Anda di halaman 1dari 15

Case Science Session

PAROTITIS PADA ANAK

Oleh:
Neila Azka

1010312119

Fajar Defian Putra

1110312031

Preseptor:
dr. Effy Huriyati, Sp.THT-KL

BAGIAN ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN


BEDAH KEPALA DAN LEHER
RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2015
1

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa
karena atas rahmat dan karunia-Nya sehingga pembuatan karya tulis berupa Case
Science Session yang berjudul Parotitis Pada Anak dapat tersusun dan terselesaikan
tepat pada waktunya.
Terima kasih penulis ucapkan kepada dr. Effy Huriyati, Sp.THT-KL selaku
pembimbing penulisan yang telah memberikan arahan dalam penyelesaian Case
Science Session ini.
Adapun pembuatan tulisan ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas yang
diberikan selama masa kepaniteraan klinik penulis di bagian THT RSUP Dr. M.
Djamil Padang, juga untuk mendiskusikan referat Parotitis Pada Anak, sehingga
diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan mendukung penerapan klinis yang
lebih baik dalam memberikan kontribusi positif sistem pelayanan kesehatan secara
optimal.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan yang telah disusun ini masih
banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diharapkan.
Akhir kata, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya.

Padang, 10 Agustus 2015

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Batasan Penulisan
Penulisan referat ini akan membahas mengenai anatomi dan fisiologi kelenjar
parotis serta epidemiologi, etiologi, faktor resiko, patogenesis, manifestasi klinis,
diagnosis, tatalaksana dan komplikasi parotitis pada anak.
1.3 Tujuan Penulisan
Referat ini bertujuan untuk mengetahui penegakan diagnosis parotitis pada
anak dan bagaimana tatalaksana yang dapat diberikan.
1.4 Metode Penulisan
Penulisan referat ini menggunakan metode tinjauan kepustakaan yang
merujuk pada berbagai sumber literatur dan jurnal ilmiah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1
2
3
4
5
6

Anatomi Kelenjar Parotis


Fisiologi Kelenjar Parotis
Definisi
Epidemiologi
Etiologi dan Faktor Predisposisi
Patogenesis
Virus parotitis masuk kedalam tubuh lalu mulai membelah dalam sel
saluran pernapasan, virus dibawa darah ke banyak jaringan, diantaranya ke
kelenjar ludah dan kelenjar lain yang paling rentan.3
Setelah virus masuk ke dalam sistem pernapasan, virus akan
bereplikasi secara lokal. Diseminasi viremik kemudian terjadi pada jaringan
target seperti kelenjar parotis. Sel nekrosis dan peradangan dengan infiltrasi
sel mononuklear adalah respon jaringan. Kelenjar ludah edema dan terjadi

deskuamasi sel epitel yang melapisi sel nekrotik.10


Manifestasi Klinis
Paling sering terjadi pada anak-anak dan orang muda berusia 5 sampai
15 tahun. Gejalanya antara lain demam, nyeri sewaktu mengunyah dan
menelan, lebih terasa lagi bila menelan cairan asam seperti cuka dan air jeruk,
bengkak yang nyeri terjadi pada sisi muka dan di bawah telinga serta kelenjarkelenjar di bawah dagu yang juga akan membesar dan membengkak.
Komplikasi mungkin terjadi pada anak laki-laki pada umur belasan tahun,
berupa nyeri pada perut dan alat kelamin. Pada penderita remaja perempuan,
nyeri akan terasa juga di bagian payudara. Komplikasi serius terjadi jika virus
parotitis menyerang otak dan susunan syarat. Ini menyebabkan radang selaput
otak dan jaringan selaput otak. Penularan penyakit ini melalui kontak
langsung dengan penderita, seperti persentuhan dengan cairan muntah dan air
seni penderita atau melalui udara ketika penderita bersin atau batuk.7

Gambar 1. Pembesaran kelenjar parotis dan submandibular.6


8

Diagnosis
Masa inkubasi virus parotitis adalah 16 sampai 18 hari. Gejala
prodromal meliputi demam ringan, anoreksia, sakit kepala, dan malaise.
Dalam waktu 24 jam dari gejala prodromal, pasien mungkin akan mengeluh
sakit telinga dan nyeri pada kelenjar parotis ipsilateral. Setelah pembengkakan
parotis mencapai puncaknya, rasa nyeri dan demam hilang dengan cepat,
dengan kelenjar biasanya kembali ke ukuran normal dalam waktu 7 sampai 10
hari.5
Diagnosis penyakit parotitis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan
tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium, kecuali gejala klinis yang
muncul tidak klasik untuk parotitis. Diagnosis parotitis didasarkan pada
riwayat pajanan, dan pembengkakan parotis dengan rasa nyeri. Penegasan
laboratorium parotitis yang khas menjadi penting dalam suatu wabah dan
dalam kasus-kasus dengan gejala subklinis. Tes khusus meliputi isolasi virus
dari cucian tenggorokan atau hidung, titer IgG (hemaglutinasi inhibisi assay /
HAI, fiksasi komplemen assay, enzyme immunoassay), tes IgM, dan RT-PCR
testing.5 Infeksi dikonfirmasi oleh isolasi virus atau asam nukleat dari
spesimen klinis. Pemeriksaan serologi menunjukkan peningkatan titer IgG
yang signifikan di antara spesimen akut dan konvalesen atau IgM antibodi
parotitis positif.5

Virus Parainfluenza 3 juga dapat menyebabkan parotitis dan dapat


menghasilkan respon antibodi heterolog yang dapat mempengaruhi tes
parotitis HAI. Hal ini penting untuk menyingkirkan infeksi ini ketika
menggunakan tes HAI untuk mendiagnosa penyakit parotitis.5
9

Diagnosis Banding
Diagnosis banding yang paling mendekati adalah neoplasma kelenjar
saliva. Neoplasma kelenjar saliva merupakan neoplasma yang jarang terjadi.
Angka kejadin neoplasma kelenjar saliva adalah sekitar 6% dari seluruh tumor
kepala dan leher. Neoplasma kelenjar saliva yang muncul pada masa anakanak biasanya berupa hemangioma, diikuti adenoma pleomorphic. 35% dari
neoplasma kelenjar saliva pada anak adalah ganas, dimana yang paling sering
adalah karsinoma mukoepidermoid.a

10 Tatalaksana
Pengobatan parotitis seluruhnya simtomatik. Tirah baring harus diatur
menurut kebutuhan penderita, tetapi tidak ada bukti statistik yang
menunjukkan bahwa tirah baring ini mencegah komplikasi. Diet harus
disesuaikan dengan kemampuan penderita untuk mengunyah. Orkitis harus
diobati dengan dukungan local dan tirah baring. Arthritis parotitis dapat
berespon terhadap pemberian dua minggu agen antiradang kortikosteroid atau
nonsteroid.3
11 Profilaksis
Profilaksis yang diberikan adalah berupa pemberian rutin vaksin
melalui virus hidup yang dilemahkan. Anak yang divaksinasi biasanya tidak
mengalami demam atau reaksi klinis lain yang dapat dideteksi dan tidak
menular terhadap kontak yang rentan. Jarang parotitis dapat berkembang 7-10
hari sesudah vaksinasi. Vaksin memicu antibodi pada sekitar 96% resipien
seronegatif dan mempunyai kemanjuran protektif sekitar 97% terhadap infeksi
parotitis alamiah. Proteksi tampak berakhir lama. Pada satu wabah parotitis,
beberapa anak yang telah diimunisasi dengan vaksin parotitis sebelumnya
mengalami sakit yang ditandai dengan demam, malaise, mal, dan ruam

popular merah yang melibatkan badan dan tungkai tetapi menyelamatkan


telapak tangan dan kaki. Ruam berakhir sekitar 24 jam. Tidak ada virus yang
diisolasi dari anak ini, tetapi kenaikan titer antibodi parotitis ditnjukkan.3
12 Komplikasi
Keterlibatan sistem saraf pusat (SSP) dalam bentuk meningitis aseptik
(sel-sel inflamasi pada cairan serebrospinal) adalah yang paling sering, terjadi
tanpa gejala pada 50% sampai 60% pasien. Gejala meningitis (sakit kepala,
kaku kuduk) terjadi sampai 15% pasien dan berubah tanpa sekuele 3 sampai
10 hari. Orang dewasa memiliki risiko lebih tinggi untuk komplikasi ini
dibandingkan anak-anak, dan laki-laki lebih sering dibandingkan anak
perempuan (dengan rasio 3:1). Parotitis mungkin tidak ada di sebanyak 50%
pasien demikian. Penyakit otak adalah jarang (kurang dari 2 per 100.000
kasus parotitis).4
1. Meningioensefalitis
Komplikasi ini merupakan komplikasi yang sering pada masa
anak. Insiden yang sebenarnya sukar diperkirakan karena infeksi subklinis
system

saraf

sentral,

seperti

dibuktikan

oleh

pleositasis

cairan

serebrospinal, telah dilaporkan lebih dari 65% penderita dengan parotitis.


Manifestasi klinis terjadi pada lebih dari 10% penderita. Insiden
meningoensefalitis parotitis sekitar 250/100.000 kasus; 10% dari kasus ini
terjadi pada penderita lebih tua dari 20 tahun. Angka mortalitas adaah
sekitar 2%. Orang laki-laki terkena tiga sampai lima kali lebih sering
daripada wanita. Parotitis merupakan salah satu dari penyebab meningitis
aseptik yang paling sering.3
Patogenesis meningoensefalitis parotitis telah diuraikan sebagai
infeksi primer neuron dan ensefalitis pascainfeksi dengan demielinasi.
Pada tipe pertama parotitis sering muncul bersamaan atau menyertai
ensefalitis. Pada tipe kedua, ensefalitis menyertai parotitis pada sekitar 10

hari. Parotitis mungkin pada beberapa kasus tidak ada. Stenosis


aqueduktus dan hidrosefalus telah dihubungkan dengan infeksi parotitis. 3
Meningoensefalitis parotitis secara klinis tidak dapat dibedakan
dari meningitis sebab lain. Ada kekakuan leher sedang, tetapi pemeriksaan
neorologis lain biasanya normal. Cairan serebrospinal (CSS) biasanya
berisi sel kurang dari 500 sel/mm3, walaupun kadang-kadang jumlah sel
dapat melebihi 2.000. selnya hampir selalu limfosit, berbeda dengan
meningitis aseptik enterovirus, dimana leukosit polimorfonklear sering
mendominasi pada awal penyakit. Virus parotitis dapat diisolasi dari
cairan serebrospinal pada awal penyakit.3
2. Orkitis dan Epididimitis
Orkitis (inflamasi testikular) adalah komplikasi paling umum pada
laki-laki setelah masa pubertas. Penyakit ini terjadi sebanyak 50% pada
laki-laki setelah masa pubertas, biasanya setelah parotitis, tapi penyakit ini
mungkin mendahuluinya, terjadi secara serempak, atau terjadi sendirian.4
Komplikasi ini jarang terjadi pada anak laki-laki prapubertas tetapi
sering (14-35%) pada remaja dan orang dewasa. Testis paling sering
terinfeksi dengan atau tanpa epididimitis; epididimitis dapat juga terjadi
sendirian, jarang ada hidrokel. Orkitis biasanya menyertai parotitis dalam
8 hari atau sekitarnya; orkitis dapat juga terjadi tanpa bukti adanya infeksi
kelenjar ludah. Pada sekitar 30% penderita keda testis terkena. Mulainya
biasanya mendadak, dengan kenaikan suhu, menggigil, nyeri kepala, mual,
dan nyeri perut bawah; bila testis kanan terlibat, appendisitis dapat
dikesankan sebagai kemungkinan diagnostik. Testis yang terkena menjadi
nyeri dan bengkak, dan kulit yang berdekatan edema dan merah. Rata-rata
lamanya adalah hari. Sekitar 30-40% testis yang terkena atrofi. Gangguan
fertilitas diperkirakan sekitar 13%, tetapi infertilitas absolut mungkin
jarang.3

3. Ooforitis
Nyeri pelvis dan kesakitan ditemukan pada sekitar 7% pada
penderita wanita pasca pubertas. Tidak ada bukti adanya gangguan
fertilitas.3,4
4. Nefritis
Pada satu penelitian orang dewasa, kelainan fungsi ginjal terjadi
kadang-kadang pada setiap penderita, dan virria terdeteksi pada 75%.
Frekuensi keterlibatan ginjal pada anak belum diketahui. Nefritis yang
mematikan, terjadi 10-14 hari sesudah parotitis, telah dilaporkan.3
5. Pankreatitis
Pankreatitis adalah jarang, tapi adakalanya terjadi tanpa parotitis;
hyperglycemia adalah temporer dan bersifat reversibel.4
6. Miokarditis
Manifestasi jantung yang serius sangat jarang, tetapi mungkin bisa
saja

terjadi.

Rekaman

elektrokardigrafi

menunjukkan

perubahan-

perubahan, kebanyakan depresi segmen ST, pada 13% orang dewasa pada
satu seri. Keterlibatan demikian dapat menjelaskan nyeri prekordium,
bradikardia, dan kelelahan kadang-kadang ditemukan pada remaja dan
orang dewasa dengan parotitis.3
7. Ketulian
Tuli saraf dapat terjadi unilateral, jarang bilateral, walaupn
insidennya rendah (1:15.000), Parotitis adalah penyebab utama tuli saraf
unilateral. Kehilangan pendengaran mungkin sementara atau permanen.3
8. Komplikasi Okuler

Komplikasi ini meliputi dakrioadenitis, pembengkakan yang nyeri,


biasanya bilateral, dari kelenjar lakrimalis; neuritis optic (papillitis)
dengan gejala-gejaa bervariasi dari kehilangan penglihatan sampai
kekaburan ringan dengan penyembuuhan dalam 10-20 hari; uveokeratitis,
biasanya unilateral dengan fotofobia, keluar air mata, kehilangan
penglihatan cepat dan penyembuhan dalam 20 hari; skleritis, tendonitis,
dengan akibat eksoftalmus; dan trombosis vena sentral.3
9. Artritis
Atralgia yang disertai dengan pembengkakan dan kemerahan
sendi merupakan komplikasi yang jarang; biasanya penyembuhannya
sempurna.3

10

BAB III
KESIMPULAN
Parotitis adalah penyakit sistemik yang ditandai dengan pembesaran
kelenjar parotis non supuratif pada salah satu atau kedua kelenjar liur.
Parotitis merupakan penyakit menular akut. Virus penyebab parotitis adalah
mumps. Virus mumps merupakan virus RNA dari genus Paramyxovirus dalam
family Paramyxoviridae. Parotitis muncul secara endemik di seluruh dunia.
Kasus-kasus parotitis muncul sepanjang tahun didaerah beriklim panas serta
memuncak pada musin dingin dan musim semi didaerah beriklim sedang.
Wabah parotitis berhubungan dengan tingkat kepadatan penduduk. Hal ini
dikarenakan parotits sangat menular. Parotitis terutama mengenai anak-anak
dengan insiden tertinggi pada anak berusia 5 - 9tahun. Angka kejadian
parotitis pada laki-laki dan perempuan sama.
Faktor resiko yang berpengaruh untuk terjadinya parotitis adalah tidak
adanya vaksinasi. Hal ini terkait dengan mudahnya penularan infeksi virus
mumps. Selain itu faktor lain yang dapat mempermudah timbulnya infeksi
adalah seringnya paparan terhadap virus dan tigginya kepadatan penduduk.
Gejala yang dirasakan penderita adalah demam, nyeri sewaktu mengunyah
dan menelan, dimana lebih terasa lagi bila menelan cairan asam seperti cuka
dan air jeruk, bengkak yang nyeri terjadi pada sisi muka dan di bawah telinga
serta kelenjar-kelenjar di bawah dagu juga akan tampak lebih besar dan
membengkak. Diagnosis penyakit parotitis ditegakkan berdasarkan gejala
klinis dan tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium, kecuali gejala klinis
yang muncul tidak klasik untuk parotitis. Penegasan laboratorium parotitis
yang khas menjadi penting dalam suatu wabah dan dalam kasus-kasus dengan
gejala subklinis. Diagnosis banding dari parotitis adalah neoplasma kelenjar

saliva, yang jarang terjadi pada anak-anak.


Pengobatan parotitis seluruhnya simtomatik. Tirah baring harus diatur
menurut kebutuhan penderita, tetapi tidak ada bukti statistik yang

11

menunjukkan bahwa tirah baring ini mencegah komplikasi. Diet harus


disesuaikan dengan kemampuan penderita untuk mengunyah. Profilaksis juga
dibutuhkan sebagai pencegahan, dimana dapat diberikan vaksin rutin melalui
virus hidup yang dilemahkan. Anak yang divaksinasi biasanya tidak
mengalami demam atau reaksi klinis lain yang dapat dideteksi dan tidak
menular terhadap kontak yang rentan. Jarang parotitis dapat berkembang 7-10
hari sesudah vaksinasi. Vaksin memicu antibodi pada sekitar 96% resipien
seronegatif dan mempunyai kemanjuran protektif sekitar 97% terhadap infeksi
parotitis alamiah serta proteksi tampak berakhir lama. Selain tatalaksana dan
profilaksis, parotitis tak jarang menimbulkan komplikasi diantaranya adalah
meningioensefalitis, orkitis dan epididimitis, ooforitis, nefritis, pancreatitis,
miokarditis, ketulian, komplikasi okuler dan arthritis.

12

13

DAFTAR PUSTAKA
1

Marissa Tania Stephanie Pudjiadi, Sri Rezeki S. Orkitis pada Infeksi Parotitis

Epidemika: laporan kasus. Sari Pediatri, Vol. 11, No. 1, Juni 2009. p 47-51
Satari, Hindra Irawan, et.al. Studi Sero epidemiologi pada Antibodi Mumps
Anak Sekolah Dasar di Jakarta. Sari Pediatri, Vol. 6, No. 3, Desember 2004.

p. 134-137
Maldonado, Yvonne. Parotitis Epidemika. Dalam: Nelson Ilmu Kesehatan

Anak; 2000. p.1075-1077


Mumps, Pinkbook 2012, Epidemiology and Prevention of Vaccine
Preventable Diseases, 12th Edition Second Printing Revised May 2012

Vikas S. Kancherla, I. Celine Hanson. Mumps resurgence in


the United States. The Journal of Allergy and Clinical
Immunology Volume 118, Issue; 2006. p.938-941. Diakses
dari http://www.jacionline.org /article/S0091-6749(06)01582X/fulltext pada bulan April 2013

JEVUSKA. Mumps (Parotitis Epidemika). Dalam: Anak, Artikel Kedokteran;


2007. Diakses dari http://www.jevuska.com /2007/04/02/mumps-parotitis-

epidemika pada bulan April 2013


Depkes RI. Mumps (parotitis Epidemika). Pedoman Pengobatan Dasar di

Puskesmas; 2007. Jakarta: 2008. p.158


Anggraeni, Melisa, Dwi Lingga Utama, I Md Gd. Gondongan (Mumps atau
Parotitis). Bag/SMF IKA FK UNUD-RSUP Sanglah Denpasar. Diakses dari
http://ppdsikafkunud.com/gondongan-mumps-atau-parotitis pada bulan April

2013
California Department of Public Health December 2012. Mumps: Case and

Outbreak Investigation: 2012


10 Germaine L Defendi. Mumps. In: Russell W Steele, Chieff Editor: Medscape
Reference: 2012. Diakses dari http://emedicine.medscape.com pada bulan
April 2013.

14

a. Stenner M, Klussmann JP. Current update on established and novel

biomarkers in salivary gland carcinoma pathology and the molecular


pathways involved. Eur Arch Otorhinolaryngol. Mar 2009;266(3):333-41.

15