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).
Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan
aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap,
yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi
bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur
jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar.
Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara
bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara
yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif.
Keunggulan inilah yang menarik bagi produsen bibit untuk mulai
mengembangkan usaha kultur jaringan ini. Saat ini sudah terdapat beberapa
tanaman kehutanan yang dikembangbiakkan dengan teknik kultur jaringan,
antara lain adalah: jati, sengon, akasia, dll.
Bibit hasil kultur jaringan yang ditanam di beberapa areal menunjukkan
pertumbuhan yang baik, bahkan jati hasil kultur jaringan yang sering disebut
dengan jati emas dapat dipanen dalam jangka waktu yang relatif lebih
pendek dibandingkan dengan tanaman jati yang berasal dari benih generatif,
terlepas dari kualitas kayunya yang belum teruji di Indonesia. Hal ini sangat
menguntungkan pengusaha karena akan memperoleh hasil yang lebih cepat.
Selain itu, dengan adanya pertumbuhan tanaman yang lebih cepat maka
lahan-lahan yang kosong dapat c
KEUNTUNGAN PEMANFAATAN
KULTUR JARINGAN
Pengadaan bibit tidak tergantung musim
Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak
dengan waktu yang relatif lebih cepat (dari
satu mata tunas yang sudah respon dalam 1
tahun dapat dihasilkan minimal 10.000
planlet/bibit)
Bibit yang dihasilkan seragam
Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (meng
gunakan organ tertentu)
Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah
dan mudah
Dalam proses pembibitan bebas dari gang
guan hama, penyakit, dan deraan lingkungan
lainnya
KULTUR jaringan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk
membuat bagian tanaman (akar, tunas, jaringan tumbuh tanaman)
tumbuh
menjadi tanaman utuh (sempurna) dikondisi invitro (didalam gelas).
Keuntungan dari kultur jaringan lebih hemat tempat, hemat waktu,
dan
tanaman yang diperbanyak dengan kultur jaringan mempunyai sifat
sama
atau seragam dengan induknya. Contoh tanaman yang sudah lazim
diperbanyak secara kultur jaringan adalah tanaman anggrek.
Kola Lemahkan Tulang
BOSTON Konsumsi senyawa kola yang berlebihan pada tubuh, menurut
penelitian baru-baru ini, membuat tulang manusia, terutama wanita menjadi
makin lemah.
Hasil tersebut ditemukan oleh Dr. Katherine L. Tucker dari Universitas Boston,

yang melakukan studi korelasi kelemahan tulang pada 2500 peminum kola,
yang dilangsir kantor berita AP awal minggu ini.
Pada penelitiannya tersebut, Dr. Katherine menemukan bahwa peminum kola,
memiliki tingkat kekuatan tulang lebih rendah daripada orang yang tidak
meminum kola. Tingkat kekuatan tulang dikenal dengan istilah BMD atau
Bone Mineral Density, yang mempengaruhi berbagai masalah kerapuhan
tulan, paparnya.
Karena kola merupakan salah satu minuman terpopuler yang ada saat ini.
Hasil penelitian ini seharusnya diumumkan secara luas, karena berpengaruh
pada taraf kesehatan kita, urainya, pada artikel yang telah dimuat di bulan
Oktober ini di Jurnal Klinik Nutrisi Amerika.
Penelitian ini juga menunjukan kebanyakan peminum kola perempuan
memiliki tingkat kerapuhan tulan lebih besar. Dalam catatannya, menurut Dr.
Katherine hal ini dimungkinkan karena banyak wanita lebih banyak meminum
susu, namun banyak meminum soda pada kola.
Fenomena ini dijelaskan oleh Dr. Katherine dikarenakan kola mengandung zat
bernama phosporic acid. Zat tersebut menyerap fungsi kalsium yang telah
masuk dalam tubuh sehingga mineral yang ada dalam kalsium, yang
seharusnya dapat membantu proses penguatan tulang menjadi hilang.
Sayangnya baru sekarang ada bukti kuat, yang menyatakan zat
berkarbonasi seperti kola, ternyata sangat berpengaruh pada tulang,
tambah Katherine. Sementara itu, pada kaum lelaki, lebih sedikit efek
perapuhan tulang yang dikarenakan konsumsi kola. (slg)
Teknologi Produksi Bibit Abaka melalui Kultur Jaringan
Dalam Rangka Memenuhi Kebutuhan Pengembangan Skala Luas
Abaka (Musa tekstilis) merupakan
tanaman penghasil serat yang banyak
digunakan dalam industri kertas bermutu
tinggi (kertas rokok, kertas uang, cek,
kertas peta, kertas teh celup, dan kertas
cologne), tali kapal, pembungkus kabel,
tekstil, dan popok bayi. Saat ini tanaman
abaka tengah dipacu pengembangannya
dalam skala luas.
Dalam pengembangan tersebut
diperlukan bibit dalam jumlah yang
banyak dalam waktu yang relatif singkat.
Salah satu teknologi yang dapat diaplikasikan dalam mendukung usaha
tersebut adalah perbanyakan melalui kultur jaringan. Dengan teknologi
tersebut, bibit dapat diproduksi secara cepat dalam jumlah banyak. Dari 1
tunas dapat digandakan menjadi 10-20 tunas dalam waktu sekitar 3 bulan,
sehingga dalam 1 tahun, dari satu tunas dapat diproduksi sekitar 10.000160.000 tunas baru. Tingkat multiplikasi ini jauh lebih tinggi daripada cara
konvensional, yaitu dari 1 tunas (bibit) hanya dapat menghasilkan antara
20-25 anakan baru dalam 1 tahun.
Untuk memproduksi bibit melalui kultur jaringan diperlukan suatu
laboratorium dan rumah kaca untuk aklimatisasi bibit sebelum ditanam di
lapang. Dengan demikian, pada tahap awal diperlukan investasi yang relatif
besar.
Persyaratan Lokasi
Laboratorium kultur jaringan hendaknya jauh dari sumber polusi, dekat
dengan sumber tenaga listrik dan air. Untuk menghemat tenaga listrik, ada
baiknya bila laboratorium kultur jaringan ditempatkan di daerah tinggi, agar
suhu ruangan tetap rendah.
Kapasitas Labotarium
Ukuran laboratorium tergantung pada jumlah bibit yang akan diproduksi.
Untuk ukuran laboratorium sekitar 250 m2, bibit yang dapat diproduksi tiap
tahun sekitar 400500.000 planlet/bibit, yang dapat memenuhi pertanaman
seluas 500800 ha.
Dalam suatu laboratorium minimal terdapat 5 ruangan terpisah, yaitu
gudang (ruang) untuk penyimpanan bahan, ruang pembuatan media, ruang

tanam, ruang inkubasi (untuk pertunasan dan pembentukan planlet/bibit


tanaman) dan rumah kaca.
Peralatan dan Bahan Kimia
Untuk memproduksi bibit melalui kultur jaringan peralatan minimal yang
perlu disediakan adalah: laminar air flow, pinset, pisau, rak kultur, AC, hot
plate + stirrer, pH meter, oven, dan kulkas serta bahan kimia (garam makro
+ mikro, vitamin, zat pengatur tumbuh, asam amino, alkohol, clorox).
Proses Produksi
Proses perbanyakan tanaman melalui
kultur jaringan terdiri atas seleksi
pohon induk (sumber eksplan),
sterilisasi eksplan, inisiasi tunas,
multiplikasi, perakaran, dan
aklimatisasi seperti terlihat pada
diagram.
Sumber eksplan. Eksplan berupa mata
tunas, diambil dari pohon induk yang
fisiknya sehat. Tunas tersebut
selanjutnya disterilkan dengan alkohol
70%, HgCl2 0,2%, dan Clorox 30%.
Inisiasi tunas. Eksplan yang telah
disterilkan di-kulturkan dalam media kultur (MS + BAP). Setelah terbentuk
tunas, tunas tersebut disubkultur dalam media multiplikasi (MS + BAP) dan
beberapa komponen organik lainnya.
Multiplikasi. Multiplikasi dilakukan secara berulang sampai diperoleh jumlah
tanaman yang dikehendaki, sesuai dengan kapasitas laborato-rium. Setiap
siklus multiplikasi berlangsung selama 23 bulan. Untuk biakan (tunas) yang
telah responsif stater cultur, dalam periode tersebut dari 1 tunas dapat
dihasilkan 10-20 tunas baru. Setelah tunas mencapai jumlah yang
diinginkan, biakan dipindahkan (dikulturkan) pada media perakaran.
Perakaran. Untuk perakaran digunakan media MS + NAA. Proses perakaran
pada umumnya berlangsung selama 1 bulan. Planlet (tunas yang telah
berakar) diaklimatisasikan sampai bibit cukup kuat untuk ditanam di lapang.
Aklimatisasi. Dapat dilakukan di rumah kaca, rumah kasa atau pesemaian,
yang kondisinya (terutama kelembaban) dapat dikendalikan. Planlet dapat
ditanam dalam dua cara. Pertama, planlet ditanam dalam polibag diameter
10 cm yang berisi media (tanah + pupuk kandang) yang telah disterilkan.
Planlet (dalam polibag) dipelihara di rumah kaca atau rumah kasa. Kedua,
bibit ditaruh di atas bedengan yang dinaungi dengan plastik. Lebar
pesemaian 1-1,2 m, panjangnya tergantung keadaan tempat. Dua sampai
tiga minggu sebelum tanam, bedengan dipupuk dengan pupuk kandang (4
kg/m2) dan disterilkan dengan formalin 4%. Planlet ditanam dengan jarak
20 cm x 20 cm. Aklimatisasi berlangsung selama 2-3 bulan. Aklimatisasi
cara pertama dapat dilakukan bila lokasi pertanaman letaknya jauh dari
pesemaian dan cara kedua dilakukan bila pesemaian berada di sekitar areal
pertanaman.
Keuntungan Pemanfaatan
Kultur Jaringan
Pengadaan bibit tidak
tergantung musim
Bibit dapat diproduksi dalam
jumlah banyak dengan waktu
yang relatif lebih cepat (dari satu
mata tunas yang sudah respon
dalam 1 tahun dapat dihasilkan
minimal 10.000 planlet/bibit)
Bibit yang dihasilkan seragam
Bibit yang dihasilkan bebas
penyakit (menggunakan organ
tertentu)
Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah
Dalam proses pembibitan bebas dari gangguan hama, penyakit, dan
deraan lingkungan lainnya

Sifat TOTIPOTENSIAL tanaman, dapat diterapkan untuk kultur jaringan. Kultur


jaringan (sel) adalah mengkultur/membiakkan jaringan (sel) untuk
memperoleh individu baru.
Penemu F.C. Steward menggunakan jaringan floem akar wortel.
Gambar 1
Skema teknik kultur jaringan sederhana yang dilakukan oleh Steward
terhadap tanaman wortel (Daucus carota)
MANFAAT / KEUNTUNGAN KULTUR JARINGAN
1.
2.
3.
4.

Bibit (hasil) yang didapat berjumlah banyak dan dalam waktu yau~g
singkat
Sifat identik dengan induk
Dapat diperoleh sifat-sifat yang dikehendaki
Metabolit sekunder tanaman segera didapat tanpa perlu menunggu
tanaman dewasa

T O M AT D A N P I S A N G , M E D I A K U LT U R J A R I N G A N
Dikirim oleh admin pada Saturday, 12 November 2005
Sumber
:
sid=20427
Message 910

http://www.kedaulatan-rakyat.com/article.php?
dari

Milis

Aglaonema

by

Sulastama

Raharja

KULTUR jaringan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk


membuat bagian tanaman (akar, tunas, jaringan tumbuh tanaman)
tumbuh
menjadi tanaman utuh (sempurna) dikondisi invitro (didalam gelas).
Keuntungan dari kultur jaringan lebih hemat tempat, hemat waktu,
dan
tanaman yang diperbanyak dengan kultur jaringan mempunyai sifat
sama
atau seragam dengan induknya. Contoh tanaman yang sudah lazim
diperbanyak secara kultur jaringan adalah tanaman anggrek.
Menurut Mulyadi, Kepala Lab Kultur Jaringan Fakultas Pertanian UGM
ada
berbagai jenis media yang digunakan untuk perbanyakan anggrek.
Seperti
Media tomat, pisang, touge, kentang dan media MS (Murashige and
Skoog). Media ini berguna untuk tempat tumbuh dan menyediakan
unsur
hara, mineral, asam amino, zat pengatur tumbuh yang dibutuhkan
bahan
tanam (biji, akar, jaringan tumbuh tanaman) untuk tumbuh. Bahan
tanam
yang digunakan untuk perbanyakan anggrek adalah biji anggrek.
"Keuntungan menggunakan tomat dan pisang untuk media adalah
harganya
murah, dan didalam tomat dan pisang terkandung zat kimia yang
komplit,
yang dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh", tutur Kusman
koordiantor
lab kultur jaringan fakultas Pertanian UGM.

Langkah-langkah pembuatan media agar-agar dari tomat dan pisang


menurut Dessy, salah satu asisten di lab itu: pertama-tama tomat
atau
pisang sebanyak 150 gram atau 2 buah (untuk 1 liter agar) di
blender.
Pada proses memblender ditambah air murni (aquades) atau air
kelapa
sebanyak 150-200 gram. Hasil blender kemudian disaring untuk
diambil
sarinya. Cara lain bila tidak punya blender, tomat dipotong-potong
kemudian potongan itu direbus dan air rebusan itu disaring.
Air saringan (sari tomat atau pisang) ditambah zat pengatur tumbuh
(ZPT) seperti growmore, Hyponex, gandasil sebanyak 2 ml. fungsi
ZPT
untuk merangsang pertumbuhan bahan tanaman. Kemudian diaduk
dan
ditambah gula pasir sebanyak 30 gr yang berfungsi sebagai energi
bagi
bahan tanam. Diaduk sampai halus dan ditambah air murni
(aquades)
sampai volume 1 lt. Di campur agar-agar yang ada dipasaran seperti
Swallow Globe yang berwarna putih sebanyak 8-12 gr.
Dipanasi sampai mendidih kemudian dituang ke botol saus atau
botol
selai. Bila menggunakan botol selai posisi botol tetap tegak, tapi
bila botol saus atau botol air mineral posisinya tidur. Menurut Dessy
media pisang berwarna coklat tua sedangkan tomat merah bening
atau
kuning.
Kemudian ditutup dan dilakukan sterilisasi, dengan alat sterilisasi
(autoklaf ) bila tidak ada bisa menggunakan dandang atau soblok.
Tunggu sampai air di dandang mendidih, botol dimasukkan selama
20
menit. Setelah itu botol dikeluarkan kemudian didinginkan dan
media
siap ditanami bahan tanam. Untuk mengetahui ada kontaminasi
baktei
atau jamur tidak agar-agar didiamkan selama 3-5 hari. 1 lt media
yang
dibuat bisa menjadi 33-40 botol media, yang berisi 25-30 ml. Waktu
yang diperlukan sampai anggrek siap tanam 6 bulan.
Kusman menambahkan selain kultur jaringan berbagai jenis anggrek
seperti angrek Phaleonopsis (bulan), Dendrobium, Gramatophylum
(anggrek macan), Vanda (anggrek tanah) dan Paiopedillum (anggrek
Kantung). Lab kultur pernah digunakan untuk penelitian kultur
jaringan
tembakau, pisang, tebu, kentang, wortel, bawang merah dan
bawang
putih, Aglaonema (Sri rejeki), serta beberapa jenis tanaman hias
daun.

Sekilas kultur jaringan anggrek


Perkembangan kultur jaringan di Indonesia terasa sangat lambat, bahkan hampir
dikatakan jalan di tempat jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya, tidaklah heran
jika impor bibit anggrek dalam bentuk flask sempat membanjiri nursery-nursery
anggrek di negara kita. Selain kesenjangan teknologi di lini akademisi, lembaga
penelitian, publik dan pecinta anggrek, salah satu penyebab teknologi ini menjadi sangat

lambat perkembangannya adalah karena adanya persepsi bahwa diperlukan investasi


yang sangat mahal untuk membangun sebuah lab kultur jaringan, dan hanya cocok atau
feasible untuk perusahaan.
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, salah satunya adalah
anggrek, diperkirakan sekitar 5000 jenis anggrek spesies tersebar di hutan wilayah
Indonesia. Potensi ini sangat berharga bagi pengembang dan pecinta anggrek di
Indonesia, khususnya potensi genetis untuk menghasilkan anggrek silangan yang
memiliki nilai komersial tinggi. Potensi tersebut akan menjadi tidak berarti manakala
penebangan hutan dan eksploitasi besar-besaran terjadi hutan kita, belum lagi pencurian
terang-terangan ataupun terselubung dengan dalih kerjasama dan sumbangan penelitian
baik oleh masyarakat kita maupun orang asing.
Sementara itu hanya sebagian kecil pihak yang mampu melakukan pengembangan dan
pemanfaatan anggrek spesies, khususnya yang berkaitan dengan teknologi kultur
jaringan. Tidak dipungkiri bahwa metode terbaik hingga saat ini dalam pelestarian dan
perbanyakan anggrek adalah dengan kultur jaringan, karena melalui kuljar banyak hal
yang bisa dilakukan dibandingkan dengan metode konvensional.
Secara prinsip, lab kultur jaringan dapat disederhanakan dengan melakukan modifikasi
peralatan dan bahan yang digunakan, sehingga sangat dimungkinkan kultur jaringan
seperti home industri. Hal ini dapat dilihat pada kelompok petani pengkultur biji
anggrek di Malang yang telah sedemikian banyak.
Beberapa gambaran dan potensi yang bisa dimunculkan dalam kultur jaringan
diantaranya adalah :

Kultur meristem, dapat menghasilkan anggrek yang bebas virus,sehingga sangat


tepat digunakan pada tanaman anggrek spesies langka yang telah terinfeksi oleh
hama penyakit, termasuk virus.
Kultur anther, bisa menghasilkan anggrek dengan genetik haploid (1n), sehingga
bentuknya lebih kecil jika dibandingkan dengan anggrek diploid (2n). Dengan
demikian sangat dimungkinkan untuk menghasilkan tanaman anggrek mini, selain
itu dengan kultur anther berpeluang memunculkan sifat resesif unggul yang pada
kondisi normal tidak akan muncul karena tertutup oleh yang dominan
Dengan tekhnik poliploid dimungkinkan untuk mendapatkan tanaman anggrek
giant atau besar. Tekhnik ini salah satunya dengan memberikan induksi bahan
kimia yang bersifat menghambat (cholchicine)
Kloning, tekhnik ini memungkinkan untuk dihasilkan anggrek dengan jumlah
banyak dan seragam, khususnya untuk jenis anggrek bunga potong. Sebagian
penganggrek telah mampu melakukan tekhnik ini.
Mutasi, secara alami mutasi sangat sulit terjadi. Beberapa literatur peluangnya 1 :
100 000 000. Dengan memberikan induksi tertentu melalui kultur jaringan hal
tersebut lebih mudah untuk diatur. Tanaman yang mengalami mutasi permanen
biasanya memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi
Bank plasma, dengan meminimalkan pertumbuhan secara in-vitro kita bisa
mengoleksi tanaman anggrek langka tanpa harus memiliki lahan yang luas dan
perawatan intensif. Baik untuk spesies langka Indonesia maupun dari luar negeri
untuk menjaga keaslian genetis yang sangat penting dalam proses pemuliaan
anggrek.

Proceeding dari JBPTITBBI / 2007-03-02 10:01:19

Seminar Nasional Biologi XVI, Perhimpunan Biologi Indonesia, Bandung,


25-27 Juli 2000:

Identifikasi dan Produksi Verbaskosida dalam Kultur Jaringan


Tectona grandis

Oleh: Erly Marwani*, Shin-ichiro Kajiyama**, Akio Kobayashi**


Email: erly@sith.itb.ac.id
Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) - ITB
Dibuat: 2000 , dengan 1 file(s).

Keywords: verbaskosida, Tectona grandis, anti tumor


Sebagai bagian dari interes kami dalam mempelajari bahan alam dari kultur jaringan
tanaman tropis, telah diisolasi, dan diidentifikasi senyawa verbaskosida (senyawa
antitumor) dari kultur kalus T. grandis. Verbaskosida diisolasi dari fraksi butanol yang
dikromatografi berurutan dalam kolom berisi Sephadex LH-20 yang dielusi secara
isokratis oleh H20-MeOH (1:1) dan HPLC dengan kolom ODS yang dielusi dengan
H2O-MeOH (3:2). Identifikasi struktur dilakukan berdasarkan spektrum UV, MS, IR,
1H NMR, dan 13C NMR yang dibandingkan dengan spektra tadi dari literatur.
Kandungan verbaskosida dalam berbagai bagian tanaman dan dalam kultur jaringan
T. grandis dianalisis dengan HPLC menggunakan detektor UV 335 nm. Kandungan
verbaskosida tertinggi ditemukan dalam ekstrak daun, diikuti dengan ekstrak kalus
dan ekstrak sel. Kandungan verbaskosida terendah ditemukan pada batang dan kulit
batang. Pola produksi verbaskosida dalam kultur suspensi sel T. grandis terlihat
mengikuti pola pertumbuhan sel dan mencapai maksimum pada hari ke-14, setelah
itu menurun dengan tajam.