Anda di halaman 1dari 22

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMEGANG SAH ATAS PENERBITAN

SERTIFIKAT HAK MILIK GANDA

Trinovita Kristi Prabawani1, Suhariningsih2, Ario Hardickdo3


Program Studi Magister Kenotariatan, Pasca Sarjana Fakultas Hukum
Universitas Brawajiya Malang
Email : alea_10_nov@yahoo.co.id
Abstraksi
Pendaftaran atas bidang tanah bertujuan untuk mendapatkan alat bukti
berupa sertifikat agar pemegang hak atas tanah tersebut memiliki bukti yang
kuat atas tanah yang dimilikinya dan mendapatkan kepastian hukum dan
perlindungan hak mereka atas tanah serta terbebas dari gangguan pihak lain
yang tidak bertanggung jawab, hal tersebut tercemin dalam Pasal 1 angka
(20) PP no. 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah. Tetapi dalam
kenyataan lapangan ternyata berbeda, terbukti dari adanya kasus sertifikat
ganda yang terjadi di Banjarmasin yang terdapat dalam Putusan Pengadilan
Negeri Nomor :78/Pdt.G/2001/PN.BJM. Berdasarkan kasus tersebut penulis
tertarik untuk mengkaji permasalahan yaitu tentang penyebab terbitnya
sertifikat ganda. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan jurnal
ini adalah penelitian Yuridis Normatif dengan pendekatan kasus dan
pendekatan perundang-undangan, serta menganalisis dengan menggunakan
analisis Teori Kewenangan menurut Philipus M. Hadjon dan teori kepastian
hukum. Penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa Penyebab terjadinya
sertifikat ganda adalah tidak tersediannya peta, pemetaan yang belum
sempurna karena dari pihak BPN yang melakukan pemetaan lalai atau tidak
cermat, sehingga pemetaan menjadi tidak akurat dan pemilik asal tidak
memelihara dan menjaga tanda batas tanahnya dengan baik, serta terjadinya
pemekaran wilayah pada daerah tertentu sehingga memungkinkan terbitnya
sertifikat ganda.
Kata Kunci : Pendaftaran Tanah, Kepastian hukum, Sertifikat ganda

Mahasiswa, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas


Brawijaya Malang
2
Pembimbing Utama, Dosen Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas
Brawijaya Malang.
3
Pembimbing Pendamping, Notaris, Dosen Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Brawijaya Malang.

Abstract
The land registration intended to obtain a certificate that the land owner
has a strong evidence of its land and a legal certainty protection from the
parties that not liable to make the land as a commercial enterprise or sold to
other person without the owners knowledge, it is reflected in Article 1 (20)
Regulation no. 24 of 1997 concerning land registration. But in fact it turned
out differently, as showed in multiple certificates cases that take place in
Banjarmasin as described in the District Court Decision Number:
78/Pdt.G/2001/PN.BJM. Based on that, the authors were interested in
reviewing problems that caused the multiple certificate issuance. The research
method was normative juridical research by case law and statute approach,
also analyzing with Philip M Hadjons Authority Theory and legal certainty
theory. The study concluded that the double certificate caused by the map
availability, land owners do not maintain their own land, incomplete mapping
and land administration activities, and the certain area expansion.
Keywords: Land Registration, Legal certainty, double Certificate

A. Pendahuluan

Tanah merupakan sumber daya alam yang sangat dibutuhkan manusia, di


mana kebutuhan manusia akan tanah selalu bertambah, dan ketersediaan akan
tanah terbatas. Kebutuhan tanah tersebut baik dari segi ekonomi, sosial maupun
segi teknologi. Tanah juga merupakan tempat dimana manusia hidup dan
berkembang, serta sumber bagi kepentingan hidup manusia pada umumnya.
Oleh karena terbatasnya tanah maka berdampak kepada nilai jual tanah yang
semakin tinggi karena didasarkan pada semakin banyaknya permintaan atas
tanah untuk pembuatan sarana umum, seperti hotel, rumah sakit, dan rumah
makan ataupun sarana pribadi seperti rumah, villa dan lain-lain.
Eksistensi tanah dalam kehidupan manusia mempunyai arti dan sekaligus
memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai social asset dan capital asset. Sebagai
social asset tanah merupakan sarana pengikat kesatuan sosial di kalangan
masyarakat untuk hidup dan kehidupan, sedangkan capital asset

tanah

merupakan faktor modal dalam pembangunan dan telah tumbuh sebagai benda
ekonomi yang sangat penting sekaligus sebagai bahan perniagaan dan objek
spekulasi.4
Di Indonesia masalah sumber daya alam diatur dalam Undang-Undang
Dasar 1945 Pasal 33 ayat (3) disebutkan bahwa Bumi dan air dan kekayaan
alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan
untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dalam hal ini rakyat diwajibkan
mempergunakan air, tanah dan kekayaan alam lainnya dengan sebaik-baiknya
dan negara selaku badan penguasa atas bumi, air, ruang angkasa, serta
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya berwenang untuk mengatur
dalam rangka mencapai sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia.
Pemerintah dalam rangka menjamin kepastian hukum yaitu dengan
mengadakan pendaftaran tanah diseluruh wilayah Republik Indonesia menurut
ketentuan yang diatur dengan peraturan pemerintah. Dalam hal ini
kepastiannya mengenai letak batas luas tanah, status tanah dan orang yang
berhak atas tanah, dan pemberian surat berupa sertipikat.

Achmad Rubaie, Hukum Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum, (Malang :


Bayumedia, 2007), hlm. 1.

Pendaftaran tanah yang bertujuan memberikan jaminan kepastian hukum


dikenal dengan sebutan rechts cadaster/legal cadaster. Jaminan kepastian
hukum yang hendak diwujudkan dalam pendaftaran tanah ini, meliputi
kepastian status hak yang di daftar, kepastian subjek hak, dan kepastian objek
hak. Pendaftaran tanah ini menghasilkan sertipikat sebagai tanda bukti haknya.
Kebalikan dari pendaftaran tanah yang rechts cadaster, adalah fiscaal cadaster,
yaitu pendaftaran tanah yang bertujuan untuk menetapkan siapa yang wajib
membayar pajak atas tanah. Pendaftaran tanah ini menghasilkan surat tanda
bukti pembayaran pajak atas tanah, yang sekarang dikenal dengan sebutan
Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang Pajak Bumi dan Bangunan (SPPT
PBB).5
Ketentuan mengenai Pendaftaran tanah diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Pemerintah Nomor : 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah
selanjutnya disebut PP 24/1997, yang mulai berlaku pada tanggal 8 Oktober
1997 sebagai pengganti Peraturan Pemerintah Nomor : 10

Tahun 1961

Tentang Pendaftaran Tanah, yang sejak tahun 1961 mengatur pelaksanaan


pendaftaran tanah sebagaimana diperintahkan oleh Pasal 19 UUPA. Ketentuan
pelaksanaan

lebih

lanjut

diatur

dalam

Peraturan

Menteri

Negara

Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor : 3 Tahun 1997 tentang


Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor : 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah.
Pemerintah melakukan kegiatan pendaftaran tanah dengan sistem yang
sudah melembaga sebagaimana yang dilakukan dalam kegiatan pendaftaran
selama ini, mulai dari permohonan seorang atau badan, diproses sampai
dikeluarkan bukti haknya (sertipikat) dan dipelihara data pendaftarannya dalam
buku tanah.6
Kewenangan Pemerintah dalam mengatur bidang pertanahan dalam hal
pemanfaatan tanah didasarkan pada ketentuan Pasal 2 ayat (2) UUPA yakni
dalam hal kewenangan untuk mengatur dan menyelenggarakan peruntukan,

Urip Santoso, Hukum Agraria Kajian Komprehensif, (Jakarta : Kencana, 2012),

hlm. 278.

Yamin Lubis dan Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah, (Bandung : CV. Mandar
Maju, 2010), hlm. 104.

penggunaan, persediaan, dan pemeliharaan, serta menentukan dan mengatur


hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, dan orang-orang
dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa.
Tujuan dari pendaftaran tanah tersebut tercantum dalam UUPA pasal 19
yang menyebutkan bahwa untuk menjamin kepastian hukum oleh Pemerintah
diadakan Pendaftaran Tanah diseluruh wilayah Republik Indonesia menurut
ketentuan-ketentuan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah. Dalam Pasal
ini dimaksudkan bahwa Pemerintah mempunyai kewajiban agar warga
diseluruh Indonesia melakukan Pendaftaran tanah agar mencapai kepastian
hukum sehingga meminimalisir terjadinya sengketa tanah.
Namun dalam prakteknya, kepastian hukum terhadap hak atas tanah
tersebut kadangkala tidak terwujud seperti yang diharapkan. Dalam hal ini, di
kota Banjarmasin terdapat sejumlah kasus Sertipikat Ganda, yaitu dimana
terdapat sebidang tanah terdaftar 5 (lima) buah sertipikat yang ditumpangi oleh
1 (satu) sertipikat yang semuanya secara resmi sama-sama diterbitkan oleh
Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota. Akibatnya adalah timbul sengketa perdata
antar para pihak tersebut, untuk menyelesaikan sengketa tersebut yaitu melalui
lembaga peradilan.
Adapun kasus sengketa kepemilikan tanah dan yang menjadi obyek
penulisan ini adalah kasus yang masuk peradilan perdata yang berkaitan
dengan terbitnya sertipikat ganda yang diperiksa dan diadili di Pengadilan
Negeri Banjarmasin yaitu antara Penggugat I (Agung Lawak) dan Penggugat II
(Venny Lawak) melawan Tergugat (H. Farhan) seperti yang tercantum dalam
Putusan Pengadilan Negeri Nomor : 78/Pdt.G/2001/PN.BJM. Masing-masing
dari Pihak Penggugat maupun Tergugat berstatus Perorangan. Kasus ini
menarik untuk diteliti lebih lanjut karena terdapat tumpang tindih sertipikat
antara 3 (tiga) buah Sertipikat Hak Milik Penggugat I (Agung Lawak) yaitu
masing-masing tanahnya yaitu : (1) seluas 1.955 M2 berdasarkan Sertipikat
Hak Milik N0. 1620, (2) Seluas 4103 M2 berdasarkan Sertipikat Hak Milik No.
1624, (3) seluas 4.709 M2 berdasarkan Sertipikat Hak Milik No. 1204, dan 2
(dua) Sertipikat Hak Milik Penggugat II (Venny Lawak) masing-masing
tanahnya yaitu: (1) seluas 2.910 M2 berdasarkan Sertipikat Hak Milik No.

1075, (2) seluas 7.439 M2 berdasarkan Sertipikat Hak Milik No. 1074. TanahTanah tersebut dibeli Penggugat I dari Haji Tami, Utih, Hanna, Hamsin serta
Heinz sedangkan tanah-tanah milik

Penggugat II dibeli dari Haji Jarni.

Kemudian Isi amar putusannya dalam pokok perkara adalah menyatakan


gugatan penggugat tidak dapat diterima karena salah satu pertimbangan
hakimnya yaitu oleh karena pihak Badan Pertanahan Nasional Kota
Banjarmasin tidak dimasukkan sebagai subyek dalam perkara ini. Dan setelah
itu Para Penggugat melakukan banding ke Pengadilan Tinggi dengan nomor
putusan 48/Pdt/2002/PT.Bjm yang hasil putusannya adalah menerima
permohonan banding dari semula para penggugat sekarang para pembanding
tersebut dan membatalkan putusan Pengadilan Negeri Banjarmasin tanggal 7
Agustus 2002 Nomor : 78/Pdt.G/2001/PN.Bjm.
Pada putusan Pengadilan Tinggi, maka Tergugat mengalami kekalahan
dan melakukan Kasasi ke Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan
nomor putusan 1178 K/Pdt/2003 yang hasil putusannya yaitu menolak
permohonan kasasi dari pemohon Kasasi : H. Farhan dengan pertimbangan
hakimnya adalah karena dalam pemeriksaan dalam tingkat kasasi hanya
berkenaan dengan tidak dilaksanakan atau ada kesalahan penerapan hukum,
adanya pelanggaran hukum yang berlaku, adanya kelalaian dalam memenuhi
syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan.
Ditinjau dari jumlah Sertifikat yang disengketakan, maka kenyataan
tentang kepastian hukum pada sertifikat dengan kenyataan lapangan berbeda.
Berdasarkan dari uraian di atas tersebut, maka penulis tertarik untuk
mengkaji permasalahan: Apa alas hak terjadinya sertifikat hak milik atas tanah
yang ganda?
B. Metode Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang diteliti oleh penulis, maka metode yang
dipakai adalah penelitian yuridis normatif. Metode penelitian yuridis normatif
atau metode penelitian hukum kepustakaan adalah metode atau cara yang
dipergunakan di dalam penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti

bahan pustaka yang ada,7 yang didukung dengan data sekunder, yaitu berupa
kasus sertifikat ganda yang sudah keluar suatu putusan Pengadilan Negeri
nomor 78/Pdt.G/2001/PN.BJM yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
kasus (case approach) dan pendekatan perundang-undangan (statute
approach).8 Pendekatan tersebut digunakan untuk membangun argumentasi
hukum guna memecahkan masalah-masalah yang menyangkut dengan
penelitian tersebut. Pendekatan kasus dilakukan dengan cara melakukan telaah
terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi yang telah
menjadi putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang
tetap. Yang menjadi kajian pokok di dalam pendekatan kasus adala ratio
decidendi atau reasoning yaitu pertimbangan pengadilan untuk sampai kepada
suatu putusan.9 Khususnya terkait dengan perlindungan hukum bagi pemegang
sah atas penerbitan sertifikat hak milik ganda dan penyebab timbulnya
sertifikat ganda. serta Pendekatan Perundang-undangan (statute approach)
dilakukan dengan menelaah undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut
dengan isu hukum yang sedang diteliti.10

Dan pendekatan perundang-

undangan dilakukan untuk melihat apakah yang dilakukan BPN telah sesuai
dengan Peraturan Pemerintah no 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah.
Jenis bahan hukum Penelitian yang digunakan terdiri dari bahan hukum primer
yaitu Undang-undang dan peraturan pemerintah. Bahan hukum sekunder
Penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran
Tanah, bahan hukum yang diperoleh dari literatur-literatur yang terkait dengan
berbagai macam Pendaftaran Tanah dan Sertifikat hak milik Ganda, website
dari internet yang memuat berita /informasi tentang pendaftaran tanah dan
sertifikat ganda, putusan-putusan dari Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi
dan Mahkamah Agung, putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Banjarmasin.
Serta bahan hukum tersier kamus bahasa Indonesia dan kamus hukum.
7

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan
Singkat, Cetakan ke 11. (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2009), hlm. 1314.
8
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group,
2005), hlm. 93-94.
9
Peter Mahmud Marzuki, Ibid, hlm. 94.
10
Peter Mahmud Marzuki, Ibid, hlm. 93.

C. Hasil dan Pembahasan


Terbitnya Sertifikat Ganda
C.1. Analisis Hak milik atas tanah
Pada umumnya sebutan tanah selalu dikaitkan dengan hak atas tanah
yang diberikan atau dimiliki oleh seseorang, agar dapat dinikmati
manfaatnya, dan digunakan sesuai dengan peruntukkannya. 11 Dimana dalam
kamus besar Bahasa Indonesia tanah adalah permukaan bumi atau lapisan
bumi, sedangkan makna dari hak atas tanah adalah tanahnya, dalam artian
bukan hanya sebagian tertentu dari permukaan bumi melainkan segala
kandungan dan isi yang ada di dalamnya.
Hak-hak atas tanah dalam UUPA tercermin dalam :
Pasal 4 ayat (1) :
Atas dasar hak menguasai dari negara sebagai yang dimaksud dalam Pasal
2 ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi, yang disebut
tanah, yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang, baik
sendiri maupun bersama-sama dengan orang-orang lain serta badan-badan
hukum.
Pasal 4 ayat (2) :
Hak-hak atas tanah yang dimaksud dalam ayat 1 Pasal ini memberi
wewenang untuk mempergunakan tanah yang bersangkutan, demikian pula
tubuh bumi dan air serta ruang yang ada di atasnya sekedar diperlukan
untuk kepentingan yang langsung berhubungan dengan penggunaan tanah
itu dalam batas-batas menurut undang-undang ini peraturan-peraturan
hukum lain yang lebih tinggi.
Proses pemberian hak pada suatu permohonan hak atas tanah tidak
hanya dengan melihat segi prosedurnya saja. Suatu permohonan tidak cukup
hanya dianalisis dengan apakah si pemohon memenuhi syarat, diperiksa
secara fisik, diukur, permohonan terhadap hak atas tanah tersebut telah

11

Suhariningsih, Tanah Terlantar (Asas dan Pembaharuan Konsep menuju Penerbitan),


(Prestasi Pustaka : Jakarta, 2009), hlm. 60.

diumumkan, dan lain sebagainya yang sifatnya prosedur, melainkan harus


pula dikaji dari segi hukumnya.
Pada dasarnya pemberian hak atas tanah-tanah tersebut meliputi
beberapa unsur, yaitu:
a. Subjek pemohon, dengan sasaran penelitian berupa data pribadi/warga
negara.
b. Lokasi tanahnya yang menyangkut letak sebenarnya tanah yang
diuraikan

serta

batas-batas

yang

tegas

sesuai

dengan

prinsip

Contradictoir Limitatief.
c. Bukti-bukti perolehan haknya secara beruntun dan sah menurut
hukum. 12
Konsep hak-hak atas tanah yang terdapat dalam hukum agraria
nasional membagi hak-hak atas tanah dalam dua bentuk:13
1. hak-hak atas tanah yang bersifat primer yaitu hak-hak atas tanah yang
dapat dimiliki atau dikuasai secara langsung oleh seorang atau badan
hukum yang mempunyai waktu lama dan dapat dipindahtangankan kepada
orang lain atau ahli warisnya seperti Hak Milik (HM), Hak Guna Usaha
(HGU), Hak Guna Bangunan (HGB), Hak Pakai (HP).
2. hak-hak atas tanah yang bersifat sekunder yaitu hak-hak atas tanah
yang bersifat sementara seperti hak gadai, hak usaha bagi hasil, hak
menumpang, dan hak menyewa atas tanah pertanian.
C.2. Peralihan Hak Milik Atas Tanah dengan Jual Beli
Dasar hukum peralihan hak atas tanah tercantum dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 Pasal 37 ayat (1) yang menyebutkan
bahwa peralihan hak atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun
melalui jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan dalam perusahaan dan
perbuatan hukum pemindahan hak lainnya, kecuali pemindahan hak melalui
lelang hanya dapat didaftarkan jika dapat dibuktikan dengan akta yang
12

Rusmadi Murad, Penyelesaian Sengketa Hukum Atas Tanah, (Bandung : Alumni,


1991), hlm 18.
13
Supriadi, Hukum Agraria, (Jakarta : Sinar Grafika, 2007), hlm 64

dibuat oleh PPAT yang berwenang menurut ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.
Peralihan hak atas tanah yang dimaksud dalam Pasal tersebut adalah
suatu hal yang menyebabkan hak atas tanah berpindah atau beralih dari
seseorang kepada orang lain adalah terjadi karena perbuatan hukum yang
merupakan peralihan hak atas tanah yang dilakukan dengan sengaja dan
memiliki tujuan agar hak atas tanah tersebut berpindah dari yang
mengalihkan kepada yang menerima pengalihan hak atas tanah tersebut
seperti Jual Beli, tukar menukar, hibah, hibah wasiat dan pemasukan dalam
perusahaan.
Pasal 20 ayat (2) Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) yang
menyatakan bahwa Hak milik atas tanah dapat beralih dan dialihkan
kepada pihak lain. Dalam hal ini penerima hak yang baru wajib
mendaftarkan peralihan hak milik atas tanah yang diterimanya dalam rangka
memberikan perlindungan hak kepada pemegang hak atas tanah yang baru
demi ketertiban tata usaha pendaftaran tanah.
Peralihan hak atas tanah pada pasal di atas adalah berbicara mengenai
proses atau prosedur beralihnya hak atas tanah dari satu pihak ke pihak yang
lain. Dan hak milik dapat beralih dan dialihkan kepada pihak lain yang
setelahnya oleh pemilik baru wajib didaftarkan demi terjadinya ketertiban
tata usaha pendaftaran tanah, dalam kasus Sertifikat Ganda yang peneliti
teliti adalah peralihan hak atas tanah melalui jual beli.
Jual beli dalam Pasal 1457 KUHPerdata adalah suatu perjanjian,
dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan
suatu kebendaan, dan pihak lain untuk membayar harga yang telah
dijanjikan.
Dengan kata lain jual beli adalah persetujuan dimana oleh pihak yang
satu dijanjikan untuk menyerahkan suatu barang kepada pihak lain
sedangkan pihak lain berjanji akan membayar harga yang telah ditentukan
untuk barang atau tanah tersebut.

10

Dalam Subyek Jual beli tanah, dalam Pasal 1320 KUHPerdata


terdapat 4 syarat mengenai sahnya suatu perjanjian jual beli hak atas
tanahnya, yaitu:
1. Syarat sepakat mereka yang mengikatkan dirinya.
Dalam syarat ini berarti kedua belah pihak sama-sama sepakat untuk
melakukan perjanjian jual beli tanah tersebut dengan dibuatkan suatu
perjanjian tertulis berupa akte Jual Beli yang harus dibuat dihadapan PPAT.
2. Syarat kecakapan untuk membuat suatu perjanjian jual beli.
Dalam melakukan perjanjian jual beli atas tanah tersebut maka syarat
umumnya adalah mereka yang sudah memenuhi syarat dewasa menurut
hukum, sehat akal pikiran, tidak berada dibawah pengampuan.
3. Syarat hal tertentu.
Syarat ini berarti semua yang diperjanjikan harus dicantumkan dengan
jelas dalam akta jual beli, baik mengenai luas tanah, letak, harga dan hak
melekat lainnya. Serta hak dan kewajiban dari kedua belah pihak dengan
jelas agar tidak ada keraguan dan ketidak jelasan dalam pelaksanaan
perjanjian tersebut.
4. Syarat sebab yang halal.
Di dalam uatu perjanjian, isi dan tujuan dalam perjanjian tersebut
harus jelas dan berdasarkan atas kehendak kedua belah pihak yang
melakukan perjanjian. Dengan terjadinya perpindahan hak milik atas tanah
tersebut maka pemilik baru mendapatkan tanah dengan hak miliknya wajib
didaftarkan pada kantor pertanahan setempat agar nama yang tercantum
dalam sertifikat berganti nama atas namanya.
Sedangkan dalam hal jual beli atas tanah terdapat hak dan kewajiban
yang harus dipenuhi oleh si penjual dan si pembeli agar perlindungan
hukum terhadap pemegang hak atas tanah dapat ditegakkan, maka terdapat
hak dan kewajiban dari penjual dan pembeli yaitu hak dari Penjual adalah
menerima uang dari barang yang telah dijualnya dari pihak pembeli sesuai
dengan kesepakatan harga antara kedua belah pihak. Sedangkan Kewajiban
Penjual adalah sebagai berikut :
1. Menyerahkan hak milik atas barang yang diperjualbelikan

11

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mengenal tiga jenis benda yaitu


benda bergerak, benda tidak bergerak dan benda tidak bertubuh,
sedangkan dalam penelitian tersebut menggunakan jenis benda yang
tidak bergerak yaitu:
Penyerahan Benda Tidak Bergerak
Mengenai Penyerahan benda tidak bergerak diatur dalam Pasal 616-620
Kitab

Undang-Undang

Hukum

Perdata

(KUHPeradata)

yang

menyebutkan bahwa penyerahan barang tidak bergerak dilakukan dengan


balik nama. Untuk tanah dilakukan dengan Akta PPAT sedangkan yang
lain dilakukan dengan akta notaris.
2. Membayar Pajak final atau Pajak Penghasilan (PPh) yang besarnya 5%
dari transaksi yang ditetapkan. Namun bisa tidak dikenakan Pajak Final
atau Pajak Penghasilan apabila hasil penjualannya dibawah dari Rp.
60.000.000. (Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Perubahan
Ketiga atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1983 Tentang Pajak
Penghasilan).
3. Menyerahterimakan dokumen
Sedangkan Hak dari Pembeli adalah menerima barang yang telah
dibelinya, dan Kewajiban Pihak Pembeli adalah :
1. Membayar harga barang yang dibelinya sesuai dengan janji yang telah
disepakati.
2. Memikul biaya yang ditimbulkan dalam jual beli, misalnya biaya akta dan
sebagainya kecuali kalau diperjanjikan sebaliknya.
3. Memeriksa tanah yang dijual oleh Penjual. Baik dari luas tanahnya, siapa
pemilik pasti tanah yang sah, maupun pengecekan data obyek tanah yang
dilihuat dari sertifikat hak milik atas tanahnya.
4. Membayar Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang
menurut Pasal 5 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang BPHTB
besarnya (Nilai transaksi Batas Tidak Kena Pajak) X 5%. Dasar
pengenaannya dihitung berdasarkan NJOP yang terlebih dahulu

12

dikurangi dengan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak


(NPOPTKP).
Dalam kasus yang peneliti teliti telah terjadi peralihan hak antara
penjual yaitu H. Jarni dengan Pembeli Nyonya Venny Lawak. Dimana
Proses jual beli 2 tanah tersebut melalui Pejabat Pembuat Akta Tanah Linda
Kenari, SH. Notaris, No. 48/3/JB/BS/1997 dan No. 49/3/JB/BS/1997, dan
pengeluaran sertifikat tertanggal 30 Desember 1997.
Dan peralihan hak dengan jual beli antara Hamsin, Haji Tami, Utih
sebagai penjual dengan akta jual beli jual beli No. 137/3/JB/B/1998
tertanggal 10 Nopember 1998, akta jual beli No. 103/3/JB/BSH/2001,
tertanggal 21 mei 2001, dan akta jual beli No. 18/3/JB/BSH/2001, tanggal
24 januari 2001, yang ketiganya milik Agung Lawak sebagai pembeli serta
dibuat melalui akta Notaris Linda Kenari, SH selaku PPAT.
C.3. Analisis Sertifikat Sebagai Alat bukti Hak Milik Atas Tanah
Pendaftaran atas bidang tanah tersebut bertujuan untuk mendapatkan
sertifikat agar pemegang hak atas tanah tersebut memiliki bukti yang kuat
atas tanah yang dimilikinya serta mendapatkan hukum dan perlindungan
dari para pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menjadikan tanah
tersebut sebagai lahan bisnis atau dijual ke orang lain tanpa sepengetahuan
pemilik.
Sertifikat dalam Pasal 1 angka (20) PP no. 24 tahun 1997 tentang
pendaftaran tanah menyebutkan sertifikat adalah surat tanda bukti hak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA untuk hak
atas tanah, hak pengelolaan, tanah wakaf, hak milik atas satuan rumah susun
dan hak tanggungan yang masing-masing sudah dibukukan dalam buku
tanah yang bersangkutan.
Sedangkan sertifikat dalam pasal 32 PP no. 24 tahun 1997 berbunyi
yaitu sertifikat merupakan surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat
pembuktian yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat di
dalamnya, sepanjang data fisik dan data yuridis tersebut sesuai dengan data
yang ada dalam surat ukur dan buku tanah hak yang bersangkutan

13

Maka sertifikat Tanah atau Sertifikat Hak Atas Tanah atau disebut
juga Sertifikat Hak yang terdiri dari salinan Buku Tanah dan Surat Ukur
yang dijilid dalam 1 (satu) sampul. Sertifikat tanah memuat:
a. Data fisik : letak, batas-batas, luas, keterangan fisik tanah dan beban yang
ada di atas tanah;
b. Data yuridis : jenis hak (hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha,
hak pakai, hak pengelolaan) dan siapa pemegang hak.
Istilah sertifikat dalam hal dimaksud sebagai surat tanda bukti hak
atas tanah dapat kita temukan di dalam Pasal 13 ayat (3) dan (4) Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 10 Tahun 1961, bahwa:
- Ayat (3)

Salinan Buku Tanah dan Surat Ukur setelah dijahit secara

bersama-sama dengan suatu kertas sampul yang bentuknya ditetapkan oleh


Menteri Agraria, disebut Sertifikat dan diberikan kepada yang berhak.
- Ayat (4)

Sertifikat tersebut pada ayat (3) pasal ini adalah surat tanda

bukti hak yang dimaksud dalam Pasal 19 Undang-Undang Pokok Agraria.


Sertifikat sebagai salah satu dokumen pertanahan yang merupakan
hasil proses pendaftaran tanah, dan dokumen tertulis yang memuat data fisik
serta data yuridis tanah yang bersangkutan. Dokumen-dokumen pertanahan
tersebut dapat dipakai sebagai jaminan dan menjadi pegangan bagi pihak
yang memiliki kepentingan atas tanah tersebut. Kekuatan pembuktian
Sertifikat tanah adalah kuat selama tidak ada pihak lain yang membuktikan
sebaliknya. Sertifikat hak atas tanah berfungsi sebagai alat bukti yang kuat
dan sah, dan merupakan sebagai tanda bukti kepemilikan hak milik
atas tanah, walaupun bukti kepemilikan hak milik atas tanah tersebut masih
bisa dibuktikan dengan alat bukti yang lain, misalnya; seperti saksi-saksi,
akta jual beli, maupun surat keputusan pemberian hak.
Penerbitan sertifikat, berdasarkan PP No. 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah yang mencabut PP No. 10 Tahun 1961, diatur sebagai
berikut :
a. Diterbitkan untuk kepentingan pemegang hak yang bersangkutan sesuai
dengan data fisik dan yuridis yang telah di daftar dalam buku tanah;

14

b. Hanya boleh diserahkan kepada pihak yang namanya tercantum dalam


buku tanah, sebagai pemegang hak, atau kepada pihak lain yang
dikuasakan olehnya;
c. Mengenai hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun
kepunyaan bersama beberapa orang atau badan hukum diterbitkan satu
sertifikat, yang diterimakan kepada salah satu pemegang hak bersama
yang lain, dan dapat saja diterbitkan sertifikat sebanyak jumlah
pemegang hak bersama untuk diberikan kepada tiap pemegang hak
bersama yang bersangkutan, yang memuat nama serta besarnya bagian
masing-masing dari hak tersebut.
Aspek hukum atau aspek legalitas pada tanah sangat penting untuk
mengantisipasi timbulnya permasalahan hukum dikemudian hari. Aspek
legalitas selain sebagai kepemilikan juga untuk memberikan kepastian
hukum pada para pihak bahwa dia adalah pemilik sah atas tanah tersebut.
Sertifikat, selain berfungsi sebagai alat bukti kepemilikan atau
penguasaan atas tanah, sertifikat juga memilki fungsi lain yaitu sebagai
syarat apabila kita ingin mendirikan bangunan berupa tempat tingal di atas
tanah yang kita miliki atau kita kuasai. Syarat dari penerbitan izin
mendirikan bangunan salah satunya adalah sertifikat tersebut. Hal lain, yaitu
secara ekonomis, sertifikat juga memiliki fungsi sebagai jaminan
pembiayaan apabila kita membutuhkan pinjaman dari bank.
Dalam uraian di atas peneliti menganalisis menggunakan teori
kewenangan, yaitu menurut sadijono kewenangan dengan cara atribusi
adalah pemberian wewenang pemerintah oleh pembuat undang-undang
kepada organ pemerintah, yaitu Badan Pertanahan Nasional yang memiliki
kewenangan untuk mengerluarkan sertifikat.14 Dan menggunakan teori
kepastian hukum15 karena pada dasarnya fungsi utama dari pendaftaran
tanah adalah untuk mendapatkan alat bukti berupa sertifikat agar pemegang
hak atas tanah tersebut memiliki bukti yang kuat atas tanah yang dimilikinya
dan mendapatkan kepastian hukum dan perlindungan hak mereka atas tanah.

14
15

Sadijono, Memahami Beberapa bab Pokok Hukum Administrasi. Op. Cit, hlm. 58.

Mario Tedja. Op.Cit.

15

C.4. Analisis Terhadap Penyebab Terbitnya Sertifikat Ganda


Tanah yang berada di wilayah Indonesia ini merupakan modal atau
aset bangsa yang sangat berharga, dan kekayaan nasional sebagai suatu
perwujudan karunia Tuhan yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia secara
turun-temurun dan tidak putus. Hubungan antara tanah dan manusia (bangsa
Indonesia) bersifat abadi.16 Semakin bertambah banyak penduduk,
sementara jumlah tanah tetap, menjadikan sebagian kecil masyarakat
berusaha memperoleh tanah secara tidak sah. Misalnya dengan cara
penyerobotan dan perampasan tanah. Tidak seimbangnya rasio antara
kebutuhan dengan persediaan tanah, menjadikan banyaknya praktik calo
tanah, dan bahkan merebaknya penerbitan sertifikat ganda. Sertifikat ganda,
adalah sertifikat-sertifikat yang menguraikan satu bidang tanah yang sama.
Jadi dengan demikian satu bidang tanah diuraikan dengan 2 (dua) sertifikat
atau lebih yang berlainan datanya.17
Secara prinsip setiap bidang tanah memiliki posisi yang tunggal di
belahan bumi ini. Tidak ada 2 (dua) bidang tanah yang memiliki posisi yang
sama. Dengan demikian setiap bidang tanah yang telah bersertifikat atau
terdaftar di Badan Pertanahan Nasional (BPN) seharusnya mendapat
perlindungan terhadap pendaftaran yang sama atas bidang tanah tersebut.
Perlindungan diatas dapat diberikan jika setiap sertifikat atas tanah yang
terbit diketahui dengan pasti letak atau lokasinya di muka bumi. Dengan
demikian setiap usaha untuk mensertifikatkan tanah yang sama dapat segera
diketahui dan dicegah oleh BPN.
Namun demikian masih ada tanah bersertifikat yang tidak diketahui
lokasinya yang disebabkan oleh ketidaktersediaan peta, saat pembuatan
sertifikat pada masa lalu (dibawah tahun 2006) belum berfungsi dengan baik
dikarenakan minimnya alat dan biaya pada saat itu. Dan tidak semua
gambar masuk dalam peta karena pada tahun itu belum ada peta

16
17

Suhariningsih, Op.Cit, hlm. 60.


Suharsimi Arikunto, Op. Cit, hlm. 245.

16

komprehensif.

18

Padahal peta adalah informasi yang menggambarkan letak

seluruh bidang tanah di permukaan bumi. Jika sebuah sertifikat yang


diterbitkan tidak dipetakan dalam sebuah peta akibat tidak adanya sarana
pada saat itu, maka bidang tanah itu memiliki potensi untuk lahir sertifikat
ganda.
Berdasarkan uraian diatas masih banyak kelemahan maka sudah
menjadi sangat logis atau menjadi sangat mungkin untuk terbitnya suatu
sertifikat hak atas tanah yang ganda, mengingat bahwa kegiatan administrasi
pertanahan yang belum sempurna, selain itu juga kemungkinan terjadinya
kelalaian dari petugas Badan Pertanahan Nasional mengingat para
petugasnya juga manusia biasa yang suatu saat bisa lalai, apalagi mengingat
bahwa hukum pertanahan kita adalah merupakan peninggalan kolonial di
mana dahulu terdapat berbagai alasan yang bermacam-macam, sebagai
akibat sistem hukum Belanda yang pluralistik. Demikian juga tidaklah
mustahil bahwa bisa terjadi pemalsuan baik sengaja maupun tidak sengaja
dalam penerbitan sertifikat hak atas tanah.19 Dalam hal sertifikat hak atas
tanah palsu ada 2 (dua) kemungkinan yakni sertifikat tersebut memang
benar-benar palsu misalnya cap, tanda tangan, data-data ataupun blankonya
yang palsu, atau sertifikat tersebut asli tetapi palsu maksudnya bahwa
sertifikat tersebut oleh yang punya sengaja dipalsukan, misalnya seorang
pemilik sertifikat yang tidak beritikad baik memalsukan sertifikatnya sendiri
sehingga sertifikat menjadi ganda dengan tujuan untuk memperkaya diri, ini
juga tidak jarang terjadi pada karyawan kantor pertanahan kota itu sendiri
atau dengan kata lain oknum dalam yang membuat sertifikat lain di atas
tanah yang telah bersertifikat tanpa sepengetahuan pemilik aslinya dan tak
jarang juga tanpa sepengetahuan pihak kedua atau pemilik baru.
Penyebab lain adalah terjadinya pemekaran wilayah pada daerah
tertentu sehingga batas wilayah menjadi tidak jelas, dan sistem administrasi
18

Wawancara dengan Bapak Gusti Johan Kencana Alamsyah, SH, Kepala Seksi
Pengkajian dan Penanganan Sengeta dan Konflik di Kantor Wilayah BPN Kalimantan Selatan,
pada Tanggal 20 Februari 2013. pukul 11.21 WITA.
19
Wawancara dengan Husnayadi Herliza, SH, MH, Kepala Seksi Sengketa, Konflik dan
Perkara di Kantor Pertanahan Kota Banjarmasin, pada tanggal 15 Februari 2013, pukul 15.10
WITA.

17

pertanahan pada daerah tersebut menjadi kacau, hal ini bisa berakibat pada
Pemilik tanah apabila tidak langsung mengurus sertifikat atau dibiarkan
begitu saja, dan Kelurahan juga tidak mendaftarkan sporadik atau surat
segel tersebut ke Kantor Pertanahan Kota sehingga tidak ada data tanah
tersebut yang pada saat itu telah terjadi pemekaran wilayah maka akan
memicu timbulnya sertifikat baru dengan pihak yang berbeda pada tanah
yang sama yang dibuat oleh kantor pertanahan kota.
Selain dari faktor kesalahan dari kepala desa/lurah juga ada kesalahan
dari pihak kantor pertanahan, yang mana kurangnya tertib administrasi
artinya, petugas kurang teliti dan kurang cermat apakah tanah tersebut sudah
pernah didaftarkan atau belum dan sudah diterbitkan sertifikat atau belum,
sampai benar-benar teliti karena masalah ini sangat sensitif apabila terjadi
kesalahan pengecekan maka akan berakibat fatal yakni salah-satunya akan
terjadi sertifikat ganda, untuk itu pengecekan data-data baik data fisik
maupun data yuridis harus dilakukan oleh pihak kantor pertanahan sebelum
menerbitkan sertifikat agar tercipta tertib administrasi.
Sengketa pertanahan yang muncul setiap tahunnya menunjukkan
bahwa penanganan tentang kebijakan pertanahan di Indonesia belum dapat
berjalan

sesuai

dengan

yang

diharapkan.

Beberapa

menyebabkan timbulnya sengketa pertanahan antara lain:


1.

faktor

yang

20

Administrasi Pertanahan masa lalu yang kurang tertib.


Administrasi pertanahan mempunyai peranan yang sangat penting bagi
upaya mewujudkan jaminan kepastian hukum. Penguasaan dan
kepemilikan tanah pada masa lalu, terutama terhadap tanah milik adat,
seringkali tidak didukung oleh bukti-bukti administrasi yang tertib dan
lengkap.

2.

Peraturan perundang-undangan yang saling tumpang tindih.


Kurang terpadunga peraturan perundang-undangan di bidang sumber
daya agraria dan sumber daya alam dengan peraturan di bidang
pertanahan, bahkan dalam beberapa hal terlihat bertentangan, sering

20

Rusmadi Murad, Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan dan Penanganan Kasus


Tanah, makalah disajikan pada seminar Nasional Sengketa Tanah, Permasalahan dan
Penyelesainnya, Jakarta, 20 Agustus 2003, hlm 6-8.

18

menimbulkan

konflik

penguasaan,

pemilikan,

penggunaan

dan

pemanfaatan tanah.
3.

Penerapan hukum pertanahan yang kurang konsisten.


Akibat

tidak

sinkronnya

pengaturan

tersebut

timbul

konflik

kewenangan maupun konflik kepentingan, sehingga seringkali hukum


pertanahan kurang dapat diterapkan secara konsisten dan ini sangat
mempengaruhi kualitas jaminan kepastian hukum dan perlindungan
hukumnya. Di tengah era reformasi terlihat kurang adanya harmonisasi
dalam rangka mewujudkan tuntutan reformasi, yaitu supremasi hukum,
keterbukaan dan keberpihakan pada kepentingan rakyat. Dari ketiga hal
tersebut, supremasi hukum kurang memperoleh perhatian yang
seimbang dari segenap elemen bangsa. Hal tersebut dapat dilihat dari
seringnya penyelesaian masalah yang lebih mengedepankan pada dasar
kekuatan yang baik melalui kekuatan massa, pengerahan massa
dibandingkan dengan dasar peraturan yang lebih menekankan pada
aspek legalitas yuridis.
4.

Penegakan hukum yang belum dapat dilaksanakan secara konsekuen.


Penegakan hukum merupakan bagian penting upaya untuk memberikan
jaminan kepastian hukum khususnya untuk menghindari semakin
merajalelanya

pendudukan

tanah,

pemalsuan

surat-surat

bukti

penguasaan tanah, penyerobotan tanah perkebunan dan sebagainya.

D. Penutup
D.1. Kesimpulan
Hak milik menurut Pasal 20 UUPA adalah ayat (1) Hak milik adalah
hak turun temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas
tanah, dengan mengingat ketentuan dalam Pasal 6, dan ayat (2) Hak milik
dapat beralih dan dialihkan kepada pihak lain.
Faktor Penyebab Timbulnya Sertifikat Ganda berdasarkan kasus
tersebut yaitu Tidak tersediannya peta, dimana pada saat pembuatan sertifikat
pada masa lalu (dibawah tahun 2006) belum berfungsi dengan baik

19

dikarenakan minimnya alat dan biaya pada saat itu. Padahal peta adalah
informasi yang menggambarkan letak seluruh bidang tanah di permukaan
bumi.
Disamping itu, karena dari pihak BPN yang melakukan pemetaan lalai
atau tidak cermat, sehingga pemetaan menjadi tidak akurat serta pemilik asal
tidak memelihara dan menjaga tanda batas tanahnya dengan baik. Maka
memicu pihak yang tidak bertanggung jawab atau pihak yang memang tidak
beritikad baik untuk menguasai tanah tersebut dengan orang lain demi
kepentingan dan keuntungan pribadi.
D.2. Saran
1. Hendaknya merekrut hakim-hakim khusus untuk bidang pertanahan
sehingga penyelesaian terhadap sengketa tanah di pengadilan bisa
diselesaikan lebih cepat karena hakim tersebut sudah memiliki kapabilitas
tinggi tentang tanah.
2. Hendaknya kantor Pertanahan mempunyai tenaga lapangan yang lebih
profesional dan memperbaiki sistem administrasinya dengan baik atau
tertib administrasi, baik dalam hal penerimaan dan penelitian berkasberkas permohonan pendaftaran tanah serta pengelolaan arsip-arsip atas
data-data pertanahan yaitu penyimpanan buku tanah, surat ukur maupun
warkah, sehingga kepastian hukum yang merupakan tujuan pendaftaran
tanah dapat terwujud.
3. Perlu adanya aturan hukum yang mewajibkan perangkat Kelurahan
mengikuti pendidikan bidang pertanahan sehingga memiliki kapabilitas
tinggi tentang tanah.
4. Untuk setiap peta bidang tanah dan data yuridis wajib diumumkan pada
media elektronik atau media cetak selama 3 (tiga) bulan sebelum terjadi
suatu transaksi, setelah diumumkan maka sudah tidak ada hak pihak lain
untuk mendaftarkan haknya pada bidang tanah yang sama.

20

DAFTAR PUSTAKA
Buku
Achmad Rubaie. Hukum Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum.
Malang : Bayumedia. 2007.
Peter Mahmud Marzuki. Penelitian Hukum. Cetakan keenam, Jakarta:
Kencana, 2010.
Rusmadi Murad. Penyelesaian Sengketa Hukum Atas Tanah. Bandung :
Alumni, 1991.
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. Penelitian Hukum Normatif Suatu
Tinjauan Singkat. Cetakan ke11. Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada, 2009.
Suhariningsih. Tanah Terlantar (Asas dan Pembaharuan Konsep menuju
Penerbitan). Prestasi Pustaka : Jakarta. 2009.
Supriadi. Hukum Agraria. Jakarta : Sinar Grafika. 2007.
Urip Santoso. Hukum Agraria Kajian Komprehensif. .Jakarta : Kencana,
2012.
Yamin Lubis dan Rahim Lubis. Hukum Pendaftaran Tanah. .Bandung :
CV. Mandar Maju, 2010.

Makalah
Rusmadi Murad. Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan dan
Penanganan Kasus Tanah, makalah disajikan pada seminar
Nasional Sengketa Tanah, Permasalahan dan Penyelesainnya.
Jakarta, 20 Agustus 2003.
Peraturan Perundang-undangan
Republik Indonesia. Undang-Undang Dasar 1945. Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1959 Nomor 75.
Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok-pokok Agraria. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1960 Nomor 104.
21

Republik Indonesia. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Pajak


Penghasilan yang dibebankan kepada Penjual. Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2000 Nomor 127.
Republik Indonesia. Peraturan Presiden Nomor : 10 Tahun 2006 Tentang
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia.
Republik Indonesia. Peraturan Menteri Negara Agraria/ Keputusan Badan
Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1997 Tentang
Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997
Tentang Pendaftaran Tanah.
Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 Tentang
Pendaftaran Tanah. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1961
Nomor 28.
Repubik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang
Pendaftaran Tanah. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997
Nomor 59.

22