Anda di halaman 1dari 11

HUKUM TATA USAHA

NEGARA (BAHASAN HUKUM


MATERIIL DAN HUKUM
Oleh:
FORMIL
Machfudz S.H., M.H.
Nizar Fikkri S.H., M.H.
Bagus O. Abrianto S.H., M.H.

PENGERTIAN KTUN DAN UNSURUNSURNYA


Keputusan

Tata Usaha Negara (KTUN) adalah suatu


penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat
tata usaha negara yang berisi tindakan hukum tata usaha
negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku, yang bersifat konkret, individual, dan final, yang
menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum
perdata. Berdasarkan ketentuan mengenai KTUN tersebut
maka dapat diuraikan unsur-unsur KTUN yaitu:
1. Berupa penetapan tertulis;
2. Dikeluarkan oleh badan atau pejabat Tata Usaha Negara;
3. Berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara;
4. Konkret, individual;
5. Final;
6. Menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan
hukum perdata.

Jenis-jenis KTUN dan KTUN yang dapat digugat berdasarkan UU


05/1986
Secara teoritis, KTUN dapat dikelompokkan sebagai berikut:
KTUN perorangan dan KTUN kebendaan;
KTUN deklaratif dan KTUN konstitutif;
KTUN terikat dan KTUN bebas;
KTUN menguntungkan dan KTUN yang memberi beban;
KTUN kilat (seketika akan berakhir), KTUN langgeng (lama berjalan terus), dan KTUN dengan tenggang waktu

tertentu.
Dalam UU 30/2014, khususnya dalam Pasal 54 ayat (1) UU aquo, jenis KTUN yang diatur hanyalah jenis KTUN
deklaratif dan KTUN konstitutif.
Secara garis besar, terdapat tiga golongan KTUN yang dapat digugat, yaitu:
KTUN Konkrit (Pasal 1 butir 3 UU 05/1986 jo. Pasal 1 angka 9 UU 51/2009)
Yaitu suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan
hukum Tata Usaha Negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, bersifat konkrit,
individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata;
KTUN Fiktif (Pasal 3 ayat (1) UU 05/1986)
Yaitu KTUN yang seharusnya dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara menurut kewajibannya,
tetapi ternyata tidak dikeluarkan, sehingga menimbulkan kerugian bagi seseorang atau badan hukum perdata.
KTUN Negatif (Pasal 3 ayat (2) UU 05/1986)
Yaitu KTUN yang dimohonkan oleh seseorang atau badan hukum perdata kepada Badan/Pejabat TUN, ternyata
tidak ditanggapi atau tidak dikeluarkan oleh Badan/ Pejabat TUN yang bersangkutan, sehingga dianggap bahwa
Badan/Pejabat TUN tersebut telah mengeluarkan keputusan penolakan (KTUN Negatif). dalam Pasal 3 ayat (2)
UU 05/1986, karena mewajibkan Badan dan/ atau Pejabat Pemerintahan bersikap aktif.

Lanjutan...
Lebih lanjut lagi, dalam hal peraturan perundang-undangan yang mengatur penerbitan
KTUN tersebut tidak memberikan batas waktu bagi Pejabat atau Badan TUN untuk
menerbitkan KTUN tersebut, maka jangka waktu penolakan dianggap terjadi setelah
lewat jangka waktu empat bulan sejak diterimanya permohonan penerbitan KTUN.
Hal ini berdasarkan Pasal 3 ayat (3) UU 05/1986 mengatur Dalam hal peraturan
perundang-undangan yang bersangkutan tidak menentukan jangka waktu
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), maka setelah lewat jangka waktu empat
bulan sejak diterimanya permohonan, Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara
yang bersangkutan dianggap telah mengeluarkan keputusan penolakan.
Namun, saat ini terhadap KTUN Negatif terdapat pro kontra untuk digunakan sebagai
dasar gugatan di PTUN. Hal ini disebabkan karena dalam Pasal 53 ayat (3) UU
30/2014 mengatur bahwa Apabila dalam batas waktu sebagaimana dimaksud pada
ayat (2), Badan dan/ atau Pejabat Pemerintahan tidak menetapkan dan/ atau
melakukan keputusan dan/ atau tindakan, maka permohonan tersebut dianggap
dikabulkan secara hukum. Ketentuan tersebut jelas bertentangan dengan ketentuan
dalam Pasal 3 ayat (2) UU 05/1986, karena mewajibkan Badan dan/ atau Pejabat
Pemerintahan bersikap aktif.

Alasan-alasan gugatan
KTUN yang digugat bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang

berlaku. Untuk dapat menilai apakah suatu KTUN bertantangan dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku atau tidak maka harus memperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
1. Bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundang-undangan
yang bersifat prosedural/formal, bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dala
peraturan perundang-undangan yang bersifat materiil/substansial, atau dikeluarkan
oleh Badan atau Pejabat TUN yang tidak berwenang.
2. KTUN yang digugat itu bertentangan dengan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang
Baik (AUPB)

AUPB
Di Indonesia, AUPB hingga saat ini secara resmi belum/tidak dikodifikasikan tersendiri, namun sebagian di antaranya
ada yang telah dimuat di dalam Pasal 3 UU 28/1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas KKN
yang disebut AUPN, ini kemudian diadopsi oleh UU 09/2004, yang terdiri dari tujuh asas, yaitu:
Asas kepastian hukum (legal certainty);
Asas Tertib Penyelenggaraan Negara (governance orderliness);
Asas Kepentingan Umum (public service);
Asas Keterbukaan (open management/fair play);
Asas Proporsionalitas (proportionality);
Asas Profesionalitas (professionality);
Asas Akuntabilitas (accountability).
Selain asas-asas tersebut di atas,masih terdapat AUPB lainnya yang digunakan sebagai dasar pengujian KTUN yaitu
berdasarkan Pasal 10 ayat (1) dan ayat (2) UU 30/2014 tentang Administrasi Pemerintah yaitu meliputi asas:
(1) a. kepastian hukum;
b. kemanfaatan;
c. ketidakberpihakan;
d. kecermatan;
e. tidak menyalahgunakan kewenangan;
f. keterbukaan;
g. kepentingan umum; dan
h. pelayanan yang baik.
(2) Asas-asas umum lainnya di luar AUPB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterapkan sepanjang dijadikan
dasar penilaian hakim yang tertuang dalam putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

Larangan Penyalahgunaan Wewenang


Larangan

Penyalahgunaan Wewenang secara tegas


diatur dalam Pasal 17 UU 30/2014 yang Badan dan/ atau
Pejabat Pemerintahan dilarang menyalahgunakan
Wewenang. Yang dimaksud dengan menyalahgunakan
wewenang meliputi:
a. larangan melampaui Wewenang;
b. larangan mencampuradukkan Wewenang; dan/atau
c. larangan bertindak sewenang-wenang.

Pelaksanaan Putusan
Putusan tentang Pencabutan KTUN

Dalam jangka waktu enam puluh (60) hari kerja setelah salinan putusan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap diterima Tergugat, maka Tergugat harus sudah melaksanakan isi putusan
tentang pencabutan KTUN tersebut.
Jika dalam waktu tersebut Tergugat belum atau tidak melaksanakannya (yaitu mencabut KTUN yang
bersangkutan), maka KTUN itu tidak mempunyai kekuatan hukum lagi (Pasal 116 ayat (2) UU
51/2009)
Putusan tentang Penerbitan KTUN
Dalam hal Tergugat ditetapkan harus melaksanakan kewajiban sebagaimana yaitu menerbitkan KTUN
yang dimaksud, maka kewajiban itu harus dilaksanakan dalam jangka waktu sembilan puluh (90) hari
kerja setelah diterimanya salinan putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Jika dalam
jangka waktu tersebut Tergugat belum/tidak melaksanakan kewajibannya, maka Penggugat (sebagai
pihak yang menang) dapat mengajukan permohonan eksekusi kepada Ketua PTUN agar
memerintahkan Tergugat untuk melaksanakan putusan dimaksud (Pasal 116 ayat (3) UU 51/2009)
Putusan Rehabilitasi/ Kompensasi (Khusus sengketa kepegawaian)
Rehabilitasi adalah pemulihan hak penggugat dalam kemampuan kedudukan, harkat dan martabat
sebagai pegawai negeri sipil;
Jika rehabilitasi tidak dapat dilaksanakan dengan sempurna, maka dapat dilakukan kompensasi berupa
uang atau bentuk lain sebagai penganti rehabilitasi yang tidak dapat dilaksanakan, dimana besarnya
kompensasi itu dapat ditentukan melalui kesepakatan bersama antara pihak Penggugat dengan
pihak Tergugat (Pasal 97 ayat (11) jo. Pasal 117 jo. Pasal 121 UU 05/1986);

Lanjutan...
Putusan tentang ganti rugi

Pelaksanaan putusan tentang ganti rugi seperti halnya rehabilitasi, terkait


dengan pelaksanaan amar putusan pokoknya, maka jangka waktu
pelaksanaan putusan ganti rugi juga terkait atau mengikuti pelaksanaan amar
putusan pokoknya tersebut (Pasal 130 UU 05/1986)
Upaya Paksa dan Sanksi Administratif bagi Pejabat TUN
Salah satu perubahan tentang ketentuan eksekusi dari Pasal 116 UU 05/1986
yang diubah di dalam UU 51/2009 adalah dalam hal Tergugat tidak bersedia
melaksanakan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum
tetap dalam jangka waktu yang ditentukan, di samping dikenakan upaya
paksa berupa pembayaran uang paksa, sanksi administratif, dan diumumkan
ke media massa, juga ditentukan bahwa hal itu diajukan kepada Presiden
dan DPR/DPRD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 116 ayat (4), (5), dan
(6) UU 51/2009.

Contoh kasus berkaitan dengan KTUN:


Kasus Mutasi Pegawai
Pemecatan Dr Marwazi sebagai Kakanwil Kemenag Provinsi Jambi dan
pengaktifan kembali sebagai dosen di IAIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi
melalui SK Menteri Agama Nomor B III/3/02589 tertanggal 23 Mei 2012,
dibatalkan oleh Majelis Hakim PTUN melalui Putusan nomor perkara
133/G/2012/PTUN-JKT dengan pertimbangan bahwa pemecatan sebagai
Kakanwil dan pengaktifan kembali sebagai dosen di IAIN Sultan Thaha
Saifuddin Jambi secara prosedural bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan dan asas profesionalitas sebagai bagian dari asasasas umum pemerintahan yang baik.
Pemberhentian M Hanafi Rumatiga dari Jabatan Kasubag Ortala dan
Kepegawaian menjadi guru biasa pada MAN Bula melalui SK Mutasi Kakanwil
atas nama Menteri Agama dengan Nomor KW.25.1/2/665/2013 diajukan
gugatan di PTUN Ambon dengan Nomor Perkara 16/G/2013/PTUN ABN.

Pertanyaan untuk bahan diskusi:


Misalnya, dalam suatu proyek membangun gedung, pada saat hasil fisik pekerjaan

diterima oleh Pengguna Jasa dari Penyedia Jasa Pekerjaan Konstruksi berdasarkan
hasil laporan dari Penyedia Jasa Pengawas yang menyatakan bahwa pekerjaan telah
100% terselesaikan dan sesuai dengan spesifikasi. Namun pada kenyataannya
laporan tersebut tidak sesuai dengan fakta di lapangan, maka apakah PPK selaku
Pengguna Jasa ini dapat dikatakan lalai atau ikut bertanggung jawab atas
ketidaksesuaian spesifikasi tersebut, mengingat si Pengguna Jasa bukanlah
merupakan orang yang ahli di bidang konstruksi. Apakah dalam hal ini, PPK dapat
dimintai pertanggung jawaban padahal di sisi lain Pengguna Jasa telah melakukan
pengadaan barang/ jasa sesuai dengan prosedur sebagaimana di dalam peraturan
perundang-undangan dan Pengguna Jasa juga beritikad baik serta menerapkan
prinsip kehati-hatian untuk memastikan bahwa pekerjaan konstruksi yang telah
dilakukan oleh Penyedia Jasa sesuai dengan kaidah keteknikan dan sesuai
dengan spesifikasi teknis dengan menggunakan jasa dari Penyedia Jasa
tersebut.
Apabila konsultan pengawas melakukan kesalahan dalam menilai spesifkasi bangunan
dengan kontrak, apakah kemudian PPK dan PPHP yang telah menerapkan prinsip
kehati-hatian dengan menggunakan konsultan pengawas yang bersangkutan dapat
dimintai pertanggungjawaban?