Anda di halaman 1dari 12

Pengaruh Media ..

Baja Karbon Rendah

Sukamto

PENGARUH MEDIA PENDINGIN TERHADAP


HASIL PENGELASAN TIG
PADA BAJA KARBON RENDAH
Sukamto
Dosen Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Janabadra

INTISARI
Las TIG adalah salah satu pengelasan busur listrik berpelindung gas mulia dimana
elektroda tidak diumpankan, dapat menjangkau pada proses pengelasan yang luas dan
mempunyai kemampuan yang tinggi untuk menyatukan logam serta dapat pula mengelas pada
segala posisi pengelasan dengan kepadatan yang tinggi , daya busurnya tidak tergantung pada
bahan tambah yang diperlukan.
Pelaksanaan pengelasan dilakukan masing-masing 3 spesimen dengan pendinginan air laut, 3
spesimen untuk pendinginan air biasa dan 3 spesimen untuk pendinginan udara. masingmasing 1 specimen untuk pengujian tarik, pengujian kekerasan dan pengujian metalografi,
dimana benda uji hasil pengelasan didinginkan menggunakan media pendingin air laut, air
biasa dan udara bebas.
Dari hasil pengujian tarik diketahui bahwa pada logam induk sebelum pengelasan mempunyai
tegangan tarik sebesar 34,63 kg/mm. Pada benda uji setelah pengelasan menggunakan proses
pendinginan air mempunyai tegangan tarik sebesar 20,25 kg/mm, dengan pendinginan udara
mempunyai tegangan tarik 22,75 kg/mm dan dengan pendinginan air laut mempunyai
tegangan tarik 27,07 kg/mm. Kekerasan dengan pendinginan air laut mempunyai nilai lebih
tinggi dibanding dengan pendinginan air dan udara.Pada uji metalografi benda uji dengan
pendinginan air mempunyai struktur butir 35,2 mm/mm, benda uji dengan pendinginan udara
mempunyai struktur butir 32 mm/mm, benda uji dengan pendinginan air laut mempunyai
struktur butir 48 mm/mm.
Kata kunci: Pengelasan, Tungsten Inert Gas, media pendingin, baja karbon
rendah

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Las TIG (Las Tungsten Inert Gas) adalah salah satu pengelasan busur
listrik berpelindung gas mulia dimana elektroda tidak diumpankan. Las TIG
dapat menjangkau pada proses pengelasan yang luas dan mempunyai
kemampuan yang tinggi untuk menyatukan logam serta dapat pula mengelas
pada segala posisi pengelasan dengan kepadatan yang tinggi , daya
busurnya tidak tergantung pada bahan tambah yang diperlukan, sehingga las
TIG dimungkinkan dipakai untuk mengelas berbagai jenis logam.
Salah satu cara untuk memperbaiki sifat fisis dan mekanis suatu bahan
ialah melalui perlakuan panas (Heat Treatment). Dalam penelitian ini
perlakuan panas yang digunakan ialah dengan proses pendinginan air laut, air
biasa dan pendinginan udara bebas dimana baja setelah proses pengelasan
baja karbon rendah yang langsung didinginkan.

ISSN 1441 - 1152

126

JANATEKNIKA VOL. 11 NO. 2/ JULI 2009

B. Perumusan Masalah
Bagaimanakah pengaruh media pendingin air laut, air biasa dan udara
bebas terhadap hasil pengelasan TIG pada baja karbon rendah.

C. Batasan Masalah
1. Penelitian ini dilakukan pada baja setelah proses pengelasan TIG yang
langsung didinginkan.
2. Bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah baja karbon
rendah dengan ketebalan 5 mm.
3. Kampuh V
4. Proses pendinginannya menggunakan media air laut Parangtritis, air
ledeng dan udara bebas.
.

II. LANDASAN TEORI


Pada umumnya baja karbon dapat dilas dengan proses pengelasan
baik busur listrik, las gas, las tahanan listrik, atau jenis pengelasan lainnya
(Sonawan, H. dan Suratman, R., 2003).
Faktor-faktor yang mempengaruhi mampu las dari baja karbon rendah adalah
kekuatan bahan terhadap jenis pengelasan yang digunakan dan kepekaan
terhadap retak las. Baja karbon rendah mempunyai kepekaan retak las yang
rendah bila dibandingkan dengan baja karbon lainnya. Retak las juga dapat
terjadi dengan mudah pada pengelasan pelat yang tebal, akan tetapi retak las
ini dapat dihindari dengan pemanasan mula.
Tungsten Inert Gas Welding (Las TIG)
Tungsten Inert Gas Welding adalah jenis las listrik yang menggunakan
bahan tungsten (wolfram) sebagai elektroda yang tidak terkonsumsi.
Elektroda ini digunakan hanya untuk menghasilkan busur nyala listrik. Pada
jenis ini logam pengisi dimasukkan ke dalam daerah arus busur sehingga ikut
mencair dan terbawa ke logam induk. Tetapi untuk mengelas pelat yang
sangat tipis kadang-kadang tidak diperlukan logam pengisi. Bahan penambah
berupa batang las (rod), yang dicairkan oleh busur nyala tersebut mengisi
kampuh bahan induk. Di dalam pengelasan TIG terdapat 4 komponen dasar,
yaitu :
1. Obor (torch)
2. Elektroda tak terkonsumsi (Tungsten)
3. Sumber arus las
4. Gas pelindung

III.

METODOLOGI PENELITIAN
A. Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pelat baja karbon
rendah (logam induk), dengan ketebalan 5mm. Pelaksanaan pengelasan
dilakukan masing-masing 3 spesimen dengan pendinginan air laut, 3
spesimen untuk pendinginan air biasa dan 3 spesimen untuk pendinginan
ISSN 1441 - 1152

127

Pengaruh Media .. Baja Karbon Rendah

Sukamto

udara. masing-masing 1 specimen untuk pengujian tarik, pengujian kekerasan


dan pengujian metalografi, dimana benda uji hasil pengelasan didinginkan
menggunakan media pendingin air laut, air biasa dan udara bebas.

B. Uji Komposisi

Hasil Penembakkan

Gambar 3.1. Hasil pengujian komposisi


(Sumber : PT. ITOKOH CEPERINDO, staniless steel & alloy steel casting)

Setelah dilakukan uji komposisi maka didapatkan hasil kandungan


dengan kadar karbon 0,07%. Sehingga dapat dikatakan baja yang digunakkan
termasuk golongan baja karbon rendah.

C. Peralatan Las
Mesin las yang digunakan pada penelitian ini adalah mesin las TIG
dengan type HANDY-TIG 210 DC, dengan arus yang digunakan 150 Ampere.

D. Prosedur Pengelasan
Pengelasan benda uji dengan tipe eleltroda Wolfram Thorium dan
menggunakan mesin las TIG tipe HANDY-TIG 210 DC Made In Germany
.Arus yang digunakan 150 Ampere kemudian dilakukan penyambungan
dengan pengelasan pada plat baja karbon rendah. Arus yang digunakan pada
saat pengelasan 150A, kemudian dilakukan penyambungan dengan
pengelasan pada baja karbon rendah dengan media pendingin yang berbeda.

IV.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Pengujian Tarik

Tabel 4.1. Hasil uji komposisi logam induk sebelum pengelasan


Benda
Uji

T
(mm)

L
(mm)

P
( kg )

Lo
(mm)

lp
(mm)

L
(mm)

20

3471

50

82

32

20

3384

50

80,2

30,2

20

3535

50

80,45

30,45

ISSN 1441 - 1152

128

JANATEKNIKA VOL. 11 NO. 2/ JULI 2009

Tabel 4.2. Hasil pengujian tarik pada media pendingin


air, udara, air laut
Benda
Uji

T
(mm)

L
(mm)

P
( kg )

Lo
(mm)

lp
(mm)

L
(mm)

20

1884

50

50,8

0,8

Pendinginan

20

1724

50

51,95

1,95

Air

20

2467

50

51,13

1,13

20

2184

50

53,63

3,36

Pendinginan

20

2271

50

51,26

1,26

Udara

20

2370

50

51,28

1,28

20

3042

50

56,5

6,5

Pendinginan

20

3186

50

55

Air laut

20

2467

50

52,7

2,7

Las
TIG

No

Setelah mengetahui hasil pengujian tarik pada pelat baja karbon


rendah pengelasan TIG dengan pendinginan air,udara
dan air laut dapatlah
L
ditentukan : Kekuatan tarik ( ) dan Regangan ( ) dengan rumus :
Tegangan tarik maksimal
Regangan

F
A
L
=
x100%
Lo

mak

Tabel 4.3. Hasil uji tarik logam induk sebelum


pengelasan
Kekuatan tarik

Regangan

() kg/mm2

() %

34,71

64

33,84

60,4

35,35

60,9

Rata rata ( r )

34,63

61,76

Benda uji

Tabel 4.4. Hasil uji tarik benda uji pengelasan TIG


pada pendinginan air.
Benda uji

Kekuatan tarik
() kg/mm2

Regangan
() %

18,84

7,6

17,24

3,9

24,67

2,26

Rata rata ( r )

20,25

4.58

ISSN 1441 - 1152

129

Pengaruh Media .. Baja Karbon Rendah

Sukamto

Tabel 4.5. Hasil uji tarik benda uji pengelasan TIG


pada udara

Kekuatan tarik
() kg/mm2
21,84

Regangan
() %
7,26

22,71

2,52

23,70

2,56

Rata rata ( r )

22,75

Benda uji

Tabel 4.6. Hasil uji tarik benda uji pengelasan TIG


pada pendinginan air laut
Kekuatan tarik
Regangan
Benda uji
() kg/mm2
() %
1
30,42
13
2

31,86

10

18,94

5,4

Rata rata ( r )

27,07

9,46

40
20
0

Benda Uji Benda Uji Benda Uji


Rata-rata
1
2
3

Logam Induk

34,71

33,84

35,35

34,63

Air

18,84

17,24

24,67

20,25

Udara

21,84

22,71

23,7

22,75

Air Laut

30,42

31,86

18,94

27,07

Gambar 4.1. Diagram tegangan tarik maksimal ( t )

Analisis Hasil Pengujian Tarik

Dari hasil pengujian tarik diketahui bahwa pada logam induk


sebelum pengelasan mempunyai tegangan tarik sebesar 34,63 kg/mm.
Pada benda uji setelah pengelasan menggunakan proses pendinginan
air mempunyai tegangan tarik sebesar 20,25 kg/mm. pada benda uji
setelah proses pengelasan dengan pendinginan udara biasa
mempunyai tegangan tarik 22,75 kg/mm sedangkan pada benda uji
setelah proses pengelasan dengan pendinginan air laut mempunyai
tegangan tarik 27,07 kg/mm.
Dari hasil pengujian tarik diperoleh bahwa kekuatan tarik dengan
proses pendinginan air biasa mempunyai nilai tegangan tarik lebih kecil
dibandingkan dengan proses pendinginan air laut dan proses
pendinginan udara karena pada sebagian spesimen proses pengujian
ISSN 1441 - 1152

130

JANATEKNIKA VOL. 11 NO. 2/ JULI 2009

putus pada daerah lasan, sebagai hasil akhir dapat bahwa tegangan
tarik dengan pendinginan air laut lebih besar daripada pendinginan air
biasa dan pendinginan udara.
B. Pengujian Kekerasan
Untuk mengetahui dan mendapatkan harga kekerasan las TIG pada
media pendingin air laut, air dan udara maka diambil 15 titik untuk masing
masing specimen. Hasil dari pengujian kekerasan adalah berupa nilai
kekerasan dari benda uji, pengujian dilakukan dengan uji kekerasan Rockwell
dengan beban 60 kg.
Tabel 4.7. Hasil Pengujian Kekerasan
No

Keterangan

Benda

uji

Baja

karbon

rendah
1

Kerucut Intan 120

Penetrator
yang
digunakan
Beban yang digunakan

Jenis skala Rockwell

Rockwell A

Nilai
Kekerasan
Titik 1

60 Kg

Logam
Induk
39,5

Pendinginan
Air Laut
41

Pendinginan
Air
42,5

Pendinginan
Udara
44

Titik 2

42

34,5

43,5

44

Titik 3

43,5

42

44

43

Titik 4

42,5

43

44,5

42,5

Titik 5

42

42,5

44

44,5

Titik 6

35

40

35,5

44,5

Titik 7

40,5

45,5

39

49

Titik 8

41,5

56

40,5

44

Titik 9

42

32

45

35,5

Titik 10

43

44,5

45

38,5

Titik 11

41,5

43

42

43

Titik 12

40,5

41,5

41,5

40,5

Titik 13

41

44,5

40,5

38

Titik 14

39,5

44,5

40,5

38,5

Titik 15

38,5

43,5

39

38,5

ISSN 1441 - 1152

131

Pengaruh Media .. Baja Karbon Rendah

Sukamto

DIAGRAM NILAI RATA-RATA PENGUJIAN


KEKERASAN

44
43
42
Nilai Rata- 41
Rata (HRA) 40
39
38
37

Logam
Induk

HAZ

LAS

Ratarata

Logam Induk

40,8

Pendinginan Air

43,7

40,7

41

41,8

Pendinginan Udara

43,6

39,7

42,3

41,86

Pendinginan Air Laut

40,6

43,4

42,6

42,2

Gambar 4.2. Diagram Nilai RataRata Pengujian Kekerasan

Analisis Hasil Pengujian Kekerasan


Setelah melakukan pengujian kekerasan pada daerah logam induk,
daerah lasan dan daerah HAZ dengan pendinginan Air, Udara, dan Air Laut
diambil rata-rata dari ketiga daerah tersebut, nilai rata-rata kekerasan pada
logam dengan pendinginan air mempunyai nilai kekerasan 41,8 HR A.
sedangkan untuk nilai rata-rata kekerasan pada logam dengan pendinginan
udara mempunyai nilai kekerasan 41,86 HR A , dan nilai rata-rata kekerasan
pada logam dengan pendinginan air laut mempunyai nilai kekerasan 42,2
HRA, Hal ini menunjukan bahwa kekerasan las TIG pada pendinginan air laut
lebih besar dibandingkan dengan menggunakan pendinginan air biasa dan
udara.

C. Pengujian Metalografi
Hasil pemotretan struktur mikro pada daerah logam induk sebelum
pengelasan.

PERLIT

FERIT

Gambar 4.3. Foto struktur mikro logam induk plat baja karbon
rendah sebelum pengelasan dengan pembesaran 200x

ISSN 1441 - 1152

132

JANATEKNIKA VOL. 11 NO. 2/ JULI 2009

Hasil pemotretan struktur mikro daerah las pada logam.

PERLIT

FERIT

Gambar 4.4. Foto struktur mikro daerah las pendinginan air laut
pembesar 200x

FERIT
PERLIT

Gambar 4.5. Foto struktur mikro daerah las pendinginan air biasa
pembesar 200x

PERLIT

FERIT

Gambar 4.6. Foto struktur mikro daerah las pendinginan udara


pembesar 200x

ISSN 1441 - 1152

133

Pengaruh Media .. Baja Karbon Rendah

Sukamto

Hasil pemotretan struktur mikro daerah HAZ pada logam

FERIT

PERLIT

Gambar 4.7. Foto struktur mikro daerah HAZ pendinginan air laut
pembesar 200x

FERIT
PERLIT

Gambar 4.8. Foto struktur mikro daerah HAZ pendinginan air biasa
pembesar 200x

PERLIT
FERIT

Gambar 4.9. Foto struktur mikro daerah HAZ pendinginan udara


pembesar 200x

ISSN 1441 - 1152

134

JANATEKNIKA VOL. 11 NO. 2/ JULI 2009

Hasil pemotretan struktur mikro daerah logam induk pada logam

FERIT

PERLIT
Gambar 4.10. Foto struktur mikro daerah logam induk pendinginan air laut
pembesar 200x

FERIT
PERLIT

Gambar 4.11. Foto struktur mikro daerah logam induk pendinginan air biasa
pembesar 200x

FERIT

PERLIT
Gambar 4.12. Foto struktur mikro daerah logam induk pendinginan udara
pembesar 200x

Analisis Pengujian Metalografi


Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesimen yang dipakai
percobaan pada pengelasan TIG dengan menggunakan arus yang sama dan
setelah pengelasan digunakan media pendingin yang berbeda akan
menghasilkan struktur mikro yang berbeda pula, Pada logam induk sebelum
ISSN 1441 - 1152

135

Pengaruh Media .. Baja Karbon Rendah

Sukamto

pengelasan memiliki struktur mikro berupa ferit ( daerah terang ) dan perlit (
daerah gelap ). pada daerah HAZ dengan pendingin air memiliki batas butir
56,04 mm/mm. pada daerah HAZ dengan pendingin udara memiliki batas
butir 35,66 mm/mm dan pada daerah HAZ dengan pendingin air laut
memiliki batas butir 76,4 mm/mm.
Setelah mengetahui jumlah batas butir dari ketiga media pendinginan
yang digunakan pada pengelasan TIG dimana struktur butir dengan media
pendingin air laut mempunyai struktur butir yang lebih rapat dibandingkan
struktur butir dengan media pendingin air dan udara, maka pada pengelasan
TIG dengan media pendingin air laut mempunyai sifat keras dan getas karena
dipengaruhi oleh pendinginan yang cepat sehingga tidak sempat terjadi
pertumbuhan butiran. Untuk pendinginan udara laju pendinginannya paling
lambat dari pendinginan air laut dan air, sehingga pada pengelasan TIG
dengan media pendingin udara mempunyai sifat yang lunak dari pendinginan
air laut dan air.

V. KESIMPULAN
1. Dari hasil pengujian tarik diketahui bahwa pada logam induk sebelum
pengelasan mempunyai tegangan tarik sebesar 34,63 kg/mm. Pada
benda uji setelah pengelasan menggunakan proses pendinginan air
mempunyai tegangan tarik sebesar 20,25 kg/mm, regangan 4,58%. pada
benda uji dengan pendinginan udara mempunyai tegangan tarik 22,75
kg/mm, regangan 5%. pada benda uji dengan pendinginan air laut
mempunyai tegangan tarik 27,07 kg/mm, regangan 9,46%.
2. Dari nilai hasil pengujian kekerasan, dapatlah diketahui bahwa kekerasan
dengan pendinginan air laut mempunyai nilai kekerasan lebih tinggi
dibanding dengan pendinginan air dan udara ,
3. Dari pengamatan metalografi, maka dapat dianalisis dengan melihat dan
membandingkan hasil foto pengujian benda uji yang berbeda media
pendingin yaitu : benda uji dengan pendinginan air mempunyai struktur
butir 35,2 mm/mm, benda uji dengan pendinginan udara mempunyai
struktur butir 32 mm/mm, benda uji dengan pendinginan air laut
mempunyai struktur butir 48 mm/mm.

DAFTAR PUSTAKA
A Brandt Daniel., 1985, Metallurgy Fundamental,The Goodheart-Willcox
Company, Inc. South Holland, Illinois
Adnyana, D.N., 1993, Metalurgi Las. Jakarta.
Adnyana, D.N., 1989, Logam dan Paduan
Avner, Sidney H., 1974, Introduction to Physical Metallurgy, Second Edition,
Mc-Graw-Hill Book Company.
Althouse, turnquist, Bowditch, Bowditch.,1984, Modern Welding, The
Goodheart-Willcox Company,Inc.South Holland, Illinois
Amanto Hari, daryanto., 1999, Ilmu Bahan, Bumi Aksara, Jakarta
E. smallman R, R,J.Bishop., 2000, Metalurgi Fisik Modern & Rekayasa
Material, Erlangga, Jakarta
Gatot Bintoro A., 1999, Dasar-dasar Pekerjaan Las, Kanisius, Yogyakarta

ISSN 1441 - 1152

136

JANATEKNIKA VOL. 11 NO. 2/ JULI 2009

H. Van Vlack, Sriati Djaprie., 1991, Ilmu dan Teknologi Bahan, Erlangga,
Jakarta
Schlenker., 1974, Introduction to Material Science, John Wiley & Sons
Australasia Pty Ltd.
Sonawan Hery, Rochim Suratman., 2003, Pengelasan Logam, Alphabeta,
Bandung
Widharto Sri., 2006, Petunjuk Kerja Las, Cetakan keenam, Penebar Swadaya,
Jakarta
W. Kenyon., 1985. Dasar-Dasar Pengelasan. Erlangga, Jakarta.

ISSN 1441 - 1152

137